top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Daud Beureueh Larang Judi di Aceh

    CINTA Mega anggota, DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI-P, terciduk main gim saat rapat paripurna pertanggungjawaban APBD pejabat gubernur Heru Budi Hartono (20/7). Aktivitas itu terbidik dalam gawai Ipad Cinta yang disiarkan YouTube DPRD DKI Jakarta. Andai kata yang dimainkannya permainan biasa, masihlah bisa dimaklumi. Tapi, dari tampilan layar gawainya yang belakangan viral, jenis gim yang dimainkan Cinta adalah judi slot. Cinta sendiri membantah bermain judi online saat rapat. Menurut pengakuannya, dia hanya memainkan gim puzzle Candy Crush. Namun, berbagai media memastikan layar gawai Cinta menampilkan permainan judi slot Gate of Olympus. Lagipula, gawai yang digunakan Cinta untuk bermain gim itu merupakan fasilitas milik negara. Meski sudah meminta maaf atas insiden memalukan tersebut, Cinta terancam sanksi oleh Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta.

  • Rose Pandanwangi Diva Seriosa Indonesia

    SENJA menghampiri Jakarta. Sepi melanda. Jalan silang Monumen Nasional (Monas), yang biasanya ramai lalu lalang kendaraan, mendadak senyap. Maklum, hari itu, 1 Oktober 1965, Kodam V/Jaya selaku Penguasa Pelaksana Perang Daerah memberlakukan jam malam mulai pukul 18.00 sampai 06.00. Pasukan baret merah dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) mengendap mendekati gedung , di seberang Monas. Mata mereka nyalang. Setiap personelnya memegang senjata dalam posisi .

  • Korpri Bantu Orde Baru Menangi Pemilu

    PEMILIHAN Umum 2024 kian dekat. Kurang lebih dua bulan lagi rakyat Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi. Namun, netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) telah diwanti-wanti sejak jauh-jauh hari. Entah itu pegawai negeri ataupun polisi. Aparat negara memang rawan dipolitisasi untuk mendulang suara. Salah posisi tangan dalam berfoto saja bisa jadi perkara. Ia akan dianggap memihak nomor urut salah satu kandidat capres. Repot urusannya. Selain jumlah sumber dayanya yang signifikan, ASN merupakan tulang punggung penyelenggara negara. Dalam pemilu, mereka dituntut netral. Keberpihakannya dalam skala masif, terstruktur, dan sistematis tentu menguntungkan salah satu pihak tapi merugikan yang lain. Penyalahgunaan aparat negara dalam pemilu seperti ini lazim terjadi di masa Orde Baru (Orba) berkuasa. Praktik itu bahkan sudah dilakukan pada pemilu perdana Orba tahun 1971.

  • Pegawai Negeri Bukan Priayi

    PRESIDEN Joko Widodo dalam sambutan di hari jadi Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-43 pada 1 Desember 2014, meminta para pegawai negeri sipil agar meninggalkan mental priayi atau penguasa. “Jadilah birokrat yang melayani dan mengabdi dengan sepenuh hati untuk kejayaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Jokowi. Sosiolog Harsya W. Bachtiar menyebutkan, golongan yang dahulu dinamakan priayi sekarang muncul dalam bentuk korps pegawai negeri sipil. Persamaannya, cara bekerjanya tidak diarahkan pada prestasi profesional tetapi untuk naik pangkat.

  • Orang-orang Terkenal Asal Kotanopan

    DATANGLAH seorang pengamat sosial dari luar Sumatra Utara ke daerah Kotanopan di Kabupaten Mandailing Natal (disingkat Madina), Sumatra Utara. Setelah mengamati beberapa orang Mandailing yang berhasil dalam karier mereka, pengamat itu pun mencari tahu apa makanan orang di sana. Dia mendapati ternyata ubi tumbuk adalah makanan orang di sana. Sayur daun singkong berkuah ini adalah salah satu menu makanan orang Mandailing yang sudah terkenal. Namun, rupanya makanan bukan kunci kesuksesan, namun ada faktor lain. “Kesimpulannya bukan tergantung makanan,” kata Mihron Parinduri, warga Kecamatan Kotanopan. “Keadaan ekonomi di tempat ini memang di bawah garis, jadi semua berjuang,” sambungnya mengenai alasan mengapa pemuda-pemuda terpelajar setempat setelah lulus SD akan merantau ke luar daerah seperti Siantar atau Bukittinggi.

