top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Asal-Usul Kamera

    MINAT orang terhadap fotografi kini tak terbendung. Tua-muda, laki-perempuan, miskin-kaya gemar mengabadikan momen-momen penting mereka, bahkan momen tak pentingnya. Foto-foto itu dapat disimpan di ponsel, komputer, atau diunggah ke facebook , twitter , dan jejaring sosial lainnya. Ini karena jasa kamera.  Dua abad lalu, orang tak pernah membayangkan kerja kamera dapat secanggih sekarang. Kamera pertama yang mampu menghasilkan foto dan diperkenalkan ke khalayak adalah daguerreotype (1839). Kamera itu terbuat dari kotak kayu dengan tiga atau empat penopang yang juga terbuat dari kayu. Ukurannya cukup besar sehingga butuh dua atau tiga orang untuk membawanya. Pemotretannya butuh waktu berjam-jam. Objeknya tak boleh bergerak. Tak ada bedanya dengan proses melukis.   Di Eropa, sebelum adanya daguerreotype , orang mendatangi pelukis untuk mengabadikan gambar. Orang pun ragu apakah kamera itu mampu bertahan lama. Ternyata, teknologi kamera jauh lebih cepat berkembang daripada yang bisa diperkirakan orang saat itu.  Baca juga:  Pemburu Gambar di Era Perang 5 SM Pengetahuan mengenai konsep dasar kerja sebuah kamera ditemukan oleh Mo Ti, seorang Tionghoa. Dia mengamati sinar matahari yang masuk melalui sebuah lubang kecil dalam kamar gelap yang terpantul pada benda tertentu dapat merefleksikan bayangan keadaan di luar kamar secara terbalik.  Abad ke-10 Prinsip yang dilakukan Mo Ti diperkenalkan oleh Ibnu Haitam, ilmuwan Irak. Bersama muridnya, Kamal ad-Din, dia menunjukkannya kepada khalayak di dalam tenda-tenda yang gelap. Orang-orang terpukau dan terhibur. Tulisan-tulisan yang menjelaskan gejala itu mulai terbit, meski belum ada istilah yang digunakan.  1604  Seorang ahli matematika Jerman, Johannes Kepler, menjadi orang pertama yang menyebut gejala itu dengan camera obscura (kamar gelap) dalam karyanya, Ad Vitellionem Paralipomena .  Baca juga:  Fotografer Bersaudara dalam Perang Lombok dan Aceh Abad ke-17 Pelukis-pelukis di Eropa membuat sebuah alat yang memudahkan mereka mengamati model atau objek dengan tenang dan cermat berdasarkan prinsip camera obscura . Alat tersebut bernama heliograph . Meski alat ini tersebar luas, belum ada gagasan untuk mengabadikan citra yang tertangkap dalam camera obscura .  1826 Joseph Nicephore Niepce, ilmuwan Prancis berhasil mengabadikan citra yang tertangkap dalam camera obscura -nya. Inilah foto pertama di dunia. Foto ini bernama “View from Window at Gras”. Keberhasilannya belum diumumkan sehingga kameranya tak diketahui khalayak. Tak lama kemudian, Niepce meninggal pada 1833.  1839 Sepeninggal Niepce, rekannya, Louis Jacques Mande Daguerre, seorang dekorator panggung asal Prancis, berusaha mengembangkan temuan Niepce. Pengembangannya itu dia terapkan ke dalam camera obscura sehingga model ini disebut daguerreotype . Kameranya ini kemudian diperkenalkan kepada khalayak. Dia juga mengizinkan khalayak untuk mengadopsi teknologinya.  Baca juga:  Juru Foto di Bawah Desingan Peluru 1886 George Eastman, seorang Amerika, menciptakan kamera yang terpasang rol film kertas di dalamnya (pada 1889 beralih ke rol seluloid) sebagai media penyimpan gambar pengganti pelat atau logam. Untuk mengambil gambar, orang hanya perlu menekan tombol kamera sekali. Kamera ini disebut Kodak.  Abad ke-20 Perusahaan Eastman, Kodak, memperkenalkan kamera terbarunya. Bagian belakang kamera ini dapat dilepas untuk memasang rol film. Kamera bernama Brownie ini dinilai sebagai titik tolak hobi fotografi karena laku keras di pasaran. Selanjutnya, Kodak menjadi perusahaan penjual dan pengembang perlengkapan kamera pertama di dunia. Inilah terobosan kedua dari Kodak.  1913 Melihat Kodak sukses, perusahaan kamera asal Jerman, Leica, menciptakan kamera dengan rol film 35 mm pertama di dunia. Namun, Leica baru menjualnya ke khalayak sebelas tahun kemudian. Bentuknya lebih kecil daripada Brownie. Sambutan khalayak sangat bersahabat. Kamera ini terjual hingga ke luar Jerman.  Baca juga:  Kisah di Balik Foto Eksekusi Pejuang Indonesia 1947 Terobosan bentuk dan teknologi baru kamera kembali terjadi, untuk kali pertama, sebuah kamera dapat langsung mencetak foto. Kamera ini disebut Land Camera. Nama ini diambil dari penciptanya, Dr. Edwin Land. Tak seperti kamera umumnya yang menggunakan rol film, kamera ini menggunakan film khusus yang disebut polaroid. Film ini memungkinkan kamera bisa mencetak foto beberapa detik setelah pemotretan. Kelak, kamera ini lebih dikenal dengan nama Polaroid.  1970 Kamera “mainan” atau Kamera Diana muncul. Kamera ini terbuat sepenuhnya dari plastik khusus yang ringan, bukan plastik kamera umumnya. Bentuknya mini sehingga dapat digenggam. Kamera ini merupakan kamera khusus yang dipakai dalam lomografi, bagian dari fotografi yang menggunakan kamera analog untuk pemotretan tertentu.  1975 Kamera digital pertama diciptakan oleh Steven Sasson, teknisi Kodak. Bobotnya 3,6 kilogram dan hanya mampu menghasilkan foto hitam-putih. Kamera ini belum menjawab kebutuhan NASA, tetapi menjadi awal teknologi kamera digital. Meskipun teknologi digitalnya belum sempurna, Sony tercatat sebagai pemasar pertamanya melalui produk Mavica. Sebagian orang menilai kamera ini hanya modifikasi kamera video.  Baca juga:  Ditemukan Lagi: Foto Eksekusi Pejuang Indonesia oleh Tentara Belanda 1990-an Perkembangan teknologi kamera digital kian cepat, banyak orang menganggap periode ini sebagai awal kemunculan kamera digital sebenarnya. Kodak memperkenalkan kamera digital pertamanya, Digital Camera System 100 (DCS 100). Kamera ini tak memerlukan rol film untuk menangkap citra objek. Alat pengganti rol film itu disebut Charge-Coupled Device (CCD). Kodak kembali membuat terobosan bagi perkembangan teknologi kamera.  2000-an Era kamera rol film atau analog memudar, kamera digital bermunculan. Bahkan dicangkokkan ke telepon genggam. Dengan kamera digital, orang tak perlu mengeker ke lubang kecil yang terdapat di bagian belakang kamera seperti saat menggunakan kamera analog. Penggantinya adalah sebuah layar berukuran kecil yang berfungsi untuk melihat objek yang akan dipotret. Sekarang kamera digital tak cuma bisa mengambil foto, dia juga dapat merekam citra dalam format video.*

  • Tante Netje 54 Tahun Jadi Ratu

    MAKAM itu bentuknya lain dari makam-makam yang lain di Pancana, Tanette, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Makam itu menyerupai bangunan kecil, seperti makam-makam pembesar Eropa. Namun, yang dimakamkan di dalamnya bukanlah pejabat Eropa, melainkan seorang perempuan. Dia adalah ratu di Tanette yang dulu sangat sohor meski wilayah kerajaannya tak besar. Ratu itu bernama La Rumpang Megga Dulung Lamuru. Ia berkuasa di Tanette sedari tahun 1840 hingga 1855. La Rumpang adalah pengganti La Patau (1829-1840), yang tak berkuasa lagi setelah melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. La Rumpang punya dua cucu. Seorang laki-laki bernama La Makkawaru dan seorang perempuan bernama We Tenriolle alias Siti Aisyah. Bila mengacu pada kebiasaan umum bahwa pengganti penguasa biasanya seorang laki-laki, mestinya yang bakal naik takhta adalah La Makkawaru. Namun, rupanya La Makkawaru punya tabiat suka berjudi dan madat. Maka, We Tenriolle pun dianggap layak menjadi Datu atau Raja di Tanette. Baca juga:  Colliq Pujie Pencipta Aksara Perjuangan Kaum Bugis We Tenriolle, seperti dicatat D.A.F. Brautigam dalam Nota Betreffende Het Zelfbestuurend landschap Tanette , naik takhta berkat usulan kakeknya, La Rumpang. Putri dari La Tunampare' alias To Apatorang gelar Arung Urung dan Colliq Pudjie gelar Arung Pancana itu menjadi penguasa Tanette sejak 1856 hingga 1910. Tak semua anggota keluarganya setuju atas pengangkatan We Tenriolle sebagai raja. Colliq Pudjie termasuk yang tampak tak ingin We Tenriolle berkuasa. Namun, pemerintah kolonial tak mempermasalahkannya sehingga membiarkan We Tenriolle jadi raja. Maka, We Tenriolle tetap menjadi penguasa Tanette sejak 1856-1910. Salah satu akibat dari berkuasanya We Tenriolle, ibunya yang tak suka terpaksa tinggal di Makassar. “Ketika We Tenriolle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanette terdiri dari sejumlah banua (daerah) yang masing-masing seolah-olah berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintahan sendiri, dan beberapa palili atau daerah vasal,” catat Harsya Bachtiar dalam "Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita"termuat di  Satu Abad Kartini . Menurut catatan J.A. Bakkers dalam Tanette en Barroe (Celebes) , luas Tanette kira-kira 61.180 hektar. Pada 1861, penduduknya sekitar 13.362 jiwa. Baca juga:  Seberapa Mahal Meminang Perempuan Bugis? We Tenriolle tak kalah dari suaminya, La Sangadji Unru gelar Datu Bakka dari Soppeng. We Tenriolle cukup dipandang oleh orang-orang Belanda. Orang-orang Belanda biasa memanggilnya Tante Netje. We Tenriolle dianggap sebagai raja yang cukup modern di masanya. Tak banyak raja di Indonesia yang sepertinya. Kemodernan We Tenriolle dibuktikan salah satunya dari upayanya membangun sekolah di wilayahnya sekitar tahun 1908. Sekolah itu untuk anak perempuan dan laki-laki. Selain itu, seperti ibunya, We Tenriolle punya minat dalam kesusastraan kuno Bugis. Keduanya berkontribusi dalam memperkenalkan karya sastra La Galigo .  We Tenriolle turun takhta pada 1910. Jadi, dia berkuasa sekitar 54 tahun. Cukup lama untuk ukuran kekuasaan di Indonesia. Dia kemudian menjalani masa tuanya hingga meninggal dunia pada 1919. Setelah meninggal, jenazahnya dimakamkan di daerah Pancana. Makam itu belakangan menjadi besar mirip makam raja-raja Sulawesi Selatan.*

