top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Amerika dan Konferensi Asia-Afrika

    Konferensi Asia-Afrika (KAA) dipandang akan mengancam eksistensi SEATO sebagai pakta pertahanan di Asia Tenggara. Berbagai upaya dilakukan AS untuk menghambat terselenggaranya KAA.

  • Perihal Kerusuhan Mei 1998 hingga Reformasi

    Kerusuhan Mei 1998 terus menjadi diskursus hingga saat ini. Komnas HAM telah menetapkan peristiwa ini sebagai pelanggaran HAM berat, namun penyelesaiannya belum juga tuntas.

  • Perjalanan Habitat Ora atau Komodo Menjadi Tempat Wisata

    RENCANA pemerintah membangun tempat wisata ala Jurrasic Park di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan perdebatan. Terlebih setelah sebuah foto beredar di media sosial sepanjang minggu ketiga Oktober 2020. Foto itu menangkap momen varanus komodoensis atau komodo, hewan khas NTT, berhadapan dengan sebuah truk pengangkut material bangunan.

  • Komodo-komodo Hadiah Presiden Soeharto

    KOMODO atau ora, hewan khas Nusa Tenggara Timur (NTT), belakangan menjadi bahan percakapan utama di media sosial. Pangkalnya rencana pembangunan tempat wisata ala Jurassic Park di Pulau Rinca, NTT. Juga lantaran tersebarnya sebuah foto yang menangkap momen komodo berhadapan dengan truk sepanjang akhir Oktober 2020. Komodo telah menjadi daya tarik dan simbol NTT sejak lama. Karena komodo, dunia mulai mengenal NTT dan penduduknya. Dari tingkat lokal, komodo beranjak digunakan oleh pemerintah pusat sebagai alat diplomasi. Ini dilakukan beberapa kali oleh Presiden Soeharto. Dia punya kebiasaan menghadiahkan komodo kepada pemimpin negara lain. Ikatan khusus Soeharto dengan komodo bermula dari keinginan istrinya, Siti Hartinah alias Tien, membangun museum fauna baru di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada 1975. Sebagai penggagas TMII, dia menginginkan museum itu berisi satwa khas Indonesia.

  • Perlindungan Komodo dari Masa ke Masa

    SEJAK foto komodo berhadapan dengan truk dalam pembangunan “Jurrasic Park” dan video komodo berada di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Pulau Komodo viral di media sosial, binatang tersebut menjadi pembicaraan di mana-mana. Para penyayang binatang, ekolog, pecinta lingkungan hingga masyarakat umum mengkhawatirkan pembangunan bakal menjadi ancaman bagi eksistensi komodo.

  • Ata Modo, Saudara Komodo

    P.A. Ouwens, kurator di Kebun Raya Buitenzorg, senang bukan kepalang menerima sepucuk surat dari koleganya di Flores, J.K.H. van Steyn van Hensbroek pada 1911. Steyn menyebut keberadaan seekor reptil raksasa di Pulau Komodo, sekarang bagian Nusa Tenggara Timur. Mereka kemudian datang ke pulau tersebut pada 1912 dan bertemu langsung dengan reptil itu.

