top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Melacak (Fiksi) Detektif Indonesia

    INGGRIS punya Agatha Christie, Indonesia punya S. Mara Gd. Sama-sama perempuan. Sama-sama penulis roman detektif yang produktif. Karier kepenulisan S. Mara Gd, nama pena Joyce Isa, tak bisa dilepaskan dari Agatha Christie yang punya julukan The Queen of Crimes. Dialah orang yang menerjemahkan novel-novel detektif Agatha Christie. Ketika tak ada lagi persediaan buku yang diterjemahkan, S. Mara Gd diminta penerbitnya menulis novel. Dia menyanggupi. Pilihannya tak jauh-jauh dari cerita detektif.

  • Melacak Akar Bipolar

    SEPANJANG kariernya, gejolak emosi aktris Vivien Leigh, pemeran Scarlett O’Hara dalam Gone With The Wind (1939), menjadi rahasia umum Hollywood. Pendulum suasana hatinya bergerak cepat, dari depresi berat menjadi letupan emosi agresif. Suatu kali, dia pernah berujar: “Aku seorang Scorpio; Scorpio memangsa dan menghancurkan diri mereka sendiri seperti yang kulakukan,” ujarnya dalam Vivien Leigh: A Biography (1977) oleh Anne Edwards.

  • Akar Keluarga Yasin Limpo

    Belum lama ini, Haris Yasin Limpo jadi tersangka kasus korupsi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar.  “ Tim penyidik menemukan bukti-bukti sah bahwa Haris Yasin Limpo dan bersama mantan Direktur Keuangan PDAM Makassar, Irawan Abadi, terlibat kasus dugaan korupsi PDAM Makassar. Atas perbuatan keduanya, negara harus mengalami kerugian hingga Rp20 miliar, ” demikian diberitakan suara.com. , 12 April 2023. Haris merupakan direktur PDAM Makassar periode 2015-2019. Ia bagian dari keluarga Yasin Limpo, yang terkenal melahirkan banyak politisi di Sulawesi Selatan. Saudara-saudari Haris ada yang pernah jadi anggota DPR dan kepala daerah. Yang paling moncer dari keluarga ini adalah Syahrul Yasin Limpo yang kini jadi menteri pertanian. Haris dan Syahrul adalah putra pasangan Muhammad Yasin Limpo dan Nurhayati. Keduanya juga politisi. Muhammad Yasin Limpo adalah laki-laki kelahiran Bontonompo, Gowa, 17 Juni 1924. Sebelum revolusi 1945, Muhammad Yasin Limpo berprofesi sebagai guru. Dia kemudian melibatkan diri dalam kancah revolusi di Sulawesi Selatan. “Sejak masa revolusi kemerdekaan, (ia, red .) aktif berjuang membela bangsa dan tanah air ini dari penjajahan,” catat Syarifuddin Daeng Kulle dan kawan-kawan dalam Rakyat Gowa Menentang Penjajah . Muhammad Yasin Limpo bergabung dengan Pejuang Rahasia Rakyat Indonesia Sulawesi (PARRIS) dan kemudian juga Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) di Polongbangkeng, Takalar. Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, Muhammad Yasin Limpo bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun ia kemudian merangkap sebagai pejabat sipil daerah. “Tanggal 5 Mei 1950 dengan melalui rapat PPKRI (Persatuan Perintis Kemedekaan Republik Indonesia (PPKRI) di Palteko, M. Yasin Limpo diangkat K.P.N. (Kepala Pemerintahan Negeri) Takalar,” tulis Muhammad Arfah dalam Pajonga Daeng Ngalle: Karaeng Polombangkeng: Biografi Pahlawan. Muhammad Yasin Limpo memilih menghabiskan waktu lebih banyak di militer ketimbang di pemeritahan sipil. Pada pertengahan 1950-an, pangkatnya sudah kapten. Menurut Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/ TII , selama Juni 1957 hingga Januari 1958, Kapten Muhammad Yasin Limpo adalah komandan Batalyon L (Batalyon 008/Lapris). Batalyon ini bagian dari Resimen Infanteri 23 pimpinan Mayor Andi Rivai. Semasa menjadi perwira itulah Muhammad Yasin Limpo menikahi Nurhayati yang kelahiran Pare-pare. Untuk ukuran perempuan di zamannya, Nurhayati yang cukup terpelajar. Pernikahan itu melahirkan Tenri Olle Yasin Limpo, Syahrul Yasin Limpo, Tenri Angka Yasin Limpo, Dewi Yasin Limpo, Ichsan Yasin Limpo, Haris Yasin Limpo, dan Irman Yasin Limpo. Meski hanya mencapai pangkat kolonel, Muhammad Yasin Limpo cukup terpandang di sekitar Makassar. Buku Almanak Lembaga-Lembaga Negara Dan Kepartaian mencatat, pada awal 1960-an Muhammad Yasin Limpo mewakili ABRI dalam Front Nasional Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Dirinya juga memangku beberapa jabatan sipil di daerah Maros, Gowa, dan Majene. Posisi-posisinya di masa aktif sebagai tentara itu membuat Yasin Limpo dikenal. “YL (Yasin Limpo) yang berlatar tentara dan birokrat merupakan salah satu pendiri Sekretariat Bersama (Sekber). Karena YL yang mendirikan Sekber Golkar secara otomatis berkontribusi baik pemikiran, tenaga dan material dalam rangka membangun dan membesarkan Golkar,” tulis Muhtar Haboddin dalam Politik Primordialisme dalam Pemilu di Indonesia . Posisi Muhammad Yasin Limpo di Golkar Sulawesi Selatan yang sejak awal terpandang itu akhirnya “bermanfaat bagi anak-anaknya." Setelah Muhammad Yasin Limpo pensiun dari kemiliteran, keluarga Yasin Limpo makin terpandang. Nurhayati Yasin Limpo, istrinya yang ikut organisasi Aisyiyah Muhammadiyah, akhirnya jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Nurhayati mewakili Golkar di parlemen. Nurhayati menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan untuk periode 1987-1992, 1992-1997, dan 1997-1999. “Dari 24 jumlah perempuan yang duduk dalam DPRD Tk. I Sulsel pada masa pemerintahan Orde Baru, hanya terdiri dari 2 orang atau 8 persen yang melakukan mobilisasi; yaitu Aisyah Radjeng Pananrang dan Nurhayati Yasin Limpo,” tulis Siti Maryam dalam "Perempuan Dalam Politik di Sulawesi Selatan" yang termuat di buku Politik & Postkolonialitas di Indonesia . Setelah Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, keluarga Yasin Limpo tetap berjaya di politik. Syahrul Yasin Limpo, anak laki-laki Yasin Limpo-Nurhayati, menjabat bupati Gowa sejak 1994 hingga 2002. Adiknya, Ichsan Yasin Limpo, juga masuk parlemen sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan sejak 1999. Sementara Nurhayati terus menjadi anggota dewan di pusat. Dalam periode 1999-2004, Nurhayati menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), juga mewakili Partai Golkar. Di era kepala daerah dipilih langsung, keluarga Yasin Limpo tetap berjaya. Tiga tahun setelah Ichsan terpilih menjadi bupati Gowa pada 2005, Syahrul terpilih menjadi gubernur Sulawesi Selatan. Itu terjadi sebelum Muhammad Yasin Limpo “mangkat” pada 4 Agustus 2009. Pada 2016, anak Ichsan, Adnan Purichta Ichsan, juga terpilih menjadi bupati Gowa.

