top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gagalnya Konferensi Asia-Afrika Kedua

    KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung pada 18–24 April 1955 dipandang sebagai pertemuan besar pertama yang berhasil digelar setelah Perang Dunia II. Sebanyak 29 delegasi dari Asia dan Afrika hadir dalam kongres internasional tersebut. Perhatian publik dunia pun tertuju kepada Indonesia yang sukses menjadi tuan rumah. Konferensi yang disponsori oleh pemerintah Indonesia, Burma (kini Myanmar), Ceylon (kini Sri Lanka), India, dan Pakistan itu menjadi ajang bagi negara-negara baru atau gerakan nasionalis di Asia dan Afrika untuk mengupayakan sebuah aktivisme Dunia Ketiga yang menyerukan kebebasan, kemerdekaan, dan perdamaian di tengah perebutan hegemoni antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang memicu Perang Dingin.

  • KAA Kukuhkan Eksistensi Bangsa Asia-Afrika

    TAK jauh dari Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di kawasan Braga, Bandung, kita dapat melangkah sejenak ke Jalan Palestina (Palestine Walk). Ujung sebelah utara Jalan Palestina akan membawa kita tiba di Tugu Asia Afrika. Meski hanya jalur pedestrian, orang-orang suka mengabadikan momen dengan berfoto ketika melintas di Jalan Palestina. Ia menjadi istimewa karena di balik namanya tersisip muatan dan pesan sejarah.

  • Menjejaki Kawasan Elite Hasil Perbudakan via De Horst hingga Huis Doorn

    JAUH dari hikuk-pikuk kota besar, kawasan Driebergen-Rijsenburg di Kota Utrechtse Heuvelrug, Provinsi Utrecht, Belanda terbilang teduh dengan banyak taman bunga hingga hutan. Areal permukiman elitenya dibangun ala country estate khas Inggris. Kawasan tersebut banyak dilintasi pesepeda, salah satunya seniman Eric Taal alias Max Cremer.

  • Jejak Arung Palakka, Es Batu hingga Persija di Kampung Petojo

    SETELAH mengungsi ke Buton pada 1660, Arung Palakka dari Bone mendapat tawaran persahabatan dari Kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kongsi dagang yang biasa disebut kompeni itu kebetulan juga berseberangan dengan Gowa, lawan politik Bone dan banyak kerajaan kecil di Sulawesi Selatan. Arung Palakka lalu mengutus Datu Pattojo alias Arung Pattojo untuk melihat peluang kerjasama itu. Datu Pattojo, sebagaimana ditulis Muhammad Idris Patarai dalam Arung Palakka Sang Fenomenal, pun berangkat ke Batavia pada 1663. Setelah persahabatan terjalin, VOC memanfatkan Arung Palakka dan pengikutnya berperang ke Sumatra Barat. Pada 1666, VOC mengajak kelompok Arung Palakka melawan Gowa.

  • Islam di Masa Kedinastian Cina

    TULISAN-tulisan terdahulu Prof. Djamal al-Din Bai Shouyi (1909-2000), sejarawan muslim Hui terkemuka, yang terangkum dalam buku Zhongguo Yisilan Shi Cun Gao (Naskah Sejarah Islam di Cina, 1983), menyuguhkan sejarah penyebaran dan perkembangan Islam di Cina masa kedinastian dengan runut serta mudah dicerna.

  • Penerjemahan Al-Qur’an di Cina

    KENDATI Islam masuk ke Cina sejak era Dinasti Tang (618-907), Al-Qur’an baru diterjemahkan dalam bahasa Mandarin utuh 30 juz pada masa Kuomintang berkuasa. Penyebabnya, menurut Prof. Yahya Lin Song (1930-2015) dalam Gulanjing zai Zhongguo (Al-Qur’an di Cina, 2007), karena para cendekiawan muslim di Cina merasa “takut merusak makna asli yang dimaksud Kalamullah.”

  • Kapan Islam Disebarkan Pertama Kali ke Cina?

