top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebuah Kota Beragam Cerita

    SETELAH seribu tahun, bagi orang Jepang di abad 19, Kyoto sebagai ibu kota pasti sama alamiahnya dengan mentari terbit pagi di ufuk timur. Maklum saja kalau ratusan ribu warga Kyoto meratap ketika Kaisar Meiji yang masih berusia 16 tahun memindahkan ibu kota ke Edo (sekarang Tokyo) pada 1869. Warga Kyoto yang bersedih itu bercucuran air mata melambaikan tangan ke arah iring-iringan kaisar yang bergerak ke arah timur. Para warga Kyoto berduka: kehilangan statusnya sebagai sebagai warga ibu kota. Seolah tak mau ditinggal, banyak warga meninggalkan bekas ibu kota itu untuk mengikuti sang kaisar reformis pindah ke Edo. Akibat pemindahan tersebut, Kyoto di abad 19 mengalami penurunan drastis jumlah penduduknya.

  • Meong... Meong... Segala Zaman

    LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam gubahan tempo yang menarik dan segar sehingga terdengar menggelitik di telinga. Permainan metafor pada lirik pun membuat lagu jadi penuh kesan jenaka. Coba saja simak liriknya:

  • Wally Bereaksi, Wally Dieksekusi

    KENDATI diperlakukan sebagai properti seperti umumnya budak-budak asal Afrika yang dipekerjakan orang-orang Belanda di Suriname, budak Wally dan dua saudaranya, Mingo dan Baratham, diberi “bonus”. Majikan mereka memberi hari libur tiap pekan dan satu hari khusus untuk perayaan ritual setiap pascapanen tebu. Menurut Eveline Sint Nicolaas dalam “Wally: Surviving on a Plantation” yang termaktub di buku katalog Slavery: The Story of João, Wally, Oopjen, Paulus, Van Bengalen, Surapati, Sapali, Dirk, Lohkay , Wally merupakan satu dari 156 budak yang bekerja di satu dari tiga perkebunan tebu di Palmeneribo di hulu Sungai Suriname yang berjarak satu hari perjalanan perahu dari ibukota koloni Nederlands-Guiana (kini Suriname). Dua perkebunan lain berada di Waterland dan Surimombo. Tiga perkebunan itu milik Elisabeth Basseliers, nyonya Belanda yang tinggal di Amsterdam. Elisabeth mempercayakan operasional perkebunannya kepada para manajer atau semacam mandor di Suriname. Elisabeth mewarisi tiga perkebunan itu secara turun-temurun dari keluarga besarnya. Baca juga: Manisnya Kekayaan Oopjen dari Pahitnya Perbudakan Sint Nicolaas mencatat, perkebunan dirintis Johan van Scharphuijzen, yang membuka perkebunan di Waterland. Ia membuka lagi dua perkebunan di Surimombo dan Palmeneribo pada 1671 dengan bantuan adiknya, Sara, dan suaminya, pastur Joan Basseliers. Ketiganya disatukan pengelolaannya oleh Van Scharphuijzen ketika Joan wafat pada 1689 dan diikuti Sara pada 1693. “Johan van Scharphuijzen meninggal pada 1699 di Amsterdam dan mewarisi tiga perkebunan itu kepada Elisabeth Basseliers yang merupakan putri dari Joan-Sara sekaligus keponakan Van Scharphuijzen. Elisabeth kemudian dipinang seorang juru tulis dewan kota Amsterdam, Jonas Witsen dan Witsen mewarisi harta 88 ribu gulden serta tiga aset perkebunan tersebut saat Elisabeth meninggal kala melahirkan pada 23 Februari 1702,” ungkap Sint Nicolaas. Wasiat Johan van Scharphuijzen untuk terkait para budaknya (Amsterdam Museum) Dengan meninggalnya sang majikan utama, Elisabeth, dan propertinya diwariskan pada Witsen, suaminya, Wally mengira situasi di perkebunan akan lebih kondusif. Maka pada suatu pagi selepas mendengar kabar majikannya wafat, Wally memprovokasi para budak lain. “Majikan lama kita di Belanda sudah meninggal; majikan baru kita sudah cukup kaya; kalian semua tak perlu bekerja begitu keras,” serunya pada sejumlah budak yang dari pagi buta sudah bekerja di kebun tebu. Baca juga: Kisah Untung Surapati di Pameran Perbudakan Belanda Ucapan Wally itu tercatat dalam sebuah berkas examinatie gedaan (pemeriksaan berita acara) ketika ia diinterogasi Sociëteit van Suriname medio Agustus 1707. Arsip bernomor 1.05.03, inv. no. 234 di Arsip Nasional Den Haag yang dikutip Sint Nicolaas itu menggambarkan kronologinya yang lantas membuahkan vonis hukuman mati pada Wally dan tiga budak lain pada 11 Agustus 1707. Kisah dalam arsip langka dan beberapa sumber lain tentang