top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Lika-liku Penemuan Obat Bius

    SEJUMLAH orang berdatangan menuju ruang operasi di tengah kubah bangunan Rumah Sakit Umum Massachussets pada 16 Oktober 1846. Mereka hadir untuk menyaksikan sebuah prosedur pembedahan yang kelak tercatat sebagai peristiwa bersejarah berkaitan dengan pengembangan obat bius modern. Operasi yang akan digelar pada pukul sepuluh pagi itu akan mengangkat tumor di leher pasien bernama Gilbert Abbott. Namun, ketika jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh tepat, operasi belum juga dilaksanakan. Pasalnya, tim dokter menunggu kedatangan William Thomas Green Morton, dokter gigi yang akan memberikan obat bius kepada Abbott sehingga ia tidak akan merasakan sakit saat operasi berlangsung. Operasi dengan kondisi pasien terbius bukan hal yang umum di masa itu. Pasien biasanya dalam keadaan sadar ketika operasi sedang berlangsung. Hal ini mengakibatkan operasi menjadi proses yang mengerikan karena pasien harus menahan rasa sakit. Namun, tindakan pencabutan gigi yang dilakukan Morton terhadap pasiennya beberapa waktu sebelumnya membuka peluang proses operasi tanpa rasa sakit.

  • Kampung Melayu Makassar Tempo Dulu

    TAK sampai satu kilometer dari Pelabuhan Makassar, di antara gedung-gedung perniagaan sepanjang Jalan Diponegoro, ada sebuah kompleks permakaman kecil. Makam Pangeran Diponegoro (1785-1855) ada di dalamnya.

  • 70 Tahun Konferensi Asia Afrika

    Bermula dari usaha kerjasama antar bangsa yang baru merdeka, KAA turut menjadi tonggak sejarah negara-negara di Asia dan Afrika. Tahun ini, Konferensi Asia-Afrika (KAA) genap berusia 70 tahun.

  • The Breakthrough of The Man from Irian

    FRANS Kaisiepo was desperate to break into the colonial prison in Hollandia (present-day Jayapura) because his teacher, Soegoro Atmoprasodjo, was being held there. A guard was on watch near the barbed wire door surrounding the prison. A rifle with a bayonet on the end was put over his left shoulder. Kaisiepo was lucky that day, as the prison guard turned out to be from Biak as well.

