Hasil pencarian
Cari di situs ini
10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Keluarga Sam Ratulangi Makan Daun Pepaya Tiap Hari
SAMUEL RATULANGI, tokoh Minahasa yang menjadi gubernur Sulawesi pertama adalah momok bagi pemerintah Belanda. Ratulangi tidak bersedia bekerja sama dengan pihak Belanda yang ingin menguasai wilayah Sulawesi. Selain itu, Ratulangi menghimpun dan melindungi semua kekuatan pro Republik yang tergabung dalam Pusat Keselamatan Rakyat. Akibatnya, pemerintah Belanda mencari cara membungkam Ratulangi. Pada 5 April 1946, Sam Ratulangi bersama enam orang stafnya ditangkap oleh pasukan NICA. Mereka dijebloskan ke penjara Hoogepad, Makassar. Dua bulan kemudian, Ratulangi dan kawan-kawan dibawa ke tempat pengasingan yang mula-mula keberadaannya dirahasiakan. Pada 18 Juni 1946, rombongan Ratulangi ternyata diberangkatkan ke Pulau Serui, Yapen, Papua. Disebutkan dalam buku Atlas Sejarah Indonesia: Gubernur Pertama di Indonesia , pihak Belanda di Serui memaklumatkan larangan kepada penduduk Serui untuk berbaur dengan para tahanan politik dari Makassar. Kehidupan di Serui kian dipersulit dengan perlakuan penguasa setempat yang intimidatif. Menurut Maria Tambayong, istri Sam Ratulangi, setiap hari seorang polisi kolonial dengan menyandang bedil di punggung datang mengontrol para tahanan politik. Soal makanan pun jadi masalah. Di Serui, pasar hanya dibuka dua kali dalam sepekan. Seorang mandor ditugaskan untuk berbelanja bagi keluarga Ratulangi. Untuk tiga hari, keluarga Ratulangi yang terdiri dari lima orang menerima sepotong ikan kecil dan sebuntel besar daun kates (daun pepaya) yang sangat pahit. “Ini adalah makanan kami untuk tiga hari. Semua ini sangat menjengkelkan saya,” tutur Maria Tambayong dalam manuskrip Mengenang 50 Tahun Wafatnya Dr. G.S.S.J. Ratulangie . Sekali waktu, Maria meminta izin suaminya menghadap kepala pemerintah daerah (HPB) Serui. Sam Ratulangi awalnya menolak karena khawatir HPB akan berlaku tidak senonoh terhadap Maria. Ratulangi mengizinkan setelah istrinya didampingi dua rekan Ratulangi yang berbadan besar dan kekar. Dihadapan HPB, Maria mengatakan bahwa oditur militer Belanda di Makassar telah menjanjikan perlakuan yang baik kepada keluarga tahanan politik. Janji itu menyatakan para tahanan politik beserta keluarganya akan diperlakukan sesuai dengan status sosial dan kedudukan mereka sebagai pejabat Republik. Dengan dasar tersebut, Maria melayangkan protes. “Apakah tuan mengira kami kambing yang mau makan daun kates sebanyak itu,” katanya. Mendengar itu, HPB berpikir sejenak. Barangkali karena tersadar, dia mengatakan setiap keluarga tahananan politik akan diberikan jatah 50 gulden sebulan yang bebas dibelanjakan. Selain itu, para keluarga tahanan akan menerima ransum seperti seorang pegawai. Ternyata uang yang diterima dari HPB lebih dari cukup. Setiap bulan keluarga Ratulangi dapat menjamu penduduk sekitar dan keluarga tahanan lainnya. Sukacita semakin bertambah karena polisi kolonial yang berasal dari Sulawesi Utara – seperti halnya Ratulangi – bersikap bersahabat dengan keluarga Ratulangi. Kadang-kadang pada malam hari, mereka muncul di belakang dapur dengan memegang baki yang ditutup serbet putih berisi penganan, kue-kue atau buah-buahan. “Pertolongan orang-orang ini sangat kami hargai,” kenang Maria. Selama dua tahun dua bulan lamanya keluarga Ratulangi berada di Serui. Di sela-sela masa pengasingan itu, Sam Ratulangi tetap giat berjuang dengan mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) bersama Silas Papare. Pada 23 April 1948, Sam Ratulangi dibebaskan. Pemerintah Belanda membawa Ratulangi ke Yogyakarta untuk bergabung dengan pemerintahan Presiden Sukarno. Tugas baru menanti Ratulangi sebagai penasihat pemerintah pusat dan anggota delegasi dalam perundingan dengan pemerintah Belanda.*
- Demi Perjuangan, Pemuda Aceh Palsukan Surat Gubernur Maluku
KETIKA tentara Jepang datang di Aceh, orang-orang Ambon tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) melarikan diri dan berbaur dengan masyarakat. Setelah Jepang kalah, mereka keluar dari persembunyiannya. Mereka yang ditawan Jepang dibebaskan. Mereka berharap Belanda akan kembali dan menerima mereka lagi menjadi serdadu KNIL. Menurut A. Hasjmy dalam Semangat Merdeka, jumlah mereka cukup banyak di seluruh Aceh. Kalau mereka merindukan kembalinya Belanda akan melemahkan Republik di Aceh. Melihat kenyataan demikian, anggota IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) antara lain Azhar Azis, Ghazali Yunus, Teuku Alibasyah Talsya, dan seorang pemuda PTT, membuat “kawat palsu” yang seakan-akan datang dari Gubernur Maluku, Mr. Johannes Latuharhary (menjabat 1950-1955).
