top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pembaruan di Mangkunegaran

    PENDOPO Ageng, kompleks Istana Pura Mangkunegaran. Atap limasnya yang luas dan tinggi seolah tak mengizinkan terik mentari memanasi para pengunjungnya. Dengan “tubuh” hanya berupa tiang-tiang, ia justru membiarkan hembusan angin memberi suasana adem kepada para pengunjung di siang 17 Maret 2019 yang terik itu. Baiknya fungsionalitas pendopo tak lepas dari tangan dingin Thomas Karsten. Arsitek Belanda kelahiran 1885 itu ditunjuk sahabatnya, Mangkunegara VII, untuk memugar langit-langit Pendopo Ageng dan sejumlah bangunan lain di Pura Mangkunegaran pada 1938. “Gagasannya datang dari Stutterheim ketika konsultasi dengan Karsten dan sang Pengeran. Stutterheim membuat dua foto lukisan pada langit-langit kayu yang ia lihat di Ceylon (Sri Langka), menyimbolkan planet-planet, meski di dalam foto terdapat sembilan planet (bukan delapan seperti yang direncanakan untuk hiasan langit-langit pendopo astana),” tulis Madelon Djajadiningrat dalam “Tidak Adakah yang Bisa Kita Perbuat dengan Cermin yang Buruk Itu?” termuat dalam Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia suntingan Peter J.M. Nas.

  • Awal Modernisasi Perekonomian Mangkunegaran

    BISING kendaraan seolah lenyap begitu memasuki Mangkunegaran. Luasnya kompleks keraton seolah membuat suara kendaraan-kendaraan tak mampu memasukinya. Sebagai gantinya, yang terdengar hanya suara desis angin, kicau burung, dan tawa riang anak-anak yang berlarian. Siang 18 Maret 2019 itu, Mangkunegaran tak ramai. Selain serombongan turis asing, hanya ada satu-dua keluarga dan beberapa mahasiswa yang berkunjung. “Kalau musim liburan, dari berbagai kota itu banyak ke sini. Satu sekolah kadang-kadang 10 bus, 15 bus. Ya dari berbagai kota,” ujar Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia.ID. Para turis itu terlihat kagum terhadap bangunan maupun benda-benda antik koleksi Museum Puro Mangkunegaran. Mayoritas kondisinya masih terawat baik. “Ada kewajiban turun-temurun untuk memelihara. Memelihara biar generasi berikutnya tidak kehilangan sumber, kehilangan arah. Nah itu diupayakan tetap terpelihara,” sambungnya.

  • Jembatan Perlawanan Mangkunegaran

    DARI sekian banyak barang antik dan foto serta lukisan yang ada di Museum Puro Mangkunegaran, barang-barang koleksi milik serta tentang Mangkunegara VII mungkin paling banyak jumlahnya. Mangkunegara VII merupakan raja yang peduli terhadap budaya dan sejarah bangsanya. Selain itu, hidupnya sudah di era modern di mana fotografi telah masuk Hindia-Belanda. “Memang beliau ini, Mangkunegoro VII ini, multi talenta,” kata Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia.ID, 18 Maret 2019. Selain peduli terhadap seni-budaya dan politik, raja yang bernama lahir RM Soerjo Soeparto ini juga peduli terhadap ekonomi dan yang terpenting, terhadap rakyatnya. Kepedulian terhadap rakyatnya itu antara lain dia tuliskan usai mengunjungi kota-kota di Eropa semasa menuntut ilmu di Belanda.

  • Mengintip Masa Lalu dari Mangkunegaran

    DUA set gamelan di pendopo Pura Mangkunegaran itu sedang “menganggur”. Kecuali alat musik-alat musik lain seperti kendang, dua set gamelan tadi ditutupi kain hijau siang itu, 18 Maret 2019. “Kalau Rabu malam sama Jumat malam dimainkan,” ujar Doni Irawan, tour guide Pura Mangkunegaran, kepada Historia.ID. Di depan seperangkat gamelan yang berada di utara, berdiri papan keterangan bertuliskan: Kyai Kanyut Mesem. Usia gamelan itu lebih dari 200 tahun. Saat Raden Mas Said naik takhta menjadi Mangkunegara I, gamelan itu sudah ada. “Nah, [gamelan] itu yang dipakai untuk siaran langsung dengan peralatan radio,” kata Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia.ID.

