Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kerajaan Misterius di Pulau Sumatra
SRIWIJAYA tak lagi disebut dalam sumber luar negeri maupun prasasti lokal pada abad ke-14. Kerajaan itu telah bergeser ke pedalaman di hulu Sungai Batang Hari di mana raja Adityawarman meninggalkan arca dan prasasti dari tahun 1347. Setidaknya ada tiga kerajaan semenjak nama San-fo-tsi itu tak lagi kondang, yaitu Kerajaan Dharmaçraya, Palembang, dan Minangkabau. Menurut sejarawan Slamet Muljana, Kerajaan Minangkabau didirikan oleh Adityawarman setelah berangkat ke Sumatra pada 1339. Sebelumnya, sebagaimana disebut Prasasti Manjusri (1341 M) di Candi Jago, dia menaklukkan Bali bersama Gajah Mada.
- Catatan tentang Islamisasi di Sumatra
PERDEBATAN soal kapan pertama kali Islam masuk ke Nusantara belumlah khatam. Sebagian percaya Islamisasi dimulai abad ke-7. Lainnya tak yakin dan menilai Islam baru masuk ke Nusantara sekira akhir abad ke-12 M. Arkeolog Uka Tjandrasasmita salah satu yang percaya Islam masuk sejak abad ke-7 M. Sedangkan abad ke-13 M adalah pertumbuhannya menjadi kerajaan bercorak Islam. Namun menurutnya hingga abad ke-13 M tahapan masuknya agama Islam masih terbatas di daerah Selat Malaka. Sebenarnya ada isyarat kalau pada abad ke-7 sampai ke-8 M Islam sudah masuk Sumatra. S.Q. Fatimi pada 1963 lewat jurnalnya berjudul “Two letters from the Maharaja to the Khalifah” dalam Islamic Studies menyebutkan raja Sriwijaya pernah mengirim surat kepada dua raja Arab: Khalifah Muawiyah ibn Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umaiyah (661-680 M), dan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (717-720 M).
- Pulau Liur Naga di Sumatra
PULAU itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Di sekitarnya ombak menggelora. Mega berarak. Pada setiap musim semi beberapa ekor naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga. Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan (Xingcha Shenglan) menjelaskan ketika masih segar, air liur naga bentuknya seperti lemak. Warnanya hitam dan kuning. Baunya amis. Tapi nanti, bentuknya akan berubah menjadi gumpalan padat.
- Candi Misterius di Pedalaman Sumatra
IGNATIUS Suharno, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, menunjukkan sebuah peta yang berisi titik-titik merah dan garis meliuk-liuk biru. Ia menjelaskan titik-titik merah itu mewakili candi dan garis biru mewakili kanal-kanal yang melingkupinya. Ada sekira sebelas kompleks candi yang tersebar di kawasan seluas 3000-an ha. Itu baru jumlah yang sudah dinamai dan dibuka untuk pengunjung. Selain itu masih ada puluhan gundukan tanah yang diduga di dalamnya menyimpan struktur bangunan kuno. "Ada 80-an menapo atau gundukan tanah yang mengandung reruntuhan bangunan kuno," kata Suharno, ketika ditemui di kawasan Candi Tinggi, salah satu candi dalam gugusan Kompleks Percandian Muarajambi, di Muaro Jambi, Jambi.
- Ketika Sumatra Menjadi Pusat Peribadatan Tantrayana
Di tepi Sungai Batang Hari terhampar gugusan percandian Muaro Jambi. Tak jauh dari Sungai Kampar Kanan di Riau ada lagi kompleks percandian Muara Takus. Semuanya menunjukkan kesamaan latar belakang agama, yakni Buddha Mahayana aliran Vajrayana. Jika diperluas hingga ke Sumatra Utara, ada pula tinggalan yang punya kesamaan latar belakang kepercayaan, yaitu di kawasan PadangLawas dekat aliran Sungai Sirumambe, Sungai Batang Pane, dan Sungai Barumun. “Pada rentang waktu yang sama di Pulau Sumatra ini ada pusat-pusat peribadatan yang dilatarbelakangi agama Buddha Vajrayana,” kata Ery Soedewo, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Utara, dalam diskusi via zoom tentang “Candi Muara Takus: Dulu, Kini, dan Esok, yang diadakan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat beberapa waktu lalu.
