top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mahakarya Sang Trubadur Legendaris

    Siapa tak kenal Gombloh? Generasi 1990-an ke atas hampir pasti mengenal penyanyi nyentrik dengan lagu-lagu khas yang nyeleneh itu . Lagu-lagunya merambah beragam sendi kehidupan, mulai dari percintaan, kritik sosial, hingga bertema nasionalisme. Beberapa lagu Gombloh seperti “Kebyar-Kebyar”, yang diciptakan tahun 1979, hingga kini masih populer dan acap diperdengarkan dalam beragam acara nasional. Lagu tersebut terinspirasi dari gemerlap lampu kafe-kafe di lokalisasi Bangunrejo, Surabaya. Gombloh yang bernama asli Soedjarwoto Soemarsono, memang berasal dari keluarga menengah ke bawah di Kampung Embong Malang, Surabaya. “Enggak pernah ngartis karena dia merasa lahir dari masyarakat bawah. Ayahnya hanya tukang jual ayam,” ujar Dhahana Adi Pungkas alias Ipung, penulis Surabaya Punya Cerita , kepada Historia. Pria kelahiran Jombang, 14 Juli 1948 itu berkenalan dengan seni musik dari tetangganya yang acap bermain gitar. Sejak usia enam tahun, Gombloh sudah mahir memainkan jemarinya pada tiap senar gitar yang dipinjam dari tetangganya. Namun, sebagaimana ditulis Ipung dalam bukunya, pendidikan Gombloh berjalan lancar meski mulai gila musik. Pendidikan Gombloh mulai terganggu pada saat kuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) tahun 1968. Meningkatnya popularitas dia bersama band Lemon Trees membuat Gombloh sering bolos kuliah. Gombloh akhirnya tak lulus, tetapi tetap dihormati di ITS. Gombloh sibuk mengamen di berbagai kafe atau night club . Mengikuti geng Gegars Otack, dia acap nongkrong di Bengkel Muda Surabaya (BMS) hingga bisa menembus dapur rekaman Golden Hand (1978-1981), Chandra Recording (1981-1983), dan Nirwana Records (1983-1987). Kebyar-Kebyar Meski sudah ditulis sejak 1978, “Kebyar-Kebyar” baru rilis setahun berikutnya bersama bandnya di album dengan nama yang sama. Majalah Rolling Stone edisi ke-56 tahun 2009 menobatkan lagu ini dalam daftar 150 lagu terbaik Indonesia sepanjang masa. Inspirasi lagu ini didapatkan Gombloh ketika sedang dikerok lantaran masuk angin di BMS. Gombloh teringat nada-nada permainan piano rekannya, Wisnu Padma, sehari sebelumnya di studio musik. Sambil punggungnya dikerok, Gombloh mendendangkan lagi nada-nada permainan piano Wisnu meski sesekali diselingi sendawa, hingga terangkai sebuah lagu. Dhahana Adi Pungkas alias Ipung (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Dia pikirannya mungkin lagu ini akan jadi semacam kebyar, memerikan semangat, tapi enggak pingin dibuat seperti lagu-lagunya Ismail Marzuki. Lalu dibuat awalnya nge -pop. Mulanya juga tidak terdengar heroik seperti yang kita kenal sekarang. Lagunya lantas lebih booming dan diaransemen ulang, disempurnakan seperti sekarang setelah Gombloh meninggal,” sambung Ipung. Lagu itu lantas senantiasa hadir dan dimainkan beragam musisi di panggung 17-an (HUT RI 17 Agustus) selain lagu-lagu nasionalis lainnya. Bahkan, band rock asal Inggris Arkarna pernah meng- cover lagu itu pada HUT RI ke-70. Selain “Kebyar-Kebyar”, lagu Gombloh lain yang masuk ke dalam 150 lagu terbaik sepanjang masa adalah “Berita Cuaca”. Lagu bertema lingkungan ini pernah diaransemen ulang dan dirilis band rock asal Surabaya Boomerang pada akhir 1990-an. Di Radio Kreativitas Gombloh dalam bermusik tak berhenti meski “Kebyar-Kebyar” telah populer. Nyaris setiap orang Indonesia generasi 1990-an di berbagai pelosok pun kenal mahakarya “Kugadaikan Cintaku” yang rilis pada 1986 di album Apel . Lagu yang lebih dikenal dengan “Di Radio” ini, menurut Asriat Ginting dkk dalam Musisiku menguraikan, jadi lagu terlaris dan jadi trademark baru Gombloh setelah era “Kebyar-Kebyar” . Dalam kurun waktu setahun, album Apel terjual di atas satu juta kaset. “Baru beberapa bulan saja sudah tembus 500 ribu keping (kaset). Uniknya, rangkaian lagunya tercipta saat Gombloh sedang (buang air) di WC Balai Pemuda,” kata Ipung. Alkisah, pada suatu hari manajer Nirwana Records Bob Djumara memutar lagu “Wonderful World, Beautiful People” milik Jimmy Cliff untuk diperdengarkan ke Gombloh. Tertarik dengan nada-nada musiknya, Gombloh “mencomot” sebagian reff -nya untuk diolah lagi. “Tapi liriknya semula bertema kritik sosial, tapi saya tidak setuju. Sentuhan komersialnya kurang kena. Pakai lirik cinta saja,” kata Bob menyarankan sebagaimana dikutip Ipung dalam Surabaya Punya Cerita Vol. 1. Lirik bertema cinta baru didapat inspirasinya kala Gombloh sedang di toilet Balai Pemuda. “Ya saat di WC dia memikirkan lagi lagu ini saat sedang buang air. Enggak lama keluar dari WC, dia buru-buru ambil kertas dan menuliskannya lagi liriknya,” tambah Ipung. Maka, keluarlah lagu “Kugadaikan Cintaku”. Lirik itu terilhami dari kisah cinta Gombloh semasa SMA yang berakhir pahit. “Semasa SMA dan gabung geng Gegars Otack yang sering gaul dengan radio amatir, Gombloh pernah naksir cewek. Ceritanya Gombloh pernah punya janjian bertemu, tapi Gombloh kecewa karena ternyata cewek itu sudah punya cowok lain. Lagu itu ya curhat-nya Gombloh. Kenapa liriknya diawali dengan kata-kata ‘Di radio’, itu karena zaman itu Gombloh dapat kenalan cewek itu dari radio amatir,” tandasnya. “Kugadaikan Cintaku” meledak di pasaran dan masih populer hingga kini. “Itu jadi rekornya penjualan Nirwana Records, sampai sekarang belum terpecahkan,” kata Ipung. Dalam 100 Tahun Musik Indonesia , mendiang Denny Sakrie menyelipkan “Kugadaikan Cintaku” sebagai satu dari 10 lagu terbaik Indonesia era 1980-1989. Tak heran setelah ketiadaan Gombloh yang wafat pada 9 Januari 1988, sang trubadur masih dicintai banyak pecinta musik di Indonesia. Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya menobatkannya menjadi Pahlawan Pemusik Jalanan pada 2003. Sementara Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) memberi anugerah penghargaan Nugraha Bhakti Musik pada 2005.

