Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Minta THR ke Ibu Tien Soeharto
Tunjangan Hari Raya (THR) adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu para pegawai menjelang hari lebaran. Termasuk oleh Mayjen TNI dr. Rusmono, SKM, dokter pribadi Presiden Soeharto merangkap staf kepercayaan di Yayasan Harapan Kita yang dibentuk Ibu Tien Soeharto. Pada yayasan itu, Rusmono memegang jabatan ganda. Rangkap jabatan itulah yang memberanikan Rusmono minta THR dua kali lipat kepada Ibu Tien pada hari lebaran 1989 (1409 H).
- Senam Giat Tubuh Sehat
JUMAT pagi tak seramai dulu. Dentaman musik rancak yang membuka aktivitas murid sekolah dan pegawai kantoran di pagi hari nyaris tak terdengar lagi. Hanya beberapa sekolah dan instansi yang masih menghelatnya.
- Mula Pedagang Kelontong
BARANG-barang kebutuhan sehari-hari tersusun rapi di rak-rak sebuah toko kelontong. Di tengah maraknya toko swalayan dan minimarket, toko kelontong masih menjadi pilihan masyarakat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Barang-barang yang dijual beragam. Harganya pun terjangkau. Bicara mengenai toko kelontong, tahukah Anda bagaimana asal-usul munculnya kelontong? Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe menyebut istilah kelontong merupakan sebutan tempo dulu yang telah lama melekat dan identik bagi para pedagang yang menjual barang-barang tidak mudah basi, sehingga dapat dijual beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan. “Nama kelontong memang berasal dari penyebutan para warga pribumi kampung pada para pedagang keliling Tionghoa. Para pedagang itu selalu berteriak-teriak dalam menawarkan dagangannya, dan mendengar teriakan itu maka orang-orang kampung pun datang dan mengerumuninya,” tulis Dukut. Baca juga: Toko Jepang Menerjang Para pedagang Tionghoa keliling tak selalu berteriak untuk menarik perhatian penduduk. Mereka juga menggunakan sebuah alat berbentuk kendang bertangkai yang memiliki diameter kecil dan tertutup kulit di kedua sisinya. Alat yang menghasilkan bunyi-bunyian khas ini juga dilengkapi bandul kayu yang diikatkan dengan benang di bagian atas kendang. “Kalau kendang kecil itu diputar kiri-kanan, maka akan timbul bunyi: thong…thong…thong… Tapi kadang-kadang di telinga yang terdengar adalah suara: klonthong…klonthong… Itu karena bandulnya memukul kulit kendang,” tambah Dukut. Justus van Maurik dalam catatan perjalanannya, Indrukken van Een Totok ,juga membahas mengenai pedagang kelontong. Para pedagang Tionghoa ini kerap datang pada sore hari atau pagi sekali ke hotel atau area penginapan para pelancong yang kebanyakan orang Eropa untuk menawarkan dagangannya. “Biasanya para pedagang ini memiliki sebuah alat yang menyerupai mainan dan mengeluarkan bunyi kencang, alat ini seakan menjadi tanda kedatangan mereka dari jauh. Oleh karena itu para pedagang ini kemudian dinamai seperti instrumen ini, yakni kelontong yang berarti mainan kerincingan atau berkelontang,” tulis Maurik. Baca juga: Mula Pedagang Kaki Lima Para pedagang Tionghoa keliling menjual berbagai jenis barang, mulai dari kain katun cetak atau ikat celup untuk sarung, pernis, sandal, parfum, cerutu, senjata, sandal wanita bersulam, mainan, pernak-pernik dari gading atau kayu cendana, hingga makanan lezat dalam kaleng. Menurut Maurik banyak pedagang Tionghoa yang merintis usahanya dari pedagang kelontong. Mulanya mereka menjajakan barang-barang yang dijual ke rumah-rumah maupun menawarkan barang dagangannya untuk dijual di hotel. Saat uang yang didapat terkumpul, para pedagang ini mulai membeli kereta dan kuda, lalu membeli sebuah toko, hingga akhirnya melalui penghematan dan ketekunan, mereka berkembang menjadi pengusaha sukses. Tak hanya Maurik, Augusta de Wit juga memiliki kesan tersendiri terhadap para pedagang kelontong yang ia temui saat berkunjung ke Nusantara pada awal abad ke-20. Dalam bukunya Java Facts and Fancies , De Wit tak jarang melihat pedagang yang tengah berjalan menggoyang-goyangkan kerincingnya untuk menarik perhatian calon pembeli untuk berbelanja batang sabun maupun gulungan benang. Baca juga: Meriung di Warung Makan Tempo Dulu Sama dengan keterangan Maurik, De Wit juga menyebut pedagang kelontong kebanyakan diusahakan oleh orang-orang Tionghoa. “Perdagangan adalah elemen di mana ia hidup, bergerak, dan berada. Dunia adalah satu peluang besar baginya untuk berbisnis,” sebut De Wit. Oleh karena itu, tak heran para pedagang Tionghoa yang merintis usaha sebagai pedagang kelontong, lambat laun mengembangkan usahanya dengan membuka toko dan menjajakan barang yang lebih beragam. Seiring berjalannya waktu , b e r dagang kelontong masih menjadi salah satu peluang bisnis yang menjanjikan. Tak hanya membuka toko atau berkeliling menjajakan barang-barang dengan menggunakan kendaraan bermotor, di era digital ini tak sedikit pula pedagang kelontong yang memasarkan barang-barangnya secara daring . *
- Sukarno and The Prostitution Scandal in Denmark
SUKARNO was furious. The cover of an American girlie magazine showed a half-naked female stripper wearing only underwear standing next to him in full military uniform. Sukarno condemned the photo as "fabricated".
