top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Singa Mesopotamia yang Menyala

    IRAK bak menjadi momok baru bagi tim nasional sepakbola Indonesia di Asia. Tak peduli tingkat senior maupun U-23 sejak 2006. Setidaknya dalam empat kali pertemuan, para punggawa Garuda kesulitan menaklukkan tim yang negerinya sempat luluh lantak akibat invasi Amerika Serikat cs. dalam Perang Irak (2003-2011) serta intervensi Amerika dalam pemerintahan Irak (2014-2021). Sejak 2006, timnas Indonesia empat kali bersua Irak dan semua berakhir pahit. Pada babak penyisihan Grup B Asian Games 2006, timnas Indonesia U-23 dihajar Irak U-23 dengan skor menholok, 0-6.  Di level timnas senior, pada pertemuan pertama babak kedua penyisihan Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona AFC pada 16 November 2023, tim besutan Shin Tae-yong juga keok 1-5. Begitu juga di laga perebutan juara ketiga Piala Asia U-23 pada 2 Mei 2024, Ivar Jenner cs. dibekuk 1-2 sehingga Irak U-23 yang lolos ke Olimpiade 2024. Terbaru, saat kembali melakoni pertemuan kedua di Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026 di kandang, Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada Kamis (6/6/2024), lagi-lagi timnas senior Indonesia keok, 0-2. Irak pun memastikan diri lolos ke babak terakhir kualifikasi zona Asia. “Fase berikutnya (babak ketiga) kualifikasi Piala Dunia akan sulit dan berbeda karena akan terdapat tim-tim dengan level tinggi seperti Jepang, Korea, Iran, dan beberapa tim yang lolos lainnya. Yang pasti sudah jadi mimpi kami untuk lolos (Piala Dunia) dan kami akan melakukan hal terbaik untuk mencapainya,” kata Jesús Casas, pelatih Irak, dikutip laman resmi AFC, Jumat (7/6/2024). Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Jesús Casas García (tengah) yang membesut timnas Irak sejak 2022 ( the-afc.com ) Di Balik Gaung Sepakbola Irak Sebagaimana di negara-negara dunia ketiga, sepakbola modern hadir di Irak sebagai olahraga yang dibawa serdadu-serdadu dan ekspatriat Inggris. Pasukan Inggris mendirikan basis-basisnya di beberapa wilayah Irak seiring Pemberontakan Arab terhadap Kesultanan Utsmaniyah (1916-1918). “Personil militer Inggris memainkan sepakbola di antara sesama prajurit (Inggris) dan rekrutan-rekrutan lokal di basis-basis militer mereka. Direktur Pendidikan Humphrey Ernest Bowman juga mendorong permulaan sepakbola di beberpa sekolah. Sebuah pertandingan antara dua tim sekolah tercatat sempat terjadi pada Maret 1918 dan pada 1921 sudah ada kompetisi untuk tim-tim sekolah,” ungkap Stuart dan Philip Laycoc dalam How Britain Brought Football to the World. Sepakbola kian populer di Baghdad dan beberapa kota lain sejak 1923 seiring makin banyak ekspatriat Inggris yang datang karena maraknya eksploitasi sumur-sumur minyak. Saat itu, Kerajaan Irak pimpinan Raja Faisal I yang terbebas dari kekuasaan Turki Utsmaniyah berstatus Mandatory Irak di bawah mandat Kerajaan Inggris. “Pada 1923 sudah berdiri Baghdad Football Association (BFA) yang mengatur kompetisi yang lebih luas dengan klub Inggris, Baghdad Casuals, memainkan peran kuncinya. Akan tetapi gairah sepakbola makin berakar di antara masyarakat lokal Irak dan pada 1931 sekelompok personel angkatan udara Irak yang dilatih Inggris membentuk klub tertua, Al-Quwa Al-Jawiya, selain juga klub personel angkatan udara Inggris, RAF Habbaniya,” tambahnya. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola BFA menggelar kopetisi resmi pertamanya pada 1924 yang diikuti 16 tim militer, sekolah, hingga tim-tim kampus. Adalah klub Thanawiya al-Merkaziya yang menjadi juara pertamanya pada April 1924 setelah di final mengalahkan Wazara al-Ashgal, 3-0.  Tak hanya kompetisi, BFA juga membentuk kesebelasan nasional Baghdad XI pada November 1924 yang berisi pemain-pemain terbaik dari 16 tim pertama kompetisi BFA. Tim Baghdad XI itu namun sekadar melakoni laga-laga non-resmi melawan tim-tim militer Inggris. BFA lalu dibubarkan dan kemudian para anggotanya dilebur ke dalam Iraq Football Association (IFA) yang resmi berdiri pada 8 Oktober 1948. Federasi anyar yang menaungi sepakbola segenap wilayah Irak ini diterima jadi anggota FIFA pada 1950.  Sementara, timnas Irak resmi memainkan laga internasional perdananya di partai pembuka Pan Arab Games 1957. Timnas Irak saat melakoni tur ke Turki pada 1951 (Wikipedia) Prestasi tim berjuluk “Singa Mesopotamia” itu terbilang lumayan moncer sebelum masa-masa kegelapan gegara Perang Teluk (1990-1991). Selain empat kali memenangi Arab Cup (1964, 1966, 1985, 1988), timnas Irak dua kali juara Arabian Gul Cup (1979, 1984) dan Turnamen Merdeka (1981), serta medali emas Arab Games 1985. Pun di level klub, pada 1970-an klub-klub Irak cukup disegani di kompetisi Asia. “Al-Shorta, klub yang bernaung di bawah kepolisian mencapai final Asian Champions Cup (kini Liga Champions Asia, red. ), di mana mereka menghadapi Maccabi Tel Aviv asal Israel. Namun karena protes terkait penindasan penduduk sipil Palestina, tim asal Irak itu memboikot laga finalnya dan Tel Aviv-lah yang dinyatakan sebagai pemenang gelarnya,” ungkap David Goldblatt dan Johnny Acton dalam The Soccer Book: The Teams, the Rules, the Leagues, the Tactics. Baca juga: Selayang Pandang Sepakbola Afghanistan Sebelum terpuruk pada 1990-an, Irak sudah mencicipi Piala Dunia, yang digelar di Meksiko pada 1986. Irak melakoni debutnya di Piala Dunia itu sebagai satu dari dua wakil Asia menemani Korea Selatan. Meski begitu, perjalanan Ahmed Radhi dkk. hanya sampai di penyisihan Grup B usai tiga kali kalah dari Paraguay, Belgia, dan tuan rumah Meksiko. Lantas, saat Perang Teluk, timnas Irak terdampak larangan bermain di sejumlah kompetisi Arab dan Asian Games. Pun semasa Perang Irak, timnasnya terpaksa mengungsi saat melakoni laga-laga tandang untuk mengikuti kualifikasi Olimpiade 2004 hingga Piala Asia 2007.  Timnas Irak saat tampil kontra Belgia di Piala Dunia 1986 ( the-afc.com ) Di era itu sebetulnya timnas Irak sedang bangkit dengan generasi emasnya berkat besutan pelatih Jerman Bernd Strange. Namun pada kualifikasi olimpiade, ia terpaksa mengundurkan diri setelah menerima ancaman mati dari pihak tak dikenal hanya karena ia sempat berpose foto dengan Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw.  “Hidup saya berada dalam bahaya dan saya juga mengalami kelelahan. Namun saat Anda melihat tim yang pernah saya bantu bisa mencapai (semifinal) Olimpiade 2004 dan menang Piala Asia (2007), saya bangga akan anak-anak asuh saya,” kenang Strange kepada The Times , 12 Oktober 2008.  Baca juga: Petualangan Tim Kanguru Dalam Piala Asia 2007 yang dihelat di empat negara (Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam), Irak yang diasuh pelatih asal Brasil Jorvan Vieira sudah tampil moncer sejak babak penyisihan. Di Grup A, Irak sukses jadi juara grup dengan mengangkangi Australia, Thailand, dan Oman. Lalu di perempatfinal, mereka menyingkirkan Vietnam, memulangkan Korea Selatan di semifinal, dan tampil gemilang dengan menang tipis 1-0 di partai final kontra Arab Saudi di SUGBK, Jakarta.  “Melihat tim nasional Irak di final saja sudah merupakan pencapaian hebat dan emosi yang ada begitu memuncak. Ini menunjukkan bahwa sepakbola diperlukan untuk membangitkan perasaan secara nasional bagi masyarakat yang merasakan penderitaan dalam beberapa tahun terakhir,” kata Sepp Blatter, presiden FIFA yang turut hadir di final, dilansir Times of Malta , 29 Juli 2007. Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta yang jadi saksi Irak menjuarai Piala Asia 2007 ( the-afc.com )