  • Penganugerahan Gelar Kebangsawanan

    DI beberapa daerah, gelar kebangsawanan masih menjadi status sosial yang penting dalam kehidupan masyarakat. Di Jawa misalnya, penghargaan itu diberikan kepada tokoh-tokoh yang berjasa bagi keraton, baik di Surakarta maupun Yogyakarta. “Gelar yang saya dapatkan Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Dwijadiningrat. Nama Dwija di sini disesuaikan dengan profesi saya sebagai dosen atau pengajar,” ujar Sutedjo Kuwat Widodo, dosen Universitas Diponegoro Semarang, kepada Historia beberapa waktu lalu. Dia mendapatkan gelar itu pada Desember 2010 dari Keraton Surakarta dalam sebuah prosesi yang dipimpin Pakubuwono XIII Tedjowulan. Inisiatif penganugerahan gelar kebangsawanan atau kekancingan itu datang dari Paguyuban Satya Budaya Yogiswara di Semarang. Paguyuban menjaring beberapa nama yang dianggap berjasa bagi pengembangan budaya Jawa. “Beberapa nama lalu kami ajukan ke pihak Keraton Surakarta, disetujui atau tidak, itu keputusan keraton,” kata Lies H. Susanto, salah satu pegiat di paguyuban itu kepada Historia . Menurut Soemarsaid Moertono dalam Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau , pada periode Mataram II, kawula (rakyat) memiliki kesempatan masuk ke lingkaran elite atau naik pangkat ( kawulawisuda ) dengan jalan menjadi abdi negara, bekerja dalam struktur birokrasi keraton, baik di daerah (kabupaten) maupun di pusat (keraton). Pemberian gelar disesuaikan dengan pangkat dan pengabdian. Abdi dalem golongan bawah, dari jajar sampai wedana yang berasal dari golongan priyayi mendapat gelar Raden; sedangkan yang berasal dari rakyat biasa mendapat gelar Mas. Abdi dalem golongan atas, dari bupati anom sampai bupati nayaka bergelar Kangjeng Raden Tumenggung (KRT). Misalnya, pada 1813, Kapitan Tionghoa Tan Djin Sing mendapat gelar KRT Secodiningrat dan dilantik menjadi bupati Yogyakarta . Namun, tak harus menjadi abdi dalem untuk mendapatkan gelar bangsawan. Keraton juga memberikan gelar kepada orang-orang yang berjasa melestarikan budaya Jawa. Seorang Tionghoa Muslim, Go Tik Swan, ahli batik dan keris, mendapat gelar kebangsawanan dari Pakubuwono XII pada 1972. Gelarnya tak main-main, sangat tinggi: Kangjeng Raden Tumenggung (KRT) Hardjonagoro. “Dia menjadi orang Tionghoa pertama yang mendapat gelar karena keahliannya dalam bidang kebudayaan,” tulis Leo Suryadinata dalam Prominent Indonesian Chinese . Gelar bangsawan juga diberikan kepada seseorang yang memberikan bantuan finansial kepada raja atau sultan. Di masa lalu, tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia , jilid III, “pedagang-pedagang kaya juga dapat menyisihkan kekayaannya untuk diberikan kepada raja dan bangsawan sebagai penukaran untuk gelar bangsawan.”

  • Mengenal Lebih Dekat Stadion Patriot Candrabhaga

    SEIRING masuknya cabang sepakbola Asian Games 2018 ke babak 16 besar, hingar-bingar di Stadion Patriot Candrabhaga pun mereda. Terlebih, tuan rumah memainkan laga terakhirnya –kontra Uni Emirat Arab, Jumat (24/8/2018)– di Stadion Wibhawa Mukti, Cikarang. Animo penonton ke Stadion Patriot pun tak sebanyak bila tuan rumah yang main. Stadion Patriot hanya menyisakan dua partai perempatfinal: Suriah vs Vietnam dan Uzbekistan vs Korea Selatan yang keduanya dimainkan pada Senin (27/8/2018). Praktis, laga Uzbekistan vs Korea Selatan dan Suriah vs Vietnam akan jadi fixture perpisahan bagi Stadion Patriot di pesta olahraga terbesar se-Asia ini. Dari Rawa-Rawa hingga Pesta Olahraga Asia Di masa lalu, kawasan yang sekarang menjadi kompleks Stadion Patriot Candrabhaga itu dikenal sebagai kawasan rawa-rawa. “Disebutnya dulu itu kawasan Rawa Tembaga,” ujar Abdul Khoir, budayawan Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi cum dosen Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, kepada Historia . Stadion Patriot dan Kawasan di Sekitarnya dari Tampak Atas (Foto: Wikipedia) Pemerintah daerah (saat itu Kabupaten Bekasi) baru membangunnya tak lama sebelum Bekasi menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Daerah Jawa Barat (Porda Jabar) IV 1984. “Dibangun tahun 1980, bersamaan dengan proyek pembangunan pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi yang sekarang jadi Kompleks Pemerintahan Kota Bekasi,” lanjut Khoir. Setelah menjadi gelanggang olahraga, kompleks itu dinamai Stadion Bekasi. Persipasi Bekasi menggunakannya sebagai markas setelah Porda. Tampak Samping Lingkar Dalam Kompleks Stadion Patriot Candrabhaga (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Stadion itu baru “disulap” jadi stadion bertaraf internasional pada medio Oktober 2011. Renovasi kolosalnya, tulis Pikiran Rakyat 22 September 2011, menguras dana total Rp400 miliar yang berasal dari anggaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Renovasi itu tak hanya menambah kapasitas penonton dari semula 10 ribu-an menjadi 30 ribu, tapi juga menambahkan lintasan atletik di sekeliling lapangan. Walikota Bekasi Rahmat Effendi lalu meresmikannya pada 11 Maret 2014 berbarengan dengan HUT Kota Bekasi. Peresmian itu sekaligus menetapkan nama stadion menjadi Stadion Patriot Candrabhaga. “Dulu kita bersama teman-teman BKMB Bhagasasi juga ikut mengusulkan ke pak walikota. Kita mengusulkan dua nama: Patriot Bhagasasi dan Gelora Candrabhaga,” terang Abdul Khoir. Tampak Luar Pintu Utama Stadion Patriot Candrabhaga (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Bhagasasi dan Candrabhaga merupakan sebutan untuk Bekasi di masa Kerajaan Tarumanagara (abad keempat). Filolog dan sastrawan Jawa RM Ngabehi Poerbatjaraka dalam Riwajat Indonesia memaparkan, Bekasi dahulu kala merupakan salah satu wilayah kekuasaan Tarumanagara yang awalnya disebut Candrabhaga. Candra dimaknai “ibarat bulan” dan bhaga diartikan “bahagia”. Seiring perubahan zaman, penyebutannya berubah menjadi Bhagasasi. Dari situlah Abdul Khoir dan rekan-rekannya di BMKB Bhagasasi memetik inspirasi untuk ikut mengusulkan nama stadion tersebut. “Sewaktu diskusi sebelum peresmian, sempat juga pak walikota punya usulan lain, Stadion Purnawarman, nama salah satu Raja Tarumanagara. Tapi kan kemudian enggak jadi karena nama itu sudah diambil duluan untuk stadion di Purwakarta,” lanjut Abdul Khoir. Abdul Khoir, Budayawan Bekasi cum Dosen Unisma Bekasi (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Semua usulan yang ada lantas dibawa ke panitia renovasi yang akhirnya memunculkan penetapan nama Stadion Patriot Chandrabhaga. “Ya penggabungan usulan-usulan itu. Dari Gelora Candrabhaga dan Patriot Bhagasasi, jadinya ya Patriot Candrabhaga yang diresmikan. Tambahan ‘Patriot’ diambil karena sesuai semboyan Pemkot Bekasi sebagai ‘Kota Patriot’,” tandasnya. Kecantikan Stadion Patriot sedikitnya mengubah citra Bekasi yang sempat kena rundung para netizen sebagai kota di planet lain. Pasalnya, stadion ini tak hanya jadi rebutan tim-tim elit macam Persija Jakarta dan Bhayangkara FC namun juga jadi kandang timnas Indonesia berbagai level selama Stadion Utama Gelora Bung Karno mengalami pemugaran untuk Asian Games 2018. Di Asian Games 2018, Stadion Patriot kebagian jadi venue pertandingan sepakbola putra. Oleh karena itu, sejak Desember 2017 stadion ini kembali ditutup untuk renovasi agar memenuhi standar internasional. Pengerjaannya langsung digarap oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Stadion Patriot Candrabhaga Kebagian Venue Sepakbola Putra Asian Games 2018 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Renovasi mencakup pergantian rumput berstandar Olympic Council of Asia (OCA), Asian Football Confederation (AFC), International Olympic Committee (IOC), dan FIFA; sistem drainase; pemasangan papan skor digital; kursi tribun tipe single-seat , penambahan kamera Closed Circuit Television (CCTV) dari 20 menjadi 60 unit; dan peningkatan lampu penerangan dari daya 1600 lux menjadi 2000 lux . Jelang laga perdana cabang sepakbola putra, awal Agustus 2018, renovasi rampung 100 persen. Partai pembuka Grup A, Laos vs Hong Kong (dimenangi Hong Kong 3-1), pada 10 Agustus 2018 jadi debut Stadion Patriot dengan wajah baru.