- Villa Nova dan Entong Gendut
VILLA Nova menyisakan dinding-dinding yang sebagian mengelupas, retak, dan gompal. Kusennya hitam bekas dimakan api. Ia berdiri tanpa atap. Rapuh. Merana dan tak terawat. Bangunan ini terletak di area asrama polisi lalu lintas, tak jauh dari gedung PT Pembangunan Perumahan (PP) dan markas Resimen Induk (Rindam) Jaya, di kawasan Kampung Gedong, Condet, Jakarta Timur. Agak sulit melihatnya dari jalan raya. Bangunan-bangunan di sekitarnya umumnya lebih tinggi. Pepohonan menghalangi keberadaannya. Satu-satunya petunjuk, sebuah papan nama, tertutup spanduk. Ia pun terpencil.
- Kota Mini di Tepian Rhein
SIANG itu pertengahan bulan Juli 2012. Francielli Bottega, seorang perempuan Brazil berusia 33 tahun terburu-buru berangkat dari tempat tinggalnya di Uhland Strasse, Düsseldorf. Dia bergegas memenuhi panggilan wawancara untuk posisi staf administrasi di Bandar Udara Internasional Düsseldorf.
- Kolak
Tidak hanya nikmat disantap saat buka puasa, tapi juga ada makna yang berkaitan dengan ajaran Islam di balik manisnya kolak.
- Bukan Ini, Bukan Itu
DALAM sebuah wawancara yang disiarkan salah satu stasiun televisi, Gus Dur yang saat itu belum lama dilengserkan membuat host ternganga atas jawaban yang dilontarkan presiden Indonesia keempat tersebut. “Tadi Gus Dur mengklaim berhasil memberikan pendidikan politik kepada pendukung Gus Dur, namun mengapa banyak pendukung Gus Dur marah mengamuk dan menebangi pohon sehingga merintangi jalan raya?” kata si pembawa acara. “Lho itu bagus daripada nebangin leher orang. Artinya saya sukses dong mendidik mereka tak melakukan kekerasan? kata Gus Dur tangkas. Selama beberapa detik sang pembawa acara terdiam melongo, tak menyangka jawaban Gus Dur sebegitu taktisnya. Saya yang menonton wawancara itu kontan ketawa terpingkal-pingkal. Geli bercampur kagum pada kemampuan retorika Gus Dur. Bukan Gus Dur kalau tak pernah membikin guyonan. Semasa masih jadi presiden, saya selalu menantikan kemunculannya di televisi untuk menyimak pidato ataupun komentar-komentarnya yang hampir selalu kontroversial. Bukan karena asal bunyi, tapi lebih karena ia membongkar apa yang sebelumnya orang tak pernah ketahui atau kurang bernyali untuk menyampaikannya. Sebut saja usulannya untuk mencabut TAP MPRS No. 25/1966 yang melarang penyebaran Marxisme dan Leninisme. Bisa dibayangkan kegegeran seperti apa yang tercipta akibat pernyataan Gus Dur itu. Tak semua komentar Gus Dur bikin geger, ada pula guyonan yang memicu kita untuk berpikir. Satu hal yang menarik kita renungkan ketika Gus Dur mengatakan Indonesia adalah negara yang bukan-bukan mengacu kepada sistem kenegaraan dan praktik kehidupan berbangsa yang saling tumpang tindih serta tak sinkron satu sama lain. Sebagai negara berlandaskan Pancasila, kata Gus Dur, Indonesia bukan negara agama bukan pula negara sekuler. Jadinya negara bukan-bukan. Lelucon itu kemudian berkembang menjadi ujaran dalam setiap diskusi mengenai situasi Indonesia, termasuk soal Indonesia negara Pancasila yang bukan kapitalis tapi juga bukan sosialis. Bukan ini dan bukan itu. Lantas apakah yang bukan-bukan itu membuat bangsa kita menjadi separuh ini dan separuh itu? Sekilas Gus Dur tampak melontarkan lelucon, namun memicu pertanyaan apakah menjadi yang bukan-bukan itu salah dan tidak memiliki akar historis? Pancasila sebagai landasan filosofis bangsa dan negara Indonesia digali oleh Sukarno semasa ia berada di dalam pengasingannya di Ende, Flores. Betapapun formulasi Pancasila adalah afirmasi atas realitas sosial dan kultural pada bangsa Indonesia, tentu tak terlepas dari cara sang penggalinya memandang dunia ini dan caranya memandang dunia erat pula dengan