top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Influential Flavors of Arab Culinary

    IN the fifth century BC, the Greek historian Herodotus recorded the emergence of Western curiosity about the origin of spices. However, Arab traders who at that time brokered the spice trade in Europe managed to hide the origins of the spices. In The Spice Route by Jhon Keay, it is mentioned that when Arabs were asked about the origin of spices, they only answered that cinnamon, one type of spice, came from a bird's nest. It was the birds that brought the pieces of cinnamon and made them part of the nest. Where did the birds find cinnamon? Only the birds know. The price of spices at that time was so high that every information regarding it had to be kept secret.

  • Batavian Elite's Lavish Funeral Ceremony

    SHOWING off luxury was common for Batavian citizens during the VOC colonial era. The Batavian elite showed off their wealth not only when going to church, where they would be accompanied by several slaves carrying umbrellas and fans, but also in various events such as wedding ceremonies and funerals. Dutch archivist Frederik de Haan in Oud Batavia-Volume II revealed that funerals gave everyone the opportunity to look attractive in all situations.

  • Klub Sepakbola Pertama di Medan hingga Ejaan Republik

    1 Juni 1899 Klub Sepakbola Pertama di Medan Berdiri sebuah klub sepakbola bernama Oostkust Sport Club Sumatera (OSCS), yang lebih dikenal dengan Sport Club atau Sok, di Medan, Sumatra Utara. Ia adalah klub sepakbola pertama di Medan. Sebelumnya, di Medan, permainan sepakbola dan juga olahraga lainnya seperti kriket, tenis, dan atletik dimainkan Gymnastiek Vereeniging atau klub atletik. Tidak banyak catatan mengenai awal mula dan pertandingan sepakbola yang dimainkan Gymnastiek Vereeniging . Ketika Gymnastiek Vereeniging vakum, tak ada kegiatan olahraga dimainkan, termasuk sepakbola. Atas dasar itulah OSCS dibentuk. Dalam De Sumatra Post edisi 31 Mei 1904, OSCS membangun misi untuk melanjutkan kegiatan sepakbola yang pernah dilaksanakan Gymnastiek Vereeniging . Baca juga:  Mercu Buana, Klub Sepakbola Asal Medan Ditutup Karena Skandal Suap Studio fotonya Woodbury & Page. (Repro Steven Wachlin,  Woodbury & Page, Photographers of Java ). Baca juga:  Fotografer Bersaudara dalam Perang Lombok dan Aceh 5 Juni 1857 Pembukaan Studio Foto Dua orang Inggris bernama Walter Bentley Woodbury dan James Page membuka sebuah studio foto di Harmonie, Batavia. Mereka menamakan studio fotonya Woodbury & Page. Sejak itu fotografi di Hindia Belanda berkembang pesat. Mereka membentuk aktivitas fotografi yang penting di Batavia pada abad ke-19. Selain Batavia, mereka memotret wilayah Hindia Belanda, terkhusus Pulau Jawa. Mereka tidak hanya menerima jasa pemotretan untuk umum, tetapi juga menjual hasil foto yang didapat saat melakukan perjalanan di Jawa. Suwirjo, anggota Konstituante. (Syahrul Hidayat dan Kevin W. Fogg,  konstituante.net ). Baca juga:  Mengapa Demokrasi Harus Dipertahankan? 16 Juni 1959 Surat Suwirjo Kepada Sukarno Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI) Suwirjo mengirim surat kepada Presiden Sukarno, yang tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, untuk mengeluarkan dekrit kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 dan membubarkan Konstituante. Suwirjo yang juga anggota Konstituante menulis surat tersebut setelah perumusan dasar negara di Dewan Konstituante tidak menghasilkan kesepakatan. Sepulang dari Jepang, Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan Konstituante. Dekrit ini dikeluarkan setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh politik, menteri, dan pimpinan militer. Rel kereta api di Semarang. (KITLV). Baca juga:  David Maarschalk dan Perusahaan Kereta Api Negara 17 Juni 1864 Pembangunan Rel Kereta Api di Hindia Belanda Pembangunan jalur rel kereta api pertama dilakukan Nederlands Indische Spoorweg Maatchappij (NIS/NISM), perusahaan kereta api swasta yang dipimpin J.P. de Bordes. Rel kereta api itu menghubungkan Semarang–Tanggung (sekarang Kabupaten Grobogan) dengan panjang 25 kilometer. Proses pengerjaan membutuhkan waktu dua tahun. Pada 10 Agustus 1866, kereta api jurusan Semarang–Tanggung resmi dioperasikan. Setelah itu perkembangan jalur kereta api semakin pesat. Pada 1873 jalur kereta api mencapai 260 kilometer. Kemudian, pada 1930, jaringan rel kereta api dan trem sudah mencapai panjang 7.425 kilometer. Menteri Pendidikan Pengajaran, dan Kebudayaan Suwandi. Baca juga:  Menggagas Aksara Kesatuan 18 Juni 1947 Dibentuk Komisi Penyusunan Ejaan Republik Menteri Pendidikan Pengajaran, dan Kebudayaan Suwandi membentuk sebuah komisi untuk menangani permasalahan bahasa Indonesia. Komisi itu diberi tugas menetapkan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia, tata bahasa, dan kamus baru atau menyempurnakan kamus yang telah ada untuk kebutuhan pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Kerja komisi menghasilkan Ejaan Republik, atau yang dikenal dengan Ejaan Suwandi, serta 5.000 istilah baru. Ejaan Republik menggantikan Ejaan Van Ophuijsen yang telah digunakan sejak 1901. Tulisan ini sebelumnya dimuat di majalah Historia No. 31 Tahun III 2016

  • Di Balik Layar Anna and the King

    USIANYA memang tak muda lagi. Tapi badannya masih atletis untuk ukuran orang seusianya. Perutnya jauh dari buncit. Namanya Sugiono. Asalnya dari sebuah kampung di pedalaman Jawa Tengah dekat kota Purwokerto. Kata Ben Anderson, orang Banyumas berani berkelahi. Seperti Jenderal Gatot Subroto. Begitupun Sugiono, ketika muda termasuk yang siap untuk berkelahi. Angkatan Laut kemudian menerimanya. Dia lalu jadi salah satu kelasi kelas dua Korps Pelaut. Geladak KRI Dewaruci adalah dunianya sejak muda.