  • Javanese Beliefs of Supernatural Beings

    WHEN I entered the auditorium of building 4 of the Faculty of Humanities, University of Indonesia (FIB UI), the strong scent of incense mixed with jasmine that were placed on each chair welcomed me. Sunu Wasono's doctoral promotion, the event that day on December 22, 2015 was a bit creepy. The doctoral candidate wore black clothes and a blangkon, a traditional Javanese headdress worn by men.

  • Menengok Transformasi Peranan Tarekat Islam

    TAREKAT-TAREKAT Islam pada mulanya sekadar praktik-praktik pengamalan suatu ajaran secara pribadi atau kelompok kecil di kalangan elit kerajaan. Seiring waktu, berubah sebagai wadah aksi perlawanan kalangan Islam akar rumput terhadap penjajahan Belanda.  Begitulah Martin van Bruinessen, antropolog dan profesor emeritus Studi Islam Universitas Utrecht, memantik dikusi dalam kuliah umum bertajuk “Peranan Tarekat dalam Proses Islamisasi Nusantara: Dari Amalan Perseorangan sampai ke Wadah untuk Aksi Bersama” secara hybrid di Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan via streaming di kanal Youtube Departemen Sejarah UGM , Jumat (31/5/2024). Ia juga mengungkit tentang beberapa peristiwa resistensi. Salah satunya Pemberontakan Petani Banten 1888, di mana massa yang memberontak terhadap kaum feodal dan kolonialis bermodalkan keberanian berkat amalan-amalan tarekat.  “Jadi kita lihat di sana, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah berperan sebagai sarana komunikasi dan terapi psikologis karena amalan-amalan tarekat punya dampak kejiwaan dalam memberi keberanian pada seseorang. Jadi Islam pada akhir abad ke-19 itu kelihatannya sarat dengan ide-ide, amalan-amalan, keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan tarekat,” tutur Prof. Van Bruinessen.  Baca juga: Doktrin Pemberontakan Petani Banten 1888 Van Bruinessen juga mencoba mengelaborasikan riset dan pemaparan dua tokoh yang juga mengulik sejarah Islam dan Islamisasi di Indonesia, sesepuh sejarawan Sartono Kartodirjo dengan disertasi yang dibukukannya, Pemberontakan Petani Banten 1888 (1984), dan Merle Calvin Ricklefs dengan artikelnya “Six Centuries of Islamization in Java” (1974). Menurut Van Bruinessen, cepat-lambatnya Islamisasi di Nusantara sejak abad ke-14 turut dipengaruhi berkembangnya tarekat-tarekat Islam.  Banyak pedagang asing (Arab, Persia, India, China) di masa peralihan agama yang pertama memang tersebar dan banyak yang menetap di kota-kota pelabuhan: Aceh, Banten, Melaka. Namun, mereka belum punya dampak terhadap pribumi-pribumi di di daerah-daerah tempat mereka menetap. Jadi prosesnya sangat lama.  “Jadi proses Islamisasi bukan satu kejadian sekali dan orang mengamalkan aspek-aspek Islam sedikit demi sedikit sehingga proses Islamisasi masih berlangsung. Misalnya kita melihat gerakan hijrah sebagai proses Islamisasi berkelanjutan yang mungkin tidak akan berhenti. Islam terus berubah karena Islam yang kita lihat di masyarakat saat ini tidak identik dengan Islam yang diamalkan satu abad yang lalu, misalnya. Bahwa Islam pada masa yang dikaji Prof. Sartono di akhir abad ke-18 juga tidak identik dengan Islam yang hidup di masyarakat pada abad ke-16,” tambahnya.  Guru besar studi Islam Universitas Utrecht, Prof. Martin van Bruinessen (Tangkapan Layar Youtube Departemen Sejarah UGM) Tarekat dari Kalangan Elit hingga Akar Rumput Sebelum eksisnya gerakan puritan yang mengkritik sejumlah praktik tarekat seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), atau kelompok-kelompok Salafi, sambung Van Bruinessen, keberadaan tarekat sangat memengaruhi Islamisasi baik saat masih di lingkup elit keraton di abad ke-15 dan abad ke-16, maupun saat mulai menyebar ke kalangan rakyat pada abad ke-19. Ia berhipotesa bahwa perkembangan tarekat yang hadir di Nusantara juga berkelindan dengan berkembangnya tarekat-tarekat di tanah Arab hingga India.  “Tarekat-tarekat di dunia Arab, Persia, dan India mengubah wajah Islam yang hadir di kota-kota pelabuhan (Nusantara) yang memberi satu wajah yang lebih cocok dengan kebutuhan dan praktik-praktik agama yang sudah ada. Tarekat kan menekankan bacaan-bacaan tertentu: doa, wirid, dzikir, yang sangat mirip mantra, jampe dsb. Ricklefs dalam artikelnya juga mengurai bahwa orang Jawa menerima Islam tidak berarti bahwa mereka membuang agama sebelumnya, tapi Islam yang mereka terima menjadi tambahan kekayaan amalan, kekayaan kekuatan spiritual,” ungkapnya lagi. Dalam BabadTanah Jawi , misalnya, dikatakan orang Jawa pada masa peralihan agama sangat tertarik pada kesaktian, kekebalan, kedigdayaan, dan sejenisnya. Dalam pandangan mereka, Islam