  • Horor dari Gunung Sahari

    SEBUAH rumah di Jalan Gunung Sahari III No. 2C, Jakarta, menyimpan kisah kekejaman yang tak terperikan. Efendi Saleh, pria berusia 74 tahun, menyambanginya suatu siang. Rumah itu sudah berubah. Dulu ia rumah berukuran besar namun kini sudah terbagi tiga dengan masing-masing dibatasi pagar. Arsitekturnya juga setali tiga uang. Hanya rumah yang berada di pojok di dekat jalan keluar Jalan Gunung Sahari III yang masih menampilkan kesan masa lalu. Sebuah pagar jeruji berkawat menjadi penandanya. “Iya, bener ini,” ujar Efendi Saleh.

  • Japanese in Indonesia: The Invasion Before the Occupation

    TSUTSUMIBAYASHI Kazue had been trying various jobs from a temporary teacher to a prison warden. Later on, his acquaintance with Kakushun, a Taiwanese merchant who owned several overseas branches, inspired him to become a trader and open his own grocery store in Taipei in 1902.

  • Bukan Sekadar Pasar Malam

    HARI yang sangat dingin dan berangin melanda Negeri Belanda. Tapi orang-orang tetap bersemangat keluar rumah. Berbalut mantel tebal, mereka bersiap menyambut hari Penobatan Ratu Wilhelmina. Mereka membeli lampu-lampu dan hiasan rumah. Pemilik toko tak mau kalah, sibuk mempercantik toko.

  • Tempat Profesional Berlaga

    SEMBARI mondar-mandir di sisi lapangan, dia terus mengawasi anak-anak berusia 8–12 tahun bermain sepakbola. Sorot matanya tajam. Sebentar-sebentar dia berteriak memberi pengarahan. Meski sudah rada gemuk, dia tak lelah mendampingi murid-muridnya mengolah si kulit bundar.

