Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berpulangnya Mundardjito, Bapak Metodologi Arkeologi Indonesia
Mundardjito, arkeolog senior sekaligus mantan Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia, wafat pada Jumat, 2 Juli 2021. Jenazah Prof. Otti, sapaan akrab Mundardjito, dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta, pada Sabtu, 3 Juli 2021. Prof. Otti dikenal sebagai arkeolog yang teguh pendirian dengan pandangan keilmuan yang kuat dan guru yang memberi perhatian penuh pada muridnya. Dia mendedikasikan hampir 3/4 hidupnya untuk pengembangan dan pemanfaatan arkeologi bagi rakyat Indonesia. “Pengaruh pemikiran beliau yang kuat dan kepribadiannya yang teguh. Kadang kami dijewer juga oleh beliau karena ada banyak langkah yang tidak sejalan dengan pandangan beliau,” kata Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan dalam acara daring Pemakaman Prof. Mundardjito, Sabtu, 3 Juli 2021. Sementara itu, Win Djuwita Ramelan, mantan murid Mundardjito sekaligus Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), mengenang Prof. Otti sebagai guru yang mencintai murid-muridnya dan dicintai balik oleh murid-muridnya. “Seluruh Indonesia ini merasa kehilangan. Ya, murid-muridnya... Saya baru melihat guru yang seperti itu,” kata Win. Prof. Otti lahir di Bogor pada 8 Oktober 1936. Sejak kecil, dia tertarik dengan tinggalan arkeologi seperti candi dan prasasti. Minatnya kian bertambah ketika dia bertemu dengan seorang guru dari Jakarta yang juga seorang arkeolog. Setelah lulus SMA, Prof. Otti masuk ke jurusan arkeologi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1956. Selama kuliah arkeologi, dia merasakan keasyikan dengan dunianya. Arkeologi memberikannya pengalaman seolah-olah menjadi detektif. Karena itulah dia bulat memutuskan hidup untuk mengabdi di dunia arkeologi. Selepas lulus pada 1963, Prof. Otti mulai mengajar di almamaternya. Dia kemudian melanjutkan pendidikan non-gelar kajian metodologi arkeologi di Universitas Athena, Yunani pada 1969–1972. Dia kembali menjajaki pendidikan non-gelar kajian teori arkeologi di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 1978–1979. Dari dua tempat itu, Prof. Otti mendapatkan banyak cara pandang dan metodologi baru terkait arkeologi. Antara lain tentang pelestarian tinggalan arkeologi, metode penggalian (ekskavasi) situs arkeologis, dan pemanfaatan ilmu lain untuk membantu arkeologi. Meski kenyang mempelajari metodologi dan teori, Prof. Otti sangat menekankan pentingnya pemberian praktik penelitian lapangan untuk para mahasiswa arkeologi. Tapi praktik ini justru sangat jarang diterapkan di Indonesia. Karena itu, dia menyusun mata kuliah kerja lapangan untuk mahasiswa arkeologi. Bentuknya penggalian situs-situs (ekskavasi) arkeologis. “Kuliah kerja lapangan di situs arkeologi yang dilakukan setiap tahun mempunyai fungsi ganda, baik untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, meningkatkan keterampilan, menajamkan pancaindera, dan membina kerja sama maupun untuk mengamankan secara nyata situs dan tinggalan arkeologi sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian masyarakat,” terang Mundardjito dalam Tantangan Arkeologi Indonesia dalam Pembangunan Nasional, pidato ilmiah pada Dies Natalis ke-53 FS-UI tahun 1993. Untuk mendukung tujuan itu tercapai, di luar kuliah pun Prof. Otti sering mengajak mahasiswanya untuk ikut proyek penelitian lapangan. Dari sinilah para mahasiswa juga merasakan atmosfer pekerjaan sebagai seorang arkeolog. Keakraban antara guru dan muridnya juga jadi lebih erat. Melalui perkuliahan dan proyek penelitian lapangan itu pula, Prof. Otti menanamkan nilai-nilai etika dan etos kerja yang harus dimiliki seorang arkeolog. “Yang mengenal tanggung jawab terhadap ilmunya, menjunjung tinggi dan menjaga integritas keilmuannya, berpegang teuh pada asas ilmiah dan hakikat kebenaran,” sebutnya dalam “Impian Gunung Padang: Arkeolog dan Tanggung Jawabnya” termuat dalam Membangun di Atas Puing Integritas . Prof. Otti juga kerap menerangkan bahwa penelitian arkeologi memerlukan waktu panjang. Penggalian tanah di situsnya saja membutuhkan kehati-hatian meskipun tanah yang digali cuma satu cetok. Sebab di dalam satu cetok itu tersimpan berbagai lapisan budaya manusia pada masa lampau. “Itulah sebabnya setiap arkeolog harus mengamati setiap temuan dan perubahan struktur tanah serta merekamnya secara rinci,” terang Prof. Otti. Karena itulah, Prof. Otti meminta para mahasiswanya untuk bersabar ketika melakukan ekskavasi. Dan baginya, di situlah keunikan arkeologi. “Proses penelitian bisa menghabiskan waktu yang panjang karena ilmu arkeologi itu tak ubahnya seperti laku seorang detektif yang hanya menemukan sisa-sisa saja. Sisa-sisa kegiatan manusia lalu itulah yang menjadi bagian dari teka-teki yang ingin dipecahkan,” terang Prof Otti. Berbekal nilai-nilai itu, Prof. Otti bisa sangat marah kepada siapa saja yang sembrono melakukan perusakan pada situs dan benda arkeologis. Dia juga tak segan mengkritik cara-cara yang salah dalam memperlakukan situs dan benda arkeologis. Ini misalnya terjadi saat rencana pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) pada 2008 dan penggalian situs Gunung Padang pada 2012. Dua kegiatan ini disponsori oleh pemerintah. Menurut Prof. Otti, pembangunan PIM telah merusak struktur situs Trowulan. Prof. Otti menyebut orang-orang yang terlibat dalam kegiatan itu sebagai “tak berwawasan pelestarian”. Dia harus berhadapan sendirian dengan Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ketika itu. Sebab koleganya di kampus justru tak banyak membantunya. Prof. Otti justru mendapat dukungan dari Inajati Adrisijanti, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah membuat petisi keberatan terhadap program itu, dia kemudian mendapat dukungan luas. Hal hampir serupa terjadi pula pada penggalian situs Gunung Padang. Dia menyebut langkah tim penggalian itu “tanpa rancangan penelitian yang memadai”. Tim tersebut percaya situs itu merupakan piramida. Tapi bagi Prof. Otti, keyakinan itu tak berdasar. Malah cenderung berbau klenik. Sebab keyakinan itu berdasar wangsit dari leluhur yang berkembang luas di kalangan pecinta sejarah dalam Yayasan Turangga Seta. Meski Prof. Otti mengkritik keras keyakinan Yayasan Turangga Seta, itu bukan berarti mengabaikan semangat publik non-arkeologi untuk menggali peninggalan budayanya. Dia bahkan sangat mendukung partisipasi publik dalam penelitian arkeologi sejak lama. Dalam pidato Pengukuhan Guru Besar Madya Tetap pada 7 Oktober 1995 yang berjudul “Pendekatan Integratif dan Partisipatif dalam Pelestarian Budaya”, Prof. Otti telah berbicara tentang peran masyarakat dalam pelestarian situs dan benda arkeologis. Tanpa partisipasi masyarakat, perusakan terhadap situs dan benda arkeologis sulit dicegah. Jika perusakan itu terus terjadi, “dapat menyebabkan gagalnya kita dalam upaya memahami jati diri dan dinamika sosial budaya bangsa,” katanya. Karena itu, Prof. Otti sering dianggap sebagai pelopor pengembangan arkeologi publik, sebuah cabang arkeologi yang mengkaji partisipasi masyarakat dalam arkeologi. Tapi Prof. Otti juga memperingatkan bahwa menggali situs arkeologis bukan seperti mencari harta karun. “Pencapaian penelitian arkeologi bukan hanya pada hasil temuannya tetapi pada prosedur ilmiah baku yang dapat dipertanggungjawabkan,” urai Prof. Otti dalam “Impian Gunung Padang: Arkeolog dan Tanggung Jawabnya”. Prof. Otti memegang teguh kredo itu hingga akhir hayatnya.