bisa memberi mereka itu semua. “Mereka mempelajari Islam karena itu bisa menimbulkan kekebalan, kesaktian yang tidak menggantikan dari yang mereka punya dari amalan Hindu Jawa tapi mungkin dianggap kesaktian itu lebih hebat dari yang ada dulu atau sekurang-kurangnya tambahan. Nah tarekat itu sesuatu fenomena yang relatif baru di dunia Islam pada masa peralihan itu. Salah satu tarekat yang paling lama, Tarekat Qadiriyah, mengambil tokoh dari Baghdad, (ulama fiqih dan sufi, Syaikh) Abdul Qadir al-Jailani yang hidup pada abad ke-11,” lanjut Van Bruinessen. Baca juga: Debus dan Tarekat di Banten Lalu mulai abad ke-15 dan abad ke-16, para pedagang Arab, Persia, atau India juga mulai kembali datang ke Nusantara membawa guru-guru tarekat sebagai juru dakwah. Berangsur-angsur, tokoh-tokoh dari Nusantara pada akhirnya juga berguru langsung ke India, Persia, hingga Madinah dan Makkah. Ada Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Nuruddin Raniri, Syekh Abdurrauf Singkil, hingga Syekh Hamzah Fansuri.   “Syaikh Yususf melanjutkan ilmu Islam dari Mufti Makkah, Imam Syafi’i. Syaikh Yusuf juga pernah belajar di Yaman, Syam, Damaskus. Setelah kembali ke tanah air, Syaikh Yusuf menjadi ulama besar menguasai beberapa tarekat, seperti Qadiriyah, Nadqsabandiyah, Ba’alwiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyah,” tulis Mustari Mustafa dalam Agama dan Bayang-Bayang Etis Syaikh Yusuf al-Makassari. Patung Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani di Pantai Losari, Makassar ( Tarekat berkembang lebih dulu di kalangan keraton. Nama-nama ulama di atas punya kaitan erat dengan kalangan elit keraton. Oleh karenanya Islamisasi melalui tarekat-tarekat itu menyebar dari kalangan atas lebih dulu baru ke kalangan bawah.  “Islam disebarkan di India sebagai kekuatan emansipasi rakyat bawah. Kita bisa lihat kesultanan-kesultanan pertama di India didirikan para pendatang dari Asia Tengah dan orang India yang masuk Islam justru awalnya dari (penganut Hindu) kasta bawah karena Islam membawa sistem dan ideologi yang menolak sitem kasta. Tapi di Nusantara, Islam melalui tarekat masuk ke masyarakat tidak dari bawah. Pertama-tama diterima di kalangan atas karena di abad ke-17 Syekh Abdurrauf, Yusuf Makassar, semua punya kaitan dengan keraton,” sambung Van Bruinessen.  Kalangan elitlah yang lebih dulu ingin mengokohkan diri dengan amalan-amalan tarekat. Akan berbahaya, kata Van Bruinessen, jika amalan tarekat tidak lebih dulu dimonopoli karena jika turut dikuasai kalangan bawah maka mereka akan berpotensi memberontak terhadap kalangan elit.  Baca juga: Kisah Leluhur Walisongo Perubahan drastis baru terjadi di abad ke-19 seiring bubarnya Kongsi Dagang Hindia Timur, VOC, dan kolonialisme di Nusantara sudah beralih ke tangan Belanda langsung melalui pemerintahan Hindia Belanda. Saat itu, para guru tarekat mulai banyak yang mendirikan pondok di pedalaman dengan menghimpun jamaah dari kalangan rakyat bawah.  “Di era VOC kan jajahannya belum teritorial tapi kehadiran Belanda dengan penguasaan teritorial jadi faktor menyebabkan munculnya tarekat yang merangkul orang-orang awam berskala besar ketika beberapa keraton kehilangan sebagian otoritasnya. Jadi Islam (tarekat) yang dulu jadi sesuatu yang elit, sekarang di periferi hutan-hutan, pedalaman dengan pesantren yang menjadi pusat studi Islam,” terangnya lagi. Perkembangan tarekat berkelindan pula dengan resistensi-resistensi yang terjadi di abad ke-19. Selain di Banten pada 1888, kalangan tarekat sudah terlibat dalam perlawanan massa di Palembang (1819) dan di Banjarmasin seiring Perang Banjar 1859-1906. “Dalam pemberontakan (Perang Menteng, red. ) di Palembang 1819 saat tentara Belanda ingin menaklukkan Palembang, seorang haji memimpin jamaahnya dan amalan-amalan (tarekat) dipakai untuk keberanian melawan Belanda. Itu jadi aksi pertama tarekat sebagai aksi massa. Juga pada 1860 di Banjarmasin, gerakan Beratib Beramal dari Tarekat Sammaniyah melalukan dzikir dengan keras sehingga berdampak pada keberanian mereka dan Belanda yang sangat takut,” tukas Van Bruinessen. Baca juga: Mempertanyakan Kembali Teori Islamisasi di Nusantara

  • The Scandal of the Governor-General's Daughter

    VOC Governor-General Jan Pieterszoon Coen's anger could not be contained. His adopted daughter, Sara Specx, was caught in the act with Pieter Cortenhoeff, a sixteen-year-old boy, at his residence in 1629. Twelve-year-old Sara was the daughter of Jacques Specx, a member of the Raad van Indie or the Council of the Indies, and a Japanese woman, while Pieter was the son of senior merchant Jacob Cortenhoeff and a Burmese woman.

