Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kurt Russell dari Bisbol ke Hollywood
KARIERNYA merentang dari 1962 hingga 59 tahun berselang. Tidak kurang dari 101 film layar lebar maupun film serial dibintanginya. Nama Kurt Vogel Russell hingga kini masih bertahan sebagai aktor kawakan papan atas Hollywood lintas genre dan karakter. Yang terbaru, Russell kembali beradu akting dengan Vin Diesel dan John Cena di film waralaba F9 ( Fast & Furious 9 ) yang dikabarkan baru akan rilis pada 25 Juni 2021. Kala berkisah dalam Mola Living Live , Jumat (21/5/2021) malam, pria kelahiran Springfield, Massachusetts, Amerika Serikat pada 17 Maret 1951 itu mengaku darah seninya diturunkan dari kedua orangtuanya, Louise Julia Crone yang seorang penari dan Neil Oliver ‘Bing’ Russell yang juga seorang aktor. Russell juga hobi bermain bisbol sebagaimana ayahnya yang pernah berkarier sebagai atlet bisbol profesional di Minor League Baseball. Russell mulai menseriusi bisbol di usia sembilan tahun dengan masuk tim California Angels. Setelah pindah ke Bend Rainbows, Russell masuk tim Walla Walla Islanders, El Paso Sun Kings, hingga terakhir Portland Mavericks –tim yang salah satu pemilik dan pendirinya adalah ayah Russell sendiri. Tetapi Russell terpaksa pensiun pada 1973 akibat cedera bahu. “Sedari kecil saya sudah menjalani dua hal, bisbol sejak usia sembilan dan akting di usia 10. Saya hanya ingin punya kesempatan menjalani keduanya selama mungkin. Ketika saya cedera di bisbol, saya mulai melihat bisnis layar lebar bisa jadi jalan hidup lain,” ujar Russell. Kurt Russell Vogel saat berbincang via Mola Living Live (Tangkapan Layar Mola TV) Elvis Presley, Siapa Dia? Memiliki ayah yang sudah punya nama di dunia akting memudahkan Russell mengenal lebih dekat industri film di Hollywood. Russell memulai debut aktingnya sebagai aktor pendukung di drama komedi Dennis the Menace (1962). Debutnya di layar lebar dimulainya sebagai figuran di film musikal It Happened at the World’s Fair (1963) yang dibintangi Elvis Presley. Meski Elvis sudah punya nama besar di panggung musik global, Russellsaat itu mengaku sempat tak mengenalnya. Dalam syuting film itulah ia baru bertemu seorang selebritis yang levelnya sudah mencapai stardom. “Dulu saya tak mengenalnya. Saya tidak mendengarkan musiknya. Usia saya baru 10 dan saya sibuk main bisbol sampai tak memerhatikan hal lain. Dia selebritis sungguhan dan orang terkenal pertama yang saya temui. Saya ingat hari pertama dia datang ke lokasi syuting, ada 300-400 gadis yang mengerubunginya. Saya sampai keheranan dan kru tata suara bilang pada saya: ‘ Well , itulah Elvis’,” imbuhnya. Kurt Russell beradu akting dengan Elvis Aaron Presley di film musikal It Happened at the World’s Fair (IMDb) Russell kemudian mengagumi Elvis lantaran popularitasnya tak menjadikannya bintang arogan dan sombong. Russell justru melihat Elvis sebagai sosok yang ramah, humble , dan menyenangkan. Russell tak menduga bahwa Elvis nge -fans ayah Russell hingga meniru cara memakai topi koboi Bing Russell di film-film atau drama seri bertema western yang dibintanginya, semisal Wagon Train (1957), Johnny Ringo (1959), atau Death Valley Days (1963). Dalam aktingnya, Bing Russell acap mengenakan topi dengan melipat tepinya ke atas. “Suatu waktu ayah mengajak saya ke MGM Studios dan Elvis mengenali ayah saya. Dia suka dengan cara ayah saya mengenakan topi koboinya. Dia (Elvis) menegur saya: ‘Apakah dia ayahmu? Bisakah saya bertemu dengannya?’ Saya bilang: ‘Ya, tentu saja.’ Saya kemudian memperkenalkan keduanya dan Elvis bilang: ‘Tuan Russell, saya suka dengan cara Anda mengenakan topi Anda. Jika saya main di film western , apakah Anda keberatan jika saya menirunya?’ Ayah saya terkesan dan tak keberatan. Seramah itulah Elvis,” kenang Russell. Bertahun-tahun kemudian, Russell dua kali memerankan sosok Elvis Presley. Pertama, dalam drama biopik Elvis (1979) di mana ia menerima nominasi Emmy Awards dan kedua, sebagai figuran di Forrest Gump (1994). Wasiat Walt Disney? Seiring memasuki usia remaja, Russell sempat dihadapkan pada pilihan antara bisbol dan Hollywood. Di medio 1960-an Russell masih berusaha membagi waktu di antara keduanya. Terlebih di usia 14 tahun Russell tinggal beberapa langkah lagi beranjak dari kompetisi amatir ke level pro. Tetapi, cedera bahu yangdialami Russell pada 1973 pada akhirnya mempermudahnya memilih. “Sulit bagi saya untuk memilih satu karena keduanya sama-sama konyol. Para pemiliknya idiot dengan membeli pemain mahal. Di sisi lain mustahil meyakinkan publik bahwa bisbol adalah kerja keras dan tentu saja jadi tantangan mental untuk menampilkan performa terbaik dalam 162 pertandingan. Tetapi bayaran kami lumayan. Tidak sedikit pemain yang mendapatkan gaji besar,” tutur Russell dikutip suratkabar Youngstown Vindicator edisi 2 Agustus 1981. Sejak kecil Kurt Russell menggemari bisbol hingga bermain di level amatir dan profesional ( milb.com ) Saat masih tampil di level amatir, Russell sudah menyambi di dunia akting.Dia sudah main di 10 film di bawah naungan The Walt Disney Company (WDC). B os besar WDC , Walter Elias ‘Walt’ Disney perlahan kagum pada Russell kecil. Russell disebut “anak emas” karena sejak usia 13 tahun sudah sangat akrab dengan Walt Disney. S eringkali ketika datang ke lokasi syuting, Walt me ng hampiri dan menyapa sampai mengajak Russell main tenis meja setiap jam makan siang. Russell mengaku tak pernah terintimidasi dengan besarnya nama Walt Disney. Dia justru merasa nyaman berada di dekatnya karena Walt Disney mengingatkannya pada sosok sang kakek dari garis ayah, Warren Oliver Russell. “Kakek saya pilot yang hebat dan dia seorang inovator yang kreatif. Sangat menyenangkan berada di dekatnya. Saya menemukan perasaan itu pada Tuan Disney. Baik saat main tenis meja, membicarakan film, atau mengajak saya jalan-jalan ke departemen lain di studio. Itu jadi bagian besar dari edukasi awal saya dalam bisnis (film) ini,” sambung ayah dua anak tersebut. Kurt Russell bersama ayahnya, Neil Oliver 'Bing' Russell (kiri) dan sosok Walter Elias 'Walt' Disney (Netflix/Library of Congress) Maka menjelang Russell masuk bisbol profesional, Disney melakoni beragam cara persuasif untuk menjadikan Russell bintang tetap Disney dengan tawaran kontrak berdurasi 10 tahun. Disney tak mau “anak emasnya” memilih bisbol sebagai jalan hidup satu-satunya dengan meninggalkan dunia akting. “Yang paling saya kenang adalah attitude -nya. Dia banyak melakukan hal luar biasa dalam hidup saya ketika itu meski saya juga sedang menseriusi bisbol karena tinggal beberapa tahun lagi sebelum saya bermain di level profesional. Dia tidak berusaha mendesak saya tapi mencoba sabar. Bahkan ketika saya bermain dia ikut datang menonton. Setelah menang ia mendatangi kamar ganti dan saya ingat dia bilang: ‘Saya dengar kita punya seorang pemain juara. Attaboy !’ Dia sosok yang sangat bijak,” tambah Russell. Tetapi saat kontrak itu belum ditandatangani, Walt Disney wafat pada 15 Desember 1966 akibat kanker paru-paru. Tak lama setelahnya Russell membubuhkan tanda tangannya di kontrak berdurasi 10 tahun yang “dimitoskan” sebagai wasiat terakhir Walt Disney.Banyak yang percaya pada “mitos” yang menyebutkan bahwa kata terakhir yang dituliskan Walt Disney di atas secarik memo di kantornya sebelum wafat adalah nama Kurt Russell. Russell sendiri, dikutip Amy Boothe Green dan Howard E. Green dalam Remembering Walt: Favorite Memories of Walt Disney , sedang syuting dengan rumah produksi Universal Studios saat menerima kabar meninggalnya Walt Disney. “Saya sedang disyuting dengan kamera close-up dan menyadari kegemparan terjadi di belakang kamera. Lalu semua orang terdiam. Mereka menatap saya dan seorang kru mengatakan: ‘Dengan menyesal saya harus memberi tahu Anda, Kurt, tetapi Walt Disney sudah meninggal’,” tutur Russell di biografi keluaran 1999 itu. Kolase Kurt Russell di Hollywood, searah jarum jam: Mosby's Marauders (1967); The Computer Wore Tennis Shoes (1969); Elvis (1979); Now You See Him, Now You Don't (1971) (IMDb/d23.com) Russell juga baru mengetahui “mitos” wasiat Walt Disney itu beberapa tahun kemudian. Memo itu sendiri baru ditemukan staf arsip di meja kerja Walt Disney pada 1970 dalam rangka mendokumentasikan dan menginventarisir barang-barang sang mendiang. “Saya berasumsi, sebagaimana orang lain, bahwa saat itu ia sedang memikirkan tentang film yang berpotensi untuk saya bintangi. Beberapa tahun setelah ia meninggal, para petinggi Disney memanggil saya dan mantan sekretarisnya menunjukkan memo itu dan mengatakan itu hal terakhir yang dia (Walt Disney) tuliskan,” lanjutnya. Beberapa pihak tidak percaya sepenuhnya bahwa hanya nama Kurt Russellyang jadi tulisan terakhir Disney sebelum meninggal. Salah satunya sejarawan dan kritikus Jim Korkis, yang menuliskan pendapatnya di kolomnya di Mouse Planet edisi 7 September 2011. Argumen Korkis berangkat dari fakta bahwa Disney tidak hanya punya satu melainkan dua ruang kerja. Korkis pun ragu dari ruang kerja mana memo yang hanya bertuliskan namaKurt Russell dan tanpa tanggal itu berasal. Pasalnya, di ruang kerja lain juga terdapat sebuah memo dengan tanggal yang spesifik, 8 September 1966. Memo itubertuliskan: TV Projects In Production: Ready for Production or Possible for Escalation and Story. Di memo itu juga tertera tulisan: “Ron Miller– ; 2 Way Down Cellar; 2 Kirt (sp) Russell; 3 CIA–Mobley.” “Ron Miller adalah nama menantu Walt yang juga produser di beberapa film. Way Down Cellar kemudian jadi acara televisi mingguan yang dimulai Januari 1968. Nama Kurt Russell ditulis dengan ejaan yang salah dan di bawahnya adalah referensi aktor muda Roger Mobley yang sebelumnya tampil di serial petualangan Adventures of Gallegher (1964). Jadi yang pasti nama ‘Kurt Russell’ bukanlah satu-satunya hal terakhir yang dituliskan Walt,” ungkap Korkis. Kolase Kurt Russell di Hollywood, searah jarum jam: Tango & Cash (1989); Backdraft (1991); Deepwater Horizon (2016); Sky High (2005) (IMDb/Walt Disney Pictures/Lionsgate) Terlepas dari kesimpangsiuran mitos tersebut, Russell kemudian naik daun setelah menandatangani kontrak 10 tahun dengan The Walt Disney Company. Walau beberapa kali gagal meraih Piala Oscar maupun Golden Globe, Russell tetap jadi aktor yang disegani karena piawai memainkan banyak karakter berbeda. “Saya senang memainkan banyak karakter karena saya juga senang memperhatikan orang lain. Kemudian saya mencoba menirukan sebagian gaya mereka dan mengombinasikannya dengan imajinasi saya sampai akhirnya saya menciptakan karakter orang itu dengan cara saya sendiri,” sambung Russell. Selain karena disegani sebagai aktor serba bisa, Russell juga mampu bertahan di belantika Hollywood lantaran tak satu dekade pun sejak 1962 ia pernah vakum tanpa tawaran main film atau drama seri. Russell menyatakan, salah satu faktornya adalah keberuntungan. Faktor lain adalah karena ia menerapkan mentalitas yang sama ketika ia masih bermain bisbol. “Saya selalu menjadi team-player setiap kali masuk ke lapangan. Saya harus melebur jadi satu tim dengan rekan-rekan untuk mendapatkan kemenangan, membuat saya menjadi bernilai bagi tim. Attitude saya sama di dunia hiburan. Ketika saya tampil di sebuah show , saya harus membuatnya berhasil, membuat saya menjadi bernilai bagi tim produksi, bagi pertunjukannya, bagi film, bagi aktor-aktor lain, bagi sutradara dan para krunya,” tukas Russell.
