top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Thomas Wanggai, Bapak Republik Melanesia Barat

    HURU-hara menggemparkan distrik Abepura di kota Jayapura, Papua. Amukan massa yang tersulut amarah berujung aksi pembakaran. Sejumlah kios di Pasar Abepura habis dilalap api. Kurang dari enam mobil hangus dan hancur. Puluhan bangunan di jalur Sentani-Abepura sepanjang 20 km rusak berat. Ada yang menyobek bendera Merah Putih sementara yang lain menaikkan panji Bintang Kejora. “Kerusuhan melanda Sentani-Abepura hari Senin (18/3) segera setelah kedatangan jenazah Dr. Thomas Wanggai, terhukum kasus subversi yang meninggal di Jakarta,” demikian berita Kompas , 19 Maret 1996. Semua bermula dari isu Thomas Wanggai dibunuh dalam tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Ketika jenazah tiba di Bandara Sentani, ribuan massa simpatisan telah menanti. Mereka mendadak berubah beringas setelah aparat menolak memperlihatkan jenazah Tom Wanggai untuk disemayamkan di aula Universitas Cenderawasih (Uncen). Begitu dihormatinya Thomas Wanggai sehingga kematiannya jadi simbol perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. Bendera Bintang 14 Pada 14 Desember 1988, sekira 60 orang berkumpul di Stadion Mandala, Jayapura. Mereka menghadiri upacara pembacaan proklamasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kesekian kalinya. Namun, ada yang berbeda hari itu. Bendera yang dikibarkan bukanlah Bintang Kejora, melainkan Bendera Bintang 14. Naskah proklamasi maupun Bendera Bintang 14 itu dirancang oleh Thomas Wanggai. Thomas Wapai Newei Serampayai Wanggai adalah pendukung OPM berpendidikan tinggi. Ia lahir di kampung Ambai, Serui pada 5 Desember 1937. Gelar sarjana hukumnya direngkuhnya dari Okoyama State University pada 1969. Pada saat menempuh pendidikan di Jepang itulah Tom bertemu dengan Mimie Teruko Kohara yang kemudian menjadi istrinya. Setelah itu, Tom meraih gelar doktor bidang administrasi negara di Florida University pada 1985. Tom Wanggai bekerja di kantor gubernuran sebagai staf ahli Bappeda Pemda Papua. Dibandingkan dengan gerakan nasionalisme Papua sebelumnya, menurut George Junus Aditjondro, gerakan Tom Wanggai mendapat perhatian paling luas dan terbuka dari masyarakat Papua. Berbeda dengan para pendahulunya yang selalu menggunakan entitas dari zaman kolonial Belanda, yakni Papua Barat, Tom menamakan negeri merdeka yang dibayangkannya: Melanesia Barat. Entitas ini merujuk pada rumpun ras masyarakat di kawasan Pasifik Selatan. Tapi, gagasan Tom Wanggai tentang perjuangannya mendirikan Negara Republik Melanesia Barat berlandaskan ke-Kristenan adalah daya pikat bagi masyarakat. “Yang jelas proklamasi Tom Wanggai punya appeal yang besar terhadap sebagian penduduk kota Jayapura dan kota-kota satelitnya. Proklamasi Tom Wanggai juga punya appeal secara khusus bagi kalangan terdidik dan pegawai negeri yang berasal dari Kabupaten Yapen-Waropen,” ungkap Aditjondro dalam Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia . Bendera Bintang 14 dijahit sendiri Teruko Wanggai, istri Tom Wanggai. Sementara itu, Tom Wanggai mendaulat dirinya sebagai presiden Republik Melanesia Barat. Aktivis Papua Merdeka Filep Karma mengenal kiprah Tom Wanggai. Dalam catatannya Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua, Filep mengatakan, “Wanggai berpendapat bendera Bintang Kejora dari 1961 warnanya terlalu Eropa: merah, putih, biru.” Namun, tersirat motif lain di balik pilihan Tom Wanggai mendirikan Negara Melanesia Barat. Gerakan kemerdekaan itu, seperti ditulis Philipus Robaha, aktivis Solidaritas Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (Sonamappa), dalam artikelnya di kanal laolao-papua.com , disebut-sebut pelarian atas kegagalan Tom Wanggai menjadi gubernur Papua. Pada 1987, Tom Wanggai kalah bersaing melawan Barnabas Suebu dalam pemilihan gubernur. Rumor ini jadi cerita dari mulut ke mulut yang berkembang hingga sekarang. Barnabas Suebu sendiri pada 2017 didakwa bersalah atas kasus korupsi. Ia mendekam di LP Sukamiskin, Bandung. Misteri di LP Cipinang Gerakan Tom Wanggai meresahkan otoritas pemerintah Indonesia di Papua. Setelah peristiwa pengibaran Bendera Bintang 14, ia ditangkap. Pengadilan Negeri Jayapura menjerat Tom Wanggai dengan dakwaan perbuatan makar dan vonis hukuman penjara 20 tahun. Sementara, istri Tom dikenai hukuman 8 tahun penjara. Dari LP Jayapura, Tom kemudian dipindahkan ke LP Cipinang, Jakarta Timur.    Pada 12 Maret 1996, Tom Wanggai ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di selnya. Sekujur tubuhnya kaku membiru. Kepala LP Cipinang menyatakan Tom Wanggai meninggal karena menderita penyakit. Temuan-temuan kejanggalan kemudian menyingkap tabir penyebab kematian Tom yang masih berselubung tanda tanya. Tokoh gerakan Papua Pdt. Socrates Sofyan Yoman tidak percaya dengan pernyataan pihak LP Cipinang. Dalam Pemusnahan Etnis Melanesia di Papua Barat, ia menyebut kematian Tom Wanggai tidak wajar. Pendapat ini diperkuat oleh penelitian jurnalis Australia, Robin Osborn, yang mengatakan Tom Wanggai adalah salah satu korban penyiksaan dalam penjara. Diduga kuat, Tom Wanggai dibunuh oleh tentara Indonesia. Konfirmasi mengenai laporan tersebut, ungkap Osborn, berasal dari dokumen resmi. Beberapa di antaranya sampai ke tangan OPM, atau media massa di Indonesia (yang tidak bisa menerbitkannya), atau ke wartawan asing, lembaga-lembaga bantuan serta pekerja gereja dan akademisi.  Sementara itu, menurut mantan komisioner Komnas HAM Decki Natalis Pigay, kematian Tom Wanggai tidak lepas dari wacana politik resistensi lokal OPM akibat keberaniannya memproklamasikan kemerdekaan Republik Melanesia Barat. Patut dicatat bahwa Tom Wanggai melakukan itu di tengah-tengah kota satelit Jayapura sedangkan para pendahulunya kebanyakan bergerak di tengah hutan belantara pedalaman Papua. Banyak kabar yang beredar di tengah masyarakat seputar meninggalnya Tom Wanggai. Kepala LP Cipinang jadi sasaran tudingan. Ia dianggap turut bertanggung jawab karena terlambat mengirimkan Tom yang sakit keras itu ke Palang Merah Internasional. Polemik juga berlanjut pada persoalan hilangnya jenazah Tom Wanggai dari lemari kamar mayat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Desas-desus inilah yang kemudian meletupkan kerusuhan saat jenazah Tom Wanggai dipulangkan ke Papua. “Pada saat itu rakyat Irian termasuk kalangan terpelajar, mahasiswa, serta masyarakat biasa berduyun-duyun menuju Bandara Sentani untuk menyambut seorang tokoh yang dihormati sebagai simbol intelektual Irian,” kata Pigay dalam Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua. Raga Thomas Wanggai memang telah lama meninggalkan dunia ini. Tapi ideologinya untuk mendirikan negara merdeka yang terpisah dari Republik Indonesia masih hidup dalam dada sebagian orang Papua sampai saat ini. Entah sampai kapan.*

