top of page

Hasil pencarian

9810 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mas Slamet Dikutuk Kaum Republik

    KELOMPOK kanan reaksioner Belanda selalu menganggap Sukarno seorang pengkhianat atau quisling –diambil dari nama Perdana Menteri Norwegia yang bekerjasama dengan tentara Nazi selama Perang Dunia II– yang menjual bangsanya kepada Jepang. Sebaliknya, kaum Republiken menganggap kolaborasi Sukarno dengan Jepang hanyalah perkara strategi perjuangan merebut kemerdekaan. Justru orang-orang yang anti-Jepang dan anti-Republik serta pro-Belandalah yang pantas disebut quisling; salah satunya Mas Slamet, pendiri Partai Demokrat. Mas Slamet tak hanya mencap Indonesia sebagai bentukan Jepang, dia juga menganggap bendera merah putih sebagai produk Jepang. “Mr. Slamet di dalam surat terbuka kepada Ratu Wilhelmina terkesan tidak mengenal makna simbolis bendera merah putih bagi gerakan nasional di negerinya,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.

  • Mas Slamet Hina Sukarno

    MR. Mas Slamet kecewa berat pada golongan Republiken yang dianggapnya kolaborator fasis Jepang. Padahal, menurut dia Jepang banyak mendatangkan kesengsaraan pada rakyat. Mas Slamet lantas menggantungkan nasib kepada Ratu Belanda dengan harapan Ratu bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Indonesia. Dia pun pergi ke Belanda, bersikeras bertemu Ratu Wilhelmina. Peyandang gelar mester in de rechten (sarjana hukum) itu mengatakan kepergiannya ke Belanda bukan untuk jalan-jalan menyenangkan diri melainkan menerangkan kesulitan rakyat Indonesia di bawah pendudukan Jepang. “Tuan Sukarno atau tuan Sjahrir atau siapa orangnya tidak akan setuju dengan rencana saya ini. Tuan Sukarno dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang sama dengan fasis, yang telah melakukan perbuatan-perbuatan dengan tipu muslihat ketika Jepang berlutut,” tulis Zaman Baroe, 6 Juni 1946.

  • Mas Slamet Anti Kemerdekaan Indonesia

    SESUDAH proklamasi kemerdekaan timbul masalah kesiapan menerima negara baru. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menulis, banyak raja dan kaum ningrat, yang didukung Belanda dan mendapatkan kekayaan darinya, tak mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka sama sekali tak tertarik revolusi, apalagi dengan pemimpin Republik di Jakarta yang radikal. Kaum aristokrat mengganggap mereka tak lebih dari bandit tak beradab yang tak pantas memimpin Republik ini karena tak berdarah biru. Mas Slamet salah satunya. Dia adalah pegawai tinggi yang bekerja di kantor keuangan Jakarta. Kariernya cemerlang, sempat menjabat sebagai Adjunct Inspecteur van Financien atau ajun pemeriksa keuangan di era Belanda masih berkuasa.

  • Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian III)

    JAM sudah menunjukkan pukul 6.15 petang ketika dua mobil sedan diikuti satu minibus tiba dan parkir di sebuah rumah di Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia pada 22 Juli 1994. Sesosok perempuan lalu turun dari salah satu mobil yang sontak disambut sanak keluarga yang menanti di pekarangan. Hari itu untuk kali pertama Shamsiah Fakeh, perempuan tadi, bersua kembali dengan keluarga besarnya. Haji Ramli, sang pemilik rumah sekaligus sang adik, adalah yang paling pertama menyambut perempuan yang hampir berusia 70 tahun itu dengan pelukan diikuti pertanyaan keadaan. “Sihat,” kata Shamsiah menjawab pertanyaan adiknya sebagaimana dikisahkan artikel “Bekas ketua komunis wanita pulang ke sisi keluarga” di Berita Harian edisi 23 Juli 1994. Mengenakan blouse sederhana dipadu kerudung putih dan kain batik sebagai bawahan, Shamsiah masuk dengan didampingi suaminya, Ibrahim Mohamad. Anak-anak dan para cucunya yang lebih dulu tiba sudah menanti di dalam rumah.

