top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kala Afrika Diserang Belalang

    SEPERTI di negara-negara lainnya, warga Afrika harus menghadapi pandemi Covid-19. Namun, mereka jauh lebih menderita karena juga berurusan dengan wabah yang tak kalah mengerikan: hama belalang. Bahkan awal tahun ini hama belalang kembali menyerang dan menimbulkan kepanikan.

  • Kota NICA Jadi Kampung Harapan

    SETELAH Papua diduduki oleh tentara Sekutu, pemerintahan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pada 1944 memegang kendali pemerintahan di sana, termasuk urusan pendidikan. Residen JP van Eachoed lalu membangun sekolah sekolah kedinasan di sana. Namanya Papua Bestuur School (PBS, Sekolah Pegawai Papua). Uniknya, salah seorang gurunya merupakan Digulis (bekas orang buangan di Kamp Tanahmerah, Boven Digoel) bernama Soegoro Atmoprasodjo. PBS mendidik pemuda-pemuda Papua. Di antara siswa PBS itu ada Frans Kaisiepo dan adiknya Marcus Kaisiepo. Pemuda Frans punya perhatian besar terhadap masyarakat dan urusan politik. Hal-hal kecil namun fundamental tak lepas dari pengamatannya. Lantaran itulah dia menjadi gelisah. “Ia tidak setuju dengan papan nama kursus/sekolah yang bertuliskan Papua Bestuur School. Karena itu ia menyuruh saudaranya, Marcus Kaisiepo untuk mengganti dengan nama Irian Bestuur School,” tulis Pius Suryo Haryono dalam Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo . PBS terletak di tepi Danau Sentani. Di dekatnya terdapat sebuah bandara yang kini masih dipakai, Bandara Sentani. Daerah sekitarnya, Dataran Makanwai, disebut orang Belanda sebagai Kota Nica. Kota Nica, disebut Herman Renwarin dan John Pattiara dalam Sejarah Sosial Daerah Irian Jaya: dari Hollandia ke Kotabaru, 1910-1963 , merupakan daerah permukiman yang dibangun orang-orang NICA. Pembangunannya berlangsung setelah tentara Jepang di sana dikalahkan tentara Amerika Serikat. Sejak April 1944, Papua praktis diduduki tentara Amerika. NICA yang datang kemudian lalu mendapatkan untungnya, berkuasa di sana. “Meskipun Perang Besar di medan, Amerika menanggung sengsara, Kota Nica ramailah,” demikian bunyi penggalan lagu yang pernah ada di Sentani. Kota Nica sempat dijadikan sebagai pusat Keresidenan Papua Belanda. Mulanya ada orang Amerika di Kota Nica, namun orang Belanda mendominasi. Koran De Telegraaf  tanggal 14 Maret 1950 menyebut, setelah orang Amerika pergi, Jawatan Perhubungan dan Pekerjaan Umum Belanda mengelola Kota Nica. Berbagai sarana dan prasarana pun dibangun NICA. Termasuk sebuah stasiun percobaan. Selain itu, Kota Nica seperti hendak mencetak pekerja pertanian pula. Koran Friese Courier  tanggal 15 Mei 1954 menyebut, orang Papua dididik di Kota NICA soal pertanian. Tak hanya dengan cara manual tapi juga diajari bagaimana cara memakai traktor atau mesin pertanian modern lain. Belakangan, kursus pengawas pertanian diadakan di sana. Koran Nieuw Guenea Kourir  edisi 19 Agustus 1959 mengiklankan rekrutmen siswa untuk kursus pengawas pertanian. Syarat yang diminta untuk menjadi siswa di sana yakni sudah pernah mendapat pendidikan dasar menengah. Mereka yang berminat, dipersilakan mendaftar ke kantor kepala pertanian di Dok II, Jayapura. Menurut Nieuw Guenea Kourir  tanggal 4 Maret 1961, Kota Nica pernah punya penduduk sebanyak 40.000 jiwa. Di masa perang, pekerja paksa ( romusha ) pun pernah dibawa Jepang ke sana. Lalu, Batalyon Papoea didirikan pasukan Amerika di sana dan diteruskan Belanda. Namun, residen Papua Belanda hanya berkantor di Kota Nica sampai tajhun 1946. Setelah 1946, Kota Nica ditinggalkan sebagai pusat pemerintahan. Hollandia (kini Jayapura) dipilih menjadi pusat, berlangsung hingga kini. “Kota Nica lambat laun berubah menjadi pusat kegiatan pertanian pemerintah yang juga sekarang dikenal dengan nama Kampung Harapan,” Herman Renwarin dan John Pattiara. Perubahan nama itu terjadi setelah Papua dimasukkan ke dalam wilayah Republik Indonesia. Presiden Sukarno gemar mengganti nama berbau Belanda dengan nama khas Indonesia. Kota Nica jelas berbau Belanda dan Kampung Harapan jelas berbau Indonesia. Seiring perubahan dari Kota Nica menjadi Kampung Harapan dan perkembangan yang mengikutinya, PBS juga berganti nama, kurikulum dan format pendidikannya hingga kemudian menjadi cikal-bakal Universias Cendrawasih di Abepura. Salah satu lulusannya, Frans Kaisiepo, lalu berkiprah dalam perpolitikan tanah air hingga menjadi gubernur Irian Jaya di era pemerintahan Soeharto. Kini, namanya diabadikan menjadi nama bandara di Biak.*

