Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Antara Jamban Dulu dan Jamban Modern
Toilet telah ditemukan di beberapa budaya dan melalui tahapan inovasi sebelum menjadi toilet yang kini dikenal.
- Dapur Perjuangan di Priangan
BERADA di antara puluhan lapak barang bekas dan gerobak pedagang makanan keliling, rumah ini sekilas tampak biasa. Tak ada ticket box, spanduk besar, maupun papan nama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Penandanya hanyalah bendera merah putih yang berkibar di atas sebuah plakat bertuliskan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Ia terlihat rapi dan bersih dibanding bangunan di sekitarnya. Rumah ini pernah menjadi tempat tinggal pasangan Sukarno dan Inggit Garnasih. Ia juga menjadi tempat berkumpul kaum pergerakan. “Rumah ini bisa dikatakan posko atau dapur perjuangan,” ujar Tito Zeni Asmara Hadi, anak pasangan Ratna Djuami dan Asmara Hadi. Ratna Djuami adalah anak dari Murtasih, kakak Inggit, sementara Asmara Hadi, seorang sastrawan, anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), dan murid Sukarno.
- Penjelajahan Antariksa dari JFK hingga Trump
Tinggalkanlah bulan. Tataplah planet Mars sebagai tujuan berikutnya dalam penjelajahan angkasa! Setidaknya begitu inti pesan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada NASA (Badan Antariksa AS). Ia ingin bendera AS jadi yang pertama tertancap di permukaan Mars sebagaimana bendera yang sama pernah terpasang di permukaan bulan pada 1969. Tepat hari ini, 20 Juli, lima dasawarsa lewat, misi Apollo 11 mendarat di bulan. Dua astronotnya, Neil Alden Armstrong dan Edwin Eugene ‘Buzz’ Aldrin Jr., jadi manusia pertama menjejakkan kaki di bulan sehari setelahnya dan melakukan eksplorasi selama enam jam 39 menit.
- Kennedy vs Nixon dan Awal Debat Calon Presiden di Televisi
MALAM itu, Senin, 26 September 1960. Jutaan pasang mata terpaku di depan televisi ruang keluarga rumah-rumah di Amerika Serikat sembari mendengarkan sambutan dari Howard K. Smith, seorang jurnalis dan pembawa berita di stasiun televisi CBS. “Selamat malam,” kata Smith, yang tampak rapi dengan setelan jas, saat menyapa para pemirsa di rumah. “Stasiun televisi dan radio Amerika Serikat…dengan bangga mempersembahkan sebuah diskusi tentang isu-isu dalam kampanye politik saat ini dari dua kandidat utama calon presiden. Para kandidat tidak perlu diperkenalkan…”
- Banten 1926: Dua Haluan, Satu Perahu
TAK ada lagi sisa-sisa bengkel sepeda milik Djarkasih. Bangunannya digantikan oleh gedung ruko yang baru. Kecuali toko emas Laris, yang masih berdiri sampai sekarang, seluruh bangunan toko di Pasar Lama Serang sedikit saja menyisakan jejak dari masa lalu. Yang tertinggal dari bengkel sepeda bersejarah itu hanya sederet kalimat dalam catatan sejarah dan sejumput kisah masa lalu yang diselubungi banyak pertanyaan. Pada pertengahan 1925, bengkel sepeda itu digunakan sebagai tempat pertemuan pertama PKI Banten. Serangkaian pertemuan pun dilakukan sampai PKI berdiri resmi sebagai cabang ke-37 di Hindia Belanda. Beberapa tokoh turut dalam pertemuan tersebut antara lain Puradisastra, Tubagus Alipan, Tubagus Hilman, Lee Eng Hock, dan Aliarchman, dan Achmad Bassaif.
- Kritik Adat dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck
SUATU hari di tahun 1930. Sepasang bola mata Zainuddin (diperankan Herjunot Ali) dimanjakan keindahan alam Dusun Batipuh, Padang yang diapit Gunung Marapi dan Singgalang. Ia sengaja mendatanginya dengan menyeberangi lautan dari Makassar untuk menengok kampung halaman mendiang ayahnya. Selain itu, ia juga ingin belajar ilmu agama. Ia ditampung di rumah kerabat, Mande Jamilah (Jajang C. Noer). Sewaktu melihat kesibukan penduduk desa yang bertani di sawah-sawah berjenjang ataupun beternak bebek dan kerbau, pandangan pemuda rupawan itu tetiba “terganggu” oleh sesosok kembang desa berkerudung pink yang kecantikannya melebihi panorama alam di sekitarnya, Hayati (Pevita Pearce). Benih cinta pada pandangan pertama kepada si jelita di atas sebuah kereta kuda itu pun muncul di sanubari Zainuddin.
- Upacara Natal Bersama Haram
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganjurkan umat Islam tak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal. Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram. Demikian bunyi fatwa tentang perayaan Natal Bersama yang dikeluarkan MUI pada 7 Maret 1981. Kala itu MUI dipimpin Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), sedangkan ketua Komisi Fatwa-nya adalah Syukuri Ghozali. Fatwa tersebut dilatarbelakangi fenomena yang kerap terjadi sejak 1968 ketika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 1-2 Januari dan 21-22 Desember. Lantaran perayaan Lebaran berdekatan dengan Natal, banyak instansi menghelat acara perayaan Natal dan Halal Bihalal bersamaan. Ceramah-ceramah keagaman dilakukan bergantian oleh ustadz, kemudian pendeta.