  • Gaya Berpakaian Iskandar Muda

    DALAM surat yang disampaikan Kesultanan Aceh kepada Kapten Thomas Best, seorang utusan Inggris pada 1613, Sultan Iskandar Muda digambarkan begitu megahnya. Takhtanya tinggi sempurna. Kehadirannya bagaikan emas yang paling murni. "Ia adalah raja priaman dan raja gunung-gunung emas. Tuan atas sembilan jenis batu, raja dua mahkota dari emas tempaan, yang duduk di atas permadani emas. Dari emaslah abah-abah kudanya, dan baju zirahnya sendiri. Dari emas gading gajah-gajahnya dan dari emas pula semua senjatanya: lembing-lembingnya setengah emas setengah perak dan sebuah pistol kecil dari logam-logam yang sama. Dari emas pula pelana untuk seekor gajah." Demikian teks itu berbunyi menggambarkan kebesaran Iskandar Muda sebagaimana dikutip Danys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) . Kebesarannya identik dengan emas dan batuan mulia. Emas dan batuan mulia memang kerap menjadi bahan penghias diri para sultan di Aceh. Sultan Iskandar Muda terutama yang menggunakan emas untuk mempercantik bajunya. Sultan Aceh yang berkuasa pada 1607-1636 itu dikenal punya perhatian besar pada batu permata dan barang emas. Menurut Lombard , sang sultan kerap memakainya untuk menghiasi pakaian yang dia kenakan. Dia bahkan punya 300 pandai emas yang setiap hari bekerja untuknya. Seorang pelayar dari Prancis, Augustin de Beaulieu, pada 1621 pernah mengunjungi para pengrajin itu. Dia diperlihatkan sejumlah besar permata yang sudah dan belum dipasang. Kebanyakan permata itu dilubangi dari dua arah untuk dijadikan kalung dan rantai jamrud yang besar-besar. Batu-batuan itu juga untuk baju, sebagaimana gaya sang sultan yang penuh sulaman berpermata. Ada pula di antaranya kancing kait yang akan dipasang di baju-bajunya. “Benang emas saja yang dipakai untuk membuat baju beratnya tiga bahar, ketahuilah satu bahar lebih dari 350 pon berat Prancis, pon Prancis sama dengan 500 gram kurang sedikit, maka berat emas tadi dapat dinilai sebanyak 500 kg kita lebih,” tulis Beaulieu dikutip Lombard. Soal pakaian sultan dibicarakan panjang lebar dalam Hikayat Aceh. Menurut teks ini, Perkasa Alam, yang nantinya dikenal Iskandar Muda kala itu masih berusia 10 tahun. “Maka ketika itu Perkasa Alam berkain warna keindraan berpercik mas semburan diwarna dengan minyak bercampur kasturi, berikat pinggang cindai berpakankan kasab Rumi bersendatkan mutiara yang besar-besar, berbaju beroji putih sasimburan perada terbang, berkancing tempa sehari bulan berpermata intan bersawardi berdatan diakarang, berpuntu astakuna, berkeris beterterapan berhulu manikam merah bertandai intan bertampuk delima melekah sekaliannya bersawardi,” catat Hikayat Aceh . Danys Lombard dalam hal ini menerjemahkan perada sama artinya dengan prata dalam Bahasa Portugis yang berarti perak. Sepertinya kebiasaan berpakaian Sultan Aceh itu tak jauh beda dari kerajaan pendahulunya yang masih menganut Hindu. Sejarah Dinasti Liang yang ditulis pada sekira 502-557 M, mengungkapkan soal keberadaan Kerajaan Poli di mana rajanya memakai kain sutra bermotif bunga yang menutupi tubuhnya. Dia mengenakan topi emas yang tingginya sekira 30 cm. Bentuk topi ini menyerupai bian di Tiongkok yang dihiasi dengan berbagai batu mulia. Bentuk penutup kepala ini yang kemudian sedikit berbeda pada masa Kesultanan Aceh. Serban sering kali digambarkan menjadi penutup kepala bagi laki-laki kala itu. Raja Poli juga digambarkan membawa sebuah pedang berhias emas. Dia duduk di singgasana emas dan kakinya menginjak sebuah bangku perak. Adapun para pelayan perempuannya menghiasi tubuh mereka dengan berbagai bunga emas dan benda berharga. Beberapa orang di antaranya membawa kemoceng bulu berwarna putih atau kipas yang terbuat dari bulu merak. Ketika sang raja keluar istana, dia menaiki kereta yang terbuat dari kayu wangi yang ditarik seekor gajah. Bagian atas kereta ini ditutupi kanopi datar yang terbuat dari bulu. Bagian sampingnya dihiasi dengan tirai sulaman. SejarahBaruDinasti Tang (618-906) mencatat pakaian Raja Poli (Hu-lu-na-po) terdiri dari selembar kain sutra atau katun bermotif bunga yang dihiasi dengan mutiara. “Para ahli geografi Tiongkok memperkirakan Poli berada di Pantai Utara Sumatra,” tulis W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa . Kembali ke Sultan Iskandar Muda, dia juga punya kebiasaan memberikan hadiah pakaian kepada para pendatang dari negeri asing ketika mereka datang menghadap. Itu sebagai pertukaran persembahan yang mereka bawa. Sultan biasanya menghadiahkan, di atas sebuah talam perak, sehelai jubah putih panjang, sebuah serban penuh sulaman emas. Terkadang juga ikat pinggang yang lebar dan dua bilah keris. Francois de Vitre, penjelajah Prancis yang ke Aceh pada 26 Juli 1602 menyaksikan raja Aceh memberikan hadiah berupa pakaian daerahnya yang terbuat dari kain katun dengan sulaman emas dan sutera. Pakaian itu langsung dikenakan Jenderal La Bardeliere, yang memimpin penjelajahan di hadapan sang raja. Menurut Lombard, kebiasaan untuk memberikan pakaian kehormatan kepada tamu sering disebutkan dalam prasasti Jawa sedini abad 10 M. Ini juga menjadi kebiasaan Sultan Malaka memberika berbagai bagian dari seperangkat pakaian. Upacara ini dilukiskan berulang kali dalam roman Hang Tuah. “Kebiasaan yang sama terdapat pula di tempat lain di dunia Islam, antara lain di Istambul,” kata Lombard. Terlepas dari itu, Beaulieu mengakui, seandainya kebesaran raja diartikan dengan emas yang berlimpah, sedikit sekali raja-raja Eropa yang mampu menandingi Raja Aceh. Sang raja menjaga emasnya dengan baik. Dia tak membelanjakannya. Tidak pula menghamburkannya. “Belakangan raja mengatakan pada saya, sejak dinobatkan, dia telah mengumpulkan emas lebih dari 100 beratnya, belum lagi permata, perak, dan barang lain,” kata Beaulieu.

  • Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Buku

    SETIAP 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Momen bersejarah itu bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980. Namun, menilik minat baca masyarakat Indonesia hari ini, terbayang kenyataan memprihatinkan. Menurut data Most Littered Nation In the World yang dikeluarkan UNESCO tahun 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Ironisnya, Indonesia hari ini memiliki Perpustakaan Nasional Indonesia yang disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Membaca buku bukan lagi kegiatan pilihan seiring majunya teknologi informasi. Berbanding terbalik dengan generasi zaman pergerakan tempo dulu. Ibarat makanan, buku adalah kebutuhan. Lewat asupan literatur, pemikiran mereka menghasilkan ide untuk berjuang dan merdeka. Beberapa tokoh bahkan dikenal sebagai bibliofil alias pecinta buku.

  • Perjalanan Sudhana Mencari Pencerahan

    RELIEF Gandawyuha terpahat di 460 panel relief pada lorong dua, tiga, dan empat Candi Borobudur. Ia bercerita tentang anak muda bernama Sudhana yang berkelana mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Dia melakukan perjalanan religi keliling India menemui berbagai guru dan para sahabat spiritual ( mitreka satata ). Kisah itu diperkirakan muncul pada awal abad 1 M di India Selatan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Dalam kepercayaan Buddha Mahayana, Gandawyuha dikenal sebagai bagian terakhir atau bab 34 dari sutra besar, Sutra Avatasamka. “Tokoh Sudhana dalam seni religius di Cina, Tibet, atau Jepang sering digambarkan dalam gulungan kain atau gambar di kertas,” kata Mudji Sutrisno, dosen filsafat Pascasarjana Universitas Indonesia, dalam pidato pembukaan “Borobudur Writers and Cultural Festival” ke-6 di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, Kamis (23/11). Sedangkan di Borobudur, perjalanan spiritual Sudhana dipahat di atas batu sedemikian panjang. “Mengapa para arsitek Borobudur memilih memahatkan kisah sutra Gandawyuha bukan sutra yang lain? Itu adalah pertanyaan besar,” kata Mudji yang pernah mempelajari zen di Summer Course Religion and Arts di Ichigaya Sophia University of Tokyo, Jepang. Mudji menambahkan bahwa John N. Miksic, arkeolog National University of Singapore, pernah mengatakan Gandawyuha diterjemahkan secara komplet dalam bahasa Cina pada 798 M oleh seorang rahib bernama Prajna. Sumbernya adalah manuskrip Gandawyuha yang diberikan oleh Raja Orissa, India, kepada penguasa Cina. Gandawyuha kemudian sangat populer di Cina terutama masa Dinasti Song tahun 960-1279 M. “Ini menurut Miksic, tetapi ada indikasi para pemahat Borobudur tatkala memahat relief Gandawyuha sudah memegang atau merujuk versi komplet sebelum terjemahan ke dalam bahasa Cina selesai,” ujar Mudji. Pada masanya, relief Gandawyuha di Borobudur telah menyajikan sebuah visi pluralis. Misalnya, terdapat sosok Mahadewa yang merupakan ikon dewata Hindu. Sosok ini digambarkan lengkap dengan ciri atribut Siwa. “Ini berbeda dengan yang di Cina atau Tibet. Di sana Buddha sama sekali menghilangkan bau Hindu,” lanjut Mudji. Sementara itu, menurut Hudaja Kandahijaya, cendekiawan Buddhis yang meneliti Candi Borobudur, hanya 25 persen guru yang ditemui Sudhana berasal dari kalangan Buddha. Sebanyak 25 persen lainnya adalah makhluk halus, termasuk Mahadewa. Sisanya yang 50 persen berasal dari kalangan lain termasuk Brahmana, cendekiawan, profesional, politikus, dan perumahtangga (umat awam yang hidup berkeluarga). Tak segan pula Sudhana menemui seorang pelacur kelas tinggi bernama Vasumitra. Pasalnya, dalam pandangan Buddha Mahayana semua makhluk bisa ambil bagian dalam hakikat Buddha. “Kebenaran dalam perspektif Gandawyuha bisa datang dari segala lapisan sosial manapun,” kata Mudji. Menurut Mudji, pendapat Hudaja Kandahijaya ini sangat penting. Pembangunan berurutan dua candi besar, Borobudur dan Prambanan, di masa Syailendra sama sekali bukan karena persaingan atau kompetisi agama. “Itu melainkan karena ajaran kebenaran yang tunggal,” jelasnya. Karenanya, Mudji menyatakan relief Gandawyuha bisa menjadi payung untuk mendiskusikan berbagai pengalaman religi dalam semua agama. Tak terbatas pada agama besar, tetapi juga agama-agama yang muncul dari bumi Nusantara yang selama ini termarjinalkan. “Pencarian ketuhanan dalam kisah Gandawyuha sangat universal. Kisah ini mencerminkan tingkat toleransi agama yang tinggi,” katanya.

