Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menterinya Dibilang Goblok, Sukarno Tersinggung
SEBELUM mundur dari jabatan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly sempat bikin gaduh. Yasonna menyebut artis peran Dian Sastrowardoyo terlihat sebagai orang bodoh. Pasalnya, Yasonna menganggap Dian gagal paham dalam menanggapi revisi RKUHP. Meski dinista, Dian berlapang dada dan mengatakan akan terus belajar. Di sisi lain, Yasonna tetap menjadi pejabat publik karena berhasil melenggang ke parlemen sebagai anggota DPR. Sementara itu, Presiden Joko Widodo tidak memberikan reaksi atau tanggapan apapun soal kelakuan salah satu anak buahnya itu. Kalau Yasonna dalam kapasitasnya sebagai menteri mengolok-olok orang biasa macam Dian Sastro, maka di zaman Presiden Sukarno para menteri pernah mendapat cap goblok dari rakyat. Predikat itu tercetus dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Januari 1966. Mahasiswa marah karena terjadi kenaikan drastis harga bahan bakar. Kebijakan tersebut ikut mempengaruhi harga kebutuhan pokok lainnya.
- Bercerai Demi Republik
IDEALISME merupakan hal yang tak bisa ditawar. Kendati harus kehilangan sesuatu yang dicintai atau bahkan kehilangan nyawa sekalipun, idealisme tetap harus dipegang teguh. Sikap itulah yang dipegang kuat-kuat oleh Andi Depu Maraqdia alias Ibu Depu alias Ibu Agung. Sugiranna Andi Sura alias Andi Depu Maraqdia Balanipa adalah putri Raja Balanipa La’ju Kanna Idoro. Dia lahir di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada 1908. Ketika masih remaja, usia 15 tahun, Andi Depu dinikahkan dengan Andi Baso Pabiseang pada 1923. Aminah Hamzah dalam Biografi Pahlawan Hajjah Andi Depu Maraddia Balanipa menyebut Andi Baso Pabiseang adalah seorang bangsawan tinggi Mandar.
- Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik
EMBRIO mobil listrik sudah muncul berabad-abad lalu. Bahkan pernah meraih popularitas karena tidak berisik, handal, dan kemudahan menyalakan mesin. Namun ada satu kekurangan yang membuatnya tenggelam: belum bisa digunakan jarak jauh. Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: daya tahan baterai dan kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai. Hyundai Ioniq dan Kona Electric bisa tembus ratusan kilometer sekali isi penuh daya baterainya. Selain itu, mobil bisa dicas dari colokan rumah menggunakan portable charger. “Hyundai juga membekali konsumen dengan portable charger di kendaraan sehingga pemilik bisa melakukan pengisian ulang baterai mobil listrik Ioniq Electric dan Kona Electric milik mereka di rumah atau di mana saja, tidak perlu antri, bahkan bisa sambil melakukan aktivitas lain dengan nyaman. Charger yang kami sediakan menggunakan steker yang umum di Indonesia sehingga pengisian daya semudah mengecas baterai smartphone,” kata Makmur, managing director PT Hyundai Motors Indonesia dalam rilis persnya. Upaya Hyundai itu merupakan satu progres signifikan dalam perjalanan sejarah baterai listrik yang gagasannya sudah eksis sejak abad ke-18. Dua mobil listrik murni pertama di Indonesia, Ioniq (kiri) & Kona (kanan) yang ditenagai baterai lithium-ion polymer. (hyundai.com). Mengiringi Perkembangan Teknologi Battery yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi beterai istilahnya mengambil dari “Battery of Cannon” atau sekumpulan unit artileri. Thomas P. J. Crompton mengungkapkan dalam Battery Reference Book, kata “baterai” dipinjam negarawan sekaligus polymath Benjamin Franklin pada 1748 kala menamakan alat ciptaannya yang terbuat dari kaca yang bisa menampung listrik bertegangan tinggi, Leyden Jar. Alat yang memiliki konduktor di luar maupun di dalam wadah kaca bisa berfungsi itu mengingatkan Franklin pada baterai artileri yang berfungsi bersamaan. “Definisi baterai itu sendiri adalah alat