- Sebelum Bakteri Penyebab Maut Hitam Bermutasi
STRAIN tertua Yersinia pestis , yakni bakteri penyebab Maut Hitam ( Black Death ) yang mungkin telah membunuh separuh populasi Eropa pada 1300-an, ditemukan pada sisa-sisa manusia pemburu-pengumpul berusia 5.000 tahun. Dari analisis genetik yang diterbitkan di jurnal Cell Reports pada 29 Juni 2021 mengungkapkan bahwa strain purba ini kemungkinan kurang menular dan tidak mematikan seperti versi abad pertengahan. “Yang paling menakjubkan, kemunculan Y. pestis 2.000 tahun lebih tua dari yang disimpulkan oleh penelitian sebelumnya. Sepertinya kita sangat dekat dengan asal-usul bakteri,” kata Ben Krause-Kyora, ahli biokimia dan arkeolog di Universitas Kiel, Jerman, yang ikut dalam penelitian, sebagaimana dikutip Phys . Manusia pemburu-pengumpul pembawa wabah itu adalah laki-laki berusia 20 hingga 30 tahun bernama RV 2039. Dia merupakan salah satu dari dua orang yang kerangkanya digali pada akhir 1800-an di wilayah Rinnukalns, di Latvia saat ini. Sejak ditemukan, rangka dua individu manusia itu sempat hilang sampai 2011. Mereka muncul kembali sebagai koleksi antropolog Jerman, Rudolph Virchow. Setelah rangka itu terlacak kembali, dua makam lainnya ditemukan dari situs yang sama. Jadi, total ada empat rangka individu yang kemungkinan berasal dari kelompok pemburu-nelayan-pengumpul yang sama. Krause-Kyora dan timnya menggunakan sampel dari gigi dan tulang keempat pemburu-pengumpul itu untuk mengurutkan genom mereka. Keberadaan bakteri di virus patogen kemudian juga diuji. Para peneliti terkejut ketika menemukan bukti Y. pestis di salah satu rangka (RV 2039). Ia kemungkinan satu-satunya di antara empat individu yang terkubur dengan penyakit itu. Setelah merekonstrukai genom bakteri, lalu membandingkannya dengan galur purba lainnya, mereka pun yakin Y. pestis pada RV 2039 memang galur tertua yang pernah ditemukan. Kemungkinan Y. pestis adalah bagian dari garis keturunan yang muncul pada sekira 7.000 tahun lalu. “Hanya beberapa ratus tahun setelah Y. pestis berpisah dari pendahulunya, Yersinia pseudotuberculosis, ” catat Phys . Akibat Gigitan Berang-berang Pada varian wabah modern, ada satu hal penting yang tidak dimiliki oleh strain purba yang baru ditemukan ini, yakni gen yang pertama-tama memungkinkan kutu sebagai agen penularan wabah. Adaptasi ini akan manaikkan kemampuan bakteri wabah dalam menginfeksi inang manusia, memasuki tubuh, dan melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening di mana ia akan dengan cepat bereplikasi. Tuan rumah kemudian akan mendapati bubo menyakitkan berisi nanah di kulit mereka yang merupakan ciri khas penyakit pes pada abad pertengahan. Peralihan ke kutu sebagai sarana penularan mengharuskan penyakit untuk membunuh inangnya. Kematian inang lama mendorong kutu untuk pindah ke inang baru dan menularkan penyakit. Para peneliti berspekulasi bahwa gen baru ini bertanggung jawab mendorong wabah menjadi lebih mematikan. Tak jelas sejauh mana RV 2039 mengalami efek wabah. Y. pestis ditemukan dalam aliran darahnya. Perjalanan penyakitnya cukup lambat, dengan bakteri perlahan terakumulasi dalam jumlah tinggi di aliran darah pria itu sampai dia meninggal. Sementara, tiga orang yang tidak terinfeksi dikubur tak jauh dari RV 2039. Mereka dikubur dengan hati-hati. Ini menunjukkan, kemungkinan besar penyakit yang dibawa Y. pestis saat itu belum ditakuti dan menular sebagaimana terjadi pada era wabah Maut Hitam menyerang. Sebagaimana dilansir Live Science , karena strain Y. pestis purba belum menular lewat kutu, para ilmuwan pun berpikir bakteri itu awalnya memasuki tubuh si pemburu-pengumpul melalui gigitan hewan pengerat. Kemungkinannya dari berang-berang. Hewan ini merupakan pembawa yang paling umum dari Y. pseudotuberculosis , pendahulu Y. pestis. Gagasan bahwa bakteri purba ini bereplikasi secara perlahan dan diturunkan dari hewan pengerat ke manusia didukung oleh fakta bahwa para ilmuwan telah menemukan kerangka purba lain yang terinfeksi Y. pestis di tempat lain. Di sana orang-orang menjalani gaya hidup yang sangat berbeda. “Kasus-kasus penularan yang terisolasi dari hewan ke manusia dapat menjelaskan lingkungan sosial yang berbeda di mana manusia purba yang sakit ini ditemukan. Kami melihatnya di masyarakat penggembala di padang rumput, pemburu-pengumpul yang sedang memancing, dan komunitas petani. Lingkungan sosial yang sama sekali berbeda pengaturan, tetapi selalu ada kejadian spontan dari kasus Y. pestis, ” jelas Krause-Kyora. 1000 Tahun untuk Bermutasi Dari kasus RV 2039, mungkin diperlukan waktu lebih dari 1000 tahun bagi Y. pestis untuk bermutasi hingga mencapai wujud yang memungkinkannya menular lewat kutu dan menjadi lebih mematikan. Para peneliti pun menyimpulkan bakteri pembawa pes dari zaman purba itu kemungkinan merupakan penyakit yang bergerak lambat dan tidak terlalu mudah menular. Mereka juga melihat bahwa rupanya bakteri ini telah berkembang jauh sebelum terbentuknya kota-kota besar. Bahkan pada 5.000 tahun yang lalu, sebagaimana usia temuan rangka, pertanian baru mulai muncul di Eropa Tengah dengan populasi yang sangat jarang. Gambaran wabah awal sebagai penyakit yang bekerja lambat dan kurang ganas ini pun menimbulkan tantangan serius bagi teori tentang perkembangan peradaban di Eropa dan Asia. Salah satu teorinya adalah bahwa wabah adalah penyebab penurunan besar populasi Eropa Barat menjelang akhir Zaman Neolitik. Namun kini misteri keruntuhan populasi ini, apakah itu disebabkan oleh bentuk awal wabah, belum sepenuhnya terungkap. Para peneliti percaya bahwa pekerjaan ini dapat membuka penyelidikan lebih lanjut tentang sejarah wabah. Para penulis dalam laporannya mencatat bahwa memeriksa sejarah Y. pestis juga berpotensi menjelaskan sejarah genom manusia. “Patogen yang berbeda dan genom manusia selalu berevolusi bersama. Kita tahu Y. pestis kemungkinan besar membunuh setengah dari populasi Eropa dalam jangka waktu yang singkat, jadi itu akan berdampak besar pada genom manusia,” kata Krause-Kyora. Tiga pandemi yang disebabkan oleh bakteri Y. pestis telah menjadi peristiwa biologis paling mematikan dalam sejarah manusia. Pandemi pertama, Wabah Justinian, terjadi kira-kira antara tahun 542 dan 750 M. Wabah ini mungkin telah menyebabkan populasi Mediterania menurun hingga 40% pada akhir abad keenam. Pandemi kedua dan paling terkenal yang disebabkan oleh penyakit ini adalah Maut Hitam di Eropa pada abad ke-14. Wabah ini menewaskan sekira 25 juta orang atau antara 33% hingga 50% populasi Eropa. Pandemi ketiga yang kurang dikenal dimulai pada 1855 di Provinsi Yunnan, China. Wabah ini menewaskan lebih dari 12 juta orang di India dan China.*