  • Hendrik Sihite, Komandan Pasukan Kelima Sekaligus Agen Ganda

    MESKI namanya kurang begitu dikenal, Hendrik Sihite merupakan pentolan laskar yang berpengaruh pada masa awal revolusi di Sumatra Utara. Sihite merupakan pimpinan Laskar Pesindo sekaligus mengepalai unit pasukan khusus di dalamnya yang bernama Pasukan Kelima. Seperti marganya, hampir semua anggota Pasukan Kelima di bawah Sihite berasal dari suku Batak Toba.

  • Papanggo Kampung Serdadu

    AKHIR tahun 2023 lalu, pintu tol baru bernama Papanggo di Jakarta Utara resmi dibuka. Letaknya persis di tepi Danau Sunter bagian timur laut. Berseberangan dengan stadion terbesar di Indonesia, Jakarta International Stadium (JIS), yang berdiri tepat di sisi barat danau. Papanggo merupakan nama sebuah kelurahan di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tak hanya tergolong unik namanya, Papanggo juga menjadi penjaga ingatan sejarah atas kota Jakarta. Di masa jayanya maskapai dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), banyak etnis dari luar Banten dan Jawa Barat yang datang ke daerah Sunda Kelapa yang oleh Belanda diubah menjadi Batavia. Tak hanya suku-suku dari seantero Nusantara dan Belanda saja, tapi juga dari negara lain seperti Filipina. Istilah “ Papanggo ” terkait dengan Filipina. Ia merupakan nama daerah di Pulau Luzon, Pampanga. Orang-orang setempat kerap melafalkan Pampanga sebagai “Papango”. Orang-orang Pampanga atau Papanggo, menurut Bondan Kanumuyoso dalam Ommelanden: Perkembangan Masyarakat dan Ekonomi di Luar Tembok Kota Batavia , datang ke Batavia sebagai tawanan perang.  “Kedatangan mereka di Batavia sebagai tawanan perang dan mendapatkan kemerdekaan setelah bekerja pada VOC selama satu tahun,” catat Thawaluddin Haris dalam  Kota dan Masyarakat Jakarta: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial Abad XVI-XVIII) . VOC sendiri punya kebiasaan menjadikan tawanan atau budak sebagai serdadu jika ingin mendapatkan pembebasan. Kebiasan itu klop dengan tabiat orang Papanggo. Menurut Rusli Amran dalam Cerita-cerita Lama dalam Lembaran sejarah , “Papanggo di Filipina terkenal dengan penduduknya yang suka perang.” Sebelumnya, lebih dulu orang-orang Papanggo telah digunakan oleh kolonialis Spanyol. Setelah direkrut VOC dan dibawa ke Batavia, orang-orang Papanggo yang disebut Belanda sebagai “Papangers” itu ditempatkan dalam sebuah kampung tersendiri sebagaimana etnis-etnis lain di Batavia. Orang Bandan, misalnya, ditempatkan di daerah yang kini disebut Kampung Bandan; lalu orang-orang Bali ditempatkan di daerah yang kemudian bernama Kampung Bali. “Papanggo sebagai kawasan permukiman pendatang dari Papanggo Filipina,” tulis Lukman Mokoginta dalam Jakarta Untuk Rakyat . Letak kampung Papanggo berada di sisi timur kota Batavia yang dibangun VOC dan ditempati orang-orang Eropa. Jaraknya tidak jauh dari Kampung Bandan. Peletakan itu terkait erat dengan politik segregasi yang diterapkan penguasa Belanda. Orang-orang Papanggo kemudian