  • 130 Tahun Mercedes-Benz di Arena Pacu

    “HORSELESS to Hybrid: Revolutions in Power” jadi tema Goodwood Festival of Speed di West Sussex, Inggris yang mulai digelar hari ini, Kamis (11/7/2024), hingga empat hari berselang. Tidak hanya menampilkan aneka mobil dan mesin mutakhir, ajang pameran kondang di masa jeda kontes adu pacu Formula One (F1) pasca-Grand Prix Inggris (7/7/2024) itu turut menghadirkan sejarah panjang kiprah pabrikan Mercedes-Benz sejak ajang balap mobil pertama 130 tahun silam. Narasi permulaan sejarah pabrikan asal Jerman itu dihadirkan lewat koleksi Mesin 2 Silinder V Daimler. Mesin sejenis pernah jadi jantung pacu mobil Peugeot 3 hp yang dikendarai Albert Lemaître dalam Concours du Petit Journal Les Voitures sans Chevaux yang dihelat 22 Juli 1894.  Kontes berhadiah 5.000 franc dengan rute Paris-Rouen itu digagas Pierre Giffard, editor suratkabar Le Petit Journal dan diakui sebagai ajang balap mobil kompetitif pertama. Menariknya kontes ini diikuti 102 partisipan dengan aneka mobil bermesin uap dan mobil dengan mesin bensin.  “Sungguh tontonan yang membuat penasaran melihat bagaimana dua jenis kendaraan ini saling berpacu: asisten bahan bakar mobil bermesin uap bekerja keras mengisi ketel uapnya dan kontras dengan para pengemudi mobil bermesin bensin dan parafin duduk tenang di kursinya sembari menggerakkan tuas,” ujar Paul Daimler, putra pemilik pabrikan Daimler yang turut hadir, dikutip Tom Standage dalam A Brief History of Motion: From the Wheel, to the Car, to What Comes Next. Baca juga: Kereta Tanpa Kuda Sejatinya, Count Jules-Albert de Dion yang finis pertama dengan mobil bermesin uap De Dion-Bouton. Namun ia tak diakui sebagai pemenangnya karena di tengah jalan mesin uap mobilnya harus dibantu asisten mengisi bahan bakarnya sehingga kemenangannya dianggap tidak sah. Padahal ia punya catatan waktu tercepat 6 jam 48 menit dengan kecepatan rata-rata 19 km/jam. Justru Lemaître dengan mobil berbahan bakar bensin Peugeot 3 hp dengan mesin 2 silider V Daimler yang dinyatakan sebagai pemenangnya. Ia finis kedua dengan selang 3 menit 30 detik di belakang De Dion dengan kecepatan rata-rata 17 km/jam. Mesin 2 Silinder V Daimler (kiri) yang menggerakkan mobil Peugeut 3 hp yang dikendarai Albert Lemaître ( mercedes-benz.com ) Sedari Daimler ke Mercedes-Benz Mesin 2 silinder V tadi merupakan salah satu produk yang paling jamak dipakai di Eropa buatan pabrikan Daimler Motoren Gesselschaft (DMG) yang didirikan Gottlieb Daimler dan Wilhelm Maybach tahun 1890. Satu dasawarsa berselang, Maybach makin gencar mengembangkan mesin mobil balap dan desain mobilnya sendiri berkat masuknya investasi dari pebisnis otomotif Yahudi, Emil Jellinek. “Saya tidak ingin mobil untuk hari ini atau besok. Saya menginginkan mobil untuk masa yang akan datang ke depannya,” kata Jellinek dikutip Steven Rossi dan West Peterson dalam Gearhead at Large: A Backroad Tour of Automotive History and the Old Car Hobby. Lewat perjanjian kontrak kemitraan senilai 550 ribu goldmark, Maybach mendesain mobil balap revolusioner, Mercedes 35 hp bermesin Mercedes 4 silinder 5.918 cc. Rampung pada 15 Oktober 1900, desain Mercedes 35 hp dibuat dengan dimensi khusus yang lebih lebar dan lebih panjang dari mobil-mobil pabrikan lain yang juga menggunakan sasis