- Mahar Mardjono, Rektor UI yang Pandai Menjaga Keseimbangan
UNGGAHAN “King of Lip Service” buatan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) berekor panjang. Rektorat UI memanggil beberapa pengurus BEM-UI pada Minggu, 27 Juni 2021. Hari berikutnya, akun media sosial milik pengurus BEM-UI diretas. Kemudian pendukung BEM-UI mulai berbalik menyerang Ari Kuncoro, rektor UI. Ari dianggap tak melindungi mahasiswanya. Dia juga dinilai rangkap jabatan: menjadi rektor, ikut pula duduk di kursi komisaris bank BUMN. Lalu muncul pembandingan antara Ari dengan Mahar Mardjono, rektor UI periode 1973–1982. Mahar dianggap sebagai rektor yang bisa menempatkan posisinya antara rezim dan mahasiswa pengkritik rezim. “Beliau dekat dengan mahasiswa. Kami ini mahasiswa biasa. Tapi bisa diajak bicara sama Pak Mahar. Beliau suka mengajak kami untuk ngobrol-ngobrol di ruangannya di rektorat,” kata Zulkarimein Nasution, mantan aktivis Dewan Mahasiswa dari Jurusan Publisistik, FIS (Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial/kini FISIP) UI angkatan 1970 sekaligus salah satu pendiri koran mahasiswa Salemba , kepada Historia.ID . Mahar menjadi rektor ketika hubungan pemerintah dan mahasiwa sedang tegang-tegangnya. “Mahar dilantik ketika suasana kampus telah mulai memanas. Mahasiswa saat itu mengkritik program pembangunan lima tahun (Pelita) pertama (1969–1974),” sebut Antony Z. Abidin dkk. dalam Mahar: Pejuang, Pendidik, dan Pendidik Pejuang . Mahasiswa menyoroti pola pembangunan rezim Soeharto. “Lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan, semakin dalamnya jurang antara si kaya dan si miskin, korupsi yang semakin merajalela di kalangan pemerintahan, soal penanaman modal asing, dan tuntutan agar pada Pelita II kondisi-kondisi buruk itu segera diperbaiki,” lanjut Antony. Sebelum menjadi rektor, Mahar menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran UI. Dia tak begitu memperhatikan urusan kemahasiswaan dan politik. Dia memang pernah berjuang sebagai tentara pelajar dan ditahan tentara Belanda saat masa-masa awal kemerdekaan. Tapi minatnya jauh dari politik. Siapa menduga bahwa Mahar kemudian harus terseret dalam konstelasi politik mahasiswa dan pemerintah. Setahun menjadi rektor UI, Mahar harus mengurusi mahasiswa-mahasiswa UI yang ditangkap aparat keamanan setelah peristiwa kerusuhan Malari 1974. Mahar kemudian dipanggil Laksamana Sudomo, Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), ditanya terkait peristiwa itu. “Siapa itu di belakang semua?” tanya Sudomo. “Saya tidak tahu apa-apa. Pak Domo kan lebih tahu dari saya. Jangan tanya saya,” kata Mahar. Mahar lalu meminta Sudomo membantu membebaskan mahasiswa-mahasiswa UI. Tapi Sudomo tak bisa memberi jaminan. Mahar juga menghubungi kelompok Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo agar membebaskan mahasiswa. Tapi mereka juga enggan mengabulkan permintaan itu. Tak lama kemudian, Mahar didatangi oleh seorang mahasiswa UI binaan Ali Moertopo. Mahasiswa membawa pesan dari Ali Moertopo agar Mahar menemuinya. Tapi Mahar menolak ajakan itu. “Lho, kalau dia mau bicara suruh saja datang ke sini. Saya kan rektor, bukan anjingnya orang siapapun. Kalau dia memang mau bicara silakan datang ke sini!” kata Mahar. Ucapan Mahar sampai ke Ali Moertopo. Beberapa hari kemudian, selebaran gelap untuk menyudutkan Mahar beredar dengan beragam judul. Antara lain “Mengapa Mereka Harus Disikat Habis Setelah Peristiwa 15 Januari?” Isi selebaran menyebut Mahar sebagai antek Partai Sosialis Indonesia (PSI). Mahar juga dibilang buta politik dan cuma cari popularitas. Kala itu, orang-orang PSI seringkali dituduh sebagai biang onar oleh rezim. Termasuk dalam Malari. Setelah Malari, pemerintah mengejar setiap orang yang dianggap punya jaringan dengan PSI. Tapi Mahar menganggap enteng tuduhan itu. Lagipula Soemitro dan Sudomo mengakui peran Mahar dalam mengatur mahasiswa. Mahar memberi kebebasan luas bagi para mahasiswa menikmati otonomi kampus untuk mengkritik pemerintah. Tapi dia juga berusaha menjaga kebebasan itu agar tak merusak situasi. Dia menyarankan mahasiswa dan pemerintah berdialog lewat mimbar akademis dan studium generale . “Salah satu keuntungan dari kebebasan mimbar akademis dan studium generale ialah mengurangi rasa saling curiga antara mahasiswa dan pemerintah. Pada gilirannya, dialog ini juga bisa meredam gejolak mahasiswa,” terang Mahar. Soemitro mengatakan Mahar telah berhasil memberikan batasan agar kebebasan itu tak berujung pada perusakan. Sementara Sudomo berpendapat Mahar bukan tipe seorang “Asal Bapak Senang”. Menurut Mahar, mahasiswa bergerak turun ke jalan karena melihat DPR, BPK, dan MPR tak berfungsi sebagaimana mestinya. Tak ada pula alat kendali terhadap pemerintahan dan pembangunan nasional. Sebagai rektor universitas negeri, Mahar sadar dirinya berada dalam struktur pemerintahan. Dia juga seorang birokrat dan harus tunduk pada kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K). Judilherry Bustam, mantan Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa UI 1974, menilai Mahar pandai menjaga keseimbangan sebagai birokrat dan pendidik. Ini misalnya terjadi saat koran Salemba sering