- Keakraban Ratulangi dengan Penduduk Serui
SAMUEL Ratulangi, gubernur pertama Sulawesi mengalami rupa-rupa perlakuan tidak adil ketika Belanda mengasingkannya ke Serui, Papua. Pada awal masa pengasingan, Ratulangi sekeluarga diberi makan daun pepaya tiap hari. Cara represi seperti ini cukup membuat Ratulangi sekeluarga mengeluh. Mereka merasa diperlakukan seperti kambing. Selain asupan makan yang memprihatinkan, pemerintah Belanda mendoktrin penduduk Serui untuk menjauhi kelompok Ratulangi. Setelah tiba di Serui dari Makassar pada April 1946, Ratulangi dan rombongannya dipisahkan dari penduduk. Agar menjaga jarak dengan mereka, pemerintah Belanda mengancam warga setempat: barang siapa berani mendekati tujuh oknum berbahaya (Ratulangi dkk) akan ditindak tegas. “Waktu kami masuk di sana, rupanya sudah dikasih bisikan ‘ini hati-hati orang oknum, oknum yang berbahaya’,” tutur Lani Ratulangi Sugandi, kepada Historia . Lani adalah putri ketiga Samuel Ratulangi yang turut serta dalam pengasingan ke Serui. Lani yang bernama asli Everdina Augustina kini berusia 87 tahun dan akrab disapa Oma Lani. Menurut Lani, pemerintah Belanda mencekoki penduduk Serui yang kebanyakan beragama Protestan. Mereka bilang bahwa kelompok Ratulangi merupakan oknum berbahaya sebagaimana antagonis dalam kisah Alkitab. “Masyarakat di situ kan banyak Protestan jadi pakai istilah-istilah dulu saya belum ngerti , kita itu disebut oknum berbahaya pakai ceritera dari Alkitab,” katanya. Seturut dalam penelitian Bernarda Meteray dalam Nasionalisme Ganda Orang Papua, kelompok Ratulangi dilarang mengadakan kontak dengan penduduk setempat. Pemerintah menganggap mereka kriminal yang sangat berbahaya. Namun lamban laun, orang-orang Serui menyadari bahwa Ratulangi dan kelompoknya bukanlah orang yang berbahaya. Pemerintah Belanda pun perlahan memberikan kebebasan kepada Ratulangi sekeluarga untuk berhubungan dengan penduduk Serui. Setiap pagi kala memasak, istri Ratulangi Maria Tambayong membuka jendela dapur rumah. Anak-anak Serui kerap menghampiri dan menyapa keluarga Ratulangi. “Selamat Pagi Tuan, Selamat Pagi Nyonya,” kata mereka. “Anak-anak Papua di Serui itu masih sangat polos dan luhur budinya,” kenang Oma Lani. Sekali waktu, Sam Ratulangi ingin mengubah kebiasaan menyapa anak-anak Serui. Supaya lebih akrab dan tidak berjarak, Ratulangi mengatakan, jika ingin menyapa cukup katakan saja pekik merdeka. Keesokan harinya, anak-anak itu datang dan kembali menyapa. “Merdeka,Tuan! Merdeka, Nyonya!” Walaupun sudah diajarkan supaya lebih setara, salam sapa anak-anak Serui itu tetap tidak seperti yang diharapkan Ratulangi. Meski demikian, Ratulangi berhasil menjalin silahturahmi yang sangat baik dengan penduduk setempat. Simpati dan dukungan orang Serui terhadap Ratulangi pun datang silih berganti. Ketika kebutuhan konsumsi keluarga Ratulangi tercukupi dengan kebijakan berbelanja sendiri, Ratulangi kerap mengundang warga sekitar untuk makan di rumahnya. Bukan hanya itu saja. Di tengah status sebagai tahanan politik, Ratulangi bahkan berhasil mendirikan partai politik Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) dengan menggandeng putra Papua bernama Silas Papare.*
- Jasa Zus Ratulangi
KABAR duka datang dari Negeri Belanda. Sabtu, 15 Februari 2025 lalu, Emilia Augustina Ratulangi wafat di usia yang telah melampaui 102 tahun. Profeser ahli jiwa dan syaraf berdarah campuran Eropa-Minahasa yang sudah lebih dari tujuh dekade di Negeri Belanda ini pernah tinggal di Amerika Serikat dan sebelumnya, ketika Perang Dunia II berkecamuk, tinggal di Indonesia. Usianya masih 23 tahun pada Mei 1945 ketika dia sebagai mahasiswa sekolah tinggi kedokteran (Ika Daigakku) mendengar diadakannya kongres mahasiswa oleh Sendenbu (jawatan propaganda Jepang) yang dipimpin oleh Shimizu. Meski tak diundang oleh pejabat Jepang terkait, mahasiswa Ika Daigakku tetap mengirim delegasinya. Bahkan, saat pesta tape diadakan dalam sebuah kongres di Villa Isola, Bandung yang juga dihadiri Shimizu. “Kalau Nona Ratulangi ada di sini, saya pasti kalah,” kata Shimizu kepada Emilia sebagaimana diingat perempuan yang biasa disapa Zus Ratulangi itu dalam buku Aku Ingat . Nona Ratulangi yang dimaksud Shimizu adalah Emilia, yang karib disapa Zus Ratulangi. Zus Ratulangi merupakan putri Sam Ratulangi –pria asal Minahasa yang sejak muda aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sebagai