top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pesona Zhou Enlai dalam Konferensi Asia Afrika

    REPUBLIK Rakyat Tiongkok (RRT) jadi kekuatan baru di Asia setelah Perang Dunia II. Namun, negara pimpinan Mao Zedong berjuluk “Negeri Tirai Bambu” itu juga tertutup terhadap dunia luar. Itulah sebabnya, ketika Konferensi Asia Afrika (KAA) dihelat pada 70 tahun silam, kehadiran delegasi RRT termasuk yang sangat ditunggu-tunggu publik dan pers Indonesia maupun asing.

  • Mengulek Sejarah Sambal

    SAMBAL tak bisa dilepaskan dari hidangan orang Indonesia. Bahkan nyaris setiap daerah memiliki versi sambal masing-masing dan beragam hidangan yang diolah dengan bumbu cabai. “Sambal memang khas Indonesia. Saya tak menemukan sambal seperti di Indonesia di negara-negara lain,” kata Andreas Maryoto, wartawan Kompas yang menekuni sejarah kuliner.

  • Rasisme di Titik Nol

    PIALA Dunia 2010 di Afrika Selatan tak bisa lepas dari peran Nelson Mandela. Dia berhasil meyakinkan badan sepakbola dunia (FIFA) bahwa Afrika Selatan siap dan bisa menjadi tuan rumah –12 tahun setelah Afrika Selatan kembali menjadi anggota FIFA. Mandela pula yang menggunakan Piala Dunia yang lain untuk mempersatukan Afrika Selatan: Piala Dunia Rugby.

  • Kisah di Balik Gudeg

    BELUM juga pukul 07.00. Tapi pos kamling di depan Hotel Grage Ramayana, Jalan Sosrowijayan Yogyakarta, dirubung banyak orang. Di tempat itu Mbah Lindu berjualan gudeg setiap pagi. Orang lokal, luar kota, bahkan bule rela mengantre. Maklum, lokasi berjualan Mbah Lindu berada di tengah-tengah kawasan hotel, tak jauh dari Malioboro. Ditambah lagi ketenaran gudeg Mbah Lindu yang dikenal sebagai gudeg tertua di Yogyakarta.

