Hasil pencarian
Cari di situs ini
10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Brigjen Terpaksa
ISTANA Negara, 10 Agustus 1959. Peringatan Hari Veteran malam itu berlangsung meriah. Bukan saja karena kehadiran ratusan veteran perang kemerdekaan (1945-1949) dan para pejabat teras pemerintah, namun yang utama peringatan itu dihadiri sekaligus diresmikan dengan ditandai pemukulan gong oleh Presiden Sukarno. Menteri Muda Urusan Veteran Kolonel Sambas Atmadinata tentu hadir dalam acara itu. Sebagai pejabat yang berkepentingan langsung, dia duduk di barisan utama bersama pejabat-pejabat teras lainnya, seperti Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab) Mayor Jenderal TNI A.H. Nasution. Karena upacara peringatan itu bertepatan dengan sepuluh tahun berakhirnya perang kemerdekaan, suasana masih begitu sangat emosional, termasuk Presiden Sukarno. Menjelang akhir pidatonya yang berapi-api, keluar sebuah pernyataan dari sang presiden.
- Daoed Joesoef dan Borobudur
KABAR duka datang menjelang dini hari tadi, Selasa, 23 Januari 2018. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru, Daoed Joesoef mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, di usia 91 tahun. Penyakit jantung membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif sejak Sabtu pekan lalu. Salah satu jasa Daoed betapa besar usahanya untuk menyelamatkan Candi Borobudur, candi megah kebanggaan bangsa. Gara-gara Candi Borobudur, dia kerap dikirimi surat kaleng. Isinya makian dan hujatan. “Kutukan bahwa saya orang kafir, karena bertanggung jawab atas pembangunan berhala yang terbesar di tanah air,” katanya dalam Borobudur, Warisan Umat Manusia, menceritakan peristiwa ledakan di Candi Borbodur pada 21 Januari 1985. Padahal, saat itu dia hanya berpikir betapa keberadaan Candi Borobudur di tengah tinggalan budaya lainnya dapat menjadi cerminan dan bukti bahwa leluhur bangsa hidup dengan berdampingan di tengah keberagaman. “Membuktikan betapa nenek moyang kita sebenarnya telah merintis tidak hanya pertumbuhan universalisme dan relativisme tetapi juga lebih-lebih pluralisme,” tegasnya. Awal Perkenalan Daoed Joesoef lahir di Medan pada 8 Agustus 1926. Selama tiga tahun masa revolusi kemerdekaan, 1946-1949, dia bersekolah di Yogyakarta. Namun, dia baru mengunjungi Candi Borobudur pada 1953 bersama kawan karibnya sejak remaja, Adi Putera Parlindungan, yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Dia sendiri kuliah di Universitas Indonesia. Waktu itu, kondisi Candi Borobudur tidak seperti sekarang. Lorong-lorongnya tidak akan sebaik sekarang jika difoto. Relief-reliefnya berhamburan. Tak ada yang tegak lurus. Semua miring dan berlumut. Di sana sini muncul tunas-tunas kecil pohon kayu yang tumbuh dari kotoran burung atau kelelawar. “Seperti bangunan kuno berhantu,” kata Daoed. Bukan turis-turis asing yang asik berfoto dengan berbalut kain batik di pinggang seperti sekarang. Di halaman candi yang luas justru dipakai latihan baris berbaris prajurit TNI. Anak-anak desa bergerombol menonton. Ada yang bermain sepakbola. Umumnya cuma bercelana, tanpa kemeja. Belum lagi kambing, domba, ayam, yang berkeliaran. Daoed merasa orang yang benar-benar punya niat datang ke candi itu sepertinya hanya mereka berdua. Bukannya disambut baik, seperti turis disambut pemandu wisata pada masa kini, mereka berdua malah diberi peringatan oleh seorang pemilik warung. “Supaya berhati-hati kalau menaiki candi karena sewaktu-waktu ia bisa runtuh, lebih-lebih kalau tiba-tiba ada gempa,” ujarnya. Kendati begitu, keduanya tetap memberanikan diri naik ke candi yang tak berpenjaga. Di puncak tertingginya, mereka duduk sambil melepaskan pandangan ke semua penjuru. Sangat sunyi di tengah kebisuan puluhan stupa dan arca. “Kelihatan betul, tidak hanya panorama indah, tetapi juga betapa parahnya kerusakan candi,” lanjutnya. Kontak Fisik Puluhan tahun kemudian kesempatan datang kepada Daoed. Ketika itu, dia sedang belajar di Sorbonne, dan bermukim di Paris, tempat kedudukan UNESCO. Dari sana dia tahu, kalau lembaga PBB itu punya dana untuk membiayai pemugaran monumen nasional yang penting bagi kemanusiaan dan peradaban. Berbeda dengan kebanyakan negara merdeka, Indonesia tak punya perwakilan di UNESCO. “Maka tak heran kalau sikap kedutaan kita ini dingin saja ketika saya laporkan ada kesempatan baik bagi Indonesia di UNESCO untuk mendapat dana bagi perbaikan Borobudur,” kata Daoed. Meski begitu, kedutaan tak segera melangkah. Justru mereka memilih menunggu “arahan dari Jakarta”. Padahal pada 1955, pemerintah pernah berniat untuk memugar Candi Borobudur. “Keengganan mereka untuk bertindak saya kira lebih karena mereka tidak siap untuk berdiskusi secara akademis mengenai hal-hal yang bersifat kultural, historis, apalagi keilmuan,” kata Daoed. Keadaan berubah ketika Jenderal Askari diangkat menjadi duta besar untuk Prancis dan wakil di UNESCO. Dia bisa memahami maksud Daoed bahkan memintanya untuk terus berkiprah di forum UNESCO. “Untuk keperluan itu, Mendikbud Mashuri memberikan kepada saya suatu kedudukan formal berupa status penasihat delegasi Indonesia untuk UNESCO,” ujarnya. Sambil berkuliah di Sorbonne, antara 1968-1971, Daoed melalui diskusi-diskusi di forum UNESCO membujuk dunia akan urgensi menyelamatkan Candi Borobudur. Candi Borobudur punya saingan berat. Kota air Venesia di Italia dan runtuhan peradaban Mohenjodaro di Pakistan juga berebut dana bantuan UNESCO. Kendati begitu, Candi Borobudur akhirnya berhasil memenangi dana bantuan UNESCO. Secara resmi pemugaran Candi Borobudur dimulai pada 10 Agustus 1973. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memegang tanggung jawab atas proyek itu. Lima tahun kemudian, pada 1978, sekembalinya ke Indonesia, Daoed dilantik Presiden Soeharto menjadi menterinya. “Terjadilah kontak fisik dan idiil yang serba instensif antara sang candi dengan saya, yang saya tanggapi sebagai panggilan sejarah, kalaupun bukan suratan takdir,” kata Daoed. Mengenang Sepuluh tahun kemudian, pada 23 Februari 1983, Candi Borobudur selesai dipugar. Daoed dan Adi Putera Parlindungan kembali menyepi di puncak candi. Mereka menyaksikan pemandangan yang asri dan megah dari ketinggian itu. “Kami berdua lebih banyak diam, tidak ingin mengganggu suasana yang kebetulan sedang hening, sunyi, dan sepi,” katanya. Melalui sketsa yang dibuat saat meninjau kegiatan pemugaran, Daoed menunjukkan kekaguman dan penghormatan kepada semua pencipta Candi Borobudur. Apa yang ada di benaknya adalah, Candi Borobudur tidak akan bisa digantikan. Candi itu tak ada duanya, di sini dan di mana pun. Tak cuma keberadaan Borobudur di antara tinggalan budaya lainnya, tapi Candi Borobudur itu sendiri adalah sebuah “gado-gado”. Di sela kisah pada relief yang bernapas Buddha, terdapat pula ukiran dan cerita yang melambangkan Hinduisme. “Apa yang sepintas lalu kelihatan kontradiktif, dalam keanyataannya tidak mengandung kontradiksi apapun,” ungkapnya. Berkat jerih payahnya, Daoed menerima penghargaan dari Dalai Lama, pemimpin spiritual di Tibet, pada 2015. Ini bukti kalau Candi Borobudur tak hanya milik Indonesia, tapi juga milik dunia. Tanpa inisiatifnya, entah bagaimana Candi Borobudur sekarang. Selamat jalan Daoed Joesoef.