  • Lupa Tidur Jadi Salah Tanggal Menyerang

    Awal 1949, di daerah Plered, Bantul, selatan kota Yogyakarta yang belum diduduki tentara Belanda, terdapat dua pasukan bersenjata lengkap. Pertama, pasukan Polisi Peladjar Pertempuran (P3) yang dipimpin Inspektur Djohan Soeparno dan sebuah peleton dari Batalyon Sardjono yang dipimpin Letnan Komarudin. “Kami memilih bergabung dengan Komarudin yang sudah kami kenal sejak di Mangkang dan Srondol, Semarang,” kata Soedjono Hadiatmodjo dalam  Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan IV . Bersama Komarudin, Soedjono dkk. pernah adu tembakan dengan tentara Belanda di desa Kanoman. Di akhir Februari 1949, Komarudin dan pasukannya berada di Desa Jejeran. Sepanjang malam, Komarudin membahas peta untuk bersiap menyerang kota Yogyakarta pada siang bolong, yang sudah direncanakan atasan mereka. Mereka memutuskan langsung bergerak menyerang dan tidak menginap terlebih dahulu di kota. Mereka pun lupa jika mereka harus tidur. “Pagi hari itu, satu hari penuh kami beristirahat dan malamnya sekitar 23.00 kami berangkat dari Jejeran menuju Mangkulayan-Ngasem, Patehan, Nagan, Purbayan. Anak buah sudah mendapat petunjuk masing-masing apa yang harus dilakukan,” kata Soedjono. Baca juga:  Setelah Serangan Umum 1 Maret Pasukan Komarudin jelas menguasai medan. Raden Irawan Stiadji Pramoedibyo dalam Pelajar Pejoang: Keterlibatanku di dalam Perang Kemerdekaan  menyebut banyak di antara anggota laskar Komarudin adalah warga atau kerabat penduduk Jeron Beteng dan para pemuda dari daerah selatan Yogyakarta. Begitu sirine pagi berbunyi, pasukan Komarudin bergerak menyerang kota. Suara tembakan tidak hanya mengagetkan tentara Belanda, tapi juga pasukan TNI. “Kami dikejutkan oleh bunyi ledakan dan tembakan yang cukup gencar. Mana pula tidak terkejut sebab telah saya tetapkan serangan itu akan kita lakukan pada tanggal 1 Maret, pagi, pada waktu sirene akhir jam malam,” kata Soeharto dalam Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya . Baca juga:  Peringatan Serangan Umum 1 Maret Menuju Hari Besar Nasional Buku Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta: Latar Belakang dan Pengaruhnya  menyebut Letnan Soegijono yang berkedudukan di dekat posisi peleton Komarudin segera mengetahui dan menyelidiki insiden yang terjadi. Letnan Gideon dan Sersan Soegeng berhasil menemui Letnan Komarudin untuk memberi tahu bahwa hari itu bukan tanggal 1 Maret 1949 yang menjadi hari penyerangan, tapi masih 28 Februari 1949. Komarudin dan pasukannya kaget. Mereka sudah bertempur sekitar dua jam. Setelah sadar mereka menyerang di hari yang salah, mereka kemudian mundur. Soedjono dan Komarudin lalu berpisah jalur mundur ke selatan kota. Sebelum akhirnya mereka bertemu lagi di Pandes pada sore hari. Esoknya, pada hari yang sebenarnya, Komarudin dan pasukannya bergerak lagi. Baca juga:  Yogyakarta Usai Serangan Umum Serangan di tanggal yang salah dari pasukan Komarudin itu tidak membuat pihak Belanda meningkatan kekuatannya di Yogyakarta dengan lebih besar lagi. Setidaknya sehari setelah Komarudin menyerang, pada 1 Maret 1949, kota Yogyakarta bisa dikuasai. Meski hanya enam jam, perebutan itu menjadi bukti bahwa TNI masih mampu melawan dan Republik Indonesia masih ada. Kisah lupa tanggal itu kemudian terus diingat dalam sejarah Indonesia. Namun, petinggi tentara pada masa itu tidak menyalahkan Komarudin. Jenderal Soedirman dan Letnan Kolonel Soeharto, komandan brigade tempatnya bergabung, mendatanginya dalam sebuah apel setelah masuknya kembali TNI ke Yogyakarta. “Engkau harimau Yogya,” kata Soedirman kepada Komarudin. Setelah tahun 1950, Komarudin sempat meneruskan karier di TNI. Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945 sampai dengan 1949  menyebut sebelum ikut brigade yang dipimpin Soeharto, Komarudin adalah anggota laskar Hizbullah. Komarudin pernah dianggap bagian dari kelompok pemberontak, namun nama baiknya direhabilitasi sehingga bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki.*

  • Jenderal Nasution Menyaksikan Dwifungsi Kebablasan

    ISU dwifungsi militer dalam kehidupan sipil masih jadi momok bagi masyarakat menyusul revisi Undang-Undang TNI. Terbukti dari demonstrasi dan unjuk rasa yang terjadi beberapa waktu belakangan ini menentang revisi UU TNI dan kembalinya dwifungsi. Pengalaman traumatik di masa lalu bukan tanpa alasan.

  • Kolonel Latief Waktu Perang Dunia II

    SETELAH Negeri Belanda diduduki tentara Jerman pada Mei 1940, tentara Kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) merekrut lebih banyak tentara daripada tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya pemuda desa di Jawa yang miskin, anak-anak sekolah pun direkrut pula. Anak laki-laki dari Mas Sjamsuri Hardjokusumo yang seharusnya belajar di sekolah menengah pun kena wajib militer. Padahal ketika direkrut di tahun 1941, umurnya belum genap 16 tahun. “Tahun 1941-1942 pada saat Perang Dunia II pemerintah Belanda mengadakan wajib milisi, para pegawai negeri atau pelajar dimasukan wajib militer untuk menghadapi serangan tentara Jepang. Pada waktu itu saya sebagai pelajar juga terkena wajib militer itu,” kenang Abdul Latief Mas Sjamsuri Hardjokusumo dalam riwayat hidup yang dibuatnya pada 1993 di Penjara Cipinang. “Kemudian dilatih di Magetan, Madiun dan kalau tidak salah komandan pendidikan adalah Kapten Soemarno, sedangkan komandan peleton saya Sersan Mayor Moorman.”