  • Demam Sepeda 1990-an

    Seorang pemotor roda dua mengacungkan jari tengah ke arah pesepeda balap. Dia kesal lantaran jalannya tertutup rombongan pesepeda balap di lajur kanan Jalan Sudirman, Jakarta. Kejadian ini terekam dalam foto yang viral di media sosial pada akhir Mei 2021. Tindakan pemotor itu mendapat dukungan. Banyak orang memendam kesal pada perilaku srantal-sruntul pesepeda belakangan ini seiring tingginya minat pada kegiatan bersepeda. Demam bersepeda telah melanda kota-kota besar dunia sejak pandemi Covid-19. Beberapa pemerintah kota di Eropa dan Asia bahkan menjadikan momentum ini untuk merapikan jalur bersepeda dan menertibkan pesepeda. Di Indonesia, demam sepeda agak sedikit berbeda. Sepeda tak hanya untuk transportasi, tapi juga buat olahraga dan rekreasi. Demam sepeda bukan kali ini saja terjadi di Indonesia. Awal dekade 1990-an, demam sepeda pernah melanda Indonesia. “Pamor sepeda memang sedang naik. Dari sekadar sebagai kereta angin atau alat angkut murah-meriah di desa-desa, ia kini tampil lebih bergengsi di antara ‘orang kota’,” sebut Femina , No. 30, Agustus 1992. Di Jakarta, ratusan pesepeda turun memenuhi jalan tiap minggu pagi. Aktivitas kegiatan mereka berada di sepanjang jalur Senayan-Sudirman-Thamrin-Monas. Mereka membaur bersama ribuan orang lainnya yang menikmati olahraga pagi itu. Macam-macam olahraganya. Senam, sepatu roda, lari, sampai sepakbola. Tiap hari Minggu, kendaran bermotor hanya boleh melewati jalur lambat di sepanjang jalan Senayan-Sudirman-Thamrin-Monas. Ini memberi ruang bagi pesepeda santai untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. “Para orangtua asyik bermain sepeda dengan anak-anak mereka,” catat Matra , No. 31, Februari 1989. Beberapa penggemar sepeda lainnya memilih blusukan ke kampung daripada merasakan jalan ibu kota. Mereka menggunakan sepeda gunung (MTB/Mountai Trail Bike). Masa ini MTB sangat populer karena bisa menempuh jalan aspal, becek, dan masuk kampung. Merknya dari Federal (produksi dalam negeri ) , Raleigh, Specialized, Veetus, Peugeot, Cannondale, Litespeed, Colnago, dan Miyata . Para pesepeda yang gemar blusukan ke kampung ini berasal dari beragam latar belakang. Ada Direktur TV Swasta, dokter, pengusaha muda, dan ibu rumah tangga. Jalan kampung yang becek dan licin kadang memaksa mereka turun dan memanggul sepedanya. Tak sedikit pula yang hampir terjatuh. Tapi mereka tetap senang. Sesekali mereka menyampaikan salam kepada orang-orang kampung. “Melambaikan tangan pada anak-anak di pinggir jalan tanah yang kadang becek dan licin,” sebut Femina . Saking senangnya, pesepeda blusukan kampung ini sering lupa waktu. “Janji pulang pukul sembilan pagi, ternyata baru nongol pukul dua belas siang. Kita jadi suka dinomorduakan,” kata Yuni Djamaloedin, istri pengusaha Nasri Fazil Djamaloedin. Mulanya sang istri marah-marah kepada suaminya. Apa sih enaknya naik sepeda? Penasaran, dia pun mencobanya. Ternyata malah keterusan. “Ternyata saya bisa enjoy . Bersepeda itu ternyata asyik,” kata Linda Soegama, istri pengusaha Yoga Soegama. Harga sepeda bervariasi. Dari Rp200 ribu sampai Rp15 juta. Sepeda berharga murah buatan Federal, sedangkan sepeda mahal biasanya sepeda MTB atau balap impor ( Road Bike ). Pembeli sepeda mahal berasal dari kelompok ekonomi menengah atas. Sepeda mahal itu hanya diproduksi terbatas di dunia. Misalnya sepeda John Tomac. Hanya 20 buah