top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ahli Medis Belanda Ditipu Tabib Tionghoa

    KEAMPUHAN pengobatan Tiongkok yang berhasil menyembuhkan penyakit lepra dan kaki gajah membuat A. Schultz, petugas kesehatan kolonial di Sambas, tertarik pada pengobatan tersebut. Pada 1848, Schultz melaporkan keinginannya meneliti pengobatan itu pada atasannya di Batavia. Kepala Layanan Medis koloni menyetujui keinginan Schultz dan memintanya mengirimkan formula ramuan itu ke Batavia. Menurut Liesbeth Heeselink dalam Healers on the Colonial Market,  pemerintah kolonial cukup royal membiayai keperluan riset medis. Para fisikawan diperbolehkan meriset segala bentuk pengobatan dan terapi yang digunakan penduduk lokal. Pengobatan asal Tiongkok juga ikut diteliti. Namun, si tabib Tionghoa yang menarik perhatian Schultz enggan memberikan formula obatnya secara cuma-cuma. Ia mematok harga tinggi untuk formula rahasianya. Schultz lantas putar otak mencari bantuan dana untuk menyokong penelitiannya. Wakil residen ikut membantu rencana ini dengan memberi sejumlah uang untuk membeli formula rahasia itu. Pada 1855, formula rahasia berhasil didapat dengan harga 1376.90 gulden (setara ratusan juta nilai uang saat ini). Sayangnya, si tabib keburu kabur sebelum formulanya sempat diuji. Untuk menguji khasiat formula obat dari tabib yang kabur itu, Schultz meminta bantuan seorang lelaki Tiongkok untuk mengenali komposisinya. Tiga pasien direkrut untuk jadi kelinci percobaan. Setelah diuji, formula obat yang rupanya terdiri dari salep, pil, dan rempah tak banyak membantu. Satu pasien yang jadi kelinci percobaan bahkan tewas kendati dua lainnya agak membaik. Untuk menutupi rasa malu akibat ditipu tabib Tiongkok, ada yang mengusulkan agar penelitian dilanjutkan. Pada akhirnya, penelitian itu dihentikan karena efektivitas obatnya meragukan. Usaha dan biaya yang sudah dikeluarkan pun hanya menghasilakn kekecewaan lantaran formula tersebut ternyata tak berkhasiat. Dalam laporannya tahun 1890, inspektur Dinas Kesehatan Sipil Adolphe Guillaume Vorderman menulis, cara paling mudah mendapat resep rahasia dari tabib Tiongkok ialah dengan menemukan mereka yang berutang. Si pemberi utang bisa menekan tabib Tiongkok itu untuk memberikan resep rahasia dan komposisi formula obatnya. Setelah itu baru Vorderman, seperti ditulis Hans Pols dalam “European Physician and Botanists Indigenous Herbal Mdicine in the Dutch East Indies”, akan meneliti dan menganalisis kandungan kimianya. Trik ini dinilainya efektif jika kepercayaan dan hubungan timbal balik tidak membuahkan hasil dibanding membeli dengan harga mahal seperti yang dilakukan Schultz.*