Wally itu turut diungkap dalam pameran bertema perbudakan, “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery”. Pameran hasil kolaborasi Rijksmuseum, pemerintah Belanda, dan PBB itu dibuka untuk umum di lobi tamu markas PBB di New York, Amerika Serikat sepanjang 27 Februari-30 Maret 2023. Menuntut Keadilan dari Majikan Zalim Pekerjaan budak dari perkebunan hingga ke tempat pengolahan tebu sama sekali bukan perkara enteng. Van Scharphuijzen mengerti betul itu. Ia sudah merantau ke Suriname sejak negeri itu masih koloni Inggris. Ketika Kongsi Dagang Hindia Barat WIC mulai menguasai Suriname, ia pun turut dalam proyek-proyek perluasan koloni. Perluasan itu dilakukan Sociëteit van Suriname, sebagai otoritas koloni setempat, bekerjasama dengan pemerintah kota Amsterdam sebagai pemberi izin segala kegiatan perkebunan, dan WIC sebagai penyuplai pekerja budak. Dalam manajemen perkebunan, tidak semua pemiliknya berlaku keji. Van Scharphuijzen hanya satu dari sedikit dari pemilik perkebunan yang berkenan memberi beberapa kelonggaran pada para budaknya. Ia menyadari betul beratnya beban pekerjaan budak. Baca juga: Budak Bukan Manusia? Lukisan karya Dirk Valkenburg menggambarkan para budak yang berkumpul di waktu liburnya (Statens Museum for Kunst) Para budak, lanjut Sint Nicolaas, biasanya diberi dua hari libur, yakni pada Sabtu dan Minggu. Mereka dibebaskan melakoni apapun, yang umumnya dimanfaatkan untuk mengurus kebun sendiri atau beternak ayam dan babi guna dijual. Ada juga yang menemui famili serta pasangan yang diperbudak di perkebunan lain, seperti yang acap dilakoni Mingo saudara Wally. Mingo memiliki istri seorang budak di perkebunan milik Josua Serfatijn Pina yang berjarak setengah hari perjalanan dengan korjaal (perahu kano) via Sungai Suriname. “Karena memang hanya di dua waktu akhir pekan itulah para budak punya waktu bertemu kerabat dan menanami kebun mereka sendiri. Para budak itu juga biasanya diberi izin melakukan perayaan sekali dalam setahun pascapanen. Mereka diperbolehkan bermain musik, menari, dan mempraktikkan ritual-ritual keyakinan mereka,” tambah Sint Nicolaas. Namun, kebijakan yang diterapkan turun-temurun dari Van Scharphuijzen hingga Elisabeth itu berakhir ketika semua aset dan properti diwariskan pada Witsen. Realitas kehidupan Wally dan sesama budak di perkebunan itu berubah jadi lebih pahit. Baca juga: Van Bengalen, Potret Para Budak dari Teluk Benggala Sketsa wisma pemilik dan manajer perkebunan di Palmeneribo karya Dirk Valkenburg (Rijksmuseum) Sebagai “orang baru” di bidang perkebunan, Witsen setidaknya harus belajar dari nol tentang pengelolaan perkebunan dan sistem perbudakan. Ia mempelajarinya dari sebuah panduan pengelolaan perkebunan yang dituliskan pemilik perkebunan lain, Magdalena Boxel-van Gelre. Janda kaya itu menulis panduan untuk para pendatang baru Eropa yang ingin membuka perkebunan pada permulaan abad ke-18, bertajuk Aanwijzingen voor plantage-onderneming in Suriname . “Membuka perkebunan baru adalah usaha yang sulit pada awalnya, apalagi dengan para budak baru yang belum berpengalaman. Jika memiliki budak-budak yang lebih tua dan terlatih, segalanya akan lebih mudah,” tulis Boxel-van Gelre. Memulai perkebunan, lanjut Boxel-van Gelre, bukan sekadar menanam dan memanen. Itu mesti didahului oleh reklamasi tepi sungai, menggali kanal-kanal irigasi, membangun akses-akses pengangkutan hasil perkebunan serta drainase, dan membuka lahan dengan cara membakar semak-semak atau rerumputan. Pembakarannya harus dilakukan setidaknya tiga kali demi mendapatkan panen tebu berkualitas baik. Lantas, pengolahan tebu yang memadai untuk mengolah tebu menjadi gula padat baik yang mentah atau setengah jadi harus dibuat. Baca juga: Gula dari Tulang-Belulang Prajurit di Waterloo Sketsa tempat pengolahan tebu karya Dirk Valkenburg (Rijksmuseum) Rangkaian proses pengolahannya pun bukan pekerjaan mudah untuk dilakoni para budak. Di tempat pengolahan, tebu harus direbus untuk menghasilkan lika (sari tebu). Setelah itu, lika dimasak dengan kappa – atausemacamwajan besar– di atas