di dunia. “Dua di antaranya ada di Indonesia,” kata Didi dari toko sepeda Speedy Bike kepada Femina . Kelompok pesepeda mahal membeli sepeda bukan sekadar untuk bangga-banggaan. Mereka bilang sepeda mahal itu punya nilai sejarah. Perry Josohadisoerjo, Direktur PT Sarana Pembina Buana Sentosa, pernah memesan sepeda Colnago seharga Rp25 juta saat ulang tahun ke-100 pabrik pembuat sepeda itu. Perry juga memesan sepeda Concord model TVT 92HM, sepeda yang digunakan oleh Miguel Indurrain ketika memenangkan kompetisi balap sepeda bergengsi Tour de France pada 1991. Seiring menyebarnya demam sepeda di Indonesia, klub-klub sepeda pun bermunculan. Ada yang mempunyai struktur formal dan menarik iuran seperti Ikatan Penggemar Sepeda Jakarta (IPSJ). Ada juga yang cair dan informal semisal Speedy Bike. IPSJ mempunyai ratusan anggota. Mereka juga menarik bayaran untuk anggota baru. Selain itu, mereka aktif berkumpul di kawasan Monas. Setiap pesepeda bisa menjadi anggota IPSJ tanpa memandang jenis dan harga sepedanya. “Mau yang dari tukang loak kek, mau yang harganya jutaan rupiah, terserah,” kata Ismoeyanto, ketua IPSJ. Yang penting bayar iuran dan menaati tata tertib organisasi. Tiap anggota baru akan mendapat masa pengenalan. “Para senior biasanya memberi penjelasan praktis tentang cara bersepeda yang baik dan benar,” kata seorang anggotanya. Berbeda dari IPSJ, Speedy Bike hanyalah komunitas pesepeda kecil. Tapi anggotanya berasal dari kalangan berduit dan kesohor seperti Peter Gontha, bos RCTI, dan Airin Soetanto, mantan Ratu Indonesia. Selain di Jakarta, klub-klub bersepeda juga muncul di Bogor dengan nama Grup Kujang. Ada juga di Solo dengan nama Kelompok Slamet Riyadi. Lalu di Bali juga tumbuh. Bedanya, mereka mengorganisir diri ke dalam bisnis pariwisata dengan menawarkan paket wisata bersepeda. Acara bersepeda santai ( fun bike ) pun sering bermunculan sebagai tanda antusiasme orang pada sepeda. Acara ini diikuti oleh para pejabat, ibu-ibu PKK, anak sekolah, sampai tokoh sohor. Kasino, pelawak Warkop DKI,  salah satu pesohor yang cukup menggemari sepeda santai. Dia bahkan mengajak Rudy Badil, teman baiknya untuk bersepeda gunung. “‘Ketinggalan zaman lo. Ikut kita nyepeda ke Puncak, lewat Serpong dan gue akan kelola Bike’s Camp di Cipayung,’ ajak Kasino yang tiba-tiba hobi bersepeda gunung di zaman belum ramai-ramainya orang ngantor sepedaan atau bike to work ,” kenang Rudy Badil dalam Main-Main Jadi Bukan Main. Antusiasme Kasino pada sepeda berubah jadi petaka. Suatu hari dia terjatuh saat acara fun bike . Dia pingsan setengah jam. Setelah siuman, dia merasa baik-baik saja. Tapi tanpa dia ketahui, ternyata ada luka dalam di kepalanya hingga menjadi tumor. Sebelum meninggal, Kasino sempat berpesan kepada penggemar sepeda. “Agar hati-hati melindungi kepalanya. Kalau pakai helm, jangan sembarang helm... Sebab sekali jatuh bisa berakibat fatal. Anehnya jatuh sekarang, dampak rasa sakitnya baru bisa diketahui sekitar enam bulan sampai dua-tiga tahun mendatang,” kata Kasino kepada Mutiara, 3 Desember 1996. Demam sepeda mulai hilang ketika krisis ekonomi menerpa Indonesia. Kemudian sekelompok orang kembali menggiatkan kembali kegiatan bersepeda pada 2000-an. Berbeda dari sebelumnya, sepeda tak hanya digunakan untuk berolahraga atau mengisi hari libur, melainkan juga sarana transportasi harian dan perwujudan gagasan kesetaraan ruang di kota.