baja dengan pusat bobot dan gravitasinya berada di bagian tengah-bawah mobil. Maybach melahirkan desain untuk balapan sekaligus untuk pengunaan di jalan umum. Baca juga: Rolls-Royce Punya Cerita Ki-ka: Wilhelm Maybach, Gottlieb Wilhelm Daimler, serta Emil Jellinek dan putrinya Mercédès ( mercedes-benz.com ) Mobil dan mesinnya dinamai “Mercedes” berdasarkan nama putri kesayangan Jellinek, Mercédès Adrienne Ramona Manuela Jellinek. Nama Mercédès juga beberapa kali dipakai Jellinek sebagai nama samaran ketika terjun langsung di ajang balap Nice La Turbie dengan mobil tersebut. Setahun pasca-wafatnya Gottlieb Daimler pada 1900, Mercedes 35 hp mulai masuk pasar otomotif.  Brand mesin dan mobil Mercedes tetap dipertahankan, baik dalam produk-produk terbaru maupun saat tampil di ajang-ajang balap. Ketika pada 1924 pabrikan itu merger dengan perusahaan milik Karl Benz, namanya menjadi Mercedes-Benz. Termasuk saat mobil Mobil Mercedes Tipo Indy yang dikendarai Christian Werner memenangkan ajang balap endurance 6 jam Targa Florio 1924. Koleksi mobil serupa turut dihadirkan Mercedes-Benz di Goodwood Festival of Speed 2024. Koleksi Mercedes-Benz lainnya yang juga dihadirkan di pameran itu adalah mobil Mercedes-Benz W25 bermesin supercharged M25 “Silver Arrow”. Dengan mesin berkekuatan maksimal 494 tenaga kuda, Mercedes-Benz W25 mengantarkan Manfred von Brauchitsch memenangkan ajang Eifelrennen 1934 dan Rudolf Caracciola menjuarai Grand Prix 1935.  Baca juga: Lika-liku Mobil Listrik yang Menggelitik Replika mobil Mercedes yang menjuarai ajang Targa Florio 1924 ( mercedesamgf1.com ) Di ajang paling bergengsi, F1 di bawah naungan FIA yang baru mulai dihelat 1950, Mercedes-Benz baru melakoni debutnya pada musim 1954. Hebatnya, debut itu langsung dimenangi pembalap tim Marcedes-Benz Juan Manuel Fangio dengan mobil Mercedes-Benz W196 R. Ia mengulangi kesuksesannya kala menjuarai F1 1955. Koleksi mobil ini juga ditampilkan di Goodwood Festival of Speed 2024. “Fangio memang menandatangani kontrak untuk balapan di tim Mercedes-Benz pada 1954 dan 1955 tapi ketika mobil pabrikan Jerman itu belum siap, ia sempat balik sementara ke tim Maserati, khusus di dua seri di Argentina dan Belgia. Tapi ketika Mercedes hadir sejak seri ketiga di Rheims dengan mesin streamline barunya, pesta serta-merta berakhir untuk tim pabrikan Italia (Maserati, red. ),” ungkap Richard Williams dalam The Last Road Race. Tak ketinggalan, mobil Mercedes-Benz C11 dengan rangka monokok serat karbon yang menjuarai Group C World Championship 1990. Lalu, mobil Mercedes-Benz SLS AMG GT3 yang tampil di race Dubai 24-Hour 2012 di mana tiga pembalapnya menyapu bersih podium 1-2-3 pun turut dihadirkan.  Last but not least , mobil balap Mercedes-AMG F1 W12 serupa yang dipakai pembalap Lewis Hamilton di F1 musim 2021 turut menghiasi Goodwood Festival of Speed 2024. Merecedes-AMG F1 W12 akan dipamerkan di area lain bersama mobil-mobil dari tim legendaris F1 lain, seperti mobil tim Red Bull RB1 dari musim 2004, Ferrari F2001 dari musim 2001, ataupun BRM Type 15 dari era 1950-an. Baca juga: Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik Searah jarum jam: Mercedes-Benz W25, Mercedes-Benz W196, Mercedes-Benz C11 & Mercedes-Benz SLS AMG GT3 (Fuji Motorsports Museum/redbull.com/goodwood.com)