    LITERATUR Cina klasik yang menyinggung soal kapan dan atau oleh siapa agama Islam disebarkan pertama kali ke Cina, amat sedikit. Celakanya, referensi yang minim itu justru menyuguhkan informasi yang saling tidak kongruen. Mari kita bedah satu per satu bahan-bahan yang acap dijadikan sandaran banyak sejarawan.

  • Benarkah Partai Komunis Cina Paksakan Ateisme?

    LAMAN Republika Online pada 25 Januari 2018 menurunkan berita Partai Komunis Cina memaksa para anggotanya yang menganut Islam meneken sumpah meninggalkan agamanya dan berkomitmen terhadap ateisme. Penandatanganan ikrar yang dihadiri sejumlah pejabat senior Partai Komunis Cina tersebut sengaja dihelat di Linxia, prefektur otonomi khusus suku Hui yang mayoritas muslim di Provinsi Gansu, karena, tulis Republika Online, “Partai [Komunis Cina] khawatir […] pemahaman Islam terus meluas.” Benarkah demikian?

  • Paman Rasulullah dan Masjidnya di Cina

    SAYA sudah tiba di Masjid Rindu Rasul (Huai Sheng si), Jumat pekan lalu, (11 September 2019) ketika seorang kawan lama dari Indonesia yang bertandang ke Guangzhou menelepon kalau dia akan Jumatan di Masjid Sa’ad bin Abi Waqqas. Saya bergegas menghampirinya. Jarak kedua masjid tersebut memang tidak berjauhan: sama-sama berada di distrik Yuexiu.

  • Kisah Kaisar Cina Mualaf

    DINASTI Ming (1368–1644) punya kebijakan mendua terhadap Islam. Di satu sisi mereka melarang orang asing asal Arab, Persia, dan Asia Tengah –yang notabene penganut Islam utama di Cina saat itu– untuk menggunakan bahasa, busana, dan nama aslinya dengan tujuan secepat mungkin mengasimilasikannya secara paksa ke dalam masyarakat Cina; di sini lain mereka justru tampak mengapresiasi agama yang sudah masuk ke Cina sejak sekitar tujuh abad sebelum petani miskin bernama Zhu Yuanzhang memproklamasikan berdirinya dan menjadi kaisar pertama kedinastian ini.

  • KAA Bikin Gerah Amerika

    KEBERHASILAN Amerika Serikat mengajak Kanada dan 10 negara Eropa Barat membentuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, tak menjamin negeri berjuluk “Paman Sam” itu sukses di wilayah-wilayah lain. Di Asia Tenggara, Amerika yang khawatir hegemoninya disaingi Uni Soviet usai Perang Dunia II, gagal melakukan hal serupa dalam membendung penetrasi komunisme. Itu antara lain dibuktikan dengan munculnya pemberontakan komunis di Burma (Myanmar).