  • Van Halen, Van Banten

    LAGU-lagunya menghiasi kehidupan banyak remaja, termasuk saya, ketika musik masih didengarkan melalui kaset berpita yang disetel pada radio tape. Van Halen, pengusung musik cadas yang berjaya era 1980-an sampai era 1990-an dimotori oleh van Halen bersaudara, Alex dan Eddie. Selasa, 6 Oktober 2020, pagi waktu Amerika Serikat, Eddie van Halen meninggal dunia dalam usia 65 tahun setelah berjuang melawan kanker tenggorokan yang dideritanya. Dari mana Eddie dan kakaknya, Alex, mendapat nama van Halen dan siapa asal-usul kedua orang tua mereka? Riwayat orang tua mereka terungkap saat Alex dan Eddie menjawab David Lee Roth, vokalis Van Halen sebelum Sammy Hagar, yang bertanya tentang dari mana kedua orang tua mereka berasal. Ketika Alex sedang menjelaskan asal usul ibunya dari Indonesia, Eddie nyeletuk “Rangkasbetung,” menyebutkan nama kampung kelahiran ibunya sembari terkekeh dalam wawancara delapan tahun lalu itu. Rangkasbitung ibu kota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

  • Perkara Tombol Panggil di Kantor DPP Golkar

    DALAM Musyawarah Nasional (Munas) Golkar ke-III pada Oktober 1983, Sudharmono ditetapkan menjadi ketua umum (ketum). Selain Ketua Umum Golkar, dalam pemerintahan Sudharmono juga menjabat menteri sekretaris negara (mensesneg). Sementara itu, jabatan sekretaris jenderal (sekjen) Golkar dipercayakan kepada tokoh muda Ir. Sarwono Kusumaatmadja. “Hasil penting Munas III antara lain adalah penegasan kembali Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi Golongan Karya. Dicetuskan pula program trisukses -- yang diilhami oleh pengarahan Ketua Dewan Pembina Golongan Karya Soeharto pada Munas III. Trisukses mencakup konsolidasi idiil, konsolidasi wawasan, dan konsolidasi organisasi,” demikian termaktub dalam manuskrip 20 Tahun Golkar.

  • Wapres RI Minta Wapres AS Hentikan Agresi Israel ke Palestina

    SUDHARMONO menjabat wakil presiden kelima (1988–1993) pada masa pemerintahan Presiden Soeharto setelah menjalani pengalaman panjang dalam dinas militer dan pemerintahan. Dimulai pada masa revolusi, ia dalam usia muda turut bergerilya sebagai tentara pelajar. Pria kelahiran Cerme, Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927 itu merintis karier militer mulai dari bawah. Sudharmono dengan pangkat sersan menjadi komandan regu Divisi Ronggolawe, letnan dua sebagai komandan seksi Divisi IV di Salatiga, letnan dua sebagai anggota Pasukan T Ronggolawe/Divisi V, dan letnan satu bertugas di P3AD (Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat) di Bandung.

