Hasil pencarian
Cari di situs ini
10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sinema untuk Bangsa
DI usia senjanya, Slamet Rahardjo Djarot tak mau menepi dari dunia seni. Dia masih menunjukkan kepiawaiannya sebagai aktor maupun sutradara. Dia naik pentas dalam pertunjukan teater. Setiap minggu, dia menyuguhkan guyonan bernada satir tentang perpolitikan di Indonesia dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta. Seniman serbabisa ini tak berhenti berkarya. Tak heran jika dia mendapat penghargaan Lifetime Achievement dalam Jogja Nefpac Asian Film Festival 2011 dan Festival Film Bandung 2012. Slamet Rahardjo, kini 64 tahun, memasuki dunia film lewat teater. Beberapa kali dia menerima Piala Citra, anugerah tertinggi insan perfilman tanah air, sebagai penata artistik, aktor, maupun sutradara. Sebagai tokoh perfilman, dia mengidolakan Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional . Usmar Ismail, lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 20 Maret 1921, dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, dan produser film. Pada 1950, dia keluar dari tentara dan uang pesangonnya digunakan untuk mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Ditemui di sesela kesibukannya, Slamet Rahardjo menyempatkan diri berbincang tentang idolanya. Sebagai seniman film, siapakah tokoh idola Anda? Jika tokoh idola dalam pemikiran, ya Sukarno. Tokoh idola dalam dunia teater ya Teguh Karya , wong saya ini muridnya. Namun, jika tokoh idola dalam dunia perfilman ya tentu saja Usmar Ismail . Dari film-film Usmar Ismail , saya belajar mengenai seluk-beluk pembuatan sebuah film, meski secara pribadi saya tak terlalu dekat dan belum sempat belajar langsung dari dia. Kapan pertama kali bersinggungan dengan sosok Usmar Ismail? Ya tentu saja pertama kali sebagai penonton. Ada beberapa filmnya yang saya suka, seperti Lewat Djam Malam , Enam Djam di Djogdja , Tiga Dara , dan Krisis . Saya juga pernah belajar di sekolah yang didirikan Usmar Ismail, yaitu Akademi Teater Nasional Indonesia (yang didirikan tahun 1955, dan menjadi akademi teater modern pertama di Asia Tenggara). Mengapa mengidolakan Usmar Ismail? Usmar Ismail adalah orang yang menyadarkan saya bahwa film bukan sekadar hiburan. Film adalah kredo atau pernyataan dari pembuatnya. Jika ingin membuat film, buka mata, pelajari kesusahan, pelajari kesuksesan, pelajari kehidupan dengan jernih. Harus jujur, jangan pura-pura. Seorang pembuat film tak dapat dihakimi oleh hakim; karyanya yang dapat menghakiminya. Jika seseorang membuat film sontoloyo , yang hanya bikin bodo rakyat, ya itulah harkat dia. Apa yang menarik dari sosok Usmar Ismail? Ada hal menarik yang pernah dia sampaikan: “Saya membuat film seukuran kesadaran nasionalisme saya. Saya membuat film dengan kesadaran bahwa ini adalah karya budaya. Saya ingin membuat film yang dekat dengan masyarakat karena saya seorang wartawan. Saya ingin bikin film yang berharkat dengan ceritanya karena saya seorang sastrawan. Dan, saya ingin membuat film dengan patriotisme karena saya seorang mayor.” Itu kan lengkap. Jadi ada alasan bagi saya untuk mengaguminya. Sejauh mana Usmar menginspirasi Anda? Usmar Ismail memberikan gambaran kepada saya bahwa film bisa digunakan sebagai nation character building . Misal, dia membuat film yang berpikiran Indonesia, problem indonesia, semangat membangun Indonesia. Dalam film saya, Ponirah Terpidana (1983), saya menggunakan simbolisasi situasi bangsa kala itu, saat Orde Baru, di mana tidak ada kebebasan untuk bicara. Akibatnya ya itu, Ponirah tetap sebagai terpidana, terbelenggu oleh kondisi. Film dapat menjadi vitamin jika dibuat dengan benar, dan bisa menjadi racun jika dibuat dengan sembrono.*
- Suzzanna Bangkit dari Kubur
SUTRADARA Anggy Umbara menggarap film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Film produksi Soraya Intercine Films ini dirilis tahun 2018. Dalam wawancara di media, Anggy mengatakan film ini bukan remake, reboot, maupun biopic. Formulanya mirip film garapan Anggy sebelumnya, Warkop DKI Reborn (2016). Kendati demikian, Anggy berjanji akan menyuguhkan sentuhan nostalgia dari film-film lama Suzzanna. Termasuk adegan-adegan ikonik dalam film horor yang dimainkan Suzzanna. Suzzanna memang dikenal lewat film-film horor. Namun, kariernya tak dimulai dari genre film yang buat bulu kuduk merinding itu. Suzzanna Martha Frederika van Osch nama lengkap aktris ini. Dia lahir di Bogor pada 13 Oktober 1942. Bakat seni mengalir dari orang tuanya. Ayahnya seorang pemain sandiwara. Ibunya seorang penyanyi bersuara merdu dan pernah menyumbangkan suara dalam siaran-siaran di Radio Republik Indonesia Surabaya.
