Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Totalitas Srikandi Lapangan Hijau
KETIKA dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Papat Yunisal kedatangan banyak teman. Suatu malam, kakak kelasnya, Yati Sumaryati, ibu pesepakbola Airlangga Sucipto, datang menjenguknya yang dirawat karena sakit kuning. Dia datang memakai jaket klub Putri Priangan yang tulisannya “Sepakbola Wanita”. “Saya tanya, itu dari mana jaketnya. Dia bilang dari klub yang ikut kejuaraan sepakbola wanita di Yogyakarta,” ujar Papat kepada Historia.ID saat ditemui di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, Cimahi, beberapa waktu lalu. Kedatangan Sumaryati itu menjadi tonggak penting dalam sejarah kehidupan Papat. Sejak itu, dia berhasrat pada sepakbola. Olahraga terpopuler di jagat itulah yang kemudian mematri namanya di antara segelintir perempuan lain dalam persepakbolaan perempuan di tanah air.
- Mozart Lapangan Hijau
PIALA Dunia 2018 Rusia buat Jerman adalah petaka. Tak hanya gagal melewati fase grup, tim asuhan Joachim Löw itu bahkan jadi juru kunci di grup. Rusia menjadi tempat Jerman mengulang pengalaman pahit di Piala Dunia 1938. Di Piala Dunia pra-Perang Dunia II itu Jerman angkat koper lebih cepat setelah kalah dari Swiss meski sudah mendapat tambahan sembilan pemain Austria. Namun, bisa jadi angkat kopernya Jerman karena asupan pemain dari Austria tak termasuk Matthias Sindelar. Wolfgang Amadeus Mozart dikenal sebagai salah satu komposer paling jenius sepanjang masa. Komposer asal Austria itu menghasilkan lebih dari 600 karya. Kebesaran nama Mozart itulah yang dijadikan julukan buat Sindelar.
- Amuk Baret Hijau di Leuncang
DEN HAAG, 1952. Letnan Kolonel Soegih Arto, tengah menjadi salah seorang peserta sebuah kursus militer yang diadakan oleh Fakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Suatu hari, sopirnya selama di Belanda, mengajak Soegih Arto untuk berkunjung ke rumahnya. “Saya ingin memperlihatkan sesuatu,” ungkap letnan Korps Pasukan Khusus Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KST) berkebangsaan Timor tersebut. Soegih Arto memenuhi undangan itu. Saat di rumahnya, sang letnan memperlihatkan sejumlah foto operasi militer yang pernah dia ikuti di Indonesia. Di antaranya foto-foto jasad Mayor Abdrurrachman Natakoesoema dan Kapten Edi Soemadipradja, yang terlihat baru saja dieksekusi.
- Para Ibu di Lapangan Hijau
SEPAKBOLA modern tak lagi melulu milik pria. Kaum perempuan pun sudah jempolan memainkan si kulit bundar, termasuk di negeri kita. Tak jarang pula memunculkan ibu-ibu tangguh, para pesepakbola putri yang tetap merumput meski tengah hamil dan setelah melahirkan. Tengok saja Sydney ‘The Kid’ Rae Leroux, striker klub NWSL (Liga Sepakbola Putri Amerika) Orlando Pride dan timnas putri Amerika Serikat. Pada 2016, ia sudah jadi ibu dari seorang bayi laki-laki hasil pernikahannya dengan pesepakbola MLS (Liga Amerika) Dom Dwyer. Menjadi seorang ibu dari bayi bernama Cassius Cruz Dwyer tak menghentikan karier Leroux di lapangan hijau meski sempat cuti setahun dari klub dan timnas saat hamil dan setelah melahirkan. Cerita berbeda saat peraih emas Olimpiade 2012 itu hamil anak kedua. Leroux tetap berlatih di tengah usia kehamilan 5,5 bulan pada Maret 2019. “Mulanya saya mengira takkan ikut latihan pramusim saat hamil 5,5 bulan tapi lihatlah sekarang,” kicaunya di akun Twitter-nya, @sydneyleroux, 4 Maret 2019.
- Sejak Kapan Bulan Sabit dan Bintang serta Warna Hijau Identik dengan Islam?