bagaimana dunia membentuk dirinya. Sebagai seorang yang dilahirkan dari kultur sinkretis, Sukarno bisa luwes memandang berbagai perbedaan di hadapannya. Juga bukan soal besar baginya untuk melompat dari satu pemikiran ke pemikiran lainya, bahkan menggabungkannya guna meramu pengetahuan baru berdasarkan keperluan dan konteks bangsanya. Pada 1926, Sukarno menulis Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai usaha sia-sia menyatukan minyak dan air. Ada konteks historis mengapa tulisan seperti demikian terbit. Sejak awal abad 20, kebangkitan kesadaran bangsa Indonesia mewujud ke dalam bertumbuhnya berbagai organisasi, baik yang bersifar etno-sentrisme, keagamaan, maupun yang berdasarkan perjuangan kelas Karl Marx. Dalam perkembangannya terjadi banyak konflik internal di kalangan bangsa Indonesia yang berisiko memecah belah dan memperlemah kekuatan melawan kolonialisme Belanda. Melalui tulisannya, Sukarno menawarkan solusi untuk menyatukan seluruh kekuatan itu dalam satu ikatan kebangsaan Indonesia. Ia terlihat seperti mewarisi cara H.O.S. Tjokroaminoto dalam soal berpikir secara eklektik dan menggunakan metode sintesis-dialektisnya untuk memetik semua hal baik dari banyak spektrum pemikiran untuk meramunya jadi gagasan baru. Dengan metode yang sama pula Sukarno mengembangkan gagasannya tentang bentuk kebangsaan Indonesia, tak terkecuali Pancasila, di mana konsep ketuhanan sebagaimana dalam negara teokrasi berjumpa dengan demokrasi, nasionalisme, dan sosialisme secara bersamaan. Apakah ini yang membuat negeri kita jadi negara yang bukan-bukan? Sebagai sebuah gagasan bernegara, tentu tak ada yang keliru dengan formulasi ini. Indonesia merdeka usai Perang Dunia II, saat berbagai pemikiran besar di dunia lahir, berkembang, berbenturan, dan menemukan jalannya sendiri-sendiri. Ketika bencana Perang Dunia II usai, dunia memasuki Perang Dingin yang tak lain merupakan perwujudan dari pertarungan gagasan kiri dengan kanan, kapitalisme versus komunisme. Maka dalam konteks inilah menjadi sesuatu yang bukan ini dan itu juga pilihan yang berdasar pada realitas historis. Mungkin kritik Gus Dur dengan istilah “negara bukan-bukan” itu lebih diarahkan kepada cara kita mewujudkan konsep bernegara yang masih jauh dari ideal. Ketika praktik beragama atas nama membela Tuhan meminggirkan kemanusiaan, padahal “Tuhan tak perlu dibela,” kata Gus Dur. Juga saat negara tak hadir untuk mengatasi berbagai bentuk ketidakadilan, padahal ada prinsip keadilan sosial. Suara-suara kritis dibungkam sementara penyelewengan uang rakyat terus berlangsung saat demokrasi seharusnya memberi ruang luas buat warga mengawasi jalannya pengelolaan negara. Semua itu disampaikannya pada masa Orde Baru, di saat penguasa atas nama negara, menjadi sangat dominan tanpa bisa diimbangi oleh kekuatan lain. Sementara sadar tak sadar hari ini kita masih mewarisi cara-cara yang sama dari masa lalu. Kalau sudah begini, jangan-jangan yang paling celaka bukanlah jadi warga dari negara yang bukan-bukan, tapi lebih cenderung kepada negara yang jadi-jadian alias separuh-separuh. Separuh jadi, separuh gagal alias bantet.*
- Meriung di Warung Makan Tempo Dulu