  • Dari Trimurjo, Mitro hingga Metro

    KEBERHASILAN program “ kolonisatie ” (transmigrasi kolonial) di Gedong Tataaan dan Pringsewu di Lampung Selatan mendorong pemerintah Hindia Belanda memperluas cakupan wilayahnya. Setelah kedua daerah itu, pemerintah membuka lagi daerah tujuan transmigrasi, yakni di Trimurjo, Sukadana, Lampung Tengah.   “Pada tahun 1932 pemerintah Hindia Belanda mulai mengirimkan para kolonis  (penduduk) itu ke daerah utara. Mereka ditempatkan di daerah Trimurjo, tepatnya di Desa Adipuro yang dikenal dengan sebutan bedeng 1 atau BD 1,” catat Naim Emel Prahana dalam Cerita Rakyat dari Lampung  Volume 2 .   Pada 1932 itu, pendatang awal masih sedikit karena infrastruktur belum beres. Koran Soerabaijasch   Handelsblad  tanggal 15 Februari 1933 menyebut, pada awal 1933 saja survei untuk pembangunan irigasi belum selesai. Kendati terus berlangsung, sejak 1932 transmigrasi di Lampung Tengah berjalan lambat. Seiring dengannya, segalanya terus dipersiapkan. Baru setelah semua persiapan dianggap beres, pemerintah baru berani mengerahkan para transmigran secara besar-besarn ke sana pada 1935. “Sebelum tahun 1935 di daerah ini telah ditempatkan sekelompok kolonis, tapi pengiriman kolonis secara besar-besaran baru dimulai dalam tahun 1935 setelah diadakan persiapan-persiapan,” catat Sri Edi Swasono dalam Sepuluh windhu transmigrasi di Indonesia, 1905-1985 .  Dalam hitungan bulan, daerah yang disebut Trimurjo itu mulai berubah. Pendatangnya pun mulai bertambah. Perkembangannya mirip Gedong Tataaan yang dimulai sejak 1905. Penghuni daerah transmigran di Gedong Tataan, Pringsewu, dan Trimurjo ini sama-sama berasal dari Jawa. Adalah pertanian yang menjadi tulang punggung kehidupan di sana. Irigasi membuat sawah-sawah yang dibuka oleh para transmigran itu menjadi hidup. Pada 1936 saja, persawahannya sudah terlihat banyak. “Hari ketiga saya tinggal di Lampong saya gunakan untuk mengunjungi daerah koloni baru Trimurjo. Dalam perjalanan ke sana saya pertama-tama mengunjungi pintu air di Way Sekampong, yang menyediakan irigasi untuk wilayah kolonisasi baru,” terang Wedana Pangkah, Tegal Raden Muljadi dikutip De Locomotief  tanggal 4 Maret 1936. “Di pintu masuk ke daerah koloni Jawa saya tidak melihat apa pun di hamparan yang luas, selain sawah-sawah yang diairi dengan irigasi.” Geliat pertanian berarti pertanda kehidupan baik bagi banyak orang Jawa kala itu. Dari sawah-sawah di desa-desa di Sukadana itu, kemudian muncul perniagaan yang mengundang banyak orang datang. Dari sanalah kemudian berkembang daerah baru yang kini disebut Metro. “Terbentukmya Metro bermula dari dibangunnya induk desa baru yang diberi nama Trimurjo yang berarti ‘tiga kebahagiaan’. Dan ing  mengacu pada sumber perairan, yang terdiri dari tiga saluran utama yang terbagi menjadi tiga jalur irigasi,” terang Kian Amboro dkk. dalam Metro Tempo Dulu: Sejarah Metro era Kolonisasi 1935-1942 .  Nama Metro, yang didirikan untuk menampung lebih banyak lagi pendatang dari luar, amat berbau Eropa. Ada beberapa versi mengenai muasal nama Metro sebagai daerah transmigrasi di Sukadana. “Pertama, diambil dari bahasa Belanda, yaitu centrum yang berarti pusat. Kedua, kata Metro  diberikan oleh para kolonial dari Jawa. Jadi, semua kolonis menanggung susah dan senang bersama-sama. Dari persahabatan itu mereka semula menyebutkan tempat itu sebagai Mitro,  berarti teman. Lama-kelamaan pengucapannya berubah menjadi Metro,” tulis Naim Emel Prahana. De Indisch Courant  punya pendapat lain lagi. Dalam edisi 18 Desember 1937, koran tersebut menyatakan bahwa Residen Rookmaker menyebut Metro sebagai awal kata dari Metropolis, namun para transmigran di sana suka menyebutnya sebagai Mitro  (yang artinya teman). Apapun asal namanya, Metro terus berkembang. Koran-koran berbahasa Belanda, seperti Het Vaderland  (2 Desember 1936), menyebut Metro sebagai kota utama di daerah transmigrasi itu. Hingga hari ini nama Metro masih dipakai dan dikenal banyak orang di Lampung. Metro, yang berisikan banyak orang Jawa, dikenal sebagai daerah penghasil pertanian. Suasana perkampungan-perkampungan di Metro pun mirip seperti kampung-kampung Jawa di manapun, baik secara bentuk fisik maupun sosialisasi antarpenduduknya yang memakai bahasa Jawa.*

  • Minyak Mujarab Resep Rahasia Keraton Sumbawa

    SETIAP kembali ke Jakarta, ada tiga jenis oleh-oleh yang dibawa H. Alimuddin HZ (72). Lelaki asal Sumbawa ini pernah tinggal 20 tahun di ibu kota. “Kalau saya mudik, teman atau kenalan selalu ingatkan membawa minyak Sumbawa, madu, dan susu kuda liar,” kata Alimuddin yang sempat bekerja beberapa tahun di Kantor PAB (Pemberitaan Angkatan Bersenjata).