yang memiliki satu atau lebih sel elektrokimia dengan sambungan-sambungan eksternal untuk membuat alat lain bekerja,” tulis Crompton. Sebelum adanya generator listrik dan electrical grids, baterai jadi satu-satunya sumber energi semua teknologi berbasis listrik yang mengiringi perjalanan sejarah penemuan yang mengubah dunia. Dari telegraf, telepon, komputer, hingga telepon seluler. Semua itu berhulu pada inovasi ilmuwan Italia Alessandro Volta yang menciptakan baterai pertama. Menukil S. V. Gupta dalam Units of Measurement: Past, Present and Future. International System of Units, pada 1700-an listrik masih jadi fenomena yang diperdebatkan para ilmuwan. Mereka terbagi antara yang mempertanyakan apakah listrik masih berkaitan dengan fenomena alam dan terhubung dengan kehidupan manusia sebagai makhluk biologis atau listrik muncul sebagai fenomena dari reaksi-reaksi kimia. Perdebatan itu juga dilakoni Volta. Dia berdebat dengan rekannya yang pakar biologi, Luigi Galvani. “Faktanya, pada 1799 Volta pernah berdebat dan tidak setuju dengan teori Galvani terkait teori bahwa jaringan organ hewan mengandung sebuah wujud listrik. Hal itu mendorong Volta membuat sebuah alat, voltaic pile (tumpukan volt) untuk membuktikan bahwa listrik tak berasal dari jaringan biologis hewan, melainkan dihasilkan dari kontraksi logam-logam seperti besi dan kuningan dalam sebuah lingkungan yang lembab,” tulis Gupta. Voltaic Pile (kiri), baterai pertama di dunia dan sempat dipamerkan Alessandro Volta kepada Kaisar Napoleon Bonaparte. (Tempio Voltiano/New York Public Library). VoltaicPile kemudian diakui sebagai baterai pertama di dunia. Bentuknya berupa susunan pelat tembaga, seng, dan lapisan kertas garam basah berselang-seling yang ditumpuk di sebuah wadah lonjong berbahan kayu. Kendati telah menciptakan VoltaicPile, Volta belum paham betul tegangan listrik yang dihasilkan dari reaksi kimiawi alatnya. Ia bahkan sempat kecele karena mengira alat ciptaannya akan jadi sumber energi yang takkan ada habisnya. Padahal, setelah beberapa lama energi baterai pertama itu tandas juga. Selain itu, penggunaan Voltaic Volta belum praktis untuk alat lain berbasis listrik. Pada 1836, perkembangan perbateraian memasuki tahap lebih maju. Kimiawan Inggris Profesor John Frederic Daniell berhasil menciptakan dan mematenkan Daniel Cell, baterai praktis pertama. Daniell Cell dibuat dari tabung tembaga yang di dalamnya diisi cairan senyawa CuSO4 (tembaga sulfat) dan di dalamnya lagi menampung tabung berbahan tembikar berisi cairan H2SO4 (asam sulfat) dan pelat seng. Tabung tembikar berpori itu berfungsi sebagai penyaring agar CuSO4 bisa tetap melepaskan ion-ionnya tanpa tercampur cairan lain. Alhasil, energi yang dihasilkannya lebih awet, andal, aman, dan tak cepat mengalami korosi. Keunggulan itu membuat Daniel Cell dijadikan standar industri. Daniel Cell inilah yang mengiringi perkembangan teknologi lain, mulai telegraf hingga bel pintu, sampai 100 tahun kemudian. Daniell Cell pula yang menginspirasi kemunculan inovasi-inovasi serupa, mulai dari Bird’s Cell ciptaan Golding Birt (1837), Poros Pot Cell karya John Dancer (1838), hingga Fuel Cell buatan William Robert Grove (1839). Gaston Planté dan baterai ciptaannya. (Linda Hall Library). Baterai “Cas” Betapapun, energi yang dihasilkan baterai ciptaan Daniell hingga Alfred Dun dengan Dun Cell (baterai bersel asam nitro-muriatic) bakal tandas secara permanen tanpa bisa dipulihkan kembali alias “dicas”. Padahal, zaman menuntut kemampuan lebih. Para produsen mobil, baik konvensional maupun berbasis listrik, sangat membutuhkan baterai yang bisa di-charge atau diisi ulang. Tantangan itu berhasil dijawab ilmuwan Prancis Gaston Planté pada 1859 dengan menciptakan baterai bersel timbal-asam yang bisa diisi ulang. “Planté bereksperimen