top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Upaya Mengatasi Malnutrisi Melalui MSG dan Mi Instan di Masa Orde Baru

Pada masa Orde Baru, MSG dan mi instan dipilih untuk mengatasi masalah kekurangan gizi. Fortifikasi pangan ini gagal jadi program nasional.

4 Feb 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi monosodium glutamat (MSG). (Wikimedia Commons).

  • 5 Feb 2025
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 15 Apr 2025

MALNUTRISI membayangi masyarakat Indonesia sejak lama. Di masa Orde Baru, bahaya kekurangan vitamin A, yang dapat menurunkan daya tahan tubuh dalam menghadapi beragam penyakit hingga berkontribusi pada meningkatnya angka kematian, mendorong diberlakukannya pembagian pil vitamin A khususnya kepada anak-anak. Selain mendistribusikan suplemen, pemerintah juga mengembangkan fortifikasi pangan atau penambahan zat gizi makro atau mikro pada makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
bottom of page