Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Manunggaling Kawula ABRI
MENJELANG Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1978, Menteri Perindustrian Jenderal TNI Mohammad Jusuf mendapat telepon dari ajudan presiden untuk menghadap Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Ketika bertemu, Soeharto meminta Jusuf menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), menggantikan Jenderal TNI M. Panggabean. Soeharto memberi satu pesan khusus: “Perkuat dan bangkitkan kemanunggalan ABRI dengan Rakyat.” ABRI adalah singkatan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
- Perang Negeri Ginseng
BADANNYA gemuk. Tubuhnya agak pendek. Rambutnya hitam dan disisir ke belakang. Kelopak matanya tebal. Dia tampak kurang tidur, tapi selalu melemparkan senyum. Setelah lama berjuang sebagai gerilyawan Korea menentang Jepang di Manchuria, Kim Il-sung hadir di hadapan sekumpulan orang di Pyongyang pada 3 Oktober 1945.
- R. Soehadi Komandan Marinir Terlama
KOMANDO Pendidikan Marinir (Kodikmar) meluluskan 216 prajurit muda korps berbaret ungu itu dalam Pendidikan Dasar Golongan Lanjutan (Diksargolan), 15 April 2023. Pendidikan tersebut merupakan pendidikan lanjutan bagi para prajurit marinir yang masih “hijau”. Selain memperkaya skill , mengikuti pendidikan itu menambah jam terbang yang jelas berguna bagi –kelanjutan karier masing-masing prajurit maupun– kemampuan kolektif kesatuan. Maklum, Marinir merupakan “tukang pukul”-nya Angkatan Laut. “Pembela tanah air yang berkorban dan pantang menyerah demi terwujudnya visi TNI AL yang profesional, modern, dan tangguh untuk mempertahankan NKRI,” ujar Dan Komando Pendidikan Marinir Brigjen TNI (Mar.) Nadir sebagaimana diberitakan indonesiadefense . com , 15 Apr 2023. Di masa lalu, Angkatan Laut memiliki puluhan ribu tentara laut yang bertempur di daratan. Setelah reorganisasi dalam Angkatan Laut, Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) dibubarkan dan para personilnya masuk ke Angkatan Darat. Namun, Angkatan Laut masih punya bekas Corps Armada IV (CA-IV) yang dulunya bagian dari Pangkalan ALRI IV Tegal. Pasukan itu berdiri pada 15 November 1945 dan hingga kini dianggap sebagai cikal-bakal dari Korps Marinir TNI AL. Baca juga: KKo Terjebak di Gunung Wian Mulanya, komandan CA-IV adalah Agoes Soebekti (1945-1948). Setelah 1948, komandannya adalah Raden Soehadi, pria kelahiran Ponorogo, 15 Maret 1920. Ketika Soehadi menjadi komandan Sub-Wehrkreise V, satuan ini menjadi bagian dari Resimen Samudra di masa gerilya melawan tentara Belanda. Di bawah Soehadi, pasukan tempur dari CA-IV itu dibagi menjadi empat kelompok. Sudono Jusuf dalam Sedjarah perkembangan Angkatan Laut menyebut, Group A, yang dipimpin Kapten M. Joenoes, ditugasi menjaga daerah Pemalang. Lalu, Group B bertugas di daerah Pekalongan dengan pemimpin Kapten Moekijat dan kemudian digantikan Kapten Hartono. Group C yang dipimpin Kapten Soewadji menjadi Pasukan Mobil, tugasnya di sekitar lereng Gunung Slamet sebelah utara antara Pemalang, Pekalongan, dan Batang. Sedangkan Group D, dipimpin Kapten Wiranto Soewono dan bertugas di daerah Batang. Pasukan bekas CA-IV dan Sub-Wehrkreise V ini kemudian dianggap sebagai inti dari Korps Komando (KKO). Baca juga: Mengapa Baret Marinir Berwarna Ungu? Setelah perang melawan tentara Belanda, pasukan KKO terlibat dalam banyak operasi militer mengatasi banyak pemberontakan di era 1950-an. Masih tetap dipimpin Soehadi, KKO ikut menghadapi PRRI-Permesta, DI/TII, dan pergolakan daerah lainnya. KKO menjadi pasukan pendarat yang membuka jalan bagi pasukan dari Angkatan Darat. Ketika Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) membesar setelah 1960, KKO ikut membesar. Banyak perwira penting yang di tahun 1959 masih berpangkat kapten atau mayor setelah tahun 1960 berpangkat kolonel atau bahkan komodor di korps pelaut. Tidak ada pangkat Laksamana di KKO. Perwira tinggi di KKO menggunakan sistem kepangkatan mirip Angkatan Darat. Pada 1961, Soehadi sudah menjadi Brigadir Jenderal sebagai komandan KKO. Sebelum di KKO, Soehadi, menurut catatan Majalah Armada 9 tahun 1961, adalah guru sekolah pelayaran tinggi Semarang di zaman pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka dia segera masuk ALRI di Tegal. Sekitar 1946, dia pernah menjadi ajudan dari Kepala Staf Umum Angkatan Laut Laksamana M Nazir. Baca juga: KSAL Pertama yang Berasal dari Angkatan Laut Tanggal 5 November 1961 menjadi hari terakhir Soehadi di KKO. Setelah 11 tahun memimpin KKO, sedari zaman bernama CA-IV Tegal, dia digantikan oleh Kolonel Hartono yang baru berusia 34 tahun. Upacara serah terima diadakan di dermaga Madura, tidak jauh dari Surabaya, dan di hadapan eskader kapal perang dan tentu pasukan KKO sendiri. Surabaya sendiri sejak dulu menjadi kota angkatan laut. Setelah 1950, KKO dibesarkan juga di kota ini. Ketika pergantian itu terjadi, KKO sedang membesar. Korps pelaut ALRI bahkan menjalankan armada yang cukup disegani di kawasan Asia Pasifik. Setelah tak menjadi komandan KKO, Soehadi menjadi Inspetur Jenderal Angkatan Laut. Selain itu dia juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Soehadi tutup usia pada 4 Desember 1986. Dia mengalami KKO dikebiri oleh Operasi Ikan Paus dengan dalih G30S. Pada pertengahan 1970-an, KKO berganti nama menjadi Korps Marinir.*
- Indonesia and Japan in War: Same Bed, Different Dreams
SEVERAL Sumatran youths expressed their wish to study in Japan to Naito Keizo, a Japanese consul based in Medan. Naito was unsure at first because of the youths’ limited knowledge of the Land of the Rising Sun. However, considering that there were also other young Javanese who were interested in studying in Japan, Naito went on to persuade Uchida Koya, the Foreign Minister in Tokyo, through a letter sent in November 1932.
- Candradimuka Sepakbola Remaja
RUANG di lantai dasar stadion Gelora Bung Karno itu tak terlalu besar namun rapi dan bersih. Deretan buku di rak menjadi “suguhan” bagi para tamu yang datang. Beberapa poster menempel di tembok. Di ruang kerjanya, Eddi Elison, juru bicara PSSI, cerita panjang lebar tentang program PSSI sekarang: membina pemain junior berdasarkan jenjang usia.
- Pemakaman yang Klasik nan Unik
SELAIN ikon wisata seperti Big Ben dan Istana Buckingham, London masih menyimpan beberapa daya tarik yang tak biasa. Salah satunya terletak di London Utara: Highgate Cemetery, sebuah kompleks pemakaman di puncak bukit Highgate dengan makam Karl Marx sebagai primadonanya.