tungku untuk mengubah sari tebu menjadi gula padat mentah atau setengah jadi. Gula mentah dan setengah jadi itulah yang dijadikan komoditas yang akan dikirim ke Belanda untuk diolah lagi menjadi beragam produk di pabrik gula. Proses panjang perniagaan gula itu, menurut Boxel-van Gelre, tak bisa dilepaskan dari peran besar para manajer atau mandor yang tentu dari kalangan kulit putih. Manajer berperan besar mengatur sistem pekerjaan yang ketat berikut semacam rewards dan punishments kepada para budak di dalamnya. “Mesti berlaku adil kepada para negro (budak, red. ) selain harus bisa mengatur dan mengawasi. Beri mereka daging asin atau ikan kod asin saat mereka bekerja dengan baik; manajer kami yang baik, Van der K. sangat ketat menjaga kedisiplinan tapi dia tak pernah menghukum para budak kecuali jika memang mereka pantas dihukum, tetapi juga harus selalu menyediakan makanan melimpah dan saat mereka bekerja dengan lebih giat, mereka akan dihadiahi sebuah topi, atau sepasang celana panjang, atau gaun,” tukas Boxel-van Gelre. Baca juga: Konflik Perbudakan Belanda-Portugis dari Mata João Lukisan properti perkebunan tebu Jonas Witsen di Waterland karya Dirk Valkenburg (Amsterdam Museum) Witsen mencoba menerapkannya, namun ia mencabut segala kelonggaran yang pernah dirasakan para budak di masa majikan sebelumnya. Lantas untuk pengelolaannya, Witsen menunjuk eks-dokter bedah Christiaan Westphaal sebagai manajer pada 1702. Witsen juga menugaskan Dirk Valkenburg, pelukis kenalan lamanya, untuk mendokumentasikan semua aset dan propertinya. Alhasil para budak yang hanya mendapat satu hari jatah libur pada hari Minggu, mesti menelan getir. Tak terkecuali Wally dan dua saudaranya. Beberapa konflik antara Wally cs. dan Westphaal pun terjadi. Salah satunya dipicu aksi Westphaal menembak seekor ayam ternak peliharaan Baratham. Kemarahan Baratham dikompori Wally yang mengajak sejumlah budak, termasuk kedua saudaranya, berontak dan kabur ke hutan setelah mencuri beberapa pucuk senapan serta busur dan panah pada Desember 1706. Tetapi setelah lima hari kabur di hutan, gerombolan Wally kembali ke perkebunan setelah dibujuk kepala pengawas perkebunan Sociëteit van Suriname, Jan van der Beek. Mereka setuju kembali setelah mendapat jaminan takkan dihukum oleh Westphaal. Kendati demikian, kegusaran para budak itu tak berhenti sampai di situ. Klimaksnya terjadi pada medio Juni 1707. Kronologinya bermula dari Westphaal melarang Mingo menemui istrinya di perkebunan lain lantaran hari libur para budak cuma satu hari. Westphaal justru menyarankan Mingo mencari istri di perkebunan setempat. Khawatir Mingo bakal kabur, Westphaal lalu menghancurkan korjaal milik Mingo dengan kapak dibantu Valkenburg. Baca juga: Suramnya Perbudakan Belanda di Suriname Berkas interogasi Wally di Fort Zeelandia (Rijksmuseum) Wally ikut “panas” melihat saudaranya ditindas. Sebanyak 22 budak diprovokasinya untuk kembali memberontak. Setelah melukai Westphaal dan Valkenburg, kelompok Wally lagi-lagi kabur ke hutan. Namun mereka berhasil ditangkap pada Juli 1707 dengan bantuan pasukan WIC dari Paramaribo. Mereka pun diinterogasi di Fort Zeelandia, Paramaribo selama Juli-Agustus 1707 . Usai interogasi, pemeriksaan silang dari kesaksian Westphaal dan Valkenburg, dua bersaudara Wally dan Mingo serta dua budak Joseph dan Charle dibawa ke meja hijau. Keempatnya divonis hukuman mati oleh hakim Cornelis de Huijbert. Gubernur Nederlands-Guiana Willem de Gruijter menentukan eksekusinya dengan cara dibakar hidup-hidup di muka umum. Setelah itu kepala mereka dipenggal dan dipamerkan di tiang-tiang besi sebagai contoh kepada para budak lain. “Hanya Baratham yang diberi pengampunan karena dia mengaku bersalah. Ke-19 budak lainnya ikut melarikan diri juga diampuni lewat surat gubernur dan dikembalikan ke perkebunan. Seiring hukuman (Wally) itu, hari libur Sabtu bagi para budak di semua perkebunan dihapuskan pada Agustus 1707. Seperti biasa, para pemilik budaklah yang menang,” tandas Sint Nicolaas. Baca juga: Permintaan Maaf Belanda atas Praktik Perbudakan di Masa Lalu