  • Nafsu Berahi Merongrong Kamerad Stalin (Bagian II – Habis)

    TERLEPAS dari perbedaan ideologis, Josef Stalin dan Adolf Hitler punya satu kesamaan terkait akhir nasib perempuan yang dikasihinya. Geli Raubal yang jadi cinta sejatinya Hitler ditemukan tewas di apartemennya setelah keduanya terlibat cekcok. Pun istri kedua Stalin yang senasib tanpa bisa diketahui apakah ia dibunuh atau bunuh diri. Stalin yang sudah kokoh di puncak kekuasaan pada 1930-an, ternyata juga punya hobi mencari hiburan dengan menyambangi teater-teater di Moskow. Tak ayal Stalin juga banyak digosipkan punya hubungan terlarang dengan balerina dan penyanyi opera. Siapa saja mereka? Baca juga: Nafsu Berahi Merongrong Kamerad Stalin (Bagian I) Nadezhda Alliluyeva Nadezhda Sergeyevna Alliluyeva (kiri) & Stalin pada 1922 (Pravda 1922) Meski tercatat sebagai istri sah kedua Stalin, Nadezhda bukan orang baru di mata Stalin. Nadezhda sudah dikenal Stalin sejak kecil lantaran ayahnya, Sergey Alliluyev, juga seorang pengikut Partai Buruh Sosial Demokratik (Bolshevik). Sergey sudah berkawan dengan Stalin sejak 1904 ketika sering membantu membawa mesin-mesin cetak dari Baku (Azerbaijan) ke Tiflis (kini Tbilisi, Georgia). Maka Nadezhda sejak remaja juga sudah mendukung kaum Bolshevik. “Keluarganya (Nadezhda) sering mengundang para anggota Bolshevik ke rumahnya, termasuk jadi tempat persembunyian Vladimir Lenin saat terjadi Kerusuhan Juli (1917). Saat Lenin berhasil keluar dari Rusia pada Agustus 1917, giliran Stalin yang mampir,” ungkap Rosamond Richardson dalam The Long Shadow: Inside Stalin’s Family. Witing tresno jalaran saka kulino , begitu kata orang Jawa. Lantaran kerap bertemu, Stalin yang sudah berusia 38 tahun pun menjalin hubungan dengan Nadezhda yang baru berumur 16 tahun. Hubungan keduanya lantas berujung pada pernikahan kedua Stalin, Maret 1919. Dari pernikahan ini, Stalin mendapatkan sepasang putra dan putri: Vasily yang lahir pada 1921 dan Svetlana yang menyapa dunia pada 1926. Namun Stalin tetaplah suami yang kasar pada Nadezhda. Terlebih jika Nadezhda mengungkit soal kekejaman Stalin dalam Holodomor atau bencana kelaparan di Ukraina pada 1932-1933. Nadezhda mengetahui horor bencana kelaparan itu dari rekan sesama pelajar di Akademi Teknik Industri Moskow. Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Bedanya dengan perempuan lain yang pernah digandeng Stalin, Nadezhda bukan perempuan tak berdaya. Dalam beberapa pertengkaran, Nadezhda justru berani membentak balik suaminya. “(Nadezhda) bukan perempuan lembut. Dia perempuan bermulut pedas. Pernah suatu ketika ia membentak di depan wajahnya (Stalin), ‘Kau seorang penyiksa, itulah dirimu yang sesungguhnya! Kau menyiksa putramu sendiri, menyiksa istrimu, menyiksa segenap rakyat Rusia!’” kenang ajudan Stalin Karoly Pauker kepada Alexander Orlov, eks-perwakilan NKVD di Spanyol yang menuliskannya di kolom majalah Life edisi 27 April 1953 “Stalin’s Secret, Part IV: The Man Himself”. Namun, keberadaan Nadezhda sebagai “ibu negara” memang jauh dari awareness publik. Rakyat Uni Soviet kebanyakan mengetahui sosok Nadezhda ketika media massa “Negeri Tirai Besi” itu mengabarkan kematiannya di usia 31 tahun pada 7 November 1932. Kendati Stalin memberi pernyataan istrinya wafat karena sakit, info dari NKVD yang bocor dan menyebar menyebutkan Nadezhda tewas akibat tembakan pistol. Hanya saja yang masih samar, apakah Nadezhda ditembak seseorang atau ia melakukan bunuh diri. Olga Lepeshinskaya Balerina Olga Vasilievna Lepeshinskaya (soviet-art ru/RIA Novosti) Sosok yang disapa “Lesha” sejak kecil ini di masa remajanya sudah menggeluti balet. Ia juga seorang kader Liga Pemuda Komunis, Komsomol. Bakatnya di atas panggung membuatnya di usia 17 tahun sudah acap tampil di berbagai konser di Moskow Bolshoi pada medio 1933. Kombinasi kecantikan paras dan keindahan gerakan Lesha membuat Stalin kesemsem padanya. “Stalin terbiasa berada di box (tribun VIP, red. ) memerhatikan panggung di Boshoi Moskow, sering memberi bunga mawar kepada para pementas dan terkadang juga mengintervensi pementasan. Sejumlah balerina digosipkan menjadi kekasih gelap Stalin,” tulis John E. O’Neill dan Sarah C. Wynne dalam The Dancer and the Devil: Stalin, Pavlova, and the Road to Great Pandemic. Baca juga: Tanneke Burki dari Balet ke Senam Seks Lesha termasuk yang digosipkan. Sebagai balerina favoritnya Stalin, lanjut O’Neill dan Wynne, Lesha bahkan acap dijadikan pemeran utama dalam banyak pementasan. Lesha mengakui Stalin sering menjamu para balerina, termasuk dirinya, meski gosip hubungan terlarangnya dengan Stalin masih samar hingga wafatnya Lesha pada 2008. “Pertemuan terakhir saya dengan Stalin terjadi pada jamuan pasca-sebuah konser. Ia menunjukkan sebuah film yang sangat ia sukai saat itu, Volga-Volga (1938). Saat itu kami semua mencintainya. Ia bisa sangat lembut dan baik tapi itu mungkin hanya ilusi yang ia buat karena sejatinya ia seorang yang kejam dan pemarah. Apa yang ia perbuat terhadap negeri ini menjadi sejarah yang takkan termaafkan,” tutur Lesha kepada Izvestia , 9 April 2004. Vera Davidova Penyanyi opera Vera Alexandrovna Davydova (Sputnik) Kegemaran Stalin mampir ke Teater Bolshoi pada medio 1930-an tak hanya membuatnya digosipkan punya hubungan terlarang dengan beberapa balerina tapi juga penyanyi opera. Salah satu penyanyi opera yang paling santer digosipkan jadi perempuan simpanan Stalin adalah Vera Davidova. Gosip itu mengudara seiring terbitnya buku yang ditulis seorang mantan pekerja di Teater Orkestra Bolshoi, Leonid Gendlin, yang terbit pada 1983 bertajuk Ispoved’ lyubovnitsy Stalina (terj. Confession of Stalin’s Lover) . Terlepas dari bukunya tak diakui keluarga Davidova, di dalamnya terdapat informasi Vera yang mengaku terpaksa jadi kekasih gelap Stalin selama 19 tahun meski dirinya sudah bersuami. Gendlin menceritakan bahwa pada suatu jamuan di pertengahan 1932, Vera menemukan selembar catatan di sakunya. Catatan itu berisi info bahwa ada seorang sopir yang menunggunya di luar teater. Sang sopir kemudian mengantar Vera ke sebuah pertemuan rahasia di kediaman Stalin. “Bagaimana saya bisa menolak? Kapanpun hanya dengan sepatah kata, karier saya bisa berakhir atau diri saya secara fisik akan lenyap,” kata Vera dikutip Gendlin. Baca juga: Para Perempuan dalam Buaian Napoleon Vera pasrah saat diajak Stalin duduk bersama di sebuah ruangan dengan sofa besar. Seiring obrolan yang makin intim, Stalin mematikan lampu dan memerintahkan Vera melucuti gaunnya. Stalin disebutkan acap mengajaknya bertemu secara intim hingga 1951. Vera dirumorkan pula hendak dijadikan istri ketiga Stalin. “Vera Davydova pernah bicara di televisi Rusia tentang perhatian Stalin kepadanya dan bahkan pernah menawarkan pernikahan. Lamaran (Stalin) itu membuatnya takut karena ia bahagia dengan pernikahannya,” ungkap Larissa Vasilieva dalam Kremlin Wives: The Secret Lives of the Women Behind the Kremlin Walls, from Lenin to Gorbachev. Valentina Istomina Stalin pada 1949 (kiri) & Valentina Vasilievna Istomina ( hs.fi/IMDb ) Ia kadang dipanggil Valya atau Valechka oleh Stalin. Menurut Simon Sebag Montefiore dalam Stalin: The Court of the Red Tsar , Valentina mulai bekerja jadi pembantu rumah tangga di kediaman pribadi Stalin di Kuntsevo pada 1938. Hingga  19 tahun lamanya dia menekuni profesi tersebut sampai Stalin wafat pada 16 Oktober 1952. “Saat kematian ayah, ia (Valentina) jatuh berlutut di samping sofa, meletakkan kepalanya di dada jenazah mendiang (Stalin) dan mulai meratap. Sampai menjelang akhir hidupnya, ia meyakini tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari ayah saya,” tulis Svetlana Iosifovna Alliluyeva, putri Stalin, dalam bukunya, Twenty Letters to a Friend. Mulai sejak itu banyak pihak yang menyadari bahwa Valentina bukan sekadar pembantu tapi juga punya hubungan yang intim dengan Stalin. Valentina, sambung Montefiore, memang tidak punya paras secantik balerina Olga Lepeshinskaya atau solois opera Vera Davidova. “Stalin tertarik pada pembantu muda itu karena beberapa hal spesifik yang menurutnya ideal: montok, bermata biru, rambut lebat, dan bentuk hidung bak gadis desa Rusia, penurut ibarat antitesis dari Nadezhda, seperti seorang baba (gadis desa) yang bisa merapikan rumah tanpa ikut campur pada kehidupan (Stalin) yang lain, di mana saat itu ia masih sering bertandang ke teater menyaksikan opera dan balet,” tulis Montefiore. Baca juga: Aliansi Politik dengan Poligami Kedekatan Stalin dengan Valentina jadi “berkah” tersendiri buat para pelayan lain. Tak jarang Stalin mengajak Valentina dan pelayan-pelayan lainnya minum kopi atau telavi ( cognac khas Georgia) bersama. Khususnya Valentina, ia tetap dibawa Stalin untuk mengurusi keperluan-keperluan pribadinya saat Stalin menghadiri Konferensi Yalta (4-11 Februari 1945) dan Konferensi Postdam (17 Juli-2 Agustus 1945). Keintiman Stalin dengan Valentina bikin cemburu kepala pasukan pengawal Stalin, Jenderal Nikolai Vlasik, dan kepala polisi rahasia NKVD, Lavrentiy Beria. Sampai-sampai ketika Stalin jatuh sakit, Valentina dirudapaksa secara bergilir oleh Vlasik dan Beria. Stalin yang mengetahuinya justru menuding Valentina selingkuh hingga mengirimnya ke Kamp Kolyma di Magadan bersama Vlasik. Sementara, Beria diampuni. Namun Stalin mengirim Valentina balik ke Kuntsevo karena tak sanggup jauh darinya hingga banyak pihak yang menganggap Valentina sudah seperti gundik. “Benar tidaknya Istomina adalah istri Stalin, bukan urusan siapa-siapa. (Tokoh komunis, Friedrich) Engels tinggal bersama pembantunya. (Panglima militer, Marsekal Semyon) Budyonny dan (revolusioner Bolshevik, Mikhail) Kalinin menikahi pembantu mereka,” tandas Menteri Luar Negeri Vyacheslav Molotov, dikutip Montefiore.