  • Pengorbanan Mahal dalam Pertempuran Lengkong

    POLITIKUS Partai Gerindra Rahayu Saraswati Dhirakarya Djojohadikusumo mengaku, mulai belajar sejarah dari keluarganya sendiri. Dari pembelajaran itu dia jadi tahu dua kakeknya jadi korban dalam mempertahankan republik yang masih bayi. Kedua kakeknya dari garis ayahnya (Hashim Djojohadikoesoemo) yang menjadi korban itu adalah Polisi TKR Resimen IV Tangerang, Letnan Satu Soebianto Djojohadikoesoemo, dan taruna Akademi Militer Tangerang (AMT), Soejono Djojohadikoesoemo. Keduanya gugur dalam Peristiwa Lengkong, 25 Januari 1946. “Hari ini, 25 Januari 2021, bertepatan 75 tahun peringatan Peristiwa Lengkong, di mana ada (mayor) Daan Mogot serta taruna-taruna dan beberapa perwiranya gugur. Saya sendiri dibesarkan dengan cerita tentang eyang-eyang saya itu yang gugur, di mana Eyang Soebianto waktu itu usianya masih 21 tahun dan Eyang Soejono baru 16 tahun,” kata perempuan yang akrab disapa Sara itu dalam diskusi  live streaming  via Youtube  bertajuk “ Legenda Zaman Revolusi: Kisah Sudirman, Daan Mogot dan Soebianto ” , Senin (25/1/2020) malam. Sara yang juga berperan di film trilogi Merah Putih  (2009), Darah Garuda  (2010), dan Hati Merdeka  (2011) itu mengaku merasakan kedekatan historis antara inspirasi dalam cerita film itu dengan yang dialami kedua kakeknya. “ Setting trilogi itu kan memang terjadi 75 tahun lalu di mana terjadi gencatan senjata dengan Jepang sampai agresi militer setelah kemerdekaan. Jadi memang trilogi itu terinspirasi juga dari Peristiwa Lengkong. Ayah saya yang tahu saya syuting film ini sempat kaget dan curhat bahwa memang kejadiannya sangat mirip dengan para taruna itu,” lanjut perempuan yang menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 itu. Mengambil Pelajaran dari Peristiwa Lengkong Dalam diskusi yang sama, sejarawan Bonnie Triyana memaparkan garis besar Peristiwa Lengkong bisa dirunut sejak kekalahan Jepang di Perang Pasifik. Apa yang terjadi di Lengkong, menurutnya, adalah hasil keras hatinya pihak Jepang yang memang diperintahkan untuk menjaga status quo sebelum Sekutu masuk ke Indonesia pada Oktober 1945. NICA (Nederlandsche-Indische Civiele Administratie) ikut mengirim sisa-sisa pasukan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Australia ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Sekutu sekaligus mempersenjatai eks-KNIL yang diinternir di zaman pendudukan Jepang. Akibatnya, timbul kekacauan di sekitar ibukota Jakarta. “Kabinet Bung Karno kan waktu itu terbentuk sudah dalam keadaan tidak aman. Sudah ‘dar der dor.’ Tentara pensiunan KNIL yang di zaman Jepang tiarap semua, pada ‘petantang-petenteng’ tuh, jadi mulai kacau. Mereka bawa misi NICA yang ingin rekolonisasi. Sementara, Jepang sebagai pihak yang kalah, berdasarkan Deklarasi Postdam (26 Juli 1945) sebelumnya, diharuskan untuk tidak boleh macam-macam dan menjaga status quo di wilayah yang masih mereka kuasai,” ujar Bonnie. Sementara itu, TKR Resimen IV dan para taruna AMT yang berbasis di Tangerang masih kekurangan senjata. Terlebih sejak awal Januari 1946 sudah tersebar kabar bahwa serdadu Belanda sudah merangsek ke daerah Parung dan mengancam keamanan di Lengkong. Dalam suasana itulah pada sore 25 Januari 1946 Direktur AMT Mayor Daan Mogot bersama beberapa perwira Polisi TKR Resimen IV Tangerang, delapan prajurit British India yang membelot, dan tiga truk taruna AMT mendatangi markas Jepang yang menempati rumah di perkebunan karet Lengkong. Saat negosiasi antara Mayor Daan Mogot dengan pimpinan pasukan Jepang Kapten Abbe berjalan, bunyi tembakan muncul dari dalam markas –hingga kini masih misterius siapa yang meletuskan tembakan itu. Direktur Akademi Militer Tangerang Mayor Daan Mogot (kiri) & bekas markas Jepang di kebun karet Lengkong. ( Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi ). Para prajurit Jepang yang tengah bersantai pun masing-masing mengambil senjata dan membantai para perwira TKR dan taruna AMT yang minim persenjataan. Sekira 75 nyawa melayang. Antara lain Mayor Daan Mogot, Lettu Soebianto dan adiknya kadet Soejono, serta kadet Ahmad Sjawket, putra Wakil Menteri Luar Negeri RI Haji Agus Salim yang juga merupakan taruna AMT. “Setelah mengetahui bahwa yang gugur itu taruna Akademi Militer Tangerang, Jepang merasa ketakutan, takut amukan rakyat yang akan mendukung TKR untuk balas dendam. Akhirnya diputuskan oleh pimpinan tentara Jepang di Lengkong untuk menyerahkan seluruh persenjataan kepada