- Kumbang Kamerun Sang Mak Comblang
BERSAFARI hitam dan berkacamata, Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Perkebunan/Tanaman Keras Hasjrul Harahap meresmikan penyebaran kumbang kamerun ( Elaeisdobius kamerunicus ) di kebun kelapa sawit Pusat Penelitian Marihat (PPM) Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada akhir Maret 1983. Hewan asal Afrika itu sengaja didatangkan ke Indonesia untuk penyerbukan pohon kelapa sawit. “Serangga EK itu meningkatkan intensitas perkawinan bunga. Jadi buahnya lebih banyak,” ujarnya, dikutip Tempo , 16 April 1983. Hingga awal 1980-an, produktivitas pohon sawit di perkebunan-perkebunan Indonesia terbilang rendah, jauh di bawah Malaysia. Padahal pemerintah mengandalkan sawit sebagai satu dari enam produk perkebunan penghasil devisa. Penyerbukan (polinasi) ternyata menjadi pangkal masalah. Penyerbukan pohon sawit yang berumah satu ( monoecious ) bergantung pada bantuan makhluk lain. Sebab, bunga jantan dan betina berada di pohon terpisah. Jumlah bunga jantan pun lebih sedikit dibanding bunga betina. Akibatnya, hanya sebagian kecil bunga betina yang terbuahi. Penyerbukan alami tak efisien. Sementara penyerbukan dengan serangga/kumbang lokal tak membuahkan hasil maksimal karena, selain lemah, senang menclok di pohon lain. Penyerbukan dengan tenaga manusia ( assisted polination ) menjadi pilihan utama hingga awal 1980-an. “Namun, hasilnya kurang maksimal,” ujar tokoh perkelapasawitan Indonesia, Derom Bangun dalam memoarnya, Derom Bangun: Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia . Dalam kunjungannya ke pabrik pengolahan sawit baru di Malaysia pada awal 1980-an, Derom kali pertama mendengar cerita tentang kumbang kamerun. Di sana dia bertemu manajer kebun Kluang milik Unilever, Mahbob Abdullah, yang sedang giat meneliti kumbang kamerun di bawah pimpinan Rahman Syed, ahli serangga dari Commonwealth Institute of Biological Control, Trinidad. Mahbob cerita panjang-lebar mengenai penelitiannya. Menurutnya, kumbang kamerun diberdayakan Malaysia mulai 1981, dikenal sebagai “mak comblang.” Selain kuat, kelebihan kumbang kamerun berdaya jelajah lebih jauh, lebih agresif, dan hanya mau berhabitat di pohon sawit. Melalui kerjasama tiga pihak (PPM, PT PP London Sumatera, dan Rahman Syed), Malaysia memperkenalkan kumbang kamerun ke Indonesia. Pada 6 Juli 1982, Menteri Pertanian, Soedarsono Hadisaputro mengeluarkan izin No. 03/SIP/Bun/II/1982. Indonesia mengimpor kumbang kamerun via Balai Penelitian OPRS Banting, Malaysia. Pada Agustus 1982, sekira 4.623 pupa (kepompong) kumbang kamerun tiba di Bandara Polonia. Petugas langsung membawanya ke PPM Pematangsiantar. Dua hari kemudian, 508 pupa selamat dan berhasil tumbuh menjadi kumbang (394 jantan, 114 betina). Setelah diujicobakan dan berhasil meningkatkan produksi buah sekitar 20 persen, kumbang kamerun resmi digunakan sebagai tenaga penyerbukan di perkebunan-perkebunan sawit di seluruh Indonesia. “Namanya secara resmi disebut serangga penyerbuk kelapa sawit (SPKS),” ujar Derom. Sejak itu, produksi sawit Indonesia meningkat pesat. “Surplus panen ternyata bukan saja mendatangkan keuntungan, melainkan efek samping yang tidak diduga.” Indonesia kini menjadi produsen sawit terbesar di dunia. Namun, mendapat kritik tajam pemerhati lingkungan karena kerusakan hutan yang ditimbulkan akibat konversi menjadi perkebunan sawit.
- Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda
MENGINGAT 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda berarti mengingat semangat kaum muda di masa lampau. Dalam upaya meraih kemerdekaan, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk mengadakan kongres. Tujuannya menyatukan para pemuda dalam satu payung organisasi. Kongres Pemuda pertama pun terselenggara pada 1926. Dua tahun berselang, para pemuda kembali berkongres untuk kali kedua pada 27-28 Oktober 1928. Semangat mereka untuk berkumpul membahas perjuangan kemerdekaan tak tergerus meskipun harus menempuh perjalanan jauh. Ada yang dari Sunda, Sumatra, dan Ambon. Total pemuda yang hadir mencapai 750 orang tapi hanya 75 orang yang namanya tercatat. Dan dari sepuluh perempuan yang hadir, hanya tujuh yang terjejaki. Kongres Pemuda kedua melahirkan keputusan yang kemudian disebut Sumpah Pemuda. Istilah Sumpah Pemuda muncul setelah kongres untuk menyebut hasil kongres bersejarah yang punya semangat persatuan. Dari kongres ini kita bisa melihat semangat para pemuda untuk melakukan perubahan bagi bangsanya dengan membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Sembilan puluh tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat pemuda itu masih dibutuhkan Indonesia. Masih banyak masalah yang harus dihadapi kaum muda, seperti pengangguran, kemiskinan, dan perpecahan akibat perseteruan antarkelompok. Peran pemuda menjadi penting sebagai generasi penerus yang menentukan kemajuan bangsa di masa mendatang. Untuk itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Historia mengadakan talkshow pada 28 Oktober 2018 pukul 09.00-10.00 WIB di Gedung Kemendikbud sebagai peringatan atas semangat para pemuda di masa lalu. Narasumber yang mengisi acara adalah Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud), Alissa Wahid (aktivis Gusdurian), dan Ratih Ibrahim (presidium Mafindo). Bagi anda yang tak bisa hadir, bisa mengikuti talkshow secara live streaming.
- Melihat Indonesia Melalui Pos Ronda
DUA pos ronda itu terletak berdekatan. Hanya berjarak 500 meter. Pos ronda pertama terlihat elegan dan bersih. Bentuknya persegi empat dengan sedikit lengkungan di bagian depan. Catnya kinclong. Pos ronda kedua lebih sederhana dan lusuh. Bentuknya menyerupai pendopo kecil. Dindingnya kotor. Dua pos itu masih digunakan warga Cilandak, Jakarta. “Angka pencurian di sini tinggi. Kasusnya berturut-turut. Tiga motor hilang. Lalu mobil dan burung peliharaan,” kata Syifaunsyah, 36 tahun, penggiat ronda setempat. Dia ceritakan bahwa warga gelar ronda malam selama tiga bulan untuk mencegah kasus pencurian. Tetapi belakangan semangat warga rontok. “Tidak kuat. Karena paginya harus bekerja,” kata Syifaunsyah. Pos ronda. Orang sering melupakan bangunan ini. Juga lupa merawatnya. Di dalamnya, potongan-potongan sejarah bangsa ini terserak. Dari pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan, perebutan hegemoni negara dan warga, sampai upaya negara memata-matai rakyatnya.