  • Sandiwara Dardanella Diawasi Intel Belanda

    MEMASUKI abad ke-20, semangat nasionalisme tumbuh subur di kalangan generasi muda Hindia Belanda. Gagasan kebangsaan muncul seiring meningkatnya kesadaran akan dampak kolonialisme Belanda. Kesadaran ini tak hanya mendorong lahirnya berbagai organisasi untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga disebarluaskan kepada masyarakat melalui cerita-cerita di panggung sandiwara. Dardanella memanfaatkan panggung sandiwara sebagai media propaganda untuk menumbuhkan gagasan kebangsaan. Kelompok sandiwara yang dipimpin A. Piedro ini kerap mementaskan lakon yang bermuatan kritik sosial maupun sindiran terhadap pemerintah kolonial. Salah satunya adalah Annie van Mendut (Annie dari Mendut) karya R. Soedarmo, direktur majalah mingguan De Samenwerking di Semarang. Annie, diperankan Miss Riboet II, merupakan siswi berusia 14 tahun. Ia menentang kehendak orang tuanya yang menikahkannya dengan pengacara muda bernama Raden Andogo. Namun, Annie tak dapat berbuat banyak. Ia harus menuruti keinginan orang tuanya. Baca juga:  Dardanella Menembus Panggung Dunia Sementara itu , didorong oleh temannya , Swart, Andogo kemudian meninggalkan Annie dan anak nya untuk belajar hukum di Belanda . Selama menempuh pendidikan di Belanda , dia tak pernah mengabari Annie. Bertahun-tahun berlalu, Andogo akhirnya berhasil meraih gelar sarjana hukum dan kembali ke Indonesia. Sekembalinya ke tanah air, Andogo mengirim surat kepada Annieuntuk memberitahu bahwa dirinya telah kembali ke Jawa. Namun, ia pulang dengan membawa istri baru, seorang wanita Belanda bernama Louise. Hubungan Andogo dan Louise tak bertahan lama karena Swart menyukai istri kawannya itu. Pasangan itu pun berpisah, Andogo kembali pada Annie dengan rasa malu dan bersalah, sementara Swart menikahi Louise. Andogo (diperankan oleh Astaman, kiri) dan Annie (diperankan Miss RIboet II, kanan) tampak didamaikan oleh putri mereka (diperankan oleh Miss Dja, tengah) dalam lakon Annie van Mendut yang ditampilkan di Batavia pada tahun 1930. Dardanella rutin mempertunjukkan lakon ini di setiap penampilannya hingga akhir tahun 1935. (Spaarnestad Photo/Het Geheugen). Menurut Jaap Erkelens dalam Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern, Duta Kesenian Indonesia Melalang Buana , Annie van Mendut tak hanya mengandung pesan bahwa zaman telah berubah dan kebiasaan lama, seperti pernikahan yang diatur oleh orang tua harus ditinggalkan, tetapi melalui karyanya itu juga, Soedarmo yang dikenal pula sebagai pendiri dan guru pada Hollandsch-Inlandsche School “Mardi Siswo” di Semarang, hendak menggambarkan bagaimana seorang manusia menjadi terasing dari bangsanya sendiri setelah mengenyam pendidikan Barat. Annie van Mendut , yang mulai dipentaskan pada 1929, tak hanya mendapat respons positif dari penonton, tetapi juga menuai pro dan kontra. “Pada akhir Mei 1931, tersiar desas-desus di Padang kalau lakon Annie van Mendut yang dipentaskan untuk pertama kali di Padang tanggal 22 Mei mengandung maksud politik serta penghinaan terhadap orang Eropa di Hindia Belanda. Andjar Asmara yang menilai rumor ini muncul karena kesalahpahaman segera memasang iklan di surat kabar untuk membantah rumor itu, sekaligus memberitahukan pertunjukan ulang untuk lakon tersebut,” tulis Erkelens. Baca juga:  Mengawasi Kaum Pergerakan Lakon Annie van Mendut sampai menarik perhatian intel Belanda. Mengutip surat kabar Soemanget , 29 Juni 1932, Erkelens menulis, sebelum menggelar pertunjukan di Bandung, Andjar Asmara diperingatkan oleh Komisaris Politieke Inlichtingendienst (PID, Dinas Intelijen Politik) di Bandung, H.M. Albreghs. Sang komisaris bahkan menghadiri seluruh pertunjukan. “Menurut surat kabar ini, lakon Annie van Mendut mengkritik orang Indonesia, yang setelah belajar di universitas di Belanda, lantas menghilangkan kebangsaannya, tidak sudi bercampur gaul dengan bangsanya,” tulis Erkelens. “Alasan spesifik bagi Albreghs untuk memberikan peringatan kepada Andjar Asmara mungkin, setidaknya menurut surat kabar ini, ialah sebuah pertanyaan yang diajukan dalam lakon itu, yakni soal ‘apa artinya cinta bangsa’,” tambahnya. Sejumlah anggota kelompok sandiwara Dardanella tengah mempersiapkan diri sebelum tampil dalam pertunjukan yang diselenggarakan di Batavia pada tahun 1930. (Spaarnestad Photo/Het Geheugen). Pengalaman berhadapan dengan intel Belanda tak hanya sekali dialami Andjar Asmara. Dua tahun setelah peristiwa di Bandung, tangan kanan A. Piedro itu kembali dimintai keterangan oleh intel Belanda ketika Dardanella hendak pentas di Manado pada Juli 1933. Kali ini, mantan pemimpin redaksi majalah film pertama, Doenia Film , itu diinterogasi mengenai lakon ciptaannya berjudul Dr. Samsi . Pada suatu hari, Soegiat, putra Samsi, mendapat tugas membela Soekaesih yang dituduh membunuh suaminya. Tanpa diketahui Soegiat, ternyata Soekaesih adalah ibu kandungnya yang juga wanita dari masa lalu Samsi. Seiring keberhasilan Soegiat membebaskan Soekaesih dari tuduhan pembunuhan, ia pun akhirnya mengetahui bahwa Samsi merupakan ayah kandungnya, dan dokter itu yang membunuh suami Soekaesih, Leo van den Brink, yang juga rekan kerjanya di rumah sakit. Baca juga:  Lakon Bung Karno di Panggung Tonil Lakon-lakon yang ditulis maupun digarap ulang oleh Andjar Asmara bertujuan untuk menarik perhatian kaum intelektual di Hindia Belanda. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikannya di surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië , 30 Oktober 1931. Pria yang lahir dengan nama Abisin Abbas itu mengatakan, sebuah pertunjukan lakon sudah sepatutnya dimanfaatkan juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. “Dengan teater pedagogis kita dapat memberikan kepada rakyat apa yang seharusnya kita berikan dengan alat-alat lain, seperti buku-buku, tulisan, koran, dan sebagainya. Sementara dengan buku-buku dan tulisan-tulisan masih menjadi pertanyaan besar apakah mereka akan dibaca, para penonton dari kalangan atas sampai bawah datang ke teater kami untuk bersantai, dan saya tidak bisa membayangkan bidang yang lebih baik untuk pendidikan moral bagi penduduk lokal,” ungkap Andjar Asmara. Menurutnya, sandiwara atau tonil dapat digunakan sebagai alat untuk pendidikan moral masyarakat, “untuk memperhalus dan mempertinggi budi pekerti, mengasihi sesamanya, menanamkan rasa tanggung jawab, memberantas perjudian, mendiskusikan poligami, mengangkat derajat wanita, dan hal-hal penting lainnya.”*

