Hasil pencarian
Cari di situs ini
10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dari Kina Ke Artemisia
BARU-BARU ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis hasil penelitian unggulannya mengenai kandungan Artemisia annua, tumbuhan yang dapat menggantikan kina sebagai obat malaria. Menurut peneliti LIPI, Wiguna Rahman, kadar artemisinin, zat yang terdapat dalam tanaman Artemisia, terbukti lebih mujarab mengobati malaria ketimbang zat yang dihasilkan kina. Karenanya, Artemisia sanggup menggantikan kina. “Apalagi menurut WHO (World Health Organization), banyak temuan plasmodium (parasit penyebab malaria) mulai resisten terhadap kina,” ujar Wiguna.
- Pertunjukan Propaganda untuk Anak-Anak
Bagi pemerintah militer Jepang pemuda adalah aset yang dapat dimobilisasi untuk kepentingan perang Asia Timur Raya. Pemuda berusia 15-20 tahun digerakkan mengikuti pelatihan semimiliter Seinendan (Barisan Pemuda). Bagaimana dengan anak-anak berusia 8-15 tahun? “Perlu sekali satu badan yang memperhatikan mereka bukan saja yang di kota dan anak-anak sekolah, tetapi terutama juga anak-anak yang tidak bersekolah dan anak-anak di desa,” tulis Sinar Baroe, 15 Juni 1945.
- Siapa Menyimpan Perempuan Simpanan
Elizabeth Abbott tahu soal perempuan simpanan dari olok-olok ibunya kepada kakeknya, seorang pembuat bir kaya dan politikus kota Detroit, Amerika Serikat. Sang kakek disebutnya memelihara “sarang cinta” yang dihuni perempuan-perempuan cantik. Abbott mengenal lebih jauh setelah berkenalan dan berteman dengan dua perempuan simpanan, Katerina dari Jerman Timur dan Ghislaine Jeudi dari Haiti –keduanya nama samaran untuk menghindari kemungkinan mempermalukan keduanya, tanpa mengurangi kebenaran kisah mereka. Dari situlah dia menulis buku ini. “Bahan yang begitu banyak, termasuk dalam suratkabar, menunjukkan bahwa wanita simpanan ada di mana saja,” tulis Elizabeth Abbott.
- Soerat Makan Kolonial
BELAKANGAN ini, wisata kuliner menjadi tren. Media cetak maupun elektronik menyediakan ruang untuk icip-icip makanan. Sebenarnya, wisata kuliner bukan barang baru. Ia telah hadir di zaman kolonial. Untuk memfasilitasi wisatawan asing, pemerintah Hindia Belanda mendirikan perhimpunan turisme, Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) di Batavia, pada 1908. Anggotanya para pengusaha yang berhubungan dengan turisme, seperti perusahaan transportasi, perhotelan, pemilik toko, dan perbankan. Kantor ini bertugas untuk mempromosikan, memberikan informasi, dan membuat reklame turisme.
- Mula Pedagang Kaki Lima
PKL bukan pedagang kemarin sore. Kehadiran mereka di Jakarta bisa dirunut hingga ke zaman Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Saat itu, Raffles memerintahkan beberapa pemilik gedung di jalanan utama Batavia untuk menyediakan trotoar selebar lima kaki (five foot way) untuk pejalan kaki. Menurut William Liddle dalam “Pedagang yang Berkaki Lima”, termuat 111 Kolom Bahasa Kompas, saat bertugas di Singapura pada 1819, Raffles kembali menerapkan kebijakan ini di Chinatown.
- Abdoel Moeis dan Hari Sastra Indonesia
PADA 24 Maret 2013, pertemuan sastrawan terkemuka Indonesia di Bukittinggi, Sumatra Barat, yang dihadiri wakil menteri pendidikan serta sejumlah tokoh nasional dan daerah, menetapkan 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia. Tanggal itu diambil dari kelahiran Abdoel Moeis, wartawan, politisi, dan sastrawan. “Pada awalnya kami mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Tapi tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai Hari Sastra Indonesia,” kata penyair Taufiq Ismail, penggagas Hari Sastra Indonesia, dikutip republika.co.id, 24 Maret 2013. Selain itu, Abdoel Moeis juga merupakan pahlawan nasional pertama yang diangkat oleh Presiden Sukarno pada 30 Agustus 1959.
- Suluh Bagi Perempuan
PERAYAAN lima tahun kemerdekaan Republik Indonesia di Makassar, yang dihadiri Presiden Sukarno, berlangsung meriah. Di gedung gubernur Makassar, Sjamsiah Ahmad, yang berusia 17 tahun, mengenakan gaun putih dengan kancing berjumlah 17 pula. Tangannya menggenggam bendera merah-putih kecil. Dia berdiri berderet bersama siswa lain untuk menyambut Sukarno. Sukarno berjalan di depan mereka. Ketika sampai di depan Sjamsiah, Sukarno berhenti dan berkata, “Namamu siapa?” “Sjamsiah.” “Tahu artinya?” tanya Sukarno. Sjamsiah menggeleng.