- Delapan Kesamaan Diponegoro dan Sukarno
SEJARAH Indonesia diwarnai oleh para tokoh. Tetapi, hanya dua sosok yang bisa melampaui batas diri mereka sebagai manusia dalam 200 tahun terakhir. Mereka adalah Pangeran Diponegoro (1785-1855) dan Sukarno (1901-1970). Demikian dikemukakan sejarawan Peter Carey dalam seminar “Memaknai 70 tahun Kemerdekaan Indonesia di Tengah Dunia yang Berubah dalam Perspektif Sejarah,” di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 20 Agustus 2015. Selama lebih dari 30 puluh tahun, Carey meneliti Diponegoro dan menulis biografinya yang telah diterjemahkan, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Jawa, 1785-1855 (tiga jilid setebal 1.456 halaman). Versi singkatnya, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). “Keduanya akhirnya meninggal dalam situasi yang sangat tragis, tapi itu sendiri menjadi salah satu bagian hidup yang melampaui batas diri mereka sebagai manusia,” ujar Carey. Menurut Carey, ada banyak kesamaan Diponegoro dan Sukarno, di antaranya sebagai berikut: Takdir Sejak lahir, keduanya sudah memiliki takdir. Ibunya membawa bayi Diponegoro kepada eyang buyut Mangkubumi, yang meramalkan: “Jagalah baik-baik anak ini, sebab anak ini akan mengakibatkan lebih banyak kerusakan kepada Belanda daripada yang saya lakukan sendiri dalam Perjanjian Giyanti.” Saat Sukarno lahir, ibunya telah menakdirkannya sebagai putra sang fajar. Orang yang akan memimpin bangsanya keluar dari penjajahan. Garis keturunan di luar Jawa Diponegoro dan Sukarno bukan Jawa tulen. Sukarno keturunan Bali-Jawa Timur. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, keturunan bangsawan Bali. Sedangkan, Diponegoro memiliki garis keturunan Madura-Nusa Tenggara Barat. Dia masih trah dari Sultan Abdul Kadir I yang mendirikan Kesultanan Bima. Figur berpengaruh Dalam perjalanan hidup keduanya, ada sosok penting yang berpengaruh. Diponegoro dipengaruhi sosok eyang buyut yang mengasuhnya, Raden Ayu Serang. Sedangkan Sukarno mempunyai Sarinah, pengasuhnya saat kecil dan kemudian gurunya, H.O.S Tjokroaminoto. Keduanya pun memiliki pendamping hidup yang berbobot. Sukarno didampingi istrinya, Inggit Garnasih. Sosok yang mengantarkan Sukarno ke pintu gerbang kemerdekaan. Diponegoro didampingi oleh dua istrinya yang paling setia: Raden Ayu Maduretno mendampinginya selama Perang Jawa dan Raden Ayu Ratnaningsih menemaninya dalam pembuangan di Manado. Figur yang membara dan mempesona Keduanya adalah ahli pidato yang mengesankan. Hal ini tidak diragukan lagi terdapat dalam diri Sukarno. Sedangkan Diponegoro, dalam sebuah bait babad Jawa kuno, dijelaskan bahwa Diponegoro bisa berbicara dengan siapa pun dan semua orang mencintainya. Jalan hidup ditentukan politik internasional Riwayat hidup keduanya ditentukan oleh politik internasional. Empat tahun sesudah Diponegoro lahir di dalam keraton, meledak Revolusi Perancis (1789). Tiga belas tahun sesudah Sukarno lahir, pecah Perang Dunia I (1914). Situasi tersebut membentuk satu dunia baru yang akan dijalani oleh keduanya. Ratu Adil Keduanya memiliki panggilan sebagai Ratu Adil. Diponegoro menempatkan dirinya sebagai Ratu Adil karena panggilan untuk menegakkan panji Islam dan kesejahteraan rakyatnya. Diponegoro mampu menggabungkan bangsawan sampai rakyat kecil dalam perang suci melawan Belanda dan sistem kolonialisme. Sukarno mampu menjelaskan usaha kemerdekaan dengan mitos-mitos Jawa yang mudah dipahami dan diikuti oleh rakyat. Akhir hidup yang tragis Diponegoro dan Sukarno sama-sama mengakhiri hidup dalam pengasingan, jauh dari rakyatnya. Diponegoro diasingkan ke Manado lalu Makassar hingga akhir hayatnya. Sukarno selama 18 bulan menjadi tahanan rumad di Wisma Yaso sebelum kematiannya. Warisan Sukarno meninggalkan karya maha penting Di Bawah Bendera Revolusi . Dari karya inilah dimuat buah-buah pikirannya tentang nation dan character building bangsa Indonesia. Diponegoro mewariskan kitab Babad Diponegoro. Menurut Carey, Babad Diponegoro mencatat gagasan dan cara berpikir Diponegoro bukan sebagai pangeran yang agung melainkan sebagai seorang inlandeer yang saleh. Hal ini diakui oleh orang-orang Belanda yang menyalinnya. Babad Diponegoro bahkan telah dinyatakan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan kekayaan intelektual dunia. “Di antara anda sekalian, mungkin tidak ada yang pernah membaca apa itu Babad Diponegoro . Dari sinilah awal sebuah akhir,” tutup Carey.*
- Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Pasca Peristiwa 1965
Zaenab tak pernah tahu Lubang Buaya, Gerwani, Dewan Revolusi, apalagi situasi politik tahun 1965 di negeri ini. Tapi, gadis yang waktu itu berusia 12 tahun, harus mengalami nasib pahit karena istilah-istilah tersebut. Tak lama setelah pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat di Jakarta, Zainab kehilangan orangtuanya, seorang anggota Lekra, dibawa paksa oleh tentara. Kehidupan gadis asal sebuah desa di Pekalongan, Jawa Tengah itu, pun memasuki masa kelam yang tak terperi. Hal itu berawal ketika dia dibawa paksa ke kantor militer terdekat. Dia mengalami pelecehan, mulai dari ditelanjangi hingga diperkosa oleh prajurit-prajurit di kantor militer setempat. Bahkan, dia pernah diperkosa ramai-ramai oleh tentara itu. “Anak anggota Lekra yang berusia 12 tahun itu dipaksa tak senonoh sampai kurang lebih tiga bulan,” ujar Bedjo Untung, Ketua YPKP 65, membeberkan temuan terbaru tentang kekerasan massal terhadap perempuan pasca Peristiwa 1965. Tema kekerasan seksual terhadap perempuan pasca Peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu menjadi bahasan diskusi sesi kedua acara “Jalan Berkeadilan bagi Penyintas” di Komnas Perempuan, Jakarta, Sabtu (18/3). Acara yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan, YLBHI, dan IPT 65 itu juga menampilkan telewicara dengan Ann Pullman, peneliti Queensland University yang mendalami bentuk kejahatan massal berbasis gender pasca Peristiwa 1965, khususnya kejahatan terhadap perempuan. Ann mengatakan, “dari awal jelas, ada statement kekerasan perempuan dalam 1965. (Maka) Setelah 1 Oktober, ada banyak kekerasan pada perempuan." Kejahatan terhadap perempuan itu berbagai bentuk, mulai kekerasan verbal ringan, perkosaan, penyiksaan, hingga perbudakan seksual. Ann mewawancarai sekitar 150 perempuan eks tapol (tahanan politik) dan sekitar 30 bekas istri tapol. Di tempat-tempat yang ditelitinya, antara lain Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta, dia mendapatkan bahwa bentuk kejahatan terhadap perempuan banyak yang unik, tak ada di tempat lain. Kejahatan fisik dengan kadar lebih rendah, misalnya, berupa penggundulan kepala para perempuan tapol atau istri tapol. “Penghinaan yang terjadi (itu) agar perempuan itu malu dan ternoda,” kata Ann. Pada masa itu, pandangan miring masyarakat kepada perempuan berambut pendek, apalagi botak, masih kuat. Di lain tempat, perempuan-perempuan tapol atau istri tapol bahkan harus menjatuhkan harga diri guna menyambung nyawa dengan berlaku laiknya hewan sesuai yang diperintahkan interogator. Perempuan-perempuan itu telah ditelanjangi terlebih dulu. “Itu hiburan untuk interogator,” kata Ann. Menurut Ann, bentuk kejahatan lain yang tak kalah bejatnya, yaitu mencari logo Palu Arit di sekitar kemaluan perempuan. Pelecehan itu terjadi di tempat-tempat interogasi. Sambil menginterogasi, para interogator memerintahkan para perempuan untuk menanggalkan pakaian. Mereka berdalih untuk mencari logo Palu Arit yang disembunyikan. “Tentu saja militer itu bisa melihat bagian dalam tubuh perempuan,” kata Ann. Setelah tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka, interogator lalu menggerayangi dan memperkosa mereka. Bentuk kejahatan lain, lanjut Ann, ada interogator yang melakukan kekerasan fisik berupa penyiksaan bahkan mutilasi. Banyak pula interogator yang meminta paksa aborsi kepada perempuan istri tapol yang ditidurinya dan kemudian hamil. Di Manado, Sulawesi Utara, kata seorang bapak anggota YPKP 65, telah menjadi fenomena umum menjadikan istri-istri tapol sebagai “suguhan” untuk pejabat-pejabat pusat yang melakukan kunjungan ke sana.