  • Perjalanan Gedung Kebangkitan Nasional

    Dari sekolah kedokteran Belanda School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), hingga kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

  • Serangan Terhadap Anggota Parlemen

    Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, baru saja turun dari mobil di alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, pada Kamis (10/10/2019) siang. Dia berada di sana untuk meresmikan gedung kuliah bersama Universitas Mathla’ul Anwar. Wiranto yang berdiri di depan pintu mobil disambut oleh Kapolsek Menes Kompol Daryanto. Saat bersalaman, tiba-tiba dari arah belakang Kapolsek, seorang lelaki menyerang Wiranto dengan pisau jenis kunai. Wiranto terjatuh, perut bagian kirinya terluka. Kapolsek terluka dipunggung karena diserang istri pelaku. Korban lain yang terluka adalah pengawal Wiranto dan tokoh masyarakat setempat. Setelah mendapatkan penanganan di RSUD Pandeglang, Wiranto diterbangkan ke Jakarta untuk dirawat di RSPAD Gatot Subroto. Pelaku sepasang suami-istri (Abu Rara alis SA dan FD) ditangkap lalu diserahkan ke Mabes Polri. Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan menyebut pelaku terkait jaringan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) Bekasi yang berbaiat kepada ISIS. Penyerangan terhadap pejabat negara juga pernah terjadi 19 tahun lalu. Sasarannya Matori Abdul Djalil, Ketua Umum PKB dan anggota DPR yang kemudian menjabat Menteri Pertahanan (2001-2004). Peristiwanya terjadi pada 5 Maret 2000. Rencananya Matori ingin menikmati pagi dengan bersantai dan rehat sejenak dari aktivitas politik yang melelahkan. Kebetulan rumahnya sedang direnovasi. Dengan mengenakan sarung, dia memeriksa tukang di halaman samping rumahnya di Tanjung Mas, Jakarta Selatan. Sekitar pukul 08.30, seorang laki-laki memakai kaos dan celana training masuk ke pekarangan rumah tanpa mengucapkan salam. Dia memberikan brosur desain interior dengan daftar harga gorden. Matori melayaninya. Beberapa saat kemudian, dia membacok bagian belakang kepala Matori. Matori menangkis dengan tangan kanannya. Akibatnya, kepala dan tangannya terluka. Darah berceceran mengenai pakaian, sarung, lantai, dan tembok. Matori berteriak kepada istrinya, “Bu, ini ada orang gila.” Laki-laki itu melarikan diri dengan rekannya menggunakan motor RX King B 5013 PZ. Melihat Matori terluka, tukangnya mengejar sambil berteriak maling. Massa sekitar kompleks berdatangan dan mengejarnya. Motor yang dikendarai pelaku terjatuh. Seorang menembakan pistol FN 46 untuk menghalau massa. Mereka berhasil meloloskan diri dengan ojek. Karena turun tanpa membayar dan langsung naik angkot, tukang ojek mengejar dan meneriakinya rampok. Dia kembali melepaskan tembakan untuk menghalau para tukang ojek yang mengejarnya. Massa terus mengejar sampai berhasil menangkapnya. Seorang berhasil melarikan diri tapi senjata apinya tertinggal. Sedangkan seorang lagi yang membacok tewas dihakimi massa. Matori dilarikan ke RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dia mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU. Keadaannya membaik setelah luka-lukanya dijahit dengan 30 jahitan. Dugaan Motif Penyerangan Dalam biografi Matori Abdul Djalil, Pergulatan Membela yang Benar, Mahrus Ali dan MF Nurhuda Y. mengungkapkan dugaan motif penyerangan terhadap Matori. Pertama, Matori termasuk salah satu tokoh politik yang getol mendorong agar Soeharto diadili. Sikap ini membuat keluarga Cendana tak terima. Kedua, PKB pimpinan Matori mendukung Presiden Gus Dur untuk mencabut Tap MPRS No. XXV/1966 tentang pelarangan PKI dan penyebaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme. Tap MPRS ini digunakan penguasa Orde Baru untuk merawat stigma komunisme dan membabat organisasi-organisasi yang dicap komunis atau berbasis kiri. “Rencana Gus Dur itu ditolak oleh pendukung Soeharto. Mungkin dari situlah muncul penilaian bahwa Matori (yang Ketua PKB) dianggap PKI dan karena itu harus dihabisi supaya Tap MPRS yang melarang PKI tetap berlaku. Karena itu tidaklah aneh, jika dari kelompok pendukung Soeharto itu muncul plesetan bahwa PKB bukan singkatan Partai Kebangkitan Bangsa melainkan Partai Komunis Baru,” tulis Mahrus dan Nurhuda. Ketiga, selain untuk membungkam Matori, penyerangan itu diharapkan menimbulkan chaos yang akan menurunkan kredibilitas Presiden Gus Dur. Menurut Mahrus dan Nurhuda, pelakunya diduga sama dengan pelaku pemboman Masjid Istiqlal