  • Sentot Alibasah Prawirodirjo, Putera, Hansip

    17 April 1855: Sentot Alibasah Prawirodirjo Meninggal Dunia SENTOT Alibasah Abdulmustopo Prawirodirjo meninggal dunia di Bengkulu pada 17 April 1855. Dia adalah panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830).  Sentot adalah putra dari Raden Ronggo Prawirodirjo III, bupati wedana (kepala bupati) yang berkedudukan di Maospati. Ayahnya mati dibunuh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap pemberontak. Bisa jadi itulah salah satu alasan Sentot bergabung dengan Diponegoro.   Sentot, yang lahir pada 1808, bergabung dengan Diponegoro saat berusia 17 tahun pada 1825. Awalnya Diponegoro hendak mendidik Sentot menjadi santri agar menjadi ulama. Namun, Sentot tidak tertarik. Dia juga tidak bisa membaca dan menulis.  Pada 1828, Gusti Basah, salah satu panglima gugur dalam peperangan. Sebelum meninggal, dia meminta kepada Diponegoro agar menunjuk Sentot sebagai penggantinya. Diponegoro menyetujui permintaan Gusti Basah. Sentot pun menjadi panglima perang Diponegoro termuda pada usia 20 tahun.  Baca juga:  Sentot Alibasah Prawirodirjo, Panglima Perang Termuda Pangeran Diponegoro Sentot pantas menyandang panglima perang. Sebab, sebelumnya dia telah membuktikan kemampuannya memimpin pasukan dalam melawan pasukan Belanda.   Menurut sejarawan Peter Cerey, penulis biografi Pangeran Diponegoro, di bawah pimpinan Sentot, pasukan Diponegoro memenangi pertempuran pada akhir Juli sampai Agustus 1826. Sentot dan pasukannya berhasil menguasai Kasuran (28 Juli), Lengkong (30 Juli), Bantul (4 Agustus), Kejiwan (9 Agustus), dan Delanggu (28 Agustus), membuat sebagian besar daerah inti Jawa tengah-selatan jatuh ke bawah kekuasaan Diponegoro.  Namun, Sentot akhirnya menyerah kepada Belanda pada 17 Oktober 1829. Setelah Perang Jawa berakhir, dia diberangkatkan ke Sumatra Barat untuk menumpas perlawanan kaum Padri.   Alih-alih menumpas perlawanan, Sentot malah mendukung kaum Padri. Sentot ditarik kembali ke Jawa dan segera ditangkap. Dia diasingkan ke Cianjur lalu dipindahkan ke Bengkulu hingga mengembuskan napas terakhir. Baca juga:  Kisah Sentot Alibasah Prawirodirjo dalam Perang Padri 16 April 1943: Putera Didirikan Jepang PUTERA atau Pusat Tenaga Rakyat ( Jawaminshu soryoku kesshu undo ) didirikan pemerintah pendudukan militer Jepang ( Gunseikanbu ) pada 16 April 1943 untuk membujuk kaum nasionalis dan intelektual Indonesia agar mendukung Jepang.   Untuk mewujudkan itu, diangkatlah Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur yang kemudian dikenal sebagai Empat Serangkai untuk memimpin Putera.  Baca juga:  KH Mas Mansur Pelihara Anjing Darul Aqhsa dalam biografi Kiai Haji Mas Mansur, 1896–1946: Perjuangan dan Pemikiran menyebut Putera diresmikan Gunseikan di Lapangan Ikada (kini, kawasan Monas), Jakarta. Dalam rapat itu, KH Mas Mansur turut memberikan pidato sambutan, antara lain mengatakan bahwa Indonesia dapat lepas dari cengkeraman Belanda berkat Dai Nippon.   Putera yang bermarkas besar di Jalan Sunda 18 (kini Jalan Gereja Theresia), Jakarta, memiliki empat departemen dengan 12 seksi. Keempat departemen tersebut adalah Departemen Perencanaan dan Pembangunan di bawah Mohammad Hatta, Departemen Kebudayaan di bawah Ki Hajar Dewantara, Departemen Propaganda di bawah Sukarno, dan Departemen Kesejahteraan Masyarakat di bawah KH Mas Mansur.  Karena dianggap tak efektif, tak genap setahun Putera dibubarkan dan diganti dengan badan baru bernama Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa ( Jawa Hokokai ). Baca juga:  Kisah D.N. Aidit dan Mohammad Hatta di Putera Keberadaan Putera menegaskan pilihan taktik dalam menghadapi Jepang. Sukarno, Hatta, dan tokoh-tokoh tua memilih bekerja sama dengan Jepang. Sementara tokoh-tokoh pemuda melawan Jepang dengan bergerak di bawah tanah.   “Telah disepakati, kami akan bekerja dengan dua cara. Di permukaan secara terang-terangan (bekerja sama) dan di bawah tanah secara rahasia (melawan),” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.  Namun, dari semua tokoh yang bekerja sama dengan Jepang, Sukarno yang paling menonjol. Misalnya, karena kemampuannya menggerakkan massa, Sukarno terlibat dalam pengerahan romusha –sehingga dengan enteng dicap mandor romusha. Dia juga dicap kolaborator Jepang sehingga diburu Sekutu.  Baca juga:  Dianggap Kolaborator Jepang, Sukarno Diburu Sekutu 19 April 1962: Hansip Lahir HANSIP lahir berdasarkan SK No. MI/A/72/1962 tentang Peraturan Pertahanan Sipil yang dikeluarkan Wakil Menteri Pertama urusan Pertahananan Keamanan (Wampa Hankam) tanggal 19 April 1962.  Pembentukan Hansip tak bisa dilepaskan dari upaya merebut Irian Barat. Pada 19 Desember 1961, Presiden Sukarno mengumumkan Tri Komando Rakyat yang mencakup mobilisasi umum.  Untuk itu, Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI A.H. Nasution membentuk organisasi pertahanan sipil (Hansip). Pelaksanaan mobilisasi umum ditetapkan melalui Perppu No. 1/1962, yang kemudian jadi UU No. 14/1962.   Baca juga:  Hansip Bubar Barisan Perppu mengatur pengerahan warga negara berumur 18–50 tahun untuk kepentingan keamanan dan pertahanan negara. Tugasnya dibagi dua: perlawanan rakyat (Wanra) yang membantu kesatuan angkatan bersenjata dan perlindungan masyarakat (Hansip).   Berbeda dari Wanra, Hansip ditempatkan di bawah Wampa Hankam. Wampa Hankam selanjutnya mengeluarkan SK No. MI/A/72/1962 yang menegaskan hakikat hansip adalah nonmiliter.   Pemerintah Orde Baru melalui Keppres No. 55/1972 mengalihkan kedudukan Hansip dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan ke Kementerian Dalam Negeri. Hansip ditiadakan setelah keluar Peraturan Presiden No. 88/2014 yang mencabut Keppres No. 55/1972. Hansip beralih rupa jadi satuan perlindungan masyarakat (linmas).*  Baca juga:  Silakan, Ini Sejarah Satpam