dengan sistem gulungan baterai timbal-asam, di mana sel-sel yang digunakannya adalah dua pelat timbal tipis dan dipisahkan dengan lembar-lembar karet. Saat sirkulasi, arusnya mengaliri pelat positif menuju timbal dioksidan sehingga kapasitas listriknya meningkat. Proses ini masih jadi aspek yang signifikan dalam industri baterai timbal-asam sampai hari ini,” ungkap tim riset Gates Energy Products dalam Rechargeable Batteries Applications Handbook. Penemuan Planté mendorong pengembangan lanjutan baterai isi ulang oleh banyak ilmuwan. Baterai isi ulang menggunakan zinc anode-manganese dioxide, misalnya, diciptakan Georges Leclanché pada 1866, lalu baterai sel kering pertama dari sel karbon-seng diciptakan Carl Gassner pada 1886, dan pada 1899 Waldermar Jungner menciptakan baterai dengan elektrolit alkalin pertama. Aki (accu) yang ada saat ini merupakan kelanjutan dari baterai temuan Planté. Pada 1912, Gilbert Newton Lewis memulai eksperimen baterai lithium. Menurut Akademisi Universitas Stanford Kyle Weikert dalam artikel berjudul “Lithium Battery Dangers: Past and Present”, Lewis mencoba menggantikan baterai nikel kadmium yang banyak digunakan untuk alat listrik dengan lithium, logam paling ringan saat itu. “Lithium bisa menyimpan potensi elektrokimia dalam jumlah besar karena kepadatan materialnya. Meski begitu, logamnya secara alamiah tidak stabil dan terbukti komponen penyimpan energinya selalu bermasalah ketika diisi ulang,” tulis Weikert. Masalah itu baru terpecahkan pada 1970-an lewat kombinasi lithium-ion (Li-ion) yang dikembangkan sejumlah ilmuwan seperti John Goodenough, M. Stanley Whittingham, Rachid Yazami, dan Koichi Mizushima. Baterai li-ion pertama yang masuk pasar komersil lahir dari eksperimen tim periset Asahi Kasei pimpinan Yoshio Nishi pada 1991. Sejak itu, baterai, baik yang bertipe lithium atau bukan, jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Berangkat dari perkembangan baterai itulah Hyundai menciptakan sejarah baru di Indonesia lewat Ioniq dan Kona. Tak hanya bisa mengisi ulang di SPKLU, Sedan Ioniq & SUV Kona bisa "dicas" di stop kontak rumahan. (hyundai.com). Sejarah Baru Di tahun baru ini, PT Hyundai Motor Indonesia menghadirkan sejarah baru dengan meluncurkan dua mobil bertenaga listrik murni pertama di Tanah Air: Ioniq Electric dan Kona Electric. Lewat kampanye “Be Bold. Be Electric”, raksasa otomotif Korea Selatan ini menghadirkan dua tipe mobil listrik yang dipasok baterai berteknologi mutakhir lithium-ion polymer. Sedan Ioniq Electric dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh yang bisa melahirkan daya maksimal 100 kW/136 PS. Sementara SUV (sport-utility vehicle) Kona Electric ditenagai baterai dengan tipe serupa berkapasitas 39,2 kWh yang juga mampu mengeluarkan daya maksimal 100 kW. Langkah itu menjadi kunci sejarah baru. Dengan baterai lithium-ion polymer itu Hyundai menjadi game-changer pertama di Indonesia, satu langkah maju menuju era mobilitas masa depan. Selain lebih efisien, Ioniq dan Kona menjadi agen dalam mewujudkan kendaraan ramah lingkungan. Baterai lithium-ion polymer yang jadi sumber tenaga Ioniq dan Kona tak hanya bebas emisi sehingga ramah lingkungan namun juga dijamin keamanannya. Hyundai melengkapinya dengan tiga langkah pengamanan: desain rigid cell architecture untuk menahan benturan di bagian inti baterai, vehicle cooperative control untuk mencegah korsleting, dan active protection untuk mencegah gagal sistem kala mengisi ulang daya. Untuk lebih memudahkan pengisian ulang jika pengguna tak sempat mampir ke SPKLU (stasiun pengisian kendaraan listrik umum) atau dealer-dealer Hyundai, HMI menyediakan pengisi ulang portable ICCB (in-cable control box) pada setiap pengguna Ioniq dan Kona. Alat tersebut bisa membuat para pengguna mengisi daya listrik mobil menggunakan stop kontak standar rumah atau kantor.*