tahun 1999. Suatu perguruan cukup terkenal di wilayah Jakarta mengirimkan satgas sekitar 30 orang untuk memberi pelajaran kepada Matori. Rencananya Matori akan dikerjai saat olahraga pagi di sekitar kediamannya. Karena suasana cukup ramai, akhirnya Matori digarap di rumahnya. Uniknya, dari kelompok ini, teman mereka yang ditugasi membacok Matori kemudian dibunuh juga untuk menghilangkan jejak. Yang mengeroyok pelaku juga teman mereka sendiri. Demikian halnya dengan orang yang berteriak maling dan menyerahkan pistol, juga anggota mereka. Dugaan-dugaan tersebut menyulut kontroversi.Dalam pekembangannya, menurut Mahrus dan Nurhuda,kasus penyerangan terhadap Matori tidak pernah tuntas diungkap, bahkan cenderung ditutupi. Pelaku penyerangan (Sabar alias Tanzul Arifin) memang berhasil ditangkap bahkan hanya dalam empat hari setelah kejadian. Akhirnya, dia dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara. Kelompok Jamaah As-Sunnah Sementara itu, Sukawarsini Djelantik, peneliti terorisme dari Universitas Katolik Parahyangan, mengungkapkan bahwa pelaku penyerangan terhadap Matori adalah kelompok Jamaah As-Sunnah (JA)yang mulai aktif tahun 2000 ketika pecah konflik di Ambon. Kelompok ini menekankan ajaran tauhid dan jihad. Salah satu hal yang dipegang teguh adalah Jamaah As-Sunnah menganggap bahwa demokrasi adalah suatu agama kafir yang tidak boleh diikuti karena demokrasi meletakkan kedaulatan di tangan rakyat bukan di tangan Allah. Ini berarti bahwa demokrasi menjadikan rakyat sebagai Tuhan. "JA melakukan upaya pembunuhan sebanyak dua kali, terhadap Wakil Ketua MPR Matori Abdul Jalil (2000) dan seorang warga negara Amerika Serikat (2007). Matori Abdul Djalil dijadikan sasaran karena diduga mendukung kelompok Kristen dalam konflik Ambon,” tulis Sukawarsini dalam Terorisme: Tinjauan Psiko-Politis, Peran Media, Kemiskinan, dan Keamanan Nasional . Usaha pembunuhan dilakukan pada 5 Maret 2000 oleh dua pelaku anak buah Haris Fadilah alias Abu Dzar, mertua Umar Al-Faruq, tokoh Al-Qaeda yang ditangkap di Indonesia. Sebelum beraksi, kedua orang ini menjalani latihan selama satu minggu. “JA dan AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara) bekerja sama dalam pelatihan militer dan perencanaan pembunuhan Matori Abdul Djalil,” tulis Sukawarsini. “JA memberikan pelatihan pengintaian dan asasinasi kepada anggota-anggota AMIN karena dua alasan. Pertama, tokoh JA dan AMIN berasal dari organisasi Negara Islam Indonesia. Kedua, pemimpin AMIN berhasil meyakinkan pemimpin JA bahwa Matori adalah pendukung pasukan Kristen di Ambon.” Selain dengan AMIN, JA juga bekerja sama dengan Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia, Jamaah Islamiyah, dan Jamaah Tauhid Wal Jihad. JA bekerja sama dengan Laskar Jihad dalam mempersiapkan orang-orang yang akan dikirim ke Ambon. Menurut Sukawarsini upaya pembunuhan terhadap Matori dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, melalui pengintaian ( surveillance ). Kedua, menetapkan jadwal pembunuhan, yaitu Minggu pagi, 5 Maret 2000. Ditentukan pula senjata yang akan dipakai yaitu pistol FN 46 dengan nomor seri 1585794 US ARMY dan sebilah golok (sebagai cadangan). Ketiga, menelepon rumah Matori pada hari H pukul 08.30 WIB untuk menentukan keberadaan Matori. Keempat, bertamu ke rumah Matori dengan berpura-pura menawarkan jasa interior rumah. Kelima, ketika Matori sibuk melihat-lihat brosur yang ditawarkan, salah seorang pembunuh berusaha menembaknya. Namun karena pistolnya macet, kepala Matori dibacok pada bagian belakang. Keenam, melarikan diri. Belakangan sumber kepolisian menyebut pelaku percobaan pembunuhan terhadap Matori Abdul Djalil terkait kelompok Abu Omar yang paling tersohor setelah kematian pentolan teroris Dr. Azhari Husin dan Noordin M. Top. Abu Omar memasok senjata untuk kelompok yang menyerang Pos Brimob di Desa Loki, Pulau Seram, Ambon, pada 2004, yang menewaskan sejumlah polisi. “ juga terkait dengan beberapa kasus terdahulu seperti pada tahun 1999 lalu, kemudian adanya percobaan pembunuhan terhadap salah satu pejabat negara kita,” ujar Kadiv Humas Polri, Irjen (Pol.) Saud Usman Nasution pada 15 November 2011, seperti dikutip tribunnews.com Densus 88 Polri menangkap Abu Omar bersama 18 orang jaringannya pada Juli 2011. Densus 88 menyita belasan senjata api, belasan magazen, seribu lebih butir peluru, teleskop, dan dokumen rencana penyerangan dua kantor Polsek di Jakarta Barat dan kelompok muslim lain.