  • Lakon Bung Karno di Panggung Tonil

    SEBAGAI bapak bangsa, Bung Karno tidak hanya visioner di pentas politik. Sang proklamator itu juga pecinta seni, mulai dari seni rupa, seni musik, hingga seni peran. “Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni,” ujarnya sebagaimana dikutip Cindy Adams dalam otobiografi berjudul  Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Sebagai pecinta seni, Bung Karno tidak sekadar jadi penikmat. Ia merupakan kolektor seni rupa pertama dan terbesar di negeri ini. Jauh sebelum itu, sejak di bangku sekolah hingga ia di pembuangan Ende dan Bengkulu, ia juga pelaku seni peran di atas panggung tonil atau sandiwara (kini teater). Bung Karno kerap mendapat peran sebagai tokoh perempuan. Selain karena di zaman itu di sekolahnya belum jamak murid perempuan, wajah rupawan Sukarno muda dianggap teman-temannya paling cocok memerankan karakter perempuan. Rumah pengasingan Bung Karno di Ende. (kemdikbud.org). Dalam Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen,  Walentina Waluyanti de Jonge menguraikan, wajah “ayu” Sukarno muda sangat mudah disulap jadi perempuan hanya dengan disolek menggunakan bedak dan lipstik. Ia memparipurnakan transformasinya sebagai gadis anggun dengan gaun dan dua potong roti untuk disumpalkan di dada sehingga menyerupai payudara. “Untung saja dalam adegan (tonil) itu aku tidak perlu mencium laki-laki,” kata Bung Karno, dikutip Walentina. Dari penampilan-penampilannya di atas pentas, Sukarno kerap mendapat apresiasi positif. “Dari serangkaian pertunjukan di panggung tonil, Sukarno termotivasi oleh komentar-komentar positif. Ia kerap mendapatkan pujian bahwa ia punya bakat untuk tampil di depan umum. Dari situlah tumbuh rasa percaya dirinya untuk meyakinkan massa melalui pidato-pidatonya. Setelah pertunjukan tonil itu, ia mulai berani tampil. Pidato pertamanya dilakukan di depan sebuah studie-club  ketika usianya masih 16 tahun,” lanjut Walentina. Bung Karno dalam pembuangannya di Bengkulu. (Repro Penyambung Lidah Rakyat ). Di Belakang Panggung Seiring bertambahnya usia, Bung Karno mengekspresikan jiwa seninya dengan beralih dari pemain menjadi pelaku dan pemimpin produksi di belakang panggung pertunjukan tonil. Ia melakukannya ditemani istri keduanya, Inggit Garnasih kala dibuang ke Ende, Flores. “Diceritakan bahwa suatu hari Soekarno dan Inggit melihat seorang polisi rahasia Belanda (PID) yang mengikuti mereka. Singkat cerita, polisi itu dikejar anjing dan menghindarinya dengan cara memanjat pohon. Tingkah PID ini membuat Soekarno mendapatkan ide untuk membuat kelompok sandiwara, atau saat itu disebut toneelclub,” ungkap Adimitra Nursalim dalam The Remarkable Story of Soekarno. Bermodal kedekatannya dengan masyarakat, Bung Karno dibantu Inggit lalu mencari orang-orang untuk membentuk kelompok tonilnya. Terkumpullah sekitar 47 orang, meliputi pemain maupun kru produksi. Kelompok itu lalu dinamakan “Toneel-club Kelimutu”. Inggit amat berjasa dalam tonil tersebut. Dialah yang membantu menyiapkan wardrobe  maupun properti dengan para kru perempuan. Sebagaimana di masa sekolahnya, Bung Karno menggarap kelompok tonilnya bergaya ludruk. “Kenapa aktor perempuan enggak main di tonil-tonil Bung Karno? Itu mengikuti tradisi ludruk, sebenarnya. Jadi ludruk di Surabaya itu hanya laki-laki yang main, tokoh perempuan ya yang memainkan laki-laki. Sementara perempuan siap di belakang meja dengan Bu Inggit sebagai penata produksinya,” ujar budayawan Taufik Rahzen dalam dialog sejarah Historia bertajuk “Drama Bung Karno”, 30 Juni 2020. Klub tonil Kelimutu (kiri) dan Monte Carlo. (Repro Bung Karno: Maestro Monte Carlo ). Bung Karno lebih banyak berkutat sebagai penulis skenario dan sutradara. Mengutip Rhien Soemohadiwidjojo dalam Bung Karno Sang Singa Podium , selama empat tahun di Ende (1934-1938), tak kurang dari 13 naskah tonil yang diproduksi dari buah pikiran Bung Karno. Antara lain Rahasia Kelimoetoe , Taon 1945 , Nggera Ende , dan Koetkoetbi ; semua dipentaskan di Paroki Santa Maria Imaculata. “Sukarno bisa leluasa mengadakan pertunjukan di paroki yang berada di satu kompleks dengan gereja Katolik itu tak lepas dari jasa para pastor Belanda yang dikenalnya. Para pastor Belanda tersebut seakan tidak peduli dengan larangan pemerintah (Hindia Belanda) untuk tidak mendekati tahanan politik dari tanah Jawa. Para misionaris Belanda yang akrab dengan Sukarno di antaranya adalah Pastor Huijtink, Pastro Bouma, Pastor M. van Stiphout, dan Pastor Johannes van der Heijden,” sambung Walentina. Ketika pengasingannya dipindah ke Bengkulu pada 1938-1942, Bung Karno meneruskan kegiatan seni perannya dengan membentuk kelompok tonil baru, Monte Carlo. Empat naskah baru ditelurkannya, di antaranya Djakarta-Chungking  dan Hantoe Goenoeng Boengkoek . Royal Cinema Bengkulu, venue Bung Karno menggelar tonil. (Repro Bung Karno: Maestro Monte Carlo ). Dari sekira 17 naskah yang ditulisnya semasa di Ende maupun Bengkulu, Bung Karno menyiratkan sandi-sandi rahasia sebagai misi perlawanannya terhadap kolonialisme. Taufik melihat banyak pesan terselubung dari 17 naskah Bung Karno, semisal terkait demokrasi, sosialisme, isu-isu sosial, kemanusiaan, hingga perkembangan teknologi dunia pada zaman itu. “Tema-tema yang dikembangkan sebenarnya semua kode rahasia untuk memberikan sinyal kepada gerakan perjuangan karena surat-surat saat itu sulit, disensor. Coba lihat  Koetkoetbi . Itu sebenarnya kode: ‘Kalian harus mulai menghimpun diri untuk membangun gerakan bawah tanah!’ Atau ketika menulis Taoen 1945 , di mana itu kode bahwa Asia mungkin akan masuk ke dalam fase baru pada 1945,” imbuhnya. Pada naskah Djoela Goebi , Amoek , dan Nggera Ende , sambung Taufik, juga termuat kode-kode rahasia terkait persatuan dan pemberontakan. Sedangkan dalam naskah Djakarta-Chungking  dan Hantoe Goenoeng Boengkoek , terdapat sandi-sandi tentang solidaritas dan patriotisme. “Sandiwara Bung Karno itu kan sandarannya sandi, rahasia; dan wara sebagai wacana. Kalau kita lihat bahasa Jawa kuno yang lama, itu disebut Alamkara, di mana dalam sastra, dia menciptakan dunia lain di dunia yang ada. Seperti halnya relief-relief Candi Borobudur yang berupa cerita tafsiran Alamkara. Itu tidak ada dalam bahasa percakapan, lho, hanya dalam tulisan dan itu ada kode, pesan tesembunyi,” tandas Taufik.*