- Saksi Bisu Dua Kekuatan Besar Sumatra
KERAJAAN Melayu adalah salah satu kerajaan tua yang mampu bertahan selama paling tidak 600 tahun. Selama itu pula diperkirakan Kompleks Percandian Muarajambi, di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi difungsikan. Berita tertua datang dari Dinasti Tang yang mencatat adanya utusan dagang Mo-lo-yeu ke Tiongkok pada 644-645. Penyebutan serupa muncul pula dalam catatan seorang biksu asal Tiongkok I-Tsing. Dalam perjalanannya ke Nalanda pada 672, ia bercerita kalau sempat singgah di Fo-shi dan Mo-lo-yeu. Pada 682 Prasasti Kedukan Bukit diterbitkan. Isinya tentang Dapunta Hyang yang mendirikan wanua di Palembang, lokasi di mana prasasti ini ditemukan. Bahkan ia punya tentara paling tidak 20.000 orang.
- Empat Duka dalam Semasa
DUA buah foto koleksi sejarawan Harry A. Poeze menggambarkan detik-detik terakhir hidup seorang pria berpakaian serba putih. Tubuhnya tetap berjalan tegap walau maut datang menyongsong. Sejumlah tentara bersenjata menggiringnya ke tempat penghabisan yang telah ditentukan. Sementara itu ribuan pasang mata, mulai anak kecil sampai dewasa, tak lepas memandanginya. Pria itu dr. Wiroreno, Residen Pati yang berada di pihak Musso dalam Peristiwa Madiun 1948. Dia menjabat Ketua Front Demokrasi Rakyat (FDR) Pati. Musso dinyatakan bertanggung jawab atas peristiwa di Madiun. Partai Komunis Indonesia dituduh berada di belakang kejadian itu. FDR pimpinan mantan Perdana Menteri Amin Sjarifuddin juga terlibat. Sebagai pihak yang dinyatakan salah oleh pemerintah Sukarno-Hatta, Wiroreno harus menghadapi hukuman mati yang dijatuhkan oleh penguasa militer. Dia tewas setelah sebutir peluru menembus jantungnya pada sebuah eksekusi di bawah pohon beringin rindang di alun-alun Pati. Kabar di bulan November 1948 itu adalah duka pertama bagi Maria Ullfah dan Santoso.
- Ramadan Para Tahanan
SAMBIL duduk di teras sel tempat tahanannya dan menghirup udara segar, Mia Bustam bergantian memandangi langit malam dan menyaksikan rekan-rekan sesama penghuni kamp shalat tarawih di kamar F1. Selama Ramadan, pintu sel dibuka untuk lalu-lalang tapol perempuan yang ingin shalat tawarih. Para penghuni yang tidak tarawih menunggu di luar, termasuk Mia yang memutuskan masuk Katolik setelah jadi tahanan politik (tapol). “Pada bulan-bulan lain kami tidak pernah melihat bulan atau bintang-bintang karena langit tidak tampak, terhalang oleh atap emper. Selama bulan puasa kami nikmati benar pemandangan indah itu,” kata Mia dalam memoarnya Dari Kamp ke Kamp. Sepulang tarawih, kawan-kawan Mia membawa pulang jaburan, snack yang dibagikan selepas tarawih untuk dinikmati sambil menyimak pengajian. Jaburan itu lantas dibagi rata dengan para penghuni kamp lain, biasanya setup jambu biji. Menu ini terbilang mendingan, pasalnya makanan di dalam kamp amat buruk. Kol dan ikan asin busuk atau grontol (jagung rebus dengan parutan kelapa) yang jagungnya amat keras (jenis metro) menjadi menu rutin mereka.