  • Banda, Titik Nol Indonesia

    SIAPA tak mengenal Banda? Sejak ribuan tahun lalu, gugusan pulau di timur Nusantara itu sudah jadi primadona komoditas rempah dan kerap didatangi para pedagang dari Tiongkok, Arab, India dan Persia. Beralih ke abad 16, Banda mulai jadi rebutan negara-negara kolonialis dari Eropa. Cengkeh dan pala jadi kekayaan alam yang menjadikan Banda sebagai pesona. Adalah Portugis, bangsa asing pertama yang menjejakkan kaki di kepuluan tersebut. Disusul Belanda dan Inggris. Sejak itu, dominasi pedagang Arab dan Tiongkok pun tergusur oleh bangsa Eropa. Sejak bangsa Eropa mencapai Banda, beberapa perubahan dalam perdagangan terjadi. Baik dalam hal ekonomi hingga sosial. Berbagai tragedi pun pernah terjadi. Seperti insiden pembantaian massal yang pernah dilakukan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen di era kejayaan VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur milik Belanda). Di era VOC pula, monopoli cengkeh dan pala diberlakukan. Sistem perbudakan diterapkan. Terjadilah percampuran dalam kehidupan sosial pasca Belanda mendatangkan banyak budak dari berbagai daerah di Nusantara. Kompetisi antarsesama bangsa Eropa juga terjadi. Bahkan, Inggris menukar Pulau Run, pulau mungil yang jadi sentra komoditas pala, dengan Pulau Manhattan yang dikuasai Belanda sebagai salah satu syarat perjanjian damai dalam Perjanjian Breda (Treaty of Breda) pada 31 Juli 1667. Lambat laun seiring zaman kian modern, permintaan akan komoditas pala merosot. Banda lantas lebih dimanfaatkan pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat pembuangan para pembangkang. Sejumlah tokoh macam Cipto Mangunkusumo, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, hingga Iwa Kusuma Sumantri pernah merasakan diasingkan di Banda. Sebagaimana daerah lain di Hindia Belanda, Banda juga lantas jadi bagian dari Republik Indonesia pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945. Sejak itulah banyak perkebunan pala dinasionalisasi. Namun efek dari situasi tersebut menjadikan kondisi ekonomi para petani pala “jalan di tempat” karena kesalahan manajemen yang parah. Sejarah kelam di Banda di zaman Jan Pieterszoon Coen seolah kembali terjadi di Banda pada 1999. Kerusuhan dan konflik horizontal yang terjadi di Ambon, menular sampai ke sana. Kini bersamaan dengan momentum 350 tahun Perjanjian Breda, Banda menyatakan diri hendak bangkit. Tidak hanya ingin maju dalam hal pariwisata yang mempromosikan keindahan alam baharinya, tapi juga kekayaan warisan sejarahnya. Detail-detail soal Banda inilah yang lantas dirangkum sutradara Jay Subyakto dalam sebuah film dokumenter, Banda: The Dark Forgotten Trail . Dalam karya pertamanya di dunia film setelah sempat absen 17 tahun ini, Jay ingin masyarakat Indonesia bisa membuka mata tentang sejarah Banda yang begitu penting tapi seolah dilupakan. “Buat saya, sejarah itu penting. Kalau kita melupakan masa lalu, ya kita enggak akan bisa berhasil di masa depan. Banda sekarang ditinggalkan dan dilupakan sendiri oleh bangsanya. Padahal Banda itu titik nol Indonesia,” tutur Jay Subyakto kepada Historia dalam gala premier filmnya di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Senin (31/7/2017). Untuk membuat film ini, Jay penulis Irfan Ramli melakukan penelitian lapangan termasuk membaca surat-surat pribadi Bung Hatta semasa diasingkan di Banda Neira. “Karena Mohammad Hatta juga termasuk paman saya, jadi saya tahu surat-surat pribadinya selama dia di Banda. Beliau juga sering cerita kepada saya mengenai Banda sebelum beliau meninggal pada 14 Maret 1980,” ujar Jay. Film dokumenter yang beberapa scene -nya diselingi animasi dan wawancara sejarawan Wim Manuhutu, Usman Thaleb serta beberapa orang Banda itu, akan tayang serentak di sejumlah bioskop pada 3 Agustus 2017. “Semoga film ini bisa jadi jendela untuk memahami sejarah bangsa kita. Semoga juga bisa menginspirasi dan menimbulkan semangat kita sebagai bangsa yang besar,” kata produser Sheila Timothy dalam sambutannya jelang gala premier.

  • Tiga Versi Asal Usul Warung Buncit

    SETELAH mendapat penentangan dari warga Betawi, akhirnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghentikan sementara sosialisasi pergantian nama Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, menjadi Jalan Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. Bahkan, Anies berencana mengubah keputusan gubernur yang mengatur soal pedoman nama jalan agar bisa lebih melibatkan pertimbangan berbagai kalangan. Penolakan warga Betawi atas perubahan nama jalan itu terkait nama Warung Buncit yang menyimpan memori kolektif warga Jakarta. Setidaknya ada tiga versi mengenai asal usul Warung Buncit. Versi pertama dicatat sejarawan dan wartawan senior Alwi Shahab dalam bukunya, Robinhood Betawi , berdasarkan penuturan Haji Irwan Sjafi’ie, ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, yang pernah menjadi lurah selama 24 tahun di tiga kelurahan di Jakarta Selatan. Di masa lalu, Jalan Warung Buncit menjadi tempat berbaurnya masyarakat Betawi dengan Tionghoa. Mereka hidup berdampingan tanpa mempermasalahkan ras apalagi agama. Menurut Irwan sejak dulu warga Betawi dan Tionghoa hidup rukun. Sampai tahun 1960-an di tiap lorong dan tempat di Jakarta terdapat pedagang Tionghoa. Mereka membuka warung dan berdagang bahan pokok termasuk rempah-rempah. Masyarakat tidak pernah mempersoalkan kehadiran mereka. “Bahkan, kata Irwan, banyak nama warung yang kemudian terkenal sebagai nama tempat hingga saat ini. Seperti Jl Warung Buncit, karena Cina pemilik warung di sini perutnya gendut alias buncit. Nama Warung Pedok di Tebet, karena Cina pemilik warung kakinya dengdek (pedok),” tulis Alwi. Alwi mendapat informasi letak warung itu dari warga setempat, HA Mas’ud Mardani, yaitu di antara Jalan Mampang Prapatan XIV dan XIII yang kini menjadi bangunan empat lantai milik Yayasan Madrasah Sa’adutdarain. “Sekalipun warung dan pemiliknya sudah lenyap, nama Warung Buncit sampai kini tetap melekat,” tulis Alwi di Republika , 24 Juli 2005. Versi kedua yang “serupa tapi tak sama” terdapat dalam buku 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM. Disebutkan bahwa nama Warung Buncit berasal dari warung milik seorang Tionghoa bernama Bun Tjit, bukan badannya yang buncit. Versi ketiga yang berbeda diceritakan Yahya Andi Saputra, budayawan dari Betawi Kita. Menurutnya, asal-muasal Warung Buncit merujuk pada bahasa Betawi arkais (kuno) yang artinya pos paling ujung atau paling belakang yang ditempati pasukan Kesultanan Mataram dalam penyerbuan ke Kastil Batavia (1628-1629). “Yang menceritakan ada orang Tionghoa yang buka warung kelontong perutnya buncit, itu ilmu ‘Kirata’, ilmu dikira-kira supaya nyata. Cerita fiktif belaka. Warung itu kalau dalam bahasa Betawi arkais, artinya pos, tempat ngaso (istirahat) atau tempat atur strategi. Buncit itu menunjuk nama tempat yang paling belakang. Jadi Warung Buncit artinya pos paling belakang untuk konsentrasi pasukan dalam pengepungan Kastil Batavia,” tutur Yahya kepada Historia. Terkait dua versi sebelumnya, Yahya menganggap itu hanya cerita fiktif yang diceritakan setiap hari agar kemudian seolah-olah cerita itu ada dan benar adanya dan dipercayai sampai sekarang. “Cerita yang katanya pemilik warung (perutnya) buncit, itu kan cerita fiktif. Ya, kalau kita sekarang seperti cerita Harry Potter,” pungkasnya.

