Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hari Perempuan Tak Diperingati di Era Suharto
SEJAK awal, Hari Perempuan Sedunia tak pernah mendapat sambutan antusias di Indonesia. Meski sudah sejak 1950-an, hanya sedikit kalangan yang memperingatinnya. “Hari Perempuan Sedunia secara khusus dirayakan oleh gerakan perempuan sosialis,” tulis Elisabeth Martyn dalam The Women's Movement in Postcolonial Indonesia. Gerwani mempelopori peringatan itu. Hal itu tak lepas dari kebijakan Gerwani yang menjadikan tulisan-tulisan Clara Zetkin, feminis Partai Sosialis Jerman yang mengusulkan ditetapkannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia, sebagai bacaan wajib bagi kader-kadernya. Ketidakpopuleran perayaan 8 Maret di kalangan organiasi perempuan membuat Gerwani mengajak banyak organisasi perempuan untuk merayakan Hari Perempuan Sedunia. Upaya tersebut berbuah ketika pada 1953 pimpinan PKI untuk pertamakalinya membahas tentang masalah perempuan pada Hari Perempuan Sedunia. Di tahun berikutnya, para perempuan menekankan tuntutan pada hak dalam perkawinan, moralitas, serta masalah lain yang dihadapi perempuan. Pada perayaan tahun 1961, Wanita Komunis (Wankom), kelompok perempuan anggota PKI (mulai disebut demikian sejak 1957), mengeluarkan pernyataan untuk memperkuat persatuan perempuan, khususnya buruh, tani, dan anti-feodal.
- Clara Zetkin, Ibu Besar Revolusi
DI Istora Senayan, lagu Maju Tak Gentar mengalun. Sukarno tak puas. Nyanyian lagu itu terdengar melempem, dan hanya beberapa orang yang ikut menyanyi. Dia mengajak yang hadir menyanyi lagi. Kali ini dia senang. “Lha yo ngono!” ujar Sukarno. Suasana Jakarta memang tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Suasana politik lagi genting pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965. Kekuasaan Sukarno sendiri lagi di ujung tanduk. Tapi suaranya tetap lantang, pidato-pidatonya masih berapi-api. Sukarno hadir dan memberikan pidato dalam Rapat Umum Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 1966. Dia mengumandangkan perjuangan melawan kapitalisme dan imperialisme, agresi Amerika di Vietnam, perjuangan Irian Barat, dan tentu saja peranan perempuan. Dalam pidato itu, dia menyebut nama Clara Chetkin, “koreksi ya, bukan Clara Zetkin,” ujar Sukarno seperti dikutip Budi Setiyono dan Bonnie Triyana dalam Revolusi Belum Selesai.
- Film Porno Mirip Sukarno
MELALUI akun twitter-nya, politisi Partai Liberal, Mark Textor, menyebut Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mirip bintang porno Filipina tahun 1970-an. Kicauan Textor, menyusul ketegangan Indonesia-Australia ihwal penyadapan, dikecam berbagai pihak. Bahkan Malcolm Fraser, mantan perdana menteri dari Partai Liberal, meminta partainya memecat Textor. Textor akhirnya minta maaf. Presiden Sukarno pernah mengalami hal serupa, bahkan lebih parah. Dalam upaya menjatuhkan Sukarno, Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) membikin film porno. Rekayasa CIA ini didasarkan anggapan umum bahwa Sukarno suka main perempuan. Dalam Potrait of a Cold Warrior, mantan agen CIA Joseph B. Smith mengungkapkan bahwa CIA berusaha menemukan pemeran film porno yang mirip dengan Sukarno. “Los Angeles sebagai pemasok film-film porno cocok dengan tujuan kami, kami pikir, karena mereka memiliki pemeran berkulit gelap ... yang mungkin dapat dibuat agar terlihat seperti Sukarno dengan sedikit sentuhan,” tulis Smith.
- Kekecewaan Sutradara Film Pengkhianatan G30S/PKI
PANGLIMA TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memerintahkan kepada jajaran TNI AD untuk nonton bareng film Pemberontakan G30S/PKI. Film ini sebenarnya telah dihentikan penayangannya sejak 30 September 1998 atas permintaan masyarakat dan keluarga besar TNI AU. Film Pemberontakan G30S/PKI diproduksi oleh Produksi Film Nasional (PFN) yang dipimpin oleh Brigjen TNI Gufron Dwipayana, orang dekat Presiden Soeharto. Tokoh penting di balik film ini adalah sejarawan Nugroho Notosusanto. Dwipayana memilih Arifin C. Noer sebagai sutradara film yang awalnya berjudul Sejarah Orde Baru. “Pak Dipo (panggilan Dwipayana) memilih Arifin karena Arifin ini dipandang sebagai orang yang independen. Dia tidak memiliki afiliasi dengan organisasi mahasiswa manapun atau organisasi masyarakat apapun,” ujar Jajang C. Noer, istri mendiang Arifin C. Noer, kepada Historia beberapa waktu lalu.