  • Rima Melati Telah Pergi

    Rima Melati lahir dengan nama Marjolien di Tondano, Sulawesi Utara, pada 22 Agustus 1939, dari pasangan Adriana Paula Adeline Kawilarang dan Martinus van Rest. Ibunya, perancang pakaian terkenal dan pengusaha butik serta salon kecantikan, dikenal dengan Non Kawilarang. Dia masih terhitung tante dari pendiri Kopassus, Kolonel Alex Kawilarang. Sejak kecil Marjolien ditinggalkan ayahnya . I bunya kemudian menikah lagi dengan John Nicolaas Tambayong, sehingga namanya menjadi Marjolien Tambayong dengan panggilan akrab Lientje. Dari Tondano, Lientje dan ibunya hijrah ke Jakarta. Sejak muda, dia kerap tampil di panggung peragaan busana.Penampilannya yang trendi menghiasi majalah-majalah hiburan. Selain menjadi pragawati, Lientje juga penyanyi dalam kelompok vokal The Baby Dolls bersama Gabby Mambo, Indriati Iskak, dan Baby Huwae yang menyebut Lientje sebagai pionir memakai hotpants di Indonesia. Baca juga:  Ratu Layar Perak Setelah dikenal di dunia peragawati, Lientje terjun ke dunia film. Dia memulai kariernya pada 1958 sebagai figuran dalam film Djuara Sepatu Roda . Barulah pada 1961, dia mendapat peran utama dalam film kelima, Kasih Tak Sampai . Film membuatnya semakin terkenal. Setelah berperan dalam film Kunanti Jawabmu (1964), Lientje sempat absen lama dari dunia film. Menurut buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 , suami keduanya, Nelson Tobing, rupanya tak setuju sang istri terus bermain film. Suami pertamanya adalah Iwan Kartowiyono. Mayor Nelson Tobing, salah satu ajudan Presiden Sukarno, pandai menyanyi dan masih saudara penyanyi tersohor Gordon Tobing. Nama istrinya yang kebarat-baratan tidak disukai Sukarno. Demi membangun “kepribadian bangsa”, nama-nama yang dianggap kebelanda-belandaan seperti Lientje tak terdengar lagi. Rima Melati bersama Sofia WD  dan Rachmat Kartolo  dalam film Noda Tak Berampun  (1970). (Perpusnas RI dan Sinematek Indonesia). Ketika hamil anak kedua dan jika anaknya perempuan, Lientje akan menamainya Rima yang diambil dari karakter Rima The Bad Girl dalam film Green Mansion yang diperankan Audrey Hepburn. Sayangnya, anak itu meninggal. Lientje menceritakan kemalangannya itu kepada Sukarno dan dia hendak memakai nama Rima. Sukarno suka nama itu. “ Thats good name (itu nama bagus), ” kata Sukarno seperti dikutip Djoko Pitono dalam Soekarno Gramatical . Sukarno menambahkan nama Melati.  Nama kelompok vokalnya, The Baby Dolls, juga berganti menjadi Boneka Dara. “Sejak saat itu beliau selalu memanggil saya Rima Melati. Kepada setiap orang beliau memperkenalkan saya sebagai Rima Melati,” kata Rima. Dunia hiburan pun melupakan Marjolein dan hanya mengenal Rima. Baca juga:  Kiprah Ratmi Bomber 29 Setelah bercerai dengan Nelson dan menikah lagi dengan Herwindo pada 1969, Rima kembali bermain dalam film Laki-Laki Tak Bernama . Dia mendapat penghargaan tertinggi sebagai Aktris Utama Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1973 lewat film Intan Berduri . Sejak 1958 hingga 2017, menurut data filmindonesia.or.id , Rima telah bermain dalam seratus lebih film. Selain sebagai pemain film, Rima juga pernah menyutradarai film Api Cinta Antonio Blanco . “Ketika semangatnya menggebu-gebu menjadi sutradara dia mendapat sakit kanker yang bersamaan dengan film Indonesia pun sedang sakit. Film kena kanker tapi untung tidak mematikan. Saya juga tidak mati kata Rima Melati,” tulis Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan IV . Meski sibuk bermain film, Rima masih rajin tampil di atas cat walk . Bahkan, dia ikut mengelola Indonesian Modelling Agency (IMA) yang didirikan ibunya pada 1972.  Baca juga:  Mak Wok, Figuran Sepanjang Zaman Pada 1973 , Rima menikah lagi dengan Frans Tumbuan, teman lama yang ketemu di Belanda. “Ketularan istrinya, Frans akhirnya ikut muncul di film sekalipun sekadar sebagai peran pembantu,” tulis Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982.  Frans mulai aktif menjadi aktor pada 1980-an. Frans punya pengalaman membuka rumah makan di Amsterdam, Belanda. Dia dan Rima kemudian membuka restoran besar dan terkenal di Indonesia, yaitu Le Bistro, The Jaya Pub, La Bodega Grill, Pete’s Tavern, dan Arun Restaurant. Pernikahan Rima dan Frans bertahan lebih dari 40 tahun hingga maut memisahkan. Pada 23 Juni 2022, Rima menyusul Frans dan anaknya yang dulu hendak dia namai Rima.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page