  • Cerita dari Negeri Segantang Lada

    DARI Pelabuhan Tanjung Bruas, Malaka, KRI Dewaruci lepas tali sekitar pukul 14.00 waktu setempat tanggal 3 Juli 2024 guna menyusur ke arah selatan. Sekira pukul 6.00 keesokan paginya, Dewaruci sudah menyusuri perairan Singapura-Batam. Tampak dari kejauhan Singapura begitu megah dengan gedung-gedungnya. Dari kejauhan pula Batam terlihat kalah gemerlap. Batam begitu terkenal di Kepualauan Riau. Daerah yang sedari dulu hingga kini sangat strategis itu hanya dipisahkan selat selebar kurang dari 20 km dari Singapura, yang sejak dulu merupakan pelabuhan internasional. Batam juga dekat dengan Pulau Bintan, Pulau Bulan, dan pulau-pulau kecil lainnya. Daerah ini dulunya dikenal dengan Segantang Lada. Gelar Segantang Lada, menurut Dedi Arman dalam Usaha Perkebunan Lada di Kepulauan Riau Abad 19 yang dimuat di Jurnal Jantra Volume 17 Nomor 1 Bulan Juni 2022, muncul pada 1970-an dari seniman Moh. Daud Kadir untuk merepresentasikan Kepulauan Riau yang punya banyak pulau dan dulunya adalah penghasil lada. Dulu, lada adalah barang dagangan di Batam. “Harga lada di Batam meroket karena ada persaingan dari pembeli-pembeli Belanda, Inggris, dan Cina,” kata Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia . Kini, Batam bukan lagi penghasil lada. Batam kini ramai sebagai kota pelabuhan-industri dan niaga. Penanaman lada di Kepualauan Riau pun lebih belakangan dibandingkan Lampung, Banten, Aceh, dan daerah-daerah pesisir Selat Malaka lainnya. Batam dulunya adalah sebuah kampung pesisir. Salah satu kampung yang ada didirikan Nong Isa, yang belakangan dikenal sebagai Nongsa. Lada mulai ditanam Batam dan sekitarnya pada abad ke-18. Kebun lada banyak dimiliki orang Melayu yang turun-temurun tinggal di sekitar Batam dan orang Bugis yang merantau dari Sulawesi Selatan. Belakangan, orang Tionghoa yang mula-mula datang sebagai kuli pun ada yang punya kebun lada. Di seberang Batam, tepatnya di Pulau Bintan, perdagangan lada di masa lalu juga terjadi. Raja Ali Haji yang bertakhta di Pulau Penyengat menyebut lada pada abad ke-19 ditanam di Senggarang dan Bintan. Menurut catatan Dedy Arman, di Bintan lada diperdagangkan bersama gambir. Bintan adalah satu dari sekian pulau dan merupakan yang terbesar di Kepulauan Riau. Selain merupakan pusat administratif dan lebih ramai penduduknya daripada Batam, Bintan di masa lalu jauh lebih dikenal daripada Batam. Petualang Venesia bernama Marco Polo (1254-1324), yang pernah singgah di sana dalam pelayarannya dari Tiongkok pada 1292, menyebutnya Pantan. “Asal-muasal nama Bintan yang melegenda mungkin masih perlu direnungkan, namun faktanya bagian terdalam pulau ini, yang meliputi Gunung Bintan dan Sungai Bintan, benar-benar menyimpan akar budaya dan identitas Bintan. Nama pulau ini sendiri diambil dari nama daerah tersebut dimana kata Bintan selalu mendahului sebutan suatu tempat, seperti pada kasus Bintan Bukit Batu. Orang Melayu awalnya hanya menamai sebagian pulau saja, dan Belandalah yang memperluas penggunaan nama sungai dan gunung tersebut ke seluruh pulau,” tulis Gilles Massot dalam Bintan, Phoenix of the Malay Archipelago . Kepulauan Riau pernah berada dalam kuasa Kerajaan Sriwijaya. Bintan menjadi daerah terluarnya. Setelah Sriwijaya memudar pengaruhnya di Sumatra dan sekitarnya, banyak daerah di Segantang Lada menjadi merdeka. “Dari ibu kotanya yang terletak di pedalaman di sepanjang Sungai Musi dekat kota yang sekarang dikenal dengan nama Palembang, Sriwijaya melakukan monopoli atas perdagangan produk-produk oriental yang berharga yang dibawa oleh perahu-perahu yang melintas di sepanjang pantai. Kekuatan Sriwijaya muncul dari pemerintahannya yang terorganisir dengan baik, yang pengaruhnya, pada puncak kekuasaannya, meluas ke seluruh Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand bagian selatan, dan Jawa bagian timur,” sambung Gilles Massot. Sebagai negeri-kerajaan berdaulat, Bintan tentu punya pemerintahan. Namun, tidak banyak sumber yang mendokumentasikannya. “Rajanya yang diketahui bernama Azhar Aya dan setelah mangkat digantikan oleh Iskandar Syah. Setelah Iskandar Syah wafat digantikan oleh permaisurinya sendiri karena tak mempunyai keturunan sebagai penggantinya,” catat Anwar Syah dkk dalam Sejarah Daerah Riau . Ketika permaisuri Iskandar Syah berkuasa, Bintan kedatangan Sang Sapurba, yang berakar dari Palembang sekitar abad ke-13. Sang Sapurba melakukan perjalanan dari daerah asalnya, daratan Sumatra. Ketika berada di Tanjungpua, dia menikahkan anaknya dengan putri raja Tanjungpura. Ketika berada di Minangkabau, Sang Sapurba juga diminta menjadi raja di Minangkabau. Di Bintan, Sang Sapurba juga menikahkan anaknya dengan putri raja Bintan. Sang Sapurba kemudian menuju Kuantan, ibukota Negeri Pahang, Malaysia. Di sana, Sang Sapurba kemudian juga menjadi raja. Permaisuri Iskandar Syah menyambut Sang Sapurba dan kemudian Sang Nila Utama, anak Sang Sapurba, dijadikan anak angkat permaisuri. San Nila Utama kemudian diangkat sebagai raja di Bintan. Sang Nila Utama yang ikut membangun Tumasek alias Singapura itu kemudian bergelar Sri Tan Buana. Anak keturunan Sang Sapurba kemudian membuat Singapura (Tumasek), Bintan, Kuantan dan Tanjungpura menjadi punya hubungan kekeluargaan. Bintan adalah kerajaan yang suka menjalin persahabatan dengan banyak kerajaan di Selat Malaka, termasuk Malaka. Bahkan, dengan dengan Kerajaan Siam (Thailand) yang berbeda agama pun Bintan bersahabat. Bintan sempat menjadi kerajaan dengan wilayah luas di kawasan Segantang Lada. Pulau-pulau di sekitarnya sempat menjadi wilayahnya. Belakangan setelah Kerajaan Malaka runtuh, Bintan menjadi bagian dari Kemaharajaan Melayu. Bintan bahkan menjadi ibukota kemaharajaan sekitar tahun 1613, ketika Kerajaan Aceh (zaman raja Iskandar Muda) menyerang Kemaharajaan Melayu. “Sejarah dua kerajaan Melayu: Melaka dan Johor-Riau, di mana Bintan memainkan peran penting, merupakan laporan yang berbelit-belit. Ini adalah sejarah yang penuh kemegahan dan kejayaan, persaingan dan pengasingan, serta perselisihan dinasti yang tiada akhir. Sifat yang kontras dan sulit dipahami pada inti sejarah kerajaan ini dapat dilihat sebagai cerminan dari naik turunnya air laut dan muara pasang surut yang menjadi tempat kehidupan masyarakat Melayu diatur,” tulis Gilles Massot.