- Jatuh Bangun Teuku Markam
Nama Teuku Markam disebut-sebut dalam persidangan eks Menteri Urusan Bank Sentral merangkap Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam. Ketika dihadirkan sebagai saksi, Markam mengakui, dirinya menerima izin kredit khusus (DPC) sejumlah US$ 15 juta dari Jusuf Muda Dalam. Lantaran keburu ditangkap, belum semua dari dana itu diterima Markam. “Belum semua direalisir, Pak,” kata Markam kepada hakim dikutip harian Berita Yudha , 5 September 1966. “Yang pertama 5 juta dollar, sudah selesai. Yang kedua 10 juta, sedang kami laksanakan. Baru masuk 2 juta, saya sudah ditahan, Pak,” terang Markam. DPC yang dicairkan atas otoritas Jusuf Muda Dalam selaku menteri telah menyebabkan kerugian negara sekira ratusan juta dolar. Dalam putusan pengadilannya, Jusuf Muda Dalam dinyatakan bersalah. Hakim kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada Jusuf Muda Dalam. Sementara itu, Teuku Markam ikut jadi pesakitan kendati perkaranya tak pernah disidangkan, sebagaimana Jusuf Muda Dalam. Baca juga: Sidang Terbuka Jusuf Muda Dalam Teuku Markam merupakan saudagar terpandang asal Aceh berjuluk “Si Raja Karet”. Bisnisnya yang bergerak di bidang perkebunan karet bernaung di bawah bendera perusahaan PT Karkam, singkatan dari “Kulit Aceh Raya Kapten Markam”. Markam dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan Presiden Sukarno. Betapa rapatnya sehingga Markam acap disebut-sebut sebagai “Pengusaha Istana”. Namun, semenjak ditahan, reputasinya hancur seketika. Markam harus menjalani masa nelangsa sebagai orang terhukum tanpa proses pengadilan. Selama 8 tahun 7 bulan, Markam meringkuk dalam penjara rezim yang saat itu sudah beralih kuasa ke Presiden Soeharto. Pada kurun waktu tersebut, Markam berpindah-pindah tempat penjara. Sebermula ditahan di RTM Budi Utomo, Markam kemudian berturut-turut mendekam di Rutan Guntur, Jakarta Selatan; Penjara Salemba, Jakarta Pusat; Lapas Cipinang, Jakarta Timur; dan Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Nirbaya di Pondok Gede, Jakarta Timur. Tidak cukup dengan memenjarakan Markam, hartanya juga disikat oleh negara. Pihak militerlah yang mula-mula mulai mempreteli aset-aset Markam. Antara, 14 April 1966 mewartakan, Penguasa Perang Daerah Riau menguasai seluruh harta kekayaan PT Karkam yang berada di Riau. Sementara itu, di Tanjung Priok, sembilan kapal kepunyaan Markam disita oleh Pepelrada Maritim III. Baca juga: Tajir Melintir Teuku Markam Seluruh harta-kekayaan Markam akhirnya dibekukan pemerintah. Dana dari aset perusahaan PT Karkam kemudian digunakan untuk memodali perusahaan negara PT Pilot Proyek Berdikari atau disingkat PT PP Berdikari. Ketika diambil alih, menurut George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan , nilai aset PT Karkam berjumlah 460 juta dolar AS. “Pelan namun pasti, dengan bantuan para koleganya, Jenderal purnawirawan Bustanil Arifin dan Suhardiman, status hukum PT Berdikari dipindahtangankan menjadi perusahaan swasta yang sepenuhnya dimiliki oleh ketiga yayasan Soeharto: Dakab, Dharmais, dan Supersemar,” catat Aditjondro. Pada 1972, Markam jatuh sakit dalam tahanan. Dua tahun Markam dirawat di RSPAD Gatot Subroto. Mochtar Lubis, pemimpin redaksi harian Indonesia Raya , termasuk tokoh yang getol menyuarakan kasus Markam. Menurutnya penahanan Markam mengabaikan prinsip keadilan dalam penegakan hukum. Seandainya Markam tidak terlibat G30S dan penahanannya lebih karena pelanggaran ekonomi, Mochtar Lubis menyerukan agar kiranya Markam dihadapkan ke pengadilan. “Harta bendanya telah porak-poranda tak karuan dan kehidupan keluarganya juga telah menderita amat sangat selama masa kehidupan yang demikian lama,” kata Mochtar Lubis dalam tajuk rencana Indonesia Raya , 26 Februari 1973. Baca juga selengkapnya tentang Teuku Markam dalam konten premium: Runtuhnya Kerajaan Bisnis Markam, Sang Taipan Istana Setelah bebas pada akhir 1974, Markam segera menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Ratna Kartika. Pulang