- Menganyam Fakta dan Fiksi
KAJIAN mengenai pembunuhan massal 1965-1966 di Indonesia, bahkan kajian atas politik negara secara umum, akan mengalami perombakan dengan diluncurkannya film dokumenter The Act of Killing yang disutradarai Joshua Oppenheimer dan baru-baru ini diluncurkan di Toronto International Film Festival. The Act of Killing berbeda dari berbagai film dokumenter dengan tema serupa yang selama ini pernah ada. Inilah film panjang pertama tentang pembunuhan massal 1965-1966 yang menampilkan para pelaku pembantaian, bukan korban atau simpatisan, sebagai tokoh utama. Dalam film ini, mereka mantan tokoh organisasi paramiliter Pemuda Pancasila yang ikut membantai ratusan orang pengikut atau yang diduga komunis di Sumatra Utara, sebagai bagian dari pembantaian berlingkup nasional yang seluruhnya memakan hampir satu juta jiwa. Selama ini berbagai film pasca-1998 mengenai pembunuhan massal 1965 atau dampak susulannya dibikin khusus untuk memberi suara bagi para penyintas (survivor) dan anggota keluarga mereka, terkadang disertai komentar simpatik dari narasumber ahli. Setahu saya paling sedikit sudah ada 16 judul film semacam itu, produksi anak bangsa, selain film asing dengan topik yang sama.
- Di Balik Penghentian Penayangan Film Pengkhianatan G30S/PKI
FILM Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI menjadi film wajib pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Setelah Orde Baru berakhir, film ini secara resmi tidak ditayangkan lagi di televisi sejak 30 September 1998. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam melacak siapa yang berperan di balik penghentian penayangan film itu. "Dari Purnama Suwardi, wartawan senior TVRI, saya beroleh informasi, film itu tidak diputar lagi atas permintaan masyarakat," kata Asvi dalam Menguak Misteri Sejarah. Asvi kemudian mendapat informasi penting bahwa tokoh yang meminta penghentian penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI adalah Laksamana Madya Udara TNI (Purn.) Sri Mulyono Herlambang, mantan KSAU (1965-1966) yang menjabat ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI). Namun, Asvi tidak menemukan arsip surat pada sekretariat Persatuan Purnawirawan AURI.
- Sebelum Achmad Albar Sukses di Indonesia
ACHMAD Albar alias Iyek hanya satu dari sekian anak Jakarta yang merasa terkekang. Pasalnya, politik anti-Barat pemerintah membuat anak muda Indonesia diharamkan menyanyikan lagu-lagu pop dan rock Barat yang sedang naik daun di era 1960-an. Musik Barat seperti rock dicap sebagai musik setan atau diistilahkan Ngak Ngik Ngok. Tak hanya musiknya saja, penampilannya juga dilarang. “Di zamannya Sukarno itu kita dilarang pakai jins ketat, rambut panjang juga gak boleh. Mainkan lagu The Beatles pun kita nyolong-nyolong,” kenang Achmad Albar dalam di Pameran Retrospektif God Bless 50 tahun pada 19 Februari 2024. Di tahun-tahun terakhir pemerintahan Sukarno, Iyek –yang pernah main di film Djenderal Kantjil ketika masih bocah– pun hijrah ke Belanda. Ibunya, Farida Alhasni, khawatir dengan situasi politik yang memburuk pasca-G30S meski anaknya bukan orang politik.
- Nyanyi Sunyi Rambut Kribo
KERITING, tebal, dan mengembang. Begitulah gaya rambut yang menjadi ciri khas Eddi Brokoli, penyanyi dan aktor Indonesia. Dengan gaya rambut Afro itu, di Indonesia dikenal dengan sebutan kribo, dia jadi mudah dikenali para penggemarnya. Gaya rambut itu mulai dipopulerkan empat dekade lalu. Mulanya, pada pertengahan 1960-an, orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat mendefinisikan ulang diri mereka. Dipicu peristiwa pembunuhan tokoh hak asasi manusia Afrika-Amerika, Malcolm X, pada 21 Februari 1965, mereka melancarkan sebuah “revolusi sunyi”, tanpa turun ke jalan. Orang-orang kulit hitam berhenti meluruskan rambut dan mulai menonjolkan kebanggaan warisan rasial melalui gaya rambut. Carole Elizabeth Boyce Davies dalam buku Encyclopedia of the African Diaspora menyebut, gaya rambut Afro mendapatkan makna politis begitu menjadi simbol Black Power Movement.