  • Tembok Besar Yao Ming

    USIANYA masih begitu muda, tapi kehadiran Zhang Ziyu di lapangan berdampak besar di FIBA Women’s Asia Cup U-18 2024. Posturnya yang menjulang setinggi 7 kaki 3 inci (2,21 meter) membuatnya viral hingga dijuluki “Yao Ming Wanita”. Perannya langsung terasa saat Zang Ziyu cs. berhadapan dengan timnas putri Indonesia pada pertandingan Divisi A, penyisihan Grup B di Longhua Cultural and Sports Center, Shenzhen, China pada 24 Juni 2024. Meski masih pemain cadangan dan pergerakannya lamban, tak satupun pemain Indonesia yang mampu mencegahnya mencetak 11 poin dan 8 rebounds dalam laga yang berakhir dengan kemenangan China 109-50 itu. China memang kemudian harus menyerah 76-96 di final ketika meladeni Australia. Kendati begitu, sebagaimana dilansir laman resmi FIBA, 30 Juni 2024, Zhang Ziyu mendapatkan penghargaan Most Valuable Player (MVP) serta masuk ke dalam lima pemain terbaik dengan catatan rata-rata 35 poin dan 12,8 rebounds per pertandingan sepanjang turnamen Piala Asia U-18 FIBA 2024. Baca juga: Gila Basket di Filipina Seperti banyak pebasket lain, sosok jangkung kelahiran Provinsi Shandong, 1 Mei 2007 itu punya mimpi untuk tampil di WNBA atau NBA Putri. Kompetisi tersebut merupakan kompetisi basket terbaik dunia.  “Target saya saat ini tentunya terus bermain dan melakukan dunk setiap pertandingan. Target yang lebih tinggi ingin pergi ke Amerika (Serikat) dan bermain di WNBA. Itu benar-benar jadi mimpi yang mungkin masih jauh tercapai tapi saya menginginkannya,” kata Zhang Ziyu kepada Athlon Sports , Selasa (2/7/2024). Dengan performanya yang menjanjikan, Zhang Ziyu sangat berpotensi menyusul kompatriotnya, Han Xu, yang merupakan pebasket putri China pertama yang mentas di WNBA bersama tim New York Liberty sejak 2019. Dengan posturnya yang menunjang, Zhang Ziyu juga punya prospek cerah jadi pebasket asal Negeri Tirai Bambu yang juga bersinar sebagaimana Yao Ming yang sudah pensiun 13 tahun silam. Zhang Ziyu saat menghadapi Indonesia di Piala Asia Putri U-18 (FIBA) Lika-liku Yao Ming ke Pentas NBA Kondisi kaki dan engkel kiri Yao Ming sudah tak lagi “bersahabat” hingga memaksanya absen di pentas NBA musim 2009-2010. Kendati timnya, Houston Rockets, berharap bisa memperpanjang kontrak, pada 8 Juli 2011 pemain center berpostur 7 kaki 6 inci (2,29 meter) itu bulat memutuskan untuk pensiun. “(Pemain) Rockets Yao Ming telah memutuskan untuk pensiun dari NBA, dari sumber liga kepada Y! Sports. Ia akan menginformasikannya kepada otoritas liga dalam 48 jam ke depan,” ungkap kolumnis Yahoo! Sports dan ESPN , Adrian Wojnarowski di akun X-nya, @wojespn , 9 Juli 2011. Meski begitu, Yao baru secara resmi mengumumkannya saat sudah kembali ke Shanghai, China. Dalam sebuah konferensi pers pada 20 Juli 2011, ia mengaku terpaksa pensiun karena kaki kirinya sudah tiga kali mengalami keretakan. Ia juga berterimakasih atas kesempatan yang diberikan manajemen Houston Rockets selama sembilan tahun (2002-2011) dan menatap karier di luar lapangan yang tetap tak jauh dari dunia basket. “Saya sudah berpikir matang. Hari ini saya mengumumkan keputusan personal: mengakhiri karier saya sebagai pemain basket. Satu pintu memang sudah tertutup tapi pintu lain akan tetap terbuka,” kata Yao, dikutip BBC , 20 Juli 2011. Baca juga: Salam Olahraga! Apa Kabar Ary Sudarsono? Yao Ming memang tak pernah bisa jauh dari basket. Maklum, ia lahir dari keluarga pebasket yang kebetulan DNA-nya juga punya fisik tinggi menjulang. Jeff Savage dalam buku biografi bertajuk Yao Ming mencatat, Yao lahir kota berpopulasi terbesar, Shanghai, pada 18 September 1980. Ia merupakan anak tunggal dari pasutri pebasket profesional, Yao Zhiyuan dan Fang Fengdi.  Shanghai Sharsk yang jadi klub pertama Yao Ming (CGTN/sohu.com) Sang ayah punya postur 6 kaki 7 inci (2,01 meter) dan ibundanya yang juga kapten timnas China punya postur 6 kaki 3 inci (1,91 meter). Yao yang juga tumbuh sebagai anak berpostur jangkung sudah diperkenalkan dengan basket sejak usia dini, lalu mulai masuk sekolah olahraga lewat rekomendasi Komisi Olahraga Shanghai di usia sembilan tahun. “Saya selalu jadi murid tertinggi di kelas. Mengharuskan saya selalu duduk di kursi barisan paling belakang,” kata Yao dikutip Savage. Baca juga: Babak demi Babak Kehidupan Legenda Basket Julisa Rastafari Semasa sekolah itu, Yao terus berada di bawah pengawasan Komisi Olahraga Shanghai dengan sang ayah tetap mendampingi jadi pelatih. Menurut Brook Larmer dalam Operation Yao Ming: The Chinese Sports Empire, American Big Business, and the Making of an NBA Superstar , langkah ketat pengawasan otoritas olahraga itu ibarat “Operasi Yao Ming”. “Kami sudah lama mencari kehadiran pemain seperti Yao Ming selama tiga generasi,” ungkap sesepuh otoritas olahraga dan veteran pelatih Wang Chongguang, dikutip Larmer. Saat usianya 13 tahun dengan postur 6 kaki (1,82 meter), Yao langsung direkrut tim junior Shanghai Sharks di bawah naungan asosiasi basket China CBA. Butuh empat tahun baginya untuk menembus tim senior. Sayangnya, sejak usia 18 tahun itu juga Yao mulai cedera patah kaki pertamanya hingga membuat kemampuannya melompat untuk melakukan dunk berkurang. “Sebelumnya saya sempat cedera kaki kiri (pada 1998). Tahun berikutnya kaki saya yang sama juga patah saat pertandingan pramusim pada Desember setelah seseorang menghalangi kaki saya ketika saya hendak bergerak. Dokter bilang keadaan saya baik-baik saja tapi sejak saat itu saya tak pernah bisa melompat seperti dulu, padahal nge-dunk sangat penting di basket China,” kenang Yao dalam otobiografi yang dituliskan Ric Butcher, Yao: A Life in Two Worlds. Memperkuat timnas basket China kurun 2000-2008 (FIBA) Saingan terberat Yao cs. di kompetisi domestik saat itu adalah Bayi Rockets yang diperkuat bintangnya, Wang Zhizhi, hingga acap jadi langganan juara kedua. Pasca-Wang hijrah ke Amerika dan jadi pebasket China pertama yang tampil di NBA bersama Dallas Mavericks pada 2001, Yao baru ikut mengantarkan gelar Kejuaraan CBA pertama untuk Shanghai Sharks. Yao pun turut menyusul Wang ke Negeri Paman Sam. Itupun setelah didesak deputi manajer umum Shanghai Sharks, Li Yaomin. Namun dorongan petinggi Sharks itu bukan tanpa maksud. Li juga jadi makelar agar Yao mau berada di bawah naungan perusahaan agen pemain Evergreen Sports. Inc milik Michael Coyne pada Juli 2000. “Li Yaomin memaksakan dokumen dua halaman ke hadapan orangtua Yao. Dokumen perjanjian yang akan memberikan hak kepada perusahaan Coyne untuk mewakili Yao selama tiga tahun sampai 31 Juli 2002. Yao dan orangtuanya buta terhadap aturan-aturan NBA dan penjelasan Coyne membuat mereka tambah bingung,” sambung Larmer. Baca juga: Ary Sudarsono si Peluit Emas Selain durasi kontrak tiga tahun, dalam dokumen itu juga tertera bahwa Evergreen Sports Inc. sebagai agen akan mendapatkan sepertiga dari pendapatan Yao. Hal itu jelas menyalahi aturan NBA bahwa batasan komisi agen hanya 4 persen atau seperdelapan dari apa yang tertera di dokumen tadi.  Dokumen yang jadi kontrak itu mulanya diteken Yao. Kontrak itu baru bisa dicabut dan dinyatakan invalid beberapa tahun setelah Yao tampil di NBA dan mendapat kontrak dengan apparel olahraga, Nike. “Saya membawa kontrak itu ke Asosiasi Pemain NBA dan presidennya, Billy Hunter menyatakan kontrak itu konyol karena ada aturan yang berlaku di sini. Akhirnya saya melibatkan dua pengacara dan bisa diterminasi,” kenang Yao dalam otobiografinya. Yao Ming saat baru datang dan terdaftar di NBA Draft 2002 (NBA) Tetapi sebelum akhirnya bisa mentas di NBA, Yao dihadapkan dengan kerumitan lain. Menjelang NBA draft (pemilihan pemain NBA) musim 2002-2003, CBA merilis aturan baru bagi setiap pemain China yang akan berkarier di NBA. Salah satunya adalah pemerintah melalui CBA mewajibkan Yao menyumbangkan setengah pendapatannya, baik gaji dari klub maupun income dari sponsor, kepada pemerintah dan CBA. Kewajiban lainnya adalah Yao wajib datang setiap ada pemanggilan ke skuad timnas China agar kejadian Wang Zhizhi menolak pemanggilan saat masih sibuk bermain untuk Dallas Mavericks tak terulang. Syarat berikutnya, tim Houston Rockets harus memberi jaminan akan memilih Yao saat NBA Draft. Jika tidak, CBA takkan mengizinkan Yao berangkat ke Amerika. Semua persyaratan dari CBA itu akhirnya bisa dinegosiasikan oleh tim negosiasi Yao yang berisi Erik Zhang, Bill Duffy (agen NBA), Lu Hao (agen China), Prof. John Huizinga (ekonom University of Chicago), dan Bill Anders (wakil presiden marketing BDA Sports Management). Alhasil pada saat NBA Draft 2002, Houston Rockets memilih Yao sebagai pebasket internasional pertamanya tanpa pengalaman kompetisi basket kampus Amerika. Yao juga sempat diizinkan absen dari timnas China di FIBA World Championships 2002 hanya karena negosiasi Rockets untuk memperlancar adaptasi Yao di training camp pramusim. Baca juga: Jungkir Balik Mengimpor NBA ke Indonesia Debut Yao terjadi dalam laga tandang kontra Miami Heat pada 16 Desember 2002. “Sambutan” miring menghampirinya saat 8.000 keping kue keberuntungan dikeluarkan fans tuan rumah. Namun Yao mengaku tak tersinggung karena menganggap kue keberuntungan bukan produk budaya China. Pun menjelang pertandingan kontra Los Angeles Lakers pada 17 Januari 2003, Yao juga “disambut” bintang Lakers Shaquille O’Neal dengan candaan bernada rasis. “Katakan pada Yao Ming, ‘ching-chong-yang-wah-ah-soh,’ saya sudah tak sabar menghancurkan sialan itu,” ucap O’Neal, dilansir Asian Week , 3 Januari 2003. Berkarier di tim Houston Rockets dan tampil di tim All-Star (NBA) Tetapi, Yao mampu membuktikan dirinya tak sekadar mampir ke Amerika. Ia juga berprestasi di skuad timnas China dengan tiga kali memenangkan medali emas di FIBA Asia Cup (2001, 2003, dan 2005) serta sekeping perak di Asian Games 2002. Hanya di Olimpiade 2008 ia gagal tampil maksimal karena baru pulih cedera patah kaki. Sedangkan di NBA, Yao delapan kali masuk NBA All-Star (2003-2009 dan 2011) kendati beberapa kali terus dibekap cedera kambuhan. Lantaran jadi pemain berpostur paling tinggi di NBA saat itu, Yao menyandang beberapa julukan: “Ming Dynasty”, “Beast from the Far East”, “Chairman Yao”, hingga yang paling populer “Great Wall of China”. Baca juga: Narasi di Balik Jersey Legendaris Magic Johnson Sepanjang membela Rockets (2002-2011), Yao mencetak rata-rata 19 poin dan 9,2 rebounds dalam 486 pertandingan. Yao juga mengantarkan Rockets empat kali ke NBA Playoffs (2004, 2005, 2007, dan 2009). Namun di akhir tahun 2010 ia sudah tak tahan lagi dengan kondisi cederanya hingga membuatnya nyaris absen sepanjang 2011. Yao akhirnya mengambil keputusan untuk pensiun pada 20 Juli 2011. Sekira 1,2 juta warganet China di situs microblog Sina Weibo pun mengomentari pengumumannya. Masuk jajaran Hall of Fame pada 2016 (NBA) “Saya ingat betapa antusiasnya ketika menyebut namanya saat pemilihan (draft) pertama dan ia menjadi jembatan bagi fans China dan Amerika. Kiprahnya semua terjadi seiring kombinasi bakat, dedikasi, aspirasi kemanusiaan, dan selera humor. Betapa kombinasi yang indah,” ujar Komisioner NBA David Stern, disitat Houston Chronicle , 20 Juli 2011. Pada 2016, Yao dinobatkan masuk Naismith Basketball Hall of Fame. Sementara Houston Rockets mulai 3 Februari 2017 memensiunkan nomor punggung 11 yang biasa dipakai Yao sebagai penghormatan padanya.  Baca juga: Selamat Jalan Kobe Bryant!