- Sikap KAA pada Konflik Israel-Palestina
KONFLIK antara Israel dan Palestina kembali memanas sejak bentrokan antara tentara Israel dan warga sipil palestina pecah pada akhir April lalu di Yerusalem. Bentrokan kemudian diikuti saling serang antara tentara Israel dan Hamas di pihak Palestina. Bentrokan ini sempat terhenti melalui gencatan senjata pada Jumat dini hari 21 Mei 2021. Namun, siangnya, bentrokan pecah lagi usai sholat Jumat di Masjid al-Aqsa, Jerusalem. Masalah Palestina telah dibicarakan dalam Konferensi Asia-Arika 1955 serta Konferensi Kolombo dan Konferensi Bogor yang diadakan sebelumnya. Bagaimana sikap negara-negara peserta KAA yang kala itu bersolidaritas atas nama anti-kolonialisme? Menurut sejarawan Wildan Sena Utama dalam Dialog Sejarah “Gerakan Asia Afrika dan Pembebasan Palestina” di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 21 Mei 2021, sikap mengenai Palestina telah disampaikan oleh Indonesia dan Pakistan sejak Konferensi Kolombo pada 1954. “Jadi, Indonesia dan Pakistan itu mengangkat masalah Palestina karena itu juga berkaitan dengan kolonialisme yang menjadi konsern dari negara-negara Asia yang berkumpul di Kolombo pada waktu itu. Dan mereka menyatakan, kedua negara itu, sikap keras terhadap agresi Israel di Palestina,” sebut Wildan. Konferensi Kolombo, lanjut WIldan, akhirnya menghasilkan satu simpati terhadap penderitaan Palestina yang diikuti oleh mendesak PBB untuk turut dalam penyelesaian konflik dan mengirim kembali para pengungsi Palestina. Masalah Palestina kemudian dibawa ke pembahasan persiapan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bogor pada tahun yang sama. Dalam pertemuan di konferensi yang juga disebut Konferensi Bogor atau Konferensi Lima Negara itu, perdebatan muncul sehubungan dengan undangan KAA kepada China dan undangan kepada Israel. Indonesia dan Pakistan masih bersikap sama, menentang pengakuan terhadap Israel. Sementara Burma dan Sri Lanka, tidak keberatan jika Israel diundang dalam KAA. Burma tidak melakukan penolakan terhadap Israel karena kedua negara tersebut memiliki hubungan ekonomi-politik. Sikap ini dipertahankan hingga ketika KAA digelar. Burma meminta kepada delagasi lain tidak memaksakan Burma agar menentang Israel. India, yang kala itu dipimpin oleh Jawaharlal Nehru, bersikap mendua dalam kasus itu. India tidak menolak diundangnya Israel, namun khawatir jika Israel diundang, negara-negara Arab akan absen dari KAA. KAA yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955 akhirnya tak mengundang Israel. Dalam konferensi bangsa-bangsa baru merdeka di Asia-Afrika itu, isu Palestina menjadi salah satu perhatian utama di bidang politik. “Jadi isu Palestina masuk ke dalam komite politik. Dan di sana Sukarno juga berbicara lantang di dalam pidato pembukannya,” terang Wildan. Dalam pidatonya, Sukarno menekankan mengenai apa yang menjadi dasar solidaritas negara-negara Asia-Afrika. Ia mengingatkan bahwa Asia-Afrika disatukan oleh sikap anti-kolonialisme, anti-rasialisme, dan keinginan membangun perdamaian dunia. “Dan Sukarno juga menekankan bahwa solidaritas Asia-Arika ini juga disatukan oleh apa yang dia sebut sebagai the lifeline of imperialism , garis hidup imperialisme yang menurut Sukarno itu membentang dari Selat Gibraltar, Laut Mediterania, Terusan Suez sampai ke Indian Ocean ,” sambungnya. Anti-kolonialisme isu Palestina juga paralel dengan perjuangan kemerdekaan Al-Jazair, Maroko, dan Tunisia. Saat itu, negara-negara Arab dengan keras mengutuk zionisme internasional. “Jadi mereka mengkomplain bagaimana resolusi PBB terhadap masalah Palestina itu tidak dijalankan oleh Israel. Dan juga negara-negara Arab itu mengatakan bahwa Zionisme adalah cruel imperialism : imperialism yang kejam,” terang Wildan. Sementara itu, India menolak zionisme diklasifikasikan sebagai imperialisme meskipun mengakui bahwa zionisme merupakan langkah agresif. India juga mengingatan tentang pembantaian terhadap Yahudi di Jerman, Polandia, dan Austria yang membuat orang Yahudi berkeinginan mendirikan negara sendiri. China juga punya sikap sendiri. Dalam pidatonya, PM Zhou Enlai mendukung negara-negara Arab dalam kasus Palestina. Zhou Enlai menegaskan bahwa ia menolak intervensi kekuatan asing di Palestina. Hal ini ia paralelkan dengan kasus Taiwan di mana dia mengutuk ancaman pangkalan militer Amerika Serikat. Meski terjadi beberapa perbedaan pendapat, KAA sepakat bahwa isu Palestina masuk dalam permasalahan kemanusiaan serta perlu segera diselesaikan. “Dan akhirnya Konferensi Asia-Afrika menyetujui dalam final komunikenya yang disebut sebagai Dasasila Bandung sendiri itu, ada poin tentang dukungan terhadap masalah Palestina itu sendiri sebagai salah satu ancaman dari ketegangan dunia, seperti itu. Dan mendesak agar pengungsi Arab itu dikembalikan lagi ke tanah mereka,” jelas Wildan.*
- Kata Soeharto: Tak Useh, yee...
Dengan gaya pemerintahan yang otoriter, tidak ada orang yang berani terang-terangan menentang Presiden Soeharto selama Orde Baru berkuasa. Apalagi memintanya untuk mundur dari jabatan presiden. Pemimpin rezim Orde Baru itu baru lengser setelah ditumbangkan lewat gelombang reformasi. Krisis moneter dan desakan rakyat yang berunjuk rasa menjadi cikal bakal keruntuhan Soeharto.