  • Wonosobo Cabang Lampung

    TAK seperti namanya, Kota Agung hanyalah kota distrik di Lampung. Statusnya ibukota dari Kabupaten Tanggamus. Letaknya bukan di dataran tinggi, melainkan di pesisir, tepatnya di Teluk Semangka. Orang Lampung menyebut semangka sebagai semaka . Perkembangan Kota Agung tak bisa dilepaskan dari kolonisatie (transmigrasi kolonial). Setelah kolonisatie  di Gedong Tataan yang dimulai sejak 1905 berdampak baik, program itu diadakan pula di dekat Kota Agung. Lokasinya berada di sisi barat Kota Agung ke arah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. De Indische Courant  tanggal 23 November 1935 memberitakan, koloni (daerah transmigrasi) yang dibuka itu berada dekat Sungai Way Semangka. Untuk menjalankan programnya, orang-orang Jawa lalu didatangkan ke daerah secara bergelombang pada 1920-an. Menurut De Courier  tanggal 15 Juli 1939, daerah itu dibuka pada 1921, sekitar 16 tahun setelah Gedong Tataan. Di kemudian hari, koloni itu dinamai Wonosobo lantaran asal penduduknya. “Pada 1921 proyek lagi di Way Semangka (Kota Agung) untuk orang-orang asal Wonosobo, oleh karena itu desa intinya pun diberi nama Wonosobo,” catat Sri Edi Swasono dalam Sepuluh Windhu Transmigrasi di Indonesia, 1905-1985 . Wonosobo adalah nama sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Tanahnya yang subur membuat penduduknya lumayan padat. Kepadatan itulah yang coba dikurangi pemerintah kolonial dengan transmigrasi ke Way Semangka. Terlebih, udara di Desa Wonosobo dekat Kota Agung juga sejuk, mirip dengan Wonosobo di Jawa Tengah meski tak sedingin Dieng. Sambil membuka desa baru yang diprioritaskan untuk peningkatan pangan dan perkebunan itu, pemerintah kolonial membuatkan jalan aksesnya. De Indische Courant  tanggal 23 November 1935 menyebut jalan antara Lampung dan Bengkulu akan melewati daerah ini juga. Alhasil, transmigrasi di Wonosobo “cabang Lampung” berkembang. Tiap beberapa tahun biasanya ada pendatang baru di daerah itu. Jumlah transmigran pun terus bertambah. Maka pada 1929, pemerintah kolonial berrencana menutup Desa Wonosobo untuk pendatang baru. Namun, masalah di Desa Wonosobo ternyata tak sedikit. Pengairan di sana ternyata bermasalah. Buku Republik Indonesia Sumatera Selatan  menyebut, air di Way Ngarip kadang tidak jelas alurnya dan ini membahayakan persawahan yang ada. Selain pengairan, transmigrasi di Desa Wonosobo itu disebut menyedot anggaran pemerintah cukup besar alias mahal biayanya. Deli Courant  tanggal 6 Oktober 1926 menyebut pemerintah kolonial sampai menganggarkan dana sebesar 30.000 gulden untuk pembangunan daerah transmigrasi itu. Jumlah tersebut meliputi 25.000 gulden untuk pembangunan saluran drainase di Desa Wonosobo dan 5.000 gulden sisanya digunakan untuk berbagai proyek drainase kecil lainnya. Dengan begitu, warga transmigran tidak terganggu banjir dan paceklik jika air salah menggenang. Meski mahal, proyek tersebut diteruskan juga oleh pemerintah kolonial. De Courier  tanggal 15 Juli 1939 menyebut, daerah itu pada tahun 1936 dimekarkan –kini, Wonosobo telah meningkat statusnya menjadi kecamatan– dengan pendirian permukiman di tepi kanan Sungai Way Semangka. Pada akhir Desember 1938, jumlah penduduknya dilaporkan telah mencapai hampir 7.000 jiwa. Para transmigran di Desa Wonosobo hidup turun-temurun. Di Provinsi Lampung itu mereka –seperti juga di daerah-daerah transmigrasi lain– hidup dengan tradisi-budaya seperti di Jawa. Maka di Wonosobo pun bahasa Jawa masih terpelihara hingga kini meski ia tak lagi menjadi daerah tujuan transmigrasi seperti di zaman kolonial.*

  • Laskar Partai Rakjat Djelata Teliti Sinar Matahari

    BANYAK orang berjemur di bawah matahari jam 10 pagi selama 15 menit pada hari-hari belakangan ini. Sejumlah ahli kesehatan menganjurkan tindakan ini sepanjang pandemi Covid-19. Penemuan mereka menyimpulkan sinar matahari pada jam termaksud membantu tubuh memproduksi vitamin D sebagai sumber daya tahan tubuh terhadap virus. Tak hanya berguna untuk kesehatan, sinar matahari juga berpengaruh bagi banyak lini hidup manusia. Antara lain teknologi, industri, pertahanan-keamanan, dan masak-memasak. Sekelompok orang di Indonesia pernah menyelidiki kemungkinan penggunaan energi surya untuk hal-hal termaksud. Yang unik, inisiatif ini muncul dari partai politik gurem, Partai Rakjat Djelata (PRD) pada dekade 1950-an. PRD berdiri di Jakarta pada 1 Oktober 1945. Namanya semula Persatoean Rakjat Djelata. Pendirinya antara lain Abdulrachman (ketua), St. Dawanis, M. Karnawidjaja, dan Soerip Soprastijo. “Semuanya tanpa masa lalu yang terkenal dalam gerakan politik,” catat sejarawan Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 2.

