top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Alex Kawilarang, Kisah Patriot yang Dicopot

    LETNAN Jenderal (Purn.) Sajidiman Suryohadiprojo tidak percaya sama sekali jika seniornya di Siliwangi, Kolonel (Purn) Alex Evert Kawilarang adalah seorang pengkhianat. Alih-alih mencap-nya sebagai petualang, Sajidiman justru menyebut Alex (panggilan akrab A.E. Kawilarang) sebagai seorang patriot. Buktinya cukup banyak, ujar mantan Wakasad itu. Sejak tercatat sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR, cikal bakal TNI) pada 1945, Alex banyak terlibat dalam berbagai peristiwa bersejarah yang menegaskan dirinya adalah seorang loyalis Republik. Memimpin penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), menyelesaikan pembangkangan Andi Aziz dan membentuk pasukan komando di Angkatan Darat, adalah sebagian kecil dari jasa-jasa Alex kepada bangsa Indonesia. Sajidiman yakin jika tak ada pengaruh Alex, sejatinya wilayah Manado dan sekitarnya sudah bergolak sejak awal 1950. Namun mengapa sang kolonel justru bergabung dengan Perjuangan Semesta (Permesta) pada 1958?

  • Alex Kawilarang Anak Mami

    ALEXANDER Evert Kawilarang atau lebih dikenal dengan nama Alex Kawilarang dikenal sebagai komandan kharismatik di berbagai palagan. Kemampuan tempurnya telah terasah sejak menjadi taruna Akademi Militer Kerajaan Belanda (KMA) di Bandung. Alex dikenal piawai main anggar, jago lempar pisau, dan ahli senapan. Jebolan KMA angkatan 1941 ini lulus dengan predikat mengaggumkan kendati dirinya tergolong taruna bumiputra. “Saya mendapat nilai yang bagus. Malahan yang mendapat tanda istimewa sebagai satu-satunya di seluruh KMA yang lulus dengan predikat: “ahli segala senjata” (meester in all wapens),” kenang Kawilarang dalam otobiografinyaA.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih yang disusun Ramadhan K.H.

  • Alex Kawilarang Diserang Pasukan Lintah

    SEJAK Desember 1948, Letkol Alex Evert Kawilarang resmi menjabat sebagai komandan Sub Teritorium VII Sumatra Utara. Untuk mencegah friksi di antara sesama komandan brigade, ia membagi teritorialnya ke dalam berbagai sektor. Sektor I/Tapanuli Selatan dipimpin Mayor Bedjo, Sektor II/Tapanuli Utara dipimpin Mayor Liberty Malau, Sektor III/Dairi-Tanah Karo dipimpin Mayor Selamat Ginting, dan Sektor IV/Sibolga dipimpin Kapten O. Sarumpaet. Menurut ajudannya, Letnan Kontan Pri Bangun, Kawilarang adalah sosok komandan yang sederhana. Semasa perang gerilya, Kawilarang tak pernah mengeluhkan perbekalan yang serba minim: makanan ala kadarnya, pakaian pengganti hanya sepasang, tanpa sepatu, dan ke manapun berjalan kaki. Sudah jadi kebiasaan Kawilarang pula melakukan perjalanan berjarak puluhan kilometer dari satu sektor ke sektor lain di Tapanuli dan Tanah Karo. Markas staf komando teritorium sendiri berbasis di Sibolga.

  • Alex Kawilarang Kena Prank

    ATAS kasus yang sedang heboh belakangan ini, muncul fenomena pengacara dikibuli kliennya. Kena prank, begitu istilah kerennya zaman sekarang. Pada masa perang kemerdekaan dulu, seorang komandan tentara juga pernah mengalami hal serupa. Peristiwa unik ini terjadi kepada Letkol Alex Evert Kawilarang, panglima Sub Teritorium VII Sumatra Utara. Ia kena prank oleh ajudannya sendiri. Suatu hari di bulan Januari 1949. Kawilarang berkunjung ke wilayah Sektor IV di Sibolga, Tapanuli Tengah. Komando gerilya di sana dipimpin oleh Mayor Maraden Panggabean yang bermarkas di Rappa. Panggabean membuat semacam bunker sebagai tempat persembunyian pasukannya. Mereka menyebut bunker itu “Raum” (kantong gerilya) A.

