Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Benarkah Ketok Magic Memakai Kekuatan Gaib?
PARA mekaniknya hanya menggunakan peralatan sederhana, seperti palu. Namun, hasilnya cukup memuaskan, kendaraan penyok kembali mulus. Biayanya pun terjangkau. Itulah jasa reparasi ketok magic. Kata “ketok” mungkin menunjukkan peralatan yang digunakan yaitu palu. Sedangkan kata “magic” yang memunculkan syakwasangka; jangan-jangan prosesnya menggunakan magi (kekuatan gaib). Sialnya, banyak orang percaya.
- Masa Kecil Soeharto di Wuryantoro
PRESIDEN Soeharto resmi dinotbakan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini. Menurut Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan, Soeharto dianggap berjasa pada negara atas dua hal. Pertama, Soeharto berperan dalam memimpin operasi Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Pangkatnya saat itu letkol dan menjabat sebagai komandan wilayah pertahanan (wehrkreise) III. Kedua, Soeharto bertanggung jawab atas penumpasan PKI setelah Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Semasa menjabat presiden (1966–1998), Soeharto dikenal pula sebagai Bapak Pembangunan. Namun, tak banyak informasi yang diketahui tentang masa kecil Soeharto. Soeharto lahir di Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, sebelah barat Yogyakarta, pada 8 Juni 1921. Ibunya bernama Sukirah dan ayahnya Kertosudiro, seorang ulu-ulu atau pembantu lurah yang bertugas mengatur irigasi pertanian desa. Masa kecil Soeharto tak begitu mulus. Orangtuanya bercerai tak lama setelah Soeharto lahir. Menurut Probosutedjo, adik seibu Soeharto dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto, Kertosudiro konon suka bermain judi.
- Muhammadiyah dan Musik
HARI ini dalam sejarah, 16 Mei 1931, hari terakhir atau penutupan Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta. Dalam kongres yang berlangsung sejak 8 Mei 1931 itu hadir Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah dari Sumatra. Hamka menyampaikan pidato tentang perkembangan Muhammadiyah di Sumatra. Pidatonya yang mempesona sampai membuat hadirin menitikan air mata. Oleh karena itulah Pengurus Besar Muhammadiyah mengangkat Hamka menjadi Mubaligh Pengurus Besar Muhammadiyah di Makassar sampai kongres ke-21 di kota itu yang akan dilaksanakan pertengahan tahun 1932. Salah satu keputusan Kongres Muhammadiyah ke-20 adalah tentang musik. Dalam Tafsir Al-Azhar Jilid 7, Hamka menyebut bahwa semata-mata nyanyian pada pokoknya tidaklah haram. Baru menjadi haram kalau ia telah menjadi permainan kata-kata yang menimbulkan syahwat.
- Di Balik Nama Ken Angrok
SUATU HARI, Batara Brahma menyetubuhi Ken Endok di Tegal Lalateng. Dia kemudian melarang Ken Endok bersetubuh dengan suaminya, Gajahpara. Jika dilakukan, suaminya akan mati karena bercampur dengan anak di rahim Ken Endok.
- Hitung-hitungan ala Soeharto
Dalam sebuah wawancara, sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah menyamakan Soeharto dengan Letkol Untung Sjamsuri, komandan G30S 1965. Untung, kata Pram, adalah orang yang berani tapi bodoh, makanya bisa diperalat oleh Soeharto. Soeharto di mata Amerika Serikat pun demikian, makanya bisa dipakai (untuk menumpas PKI). Menurut Pram, Soeharto itu kebalikan dari Jenderal Nasution yang terpelajar dan fasih berbahasa Belanda.
- Jodoh Dono Ditunjukkan Jailangkung
JODOH ada di tangan Tuhan. Namun, manusia harus berusaha untuk mencarinya. Sehingga setiap orang punya cerita bagaimana mendapatkan pasangan hidupnya. Ceritanya ada yang biasa, berliku, bahkan luar biasa, seperti Dono yang jodohnya ditunjukkan jailangkung. Boleh percaya, boleh tidak, bebas saja. Ketika duduk di bangku SMP, Wahyu Sardono, yang kemudian dikenal luas sebagai Dono, main jailangkung dengan adik, kakak, dan ibunya. Kakaknya menanyakan kepada jailangkung, siapa pacar Dono dan asalnya dari mana. Jailangkung itu menulis: Titi Kusumawardhani dari Madiun. “Iya memang pernah main jailangkung ketika SMP dulu, kami rame-rame, ada kakak dan ibu saya. Yang lucu memang dikasih tahu calonnya dari Madiun namanya Titi,” kata Rani Toersilaningsih (65 tahun), adik Dono yang sekarang menjadi dosen FE UI, kepada Historia.ID.
- Kelucuan Dono di Luar Film
PROF. Paulus Wirutomo, guru besar sosiologi Universitas Indonesia (UI), tertawa terbahak dan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mengingat peristiwa itu. Semasa mahasiswa pada dekade 1970-an, Paulus berkarib dengan Wahyu Sardono atau Dono Warkop, adik kelasnya di jurusan sosiologi UI. Paulus dan Dono sempat melakukan penelitian bareng di suatu desa di Serpong, Tangerang, selama 1974–1975. Kala itu Serpong masih jauh dari sentuhan pembangunan. Dokter pun tak ada. Maka, Serpong menjadi daerah prioritas untuk dikembangkan melalui program kerja sama antara universitas, pemerintah, dan lembaga penelitian dari dalam dan luar negeri. Orang-orang Serpong senang dengan program pengembangan wilayah mereka. Penyambutan mereka terhadap peneliti, mahasiswa, dan pegawai pemerintahan sangat hangat. Penduduk bahkan membuka rumahnya kepada sejumlah mahasiswa, termasuk Paulus dan Dono, untuk ditempati sementara.
- Barak-barak Soeharto
BILA dalam teks-teks biografi Soeharto selama ini terdapat sejumlah kejanggalan dan pengakuan yang tak masuk akal, terutama mengenai karier militernya selama pendudukan Jepang, David Jenkins mengurainya dalam buku ini.
- Bus Pasar, Bus Kaum Pedagang
BUS Transjakarta berdek rendah berhenti menyerong. Badan besarnya menutup seluruh jalan. Petugas bus sedang mengatur ulang karung-karung milik penumpang di dalam bus. Karung-karung itu menutup ruang berdiri penumpang lain. Si empunya karung bekerja sebagai pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dia terpaksa menggunakan Transjakarta untuk pergi pulang bawa karung dagangan. Bercampur dan berebut ruang dengan penumpang biasa. Tak ada transportasi publik khusus untuk pedagang pikulan atau karung seperti dirinya.
- Kegagalan Bus Kota Tanpa Kondektur
MANIS di awal, pahit di akhir. Itulah yang terjadi pada sistem Rute Metode Baru (RMB) bus Patas AC milik PPD. Perusahaan, karyawan, dan penumpang hanya menikmati saat-saat manis beberapa jenak seperti diungkap dalam kajian Sri Haryoso Suliyanto, Perbandingan Sistem Wajib Angkut Penumpang dan Rute Metode Baru. Sisanya adalah catatan pahit dan konyol.
- Bus Kota Tanpa Kondektur
“Selamat siang. Sebelum duduk, mohon siapkan uang pas dan masukan ke kotak itu. Terimakasih.” Begitulah sapaan ramah sopir bus Patas AC kepada setiap penumpang sejak 14 Mei 1993. Sapaan ini menjadi populer ketika pengoperasian Patas AC milik Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) memakai sistem Rute Metode Baru (RMB).




