TKR. Maka tercapailah impian Daan Mogot yang dibayar dengan jiwanya,” tulis buku Album Kenangan Perjuangan Siliwangi. Mayat mereka dikuburkan oleh para prajurit Jepang. Para petinggi Jepang di Jakarta kemudian mengizinkan perwakilan pemerintah RI untuk menggali makam mereka dan dimakamkan ulang di tempat yang lebih terhormat. Sebelum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Tangerang, upacara penghormatan diberikan kepada para kusuma bangsa. Selain dihadiri Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan sejumlah petinggi pemerintahan, upacara dihadiri Haji Agus Salim dan Margono Djojohadikoesoemo (direktur utama Bank BNI) sebagai keluarga korban. “Pengorbanan-pengorbananmu sangat mahal sekali, tetapi tiada suatu perjuangan tanpa pengorbanan dan tiada pengorbanan yang akan sia-sia,” ujar PM Sjahrir dalam sambutannya yang dikutip dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa. Ilustrasi Peristiwa Lengkong 25 Januari 1946. ( Album Kenangan Perjuangan Siliwangi ). Pada 22 Maret 1946, AMT ditutup lewat upacara militer yang dipimpin Kepala Staf Umum TRI Letjen Urip Sumohardjo. Hingga ditutupnya, AMT hanya menyisakan 129 lulusan yang lantas disebar di berbagai divisi TRI di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk Perang Kemerdekaan. “Banyak yang enggak tahu tentang kejadian itu. Padahal monumennya sendiri sering jadi titik kumpul komunitas gowes (sepeda). Bahwa sebenarnya kita jangan lupa dan mungkin bisa bersyukur kita sekarang enggak harus angkat senjata. Di zaman itu pemuda-pemuda dengan berani mengorbankan nyawa. Daan Mogot saja ketika gugur usianya baru 19 tahun,” kata Sara. Sara menyayangkan, kisah dan semangat mereka yang mestinya jadi inspirasi untuk menatap Indonesia ke depan, semakin tenggelam seiring pergantian zaman. Itu dicontohkannya dengan mengatakan bahwa sepupunya mengetahui Peristiwa Lengkong terjadi sebelum proklamasi, bukan setelah proklamasi. Baru kemudian sepupu itu tahu peristiwa tersebut terjadi setelah proklamasi. “Banyak generasi muda sekarang enggak mengerti atau enggak belajar atau sudah belajar tapi lupa. Waktu maju jadi caleg (2013-2014), saya juga sering ditanyakan bagaimana melihat apatisme anak-anak muda sekarang. Saya tambah sedih lagi waktu muncul isu sejarah mau dihilangkan dari kurikulum. Saya salah satu yang paling kencang menyuarakan penolakan,” tambahnya. Padahal, dengan belajar dari sejarah negeri sendiri, termasuk dari Peristiwa Lengkong, bisa dijadikan inspirasi untuk generasi milenial bertarung menjaga kedaulatan negara dengan konteks berbeda. “Konteksnya adalah bagaimana kita mau memastikan kedaulatan kita, di mana masyarakatnya semua bisa sejahtera, bisa makan, bisa mendapatkan nutrisi yang terjaga, demi bisa bertempur secara ekonomi,” papar Sara. Selaras dengan Sara, Bonnie melihat untuk “berperang” di zaman modern, baik dalam pentas ekonomi maupun politik internasional, lebih dulu dibutuhkan mental dan pola pikir rasional, logis, dan kritis sebagaimana yang sudah lebih dulu dilakoni bangsa-bangsa Eropa di era Aufklärung atau zaman pencerahan di abad ke-18. Diskusi streaming live  "Legenda dari Zaman Revolusi: Sudirman, Daan Mogot, dan Soebianto". (Layar Tangkap Youtube Let's Talk with Sara). “Pelajaran sejarah utamanya membentuk pola berpikir dengan metode historis. Karena sejarah bukan untuk hafal angka, tahun, atau nama tokoh, tapi memahami sebab-akibat sebuah peristiwa yang membentuk pengalaman kita di masa lalu. Di Eropa semua harus mau bertarung dengan pikiran sendiri dengan cara berpikirnya logis, historis, dan rasional,” sambung Bonnie. Permasalahannya, ketika republik baru lahir, para pendiri bangsa menyadari bahwa 80 persen dari 70 juta rakyat Indonesia masih buta huruf. Kondisi itu merupakan akibat langsung dari kolonialisme yang diskriminatif dan rasis, hingga melekatkan mental terjajah pada bangsa kita. Maka, lanjut Bonnie, para pendiri bangsa menyepakati bahwa sejarah harus jadi rujukan untuk membangun mental dan karakter bangsa demi membebaskan diri dari semua masalah yang membelit lewat cara berpikir historis, logis, rasional, dan kritis. “Jangan sampai juga merelevankan konflik masa lalu. Ini yang sering terjadi sekarang pakai isu macam-macam untuk memecah-belah. Dan ini yang menurut saya merupakan kegagalan kita belajar dan menafsirkan sejarah untuk kehidupan kita secara kolektif,” tandasnya. “Orang yang belajar sejarah tidak akan menjadi manusia yang intoleran,” timpal Sara.*