- Lika-liku Mobil Listrik yang Menggelitik
SEMENJAK Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono X memiliki “kereta setan” alias mobil, jumlah kendaraan bermotor empat roda terus bertambah. Namun, pertambahan mobil sebagai kendaraan pribadi masyarakat Indonesia berjalan lambat. Penggunaan mobil baru masif jauh setelah Indonesia merdeka, terutama setelah masuknya mobil-mobil Jepang pada 1970-an. Masifnya penggunaan mobil sebagai kendaraan pribadi membuat pasar otomotif tanah air membesar. Para produsen dari berbagai belahan dunia tertarik. Beragam jenis mobil berikut teknologi yang menyertainya pun bermunculan. Isu kelestarian lingkungan menjadi tantangan sekaligus pangsa pasar tersendiri yang mendorong para produsen mengembangkan mesin bertenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga bahan bakar minyak (BBM). Di Indonesia, Hyundai menjadi pelopornya dengan meluncurkan mobil listrik murni Ioniq Electric dan SUV (Sport Utility Vehicle) Kona Electric oleh PT Hyundai Motor Indonesia pada 6 November 2020. Beragam fitur teknologi yang disandang Hyundai Ioniq dan Kona merupakan bagian dari perjalanan sejarah panjang mobil listrik. Laju Sejarah Mobil Listrik Embrio mobil listrik muncul pertamakali pada 1828 lewat mesin elektrik ciptaan Ányos Jedlik, ilmuwan Hungaria sekaligus pendeta Ordo Santo Benediktus. Bereksperimen sejak setahun sebelumnya,dengan hanya bermodalkan imajinasi, Jedlik menciptakan alat penggerak elektromagnetis yang dinamakannya lightning-magnetic self-rotor (baling-baling kilat magnetis yang bergerak sendiri). “Bagaimana jika, secara kebetulan, sebuah aliran listrik cukup besar yang melewati kumparan ditempatkan di sekitar pasak magnetis? Jika hasilnya membuat pasaknya lebih kuat, maka aliran listriknya akan membuat sekeliling pasaknya lebih kuat pula, di mana hal itu akan memberikan aliran lebih kuat lagi hingga sebuah batas tertentu,” ungkap Jedlik dalam catatannya, dikutip Kevin Desmond dalam Innovators in Battery Technology: 95 Influential Electrochemist. Jedlik lantas menjajal alat buatannya dengan menempatkan di sebuah kendaraan kecil seukuran mainan. Percobaannya berhasil, namun karya Jedlik itu dianggap tak punya prospek apapun saat itu. “Mesinnya tak punya tujuan pengaplikasian yang praktis, apalagi komersial sebagaimana pandangan Ordo Benediktus saat itu, hingga akhirnya ciptaannya dikesampingkan. Ia juga tak pernah lagi membicarakan penemuan revolusionernya itu selama tiga dekade berselang,” sambung Desmond. Ányos István Jedlik dengan mesin listrik ciptaannya. (anc/jedliktarsasag.hu). Di periode yang sama, ilmuwan asal Skotlandia Robert Anderson menciptakan hal serupa. Dia membuat purwarupa kereta yang tak digerakkan dengan kuda, melainkan dengan baterai pada 1832. “Hanya sedikit yang diketahui dari penemuan Robert Anderson –sayangnya detail-detail tentang kendaraan buatannya sudah hilang. Hanya diketahui antara 1832-1839 dia mendesain, membangun, dan menguji kereta yang digerakkan baterai. Anderson juga sayangnya belum punya alternatif selain menggunakan baterai berisi sel-sel timbal-asam non-isi ulang. Baterai yang rechargeable sendiri baru ditemukan pada 1859,” tulis Nigel Burton dalam History of Electric Cars. Meskipun penemuan Anderson hanya jadi catatan kaki dalam historiografi mobil listrik, nama Anderson tetap diakui sebagai pionir mobil listrik. Anderson tak seberuntung ilmuwan Belanda Sibrandus Stratingh. Bila penemuan Anderson minim apresiasi, kereta tiga roda berpenggerak baterai karya Stratingh pada 1834 diapresiasi secara luas. Ciptaan Stratingh itu berupa kereta terbuat dari kayu berbobot tiga kilogram yang ditempatkan dua pelat kumparan masing-masing bermaterial tembaga dan seng. Di atas