  • Empat Hal Tentang Sepakbola

    Tuan Rumah Piala Dunia Pertama Piala Dunia kali pertama bergulir tahun 1930. Mulanya lima negara anggota Asosiasi Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) mengajukan diri sebagai tuan rumah: Italia, Belanda, Spanyol, Swedia, dan Inggris.   Inggris kadung keluar dari FIFA sebelum perhelatan karena tunggakan iuran. Meski tak diunggulkan, satu-satunya negara Amerika Latin yang mengajukan diri adalah Uruguay. Uruguay menginginkan status tuan rumah sebagai hadiah ulang tahun ke-100 negerinya. Baca juga:  Rupa-Rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama Juara cabang sepakbola Olimpiade 1924 dan 1928 serta lolos dari krisis ekonomi dunia jadi modal penting Uruguay menuju perhelatan turnamen sepakbola terbesar di dunia. Stadion-stadion berkapasitas besar dibangun. Yang terbesar, Estadio Centenario, dapat menampung 100.000 penonton. Selain itu, pemerintah Uruguay siap menanggung semua biaya transportasi dan akomodasi tim peserta.  Menghadapi kampanye itu, empat negara kandidat Eropa mundur dari pencalonan. Keempatnya pun absen di Piala Dunia pertama. Alhasil, hanya 13 negara hadir di Uruguay. Tuan rumah menjadi juara setelah mengalahkan Argentina di final dengan skor 4-2. .  Baca juga:  Preambul Piala Dunia Pertama Amburadul Tragedi Superga Kecelakaan pesawat yang menewaskan semua penumpangnya, termasuk skuad klub sepakbola Torino FC, terjadi pada 4 Mei 1949. Pesawat The Avio Linee Italiane (Italia Air Lines) Fiat G.212 diterpa badai dan jatuh di bukit Superga, Turin, Italia. Tiada penumpang yang selamat. Sebanyak 31 orang tewas, termasuk 18 pemain Torino yang baru tanding dalam laga persahabatan melawan Benfica di Lisbon, Portugal.  Peristiwa itu menjadi kabar pilu bagi publik sepakbola Italia. Para pemain yang meninggal dalam kecelakaan disebut-sebut sebagai tim terbaik sepanjang masa yang dimiliki Torino. Dengan julukan Il Grande Torino (Torino Terbesar), Torino menjadi klub terkuat Italia dengan menjuarai ( scudetto ) liga Serie A lima kali berturut-turut (1942–1943, 1945–1946, 1946–1947, 1947–1948, 1948–1949). Hanya sekali diselingi oleh Spezia Calcio sebagai juara saat perang tahun 1944. Saat itu Torino juga menjadi penyumbang terbanyak untuk pemain timnas Italia (11 pemain). Total Torino tujuh kali juara Serie A; pertama juara pada 1927–1928 dan terakhir 1975–1976.   Untuk mengenang generasi emas Torino dalam Tragedi Superga, pada 7 Mei 1949 Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) memutuskan agar seluruh pertandingan internasional tingkat divisi utama mengheningkan cipta selama satu menit sebelum laga. .  Baca juga:  Berkabung untuk Setan Merah Kartu Kuning dan Kartu Merah Ken Aston (1915–2001), wasit asal Inggris, mengawali karier sebagai wasit sepakbola pada usia 20 tahun. Sering terjadinya kerancuan verbal soal pemberian hukuman kepada pemain oleh wasit, terutama pada penyelenggaraan Piala Dunia 1962 dan 1966, menginspirasi Aston untuk membuat sebuah sistem hukuman yang dapat dimengerti baik oleh pemain, ofisial, maupun penonton.  Suatu ketika Aston sedang mengemudikan mobilnya ketika ide tersebut datang. “Saat saya sedang mengemudi di Jalan Raya Kensington, lampu lalu lintas menyala merah. Saya lantas berpikir: ‘kuning berarti peringatan untuk berhati-hati; merah, berhenti, kamu dikeluarkan’,” kata Aston seperti dikutip Gavin Mortimer dalam A History of Football in 100 Objects . FIFA kemudian memperkenalkan sistem kartu kuning dan kartu merah untuk kali pertama pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. .  Baca juga:  Awal Mula Wasit Meniup Peluit dalam Pertandingan Sepakbola Jumlah Penonton Terbesar dalam Sepakbola Indonesia 150.000 penonton memadati Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno) yang berkapasitas 120.000 orang. Peristiwa ini terjadi saat final liga Perserikatan musim 1985 yang mempertemukan Persib Bandung kontra PSMS Medan pada 23 Februari 1985.   “Angka tersebut merupakan rekor jumlah penonton sepanjang sejarah pertandingan sepakbola di tanah air,” tulis Suara Merdeka , 25 Februari 1985. Final legendaris itu dimenangi PSMS Medan lewat adu penalti dengan skor 4-3 setelah bermain imbang 2-2 di waktu reguler. . Baca juga:  Persib Bandung vs PSMS Medan: Final Fenomenal di Senayan

  • Nasib Pelukis Kesayangan Sukarno Setelah 1965

    SEORANG lelaki berperawakan sedang, memakai baju ala gerilyawan dengan peci dimiringkan ke kanan. Tak ketinggalan, sang gerilyawan juga menyandang pistol di pinggang kanan dan sebilah keris di pinggang sisi kiri. Dia duduk di ujung depan mobil Buick. Lukisan berjudul Pejuang itu karya Trubus Sudarsono tahun 1949. Lukisan dibuat dengan bahan cat minyak di atas kain, berdimensi 95,5 cm x 77,5 cm. Lukisan ini jadi koleksi istana yang dipamerkan pada Agustus 2018. Trubus salah satu pelukis dan pematung kesayangan Presiden Sukarno. Patung karyanya masih bisa dinikmati di belakang Istana Bogor. Patung bernama Denok ini menggambarkan seorang wanita dengan kepala menoleh ke kanan serta kedua tangan berada di paha kiri yang menjadi tumpuannya berjongkok.