  • Sepak Terjang Pasukan 303

    Kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat yang dilakukan Inspektur Jenderal Polisi Ferdy Sambo, diikuti kabar adanya jaringan perjudian Konsorsium 303. Angka ini merujuk Pasal 303 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur tentang perjudian. Adanya Konsorsium 303, yang katanya terkait Ferdy Sambo, tentu mencemarkan angka 303. Padahal ada aset negara yang memakai angka itu, yakni Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 303. Yonif Raider 303 yang berada di bawah Brigade Infanteri 13/Galuh Divisi Infanteri 1/Kostrad punya sejarah panjang. Kesatuan ini berawal dari Batalyon Pengawal Markas Besar Tentara (MBT) yang dipimpin oleh Mayor Ir. R. Sudarto dan wakilnya Kapten A. Nasuhi yang berkedudukan di Bintaran, Yogyakarta. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa , dari September 1945 sampai September 1949, batalyon ini aktif dalam perang kemerdekaan menghadapi Jepang, Belanda, dan penghancuran PKI Musso di Madiun. Pada awal Agustus 1948, Batalyon Sudarto dikirim untuk menumpas PKI di Wonogiri, Baturetno, dan Wuriantoro. Dua kompi pasukan kalong PKI di bawah eks Mayor Sampir menyerah. Batalyon Sudarto kemudian bergerak ke daerah Pumeng Donorejo, Melati, Trenas, dan Pacitan. Di daerah Melati, Batalyon Sudarto berhasil menangkap gembong PKI eks Kolonel Yusuf Bakhri cs., merampas mesiu, peralatan, dan senjata. Batalyon Sudarto selanjutnya bergerak ke Pringsewu, Pringgadani, Sawangan, dan Tawangmangu, kemudian kembali ke Yogyakarta. Baca juga:  Kisah Batalyon Sepatoe Roesak Ir. R. Sudarto, Komandan Batalyon Pengawal Markas Besar Tentara (MBT), cikal bakal Yonif 303. ( Page Facebook Magelang Kembali ). Pada November 1948, Batalyon Sudarto mengadakan konsolidasi di Magelang. Letkol Sudarto kemudian menjadi Komandan Brigade XVII yang dibentuk untuk menampung kesatuan-kesatuan pelajar yang tergabung dalam Tentara Pelajar.Sebelum menjadi Brigade XVII, brigade ini bernama Kesatuan Reserve Umum W (KRU W). Sementara KRU Z masuk organik menjadi batalyon dari Brigade XIV/Siliwangi. Pada 17 Desember 1948, batalyon ini bergerak ke daerah Temanggung. Setelah Agresi Militer Belanda II, pada 19 Desember 1948 batalyon ini melakukan long march menuju Jawa Barat. Baca juga:  Kompi Kristen di Batalyon Hizbullah Kivlan Zen, mantan Komandan Yonif Raider 303/SSM Kostrad, dalam Personal Memoranda dari Fitnah ke Fitnah , menyebut bahwa Batalyon Infanteri Sudarto sebagai pengawal Presiden Sukarno tahun 1945 sampai akhir November 1948. Kemudian bertempur bersama Siliwangi melawan komunis dan Belanda pada saat Bung Karno ditawan Belanda. Setelah Bung Karno dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta, Yonif Sudarto tetap mengikuti Siliwangi dan ikut kembali ke Jawa Barat. Selanjutnya, Yonif Sudarto dipecah menjadi dua di Selawu, dekat Tasikmalaya. Dua kompi dipimpin oleh Kaharudin Nasution menjadi Yonif 303 dan berbasis di Cikajang, Garut. Sedangkan dua kompi dipimpin oleh Mung Parhadimulyo menjadi Yonif 305 dan berbasis di Karawang. Sehingga, tunggul atau lambang kedua yonif ini sama-sama tengkorang putih menggigit belati. Yang membedakan sesantinya: Yonif 303/Setya Perlaya sedangkan Yonif 305/Tengkorak. Llambang Yonif 303/Setya Perlaya Divisi Siliwangi. (Repri Siliwangi dari Masa ke Masa ). Buku Siliwangi dari Masa ke Masa menyebut Yonif 303 lahir pada 1 September 1949 yang berturut-turut mengalami pergantian nama menjadi Batalyon D, Batalyon 123, dan Batalyon 303/Setya Perlaya. Setelah pengakuan kedaulatan (27 Desember 1949), batalyon ini terus mengadakan konsolidasi di bawah Mayor A. Nasuhi. Dalam perjalanan sejarahnya, selain melawan PKI dan Belanda, Yonif 303/Setya Perlayajuga ikut menumpas Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) Westerling pada Januari 1950 di Bandung, PRRI pada 1959 di Sumatra, DI/TII Jawa Barat, DI/TII Kahar Muzakkar, dan PKI di Jawa Barat dan Jawa Tengah pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965. Baca juga:  Sepakterjang Batalyon yang Hilang Pada 1986, Yonif 303/Setya Perlayadi bawah Mayor Kivlan Zen ditugaskan ke Timor Timur. Kivlan mengaku selalu berhasil dalam pertempuran melawan pasukan Fretilin sehingga mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Letnan Kolonel. Pada saat Kivlan memimpin pasukan Yonif 303/Setya Perlayadi Timor Timur, Kostrad memberikan kesempatan untuk mengubah tunggul atau lambang kesatuan yang semula berada di bawah Kodam III/Siliwangi, Kodam IV/Diponegoro, Kodam V/Brawijaya, dan Kodam VII/Wirabuana menjadi tunggul kesatuan di bawah Kostrad. Kivlan menganggap sesanti Setya Perlaya tidak dipahami prajurit karena berasal dari bahasa Sanskerta. Oleh karena itu, dia mengganti sesanti Setya Perlaya dengan Setia Sampai Mati (SSM). Sehingga, kesatuan ini disebut Yonif Raider 303/SSM Kostrad .*

  • Awal Mula Pipa Plastik di Indonesia

    PIPA PVC (polyvinyl chloride) atau lebih dikenal dengan pipa paralon merupakan salah satu material yang penting dalam pembangunan rumah atau gedung. Pipa yang terbuat dari bahan baku polivinil klorida ini biasanya digunakan untuk mengalirkan air dan instalasi listrik. Pipa plastik jadi pilihan selain harganya terjangkau, juga lebih ringan sehingga proses pemasangannya lebih mudah. Pipa PVC tersedia dalam beragam jenis dan ukuran. Mereknya menentukan kualitas dan harga. Namun, apapun mereknya, orang menyebutnya paralon. Nama ini diambil dari merek Pralon, pionir pipa PVC di Indonesia, yang didirikan oleh Pandji Wisaksana alias Phan Wan Sin. Pandji lahir di Bandung, Jawa Barat pada 27 Juni 1925. Mantan wartawan Bandung Herald, harian mandarin pertama di Bandung pada masa pendudukan Jepang, ini dikenal sebagai perintis industri plastik di Indonesia.

  • A Music Legend from Batak Land

    TO welcome the historic Kongres Pemuda II (the Second Youth Congress), the committee held a contest challenging the youth to compose the national anthem. The prize was no less fascinating: the winner's name would be immortalized as the songwriter of Indonesia's national anthem. The competition soon enough became the talk of the town after various newspapers announced it.