  • Akal-akalan Kopral Kemis Kelabui TRI

    PERANG antara balatentara Jepang melawan KNIL akhirnya pecah pada awal 1942. Balatentara Jepang tampil sebagai pemenangnya. Para serdadu KNIL yang pribumi pun menanggung akibatnya. Kopral Kemis salah satunya. Setelah KNIL kalah dan bubar, Kemis kembali ke kampungnya. Dia menjalani hidup yang sulit di zaman pendudukan Jepang. Namun setelah Jepang kalah perang pada 1945 pun, hidup Kemis masih tetap “Senin-Kamis”. Indonesia merdeka yang menyusul kekalahan Jepang menguatkan kebencian terhadap Belanda. Kemis mengalami kesulitan lagi karena dirinya pernah bergabung dengan KNIL yang menjadi alat penindasan penguasa Hindia Belanda terhadap pribumi. “Orang-orang di kampung saya tidak lagi menerima hal itu. Di sana keadaannya makin sulit, sampai akhirnya saya tidak dapat tinggal di sana lagi,” aku Kemis bin Panus dalam koran Het Parool, 28 April 1990.

  • Jika Masa Jabatan Presiden Tak Dibatasi

    ISU jabatan tiga periode bagi presiden Joko Widodo belakangan mencuat ke publik. Salah satu yang mendorong wacana ini adalah relawan Jokowi-Prabowo 2024 (Jokpro 2024). Relawan yang mendukung Joko Widodo-Prabowo Subianto menjadi presiden dan wakil presiden 2024 ini telah mengadakan syukuran peresmian Kantor Sekretariat Nasional (Seknas) Komunitas Jokpro 2024 di Jakarta Selatan, Sabtu, 19 Juni 2021 lalu.

  • Siasat Menghambat Produk Jepang

    SEBELUM Jepang menduduki Indonesia pada 1942, barang-barang Jepang telah lebih dulu sampai di Indonesia sejak 1930-an. Barang-barang itu dibawa orang-orang Jepang yang menjadi pedagang keliling. Ada juga yang dijual di toko-toko orang Jepang. Serbuan barang Jepang ini sempat membuat panik pemerintah Hindia Belanda.

  • Malesung Agama Asli Minahasa

    SEBELUM banyak agama dari luar berdatangan, penduduk di berbagai daerah Nusantara sudah memiliki agama-agama lokal masing-masing. Tak terkecuali orang Minahasa di Sulawesi Utara. “Apo Kasuruang Wangko (Tuhan Sang Pengasal) adalah yang menciptakan segalanya. Ia dipercaya sebagai ‘orang tua’ yang selalu menyayangi, menjaga, memberikan berkat, menuntun, dan mendisiplinkan,” terang Iswan Sual, salah satu penganut Malesung terkemuka di Minahasa, kepada Historia mengenai ajaran agama lokal bernama Malesung. Malesung mengajarkan penganutnya menghormati leluhur mereka. Iswan Sual menerangkan, leluhur dianggap berjasa dalam kehidupan mereka. Melalui sesaji, para penganut Malesung memberikan penghormatan. Penganut Malesung percaya bahwa tempat atau benda memiliki daya hidup atau roh yang menjaga manusia yang hidup serta lingkungan.

  • Fotografer Bersaudara dalam Perang Lombok dan Aceh

    ANDAI mereka orang Indonesia, misalnya dari etnis Batak, Minahasa, atau Ambon, Neeb pasti menjadi salah satu marga. Dari tiga generasi saja, di kurun abad 19–20, ditemukan banyak nama Neeb. Menariknya, pemilik nama ini sebagian besar berprofesi sebagai dokter. Banyak pula yang merangkap militer.

  • Moerad, Sjahrir, Hatta dan Persahabatan yang Terlupakan (1)

    SUATU hari di kota Sukabumi. Jalan kecil bernama Cikiray begitu sepi. Di salah satu bagian jalan, suatu umpakan tangga yang curam nampak mengarah ke sebuah rumah tua unik dengan bentuk limas di bagian depannya. Tak banyak yang tahu jika rumah itu merupakan bekas markas para perintis kemerdekaan di kota moci tersebut. Mereka menamakan diri sebagai Pejuang Cikiray 10B.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page