- Hamka dan Tongkatnya
DALAM karyanya Lembaga Budi, Hamka mengingatkan bahwa hobi bisa membuat kita “bodoh” atau tanpa berpikir panjang rela merogoh kocek besar demi memuaskan kegemaran. Namun Hamka sendiri punya hobi: mengoleksi tongkat. Hamka sudah membawa tongkat pada masa revolusi. Kala itu, sebagai ketua Front Persatuan Nasional (FPN) dan Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK) di Sumatra Barat, dia bergerilya masuk-keluar hutan, mengelilingi hampir seluruh nagari di Sumatra Barat dan Riau, untuk mengobarkan semangat perjuangan. Dia ditemani muridnya, Ichsanuddin Ilyas, dan sesekali anaknya, Rusydi Hamka, yang baru berusia sebelas tahun. “Dalam perjalanan itu tongkat benar-benar sangat membantu,” tulis Rusydi Hamka dalam Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka.
- Kisah Hamka dan Si Kuning
SUATU subuh tahun 1950-an, Hamka dikejutkan dengan erangan seekor kucing kecil di sekitar rumahnya. Sedari malam suara kucing memang sudah terdengar oleh keluarga Hamka tetapi karena jauh mereka mengabaikannya. Namun kini suaranya sudah sangat dekat, seperti ada di depan teras rumah. Suara itu benar-benar mengganggu kekhusyukan shalat Hamka dan keluarganya. Selepas shalat, Hamka buru-buru mendatangi sumber suara tersebut. Dan benar saja, di depan pintu rumahnya sudah ada seekor anak kucing domestik berwarna kuning yang tampak kotor dan kurus. Kondisinya cukup memperihatinkan. Diceritakan oleh putra ke-5 Hamka, Irfan Hamka dalam Ayah: Kisah Buya Hamka, kucing itu segera dibawa masuk dan dibersihkan oleh ayahnya. Tidak lupa secangkir susu dan beberapa potongan kain disiapkan untuk si kucing. Hamka terlihat begitu senang melihat kucing kurus itu terlelap setelah menghabiskan susu yang ia siapkan. “Si Kuning” begitulah Hamka memanggil peliharaan barunya itu.
- Ramadan Hamka di Penjara
Ramadan 1964 merupakan cobaan berat datang bagi Buya Hamka. Suatu hari, dua petugas polisi datang menyambangi rumahnya. Hamka yang baru saja tiba dari mengisi pengajian di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan dibuat terkejut. Polisi berpakaian preman itu datang membawa surat perintah penahanan, berdasarkan Undang-Undang Antisubversif atau Penpres No.11 dan No.13. Mereka juga menyatakan hendak mengadakan penggeledahan. Seketika suasa menjadi riuh di kediaman Hamka. Tidak ada satupun anggota keluarga yang menyangka kejadian seperti itu akan menimpa kepala keluarganya. Diceritakan putra pertama Hamka, Yusran Rusydi, dalam Buya Hamka: Pribadi dan Martabat, istri Hamka yang ketika itu sedang sakit sampai tidak sadarkan diri setelah melihat Hamka dibawa ke Markas Besar Kepolisian.
- Cerita Hamka Ditipu
SELAMA masa perang kemerdekaan (1946-1949), Buya Hamka dan keluarga kecilnya tinggal di Sumatra. Di tempat kelahirannya itu Hamka diamanahi tugas menjadi pengurus Muhammadiyah. Sebagai pimpinan cabang Minangkabau, Hamka terbiasa berkeliling kampung untuk sekedar bercengkrama dengan masyarakat atau mengunjungi koleganya, sambil secara langsung melihat kondisi masyarakat di tengah gejolak perang yang melanda tanah air. Dalam pengembaraannya ke kampung-kampung, Hamka selalu diterima dengan baik. Dalam memoarnya, Pribadi dan Martabat Buya Hamka, Rusydi Hamka bercerita bahwa dia dan Hamka seringkali dijamu makan mendadak oleh masyarakat. Meski tidak terlalu mewah, putra pertama Hamka ini menyebut jamuan semacam itu selalu menyenangkan bagi mereka.
- Kisah Hamka dalam Tahanan Polisi
SIANG di awal tahun 1964, Buya Hamka didatangi sejumlah polisi dari Departemen Angkatan Kepolisian (DEPAK). Berbekal Surat Perintah Penahanan Sementara, berdasarkan PenPres No. 11 tentang penangkapan orang-orang yang dicurigai, para polisi berpakaian preman itu melakukan penggeledahan di kediaman Hamka. Menurut putra sulung Hamka, Yusran Rusydi dalam Buya Hamka: Pribadi dan Martabat, ayahnya dibawa tanpa mengetahui kesalahan apa yang telah diperbuat. Keluarga pun hanya bisa pasrah menerima penahanan tersebut karena surat penahanan langsung datang dari presiden. Hamka diketahui ditahan di Sekolah Kepolisian Sukabumi, Jawa Barat.





