wakil Sulawesi dan menjadi gubernur Sulawesi pertama setelah Indonesia merdeka– dari istrinya yang berdarah Eropa, Emilie Suzanne Houtman (1890-1951). Seperti ayahnya, Zus Ratulangi aktif dalam gerakan politik sejak masih belia. Kiprahnya dimulai saat dirinya menjadi mahasiswa Ika Daigakku. Namun dia tak ingin “mengekor” pada ayahnya dan lebih memilih jalannya sendiri. Bersama kawan-kawannya di sekolah calon dokter itu, seperti Jo Abdurachman (keponakan Ahmad Subardjo), Janisa Anwar, Soetidja, dan Zuleika Jasin, Zus Ratulangi aktif terlibat dalam usaha perawatan kesehatan bagi romusha (pekerja paksa Jepang) di Bayah, Banten Selatan. Mereka jelas mengalami kesulitan luar biasa lantaran yang mereka punya hanya ilmu merawat, tapi tidak dengan obat dan peralatan-peralatan untuk perawatan yang saat itu langka. Lantaran ingin ikut memerdekakan negerinya sekaligus tak mempercayai Jepang sebagai kolonialis, Zus Ratulangi sukses menghindarkan Gerakan Pemuda Minahasa (Maesa) dari mendukung Perang Asia Timur Raya yang dilancarkan militer Jepang. Alhasil apa yang diharapkan Jepang, yakni dukungan para mahasiswa kepada Jepang dalam Perang Asia Timur Raya, pun tak bergaung. Di Ika Daigakku, upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada Zus Ratulangi dan kawan-kawannya makin besar. Setelah kongres di Villa Isola, mahasiswa Ika Daigakku kian satu suara. Yang ada hanyalah tuntutan kemerdekaan Indonesia. Begitu Jepang di ujung tanduk hingga akhirnya menyerah, para politisi yang duduk di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) maraton menyusun segela “tetek bengek” yang akan digunakan untuk menjalankan negara kelak ketika Indonesia sudah diproklamasikan. Dalam periode inilah orang-orang Kristen dari Indonesia bagian timur cemas oleh bunyi sila pertama Pancasila: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kecemasan itu mendorong Oscar Engelen selaku ketua mahasiswa Kristen mendatangi Zus Ratulangi. Oscar minta kepada Zus Ratulangi untuk dipertemukan dengan ayah Zus , Sam Ratulangi. “Ayahku tinggal di Hotel Des Indes, sama seperti utusan lain dari daerah Aceh. Ayahku mendengarkan segala yang kami ceritakan padanya tentang masalah ini,” Zus menjawab keinginan Oscar. Beberapa hari kemudian, kabar gembira menghampiri para penganut Kristiani, khususnya dari Indonesia Timur. Kecemasan mereka soal bunyi sila pertama Pancasila sirna seiring perubahan bunyi sila tersebut yang menjadi: Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketika kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan kian terbuka, gerakan kemerdekaan Indonesia justru terbagi antara golongan tua yang dipimpin Sukarno-Hatta dan golongan muda yang dimotori Sukarni-Chairul Saleh-Wikana dkk. Golongan muda menginginkan agar Bung Karno selekasnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, sementara yang diminta memproklamasikan justru menolak. Dalam konteks itulah Zus Ratulangi ikut ambil bagian sebagai perwakilan pemuda , dengan ikut menentukan komposisi perwakilan Sulawesi dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan –penerus BPUPK– di Jakarta. “Ternyata di Jakarta, wakil Sulawesi yang dipilih hanya dua orang, yaitu Dr. Ratulangi dan Andi Pangerang Petta Rani. Sesampainya di Jakarta, ketiga utusan ‘diculik’ oleh mahasiswa yang dipimpin oleh Zus Ratulangi, puteri Dr. Ratulangi sendiri, dibawa ke markas mahasiswa di Jl. Prapatan 10. Mereka diminta agar ikut mendesak Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan,” tulis Maulwi Saelan dalam Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa . Setelah Indonesia merdeka, Zus Ratulangi terlibat dalam mengembangkan Palang Merah Indonesia (PMI). Organisasi ini sudah diikuti Zus Ratulangi sejak masih dirintis semasa Perang Kemerdekaan. “Sementara itu saya melibatkan diri dalam pembentukan Palang Merah indonesia. Saya mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa yang telah saya latih dalam PPPK dan membentuk suatu Pasukan Gerak Cepat Penolong Korban Pertempuran. Setelah PMI bermarkas di Hotel Du Pavillion di Jalan Majapahit maka kami menempati deretan kamar sebelah kiri depan gedung utama dan dari situ kami bergerak siang dan malam. Banyak mahasiswa tidur di markas PMI antara lain Yusuf, Husin Odon, Djaka Sutadiwiria, Rohtiatmo, Hendroyuwono, Sularto, dan mahasiswa wanita Mini Suselo, Zus Ratulangi, Karlini Mulia kemudian ditambah dengan Kartini, Fice Senduk, Dalima, ketiga-tiganya bukan murid saya, tetapi sukarelawati yang bersemangat tinggi,” kenang Profesor Dr. Satrio dalam Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio, 1916-1986 . Di bidang politik, Zus Ratulangi aktif dalam Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Dia kemudian menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP; kini Dewan Perwakilan Rakyat). Zus Ratulangi termasuk yang termuda dalam parlemen itu. Setelah 1949, Zus Ratulangi kuliah lagi ke Amerika Serikat sebelum akhirnya pindah ke Belanda hingga akhir hayatnya. Selamat jalan, puspa bangsa!*