  • Alkisah Ibu Termuda dan Ibu Tertua

    TERLEPAS dari mulai banyaknya perempuan berstatus menikah yang memilih child free  di era sekarang, masih lebih banyak yang bangga menjadi ibu. Tak terhingga jumlahnya, dari mereka yang masih hidup dalam keluarga utuh maupun sudah jadi ibu tunggal, turut merayakan Hari Ibu Internasional yang tahun ini jatuh pada Minggu (11/5/2025).  Berbeda dari Hari Ibu di Indonesia yang diperingati setiap 22 Desember, Hari Ibu Internasional dirayakan di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan 22 negara Eropa setiap hari Minggu kedua bulan Mei. Tahun ini momennya jatuh di tanggal 11 Mei. Hari Ibu Internasional diinisiasi oleh tokoh Anna Maria Jarvis di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Anna merupakan tokoh perempuan. “Anna Jarvis terinspirasi dari ibunya, Ann Reeves Jarvis yang pernah mengorganisir Mother’s Day Work Clubs untuk memperbaiki kebersihan dan kondisi kehidupan baik untuk para keluarga prajurit Serikat maupun Konfederasi selama Perang Saudara (1861-1865). Sepeninggal ibunya pada 1905, Anna Jarvis mewacanakan Hari Ibu untuk menghormati pengorbanan para ibu demi anak-anaknya sekaligus mempromosikan perdamaian,” tulis Jodie Stout dalam Maternal Legacy: A Global Journey of Mother’s Day Celebrations. Jarvis memulainya seiring agenda peringatan tiga tahun wafat ibunya sekaligus menghormati semua ibu pada misa di Gereja Methodis Episkopal Andrews di Grafton, West Virginia pada 10 Mei 1908. Ia membagikan hadiah hingga sejumlah kartu pos liburan, dan aneka karangan bunga kepada para jemaatnya. Belakangan, Jarvis juga memanfaatkan inisiatifnya itu untuk turut memperjuangkan hak-hak perempuan yang masih sangat dibatasi di Amerika dan Eropa.  Upaya Jarvis tak sia-sia. Pada 10 Mei 1913, Parlemen Amerika mengesahkan resolusi yang mengakuinya sebagai hari nasional di Amerika. Setahun berselang, Kongres Amerika mengesahkan undang-undangnya, di mana Hari Ibu ditetapkan diperingati setiap hari Ahad kedua di bulan Mei. Penetapannya diproklamirkan Presiden Woodrow Wilson pada 9 Mei 1914.  “Dalam catatan sejarahnya, Hari Ibu itu kemudian berkelindan dengan banyak isu sosial dan hak-hak perempuan, berkaca dari perjuangan Jarvis dengan kampanyenya kepada para politisi, pengusaha, dan tokoh-tokoh perempuan agar mereka membuat sebuah hari khusus untuk menghormati para ibu dan meningkatkan status perempuan. Belakangan, Hari Ibu juga diasosiasikan untuk mengadvokasi kesehatan ibu hamil. Tidak sedikit organisasi yang memanfaatkan momen (Hari Ibu) ini untuk mengungkit kepedulian tentang pentingnya akses terhadap kualitas kesehatan ibu dan anak,” tukas Stout.  Isu terakhir itu sangat penting. Data dari Pan American Health Organization (PAHO) , angka kematian ibu di seluruh dunia pada 2023 mencapai sekitar 260 ribu jiwa, di mana 87 persennya terjadi di kawasan Sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara. Sedangkan data Kementerian Kesehatan RI  mengungkapkan bahwa Indonesia jadi negara tertinggi kedua di Asia Tenggara dalam angka kematian ibu (4.129 kematian pada 2023). Oleh karenanya, kondisi kesehatan ibu dari berbagai aspek masih sangat penting diperhatikan agar tak terjadi lagi kasus-kasus perempuan di bawah umur atau bahkan lanjut usia (lansia) masih