  • Meneer Belanda Pengawal Mistar Indonesia

    MENJELANG lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona AFC, timnas Indonesia bakal diperkuat kiper naturalisasi anyar, Maarten Paes. Pengawal mistar keturunan Belanda yang bermain di klub FC Dallas itu resmi menyandang status sebagai warga negara Indonesia (WNI) sejak Selasa (30/4/2024). Paes yang kelahiran Nijmegen, 14 Mei 1998 dan punya darah Indonesia dari garis neneknya, menjalani proses naturalisasinya bersama dua pemain lain, Thom Haye dan Ragnar Oratmangoen. Paes tercatat sempat membela timnas Belanda di beberapa kelompok umur: Belanda U-19 dan Belanda U-21. “Semuanya sudah jelas untuk Juni nanti (Kualifikasi Piala Dunia 2026). Saya rasa bangsa ini layak untuk berada di Piala Dunia dan itu adalah target saya. Bermain sebanyak mungkin serta memberikan dampak di dalam dan di luar lapangan karena saya juga ingin menjadi contoh bagi generasi yang lebih muda,” kata Paes, dilansir laman resmi PSSI, Selasa (30/4/2024). Saat Ini timnas senior Indonesia masih berjuang di fase kedua kualifikasi Grup F bersama Irak, Vietnam, dan Filipina. Kans untuk terus melaju ke fase ketiga masih terbuka lebar dengan menyisakan dua laga lagi kontra Irak di Jakarta (6 Juni 2024) dan lima hari berselang menghadapi Filipina. Baca juga: Pionir Sarung Tangan Kiper Kini skuad Garuda besutan Shin Tae-yong sudah lengkap dengan naturalisasinya dari lini depan sampai belakang. Sebelumnya, hanya posisi kiper yang belum dihiasi pemain naturalisasi. Posisi kiper timnas bisa dibilang tak pernah “disentuh” naturalisasi. Toh dari masa ke masa Indonesia tak pernah kehabisan kiper jempolan. Mulai dari Maulwi Saelan, Ronny Pasla, Yudo Hadianto, Eddy Harto, Kurnia Sandi, Hendro Kartiko, hingga Markus Horison dan Kurnia Meiga. Sejak akhir April 2024 Maarten Paes resmi jadi WNI ( pssi.org ) Sejatinya, sebelum Paes sempat terdengar isu kiper berdarah Italia yang bermain untuk Juventus, Emilio Audero Mulyadi, yang direncanakan untuk dinaturalisasi. Namun hingga hadirnya Paes, pria kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 18 Januari 1997 itu tak kunjung dinaturalisasi hinggi kemungkinan Audero untuk memperkuat “Merah-Putih” makin suram. Walaupun masih diiringi pro-kontra terkait naturalisasi yang membanjiri skuad timnas, kehadiran Paes di bawah mistar gawang Indonesia setidaknya menjadi catatan sejarah tersendiri sebagai kiper berdarah Belanda kedua. Pada era 1950-an, faktanya Indonesia pernah diperkuat kiper naturalisasi yang juga sama-sama asal Belanda, Arnold Wouter ‘Nol’ van der Vin. Baca juga: Naturalisasi, Dulu dan Kini Kiper Terbaik se-Asia Tenggara Pada 1950, pasca-pengakuan kedaulatan oleh Belanda, banyak meneer yang hengkang dari Hindia Belanda ke tanah leluhur mereka, Belanda. Namun, beberapa pemain memilih dinaturalisasi. Antara lain Boelard van Tuyl, Pieterseen, Van der Berg, Pesch, dan Nol van der Vin. Nama terakhir lahir di Semarang pada 1924 dan sebelumnya membela klub lokal milik orang Belanda di Surabaya, Excelsior. Namun situasi revolusi di Surabaya membuatnya mesti pindah ke Jakarta. Ia kemudian berkarier di UMS (Union Makes Strength) sepanjang 1946-1947 dan kemudian VIJ (Voetbalbond Indonesie Jacatra, kini Persija) pada 1948-1954 sembari menyambi bekerja menjadi agen sebuah perusahaan importir. Penampilannya yang cemerlang di Persija membuatnya dipanggil Tony Wen dan Choo Seng Que ke timnas Indonesia yang baru dibentuk pada 1952. “Ia tampil (tur timnas) melawan tim-tim di Manila, Hong Kong, Bangkok, dan Singapura. Di Indonesia, ia juga yang jadi pengawal mistar di laga-laga (persahabatan) internasional melawan India, Hong Kong, GAK Graz dari Austria. Oleh karenanya Nol dikenal media massa negara-negara tetangga Asia Tenggara dianggap sebagai kiper terbaik,” tulis suratkabar De Volksrant , 12 Februari 1955. Baca juga: Paman Choo, Pelatih Asing Pertama Timnas Indonesia Namun sentimen anti-Belanda yang masih kental di masa itu membuatnya harus “cuti” dari persepakbolaan Indonesia setelah mengantarkan Persija menjuarai kompetisi Perserikatan 1953-1954. Ia hijrah ke Belanda dan direkrut sebuah klub di Geleen, Fortuna ’54. Selama di Belanda hingga 1955, ia menjalani latihan dan merasakan atmosfer sepakbola yang berbeda dari atmosfer di Indonesia. “Secara umum, permainan di Belanda lebih keras ketimbang di Indonesia. Oleh karenanya para pemain harus siap secara mental dan fisik,” ujar Nol dikutip suratkabar De Preangerbode , 4 Agustus 1955. Bagi Nol, sepakbola di Belanda lebih keras karena jika terjadi benturan, wasit tidak serta-merta akan langsung meniup peluit. Selain itu, menurutnya kualitas para pemain, utamanya di lini belakang dan tengah, tergolong medioker untuk standar Eropa. Baginya, para mantan rekannya di Indonesia seperti Him Tjiang, Liong Houw, dan Djamiat takkan kalah kualitas dari para pemain Belanda. Arnold Wouter 'Nol' van der Vin ( De Volksrant / Indische Courant ) Pada Juli 1955, Nol balik ke Jakarta setelah beberapa bulan “magang” di Belanda. Ia tiba dengan pesawat di Bandara Kemayoran dan disambut meriah para tokoh sepakbola Jakarta. “Nol kembali dari ibukota Belanda dengan disambut para anggota dewan dan para pemain UMS. Van der Vin menikmati ‘cuti’ beberapa bulan di Belanda dan bermain di beberapa pertandingan di kompetisi divisi pertama KNVB, termasuk saat menggantikan kiper Frans de Munck yang cedera di Fortuna ’54. Di Jakarta Van der Vin akan kembali mengawal mistar UMS,” ungkap suratkabar Indische Courant voor Nederland , 28 Juli 1955. Nol sempat pindah ke Medan untuk memperkuat PSMS untuk musim 1955-1956. Ia kemudian gantung sarung tangan di klub negeri jiran Malaysia, Penang FA, kurun 1956-1961. Baca juga: Lima Kiper dengan Rekor Gol Paling Subur

  • Akhir Kisah Raja Lalim

    TAK hanya Kostrad yang pernah punya band bernama Dharmaputra, Kerajaan Majapahit pun punya sekelompok orang yang dulunya juga disebut Dharmaputra. Seperti anggota Dharmaputra di Kostrad, Darmaputra di zaman Majapahit juga terdiri dari orang-orang yang bisa diandalkan. Dharmaputra di zaman Majapahit dijadikan pejabat kerajaan. Mereka terdiri dari tujuh orang. Kitab Pararaton , seperti dicatat Enung Nurhayati dalam Gajah Mada: Sistem Politik dan Kepemimpinan, menyebutkan Dharmaputra terdiri dari Ra Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca, dan Ra Banyak. Para anggota Dharmaputra itu hidup di zaman Raja Jayanegara alias Raden Kalagemet, yang memerintah sejak 1309. Jayanegara dikenal dengan gelar panjangnya: Sri Sundarapandyadewadhiswaranamarajabhiseka Wikramottunggadewa. Sebelum menjadi raja, dia pada 1296 sudah menjadi kumararaja , semacam raja muda. Jayanegara naik menggantikan ayahnya, Raden Wijaya. “Pada masa pemerintahannya ia dirongrong oleh serentetan pemberontakan yang merupakan kelanjutan dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di masa pemerintahan ayahnya,” tulis Nugroho Notosusanto dkk. dalam Sejarah Nasional Indonesia II . Baca juga:  Pemberontakan Terhadap Majapahit Nugroho dkk. tidak menggambarkan bagaimana tidak disukainya Jayanegara. Jayanegara adalah raja jahat dan mesum. Bahkan, dia hendak mengawini Tribuana Tunggadewi, adik tirinya sendiri. Selain itu, Jayanegara disebut raja lemah. “Jayanegara tidak mengizinkan adanya gagasan nusantara," kata Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit . Maksud dari gagasan nusantara adalah mempersatukan nusantara. Dalam bukunya, Nugroho dkk. hanya menyebut adanya kelicikan daripada seorang pejabat bernama Mahapati di zaman Jayanegara itu. Mahapati dengan “politik kantor” ala dirinya telah berhasil menyingkirkan Ranggalawe dan Lembu Sora. Dia kemudian berusaha menyingkirkan pula Nambi. Di antara para pemberontak di zaman Jayanegara itu, ada pula yang pernah menjadi pejabat kerajaan di era Raden Wijaya. Baca juga:  Fitnah Sebabkan Kematian Patih Pertama Majapahit Korban Mahapati tak hanya Nambi, Sora, dan Ranggalawe saja. Semi dan Kuti juga kemudian menjadi korban fitnah Mahapati. Semi memberontak pada 1318 dan setahun berikutnya juga ikut terlibat dalam pemberontakan. “Setelah terjadi dua peristiwa ini rupa-rupanya raja (Jayanegara) baru sadar akan kekeliruannya untuk mempercayai Mahapati dan insyaflah baginda bahwa Mahapati berhati jahat dan tukang fitnah. Maka ia ditangkap dan dibunuh,” sambung Nugroho dkk.. Namun, pemberontakan Ra Kuti tetap mengganas. Bahkan, ibukota Majapahit sampai diduduki oleh pemberontak yang dipimpin Ra Kuti. Alhasil Raja Jayanegara terpaksa menyingkir ke Badender. Dia dikawal sekelompok Bayangkari yang dipimpin Gajah Mada. Baca juga:  Gajah Mada Memadamkan Pemberontakan Kuti Pemberontakan Ra Kuti akhirnya berhasil diatasi. Ra Kuti dibunuh dan Raja Jayanegara bisa kembali ke ibukota. Setelah hilang masalah dengan Ra Kuti yang telah dibunuh, Jayanegara kemudian punya masalah dengan Ra Tanca. Sehari-harinya Ra Tanca merupakan tabib istana. Ra Tanca dituduh telah membunuh Jayanegara, yang meninggal di tahun 1328. “Ra Tanca mendapat laporan dari istrinya, bahwa Bathara Jayanagara Sri Kertarajasa melakukan perbuatan tidak senonoh,” tulis Otto Sukatno, CR dan Untung Mulyono dalam  Pararaton Kitab Para Raja; Menguak Jejak Genealogi Sejarah Wangsa Jawa dari Tarumanegara Hingga Majapahit . Ra Tanca sempat melaporkan kelakuan Jayanegara itu kepada Gajah Mada. Namun, Gajah Mada tak bisa berbuat apa-apa atas tingkah rajanya itu. Semua berjalan hingga kemudian sang raja meninggal ketika dioperasi bisul di lehernya oleh Ra Tanca.*