  • Pusaka

    DALAM sebuah forum diskusi yang diselenggarakan Reinwardt Academie, Amsterdam pekan lalu, seorang peserta mengajukan kegusarannya mengapa isu repatriasi artefak budaya yang kini sedang banyak diperbincangkan terkesan didominasi oleh Barat. Kesan itu memang kuat, terlebih tren repatriasi diletupkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungannya ke Burkina Faso, Afrika Barat, November 2017. Dalam kesempatan itu dia mengatakan semua benda seni Afrika yang kini tersimpan di berbagai museum di Prancis harus dikembalikan ke negeri asalnya. Sejak saat itu sejumlah negara di Eropa, seperti Belanda, Jerman dan Belgia mencurahkan perhatiannya pada upaya repatriasi benda kolonial. Pada pengujung 2020, Belanda, sebagai mantan penjajah, membentuk komite penasihat yang diketuai oleh Lilian Gonçalves-Ho Kang You, advokat terkemuka kelahiran Paramaribo, Suriname. Menanggapi pembentukan komite repatriasi di Belanda, awal 2021 yang lalu, melalui Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Mendikbudristek Nadiem Makarim juga membentuk Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda yang diketuai oleh Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja. Selain Dubes Puja yang pernah bertugas di Belanda dari 2015 sampai 2020, ada tujuh anggota ahli dan seorang sekretaris yang bertugas melakukan sejumlah perundingan dengan pihak Belanda dalam rangka pengembalian benda pusaka Indonesia yang kini tersimpan di berbagai museum di Belanda.   Di sinilah rupanya kegusaran peserta forum diskusi Reinwardt Academie bahwa isu ini didominasi Barat kurang begitu tepat. Isu repatriasi ini bukan hal baru. Jauh sebelum Emmanuel Macron angkat bicara, pada 1951 seseorang dari belahan Timur bernama Mohammad Yamin, kampiun aktivis kemerdekaan dan pengikut setia Tan Malaka, sudah lebih dulu menuntut pengembalian benda-benda bersejarah yang diambil dari Indonesia ke Belanda. Sejak Indonesia meraih kemerdekaan 17 Agustus 1945 kemudian berlanjut ke penyerahan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar, 27 Desember 1949, benda-benda bernilai sejarah sebagai hasil dari penjajahan Belanda tidak serta merta ikut dikembalikan ke Indonesia. Yamin angkat bicara.   Dia yang saat itu duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, berniat mengajukan nota kepada pemerintah Indonesia agar menyelidiki keberadaan artefak bersejarah yang raib. Menurut catatannya, seperti termuat dalam koran berbahasa Belanda Het Nieuwsblad voor Sumatra , 3 April 1951, paling tidak ada lima fosil manusia purba dari Jawa yang lenyap dari museum Geologi di Bandung setelah Perang Dunia II selesai. Kelima fosil tersebut adalah Homo modjokertenensis  berusia 600 ribu tahun yang ditemukan di Jetis, Mojokerto, Jawa Timur; Pithecanthropus robustus  dan Meganthropus paleojavanicus yang ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah pada 1938; Pithecanthropus erectus yang ditemukan Dubois di Trinil dekat Ngawi, Jawa Timur. Fosil ini diperkirakan berusia 300 ribu tahun; Homo soloensis berusia 40 ribu tahun yang ditemukan di Ngandong, Surakarta; Homo wajakensis  berusia 15 ribu tahun ditemukan di Wajak, Mojokerto, Jawa Timur.   Dari kelima fosil tersebut, hanya Pithecanthropus erectus  temuan Dubois yang keberadaannya bisa ditemukan di Leiden. Menurut Yamin, fosil yang dikenal sebagai “Java Man” itu, harus dikembalikan oleh pemerintah Belanda ke Indonesia sebagai pemilik sah benda tersebut. Argumentasi Yamin tentang mengapa objek tersebut harus dikembalikan sangat kuat. Fosil tersebut adalah bukti ilmiah tentang asal-usul keberadaan manusia di Jawa, sekaligus mengukuhkan bukti bahwa Jawa adalah pulau tertua di dunia. Tak hanya fosil manusia purba, Yamin juga menuntut Belanda mengembalikan manuskrip Nagarakretagama  yang dirampas Belanda saat menyerbu istana Cakranegara di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 1894 dan arca Singosari. Kedua koleksi itu juga tersimpan di Leiden. Menurut Yamin, benda tersebut sangat berharga guna memberi petunjuk dalam penelitian mengungkap peradaban manusia masa lalu di Nusantara.   Usaha Yamin memang tak langsung terwujud. Bahkan ketika pada 1953 pengangkatannya sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia pun tak seketika membawa hasil pengembalian benda-benda itu. Lama kemudian, setelah kunjungan Presiden Soeharto ke Belanda awal September 1970, hubungan Indonesia-Belanda yang sempat membeku pascakemerdekaan Indonesia, mulai mencair. Dua tahun setelah kunjungan tersebut manuskrip Nagarakretagama  dikembalikan ke Indonesia. Pada 1975 kedua pemerintah menyepakati perjanjian kerja sama kebudayaan yang menjadi landasan hukum bagi pengembalian benda-benda bersejarah selanjutnya. Tiga tahun setelah kesepakatan tersebut, arca Singosari dan benda-benda milik Pangeran Diponegoro antara lain payung kebesaran, tombak, dan pelana kuda beserta ratusan pusaka milik Puri Cakranegara dikembalikan ke Indonesia. Pengembalian berikutnya baru terjadi pada akhir 2019, ketika 1.500 koleksi yang semula dimiliki Museum Nusantara di Delft, Belanda diserahkan ke Museum Nasional Indonesia. Namun pemulangan ini di luar skema pengembalian yang ideal, di mana seharusnya setiap benda memiliki pengetahuan yang telah terlebih dulu digali melalui penelitian asal-usul ( provenance research ). Maklum, Museum Nusantara gulung tikar, itulah alasan pengembalian tersebut. Kendati disertai kontroversi, keris Kiai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro juga akhirnya kembali pada awal Maret 2020, setelah sempat terselip entah di mana selama puluhan tahun di Belanda. Momentum pengembalian tersebut bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Raja Belanda Willem Alexander ke Indonesia. Pemulangan keris tersebut disertai setumpuk dokumen penelitian selama puluhan tahun yang dimulai oleh Peter Pot sejak 1984, dilanjutkan oleh Johanna Leigjfeldt (2017) dan dituntaskan oleh Tom Quist pada 2019. Sehingga bisa dikatakan bukan hanya objek yang kembali, tapi juga pengetahuan mengenai keris itu turut pula bisa diketahui oleh publik.   Kasus pemulangan keris Pangeran Diponegoro itu menjadi contoh ideal bagaimana sebuah benda bersejarah dikembalikan ke negeri asalnya. Itu juga pesan penting yang bisa dipetik dari seluruh argumentasi Yamin pada tahun 1951 bahwa hal terpenting dari pengembalian benda bersejarah itu adalah produksi pengetahuan. Produksi pengetahuan itu pula yang bisa mendorong kerja sama antarpeneliti dari kedua negara. Sehingga dalam proses kerja itu tercipta hubungan yang setara dan saling bertukar pengetahuan serta pemahaman mengenai sejarah dan kebudayaan yang melekat pada artefak yang akan dikembalikan tersebut. Karena pada akhirnya yang berharga dari benda-benda tersebut bukan saja nilai intrinsik yang terkandung di dalamnya, tapi juga nilai pengetahuan yang bisa menumbuhkan kesadaran publik mengenai arti penting sejarah dan kebudayaan sebuah bangsa. Tentu tak ketinggalan pengetahuan mengenai bagaimana kolonialisme itu sendiri, yang memungkinkan benda bernilai sejarah tinggi itu bisa diambil ke negeri penjajah lewat hubungan yang timpang dengan koloninya.*

