top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jejak Langkah Gusmiati Suid

    NAMA Gusmiati Suid tak dapat dilepaskan dalam perkembangan seni tari Indonesia. Selama hidupnya, wanita kelahiran Batusangkar, Sumatra Barat, 16 Agustus 1942 itu aktif melahirkan karya-karya tari monumental seperti Kabar Burung (1997), Api dalam Sekam (1998), Asa di Ujung Tanduk (1999), hingga Menggantang Asap (2000). Tak heran, Ibu Yet, sapaan akrab Gusmiati, kemudian dikenal sebagai salah satu ujung tombak sejarah tari kontemporer di Tanah Air. Perkenalan Gusmiati dengan tari dimulai sejak belia. Gusmiati muda kerap mengisi waktu luang dengan belajar menari. Salah satu tokoh yang menjadi mentornya adalah Huriah Adam, seorang penari dan koreografer asal Padang Panjang. Menurut peneliti dan kurator seni lepas, Helly Minarti dalam Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, Huriah merupakan koreografer pascakolonial Indonesia pertama yang mengulik kedalaman khazanah tari dan kebudayaan Minang sebagai sumber inspirasi dan mentransformasikannya menjadi ekspresi artistik individual.

  • Jane Foster Agen Ganda

    JANE Foster meninggalkan OSS pada 1946 dan kembali ke Amerika Serikat. Di sana dia diminta untuk tinggal dan menilai beberapa nasionalis di Indonesia yang kegirangan atas penyerahan Jepang. Terutama penilaiannya mengenai Sukarno ketika Indonesia berusaha membebaskan diri dari dominasi Belanda. Sikapnya sama seperti terjadi pada negara lain bahwa kemerdekaan dari Jepang harus juga berarti kebebasan dari “penjajah kolonial” mereka. Ini adalah sikap yang tak populer di Amerika Serikat pascaperang yang sibuk membentuk koalisi dengan pemerintah Belanda, Prancis, dan Inggris dalam sebuah front persatuan melawan komunisme. Foster mempresentasikan temuannya kepada orang-orang Departemen Luar Negeri, termasuk Menteri Dean Acheson. Laporan ini, bersama sikap masa bodohnya hingga ketenangan dan pilihannya dalam berteman, adalah faktor yang menjadi bahan investigasi FBI terhadap dirinya, kelak.

  • Jane Foster, Intel Cantik Mengintai Republik Indonesia

    SEBUAH pertemuan terjadi di rumah Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo pada 28 September 1945. Jane Foster dari Kantor Dinas Strategis (OSS) -pendahulu CIA- dan Letnan Kolonel K.K. Kennedy dari pasukan Sekutu, pengawas militer AS, mewawancarai sejumlah tokoh terkemuka Republik untuk mengetahui pandangan mereka. Selain Subardjo, hadir Sukarno, Mohammad Hatta, Amir Sjarifuddin, Iwa Kusumasumantri, dan Kasman Singodimedjo. Ada satu tokoh lagi yang hadir, dengan nama samaran Kasman, yakni Tan Malaka. Laporan dalam simpanan arsip OSS, sebagaimana dikutip Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, menyebutkan bahwa di awal rapat, Kennedy menjelaskan bahwa misi AS merupakan misi intelijen sepenuhnya, dan kedatangan mereka tak bisa diartikan sebagai pernyataan persetujuan terhadap gerakan nasional Indonesia. Sukarno membalas, semua yang hadir memahaminya. Sukarno kemudian meminta maaf karena tak bisa bicara banyak dan menunjuk Soebardjo sebagai juru bicara. Namun pembicaraan kemudian lebih banyak dilakukan Kasman, dengan diselingi keterangan Sukarno, Hatta, dan Soebardjo. Pertemuan antara lain membahas soal penyitaan perusahaan-perusahaan besar, modal asing, dan peranan Sekutu dalam proses transisi. Sesudah pertemuan, Jane Foster segera kembali ke markas. Dia melaporkan bahwa gerakan nasionalis Indonesia “bukanlah bagian dari rencana besar Rusia ataupun Jepang untuk menggulingkan imperialisme Barat, melainkan ledakan alami atas tumpukan kekesalan yang sudah menggelora selama berpuluh-puluh tahun.” Foster juga menegaskan bahwa rakyat Indonesia “tidak merencanakan revolusi. Mereka mau membicarakan perdamaian.”