mengeluarkan karikatur karya Wahyu Sardono (Dono Warkop) dan pemberitaan mengkritik pemerintah hingga menimbulkan reaksi keras pihak-pihak yang dikritik. Saat itu terjadi, Maharlah yang menghadap langsung ke pihak yang tersinggung dan menjelaskannya. Cara Mahar menghadapi pemerintah juga terlihat ketika Menteri Daoed Joesoef ingin menerapkan program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1978 untuk membatasi kegiatan mahasiswa di luar kuliah. Mahasiswa menolak mentah-mentah NKK/BKK. Banyak mahasiswa tak suka Daoed sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai “nama dua nabi, kelakuan dua setan”. Daoed Joesoef mencak-mencak. Dia makin bersikeras menerapkan program itu. Mahar mengatakan kepada Daoed, “program itu sebenarnya bagus.” Mahar sarankan Daoed harus datang langsung ke UI dan berdialog dengan mahasiswa. Tapi Daoed berkata, “Oh, saya tak mau bicara dengan mahasiswa, mereka mau terima atau tidak.” Mahar sempat diancam dipecat oleh Daoed karena dianggap tak bisa mengatur mahasiswa. Mahar pun mempersilakan Daoed memecat dirinya. “Saya dipecat tidak apa-apa. Saya memang tunduk pada pemerintah. Tapi kalau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan saya, saya tak mau tunduk,” kata Mahar. Daoed menyudahi ancamannya. Dia tak pernah memecat Mahar dan datang ke kampus UI. Sampai akhirnya justru Abdul Gafur, Menteri Urusan Pemuda yang mendatangi kampus UI. Mahar sudah memperingatkan Abdul Gafur agar tak datang. Mahasiswa maunya berdialog dengan Daoed. Bukan dengan Abdul Gafur. Tapi Abdul Gafur keukeuh . Kekhawatiran Mahar menjadi kenyataan. Gafur mendapat sambutan telur busuk dari mahasiswa. Muka, jas, dan celananya kena lemparan telur busuk. Dia akhirnya batal bertemu mahasiswa. Mahar marah sekali dengan pelemparan telur itu. “Cara begitu tidak sopan,” kata Mahar. Tapi dia tetap mengambil alih tanggung jawab peristiwa itu. “Saya bilang di koran saya yang salah,” kata Mahar. Mahar berhenti menjadi rektor UI pada 1982 dan mengabdikan diri sepenuhnya pada pengembangan ilmu kedokteran di Indonesia. Bagi para mantan mahasiswanya, Mahar telah mewariskan kenangan kuat tentang sosok rektor yang mengayomi mahasiswa. “Pak Mahar ini memberi kepercayaan penuh kepada kita. Kepercayaan ini amat kami jaga, jangan sampai Pak Mahar kecewa,” kenang Zulkarimein Nasution.*
- Manuskrip-manuskrip tentang Pandemi di Dunia Islam
ANGKA kenaikan penderita Covid-19 di Indonesia meningkat pesat sepanjang akhir Juni 2021. Pemerintah berupaya mencegah persebaran virus dan dampak sosial-ekonominya dengan penebalan PPKM. Tapi pada sisi lain, sebagian masyarakat tak percaya dengan pandemi. Ini mempersulit ikhtiar pencegahan wabah. Mereka yakin pandemi sebagai buah konspirasi elit global. Beberapa orang bahkan berada pada posisi ekstrem fatalis (menerima nasib) dan angkuh terhadap pandemi. Seringkali mereka menggunakan dalil agama Islam untuk mendukung posisinya. Banyak pula yang menyebarkan hoaks konspirasi wabah berbalut dalil agama Islam. Pandemi bukanlah hal baru bagi masyarakat dunia, termasuk dalam sejarah masyarakat muslim. Dr. Syamsuddin Arif, pakar kajian sains Islam, peneliti senior Institute of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, menyebut masyarakat muslim pada masa lampau pernah beberapa kali menghadapi wabah. Salah satunya saat wabah melanda Mesir pada bulan Muharram 816 H (1416 M). Ketika itu 100 orang Mesir meninggal setiap hari akibat wabah. Selain Mesir, wabah parah juga pernah melanda wilayah peradaban Islam dari Anatolia (sekarang wilayah Turki) hingga Suriah. Jejak wabah dalam dunia Islam juga terungkap dalam karya-karya ulama besar pada masa lampau. Karya itu bukan hanya menjabarkan sejarah wabah sejak kurun pertama tahun Hijriah (622 M), tapi juga mengangkat sains wabah dan ilmu kesehatan atau medis. Contohnya karya Jalal al-Din al-Suyuthi dari abad ke-15 M. “Pendek kata, kaum muslimin sudah berkali-kali mengalami musibah serupa sejak kurun pertama Hijriah,” sebut Syamsuddin dalam kata pengantarnya di buku Wabah dan Ta’un: Tinjauan Hadith, Kedokteran, dan Sejarah , terjemahan dan penelaahan dari kitab Ma Rawah al-Wa’un fi Akhbar al-Tha’un karya Jalal al-Din al-Suyuthi yang terbit abad ke-15 M. Kisah Pilu Wabah Karya al-Suyuthi membahas kemunculan wabah dan ta’un , cara penularan wabah, jenis-jenis wabah (termasuk Wabah Hitam di Eropa pada abad ke-15 M), perbedaan ta’un dan wabah, karantina, dampak sosial-ekonomi wabah, dan kisah-kisah pilu dan kelam sekitar wabah. Al-Suyuthi menyebut wabah sebagai penyakit yang menular kemana-mana. Sekarang istilah medisnya pandemi dan epidemi. Sementara ta’un adalah penyakit mematikan yang aneh luar biasa. “Setiap ta’un adalah wabah, tetapi tidak setiap wabah adalah ta’un ,” sebut al-Suyuthi. Al-Suyuthi juga mengungkap kisah pilu seputar wabah di Syam, Suriah pada 80 Hijriah (702 M). Ada seorang anak kecil yang sampai disusui anjing ketika wabah berjangkit. Semua bermula dari keluarganya yang meninggal dunia akibat wabah. Hanya tersisa anak kecil di keluarga itu. Al-Suyuthi, mengutip penulis kitab Al-Mir’ah , menuturkan sekelompok orang menyaksikan anak itu terkulai lemah di rumah. “Kemudian ada anjing masuk dari sela-sela dinding dan menjilati anak itu. Anak itu merangkak kepadanya sampai ia menghisap susu anjing tersebut,” kutip al-Suyuthi dalam Wabah dan Tha’un: Tinjauan Hadith, Kedokteran, dan Sejarah. Syamsuddin mencatat setidaknya ada 56 karya ulama yang mengangkat bahasan wabah dan penyakit mematikan dari abad ke-3 sampai ke-15 Hijriah. Manuskrip itu terawat dengan baik di pusat penelitian seperti al-Furqan Foundation, London, Inggris; İslam Araştırmaları Merkezi (İSAM), Istanbul, Turki; dan Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften (IGAW), Frankfurt, Jerman. Soal wabah pun termaktub di dalam karya para ulama masa lampau di tanah Melayu. Sebut saja Bustan al-Salatin karya Nur al-Din al-Raniri, ulama Melayu