  • Pendidikan Fondasi Kemajuan Mangkunegaran

    DALAM rangka merayakan Hari Penyiaran Nasional 2019, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melakukan napak tilas ke Solo, Jawa Tengah, 21 Juni 2019. “Dipilihnya Kota Solo sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan Napak Tilas Penyiaran Pemilihan Indonesia tahun ini menjadi alasan pihak KPID Jawa Tengah sebagai upaya menelisik kembali tentang sejarah penyiaran nasional yang notabene lahir di Kota Solo yang diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegara VII," tulis laman solotrust.com. Mangkunegara VII yang bernama lahir RM Soerjo Soeparto dikenal sebagai raja yang berpandangan ke jauh depan. Selain amat peduli pada rakyat, Mangkunegara VII peduli pada kebudayaan, kemajuan, dan pendidikan.

  • Mencari Arah Pendidikan Sejarah

    DIRJEN Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, pendidikan sejarah sekarang kurang menarik: membosankan, mengundang kantuk, dan penuh hafalan. Akibatnya, menjelang ujian kompetensi, banyak murid mengeluarkan jurus hafalan satu malam. Materi sejarah pun tak banyak masuk ke kepala mereka karena mayoritas pengajaran sejarah di sekolah semata membacakan ulang isi buku tanpa pemahaman sejarah yang riil dan relevan. Hal itu menjadi satu masalah yang disoroti Direktorat Jenderal Kebudayaan sejak penyelenggaraan Seminar Sejarah Nasional (SSN) tahun 2017. Banyak hal dalam pembelajaran sejarah yang perlu dibahas secara mendalam dan dirumuskan ulang, seperti cakupan materi, kisah-kisah terpinggirkan, dan pengajaran sejarah lokal. Bertolak dari situ, Direktorat Jenderal Sejarah mengambil “Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia” sebagai tema SSN tahun ini. “Tema [SSN] merupakan amanat SSN yang pertama. Kita belum menemukan arah pendidikan sejarah. Seminar ini memberi masukan penting untuk pemerintah pada praktik pelajaran sejarah di sekolah,” kata Ketua Panitia Sri Margana dalam sambutannya di UGM, Senin (3/12) malam.

  • Memperjuangkan Pendidikan dan Perlindungan untuk Perempuan

    KERICUHAN melanda Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, 1935 yang dipimpin Sri Wulandari Mangunsarkoro. Dua peserta, Suwarni Pringgodigdio dari Istri Sedar dan Ratna Sari dari organisasi perempuan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), berdebat hebat soal poligami. Suwarni tak sepakat dengan pendapat Ratna Sari yang memandang poligami dari segi Islam yang sangat konservatif. Toh, kongres berakhir damai. Salah satu hasilnya, kesepakatan membentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI) dengan Sri Wulandari sebagai ketuanya. Badan ini bertugas menyelediki keadaan buruh perempuan di Indonesia, khususnya yang bergaji kurang dari 15 gulden sebulan. Selain itu, kongres menghasilkan pembentukan Biro Konsultasi yang bertugas mendampingi perempuan dalam masalah perceraian. Biro ini dipimpin Maria Ullfah. Namun, malang menimpa Sri Wulandari. Usai kongres, dia dipanggil PID (Dinas Intelijen Hindia Belanda) dan diinterogasi. Kepada pada petugas PID, Sri Wulandari mengatakan bahwa kongres mereka membahas tentang masalah-masalah perempuan dalam perkawinan, hak pilih, juga tentang kemerdekaan Indonesia. “Sejak itu beliau diawasi Belanda,” kata Anik Yudhastowo Mangunsarkoro, menantu Sri Wulandari, kepada Historia.ID.

  • Tempat Pendidikan Buddha di Nusantara

    TAK semua tinggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia merupakan candi pemujaan. Seperti Situs Nalanda di India, Indonesia juga punya bangunan kuno sebagai tempat belajar ajaran Buddha dan asrama bagi para pendeta. Arkeolog Agus Widiatmoko menguraikan pusat-pusat pendidikan Buddha di India muncul sejak awal masehi. Ditandai dengan adanya Situs Piprahwa dari abad 1 dan 2 M, Situs Nagarjunakonda abad 3 M, Situs Ganwaria dari abad 4 M, dan Situs Nalanda yang didirikan masa pemerintahan Gupta pada abad 5 M. Masa Gupta, ditandai dengan pendirian tempat pendidikan Nalanda yang membawa ajaran Buddha memasuki era sumber ilmu pengetahuan. Memasuki abad 6 M, tak hanya dikenal dengan institusi Buddha yang menghasilkan karya seni, Nalanda juga menjadi pusat ajaran Mahayana.