- Orang Utan di Ambang Kepunahan
Orang utan tentu familiar bagi masyarakat Indonesia generasi 1990-an. Primata khas Nusantara itu pernah menjadi ikon dalam uang kertas pecahan 500 rupiah emisi tahun 1992 yang beredar hingga 1999. Dalam satu sisi di lembar uang tersebut, nampaklah sesosok orang utan dewasa sedang bermain-main di atas cabang pohon sambil tersenyum. Simbol inilah yang dulu pernah dijadikan bahan lawakan oleh seorang komedian dan menyebabkan dia sempat berurusan dengan aparat Orde Baru pada era 1990-an. “Kehadiran” orang utan dalam pecahan uang 500 rupiah ternyata punya muatan pesan. Saat itu, pemerintah sedang mempromosikan orang utan sebagai satwa nasional yang statusnya dalam perlindungan. Orang utan ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990. Menteri Kehutanan menyusul kemudian lewat Surat Keputusan No. 331 pada 10 Juni 1991. Upaya konservasi terhadap orang utan sebenarnya telah dimulai sejak zaman kolonial. Pada 1931, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233 yang melindungi orang utan. Namun seiring waktu, keberadaan orang utan justu makin terancam. Populasinya menurun dari tahun ke tahun. Apa yang menyebabkannya? Diburu Manusia Populasi orang utan tersebar di dua pulau besar Indonesia: Sumatra dan Kalimantan. Orang utan Sumatra ( Pongo abeii ) memiliki rambut yang lebih terang dibandingkan dengan orang utan Kalimantan ( Pongo pygmaeus ). Sementara itu, orang utan Kalimantan berkelamin jantan punya ciri khas pada pipinya yang berkelepak. Perbedaan lainnya, orang utan Sumatra lebih mudah akrab dengan sesamanya dibandingkan orang utan Kalimantan. Belakangan, penemuan orang utan Tapanuli ( Pongo tapanuliensis ) menambah daftar spesies orang utan yang ada di Indonesia. Orang utan Tapanuli punya tengkorak yang lebih kecil tapi taringnya lebih besar daripada dua spesies lainnya. Seperti namanya, orang utan Tapanuli berasal dari Tapanuli, tepatnya daerah Batang Toru, Tapanuli Selatan. Orang utan Sumatra dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Lauser di Aceh sedangkan di Kalimantan relatif lebih banyak terdapat lokasi konservasi. Beberapa diantaranya di Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Kutai dan Bukit Semboja di Kalimantan Timur, serta Gunung Palung, Betung Karihun, Danau Sentarum, Sebangau, dann Bukit Bakar Raya. Beberapa konservasi juga terdapat di utara Kalimantan, yakni Sabah dan Sarawak yang termasuk ke wilayah Malaysia. Menurut Wildan Yatim, ahli primata terkemuka, musuh orang utan sesungguhnya tidak banyak. Di Sumatra musuhnya hanyalah siamang, macan, dan macan tutul. Ular mungkin juga mematuk dan melilit mereka tapi itu jarang sekali terjadi. Musuh terbesar orang utan justru adalah manusia yang kerpa memburunya. Dahulu kala, orang Dayak di Kalimantan Barat suka menangkap orang utan untuk dipelihara dalam kurun waktu tertentu. Biasanya induknya disumpit. Dagingnya dimakan. Lalu anaknya dipelihara, disusukan dengan susu manusia. Setelah cukup besar dan gemuk, dibunuh, kemudian dagingnya dikonsumsi sebagai penganan. Mungkin itulah sebabnya orang utan Kalimantan lebih beringas tatkala melihat manusia. Perilaku manusia yang mengancam orang utan bukan cuma soal perburuan dan makanan. Orang utan juga ditangkapi hidup-hidup untuk berbagai kepentingan komersil. Ada yang menjadikan orang utan koleksi dalam kebun binatang. Selain itu, orang utan yang punya anatomi mirip manusia kerap diteliti sebagai percobaan di laboratium. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah perdagangan orang utan di pasar gelap. Orang utan yang tersenyum dalam lembar Rp. 500 emisi tahun 1992. (Public domain). Di mata penyelundup dan pedagang hewan langka, orang utan menjadi komoditi bernilai tinggi. Manusia rakus ini tahu benar kalau orang utan amat banyak peminatnya di luar negeri. Terlebih lagi, bagi negara maju yang sudah mapan secara ekonomi punya permintaan terhadap orang utan sebagai peliharaan atau penghuni kebun binatang. “Monyet besar itu dihargakan di pasar gelap Rp 90 juta, seekornya. Jelas bikin ngiler para penyelundupnya,” dilansir majalah Warnasari No. 144, Januari 1991. Berita Warnasari menyebut, penyelundup dari negeri Taiwan yang paling banyak mencuri orang utan dari Indonesia. Taiwan disebut-sebut sebagai satu-satunya pasar anak orang utan terbesar sejagad. Pada 1991, tercatat ada sekira 700-1000 orang utan yang dikandangkan siap untuk masuk pasar. Sayangnya, Taiwan bukan anggota Konvensi Internasional Perdagangan Fauna dan Flora Langka (CITES). Akibatnya, mereka dengan bebas memperdagangkan orang utan tanpa harus khawatir dihadang Undang-Undang CITES. “Itulah sebabnya manusia merupakan musuh terbesar orang utan. Karena diincar terus, dijual, dan diangkut keluar negeri,” kata Wildan Yatim dalam Mengenal Orang Utan . Penyusutan Populasi Dari sekian banyak ulah manusia, perusakan habitat merupakan tindakan yang paling membahayakan orang utan. Padahal, naturalis Inggris Alfred Wallace sejak pertama kali meneliti orang utan di Kalimantan pada 1855 telah menguraikan seperti apa habitat yang patut bagi orang utan. Wallace mengatakan hutan perawan yang luas dan tidak terputus serta seluruhnya berpohon tinggi penting bagi kelangsungan hidup orang utan. “Hutan seperti itu akan membentuk daerah terbuka bagi mereka, di mana mereka bisa mengembara ke segala arah dengan kecakapan tinggi seperti orang Indian di padang rumput, atau orang Arab di padang pasir, menyeberang dari puncak pohon ke puncak pohon tanpa harus turun ke tanah,” ujar Wallace dalam The Malay Archipelago ( Kepulauan Nusantara ) Pada kenyataannya, hutan-hutan di Indonesia terus menerus tergerus. Hutan dirambah untuk dijadikan kebun kelapa sawit, penebangan kayu, dan konversi lahan lainnya. Tanpa disadari, orang utan kehilangan habitatnya perlahan. Padahal, orang utan merupakan garda terdepan pelestarian hutan sebab mereka menabur biji-bijian lewat perilaku makannya. “Tempat tinggal dan sumber makanan mereka jadi susut cepat. Mereka pun kurang makan, mendapat tekanan batin dan dihinggapi rasa cemas terus-menerus. Akhirnya mereka merana, lalu