keretanya, Stratingh menempatkan sebuah guci berisi asam encer. Idenya datang setelah membaca sejumlah riset karya Moritz von Jacobi yang mendesain mesin elektromagnetik di St. Petersburg, Rusia. Sibrandus Ezn. Stratingh dengan kereta bermesin listrik pertamanya. (rug.nl). Dibantu mekanik Christopher Becker, Stratingh membuat beberapa purwarupa untuk dijajal beperjalanan keliling kota Groningen pada 22 Maret 1834. Suratkabar Groninger Courant edisi 27 Maret 1834 melaporkan, percobaan perdana Stratingh berjalan lancar tanpa masalah apapun. “Pada pagi 22 Maret, perjalanan ujicoba pertama dilakukan Tuan Stratingh dan Becker dengan kendaraan mereka yang beperjalanan melalui jalan-jalan berliku di kota dengan hasil positif. Para pembuatnya sangat senang dengan pengujiannya hingga mereka merasa masih bisa melakukan pengembangan lagi agar juga bisa melewati jalan-jalan berbatu tanpa masalah,” demikian Groninger Courant memberitakan. Kereta buatan Stratingh melakoni pengujian jarak jauh pertamanya pada 3 November 1835 dengan rute Groningen-De Punt yang berjarak 20 kilometer. Hasilnya memuaskan. Kabar keberhasilan itu mencapai telinga Raja Willem I yang lantas memberi Stratingh insentif 600 gulden demi melanjutkan penelitiannya dan berbagi pengetahuan ke sejumlah kampus. Namun, penelitian Stratingh acap terhambat karena kesehatannya mulai terganggu. Sepeninggal Stratingh yang tutup usia pada 15 Februari 1841, pengembangan mobil listrik dilanjutkan insinyur Prancis Gustave Trouvé. Dengan ketersediaan baterai timbal-asal yang bisa diisi ulang ciptaan ilmuwan Belgia Gaston Planté, pada 1881 Trouvé menciptakan mobil beroda tiga yang bisa mengangkut manusia. “Trouvé sebelumnya mengembangkan mesin itu untuk pengaplikasian transportasi air, hingga menghasilkan perahu bermesin listrik pertama yang melintasi Sungai Seine, hingga kemudian dia mengadaptasikannya ke sebuah kendaraan beroda tiga Coventry-Rotary,” sambung Burton. Purwarupa pertama mobil Trouvé lahir pada 26 Mei 1881. Dalam pengujiannya, kendaraan itu bisa melaju hingga kecepatan 3,6 km/jam saat jalan menanjak dan 9 km/jam di jalanan menurun. Dia memamerkan penemuannya di Exsposition Internationale d’Électricité di Paris, 15 Agustus-15 November 1881. Thomas Parker, insinyur Inggris yang kondang berkat inovasinya berupa trem di Liverpool dan Birmingham, turut menciptakan mobil bertenaga listrik pada 1884. Mobil beroda empatnya bahkan bisa mengangkut tiga orang. Kelebihan mobil Parker adalah mesinnya tak mengepulkan asap seperti buatan Trouvé atau Stratingh. Searah jarum jam: kolase mobil listrik ciptaan Gustave Pierre Trouvé, Thomas Parker, Andreas Flocken dan LRV milik NASA. (Bibliothèque Nationale de France/evrijders.nl/Deutsches Museum/nasa.gov). Empat tahun berselang, giliran ilmuwan Jerman Andreas Flocken melaju dengan mobil ciptaannya, Flocken Elektrowagen. Mobil ini diklaim sebagai mobil listrik pertama yang dilengkapi penerang listrik di depannya dan diproduksi massal oleh Macinenfabrik A. Flocken di Coburg. Amerika Serikat baru mengikuti pada 1890 lewat kereta bermesin listrik pertama yang bisa mengangkut penumpang hingga 12 orang ciptaan William Morrison. Dibuat di Des Moines, Iowa, mobil ini bisa melaju hingga 23 km/jam. Mobil ini ditenagai mesin listrik dengan baterai yang bisa diisi ulang dan dilengkapi sistem gir dan mekanisme setir yang lebih praktis ketimbang para pendahulunya. Diklaim sebagai mobil listrik praktis pertama, mobil Morrison jadi pijakan awal kepopuleran mobil listrik hingga akhir abad ke-19. Dalam Used Battery Collection and Recycling, G. Pistoia, JP Wiaux, dan SP Wolsky menulis, mobil listrik mampu bersaing dengan mobil Internal Combustion Engine (ICE) atau mobil konvensional BBM di pasar Amerika. “Pada akhir abad ke-19 sebenarnya teknologi mesin