  • Orang Batak Jadi Jenderal

    ORANG Batak sempat tidak dipercaya menjadi anggota KNIL (Koninklijke Nederlandsche Indische Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Mereka baru bisa diterima dengan baik sebagai serdadu kolonial sejak tahun 1929. Jika pun ada sebelum 1929, orang Batak harus menjalani masa percobaan dulu. Suatu hari di tahun 1929, seorang Batak yang telah menjadi sersan KNIL datang ke Tarutung. Sumatra Post, 28 Desember 1929 memberitakan, ia datang dari Bandung dengan tujuan merekrut 60 orang Batak untuk menjadi serdadu KNIL. Satu dekade kemudian, KNIL memberikan kesempatan kepada dua pemuda Batak, satu dari Batak Toba dan satu lagi dari Mandailing, sebagai calon perwira di CORO (Corps Opleiding Voor Reserve Officieren atau Koprs Pendidikan Perwira Cadangan) dan KMA (Koninklijke Militaire Academie atau Akademi Militer Kerajaan) di Bandung.

  • Polisi Paling Korup di Hong Kong

    BERULANG kali aktor Andy Lau memerankan polisi kalem yang korup dalam beberapa film Hong Kong. Dia memerankan Lau Kim Ming dalam Infernal Affairs I (2002) dan Infernal Affairs II (2003). Begitu pula dalam Chasing The Dragon (2017), yang juga dibintangi Donnie Yen, Andy Lau berperan sebagai polisi kalem yang korup bernama Lee Rock. Sebelumnya, pada 1991 dia telah memerankan Sersan Polisi Lee Rock dalam trilogi Lee Rock I, II, dan III. Dalam film itu diceritakan, awalnya Lee Rock adalah polisi muda yang polos dan jujur, tapi miskin. Setelah berpisah dengan pacarnya, dia lalu menjadi polisi korup yang kaya raya dan berpengaruh, meski pangkatnya hanya sersan kepala.

  • Raja Ali Haji, Sastrawan Besar Kesultanan Riau

    PADA 1824, melalui Traktat London, Belanda mengakhiri perselisihannya dengan Inggris atas kawasan Malaka. Inggris diberi kekuasaan di Singapura dan Malaysia, sedangkan Belanda mengukuhkan kuasanya atas Nusantara. Peraturan baru pun ditetapkan para kolonialis di wilayah jajahannya, yang otomatis membawa dampak bagi kerajaan-kerajaan di sana. Kesultanan Riau Lingga salah satunya. Kerajaan yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Johor-Riau dengan pusat pemerintahan di Tumasik (Singapura) tersebut mengalami perkembangan yang lambat di segala bidang kehidupan, termasuk budaya, setelah Belanda berkuasa di wilayahnya. Di tengah perkembangan yang tidak menentu tersebut muncul nama Raja Ali Haji. Dia adalah seorang pujangga Riau Lingga yang karya-karyanya begitu menggugah minat kebudayaan masyarakat. Meski di bawah tekanan penjajahan, Raja Ali Haji berhasil membawa angin perubahan di alam kesusastraan Melayu, utamanya Riau.

  • Melihat Kolonialisme Bekerja lewat Teropong Sastra

    BAGAIMANA kolonialisme bekerja tak hanya bisa dilihat dari tulisan-tulisan sejarah. Ada karya sastra yang berangkat dari kisah sejarah, yang dapat menyuguhkan potret-potret masa penjajahan yang tak tertangkap oleh narasi sejarah. Karya-karya itu dibuat penulis sezaman maupun penulis pasca-kemerdekaan. Peneliti imagologi dan penerjemah Widjajanti Dharmowijono dalam Dialog Sejarah "Wajah Kolonialisme dalam Sastra" di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 19 Maret 2021, menyebut bahwa ada ratusan karya sastra yang disebut sebagai sastra Indis-Belanda yang merepresentasikan kondisi tanah jajahan pasa masanya. Widjajanti, yang akrab disapa Inge, menyelesaikan disertasinya di Universiteit van Amsterdam dengan judul Van Koelies, Klontongs en Kapiteins, Het Beeld van de Chinezen in Indisch-Nederlands Literair Proza 1880-1950 yang kemudian diterjemahkan menjadi Bukan Takdir, Kisah Pencitraan Orang Tionghoa di Nusantara. Disertasi Inge menyoroti bagaimana orang Tionghoa dicitrakan dalam karya-karya sastra yang dibuat oleh penulis-penulis Belanda dan satu penulis Hungaria.