- Hjalmar Schacht Melawan Hitler
HJALMAR Horace Greeley Schacht lahir pada 22 Januari 1877, anak dari pasangan seorang baron Denmark dan guru sekolah Jerman. Setelah meraih gelar doktor dalam ilmu ekonomi, kariernya sebagai bankir melesat hingga menjabat presiden Reichsbank. Schacht dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Pada 1930, Schacht mengundurkan diri dari Reichsbank karena berbeda pendapat dengan pemerintahan Republik Weimar mengenai perjanjian reparasi perang. Schacht kemudian melihat potensi Adolf Hitler, yang baru keluar dari penjara.
- Selayang Pandang Pasukan Elit Garda Swiss
MESTINYA Garda Swiss menggelar upacara pengambilan sumpah para rekrutan anyarnya hari ini, Selasa (6/5/2025). Namun karena masih berlangsungnya masa duka wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 silam dan menjelang pemilihan Bapa Suci baru dalam konklaf yang dimulai pada Rabu (7/5/2025), khusus tahun ini upacara pengambilan sumpah para rekrutan anyar pasukan Garda Swiss ditunda. Garda Swiss adalah pasukan elite pengawal Paus sang pemimpin Gereja Katolik dunia. Sebagai pasukan terkecil di dunia secara kuantitas, tentu wilayah yurisdiksinya hanya sebatas negara Takhta Suci Vatikan seluas 44 hektare. Lazimnya dalam banyak agenda besar yang mendatangkan wisatawan hingga umat Katolik dunia ke Vatikan, pengamanan dibantu aparat Angkatan Darat (AD) Italia atau Carabinieri (polisi militer).
- Operasi Intelijen Caesarea Memburu September Hitam
21 Juli 1973, sekira pukul 10:30. Seusai menonton bioskop, seorang pria berkulit gelap, menggandeng tangan istrinya yang sedang hamil, menyusuri Jalan Porobakakan di Lillehammer, Norwegia. Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di samping mereka. Dua pria keluar dan dengan pistol Beretta menembak sang calon ayah. Dia meninggal diiringi jeritan istrinya. Para pembunuh itu bekerja untuk dinas rahasia Israel, Mossad. Mereka yakin telah membunuh seorang Palestina Ali Hassan Salameh yang dijuluki “Pangeran Merah.” Menurut hasil penyelidikan Mossad, Ali Hassan Salameh adalah satu dari delapan orang Palestina yang menamakan diri Black September atau September Hitam dan menyandera atlet Israel dalam Olimpiade Munich, Jerman, tahun 1972. Dalam penyanderaan tersebut, sebelas atlet Israel, lima pelaku penyanderaan, dan seorang polisi Jerman tewas.
- Soepomo Meraih Hadiah Gajah Mada di Belanda
SETELAH menamatkan Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta, pada Agustus 1924 Soepomo mendapatkan beasiswa (studieopdracht) untuk melanjutkan pendidikan hukum ke Universitas Leiden Belanda. Dengan kecerdasan dan ketekunan, pemuda kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 itu, berhasil menyelesaikan pendidikan master dan doktornya dalam waktu bersamaan. Soepomo memperoleh gelar Master in de Rechten (Mr) pada 14 Juni 1927 dengan predikat suma cumlaude. Dan pada 8 Juli 1927, dia mempertahankan disertasinya yang berjudul De reorganisatie van het agrarisch stelsel in het gewest Surakarta (Reorganisasi Sistem Agraria di Daerah Surakarta). “Dia juga meraih hadiah ‘Gadjah Mada’, hadiah tertinggi dalam bidangnya pada saat itu. Hal ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa dan berarti bahwa dalam satu tahun sekaligus beliau menggondol dua gelar kesarjanaan. Gelar doktor beliau capai dalam usia yang sangat muda, yaitu 24 tahun,” tulis A.T. Soegito dalam biografi Prof. Mr. Dr. Supomo.