- Lima Kiper dengan Rekor Gol Paling Subur
AIR muka Alisson Becker tampak emosional. Kiper Liverpool berpaspor Brasil itu mengangkat telunjuknya ke langit dan disambut pelukan rekan-rekannya. Ia bukan baru melakukan penyelamatan heroik di bawah mistar gawang, melainkan mencetak gol yang membawa kemenangan timnya atas West Bromwich Albion pada matchday ke-36 Premier League di Stadion The Hawthorns, Minggu (16/5/2021). Gol Alisson lahir dari peluang “ textbook” yang berawal dari tendangan pojok Trent Alexander-Arnold di menit ke-90+5. Alisson berlari sejauh 80 meter dari sarangnya menuju kotak penalti lawan. Umpan Alexander-Arnold itu tepat menuju kepalanya. Tandukan Alisson pun meluncur keras ke sisi kiri gawang, membuat kiper West Brom Sam Johnstone mati langkah. Selain jadi gol perdana dalam kariernya, gol itu membuat Alisson tercatat jadi kiper Liverpool pertama yang menorehkan gol sepanjang 129 tahun sejarah klub. “Banyak hal yang tak bisa Anda jelaskan dalam hidup. Bagi saya satu-satunya alasan dari banyak hal itu adalah kehendak Tuhan –Dia meletakkan tangannya di atas kepala saya dan saya merasa diberkati. Saya berharap ayah saya masih hidup untuk melihatnya. Saya yakin dia ikut merayakannya di sisi Tuhan,” ujar Alisson, dilansir AP News , Minggu (16/5/2021). Charles Albert Alexander ‘Charlie’ Williams (kostum hitam) kiper pertama yang mencetak gol (Bexley Archives) Seorang kiper mencetak gol sejatinya bukan hal langka dalam sepakbola modern. Menariknya, kiper pertama di dunia yang mencetak gol juga berasal dari kompetisi Inggris. Adalah Charles Albert Alexander ‘Charlie’ Williams, kiper Arsenal, Manchester City, Tottenham Hotspur, Norwich City, dan Brentford yang membuat rekor itu. Kiper kelahiran Welling, Inggris pada 19 November 1873 itu melakukannya pada 14 April 1900 kala membela Manchester City. “Dia membantu City memenangkan Second Division 1898/99 dan jadi kiper pertama yang mencetak gol pada April 1900 dengan tendangan clearance -nya yang berakhir di belakang jaring (gawang) lawan dalam kekalahan City 3-1 dari Sunderland,” tulis Tony Matthews dalam Manchester City Player by Player. Tetapi itu jadi gol pertama sekaligus terakhir Williams. Seiring bergulirnya masa, bermunculan kiper-kiper lain dengan koleksi gol yang tak kalah banyak dari pemain dari posisi lain. Berikut lima kiper dengan catatan gol terbanyak dalam sepakbola dunia: Rogério Ceni (131 Gol) Rogério Mücke Ceni, goleiro dengan catatan gol terbanyak dalam sejarah sepakbola ( fifa.com ) Dari semua kiper produktif, hingga kini belum ada yang mampu melewati rekor Rogério Mücke Ceni. Goleiro (kiper) kelahiran Pato Branco, Brasil pada 22 Januari 1973 ini diakui sebagai kiper paling subur sejagat. Selama 25 tahun karier profesionalnya (1990-2015) di São Paulo FC dan Timnas Brasil, kiper keturunan Italia-Jerman ini mencetak 131 gol dari total 577 penampilan. Tidak hanya andal dalam penyelamatan penalti, Ceni juga lihai memainkan kakinya dalam mencetak gol maupun memberi umpan matang kepada rekan-rekannya. Skill itu, diungkapkan Ben Lyttleton dalam Twelve Yards , didapat Ceni dari latihan kerasnya di São Paulo, di mana ia selalu datang setengah jam lebih awal dari jadwal latihan tim untuk berlatih tendangan bebas sendiri. Namun, butuh lima tahun sampai akhirnya Ceni mendapat kepercayaan pelatih Muricy Ramalho untuk jadi spesialis tendangan bebas sejak debut Ceni di tim utama São Paulo (1992). Ceni membuktikan hasil dari latihannya dengan membukukan gol pertama dalam karier profesionalnya dari tendangan bebas ke gawang União São João a di Estádio Doutor Herminio Ometto, 15 Februari 1997 dalam kompetisi Campeonato Paulista. “Saya tahu bahwa Rogério adalah pemain terbaik yang kami miliki untuk mengambil tendangan bebas. Itu bukan keputusan yang keliru,” kenang Ramalho, dikutip Lyttleton. São Paulo sejatinya punya algojo “bola-bola mati” seperti Serginho dos Santos, misalnya. Saat kepelatihan berganti ke tangan Mário Sérgio de Paiva, Serginho-lah yang dipilih jadi algojo. Alasan pelatih bukan karena tidak percaya sang kiper, melainkan khawatir jika Ceni kehabisan stamina karena harus bolak-balik untuk mengambil tendangan. Tetapi setelah Mário Sérgio dipecat, Ceni kembali dipercaya menjadi eksekutor penalti dan tendangan bebas oleh pelatih berikutnya, Paulo César Carpegiani. “Fans juga selalu menuntut Ceni yang mengambil penalti walau Serginho juga sedang bermain. Dengan restu pelatih, Ceni selalu sukses mencetak gol dan tak lupa berselebrasi dengan memeluk Serginho. Puncaknya terjadi pada 2005, di mana selain São Paulo jadi juara domestik, Copa Libertadores, dan Piala Dunia Antarklub, Ceni menjadi topskorer klub dengan 21 gol (10 penalti, 11 tendangan bebas),” tandas Lyttleton. José Luis Chilavert (46 Gol) José Luis Félix Chilavert González saat mengeksekusi tendangan bebas kontra Slovenia di Piala Dunia 2002 ( fifa.com ) José Luis Félix Chilavert González masih bertahan sebagai kiper paling produktif kedua di dunia. Portero (kiper) kelahiran Luque, 27 Juli 1965 ini memegang rekor 67 gol dari 617 penampilan selama membela tujuh klub (1982-2004) dan Timnas Paraguay (1989-2003). Perangainya yang garang, temperamennya yang berapi-api, dan kegemarannya mengenakan kostum bergambar anjing bulldog membuatnya dijuluki “ El Buldog” . Selain jadi spesialis penalti, kapten Paraguay di Piala Dunia 1998 dan 2002 ini juga dikenal punya kaki andal dalam menyarangkan gol lewat tendangan bebas. “Saya yakin bahwa jika seorang kiper mengambil penalti di masa-masa kini, itu karena saya dan warisan saya. Saya seorang revolusioner. Banyak kiper yang mengaku bahwa sayalah yang jadi referensi mereka dan karena itu saya bangga,” cetusnya, dikutip Ben Lyttleton dalam Twelve Yards: The Art and Psychology of the Perfect Penalty Kick. Skill Chilavert dalam penalti dan tendangan bebas diasahnya saat berkarier di Real Zaragoza, Spanyol. Meski di klub pertamanya, Sportivo Luqueño, ia sudah pernah bikin empat gol, Chilavert baru benar-benar menseriusi latihan tendangan bebas di Zaragoza. “Fans (Zaragoza) sering meneriaki saya untuk kembali ke gawang tapi saya tak pernah peduli apa kata orang. Saya yakin pada kemampuan sendiri. Saya biasa berlatih penalti dan tendangan bebas 80 sampai 120 kali hingga tim mempercayakan tugas itu kepada saya,” imbuhnya. Chilavert kemudian juga tercatat sebagai kiper pertama dalam sejarah sepakbola modern yang menorehkan hattrick . Tetapi di sisi lain, Chilavert juga kondang dengan cerita-cerita miring. Semisal kala ia bertengkar dengan Isidro Villanova di Zaragoza. “Di laga Zaragoza melawan Real Sociedad, Chilavert mengambil penalti atas instruksi pelatih Radomir Antić. Chilavert minta bek Villanova menjaga gawangnya. ‘Jangan bergerak dari garis gawang,’ katanya. Chilavert mencetak gol tapi Sociedad memulai lagi pertandingan saat kiper masih berlari kembali ke gawang. Villanova meninggalkan posisinya dan Zaragoza kebobolan. Chilavert meneriaki Villanova: ‘Jika ibumu menyuruhmu ke pasar apakah Anda akan mengabaikan dan memilih bermain ke rumah teman?’ Wajah Villanova langsung pucat,” pungkas Lyttleton. Johnny Martín Vegas (45 Gol) Johnny Martín Vegas Fernández, portero ketiga dengan perolehan gol terbanyak (Twitter @johnnyvegasf) Johnny Martín Vegas Fernández tercatat jadi kiper paling produktif ketiga dunia dengan torehan 45 gol selama kariernya dari 1997-2017. Kiper kelahiran Huancayo, Peru pada 9 Februari 1976 ini juga spesialis tendangan penalti. Situs International Federation of Football History & Statistics mencatat, Vegas mengukir 45 gol dari total 491 penampilan di 14 klub dan Timnas Peru, di mana 30 di antaranya lahir dari titik putih dan sisanya dari tendangan bebas dan gol yang memanfaatkan umpan pojok. Vegas paling produktif bersama Sport Boys yang jadi klub profesional pertamanya (1997-2003) di Liga Peru, di mana dia menyumbang 20 gol. Rekor itu membuatnya jadi kiper paling subur ketiga dan mendepak Jorge Campos keluar dari lima besar serta Higuita ke urutan keempat. Torehan itu mengundang sanjungan dari kiper legendaris Paraguay, José Luis Chilavert, yang juga produktif. “Kami memang belum pernah saling berhadapan tetapi saya selalu mengikuti kariernya. Dia adalah kiper spektakuler, sangat cekatan dan, lihai dalam permainan dengan kaki. Dia adalah legenda hidup sepakbola dunia. Kami (kiper) selalu diingat akan warisan dan tanpa diragukan warisan itu diakui banyak orang,” tutur Chilavert, disitat Canal N , 9 Juli 2020. Dimitar Ivankov (42 Gol) Dimitar Ivanov Ivankov, kiper Bulgaria yang melegenda di Turki ( bursaspor.org.tr ) Dimitar Ivanov Ivankov juga dikenal sebagai kiper pengoleksi banyak gol dari bola mati. Kiper kelahiran Sofia, Bulgaria, 30 Oktober 1975 ini sepanjang kariernya (1996-2011) punya koleksi 42 gol dan menjadikannya kiper dengan torehan gol terbanyak keempat. Seluruh golnya ditorehkan Ivankov dari tendangan penalti. Usut punya usut, itu terjadi karena sikap tenangnya melebihi rekan-rekan setimnya yang acap gugup mengambil tendangan penalti sejak dari membela Levski Sofia (1996-2005), Kayserispor (2005-2008), Bursaspor (2008-2011), hingga Anorthosis Famagusta (2011). Ivankov berkisah kepada Otzasada , 21 Juli 2020 bahwa ketenangannya merupakan hasil dari ketekunan berlatih tendangan penalti. Mulanya, pelatih dan rekan-rekannya tak pernah menanggapi serius inisiatif Ivankov yang berlatih sendirian selepas sesi latihan rutin. Latihan itu sangat berguna pada laga Levski kontra SFC Etar Veliko Tarnovo di Parva Liga (Liga Bulgaria), 1 April 1998. Pada suatu momen, Levski mendapatkan hadiah penalti tetapi hampir semua pemain kebingungan menentukan siapa algojonya. Melihat rekan-rekannya gugup, Ivankov berinisiatif maju untuk jadi algojonya. Ivankov pun sukses melaksanakannya dan itu jadi gol perdana dalam kariernya. “Saya bertanggungjawab atas penalti-penalti di Levski karena saya mampu meredam kegugupan. Saya ingat pertandingan tandang melawan Brøndby IF (UEFA Cup 2002/2003, red. ) ketika saya ambil penalti tanpa persetujuan pelatih saya. Pascalaga, (manajer) Slavoljub Muslin marah atas keputusan saya itu tetapi rekan-rekan saya sangat gugup mengambilnya, jadi saya melakukan apa yang menurut saya benar,” kenang Ivankov. René Higuita (41 Gol) José René Higuita Zapata, kiper nyentrik yang acap melakoni aksi aktrobatik ( fifa.com ) Kiper Kolombia kelahiran Medellín, 27 Agustus 1966 ini kondang dengan penampilan dan gaya eksentriknya di bawah mistar. Publik menjulukinya “ El Loco” alias “Si Gila” berangkat dari aksi-aksinya nekatnya sebagai sweeper-keeper atau kiper yang berani maju jauh dari sarangnya. Momen paling dikenang dalam kariernya adalah aksi Higuita melakukan scorpion kick –atau upaya penyelamatan akrobatik menggunakan dua kaki dari belakang sambil loncat seperti kalajengking– pada laga persahabatan Inggris kontra Kolombia di Stadion Wembley, 6 September 1995. Higuita melakoninya dalam rangka mengamankan gawangnya dari tendangan lambung Jamie Redknapp. “Berdiri dalam posisi yang pas di antara dua tiang gawang dan menghadap tepat pada bola yang dipegang lawan, sang kiper (Higuita) membiarkan bola melewati kepalanya tapi di detik terakhir ia melemparkan kakinya ke arah punggung seperti ekor kalajengking untuk mengamankan bola. El Loco mematangkan terus aksi itu pada beberapa kesempatan lain sebelum pensiun pada 2010 yang mengakhiri 25 tahun karier luar biasanya,” ungkap Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorite Sport . Dari 25 tahun karier sepakbolanya, Higuita memulai kariernya pada 1985 di Millonarios FC. Hingga setahun berikutnya, Higuita sudah mendulang tujuh gol. Dari 11 klub yang pernah dibelanya, Higuita nyaris tak pernah absen menyumbang gol. Total koleksi golnya sebanyak 41 buah, tiga di antaranya untuk timnas Kolombia. “Gol-gol Higuita diciptakan dari tendangan penalti dan tendangan bebas, bukan dari skema open play . Ini membuat Higuita punya waktu untuk maju ke depan untuk mengambil tendangan. Tapi jika dia gagal mencetak gol, El Loco harus sprint kembali melawan waktu detik demi detik dari serangan balik lawan,” kata Leidy Klotz dalam Sustainability through Soccer: An Un Expected Approach to Saving Our World.