dijadikan penjaga rust en orde  (keamanan dan ketertiban) di Batavia. Dalam hal ini, kata Thawaluddin Haris, mereka dijadikan schutterij  atau polisi keamanan kota. Jumlah mereka tidaklah banyak. Pada 1702, orang-orang Papanggo dimasukkan dalam satu kompi yang –berisi sekitar 100 orang– sama dengan orang Banda. Mereka dipimpin oleh seorang kapiten yang beragama Islam. “Sehingga kelompok kecil ini kehilangan sifat kebangsaan dan ke kristenannya,” catat Thawaluddin Haris. Sebagai pasukan, orang-orang Papanggo punya komandan yang berasal kaum mereka. Sama seperti serdadu-serdadu asal Ambon abad ke-17 yang punya komandan yang disebut kapitan . Bila orang-orang Ambon punya Kapitan Jonker yang terkenal, orang-orang Papanggo di era VOC punya Kapitan Augustijn Michiels (1769-1833). Mona Lohanda dalam The Kapitan Cina of Batavia, 1837-1942  menyebut Kapitan Michiels merupakan keturunan Papanggo dan setelah 20 tahun mengabdi pada militer Belanda, dia pensiun pada 1807 dan diberi pangkat mayor kehormatan. Dia kemudian dikenal sebagai Mayor Jantje. Reputasi Mayor Jantje lebih dikenal sebagai tuan tanah kaya-raya di daerah Cileungsi, Klapanunggal, Citeureup, Nanggewer, Nambo dan sekitarnya. Beberapa landhuis  (rumah-villa tuan tanah) beserta perkebunan-perkebunan berdiri di daerah-daerah itu. Beberapa keturunan sang mayor juga menjadi tuan tanah kaya. Mayor Jantje amat senang mendengarkan musik dalam pesta. Kegemarannya itu acap dijadikannya sebagai suguhan pada tamu-tamu yang berkunjung ke rumahnya. Musik suguhan itu dimainkan oleh kelompok orkes yang dimiliki Mayor Jantje. Saking gemarnya, Mayor Jantje sampai punya empat orkestra: satu marching band tentara, satu orkestra Eropa, orkestra Tionghoa, dan orkestra yang khusus memainkan gamelan. Dari para budak yang dijadikan pemain musik dalam orkestra itulah kelak lahir musik-musik tradisional seperti Tanji di Sambas atau Tanjidor di Betawi.*

  • Sepakbola Kontra Nazi

    INSTABILITAS politik di Ukraina ikut mempengaruhi persepakbolaannya. Selain menunda liga utamanya, laga persahabatan Ukraina melawan AS awal Maret silam hampir gagal. Beruntung Ukraina tak menjadi kontestan Piala Dunia di Brazil yang tinggal berbilang hari. Konsentrasi tim bisa-bisa terganggu. Dunia sepakbola Ukraina juga pernah terganggu ketika pendudukan Jerman-Nazi semasa Perang Dunia II. Jerman-Nazi membagi wilayah Ukraina menjadi tiga pemerintahan administratif dengan peraturan-peraturan berbeda. Perbedaan kebijakan pembangunan olahraga di tiga wilayah administratif itu mengakibatkan perkembangan olahraga berbeda-beda. Pemerintah pendudukan Jerman juga menghentikan liga sepakbola setempat dan melarang klub Dynamo Kiev. Beberapa pemainnya dianggap terkait dengan Uni Soviet, musuh Jerman di front timur. Untuk menggantikannya, Reichkommissariaat Ukraine (RKU) –pemerintah administratif bentukan Jerman yang mengendalikan wilayah utara, timur, tengah, dan selatan Ukraina– mengizinkan pendirian klub FC Start pada musim semi 1942.