  • Menjemput Pak Nas

    TIGA prajurit berbaret merah bata itu terlihat bengis. Dengan popor senjata, mereka menggedor pintu kamar Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris Nasution. Namun sang jenderal yang rencananya akan dipaksa menghadap Presiden Sukarno pagi buta itu tidak jua keluar.

  • Istana Negara Saat Hari Raya

    Saat Hari Raya Idulfitri, presiden selalu melakukan open house di Istana Negara maupun Istana Kepresidenan Bogor. Hal ini rutin diadakan sejak masa Presiden Sukarno hingga saat ini.

  • Secuplik Lika-liku Kiprah Ray Sahetapy

    LANGIT Hollywood dan perfilman Indonesia sama-sama berkalang kabut duka. Saat Hollywood berbelasungkawa untuk kematian aktor Val Kilmer pada Selasa (1/4/2025), di hari yang sama belantika sinema Indonesia juga kehilangan satu aktor kawakannya, Ray Sahetapy.  Kabar duka itu datang via akun Instagram  putra mendiang, Surya Sahetapy. Almarhum Ray Sahetapy menghembuskan nafas terakhir di Jakarta pada usia 68 tahun. Mendiang punya riwayat penyakit diabetes dan stroke. Untuk sementara, almarhum dimakamkan secara Islam di TPU Tanah Kusir, Jakarta pada Jumat (4/4/2025) hari ini terlepas dari wasiat mendiang yang ingin dimakamkan dekat kampung halamannya di Sulawesi Tengah.  “Sebenarnya permintaan ayah ingin dimakamkan di kuburan keluarga di Palu, Sibowi tepatnya. Jadi mungkin dalam 1 hingga 2 tahun akan dipindahkan ke makam di Palu, ujar anak almarhum, Raya Sahetapy, dilansir Kumparan , Kamis (3/4/2025).  Sejak pertama kali terjun ke layar perak pada 1980, sudah lebih dari 100 judul film ia bintangi, belum termasuk sekitar 12 serial televisi dan 5 serial web . Akting terakhirnya terdapat dalam film Lokananta  (2024) dan serial web Kisah 3 Pembunuh  yang jadwal tayangnya masih belum ditentukan.  Sebagaimana banyak aktor legendaris Indonesia, Ray Sahetapy termasuk aktor watak yang berangkat dari panggung teater. Ia kemudian malang-melintang di berbagai genre,  mulai dari drama, komedi, hingga action. Walau tak satupun Piala Citra mampir ke pelukannya, Ray tercatat pernah menerima delapan kali nominasi untuk pemeran utama pria terbaik di tujuh ajang Festival Film Indonesia atau Piala Citra. Di antaranya untuk film Ponirah Terpidana (1984), Kerikil-Kerikil Tajam  (1984), Opera Jakarta  (1986), Noesa Penida  (1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa  (1990).  Satu penghargaan prestisius yang pernah dipetiknya adalah Indonesian Movie Actors Awards 2013 untuk nominasi pemeran pendukung pria terbaik lewat film laga The Raid (2011). Film yang juga turut membawanya ke Hollywood lalu membuatnya terlibat sebagai figuran di sebuah adegan di film pahlawan super dalam waralaba Marvel Cinematic Universe, Captain America: Civil War  (2016).  Anak Sulawesi di Gelanggang Seni Sang aktor lahir dengan nama Ferenc Raymond Sahetapy di kota pelabuhan Donggala, Sulawesi Tengah pada tahun baru 1957. Dalam Majalah Femina edisi Agustus 1991, anak keempat dari sembilan bersaudara itu mengungkapkan nama depannya Ferenc dan nama tengah Raymond merupakan perpaduan dari dua nama bintang sepakbola legendaris dunia era 1950-an, Ferenc Puskás asal Hongaria dan Raymond Kopa dari Prancis.  “Karena ayah pecandu berat sepakbola, maka dua nama depan saya adalah gabungan dari dua nama pemain bola kesayangannya itu. Mungkin karena itu pula sejak kecil saya suka main bola. Waktu kecil kerja saya cuma main saja. Saya paling suka kumpul bersama teman-teman. Kadang-kadang balapan lari sampai naik ke pohon kersen. Setiap sore kami pasti main bola di lapangan milik sekolah yang letaknya cuma lima rumah dari rumah saya,” kata Ray.  Meski terkadang ikut mewakili sekolahnya di pertandingan antarsekolah, jalan hidup Ray Sahetapy bukan di lapangan hijau. Beranjak remaja, Ray sudah bercita-cita jadi aktor yang mengantarkannya merantau ke Jakarta.  Menurut buku Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3 , Ray belajar seni peran dan teater di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (kini Institut Kesenian Jakarta/IKJ) kurun 1977-1980. Ia seangkatan dengan aktor-aktor kawakan macam Didik Ninik Thowok, Didi Petet, ataupun Deddy Mizwar yang kemudian beberapa kali beradu akting dengan Ray di layar lebar.  “Ya kami ada kenangan sebagai teman diskusi menyenangkan. Kadang sepakat, kadang enggak. Sebagai teman diskusi ya menarik. Saya main banyak film dengan dia. Ada film bagus, ada juga ecek-ecek. Banyak film komedi maupun serius seperti Opera Jakarta . Kemudian juga kenal di teater, ya kalau Ray ini perjalanan kariernya panjang,” kenang Deddy, disitat Kumparan , Kamis (3/4/2025).  Kesempatan Ray terjun ke layar perak didapatkan dalam film drama Gadis  (1980) garapan sutradara Nyak Abbas Akup. Di film perdananya ini pula Ray bersua dan kepincut Dewi Yull, lawan mainnya yang kemudian dinikahinya setahun berselang. Era 1980-an jadi era keemasan Ray Sahetapy. Selain beken atas penampilannya di film-film beken hingga mendatangkan sejumlah nominasi, Ray juga masih giat melakukan pendalaman seninya bersama kelompok teater Studio Oncor. Bahkan menurut Tempo  edisi 10 Agustus 1991, Ray Sahetapy bersama Studio Oncor tercatat jadi kelompok teater pertama yang masuk rumah tahanan, sebagai penghibur para tahanan di Rutan Salemba. Aktifnya Ray di panggung teater juga jadi alternatif baginya di tengah perfilman Indonesia era 1990-an yang lesu hingga nyaris mati.  “Ray betul-betul orang teater. Uang dan materi yang didapatkan melalui film, akhirnya mengalir lagi ke teater,” kenang Dewi Yull dalam buku Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3. Ketika Ray mulai kembali menghiasi layar perak di awal 2000-an, kehidupan rumah tangganya dengan Dewi Yull retak. Ray dan Dewi yang sudah dikaruniai empat anak, akhirnya berpisah setelah perceraian mereka disahkan Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada 2004. Di tahun yang sama, Ray menikahi Sri Respatini Kusumastuti.  “Ketidakrelaan Dewi untuk dimadu menjadi alasan kuat untuk bercerai. Demi melanggengkan jalan Ray Sahetapy untuk menikah lagi, maka Dewi memilih bercerai daripada dimadu. Permintaan Dewi untuk bercerai itu dengan mudah dikabulkan Ray dengan argumentasi, bahwa Ray tidak bisa hidup dengan orang yang tidak tabah menghadapi dirinya,” ungkap Sulistyowati Irianto dalam Perempuan & Hukum. Terlepas dari gonjang-ganjing kehidupan pribadi, kiprah Ray di perfilman Indonesia yang perlahan bangkit terus berkibar. Film laga The Raid  garapan sineas Gareth Evans jadi salah satu highlight  dalam usia senjanya. Ia memerankan tokoh antagonis Tama Riyadi sang gembong narkoba.  Sebagaimana dikutip buku Kiprah Pemain Film Indonesia di Film Luar Negeri, Jilid II , Evans sang sutradara The Raid itulah yang kemudian juga merekomendasikan nama Ray Sahetapy ke duet sineas bersaudara, Joe dan Anthony Russo, yang menggarap  Captain America: Civil War. Ray pun diikutsertakan tanpa proses casting  meski kemudian adegan-adegannya tak melibatkan adu akting dengan para aktor ujung tombak Marvel seperti Chris Evans yang memerankan Steve Rogers/Captain America dan Robert Downey Jr. Yang memerankan Tony Stark/Iron Man.  “Saya ada di scene pembuka. Jadi tidak disatukan dengan aktor-aktor tersebut,” kata Ray.  Sejatinya duet Russo bersaudara memberi Ray peran sebagai seorang juru lelang dalam sebuah pelelangan artefak dan senjata organisasi teroris HYDRA. Namun, kemudian adegan yang dimainkan Ray itu disunting dan dihapus sehingga hilang dalam rilis resmi filmnya. Alasannya, Russo bersaudara kemudian mengambil pendekatan berbeda dalam scene  awal filmnya, dari adegan juru lelang ke adegan kisah orisinal karakter antagonis lainnya, Baron Zemo yang diperankan aktor Jerman-Spanyol, Daniel Brühl.  Meski begitu, adegan yang memperlihatkan karakter Ray Sahetapy tetap dimunculkan dalam versi The Infinity Saga , box set  yang berisi adegan-adegan dan cuplikan-cuplikan yang terhapus di balik layar Marvel Cinematic Universe. Toh ia tetap diakui sebagai satu dari sedikit aktor Indonesia yang akhirnya diakui secara internasional dan mampu menembus Hollywood.  Selamat Jalan, Ferenc Raymond Sahetapy!*