- Soepomo, Peraih Hadiah Gadjah Mada
Orang Indonesia pertama yang meraih hadiah Gajah Mada di Belanda.
- Iskandar Alisjahbana, Rektor yang Diteror
PADA 9 Februari 1978, sunyi merambati Bandung malam itu. Suasana mencekam masih terasa usai pasukan bersenjata menduduki kampus ITB dan kampus Universitas Padjadjaran siang harinya. Begitu pun di Jalan Sulanjana, kawasan yang menjadi tempat tinggal Rektor ITB Iskandar Alisjahbana. Entah dari mana datangnya, tetiba terdengar suara tembakan beberapa kali. Seketika tembok di atas jendela kamar salah seorang putri Iskandar meninggalkan lubang-lubang cukup besar. Tentu saja kejadian yang serba cepat tersebut membuat keluarga Iskandar panik.
- Mahasiswa Ingin Ganti Presiden, Tentara Duduki Kampus
HARI-hari belakangan ini, publik diramaikan dengan wacana #2019GantiPresiden. Di sana-sini, kampanye gencar dilakukan. Bahkan, di tingkat akar rumput masyarakat ada yang berujung intimidasi. Era reformasi memang membuka keran kebebasan sebesar-besarnya dalam menyatakan pendapat. Kontras dengan keadaan di masa lalu. Di zaman Orde Baru (Orba), menyatakan pendapat adalah kemewahan tak ternilai. Kritik bisa berujung bui hingga nyawa. Mahasiswa generasi tahun 1970-an pernah merasakan betapa ganasnya aparat Soeharto memperlakukan mereka.
- Spanyol 1936
PADA sebuah barak Lenin di Barcelona, sehari sebelum bergabung dengan milisi antifasis, George Orwell terpukau pada penampilan seorang laskar muda asal Italia. Pria itu, kata Orwell, berusia sekitar 25 atau 26 tahun, berdiri tepat di hadapannya dengan sorot mata tajam, memperhatikan sebuah peta terhampar di atas meja dengan kening berkerut kebingungan. “Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku tersentuh. Itulah wajah seorang lelaki yang rela berjibaku membunuh dan tak memedulikan hidupnya demi seorang kawan,” tulis Orwell dalam memoarnya yang masyhur Homage to Catalonia.
- Kunjungan Putra Mahkota Belgia Leopold dan Putri Astrid ke Hindia Belanda
DENGAN kapal Insulinde, Putra Mahkota Leopold dari Belgia dan Putri Astrid berangkat ke Hindia. “Itu adalah perjalanan yang berat, tetapi juga menyenangkan,” kata Kapten Kapal GH Ruhaak pada Bataviaasch Nieuwsblad edisi 17 Maret 1933. Desember 1928 merupakan kali pertama pasangan Kerajaan Belgia itu berkunjung ke Hindia-Belanda. Mereka datang untuk melihat-lihat tanah dan orang-orang di negeri jajahan milik kerajaan tetangga. Orang-orang di negeri jajahan Belanda amat antusias menyambut kedatangan pasangan ini. Kebun Raya Bogor bahkan menyiapkan satu spot untuk ditanami bunga yang melambangkan bendera Belgia: hitam, kuning, dan merah. Jalan di sisi bunga itu juga dinamai Astrid Boulevard.
- Dari Ukraina untuk Indonesia
PADA 4 Desember 1945, dalam sebuah konferensi pers, Perdana Menteri Sutan Sjahrir menyatakan bahwa campur tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah jalan terbaik untuk memecahkan soal Indonesia dan kalau Belanda akan menempuh jalan kekerasan, niscaya tidak ada persetujuan yang akan dicapai. Untuk itu, Sjahrir mengirim surat dan dokumen-dokumen penting kepada Sidang Umum PBB yang pertama pada 10 Januari 1946 di Church House Westminster, London, Inggris. Dalam suratnya, Sjahrir menguraikan dan meminta agar masalah Indonesia dibicarakan dalam sidang. Keputusan yang akan diambil oleh sidang amat penting mengingat masalah Indonesia hanya dapat disetujui atau tidak untuk dibicarakan oleh Dewan Keamanan PBB, bergantung pada sidang tersebut.





