  • Dakwah Walisongo

    Sejak abad ke-15, Walisongo memulai tonggak baru dakwah Islam yang membawa era keemasan Islam di Nusantara. Berikut para wali yang memakai pendekatan kebudayaan untuk berdakwah.

  • Adu Mahir Kelompencapir

    SETELAH menjalani serangkaian lomba, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Soetardjo memanfaatkan kesempatan untuk melontarkan pertanyaan kehormatan: “Produk turunan apa yang dapat dihasilkan dari ikan patin?” Peserta terlihat gugup. Maklum, yang memberikan pertanyaan adalah seorang menteri. Salah seorang dari grup C akhirnya memberanikan diri mengacungkan jari dan menjawab: “Kerupuk ikan patin dan bakso ikan patin.”

  • La Pucelle

    DI tengah kegelapan malam, Jeanne d’Arc menyusup masuk ke kota Compiègne, di utara Prancis yang tengah dikepung satu kompi pasukan Kadipaten Burgundy di bawah pimpinan John of Luxembourg. Jeanne, sang loyalis Raja Prancis Charles VII itu jadi target buruan Adipati Burgundy yang bersekutu dengan Inggris. Rupanya Minggu, 23 Mei 1430 itu adalah hari terakhir perlawanannya menentang kolaborator wangsa Lancaster di Prancis. Setelah sempat dua kali mencoba memukul mundur pasukan Kadipaten Burgundy, namun akhirnya ia menyerahkan diri kepada Tumenggung John. Sejak penangkapan itu dimulailah babak akhir dalam drama kehidupan Jeanne d’Arc atau Joan of Arc di abad pertengahan, sebuah zaman di mana otoritas gerejawi turut campur dalam kekuasaan negara. Gadis pemberani anak petani desa Domrémy tersebut dituduh bidah dan menista agama. Jeanne mengklaim menerima wahyu Tuhan untuk menyelamatkan Prancis dari kehancuran dan karena itulah ia berjuang bersama Raja Charles VII menaklukkan wangsa Lancaster di tanah Prancis. Untuk mengadilinya, Uskup Pierre Cauchon dan Jean Lemaître, wakil penyelidik dari Prancis memimpin jalannya persidangan. Kendati tak punya kewenangan jadi hakim pada wilayah yang berada di luar yurisdiksinya, Uskup Pierre Cauchon dari Beauvais tetap memimpin persidangan di kota Rouen, Normandy. Rangkaian persidangan diawali dengan proses pemeriksaan yang digelar mulai Rabu, 21 Februari 1431 sampai Sabtu, 17 Maret 1431. Uskup menjatuhkan 70 dakwaan kepada Jeanne, yang keseluruhan berdasarkan tuduhan penistaan agama, antara lain mengatasnamakan Yesus dan Bunda Maria, mengaku memiliki otoritas ilahiah, mengaku telah terjamin keselamatannya, kerap mengenakan pakaian laki-laki dan yang terberat adalah klaim menerima langsung perintah Tuhan ketimbang tunduk pada otoritas gereja. Selama interogasinya, Jeanne berusaha keras untuk tak terjebak pertanyaan-pertanyaan yang bisa memberatkan hukumannya. Misalnya dalam pemeriksaan yang ketiga, Sabtu, 24 Februari 1431, saat Jeanne menghadapi interogator Jean Beaupere, sohib dekat Uskup Pierre Cauchon. Kepada Jeanne, Jean bertanya, “Apakah Anda tahu kalau Anda berada dalam kasih karunia Allah atau tidak?” Sebenarnya pada masa itu pertanyaan tersebut termasuk ke dalam tipe pertanyaan jebakan batman. Doktrin gereja mengajarkan tak seorang pun manusia bisa memastikan kalau ia berada dalam kasih karunia Tuhan. Tapi apabila Jeanne menjawab “tidak”, bisa dipastikan akan mendapatkan hukuman berat karena mengakui kalau Tuhan tak memberkahinya karunia. Serba salah. Namun Jeanne tak mudah dijebak. Untuk pertanyaan simalakama itu ia mengajukan jawaban yang mencengangkan: “Jika tidak, semoga Tuhan menempatkan saya di sana; dan jika ya, semoga Tuhan menjaga saya. Saya akan menjadi makhluk yang paling menyedihkan di dunia jika saya tahu bahwa saya tidak berada dalam kasih karunia-Nya,” jawabnya tangkas dan diplomatis. Pada pengujung Mei 1431, setelah melalui lima belas kali tahapan pemeriksaan, hakim dan para pemeriksa kolaborator Inggris menetapkan Jeanne menganut ajaran sesat dan berkelakuan