  • Pembantaian di Perkebunan Karet

    RUMAH bergaya kolonial itu berada di tepi Kali Ciasadane. Tepatnya di atas tanah seluas kurang lebih 1 ha. Kendati cukup asri dan terawat, orang-orang di sekitarnya terlihat tidak begitu peduli. Alih-alih orang-orang yang lalu lalang, seorang petugas keamanan yang berjaga di situ pun tak tahu menahu tentang sejarah tempat tersebut. “Saya kurang paham, tapi dari penduduk asli sini saya dengar dulu kawasan ini merupakan lahan perkebun karet yang dipakai buat perang ya?” ujar sang petugas malah balik bertanya. Sejak era Hindia Belanda, Lengkong memang merupakan perkebunan karet produktif. Sekira tahun 1945, komplek perumahan para pegawai perkebunan karet tersebut lantas ditempati oleh satu kompi tentara Jepang yang baru saja pulang dari perang melawan tentara Amerika Serikat di palagan Pasifik. “Jadi wajar kalau para serdadu Jepang itu masih mencium hawa perang,” ungkap sejarawan Rushdy Hoesein. Dalam kondisi seperti itulah, pada 25 Januari 1946, pasukan TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) pimpinan Mayor Daan Mogot mendatangi kompi tentara Jepang itu. Kepada Kapten Abbe (komandan kompi), Mayor Daan meminta agar persenjataan mereka diserahkan saja kepada pihak TRI (Tentara Republik Indonesia). Niat tersebut awalnya diamini oleh para tentara Jepang. Namun, entah bagaimana ceritanya, di tengah jalan semuanya berubah. Saat sibuk melucuti senjata dan mengumpulkannya, tetiba terdengar sebuah tembakan yang memantik para prajurit Jepang itu untuk balik melawan. Maka terjadilah pertempuran yang sangat tidak seimbang. “Malah saya berpikir itu bukan pertempuran, tapi suatu pembantaian, mengingat dengan mudahnya serdadu-serdadu Jepang itu menghabisi pasukan TRI…” ujar Rushdy kepada Historia . Anggapan Rushdy itu sejatinya masuk akal, mengingat situasi pasukan TRI yang datang ke Lengkong memang serba minim. Selain kurang pengalaman tempur (kecuali delapan eks tentara Inggris pembelot), anak-anak AMT (Akademi Militer Tangerang) yang menjadi inti pasukan, juga tidak dibekali persenjataan memadai. “Ya bayangkan saja oleh anda, karaben Mannlicher Carcano buatan Italia yang menjadi pegangan kami, selain sudah kuno juga enggak ada pelurunya. Terpaksa pelurunya kami ambil dari senjata jenis lain lalu kami bubut supaya pas, tapi ya nembaknya jadi enggak bisa banyak. Satu picu satu peluru,” ungkap Marzoeki Soelaiman, eks kadet AMT. Kocar Kacir Rupanya saat para kadet AMT dan sekelompok kecil eks tentara Inggris yang membelot ke kubu TRI tengah mengumpulkan senjata, diam-diam dua peleton pasukan Jepang lainnya yang masih bersenjata lengkap melakukan pergerakan cepat sambil melepaskan tembakan-tembakan gencar secara terkomando. “Mereka bergerak dari pos penjagaan arah barat laut dan dari pos sebelah selatan yang lolos dari pengawasan kami,” ujar Menot Syam, salah satu pelaku peristiwa tersebut, seperti diungkapkan kepada sejarawan Moehkardi dalam Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi Bagian I . Akibat sergapan mendadak itu, situasi di pihak TRI menjadi kacau balau. Alih-alih menghadapi dengan persenjataan yang sangat