  • John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra

    NAMA David John Moore Cornwell mungkin terdengar asing bagi penikmat novel bertema intelijen, apalagi tema non-intelijen. Padahal hanya satu sosok yang menyandang namanya. Cornwell tutup usia pada Sabtu (12/12/2020) malam waktu setempat di Rumahsakit Royal Cornwall di Truro, Inggris. Dalam pernyataan keluarganya, Cornwell meninggal setelah lama menderita pneumonia. Sejumlah sejarawan dan novelis Inggris pun terpukul mendengar wafatnya salah satu novelis sohor Inggris era Perang Dingin itu. “Hati saya terasa sakit. Dia (Cornwell) adalah figur besar dalam sastra Inggris,” tutur sejarawan dan novelis Simon Sebag Montefiore sebagaimana dikutip BBC, Senin (14/12/2020).

  • Ketika Paus Sastra Indonesia Menerjemahkan Max Havelaar

    H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia, telah meninggal dunia 20 tahun lamanya (11 Maret 2000). Tapi amalnya semasa hidup terus kekal hingga kini. Dia berjasa mengembangkan kehidupan, dokumentasi, dan penerjemahan sastra di Indonesia. Di bidang terakhir, amal Jassin paling kesohor ialah menerjemahkan novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli serentang 1971–1972. Sastrawan Eka Budianta berpendapat terjemahan Jassin sangat halus. Bahkan cenderung melankolik. “Dia mengarahkan Max Havelaar ke bacaan keluarga,” kata Eka kepada Historia, usai mengisi acara "H.B. Jassin Sang Penjaga Sastra" di Bentara Budaya Jakarta, 12 Maret 2020. Eka mencontohkan bagian ini. Aku tidak tahu di mana aku akan mati. Kulihat lautan luas di pantai selatan. Ketika aku membuat garam di sana bersama ayahku. “Saya terpesona pada nyanyian Melankolis Saidjah yang terasa mendalam di hati Havelaar. Saya tidak menyangka bahwa untuk membuat garam di masa kolonial diperlukan keberanian. Mengapa? Karena produksi garam dimonopoli oleh pemerintah,” catat Eka dalam “Harapan, Keberanian, Kemanusiaan Kita”, makalah pada Festival Multatuli di Rangkasbitung, 10 September 2019.

  • Sastra Dakwah tentang Hari Kiamat

    JAMAAH calon haji dari Indonesia pada masa kolonial menempuh perjalanan laut hampir enam bulan untuk mencapai Mekkah. Dari Indonesia, mereka singgah dulu di Singapura. Di sini mereka biasanya membeli sejumlah bahan bacaan. Tema yang paling diminati adalah tentang hari kiamat. "Pas sebagai bacaan dalam perjalanan akbar menunaikan haji untuk mawas diri mengenang mati atau pelipur hati menghadapi kematian," kata Edwin Paul Wieringa, guru besar filologi Indonesia dan kajian Islam dari Universitas Cologne, Jerman, dalam kuliah umum bertajuk "Dari Kudus ke Bombay dan ke Jawa Lagi: Sastra Keagamaan tentang Hari Kiamat" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2020. Bacaan bertema kiamat itu tercetak dalam tulisan tangan. Mereka terbit antara masa 1900-1920-an. Aksaranya Arab dengan bahasa Melayu atau Jawa. Edwin menemukan buku kuno bertema kiamat ketika meriset di Perpustakaan Nasional Singapura, Oktober 2019–Januari 2020. Jumlah buku semacam itu ada belasan.

  • Pidato Kebudayaan Karlina Supelli: Menuturkan Kisah Korban 1965-66 Lewat Sastra

    DERU truk dan jip memecah kebisuan malam. Kilatan lampu menyelinap ke rumah-rumah yang tanpa penerangan. Kala itu listrik dipadamkan pemerintah sejak pukul enam petang dan baru menyala lagi pukul enam pagi seiring pemberlakuan jam malam. Lepas pukul 6 petang, tak ada lagi anak kecil bermain di halaman. “Seperti kebanyakan anak-anak yang mengalami tahun 1965-66, saya tumbuh dengan bertanya-tanya. Mulai suatu malam, orang tua saya hanya berani berbicara dengan berbisik,” kata Karlina Supelli, dosen STF Driyarkara dan astronom perempuan pertama, dalam pidato kebudayaannya di acara 80 Tahun Putu Oka Sukanta, Rabu (30/10/2019). Karlina menceritakan masa kecilnya yang tumbuh ketika terjadi masa peralihan pasca-Peristiwa 1965. Di masa itu, ia tidak diperbolehkan main di luar setelah jam malam tiba. Sebagai anak kecil, ia jelas tak memahami arti jam malam. “Apakah jam yang hanya berdentang ketika malam?” katanya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page