sohor dari Aceh yang hidup pada abad ke-17 M. Di dalam “B ab Ketujuh Fasal Ketiga: Pada Menyatakan Ilmu Tashrih dan Ilmu Tibb ”, al-Raniri menyebut salah satu khasiat cuka ( khall ) sebagai obat terhadap sejumlah wabah ( wabak) penyakit. Belum Banyak Dikaji Syamsudin menyebut sebenarnya ada ribuan kitab kuno tentang pandemi dan penyakit mematikan ( ta’un ) dari berbagai antero dunia. Tapi pengkajian para sarjana kiwari tentangnya baru terbatas pada kira-kira 56 kitab. “Sejauh ini belum banyak dilakukan kajian akademik yang serius untuk meneliti dan menguraikan isi kitab-kitab tersebut dari berbagai perspektif,” terang Syamsuddin. Masih ada ribuan kitab karya para ulama masa lampau bertema medis yang masih belum dikaji dengan lebih mendalam. Ribuan kitab sudah masuk ke dalam katalog-katalog manuskrip berbagai perpustakaan. Tapi untuk memproses informasi di dalamnya perlu ikhtiar lebih banyak. “Meskipun sudah dikatalog, para peneliti tetap harus melakukan proses ekstraksi informasi sendiri, baik secara manual maupun digital, untuk mengungkap isi masing-masing naskah kitab-kitab tersebut,” tulis Syamsuddin. Pengkajian manuskrip-manuskrip tersebut tak semata untuk melestarikan warisan ilmiah, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam memajukan dan mengembangkan tradisi ilmiah masyarakat dengan pendekatan multidisiplin keilmuan. Syamsuddin berharap para akademisi dan pakar di bidangnya itu nantinya akan dapat menelaah, menggali, dan melanjutkan karya-karya para ulama ini di masing-masing bidang kepakarannya. “Jadi kalau dia profesor ilmu kedokteran, itu bagaimana dia di samping berkarier secara klinis di rumah sakit, dia juga membaca dan bisa mendiskusikan, dan bisa mengulas dan membuat artikel ilmiah yang dipublikasi di dalam jurnal-jurnal akademik tentang satu bab di kitab-kitab para ulama,” ungkap Syamsuddin dalam acara daring peluncuran buku Wabah dan Ta’un: Perkembangan Tahqiq Turath dan Sains Islam pada 20 Juni 2021. Diapresiasi Dunia Barat Dunia akademik Barat sangat mengapresiasi sejarah keilmuan medis. Contohnya para pelajar dan akademisi ilmu-ilmu medis di Harvard. Mereka menelaah sejarah keilmuan medis di beragam dunia, termasuk di dunia Islam pada masa lampau. “Mereka (para profesor) di Harvard masih tetap mengajar sejarah medis, bukan hanya yang ada di Barat, akan tetapi juga di wilayah-wilayah dunia yang bukan Barat, termasuk di Cina dan India. Mereka (juga) mengajar sejarah Islamic medicine . Dan sebenarnya mereka mengapropriasi (menyesuaikan), serta terus melakukannya,” lanjut Syamsuddin. Sementara masyarakat di Indonesia belum mencapai taraf itu. “Cuma kalau di Indonesia hal ini masih belum banyak yang bisa mengapresiasi dan memahami itu kan. Dia pikir, kalau belajar farmasi ya jadi apoteker. Kalau belajar ilmu kedokteran ya jadi dokter, kerja di industri, kerja di Kimia Farma, buat Pedagang Besar Farmasi (PBF). Ya, yang kayak gitu lah,” lanjut Syamsuddin. Mengkaji ulang manuskrip sains medis bukan hal yang mudah. Menurut Syamsudin, beragam pendekatan metode harus digunakan untuk mencapai hasil yang baik. Seperti penguasaan ilmu filologi, tahqiq, kodikologi, paleografi, dan pendekatan historis untuk memetakan keabsahan dan keaslian manuskrip itu. Tak hanya itu, manuskrip kadang diperdagangkan oleh segelintir orang. Untuk memperolehnya kembali agar itu bisa bermanfaat bagi banyak orang, perlu penebusan harga. Syamsuddin bercerita tentang Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sejarawan dan filsuf dari Malaysia, membeli sebuah manuskrip karya al-Biruni sekira tahun 1994. Syamsuddin mendapatkan kabar dari seniornya, Zainal Abidin Bagir, adik Haidar Bagir bos penerbit Mizan, yang ketika itu menjadi mahasiswa. Dari keterangan Zainal, Prof. al-Attas membeli naskah itu senilai 40.000 ringgit Malaysia. Ketika itu biaya sebuah pesta pernikahan di Malaysia senilai 10.000 ringgit. “Untuk membeli sebuah manuskrip, setara dengan empat kali menikah di Malaysia,” ujar Syamsuddin. Tapi pada akhirnya, pengkajian ilmiah manuskrip-manuskrip itu telah menyumbang referensi bagi umat manusia dalam menghadapi persoalan pandemi hari ini.*
- Menggali Isi Prasasti Airlangga di Museum India
PESTA pernikahan Airlangga dan putri Dharmawangsa Tguh belum juga usai. Tiba-tiba huru-hara datang. Haji Wurawari menyeruduk membawa petaka di tengah kemeriahan pesta. Orang-orang berteriak. Keraton dibakar, runtuh habis tak bersisa. Seluruh Jawa bagaikan tertimpa pralaya. Banyak pembesar yang tewas. Pertama-tama Sri Maharaja Dharmawangsa Tguh. Ketika peristiwa itu terjadi Airlangga masih berumur 16 tahun. Dia lari ke hutan menyelamatkan diri dengan hanya ditemani oleh Narottama, pengikut setianya. Semenjak itu hari-harinya dihabiskan di hutan, berpakaian kulit kayu, makan apapun yang dimakan oleh para orang suci dan penghuni hutan. Teman bicaranya adalah para pertapa (rsi).
- Ketika Hoegeng dan Teuku Markam Bersitegang
ADA anekdot lucu dari Gus Dur tentang polisi. Katanya, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Pertama, polisi tidur. Kedua, patung polisi. Dan ketiga, Jenderal Hoegeng. Dari ketiganya, hanya Hoegeng yang berwujud manusia. Hoegeng pernah menjabat sebagai kepala Kepolisian Republik Indonesia periode 1968 sampai 1971. Kejujuran Hoegeng kiranya bukan isapan jempol semata. Pada reputasinya melekat citra polisi anti suap. Selama mengabdi di kepolisian, Hoegeng berkali-kali menghadapi orang-orang punya kuasa yang coba menyogoknya. Pada pertengahan 1950-an, Hoegeng ditempatkan di Medan sebagai kepala reserse kriminal. Belum sempat menempati rumah dinas, Hoegeng ditawari mobil dan rumah oleh seorang pengusaha Tionghoa sebagai gratifikasi. Hoegeng tahu dia sedang berurusan dengan pengusaha yang bergerak dalam bisnis gelap penyelundupan. Tawaran itu dia tolak mentah-mentah. Hoegeng bahkan memulangkan kembali barang-barang perabotan mewah yang sempat dikirimkan si pengusaha tersebut.