mati,” kata Wildan Yatim. Gerakan konvervasi orang utan baru digiatkan pada dekade 1960 lewat program rehabilitasi. Tujuannya menambah populasi dan meningkatkan kualitas hidup orang utan. Namun pada 1970, populasi orang utan dikabarkan tinggal 5000 individu. Pada 1980-an dan 90-an, beberapa pelestari lingkungan meramalkan orang utan akan punah dalam 20 atau 30 tahun kemudian. Mimpi buruk kepunahan orang utan memang belum terjadi. Penelitian terkini memperoleh angka yang lebih besar terhadap populasi orang utan. Namun, ini tidak berarti bahwa dunia orang utan baik-baik saja. Jumlah yang lebih tinggi ini akibat metode survei yang lebih cermat serta penemuan populasi baru, bukan karena pertambahan populasi sebenarnya. “Malah, populasi keseluruhan orang utan turun sekurangnya 80 persen dalam 75 tahun terakhir,” tulis National Geographic Indonesia , Desember 2016. “Laporan 2013 yang disusun beberapa peneliti terkemuka menyatakan bahwa sebanyak 65.000 orang utan mungkin dibunuh di Kalimantan saja dalam beberapa dekade terakhir.” Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016, diperkirakan terdapat 71.820 individu orang utan yang tersisa di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Namun, lembaga konservasi non-pemerintah WWF menyebutkan bahwa ketiga spesies orang utan yang ada di Indonesia berstatus kritis. Temuan ini berdasarkan daftar merah dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Dari ketiga spesies, orang utan Sumatra merupakan yang paling terancam punah karena mengalami penyusutan paling cepat. Hilangnya hutan yang menjadi habitat primata ini menjadi penyebab utamanya. Jumlah orang utan Sumatra diperkirakan tinggal 14.000-an. Jika kerusakan hutan terus berlangsung, maka bukan hal yang mustahil jika gambar orang utan tersenyum dalam lembar uang 500 rupiah hanya tinggal kenangan.
- Kisah Jutaan Manuskrip yang Dibakar
DALAM suatu diskusi, sejarawan sekaligus tokoh Islam Indonesia Profesor Ahmad Syafi’i Maarif pernah berujar bahwa salah satu penyumbang terbesar manuskrip-manuskrip ilmu pengetahuan di dunia adalah Perpustakaan Alexandria di Mesir. “Perpustakaan itu mungkin masih yang terbesar hingga kini,” ujar lelaki yang akrab dipanggil Buya Syafii itu. Apa yang dikatakan oleh Buya Syafii bisa jadi memang benar adanya. Menurut Fernando Baez dalam Historia Universal de la destruction de libros (diterjemahkan menjadi Penghancuran Buku dari Masa ke Masa) tidak hanya sekadar tempat menyimpan manuskrip, Perpustakaan Alexandria juga merupakan tempat yang selalu ramai dengan diskusi dan ceramah para intelektual di zamannya. “Begitu berharganya tempat ini sehingga sempat dijuluki sebagai ‘sangkar para Dewi Inspirasi”,” ungkap Baez. Dikembangkan Phalerius Syahdan Kaisar Alexander Agung (356-323 SM) dari Makedonia yang menjadi penguasa Mesir saat itu. Selain seorang raja, ia pun merupakan murid dari Aristoteles (384-322 SM), seorang filsosof dan pemikir terkemuka bangsa Yunani. Guna menunjang hobinya tersebut, Alexander membangun sebuah perpustakaan yang menampung puluhan ribu manuskrip filsafat dan kebudayaan. Namun baru di tangan Dementrius Phalerius, Perpustakaan Alexandria mengalami kejayaan. Kedekatan ilmuwan sekaligus ahli politik asal Yunani itu dengan kalangan Dinasti Ptolemi menjadikan proyek penambahan manuskrip, penerjemahan dan penelitian di Perpustakaan Alexandria berkembang pesat. Berkat bantuan dana yang tak terbatas dari kaisar-kaisar Dinasti Ptolemi, terutama Kaisar Philadelphus (283-246 SM), Perpustakaan Alexandria mendapatkan koleksinya dari berbagai upaya penerjemahan manuskrip-manuskrip kuno ke bahasa Yunani. Bahkan konon, pada masa kekuasaan Kaisar Philadelphus juga, Taurat (kitab cuci agama Yahudi) diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani. “Orang-orang Yunani menyebut hasil terjemahan itu sebagai Septuaginta ,”tulis Joesoef Sou’yb dalam Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin. Penerjemahan tersebut merupakan proyek yang lumayan mahal. Menurut Baez, proyek itu melibatkan 72 juru tulis Yahudi yang secara khusus ditempatkan di Pulau Pharos untuk menyelesaikan penerjemahan selama 72 hari di bawah bimbingan langsung Phalerius. “Setelah kerja mereka selesai, para penerjemah pulang ke Yerusalem bergelimang hadiah,” ujar Baez. Sayang kerjasama antara Phalerius dengan Kaisar Philadelphus berujung konflik. Terkait berbagai hal, sang pimpinan proyek kerap terlibat percekcokan dengan sanga kaisar hingga menyebabkan pengusiran Phalerius dari Alexandria. Pembakaran Manuskrip Dalam perkembangan selanjutnya, manuskrip-manuskrip yang berada di Perpustakaan Alexandria dikisahkan “musnah” begitu saja. Siapa yang memusnahkannya? Tak pernah ada jawaban pasti hingga pada saat Perang Salib I berkecamuk (1096-1270), seorang Uskup Agung dalam Gereja Siryani bernama Gregorius Caronus (dalam literatur Arab ia dikenal sebagai Abul Faraj al Malathiyi) dalam sebuah karyanya The History of Dynasties (diterjemahkan dari Tarikhud Duwwal/ Hikayat Sebuah Dinasti ) menuduh pasukan Arab Islam pimpinan Jenderal Amr ibn Ash-lah yang memusnahkan jutaan naskah tua koleksi Perpustakaan Alexandria. Caronus bercerita, usai penaklukan Alexandria oleh pasukan Arab Islam pada 641 M, Jenderal Amr diminta tolong oleh Johannes Philoponus (seorang cendekiawan neoplatonism) untuk menyelamatkan jutaan manuskrip yang ada di Perpustakaan Alexandria. Merasa bukan wewenangnya, Amr ibn Ash lantas meminta saran kepada Khalifah Umar ibn Khattab di Medinah. Apa jawab Umar? ” Andaikan karya-karya orang Yunani itu sejalan isinya dengan Al Qur’an buat apa dipelihara? Terlebih jika semua itu tidak sesuai dengan Al Qur’an maka itu berbahaya dan harus dimusnahkan.” Maka, dikumpulkanlah jutaan naskah tua. Setelah terkumpul dalam bentuk tumpukan yang bergunung-gunung, Am ibn Ash membagikannya kepada 4.000 pemandian air panas di penginapan-penginapan sepanjang pelabuhan Alexandria. “Begitu banyaknya manuskrip itu, hingga penginapan-penginapan tersebut bisa menggunakannya sebagai suluh setiap harinya selama 6 bulan,”tulis lelaki Yunani yang dalam sejarah dikenal juga sebagai Johanes Grammaticus itu. Dibantah Sejarawan Barat Banyak kalangan di Barat mempercayai keterangan sejarah versi Caronus tersebut. Setidaknya itu terjadi hingga abad ke-17. Baez menyebut nama orientalis Inggris Edward Pococke (1604-1691) sebagai penulis Barat paling aktif menyebarkan pemikiran itu. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari hasil terjemahannya atas karya Bar Hebracus yakni Specimen Historiae Arabum yang terbit pada 1649. Soal ini baru dicurigai sebagai “omong kosong” setelah sejarawan Edward Gibbon (1737-1794) menelanjangi “kisah fantastis” Caronus itu sebagai “tipu-tipu murahan gaya Perang Salib”. Dalam Decline Fall of the Roman Empire Ed. IX (Jatuhnya Kekaisaran Romawi Jilid ke-9) , Gibbon menyebut isu pembakaran jutaan manuskrip tua Perpustakaan Alexandria itu tak lebih sebagai strategi politik kubu Kristen Barat untuk menjelek-jelekan kubu Arab Islam. Setelah Gibbon, beberapa cendekiawan Barat lainnya juga berduyun-duyun membantah fitnah sejarah versi Caronus. Tercatat nama-nama sejarawan seperti M.J.J. Marcel, Gustave Le Bone, L.B.Sedillot, Stanley Lanepoole, Alfred J.Butler dan Le Fort menjadi saksi bahwa apa yang ditulis Caronus merupakan sebuah kisah yang tak layak dipercaya. Bahkan alih-alih menyalahkan pasukan Arab Islam, Gustave Le Bone justru menyebut musnahnya Perpustakaan Alexandria disebabkan ulah pasukan Julius Caesar (110-44 sM) saat menyerbu Mesir. “Bencana-bencana yang menimpa Perpustakaan Alexandria disebabkan api yang berkobar tanpa sengaja pada saat Caesar mempertahankan dirinya.” Setelah dibangun kembali pada era Kaisar Marcus Antonius (83-30 SM), Perpustakaan Alexandria lagi-lagi terbakar pada 263 M. Akibat terjadinya kerusuhan besar di Alexandria pada era Kaisar Gallenus (255-268), situs bersejarah itu hampir semuanya hancur kecuali Gedung Sarapeum yang masih tersisa. Saat melakukan ceramahnya di Paris pada abad ke-19, Le Fort malah menyebut pasukan Kristen Barat-lah yang menjadi penyebab hancurnya manuskrip-manuskrip tua itu. Soal itu langsung dibantah oleh Uskup Orleans, Msgr. Dupanloup yang balik menuduh Le Fort sebagai pemalsu data sejarah. Namun yang jelas saat pasukan Arab Islam memasuki Alexandria, perpustakaan itu sesungguhnya sudah lama musnah. ”Sungguh memalukan, dosa yang dibuat sendiri oleh dunia Barat hendak dikambinghitamkan kepada orang-orang Arab,”ujar Gibbon. Selain menggali informasi sebab musabab musnahnya Perpustakaan Alexandria, para cendekiawan Barat itu juga menelanjangi kebohongan Caronus lewat kisah Johannes Philoponus. Menurut Le Bone, kendati tokoh Johanes Philoponus memang ada namun sesungguhnya ia hidup di era sebelumnya. Dikatakan sejarawan Prancis itu bahwa Philoponus merupakan uskup radikal yang hidup saat terjadi Konsili Chaceldon pada 451. Dia hidup sampai masa kekuasaan Kaisar Justinianus (518-565 M). ” Bagaimana bisa seorang tokoh yang sudah lama berada dalam perut bumi dikatakan ‘bersahabat baik dengan Jenderal Amr ibn Ash di Alexandria’ pasca penaklukan bandar itu pada 641 M?”ujar Le Bone seperti termaktub dalam La Civilisation des Arabes (Peradaban Orang-Orang Arab).
- Panglima Besar Pelihara Ular
PADA 1947, Mayor Pranoto Reksosamodra diangkat menjadi komandan Resimen XXI Yogyakarta Divisi IX/Diponegoro yang membawahkan empat batalion. Dari daerah pertahanan Semarang Timur, dia dan pasukannya diperintahkan untuk mempertahankan pantai Laut Jawa. Di antara anak buahnya ternyata ada seorang pawang ular. Pranoto meminta Kopral Karman itu untuk menunjukkan kebolehannya. Kopral Karman menyanggupinya. Pranoto dan anggotanya menyaksikan pertunjukan Kopral Karman. Dengan perlengkapan berupa cobek dan bunga telon (mawar, melati, dan kenanga), Kopral Karman membakar menyan seraya merapal mantra. Lama juga menunggu, akhirnya seekor ular sawah sebesar ibu jari kaki orang dewasa, keluar menuju cobek yang berada di tengah. Setelah beberapa saat, ular berwarna keabu-abuan itu kemudian pergi. Pranoto dan anggota pasukan yang awalnya ragu akhirnya mengakui kemampuan Kopral Karman sebagai pawang ular. "Kopral Karman ternyata orang yang merawat ular sanca milik Bapak Panglima Besar Soedirman," kata Pranoto dalam memoarnya, Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya . "Mendiang memang memelihara sepasang ular piton yang setiap hari dilepas demikian saja di halaman dan sesekali mengeliling gedung tempat kediaman Panglima Besar," kata Pranoto. Keterangan Pranoto itu dilengkapi oleh Letjen TNI (Purn.) Tjokropranolo, mantan pengawal Jenderal Soedirman saat gerilya. Dalam memoarnya, Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia , Tjokropranolo menyebut Jenderal Soedirman mendapat ular itu dari Haji Iskandar Ulo. "Haji Ulo dikenal oleh pasukan pengawal Panglima Soedirman, karena beliau pernah memberi beberapa ekor ular besar dan panjang jenis sanca kepada Pak Dirman (panjangnya 4 meter)," kata Tjokropranolo. "Ular-ular ini," lanjut Tjokropranolo, "sering dilepas di halaman rumah Panglima Besar sehingga semua orang yang akan menghadap Pak Dirman takut." Menurut Harsono Tjokroaminoto, mantan penasihat politik Jenderal Soedirman, ular itu termasuk jenis yang tidak berbisa karenanya tidak berbahaya. Panjang ular itu kira-kira enam meter dan badannya cukup besar. "Bagi para tamu yang mungkin baru pertama kali berkunjung ke kediaman beliau apabila melihat ular ini dengan sendirinya pasti akan terkejut," kata Harsono dalam Menelusuri Jejak Ayahku . Harsono menyebut kandang ular yang satu tidak diletakkan di bagian belakang, melainkan di halaman depan rumah. Kalau hari sudah malam barulah ular itu dimasukkan ke dalam kandangnya. Dengan sendirinya setiap orang yang lalu pasti akan melihat ular itu di dalam kandang pada malam hari. "Sering pula saya menyaksikan bagaimana caranya memberi makan ular ini. Biasanya makanannya ayam atau itik. Hal ini sudah dianggap biasa," kata Harsono. Setelah Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk bergerilya, Harsono tidak mengetahui lagi bagaimana nasib ular-ular itu. Tetapi menurut kabar, ular-ular itu dikembalikan ke desa asal di mana Jenderal Soedirman menerimanya sebagai hadiah.*