  • Ayah Fariz RM

    PADA akhir 1945, seorang pemuda tiba di Yogyakarta. Dia mantan pegawai perkebunan karet. Namanya Rais Abin. Dia pernah sebentar bergabung sebagai anggota laskar Pesindo. Dia menyaksikan beberapa pemuda menyandang pistol di sana. Di Yogyakarta, Rais Abin berkawan dengan Satar, Abubakar, dan Sutopo. Mereka berempat pemuda terpelajar. Di tahun itu, masih banyak pemuda yang buta huruf. Keempat pemuda itu beruntung berada di Yogyakarta pada akhir 1945. Ada dua pemuda lain yang menampung mereka, yakni Yusuf Sofyan dan Roestam Moenaf. Roestam dan Yusuf bahkan menampung keempat pemuda tadi di kamar nomor 16 sebuah hotel yang cukup terkenal di Yogyakarta, Hotel Merdeka. Roestam dan Yusuf adalah penghuni resmi, sedangkan keempat pemuda tadi pengungsi yang mencari jatidiri di Yogyakarta dengan ikut revolusi. Jika Roestam dan Yusuf dapat jatah makan di hotel, keempat pemuda tadi rela keluar hotel untuk mendapatkan makanan murah. Roestam sudah punya pekerjaan ketika keempatnya datang. “Roestam Moenaf sudah aktif di Markas Besar Tentara,” aku Rais Abin dalam biografinya yang disusun Rusman Pandjaitan dan disunting Ed Zoelverdi, Rais Abin: Dari Ngarai Ke Gurun Sinai . Baca juga:  Eks Pesindo Sukses Keempat pemuda tadi lalu mendaftar ke Markas Besar Tentara (MBT) untuk berperan dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Rais Abin diterima di bagian intelijen. Ia ditugasi menangani penyelundupan senjata (untuk perjuangan RI) dari Singapura, di bawah komando Letnan Kolonel Iskandar alias Yakub yang berasal dari Malaya. Setelah perang Indonesia-Belanda selesai pada 1950, Rais Abin meneruskan kariernya di militer. Sementara, Roestam berhenti dari militer. Roestam terjun ke dunia bisnis. Bersama Soedarpo Sastrosatomo, James Panglaykim, Ali Boediardjo dan beberapa tokoh lain, pria asal Sumpur, Sumatra Barat itu pada 1955 terlibat dalam pendirian Bank Niaga dan Asuransi Bintang. Selain itu, seperti dicatat Fuad Nazar dalam Jejak Pengabdian Ulama: Pelopor Penasihatan Perkawinan , Roestam adalah pengusaha perkapalan dalam perusahaan bernama Indonesian Marine alias Indomarine. Perusahaan yang berdiri pada 1954 itu juga melibatkan Daan Yahya, mantan panglima Siliwangi. Baca juga:  Rosihan Anwar Jatuh Bangun Koran Kiblik Keterlibatan dalam perusahaan yang sama itu membuat Daan karib dengan Roestam. Kekariban itu ternyata berguna di kemudian hari. Ketika koran Pedoman yang –dicap koran Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan dianggap berseberangan dengan rezim Sukarno– dieditori Rosihan Anwar dibredel pada 1961, Rosihan Anwar kehilangan pekerjaan. Daan Yahya pun berusaha menolong Rosihan yang menganggur itu. “Kau gabung pada Roestam Moenaf di perusahaan Indomarine agar kau punya income ,” kata Daan Jahja kepada Rosian Anwar, seperti dicatat Rosihan dalam Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi . Rosihan pun menurutinya. Maka sang jurnalis sejak zaman perang itu bekerja di Indomarine dari 1963 hingga 1968. Sementara Roestam menjadi pengusaha terkenal di Indonesia, beberapa kawan yang ditampungnya di Hotel Merdeka dulu berprofesi macam-macam. Ada yang menjadi pegawai tinggi di Kementerian Perdagangan, yakni Satar. Sementara, Rais Abin yang terus menjadi tentara akhirnya mencapai pangkat jenderal. Rais Abin pernah menjadi komandan Pasukan Perdamaian PBB di Gurun Sinai (1976-1979) dan sempat pula menjadi duta besar RI di Singapura dan Malaysia. Baca juga:  Rais Abin, Panglima Perdamaian Dunia Semasa hidupnya, Roestam menikah dengan seorang perempuan Indo Belanda-Betawi bernama Anna Reijnenberg. Perkawinan itu menghasilkan beberapa anak. Yakni Andy Rustam Munaf, yang lama aktif di dunia penyiaran radio dan pernah menjadi direktur administrasi dan support service di Asuransi Bintang. Lalu, Reza Rustam Munaf, yang pernah aktif di Indomarine. Putra Anna dan Roestam yang paling tenar adalah Fariz Rustam Munaf alias Fariz RM. Fariz merupakan musisi serba-bisa namun dikenal sebagai penyanyi pop –selain pionir genre fusion– di Indonesia. Lagu ciptaannya yang paling terkenal yakni “Barcelona” dan “Sakura”. Selain anak-anak, ada pula keponakan Roestam yang juga terkenal sejak muda, yakni Sherina Munaf. Sherina merupakan anak Triawan Munaf, yang –pernah menjadi kepala Badan Ekonomi Kreatif RI– anak kakak Roestam yang bernama Bahar Moenaf. Bahar dan Roestam adalah anak dari Abdoel Moenaf dan Djamaliah. Di masa mudanya, Triawan adalah pemain keyboard band progresif rock The Giant Steps.*

  • Serba-serbi Aturan Offside dalam Sepakbola

    PUBLIK sepakbola tanah air mesti gigit jari setelah timnas Indonesia U-23 keok 0-2 dari Uzbekistan U-23 di semifinal AFC Cup U-23 pada Senin (29/4/2024) malam. Seandainya gol Tim Garuda Muda di menit ke-61 tak dianulir karena offside yang kontroversial, jalannya laga dan hasil akhir sangat mungkin berbeda. Di laga itu sejatinya skuad asuhan Shin Tae-yong (STY) memberi perlawanan sengit sembari menahan gempuran-gempuran Uzbekistan. Pada menit ke-61, umpan lambung dari Pratama Arhan ke kotak penalti menciptakan kemelut di depan gawang Uzbekistan. Bola liar sedikit di- passing Ramadhan Sananta dan kemudian dieksekusi Muhammad Ferrari menjebol gawang Uzbekistan yang dikawal Abduvohid Nematov. Stadion Abdullah bin Khalifa di Doha yang mayoritas disesaki suporter Indonesia pun bergemuruh. Namun, kemudian tetiba wasit Shen Yinhao asal China mengecek VAR atau teknologi video perbantuan wasit. Tak berapa lama kemudian wasit menganulir gol Ferrari dengan alasan ujung kaki Sananta yang menerima umpan Arhan dinyatakan offside. Tak hanya STY di bench , segenap publik sepakbola Indonesia pun terdiam. Warganet gaduh di linimasa sejumlah media sosial karena menganggap keputusan kontroversial itu sangat merugikan kans Indonesia merebut tiket ke Olimpiade Paris 2024. Baca juga: Satu Episode Tim Garuda di Olimpiade Sekira tujuh menit pasca-gol Ferrari dianulir, Uzbekistan memecah kebuntuan laga lewat gol pemain pengganti, Husain Norchaev. Uzbekistan kemudian menyegel kemenangan 2-0 di menit ke-86 via gol bunuh diri Arhan. Kini, kesempatan Indonesia lolos ke Olimpiade Paris 2024 menyisakan dua skenario: pertama , menang di laga perebutan juara ketiga kontra Irak pada Kamis (2/5/2024). Jika di laga ini kalah, skenario berikutnya harus menang di laga playoff antar-konfederasi kontra Guinea di Clairefontaine, Prancis, pada Kamis (9/5/2024). “Uzbekistan bermain baik, mereka tim kuat dan selamat untuk mereka telah memenangkan pertandingan. Kami masih punya laga penting (vs Irak), jadi kami akan mulai konsentrasi untuk laga itu. Saya percaya pada diri sendiri dan para pemain saya. Kami yakin mampu lolos ke olimpiade dan para pemain siap secara mental,” tukas STY, dilansir laman resmi AFC, Selasa (30/4/2024). Laga semifinal AFC Cup U-23 yang dimenangkan Uzbekistan, 2-0 ( the-afc.com ) Mengenal Lebih Dekat Aturan Offside Sepakbola itu sejatinya permainan simpel. Dari sekian aturan baku dalam permainannya, baik di era lawas hingga modern, juga mudah dimengerti, kecuali aturan offside . Harus diakui aturan offside masih sulit dipahami orang awam. Teorinya mengatakan Anda akan offside jika menerima umpan saat posisi kepala, badan, dan kaki Anda melewati “garis” posisi tubuh pemain lawan. Itu secara teori. Lebih sulit lagi intepretasinya. “Interpretasi aturan offside sangat membingungkan dan pastinya sangat sulit bagi ofisial (wasit dan hakim garis, red. ) untuk membuat keputusan,” kata pelatih eksentrik José Mourinho, dikutip Harry Harris dalam Jose: Return of the King. Dari sekian olahraga permainan, hanya sepakbola dan rugbi yang punya aturan offside . Aturan serupa dengan istilah berbeda namun esensinya sama juga terdapat di olahraga hoki es dan hoki lapangan, dengan sebutan “stick and ball”. Baca juga: Mula Komentator Iringi Laga Sepakbola Istilah offside sendiri, diungkapkan Laurent Dubois dalam The Language of the Game: How to Understand Soccer , mulanya berangkat dari istilah militer Inggris di awal abad ke-19, “off the strength of his side”, yang berarti jika seorang prajurit terperangkap di belakang garis musuh, maka dia prajurit offside karena berada di luar kekuatan unitnya. “Sama seperti jika seorang pemain yang offside karena status dia tidak lagi bisa aktif berpartisipasi secara aktif di dalam tim. Ia baru bisa kembali (berstatus) aktif jika segera kembali ke posisinya. Aturan ini memang kadang bikin frustrasi: seorang pemain berada di depan gawang tapi tidak bisa menerima umpan atau melewati pemain lawan. Yang bisa dia lakukan hanya tidak menghalangi permainan,” tulis Dubois. Permainan sepakbola di abad ke-19, sebelum dibakukan oleh induk sepakbola Inggris FA, punya banyak versi aturan. FA kemudian merancang sejumlah aturan baku atau “Laws of the Game” yang diformalisasi pada 1863. Aturan offside baru dimasukkan ke aturan baku itu dua dekade berselang sebagai Law 11 (Aturan 11) dengan maksud agar permainannya lebih fair. “Aturan offside dirancang untuk memastikan permainan yang adil dan seimbang antara tim yang menyerang dan tim yang bertahan. Aturan ini mencegah pemain memanfaatkan keuntungan yang tidak fair dengan memposisikan diri lebih dekat ke gawang lawan daripada posisi bola dan pemain lawan terakhir saat bolanya dimainkan,” ungkap Elias Z. Mercer dalam Soccer: Football History, Skill, Strategies, and Performance. Ilustrasi aturan offside ( fifa.com/olympics.com ) Implementasinya sangat bergantung pada keputusan yang diambil ofisial pertandingan, utamanya dua hakim garis. Menjadi tanggungjawab para hakim garis untuk mengamati permainan, termasuk situasi-situasi offside , sekaligus membantu wasit untuk membuat keputusan-keputusan yang akurat. “Aturan ini acap memicu perdebatan dan kontroversi, khususnya sejak diperkenalkannya teknologi VAR (secara global sejak 2018) yang salah satu kegunaannya untuk memperkuat keakuratan keputusan-keputusan offside. VAR membuat ofisial pertandingan bisa meninjau potensi offside dengan menganalisa rekaman video dari berbagai sudut. Ini pula yang menjadi concern pengamat sepakbola Timo Scheunemann. Via video yang diunggahnya di akun Instagram -nya, @timo_scheunemann , Kamis (30/4/2024), sosok yang akrab disapa Coach Timo itu menyayangkan aturan offside kembali untuk kesekian kali memicu kontroversi. “Jempol kaki membuat kita akhirnya dianulir golnya. Tetapi itulah aturan offside yang membuat sakit hati, kadang-kadang karena (dihitung) betul-betul centimeter. Ini sesuatu yang kontroversial dan tahun depan akan diubah dengan yang disebut dengan Wenger Rule (Wenger Law),” ujar eks-pelatih Persema Malang dan Persiba Balikpapan tersebut. Baca juga: Lima Gebrakan Revolusioner Wenger Aturan offside Wenger Law tengah diuji dan dipertimbangkan banyak pihak, termasuk FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia, untuk kemungkinan diterapkan mulai musim kompetisi 2024-2025. Aturan offside anyar ini merupakan buah pikiran revolusioner tokoh sepakbola eks-pelatih Arsenal (1996-2018), Arsène Wenger. “Jadi kalau tadi malam seperti (Sananta) ini dianggap offside , tahun depan tidak akan offside karena ada satu bagian tubuh yang masih di garis onside. Kalau sekarang sekarang sedikit bagian tubuh (melewati bagian tubuh pemain lawan terakhir) ya offside. Kalau Wenger Law tahun depan, gol (Ferrari) kemarin akan sah, tidak akan dianulir,” tambahnya. Simpelnya, pemain hanya akan dianggap offside jika setiap jengkal tubuhnya melewati posisi tubuh pemain lawan sepenuhnya. Jika masih ada satu persen saja bagian tubuh si pemain yang masih sejajar dengan posisi tubuh lawan, dia tidak akan kena offside. “Jadi yang dilihat bukan depannya tapi yang dilihat belakangnya. Apakah yang dihitung ujung kakinya atau nanti musim depan tumitnya masih ketinggalan atau enggak di garis offside itu. Tapi kalau dilihat sama saja sebenarnya karena tetap (hitungan) centimeter yang menentukan. Ujung-ujungnya the future of offside rule sama aja kontroversial dalam bentuk yang berbeda,” tandasnya. Ilustrasi konsep aturan offside "Wenger Law" ( arsenal.com/X @433)