- Sabah Milik Siapa?
MANTAN Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad bersuara lantang mengomentari penyerangan bersenjata di Sabah yang memakan banyak korban jiwa. “Tidak ada jalan keluar selain meluncurkan serangan balik untuk mengusir mereka,” ujarnya. Mahathir menganggap pemerintah Malaysia keliru mengirimkan polisi. “Ancaman eksternal semestinya ditangani oleh angkatan bersenjata,” kritiknya. Konflik itu diawali oleh penyusupan ratusan warga Filipina Selatan, yang mengklaim sebagai Tentara Diraja Kesultanan Sabah ke Lahad Datu, Sabah, Malaysia awal Februari 2013. Mereka berusaha mengambil kembali Sabah (Kalimantan Utara) dari Malaysia, yang mencaploknya 50 tahun silam.
- Baret Merah vs Baret Ungu
SEKIRA 90 anggota Batalyon Artileri Medan 15/76 Tarik Martapura menyerang Markas Polres OKU (Ogan Komering Ulu) Sumatra Selatan, 7 Maret lalu. Mereka mengamuk lantaran tak mendapat kejelasan yang memuaskan tentang penanganan kasus penembakan rekan mereka, Pratu Heru Oktavianus, oleh Brigadir Wijaya, anggota Polres OKU. Empat polisi terluka. Dalam sejarah, bentrokan bukan hanya terjadi antara militer dengan polisi. Bentrok sesama militer pernah beberapa kali terjadi. Pada 1964 misalnya, pasukan RPKAD (kini Kopassus) baku hantam dengan pasukan KKO (kini Marinir) di Lapangan Banteng, Jakarta. Kisahnya bermula dari saling ejek pada suatu pagi ketika mereka sama-sama latihan di Lapangan Banteng.
- Kuliner Tionghoa di Nusantara
CAP go meh, hari kelimabelas Imlek, dirayakan warga Tionghoa dengan menggelar keramaian, lengkap dengan pernak-pernik khas dan sajian kulinernya. Di masa lalu, saat perayaan cap go meh di Jakarta, terlebih bagi pemuda yang hendak melamar gadis pujaannya, maka ada syaratnya. “Cialat atau cilaka dua belas bagi mantu yang datang sowan tanpa membawa sepasang bandeng,” tulis Alwi Shahab dalam Robih Hood Betawi. “Calon mantu yang begini tidak punya liangsim atau rasa malu.”
- Dari Bataan Menuju Kematian
MYRRL McBride Sr dan banyak serdadu lain haus, lapar, dan lelah siang itu. Namun mereka harus terus berjalan sesuai perintah para serdadu Jepang yang menawan mereka. Lalu, “Orang-orang mulai terhuyung dan jatuh. Tak lama kemudian mereka ditembak atau ditusuk bayonet,” kenang McBride, yang selamat, dalam memoarnya Beyond the March of Death: Memoir of a Soldier′s Journey from Bataan to Nagasaki. Sejak Jenderal Edward P King, komandan pasukan AS-Filipina di Semenanjung Bataan, menyerah kepada Jepang di bawah Jenderal Masaharu Homma pada 9 April 1942, sekira 50 ribu serdadu AS dan Filipina jadi tawanan Jepang. Keesokan harinya, Jepang memerintahkan mereka, yang sudah dibagi dalam beberapa kelompok, berjalan kaki menuju kota Tarlac, provinsi Tarlac, tempat Kamp O’Donnel berada –dikenal dengan istilah “Pawai Kematian Bataan” (Bataan Death March). Sebagian rombongan berjalan kaki ke San Fernando, provinsi Pamapanga.
- Feisal Tanjung Penindak Perwira
FEISAL Tanjung sering disebut the rising star. Kariernya melesat sejak dia ditunjuk sebagai ketua Dewan Kehormatan Militer (DKM) pada 1992. Dewan ini dibentuk selepas peristiwa Santa Cruz, Dili, pada 1991. Posisinya kala itu mayor jenderal. Ia bertugas menyelidiki aparat yang bertindak di luar kepatutan. Sejumlah perwira ABRI pun ditindak. Pangdam Udayana Mayjen TNI Sintong Panjaitan, misalnya, harus melepas jabatannya. Brigjen TNI Warouw, panglima Komando Lapangan Operasi Timor Timur, bahkan diberhentikan dari ABRI. Hasil kerjanya itu memuaskan Presiden Soeharto.





