- Perang Banten-Cirebon di Akhir Ramadan
BANTEN dan Mataram, sama-sama kerajaan Islam, namun bermusuhan. Banten menolak tunduk kepada Mataram. Untuk mendesak Banten, Mataram menggunakan kaki tangannya: Cirebon. Cirebon pun sampai berperang dengan Banten. Dua utusan dari Cirebon, Jiwasraya dan Nalawangsa, datang ke Banten. Mereka gagal membujuk Sultan Banten untuk mengakui kekuasaan Mataram. Utusan berikutnya adalah seorang sentana (keluarga raja), yaitu Pangeran Martasari, dan putranya, berserta Tumenggung Wiratantaha. Martasari dijamu dengan meriah oleh Pangeran Adipati, putra Sultan Abulmaali. Namun, dia gagal membujuk Sultan Banten, Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651), untuk pergi bersamanya menghadap Sultan Mataram.
- Kegagalan Slamet Riyadi di Bulan Ramadan
PADA Maret 1946, Mayor Slamet Riyadi, komandan Batalion II Resimen 26 Divisi X, mendapat tugas di front selatan Semarang, yaitu di Srondol. Kekuatannya hampir satu batalion (Kompi I, III, dan IV), sedangkan Kompi II bertugas di Padalarang, Jawa Barat. Tiga batalion dikerahkan untuk menahan gerakan pasukan Belanda dengan garis pertahanan membentang dari Srondol ke arah timur sampai di Mranggen. Laporan intelijen menyebutkan dalam mempertahankan Semarang sebagian besar pasukan Belanda tinggal di asrama Jatingaleh. Asrama militer bekas pasukan Jepang ini dijadikan pusat pertahanan Belanda di Jawa Tengah, sehingga dihuni oleh pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri, lengkap dengan kendaraan lapis baja. “Posisi strategis Jatingaleh agaknya menggoda Mayor Slamet Riyadi untuk mencoba menghancurkan asrama militer tersebut,” tulis Julius Pour dalam biografi Slamet Riyadi, Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS.
- Pertempuran di Bulan Ramadan
HARI kedua puasa tahun 1946. Seksi Sarmada dari Batalion II Kemal Idris Divisi Siliwangi menerima informasi keberadaan tentara Belanda di sekitar Warungkondang, Cianjur. Letnan Sarmada bergerak membawa pasukannya untuk memeriksa kebenaran berita itu. Setibanya Seksi Sarmada di Cilaku, pasukan Belanda telah bergerak ke arah Cikancana. Seksi Sarmada pun meneruskan gerakannya ke arah Cikancana. Waktu sampai Cijoho sudah masuk magrib, saatnya buka puasa. “Mengingat tugas yang dihadapi, maka anggota-anggota Seksi Sarmada menunda saat berbuka puasa itu, apalagi tiba-tiba tampak seseorang di atas sebuah jembatan,” tulis Siliwangi dari Masa ke Masa.
- Dipancung Jepang di Bulan Ramadan
SERANGAN Jepang ke Indonesia tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari tentara Belanda. Hal ini disebabkan rakyat Indonesia tidak memberi bantuan. Bahkan di beberapa tempat, rakyat justru menyerbu tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Hanya di beberapa tempat, tentara KNIL memberikan perlawanan sengit kepada Jepang. "Di Sulawesi Tengah, Letnan Infanteri De Jong dan Van Daalen melakukan perang gerilya serta berhasil membunuh banyak serdadu Jepang," tulis sejarawan M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah. Mereka menewaskan tujuh perwira dan ratusan (sumber lain: 35 sampai 70) tentara Jepang dalam pertempuran di Lembosalenda (Korondoda) pada 7 Juli 1942.





