  • Nafsu Berahi Merongrong Kamerad Stalin (Bagian I)

    IOSEB Besarionis dze ‘Soso’ Dzugashvili alias kamerad Joseph Vissarionovich Stalin tercatat menikah dua kali. Keduanya terjadi sebelum Stalin merangsek ke puncak pimpinan Uni Soviet. Pertama, dengan Ekaterine ‘Kato’ Svanidze yang hanya bertahan dua tahun. Kedua, dengan Nadezhda Sergeyevna Alliluyeva yang bahtera rumah tangganya bertahan lebih dari satu dekade. Dari dua pernikahan itu, ia memiliki masing-masing satu anak sah, baik dari Kato maupun Nadezhda. Namun, dalam soal asmara, sang pemimpin negeri komunis terbesar itu tak hanya jadi pasangan buat kedua istri sahnya. Selain dikenal sebagai tiran saat tiga dekade (1924-1954) memimpin Uni Soviet, ia juga dzalim sepanjang petualangan asmaranya. Beberapa perempuan jadi korbannya. Dua dari total enam keturunannya adalah “anak haram” Stalin dengan lima perempuan lain yang tak ia nikahi. Berikut kisah-kisahnya: Kato Svanidze Stalin muda pada 1902 (kiri) & istri pertamanya, Ekaterine Svenidze (Georgian MIA Academy Archive/nplg.gov.de) Di masa mudanya, Stalin tak lebih dari sekadar troublemaker. Itu hasil dari problem-problem toxic di keluarganya. Akan tetapi watak dan perangainya perlahan berubah saat ia jatuh hati pada Kato, kakak dari Alexander ‘Alyosha’ Svanidze yang merupakan kolega kepercayaan Stalin di RSDLP atau Partai Buruh Sosial Demokratik (Bolshevik). “Kato gadis montok berambut cokelat gelap yang cantik menawan. Bersama tiga saudarinya, Kato mengelola studio busana Hervieu di Tiflis (kini Tbilisi), Georgia. Pada (suatu hari) 1905 Alyosha mengajak sosok pemimpin faksi Bolshevik berpakaian jelek, kurus, dan wajahnya sedikit bopeng: Soso Dzughashvili, menginap di rumahnya,” ungkap Simon Sebag Montefiore dalam Young Stalin. Stalin yang saat itu berusia 27 tahun luluh hatinya pada pandangan pertama. Cinta Stalin tidak bertepuk sebelah tangan karena Kato yang tujuh tahun lebih muda, mengagumi pemikiran-pemikiran politik Stalin muda. Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Setahun berselang pada 16 Juli 1906, kisah asmara mereka naik ke pelaminan. Stalin memenuhi keinginan Kato untuk menikah di gereja meski Stalin muda sudah atheis. Dari pernikahan itu mereka punya seorang putra yang lahir pada 18 Maret 1907, Yakov Iosifovich Dzugashvili. Namun rumah tangga harmonis jauh dari bayangan Kato. Saat masih hamil, ia pernah diciduk dan ditahan Okhrana, polisi rahasia kekaisaran, karena membantu aktivitas politik suaminya. Kato lebih sering hidup mandiri dengan keadaan prihatin karena sulit mendapat pekerjaan lantaran Stalin jadi pelarian. Tidak hanya jadi buronan politik, Stalin juga buron kasus perampokan bank. Kondisi hidup yang sulit akhirnya membuat Kato sering sakit-sakitan dampak dari konsumsi air minum yang terkontaminasi. Kato didera penyakit typhus dan pendarahan organ dalam sampai akhirnya wafat pada 25 November 1907. “Perempuan ini (mendiang Kato) melembutkan hati saya yang seperti batu. Ia tiada dan sering dengan itu mati pula perasaan hangat saya terhadap kemanusiaan,” kenang Stalin yang nyaris bunuh diri saking galaunya, dikutip Montefiore. Maria Kuzakova Stalin di pengasingan pada 1911 (kiri) & putranya dari Maria Kuzakova, Konstantin Stepanovich Kuzakov (Wikipedia) Sepeninggal Kato istri pertamanya, Stalin berkali-kali harus diasingkan Okhrana ke Siberia. Walau begitu, hasratnya terhadap perempuan tidak otomatis hilang. Pada Desember 1910 dalam pengasingannya di Desa Solvychegodsk, Vologda di Siberia, Stalin naksir dengan janda beranak tiga, Maria Kuzakova. Montefiore mengisahkan, Maria adalah induk semang yang salah satu rumahnya disewa Koba, panggilan Stalin. Maria menjadi janda setelah suaminya yang seorang prajurit, tewas dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905). Berahi sang duda dan sang janda yang sudah lama ditinggal pasangan masing-masing membawa sejoli itu sampai ke atas ranjang, bahkan sampai Stalin menghamili sang induk semang. Baca juga: Para Perempuan dalam Buaian Napoleon Stalin mulanya tak mau bertanggungjawab. Namun Maria mengancam sampai akhirnya Okhrana ikut turun tangan. “Maria hamil dan mengancam akan menuduh Koba telah melakukan rudapaksa. Skandal itu sampai menjadi perhatian penduduk setempat dan para tahanan pengasingan lainnya. Okhrana menengahi dan Koba berjanji untuk menikahi Kuzakova. Akan tetapi janji itu tak ditepati karena Koba sudah pergi seiring masa pengasingannya di Solvychegodsk habis pada Juni 1911,” tulis Roman Brackman dalam The Secret File of Joseph Stalin: A Hidden Life. Alhasil, tanpa suami Maria melahirkan seorang putra, Konstantin Stepanovich Kuzakov, pada 4 September 1911. Kelak saat Stalin sudah berkuasa pada 1920-an, Maria sempat melabraknya ke Moskow. Stalin setidaknya berkenan membantu perekonomian Maria dan putra tidak sahnya secara rahasia. Stalin tetap menjaga jarak dari mereka dan Konstantin dilarang menceritakan hubungan silsilahnya dengan Stalin. Lidia Pereprygina Lidia Pereprygina saat sudah dewasa (kiri) & putranya, Alexander Yakovlevich Davydov (The Siberian Times/pamyat-naroda.ru) Masalah dari menghamili Maria Kuzakova di Solvychegodsk tak membuat Stalin kapok. Bahkan, kali ini Stalin bikin masalah dengan kembang desa yang masih di bawah umur, Lidia Platonovna Pereprygina. Kala itu, medio 1914, Stalin kembali menjalani masa pengasingan di Siberia, tepatnya di pedalaman Ostyak. Meski dalam pengasingan, dengan rayuan mautnya Stalin bisa “membungkus” Lidia, gadis yatim piatu berusia 13 tahun. Keduanya kumpul kebo sepanjang 1914-1916 sampai Lidia dua kali hamil. Penduduk dan aparat setempat baru memergoki keduanya tinggal satu atap saat Lidia hamil anak pertama pada 1916. “Koba pucat saat dilabrak penduduk dan aparat. (Perwira polisi) Ivan Laletin sampai berkelahi dan hampir mencabut pedangnya. Stalin berjanji akan menikahi Lidia jika ia sudah cukup umur,” ungkap Donald Rayfield dalam Stalin and His Hangmen: The Tyrant and Those Who Killed for Him. Baca juga: Ragam Kuliner Favorit Stalin Anak pertama Stalin-Lidia meninggal tak lama setelah lahir. Namun Lidia kembali mengandung anak Stalin masih di tahun yang sama. Akan tetapi janji Stalin untuk bertanggungjawab juga tak ditepatinya lantaran dia ditarik dari pengasingannya untuk masuk wajib militer. Sementara, Lidia akhirnya melahirkan putranya, Alexander, pada 6 November 1917. “Lidia di kemudian hari dinikahi nelayan setempat, Yakov Davydov dan ikut mencari nafkah sebagai penata rambut di Igarka. Stalin tak pernah membantunya secara ekonomi. Alexander sendiri merahasiakannya seiring ia dewasa dan menjadi tukang pos dan kemudian instruktur Komsomol (Liga Pemuda Komunis) sampai pada 1935 ia dipanggil (polisi rahasia) NKVD untuk menandatangani surat perjanjian untuk tidak menceritakan asal-usulnya,” tandas Montefiore. (Bersambung)