BERAGAM benda, baik objek alam maupun buatan manusia, dan warna kerap muncul dalam representasi simbolis kelompok-kelompok agama dan politik. Contohnya, benda-benda langit seperti bulan sabit dan bintang, serta warna hijau dipandang sebagai simbol Islam yang banyak ditemukan dalam arsitektur. Lambang bulan sabit dengan bintang lima sudut umum ditemukan di puncak menara dan kubah masjid hingga bendera negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Lebih dari sekadar simbol, bulan bahkan berperan besar dalam kalender Hijriah. Sebab, sistem penanggalan Islam didasarkan pada peredaran bulan terhadap bumi. Menurut Edgar Williams dalam Moon: Nature and Culture, pengamatan terhadap bulan menjadi hal yang penting dan wajib untuk menentukan awal bulan puasa atau Ramadan. Kebiasaan mengamati aktivitas benda langit ini juga menjadi hal yang umum dilakukan oleh orang Romawi. Setelah melakukan observasi, seorang pejabat yang disebut Pontifex akan mengumumkan kapan bulan terlihat, sehingga menandakan waktu setiap bulan dimulai dan apakah nones (kemunculan bulan pada kuartal pertama sebagai bulan sabit) pada bulan tersebut akan jatuh pada hari kelima atau ketujuh.
- Sejarah Singkat Eksploitasi Nikel di Indonesia
POLEMIK terkait aktivitas tambang nikel di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya masih bergulir. Setelah pencabutan izin tambang empat perusahaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mengkaji kembali potensi dan dugaan rasuah terkait perizinan operasional tambangnya. Juru bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan Senin (16/6/2025) kemarin, sejatinya KPK sudah mulai mengkaji dugaan korupsinya sejak 2023. Kini, KPK akan mengembangkan lagi kajian data-data terbaru terkait perizinan yang tidak sesuai ketentuan, dugaan penambangan ilegal, hingga legalitas ekspornya. Ada empat perusahaan tambang di Kepulauan Raja Ampat yang Izin Usaha Pertambangannya dicabut pemerintah, yakni PT Anugerah Surya Pratama di Pulau Manuran, PT Nurham di Yesner Waigeo Timur, PT Kawai Sejahtera Mining di Pulau Kawe, dan PT Mulia Raymond Perkasa di Pulau Batang Pele dan Pulau Manyaifun. Hanya PT Gag Nikel yang masih diizinkan beroperasi di Pulau Gag karena merupakan anak perusahaan BUMN, PT Aneka Tambang, yang operasionalnya tidak berada di kawasan Geopark Raja Ampat meskipun ada Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, di mana pada Pasal 35 terdapat larangan aktivitas penambangan di pulau-pulau kecil.
- Thobias Billeh Penjaga Gerbang
PERANG Aceh jelas perang tersulit bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda dan tentara kolonialnya, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Banyak uang terhambur dan serdadu-serdadu gugur sia-sia dalam perang panjang itu. Tapaktuan di Aceh bagian selatan juga menjadi arena peperangan itu. Majalah Trompet No. 66, Juni 1939 menyebut daerah Tapaktuan sempat sepi dari perlawanan sebelum 1902. John Fitzgerald McCarthy dalam The Fourth Circle A Political Ecology of Sumatra's Rainforest Frontier menyebut pada 1901 di Tapaktuan telah ditempatkan seorang pejabat kolonial, yakni Colijn. Daerah Tapaktuan punya nilai ekonomis. Hutannya kaya akan karet. Sekitar tahun 1901, ratusan orang didatangkan dari luar untuk mengumpulkan getah karet hutan. Namun, meski ada kekuasaan Belanda di daerah itu, keadaan tak sepenuhnya aman.
- Memori Perjuangan Kota Bogor yang Mulai Dilupakan Orang
PADA 26 Oktober 1957, puluhan pejuang kemerdekaan se-Karesidenan Bogor berkumpul di rumah Bupati Bogor, R.E. Abdoellah, di Jalan Panaragan No. 31. Secara aklamasi, mereka menyepakati bahwa gedung di Jalan Cikeumeuh No. 28 (sekarang Jalan Merdeka) sebagai Museum Perjoangan. Mulanya bangunan tersebut adalah gudang barang milik Wilhelm Sustaff Wissner, sejak 7 Juli 1879. Setelah beralih tangan beberapa kali, gedung ini sempat menjadi kantor perusahaan. Kemudian pada Juni 1938 menjadi gedung persaudaraan Parindra (Partai Indonesia Raya) cabang Bogor. Lalu sejak 9 Maret 1942, tentara Jepang memfungsikan gedung ini sebagai gudang. “Pada periode 1945-an, beragam laskar rakyat dan organ perjuangan lain juga berkoordinasi di sini. Kapten Muslihat, Mayor Oking, dan Margonda sering pula berkumpul di gedung ini. Kemudian pada 1949, menjadi kantor pemerintah darurat kabupaten,” ujar Ma’ruf (46 tahun), kurator Museum Perjoangan Bogor, kepada Historia. Sekolah Rakyat juga pernah bertempat di gedung tersbut sekira tahun 1952.