  • Koran De Locomotief, Corong Kaum Etisi

    ROBOHNYA bangunan eks kantor redaksi harian De Locomotief adalah kehilangan besar, tidak hanya bagi Semarang, namun juga sejarah di Indonesia. Perlu diketahui bahwa De Locomotief adalah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Semarang. Ia dikenal sebagai corong suara kaum etisi yang mendukung politik balas budi pemerintah kolonial kepada masyarakat bumiputera di Hindia Belanda. Terbit perdana pada 1851, surat kabar ini masih bernama Semarangsch Nieuws en Advertentieblad . Tahun 1863 berubah menjadi De Locomotief . Nama itu dipilih karena pada saat bersamaan masyakat sedang ramai membicarakan rencana pembangunan jalur kereta api, yang merupakan moda transportasi baru di Hindia Belanda. Politik etis menjadi haluan utama De Locomotief . Bahkan, Pieter Brooshooft, salah seorang pemimpin redaksi koran ini, punya andil cukup besar dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat bumiputera tersebut. Bersama C. Th Van Deventer, dia dikenal sebagai pencetus politik etis. Alkisah, setelah melakukan perjalanan mengelilingi Jawa pada 1887, Brooshooft menulis laporan tentang kemelaratan penduduk akibat sistem tanam paksa. Bersamaan dengan itu, dia juga menuntut pembentukan partai Hindia. Dari kantor di Van Hoogendorpstraat 20-22 Semarang, Brooshooft dan penerusnya, seperti Stokvis dan Lievegoed, rajin menulis artikel yang menyerukan perlunya pemerintah kolonial membalas budi kepada masyarakat bumiputera. Mereka juga sigap mengawal pelaksanaan politik etis di lapangan. Kendati demikian, respons Ratu Wilhelmina melalui pemberlakuan program irigasi, emigrasi, dan edukasi untuk rakyat Hindia, tak cukup membuat Brooshooft puas. Dalam keadaan kecewa, dia memutuskan kembali ke Belanda. Tapi sebelumnya, lelaki yang juga seorang sastrawan itu menulis tajuk rencana terakhir di De Locomotief edisi 31 Desember 1903: “Pamitan dengan Orang Sakit.” Sejarawan Universitas Diponegoro Semarang, Dr. Dewi Yuliati, menyebut De Locomotief sebagai media yang mula-mula menyebarkan paham liberalisme di Hindia Belanda. Namun beda dari liberalisme kaum pemodal, liberalisme yang disuarakan De Locomotief bercorak etis. Haluan koran itu mendorong pemerintah menyejahterakan masyarakat bumiputera. “Lepas dari tujuan untuk kepentingan imperialisme Belanda, politik etis membuka jalan bagi kesadaran politik di kalangan masyarakat bumiputera. Buktinya, mahasiswa Stovia yang mendirikan Boedi Oetomo itu. Mereka bisa punya pemikiran maju karena mendapat pendidikan hasil politik etis,” ujar Dewi. Bahkan, De Locomotief memuat selebaran pendirian dan persiapan kongres Boedi Oetomo. Dewi Yuliati berharap, gedung eks kantor harian De Locomotief bisa diselamatkan. Pasalnya, gedung itu merupaka monumen penting bagi sejarah pers dan pergerakan nasional Indonesia.  Khusus untuk Semarang, situs De Locomotief menjadi bukti pertemuan ideologi-ideologi besar yang pernah berkembang di kota ini pada era pergerakan. “Kalau sosialisme diwakili oleh Sarekat Islam Merah, PKI, dan VSTP, dan nasionalisme diwakili cabang partai seperti PNI, Partindo, dan lain-lain, liberalisme diwakili De Locomotief ,” ungkap penulis disertasi berjudul   Dinamika Pergerakan Buruh di Semarang 1908-1926 itu. De Locomotief koran yang berpengaruh dan memiliki pembaca luas. Selain di penjuru Tanah Hindia, ia juga tersebar di sebagian daratan Eropa. Untuk keperluan sirkulasi dan iklan, manajemen merasa perlu menempatkan dua agen besar di Paris dan Amsterdam. Tak hanya kebijakan politik pemerintah, haluan De Locomotief juga mempengaruhi pemikiran sejumlah tokoh, salah satunya R.A. Kartini. Putri Bupati Jepara yang pada masa kemudian ditahbiskan sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia itu, memang gemar membaca koran tersebut. Selain Kartini, tokoh pergerakan EFE Douwes Dekker pernah bekerja di De Locomotief di bawah pimpinan Brooshooft. Setelah itu, dia kemudian bekerja pada Soerabajaasch Handelsblad dan menjadi redaktur Bataviaasche Handelsblad . Meski mengalami pasang-surut, koran ini mampu bertahan lama dalam bisnis persuratkabaran.  De Locomotief bahkan masih terbit pascapengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda tahun 1949. Ia baru benar-benar mengakhiri lelakonnya, lima tahun setelah perayaan satu abad, yakni pada 1956.