- L.H. Krol, Insinyur Belanda yang Gosok Intan Martapura
MARTAPURA dikenal sejak lama sebagai penghasil intan. Kendati Banjarbaru dan beberapa daerah lain di Kalimantan Selatan juga penghasil intan, Martapura tetap menjadi ikonnya lantaran kuantitas dan kualitas intan yang dihasilkannya. “Ia terkenal sebagai penghasil intan terbesar dan berkualitas di Indonesia bahkan dunia. Menurut para ilmuwan, intan Martapura adalah intan jenis sekunder. Karena intan itu hanyut terbawa arus sungai ribuan tahun lalu, kekuatan intan Martapura terseleksi oleh alam, sehingga jauh lebih keras dan padat,” catat Martha Tilaar dalam Sejarah Perjalanan Trend Warna, 1987-2012. Intan Martapura telah lama diusahakan. Para pembesar Kerajaan Banjar telah menjadikan intan di sana sebagai barang berharga sejak dulu. “Raja-raja Banjar dikenal banyak memiliki batu permata yang indah baik itu emas maupun intan. Raja-raja Banjar sering memberikan hadiah berupa perhiasan kepada para tamu kehormatan yang berkunjung ke Kerajaan Banjar,” tulis Fahruddin, pakar bioteknologi lingkungan, dalam Pengelolaan Limbah Pertambangan Secara Biologis.
- Presiden Martir Anti-Nuklir
DUA belas Juni 2019 kemarin mestinya menjadi ulang tahun ke-95 bagi mantan Presiden AS George HW Bush. Sayang, Bush menghembuskan nafas terakhir tujuh bulan sebelumnya, 30 November 2018. Nama Bush dikenal karena keputusan kontroversialnya melancarkan Perang Teluk. Bersama 31 negara lain yang tergabung dalam pasukan Multinasional, Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak pada 17 Januari 1991. Namun, itu bukan satu-satunya kontroversi Bush. Salah satu kontroversi Bush yang jarang diketahui apalagi dibahas orang, yakni keterkaitannya dengan pembunuhan Lazarus Salii, presiden kedua Palau, negera kecil di Kepulauan Mikronesia, Pasifik. Palau dan pulau-pulau lain di Mikronesia merupakan tempat tugas Bush semasa menjadi pilot AL AS di Perang Pasifik. Terlibat dalam beberapa pertempuran hebat melawan Jepang di sana, Bush saat itu menilai Mikronesia secara militer punya posisi amat strategis bagi AS. Pungguk dicinta, ulam pun tiba. AS mendapat hak perwalian ( trusteeship territory ) PBB atas Palau dan wilayah-wilayah lain di Mikronesia pada 1947. Dengan begitu, AS berhak menjalankan pemerintahan di wilayah itu sambil “membimbing” bangsa-bangsa itu menyiapkan diri untuk kelak memiliki kedaulatan penuh. Hak memerintah itu membuat AS tetap menggunakan Kepulauan Marshall di utara Palau sebagai tempat ujicoba nuklirnya. AS juga mulai mengupayakan pembangunan pangkalan militer di Palau untuk menggantikan dua pangkalan militernya di Filipina. Pada 1970-an, Palau dan bangsa-bangsa lain Mikronesia mulai menegosiasikan pengakhiran status perwalian mereka. “Dalam negosiasi di Washington pada Mei 1970 AS mengusulkan bahwa wilayah-wilayah perwalian menjadi wilayah permanennya dengan status ‘Commonwealth’. Itu ditolak delegasi Mikronesia,” tulis Roy Smith dalam The Nuclear Free and Independent Pacific Movement After Mururia. “Mikronesia akan menjadi minoritas non-kulit putih terbaru, terkecil, dan terpencil dalam keluarga politik AS – sepermanen dan se-Amerika, harus kita katakan, orang Indian,” tulis Smith mengutip tokoh kemerdekaan Palau Lazarus Salii. Penolakan tersebut membuat AS setengah hati melepas Palau. “Masih ada hubungan ketergantungan antara Mikronesia dan AS. Meskipun ada seruan untuk otonomi politik langsung, diakui bahwa Mikronesia belum dalam posisi untuk bisa mandiri. Ini berarti bahwa beberapa kompromi harus ditemukan segera dari kemerdekaan itu,” tulis Roy Smith. Negosiasi status Palau berjalan tersendat karena penolakannya terhadap nuklir. Hubungan dengan AS berada di titik nadir ketika Bush menjabat direktur CIA (badan intelijen