Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ranggalawe Melawan Majapahit
RANGGALAWE, adipati Tuban, memprotes keputusan Raden Wijaya, raja Majapahit, yang memilih Nambi sebagai patih amangkubhumi. Dia merasa dirinya atau Lembu Sora lebih pantas. Inilah yang mengawali rentetan pemberontakan di awal berdirinya negara Wilwatikta. Sebelumnya, Wijaya membagikan jabatan tinggi kepada rekan-rekan seperjuangan yang setia mendampinginya dalam pelarian dari tentara Jayakatwang. Sebagian nama pengikut Kertarajasa itu dijumpai dalam beberapa prasasti. Prasasti Kudadu (1294 M) menyebut Wiraraja sebagai mantri mahawiradikara. Prasasti Sukamrta (1296 M) menyebut Mpu Tambi (Nambi) sebagai rakryan mapatih, lebih tinggi dari Mpu Sora sebagai rakryan apatih di Daha.
- Kisah Nasional Majapahit
KALAU India punya kisah Mahabharata, Jawa punya Kisah Panji. Cerita tentang Raden Panji Inu Kertapati dan Galuh Candra Kirana ini begitu populer hingga menyeberang keluar Nusantara. Awalnya, tradisi Panji dimulai dari cerita lisan paling tidak sejak 1400 M. Pada era Majapahit, kisah ini mewujud dalam bentuk relief di candi-candi Jawa Timur. Arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar menyebut, salah satu candi yang punya relief candi adalah Panataran di Blitar, Jawa Timur. Candi Panataran bisa diibaratkan sebagai candi nasionalnya Majapahit. “Apabila Kisah Panji dipahatkan di percandian nasional Majapahit, Kisah Panji pun jadi kisah nasional Majapahit. Tak heran akhirnya dikenal di berbagai kawasan Nusantara dan Asia Tenggara,” ucap Agus dalam Seminar Internasional Panji/Inao 2018, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/7).
- Majapahit Menaklukkan Bali
GAJAH MADA dan Adityawarman memimpin tentara Majapahit menyerang Pulau Bali. Setelah melewati Selat Bali dan Samudra Hindia, dua armada Majapahit mendarat di Bali selatan. Dua armada lainnya mendarat di Bali utara lewat Laut Bali. Tujuan mereka adalah keraton raja Bali, Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten, di daerah Bedahulu (Bedulu, Gianyar). Pertempuran dahsyat pun pecah. Tentara Bali berupaya mempertahankan Bedahulu. Namun, tak mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Mereka justru bersimpati kepada tentara Majapahit karena perbuatan rajanya yang hina. Akhirnya, Bali jatuh ke tangan tentara Majapahit. Raja dan sanak keluarganya menyerah. "Raja Bali yang hina dan jahat diperangi bala tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka dan pergi menjauh," catat Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakrtagama.
- Pemberontakan Terhadap Raja Majapahit
SEMENJAK Jayanagara naik takhta, Majapahit sulit mendapat ketenangan. Pemberontakan silih berganti menggugat pemerintahan yang ketika itu tengah berlangsung. Satu-satunya yang bisa membuat raja bertahan di singgasana mungkin hanyalah sikap pemberani dan keahlian dalam strategi perang. Hal ini dikatakan sejarawan mantan Duta Besar Kanada di Indonesia, Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni. Jayanagara menikmati berada di tengah prajuritnya dan di medan tempur. Beberapa kali dia terjun langsung menumpas pemberontakan. “Menurut beberapa sumber, terjadi sebanyak dua belas kali pemberontakan, meski jumlah sesungguhnya sulit dipastikan,” jelas Drake.
- Perang Saudara Berebut Singgasana Majapahit
SEPENINGGAL Raja Hayam Wuruk terjadi perebutan kekuasaan takhta Majapahit. Pertentangan antara keluarga kerajaan pertama kali muncul ketika Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wisesa memerintah. Wikramawarddhana merupakan suami Kusumawarddhani, putri Hayam Wuruk. Dalam Kakawin Nagarakrtagama, Kusumawarddhani disebut sebagai rajakumari yang berkedudukan di Kabalan. Kendati bukan anak sulung, Kusumawarddhani diangkat menjadi putri mahkota karena lahir dari permaisuri. Namun, yang memakai mahkota adalah suaminya. Wikramawarddhana masih saudara sepupu Kusumawarddhani. Dalam Nagarakrtagama dan Pararaton disebut dia adalah anak Rajasaduhiteswari atau Bhre Pajang, adik Hayam Wuruk. “Wikramawarddhana adalah keponakan dan menantu Hayam Wuruk,” tulis arkeolog Hasan Djafar dalam Masa Akhir Majapahit.