  • The Mystical Javanese Primbon

    A TOTAL solar eclipse crossed several provinces in Indonesia on March 9, 2016 which sparked enthusiasm among those who had been waiting for it. The event was also a perfect opportunity to attract tourists. For modern science, a solar eclipse is just a natural phenomenon, but it’s much more than that in Javanese primbon, Javanese compendia containing information and prediction for various affairs and actions in daily life.

  • Bermula dari Nazar

    LAGU “What a Wonderfull World” itu tak keluar dari mulut Louis Armstrong, yang lebih dari setengah abad silam mempopulerkannya. Lagu itu dinyanyikan Din dengan gitar bolongnya. Habis lagu Louis Armstrong, sejumlah lagu lain dimainkannya. Termasuk “Yesterday Once More” milik Carpenter, juga “My Way”s yang dipopulerkan Frank Sinatra. Peziarah sejarah yang mendengar suara musiknya pun banyak yang menyukainya. Bahkan,  ada yang ikut menyanyi. Semua lagu dimainkan Din di bekas altar sisa bangunan Gereja Katolik St. Paul peninggalan Portugis di Malaka ketika langit sore Malaka begitu biru. Gereja Katolik yang bisa dilafalkan sebagai Santo Paulus itu dulunya bagian terdalam dan tertinggi di Kompleks Benteng Malaka yang dulu disebut A Famosa. Terletak di atas Bukit Malaka, pemandangan Bandar Malaka terlihat dari bukit tersebut. Termasuk sisa reruntuhan benteng yang dulu mengelilinginya. Ketika Portugis berkuasa, di sisi selatan Sungai Malaka, terdapat sebuah kota berbenteng bernama A Famosa. Arti dari nama itu adalah terkenal. Portugis dikenal sebagai negeri Katolik yang tunduk kepada Paus di Vatikan. Maka ketika Portugis berkuasa di Malaka, sebuah gereja katolik didirikan di sana. Oleh Portugis mulanya dinamai Nossa Senhora da Annunciada. Gereja Katolik itu disebut Ken Yeang dalam The Architecture of Malaysia sebagai gereja “tertua yang masih bertahan” di Malaysia. Gereja itu dibangun setelah tahun 1521. Di balik pembangunannya, terdapat seorang pejabat Portugis terkenal bernama Duarte Coelho. “Pada tahun 1521 Duarte Coelho dan ketiga Junknya telah dikepung oleh enam puluh lima kapal Tiongkok yang bermusuhan di dekat wilayah itu, dan dia telah bersumpah kepada Bunda Allah bahwa dia akan membangun sebuah kapel untuknya jika dia membebaskannya dari bahaya kematian yang dia alami,” catat Georg Schurhammer dalam Francis Xavier; His Life, His Times: Indonesia and India, 1545-1549 . Setelah Duarte selamat dari bahaya itu dan sesampainya di Malaka, nazarnya kepada Bunda Maria pun dia tunaikan sebagai rasa syukurnya. Di Malaka yang sedang menjadi pangkalan Portugis untuk rempah-rempah dari Maluku itu, Duarte pun membangun sebuah kapel untuk memperingati keselamaatannya ketika terancam oleh armada Tiongkok. Selain oleh orang-orang Portugis, Malaka pernah didatangi oleh rohaniawan Katolik dari Spanyol. Fransiskus Xaverius, orang Spanyol itu, merupakan penyebar Katolik penting di Nusantara. Dia tiba sekitar 1545. Perdagangan rempah yang ramai di Malaka tak hanya mendatangkan pedagang dari bermacam bangsa, tapi juga ikut mempengaruhi penyebaran agama Kristen. Itu terus berlanjut ketika Belanda yang Protestan menguasainya. Setelah Portugis berkuasa di Malaka (1511-1641), maskapai dagang Belanda Verenigde Oostinsidsche Compagnie (VOC) merebutnya setelah berkali-kali usahanya gagal pada 1597, 1606, dan 1636. Belanda berhasil merebutnya pada 1641 dan menguasainya lebih dari seabad seperti Portugis (1641-1825). “Aliansi bijaksana dengan suku Melayu Johor-Riau, memungkinkan Belanda mengusir Portugis dari Melaka pada awal 1641. Namun perebutan Melaka, yang disadari oleh Belanda (seperti yang dilakukan Portugis 130 tahun sebelumnya), tidak berarti terus mengalirnya komoditas dari Malaka. Kehancuran Portugis di Melaka memastikan konsolidasi agenda monopoli VOC,” Tulis Ooi Keat Gin dalam “‘Bridge’ to ‘Fence’: A Maritime History of the Straits of Malacca”, dimuat di Journal of Maritime Studies and National Integration No. 6, 2022. Belanda dikenal dengan penganut Protestannya. Belakangan, jumlah gereja bertambah. Gereja Anglikan juga muncul. Sekitar 1753, VOC membangun gereja di dekat balai kota ( stadshuis ). Kini gereja yang dicat merah bata itu dikenal sebagai Gereja Merah. Belakangan, gereja itu kerap disebut St Paul. Gereja St. Paul tak berfungsi sebagai tempat ibadah seperti umumnya gereja. Sebagian atapnya sudah hilang. Pada dindingnya, susunan batu laterit (yang menjadi bahan penting bangunan ini) –yang ditemukan di sekitar sungai dan pantai di Malaka; merupakan bahan utama pembuat benteng-benteng Eropa di masa lalu– terlihat. Ia lebih cocok menjadi tempat berfoto bagi wisatawan. Keberadaan Gereja St. Paul menjadikan Bukit Malaka terkadang disebut sebagai St. Paul Hills. Di bawah Gereja St. Paul, di Jalan Parameswara, terdapat beberapa sekolah dan banyak museum, termasuk Museum UMNO. Makam-makam kuno tinggalan Belanda pun juga masih ditemukan di lereng-lereng bukit St Paul kini. Begitu pun replika istana Kerajaan Malaka yang dipangkas Portugis.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page