AS). Selain memerintahkan Brent Scowcroft, teman lama Bush, melakukan penyadapan ilegal atas Palau, Bush menugaskan Scowcroft mempengaruhi tokoh-tokoh kunci gerakan kemerdekaan Palau agar sepemikiran dengan Washington. Bush juga menunjuk Fred Zeder, teman lamanya sesama pilot AL dan pengusaha di Texas, sebagai wakil pribadi presiden untuk urusan negosiasi status Palau. Konflik Palau-AS makin memanas pada 1979 ketika Palau mengadopsi konstitusi yang melarang adanya kapal atau senjata nuklir di wilayahnya. Pemerintahan Ronald Reagan dengan wakil presidennya Bush pun menolak larangan itu. Dalam negosiasi persyaratan dasar Compact of Free Association yang mulai digulirkan pada 1981, AS mendesakkan keinginannya untuk mendapatkan izin penggunaan nuklir secara terbatas jika diperlukan. Kendati belum final, negosiasi membuahkan hasil. “(Palau red .) akhirnya dimerdekakan di bawah Compact of Free Association dengan AS pada 1982. Sebelum perjanjian itu diratifikasi, Harue Remeliik –seorang keturunan Jepang campuran penduduk lokal– terpilih sebagai persiden pertama Palau, dan memulai pemerintahan pada 2 Maret 1981,” tulis Michael Newton dalam Famous Assassination in World History: An Encyclopedia . Namun, masalah nuklir tetap mengganjal hubungan Palau-AS. Sementara AS bersiskukuh untuk menggunakan nuklir dan membangun pangkalan militernya, Palau memilih berada di garis depan gerakan anti-nuklir di Pasifik Selatan. Green Peace dan organisasi-organisasi lingkungan lain menjadi sekutunya. AS makin berang. Namun, konflik itu terhenti sementara begitu Presiden Remeliik tewas ditembak di depan rumahnya pada 30 Juni 1985. “Itu membuka kembali negosiasi perjanjian yang mandek. Sesaat setelah itu, Wapres Bush secara pribadi terbang ke Saipan di Mariana Utara, terletak di utara Palau, tempat kantor pemerintahan perwalian berada, untuk membuka kembali perundingan status yang macet, dan untuk mencapai kesepakatan baru,” tulis Ed Rampell dalam “George HW Bush, Dirty Tricks, and Regime Change in Nuclear-Free Palau”, dimuat di peoplesworld.org . Harapan AS terbuka lebar ketika Lazarus Salii, pejuang kemerdekaan Palau yang dekat dengan AS, terpilih menjadi presiden pada akhir 1985. Dengan pemerintahan Salii, AS menandatangani perjanjian untuk merevisi UU anti-nuklir Palau. Namun, itu hanya manuver Salii. Pengadilan Tinggi Palau kemudian membatalkan perjanjian itu. Diperlukan 75 persen suara pendukung Compact Free Association di kongres untuk bisa membatalkan undang-undang anti-nuklir Palau, demikian putusan pengadilan itu. Untuk melonggarkan ikatannya dari AS, Salii juga gencar mengkampanyekan “Free Association”. Negeri-negeri lain di Mikronesia kemudian mengadopsinya. AS makin berang. Fred Zeder bekerja makin keras untuk menggembosi Palau. “Zeder memainkan peran penting dalam membangkrutkan Palau yang kecil dengan mendukung IPSECO, yang berkedok pembangkit listrik, dengan generator dan penghasil bahan bakar yang terlalu besar untuk Palau yang berpopulasi kecil, tapi memadai untuk menyediakan daya dan bahan bakar bagi pangkalan-pangkalan militer AS di kemudian hari. Satu-satunya cara negara berkembang dapat melunasi utang biaya energinya yang besar adalah dengan menyetujui perjanjian yang disebut Compact of Free Association. Perjanjian itu akan membatalkan konstitusi anti-nuklir Palau dengan imbalan bantuan AS,” tulis Rampell. Pada 1987, teroris mengepung Kongres Palau dan menembak mati beberapa aktivis perdamaian Pasifik. Investigasi dari Kantor Akuntan Publik Kongres AS menemukan adanya aliran dana dari AS untuk membiayai kekerasan politik senilai 2 juta dolar itu. Presiden Salii tak menyerah terhadap keadaan yang ada meski langkahnya sulit. Namun, perjuangannya terhenti ketika pada 20 Agustus 1988 sebuah peluru menembus kepalanya. Pengumuman resmi menyatakan, Salii bunuh diri. Banyak rakyat Palau tak mempercayainya. “Pendahulunya, Haruo Remeliik, presiden pertama Palau, dibunuh tiga tahun sebelumnya. Kemungkinan pembunuhan jelas ada. Bunuh diri tidak sesuai dengan karakter Salii. Dia dikenal sebagai pejuang, seorang pemimpin dengan tekad yang, bahkan jika berbagai kejadian menentangnya, terus berencana dan memperjuangkannya,” tulis Arnold Leibowitz dalam Embattled Island: Palau’s Struggle for Independence .*
- Sisa-sisa F-14 Tomcat di Negeri Para Mullah