  • Keluarga Cemara Menebar Inspirasi

    HOROR, drama-komedi, drama-tragedi, action , sejarah, superhero . Sejak beberapa tahun belakangan tema-tema film itu berseliweran di berbagai bioskop tanah air. Terhitung langka film bertema drama-keluarga, terutama yang bisa dinikmati semua kalangan umur dan menginspirasi, bisa naik tayang ke layar lebar. Celah itulah yang dimanfaatkan rumah produksi Visinema lewat garapan anyarnya, Keluarga Cemara. “Kami merasa butuh film keluarga yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga,” tutur penulis skenario dan produser Retna Ginatri S. Noer kepada Historia. Rencananya, Keluarga Cemara akan tayang serentak di bioskop-bioskop pada 3 Januari 2019. Kendati begitu, beberapa penayangan screening -nya sudah dimulai di beberapa kota sejak awal Desember 2018. Keluarga Cemara adalah “ reborn ” dari serial televisi legendaris Keluarga Cemara yang ditayangkan stasiun RCTI (6 Oktober 1996-29 Agustus 2004) dan TV7 (18 Oktober 2004-30 Januari 2005). KeluargaCemara diadopsi dari cerita bersambung (cerbung) karya Arswendo Atmowiloto di media cetak yang turut dibidaninya pada 1970-an, Majalah Hai . Dalam versi serial, kisahnya berpusar pada kehidupan keluarga Abah yang bersahaja dan jujur di sebuah desa di Sukabumi. Abah mesti mempertahankan kehidupan keluarganya dengan beternak dan menjadi tukang becak pasca-bangkrut dan kehilangan kekayaannya. Publik sempat menganggap cerbung dan serial televisinya kental dengan ajaran-ajaran Kristiani. Namun Arswendo menampik anggapan itu lantaran memang tak merasa memasukkan persoalan agama dalam kisahnya. “Ide dasarnya sebenarnya ingin bertutur tentang kejujuran. Kalau ada orang ingin hidup secara jujur, mungkin apa tidak, ya. Di situ juga menceritakan banyak kisah yang penuh dengan kasih sayang,” ujar Arswendo dalam mingguan Katolik, Hidup, Volume 51 tahun 1997. Upaya untuk Menginspirasi Gagasan untuk mengangkat film bertema keluarga dengan meminjam karya Arswendo berawal dari obrolan suami-istri sineas pendiri Visinema Angga Dwimas Sasongko dan Anggia Kharisma. Angga, kata Gina, yang sejak SMA sudah kerap bikin film bareng dan tentu turut menikmati serialnya di masa muda mereka, lantas menyampaikan ide untuk memfilmkan Keluarga Cemara . Lantaran Keluarga Cemara sangat lekat dengan sosok Arswendo, tim produksi serta sutradara Yandy Laurens lalu berkomunikasi dengan si empunya cerita. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kebetulan, Arswendo sudah lama ingin mengangkat kisah ini ke layar perak dan prinsip-prinsip yang dipunya Visinema dirasa cocok untuk menggarapnya. “Mas Wendo pernah memberikan sinopsis dan skenario yang sudah dia tulis untuk film Keluarga Cemara dalam bayangannya. Ada beberapa titik cerita yang menarik dan sudah ada juga di serial televisinya. Kami baca dan putuskan untuk membuat versi cerita kami sendiri, yaitu kisah awal Abah sebelum Keluarga Cemara yang kita tonton serialnya,” sambung Gina. Soal keputusan itu, Arswendo disebutkan memberi kebebasan pada tim Visinema. Baginya, Keluarga Cemara seperti seorang anak yang sudah dilahirkan dan dibesarkannya. Kini Keluarga Cemara sudah “dewasa”, Arswendo mempersilakan tim penggarap memberi makna baru. “Mas Wendo hanya membaca skenario (versi Visinema) saja. Beliau benar-benar membebaskan. Hanya saja beliau berpesan agar tak menghilangkan ruh kesederhanaan dan representasi keberagaman Indonesia di dalam filmnya,” lanjutnya. Goal film ini yang diinginkan tim penggarap tak lain adalah untuk menginspirasi, tak hanya sekadar nostalgia. Maka dalam prosesnya mereka juga melakukan riset agar lebih relevan bagi keluarga-keluarga Indonesia di zaman now . Retna Ginatri S. Noer, produser cum penulis naskah film Keluarga Cemara “Kisah keluarga otomatis jadi kisah personal buat kami semua. Apalagi meminjam kisah serial yang sudah kami nikmati sejak kecil. Karenanya kami butuh jarak agar lebih paham apa yang dibutuhkan penonton film Indonesia saat ini. Kami juga meriset 150 keluarga di Jabodetabek dari SES A-C (Socio Economy Status A-C) yang baru keluar dari bioskop menonton berbagai film bersama keluarganya,” imbuh Gina. Dalam risetnya, lanjut Gina, tim menanyakan apa yang lazim dihadapi responden sebagai keluarga di era sekarang, ketakutan, hingga harapan mereka terhadap film keluarga. “Tak lupa brand audit Keluarga Cemara. Dengan demikian kami punya data baru yang memperkaya point of view personal kami,” tutur sineas kelahiran Balikpapan, 24 Agustus 1985 itu. Satu pesan lain yang ingin disampaikan dari film Keluarga Cemara adalah, inspirasi bagi setiap keluarga di Indonesia menjadi tempat pertama setiap manusia tumbuh dan belajar menghadapi perubahan-perubahan di segala sendi kehidupan. Ibarat pohon cemara yang evergreen , adaptif, dan tangguh menghadapi cuaca apapun. “Filosofi pohon cemara itu cocok dengan keluarga Indonesia saat ini. Kami berharap penonton punya makna baru yang lebih baik saat merefleksikan hubungan di dalam keluarganya saat menonton Keluarga Cemara . Jika penonton bisa punya momen ini, maka tentu akan makin banyak permintaan film bertema keluarga,” ujar Gina. Untuk mengundang daya tarik, tim penggarap sudah merilis trailer- nya sejak 1 Desember 2018. Peran utama Abah dimainkan aktor Ringgo Agus Rahman bersama Nirina Zubir sebagai Emak. Adapun pemeran Ara dimainkan Widuri Putri Sasono yang tak lain putri pasangan artis Dwi Sasono-Widi Mulia. Sementara, tokoh Euis diperankan Adhisty Zara alias Zara JKT48. Tapi tunggu, ke mana Agil si bungsu yang sama sekali tak nampak batang hidungnya dalam trailer ? Apakah memang sosoknya tetap akan ada sebagai kejutan, atau memang dikisahkan Agil belum lahir? Gina enggan membocorkan. Kalau penasaran, tonton langsung saja filmnya yang akan resmi ditayangkan pada 3 Januari 2019.