- Perjalanan Sepatu dari Zaman Batu
Tak ada sepasang sepatu tertentu yang menadai awal sejarah alas kaki. Pasalnya, bentuk sepatu yang berbeda digunakan untuk iklim dan medan yang berbeda. Di wilayah utara misalnya, alas kaki terbuat dari kulit tebal dan dilengkapi dengan bulu juga jerami agar hangat. Sementara di wilayah selatan, sebagian besar alas kaki terbuat dari daun kelapa atau serat papirus. Awalnya, orang-orang membutuhkan alas kaki untuk melindungi kaki mereka. Lambat laun, alih-alih hanya soal kebutuhan praktis, manusia memakai sepatu lebih karena untuk mengikuti tren mode. Adapun kebiasaan memakai sepatu ini kemungkinan besar sudah jauh lebih lama dibanding temuan sepatu tertua yang kini ada. Mengutip National Geographic , buktinya adalah fosil manusia berusia 40.000 tahun yang punya tulang jari kaki lemah. Itu bisa dianggap sebagai pertanda kemungkinan munculnya kebiasaan memakai alas kaki. Sepatu Oetzi Koleksi The Victoria and Albert Museum Di Pegunungan Alpen, Austria pada 1991 para arkeolog menemukan manusia mumi bernama Oetzi. Ia berasal dari zaman batu, diperkirakan meninggal sekira 5.300 tahun yang lalu. Menariknya, ia masih mengenakan sepatu kulitnya. Sepatu itu nampaknya dirancang untuk berjalan melintasi salju. Ia pun kedap air dan bersol lebar. Solnya terbuat dari kulit beruang. Bagian atasnya dari kulit rusa. Lalu bagian jaring-jaringnya dibuat dari kulit pohon. Jerami diletakkan di sekeliling kaki di dalam sepatu, sehingga fungsinya mirip kaus kaki modern. Jahitannya kecil dan tidak terlalu bisa diandalkan mengingat alat yang dimiliki orang pada saat itu. Sepatu Kulit Armenia Koleksi The Victoria and Albert Museum Sepatu kulit tertua ditemukan ketika penggalian arkeologis di Gua Armenia. Sepatu ini ditemukan dalam kondisi masih baik. Perhitungan tanggal radiokarbon menunjukkan sepatu ini berasal dari sekira 3.500 SM, yaitu masa logam Armenia. Ditemukan dalam kondisi terisi rumput, bentuknya nampak seperti moccasin, yaitu sepatu tanpa hak yang terbuat dari bahan kulit bertekstur lembut. Begitu pula sepatu ini terbuat dari sepotong kulit sapi. Pada bagian depan dan tumit terdapat jahitan dari tali kulit. Ketika dipakai, ia menutup area tumit dan kaki. Sepatu itu bisa milik laki-laki atau perempuan, karena tak cukup banyak yang diketahui tentang kaki orang Armenia pada masa itu. Jika dibandingkan ukuran kaki modern, lebih mirip milik perempuan, yaitu 7 dalam ukuran AS. Sepatu Mesir Koleksi The Victoria and Albert Museum Sepatu terbuka datar berbentuk perahu ini terbuat dari anyaman buluh. Talinya juga terbuat dari buluh yang panjang dan tipis, yang ditutupi oleh potongan buluh yang lebih lebar. Bentuk sepatu praktis dari masa Mesir Kuno 1550 SM ini berlanjut dengan gaya yang sama pada abad ke-19. Sepatu Rami Koleksi The Victoria and Albert Museum Berasal dari 68-56 SM, sepatu ini terbuat dari beberapa lapisan tanaman rami yang dijahit bersama dengan cara yang mirip dengan teknik perca atau quilting . Jahitan juga memiliki fungsi dekoratif. Ini adalah salah satu dari beberapa sepatu yang ditemukan pada penggalian arkeologis di jalur sutra kuno, Dunhuang utara, Tiongkok. Contohnya juga dapat dilihat pada kaki tentara terakota Xi'an. Sepatu Bebat Kaki Ilustrasi Sepatu Bebat Kaki Sepatu mungil semacam ini pernah dipakai perempuan di lingkungan kekaisaran Tiongkok paling tidak sejak masa Dinasti Song abad ke-10 M. Sejak kecil kaki mereka dibebat agar pertumbuhan kaki terhambat dan tetap berukuran 8 cm. Pembebatan kaki menjadi hal biasa pada wanita dengan status sosial yang lebih tinggi. Praktik ini kemudian dilarang pada 1911. Poulaine Ilustrasi Poulaine Pada abad ke-12 para perajin sepatu Eropa mulai membuat sepatu berujung lancip. Gaya sepatu ini populer disebut poulaine . Mereka memiliki ujung runcing yang sangat sempit dan terbuat dari kulit. Bentuknya makin ekstrim pada akhir abad ke-14. Mereka memakai sepatu sempit yang ujungnya lancip mengarah ke atas. Kala itu banyak orang menjadi korban mode. Sebagian bangsawan berpesta dengan sepatu yang begitu panjang dan sempit, hingga mereka terpaksa menalikan ujung sepatu di pita elastis yang dipasang di sekitar lutut mereka. Di lingkungan istana Inggris terutama, kaum bangsawannya begitu ekstrem mengikuti gaya ini. Akibatnya, mereka sulit berjalan. Itu sampai membuat dikeluarkannya aturan yang mengatur panjang sepatu. Sepatu Ujung Bulat Koleksi The Victoria and Albert Museum Pada awal 1500-an, di Inggris bisa ditemukan beraneka macam bentuk sepatu. Namun, sepatu berujung kotak adalah yang terpopuler. Namun, beda untuk anak-anak, bentuk sepatu mereka berujung bundar, seringnya berbahan kulit, dengan satu tali pengait di bagian atas melintang dari sisi satu ke sisi lainnya. Model sepatu ini hingga kini masih dijumpai, khususnya sebagai model sepatu anak-anak. Sepatu Cocor Bebek Ilustrasi Sepatu Cocor Bebek Pada abad ke-16 sepatu menjadi lebih pendek dengan ujung yang lebih bulat, dan model sepatu cocor bebek masuk ke pentas mode. Contohnya, pada lukisan dari 1536 menampilkan Raja Henry VIII dari Inggris berpose dengan mode busana paling mutakhir saat itu. Ia mengenakan sepatu cocor bebek dengan lapis atas berpola sayatan. Sepatu ini diberi bantalan agar bentuk tetap lebar. Sepatu Hak Tinggi Ilustrasi Sepatu Hak Tinggi Selama periode Renaisans, raja-raja di Eropa sering memakai sepatu berhak sangat tinggi untuk menunjukkan supremasi mereka. Mereka juga bisa tetap berjalan anggun di atas kubangan air, karena tinggi hak sepatu mereka terkadang bisa mencapai 30 cm. Sepatu ini adalah prototipe sepatu platform modern. Raja Louis XIV dari Prancis disebut-sebut memainkan peran penting yang membuat sepatu berhak tinggi popular. Chopine Chopine Chopine adalah jenis platform untuk perempuan yang populer pada abad ke-15, 16, dan 17 M. Chopine populer dipakai di Venesia oleh pelacur hingga perempuan ningrat sejak 1400-an hingga 1700-an. Awalnya sepatu ini digunakan sebagaimana bakiak, yaitu untuk melindungi sepatu dan pakaian dari lumpur dan tanah jalanan. Selain