SETELAH baku serang sejak 13 Juni 2025, Israel dan Iran sepakat gencatan senjata pada Selasa, 24 Juni lalu. Tidak hanya fasilitas nuklir Iran yang jadi sasaran serangan Israel dan Amerika Serikat, beberapa basis militer Iran juga. Israel juga sempat menyerang sebuah pangkalan dekat Tehran. Mengutip Business Insider , 21 Juni 2025, Tentara Pendudukan Israel (IOF) mengungkapkan gambar satelit mengenai hancurnya sepasang jet tempur F-14 Tomcat Iran akibat serangan-serangan drone mereka. “Sebuah kehilangan lain bagi persenjataan strategis bagi musuh,” kata Juru Bicara IOF Brigjen Effie Defrin. F-14 Tomcat merupakan jet tempur interseptor buatan Grumman yang pernah beken karena dwi-film Top Gun (1986) dan Top Gun: Maverick (2022) karena Tom Cruise yang memerankan tokoh sentralnya adalah pilot AL Amerika. Jet tempur tambun itu jadi andalan Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat pada 1980-an. Kini, “Negeri Para Mullah” (julukan Iran pasca-Revolusi 1979) jadi satu-satunya negara yang mengoperasikan pesawat tempur multi-peran buatan Amerika itu. Mereka mewarisinya dari rezim Dinasti Shah Reza Pahlavi yang mulanya membeli hampir 80 unit namun sekarang jumlahnya sudah berkurang banyak gegara keterbatasan pemeliharaan dampak sanksi-sanksi militer dari Amerika. Salah satu jet Tomcat Iran yang sedang dibidik Israel (X @IDF) Dari Top Gun hingga Perang Irak-Iran Pada akhir 1960-an, AL Amerika membutuhkan pesawat tempur anyar untuk program eksperimen jet tempur VFX guna menggantikan unit-unit jet supersonic jarak jauh McDonnell Douglas F-4 Phantom II. Pabrikan Grumman Corporation sempat mengusulkan proyek pesawat tempur F-111B untuk kebutuhan jet pencegat berbasis kapal induk, namun dibatalkan AL Amerika pada Oktober 1967. “Dua bulan kemudian AL Amerika mengundang masuknya proposal-proposal baru untuk Proyek VFX lanjutan dengan syarat jet tempurnya harus diawaki dua kru dengan kursi tandem, bermesin ganda, dilengkapi sistem persenjataan terbaru, radar yang kuat jangkauannya, serta punya performa tinggi untuk misi jarak jauh, jarak menengah, dan jarak pendek. Ditambah pesawatnya harus bisa mendarat di kapal induk dengan aman ketika membawa aneka persenjataan,” ungkap Terry C. Treadwell dalam The F-14 Tomcat. Dari berbagai pabrikan yang mengajukan proposal, pada Desember 1968 AL Amerika menyambut dua kandidat: proposal dari McDonnell Douglas dan Grumman. Desain purwarupa Model 303E –yang kemudian berubah kode menjadi VFX-1C– milik Grumman kemudian yang terpilih dan mendapatkan kontraknya dari AL Amerika. Butuh dua tahun untuk Grumman membangunnya hingga purwarupanya sukses menjalani uji coba pertamanya pada 21 Desember 1970 atau sekitar sebulan sebelum tenggat waktu kontraknya. Pesawatnya dinamai F-14 Tomcat, sebagaimana kebiasaan pabrikan Grumman menamai pesawat-pesawat berbasis kapal induknya dengan nama-nama fauna, seperti F4F Wildcat, F6F Hellcat, F7F Tigercat, F8F Bearcat, F9F Panther, F-9 Cougar, atau F-11 Tiger. Grumman membangunnya dengan dimensi panjang 19,13 meter dan lebar sayap 19,5 meter ketika dikembangkan dan 11,6 meter ketika sayapnya dilipat. Ditenagai oleh sepasang mesin General Electric F110, jet tempur Tomcat bisa mencapai kecepatan terbang maksimal 2,34 Mach (2.485 km/jam), kecepatan jelajah 420 knot (780 km/jam) dan melesat dengan ketinggian maksimal 16 ribu meter. Sebagai jet tempur multi-peran, Tomcat dilengkapi sejumlah radar dan peralatan avionik canggih dan bisa dipersenjatai sepucuk meriam putar berlaras enam M61A Vulcan kaliber 20 mm, tujuh tabung roket yang bisa membawa 28 Roket LAU-10, aneka macam misil udara, dan bom-bom berpandu laser atau bom-bom curah. AL Amerika pun mulai memesannya untuk menggantikan unit-unit F-4 Phantom II di Skadron Tempur VF-1 dan Skadron Tempur VF-2 yang berbasis di Kapal Induk USS Enterprise. Unit-unit di pesanan pertama itu diserahkan medio 1974 . Menurut Pasquale De Marco dalam F-14 Tomcat: The American Supremacy in the Skies , desain Tomcat nan unik membuatnya populer untuk jadi inspirasi para pengembang game dan industri film. “Salah satu penampilan kondang Tomcat ada di film Top Gun (1986). Di film itu, aktor Tom Cruise memerankan (tokoh pilot berjuluk) Maverick yang bertugas di USS Enterprise. Tomcat juga muncul di sejumlah film lain dan banyak video game sehingga kepopuleran Tomcat dalam pop culture jadi pembuktian tersendiri tentang statusnya yang ikonik sebagai pesawat tempur. Tomcat menjadi