  • Posisi Barlian dalam PRRI

    Tiga perwira menengah di Sumatra membentuk dewan-dewan untuk mencari solusi atas permasalahan antara pusat dan daerah pada 1950-an. Letnan Kolonel Ahmad Husein memimpin Dewan Banteng di Sumatra Barat. Kolonel Muludin Simbolon memimpin Dewan Gajah di Sumatra Utara. Sedangkan Letnan Kolonel Barlian memimpin Dewan Garuda di Sumatra Selatan. Barlian merupakan Panglima Tentara dan Teritorium II Sumatra Selatan yang belakangan wilayahnya menjadi bagian dari Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya, yang membawahkan Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Daerah-daerah itu dulunya bagian dari Keresidenan Palembang. Sejarawan Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926–1998  menyebut Barlian sebagai pengusul diadakannya pertemuan yang kemudian diadakan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada 9 Januari 1958. Barlian juga yang mengundang politisi sipil seperti mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri Burhanudian Harahap, dan mantan Ketua PDRI Sjafrudin Prawiranegara. Baca juga:  Sukarno dan Trauma PRRI Pertentangan antara pusat dan daerah berkembang menjadi pemerintahan tandingan bernama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mantan Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo juga ikut serta di dalamnya. Di antara dewan-dewan itu, posisi Dewan Garuda lebih dekat dengan Jawa. Jawa adalah kunci di mana pusat pemerintahan dan kekuatan terbesar militer berada. “Karena dekat dengan Jawa dan keberadaan pasukan Jawa dalam jumlah besar di daerahnya, Barlian bertindak hati-hati, dan Dewan Garuda tidak memutuskan hubungannya dengan pemerintah pusat atau mengambil tindakan lanjutan untuk beberapa bulan lamanya,” tulis Kahin. Barlian tidak benar-benar menjadikan Palembang sebagai milik PRRI. Meski Barlian pernah mengambil alih kontrol pemerintah sipil dari tangan gubernur pada 9 Maret 1958. Kahin menyebut Barlian meminta bantuan Dewan Banteng. Ahmad Husein bersedia mengirim 1.200 tentara untuk memperkuat Palembang jika didatangi tentara dari Jawa. Baca juga:  Kisah Jenaka Para Petinggi PRRI/Permesta Beruntunglah pemerintah pusat,karena sebelum tahun 1958, ada seorang perwira TNI asal Jawa di Palembang yang menjabat komandan Resimen Infanteri 5, yakni Mayor Djuhartono. Dia menentang dewan-dewan perjuangan daerah yang melawan pemerintah pusat. Djuhartono sempat menjadi penentang Barlian yang nyaris ikut PRRI. Djuhartono bergerak dan sempat mengungsi ke luar kota, di mana Lapangan Udara Talang Betutu berada. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution pun diminta datang ke Palembang. Peristiwa Mayor Djuhartono itu terjadi pada 30 Maret 1957. “Kami mendarat dalam curah hujan yang keras, yang datang menjemput adalah komandan AURI Talang Betutu bersama pejabat komandan Resimen 5,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 4 Masa Pancaroba . Barlian terus menjadi Panglima di Sumatra Selatan. Djuhartono lalu ditarik dari Palembang. Buku Untuk Diingat dan Dikenang Menyambut HUT KODAM IV Sriwijaya ke XXVII menyebut Djuhartono katanya terpengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) lantaran peristiwa itu. Belakangan Djuhartono menjadi Ketua Golongan Karya sebelum Orde Baru berjaya. Setelah Peristiwa Mayor Djuhartono daerah Tentara dan Teritorium II kemudian terbelah menjadi dua. Ada yang menolak dan ada yang berpihak kepada PRRI. Mereka yang berpihak kepada PRRI adalah Mayor Nawawi. Letnan Kolonel Barlian, Panglima Tentara dan Teritorium II Sriwijaya di Sumatra Selatan. (Wikimedia Commons). Kahin menyebut Barlian tidak mendukung pemutusan hubungan terbuka dengan pemerintah pusat di Jakarta. Dia menolak PRRI tapi enggan menahan Mayor Nawawi ikut PRRI, meski Nasution sebagai atasannya memerintahkannya. Barlian tampak bersikap netral. Tidak masuknya kawasan Sumatra Selatan ke dalam PRRI menjadi kabar buruk bagi PRRI pusat di Sumatra Barat. Jika Sumatra Selatan bergabung dalam PRRI, maka Sumatra Selatan akan menjadi medan perang antara tentara PRRI dengan tentara pemerintah yang akan dikirim dari Jawa. Sumatra Selatan tentu menjadi sasaran pertama pemerintah pusat sebelum memasuki Sumatra Barat. Tanpa adanya Sumatra Selatan dalam PRRI, maka kerja tentara pemerintah pusat menjadi semakin mudah.Sumatra Barat dan sekitarnya segera menjadi sasaran penting. Tanpa Sumatra Selatan, PRRI juga kekurangan sumber daya. Tak hanya sumber daya manusia tapi juga sumber daya alam. Sumatra Selatan sejak lama merupakan daerah yang kaya hasil perkebunan dan energi bahan bakar seperti minyak bumi dan batubara. Baca juga:  Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Jika Sumatra Selatan terlibat penuh dalam PRRI, tentu PRRI akan mempunyai posisi yang kuat dan lebih sulit dihadapi oleh tentara pemerintah pusat. Namun, dengan posisi netralnya saja PRRI dengan cepat digulung pemerintah pusat. “Letnan Kolonel Barlian selaku Panglima TT II/Sriwijaya tidak dapat menerima kekerasan bersenjata dalam menangani pergolakan daerah,” tulis Hendarmin Djarab dkk. dalam Mendahului Semangat Zaman: Letkol Barlian Panglima TT II Sriwijaya 1956–1958 . Barlian melihat risiko kegagalan gerakan PRRI sendiri jelas sangatlah besar. Barlian, yang kelahiran Tanjung Sakti, kaki Gunung Dempo dekat Pagaralam, 22 Juli 1922 itu adalah anak seorang wakil kepala marga. Pernah belajar di HIS di Bengkulu dan MULO di Malang, serta bekerja di kantor pemerintah. Di zaman Jepang, dia menjadi perwira Gyugun (tentara sukarela) yang dilatih di Pagaralam. Di masa revolusi kemerdekaan di Bengkulu, diamenjadi Komandan Brigade TNI. Saat ini, Barlian adalah tokoh Sumatra Selatan yang cukup dikenang. Namanya telah menjadi nama jalan yang cukup penting di kota Palembang. Tempatnya dulu dihormati sebagai P anglima yang menjauhkan Sumatra Selatan dari perang dan pembantaian.*

  • Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir

    KEDUA ekornya yang membentang jadi penopang sepucuk laras baja sepanjang 3,17 meter. Moncongnya yang mengarah ke depan sedikit demi sedikit mendongak hingga elevasi 70 derajat seiring Kopral Dua (Marinir) Bintang R memutar tuas  elevasinya secara manual. Dalam hitungan detik, Howitzer LG-1 Mk II itu sudah dalam keadaan siap tempur dengan daya hancur seluas 200 meter persegi. Tentu saja artileri kaliber 105 milimeter itu tidak sedang diarahkan untuk memangsa suatu sasaran pada Jumat (16/9/2022) itu. Sang kopral sekadar sedang mendemonstrasikan howitzer buatan Prancis tersebut. Satu dari sekian alutsista itu sedang dipamerkan di Naval Expo TNI AL dalam rangka HUT TNI AL ke-77 di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11-18 September 2022. “Ini unit kita dari Yonhow-1 Mar (Batalyon Howitzer-1 Korps Marinir) ‘Sapu Jagad’. Ini satu dari tujuh unit kita. Kita sudah punya ini sejak 1995,” kata Kopda Bintang menerangkan kepada Historia. Howitzer buatan GIAT Industries asal Prancis saat sedang ditegakkan elevasi larasnya. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Howitzer yang tergolong artileri medan ringan itu punya jarak tembak maksimal 1,75 kilometer. Alutsita beroda dua ini juga punya bobot 1.520 kilogram. Jika ekor dan laras ringkasnya dilipat, ia dengan mudah ditarik truk militer ukuran sedang –Yonhow-1 biasanya menggunakan Mercedes Unimog– atau helikopter – Bell 412 atau AS332 Super Puma. Menurut Jeff Kinard dalam Artillery: An Illustrated History of Its Impact , howitzer LG-1 Mk II itu tergolong artileri semi-otomatis. Dengan diawaki lima kru, artileri ini paling cepat bisa menembakkan 12 peluru dalam satu menit. Sementara untuk menyiapkannya secara total dari kondisi terlipat ke kondisi siap tempur cuma butuh waktu 30 detik. “Jadi sudah tidak sepenuhnya manual. Contohnya setelah kita menembak, selongsongnya sudah keluar sendiri (dari buntut laras),” tandas sang kopda. Howitzer LG-1 Mk II yang tergolong artileri ringan dan ringkas. (Twitter @marinir_tni_al). Howitzer Rasa Prancis Meski usianya sudah tiga dekade, LG-1 Mk II tergolong salah satu yang paling modern di antara alutsista jenis artileri milik Korps Marinir TNI AL. Marinir punya Howitzer M1938 (M-30) kaliber 122 mm, Meriam Anti-udara M1939 (52-K) kaliber 85 mm, atau Meriam Anti-udara M1939 (61-K) kaliber 38 mm asal Uni Soviet. Howitzer LG-1 varian Mk II dibuat oleh perusahaan swasta Prancis, GIAT Industries (kini Nexter Systems), bekerjasama dengan Etablissement d’Études et de Fabrications d’Armement de Bourges (EFAB). Pengembangannya dimulai pada 1987. Prancis mengembangkannya berangkat dari kebutuhan militernya akan artileri medan yang ringan, ringkas, tapi punya daya gempur bukan kaleng-kaleng. Howitzer LG-1 juga dikembangkan untuk menggantikan beberapa artileri militer Prancis yang uzur peninggalan era Perang Dunia II seperti Howitzer M114 dan M114F kaliber 155 mm. LG-1 Mk II juga diharapkan bisa menyaingi alutsista buatan BAE Systems Inggris Howitzer L118 kaliber 105 mm, yang sudah mendominasi pasar ekspor di kelasnya sejak 1976. “Tahun 1987, tiga purwarupanya dibuat Etablissement d’Études et de Fabrications d’Armement de Bourges untuk percobaan lanjutan. Kemudian diikuti tiga unit pra-produksinya. Di akhir 1990 Singapura jadi pelanggan (asing) pertamanya dengan memesan 37 unit untuk dua batalyon artileri mereka, di mana unit-unitnya dikirimkan antara 1992-1993,” tulis Christopher Frank Ross dalam Jane’s Armour and Artillery. Varian dasar Howitzer LG-1. (Wikipedia). Pada awal 1994, Indonesia mengikuti jejak Singapura. Sejumlah LG-1 Mk II dipesan untuk pembaruan alusista di Korps Marinir. “Di awal 1994 Indonesia melakukan pesanan dan kerjasama dengan GIAT Industries untuk 20 unit howitzer ringan LG1 Mk II plus sejumlah paket amunisi dan pelatihan. Berturut-turut pesanannya terkirim pada 1995 dan 1996,” imbuh Ross. Howitzer LG-1 Mk II pesanan Indonesia itu jadi andalan Korps Marinir dalam operasi di Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh sejak 1995. Sejumlah unitnya jadi penyokong sejumlah misi gabungan dalam Satgas (Satuan Tugas) Rencong Sakti VI pada 1995, Satgas Rencong Sakti VII pada 1996, hingga Satgas Rencong Sakti XXII-XXX (2003-2005). “Daerah operasi mulai efektif sejak tahun 1990, terbagi tiga sektor dan tiga satuan tugas. Satuan Tugas Marinir (berfungsi untuk mengisolasi posisi satuan Gerakan Pengacau Keamanan Aceh Merdeka pada lokasi-lokasi strategis). Pusat industri di Aceh Utara juga dikepung markas-markas militer. Di bagian Utara terdapat markas Marinir dan Kopassus dan di bagian selatan ada markas Arhanud,” kata buku terbitan KontraS, Aceh: Damai dengan Keadilan? Empat pucuk LG-1 Mk II itu juga jadi alutsista pendukung Satgas Merah Putih 2011 dalam rangka operasi pembebasan sandera kapal MV Sinar Kudus yan disandera para perompak Somalia. Namun tak satupun howitzer yang dibawa di lambung kapal LPD (Landing Platform Dock) KRI Banjarmasin (592) itu memuntahkan peluru lantaran keadaan sudah bisa diatasi tim pasukan khusus gabungan (AD dan AL) tanpa bantuan artileri. Varian Howitzer LG-1 Mk II yang digunakan sejumlah militer dunia termasuk Indonesia. (nexter-group.fr/tni/mil/id). Peluncur Roket Legendaris Eropa Timur Tak jauh dari Howitzer LG-1 Mk II tadi, terdapat satu unit alutsista yang punya daya gempur besar tapi lebih mobile . Ia adalah MLRS (multiple rocket launcher system) atau peluncur roket Raketomet vzor 1970 (RM-70) buatan Cekoslovakia (kini Republik Ceko dan Republik Slowakia) versi “Vampire”. Harold A. Skaarup dalam Ironsides: Canadian Armoured Fighting Vehicle Museums and Monuments mencatat, “Vampire” adalah versi keenam atau paling mutakhir RM-70 yang punya keunggulan lebih dari versi-versi lainnya seperti versi dasar RM-70 “Grad” atau versi fire control dan navigasi modern RM-70/85M. RM-70 “Vampire” merupakan versi yang telah ter- upgrade dengan mesin delapan silinder dan drive system semi-otomatis. Versi dasar RM-70 “Grad” dikembangkan AD Cekoslovakia dari MLRS BM-21 “Grad” asal Uni Soviet yang sudah eksis pada 1960-an. RM-70 menjadi varian MLRS yang lebih berat, baik bobot kendaraan, pelindung lapis baja, maupun daya hancur roketnya. “ČSLA (Tentara Rakyat Cekoslovakia) mengadopsi sistem (peluncur roket) BM-21 Soviet tapi tak ingin menggunakan truk non-lapis baja. Mereka mengembangkan sebuah versi dengan truk Tatra 813 yang dilapisi baja. Ia juga lebih besar dari BM-21 dan juga punya loading system yang semi-otomatis,” ungkap buku Soviet/Russian Armor and Artillery Design Practices: 1945-1995. MLRS Raketomet vzor 1970 (RM-70) buatan Ceko. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Versi dasar RM-70 “Grad” punya bobot 33,7 ton dengan panjang kendaraan 8,75 meter. Dalam satu unit, lazimnya diawaki enam personil baik untuk mobilitasnya yang punya kecepatan maksimal 85 kilometer per jam dan untuk daya gempurnya dengan kapasitas 40 roket kaliber 122,4 mm. Persenjataan sekundernya diperkuat sepucuk senapan mesin Uk vz.59. “Roket yang digunakan biasanya masih roket Soviet 9M22 dan 9M28, atau roket lokal pengembangan mandiri dengan kaliber yang sama. Penggunaan truk Tatra 813 itu sangat berguna karena membuatnya punya ruang yang lebih dari cukup untuk membawa sistem peluncur berisi 40 roket. Roket-roketnya bisa ditembakkan satu per satu atau dengan metode volley fire dengan area penghancuran mencapai tiga hektare dalam sekali volley ,” lanjut Skaarup. Selain digunakan ČSLA, mulanya RM-70 dibuat untuk pesanan di antara circle blok Timur seperti Jerman Timur dan Bulgaria. Pasca-kolapsnya Uni Soviet, RM-70 diekspor ke sejumlah negara Eropa Barat, Amerika Utara dan Amerika Selatan, Afrika, hingga Asia. Maka RM-70, baik versi dasar maupun versi-versi lanjutan, hampir selalu eksis di berbagai palagan. Perang Sahara Barat (1975-1991), konflik Afghanistan (1978-2001), Perang Saudara Sri Lanka (1983-2009), hingga Perang Saudara Yaman (sejak 2014) dan operasi militer Rusia ke Ukraina yang masih berkobar sampai sekarang. Indonesia sendiri, khususnya Korps Marinir, memiliki sembilan unit RM-70 “Grad” sejak 2003. Sementara RM-70 “Vampire” yang termutakhir sebanyak delapan unit baru memperkuat Batalyon Roket-1 Marinir sejak 2016, yang acap digunakan untuk beragam latihan rutin korps dan latihan gabungan. MLRS RM-70 "Vampire" yang sudah dimiliki Korps Marinir TNI AL sejak 2016. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