  • Panglima Alex Kawilarang dan Letnan Songong

    BADANNYA tinggi semampai. Kulitnya putih. Matanya rada sipit. Begitulah sekilas pandang perawakan Kolonel Alexander Evert Kawilarang. Kala mengenakan seragam tentara, panglima Divisi Siliwangi periode 1951-1956 ini seringkali dikira keturunan Indo-Belanda. Dengan postur tubuh mirip orang Belanda, Kawilarang kerap disangka musuh oleh para prajurit yang tak mengenalnya. Tapi, ketika berpakaian preman, sosoknya yang gagah itu terlihat seperti seorang saudagar. Benarlah pernah kejadian. Suatu kali, di tepi jalan raya Cimahi, seorang perwira berpangkat letnan dua menyetop mobil yang melintas. Niatnya hendak menebeng.

  • Aksi Sadis Westerling di Medan

    RATUSAN parasut tampak mengembang di langit kota Medan. Sekira satu kompi pasukan yang diterjunkan dari Malaka mendarat di lapangan terbang Polonia. Bersama mereka didrop pula 180 pucuk senjata revolver. “Pendropan itu kebetulan saya lihat langsung bersama teman-teman saya yang dahulu menjadi Gyugun lapangan terbang Polonia, Medan,” tutur Letkol (Purn) Burhanuddin kepada Edisaputra dalam Sumatera Dalam Perang Kemerdekaan. “Sayangnya kami tidak tahu siapa yang mendarat itu, tapi pendropan senjata secara jelas kami ketahui karena petinya pecah sewaktu jatuh ke bumi.”

  • Ring Kehidupan Max Schmeling

    MAX Schmeling hampir tak mengenali negeri kelahirannya saat kembali dari Amerika Serikat pada suatu hari di bulan April 1933. Sejauh mata memandang, Schmeling melihat spanduk dan bendera swastika di hampir setiap sudut kota Berlin, Jerman. Salah seorang kawannya kala santap makan malam di salah satu restoran terpopuler di kota itu menyadarkan Schmeling bahwa Jerman yang dahulu bukanlah yang sekarang. Selain bertebaran banyak spanduk dan panji Nazi, kota-kota besar di Jerman selalu diramaikan parade-parade barisan Sturmabteilung (SA, paramiliter Partai Nazi). Jika orang lain larut dalam histeria menyambut Adolf Hitler menjadi kanselir sejak Januari 1933, tidak begitu bagi Schmeling.

  • Kerangkeng Belanda

    BELANDA melancarkan agresi militer kedua atau Operasi Gagak (Operatie Kraai) ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Para pemimpin Republik Indonesia ditawan dan diasingkan. Belanda tidak menyebutnya pengasingan tapi "penjagaan untuk melindungi". Sukarno, Sutan Sjahrir, dan Haji Agus Salim diasingkan ke Berastagi, Sumatra Utara, yang tak lama kemudian dipindahkan ke Parapat di tepi Danau Toba. Sedangkan Mohammad Hatta, Mr. Assaat, Mr. A.G. Pringgodigdo, dan Laksamana Udara Suryadi Suryadarma, diasingkan di sebuah rumah di Gunung Menumbing, dekat Muntok, Pulau Bangka. Rumah itu milik perusahaan tambang timah, Bangka Tin Winning Bedrijf. Di dalamnya kira-kira ada sepuluh kursi dan satu radio, sehingga mereka dapat mendengarkan apa yang terjadi di dunia.