  • Revolusi Sosial, Artikel Sneevliet, dan Surat Pangeran Hendrik

    Kesultanan Asahan di Sumatra Timur. (Wikimedia Commons). 3 Maret 1946: Revolusi Sosial di Sumatra Timur Ribuan orang mengepung dan menyerbu masuk istana Kesultanan Asahan. Mereka menangkap dan mengeksekusi para bangsawan. Dari Kesultanan Asahan, kerusuhan sosial menjalar ke beberapa kesultanan Melayu di sekitarnya: Deli, Serdang, dan Langkat. Sebagian besar keluarga dari raja-raja itu dibunuh dan harta benda mereka dirampas. Amir Hamzah, sastrawan terkemuka Indonesia yang juga bangsawan Kesultanan Langkat, ikut menjadi korban.  Dalam beberapa hari aksi massa meluas ke seluruh pelosok Sumatra Timur. Revolusi sosial ini, tulis Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra , dilancarkan atas instruksi kelompok kecil pemimpin Partai Komunis Indonesia, Partai Nasional Indonesia, dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang bekerjasama di bawah payung Persatuan Perjuangan. Tujuannya, melenyapkan raja-raja dari potensi bersekutu dengan Belanda, menyita harta kekayaan mereka untuk perjuangan nasional, dan menghapus feodalisme.  Baca juga:  Pamer Kemewahan Hasil Jarahan dalam Revolusi di Sumatra Timur Henk Sneevliet di Semarang, 1917. (IISG). Baca juga:  Panggung Sejarah Henk Sneevliet 19 Maret 1917: Sneevliet Mengajak Rakyat Jawa Revolusi Suratkabar De Indier milik Insulinde menerbitkan artikel Henk Sneevliet, pemimpin terkemuka Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), berjudul  Zegepraal (Kemenangan).  Dalam artikel itu, Sneevliet menggaungkan runtuhnya Kekaisaran Tsar di Rusia oleh Revolusi Sosialis pada 8–12 Maret 1917. Dengan nada keras, Sneevliet menyebut Belanda akan mengalami nasib serupa jika rakyat Hindia Belanda menghendakinya. Sneevliet pun mengajak rakyat Jawa meniru apa yang dilakukan rakyat Rusia.  Akibat artikel itu, Sneevliet dipecat dari pekerjaannya sebagai sekretaris Kamar Dagang Semarang dan dituntut di pengadilan. Artikel itu juga menimbulkan keretakan di tubuh ISDV. Sneevliet kemudian diusir dari Hindia Belanda kembali ke Belanda.  Baca juga: Angan-angan "Kemenangan" Henk Sneevliet Pangeran Hendrik De Zeevaarder. (Wereldmuseum Amsterdam). Baca juga:  Kamar Panas untuk Pangeran Diponegoro 10 Maret 1837: Surat Pangeran Hendrik kepada Raja Willem II Pangeran Hendrik De Zeevaarder (Sang Pelaut) menulis surat kepada ayahnya, Raja Willem II, yang isinya menyayangkan perlakuan Belanda terhadap Pangeran Diponegoro. Dia bilang penangkapan pemimpin Perang Jawa itu dilakukan secara khianat dan itu dianggapnya mencoreng wibawa Kerajaan Belanda.   Pangeran Hendrik juga mengingatkan hal itu akan mengekalkan citra buruk Kerajaan Belanda di mata kaum pribumi dalam konflik di masa-masa mendatang.  Surat itu dikirim tiga hari setelah Pangeran Hendrik, yang sedang melakukan pelayaran jarak jauh dari Eropa ke Hindia Belanda, menyempatkan diri mengunjungi Pangeran Diponegoro di pengasingannya di Benteng Rotterdam, Makassar.*  Baca juga:  Detik-detik Menegangkan Saat Belanda Menjebak Diponegoro

  • Kisah Kurir “Cilik” Sofyan Ponda

    PIDATO Bung Karno memang memukau. Siapapun yang mendengarnya, akan terpikat. Terlebih ketika pidato itu dilkumandangkan saat Perang Kemerdekaan. Spirit di dada seolah bertambah dengan sendirinya akibat pidato si Bung. Itulah yang dirasakan Sofyan Ponda, pemuda asal Sumatra Barat yang kelak menjadi pengusaha hotel dan hiburan nasional. Usai Agresi Militer Belanda pada 1947, tanpa dinyana penduduk setempat Bung Karno berkunjung ke Sumatra Barat. Tentu ia berpidato di sana. Salah satunya di Lapangan Atas Ngarai Bukittinggi. Rakyat pun berbondong-bondong datang ke lokasi untuk mendengarkan pidato Bung Karno. Sofyan tak terkecuali. “Aku sudah mencari tempat di muka. Aku duduk bersila seakan-akan berhadapan dengan beliau,” ujar Sofyan dalam otobiografinya, Sofyan Ponda: Kisah Pendiri Hotel-Hotel Kecil . Baca juga:  Repotnya Menyusun Pidato Sukarno Dalam pidato itu, Bung Karno menguraikan tentang kondisi bangsa Indonesia yang tengah berada di tubir jurang akibat kolonialisme Belanda yang datang kembali. Selain itu, Bung Karno juga menyerukan sikap yang mesti diambil bangsa Indonesia dengan semboyan terkenal “Merdeka atau mati”. “Pidato beliau yang berkobar-kobar telah membakar semangat pada usiaku yang 17 tahun itu sebagaimana juga membakar semangat teman-teman,” kata Sofyan. Usai pidato itu, banyak kawan Sofyan yang “mempersembahkan diri” mereka untuk negeri dengan memasuki badan perjuangan-badan perjuangan. Sofyan yang masih berdarah muda tentu tak ingin kalah. “Akupun tak mau kalah dengan teman-teman sebaya. Aku menjadi anggota TP (Tentara Pelajar). Tentu aku ikut latihan baris berbaris, latihan merangkak, mengokang senapan dan menembak yang picik waktu itu,” sambungnya. Baca juga:  Sekolah Masa Revolusi Sofyan kemudian resmi menjadi tentara dengan kesatuan TP. Pasukannya menginduk pada pasukan Letkol Ismael Lengah. Ismael Lengah merupakan satu dari sedikit perwira Gyugun asal Minangkabau. Ia sejak awal aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Maka begitu proklamasi kemerdekaan terdengar di kampung halamannya, ia tak tinggal diam. Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR). “Setelah Ismael Lengah meninggalkan Guguak Randah, kepadanya ditawarkan jabatan komandan resimen di Lubuak Aluang. Tugas ini diterima Ismael Lengah dengan satu syarat bahwa ia diizinkan mendirikan Sekolah Opsir, suatu hal yang sudah lama diinginkannya. Syarat itu diterima dan sejak itu ia bolak-balik antara Lubuak Aluang dan Bukittinggi di mana sekolah itu berada,” kata buku Profil 200 Tokoh Aktivis & Pemuka Masyarakat Minang . Baca juga:  Sehimpun Riwayat Giyugun Dengan bermodalkan latihan teknik dasar kemiliteran di TP, Sofyan ikut bergerilya melawan tentara Belanda setelah Belanda menyerbu Bukittinggi dalam agresi kedua. Keluar-masuk hutan ataupun mendengar rentetan tembakan pasukan Belanda menjadi rutinitasnya. Dalam momen itu, Sofyan mendapat pelatihan khusus. Dia tak tahu tujuan latihan itu sampai suatu hari dirinya dipanggil Ismael Lengah. Kepadanya, sang komandan memberikan tugas khusus: menjadi kurir. “Mengapa sang kolonel memilih diriku? Lama-lama aku renungi, pilihan baliau agaknya tepat. Bukankah tubuhku kecil sekalipun usiaku sudah 18 tahun? Tubuhku tak beda dengan tubuh anak kecil yang masih suka bermain-main. Ini menguntungkan juga. Aku dianggap anak-anak, tak memerlukan perhatian orang di mana pun aku berada. Selain itu juga aku diremehkan siapapun, termasuk tentara Belanda. Selain itu, alasan lainnya mengapa Kolonel Ismail Lengah memilih diriku untuk dijadikan kurir, karena aku anak pasar. Karena punya pergaulan luas tanpa mengenal suku atau bangsa. Bahkan intelijen Belanda pun tidak akan segera mencurigaiku, karena pergaulanku yang luas,” ujar Sofyan. Baca juga:  Peran Kurir dalam Perjuangan Kemerdekaan Bermodalkan sepeda Jepang yang dimilikinya, Sofyan enjoy menjalani perannya sebagai kurir. Bukan hanya Bukittinggi, daerah-daerah Padangpanjang, Singkarak, hingga Sawahlunto dijelajahinya. Surat-surat penting dari markas perjuangan di pedalaman untuk pemerintah di Bukittinggi acapkali disembunyikannya di bawah sadel. Tak ada yang mencurigainya lantaran dia seperti bocah yang sedang keranjingan bermain sepeda. Namun, tetap saja ada kendala dalam sebuah kehidupan. Beberapa kali tentara Belanda menangkapnya. “Apakah kamu ekstremist?” selalu menjadi pertanyaan pembuka yang dilontarkan serdadu Belanda padanya. Sofyan selalu punya trik untuk mengatasi hal itu. Selain tak boleh menunjukkan rasa takut, trik Sofyan untuk mengelabui tentara Belanda adalah dengan berlagak seperti anak-anak. Dengan begitu, tentara Belanda selalu terkelabui dan melepaskannya. Sakit yang diterimanya paling-paling hanya cemoohan, “Kamoe Melayoe kopi daoen.” Namun, tidak demikian bila yang menangkap adalah tentara Indonesia sendiri. Sofyan selalu mengkhawatirkan hal itu terjadi pada dirinya. Sebab, di masa yang masih tegang dengan kondisi badan perjuangan Indonesia belum satu komando itu, kecurigaan terjadi di mana-mana dan bisa menyasar siapapun. Saling curiga sesama pejuang, bahkan saling tangkap terjadi di mana-mana. Baca juga:  Kisah Bocah Pembawa Peluru Benar saja, kekhawatiran Sofyan akhirnya menjadi kenyataan pada suatu hari ketika dirinya sedang melintas di daerah perbatasan RI-Belanda menggunakan sepedanya. Tentara republik yang menjaga wilayah Indonesia mencurigainya hingga memerintahkannya berhenti. Setelah Sofyan tidak bisa menunjukkan surat jalan yang diminta, mereka kian curiga. “Kamu ini NICA ya?” tanya mereka. Sofyan yang bingung tapi berusaha untuk tak menunjukkan kepanikan pun mencari cara. Dia lalu menjawab pertanyaan itu dengan meminta mereka untuk menanyakan langsung soal dirinya ke induk pasukan. Permintaan itu dituriti mereka. Tak lama kemudian, mereka mendapat informasi tentang Sofyan yang benar seorang tentara republik. Mereka langsung meminta maaf. Sofyan pun bisa melanjutkan perjalanan. “Aku lebih takut ditangkap oleh Tentara Republik karena jika sudah dituduh NICA serta terbukti, aku bisa di-‘ dabiah’ , yaitu disembelih,” aku Sofyan.*