- Dua Abad Membangun Reputasi Kebun Raya Bogor
PAGI itu Kebun Raya Bogor sudah ramai pengunjung. Waktu menunjukkan pukul 9.00 WIB dan langit masih teduh. Jalan Astrid yang dikelilingi taman dan lapangan rumput luas dipenuhi pengunjung. Beberapa rombongan keluarga terlihat menggelar tikar di bawah pohon teduh. Anak-anak kecil berlarian dengan ceria di sekitar kolam tanaman air. Ada pula rombongan pelajar sekolah menengah yang tengah mengadakan outbond. Itulah sebagian gambaran Kebun Raya Bogor di masa kini. Kini, tidak hanya sebagai lembaga konservasi dan penelitian alam tropis, Kebun Raya Bogor sekaligus menjadi destinasi wisata warga Bogor dan kota-kota sekitarnya. Bagi warga Jabodetabek yang sehari-hari berhadapan dengan penatnya kota besar, Kebun Raya Bogor adalah pilihan menyegarkan diri. Kebun raya yang mulanya adalah halaman belakang rumah dinas gubernur jenderal Belanda itu kini menjadi salah satu tempat acuan penelitian flora yang penting di Indonesia. Selama 200 tahun kiprahnya, kebun raya seluas 87 hektare ini sudah memiliki 12.531 spesimen tumbuhan yang terdiri dari 3.228 spesies, 1.210 marga, dan 214 suku.
- Bogor Historical Walk, Menjawab Keingintahuan Khalayak
LANGIT di atas Bogor berwarna biru cerah pagi itu. Bayangan bulan separuh terlukis sebagai sisa-sisa malam yang tertinggal. Di mulut Jalan Suryakancana, persis dekat Vihara Dhanagun, orang-orang berpakaian merah berkumpul. Dari menit ke menit, jam ke jam, jumlahnya semakin bertambah hingga puncaknya mencapai 40-an orang. “Ayo kawan-kawan, ibu-ibu-bapak-bapak, jam 9 teng kita akan langsung berangkat ya,” ujar Ramadhian Fadillah (36), seorang lelaki berkacamata. Iyan (panggilan akrab Ramadhian Fadillah) merupakan salah satu pemandu dari Bogor Historical Walk (BHW). Itu adalah nama sebuah komunitas non profit yang memiliki misi mengenalkan sejarah dan keanekaragaman budaya di Kota Bogor. Didirikan pada 2019, BHW pada awalnya hanya kumpulan anak-anak muda yang memiliki minat yang sama: mempelajari sejarah Bogor.
- Dari Vila Buitenzorg ke Istana Bogor
KAESANG Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, iseng membeli pakaian ke akun yang diduga melakukan penipuan. Kaesang memberikan alamat pengiriman ke Istana Kepresidenan Bogor. Warganet pun menanggapinya sehingga Istana Bogor menjadi trending topic. Kaesang meminta maaf sambil beralasan kalau dikirim ke rumah pribadi, tidak ada orang karena tidak ada yang menempati. “Maaf pak saya baru tau kalo saya gak boleh kirim paketan ke Istana Bogor. Lain kali saya marahin ibu saya karena beliau sering kirim kerupuk dari Solo ke Istana Bogor,” cuit Kaesang (@kaesangp, 7/9/2020). Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan. Sejarahnya bermula ketika Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (menjabat 1743–1750) merasa gerah dengan panasnya Batavia. Ia jalan-jalan ke Bogor dan terpana oleh kawasan sejuk yang mengingatkan pada tempat kelahirannya.
- A Gardener who Revived the Bogor Botanical Garden
SINCE its establishment in 1817, the Bogor Botanical Garden was envisioned as the center of scientific activity in the Dutch East Indies. This dream was realized, and even surpassed, in the 1890s. At that time, the Bogor Botanical Garden was considered one of the main centers of scientific activity in the tropics. It became an icon of Java. However, in the early days of its history, the Botanical Garden faced difficult times. In the mid-1820s, the colonial government experienced financial difficulties, partly due to the Java War, and was forced to make budget savings. This highly impacted the Botanical Garden. In Science Cultivating Practice, A History of Agricultural Science in The Netherlands and Its Colonies 1864-1986, a dissertation at Wageningen University in the Netherlands in 2001, Harro Maat noted that in August 1826, the operational financing of the Botanical Garden was cut, and the position of director was abolished. The management of the Botanical Garden was then merged with the governor-general's palace office. The Botanical Garden became just an ordinary yard near the palace.





