minim, mereka malah kocar-kacir ke berbagai arah untuk menyelamatkan nyawa masing-masing dan bertempur secara sendiri-sendiri. Dalam situasi seperti itulah, tetiba Mayor Daan Mogot lari dari arah markas induk tentara Jepang. “Tiaraaap! Semuanya tiaraaap!” teriaknya. Menurut Moehkardi, Mayor Daan sepertinya menyadari bahwa pertempuran tersebut terjadi karena adanya kesalahpahaman. Karena itu di tengah serangan gencar dan ramainya pertempuran, dia masih sempat berteriak ke arah pasukan Jepang untuk menghentikan tembakan. Tentunya teriakan Mayor Daan tidak digubris dan serangan malah semakin gencar. Sementara itu dengan gerakan teratur dan pasti, pasukan Jepang berhasil menguasai keadaan. Bahkan mereka berhasil kembali menguasai senjata-senjata yang sebelumnya dirampas dan menggunakannya. Pertempuran brutal jarak dekat pun terjadi. Sial bagi pasukan TRI yang senjatanya tidak dilengkapi bayonet, mereka tentu saja menjadi sasaran empuk para prajurit Jepang yang pandai memainkan bayonet. Darah mengucur, mayat bergelimpangan. Daan Mogot Gugur Begitu menguasai keadaan, para prajurit Jepang terus memburu anak-anak AMT hingga ke sudut-sudut hutan karet. Mayor Daan sendiri menghindar ke arah timur. Namun baru beberapa meter bergerak, dia bertemu dengan beberapa kadet AMT yang tengah bertahan di sebuah lubang pertahanan. Di antaranya adalah Soedharno, Menot Syam dan Tatang Kustandi. “Kami betul-betul ada dalam situasi kritis: Mayor Daan sudah tertembak bagian paha kanannya sedang peluru kami sudah habis semua,” tutur Menot Syam. Mereka lantas menghindar ke arah timur. Di tengah gerakan mundur itulah mereka menemukan sebuah pertahanan yang dilindungi tumpukan pasir. Di situlah mereka lantas berdiskusi sejenak mengatur strategi. Sebagai komandan, Mayor Daan memerintahkan kadet Menot dan kadet Sudharno untuk kembali ke Tangerang dan meminta bantuan ke markas Resimen IV. Perintah itu lantas diiyakan. Hari sudah memasuki waktu magrib. Situasi kebun karet mulai gelap sedang desing peluru dan teriakan para prajurit Jepang masih terdengar. Menot dan Sudharno secara perlahan mulai merayap ke arah timur untuk mencapai jalan raya. Baru saja mereka bergerak sekira 25 meter dari tempat pertahanan yang menyisakan Daan dan beberapa kadet lainnya, tetiba terdengar langkah-langkah terburu-buru dan teriakan dalam bahasa Jepang. “Chaaappppp!!!” “Dor! Dor!” Menot sangat yakin suara pistol itu berasal dari pistol Nambu Taisho Kaliber 14 yang menjadi pegangan Mayor Daan. Selanjutnya terdengar suara gedebag gedebuk, seperti sedang terjadi pertarungan satu lawan satu. Beberapa saat kemudian terdengar suara Mayor Daan mengaduh. Belakangan Menot dan Soedharno meyakini bahwa teriakan Mayor Daan itu merupakan tanda bahwa sang komandan terhantam bayonet Jepang yang langsung mengakhiri hidupnya. Sejarah mencatat Mayor Daan Mogot memang gugur di Lengkong. Bersamanya ikut gugur pula dua perwira dari kesatuan Polisi Tentara Resimen IV Tangerang yakni Letnan Satu Soebianto dan Letnan Satu Soetopo serta 34 kadet AMT, yang beberapa di antaranya masih sangat berusia muda. Sedangkan sisanya menjadi tawanan tentara Jepang.*