listrik dan uap lebih maju ketimbang mesin berbahan bakar minyak. Sampai tahun 1900, 38 persen mobil di Amerika adalah mobil listrik. Hampir 34 ribu mobil listrik terdaftar di Amerika pada 1912,” tulis Pistoia dkk. Pengoperasian yang tidak berisik, kehandalan, dan kemudahan menyalakan mesin jadi sejumlah faktor kesuksesan penjualannya. Namun, kekurangan mobil listrik pada awal abad ke-20 adalah masih belum bisa digunakan jarak jauh. Harganya pun relatif lebih mahal ketimbang mobil BBM yang mulai 1930-an menenggelamkan kepopuleran mobil listrik. Krisis Minyak Beberapa produsen mobil konvensional terkemuka perlahan mengembangkan mobil listrik. Terutama pada 1970-an ketika terjadi krisis minyak dan mencuatnya isu lingkungan. Terbukanya potensi pasar mobil bermesin alternatif kemudian memunculkan mobil hybrid (dua mesin: BBM dan listrik), ataupun plug-in hybrid (bermesin BBM dan listrik yang yang di-charge dari sumber listrik eksternal). Di Indonesia, Hyundai menjadi pelopor mobil listrik murni dengan meluncurkan Ioniq dan Kona. Keduanya jadi ujung tombak pabrikan asal Korea Selatan itu untuk mendobrak pasar mobil konvensional. Mengusung kampanye “Be Bold, Be Electric”, Hyundai menawarkan aspek filosofis sekaligus aspek ekonomis melalui Ioniq dan Kona. Kedua mobil ini merupakan agen perubahan gaya hidup kita agar ramah lingkungan dan secara ekonomis. Ioniq dan Kona bukan hanya mobil listrik murni termurah di Indonesia (di bawah Rp1 miliar) namun juga 4,4 kali lebih irit dibanding mobil konvensional, hybrid ataupun plug-in hybrid. Keiritan Ioniq dan Kona didapat dari pasokan sejumlah teknologi mutakhir. Ioniq & Kona, dua mobil listrik murni pertama di Indonesia persembahan Hyundai Motor Indonesia. (hyundai.com). Ioniq yang lebih dulu lahir (Juli 2016) dan masuk Indonesia sebagai armada taksi online, tenaganya dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh. Ia bisa menjelajah sejauh 277 kilometer. Sementara Kona yang lahir pada Juni 2017 di Korea, ditopang tenaga listrik dari baterai lithium-ion berkapasitas 39,2 kWh dan magnet synchronous 150 kW. Kona mampu menjelajah hingga 261 kilometer. Baterai Ioniq maupun Kona dilengkapi Electric Power Control Unit (EPCU) dan On Board Charger (OBC) untuk memastikan kondisi baterai berpendingin itu tak mati tiba-tiba di tengah jalan. Untuk pengisiannya pun mudah. Pengguna bisa mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang disediakan Perusahaan Listrik Negara (PLN) –saat ini masih seratas area Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya Denpasar, dan Makassar– atau di semua dealer resmi Hyundai di Indonesia. Keseriusan Hyundai dalam menyongsong era mobil listrik juga dilakukan dengan memperhatikan desain Ioniq maupun Kona. Untuk ini, Hyundai menggandeng desainer Luc Donckerwolke. Alhasil desain primium Ioniq dan Kona kuat menampilkan kesan futuristik. Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas sejumlah mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai, harga selangit, dan daya tahan baterai itu sendiri.*
- Istri Jenderal Minta Panser
HATI Likas Tarigan ketar-ketir begitu mendengar sejumlah jenderal teras TNI AD di jajaran Staf Umum AD (SUAD) menghilang pada 1 Oktober 1965. Pasalnya, suami Likas yakni Mayor Jenderal TNI Djamin Gintings yang termasuk perwira tinggi SUAD (menjabat Asisten II/Operasi dan Latihan Menpangad) juga saat itu tak jelas keberadaannya. Berita dari radio dan televisi memberikan kabar simpang siur, salah satunya adalah bahwa para jenderal itu diculik oleh pasukan yang menamakan dirinya Gerakan 30 Septebmer. “Aku bertanya dalam hati, di mana suamiku kini berada? Hubungan telepon terputus di mana-mana,” kenang Likas dalam Perempuan Tegar dari Sibolangit: Biografi Likas Tarigan Jamin Gintings karya Hilda Unu Senduk.