- Pajak Masa Revolusi Kemerdekaan
PANDEMI Covid-19 selama hampir satu setengah tahun ini menguras keuangan negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun. Defisit APBN mencapai 6,1% PDB. Pendapatan negara menyusut hingga -16,0 %, sedangkan pengeluarannya membengkak jadi 12,3%. Keadaan sulit ini mendorong pemerintah berencana memajaki sembako pangan premium. Rencana ini sampai ke masyarakat dalam narasi pajak semua sembako. Karuan orang semaput dan marah-marah. Saat keadaan rakyat sedang susah, malah dipajakin. Maka sekonyong-konyong Menteri Keuangan Sri Mulyani blusukan ke pasar menjelaskan rencana sesungguhnya. Menengok ke masa lalu, penerapan pajak pada masa sulit pernah pula terjadi ketika Indonesia baru saja merdeka. Saat itu, menurut Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958), Republik membutuhkan pembiayaan untuk mempertahankan kemerdekaannya. Pembiayaan itu antara lain diperoleh dari dana kemerdekaan, pinjaman nasional, candu, dan mencetak uang sendiri.
- Seruan Panglima Besar Soedirman kepada Masjumi dan PKI
DELAPAN bulan hampir berlalu sejak Insiden Madiun meletus pada 18 September 1948. Namun perseteruan antara orang-orang komunis dengan orang-orang islam masih berlangsung secara keras di Jawa Timur. Kendati pemerintah Republik Indonesia (RI) pimpinan Sukarno-Hatta memutuskan untuk membebaskan sebagian besar pengikut Front Demokrasi Rakyat/Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI). Menurut sejarawan Harry A. Poeze, banyak para pengikut FDR/PKI yang lolos dari operasi penumpasan tentara pemerintah meneruskan perjuangan mereka dengan bergerilya di hutan-hutan Jawa Timur. Selain menghadapi militer Belanda, kekuatan-kekuatan bersenjata itu juga tetap mempertahankan pertikaian mereka dengan militer Indonesia dan unsur-unsur anti komunis lainnya. “Yang sudah (pasti) terjadi justru saling bentrok. Pasukan-pasukan FDR dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) berhadapan dengan kesatuan-kesatuan Hizbullah (Masjumi),” ungkap Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak.
- Sukarno Mengunjungi Bali
PADA suatu hari, Sukarno meminta Soeharto, dokter pribadinya, untuk bersiap karena sewaktu-waktu akan mengajaknya ke Bali. Jadwal penerbangannya belum ditentukan karena harus memilih waktu yang tepat untuk menghindari sergapan pesawat terbang Sekutu. Ketika waktu keberangkatan ditetapkan, ternyata Sukarno didampingi Mohammad Hatta dan Ahmad Subardjo. Laksamana Tadashi Maeda, kepala Kaigun Bukanfu atau kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta, mengantarkan mereka sampai tangga pesawat. “Maksud perjalanan ke Bali itu untuk menemui Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membawahi Nusantara, kecuali Sumatra dan Jawa,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah . Shibata sebenarnya bermarkas di Ujung Pandang. Karena kota itu menjadi sasaran pengeboman pesawat Sekutu, untuk sementara dia bermarkas di Singaraja. Penerbangan ke Denpasar tidak mengalami gangguan. Setiba di sana, mereka naik mobil menuju penginapan di Kintamani. Sejarawan Geoffrey Robinson dalam Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik menyebutkan, pada pengujung Juni 1945, Sukarno, pemimpin kaum pejuang Republik Indonesia yang kelak menjadi presiden, diundang ke Bali untuk menghadiri rapat umum dan bertemu para pemimpin Bali. “Sukarno mengunjungi Singaraja pada 24 dan 25 Juni 1945,” tulis Robinson. “Dalam catatan hariannya, raja Buleleng hanya merekam detail kunjungan ini.” Sukarno diterima di kantor Karesidenan oleh tokoh-tokoh penting Jepang dan para pemuka Bali pada 24 Juni 1945. Keesokan harinya, 25 Juni 1945 pukul 2.30 sore, Sukarno menghadiri pertemuan para pemuka Bali di gedung Sjukai (Dewan Karesidenan) di Singaraja. Pukul 5 sore, dia menyampaikan amanat dalam rapat umum di lapangan depan kantor polisi, dan malamnya bergabung dengan tamu-tamu terhormat menonton pertunjukan tari Bali. “Sayangnya, raja [Buleleng] tidak mengatakan apa pun tentang isi pidato publik Sukarno,” tulis Robinson. Kiri-kanan: Tadashi Maeda, Ahmad Subardjo, dan Yaichiro Shibata. (Perpusnas RI). Soeharto menyebut bahwa maksud Sukarno ke Bali adalah bertemu Shibata. Pembicaraan mereka berlangsung di kediaman Shibata di Singaraja. Pembicaraan berlangsung beberapa kali dan Sukarno selalu didampingi Hatta dan Subardjo. Subardjo memberi tahu Soeharto bahwa Shibata bersimpati pada perjuangan mewujudkan Indonesia merdeka, dan akan memberikan segala bantuan yang mungkin dapat dia berikan. “Janji itu betul-betul dipenuhinya,” kata Soeharto. “Beberapa hari setelah Proklamasi kemerdekaan, Shibata yang pada waktu itu berada di Surabaya, menyerahkan banyak senjata kepada pemuda-pemuda kita.” Setelah selesai urusan dengan Shibata, Sukarno mengunjungi sebuah pura, tempat ayahnya, R. Soekemi Sosrodihardjo, bertemu pertama kali dengan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai pada 1890-an. Sebagai pencinta seni, Sukarno kemudian mengunjungi rumah-rumah seniman di antaranya pelukis Jerman Walter Spies, yang terletak di sebuah lembah di tepi jalan yang menuju ke pesanggrahan Kintamani. “Di rumah seniman itu pulalah saya baru tahu bahwa Pak Bardjo pun seorang seniman,” kata Soeharto. “Dia memainkan biola milik Walter Spies dan memperdengarkan sebuah serenade yang amat disenangi Bung Karno.”*
- De Oost dan Ikhtiar Menyembuhkan Luka Lama