- Hamas Senjata Makan Tuan Israel
BERMULA dari Gerbang Damaskus, krisis Palestina-Israel lagi-lagi membara. Pada permulaan bulan suci Ramadhan, 12 April 2021, polisi Israel memblokade Gerbang Damaskus yang jadi akses warga Palestina menuju kota tua Yerusalem. Padahal, umat muslim punya tradisi berkumpul di Yerusalem setiap awal Ramadhan. Blokade itu memicu perlawanan dan membuahkan bentrokan. Keadaan makin parah karena dikompori oleh kemunculan video seorang pemuda Palestina menampar seorang Yahudi yang viral di TikTok pada 15 April. Video itu membuat aparat keamanan Israel membatasi warga muslim Palestina yang hendak shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa keesokan harinya. Bentrokan demi bentrokan antara warga Palestina dengan warga Israel yang dibantu polisi terus terjadi di Gerbang Damaskus, kota Jaffa, dan Yerusalem Timur setelah itu. Militer Israel (IDF) melepaskan sejumlah roket ke posisi-posisi Hamas pada 23 April. Tak ayal, Hamas pun membalasnya dengan menembakkan 36 roket keesokan harinya. Situasi yang makin genting bagi warga sipil Palestina hingga lepas Hari Raya Idul Fitri membuat sejumlah pemimpin dunia melayangkan kecaman. Pasalnya belum ada tanda-tanda militer Israel akan menurunkan status kesiagaannya. Baca juga: Prahara Yerusalem Sejak 1948 Serangan roket-roket Hamas ke wilayah Israel (kiri) berbalas serangan udara ke wilayah Palestina di Jalur Gaza ( fdd.org/un/org ) Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu malah mengindikasikan akan menggelar serangan lebih masif. Dia tak peduli ratusan warga Palestina di Jalur Gaza maupun Tepi Barat menjadi korban. “Ini belum berakhir. Kami akan melakukan segalanya untuk memulihkan keamanan di kota-kota dan bagi rakyat kami,” ujar Netanyahu, dikutip NPR , Jumat (14/5/2021). Netanyahu ingin menghancurkan semua pusat kekuatan Hamas yang menembakkan roketnya ke Israel. Hamas dengan sayap militernya Brigade Izz ad-Din al-Qassam selalu jadi target IDF sepanjang konflik Israel-Palestina sejak 1987. Padahal, dalam proses kelahiran organisasi perlawanan yang dicap militan teroris oleh beberapa negara itu ada tangan Israel yang ikut membidani. Organisasi Amal Jadi Militan Bersenjata Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah (Pergerakan Perlawanan Islam) atau Hamas mulanya merupakan organisasi onderbouw Ikhwanul Muslimin (IM) yang berdiri di Mesir pada 1928. Pada 1973, IM membuka cabang organisasinya, Mujama al-Islamiya, di Jalur Gaza sebagai wadah amal dan sosial untuk membantu warga Palestina yang terdampak Perang Arab-Israel III (5-10 Juni 1967). Mujama al-Islamiya di Gaza dipimpin Sheikh Ahmed Yassin. Organisasi itu diakui dan bahkan disokong dana oleh pemerintah Israel sejak 1979 demi kepentingan menjaga ketertiban di Yerusalem. Israel awalnya ingin menjadikan Mujama al-Islamiya sebagai kepanjangan tangannya dalam pertarungan politik melawan kelompok nasionalis Fatah dengan Palestine Liberation Organization (PLO)-nya. “Di masa itu PLO pimpinan Yaser Arafat adalah musuh Israel nomor satu. Untuk meredam kekuatan PLO, Tel Aviv mengizinkan Yassin mengembangkan Mujama agar memecah kekuatan perjuangan pimpinan Arafat tersebut. Yang kemudian dijadikan teladan adalah Ikhwanul Muslimin, gerakan sosial yang didirikan Hasan al-Banna di Mesir pada 1928. Mujama ingin menjadi organisasi sosial dan menampilkan wajah Islam yang memikat; penuh kasih dan menebar persaudaraan,” tulis Nando Baskara dalam Gerilyawan-Gerilyawan Militan Islam. Baca juga: Sumbangsih Pertama Indonesia untuk Palestina Sheikh Ahmed Ismail Hassan Yassin (kiri) yang mendirikan Al-Mujama al-Islamiyah ( istanleycohen.org ) Dengan sumber dana memanfaatkan zakat dan wakaf dari sesama muslim, serta sokongan Israel melalui Gubernur Gaza Brigjen Yitzhak Segev, Mujama al-Islamiya membuka sekolah-sekolah, menggelar program-program beasiswa, serta membangun sejumlah perpustakaan dan masjid. “Pemerintah Israel memberikan saya pendanaan dan pemerintahan militer memberikannya kepada masjid-masjid,” kenang Brigjen Segev, dikutip David Pratt dalam Intifada: Palestine and Israel. Baca juga: Kisah Mossad Mengevakuasi Yahudi Afrika Badan Intelijen Israel Mossad memanfaatkan pengiriman-pengiriman dana itu dengan menyusup ke internal Mujama guna menggali informasi tentang para tokoh PLO di seantero Gaza. Mossad melakoninya dengan dibantu seorang mantan anggota senior CIA (intelijen Amerika Serikat). “Tidak diragukan lagi bahwa selama beberapa periode tertentu pemerintah Israel merasakan manfaat kelompok fundamentalis Islam (Mujama) itu sebagai fenomena menyehatkan dan sebagai counter bagi PLO. Rencana kami (intelijen Israel) adalah mencoba membelah secara langsung dukungan yang kuat terhadap PLO yang sekuler dengan menggunakan paham agama,” kata Moshe Arens (menteri pertahanan Israel periode 1983-1984 dan 1990-1992) dalam In Defense of Israel: A Memoir of a Political Life. Pengaruh pergerakan Sheikh Yassin yang turut mendapat simpati Ayatollah Ali Khamenei dari Iran ( khamenei.ir ) Makin lama pengikut Sheikh Yassin makin militan saat bentrok dengan kelompok Fatah. Tak ayal para aktivis Mujama pun memerlukan senjata. Itu lalu diwujudkan dengan membeli senjata menggunakan pendanaan Israel sekaligus membentuk milisi Al-Majihadoun al-Falestinioun. Pengadaan senjata itupun tercium militer Israel yang kemudian menciduk Sheikh Yassin. “Al-Majihadoun al-Falestinioun didirikan Sheikh Ahmad Yassin pada 1982. Kelompok ini nyatanya memperoleh persenjataan dan merencanakan perlawanan bersenjata, baik terhadap saingan Palestina (Fatah) dan Israel. Tetapi aktivitasnya diketahui (Israel) pada 1984 dan Yassin dihukum penjara 13 tahun walau kemudian dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran tahanan dalam Perjanjian Jibril pada Mei 1985,” ungkap Anthony H. Cordesman dalam Perilous Prospects: The Peace Process and the Arab-Israeli Military Balance. Penyesalan Israel Tetapi semuanya berubah Pada 1987, Intifada Pertama pecah (8 Desember 1987-13 September 1993). Pemberontakan besar-besaran warga Palestina terhadap otoritas Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza itu bermula dari peristiwa tabrakan truk IDF dengan sebuah mobil yang menewaskan empat warga Palestina di Kamp Pengungsian Jabalia. Walau pihak IDF menyatakan kecelakaan itu bukan kesengajaan, peristiwa itu sudah kadung membakar amarah warga Palestina yang membunuhi orang-orang Yahudi di Gaza. Bentrokan terjadi di mana warga melempari aparat IDF dengan batu dan bom Molotov. Kelompok Fatah pun bereaksi dan untuk pertamakali kelompok nasionalis itu berdiri di satu pihak dengan para pengikut Sheikh Yassin. Bersamaan dengan pecahnya Intifada Pertama, Sheikh Yassin dan enam petinggi senior Mujama mendirikan Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah (Hamas) sebagai organisasi politik dan militer. Para milisinya terdiri dari para anggota Al-Majihadoun yang berdiri lima tahun sebelumnya. Baca juga: Enampuluh Tahun KAA Membahas Palestina Pengaruh Sheikh Yassin dengan Hamasnya makin menarik dukungan lebih besar baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat. Kepopulerannya kian menanjak mengingat rivalnya, Yasser Arafat dari Fatah, lebih sering bermarkas di Tunisia setelah serangkaian upaya pembunuhan pada 1985. “Kelompok (Hamas) itu mulai menonjol. Berubah dari kelompok yang mengedepankan dakwah menjadi kelompok yang paling siap dengan senjata dan bahan-bahan peledak. Hamas juga membentuk sistem kontraintelijen di mana para kolaborator Israel dilenyapkan,” sambung Pratt. Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas ( mfa.gov.il/fdd.org ) Hamas dibentuk Sheikh Yassin dan keenam rekannya dengan visi-misi membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan menolak segala bentuk kompromi sebagaimana Fatah. Hamas menegaskannya lewat Piagam Hamas yang ditandatangani para pemimpinnya pada 18 Agustus 1988. Seiring makin besarnya pengaruh Hamas, dibentuk pula sayap khusus militer, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, pada 1993 yang mengambil nama Imam besar Izz ad-Din bin Muhammad al-Qassam, imam besar dan pemimpin militan jihad anti-Zionis di era 1920-an Al-Kaff al-Aswad (Tangan Hitam). Baca juga: Sukarno dan Palestina Sebagai akibat dari aksi-aksi terornya terhadap warga sipil Israel sejak 1993, Hamas dan Brigade Al-Qassam kemudian jadi target utama Israel dalam Intifada Kedua (28 September 2000-8 Februari 2005). Gigihnya perlawanan Brigade Al-Qassam Hamas menarik simpati kelompok anti-Israel lain seperti Hezbollah di Lebanon, militer Iran dan bahkan Korea Utara. Dari Hezbollah dan Iranlah para anggota Hamas mendapat pelatihan militer di Suriah dan Iran. Latihan itu termasuk merakit bom dan membuat roket-roket secara mandiri. “Sayap militer Hamaslah yang mengklaim bertanggungjawab atas pemboman bus di Afula dan Hadera pada 6 April 1994 yang menewaskan 14 warga Israel dan melukai 75 lainnya. Mereka pula yang bertanggungjawab atas peculikan kopral Israel, Nachson Wachsman, penembakan warga di jalan-jalan Yerusalem pada 9 Oktober, bom bunuh diri dalam bus di Tel Aviv 19 Oktober yang menewaskan 22 warga Israel,” tulis Cordesman. Sejak berdirinya 8 Desember 1987, kini Hamas menjadi organisasi politik terbesar dan menguasai Parlemen Palestina ( ict.org.il ) Hamas jadi senjata makan tuan bagi Israel. Ia jadi musuh nomor satu Israel menggantikan Fatah dengan PLO-nya. “Hamas, sebagai penyesalan terbesar saya, adalah ciptaan Israel. Sebuah kesalahan besar yang bodoh. Alih-alih mencoba membatasi dan mengekang para aktivis Islamis pada permulaannya, selama bertahun-tahun Israel menoleransi dan, dalam beberapa kasus, mendorong mereka sebagai pengimbang kelompok nasionalis sekuler (Fatah),” singkap Avner Cohen, sejarawan dan eks-pejabat urusan agama Israel, kepada The Wall Street Journal , 24 Januari 2009. Pemerintah Israel sempat membantah bahwa mereka mendanai dan melahirkan Hamas. Namun fakta historis berkata lain. Sejumlah sejarawan, jurnalis, dan eks-pejabat pemerintahan Israel memperkuat klaim Cohen. “Ketika saya melihat ke belakang pada rantai kejadiannya, saya pikir kita (Israel) memang melakukan kesalahan. Tetapi di saat itu belum satu pun orang yang menyadari hasilnya seperti ini,” ujar David Hacham, staf ahli urusan politik Arab di IDF. Baca juga: Darah dan Air Mata Palestina
- Tentara Rusia di Angkatan Laut Indonesia
SELASA, 16 JANUARI 1962. Sebuah siaran dari Radio Australia menyampaikan kabar mengejutkan bagi dunia petang itu. Disebutkan pada Senin malam (15 Januari 1962), sebuah kapal cepat torpedo milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) berhasil dihancurkan oleh kapal perang Marinir Belanda di Laut Aru, Papua. Melansir pernyataan DPA (Kantor Berita Belanda), sang penyiar menginformasikan bahwa dalam pertempuran laut itu, Marinir Belanda berhasil menawan sekira 50 prajurit Indonesia. “Kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal Indonesia yang sedang bergerak di perairan territorial Belanda, di arah selatan pantai Papua Barat,” demikian laporan Radio Australia.
- Ketika Nicolaas Jouwe Bertemu Presiden Kennedy
AMERIKA Serikat (AS) terlibat dalam Perjanjian New York yang menyepakati penyerahan Papua kepada Indonesia sekaligus mengakhiri kekuasaan Belanda. Setelah urusan perjanjian itu selesai, Presiden AS John F. Kennedy hendak bertemu dengan wakil-wakil dari Papua. Ada tiga kandidat yang direkomendasikan. Mereka antara lain Markus Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, dan Herman Womsiwor. Markus Kaisiepo, politisi partai Gerakan Persatuan New Guinea (GPNG), adalah yang paling senior. Sementara itu, Herman Womsiwor, pemuda dari desa Numfor, Biak merupakan yang paling muda. Pada Perang Dunia II, Womsiwor diperbantukan sebagai tentara Sekutu berpangkat sersan. Namun, Kennedy menjatuhkan pilihan kepada Nicolaas Jouwe. Selain sebagai penasihat bagi delegasi Belanda, Jouwe merangkap wakil presiden Dewan Papua yang dipersiapkan memimpin negara Papua kelak.
- Bersahabat dan Bertualang dengan Landak Super
PADA suatu hari di sebuah planet nun jauh dari bumi, Sonic (di- voice over Ben Schwartz) si landak antropomorfik begitu lincah berlarian dengan kecepatan supersonik yang jadi kekuatannya. Dia bermain-main sendiri.Padahal, Longclaw (di- voice over Donna Jay Fulks) si burung hantu antropomorfik, mentornya, sudah memperingatkan agar tak menarik perhatian banyak pihak yang jahat. Benar saja. Kelakuan Sonic yang tak bisa diam membuat kawanan echidna ( landak semut ) mengejarnya. Demi bisa menyelamatkan Sonic, Longclaw memberinya sekantong cincin emas ajaib yang bisa jadi portal menuju planet lain: bumi. Sonic pun bisa hidup tenang di sarangnya di bumi, tepatnya di Green Hills, Montana, Amerika Serikat. Saban hari dan malam Sonic acap keluyuran tanpa terlihat manusia berbekal kekuatan berlari secepat kilat. Namunlama-kelamaan Sonic merasa kesepian. Ia sangat mendambakan teman. Saking pilu dan tak bisa menahan emosinya, secara tak sadar Sonic mengempaskan gelombang elektromagnetnya hingga memadamkan listrik seantero Green Hills. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Kementerian Pertahanan Amerika mengira negeri mereka diserang dengan senjata EMP. Pemerintah kemudian mempercayakan ilmuwan eksentrik Dr. Ivo ‘Eggman’ Robotnik (Jim Carrey) untuk menginvestigasinya. Kedatangan Dr. Robotnik yang menghebohkan itu menutup bagian pembuka film petualangan Sonic the Hedgehog yang dibesut sutradara debutan Jeff Fowler. Kolase aksi petualangan Sonic melawan tokoh jahat Dr. Robotnik ( paramount.com ) Adegan berganti, Sonic diburu Dr. Robotnik.Tak sengaja ia bertemu Sheriff Green Hills, Thomas ‘Tom’ Wachowski (James Marsden).Dalam pertemuan yang tak disangka itu Tom tak sengaja menembak kaki Sonic dengan panah biushinggalumpuh sementara.Tindakan yang terdorong kepanikan itu menyebabkan sekantong cincin emas Sonic terlempar secara ajaib ke sebuah gedung di San Francisco. Merasa bersalah , Tom lalu mengantar Sonic ke San Francisco . D alam dua hari road trip itu perlahan terjalin persahabatan di antara keduanya, ha l yang sejak lama didambakan Sonic. Baca juga: Spider-Man Terjerat Tipu Daya Sayangnya perjalanan mereka bukanlah liburan. Dr. Robotnik dengan segala teknologi canggih yang dimilikinya acap menghalangi. Belum lagi,pemerintah gencar mengkampanyekan Tom dan Sonic sebagai teroris.Dengan topeng tugas dari pemerintah, Robotnik berupaya mewujudkan ambisinya untuk mencari tahu sumber kekuatan Sonic. Petualangan seru memburu Sonic dan upaya Sonic menyelamatkan diri pun dimulai. Bagaimana keseruan petualangan Tom dan Sonic dalam menghindari pengejaran Dr. Robotnik yang sarat akan aksi-aksi kocak dan mengocok perut? Baiknya Anda tonton sendiri Sonic the Hedgehog yang bisa jadi tontonan keluarga pada masa libur Lebaran 2021 di aplikasi daring Mola TV . Ikon Game Ramah Anak Efek visual CGI (computer-generated imagery) yang halus diiringi beberapa tembang lawas nan nge- beat seperti “Don’t Stop Me Now” karya band legendaris Queen, misalnya, menambah kental suasana era 1990-an di mana Sonic jadi bagian keseharian para pecinta video game