melahirkan lantaran rentannya kondisi fisik, seperti yang dialami Lina Medina di Peru dan Erramatti Mangamma di India. Lina Medina dan bayinya (kiri) dan Erramatti Mangamma bersama anak kembarnya. (Majalah Life , 15 Desember 1947/ovogenebank.com). Kasus Lina Medina dan Erramatti Mangamma Hari itu, 14 Mei 1939, tangis seorang bayi laki-laki pecah di sebuah rumahsakit umum di Pisco, Peru. Sang bayi yang lahir dengan selamat dengan berat sekitar 2,7 kilogram itu diberi nama Gerardo untuk menghormati dokter kandungan yang menangani proses persalinannya, dr. Gerardo Lozada.  Tidak ada yang aneh dari sang bayi dan kondisinya pun sangat baik. Yang menjadi sorotan hanyalah sang ibu, Lina Marcela Medina. Sebab, ia melahirkan bayinya itu di usia 5 tahun, 7 bulan, dan 21 hari. Tak ayal hingga kini Lina Medina tercatat sebagai perempuan termuda yang menjadi ibu tepat di Hari Ibu Internasional tahun itu yang jatuh pada 14 Mei. Lina Medina sendiri lahir pada 23 September 1933 di Ticrapo, Peru sebagai anak kedelapan dari sembilan bersaudara di keluarga pasutri Tiburelo Medina dan Victoria Losea. Kasusnya mencuat bermula dari kecurigaan orangtuanya mengetahui kondisi perut Lina Medina yang membesar. Namun kemudian orangtuanya enggan memeriksakannya ke dokter.  “Orangtuanya dari keluarga miskin hanya bisa meratapi puterinya yang mengalami mual-mual, kehilangan nafsu makan, dan perutnya yang membengkak. Seorang opsir polisi di Desa Ticrapo-lah yang mendesak sang ayah untuk membawa puterinya ke rumah sakit di Pisco,” tulis William Krehm di artikelnya yang dimuat majalah  Life  edisi 15 Desember 1947, “What has become of Lina Medina”.  Di rumahsakit itulah Lina Medina ditangani dokter kandungan yang juga direktur rumahsakit, dr. Gerardo Lozada. Mulanya dr. Lozada mencurigai Lina Medina mengidap tumor. Namun setelah memerhatikan beberapa kondisi lain yang salah satunya payudara sang pasien membesar, Lina Medina disimpulkan hamil dan hasil diagnosanya menyatakan usia kandungannya sudah tujuh bulan.  Bagaimana bisa gadis cilik berusia 5 tahun dengan berat badan hanya sekitar 30 kilogram bisa mengandung? Hal itu jelas memicu kehebohan, tidak hanya di Peru tapi sampai ke Amerika Serikat. Dr. Lozada sendiri mendapat izin untuk mendokumentasikan kasus itu dari keluarga pasien dengan alasan dokumentasi saintifik yang ditembuskan ke Akademi Medis Peru. Sedangkan sebuah rumah produksi di Amerika yang menjajaki kemungkinan memfilmkan kasus itu dengan tawaran 5 ribu dolar ditolak keluarga pasien. Setelah ditelusuri lebih lanjut secara medis, ternyata hal itu memungkinkan karena Lina Medina mengalami pubertas dini atau kondisi perkembangan seksual yang lebih awal dari yang umum. Hasil lain dari pemeriksaan medisnya juga menyatakan bahwa Lina Medina sudah mengalami menstruasi secara rutin sejak di usia 3 tahun.  Namun karena kondisi dan bentuk bagian panggul Lina Medina masih belum memungkinkan untuk bisa bersalin secara normal, dr. Lozada memutuskan untuk melakukan persalinan dengan bedah caesar dengan dibantu dua koleganya, dr. Busalleu dan dr. Colareta yang melakukan prosedur anestesinya. Selain namanya digunakan sang bayi yang baru dilahirkan itu, dr. Lozada juga menjadi ayah asuhnya karena sempat merawat sang bayi di klinik dan kediamannya di Lima sebelum diserahkan kembali ke ibu kandungnya. Jika dr. Lozada dianggap ayah angkat, siapa sebenarnya ayah kandung sang bayi atau orang yang menghamili Lina Medina?  