Ada tiga pendekatan untuk memahami film. Pertama , sebagai sebuah karya seni yang mempresentasikan realitas secara estetis. Kedua , sebagai diskursus publik karena film memvisualisasi ragam aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan historis, kultural, sosial maupun ideologis. Ketiga , makna dan peran kehadiran film tersebut di tengah masyarakat. Sebagai sebuah karya seni, film De Oost karya sutradara Jim Taihutu layak mendapat apresiasi karena berhasil memvisualisasikan karakter manusia dalam kemelut sejarah rekolonisasi Belanda atas Indonesia. Namun disadari atau tidak, penggambaran Timur yang eksotis melalui citra perempuannya, alunan bunyi gamelan serta indahnya alam Indonesia, cerminan pandangan orientalis yang masih melekat erat dalam benak orang Barat. Persis dengan apa yang pernah disampaikan oleh Edward Said dalam bukunya Orientalisme bahwa “Timur” (Orient) memang nyaris merupakan temuan Eropa, dan sejak zaman kuno telah menjadi tempat yang penuh romansa, makhluk-makhluk eksotik, kenangan-kenangan yang manis, pemandangan yang indah dan pengalaman yang mengesankan. “De Turk” mungkin jauh lebih pas menjadi judul film ini daripada De Oost . Hampir separuh lebih cerita dari film ini mengisahkan tentang Raymond “De Turk” Westerling, serdadu legendaris yang pernah mengatakan kepala Sukarno lebih murah dari harga sebutir peluru dan bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa rakyat Indonesia yang berhasrat mempertahankan kemerdekaannya. Sekilas, film De Oost mirip film laga perang Vietnam minus Rambo di dalamnya. Sebagian besar lakon film De Oost diperankan oleh orang Barat. Kecuali sebagai figuran, hanya kurang dari lima jari aktor Indonesia yang memainkan peran sentral dalam film ini. Di antara penggambaran “Timur” yang indah dan eksotis itu, film ini juga menampilkan sisi kelam sejarah sebuah negeri yang dilanda aksi kekerasan karena keinginan Belanda untuk kembali merekolonisasi Indonesia setelah lepas kendali selama 3,5 tahun masa pendudukan Jepang. Untuk tujuan itu, pemerintah Belanda memobilisasi anak-anak muda Belanda dengan dalih membebaskan Indonesia dari cengkeraman Sukarno, si boneka fasis Jepang. “ Indie Moet Bevrijd ,” kata mereka berpropaganda. Dalam film ini anak-anak muda tersebut diperankan oleh Martin Lakemeier (Johan De Vries), Jonas Smulders (Mattias Cohen), dan Coen Bril (Eddy Coolen). Jiwa muda yang penuh avonturisme dibungkus semangat pembebasan, mendorong mereka pergi ke Indonesia. Namun satu hal yang mereka tak sadari: sebelum 15 Mei 1940 Belanda adalah negeri merdeka, sementara Indonesia sebelum invasi Jepang Maret 1942 adalah koloni Belanda. Dalam satu sisi, film ini berhasil menampilkan kompleksitas sejarah Belanda usai Perang Dunia II. Gambaran itu terlihat pada sosok karakter Johan De Vries, anak seorang tokoh Nationaal Sosialistische Bond (NSB) kolaborator Nazi, pergi ke Indonesia untuk membebaskan koloni Belanda dari cengkeraman fasisme Jepang. Sebuah ironi yang tak mungkin dipungkiri. Di sisi lain, kompleksitas sejarah di Indonesia pada masa akhir pendudukan Jepang tidak terlihat dalam film ini. Tak ada satu pun adegan tentang kehidupan para perempuan, orang tua dan anak-anak kecil Belanda serta Indo yang baru saja dibebaskan setelah melewati tiga tahun masa penderitaan di dalam kamp interniran. Inilah periode paling traumatik bagi mereka, sehingga bisa dimengerti mengapa sebagian warga Belanda bereaksi keras atas film De Oost ini. Satu-satunya adegan tentang Jepang dalam film ini tampak saat seorang rakyat jelata dianiaya tiga serdadu Jepang dan kejadian itu berakhir setelah Raymond “De Turk” datang memaksa serdadu Jepang itu pergi. Gambaran lain tentang Jepang tercermin dari pidato komandan tentara Belanda, “racun Jepang telah menyebar luas ke seantero koloni kita yang indah.” Kalimat ini mencerminkan cara pandang Belanda yang simplistis dalam melihat hubungan Jepang dengan gerakan nasionalisme Indonesia. Kekalahan Belanda atas Jepang pada 9 Maret 1942 menandai runtuhnya negara Hindia Belanda. Dalam 3,5 tahun pendudukan Jepang, gerakan nasionalis Indonesia menemukan momentum kebangkitannya. Pemimpin gerakan nasionalis Indonesia seperti Sukarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir dibebaskan dari penjara kolonial. Kecuali Sjahrir yang memilih berjuang di bawah tanah, Sukarno dan Hatta menggunakan momentum politik tersebut untuk memperkuat kesadaran kebangsaan Indonesia. Selalu ada harga yang harus dibayar demi kemerdekaan dan selalu ada implikasi dari sebuah keputusan politik. Kerja sama dengan Jepang di satu sisi membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia, di sisi lain mendatangkan korban jiwa yang tak sedikit dalam hal Romusha, Jugun Ianfu, dan kekerasan terhadap warga sipil Belanda dan Indo. Sementara itu, seperti yang ditunjukan dalam film ini, kehadiran Belanda pascakekalahan Jepang juga tak diinginkan oleh rakyat Indonesia. Itu terlihat secara nyata dalam grafiti “Dutch Go Home” dan secara simbolis saat anak-anak kecil melempari truk yang ditumpangi Johan De Vries ketika tiba di Indonesia. Ejekan “monyet” yang beberapa kali keluar dari mulut para serdadu Belanda dalam film ini juga menarik untuk diperhatikan. Umpatan monyet merupakan bentuk rasisme yang berakar jauh ke masa awal kedatangan Belanda ke Indonesia. Mereka percaya bahwa manusia Nusantara tak lebih dari makhluk belum sempurna melalui proses evolusinya. Pandangan ini seolah mendapatkan legitimasi saintifik dari para etnolog dan antropolog fisik Eropa yang marak berkembang pada abad ke-19. Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 telah membuyarkan mimpi indah pada kolonialis dan imperialis Belanda. Bayangan tentang Timur yang eksotis dan penuh keindahan semakin jauh di depan mata. Maka datanglah Raymond “De Turk” ke Timur demi menjaga keberlangsungan mimpi indah itu, kendati kehadirannya jadi mimpi buruk bagi rakyat yang jadi korban kebrutalannya. Ketika saya diminta menulis tanggapan –dari perspektif Indonesia– mengenai film De Oost ini, saya teringat kembali pada kisah guru saya, sejarawan Anhar Gonggong yang harus kehilangan ayah, dua kakak lelaki, serta seorang pamannya yang tewas dibunuh serdadu Westerling di Sulawesi Selatan. Dia tak menuntut pembalasan apapun atas kematian orang-orang yang dicintainya itu. Menurutnya, mereka sudah menunaikan tugasnya demi kemerdekaan Indonesia. Film De Oost membawa kembali bayangan masa lalu peristiwa itu, membuka luka lama bagi kedua bangsa. Namun demikian film ini harus pula dimaknai sebagai bentuk keberanian menghadapi masa lalu yang penuh luka dan air mata, demi menyingkirkan beban sejarah yang menghalangi langkah damai menuju masa depan. Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Belanda di koran NRC edisi 17 Juni 2021.