  • Soegondo Djojopoespito, Sang Tokoh Kongres Pemuda II

    SETIAP 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Itu mengacu kepada sebuah peristiwa bersejarah yang menjadi bukti besarnya peran generasi muda dalam membangun bumi pertiwi. Di perhelatan yang merupakan hajat para pemuda dari berbagai daerah itu terlahirlah tiga butir ikrar: bangsa, tanah air, dan bahasa persatuan. Kongres kedua dari para pemuda bumiputera itu sendiri diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928. Hari pertama diselenggarakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond di Lapangan Banteng sekarang, dan hari kedua di Gedung Oost-Java Bisoscoop. Tokoh-tokoh yang kelak aktif di pemerintahan, seperti Muhammad Yamin, Amir Sjarifudin, dan Johannes Leimena, duduk bersama pemuda-pemuda yang datang mewakili berbagai organisasi pergerakan dari seluruh daerah di Indonesia. Lalu siapakah pemimpin para pemuda di dalam kongres tersebut? Dia adalah Soegondo Djojopoespito.

  • Kisah Hoegeng dan Anak Menteri

    KAPOLRI Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso sekali waktu kedatangan tamu tak diundang. Ceritanya, pada suatu malam, anggota polisi dan petugas bea cukai mengantarkan seorang remaja tanggung ke hadapannya. Hoegeng membatin dalam hati seperti ada sesuatu yang tidak beres. Benar saja demikian. “Siapa dia?” tanya Hoegeng. “Pengisap ganja, Pak,” demikian dijawab. “Bapaknya orang penting, Pak, mau diapakan?” Hoegeng menatap anak muda itu dengan perasaan heran. Dalam hatinya, Hoegeng kembali bertanya mengapa anak ini sampai terjebak dalam dunia gelap. Menurut laporan, remaja tanggung ini tertangkap tangan tengah mengisap ganja ditempat yang sudah lama dicurigai kepolisian.

  • Hoegeng Menangkal Bahaya Narkotika

    GUBERNUR Sumatra Utara Edy Rahmayadi membuat pengakuan mengejutkan baru-baru ini. Dikatakannya, ketika menjabat komandan Kodim Batam pada 2002, Edy pernah mencoba kokain. Ia merasa nikmat waktu mencicipi barang haram tersebut. “Awalnya memang sakit semua. Lima menit kemudian, seperti kita ada di surga, jadi perasaan sudah tahu surga,” ujar Edy dikutip dari detik.com. “Artinya semua nyaman. Tidak ada problem, stamina oke, kayak kita yang paling hebat di dunia ini. Tapi, ya sebatas ingin tahu itu." Menurut Edy, kalau sudah tiga kali mencoba bakal ketagihan dan sukar untuk lepas dari jerat narkotika. Edy sendiri hanya mengonsumsi kokain seberat 1 gram pada pengalaman perdanananya itu. Edy mengakui lagi kalau dirinya merupakan tipe orang yang kalau dilarang, malah makin ingin mencoba. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri penghargaan rekor MURI Pemeriksaan Tes Urin Pertamina Sumbagut di Medan (6/10).

  • Andi Gappa Abang Panglima

    SUATU hari sekitar September 1946, sebuah patroli laut militer Belanda menangkap sebuah kapal dan menahan penumpangnya di perairan Sulawesi. Di antara penumpang yang ditangkap itu terdapat seorang pemuda belasan tahun. Namanya Andi Mo’mang. Menurut Barbara Silas Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi Ke DI/TII, Andi Mo’mang kala itu dia hendak pergi ke Jawa. Dia bertekad bergabung dengan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Kala itu Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa pulau di sekitarnya masih berada di bawah pendudukan tentara Belanda. Kekuatan RI baru menguat di Jawa dan Sumatra saja. Tertangkapnya Andi Mo’mang merisaukan Andi Gappa. Ia kala itu sudah jadi orang berpengaruh di daerah Bone. Selain anak bangsawan Kajuara di Bone, menurut buku Kami Perkenalkan, antara 1938 hingga 1946 Andi Gappa merupakan kepala swapraja Distrik Kajuara.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
bottom of page