- Suami-Istri Cerai Gara-gara Beda Partai
BEDA pilihan dalam pemilihan umum ada kalanya membuat hubungan antar-individu jadi renggang. Perseteruan saban lima tahunan ini melingkupi berbagai kalangan dan lingkungan. Mulai dari media sosial, tempat kerja, tempat tinggal, hingga keluarga. Fenomena itu masih terjadi pula pada pemilihan umum tahun ini. Baru-baru ini dikabarkan, seorang pria di Kecamatan Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) melakukan kekerasan kepada istrinya. Aksi KDRT itu dipicu karena sang istri berbeda pilihan calon presiden dengan suaminya. Mengetahui istrinya berbeda pilihan capres, sang suami memukul bagian belakang kepala istrinya. “Pengakuan korban pilih capres nomor urut 2 Prabowo-Gibran sedangkan sang suami memilih capres nomor urut 1, Anis-Muhaimin. Laporan korban masuk pada 15 Februari kemarin,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Batu Aji Iptu Yudha Firmansyah, seperti dilansir dari detik.com.
- Ketika Srihani Jadi Ibu Negara
KABAR kedekatan Sukarno dengan Hartini tidak lepas dari perhatian pemerintah. Kawan seperjuangan Sukarno masa pergerakan Ali Sastroamidjojo, waktu itu menjabat perdana menteri, berusaha mencegah terjadinya skandal. Ali menyarankan agar Sukarno menjalin hubungan secara diam-diam, agar tak menjadi gosip nasional. Sukarno tak ambil pusing. Toh, pada akhirnya dia tetap memperistri Hartini. “Hubungan awal mereka pakai inisial nama Srihana dan Srihani untuk bersurat. Hubungan Bung Karno dan Hartini lantas di blow up ke publik oleh suratkabar Indonesia Raya,” ujar Arifin Suryo Nugroho, penulis buku Srihana-Srihani: Biografi Hartini Sukarno, kepada Historia. Berita ini menjadi isu panas selama sebulan lebih di Indonesia Raya. Kedudukan Hartini terjepit dalam masalah-masalah keprotokolan dan pertemuan resmi. Dia tak bisa mengiringi Sukarno ke podium atau duduk bersama para menteri beserta istrinya. Pun Sukarno tak dapat memaksakan kedudukan demikian untuknya. Juga Hartini tak diperbolehkan memasuki Istana di Jakarta.
- Hartini Dihina, Sukarno Murka
IBU Negara Iriana Joko Widodo dirundung dalam sebuah unggahan Twitter. Semua bermula dari potret kebersamaan antara Iriana dengan Ibu Negara Korea Selatan Kim Keon Hee. Momen itu terjadi di sela-sela perhelatan KTT G20 di Bali beberapa hari lalu. Namun, seorang kartunis bernama Kharisma Jati menuliskan keterangan bernada olokan terhadap Iriana. “Bi, tolong buatkan tamu kita minum.” “Baik, Nyonya,” tulis Kharisma pada akun Twitter-nya @KoprofilJati. Rekaan percakapan kedua ibu negara tersebut seolah terjalin hubungan majikan dan asisten rumah tangga. Sontak saja unggahan itu memantik kontroversi. Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, putra sulung dan bungsu pasangan Joko Widodo dan Iriana, bahkan mempertanyakan apa maksud dari postingan Kharisma dalam cuitan mereka masing-masing. Meski telah melayangkan permohonan maaf, Kharisma terancam dipidana atas perbuatannya merendahkan ibu negara. Sebagai pendamping orang nomor satu di Republik ini, istri presiden tetaplah seorang wanita, ibu, dan orang tua yang mesti dijaga perasan serta kehormatannya. Menilik ke masa lampau, penghinaan terhadap istri presiden juga pernah dialami Presiden RI pertama Sukarno. Penghinaan ini terbilang jauh lebih merendahkan karena melontarkan predikat tunasusila.