  • Jalan Terjal Ngesti Pandowo

    AWAL tahun 2022 menjadi babak baru yang cukup mengharukan bagi para pemain Wayang Orang Ngesti Pandowo. Setelah hampir dua tahun vakum karena pandemi Covid-19, mereka dapat pentas kembali pada Sabtu (8/1) malam di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Semarang. Lakon  (tema) yang mereka tampilkan: “Semar Boyong”. Wayang orang Ngesti Pandowo merupakan kelompok wayang orang legendaris di Indonesia. Di masa jayanya, Ngesti Pandowo sering dipanggil Presiden Sukarno maupun Soeharto, yang sama-sama penggemar wayang, untuk pentas di Istana Negara.   “(Pasca Soeharto, red .) Kalau ke Istana nggak . Artinya, untuk presiden setelah Soeharto, ya nggak  pernah (pentas di Istana). Pernah pentas di Jakarta, tapi mungkin pentas di TIM, di Taman Mini. Biasanya seperti itu,” ujar Dhanang Respati Puguh, dosen di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, kepada Historia .  Kisah Ngesti Pandowo bermula dari sosok bernama Sastro Sabdo. Ia merupakan anggota kelompok wayang Sadyo Wandowo di Surabaya. Lantaran Sadyo Wandowo bubar akibat kalah bersaing dengan perkumpulan-perkumpulan wayang orang lain di Surabaya, Sastro Sabdo mendirikan kelompok baru yang diberinya nama Ngesti Pandowo. Modalnya berasal dari dari uang simpanannya dan tambahan dari seorang perempuan keturunan Tionghoa. Pada 1 Juli 1937, sebuah pasar malam bernama Pasar Oranye dihelat di Maospati, Madiun. Di antara kerumunan penonton, terdapat orang Belanda penggemar wayang dan lumayan fasih bicara bahasa Jawa. Sastro Sabdo mendekati orang tersebut, mengajak menari. Orang Belanda tersebut mau lalu ikut tampil menjadi tokoh Werkudara. Pertunjukan itu menjadi pertunjukan perdana Ngesti Pandowo, dengan peralatan yang disewa dari pihak lain. “Pertunjukan tersebut tidak dilakukan di dalam gedung atau bangunan yang permanen, tetapi mendirikan sebuah panggung dari bahan bambu atau yang sering disebut tobong, ” tulis  Haryono Rinardi, dosen sejarah sosial Universitas Diponogoro, dalam penelitiannya berjudul Perkumpulan Wayang Orang   Ngesti Pandawa (1937–2001) Studi Tentang   Menejemen Seni Pertunjukan. Berpindah-pindah Tempat Dari Madiun, Ngesti Pandowo memulai pentasnya dari kota ke kota. Namun hanya di seputaran Jawa Timur: Surabaya, Kediri, Nganjuk, Blitar, Madiun, dan Malang. Setiap ada pasar malam, mereka hampir selalu tampil di sana. Pada awal 1942, Jepang masuk ke Jawa. Pengawasan ketat terhadap segala aktivitas masyarakat diberlakukan antara lain lewat sensor setiap kegiatan publik dan juga pemberlakuan jam malam. Akibatnya, jumlah penonton Ngesti Pandowo berkurang dan imbasnya, pendapatannya pun menurun. Kondisi tersebut memaksa Ngesti Pandowo memutar otak supaya tetap bertahan. Hijrah mendekati pusat kebudayaan seperti Surakarta pun dipilih sebagai solusi.  Ngesti Pandowo lalu memilih Klaten sebagai tempat persinggahannya karena diyakini  wilayah tersebut penduduknya banyak yang menyukai kesenian tradisional. Kendati mendapat sambutan baik dari masyarakat, eksistensi Ngesti Pandowo di Klaten  hanya bertahan sebentar. Pada 1948, di Delanggu, Klaten, Tentara Republik Indonesia meminta anggota Ngesti Pandowo untuk meninggalkan tempat pertunjukan karena akan dibakar untuk menghambat masuknya pasukan Belanda. “Sastro Sabdo selaku pimpinan Ngesti Pandowo mengajak anggotanya pindah ke Begalon, Surakarta. Dalam perjalanan dari Delanggu ke Begalon sering terjadi pemeriksaan oleh anggota KNIL dan harus rela berhenti cukup lama saat terjadi pertempuran. Ternyata saat sampai di Begalon, mereka tetap tidak bisa melakukan pementasan. Bahkan anggota perkumpulan ini terkena kewajiban untuk melakukan kerja membersihkan ruangan dan lingkungan di tangsi pasukan KNIL, yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga sore hari. Imbalan yang mereka terima dari kerja itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Puncaknya  ketika Truno Kartiko, anggota Ngesti Pandowo tertembak dan meninggal saat terjadi gencatan senjata,” kata Dhanang Respati Puguh, dosen sejarah Universitas Diponogoro, dalam penelitiannya berjudul “ Pertunjukan Kethoprak Ngesti Pandowo, 1950-1996 ”, termaktub di buku Ngesti Pandowo: Sejarah Dari Masa ke Masa . Ketika situasi sudah memungkinkan untuk menggelar pementasan kembali, pada 1949 Ki Sastro Sabdo mengumpulkan kembali anggota yang tercecer. Beberapa yang masih memiliki hubungan baik langsung diajaknya membangun kembali Ngesti Pandowo. Mereka kemudian pindah ke Semarang. Ngesti Pandowo tampil di Pasar Malam Jalan Ki Mangunsarkoro. Namun aral melintang tetap merintanginya. “Pak Kusni,  sutradara, tahun 1949 pernah dipanggil Belanda, dimintai keterangan ini pertunjukan apa, apa maksudnya, dikhawatirkan sebagai mata-mata ,” tulis Sujarno dkk. dalam buku terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia  Wayang Orang Ngesti Pandowo (2001-2015) . Tokoh pendahulu Ngesti Pandowo. (joss.co.id). Masa Kejayaan Usai perang menjadi lembaran baru bagi Ngesti Pandowo. Pada 1950, Walikota Semarang Hadi Supeno   Sosrowardoyo meminta Ngesti Pandowo menetap di kota tersebut. Ia memberikan tempat untuk Ngesti Pandowo pentas di Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Ngesti Pandowo menempati barak belakang gedung tersebut. Empat tahun kemudian, walikota Semarang membuatkan gedung pertunjukan secara khusus yang masih di dalam Kompleks GRIS. Masyarakat Semarang dan sekitarnya semakin menyukai pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo. Penonton akan semakin banyak jika ada perayaan, entah lebaran atau pasar malam. “Kalau ada pasar malam atau lebaran, satu hari mainnya sampai lima kali,” tulis Sujarno dkk. Kondisi tersebut jelas menambah pundi-pundi penghasilan para pemainnya.   Namun, Ngesti Pandowo juga menjadikan kepopulerannya sebagai sarana untuk beramal. “Pada saat terjadi bencana alam Gunung Merapi meletus 1953, Ngesti Pandowo pentas dalam rangka pengumpulan dana,” kata Moehadi dalam Wayang Orang Ngesti Pandawa Sejarah Singkat dan Usaha Pengembangannya. Mengetahui hal itu, Presiden Sukarno tertarik. Ia memanggil Ngesti Pandowo untuk pentas di Istana Merdeka dan Istana Bogor. Prestasi dan kiprah Ngesti Pandowo di bidang kesenian dan kemanusiaan membuat kelompok tersebut memperoleh penghargaan piagam Wijayakusuma dari presiden pada 1962. Setelah itu, Istana berkali-kali mengundang Ngesti Pandowo pentas untuk menyambut tamu-tamu negara. Biasanya, saat Presiden Sukarno akan menonton, ia memiliki permintaan untuk dijemput dan disambut oleh penari srimpi. Popularitas Ngesti Pandowo makin meningkat ketika rezim Orde Baru berkuasa. Pemerintah menjadikan Ngesti Pandowo salah satu agen penyebaran informasi program-program Pelita (Pembangunan Lima Tahun) yang sedang gencar dilaksanakan pemerintah. Pesan pembangunan biasa disampaikan dalam adegan goro-goro.   Namun, kejayaan Ngesti Pandowo sejatinya bukan hanya karena perhatian lebih dari pemerintah. Kreativitas para pengurusnya juga berperan besar. Kreativitas itu dibuktikan dengan pembuatan trik-trik pementasan “Gatot Kaca terbang”, “Anoman Obong”, atau “Dewa Ruci” seperti bioskop. Saat itu menonton bioskop merupakan sesuatu yang mewah. “Penonton dibuat kagum, seakan-akan adegan tersebut sungguh-sungguh terjadi, mereka terhanyut di dalam alur cerita atau adegan tersebut,” menurut Sujarno dkk. Berbekal pemasukan dari pentas-pentas yang dimainkannya, Ngesti Pandowo semakin profesional dengan membeli seperangkat gamelan. Di luar urusan teknis, Ngesti Pandowo amat memperhatikan kesejahteraan para anggotanya. Selain mendirikan asrama untuk para anggotanya, Ngesti Pandowo memberikan biaya pengobatan hingga bantuan untuk biaya sekolah anak para anggotanya. Kemunduran Para paruh kedua 1970-an, pemerintah gencar membagikan pesawat televisi ke berbagai daerah usai mengoperasionalkan Satelit Palapa A-1. Masyarakat semakin gencar menonton televisi meski pesawat televisi baru terjangkau kelas menengah ke atas. Akibatnya, Ngseti Pandowo mulai kehilangan penontonnya. Kerugian Ngesti Pandowo semakin menanjak dari tahun ke tahun. Kompas  edisi 9 Oktober 1982 memberitakan bahwa Ngesti Pandowo kesulitan keuangan sehingga terpaksa menjual salah satu perangkat gamelannya. Beruntung tidak semua gamelannya yang dijual.   “Saat ini masih ada gamelan lama Ngesti Pandowo yang disimpan di Asrama Ngesti. Gamelan tersebut memiliki kualitas sangat bagus namun sudah tidak digunakan lagi,” kata Dhanang. Kemunduran Ngesti Pandowo bukan hanya karena kemunculan media-media dan produk-produk kesenian baru, namun juga akibat kehilangan semangat karena ditinggal oleh para pendirinya seperti Ki Sastro Soedirdjo (1984) dan Ki Narto Sabdo (1985). Belum lagi, kreativitas-kreativitas yang mereka lakukan sudah mudah diikuti kelompok kesenian lain. Keunikan Ngesti Pandowo berkurang drastis. Masalah kian pelik karena pihak GRIS, tempat Ngesti Pandowo pentas, mulai berniat menjual lahannya pada 1990 lantaran merasa selalu rugi. Lahan itu akhirnya dijual GRIS pada 1994. Ngesti Pandowo pun angkat kaki dengan pesangon sebesar 500 juta rupiah. Tempat yang dipilih Ngesti Pandowo pasca-GRIS adalah Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Dua tahun di sini, Ngesti Pandowo pindah lagi lantaran rugi karena TBRS kurang strategis. Ngesti Pandowo lalu memilih ke Taman Rekreasi Istana Majapahit.   Meskipun bertahan di Istana Majapahit hingga tahun 2001, Ngesti Pandowo tetap merugi. Saking defisitnya, di awal tahun 2001, Ngesti Pandowo harus vakum dari pementasan selama tiga bulan. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota (pemkot) Semarang turun tangan. Ngesti Pandowo dipinjami Gedung Ki Narto Sabdo di Taman Budaya Raden Saleh tanpa biaya sewa maupun listrik dengan jatah pemakaian hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, pemkot juga meminjamkan gamelan. “Kalau sekarang, pentas di Gedung Ki Narto Sabdo itu menggunakan gamelan milik pemkot,” kata Dhanang. Berbekal dukungan Pemkot Semarang itulah ngesti bertahan dari gempuran zaman yang kini sedang “dicengkeram” K-Pop. Kendati sempat lumpuh akibat pandemi Covid-19, Ngesti Pandowo kini kembali lagi. “Ngesti Pandowo itu sebelum pandemi pentasnya kan seminggu sekali, tiap malam Minggu. Pada saat pandemi ya mandek, nggak pentas. Kelihatannya ini sudah normal kembali ya, setiap malam Minggu,” ujar dosen yang kerap dijuluki “anak angkat” Ki Narto Sabdo itu.*

