Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bung Hatta: Presiden Jangan Lip Service
TAHUN 1963 menjadi tahun puncak kekuasaan rezim Sukarno. Kampanye Sukarno untuk memenangkan sengketa Irian Barat menuai sukses gemilang. Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke akhirnya terwujud. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) kemudian mengangkat Sukarno sebagai presiden seumur hidup. Meski demikian, titik berat Sukarno untuk urusan politik meninggalkan celah yang begitu krusial dalam stabilitas keuangan negara. Dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno tidak memungkiri bahwa kebijakan politiknya mengakibatkan kemunduran di bidang ekonomi. Beberapa langkah politik yang ditempuh kerap kali memakan biaya besar atau salah urus. Sebut saja seperti nasionalisasi perusahaan asing, belanja senjata untuk konfrontasi dengan Belanda di Irian Barat, hingga pembiayaan proyek-proyek mercusuar. Konsekuensinya, beban rakyat bertambah karena terjadi krisis ekonomi. “Pada tahun 1963 beban hidup rakyat Indonesia terasa amat menekan sekali. Harga beras yang mula-mula hanya Rp4,50 sekilo telah melompat naik menjadi Rp60 hingga Rp70. Penderitaan rakyat ini membuat Bung Hatta amat prihatin,” tulis Mochtar Lubis dalam pengantar redaksi Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta Kepada Presiden Sukarno 1957—1965.
- Belajar Toleransi dari Bung Hatta
PERSATUAN dalam perbedaan di Indonesia belakangan mulai mengkhawatirkan, terutama usai pemilihan presiden dan disusul pandemi. Isu primordialisme dan agama kian menggerus kebersamaan sebagai satu bangsa. Untuk meresponnya dan mengatasinya, ada baiknya kita generasi muda menengok pengalaman proklamator Bung Hatta dalam menyikapi perbedaan pandangan politik. Pemikiran tokoh yang bulan ini sedang diperingati hari kelahirannya itu masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Untuk itulah dalam rangka Pekan Bung Hatta, Badan Kebudayaan Pusat Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (BKPN PDIP) membuat Webinar “Bung Hatta Inspirasi Kemandirian Bangsa” pada Kamis (12/8/2021) di kanal Youtube BKPN PDIP.
- Bung Hatta Sebagai Idola
PANDJI Pragiwaksono dikenal sebagai rapper, penyiar radio, pegiat stand up comedy, dan penulis buku. Tiga buku sudah lahir dari tangannya: Nasional Is Me, Merdeka dalam Bercanda, dan Berani Mengubah. Meski lebih dikenal sebagai komedian, dia justru mengidolakan Mohammad Hatta. Mohammad Hatta lahir dari keluarga terpandang di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 12 Agustus 1902. Mengenyam pendidikan tinggi di Belanda, Bung Hatta kemudian jadi aktivis pergerakan, politisi, ekonom, dan negarawan. Bung Hatta dikenal sebagai proklamator dan wakil presiden pertama. Ditemui di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Pandji meluangkan waktu untuk bicara tentang idolanya.
- Candaan Bung Hatta dan Kawan-kawan di Bangka
SETELAH tiga hari ditawan pasukan Belanda di Gedung Agung Yogyakarta, pada 22 Desember 1948 Wakil Presiden Moh. Hatta bersama Presiden Sukarno, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Mr. Assaat, Mr. AG Pringgodigdo, dan Komodor Suryadarma diangkut dengan jip yang dikawal sekelompok serdadu bersenjata lengkap ke Lapangan udara Maguwo (kini Lanud Adisucipto). Mereka semua akan dibuang agar Republik Indonesia “musnah”. Dari Lapangan udara Maguwo, mereka diangkut menggunakan sebuah pesawat bomber ke arah barat. Usai singgah sejenak di Lapangan udara Cililitan (kini Lanud Halim Perdanakusuma), penerbangan mereka berlanjut tanpa diketahui tujuannya oleh seorang pun dari para pimpinan “Kiblik” yang ditawan itu. “Setelah kami naik kembali di bomber, kami lihat bomber itu terus terbang ke barat. Bomber itu mendarat di Pangkal Pinang. Lalu, diberitahukan oleh seorang pejabat orang Belanda bahwa di tempat itu diminta turun tuan-tuan, Mohammad Hatta, Mr. Assaat, Mr. Gafar Pringgodigdo, dan Tuan Suryadarma. Kami empat orang diturunkan di Bangka,” kata Bung Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku.