  • Keluarga Berencana ala Bung Karno

    SEKALI waktu Presiden Sukarno bercengkrama dengan Duta Besar AS, Howard Palfrey Jones. Jones menceritakan tentang keluarganya. kata Jones, dirinya beruntung memiliki seorang putri yang cantik dan dua orang cucu yang lucu. Tiba-tiba Sukarno menimpalinya dengan kelakar. Jones merekam percakapan itu dalam memoarnya, Indonesia the Possible Dreams . “Kau tentu bukan orang Indonesia,” kata Sukarno kepada Jones. “Orang Indonesia berkembang biak seperti kelinci. Sepuluh, dua belas, empat belas anak. Ini adalah biasa dan kami memiliki negara yang besar.” Sukarno punya pandangan yang berbeda tentang keluarga berencana sebagaimana yang dimafhumi kini. Alih-alih membatasi jumlah anak, Sukarno menginginkan agar setiap keluarga Indonesia beranak pinak dalam jumlah banyak. Gagasan Sukarno ini sangat dipengaruhi tradisi lama: banyak anak, banyak rezeki. Menurut Sukarno, kekayaan negeri Indonesia sanggup mencukupi kebutuhan pangan 250 juta orang penduduk. Ini pernah disampaikannya di hadapan para mahasiswa yang akan mengadakan studi tur ke Sumatera, di Istana Negara pada 9 Juli 1963. Sukarno mengajak para mahasiswa itu memahami kondisi objektif wilayah Indonesia guna memecahkan persoalan demografi. “Jawa sekarang ini mempunyai penduduk 65 juta. Sumatera barangkali bisa memberi makan kepada penduduk 120 juta. Ya wong begitu kok kita mau birth control , Saudara-saudara!,” kata Bung Karno dalam kumpulan pidatonya Warisilah Api Sumpah Pemuda . “(Penduduk) Indonesia sekarang 100 juta, Indonesia bisa memberi makan sedikitnya 250 juta manusia.” Sukarno melanjutkan, selain Jawa dan Sumatera semua wilayah Indonesia menjanjikan untuk kelangsungan kehidupan. Demikian pula halnya dengan Kalimantan, Pulau Seram, Sulawesi, bahkan hingga Irian Barat dengan segala potensi khasnya masing-masing.  Bagi Sukarno yang terpenting bukan membatasi kelahiran bayi. Keluarga berencana dapat diterapkan dengan mengatur jarak kelahiran. Idealnya, kelahiran anak dapat direncanakan dalam periode tiga tahun sekali. “Jangan kok tiap tahun ndhrindhil (lahir) satu, tiap tahun satu, tiap tahun satu, tiap tahun satu. Spacing of birth .  Ya tiga tahunlah sekali,” ujar Sukarno.      Dengan metode “tiga tahun seorang anak”, Sukarno mengatakan, ibu-ibu akan tercegah dari kemerosotan secara fisik.  Sang ibu juga mempunyai kesempatan untuk mengurus anak-anaknya dengan lebih baik ketimbang punya anak dengan jarak rapat. Dengan demikian, kualitas hidup keluarga tentunya jadi lebih semarak dan berwarna. Selama dekade 1950-an di masa pemerintahan Sukarno, Firman Lubis dalam Jakarta 1950-1970 mencatat, tingkat kesuburan atau fertilitas pasangan usia subur di Indonesia kisaran 5,7. Artinya rata-rata setiap ibu di Indonesia mempunyai 5,7 anak. Jangan heran kalau banyak keluarga mempunyai anak sekira 5-6 orang. “Sesudah 1990-an tingkat kesuburan ini turun menjadi 2,7 yang disebabkan terutama karena adanya program nasional KB sejak 1970-an dan perbaikan taraf sosial ekonomi masyarakat,” tulis Firman Lubis. Sukarno sendiri konsisten dengan gagasannya. Pun sepanjang hayatnya, Sukarno merupakan ayah dari banyak anak. Dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat , Sukarno mengenang percakapannya dengan Fatmawati – yang kelak dipersuntingnya sebagai Ibu Negara – kala di pengasingan di Bengkulu. Di suatu sore, ketika keduanya sedang berjalan bersama. “Saya menyukai perempuan yang merasa berbahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak,” kata Sukarno. “Saya juga,” balas Fatmawati. Dan dari Fatmawati, Sukarno memperoleh lima buah cinta pernikahan: Guntur (1944), Megawati (1947), Rachmawati (1950), Sukmawati (1952), Guruh (1953).

  • Senandung Orkes Gambus

    SAAT Ramadan, orkes gambus biasanya memeriahkan suasana bulan suci. Irama musik dan lagunya kental bernuansa padang pasir. Bagaimana ia berkembang di Indonesia? Gambus merupakan salah satu instrumen petik, dengan bentuk menyerupai buah pir. Di Indonesia, menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik , gambus berubah menjadi nama sebuah orkes. Andrew N. Weintraub, profesor musik dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, dalam Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia menulis, gambus diperkirakan dibawa ke Indonesia oleh imigran dari Hadramaut (Yaman). Orang-orang dari Hadramaut mulai berdatangan pada awal abad ke-19. Di waktu senggang, mereka membunuh waktu dengan bermain gambus. Perlahan, gambus malah digemari bukan hanya oleh orang-orang keturunan Arab, tapi juga berbagai etnis lain. “Mereka lantas memainkan musik gambus di acara pernikahan dan perayaan komunitas Muslim,” tulis Weintraub. Seiring waktu, gambus menjadi musik hiburan. Sejumlah orkes gambus berdiri. Selain gambus, alat musik di dalam orkes gambus terdiri dari biola, gendang, tabla, dan seruling. Syech Albar, ayah musisi rock Achmad Albar, merupakan musisi orkes gambus paling masyhur pada 1930-an. Orkes Gambus Syech Albar Syech Albar, pemuda keturunan Yaman yang lahir di Surabaya pada 1908, mempopulerkan gambus melalui corong radio dan rekaman plat gramofon. Pengamat musik Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia menulis, Syech Albar membentuk orkes gambus bernama Al-Wathon. Namun, penulis L.M. Isa dalam majalah Pedoman Radio Gids edisi 4 Desember 1949, menyebutkan bahwa Al-Wathan merupakan nama orkes gambus pimpinan Al Aidrus di Batavia (Jakarta). Bisa jadi nama kelompok kebetulan sama. Weintraub menyebut, Albar menelurkan banyak rekaman di Surabaya. Rekaman plat gramofon yang dirilis pada 1937 diberi judul “Zahrotoel Hoesoen”, dengan keterangan “nyanyian Arab modern”. Lagu itu direkam melalui label His Master’s Voice (HMV). “Albar dapat kontrak pertama kali dengan HMV pada 1931,” tulis L.M. Isa dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Selain di HMV, orkes gambus Syech Albar direkam di label Canary. Weintraub mencatat, label Canary merekam orkes Syech Albar yang bernuansa Hindustan berjudul “Janasib I & II” pada 1939. Dangdut Menurut budayawan Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi, jalan yang dirintis Syech Albar kemudian diikuti pemuda-pemuda keturunan Arab di berbagai daerah. Salah satunya orkes gambus Al-Usysyaag yang dibentuk Husein Aidid di Pekojan pada 1947. “Sejumlah orkes gambus bermunculan di Jakarta, Surabaya, Makassar, Palembang, Banjarmasin, dan Gorontalo,” tulis Alwi . Selain melalui rekaman, radio masa kolonial pun menyiarkan orkes gambus. Menurut Weintraub, biasanya sebuah program radio memainkan warna musik campuran. Misalnya, orkes gambus pimpinan Md. Noer Ali pada 1938, membawakan mars Eropa, lagu Melayu, dan lagu Mesir. Pada 1930-an hingga awal 1940-an, Syech Albar aktif bermain di NIROM Ketimuran Surabaya. Majalah Soeara NIROM Soerabaia memuji orkes gambus Syech Albar sebagai yang terbaik. “Di bawah pimpinan Syech Albar, maka orkes gambus dari NIROM Ketimoeran di Surabaya adalah satu-satunya orkes yang boleh dibanggakan. Terbukti dari adanya laporan-laporan dan surat-surat yang menyatakan baiknya orkes itu,” tulis Soeara NIROM Soerabaia, 16 Mei-29 Mei 1937. Bahkan orkes gambus Syech Albar digemari hingga ke Semenanjung Malaya. Ali Shahab menyebut, orkesnya bahkan disenangi orang di Timur Tengah. Orkes gambus ini kemudian menjadi pondasi awal musik dangdut. Musik yang dirintis oleh Rhoma Irama, Ellya Khadam, dan Munif Bahaswan pada 1960-an hingga 1970-an.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page