dari naik haji, Markam mendirikan perusahaan PT Marjaya (Markam Jaya) yang bergerak di bidang kontraktor dan infrastruktur. Dalam Sinar Harapan , 13 April 1977, Markam menyebut kembalinya dirinya menggeluti dunia bisnis berkat peran Adam Malik yang saat itu menjabat menteri luar negeri. “Adam Malik sangat banyak menolong saya, beliaulah yang memberikan dorongan supaya saya bangkit kembali,” terang Markam. Selama “disekolahkan” di penjara, Markam mengakui mendapat perlakuan istimewa karena campur tangan Adam Malik. Itulah sebabnya Markam sesekali dibolehkan keluar-masuk penjara sekadar untuk nonton film atau main golf. “Pagi-pagi saya kadang-kadang sudah di rumah Pak Adam Malik minta uang,” katanya diiringi tawa. Atas kebaikan Adam Malik itu, Markam terkenang di masa jayanya dulu pernah berjasa bagi Adam Malik. Markam mengklaim dirinyalah yang membisiki Bung Karno untuk mendapuk Adam Malik sebagai menteri koordinator bidang ekonomi terpimpin. “Soalnya Pak Adam waktu jadi menteri perdagangan sudah pusing saja, karena ribut dengan Jusuf Muda Dalam,” kenang Markam. Baca juga: Adam Malik Sohibnya Bram Tambunan PT Marjaya terlibat dalam sejumlah tender pembangunan jalan skala besar di Aceh. Salah satunya jalan Tapaktuan-Krueng Luas di Aceh Selatan sepanjang 96 km yang dibiayai Bank Dunia. Dasar pebisnis tulen, Markam tetaplah saudagar kaya walaupun kerajaan bisnisnya yang pertama sudah digulung habis pemerintah. Kendati demikian, kesuksesan PT Marjaya tidak segemilang PT Karkam di masa silam. Markam kalah saing dengan para pengusaha Tionghoa yang banyak bermunculan pada masa puncak Orde Baru. Setidaknya selama satu dekade Markam dapat menikmati sisa hidupnya sebagai orang bebas merangkap juragan PT Marjaya hingga wafatnya pada Desember 1985. Sebagai penyandang pangkat kapten purnawirawan, Markam dimakamkan secara militer. Perusahaan peninggalan Markam, PT Marjaya, kemudian diteruskan oleh salah satu anaknya, Teuku Syauki Markam.
- R.A. Kartini
Kartini memang rajin menulis, baik dalam bentuk surat pribadi maupun artikel. Surat-surat Kartini yang ditulisnya untuk teman-temannya di Negeri Belanda, berisi pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan wanita.
- Lebaran
MAAF adalah kata kunci yang paling sering diucapkan dalam perayaan lebaran. Dengan kata itu, orang-orang yang terpisahkan jarak berjumpa satu sama lain. Mereka yang merayakannya tergerak untuk berduyun-duyun pulang ke kampung halaman, menggenapi diri menjadi yang fitrah. Bagi umat muslim di Indonesia, lebaran adalah festival kultural tahunan yang paling meriah yang menyatukan segala perbedaan: golongan, bahasa, etnis, ras, dan bahkan perbedaan agama. Saat lebaran mereka yang abangan, santri maupun priayi –meminjam tipologi antropolog Clifford Geertz– tanpa berat hati mengucapkan maaf, baik untuk segala kesalahan yang diperbuat antarmanusia maupun sekadar terucap sebagai bagian dari ritual merayakan lebaran. Semua terlihat seperti setara, tanpa sekat dan membaur tak berbatas. Konsep maaf yang terdengar teoretis seperti forgive but not forget atau forget but not forgive tak lagi dihiraukan. Pokoknya maaf deh.
- Oktober Merah
SETELAH dipenjara dan dibuang ke Siberia pada 1897 hingga 1900, Vladimir Ilych Lenin jadi pelarian politik dan mengelola surat kabar bawah tanah Iskra (Pijar), organ Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (RSDLP). Dia berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Terakhir, dia tinggal di Jerman dan memperdalam marxisme. Selama masa ini, dia menjadi pemimpin faksi Bolshevik dari RSDLP. Sekembalinya ke Rusia pada 16 April 1917, Lenin disambut hangat para pendukungnya.
- Berseluncur Sambil Ajojing
PAGI buta, di sebuah jalan aspal yang melandai, beberapa muda mudi memacu laju sepatu roda. Ketika tong-tong penuh warna mengadang, mereka bermanuver untuk melewatinya. Setelah itu, mereka memacu sepatu roda ke jalanan ibu kota. Mereka meluncur penuh gaya di antara mobil-mobil yang memadati jalan.





