  • Pesona Baret Merah dan Luhut Kecil

    BONAR Pandjaitan tak ingin jadi tentara lagi. Setelah penurunan pangkat massal, pangkatnya turun dari letnan dua ke pembantu letnan. Bonar akhirnya bekerja di perusahaan minyak milik Amerika Serikat di Riau, Caltex. Kesejahteraan keluarganya tergolong baik di sana. Namun ketenangan hidup di sana terusik pada paruh kedua 1950-an. Ketika perlawanan terhadap pemerintah pusat bergejolak dari Sumatra Barat dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berdiri, Riau termasuk daerah yang terjangkit PRRI. PRRI satu paket dengan Permesta di Sulawesi Utara. Banyak pasukan dari Jawa yang dikirim ke daerah-daerah itu. Pekanbaru yang jadi pusat dari Riau pun dikirimi tentara oleh pemerintah pusat. Untuk merebut Pekanbaru, Pasukan Kangguru, yang berisikan pasukan dari Kompi A Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dengan kemampuan terjun payung, dikerahkan. Dari Tanjungpinang, pasukan ini diterjunkan dan merebut lapangan udara Simpangtiga pada 12 Maret 1958 tanpa menemui kesulitan karena para pengikut PRRI memilih lari dan bersembunyi.

  • Menghapus Rabies

    KETIKA tiga belas penduduk desa mereka digigit anjing dalam jangka waktu sepuluh hari di awal Agustus 2009, penduduk dan pemuka adat Ngis di Tabanan, Bali, segera berembug mengatasi kemungkinan terburuk: wabah rabies memasuki desa mereka. Masyarakat desa Ngis sepakat menandatangani enam butir perarem (aturan atau kesepakatan adat) terkait perawatan, kewajiban vaksinasi anjing, serta tidak membawa anjing peliharaan keluar dari desa, seperti diberitakan The Jakarta Post 2 Oktober 2009. Bali sebelumnya merupakan daerah bebas rabies. Pada November 2008, peningkatan kasus rabies pada manusia melanda Bali. Hingga awal Maret 2011, tercatat sekitar 124 korban manusia meninggal akibat gigitan anjing rabies. Rabies adalah penyakit zoonotic –virus ditularkan dari hewan kepada manusia– melalui saliva, cakaran, dan gigitan. Di Hindia Belanda, tulis Budi Tri Akoso dalam Pencegahan dan Pengendalian Rabies, keberadaan rabies awalnya ditemukan pada binatang: kuda (dilaporkan oleh Schrool) dan kerbau (oleh J.W. Esser) pada 1884, serta anjing oleh Penning tahun 1889.

  • Dari Kursus Hingga Percik

    DENGAN antusias, pria paruh baya itu berjalan menuju sebuah ruangan tak jauh dari meja kerjanya. Di depan pintu masuk ruangan itu, dia berhenti lalu menunjukkan sesuatu. “Coba, pernahkah Mas melihat tembok yang tebalnya segini? Ini tembok semua, setebal ini,” ujar Susiyanto, direktur pendidikan dasar dan menengah Yayasan Perguruan Cikini (Percik), kepada Historia. Dinding tebal yang ditunjukkan Susiyanto itu merupakan dinding asli bangunan sekolah Percik yang masih tersisa. Dinding itu saksi bisu perjalanan sejarah Percik. Percik mulanya hanya sebuah kursus bahasa Indonesia yang didirikan pada awal masa pendudukan Jepang. Kala itu, pemerintah pendudukan Jepang melakukan pengawaasan ketat terhadap sekolah-sekolah. Sementara sekolah swasta dilarang. Banyak ibu gundah dengan kondisi ini. Salah satunya Ny. Pandoe Soeradhiningrat atau biasa dipanggil Mak Umi, putri bupati Ciamis yang jadi istri wakil kepala Gunseibu Jawa Barat.

  • Roma Harga Mati bagi Francesco Totti

    DI hadapan ribuan fans yang memenuhi Stadion Olimpico pada 28 Mei 2017, Francesco Totti tenggelam dalam isak tangis. Legenda hidup AS Roma berjuluk “L’Ottavo Re di Roma” (Raja Roma Kedelapan) itu bersiap menjalani laga Serie A musim 2016/2017 kontra Genoa. Laga ituamat menentukankarenaGiallorossi (julukan Roma) butuh tiga angka terakhir demi bisa lolos ke Liga Champions musim 2017/2018. Totti diberi kesempatan bermain lebih lama oleh allenatore (pelatih) Luciano Spalletti di 36 menit terakhir menggantikan Mohamed Salah. Namun bukan kesempatan main atau pentingnya laga buat Roma itu yang membuat Totti menangis haru. Laga ke-786 Totti itu merupakan laga terakhirnya berseragam AS Roma yang sudah dibelanya selama 28 tahun.