  • Habibie Menjawab Panggilan ke Tanah Suci

    SOSOK Bacharuddin Jusuf Habibie dikenal sebagai teknokrat yang bergelut dalam bidang sains dan teknologi. Namun di balik itu ia juga sosok yang relijius karena tumbuh di lingkungan keluarga yang kuat agamanya. Rukun Islam pun ia jalankan baik semasa meniti karier di Jerman hingga saat sudah jadi menteri sepulangnya ke Indonesia, termasuk rukun terakhir, haji. Seperti kebanyakan muslim di Indonesia, Habibie termasuk yang lebih dulu menjalani ibadah umrah sebelum berhaji. Habibie yang sudah menjabat menteri negara riset dan teknologi (Menristek) sejak 1978 menjalankan umrah pada 1983 setelah ditegur sang ibunda, Tuti Marini Puspowardojo. “Sahabatmu kan sekarang di Arab Saudi. Aturlah dengan kawanmu itu, kapan kau sekeluarga pergi umrah. Tunaikanlah umrah sebaik-baiknya. Ini semua petunjuk Tuhan dengan adanya temanmu di sana,” ujar sang ibu pada Habibie via telepon, dikutip Andi Makmur Makka dalam True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan.

  • Soeharto Meringkus Tikus

    PRESIDEN Soeharto barangkali satu-satunya presiden Indonesia yang menyatakan maklumat perang terhadap tikus. Tikus di sini bukan bermakna konotatif untuk menyebut koruptor atau penjahat berkerah putih. Namun, tikus yang dimaksud berwujud sebenarnya, yakni hewan pengerat yang acap jadi hama perusak tanaman pertanian.