  • Adieu, Jean-Luc Godard!

    PRANCIS kehilangan “harta nasional”, begitu kata Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam cuitannya di akun Twitter -nya , Selasa (13/9/2022), usai mendengar kabar duka meninggalnya sutradara nyentrik Jean-Luc Godard. Godard wafat di usia 91 tahun akibat bunuh diri dengan euthanasia atau suntikan mati –yang dilegalkan di Swiss– di kediamannya di Rolle, Swiss pada 13 September 2022. “Beliau mencari jalan lain dalam hal bantuan hukum di Swiss untuk ‘pergi’ secara sukarela karena beliau menderita beberapa penyakit yang tak bisa disembuhkan. Beliau wafat di kediamannya dalam damai dengan didampingi istri (ketiga), Anne-Marie Miéville saat menjelang maut,” ungkap kuasa hukum mendiang Godard, Patrick Jeanneret, dikutip The Guardian , Selasa (13/9/2022). Selain Presiden Prancis, eks-Menteri Kebudayaan (2002-2012) Prancis Jack Lang, sebagaimana dilansir CBC , Selasa (13/9/2022), juga merasa kehilangan. “Kita berutang banyak kepadanya. Ia menyemarakkan sinema dengan puisi dan filosofi. Matanya yang tajam dan unik membuat kita bisa melihat segala sesuatu yang tak kasat mata,” kata Lang. Sineas Inggris Edgar Wright mengungkapkan bahwa mendiang Godard jadi salah satu sosok legenda yang menginspirasi banyak sutradara hebat. Martin Scorsese dan Quentin Tarantino di antaranya. “Mungkin tidak ada sutradara lain selain dia yang paling menginspirasi banyak orang untuk mengambil kamera dan memulai syuting,” kata Wright. Aktor kawakan Antonio Banderas juga mengaturkan rasa dukanya. “Terima kasih Tuan Godard telah memperluas batasan-batasan yang ada dalam sinema,” kata Banderas. Empat penggerak lain French New Wave (searah jarum jam) Éric Rohmer, Claude Chabrol, Jacques Rivette & François Truffaut. (IMDb/BFI/Uni France). Dalam jagad sinema dunia, jika bicara Nouvelle Vague  atau “French New Wave” (gelombang baru), Godard punya kontribusi besar. Dia memang bukan pencetus, “godfather”, atau “Bapak French New Wave”. Namun film-film suksesnya membuat gelombang baru itu bisa mengglobal, menginspirasi, hingga ditiru dan dimodifikasi banyak sutradara kondang macam Scorsese dan Tarantino. French New Wave, sebagaimana yang dicatat kritikus James F. Monaco dalam The New Wave: Truffaut, Godard, Chabrol, Rohmer, Rivette,  merupakan satu gebrakan dalam seni perfilman yang melintas batas-batas tradisional sejak era pra-Perang Dunia II. Gerakan gelombang baru itu mencuri perhatian publik global lewat plot maupun alur cerita yang tidak lurus dan logis. Seringkali prosesnya eksperimental dengan gaya pengambilan gambar serta susunan adegan yang tidak rapi, dan sangat kental dengan ikonoklasme dalam karya-karyanya. Maka mereka yang melakoninya dicap radikal karena film-film yang dihasilkan dinilai kasar dan subversif pada zamannya meski secara estetik juga sarat dengan kosmetik sinematik. French New Wave sendiri dicetuskan novelis, kritikus cum  sineas Prancis Alexandre Astruc. Ia mengabadikan gagasannya dalam “Naissance d’une nouvelle avant-garde: la caméra-stylo” (“The Birth of a New Avant-Garde”) yang dimuat majalah L’Écran  edisi 30 Maret 1948. “Akan tetapi baru 10 tahun kemudian hingga akhirnya para sineas New Wave memenuhi mimpi Astruc dan mempraktikkan teorinya. Pada 1950-an para sineas ini ditempa di klub-klub film seperti Cinémathèque Française, di mana di antara tokoh pentingnya adalah (François) Truffaut, Godard, Éric Rohmer (alias Maurice Schérer), (Claude) Chabrol, dan (Jacques) Rivette yang menulis di (jurnal film) Cahiers du Cinéma  yang didirikan André Bazin. Oleh karenanya godfather -nya New Wave tak lain adalah Henri Langlois si pendiri Cinémathèque yang memberikan banyak materi tentang kritik film tapi Bapak New Wave-nya sendiri adalah Bazin,” ungkap Monaco. Peran Godard menjadi besar karena pada 1960-an beberapa dari ratusan karyanya yang lintas genre benar-benar mengglobalkan New Wave dan mengguncang jagat sinema dunia. Sebut saja À bout de souffle  ( Breathless , 1960); Le petit soldat  ( The Little Soldier , 1960); Vivre sa vie  ( My Life to Live , 1962); Les Carabiniers  ( The Carabineers , 1963); dan Le Mépris  ( Contempt,  1963). Dari Proyek Bendungan ke Jagat Sinema Lahir di Paris, Prancis pada 3 Desember 1930, Godard tumbuh di keluarga kaya Prancis-Swiss. Ayahnya, Paul Godard, seorang dokter dan ibunya, Odile Monod, merupakan putri dari salah satu bankir paling berpengaruh di Prancis cum  pendiri BNP Paribas, Julien Monod. Di masa kecilnya, Godard dibawa keluarganya mengungsi ke Swiss demi menghindari Perang Dunia II. “Godard menikmati masa-masa pertumbuhannya dengan banyak literasi yang kemudian mempengaruhi minatnya pada perfilman. Darah seninya diturunkan dari kakek dari garis ibunya yang seorang penyair, Paul Valéry. Godard juga sempat studi antropologi di Sorbonne (Université de Paris, red. ) walau kemudian drop out  dan sepanjang masa mudanya sempat bekerja serabutan. Dia menghindari wajib militer di Prancis dan Swiss dengan berkelana ke Amerika Utara dan Amerika Selatan,” tulis Douglas Morrey dalam biografi Jean-Luc Godard. Lima tahun pasca-Perang Dunia II, Godard yang sudah menaruh minat besar pada perfilman menggabungkan diri ke beberapa klub film, di antaranya Cinémathèque Française dan Ciné-Club du Quartier Latin (CCQL). Di masa itu ia memilih untuk hidup lebih bebas dan mandiri di tengah kekisruhan rumah tangga orangtuanya yang berakhir perceraian. Di klub-klub itu pula Godard mulai akrab dengan para cinephile  yang radikal dalam gagasan pergerakan film: Truffaut, Rohmer, Chabrol, dan Rivette. Mereka semua di bawah asuhan dan bimbingan Langlois dan Bazin. Mereka menuangkan banyak pemikiran soal film di jurnal yang kritis soal film, Cahiers du Cinéma . Dari kritikus