  • Dulu Taperum, Kini Tapera

    TABUNGAN Perumahan Rakyat (Tapera) tengah jadi sorotan masyarakat terutama para pegawai swasta. Pasalnya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2024 tentang Perubahan atas PP No. 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tapera. Peraturan ini menyebutkan bahwa gaji para pekerja, termasuk karyawan swasta dan pekerja mandiri, akan dipotong tiga persen per bulan sebagai iuran peserta Tapera. Dari tiga persen itu, 0,5 persen ditanggung pemberi kerja dan 2,5 persen ditanggung pekerja. Sedangkan pekerja mandiri dibayarkan secara mandiri. Sebelum Tapera, pemerintah Orde Baru pernah meluncurkan program Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Taperum-PNS) pada awal tahun 1993. Program ini diatur dalam Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil yang kemudian diubah dengan Keputusan Presiden No. 46 Tahun 1994. Dalam majalah bulanan DPRD Provinsi DKI Jakarta, Legislatif Jaya Vol. 11 No. 9 Februari 1993 disebutkan, Menteri Keuangan J.B. Sumarlin mengumumkan bahwa setiap PNS akan dikenai potongan uang tabungan perumahan yang dipungut dari gaji setiap bulan mulai Januari 1993. Besaran iuran disesuaikan dengan golongan-golongan yang telah ditentukan. Iuran Golongan I sebesar Rp3.000 per bulan, Golongan II Rp5.000, Golongan III Rp7.000, dan Golongan IV Rp10.000. Baca juga:  Mula Pembiayaan Rumah Murah Dana Taperum PNS yang terkumpul akan digunakan untuk bantuan uang muka kredit rumah bagi PNS yang belum punya rumah, membangun rumah bagi PNS yang sudah memiliki tanah, dan dicairkan ketika akan pensiun atau berhenti bagi PNS yang sudah punya rumah. Dalam majalah bulanan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Mimbar Jatim, edisi 162 September–Oktober 1994, disebutkan besaran uang muka kredit rumah yang diberikan disesuaikan dengan tipe rumah yang telah ditetapkan untuk masing-masing golongan. Golongan I Rumah Sangat Sederhana (RSS) atau tipe 21, Golongan II Rumah Sangat Sederhana (RSS) atau tipe 36, Golongan III Rumah Sederhana (RS) atau tipe 21 hingga tipe 36, serta Golongan IV Rumah Sederhana (RS) tipe 45 hingga tipe 70. Namun, prioritas utama penerima bantuan uang muka kredit rumah adalah PNS golongan rendah (I dan II) karena jumlahnya paling besar dengan ketentuan telah bekerja selama 10 tahun dan 12 tahun. Besarnya uang muka kredit rumah yang diberikan disesuaikan dengan golongan dan jatah rumah. Pada 1993, Golongan I menerima uang muka sebesar Rp420.000, Golongan II Rp510.000, dan Golongan III Rp720.000. Jumlahnya naik mengikuti kenaikan harga rumah. Legislatif Jaya menyebut dana besar yang akan terkumpul dari pemotongan gaji PNS yang berjumlah 3.950.000 orang mencapai Rp239,9 miliar per tahun. Dari jumlah ini sekitar 60% dikembalikan kepada PNS untuk uang muka kredit rumah, sedangkan sisanya 40% akan dikembangkan dalam bentuk investasi seperti obligasi dan deposito. Baca juga:  Cara Walikota Jakarta Sediakan Rumah Murah Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Akbar Tandjung mengungkapkan dana Taperum-PNS yang tersimpan di Bank Tabungan Negara (BTN) sampai 31 Agustus 1994 tercatat sebesar Rp352,8 miliar. “Sedangkan PNS yang sudah menggunakan tabungannya untuk uang muka, membangun rumah sendiri, dan pensiun berjumlah 9.423 orang dengan nilai Rp4,4 miliar,” tulis Mimbar Jatim . Akbar Tandjung memperkirakan dana Taperum-PNS yang tersimpan di BTN sampai akhir semester II 1994–1995 mencapai Rp457 miliar dengan rincian Rp266,5 miliar dikelola oleh Menpera, sisanya Rp190,5 miliar dikelola Departemen Keuangan. Besarnya penyaluran dana yang akan disetujui sampai semester II 1995 diperkirakan mencapai Rp14,5 miliar. BTN menyalurkan dana berdasarkan surat perintah membayar dari Menpera selaku ketua Sekretariat Badan Pertimbangan Taperum-PNS (Bapertarum-PNS). Sementara untuk penggunaan dana Taperum-PNS yang dikelola Menteri Keuangan harus memperoleh izin dari Presiden Soeharto selaku ketua Bapertarum-PNS. Pengumpulan dana masyarakat, dalam hal Taperum dari PNS, yang tidak transparan ditengarai telah terjadi penyelewengan. Hal itu dilaporkan majalah Tempo , edisi 20/29, 23 Juli 2000, bahwa lembaga Bapertarum-PNS mengelola uang ratusan miliar rupiah, tetapi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kesulitan mengauditnya. “Berkali-kali kami ditolak mengaudit Bapertarum,” kata Moh. Mukrom As’ad, anggota BPK. “Baru setelah reformasi, kami bisa melakukannya.” Ketika diaudit awal tahun 2000, diketahui adanya kerugian sekitar Rp179,9 miliar. Namun, BPK belum berkesimpulan telah terjadi tindak pidana korupsi dalam kasus ini. Baca juga:  Dari Rumah Rakyat ke Real Estate Hasil audit BPK itu kemudian beredar luas. Taufikurrahman Saleh, ketua Fraksi PKB, menyebut orang yang harus bertanggung jawab atas kebocoran dana Taperum-PNS adalah Akbar Tandjung yang tengah menjabat Ketua DPR. Menurut Tempo , pengungkapan indikasi skandal ini berdekatan dengan kesuksesan DPR memajukan hak interpelasi kepada Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terkait Buloggate dan Bruneigate, sehingga disebut Taperumgate. Tempo menyebut Taperumgate diduga melibatkan Akbar Tandjung ketika menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat (1993–1998). Sebagai menteri, Akbar juga ketua Sekretariat Bapertarum-PNS. “Akbar dituding melakukan permainan selisih bunga untuk mencari dana bagi kampanye Golkar,” tulis Tempo . Pada 1996, Akbar Tandjung memasukkan dana potongan gaji PNS ke beberapa bank: Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE), Bank Pembangunan Daerah, dan Bank Tabungan Negara, yang berturut-turut bunganya cuma 3 persen, 12 persen, 8 persen setahun. Padahal, suku bunga simpanan saat itu melambung lebih dari 20 persen setahun. Dana itu juga dipinjamkan Akbar Tandjung ke Perumnas dengan bunga cuma 8 persen. Kecurigaan penyelewengan dana itu sudah muncul sejak 1998. Kala itu beredar selebaran dari Winarso, staf ahli Menteri Negara Koordinator Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara, yang pernah ikut rapat-rapat Bapertarum-PNS. Winarso mempertanyakan kesepakatan bunga yang rendah, termasuk adanya deposito atas nama rekening Menteri Negara Perumahan Rakyat yang tak jelas. “Ia menyimpulkan sebuah manipulasi terjadi,” tulis Tempo . Akbar Tandjung menangkis semua tuduhan itu. Alasan dia menyimpan di bank yang berbunga rendah karena ingin memperlancar tersedianya rumah bagi PNS. Begitu pula simpanan di Bank BKE, menurut Akbar Tandjung, justru menguntungkan PNS karena 70 persen sahamnya dimiliki Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI). Baca juga:  Empat Kasus Korupsi Besar pada Awal Orde Baru “Dalam bantahannya, Akbar juga melampirkan memo Sumitro Djojohadikusumo, ketua koperasi (IKPRI, red .) kala itu, yang ditujukan ke Presiden Soeharto. Isinya: untuk kesejahteraan pegawai negeri, BKE butuh tambahan modal,” tulis Tempo . Artinya, penempatan dana Taperum-PNS di Bank BKE atas permintaan Sumitro dan persetujuan Presiden Soeharto selaku ketua Bapertarum-PNS. Bank BKE didirikan oleh Sumitro Djojohadikusumo, ayah presiden terpilih Prabowo Subianto, pada 4 Oktober 1991. Bank BKE mulai melaksanakan kegiatan perbankan pada 27 Februari 1992. Kini, sejak 2021 Bank BKE menjadi SeaBank yang bergerak dalam perbankan digital. Para politisi PKB tetap tak puas dengan penjelasan Akbar Tandjung. Rodjil Ghufron, anggota Fraksi PKB, yang mengumpulkan data kasus ini untuk PKB, mengatakan Akbar Tandjung semestinya tahu bahwa tidak semua PNS mengambil kredit perumahan. Sedangkan faktanya, tiap bulan gaji PNS wajib dipotong. Artinya, pemasukan kas Taperum-PNS lebih besar dari pengeluarannya. Seiring berjalannya waktu, kasus kebocoran dana Taperum-PNS menguap begitu saja. Walaupun begitu Akbar Tandjung tetap berurusan dengan hukum dalam kasus korupsi dana nonbujeter Bulog yang merugikan negara Rp40 miliar sewaktu menjabat Menteri Sekretaris Negara. Dia divonis tiga tahun penjara dan denda Rp10 juta oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2002. Namun, vonis itu dibatalkan Mahkamah Agung lewat sidang kasasi pada Februari 2004. Sementara itu, DPR RI mengesahkan UU No. 4 Tahun 2016 tentang Tabungan Perumahan Rakyat yang menjadi dasar pembentukan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). UU memberi waktu dua tahun kepada Bapertarum-PNS untuk melikuidasi semua asetnya serta mengembalikan dana tabungan dan hasil pemupukannya kepada PNS pensiun atau ahli warisnya. Sementara dana tabungan dan hasil pemupukan milik PNS aktif dialihkan menjadi saldo awal kepesertaan Tapera. Setelah itu, pada 24 Maret 2018 Bapertarum-PNS dibubarkan dan beralih menjadi BP Tapera. Kini, bukan hanya gaji PNS yang dipotong, tetapi juga gaji pegawai swasta.*

  • Compagnie Eric

    MAJOR General Engles, the Dutch military commander in West Java, went ballistic. His army failed to arrest former Corporal Johannes Cornelius (Poncke) Princen, his former subordinate who had defected to the Republican side.