  • Kisah Bupati Sepuh

    Rerumputan memenuhi salah satu sisinya. Ia tumbuh di sela-sela sambungan keramik lusuh yang sebagian sudah pecah dan retak. Lusuhnya tak kalah dari bundelan kain yang menutupi nisannya. Begitulah kondisi makam Raden Karta Nata Negara, bupati Lebak periode 1837-1865, saat disambangi Historia.id pada 25 April 2024 lalu. Letaknya di TPU Kaum Pasir, belakang Masjid Agung Al-Araaaf yang terletak di sisi barat alun-alun. Nama Karta Nata Negara mulai populer setelah diangkat menjadi bupati oleh pemerintah Hindia Belanda. Jabatan itu merupakan hadiah atas jasanya dalam memadamkan sebuah pemberontakan.   Sebuah pemberontakan terjadi di Sentul, Balaraja, Tangerang. Pemberontakan itu meletus sekitar 7 Maret 1830. Majalah Dharmasena nomor 19 tahun 1989 memberitakan, tokoh penting dalam pemberontakan itu adalah Dukun Karia, Ki Bagus Sandong, dan Nyai Gamparan. Dari Sentul, kerusuhan menjalar ke daerah lain di bagian utara Banten. Seorang perwira tentara Belanda bahkan sampai terbunuh dalam kerusuhan itu. Nyai Gamparan, disebut Nina Lubis dalam Banten dalam Pergumulan Sejarah Sultan, Ulama, Jawara , merupakan orang berpengaruh di Balaraja sebab dia “Kepala Keraman” di sana. Setelah didesak militer Belanda, Nyai Gamparan terpaksa meninggalkan Balaraja dan mengamankan diri ke Banten selatan. Sebuah unit militer Belanda bernama Jayengsekar lalu mengejar Gamparan dan pengikutnya. Mereka bergerak hingga ke sekitar Bogor. Nyai Gamparan sempat berada di sebuah desa bernama Ciawi namun kemudian pindah lagi. Koran Java-bode tanggal 31 Oktober 1888 menyebut dari Ciawi, Nyai Gamparan dan pengikutnya berpindah ke Jasinga. Belakangan, kepala desa Ciawi ditahan pemerintah kolonial karena ketahuan menyembunyikan Nyai Gamparan dan pengikutnya. Ketika berada di Jasinga, Nyai Gamparan tertangkap meski sebagian pengikutnya berhasil meloloskan diri dalam kejaran Jayengsekar. Adalah Demang Jasinga, Raden Karta Nata Negara (1790-1879), yang memimpin penangkapan Nyai Gamparan itu. Karier Karta Nata Negara pun bersinar. Dia diangkat menjadi bupati. Namun bukan di Bogor, melainkan di Lebak. Karta Nata Negara menggantikan Pangeran Senjaya. Karena jabatannya dia dikenal sebagai Raden Adipati Karta Nata Negara. Dia memerintah hingga berusia cukup sepuh, sekitar 75 tahun. Oleh karenanya dia dijuluki Regen Sepoeh alias Dalem Sepuh alias Bupati Sepuh. Ketika berkuasa, Raden Adipati Karta Nata Negara memindahkan pusat Lebak yang semula di Warunggunung, ke Rangkasbitung. Dalam memerintah, Adipati Karta Nata Negara didampingi seorang asisten residen. Di antaranya Charles Eduard Pierre Carolus (1817-1855), yang menurut studbook atas nama dirinya menjadi Asisten Residen Lebak sejak 1854. Sebelum di Lebak, Carolus pernah bertugas di Cirebon dan Bagelen. Dia tidak lama mengisi jabatan itu karena pada 1 November 1855 meninggal dunia. Istrinya curiga bahwa Carolus diracun Demang Parangkujang, Raden Wira Kusuma. Pengganti Carolus adalah Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang sebelumnya bertugas di Manado. Douwes Dekker membuat kejutan di masa jabatannya. Dia “menelanjangi” apa yang dilakukan sang bupati yang menurutnya lalim itu. Sebab, Adipati Karta Nata Negara mewajibkan pundutan (pungutan) dan kerja wajib untuk dirinya dari rakyat Lebak. Mulai dari beras, kerbau, dan lain-lain. Perseteruan Dekker dengan Karta Nata Negara itu pun sampai telinga pemerintah pusat. Dekker lalu dicopot dari jabatannnya. Dekker hanya menjabat  sampai April 1856. Setelah berhenti dari karier pegawai negeri kolonialnya, Dekker menulis sebuah novel yang berisikan kisah masa dinasnya di Lebak. Ceritanya dia bumbui dengan roman Saidjah Adinda yang teraniaya oleh feodalisme sekaligus kolonialisme. Novel itu dijudulinya Max Havelaar , nama karakter utama yang adalah dirinya sendiri. Dekker memakai nama pena Multatuli, yang artinya aku yang banyak menderita. Apapun mitos yang diperdebatkan soal Multatuli dan Max Havelaar, novel karya Dekker itu sudah memperlihatkan penderitaan rakyat Lebak oleh feodalisme elite lokal, yang diayomi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang juga ikut menyengsarakan rakyat Lebak. “Saya menuduh Bupati Lebak, Radèn Adipati Nata Karta Nagara, melakukan penyalahgunaan wewenang <…>  dengan meminta imbalan dalam bentuk natura, tanpa, atau melawan hukum yang ditentukan secara sewenang-wenang, tidak mencukupi, pembayaran; bahwa saya selanjutnya mencurigai Demang Parang Kujang—menantunya—terlibat…,” tulis Multatuli dalam novelnya MaxHavelaar . Koran De locomotief tanggal 7 Juni 1904 dan De Preanger-bode edisi 8 Juni 1904 memberitakan bahwa pernah muncul keputusan nomor 34 tanggal 23 Maret 1856 yang pada pokoknya menyatakan: Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Nata Negara, menurut keterangannya sendiri, telah bersalah atas berbagai pungutan tidak sah, pengerahan tenaga kerja yang tidak wajar di mata hukum kolonial, serta setoran uang yang tidak sesuai. Adipati Karta Nata Negara sendiri mengalami kesulitan keuangan karena banyaknya sanak saudara, pengikut, dan pembantu yang harus dihidupinya dengan penghasilannya yang hanya 700 gulden sebulan. Sang bupati dipersalahkan namun tak kehilangan jabatan yang telah diembannya hampir 20 tahun. Ia baru digantikan Tumenggung Prawirakoesoemah pada 1865. Lima tahun sebelum Raden Adipati Karta Nata Negara berhenti menjabat, novel Max Havelaar terbit di Belanda. Novel itu menjadi faktor penting penghapusan sistem Tanam Paksa ( cultuur stelsel ), yang ikut menyengserakan rakyat Lebak, pada 1870. Sementara, Adipati Karta Nata Negara menikmati masa tuanya hingga 1879, tahun dia meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di TPU Kaum Pasir di belakang Masjid Masjid Agung Al A'raaf yang tidak jauh dari rumah dinasnya waktu menjadi adipati Lebak.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page