simbol kekuatan udara Amerika selama lebih dari 30 tahun,” tulisnya. Namun, Tomcat kurang laris di pasaran. Beberapa negara yang memerlukan pesawat tempur baru seperti Kanada, Jerman, Jepang, dan Iran memang pernah berpotensi jadi pelanggan Grumman untuk penjualan Tomcat. Namun kemudian, hanya Iran yang akhirnya jadi pengguna asing pertama dan satu-satunya. Saat itu Angkatan Udara (AU) Kekaisaran Iran (IIAF) memerlukan pesawat tempur anyar yang kemampuannya setidaknya bisa menyaingi jet tempur supersonic Uni Soviet, Mikoyan-Gurevich MiG-25 “Foxbat”. Selain Grumman, pabrikan McDonnell Douglas juga mendekati pemerintah Iran untuk menawarkan jet tempur F-15 Eagle. Menurut Tom Cooper dan Farzad Bishop dalam Iranian F-15 Tomcat Units in Combat , Grumman sudah lebih dulu melakukan pendekatan kepada Jenderal Hassan Toufanian, medio Oktober 1971. Toufanian bukan sekadar penasihat militer Shah Reza Pahlavi alias Shah Iran, namun juga deputi menteri urusan perang dan direktur Dinas Pengadaan Militer dan Industri Perang Iran. Grumman memperlihatkan informasi-informasi penting tentang F-14 kepada Toufanian. Shah Iran kemudian ikut tertarik pada pesawat itu setelah menjamu Presiden Richard Nixon yang berkunjung ke Iran medio 1972. Sebuah surat perjanjian dengan kepemimpinan IIAF –yang meliputi pesawat F-14– kemudian dikirim ke Kementerian Pertahanan Amerika untuk memulai proses akuisisi. Meskipun begitu, pihak Iran masih menawarkan kesempatan pada McDonnell Douglas untuk mendemonstrasikan F-15A Eagle-nya. Meski Tomcat pada dasarnya berbasis di kapal induk, kecanggihan radar dan persenjataan misil jarak jauhnya jadi pertimbangan lain buat Iran. “Ada beberapa faktor yang memengaruhi pemilihan F-14. Perbatasan utara Iran dengan Uni Soviet dan perbatasan di barat dengan Irak yang terdapat pegunungan sebagai perbatasan alami. Komando Pertahanan Udara membangun radar pos-pos luar di banyak puncak pegunungan itu untuk mendapatkan jangkauan radar yang lebih baik namun kami tak pernah bisa meningkatkan situasi radar di daratan yang lebih rendah. Terlalu banyak ‘titik buta’ dalam hal ini dan stasiun radar berkubah putih besar kami ibarat jadi target sempurna (buat musuh) karena sangat mudah terlihat dari jarak 50 mil. Info intelijen yang kami dapat saat itu memverifikasi bahwa Soviet akan menyerang basis itu lebih dulu,” kenang Kapten (Purn.) Rassi dikutip Cooper dan Bishop. Pada Januari 1974, lewat “Project Persian King” Iran memesan 30 unit pertama F-14 Tomcat dengan 424 misil berpandu radar AIM-54 Phoenix dengan anggaran 300 juta dolar. Beberapa bulan kemudian, Iran menambah pengadaan Tomcat hingga total mencapai 79 unit dengan 714 misil Phoenix lainnya disertai paket-paket peralatan dan perlengkapan pendukung infastrukturnya di Pangkalan Udara (Lanud) Khatami. Namun rezim Shah ditumbangkan oleh Revolusi Islam pada 1979 dan IIAF berubah menjadi AU Republik Islam Iran (IRIAF). Puluhan jet tempur Tomcat itu lalu jadi tulang punggung rezim baru ketika terjun di kancah Perang Iran-Irak (1980-1988). Tomcat-Tomcat itu jadi “lawan tanding” aneka pesawat MiG dan jet tempur baru Dassault Mirage F1 Irak. Menurut Cooper dan Bishop, jet-jet tempur Tomcat setidaknya sukses menembak jatuh 159 pesawat dan 1 unit helikopter angkut SA-321 Super Frelon Irak. Sebaliknya, Irak mengklaim sukses menembak jatuh lebih dari 70 Tomcat Iran meski catatan Amerika menunjukkan hanya sekitar 16 Tomcat Iran yang hancur baik karena misil maupun pesawat-pesawat Irak. Sejak saat itu, Tomcat mulai jarang digunakan IRIAF lantaran Amerika tak lagi sudi menjual suku cadang maupun kebutuhan-kebutuhan pemeliharaan lainnya. AL Amerika sendiri sudah memensiunkan semua Tomcat-nya dan menggantikannya dengan jet tempur multi-peran F/A-18 Hornet sejak 2006. Laman Global Security menyebut, Iran satu-satunya negara yang masih menggunakan Tomcat dengan jumlah sekitar 45 unit.
- Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998
Kerusuhan Mei 1998 menelan banyak korban, termasuk perempuan yang menjadi sasaran kekerasan seksual dan pemerkosaan di berbagai wilayah Indonesia.
- Bung Karno dan Arsitektur
Bung Karno kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB) jurusan Teknik Sipil. Mata kuliah favoritnya adalah menggambar arsitektur. Sejumlah bangunan yang dikenal hingga saat ini mengandung ide dan gagasannya, meskipun ia bukan perancang langsung.