  • Ani Idrus, Wartawan Perempuan Lintas Zaman

    BEBERAPA waktu lalu, laman google menghiasi wajahnya dengan gambar sesosok perempuan. Dalam keterangannya, soosk itu merupakan Ani Idrus. Penampilan sosok Ani jelas merupakan penghargaan google yang patut diapresiasi. Tak hanya memperkenalkan sosok pejuang perempuan asal Sumatra Barat itu kepada publik, upaya google juga seperti menampar kita, terutama kaum milenial, yang banyak melupakan –lebih parah, tidak kenal– jasanya. Pada secarik kertas, Ani Idrus mencoba membuat karangan pendek tentang gadis-gadis di lingkungan Batavia. Ani lalu memasukkan kertas itu ke dalam amplop putih dan mengirimnya ke kantor pos. Iseng-iseng berhadiah, Ani mencoba mengirim tulisannya itu ke kantor redaksi Majalah Pandji Pustaka di Batavia. Tak berapa lama kemudian, seorang tukang pos datang membawa Pandji Pustaka untuk Ani. Ani langsung buru-buru memeriksanya, halaman demi halaman sampai akhirnya melihat karangannya dimuat majalah itu pada pengujung 1930. Ani melompat girang bukan kepalang. Dipamerkannya tulisan itu pada ibu, ayah tiri, dan kakak-kakaknya. Keluarganya pun amat bangga, pasalnya Ani masih berusia 12 tahun dan masih duduk di Meisjeskopschool Medan. Itulah momen pertama kali tulisan Ani dimuat di media cetak. Keberhasilan itu membuat Ani ketagihan untuk mencoba lagi. Ia pun berusaha mengirim tulisannya ke tempat lain. Ia tak peduli akan dimuat atau tidak, yang penting mencoba dulu dan bakat menulis tersalurkan. Selain aktif menulis, Ani juga hobi bermain musik di Hawaiien Band bersama rekan-rekan sekolahnya. Ketika berusia 16 tahun, Ani mulai ikut dalam organisasi kepemudaan. Ia menjadi pengurus Indonesia Muda Medan dan anggota partai politik Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Ani Idrus ketika menjadi wartawan di Medan. (Repro Ani Idrus: Tokoh Wartawati Indonesia). Ani mendapat dukungan kuat dari orangtuaya. Ketika remaja, ia dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Ia memang cukup beruntung lahir di keluarga berkecukupan. Ani lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 25 November 1918. Ibunya bernama Siti Djalisah dan ayah kandungnya bernama Sidi Idrus. Sejak remaja, Ani tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, Misan. Dengan sepeda dari ibu dan ayah tirinya itu, Ani pergi ke sana-kemari mengunjungi kantor suratkabar di Medan. Pada 1930-an, di Medan ada 3 surat kabar berbahasa Indonesia: Pewarta Deli, Sinar Deli, dan Pelita Andalas. Sementara terbitan berbahasa Belanda ada Deli Courant dan Sumatera Post. Ani lebih dekat dengan para wartawan di suratkabar bebahasa Indonesia. Ia pun diperbantukan di Sinar Deli hingga menjadi wartawan. Ia juga menjadi kontributor di Pewarta Deli dan Pelita Andalas pimpinan Kasoema. Semangatnya untuk mendalami dunia jurnalistik membuatnya berkenalan dengan Hasan Noel Arifin, Arif Lubis, Hasbullah Parinduri (Matu Mona), Burhanuddin Muhammad Diah, dan Mohammad Said yang kelak jadi suaminya. “Saya masih ingat bagaimana Ani Idrus sering datang ke kantor Pewarta Deli  di Jalan Masjid, Medan. Ini terjadi pada 1934. Saya heran kenapa ada anak gadis yang senang bertamu ke kantor kami. Tapi  saya kagum sesudah mengetahui Ani Idrus menjadi anggota keputrian Indonesia Muda,” kata Matu Mona seperti dikutip Tridah Bangun dalam Ani Idrus: Tokoh Wartawati Indonesia. Selain menulis berita liputan, Ani juga menulis cerpen di sejumlah media dengan nama pena Lady Andy. Lewat cerpen-cerpennya Ani selalu menyampaikan bahwa perempuan harus mampu membela haknya dan jangan mau diperlakukan sewenang-wenang. Ia juga mendorong kaum peremuan untuk mengejar kemajuan dirinya. Ketika Mohammad Said mendirikan minguan Seroean Kita pada 28 Juni 1939, Ani ikut menjadi kontributor. Mingguan ini merupakan terbitan politik untuk rakyat, seperti mingguan yang didirikan Mohammad Said sebelumnya, Penjedar. Menurut SK Trimurti, wartawan sezaman yang kemudian menjadi menteri perburuhan, Ani merupakan pejuang perempuan yang tahan banting. Sebab, seperti dikisahkan Matu Mona, pemerintah kolonial senantiasa memadamkan semangat kebangsaan kaum nasionalis. Lebih jauh, pemerintah juga berkeinginan untuk memusnakhkan mereka yang mengkritik kebijakan pemerintah Hindia-Belanda. Kiprah Ani dalam dunia jurnalistik terus berjalan hingga Indonesia merdeka. Bersama suaminya, Mohammad Said, Ani mendirikan harian Waspada pada1947. Bermula dari kolom perempuan di Waspada, ia kemudian mendirikan Dunia Wanita, terbitan yang dikhususkan untuk pembaca perempuan. Kehadiran Ani dalam dunia jurnalistik menjadi hal yang langka di masanya. Angela Rose Romano dalam Politics and The Press in Indonesia: Understanding an Evolving Political Culture  menyebut bahwa Ani Idrus menjadi satu di antara sedikit perempuan yang memegang jabatan tinggi dalam manajemen keredaksian. Pada dekade 1990-an, dari 71 media massa yang ada hanya tiga yang dipimpin perempuan: Surabaya Post dipimpin Toety Aziz, Herawati Diah mempimpin Indonesia Observer yang didirikan bersama suaminya, BM Diah, dan Ani Idrus yang mendirikan Waspada juga Dunia Wanita. Ani bersama wartawan perempuan tersebut merupakan jurnalis senior yang sudah berjibaku sejak era kolonial. “Waktu itu perempuan yang terjun di kalangan pers apalagi pers perjuangan sangat sedikit jumlahnya,” kata SK Trimurti.