  • Pertempuran Lengkong Gegara Sebuah Tembakan

    SELAMA menjalankan perjuangan diplomasi di Mesir pada 1947, Haji Agus Salim terlihat sering menggunakan sebuah jaket militer usang. Menurut diplomat senior M. Zein Hassan, kendati anggota delegasi Indonesia lainnya agak penasaran dengan kebiasaan orang tua tersebut, namun tak ada yang berani menanyakannya langsung kepadanya. Hingga suatu hari, dalam suasana yang sentimentil, Haji Agus Salim memberitahukan kepada Zein Hassan bahwa, “Baju inilah yang dipakai anakku ketika dia jatuh sebagai syahid karena dadanya ditembus pelor tentara Jepang,” kata Haji Agus Salim seperti dikutip Zein Hassan dalam Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri . Menurut Siti Asia Salim, yang lebih akrab dipanggil Bibsy Soenharjo, “anakku” yang dimaksud Haji Agus Salim adalah Achmad Sjawket, kakaknya nomor lima. Sjawket merupakan kadet Akademi Militer Tangerang (AMT) yang gugur dalam tragedi berdarah di Lengkong pada 25 Januari 1946. “Dia memang terbunuh oleh peluru tentara Jepang,” ungkap anak kedelapan Haji Agus Salim itu. Informasi Intelijen Tangerang, 23 Januari 1946. Informasi intelijen itu diterima Letnan Kolonel Singgih, Komandan Resimen IV TKR Tangerang, dengan perasaan was-was. Disebutkan dalam laporan itu bahwa tentara Belanda yang sudah menduduki Parung, Bogor akan bergerak ke Lengkong guna melucuti pasukan Jepang yang bermarkas di wilayah tersebut. “Pak Singgih berpikir jika Lengkong dikuasai Belanda maka jalan terbuka bagi mereka untuk menyerang kedudukan Resimen IV di Tangerang,” ujar Marzoeki Soelaiman, eks kadet AMT. Singgih sejatinya sudah beberapa kali meminta Kapten Abbe, komandan tentara Jepang di Lengkong, untuk menyerahkan seluruh senjata kompinya. Namun, selalu saat diminta, Abbe berkelit bahwa mereka tidak akan menyerahkan senjata-senjata itu tanpa sepengetahuan pihak Sekutu. Maka, ditugaskanlah Mayor Daan Mogot, Wakil Direktur AMT, untuk memimpin operasi pelucutan tersebut. “Dipilihnya Daan Mogot karena dia secara pribadi kenal dengan Kapten Abbe,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein kepada Historia . Jumat, 25 Januari 1946, pukul 14.00. Tiga truk bermuatan puluhan kadet, termasuk Achmad Sjawket, bergerak dari halaman gedung AMT. Ketiga truk itu diiringi dua jip berisi delapan pembelot India eks tentara Inggris , Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo Moekiman (Kantor Penghubung TKR); Letnan Satu Soebianto (Polisi Tentara Resimen IV), dan Letnan Satu Soetopo (Polisi Tentara Resimen IV). Kehadiran eks tentara Inggris yang berseragam resmi merupakan bagian dari strategi TKR agar pihak Jepang percaya bahwa pelucutan tersebut dilakukan sepengetahuan Sekutu. Senja Berdarah Dua jam lamanya mereka menempuh perjalanan dari pusat kota Tangerang. Senja baru saja jatuh, kala mereka tiba di Lengkong. Setelah memarkir kendaraan-kendaraan di simpang empat, sekira 400 meter dari markas tentara Jepang yang dikelilingi pohon-pohon karet, mereka semua turun lantas memasuki halaman markas dengan berjalan kaki tanpa memberlakukan formasi tempur. Mayor Daan Mogot didamping seorang penerjemah, Mayor Wibowo dan