film, Godard mulai tergoda untuk membuat film sendiri. Tak lama setelah kontraknya sebagai pekerja proyek Bendungan Grande Dixence di Plaz Fleuri, Hérémence, Swiss, selesai pada 1954, ia membuat film sendiri. Godard bisa bekerja di proyek bendungan itu lewat bantuan Jean-Pierre Laubscher yang juga bekerja di proyek yang sama. Laubscher merupakan kekasih ibunya, Odile, usai sang ibu bercerai dari Paul Godard. “Di situ ia melihat kemungkinan membuat dokumenter tentang bendungan. Ia melakukannya dengan kamera 35 milimeter pinjaman dari temannya. Film yang diberi judul Operation béton  ( Operation Concrete , 1955) itu diapresiasi dan oleh perusahaan (proyek bendungan) dijadikan salah satu publisitas perusahaannya,” ungkap Richard Brody dalam Everything in Cinema: The Working Life of Jean-Luc Godard. Film pertama Godard berupa dokumenter berdurasi 10 menit. (IF Cinéma). Setelah banyak memproduksi dokumenter, Godard masuk ke film feature  pada 1960. Ia menggebrak dunia sinema dengan À bout de souffle  ( Breathless ). Film drama kriminal yang dibintangi Jean-Paul Belmondo dan Jean Seberg itu skenarionya ditulis Godard bersama Truffaut dan Chabrol dengan dinaungi rumah produksi Les Films Impéria. Dengan biaya produksi hanya 400 ribu franc, Breathless  yang mengglobal bisa mengumpulkan laba hingga 2,3 juta franc. “Godard memperkenalkan salah satu inovasinya di (film) À bout de souffle  dengan menggunakan teknik jump-cut . Teknik yang revolusioner seperti halnya seorang novelis atau penyair menggunakan (tanda baca) titik koma,” sambung Monaco. Gebrakan lainnya, lanjut Monaco, Godard mengenalkan proses syuting di lokasi outdoor ketimbang di studio yang lazim ditemui dalam film-film klasik. Pun dengan penggunaan kamera genggam 35 mm yang ambience -nya lebih mirip dokumenter. Godard juga punya kebiasaan di lokasi syuting menuliskan dialog-dialog baru untuk menambah alur cerita dalam  outline  skenario karya Truffaut, ketimbang mempersiapkannya jauh-jauh hari. “Godard memang ingin Breathless dibuat seperti dokumenter, dengan kamera genggam tanpa (kamera) bertripod dan pencahayaan yang minimum. Hasilnya mirip newsreel , lebih praktis, dan memberikan komponen-komponen film yang lebih estetik,” lanjut Brody. Godard (kanan) bersama aktris yang membintangi Breathless , Jean Dorothy Seberg. (oscars.org). Breathless  yang rilis pada 16 Maret 1960 di Paris, meledak. Filmnya menarik penonton yang luar biasa besar, tak hanya di bioskop-bioskop Prancis tapi juga sampai ke Eropa dan Amerika berkat sejumlah ulasan kritikus film yang positif akan praktik jenius dari gagasan New Wave-nya Astruc. “Di sinilah, pada faktanya, karya otentik pertama yang ditulis dengan caméra-stylo ,” catat kritikus Gérald Devries yang menulis di kolom Démocratie 60 , dikutip Brody. Kritikus Gilbert Salachas ikut mengapresiasi soal “gebrakan” itu dengan menulis  kolom untuk majalah Radio-Cinéma-Television . “Yang menjadikan Breathless  berbeda adalah anarki yang spektakuler dalam hal tone -nya, gambar, dan bahasa. Ekstremisme macam ini merupakan presentasi yang orisinal dan nyaris seperti sebuah manifesto,” ujar Salachas. Karya-karya lain Godard yang juga meledak di pasaran. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, Godard mulai menyisipkan isu-isu politik dan geopolitik yang memanas di awal-awal Perang Dingin ke dalam film-filmnya seperti Le petit soldat  dan Les Carabiniers.  Bahkan, menjelang era 1970-an, Godard makin radikal dan kekiri-kirian. Nuansa Marxisme itu begitu terasa dalam karya-karya La Chinoise  ( The Chinese , 1967) hingga Weekend  (1967). Bersama Jean-Pierre Gorin, Godard lalu mendirikan komunitas sineas kiri Dziga Vertov Group. Ia menyuarakan politik anti-imperialismenya lewat sejumlah film, seperti Tout va bien  (1972) dan Letter to Jane  (1972). Komunitas itu terinspirasi dari tokoh sineas Uni Soviet, Dziga Vertov, yang banyak menghasilkan dokumenter radikal di era 1920-an. “Baru pada 1980-an Godard kembali ke film-film fiksi tradisional dengan karyanya, Sauve qui peut  ( Every Man for Himself , 1980), atau film-film yang terinspirasi dari kejadian nyata seperti Passion  (1982); Lettre à Freddy Buache  ( A Letter to Freddy Buache , 1982); Prénom Carmen  ( First Name: Carmen , 1983); atau Je vous salue, Marie  ( Hail Mary , 1985) dan King Lear  (1987) yang tak kalah kontroversial hingga dikecam Gereja Katolik,” tambah Brody. Karier Godard tak luput dari kontroversi mengingat ia sineas radikal yang sempat mengusung ideologi kiri. (oscars.org/goldenglobes.com). Hingga 2018, Godard konsisten menyelipkan isu-isu politik dalam karya-karyanya menjelang akhir hayatnya. Antara lain Notre musique  ( Our Music , 2004) dan Film Socialisme  ( Socialism , 2010) yang merefleksikan kekerasan pasca-era kolonialisme dalam konflik Pengepungan Sarajevo, konflik suku pribumi Amerika, hingga konflik Israel-Palestina. Film terakhirnya, Le Livre d’image  ( The Image Book , 2018), menggambarkan dunia Arab di masa modern dikaitkan dengan sejarah film dan sejarah kekerasan holocaust , terorisme ISIS, hingga konflik Israel-Palestina. Lewat film ini Godard ingin mendekonstruksi narasi tentang masyarakat Arab yang digambarkan dan dipropagandakan film-film Barat. “ The Image Book  adalah film esai yang menggunakan koleksi footage , foto, dan lukisan Godard sendiri secara montase. Dibuat mirip seperti Histoire(s) du Cinéma  (1988) dengan menganisis sejarah sinema yang menggambarkan dunia Arab. Sarat sindiran dan perwujudan paradoks kariernya. The Image Book  juga menyimpan rasa sakit, kedukaan, penyesalan dari pengalamannya yang selama ini disembunyikan, termasuk dari dirinya (Godard) sendiri,” tandas Brody dalam kolomnya di   The New Yorker , 25 Januari 2019.*