  • Napas Sang Kalawarti

    SEPUCUK surat tiba di kantor redaksi Panjebar Semangat di Jalan Bubutan 87 Surabaya. Pengirimnya pensiunan pegawai negeri di Surakarta, Jawa Tengah. Dalam suratnya, ia menulis mohon pamit. Ia hendak undur diri sebagai pembaca. Musababnya, di usia 83 tahun, penglihatannya rabun. Ia ingin melanjutkan berlangganan namun tak ada anggota keluarganya yang mau membaca majalah ini.

  • Serba-serbi Derbi Si Merah dan Setan Merah

    RIVALITAS acap jadi bumbu dalam sepakbola. Di Indonesia ada rivalitas Persija-Persib, di Argentina ada derbi sengit River Plate-Boca Juniors, dan di Spanyol ada Real Madrid kontra Barcelona. Namun yang paling menyita perhatian sekolong langit tetaplah rivalitas di liga Inggris –sang negeri pencipta sepakbola modern, yakni antara Liverpool dan Manchester United (MU). Sejarah baru tercipta di Stadion Anfield, Minggu (5/3/2023), dalam matchday ke-25 Premier League musim 2022-2023. Tuan rumah Liverpool menggebuk tamu “kehormatannya”, Manchester United, dengan skor telak, 7-0. Kemenangan itu tentu jadi penyuntik kebangkitan “The Reds” (julukan Liverpool) yang belakangan tertatih-tatih. “Hasil yang gila. Saya pikir, cara kami memulai laga sangat spesial, yang terbaik sejak sekian lama. Ketika kalah sebelumnya, Anda pasti menginginkan versi terbaik dari diri Anda sesegera mungkin. Perbedaan utamanya adalah, sekarang kami diperkuat pemain terbaik kami lagi,” kata pelatih Liverpool Jürgen Klopp di laman resmi klub , Senin (6/3/2023). Baca juga: Kisah Klopp dan Liverpool yang Klop Jürgen Norbert Klopp memeluk Cody Mathès Gakpo yang tampil eksplosif ( premierleague.com ) Skuad besutan Klopp itu sejak Januari memang kesulitan menemukan performa terbaiknya. Jika sang musuh bebuyutan yang ditukangi Erik ten Hag perlahan tapi pasti mampu on fire , Liverpool justru terpuruk. Setelah dipermalukan Brentford 1-3 pada 3 Januari; Liverpool dua kali dipukul Brighton & Hove Albion 3-0 pada 14 Januari dan 2-1 pada 29 Januari; dibekuk Wolverhampton Wanderers 3-0 pada 14 Februari, serta dihajar Real Madrid 5-2 di Liga Champions pada 22 Februari. Namun keadaannya berbeda ketika meladeni sang rival. Dan dalam 129 tahun sejarah rivalitas keduanya, skor itu jadi yang terbesar di markas Liverpool. Kemenangan terbesar Liverpool di kandang “Setan Merah” (julukan Manchester United) terjadi pada 11 September 1946 ketika tuan rumah digempur 5-0 oleh Si Merah. Baca juga: Derita Barcelona Liverpool melecut kebangkitan di Anfield dengan menggilas bebuyutannya ( liverpoolfc.com ) Mula Tensi Panas Meski hooliganisme yang anarkissudah sirna dari tanah Inggris sejak Tragedi Heysel (29 Mei 1985) dan Tragedi Hillsborough (15 April 1989), fanatisme suporter kedua klub masih sangat kental, bahkan menjamah sampai ke ubun-ubun yang menyebar ke sejumlah basis fans di luar Inggris. Tak ayal rivalitas MU dan Liverpool –acap disebut “Northwest Derby”– lebih menyita perhatian dunia ketimbang derbi sekota masing-masing, baik antara MU kontra Manchester City atau Liverpool vs Everton. MU lahir pada 1878 dengan nama Newton Heath –nama Manchester United FC baru disandang pada 24 April 1902. Sedangkan Liverpool FC lahir 14 tahun berselang, yakni pada 3 Juni 1892. Namun, rivalitas kedua tim itu tak berasal dari lapangan hijau, melainkan imbas dari persaingan ekonomi dua kota industri yang sama-sama mengklaim sebagai kota terbesar kedua di Inggris Raya setelah London. “Mayoritas populasi Manchester dan Liverpool juga berasal dari kalangan pekerja. Kota imigran yang sebagian besar berasal dari Irlandia. Keduanya menjadi adidaya ekonomi. Liverpool mengklaim diri sebagai pelabuhan terbesar di dunia, gerbang menuju Amerika Utara. Sedangkan Manchester menyebut dirinya, ‘Cottonopolis’, kota pertama terjadinya revolusi industri. Maka tak heran sampai muncul ungkapan: Manchester membuat dan Liverpool menjual,” tulis Andy Mitten dalam Mad for It: From Blackpool to Barcelona, Football’s Greatest Rivalries. Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal Industrialisasi di kota Manchester dan Liverpool itu sendiri berkembang pesat sejak 1830, tepatnya ketika jalur keretaapi antarkota pertama di dunia dibuka. Jalur itu menghubungkan Stasiun Crown Street di Liverpool dan Stasiun Victoria di Manchester. Alhasil bahan-bahan baku untuk sejumlah industri di kota Manchester dan Liverpool tak lagi hanya bisa diangkut dengan transportasi air via Kanal Bridgewater dan Kanal Mersey and Irwell Navigation. Transportasi lewat jalur darat  tentu lebih cepat. Namun meski jalur keretaapi sudah dibuka, tetap saja para pebisnis “Mancunian” “kudu” membayar bea ekspor-impor bahan-bahan baku mereka yang diangkut dengan kapal yang bersandar di pelabuhan Liverpool. Seiring perkembangan industri, para industrialis Manchester makin membutuhkan solusi yang lebih murah untuk pengangkutan bahan-bahan baku industri tekstil mereka. Maka sejak 1882, industrialis Daniel Adamson, sebagaimana disitat dari The Manchester Ship Canal karya David Owen, melontarkan gagasan pembangunan sebuah kanal yang bisa menghubungkan kota Manchester langsung ke