seorang serdadu India langsung masuk ke markas. Di sana mereka terlibat dalam suatu perundingan yang alot dan sedikit panas dengan Kapten Abbe beserta jajarannya. Sementara para pimpinan berunding, para kadet dengan dipimpin oleh Letnan Satu Soebianto dan Letnan Satu Soetopo, bergerak ke barak-barak para prajurit Jepang. Mereka melucuti sekaligus mengangkut senjata-senjata dan mengumpulkannya di tengah lapangan. “Ketika para kadet memasuki barak-barak, serdadu Jepang pada umumnya dijumpai sedang dalam keadaan santai: ada yang sedang tidur-tiduran atau bermain kartu…tidak ada perlawanan sama sekali,” ujar Bratawinata, salah seorang kadet AMT, seperti dikutip Moehkardi dalam Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi (Bagian 1) . Setelah terkumpul dua tumpuk senjata, seorang kadet kemudian diperintahkan untuk memanggil masuk truk. Baru saja truk bergerak ke arah halaman markas, dor! Tetiba terdengar suara tembakan dari arah markas, disusul teriakan komando dari seorang perwira Jepang. “Gegara tembakan inilah, segala sesuatunya menjadi berbalik tidak menguntungkan buat rombongan para kadet dan tentara India,” ujar sejarawan Moehkardi kepada Historia . Para prajurit Jepang sontak balik menyerbu. Mereka yang tadinya sudah pasrah seolah menemukan kembali kekuatannya dan bergerak secara beringas. Para kadet yang hanya bersenjatakan senapan kuno buatan Italia Mannlicher Carcano kaliber 38, tentunya menjadi tak berdaya. Alih-alih bisa mengimbangi, mereka yang sebagian besar masih awam soal penggunaan senjata menjadi bulan-bulanan para prajurit Jepang yang disebut-sebut baru saja pulang dari palagan Pasifik. Menurut salah seorang pelaku sejarah eks kadet Ateng Yogasara, begitu komando pertama diteriakan oleh perwira Jepang, tanpa banyak bicara, prajurit-prajurit Jepang itu secara terkoordinasi menyerbu balik seraya melepaskan tembakan-tembakan gencar. Akibatnya, para kadet banyak yang langsung terkena tembakan: bergelimpangan di lapangan dan sela-sela pohon karet. Senja itu, Lengkong menjadi berdarah. “Kami bertempur betul-betul tanpa komando dan bergerak sendiri-sendiri,” ujar Ateng seperti dikutip sejarawan Moehkardi dalam bukunya.* Bersambung ke tulisan Pertempuran Lengkong, Pembantaian di Kebun Karet

  • (De)forestasi Kawasan Bandung Utara

    SETIAP musim hujan tiba, Bandung selalu tidak baik-baik saja. Intensitas hujan yang tinggi selalu diiringi genangan air di setiap sudut kota. Salah satu penyebabnya adalah rusaknya daerah-daerah resapan air di kawasan Bandung Utara akibat alih-fungsi lahan. Dilansir Pikiran Rakyat (online) edisi 16 April 2024, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat memperkirakan alih-fungsi lahan di kawasan Bandung Utara mencapai 200 hektar selama satu dekade terakhir, dengan kisaran 10 hingga 20 hektar per tahun. Pemerintah kota pun disorot terkait kewenangannya dalam pemberian izin pembangunan yang menyebabkan degradasi lahan di kawasan tersebut. Persoalan kawasan Bandung Utara nyatanya bukan hanya berkecamuk di masa kini. Deforestasi sudah terlihat sejak lebih dari 100 tahun lalu.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page