  • Haji Misbach, Kongres Pemuda, dan Chairil Anwar

    20 April 1919: Geger Kartun Haji Misbach Haji Misbach mempublikasikan kartun di Islam Bergerak yang menggambarkan pembelaannya kepada kaum tani.Haji Misbach, yang saat itu sudah terkenal berpandangan progresif, menggugat pengusaha-pengusaha Belanda yang dianggapnya menindas petani. Pakubuwono X juga kena kritik, dianggap ikut menindas petani. Melalui kartun itu, Haji Misbach menyelipkan seruan “Jangan takut, jangan khawatir”.Kartun itu disebut memicu keberanian petani untuk mogok. Usai kartun itu terbit, Haji Misbach melakukan beberapa pertemuan dengan kelompok-kelompok petani perkebunan. Pemerintah kolonial Belanda menganggap Haji Misbach sebagai provokator dan menangkapnya pada 7 Mei 1919. Dia dibebaskan pada 22 Oktober 1919. Namun, dia kembali ditangkap pada 16 Mei 1920 dan dipenjara di Pekalongan selama dua tahun tiga bulan. Setelah bebas, dia kembali ke Surakarta. Baca juga:  Saat Islam dan Komunis Harmonis Pada 1923, Haji Misbach muncul sebagai propagandis PKI. Dia menyerukan tentang keselarasan antara paham komunis dan Islam. Dia kembali dijebloskan ke penjara pada 20 Oktober 1923 karena dituduh terlibat dalam aksi-aksi revolusioner seperti pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pengeboman, dan lain-lain. Akhirnya, Haji Misbach ditangkap dan dibuang ke Manokwari, Papua pada Juli 1924 dengan tuduhan telah mendalangi pemogokan dan sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Dia meninggal dunia karena malaria pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di Manokwari. Baca juga:  Protes Haji Misbach di Tengah Wabah Pes 3 April 1948: Kongres Pemuda Pasca Kemerdekaan Kongres Pemuda Indonesia diselenggarakan di Madiun, yang dimaksudkan sebagai kongres ketiga setelah kongres tahun 1926 dan 1928. Kongres ini dihadiri perwakilan dari Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Pemuda Demokrat Indonesia (PDI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan beberapa organisasi pemuda lain di luar anggota Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI). Kongres berlangsung selama tiga hari, membahas persatuan seluruh organisasi kepemudaan dalam BKPRI, yang nantinya akan berciri nonpolitik dan nonreligius agar bisa lebih aktif terlepas dari konflik politik dan keagamaan. Namun, kongres ini gagal menghasilkan suatu kesepakatan. Banyak peserta tak puas karena dominasi Pemuda Sosialis dalam BKPRI. GPII, PDI, HMI, dan Pelajar Islam Indonesia (PII) memilih hengkang dari kongres dan membikin sendiri sebuah federasi yang bersifat longgar, yaitu Front Nasional Pemuda Republik Indonesia.* Baca juga:  Tiga Peristiwa Sejarah di Bulan April: Andi Azis, Tambora, dan Hutan 28 April 1949: Chairil Anwar Meninggal Dunia Chairil Anwar meninggal dunia di usia muda (27 tahun) setelah dirawat beberapa hari di Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (kini, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo).Catatan rumah sakit menyebut Chairil meninggal akibat tifus. Namun, sejak beberapa tahun belakangan, dia sudah mengidap TBC akibat kehidupannya yang urakan. Tanggal kematiannya diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatra Utara pada 26 Juli 1922. Dia masih memiliki pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan perdana menteri pertama Republik Indonesia. Chairil telah bertekad ingin menjadi seniman sejak usia 15 tahun. Baca juga:  Inilah 8 Perempuan Gebetan Penyair Chairil Anwar Setelah orang tuanya bercerai, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (kini, Jakarta). Meskipun tidak menyelesaikan sekolah, dia menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Dia juga banyak membaca karya-karya pengarang ternama dunia. Nama Chairil mulai dikenal setelah puisinya berjudul “Nisan” dimuat pada 1942. Meski jatuh cinta pada beberapa perempuan, Chairil memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 1946. Setelah dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, mereka bercerai pada akhir tahun 1948. Baca juga:  Tiga Peristiwa Sejarah di Bulan April: Sentot Alibasah Prawirodirjo, Putera, Hansip Selama hidupnya yang singkat, Chairil menulis 70 puisi dan puluhan karya lain berupa esai dan cerpen. Puisinya yang paling terkenal adalah “Aku” dan “Krawang Bekasi”. Dari puisi “Aku”, Chairil mendapat julukan Si Binatang Jalang. Chairil dianggap sebagai salah satu pembaru kesusastraan Indonesia. Kritikus sastra H . B . Jassin mendaulatnya, bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sebagai pelopor sastrawan Angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia.*

  • Masuk Islam, Raja Bone Turun Takhta

    KETIKA Islam masuk ke Nusantara, orang-orang di kepulauan itu sudah punya kepercayaan lokal masing-masing. Lantaran banyak di antara mereka merasa nyaman dengan agama lokal, mulanya mereka tidak menerima Islam. Begitu pun dengan Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan. Bicara soal Islam di Bone, tersebutlah seorang raja di Bone bernama La Tenriruwa, yang berkuasa dari 1611 hingga 1619. Selama berkuasa, La Tenriruwa bersahabat dengan raja-raja lain secara sederajat. Salah satu koleganya adalah Sultan Alaudin yang berkuasa di Kerajaan Gowa. Dari Gowa ini Islam masuk ke Sulawesi Selatan lewat pendakwah bernama Datuk Ri Bandang. Sultan Alaudin dari Gowa sudah memeluk Islam ketika La Tenriruwa baru berkuasa di Bone. Sultan Alaudin yang ingin menyebarkan Islam pun memperlihatkan keislamannya kepada La Tenriruwa. Tak butuh waktu lama buat La Tenriruwa untuk tertarik dengan Islam. Di bulan ketiga pemerintahannya, dia sudah tertarik pada Islam. Dia kenali dulu Islam sebelum mengucap dua kalimat syahadat yang akhirnya dia lakukan. Baca juga:  Perkembangan Islam di Sulawesi Selatan La Tenriruwa kemudian berusaha mengajak rakyat Bone untuk memeluk agama Islam. Orang-orang di lingkaran raja rupanya tidak tertarik dengan Islam. Orang kaya yang punya banyak budak agak sulit menerima Islam. Selain itu, pemuka agama lama juga merasa terancam dengan perannya sehari-hari di hadapan raja.  Atas realitas yang tidak sesuai harapannya itu, La Tenriruwa kemudian memilih mundur dari posisinya sebagai raja. Rakyat pun diam seribu bahasa atas pengunduran diri itu hingga datang orang dari kelompok yang menolak Islam untuk bicara pada raja. “Bukan kami yang tidak menyukai Puatta (tuan kita), tapi Puatta’lah yang tidak menyukai kami,” kata wakil orang yang menolak tadi. “Saya menerima ajakan rekan kami Sultan Gowa bukan karena takut karena kami meyakini kebenaran agama yang dibawanya, silakan kalian berpegang pada ajaran kalian yang menyesatkan itu,” kata La Tenriruwa, seperti dikisahkan Hannabi Rizal dkk. dalam Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan Volume 2 .  Baca juga:  Riwayat Kedatangan Islam di Gowa La Tenriruwa pun turun dari takhta Bone. Dia kemudian digantikan La Tenri Pole Arung Timurung. Setelah Islam ditolak oleh Kerajaan Bone, perang antara Gowa melawan Bone meletus. Bone lalu diduduki dan kemudian hingga kini dikenal sebagai daerah Islam. Setelah La Tenriruwa alias Sultan Adam terbuang, Islam menjadi agama yang dianut para bangsawan. Sultan Adam dianggap sebagai raja Bone pertama yang masuk Islam. Menurut Haji Daeng Mangemba dalam Takutlah Para Orang Jujur , gelar Sultan Adam untuk La Tenriruwa diberikan oleh Datuk Ri Bandang dari Minang. Baca juga:  Cara Raja Bone Melawan Belanda Sebagai pemenang, Sultan Alaudin sebenarnya ingin mendudukkan kembali La Tenriruwa sebagai raja di Bone. Namun, sultan Gowa ini masih menghormati hukum adat yang berlaku di Bone, di mana raja dipilih juga oleh Ade-Pitue alias dewan pemangkut adat. “Raja Gowa hanya memberikan hak perlindungan atau hak asijl kepada La Tenriruwa dan mempersilakannya memilih tempat tinggal yang disukainya dengan memberi jaminan kehidupan. La Tenriruwa memilih Bantaeng sebagai tempat tinggal,” catat Zainal Abidin Farid dalam Capita Selecta: Sejarah Sulawesi Selatan . Selama di Bantaeng, La Tenriruwa terus mendalami Islam hingga meninggal di sana. Dia kemudian dikenal sebagai Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng alias Sultan Adam yang tidur di Bantaeng.* Baca juga:  Cerita Menarik di Balik Gelar Anumerta Raja Gowa