Sega. Suasana makin berwarna karenasutradara Fowler yang dibantu penulis skenario Jim Carrey menyuguhkan aksi-aksi petualangan dengan kombinasi action dengan komedi ringan yang menyegarkan. Maka kendati alur ceritanya sangat klasik , berupa misi penyelamatan protagonis dari sosok antagonis dengan happy ending , publik menyambutnya dengan antusia s me besar sejak film di rilis terbatas p a da 25 Januari dan rilis umum pada 14 Februari 2020. Sonic the Hedgehog yang berongkos produksi 90 juta dolar nangkring di urutan keenam film terlaris 2020 dengan meraup laba 319,7 juta dolar. “Plotnya sangat simpel. Landak tercepat di dunia yang nakal dan jenaka berlari menyelamatkan diri dari penjahat yang menginginkan kekuatan. Tetapi storyline sederhana itu bisa menemukan cara untuk mengadaptasikan karakter game dengan menambah konsep universal seperti persahabatan ke dalam tensi game aslinya antara alam dan mesin-mesin canggih,” ulas kritikus Aparita Bhandari yang dimuat The Globe and Mail , 13 Februari 2020. Baca juga: Muasal Sub-Zero yang Diperankan Joe Taslim Fowler punya alasan tersendiri mengapa ia bersama Jim Carrey dan tim penulis meracik Sonic the Hedgehog dengan konsep universal. Selain demi bisa lebih diterima sebagai film keluarga, Fowler ingin lebih dulu memperkenalkan pangkalpermusuhan Dr. Robotnik dengan Sonic. “Kami melihat game (Sonic) 1991 dan ingin melihat dari mana segalanya bermula dan membuatnya tetap sederhana. Hanya berusaha menonjolkan bagaimana awalnya perseteruan Sonic dan Robotnik. Memang banyak karakter di semesta Sonic, tapi yang terpenting adalah bagaimana kisah awalnya dan membuat film yang bisa dicintai semua orang,” ujar Fowler, dilansir Comic Book Resources , 27 Februari 2020. Naoto Oshima (kiri) pencipta karakter Sonic the Hedgehog (Game Developers Conference/Sega) Maka ia merasa belum waktunya menyisipkan detail lain tentang Sonic yangada di videogame. Jadi jangan harap karakter-karakter lain Sonic dalam game dan transformasinya menjadi Super Sonic ada di film ini. “Seperti yang saya bilang tentang kesederhanaan dan demi menyuguhkan versi yang paling simpel. Kami berkeputusan untuk menggarap awal mula Sonic dan Robotnik sebelum kami punya potensi membuka lebih luas elemen-elemen dari game -nya (di sekuel) yang dikenal dan dicintai fans,” imbuhnya. Ramah anak dan ramah keluarga. Nilai itu yang diambil Fowler dalammenciptakan semesta Sonic. Nilai itu terinspirasi dari tujuan awal penciptaan Sonic. Pada awal 1990-an, karakter Sonic beserta karakter-karakter pendukungnya diciptakan desainer-desainer game asal Jepang dengan visi ramah anak.Selain anak-anak bisa dengan mudah menggambar karakternya,diharapkan dengan begitu karakter-karakternya akan mudah terekam di ingatan semua usia. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Sonic dilahirkan pengembang game Sega dengan tujuan khusus: mengimbangi kepopuleran pengembang game saingannya, Nintendo, yang pada akhir 1980-an kondang dengan Mario Bros sebagai ujung tombaknya. Maka pada awal 1990 Presiden SegaHayao Nakayama menggelar sayembara internal untuk tujuan tersebut, dandiikuti 200 desain hasil karya sejumlah desainer game. “Dari 200 desain mengerucut jadi empat opsi final berupa serigala, anjing bulldog, humanoid berbentuk telur, dan kelinci. Saat itu belum ada desain landak tapi seniman Naoto Oshima dengan desain berupa kelinci mendapat kesempatan kedua mengembangkan karakter yang diharapkan bisa laku keras,” tulis Jessica A. Robinson dalam “Sonic the Hedgehog” yang termuat di 100 Greatest Video Games Characters . Desain awal karakter antagonis Dr. Ivo 'Eggman' Robotnik (kanan) dan kemudian diperankan komedian watak Jim Carrey ( paramount.com/rpgamer.com ) Kesempatan itu dimanfaatkan Oshima untuk terbang dari Jepang ke New York, Amerika Serikat. Berlembar-lembar kertas jadi media buatnya mengembangkan desain awalberupa kelinci ke dalam empat gambar berbeda. Empat desain pengembangannya itu –seekor armadillo, landak, anjing, dan seorang pria tua yang kelak jadi desain awal Dr. Ivo ‘Eggman’ Robotnik– laludijadikan bahan polling informal dengan disebar acak ke pengunjung Central Park. “Hasilnya adalah, si landak yang paling populer; kebanyakan orang menunjuk desain ini dan sangat menyukainya karena landak adalah hewan lucu dan melampaui sekat-sekat ras dan gender. Terpopuler kedua adalah Eggman dan yang ketiga adalah desain anjing,” kenang Oshima, disitat Gamasutra , 21 Maret 2018. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Sepulangnya ke Jepang, Oshima mengembangkan lagi desain landak itu dibantu rekan desainer Hirokazu Yasuhara dan programmer Yuji Naka. Oshima menyempurnakannya dengan bulu dan duri berwarna biru khas warna kebesaran Sega, bersepatu snickers merah, dan bermata besar. Karakter ciptaannya itu lalu dinamakannya Mr. Needlemouse,laludigantijadi Mr. Hedgehog.NamaSonic akhirnya jadi pilihan terakhirnya karena punya kecepatan super sonik. “Bulunya yang berwarna biru juga merepresentasikan perdamaian, kepercayaan dan sosok yang keren. Biru juga sesuai dengan warna logo Sega,” ungkap Naka dikutip Kenny Abdo dalam Sonic: Sonic the Hedgehog Hero. Oshima juga membuat tokoh antagonisnya, Dr. Robotnik, dengan bentuk yang mudah digambar anak-anak. Desainnya dibuat berkepala plontos, berbadan bulat, berkumis tebal mirip Presiden Amerika Theodore Roosevelt, mengenakan kacamata prince-nez, serta mantel merah berkerah kuning, dan celana hitam dengan dua kancing putih. Baca juga: Stan Lee dalam Semesta Marvel Pada medio 1991, serial game Sonic the Hedgehog diluncurkan ke pasaran. Game yang struktur dan temanya terbilang mirip Mario itu dimainkan lewat game console generasi keempat, Sega Genesis. Sambutan yang diterimanya dari para gamer, terutama di Amerika Serikat dan Kanada, terbilang tinggi. “Strukturnya adalah Mario menyelamatkan seorang putri dan Sonic menyelamatkan hewan; Mario mengoleksi koin-koin dan Sonic mengumpulkan cincin-cincin. Tetapi gameplay dan latar belakang Sonic lebih intens, berfokus pada kecepatannya mengitari loop-the-loops saat mengumpulkan cincin demi menyelamatkan hewan-hewan yang terpenjara di dalam robot-robot ciptaan Dr. Robotnik. Hasilnya, Sonic the Hedgehog memapankan franchise game bergenre petualangan dan memperkokoh dampak kulturnya dalam industri game ,” tandas Robinson. Deskripsi Film: Judul: Sonic the Hedgehog| Sutradara: Jeff Fowler | Produser: Neal H. Moritz, Toby Ascher, Toru Nakahara, Takeshi Ito | Pemain: Ben Schwartz (voice over), Jim Carrey, James Marsden, Tika Sumpter, Neal McDonough, Adam Pally, Lee Madjoub, Melody Nosipho Niemann | Produksi: Sega Sammy Group, Original Film, Marza Animation Planet, Blur Studio | Distributor: Paramount Pictures | Genre: Petualangan | Durasi: 98 menit | Rilis: 14 Februari 2020, Mola TV
- Nicolaas Jouwe dari Papua Merdeka ke Republik Indonesia
NAMA Nicolaas Jouwe, mantan tokoh OPM disebut-sebut oleh beberapa media nasional. Kutipan berita Antaranews.com (8/5) misalnya, mewartakan bahwa pendiri OPM itu menyebut Veronica Koman tak berhak berbicara mengenai masalah Papua. Padahal, Nicolaas Jouwe telah wafat pada 16 September 2017 silam. Setelah ditelusuri lagi, ternyata berita Antara mengandung kekeliruan. Pihak Antara telah mengakui kesalahan dalam penyebutan nama dan pemuatan foto. Sosok yang dimaksud bukanlah Nicolaas Jouwe melainkan Nicholas Messet. Kesalahan tersebut berasal dari sumber penulisan berita yakni siaran pers Satgas Nemangkawi. Tidak hanya Antara, kekeliruan serupa juga dikutip media lain seperti, JPNN.com, Okezone.com, dan Beritasatu.