BUKA puasa bersama menjadi tradisi yang tak boleh terlewatkan di bulan Ramadan. Bagi sebagian orang, kegiatan ini seakan menjadi agenda tahunan yang begitu dinanti karena menjadi ajang silaturahmi dengan saudara maupun teman. Beragam warung makan dan restoran pun ramai didatangi masyarakat. Bahkan ada yang reservasi dari jauh hari ke restoran atau rumah makan pilihan agar kebagian tempat untuk buka puasa bersama orang-orang terdekat. Bicara mengenai warung makan, kebiasaan makan di luar atau di warung makan pinggir jalan sudah menjadi kebiasaan orang-orang tempo dulu. Justus van Maurik, seorang pengusaha yangmengunjungi Jawa tahun 1800-an, menulis dalam catatan perjalanannya, Indrukken van Een Totok bahwaorang-orang di Batavia melakukan berbagai aktivitassebagian besar di ruang terbuka, mulai dari makan, minum, bercukur, membersihkan telinga, hingga mengukur serta menjahit pakaian. Baca juga: Kisah Warung Siluman Tak heran banyak warung kecil atau pedagang pikulan hilir mudik menjajakan makanan dan minuman. Menurut Maurik, beberapa pedagang yang menjajakan makanan dan minuman itu merupakan pedagang Tionghoa. “Di jalan, orang Tionghoa terus-menerus menjajakan makanan, yang biasanya ia tahu cara memasaknya dengan sangat enak. Kadang-kadang ia menawarkan ikan goreng atau nasi yang dimasak dengan daun pisang dengan bumbu, lalu ia membujuk orang yang lewat untuk makan sup atau kue,” tulis Maurik. Berdasarkan pengamatannya, Maurik menyebut warung makan lebih banyak ditemukan di wilayah permukiman Tionghoa. Di warung yang biasanya toko kecil itu dijajakan berbagai makanan dan minuman, seperti nasi, ikan goreng, dendeng, sambal, kopi, buah-buahan, kembang gula, kue kering hingga pisang goreng. “Para tamu biasanya duduk di depan lubang terbuka persegi yang berfungsi sebagai etalase dan jendela toko sekaligus, mereka kemudian duduk di bale bale (bangku) lalu makan,” sebut Maurik. Namun ada pula warung yang memiliki ruang makan di dalamnya yang terdiri dari ruangan gelap dan berasap. Baca juga: Menghirup Sejarah Sirup dan Air Belanda Selain Maurik, pelancong lain, Augusta de Wit, juga memiliki kesan tersendiri dengan warung makan pinggir jalan saat mengunjungi Jawa pada akhir 1890-an. Menurut Achmad Sunjayadi dalam “Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia”, termuat dalam Titik Balik Historiografi di Indonesia , tak hanya menulis deskripsi terkait warung pinggir jalan yang ia temukan di Batavia dalam bukunya berjudul Java Facts and Fancies , De Wit juga mengamati bagaimana penduduk pribumi (di bukunya ia menyebutnya orang Jawa) menikmati sarapan pagi di warung makan pinggir jalan setelah mandi di kali. Warung yang biasa didatangi penduduk pribumi bervariasi. Dalam bentuk yang paling sederhana dan ringkas, warung terdiri dari dua kotak kayu, yang satu berisi bahan-bahan makanan dan makanan yang telah diolah, bagian lainnya ditempati anglo yang penuh bara api serta persediaan barang pecah belah. Dalam perkembangannya, ada pula warung yang tampak seperti gubuk kecil beratap jerami, tempat selusin lebih pengunjung makan di bawah pengawasan pemilik warung yang duduk bersila di konter, di antara tumpukan buah-buahan, sayuran, dan kembang gula. Baca juga: Cara Penduduk Batavia Memperoleh Air Minum Menurut De Wit, pengunjung warung makan pinggir jalan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kusir sado, pedagang kecil, perajin, pegawai pemerintah, polisi, pelayan, haji, serta para wanita. “Mereka berbicara dan tertawa. Urusan seluruh Batavia dibahas di sini: intrik, urusan cinta, kisah petualangan hingga kepentingan kantor,” tulis De Wit. Beberapa warung semacam itu dapat ditemukan di sekitar Tanah Abang dan Koningsplein (kini Jalan Medan Merdeka atau kawasan Monas) serta di beberapa area permukiman penduduk pribumi. Sementara penjual makanan keliling dapat ditemukan di mana-mana: pinggir kali, stasiun kereta api, tempat-tempat pemberhentian sado, sepanjang kanal, dan sudut-sudut jalan. “Masing-masing juru masak keliling ini memiliki tempatnya sendiri di jalan atau jalan raya, yang diakui oleh yang lain dengan kesepakatan tersirat,” sebut De Wit. Para pedagang umumnya memulai persiapan untuk menjajakan makanan dan minuman