laut tanpa harus melewati pelabuhan di Liverpool. Gagasannya menghasilkan komite bernama Provisional Manchester Ship Canal Committee, yang lalu mengusulkan gagasan itu ke parlemen. Cetak biru rencana Manchester Ship Canal (kiri) & industrialis Daniel Adamson yang menggagasnya (Bibliothèque Nationale de France/transportarchive.org.uk) Setelah tiga kali diajukan, usulan itu disetujui parlemen pada 2 Mei 1885 –memicu protes keras Dewan Pelabuhan Mersey yang mewakili kota Liverpool. Parlemen lalu mengesahkan Undang-Undang Kanal Kapal Manchester 1885 sebagai payung hukumnya. “Beberapa kondisi turut disematkan (ke legislasinya); wajib menggalang dana 5 juta poundsterling, dan perusahaan kanalnya diwajibkan mengakuisisi Kanal Bridgewater dan Kanal Navigasi Mersey & Irwell dalam waktu dua tahun. Perkiraan biaya pembangunannya mencapai 5,16 juta poundsterling, dan diharapkan rampung dalam waktu empat tahun,” ungkap Owen. Baca juga: Aston Villa Punya Cerita Kanal Kapal Manchester sepanjang 58 kilometer akhirnya rampung pada 7 Desember 1893 dan resmi dibuka pada 1 Januari 1894. Dengan kanal itu, jalur transportasi laut tak lagi melalui Liverpool melainkan start dari Dermaga Eastham Locks dan berakhir di Salford Quays yang memberi akses langsung menuju Laut Irlandia. “(Kota) Liverpool dan perusahaan keretaapi boleh saja meninggalkan rasa cemburu dan cemasnya; Kanal sudah dibangun dan akan bertahan. Akan ada lebih banyak potensi masa depan terkait kerjasama dengan asas saling menghormati. Hadirnya kanal untuk meningkatkan distribusi dan produksi komoditas. Liverpool sudah lama menikmati kontroversi besarnya karena mengabaikan permintaan pengurangan tarif keretaapi,” demikian diberitakan The Manchester Guardian edisi 1 Januari 1894. Lukisan pembangunan Manchester Ship Canal karya Benjamin Williams Leader ( galleryoldham.org.uk ) Mitten menambahkan, hadirnya kanal baru itu tentu berimbas pada perekonomian kota masing-masing. Sedikit demi sedikit itu melahirkan kebencian baik dari kalangan elit industri maupun, yang utama, pekerja pelabuhan Liverpool dan para buruh industri Manchester yang tentu menjadikan kegiatan menonton sepakbola sebagai hiburan kota itu. “Tensinya makin tinggi setelah kanal itu selesai pada (Januari) 1894 atau tiga bulan menjelang pertemuan perdana antara Liverpool dan Newton Heath (nama lama Manchester United, red. ) dalam sebuah laga play-off yang akan menentukan siapa yang bakal degradasi ke Divisi Kedua,” sambung Mitten. Baca juga: Ketika Duo Manchester dan Liverpool Terlibat Match Fixing Di era itu, pemenang divisi ketiga atau divisi kedua Football League tak otomatis promosi ke divisi di atasnya. Liverpool sebagai pemenang divisi kedua musim 1893-1894 harus melalui play-off Football League Test Match yang turut diikuti tim berposisi kedua dan ketiga divisi kedua serta tiga tim terbawah divisi pertama. Kebetulan, Newton Heath berada di juru kunci klasemen akhir divisi pertama. Pertemuan pertama Liverpool kontra Newton Heath di laga play-off itu terjadi pada 28 April 1894 di tempat netral, Stadion Ewood Park. Hasilnya, Newton Heath harus rela turun kasta lantaran kalah 0-2 dan Liverpool promosi ke divisi pertama. Meski itu jadi titik nol rivalitas keduanya, tensi rivalitasnya pasang-surut hingga pasca-Perang Dunia II. “Setidaknya rivalitas United dan Liverpool berlandaskan saling respek sampai era 1960-an, di mana beberapa pemain Manchester United saat sedang tidak ada pertandingan bahkan menonton Liverpool. Mantan gelandang United Pat Crerand bahkan mengatakan, ‘kami mendukung The Kop (julukan Liverpool)’,” lanjutnya. Skuad Newton Heath (kiri) dan Liverpool musim 1892-1893 ( The Graphic  tahun 1892/lfchistory.net) Pelatih Liverpool Bill Shankly dan pelatih MU Matt Busby juga bersahabat dekat karena keduanya berasal dari Lanarkshire, Skotlandia. Busby juga pernah bermain untuk Liverpool semasa berkarier sebagai pemain (1936-1945). Saling respek itu terjadi seiring menjalarnya hooliganisme di kalangan suporter pada 1960-an. Rivalitasnya tak kondusif ketika memasuki 1980-an. Pelatih MU Ron Atkinson mendeskripsikan setiap MU tandang ke Stadion Anfield ibarat Perang Vietnam. “Suatu kali kami baru keluar bus dan tiba-tiba sesuatu mengenai kami dan penglihatan semua orang menjadi hilang. Saya mengira itu adalah lemparan atau semprotan cat tapi ternyata kami dilempari gas air mata. Kami berjalan dengan setengah buta saat menuju ruang ganti,” kenang Atkinson. Baca juga: Berkabung untuk Setan Merah Hingga akhir 1980-an, sorakan saling ejek antarsuporter makin tajam. Fans Liverpool seringkali menyanyikan lagu tentang “Munich Air Disaster” –kecelakaan pesawat di Munich, Jerman Barat pada 6 Februari 1958 yang menewaskan banyak punggawa utama MU. “Tetapi semua itu terhenti setelah Petaka Hillsborough 1989. Hanya sebagian oknum saja yang masih melakukannya. Sebagian besar fans United menghormati kampanye fans Liverpool yang mencari keadilan bagi 96 korbannya,” tandas Mitten. William 'Bill' Shankly (kiri) dan Sir Alexander Matthew 'Matt' Busby dikenal bersahabat dekat ( liverpoolfc.com/manutd.com )