- Mengungsikan Bung Hatta Jelang Pemilu Perdana Orba
MENJELANG Pemilu 1971, pemilu pertama di masa Orde Baru, Mohammad Hatta, wakil presiden RI pertama, bertolak ke Belanda. Kepergian Bung Hatta ke Belanda dikabarkan dalam rangka berobat. Halida, putri bungsu Bung Hatta, waktu itu berusia 15 tahun, turut menyertai bersama ayah dan ibunya, Rahmi Hatta. Kedatangan mereka disambut Duta Besar Taswin Natadiningrat. “Ayah dan ibu bertemu dengan Ratu Juliana di Istana Soestdijk. Lalu ada kunjungan istirahat atas undangan Anak Agung Gde Agung (Dubes RI untuk Austria) ke Vienna,” kenang Halida (67) kepada Historia.ID. Namun, di balik kunjungan Bung Hatta ke negeri Belanda itu ternyata terselip muatan politis. Indikasi tersebut disaksikan oleh Joehazar Sirie Gelar Sutan Perpatih, pejabat atase penerangan pada Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Belanda. Saat itu, Joehazar tengah disibukkan dengan persiapan pemilu bagi warga Indonesia di Belanda. Tiba-tiba KBRI menerima pemberitahuan tentang kunjungan Bung Hatta bersama istri ke Belanda. Segenap staf KBRI pun dibikin kaget lantaran Bung Hatta sudah berhari-hari tinggal di Den Haag.
- Pesan Bung Hatta untuk Pemilih dalam Pemilu
MEMASUKI bulan September 1955, berbagai surat kabar memberitakan persiapan pemilu nasional pertama di Indonesia. Sosialisasi pemilu dan tata cara memilih pun gencar dilakukan. Selain secara langsung oleh Panitia Pemilihan Indonesia dan partai-partai politik, sosialisasi juga dilakukan melalui media massa. Ingar-bingar penyelenggaraan pemilu sesungguhnya telah berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya. Partai-partai politik melakukan beragam upaya untuk menarik perhatian publik dan menjaring massa. Faishal Hilmy Maulida dalam Sejarah Pemilu yang Dihilangkanmenyebut partai politik menyongsong pemungutan suara dengan memaksimalkan kampanye-kampanye lisan maupun tertulis untuk merebut hati rakyat. “Partai-partai menancapkan jaringannya dari kota-kota besar hingga desa-desa, setiap partai memiliki basis massa tersendiri berdasarkan haluan politik masing-masing. Baik PNI, Masjumi, NU, PKI, PSI, dan partai-partai lain menerapkan strategi ini. Partai-partai secara aktif mencari dukungan baik dari arus bawah maupun kelompok-kelompok masyarakat berpengaruh,” tulisnya.
- Komik Strip Panji Koming Merekam Zaman
“Menulis apa Lul?” tanya Panji Koming kepada Pailul yang sedang memahat batu. “Sejarah,” jawab Pailul singkat. “Sejarah Majapahit?” tanya Panji Koming lagi. “Bukan, ini sejarah lima abad mendatang,” ujar Pailul. “Tentang apa Lul?” Panji Koming penasaran. “Tentang janji untuk tidak melupakan,” kata Pailul. Setelah selesai, barulah diketahui Pailul memahat kalimat, ‘Selamat jalan Pak Swan.’ Pailul kemudian pergi sambil berkata, ”Asyik lho menulis sejarah.”
- Keluarga KS Tubun Setelah G30S
PADA malam 30 September 1965, Margaretha Wagina sedang berada di rumah bersama anak-anaknya. Suaminya sedang bertugas di kota yang berbeda dengannya. Wagina ingat bagaimana dulu berkenalan dengan suaminya pada 1954. Waktu itu, dia tinggal di rumah saudaranya yang menjadi suster di Jakarta. Lalu, ia berkenalan dengan seorang perempuan yang bertunangan dengan anggota Brigade Mobil (Brimob). Wanita itu mengajak Wagina berfoto. Ia mengirimkan foto itu ke tunangannya yang sedang bertugas di Aceh. Foto itu tidak hanya dilihat tunangannya, tapi juga kawannya yang sama-sama bertugas sebagai Brimob di Aceh. Kawan itu bernama Karel Sadsuitubun, yang dikenal dengan Karel Tubun atau KS Tubun. Kedua anggota Brimob itu pulang dari Aceh sekitar 1954. Wagina berkenalan secara langsung dengan KS Tubun.