  • Saat Mandi Perlu Wangi

    DI sejumlah daerah hingga 1980-an, masih banyak orang membersihkan badan dengan menggunakan batu. Rasanya memang tak nyaman, tetapi batu itu cukup ampuh menggerus daki di kulit. Padahal, saat itu, bahkan beratus tahun lalu, sabun sudah dikenal dan menemani rutinitas bersih-bersih nan menyegarkan.  Kini, nyaris sulit menemukan orang yang masih menggunakan batu. Sabun mandi, dari batangan hingga cair, menjadi barang kebutuhan sehari-hari yang pasti ditemukan di rumah-rumah. Sabun membuat badan menjadi bersih dan wangi.  2800 SM Keterangan tertua mengenai pembuatan bahan seperti sabun diperoleh dari sebuah tabung dari tanah liat, hasil ekskavasi di Babilonia kuno. Tabung ini menulis soal lemak yang direbus dengan abu. Hasilnya, dipakai untuk membersihkan wol dan kapas dalam industri tekstil.  1550 SM Ebers Papyrus, dokumen medis Mesir kuno, menjelaskan pencampuran minyak hewani dan nabati dengan garam alkali –dikenal dengan istilah saponifikasi– untuk membuat bahan layaknya sabun. Ia dipakai untuk mengobati penyakit kulit dan mencuci.  Baca juga:  Membilas Sejarah Sabun 600 SM Menurut Pliny the Elder, orang-orang Fenisia menggunakan lemak kambing dan abu kayu untuk membuat sabun.  300-an SM Sabun mendapat namanya, menurut legenda Romawi kuno, dari Gunung Sapo di mana binatang dikorbankan. Lemak hewan ini bercampur dengan abu, kemudian mengalir turun ke Sungai Tiber. Campuran ini, berbentuk menyerupai lilin, digunakan para perempuan yang mencuci baju di sepanjang Sungai Tiber.  100-an SM Penggunaan sabun demi kebersihan pribadi tampaknya belum muncul sampai Galen, dokter Yunani, merekomendasikan bahwa membersihkan tubuh dengan sabun sebagai tindakan pencegahan penyakit kulit.  400-an Bangsa Romawi kuno dan Galia menemukan suatu zat yang disebut “sabun”, terbuat dari lemak kambing dan abu pohon ek. Campuran ini mereka gunakan untuk mewarnai rambut jadi merah.  Baca juga:  Panduan Kebiasaan Mandi untuk Wisatawan Asing 600-an Beberapa keluarga di Eropa mulai memproduksi sabun dalam skala kecil. Sabun ini dibuat dari campuran lemak nabati, minyak hewani, dan abu, dengan ditambahkan pula aroma. Mereka menggunakannya untuk keramas, mandi, dan mencuci.   Masyarakat Timur Tengah sudah mengenal pembuatan sabun, padat maupun cair. Aleppo di Suriah dan Nablus di Palestina dikenal sebagai sentra pembuatan sabun ini. Sabun dari Aleppo mengkombinasikan minyak zaitun dengan aroma daun salam atau laurel. Para ksatria Perang Salib lalu membawa cara pembuatan sabun ini ke Eropa, khususnya ke kota Marseilles, Prancis.  1300-an Sempat terhenti karena Abad Kegelapan di Eropa dan runtuhnya kekaisaran Romawi, pembuatan sabun dihidupkan lagi di Italia, Prancis, Spanyol, dan Inggris.  1600-an Pada 1608, koloni-koloni Amerika memproduksi sabun komersial setelah kedatangan para pembuat sabun dari Inggris yang tiba di Jamestown, Virginia. Pada 1622, Raja James I memberi monopoli kepada seorang pembuat sabun dan mengenakan pajak sabun yang tinggi. Sabun pun jadi barang mewah.  Baca juga:  Gubernur Jenderal Van Imhoff Melarang Mandi di Kali 1700-1800 1791, ahli kimia Prancis, Nicholas Leblanc, mematenkan proses untuk membuat abu soda, atau sodium karbonat, dengan kualitas yang baik dan murah.   1823, ahli kimia Prancis, Michel Eugene Chevreul, menemukan hubungan antara lemak, gliserin, dan asam lemak, yang menjadi dasar lemak dan kimia sabun modern.   1861, ahli kimia Belgia, Ernest Solvay, menggunakan garam biasa, atau natrium klorida, untuk membuat abu soda, yang bisa mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas dan kuantitas abu soda untuk pembuatan sabun.   1865, bentuk sabun cair dipatenkan William Sheppard dari Amerika Serikat.  1900-an Industri sabun mengalami kesulitan ketika Perang Dunia I. Langkanya lemak hewani membuat produsen sabun beralih menggunakan minyak nabati, dari minyak kelapa, sebagai bahan pembuat sabun. Pascaperang, industri sabun kembali bangkit. Pengembangan dan pemasaran sabun tangan cair mulai pada 1970-an.* Sumber: soaphistory.net/frenchsoaps.co.uk .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page