- Perseteruan Keluarga Majapahit
PERANG saudara dalam peristiwa Paregreg sedikit mereda ketika Suhita naik takhta. Namun, perseteruan antaranggota keluarga Kerajaan Majapahit tak berhenti di situ. Pararaton-lah yang menamai perang saudara setelah Hayam Wuruk mangkat itu dengan Paregreg atau peristiwa huru-hara. Pemicunya perebutan singgasana antara suami Kusumawarddhani, Wikramawarddhana, dengan saudara tiri Kusumawarddhani, Bhre Wirabhumi. Wirabhumi menuntut takhta dari Wikramawarddhana. Namun, Wirabhumi tak berhak atas takhta Majapahit karena putra Hayam Wuruk dari selir. Posisi putri mahkota disandang Kusumawarddhani, anak Paduka Sori, permaisuri Hayam Wuruk. Paregreg berakhir setelah Wirabhumi dipancung. Namun, perang saudara terus terjadi. Secara turun-temurun, Majapahit diperintah oleh garis keturunan langsung Sanggramawijaya atau Raden Wijaya, sampai Suhita, cucu Hayam Wuruk, yang memimpin dari 1427-1447.
- Agama-agama di Majapahit
PRASASTI Waringinpitu yang dikeluarkan oleh Raja Kertawijaya pada 1369 Saka (1447) menyebutnama-nama pejabat birokrasi kerajaan di tingkat pusat. Di antaranya Dharmmadhyaksa ring kasaiwan (pejabat tinggi yang mengurusi Agama Siwa)dan Dharmmadhyaksa ring kasogatan (pejabat tinggi yang mengurusiAgama Buddha). Dari keterangan itu, menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar,dapat diketahui di Kerajaan Majapahit setidaknya ada dua agama resmi, yaitu Agama Siwa dan Agama Buddha. Pada perkembangannya, yaitu ketika Majapahit akhir, peran agama Buddha seakan menghilang. Sementara bangunan sucinya kebanyakan bercorak Siwa. Ini menunjukkan hubungan erat antara kedua agama itu. Oleh beberapa sarjana, hubungan ini disebut dengan berbagai istilah. H. Kern menyebutnya percampuran. N.J. Krom, W.H. Rassers, dan P.J. Zoetmulder menyebutnya perpaduan. Sedangkan Th.G.Th. Pigeaud menyebutnya kesejajaran.
- Yang Mati yang Bercerita di Toraja
DI DESA Bulu Langkan, Kabupaten Tana Toraja –pada 2009 mekar menjadi Kabupaten Toraja Utara– penduduk bicara tentang kematian, seakan-akan begitu akrab. Di sana tak ada pemisahan, orang mati diperlakukan sebagai moyang yang harus dijaga terus-menerus dan kelak akan bercerita tentang silsilah keluarganya. Tempat itu begitu sejuk. Dingin dengan pohon-pohon kecil. Entah di mana pohon-pohon besar yang seharusnya menghuni pegunungan; semua menjadi hamparan sawah. Tak ada yang tahu kapan itu bermula. Namun penduduk setempat meyakini, dengan menggarap perbukitan yang curam dan menanaminya padi cukup menjadi bukti keuletan masyarakat Toraja. Ketika mengunjungi daerah itu saya menyaksikan sebuah ritual sakral. Namanya ma′nene. Semua jenazah yang berumur puluhan hingga ratusan tahun dikeluarkan dari sebuah liang batu dan patane (kuburan modern yang terbuat dari dinding beton) untuk dijemur. Seluruh keluarga yang hadir ikut bersorak melihat keadaan jenazah, dari sanak famili, ayah, nenek, kakek, dan moyang. Satu per satu dijemur.