- Pembantaian Nazi di Biara Ardennes
USAI mengintai wilayah antara Bandara Carpiquet dan Desa Rots di barat Caen, Normandia, Prancis pada 8 Juni 1944 pagi, Prajurit Jan Jesionek kembali ke markas Resimen di Biara Ardennes. Remaja 16 tahun asal Polandia yang diwajibmiliterkan oleh Nazi dan ditempatkan di Kompi Intai ke-15 Resimen Panzer Grenadier ke-25 Divisi Panzer SS ke-12 “Hitler Jugend” itu mencoba mencari kendaraan agar bisa kembali ikut ke dalam patroli. Dia akhirnya mendapatkan sebuah sepeda motor. Sial, dari pemeriksaan singkat didapati sepeda motor itu ternyata tak layak jalan. Jesionek pun terpaksa menunggu perbaikan sepeda motornya itu. Ketika perbaikan selesai menjelang tengah hari, Jesionek melihat dua prajurit SS mengawal tujuh tawanan asal Kanada menuju halaman biara. Ketujuh tawanan itu merupakan personel Resimen North Nova Scotia Highlanders (NNSH) dari Brigade ke-9 Divisi Infanteri ke-3 Kanada. NNSH mendarat di pantai Juno, Normandia pada 6 Juni 1944 (D-Day). Bersama Resimen Lapis Baja ke-27 “Sherbrooke Fusiliers”, NNSH melanjutkan gerak majunya ke selatan keesokan harinya dari Villons-les-Buisson. Kedua resimen menempati sisi terkiri lantaran Brigade Infantri ke-185 AD Inggris yang –maju dari pantai Sword– diplot melindungi dari kiri, terhenti langkahnya. Akibatnya, ada celah kosong di sayap kiri pasukan Sekutu.
- Pinjaman Nasional 1946, Pinjaman Warga untuk Republik
PUSAT pemerintahan Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada Januari 1946. Kala itu Jakarta tak aman lagi untuk pemerintahan Republik. Pertempuran antara pejuang Republik dengan serdadu Belanda dan tentara Sekutu meletus di beberapa tempat. Suara tembakannya terdengar hingga rumah presiden dan wakil presiden Indonesia. Kepindahan ke Yogyakarta menjadi salah satu upaya darurat untuk menyelamatkan masa depan Republik. Selain masalah keamanan, Republik juga berhadapan dengan masalah ekonomi. Keuangan Republik baru ini kembang-kempis alias bokek. Bahkan, menurut Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958), Republik hampir kehabisan uang tunai ketika pusat pemerintahan hijrah ke Yogyakarta. Untungnya Republik masih punya cadangan emas batangan dan candu. Tapi ini pun belum cukup untuk memperpanjang umur Republik. Perlu cara lain untuk membiayai Republik. Salah satunya dengan mencetak uang sendiri. Tapi pencetakan ini membutuhkan waktu. Sementara kocek Republik terus defisit untuk pembayaran pegawai dan delegasi ke luar negeri. Prawoto Soemodilogo, mantan penasehat Cuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat) bagian Ekonomi pada masa Jepang, mengusulkan agar pemerintah menarik dana dari masyarakat. Dana itu nantinya dianggap sebagai pinjaman negara dari rakyatnya. Termasuk dari orang asing. “Pinjaman itu harus disertai dengan kampanye dan publikasi yang besar,” kata Prawoto, dikutip John O. Sutter dalam Indonesianisasi: Politics in a Changing Economy, 1940–1955. Ide itu cukup menarik bagi pemerintah Republik. Menteri Keuangan Soerachman Tjokroadisoerjo kemudian membicarakan gagasan ini dengan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) –semacam DPR sementara. BP KNIP menyepakati cara ini. Tapi mereka ingin membatasi pinjaman pada warga Indonesia, bukan orang asing. Pemerintah menargetkan pinjaman dari warganya sebesar satu miliar rupiah. Dana itu akan dialokasikan untuk persiapan pendirian bank sirkulasi uang milik Republik (Poesat Bank Indonesia), menutup defisit anggaran, modal awal untuk kredit bank (Bank Rakyat Indonesia), dan proyek rekonstruksi. Ada sedikit keraguan dari pemerintah Republik ketika menggulirkan rencana ini. Tenaga penerangan untuk mengabarkan program ini terbatas. “Penerangan tidak dapat diadakan secukupnya berhubung dengan kesukaran-kesukaran teknis, seperti sukarnya perhubungan serta keadaan politik yang amat keruh,” terang Oey Beng To. Belum lagi soal kepercayaan warga Republik terhadap program Pinjaman Nasional. “Bagi negara baru, mengadakan pinjaman nasional serupa itu benar-benar merupakan suatu ujian besar bagi kepercayaan warga negara kepada pemerintahnya,” tambah Oey Beng To. Di luar dugaan, warga Republik ternyata menanggapi baik program Pinjaman Nasional. “Rencana pinjaman itu mendapat sambutan yang sangat memuaskan dari rakyat. Di mana-mana orang berusaha keras untuk menyediakannya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II (1946). Tapi warga Republik harus menahan hasratnya lebih dulu. Sebab pemerintah belum resmi mengeluarkan aturan tentang Pinjaman Nasional. Setelah dua bulan didengungkan, Pinjaman Nasional resmi dikeluarkan pemerintah pada 29 April melalui Undang-Undang No. 4 Tahun 1946. UU itu memuat bentuk Pinjaman Nasional. Warga akan memberikan pinjaman ke negara dalam bentuk uang rupiah dengan bukti surat pengakuan utang (obligasi) yang hanya dapat dimiliki warga negara Republik. Surat itu tak dapat dilepaskan kepada warga negara lain dan badan hukum negara lain. Negara akan mengganti utang dan bunga kepada warga selambatnya 40 tahun setelah Pinjaman Nasional digulirkan. Pemerintah juga menyatakan pinjaman itu akan berguna untuk menarik uang Jepang yang terlalu banyak beredar di masyarakat. Peredaran itu membuat tingkat inflasi tinggi sehingga merugikan Republik. Hanya dalam waktu 45 hari setelah pengumuman Pinjaman Nasional, dana yang terkumpul sudah mencapai 80 persen. Warga tumpah-ruah antre di bank-bank yang menjadi lokasi pembelian obligasi. “Hari pertama pendaftaran pinjaman nasional bank-bank dipadati oleh orang yang ingin membeli obligasi. Di Garut, pedagang Cina mengadakan pasar malam dan keuntungannya digunakan untuk membeli obligasi,” tulis Antara , 24 Mei 1946. Dari penjualan obligasi, Republik mendapat dana segar hingg Rp500 juta. Sekira Rp318 juta berasal dari Jawa dan Rp208 juta merupakan pembelian dari Sumatra. Kurang dari setahun, target Pinjaman Nasional berhasil tercapai. “Berkat Obligasi Nasional tersebut, keuangan negara dapat diperkuat dan Poesat Bank Indonesia serta Bank Rakyat Indonesia segera dapat ikut serta menggerakkan perkreditan secara teratur, baik bagi pertanian maupun kerajinan rakyat,” tulis Oey Beng To. Tapi pengembalian Pinjaman Nasional itu justru bermasalah. Buruknya pencatatan, dokumentasi, dan pengarsipan menyebabkan pemerintah gagal bayar pokok pinjaman dan bunganya ke para krediturnya. Ditambah lagi keadaan semakin runyam akibat Agresi Militer Belanda I dan II. Oey Beng To menyebut kejadian-kejadian itu telah melenyapkan Pinjaman Nasional 1946 dari perhatian umum.*





