  • D.I. Pandjaitan Ditawan

    SEBELUM jadi pengusaha nasional yang tajir melintir, Tumpal Dorianus Pardede pernah jadi milisi di masa Perang Kemerdekaan. Mulanya Pardede tergabung dalam Laskar Pesindo kemudian ditarik menjadi staf dalam Resimen I Brigade XI Tapanuli pimpinan Kapten Maraden Panggabean. Karena berlatar belakang pedagang, Letnan I Pardede bertugas mengurusi perbekalan atau logistik. Kerjaannya membawa beras dari Tapanuli ke Pekanbaru. Sepulangnya dari Pekanbaru, Pardede memborong kain dan pakaian selundupan dari Singapura. Aktivitas yang dilakoni Pardede ini cukup sukses dalam mencukupi kebutuhan pejuang dan tentara di Tapanuli.

  • Menyatukan Umat Muslim Dunia Lewat Konferensi Islam Asia Afrika

    SEPULUH tahun setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 18–24 April 1955, perhatian publik dunia kembali tertuju ke Indonesia. Puluhan delegasi dari berbagai negara di Asia dan Afrika menginjakan kaki di bumi Parahyangan untuk menghadiri Konferensi Islam Asia Afrika I yang diselenggarakan pada 6–10 Maret 1965.

  • Libur Sekolah di Bulan Ramadan

    Perjalanan sejarah libur sekolah pada bulan puasa Ramadan.

  • Pelaksanaan Konferensi Islam Asia Afrika

    Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) berlangsung tanggal 6-14 Maret 1965 di gedung Merdeka Bandung. Seperti apa pelaksanaannya?

  • Upaya Mengatasi Malnutrisi Melalui MSG dan Mi Instan di Masa Orde Baru

    MALNUTRISI membayangi masyarakat Indonesia sejak lama. Di masa Orde Baru, bahaya kekurangan vitamin A, yang dapat menurunkan daya tahan tubuh dalam menghadapi beragam penyakit hingga berkontribusi pada meningkatnya angka kematian, mendorong diberlakukannya pembagian pil vitamin A khususnya kepada anak-anak. Selain mendistribusikan suplemen, pemerintah juga mengembangkan fortifikasi pangan atau penambahan zat gizi makro atau mikro pada makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat.

  • Obati Paru-paru ke Kampung Belanda

    SELAIN di antara warganya ada yang keturunan Belanda atau bangsa-bangsa Eropa lain, ada banyak bangunan di Kampung Noongan, Kacamatan Langowan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara yang mirip dengan bangunan-bangunan Belanda. Banyak rumah-vila, bahkan miniatur kincir air ala Belanda pun ada di sana. Semua peninggalan era kolonialisme Hindia Belanda itu masih terawat baik. Maka amat beralasan bila kampung tersebut dijuluki Kampung Belanda. “Sisa-sianya masih ada, zwembak, sanatorium dan rumah-rumah vila,” terang Roger Allan Kembuan, pengajar sejarah Universitas Sam Ratulangi, Manado, yang kerap ke Langowan karena leluhurnya berasal dari sana. Zwembak yang dimaksudnya adalah sebutan untuk pemandian umum. Sementara, sanatorium adalah tempat pengobatan paru-paru.

  • Raja Yordania dan Presiden Soeharto Saling Berbalas Kunjungan

    YORDANIA bukan negeri asing buat Presiden Prabowo Subianto. Oleh karenanya setibanya di Bandara Militer Marka di ibukota Amman pada Senin (14/4/2025) petang waktu setempat, Prabowo begitu cair dalam bertukar sapa. Selain berjabat tangan, ia berpelukan hangat dengan Raja Yordania Abdullah II bin al-Hussein al-Hashemi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page