- Kasus Bank Vanuatu di Indonesia
DRAGON Bank International Ltd. yang berbasis di Vanuatu membuka cabang di Jakarta pada awal Januari 1996. Bank ini membuat kejutan dengan mengumumkan akan menangani dua proyek bernilai miliaran dolar dengan mitra Indonesia dan Malaysia. George Junus Aditjondro, dosen sosiologi korupsi di Universitas Newcastle, Australia, menyebut bahwa Vanuatu adalah negara kepulauan yang juga dikenal sebagai tax haven (tempat wajib pajak mengurangi atau menghindari kewajiban membayar pajak, red.) dan pusat pencucian uang di Samudra Pasifik. "Di sinilah tempat kedudukan Dragon Bank International Ltd., lembaga keuangan milik PT. Harapan Insani, yang pada gilirannya bernaung di bawah Yayasan Harapan Kita [yang didirikan oleh Ibu Tien Soeharto]," tulis George dalam tulisannya "Mencermati Misi Muladi-Ghalib" di majalah Tempo, 30 Mei 1999.
- Peran Bank Indonesia di Masa Lalu
PERAN bank sentral yang sangat mudah dikenal orang adalah penciptaan/pencetakan uang dan tugas untuk menjaga nilainya, mengatur jumlah uang beredar dalam perekonomian agar inflasi/deflasi tetap dalam batas yang dapat diterima. Demikian penjelasan mantan Gubernur Bank Indonesia (2003-2008) Burhanuddin Abdullah dalam seminar nasional “Sejarah Bank Indonesia: Peran Bank Indonesia di Daerah: Dulu dan Kini” yang digelar di Museum Bank Indonesia, Rabu, 26 Juli 2023. Kendati merupakan bank sentral di Indonesia, Bank Indonesia (BI) tentu bukan benda mati yang tidak berubah. Berubahnya peran dan fungsi BI, kata Burhanuddin melanjutkan, adalah cerminan perubahan lingkungan ekonomi, politik, dan keuangan di negara ini.
- Teror di Masjid Al-Noor
NEGERI Kiwi yang lazimnya tenang mendadak jadi sorotan dunia. Total 49 jemaah Salat Jumat di dua masjid di Kota Christchurch, Canterbury, Selandia Baru, meninggal dunia, Jumat siang, 15 Maret 2019 sekira pukul 13.40 waktu setempat. Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, terpukul dan mengecam aksi terorisme itu. “Hari ini adalah salah satu hari paling kelam di Selandia Baru. Kita telah melihat kejadian yang belum pernah kita alami sebelumnya. Aksi ini hanya bisa dijelaskan sebagai serangan teroris,” kata Jacinda Ardern dalam konferensi pers dengan suasana haru, dikutip RTE, Jumat (15/3/2019). Selain 49 orang meninggal, sekira 20 lainnya terluka dan dua di antaranya Warga Negara Indonesia (WNI). “Kami berduka untuk para keluarga dan kerabat korban, termasuk dua WNI yang terluka dalam insiden itu,” cuit Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, di akunnya, @Menlu_RI.
- Anggota DPR Disangka Teroris
PROGRAM pemerintah Orde Baru ditetapakan dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) yang ditetapkan MPR RI setiap lima tahun. Pengumpulan bahan-bahannya dilakukan oleh Badan Pekerja MPR (BP MPR) secara terus-menerus sepanjang tahun. BP MPR mendapat masukan dari semua departemen, pemerintah daerah, partai politik, organisasi masyarakat, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan lembaga lainnya. Selain di dalam negeri, kelompok BP MPR juga melakukan studi banding ke luar negeri. Letjen (Purn) H. Achmad Roestandi selaku Ketua Fraksi TNI/Polri DPR/MPR RI ditugaskan melakukan studi banding ke Republik Rakyat Tiongkok, Spanyol, Australia, dan Mexico. Dalam perjalanan ke Mexico, rombongan singgah di Los Angeles, Amerika Serikat. Salah satu anggota rombongan adalah dr. Rahman Maas, kepala Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung, yang juga anggota DPR utusan daerah Jawa Barat.





