  • Horor Bangkit dari Kubur

    RADEN Darmadji ditemani dua orang kepercayaannya berpetualang ke Pulau Mustika. Putri kesayangannya, Rumiati turut serta. Tak jauh dari pulau itu, sepuluh tahun lalu sebuah kapal yang ditumpangi saudaranya karam. Darmadji ingin mencari jejak saudaranya.

  • Sedia Jas Sebelum Hujan

    HUJAN yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya membuat payung dan jas hujan menjadi barang yang wajib dibawa saat beraktivas di luar rumah. Tak jarang terlihat pedagang menjual jas hujan kepada para pengendara yang tengah berteduh di halte atau kolong jembatan layang. Berbeda dengan payung yang sering kali masih membuat penggunanya basah, jas hujan mampu melindungi tubuh dari bagian atas hingga bawah. Bentuknya yang serupa jubah atau pakaian dan celana memberikan perlindungan lebih maksimal bagi pemakainya. Jas hujan dijual dengan harga bervariasi, tergantung jenis dan modelnya. Meski ukurannya besar dan menutupi sebagian besar area tubuh, jas hujan didesain dengan bahan yang fleksibel sehingga mudah dilipat dan dapat dibawa ke mana pun. Oleh karena itu, selain payung, jas hujan menjadi “alat tempur” andalan bagi banyak orang di kala musim hujan. Menurut Jorge Lucendo dalam Universal Encyclopedia of Inventors: 600 Inventors , seorang kimiawan asal Skotlandia, Charles Macintosh merupakan penemu pakaian tahan air tersebut. Sebelum menemukan proses pembuatan kain yang tahan air dengan karet, Macintosh turut berperan dalam menemukan proses pewarnaan baru dan membantu mengembangkan bubuk pemutih. Terkait dengan penemuan jas hujan, Macintosh melakukan eksperimen dengan menggunakan tar dan naphtha  yang memungkinkannya menciptakan sebuah bahan tekstil yang tahan air. Melalui eksperimen itu, Macintosh mampu memperkuat dua kain tebal bersama-sama dengan karet alam. Baca juga:  Sedia Payung Walau Tak Hujan Meski begitu, menurut Charles E. Carraher Jr. dalam Carraher’s Polymer Chemistry, Eight Editon , ratusan tahun sebelum Macintosh melakukan eksperimen dan memantenkan penemuannya untuk pakaian tahan air, orang Indian telah memiliki konsep pakaian tahan air. “Pada awal abad ketiga belas, orang Indian Amerika Serikat melapisi kain dengan getah karet alami yang membuat topi dan alas kaki tahan air,” tulis Carraher. Getah karet alami itu merupakan bahan nonpolar yang tahan air. Saat getah tersebut dikirim ke Eropa, bakteri menyerang karet alam ini sehingga membuatnya tidak dapat digunakan. Seiring berjalannya waktu, sejumlah eksperimen dilakukan untuk mengembangkan sebuah kain yang tahan air hingga kemudian Macintosh mematenkan penemuannya untuk pakaian tahan air pada 1823. Setelah mematenkan penemuannya, tulis Andrew Sholl dalam Teddy Bears, Tupperware and Sweet Fanny Adams: How The Names Became The Words , Macintosh mendirikan perusahaan di Manchester dan memproduksi garmen yang tahan air yang ia namai Mackintosh. Perusahaan tersebut memproduksi jas dan jaket tahan air. Bagian dalam jaket tersebut dibuat dari wol sementara bagian luarnya dari bahan tekstil tahan air yang dikembangkan Macintosh. Baca juga:  Cerita Lama Pawang Hujan Lucendo menyebut mantel Mackintosh sempat digunakan oleh John Franklin dalam Ekspedisi Arktik pada 1824, dan kemudian oleh Angkatan Darat Inggris. Sayangnya, meski pakaian itu berhasil menahan air, namun bagi sebagian besar orang di masa itu, mantel ini tidak menarik dan tidak nyaman. Mackintosh abad ke-19 itu, catat Celia Marshik dalam At the Mercy of Their Clothes Modernism, the Middlebrow, and British Garment Culture , berwarna hijau menjemukan, panjang dan tidak berbentuk, serta sulit digerakkan. Mantel itu sendiri memiliki bau yang tidak sedap. Hal senada diungkapkan John Hudson Tiner dalam Exploring the World of Chemistry From Ancient Metals to High-Speed Computers , bahwa jas hujan yang terbuat dari kain karet itu pada cuaca dingin menjadi kaku, sementara saat cuaca panas menjadi lunak dan lengket. “Orang-orang