fungsi praktisnya, tinggi hak chopine menjadi petunjuk simbolik bagi status sosial si pemakai. Semakin tinggi sepatunya, makin tinggi statusnya. Selama era Renaissance , chopine menjadi barang mahal. Beberapa tingginya bisa lebih dari 50 cm. Pada 1430, ketinggian chopine pun dibatasi oleh hukum Venesia hingga tiga inci. Namun aturan ini diabaikan. Gaya Barok (Baroque) Ilustrasi Gaya Barok (Baroque) Sebagai kesenian, aliran ini berkembang di Eropa sekira abad ke-16 hingga abad ke-18. Ini ditandai dengan gaya yang kompleks dan kecenderungan akan keagungan dan kemewahan .Gaya ini pun mempengaruhi mode, khususnya model sepatu. Bahan beludru, satin, sutra, hiasan berbunga-bunga dan batu permata mewarnai sepatu-sepatu pada era ini. Itu baik yang dikenakan laki-laki maupun perempuan. Keterampilan hebat pun dibutuhkan bagi para pembuat sepatu. Tak ada produk masak pada era ini, karena masing-masing sepasang sepatu dibuat dengan tangan. Khususnya ketika Charles II dikembalikan ke takhta pada 1660 muncul lagi perubahan mode. Sepatu berhak merah menjadi populer di Inggris. Terutama, gaya sepatu ini untuk menunjukkan status, baik untuk perempuan maupun pria. Sepatu Bot Kulit Ilustrasi Sepatu Bot Kulit Selama abad ke-18, Perang Napoleon berlangsung. Namun begitu perang berlalu, pada abad ke-19 model sepatu menjadi lebih praktis. Ini pun kemudian membedakan model sepatu laki-laki dan perempuan dan menandai berakhirnya sepatu berhak tinggi bagi laki-laki karena model itu lebih disukai perempuan. Sementara laki-laki lebih suka yang praktis, seperti sepatu bot kulit. Sepatu Trendi Ilustrasi Sepatu Trendi Tren baru muncul pada paruh kedua abad ke-20 dengan melejitnya budaya pop Amerika yang dikaitkan dengan keinginan untuk menjadi berbeda, unik dan menjadi bagian dari subkultur tertentu. Bahan baku yang lebih murah, struktur baru dan gaya hidup yang berbeda mengubah citra pria dan wanita. Alas kaki yang mewah dan berkualitas tinggi diubah oleh alas kaki yang trendi dan selalu berubah warna. Aktor dan penyanyi Hollywood sangat mempengaruhi popularitas dari model sepatu tertentu. Band The Beatles misalnya, mempopulerkan sepatu Chelsea, aktris Audrey Hepburn mempopulerkan sepatu kitten heels .
- Tertimbun dalam Pembredelan Pers
BUNGA kertas berwarna ungu dengan tulisan “Hentikan Pembreidelan Pers” itu terpasang di dada kiri para perempuan. Atribut itu menjadi penanda para perempuan yang berdemonstrasi menentang pembredelan Majalah Tempo , Editor , dan Tabloid DeTik pada 1994. Para perempuan itu merupakan aktivis dari Koalisi Perempuan untuk Kebebasan Pers (KPKP). “KPKP dibentuk beberapa hari setelah pembredelan Majalah Tempo dan DeTik sebagai respons terhadap tindakan represif yang membungkam kebebasan pers,” kata Tati Krisnawaty, pendiri Solidaritas Perempuan (SP), yang ikut dalam jaringan KPKP. Tempo diberedel setelah menulis pertikaian Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dengan Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie. Julia Suryakusuma dalam Agama, Seks, dan Kekuasaan menulis, keributan dimulai lantaran pemerintah membeli 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur. Laporan Tempo dianggap melanggar kode etik jurnalistik dan membahayakan kemanan negara. Sementara, DeTik ditutup lantaran dalam Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)-nya memberitakan cerita detektif dan kriminal. Padahal, DeTik kerap mengkritik pemerintah dan mengungkap penderitaan rakyat, yang membuatnya cepat naik daun. Sedangkan Editor tidak lolos pendaftaran SIUPP. Beberapa hari setelah pembredelan itu, Wardah Hafidz (kemudian mendirikan Urban Poor Consortium) mengajak kawan-kawannya untuk memprotes keputusan pemerintah. Tati, Julia Suryakusuma, Nursyahbani Katjasungkana, Neng Dara Affiah, dan sejumlah aktivis perempuan lain ikut dalam protes ini. Nursyahbani, kala itu direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, menyediakan kantornya sebagai tempat berkumpul. Kantor LBH Jakarta di Jalan Diponegoro 74, Jakarta Pusat dipilih karena dianggap paling aman dan strategis. Tenda didirikan di halaman LBH, rapat penyusunan strategi aksi dilakukan. Rapat juga dilakukan di Kalyanamitra dan SP. Di kantor SP, para aktivis membuat perangkat aksi protes seperti selebaran, bunga kertas ungu, dan spanduk. KPKP beberapa kali melakukan aksi turun ke jalan. Seingat Neng Dara, ada sekira 50 orang ikut dalam demonstrasi damai. Aksi ini tak lepas dari penjagaan ABRI, bahkan jumlahnya jauh lebih banyak dari pendemo. Demo berjalan tenang, para perempuan membagikan bunga sambil menyuarakan protes. “Kami melakukan demonstrasi di depan pengadilan dan berhadapan dengan aparat keamanan,” kata Tati. Demonstrasi ini, tulis Yanti Muchtar dalam Tumbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Orde Baru, adalah usaha para perempuan mengkampanyekan perlawanan terhadap represi negara. Lewat demonstrasi dan dialog dengan pemerintah maupun militer, KPKP konsisten menuntut pemerintah melakukan reformasi atas isu-isu kebebasan berekspresi dan kekerasan negara. Namun, Wardah membantah KPKP menyampaikan protes lewat aksi turun ke jalan. Menurutnya, protes KPKP dilakukan dengan cara menemui perwakilan penguasa. Cara yang dinisiasi Wardah itu terjadi kala KPKP menemui Fraksi ABRI di DPR. “Kami diterima lalu bicara dengan mereka. Kami menyampaikan ketidaksetujuan terkait pembredelan itu lalu meminta DPR turun tangan menghentikannya. Saya lupa hasil pertemuannya. Kayaknya cuma didengar. Zaman Soeharto DPR-nya kan cuma stempel,” kata Wardah sambil terkekeh. Selain tentang kebebasan pers, KPKP juga menyuarakan hak untuk bebas dari kekerasan oleh negara. Kemunculan KPKP, menjadi momen bersatunya para aktivis perempuan di tengah rezim represif Soeharto. Ia juga menjadi momen gerakan perempuan menyuarakan isu di luar kepentingan perempuan. “Gerakan perempuan harus menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar. Ketika ada pembredelan Tempo , Editor , dan DeTik , saya berpikir kita harus bergerak, merespons, dan menjadi bagian dari gerakan itu,” kata Wardah.





