  • Mataram Menaklukkan Surabaya

    Mataram di bawah Sultan Agung berusaha menaklukkan Surabaya.

  • Mengapa Penulisan Ulang Sejarah Indonesia oleh Pemerintah Mendapat Penolakan?

    PENULISAN ulang sejarah Indonesia oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan mendapat penolakan dari koalisi masyarakat sipil mulai dari aktivis hak asasi manusia hingga sejarawan yang tergabung dalam Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI). Perwakilan AKSI menyampaikan manifesto penolakan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi X DPR RI pada Senin, 19 Mei 2025. Penolakan tersebut salah satunya didasarkan pada kekhawatiran akan munculnya istilah “sejarah resmi” yang merujuk pada tafsir tunggal pemerintah mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. “Dalam kaitannya dengan sejarah resmi atau sejarah formal, tafsir tunggal berpretensi memiliki kata akhir yang final mengenai segala sesuatu yang bersangkutan dengan sejarah itu. Siapa yang memberi hak kepada pemerintah untuk mengambil alih kuasa menyatakan kata akhir mengenai identitas kita? Itulah kekhawatiran kami dari AKSI,” kata Marzuki Darusman, mantan Jaksa Agung yang juga ketua AKSI, di hadapan Komisi X DPR RI.

  • Jose Mujica dan Revolusi Ganja

    BERKEMEJA garis-garis plus jaket hitam, celana panjang katun hijau, sepatu hitam, dan kacamata hitam, lelaki renta itu turun dari mobilnya VW Beetle “Kodok” tua keluaran 1987. Penampilannya amat bersahaja. Begitulah penampilan Jose Alberto Mujica “Pepe” Cordano dalam sebuah foto yang terkenal.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bottom of page