meninggalkan jas hujan di lemari selama musim panas. Namun, saat mereka membuka lemari untuk menemukan jas hujan, yang terlihat jas hujan itu meleleh menjadi satu dalam kekacauan yang mengerikan,” tulis Tiner. Baca juga:  Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto Macintosh kemudian melakukan perbaikan demi perbaikan, mulai dari membuat bahan lebih ringan dan fleksibel, hingga mengurangi bau. Ia menerapkan teknik vulkanisir karet untuk menyempurnakan produk garmennya. Penyempurnaan tersebut membuat mantel Mackintosh mulai dilirik oleh masyarakat umum. Bahkan, ketika kualitas mantel tersebut semakin baik, pakaian antiair tersebut turut menunjukkan status sosial dan ekonomi pemakainya. Marshik menyebut iklan awal Mackintosh cenderung mempromosikannya ke dua jenis konsumen, yakni olahragawan dan pelayan. “Dengan kata lain, masyarakat kelas atas Inggris akan mengenakan Mackintosh saat berpartisipasi dalam aktivitas santai yang luar biasa, sementara mereka yang berada di kelas pekerja akan mengenakan jas hujan yang sama saat melakukan pekerjaan biasa sehari-hari,” sebut Marshik. Baca juga:  Pawang Hujan dalam Peresmian TMII Militer juga merupakan mayoritas pengguna mantel hujan. Kala Perang Dunia pecah, Mackintosh disesuaikan dan dipasarkan untuk digunakan militer di garis depan selama perang. Di masa perang itu pula lahir “ the trench-mackintosh ” yang menjadi ikon saat mantel itu muncul dalam iklan untuk produk-produk, baik yang terkait maupun tidak terkait dengan perang. Setiap merek Mackintosh untuk militer memiliki berbagai strategi dalam mempromosikan produknya. Tetapi ada empat hal yang menjadi acuan atau tren umum yang muncul selama perang, yakni mengutamakan kualitas garmen, membuat mantel sesuai untuk semua lini dan dalam segala cuaca, adanya testimoni bahwa mantel tersebut nyaman digunakan selama para tentara bertugas di parit, serta promosi bahwa mantel tersebut dapat melindungi penggunanya dari berbagai ancaman. Popularitas jas hujan yang kian menanjak mendorong banyak perusahaan ikut memproduksi berbagai pakaian yang tahan air. Kini tak hanya pakaian atau jas hujan, barang-barang yang biasa digunakan masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah pun diproduksi agar tahan air seperti tas, sepatu, hingga topi. Tak hanya itu, nama “Mackintosh” atau “Mack” pun hingga kini dikenal dan digunakan pada jas hujan plastik modern mana pun.*

  • Pusat Pendidikan Agama Buddha

    ARKEOLOG Mundardjito kesal dengan kondisi situs percandian Muarajambi. Sejak 1980-an, sebagai anggota tim studi teknis proyek pemugaran gugusan candi Muarajambi yang dibentuk Direktorat Jenderal Kebudayaan, ia sudah membuat masterplan Muarajambi. Namun, “Ganti pemda bikin masterplan lagi, sampai tiga kali, tapi tidak selesai-selesai,” ujar Mundardjito, guru besar luar biasa Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, di kediamannya di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur.

  • Memenuhi Ramalan

    DIPONEGORO diperkenalkan ibundanya, Raden Ayu Mangkorowati, kepada Sultan Mangkubumi. Saat itu raja sepuh itu meramalkan cucunya –Raden Mas Surojo, ayah Diponegoro, yang kelak menjadi Sultan Yogyakarta bergelar Hamengkubuwono III– akan mendatangkan kehancuran lebih hebat buat Belanda ketimbang dirinya selama Perang Giyanti (1746–1755).

  • Lady Death di Perang Dunia II

    Lyudmila Pavlichenko dikenal sebagai sniper wanita paling mematikan sepanjang sejarah. Bidikannya yang jitu membuat ia dijuluki Lady Death (Dewi Kematian).

  • Embrio Boy Band Dunia

    MEREKA tampil di Tiny Tots Jamboore, sebuah acara kontes mencari bakat yang dihelat Rosevelt High School di kota Gary, Indiana, Amerika Serikat. Mengusung nama keluarga Jackson, mereka menjajal peruntungan di dunia musik dan ternyata… menang. Seorang agen pencari bakat lokal, Evelyn Lahalie, menyarankan mereka menggunakan nama The Jackson 5.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page