Dari penelusuran aparat kepolisian, terkonfirmasi bahwa Lina Medina hamil sebelum ia merayakan ulang tahun yang ke-5. Ada dugaan ia jadi korban rudapaksa namun kasusnya begitu samar karena Lina Medina sendiri tak pernah bisa mengidentifikasi orang yang menghamilinya. Ayah Lina sempat jadi tersangka dan ditahan dengan tuduhan pelecehan seksual anak di bawah umur namun kemudian dibebaskan karena aparat kepolisian tak bisa menemukan bukti-buktinya.  Terlepas dari itu, sebagaimana kondisi puteranya, Lina Medina dalam kondisi baik pasca-melahirkan. Lina Medina tetap bisa tumbuh dan meneruskan pendidikannya. Dia kemudian menikah dan melahirkan anak keduanya pada 1972. Hingga kini di usianya yang ke-91 tahun, Lina Medina tak pernah berkenan diwawancara media massa manapun.  Beda Lina Medina, beda pula dengan Erramatti Mangamma di India. Lahir di Hyderabad, India pada 1 September 1946, Mangamma jadi ibu dengan usia tertua, 73 tahun, ketika melahirkan sepasang bayi kembar pada 5 September 2019. Mangamma sudah diperistri Sitarama Rajarao pada 1962 ketika ia masih gadis. Namun ia dan suaminya tak kunjung mendapat keturunan hingga akhirnya pada November 2018 memberanikan diri untuk berkonsultasi dengan ginekolog dr. Shanakkalaya Umashankar di Klinik Ibu dan Anak Ahalya di Guntur, Andhra Pradesh, India. “Hari itu 12 November 2018 ketika sepasang lansia datang berkonsultasi. Butuh beberapa menit sebelum mereka bicara dengan ragu-ragu bahwa mereka ingin punya anak. Mulanya ia (Mangamma) berbohong pada kami dengan mengatakan usianya 65 tahun. Kami tahu fakta sebaliknya setelah sang suami dan keluarganya mengisi data catatan sekolah yang memperlihatkan tanggal kelahirannya, 1 September 1946,” kenang dr. Umashankar, dikutip Gulf News , 5 Juli 2022.  Pada akhirnya, lansia itu menyatakan siap melakukan in-vitro fertilization  (IVF) alias “bayi tabung”. Keduanya tentu sadar akan risikonya mengingat usia Mangamma sudah tergolong lansia. “Meski begitu juga beberapa hal mengenai konsepsi pasien masih cukup samar. Memang laporannya menyatakan ia menjalani IVF tetapi dalam laporan itu tidak disebutkan secara langsung apakah yang digunakan dalam proses itu adalah sel telur pasien sendiri atau sel telur dari pendonor. Pasalnya seiring perempuan makin tua, jumlah dan kualitas sel telurnya makin menurun sampai akhirnya mencapai menopause.  Kesuburan perempuan lazimnya mulai menurun setelah usia 37 tahun. Mendapatkan kehamilan di atas usia 44 tahun sangat sulit dan juga menimbulkan risiko keguguran,” ungkap Claudia de la Cuesta-Ransom dkk. dalam Understanding the Path to Menopause: A New Perspective on Perimenopause and Menopause. Dengan alasan usia pasien yang sudah lansia, dr. Umashankar pun menangani persalinan Mangamma dengan bedah  caesar  pada 5 September 2019. Pasutri lansia itu pun akhirnya berbahagia setelah bayi kembar mereka berjenis kelamin perempuan yang dinamai Rama Tulasi dan Uma Tulasi lahir dengan keadaan sehat. Namun, Mangamma kemudian mesti mengasuh keduanya sendirian lantaran sang suami, Rajarao, wafat karena serangan jantung pada 2020.*