  • Serdadu KNIL Jawa di Kalimantan Utara

    SUATU hari pada 1960-an, Kolonel Suhario Padmodiwirio mengadakan inspeksi ke daerah yang kini termasuk Provinsi Kalimantan Utara. Kala itu, sang kolonel yang dikenal sebagai Hario Kecik, menjabat panglima Komando Daerah Militer (Kodam) yang bertanggung jawab atas daerah Kalimantan Utara dan Timur. Kodam itu berpusat di Balikpapan. Ketika lelah melakukan inspeksi, dia diajak makan. “Uwis jam piro, Mas?” kata seorang tua asli daerah itu tapi bukan orang Jawa. Artinya “sudah jam berapa, Mas?” Hario Kecik merasa heran. “Eh, Opo Pake ngerti coro Jowo?” tanya Hario Kecik. Artinya “Eh, apa Bapak mengerti bahasa Jawa?” Orang tua itu hanya meringis saja. “Makanan sudah ada, mari makan, Pak,” kata pria tua itu. Hario Kecik semakin bingung. Kapten Tosin menghampiri Hario Kecik dan mengatakan bahwa makanan sudah siap. Hario Kecik lalu bertanya pada Tosin soal percakapan yang membingungkan antara dia dan bapak tua tadi. Tosin pun segera bertanya ke bapak tua itu. Jawabannya membuat Tosin tertawa.

  • Tak Ditangkap Polisi, Sayuti Melik Dongkol

    PADA Mei 1923, belasan ribu buruh kereta api dan trem di seluruh Jawa mogok massal. Penyebabnya, gaji mereka dipangkas dan penghapusan tunjangan karena resesi ekonomi. Serangkaian pemogokanpun dilakukan dari Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung hingga Batavia. Di Solo, Sayuti Melik turut serta bersama para buruh menyebarkan pamflet-pamflet pemogokan. Ia masih berusia 15 tahun. Namun, ia kerap mendatangi rapat-rapat aksi dan urun bicara di berbagai forum. Saat itu, seorang kawan Sayuti Melik ditangkap polisi karena tertangkap basah menyebarkan pamflet propaganda. Namun, Sayuti Melik justru dibiarkan saja. Ia hanya ditanya, “Nopo niku, gus?” atau “apa itu, gus” oleh seorang polisi merujuk pada pamflet yang dibawanya.

  • An Indonesian Hero Behind the New York Strike

    KALIBATA, 23 August 1972. There was a gentle tapping from the door that night at around nine. Muhammad Ali raised up from his seat and opened the door revealing a familiar face of his neighbor. Ali welcomed him in.

  • Ratu Elizabeth II dan Lukisan Sunda Kelapa

    JIKA hubungan Inggris dan Indonesia begitu tegang pada masa pemerintahan Sukarno. Lain cerita ketika Soeharto berkuasa. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Ratu Elizabeth II disambut dengan hangat dalam kunjungannya pada Maret 1974. Seperti diceritakan Wardiman Djojonegoro dalam Sepanjang Jalan Kenangan, persiapan untuk menyambut kedatangan Ratu Elizabeth II bahkan telah dilakukan enam bulan sebelumnya. Saat itu, bagian protokol Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menghubungi Wardiman untuk menyusun acara selama kunjungan. Wardiman kala itu menjabat sebagai Kepala Biro II yang membawahkan Dinas Kehumasan dan Keprotokolan Provinsi DKI Jakarta. “Setiap mata acara oleh protokol Inggris dibicarakan sangat detail. Bahkan sampai dihitung berapa menit waktu yang diperlukan dari satu acara ke acara yang lain, atau jika berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain,” kata Wardiman.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page