- Kisah Keluarga Resink
DI Kaliurang, sebuah daerah sejuk di kaki Gunung Merapi di utara Yogyakarta, berdiri sebuah villa bernama Van Resink. Nama ini cukup unik karena berbau Belanda. Usut punya usut, dulu memang pernah ada keluarga Belanda kaya di Yogyakarta. Tersebutlah seorang laki-laki bernama Thomas Gertrudes Johan Resink. Makamnya berada di Utara Laya, kota Yogyakarta. Menurut nisannya, Thomas lahir di Banyubiru pada 29 April 1870. Dia adalah anak dari pasangan Albertus Resink dan Johanna Christina de Klerk. Menurut studbook atas nama Albertus Resink, tersua informasi bahwa Albertus lahir di Doetinchem, Gelderland, 24 Juni 1841. Lalu pada 1858 Albertus masuk Akademi Militer dan menjadi kadet bagian zeni. Pada 1862, Albertus dilantik menjadi letnan dua KNIL. Albertus meninggal dunia pada 25 November 1906 di Haarlem. Thomas lahir ketika Albertus masih berdinas. Thomas memilih jadi pengusaha di bidang perkebunan sebagai jalan hidupnya. Namun, Thomas juga pernah menjadi direktur dari NV Cultuur Maatschappij Gedjajan. Koran Indische Courant tanggal 12 Mei 1927 menyebut perusahaan itu didirikan di Semarang. Namun saat itu Thomas tinggal di Yogyakarta. Pada 1927, NV Cultuur Maatschappij Gedjajan terlibat dalam pembukaan perkebunan tebu di Karangwuni (Depok, Sleman) dan Senwono (Mlati, Sleman). Perkebunan itu pengairannya didapatkan lewat sumur-sumur. Nama Gedjajan (yang dieja Gejayan) sendiri mirip dengan nama sebuah jalan yang kini secara resmi bernama Jalan Affandi namun di sana masih disebut Jalan Gejayan. Pada era 1920-an, keluarga Thomas sudah tinggal di Gondokusuman. Thomas menikah dengan Anna Jacoba Wilkens, yang yang makamnya juga berada di Utara Laya. Anna Jacoba Wilkens, dalam nisannya, disebut kelahiran Rau Sumatra, 15 Agustus 1880. Menurut catatan Stuart Robson dalam The Kraton Selected Essays on Javanese Courts, Anna adalah cucu Johannes Albertus Wilkens (1813-1888) yang berkontribusi pada leksikon Jawa abad XIX. Anna amat tertarik pada kebudayaan Jawa. Rumahnya di Gondokusuman pernah dijadikan tempat acara diskusi kebudayaan Jawa. Koran De Locomotief edisi 21 September 1921 menyebut pada Minggu, 11 September 1921 di rumahnya Anna memberikan ceramah tentang benda-benda seni dan kerajinan tangan di hadapan anggota Java Instituut. Anna juga membahas soal tekstil Jawa. Kala itu Anna prihatin dengan kemerosotan seni tenun yang sangat terlihat di seluruh Nusantara. Selain tentang kain, Anna juga membahas soal keris Jawa yang menurutnya terabaikan. Budaya Jawa menjadi merosot setelah kedatangan Islam, menurutnya. Menurutnya ukiran kayu Jawa kala itu sudah menyedihkannya, kecuali di Jepara, di lembah Kraton Solo dan di Bali. Anna berharap adanya kebangkitan seni Jawa. Perkawinan Anna dan Thomas menghasilkan beberapa anak. Ada Anne Resink, yang seperti Thomas juga seorang insinyur. Selain itu ada Gertrudes Johannes Resink yang kelahiran Yogyakarta, 11 Oktober 1911. Gertrudes lulusan Recht Hogeschool (RHS) alias Sekolah hukum Batavia dan dikenal sebagai Han Resink. Anak lainnya adalah Gertrude Anna Resink yang kelahiran 1914. Thomas masih menikmati masa ketika anak-anaknya sudah selesai sekolah tinggi. Namun tak lama. Koran Soerabaijasch Handelsblad, 12 September 1937 menyebut Thomas Resink senior tutup usia pada 8 Desember 1937 di usia 67 tahun. Kala itu anak-anak keluarga Resink ada yang tinggal di Yogyakarta, Semarang dan Bogor. Anna Jacoba dan anak-anaknya melalui masa Perang Dunia II. Thomas Anne mengalami kemalangan karena dia pernah ditawan Jepang. Seperti kebanyakan orang Belanda, keluarga Resink di zaman Jepang adalah tipe orang yang tinggal di kamp interniran Jepang yang penuh derita. Mereka baru bebas pada akhir tahun 1945 begitu Jepang kalah perang. Namun, Anna Jacoba tak sempat merasakan kebebasan karena pada 25 Maret 1945 meninggal dunia di kala tentara Jepang masih berkuasa. Han Resink, yang pernah aktif dalam Stuw-groep —sebuah kelompok pro kemerdekaan Hindia Belanda namun tetap terhubung dengan Kerajaan Belanda— setelah 1945 memilih tinggal di Indonesia. Han tipe seorang intelek dengan banyak karya. Salah satu yang terpenting yakni buku yang membahas tentang ketidakbenaran Indonesia dijajah 3,5 abad oleh Belanda lantaran masih ada kerajaan-kerajaan merdeka yang tidak terikat Kerajaan Belanda pada abad XIX.*





