bidah sehingga tak ada hukuman lain yang lebih adil kecuali hukuman mati. Ketika awan gelap menaungi Eropa, para agamawan berselingkuh dengan penguasa negeri, berlaku seakan Tuhan yang menampilkan wajah garangnya mendakwa mereka yang dianggap berbeda. Lukisan karya pelukis Prancis Jules-Eugène Lenepveu (1819–1898) menggambarkan suasana dramatis eksekusi mati Jeanne d’Arc: tubuhnya yang mengenakan gaun putih terikat pada sebatang tiang sementara kedua tangannya menggenggam salib yang disodorkan seorang domini. Tiang di mana Jeanne tertambat itu berdiri tinggi di atas tumpukan kayu bakar yang siap menghanguskan tubuh perempuan berusia 19 tahun itu. Jeanne d’Arc wafat pada 30 Mei 1431, disaksikan ratusan pasang mata di tengah pasar di kota Rouen, Prancis. Empat abad kemudian, 16 Mei 1920, Jeanne d’Arc ditetapkan sebagai orang suci ( saint ) oleh Paus Benedict XV dan hingga kini dikenang rakyat Prancis sebagai La Pucelle, sang perawan. Jeanne bukan satu-satunya martir era inkuisisi. Dua abad setelah Jeanne, medio 1633 otoritas gereja Roma mendakwa astronom Galileo Galilei sesat karena fatwa ilmiahnya mengenai bumi mengelilingi matahari bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab. Atas temuan ilmiahnya itu Galileo diganjar hukuman penjara rumah seumur hidupnya. Lima puluh tahun berselang setelah peristiwa itu, langit gelap Eropa perlahan mulai cerah. Praktik inkuisisi yang berlangsung selama lima abad menemukan jalannya untuk memperbaiki diri. Sementara itu 592 tahun setelah kematian Jeanne d’Arc dan 390 tahun setelah Galilei Galileo didakwa sesat atas apa yang kemudian terbukti benar, 300 orang warga di wilayah Pasir Putih Kambang, Pesisir Selatan, Sumatra Barat mengarak WDP (23 tahun) dan L (19 Tahun) menuju pantai di tengah kegelapan malam. Dua perempuan itu tak sempat lagi membela diri ketika orang-orang menyeret mereka dari sebuah kafe menuju tepian pantai. Orang-orang yang kalap itu mengangkat diri mereka sebagai jaksa sekaligus hakim dalam sebuah pengadilan moral darurat. Kerumunan majelis hakim dan jaksa itu menetapkan dua terdakwa bersalah karena berada di sebuah kafe pada malam bulan Ramadan. Hukuman atas keduanya dilakukan dengan cara menceburkan ke laut dan mengoyak-ngoyak pakaian yang mereka kenakan hingga harga diri mereka jatuh ke dasar lautan yang paling dalam. “Abang tolong saya, saya tidak melakukan apa-apa,” begitu pledoi seorang terdakwa yang tak lagi dihiraukan majelis hakim massa. Kejadian tersebut memunculkan pertanyaan: apakah zaman kegelapan masih berlangsung di negeri ini? Ataukah semua itu hanyalah residu masa lalu yang bakal hilang dilibas zaman? Di mana gerangan angkatan baru yang lebih sempurna sebagaimana tersurat dalam sajak Henriette Roland Holst? Kami bukan pembangun candi, Kami hanya pengangkut batu, Kami angkatan yang mesti musnah, Agar menjelma angkatan baru Di atas pusara kami, Lebih sempurna.

  • Trier, Roma Kedua

    SAAT berkunjung ke Trier, saya seperti menyusuri lorong waktu. Perjalanan menembus ribuan tahun silam. Melemparkan diri ke masa kejayaan Romawi Kuno di Jerman. Dengan banyak situs peninggalan Romawi Kuno, Trier seakan museum hidup yang abadi; tak lekang diterjang waktu, tak rusak dimakan usia.

  • Romantisme Bemo Jakarta

    SELEPAS Magrib, pelan namun pasti, kendaraan roda tiga itu merayap di antara padatnya kendaraan di jalan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat. Raung mesinnya mirip erangan orang sakit tenggorokan, sewaktu-waktu siap meletupkan batuk. “Walau barang tua, gini-gini mesinnya bandel. Rugi Jepang dulu ngasih bantuan bemo ke kita. Barangnya bagus,” kata Khairul, berusia 54 tahun, dari balik kemudi sementara mata tuanya awas memperhatikan jalan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page