- Mengenang La Grande Inter
WALAU sudah dipastikan juara Serie A musim 2020/2021 sejak 2 Mei lalu, yang menghapus dahaga gelar Liga Italia selama 11 tahun, Inter Milan tetap tancap gas melakoni empat partai sisa. Tampil di rumah sendiri, Stadio Giuseppe Meazza, skuad besutan Antonio Conte itu menolak bermain santai kala menjamu Sampdoria pada giornata ke-35, Sabtu (8/5/2021). Sebelum kick off , Sampdoria melakoni guard of honor sebagai bentuk penghormatan pada Inter yang kini total sudah mengoleksi 19 titel scudetto . Namun penghormatan itu tak membuat Inter tampil lembek. Dalam dua kali 45 menit, Sampdoria dihajar Inter 5-1. Massimo Moratti, bos Inter periode 1995-2013, turut merasakan euforia tersebut. Harapannya kepada Conte untuk membawa Inter tak berpuas diri amat besar. Inter diharapkannya terus terobsesi pada gelar yang lebih prestisius dari yang dicapai semasa kepelatihan José Mourinho di 2010 dengan treble winners -nya atau bahkan era La Grande Inter (1960-1967) di masa Inter dipimpin ayahnya, Angelo Moratti. “Conte seorang yang gigih, tahan banting. Ia mampu mencapai tujuannya, melindungi dan membentuk tim juara. Tim yang penuh karakter dan mampu memberi kejutan. Bagi saya dia pelatih yang luar biasa,” puji Moratti, dilansir Corriere dello Sport , 5 Mei 2021.. Guard of Honor dari Sampdoria untuk jawara Serie A musim 2020/2021, Inter Milan ( inter.it ) Sanjungan senada terhadap Conte dilontarkan Angelo Domenghini (1964-1969), bintang Inter yang jadi bagian Grande Inter . “Inter sangat pantas scudetto . Mereka tim terkuat dan paling kompetitif. Bisa dilihat dari hasilnya dan bagaimana tim dipersiapkan, terutama kekuatan pertahanan. Publik memang menganggapnya (Conte) masih terikat dengan Juve. Tetapi dia juga pernah menang bersama Chelsea. Memang lain era lain permainan sepakbola. Grande Inter juga tim terkuat dengan Juve dan AC Milan sebagai pesaingnya. Musim ini Inter mengalahkan semuanya,” ungkap Domenghini kepada Bergamo News , 5 Mei 2021. Kedisiplinan dan aspek psikologis jadi pegangan penting Conte s ebag a i ma n a Helenio Herrera sang pelaith Grande Inter . Pa ra pemain tak dibiarkan punya gaya hidup bebas. K eteg a san Conte dan Herrera mampu menundukkan ego para pemainnya untuk mau menjalani diet ketat dan pelatihan berat. Conte selalu memperhatikan aspek psikologis dan memotivasi pemainnya sembari terus mengolah taktik sejak sukses bersama Juventus (2011-2014) dan Chelsea (2016-2018). Baginya,seorang pelatih hanya bisa punya prestasi manis di era sepakbola modern jika mampu mengombinasikan semua. “Anda harus punya kemampuan bagus dalam taktik, motivasi, psikologi, serta memenej klub dan media. Anda harus serba-bisa dan Anda hanya akan berhasil jika terus mau belajar,” cetus Conte, disitat ESPN , 8 April 2016. Era Emas di Tangan Il Mago Sebagaimana Conte, Helenio Herrera juga merupakan pelatih berprestasi cemerlang sampai dijuluki Il Mago (si penyihir). Pria kelahiran Buenos Aires, Argentina pada 10 April 1910 tapi berpaspor Prancis itu direkrut bos InterAngelo Moratti pada 1960 dari Barcelona. Tugas membangkitkan Inter dari kubur. Pasalnya sejak Moratti memegang tampuk kepemimpinan pada 1955, tak sekalipun Inter merengkuh titel. “Psikologi dalam sepakbola adalah subyek yang sulit dipahami secara konklusif. Bagi pertandingan antara dua tim kuat, pemenangnya biasanya ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai aspek pikiran dan psikologi. Banyak pelatih yang mencoba menanamkan mental juara dan satu contoh pelatih yang kondang atas hasil dari pembentukan attitude dan psikologi adalah Helenio Herrera,” tulis David Hartrick dalam 50 Teams That Mattered. Herrera jel a s butuh waktu mengubah Inter jadi tim juara hanya bermodalkan aspek psikologi. Tiga tahun pertamanya gagal total hingg a nyaris dipecat Moratti lantaran keukeuh menerapkan strategi ofensif sebagaimana kebiasaannya saat menukangi Barça serta Timnas Spanyol. Helenio Herrera Gavilán yang berperan membentuk La Grande Inter ( inter.it ) Di tahun, ketiga Herrera menyontek sistem Verrou atau Catenaccio, sistem pertahanan gerendel, yang diperkenalkan pelatih Swiss Karl Rappan. Sistem itu lalu dia sempurnakan dengan formasi 5-3-2. Herrera menyempurnakannya dengan memindahkan satu pemain gelandang ke posisi sweeper (libero) di belakang empat bek agar kemudian dua bek sayap bisa bergerak bebas membantu serangan balik. “Adalah Armando Picchi yang kemudian menjadi libero terbaik dunia di bawah pelatih Prancis-Argentina itu, sementara Giacinto Fachetti bisa mencetak banyak gol bersumber dari sistem ini. Herrera juga membawa Luis Suárez dari Barcelona untuk jadi jenderal lapangan tengah dengan visi fantastis, sedangkan tornante (sayap kanan) Jair da Costa yang jadi andalan dengan kecepatannya siap menerima setiap asupan umpan dari Suárez,” tulis pengamat sepakbola Sam Tighe dalam ulasannya yang dimuat Bleacher Report , 16 April 2013. Pasukan Herrera tentu bukan hanya bertulangpunggungkan tiga pemain di atas. Grande Inter punya “gladiator” tangguh Tarcisio Burgnich, Artistide Guarneri, Carlo Tagnin, Sandro Mazzola, Mario Corso, dan kiper Giuliano Sarti. “Di belakang Picchi ada kiper Giuliano Sarti yang tangguh di tim Grande. Burgnich dan Guarneri bek berkarakter yang berbagi visi Herrera sebagai gerendel di jantung pertahanan. Tagnin dan Gianfranco Bedin penting sebagai bertahan. Mazzola di kanan depan jadi simbol Inter yang mencetak banyak gol indah. Corso di kiri depan juga pemain jenius dengan kaki kirinya yang andal dalam tendangan bebas dan umpan matang,” sambung Hartrick. Skuad Il Biscione di musim 1964/1965 ( inter.it ) Saat bertahan, Herrera bisa mengarahkan lima sampai tujuh pemain melindungi gawang. Tetapi saat menyerang balik secara vertikal, dua bek sayapnya diperintahkan secara sigap untuk membantu serangan balik. Alhasil pemain seperti Fachetti yang berposisi sebagai bek sayap bisa punya koleksi gol sampai 59 buahdi sepanjang 476 penampilannya berseragam La Beneamata (1960-1978). “Saat menyerang balik, para pemain paham apa yang saya inginkan: sepakbola vertikal dengan kecepatan tinggi, dengan tidak lebih dari tiga passing untuk mencapai kotak penalti lawan. Tak mengapa jika Anda kehilangan bola saat bermain vertikal –tetapi jika kehilangan bola dalam permainan lateral (menyamping) Anda akan membayarnya dengan (kecolongan) gol,” ujar Herrera dikutip Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: The History of Soccer Tactics. Tetapi transformasi Inter itu takkan berjalan tanpa aspek kedisiplinan. Herrera amat keras soal kedisiplinan. “Herrera menciptakan kultur di mana setiap keberadaan pemainnya dimonitor dan diukur. Para pemain diharapkan rela mati di lapangan demi tim dan jika tidak siap-siap, ditendang dari klub. Para pemain Inter punya diet yang terkontrol, rutinitas latihan yang keras. Menjadikan timnya sangat disiplin walau tak jarang juga menimbulkan ketegangan antara Herrera dan beberapa pemainnya, di mana salah satunya Picchi,” tambahnya. Capaian manis La Grande Inter meraih trofi European Cup (Liga Champions) musim 1963/1964 (kiri) & musim 1964/1965 ( inter.it ) Dari aspek psikologis, Herrera mencekoki pasukannya setiap kali hendak latihan dan bertanding. Salah satunya dengan cara memasang spanduk bertuliskan“Kelas+Persiapan, Fisik Atletis+Kecerdasan=Scudetto” di kamar ganti tim. Soal psikis, Herrera tak hanya memperhatikan pemain.Eksistensi pendukung dianggapnya jadi suntikan moril bagi timnya. Oleh karenanya dia memberi perhatian pada fans. “Dinamika psikologi Herrera juga kemudian mengarahkannya pada pentingnya peran pendukung. Ia mendesak Moratti membentuk dan membiayai kelompok-kelompok Interisti untuk bisa mendukung tim di laga tandang, baik di (liga) Italia maupun Eropa. Tindakan yang kemudian melahirkan banyak kelompok ultras ,” kataDavid Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football. Hasil racikan Herrera pun berbuah manis. Tiga kali Inter dibawanya merebut scudetto (1962-1063, 1964-1965, 1965-1966), dua kali juara Liga Champions (1963-1964, 1964-1965), dan dua kali memboyong trofi Intercontinental Cup (1964, 1965).
- Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar
GARIS-garis keriput di kulit kedua perempuan usia senja itu mengindikasikan banyaknya tahun yang telah dilalui keduanya. Kusdalini dan Kaminah, kedua perempuan tadi, memang telah berjuang menyambung hidup dalam kemiskinan sembari menanti keadilan sejak muda hingga tua. Mbah Kam dan Mbah Kus, begitu keduanya disapa, merupakan penyintas G30S yang jadi “lakon” utama dalam film You and I (2021) karya Fanny Chotimah. Keduanya dikenal Fanny sejak 2016. Perkenalan mereka bertiga bermula kala kawan Fanny, Adrian Mulya, Amerta Kusuma, dan Lilik HS tengah mengerjakan buku foto Pemenang Kehidupan. Dari perkenalan itu, Fanny makin mengenal keduanya. Lambat laun, timbul perasaan intim dan personal di sudut hati Fanny. “Pas perkenalan pertama itu saya ingin kenal lebih jauh. Awalnya juga sama sekali enggak pikiran mau bikin film. Memang dalam diri aku ingin kenal saja. Aku juga punya semacam ikatan kalau melihat mereka ingat nenekku. Apalagi nenekku juga (mengidap) demensia kayak Mbah Kus. Aku juga jadi punya kesempatan dengar cerita mereka,” tutur Fanny kepada Historia via percakapan di platform Google Meet, Jumat (7/5/2021). Baca juga: Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I Kaminah dan Kusdalini antusias kala berbagi kisah tentang kegiatan komunitas film Fanny dan kawan-kawannya yang acap memutar film ala “layar tancap” di kampung-kampung. Ternyata ada keserupaan pengalaman, di mana Kaminah dan Kusdalini berkisah di masa muda mereka dulu ikut paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat (PR) yang juga tampil keliling kampung. “Dari situ intens datang dan sharing-sharing. Lalu aku melihat apa yang mereka lakukan sama dengan yang aku lakukan. Terus mereka dipenjara tanpa pernah diadili. Saya merasa, kalau itu bisa terjadi sama mereka, berarti