- Insiden Hartini di Singapura
SEKITAR September 1961. Suatu hari Konsulat RI di Singapura tiba-tiba menerima pesan kawat dari Jakarta. Bukan sembarang pesan, pengirimnya Istana kepresidenan. Dikabarkan bahwa Hartini, istri Presiden Sukarno, akan berkunjung ke Singapura secara incognito. Namun, kedatangan Hartini tanpa disertai Bung Karno yang harus menghadiri Konferensi Non Blok di Belgrade, Yugoslavia. “Untuk Ibu Hartini telah saya sewakan mobil yang bagus dan modern, lebih bagus dari mobil kepala perwakilan, hanya memang tanpa bendera merah putih,” kata Kolonel Soegih Arto, konsul jenderal RI untuk Singapura, dalam otobiografi Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Menurut Soegih Arto, penggunaan bendera Merah Putih tidak diperlukan karena kunjungan Hartini bersifat incognito. Setelah penyambutan resmi oleh konsulat, Hartini dan rombongan langsung menuju Hotel Goodwood Park. Pada malamnya diadakan gala dinner di kediaman kepala perwakilan. Semua pejabat konsulat serta tokoh masyarakat Indonesia di Singapura hadir bersama istri masing-masing. Namun, suasana malam itu terasa “dingin” untuk seorang istri presiden.
- Hartini dan Jenderal Anti Poligami
KETIKA Jenderal TNI A.H. Nasution menghadiri Halalbihalal di Istana Negara, Presiden Sukarno melontarkan tanya dalam bahasa Belanda. “Zeg Nas, wanner komt je bij mij lunchen?” Pertanyaan ini jelas bikin Nasution, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan Keamanan, bingung kasih jawaban. Dalam bahasa Indonesia ajakan itu berarti, “Hei Nas, kapan kau datang makan siang dengan aku?” Makan siang di kediaman Sukarno berarti Nasution diundang datang ke Istana Bogor di mana Hartini hadir. “Suatu kejutan baru,” kata Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Nasution memang bersedia ke Bogor dan duduk semeja makan bersama Sukarno dan Hartini. Akan tetapi, dia tak menjamin kehadiran istrinya, Johana Sunarti.
- Hartini, First Lady yang Tak Diakui
CINTA. Itulah yang membuat Sukarno rela menduakan Fatmawati, istri yang telah memberinya lima putra dan putri, dan berpaling ke Hartini. Apa yang ada di benak Bung Besar? “Aku bertemu dengan Hartini. Aku jatuh cinta kepadanya,” kata Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. “Dan percintaan kami begitu romantis, sehingga orang dapat menulis sebuah buku tersendiri mengenai hal itu.” Menggantikan Fatmawati dari hati Sukarno tak serta merta menjadikan Hartini sebagai Ibu Negara. Predikat itu tetap melekat pada Fatmawati sekalipun dirinya memilih minggat dari Istana. Ketetapan demikian memang telah menjadi janji Sukarno terhadap anak-anaknya. Bahwa tak akan ada permaisuri di Istana Negara selain ibu kandung mereka.
- Persija Kontra Salzburg di Lapangan Ikada
LAGA bertabur gol tersaji di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas) pada 9 Juli 1955. Hari itu, tim tuan rumah Persija Jakarta menjamu klub asal Austria, Salzburg. Jalannya pertandingan berlangsung seru karena kedua tim saling jual-beli serangan sejak babak pertama. “Salzburg mengalami kekalahan yang pertama selama turnya di Indonesia, ketika mereka berhadapan dengan kesebelasan Persija di lapangan Ikada. Pemain-pemain ibu kota itu menang dengan 5-4,” demikian diwartakan Kedaulatan Rakjat, 11 Juli 1955. Menurut peneliti sejarah olahraga Dimas Wahyu Indrajaya, pertandingan itu dihelat dalam rangka Silver Jubilee atau peringatan 25 tahun Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 1955. Klub SV Austria Salzburg yang menjadi cikal-bakal FC Red Bull Salzburg didatangkan PSSI untuk menjadi lawan tanding tim nasional dan klub-klub papan atas di Jawa dan Sumatra. Dari 11 pertandingan, Salzburg meraih 6 kemenangan, 4 imbang, dan 1 kalah. Satu-satunya kekalahan Salzburg terjadi saat melawan Persija.





