- Di Balik Kisah Raksasa Pemakan Manusia di Ratu Boko
DAHULU kala hiduplah raksasa pemakan manusia bernama Prabu Boko. Setiap hari ia mengirim prajurit untuk mencari manusia untuk dimakan. Jika prajurit itu gagal, ia yang akan dilahap. Teror itu membuat penduduknya mencari perlindungan ke kerajaan tetangga. Penguasanya baik hati. Ia segera mengirim putranya, Bandung Bondowoso untuk melawan raksasa itu. Pertempuran terjadi selama sepuluh hari. Prabu Boko pun kalah. Prabu Boko dipercaya menguasai Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Menurut Veronique Degroot, arkeolog Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO), dalam "The Archaeological Ramains of Ratu Boko: From Sri Lankan Buddhism to Hinduism" yang diterbitkan dalam Indonesia and the Malay World, wisatawan Belanda pada abad ke-19 menerima legenda itu tanpa ragu. Mereka menganggap situs yang sudah ada sejak abad ke-8 itu sebagai kompleks keraton dari masa Hindu dan Buddha.
- Inilah Daftar Kekejaman Raja-raja di Nusantara
SEJARAH kerajaan di Nusantara tidak hanya berisi catatan soal kebesaran dan jatuh bangunnya raja-raja mereka. Tidak semua raja-raja tersebut mampu berlaku adil dan bijaksana. Kekuasaan absolut menjadi ajang mempertunjukkan kelaliman. Berikut ini raja-raja dan kekejamannya yang pernah tercatat dalam sejarah Nusantara.
- Bukan Raja Jawa Biasa
DALAM sejarah Praja Mangkunegaran, tersebutlah raja-raja pembawa kejayaan. Mangkunegoro IV dikenal karena keberhasilannya mendirikan pabrik gula di Colomadu dan Tasik Madu yang menjadikan Mangkunegaran salah satu kerajaan terkaya di Nusantara. Sementara cucunya, Mangkunegoro VII, adalah raja yang gemar ilmu pengetahuan sehingga Mangkunegaran bersolek bak kerajaan modern. Di antara kedua raja tersebut, terselip periode kepemimpinan yang tidak banyak dibeberkan dalam penulisan sejarah Mangkunegaran. Kekosongan historiografi itulah yang coba diisi oleh buku Mangkunegoro VI: Sang Reformis yang ditulis Mega Janis, Fachmi Ardi, Insan Praditya, dan Tika Ramadhini. Para penulis muda ini tergabung dalam komunitas sejarah History Inc. Buku karya mereka ini diklaim sebagai biografi pertama yang meneliti sosok Mangkunegoro VI.
- Reformis Itu Bernama Mangkunegara VI
PEREKONOMIAN negeri berdarah-darah. Ratusan juta rakyat tertatih-tatih menyambung hidup di tengah pagebluk yang melanda sejak 2020. Meski begitu, masyarakat, terutama para pemimpin, negeri ini tak pernah kehabisan sumber inspirasi untuk bangkit dan keluar dari krisis. Salah satu teladan itu adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VI. “KGPAA Mangkunegara VI berhasil melaksanakan reformasi dari situasi bangkrut karena tenggelam dalam utang kepada Belanda menjadi terlunasi, bahkan mencapai surplus. Stabilitas perekonomian meningkat sehingga standar hidup masyarakat mulai membaik. Kisah ini sangat menginspirasi di saat kita masih berjuang memulihkan ekonomi pascapandemi COVID-19,” tutur Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka dalam sambutannya pada “Virtual Talk Show: The Game Changer ala Mangkunegoro VI”, Minggu (28/11/2021) petang. Diskusi daring yang dihelat Penerbit Buku Kompas di platform Zoom dan Youtube itu dihelat untuk memperingati 125 tahun penobatan Raden Mas Suyitno menjadi penguasa Kadipaten/Praja Mangkunegaran bergelar Mangkunegara VI pada 21 November 1896. Diskusi juga dalam rangka peluncuran buku Mangkunegara VI Sang Reformis: Sebuah Biografi karangan tim penulis komunitas History Inc.





