  • Jatuh Bangun Kaum Abangan

    DALAM tulisan saya yang dimuat Historia.ID tentang “Asal Usul Kaum Abangan”, saya menguraikan sejarah mengapa golongan sosial itu dianggap sebagai “muslim nominal” atau “Muslim KTP”. Golongan ini terdiri dari orang Jawa yang tidak menjalankan rukun Islam sepenuhnya, yang rupanya berasal dari reaksi terhadap gerakan pemurnian Islam di dalam masyarakat Jawa yang berkembang sejak kira-kira pertengahan abad ke-19. Dalam artikel ini, kita akan membahas informasi sejarah yang menjelaskan perubahan yang mendasar dalam masyarakat Jawa satu abad sesudah itu. Kita akan memusatkan perhatian baik kepada sejarah politik maupun sejarah institusi.

  • Empat Tradisi Perang Ketupat (Bagian I)

    BAGI sebagian besar masyarakat Indonesia, ketupat jadi menu ”wajib” di setiap lebaran Idul Fitri. Ketupat seolah jadi menu wajib untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Opor ayam dan beragam lauk-pauk serasa tak ‘nendang’ jika tanpa didampingi ketupat yang lazim dinikmati selepas shalat Ied sebelum keliling bermaafan atau ketika menjamu para tetangga, kerabat, atau sanak-saudara yang bersilaturrahim. Ketupat sendiri sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak pra-Islam. Makanan ini dianggap representasi penghormatan kepada Dewi Sri, sosok yang dipuja masyarakat di Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi. Lebaran ketupat ada sebagai upaya mengangkat tradisi dari pemujaan dewi pertanian dan kesuburan yang sudah dimuliakan sejak era Kerajaan Pajajaran (923-1597 M) dan Majapahit (1293-1527 M) itu. Kuliner hasil akulturasi budaya itu turut dilestarikan oleh Walisongo saat syiar di masa Kesultanan Demak (1481-1554 M), kerajaan Islam pertama di Jawa. Maka kemudian muncul beberapa tradisi melestarikan ketupat, seperti Sekaten, Grebeg Mulud, atau Grebeg Syawal.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page