  • Robert G. Edwards Bapak Bayi Tabung

    PADA 25 Juli 1978, sesaat sebelum tengah malam, lahirlah bayi perempuan di Rumah Sakit Umum Daerah Oldham, Manchester, Inggris. Berat bayi itu 2,61 kg dan dikeluarkan dengan operasi caesar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi itu normal. Kondisi ibunya pun baik. Bayi dari pasangan Lesley dan John Brown itu diberi nama Louise Joy Brown. Dialah bayi tabung pertama di dunia. Lesley mengidap blocked fallopian tubes atau tertutupnya saluran telur sehingga tak terjadi pembuahan karena sel telur dan sperma tak bertemu. Ini menjadi penyebab utama ketidaksuburan perempuan. Pada 10 November 1977, Lesley mendapat penanganan fisiolog Universitas Cambridge, Inggris, Robert G. Edwards dan ahli bedah kandungan Patrick Steptoe. Akhir November 1977, dengan menggunakan teknologi in vitro fertilization (IVF), embrio yang telah dibuahi di laboratorium ditanamkan di rahim Lesley. Dia hamil dan delapan bulan kemudian melahirkan. Teknologi IVF mendapat tantangan. Saat itu, tak satu pun agama-agama utama memiliki kebijakan resmi pada inseminasi buatan ini. Gereja Katolik Roma mengajukan keberatan terkuat. Uskup Agung St. Andrews dan Edinburgh, Kardinal Gordon Gray berkata, “Saya punya keraguan serius tentang kemungkinan implikasi dan konsekuensi untuk masa depan,” katanya seperti dikutip news.bbc.co.uk, 25 Juli 1978.

  • Pentas Penghabisan Bing Slamet

    JUNI 1974, kabar duka berembus: Bing Slamet meninggal dunia. Sontak kabar itu menyebar. Beberapa teman dan kerabat Bing berdatangan ke rumah. Tapi rumah Bing sepi. Anak Bing berdiri di depan pintu dengan pandangan mata tak sedap. Kabar ini juga sampai ke sebuah koran berbahasa Inggris. Mereka segera menghubungi Safari Sinar Sakti Film, perusahaan film yang dibikin Bing. Para pegawai Safari ikut kebingungan. Kabar tak lucu ini membuat Ratna Kumala Furi, istri Bing, menangis. Ucapan dukacita tak henti mengalir. Sutradara Wim Umboh hampir saja kirim bunga; dia dan istrinya datang menjenguk. Direktorat Film Departemen Penerangan terlanjur mengirim bunga. Begitu sampai, karangan bunga dikembalikan dengan kartu dukacita berubah bunyi jadi: “Bing Slamet segar bugar.”

  • Dinasti Bing Slamet

    “SAYA ikut keluarga berencana sampai tiga anak. Yang selebihnya hobi,” ujar Bing Slamet. Bing memang tak lepas dari lelucon. Pada akhirnya dia punya delapan anak. Eddy Sud pernah menanyakan masa depan anak-anaknya. Namun, Bing cuma tersenyum dan mengatakan: “Bimbinglah mereka menurut bakat masing-masing.” Kepada istrinya, Ratna Kamala Furi, sebelum Bing meninggal pernah berpesan agar menjaga anak-anak sebaik-baiknya. Dia juga tak ingin anak-anaknya jadi seniman. Namun, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Beberapa anak, bahkan cucunya, terus mengibarkan namanya.

  • Bing Slamet Menebus Dosa

    DI sebuah pesta, Bing Slamet terpikat pada seorang gadis yang datang bersama sang kakak, teman dekatnya. Gadis itu masih menginjak sekolah menengah pertama dan pemalu. Bing mengutarakan isi hatinya kepada temannya. Pesan itu pun sampai ke telinga si gadis. Mendengarnya, R. Ratna Kamala Furi kaget dan kelabakan. Furi lahir di Cirebon, 21 Maret 1945, anak keenam dari tujuh bersaudara, putri pasangan Abdul Rachim dan Chairani. Sejak kecil suka menikmati dan menyanyikan musik-musik sentimentil. Dia sempat menjajal lomba nyanyi di RRI Jakarta. Suaranya terbilang lumayan. Penyanyi favoritnya siapa lagi kalau buka Bing Slamet. “Bing paling hebat, penyanyi tak ada banding,” ujar Furi kepada Pelita, 15 Januari 1976. Proses pendekatan terjadi selama masa liburan sekolah. “Waktu itu Bing masih pegawai RRI sedang cuti selama sebulan. Jadi waktu berkenalan saya pikir dia pengangguran. Apalagi katanya dia seniman,” ujar Furi, dikutip Kompas, 11 September 1975. “Yang saya heran adalah sikap orangtua saya. Biasanya mereka keras sekali dengan pergaulan anak-anaknya. Tetapi sama Bing mereka merasa kasihan. Sehingga perkenalan berlangsung kilat saja. Dalam sebulan kami sudah nikah dan tinggal beberapa tahun di rumah ayah saya.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page