  • Hari Pendidikan Nasional

    Setiap tahun, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei. Tanggal ini merupakan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.

  • Insiden Gangster Belanda di Petojo

    BARANGKALI orang tak tahu apalagi peduli bahwa nama gang ini berasal dari nama tuan tanah Hauber di zaman Hindia Belanda. Namun orang tahu bahwa gang ini adalah gang kenikmatan duniawi zaman itu. Gang ini salah satu tempat berfoya-foya buat mereka yang punya uang lebih. Letaknya di daerah Petojo, tidak jauh jauh dari istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Saking besarnya “pasar”, bisnis esek-esek di Gang Hauber –meliputi Hauber Kecil I, II dan III– pun meluas. Het Nieuws van den gag voor Nederlandshc Indie  tanggal 28 Juni 1939 menyebut, bisnis ini merembet ke rumah-rumah besar dan terang di Petojo Ilir. Pelacuran jadi berkembang di sana pula. Di Petojo Ilir, pelacuran itu tak tampak suram dibandingkan yang di Gang Hauber. Dari Gang Hauber lalu muncul nama Jozef de Winter (23 tahun) dan Cornelis Scipio Blume (25 tahun). Dua pemuda Eropa itu merupakan gangster di sana. Keduanya diduga dari kelompok geng berbeda atau mungkin terpecah. Pada Selasa, 27 Juni 1939, pagi sekitar pukul 07.30 waktu setempat, keduanya bertengkar di Jalan Cideng. Scipio bersama kawan-kawannya dan mereka bawa senjata pisau dan pistol. Sebuah tembakan lalu meletus dan mengagetkan orang sekitar. Setidaknya ada empat tembakan yang meletus pagi itu. Jozef hanya bisa membela diri dengan golok. Jozef yang terdesak kemudian kabur ke arah Cideng Barat dengan luka-lukanya yang parah. Dia terus dibuntuti beberapa kawan Scipio ke arah sebuah rumah. Orang-orang yang melihat, ketakutan. Jozef yang lemah itu pun lalu tewas. Melihat Jozef tewas, kawan-kawan Scipio, salah satunya Dessie alias Nettel, pun menghilang. Scipio sendiri kemudian menuju Petodjo Ilir 7, ke tempat tinggal perempuan bernama Annie. Scipio langsung menuju kamar Annie. “Jangan, Cor! Jangan, Cor!” kata Annie pada Scipio, yang biasa disapa sebagai Corrie. Tetangga Annie berteriak begitu menemukan dua orang telah menjadi mayat.  De Locomotief tanggal 30 Juni 1939 menyebut, yang menjadi mayat itu adalah Scipio dan Annie sendiri. Keduanya tewas dengan luka-luka tusuk. Diperkirakan, setelah menusuk Annie hingga parah, Scipio bunuh diri. Polisi dan Jaksa kemudian datang menyelidiki dua korban dengan banyak luka tusuk itu. Dari hasil penyelidikan, didapati bahwa Scipio alias Corrie adalah orang yang membawahi beberapa perempuan, semacam germo. Annie termasuk yang dinaungi Scipio, bahkan Annie adalah perempuan kesayangan Scipio. Sebelum kejadian, Jozef sebagai anggota geng yang tewas pernah ikut menyerang sebuah hotel milik orang Tionghoa di Schoolweg Noord (sekarang Jalan Dr. Sutomo). Beberapa hari sebelum kejadian, Jozef membela keponakanya yang bertengkar dengan seorang Arab. Orang Arab itu ternyata kawan Scipio. Sepupu Jozef juga terluka dalam peristiwa itu. Orang Arab tadi lalu mengadukan perseteruannya itu kepada Scipio. Sampai akhirnya terjadi peristiwa nahas tadi. Ada dugaan bahwa Scipio marah kepada Jozef karena adanya hubungan antara Annie dan Jozef. Scipio tampak tak ingin kehilangan Annie, yang bukan orang Eropa totok. Rasa memiliki Scipio pada Annie begitu besar hingga dia juga akhirnya membunuh Annie sebelum membunuh dirinya sendiri. Rupanya, orang-orang Belanda atau Eropa yang –menduduki strata teratas dalam sistem sosial rasis Hindia Belanda– dianggap sebagai golongan terhormat pun ada yang masuk dalam dunia hitam. Jauh dari kata terhormat. Begitulah kisah dunia bawah atau dunia hitam di Batavia zaman kolonial. Nama Gang Hauber sendiri disebut Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi kemudian diganti menjadi Gang Sadar, yang menghubungkan Jalan Cideng Timur dan Jalan AM Sangaji.*

  • Atap Kubah

    Mayoritas masjid memiliki atap kubah guna meneguhkan gaya keislaman. Padahal dalam sejarahnya, teknik membuat atap kubah berkembang jauh sebelum Islam.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page