  • Sukarno Produk Pendidikan yang Berhasil

    DI DUNIA seni peran, nama Agustinus Adi Kurdi tentu tidak asing lagi. Ketika melihatnya, orang teringat serial Keluarga Cemara yang populer pada 1997. Aktor kelahiran Pekalongan, 22 September 1948 itu dikenal berkat perannya sebagai "Abah". Bengkel Teater, yang dipimpin W.S Rendra, menjadi tempat pertama bagi Adi Kurdi mengawali karier. Dari panggung teater, dia menjajal layar lebar. Kepiawaiannya berakting dalam film Gadis Penakluk (1980) membuatnya masuk nominasi pemeran utama pria terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1981. Setelah itu, dia membintangi sejumlah judul film dan serial drama televisi, termasuk Kapan Kawin? dan serial Masalembo yang tayang 2015. Abah Kurdi, yang juga mengajar, menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Di balik popularitasnya sebagai aktor, dia begitu mengidolakan sosok Sukarno, sang proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Dengan logat Jawanya, Kurdi menyebut Sukarno sebagai salah produk pendidikan yang berhasil.

  • Pendidikan Agama di Kadewaguruan

    DI MASA lampau, tempat pendidikan berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Letaknya di lereng gunung dan di tengah hutan, terpisah dari pusat pemerintahan. “Selain sebagai tempat pendidikan agama, ia juga digunakan sebagai tempat bersemedi,” kata Agus Aris Munanadar, arkeolog Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Area itu disebut kadewaguruan, dipimpin seorang Dewaguru. Dalam melaksanakan tugasnya, Dewaguru dibantu murid-murid senior (ubwan dan manguyu). Kadewaguruan merupakan kompleks pertapa yang dirancang khusus. Tempat tinggal Dewaguru berada di tengah, sedangkan para murid mengelilinginya, disusun berjenjang berdasarkan tingkat pengetahuan mereka. Karena tataletak seperti ini, kompleks perumahan pertapa itu disebut mandala (konfigurasi lingkaran).

  • Kunjungan Sukarno ke Maroko

    PRESIDEN Sukarno dan rombongan tiba di Bandara Sale, Maroko, pukul 2.40 siang tanggal 2 Mei 1960. Disambut oleh Raja Maroko Mohammed V, Putra Mahkota Moulay Hassan, Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Abdullah Ibrahim, para menteri, pembesar sipil dan militer, serta korps diplomatik. Pasukan berkuda dari suku Berber dikerahkan di dekat bandara. Mereka menembakkan bedil sebagai tanda gembira. Rakyat menyambut di sepanjang jalan dari bandara sampai kota Rabat. “Membuka iringan ialah sedan dengan kap terbuka dengan Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V berdiri dan melambaikan tangan membalas sambutan rakyat,” kata H. Imrad Idris dalam Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat. Imrad bergabung dalam misi khusus yang mempersiapkan kunjungan Sukarno ke Maroko.

  • Mula Pertentangan Dua Kubu

    PADA November 1954, Ahmad Sadali, But Muchtar, Edie Kartasubarna, Hety Udit, Kartono Yudokusumo, Sie Hauw Tjong, Srihadi, Karnaedi, Sudjoko, Soebhakto, dan Popo Iskandar mengadakan pameran di Balai Budaya, Jakarta. Mereka semua mahasiswa Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar, cikal bakal Seni Rupa ITB. Pameran tersebut langsung menarik perhatian beberapa kritikus seni, menimbulkan polemik, dan membagi peta kesenian Indonesia menjadi Kubu Yogyakarta dan Kubu Bandung. Trisno Sumardjo lewat artikelnya di Mingguan Siasat November 1954, “Bandung Mengabdi Laboratorium Barat”, mengecam absennya “jiwa” dalam karya-karya di pameran itu. Sitor Situmorang juga berkomentar dengan nada serupa. Menurut mereka, karya-karya seniman Bandung berjiwa kosong dan merupakan perwujudan laboratorium seni Barat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page