sejak pagi hari. Achmad Sunjayadi menulis, pagi-pagi sekali para pedagang telah memikul dagangannya, lalu aneka dagangan, piring, gelas, serta botol diatur sedemikian rupa agar menarik minat pembeli. “Ada yang menjual nasi, ikan asin dengan sambal, kue hijau yang diberi parutan kelapa berwarna putih, pelbagai macam kue yang tampaknya terasa manis berwarna-warni mencolok (oranye, merah jambu, dan coklat tua) tampak kontras ketika disajikan di atas daun pisang segar berwarna hijau,” tulis Achmad. Baca juga: Warung Kopi Tertua di Indonesia Keberadaan penjual makanan keliling yang dipandang seperti “dapur berjalan” mencuri perhatian para pelancong asing yang mengunjungi wilayah Nusantara. Tak sedikit yang memandangnya cukup eksotis dan mampu menarik minat para turis. Oleh karena itu, Achmad Sunjayadi menyebut berbagai jenis penjual makanan keliling ini pun kerap jadi objek foto atau gambar yang kemudian dimuat dalam kartu pos. Sementara itu, terkait dengan warung pinggir jalan, ada aturan yang harus dipenuhi oleh para pedagang saat hendak berjualan di Batavia, salah satunya terkait tempat berjualan. Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menulis, ada hitungan tersendiri bagi para pedagang yang hendak menyewa kios atau warung untuk berjualan. “Hitungannya menurut ukuran kaki (bukan meter), dan dihitung mulai dari badan jalan. Boleh jadi konsep ini yang melahirkan sebutan warung kaki lima sampai sekarang,” sebut Mona.*
- Terhibur Suara Sendiri
DI pelataran parkir itu, beberapa sepeda motor berjejer rapi. Kertas bertuliskan “Sepeda motor dilarang parkir mulai pukul 18.00” terpampang di tembok dekat pelataran parkir. Sementara di dekat pintu masuk, meja untuk menerima tamu dibiarkan berdebu tipis. Masuk ke dalam, lorong gelap menyambut. Dindingnya bercat hitam dengan sedikit ornamen putih. Terdapat lift di ujung lorong. Begitu terbuka, tersua kertas bertuliskan “Untuk menyambut Ramadan, Roppongi Papa tutup selama tiga hari”.
- Berpacu dalam Pesawat
YOSHIHIDE Muroya asal Jepang menarik nafas lega. Dia berhasil melewati pilar-balon terakhir. Senyum tersungging di bibirnya, tapi matanya terus waspada. Pesawat Edge 540 buatan Zivko Aeronautics yang dipiloti Muroya kembali bermanuver dan bergerak lincah. Satu per satu pilar-balon yang dipasang berderet dilewatinya.
- Perempuan di Medan Perang
PADA masa revolusi 1945–1949, perempuan terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka mengorganisir diri dalam satuan-satuan perjuangan di berbagai daerah. Mereka menjalankan dapur umum, palang merah, bahkan intelijen; sebuah tugas yang tak ringan. Mereka tak menghiraukan keselamatan diri demi menyelamatkan nyawa banyak orang. Peran mereka sangat besar dalam menjaga napas perjuangan. Di Bandung, Yati Aruji Kartawinata membentuk Laskar Wanita Indonesia (Laswi). Anggotanya beragam, dari gadis sampai janda. Di Surabaya, Loekitaningsih dan Palang Merah 45 berjibaku menyelamatkan para pejuang. Mereka bersama para pejuang perempuan lainnya di sejumlah daerah mengorbankan segalanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Merekalah “ibu” bagi para prajurit dan pejuang di medan laga, yang menyediakan makanan atau merawat yang sakit dan terluka. Sayangnya, peran mereka terkubur oleh historiografi Indonesia yang patriarki dan militer sentris. Penulisan sejarah nasional kurang memberi tempat pada peran para perempuan. Oleh karena itu, Historia menulis laporan khusus untuk mengangkat peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, sebagai berikut: Perempuan di Garis Depan Bertahan di Tanah Sultan Yati Aruji Kartini Revolusi Bertaruh Jiwa Demi Nyawa Dapur Ngebul Senapan Ngepul Lucky Loeki





