- God Bless di Mata Roy Jeconiah
Roy Jeconiah, eks vokalis Boomerang, tak pernah lupa sebuah kejadian kendati kejadian itu sudah 30 tahun. Pasalnya, kejadian itu merupakan salah satu tonggak penting baginya dalam bermusik. Saat itu, tahun 1993, Roy dan band rocknya yang bernama Lost Angels menjadi band pembuka bagi supergrup rock Indonesia God Bless. Itu artinya, Roy mendapat kehormatan bisa sepanggung dengan band idolanya. “Kalau God Bless, masa kecil saya sudah mendengar lagu-lagu God Bless. Sampai SMP dan mulai main band, lagunya termasuk yang dimainkan di band saya,” aku Roy di hadapan Ian Antono, Ahmad Albar serta para pengunjung “Pameran Retrospektif God Bless 50 tahun” pada 19 Februari 2024. Penikmat musik rock Indonesia era 1990-an tentu mengenal Boomerang. Band ini sezaman dengan Zamrud dari Cimahi. Tak hanya orang dewasa zaman itu, bocah SD pun tahu band asal Surabaya ini. Hit terkenal Boomerang antara lain “Bawalah Aku”, “Kisah”, “Pelangi”, dan “Bungaku”.
- Hari Tersedih God Bless
Waktu itu, Selasa, 9 Juli 1974, Teddy Sundjaja dan Ian Antono belum bergabung dengan God Bless yang didirikan dan dipimpin oleh Achmad Albar. God Bless juga belum merilis satu album pun, tetapi sudah dikenal sebagai band panggung yang sohor di Jakarta. Hari itu, beberapa mobil sudah siap mengantar personel God Bless dan kolega menuju Jalan Pegangsaan, ke markas band Gypsy, yang pernah diperkuat pembetot bass bersuara merdu Christian Rahadi alias Chrisye. Gypsy juga pernah diperkuat Nasution bersaudara. Salah satunya pencipta lagu Nuansa Bening, Keenan Nasution. Sesama band Jakarta, mereka cukup akrab. Bahkan, beberapa personel Gypsy pernah bermain untuk God Bless. Achmad Albar alias Iyek menganjurkan agar semuanya naik mobil. Namun, Fuad Hassan rupanya sedang ingin naik sepeda motornya, kebetulan merek Yamaha. Kunci motor sempat disembunyikan.
- Duel God Bless vs Soneta Group
MALAM 31 Desember 1977 di Istora Senayan, Jakarta. Duel dua band besar yang berpengaruh dalam blantika musik Indonesia. Di awal acara, ketika gong berbunyi, wakil band masing-masing membawa dua ekor burung merpati lalu melepaskannya ke angkasa. Tak hanya dua merpati, balon-balon pun dilepas ke udara. Seorang penonton maju membawa koin untuk mengundi siapa yang lebih dulu naik panggung. Alhasil, God Bless tampil lebih dulu. Kala itu, God Bless diawaki Teddy Sunjaya (drum), Yocky Soeryoprayogo (organ), Ian Antono (gitar), Donny Fattah Gagola (bass), dan tentu saja Achmad Syech Albar sebagai vokalis. “Dengan peralatan yang berkekuatan 4.000 watt, Achmad melepaskan lagu-lagu Carry on Warward Son, Silver Spoon, She Pass Away, You Have it All, —juga hitnya Neraka Jahanam,” demikian laporan majalah Tempo, 14 Januari 1978. Saat itu, God Bless sudah merilis album rock, yang meski comot sana-sini, terbilang hebat dalam sejarah musik rock Indonesia.
- Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya
KABAR duka datang dari belantika musik rock tanah air. Donny Fattah, pencabik bas sekaligus salah seorang pendiri band rock legendaris God Bless, tutup usia pada Sabtu, 7 Maret 2026. Manajemen God Bless melalui akun Instagram-nya, @goodblessrocks, mengabarkan almarhum meninggal dunia di Rumahsakit Fatmawati, Jakarta. Peran Donny amat besar di God Blesss. Selain penjaga keharmonisan band, selaku basis Donny produktif menulis lagu dan konsisten menjaga ritme lagu-lagu God Bless yang jelas bukan kaleng-kaleng. Sedari awal, God Bless sudah punya beberapa lagu bagus. Lagu-lagu itu muncul di album pertama, God Bless (1976), dengan Ahmad Albar yang kribo sebagai sampul albumnya. Bersama sutradara Syumandjaya, Donny menulis lagu “Huma di Atas Bukit”. Selain itu, juga lagu “She Passed Away” dan “Setan Tertawa”.




