bisa juga terjadi sama aku kalau misalnya kejadiannya seperti itu,” imbuhnya. Fanny Chotimah & Adrian Mulya bersama duet penyintas 1965: Sri Kusdalini & Kaminah (Dok. Adrian Mulya) Kejadian yang dimaksud adalah pemburuan, pemenjaraan, hingga pembunuhan orang-orang yang diduga PKI dan simpatisannya pasca-G30September 1965. Di situlah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan ditahan tanpa pengadilan lantaran kaitannya dengan PR yang underbouw PKI. Dari situlah Fanny mendapatkan ide untuk menyuguhkan kisah mereka lewat film dokumenter. “Dari situ muncul urgensi untuk, wah, ini harus didokumentasikan, harus dibikin film dokumenter. Secara enggak langsung juga riset sudah terjadi karena aku membangun relasi itu sejak belum punya pikiran membuat dokumenter. Aku terus minta izin untuk mendokumentasikan dan terus disambut sama mereka. Mbah Kam yang menyemangati kami karena merasa ini warisan untuk generasi muda,” tambah sineas kelahiran Bandung, 18 November 1983 itu. Baca juga: Peter Jackson & Dokumenter They Shall Not Grow Old You and I kemudian jadi proyek dokumenter panjang pertama Fanny. Dia dan tim produksi memulai proyeknya pada 2016. Dengan pendekatan observasional, tim mengikuti keseharian Mbah Kam dan Mbah Kus di rumah, lingkungan tempat tinggal, hingga pertemuan dengan sesama penyintas di bawah payung Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Penulisan ceritanya pun bergulir seiring syuting keseharian dua penyintas itu. Sembari merekam keseharian, Fanny juga memikirkan titik kekuatan filmnya agar bisa diterima generasi muda sebagai target penontonnya. “Akhir 2016 sudah mulai meski development cerita masih aku tulis. Karena aku tertarik sama memori itu, kedimensian Mbah Kus yang kupikir personal dan dekat dengan aku. Saat lihat banyak footage , kok kuat banget tentang gimana relasi mereka berdua. Malah kemudian kekuatannya ada di relasi mereka,” lanjut Fanny. Kolase di balik layar "You and I" (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Tajuk You and I sendiri dipilih Fanny karena andil Mbah Kus. “ You and I itu sebetulnya dari Mbah Kus. Dulu kan Mbah Kus bisa bahasa Inggris dan Jerman. Saat adegan melihat foto mereka berdua, tiba-tiba muncul (celetukan): ‘ Oh iki, You and I. ’ Itu momennya sama dengan adegan bercanda melihat foto. Aku harus pilih mana momen yang paling kuat. Di proses editing itu pertempurannya untuk mana momen yang kusayang. Aku pertahankan yang (adegan bercanda) itu karena terlihat banget kuatnya relasi mereka. Relasi itu yang bisa relate ke semua orang dan semua usia,” lanjut Fanny. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Dalam proses produksi, Fanny mengaku tantangannya bukan dari faktor-faktor eksternal meski film-film yang mengangkat isu 1965 masih sangat sensitif dan acap mendapat penolakan. Tantangan dalam produksi You and I sampai selesainya editing di tahun 2020 justru datang dari diri sendiri. Pasalnya, karyanya tersebut punya keintiman dengannya. “Jadi tantangan tersendiri terutama di momen-momen Mbah Kus butuh bantuan nyuci, duh aku takut banget dia jatuh, misalnya. Kayak pingin menolong dia. Saat adegan susah masuk ke angkot, biasanya kalau enggak syuting yang kita nolongin. Benturan-benturan di dalam diri itu yang kuat. Tapi di beberapa kejadian aku menekankan sama tim bahwa syuting nomor dua dan yang terpenting adalah keselamatan mereka,” imbuhnya. Kolase tim produksi bersama Kaminah sepeninggal Kusdalini yang wafat pada 2017 (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Menahan diri dan emosi jadi tantangan terbesar Fanny. Terlebih saat kesehatan Kusdalini mulai menurun medio 2017. Beberapakali Fanny harus berhenti merekam demi bisa membantu mengevakuasinya ke rumahsakit. “Mbah Kus masuk rumahsakit karena stroke , bertahan tujuh bulan di rumah sakit lalu Mbah Kus pergi (meninggal, red. ). Tahun berikutnya masih syuting tapi bobotnya makin berat dan sedih rasanya. Momen di mana Mbah Kam sudah tidak bisa mempertahakan Mbah Kus, itu juga emosional. Syutingnya sambil nangis. Padahal aku ingin film ini memberi harapan, bukan jatuhnya malah sedih dan dramatis. Tapi harus tetap bisa menguasai diri,” tambah Fanny. Narasi Historis dan Strategi Sebagai sineas yang masa kecilnya tumbuh di era Orde Baru, Fanny mengenal narasi 1965 itu lewat film propaganda penguasa garapan sutradara Arifin C. Noer, Pengkhianatan G30S/PKI . Film itu dulu juga jadi tontonan wajib bagi pelajar, termasuk Fanny. Namun ia mengaku tak pernah menontonnya sampai habis. “Horor banget. Aku selalu bertanya-tanya sejak kecil itu nyata atau enggak. Belum cerita-cerita di sekelilingku. Cerita kayak, ‘Oh, paman saya pernah bunuh PKI.’ Itu aku syok, bunuh orang lalu bangga. Itu ada apa? Di SMA ada teman yang sangat vokal dan kritis karena ingin tahu tentang PKI. Dia berdebat sama guru sejarah. Gurunya jadi kayak, ‘Oh, enggak bisa kamu seperti itu. Hati-hati kamu dicap komunis.’ Aku yang menyaksikan, kenapa sih kok begitu? Akhirnya cari referensi lagi,” kenang Fanny. Baca juga: Perkenalan Hanung Bramantyo dengan Tragedi 1965 dan Pram Fanny Chotimah menguraikan banyak kisah di balik layar via daring (Tangkapan Layar/Historia) Selain dari buku non-fiksi dan novel para penyintas 1965 seperti Pulang (2012) karya Leila Salikha Chudori dan dokumenter Shadowplay (2001) karya Lexy Rambadeta, Fanny mendapat sudut pandang lain Peristiwa 1965 dari kakeknya sendiri. “Ada stigma juga dari mamaku yang bilang komunis itu jahat. Tapi sementara aku juga dapat cerita dari kakek di Bandung. Dia juragan tanah dan punya sawah dan ada yang garap (petani penggarap). Dulu kan BTI (Barisan Tani Indonesia) juga dicari ya. Tapi kakekku itu melindungi BTI. Jadi BTI yang lari minta perlindungan kakekku itu selamat,” sambung sineas otodidak yang berkecimpung di komunitas film Yayasan Kembang Gula dan komunitas perempuan Jejer Wadon tersebut. Dari situ Fanny mulai paham bahwa selain rumit dan kompleks, Peristiwa 1965 juga masih jadi isu sangat sensitif, utamanya kala bulan September dan Oktober. Ia juga sempat diperingatkan Kaminah untuk sementara stop syuting dan “tiarap”. Namun hingga selesainya produksi, Fanny dan tim produksi tak pernah mengalami persekusi dan penolakan dari pihak luar. Baca juga: Pemuda Sosialis di Balik Film Legendaris Hal mencekam yang pernah dialami Fanny justru saat diskusi terbatas buku foto Pemenang Kehidupan . Prosesnya kala itu bareng proses syuting You and I . Fanny, Adrian dan rekan-rekannya sempat didatangi intel. Salah satu rekannya bahkan ada yang sampai dipanggil pihak kepolisian. “Aku sudah tahu dan pengalaman dipanggil intel. Ya saat syuting film aku paham ini risikonya walau pas syutingnya tidak terjadi apa-apa. Aku tentu akan pasang badan kalau terjadi apa-apa sama mereka. Kata Mbah Kus dan Mbah Kam: ‘Ya ini risikonya. Ini risiko perjuangan’,” kata Fanny. Oleh karena mengerti risikonya, Fanny pun mengarahkan narasi You and I dengan kompromi sebagai strategi. Tujuannya agar film tidak condong politis dan tetap menyajikan gambaran humanis walau kedua tokohnya punya latar belakang masa silam kelam. Masa muda Kusdalini (kiri) & Kaminah (KawanKawan Media) Fanny hanya sedikit menyuguhkan keterangan tentang Kusdalini dan Kaminah sebagai anggota paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat. Keduanya sering mentas keliling kampung, bahkan pernah tampil di hadapan Presiden Sukarno di Jakarta. Kusdalini dan Kaminah jadi dua pemudi Sukarnois yang aktif di Pemuda Rakjat. Faktor ideologis itu membuat keduanya harus mendekam di balik jeruji besi tanpa diadili. Kusdalini ditahan dua tahun dan Kaminah tujuh tahun. “Ini strategi karena buatku (isu 1965) sangat rumit dan kompleks, belum lagi penolakan-penolakannya. You and I ini tidak terasa politisnya dan tidak mengupas sejarah itu. Yang kita bicarakan hari ini adalah sisi kemanusiaannya agar lebih mudah diterima. Juga bicara di generasi ini kita harus punya pendekatan khusus. Aku lihat respon dari generasi ini mereka bisa menangkap karena sisi humanis dan persahabatan itu. Kalau peristiwanya (dari segi politis) mereka bisa cari referensi di tempat lain. Yang Aku tekankan humanismenya,” ungkapnya lagi. Strateginya berbuah manis. Tidak hanya mendapat banyak sambutan positif dari sejumlah perwakilan pemerintah daerah, You and I kemudian juga diapresiasi lebih luas dengan memenangkan kategori dokumenter terbaik sepanjang di Piala Citra 2020, DMZ International Documentary Film Festival di Korea Selatan 2020, dan terakhir di CPH:DOX Denmark 2021. “Ya jadi bisa diputar di Bioskop Online (mulai 9 April 2021) dan bahkan waktu pemutarannya di Solo mengundang pemerintah (daerah) juga. Mereka menyambut baik. Karena fokusnya itu tadi, ke kisah dua penyintas dan narasi setiap penyintas penting, layak didengar, dan berharga karena itu juga berisi kehidupan, kesaksian, dan suara mereka,” tandas Fanny. Baca juga: Proses Kreatif Usmar Ismail di Balik Layar
- Menyusun Kamus Bahasa Melayu
PADA 1857, sebuah kapal berpenumpang tiba di Riau. Kapal yang betolak dari Batavia itu sebagian besar diisi orang-orang Eropa. Mereka adalah pegawai negeri di pemerintahan Hindia Belanda yang baru dipindahkan dari wilayah Jawa ke Riau. Seorang peneliti berkebangsaan Jerman, Von de Wall, ada di antara rombongan pegawai tersebut. Von de Wall akan menempati jabatan asisten residen di Riau. Sebelumnya dia tinggal di Kalimantan sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda di Kutai. Selama bekerja di sana, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa dan sastra Melayu. Ketika itu, Von de Wall berhasil menyusun daftar kosakata baru yang belum dikenal. Dia juga cukup fasih mengucapkan bahasa Melayu. Hal itu membuat pemerintah pusat di Batavia terkesan. Mereka lalu mengangkat Von de Wall menjadi pegawai bahasa. Tugasnya: menyusun tata bahasa Melayu, kamus Melayu-Belanda, dan Belanda-Melayu. Kedatangannya ke Riau merupakan bagian dari tugas tersebut.




















