top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mumi Ibu Hamil dan Janinnya

    Selama beberapa dekade, salah satu mumi Mesir Kuno koleksi Museum Nasional di Warsawa sempat disangka mumi pendeta laki-laki. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mumi itu seorang perempuan hamil dengan janin yang masih di dalam perutnya.  “Itu benar-benar tidak terduga,” kata Wojciech Ejsmond, arkeolog Polish Academy of Sciences yang memimpin penelitian itu, sebagaimana dikutip New York Times . Para peneliti dari Polandia menemukan mumi perempuan hamil itu ketika melakukan studi komprehensif yang dimulai pada 2016. Mumi itu salah satu dari 40 lebih mumi koleksi Museum Nasional di Warsawa yang mereka kaji.  “Antropolog kami memeriksa ulang area panggul mumi untuk menentukan jenis kelamin mumi dan memeriksa semuanya, dan dia mengamati sesuatu yang aneh di area panggul, semacam anomali,” kata Ejsmond. Anomali itu rupanya adalah kaki kecil janin. Para peneliti menyimpulkan bahwa mumi itu dibuat pada sekira abad pertama SM. Pembalsemmembuatnya dengan hati-hati di beberapa titik. Dia dimakamkan di samping beragam perhiasan dan jimat. “Jenazah itu milik seorang wanita berstatus tinggi yang dibungkus linen dan kain tenun polos dan disertai satu set jimat yang kaya,” jelas Ejsmond.  Awalnya Diyakini Mumi Perempuan Belum diketahui pasti dari mana mumi itu berasal. Sebelum menjadi koleksi Museum Nasional di Warsawa, pada 1826 mumi ini adalah sumbangan untuk Universitas Warsawa. Penyumbang mumi itu mengklaim muminya berasal dari makam raja-raja di Thebes, yakni situs permakaman terkenal para Firaun kuno. Namun, dalam beberapa kasus, barang antik diklaim berasal dari tempat-tempat terkenal untuk meningkatkan nilainya. Karenanya para peneliti masih meragukan asal-usul mumi itu. Awalnya mumi itu memang diyakini sebagai mumi perempuan. Mengingat peti matinya ditutupi ornamen warna-warni dan mewah. “Mumi itu disebut ‘mumi seorang wanita’ pada abad ke-19,” tulis para ahli dalam jurnal hasil penelitian mereka yang dipublikasikan bulan lalu di Journal of Archaeological Science . Namun, praduga itu berubah pada abad berikutnya. Pada 1920,terjemahan hieroglif di peti mati dan penutup mumi mengungkap nama pendeta laki-laki Mesir, Hor-Djehuty. Ditambah lagi hasil pemeriksaan radiologi pada 1990-an membuat beberapa orang menafsirkan jenis kelamin mumi itu adalah laki-laki. Sebagaimana dilansir Smithsonian Mag azine , ketika mumi kembali diteliti menggunakan sinar-X dan CT scan pada 2016, para arkeolog masih berharap akan menemukan tubuh laki-laki di bawah pembungkus kuno itu. “Kejutan pertama kami adalah bukannya menemukan penis, tetapi justru payudara dan rambut panjang, dan kemudian kami menemukan bahwa itu adalah wanita hamil,” jelas Marzena Ozarek-Szilke, antropolog dan arkeolog di Universitas Warsawa. “Ketika kami melihat kaki kecil dan kemudian tangan kecil , kami sangat terkejut.” Menemukan mumi seseorang dalam peti mati orang lain tampaknya biasa terjadi di Mesir Kuno. Sebab, orang Mesir kuno menggunakan ulang peti mati yang pernah dipakai sebelumnya. “Ada kalanya mumi tidak sama dengan peti mati tempat mereka disemayamkan,” kata Ejsmond. “Ini terjadi kira-kira 10 persen dari waktu ke waktu.” Tapi ada catatan dalam penelitian itu bahwa kenyataannya selama abad ke-19, para penggali dan penjarah ilegal juga sering membuka sebagian mumi dan mencari benda-benda berharga sebelum mengembalikan mayatnya ke peti mati. “Tidak harus sama dengan tempat mumi itu ditemukan,” tulisnya. Adapun mumi Warsawa ini memang menunjukkan tanda-tanda penjarahan. Kain pembungkusnya rusak pada bagian leher, di mana mungkin dulunya pernah menyimpan jimat dan kalung. Penyebab Kematian Soal penguburan perempuan hamil di Mesir Kuno sebenarnya sudah pernah diketahui. Namun, ini adalah penemuan mumi perempuan hamil yang pertama.  “Ini seperti menemukan harta karun saat Anda memetik jamur di hutan,” kata Ejsmond. “Kami kewalahan dengan penemuan ini.” Lewat pemindaian sinar-X diketahui sang ibu meninggal di usia antara 20 hingga 30 tahun. Sementara janin dalam kandungannya, dari ukuran kepalanya, berusia 26 dan 30 minggu. Jenis kelamin janin belum ditentukan. Para ahli juga masih belum mengetahui bagaimana “perempuan misterius” itu meninggal. Namun, mengingat tingginya tingkat kematian ibu di dunia kuno, kemungkinan kehamilan adalah faktor kematiannya. Untuk memastikan penyebab kematiannya, peneliti akan menganalisis sampel kecil darah yang diawetkan di dalam jaringan lunak mumi. Nasib Anak yang Belum Lahir Para peneliti penasaran dengan janin yang dibiarkan utuh di dalam tubuh ibunya. Pasalnya, pada kasus lain, bayi yang lahir mati akan dimumikan dan dikuburkan bersama orang tua mereka. Terlebih lagi, empat organ mumi, kemungkinan paru-paru, hati, perut, dan jantung, tampaknya telah diekstraksi, dibalsem, dan dikembalikan ke tubuh sesuai dengan praktik mumifikasi pada umumnya. Karenanya menjadi pertanyaan, mengapa si pembalsem tak melakukan hal yang sama pada bayi yang belum lahir.  Para peneliti berhipotesis bahwa janin pada usia tersebut akan sulit diekstraksi karena ketebalan dan kekerasan rahim. Jadi, pembalsem yang membuat mumi si ibu, mungkin tak dapat mengeluarkan janin tanpa merusak tubuhnya atau janinnya. “Mungkin juga ada alasan agama. Mungkin mereka mengira bayi yang belum lahir itu tidak memiliki jiwa atau akan lebih aman di dunia berikutnya,” kata Ejsmond kepada CNN .  Dalam publikasi para peneliti tercatat bahwa “Studi ini membuka diskusi tentang kepercayaan Mesir Kuno, dapatkah seorang anak yang belum lahir pergi ke dunia akhir?” Mereka berhipotesis, janin mungkin masih dianggap sebagai bagian dari tubuh ibunya karena belum lahir. Kepercayaan Mesir Kuno menyatakan bahwa penamaan adalah bagian penting sebagai seorang manusia. Karenanya bayi yang belum memiliki nama mungkin tak dianggap sebagai individu yang berbeda. “Jadi, perjalanannya ke akhirat hanya bisa terjadi jika dia pergi ke dunia akhir sebagai bagian dari ibunya,” tulis para peneliti. Penemuan janin itu pun sangat penting karena kehamilan dan komplikasinya biasanya hanya meninggalkan sedikit jejak. Bahkan tidak ada bukti osteologis. Alexander Nagel, peneliti di departemen antropologi Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian, menyebut temuan mumi hamil itu sebagai “penemuan unik”. “Secara umum, belum banyak perempuan yang menjadi fokus studi di Egiptologi,” kata Nagel .  Teks kuno ada yang memberikan beberapa wawasan tentang praktik seputar perempuan hamil pada zaman kuno. Papirus dari sekira 1825 SM misalnya, mengungkapkan bahwa bahan seperti madu dan kotoran buaya digunakan sebagai alat kontrasepsi. Namun tetap saja pengetahuan tentang perawatan prenatal (kehamilan) zaman Mesir Kuno tak banyak.   Para peneliti pun berharap dengan mempublikasikan temuannya, keberadaan mumi perempuan hamil ini dapat menarik perhatian dari para dokter dan ahli di bidang lain untuk membantu tahap penelitian selanjutnya. “Ini adalah dasar yang baik untuk memulai proyek yang lebih besar tentang mumi ini,” kata Ejsmond. “Karena akan membutuhkan banyak ahli untuk membuat penelitian interdisipliner yang layak.” Dengan demikian, temuan terbaru dari mumi Warsawa itu membuka jalur baru ke dalam studi kesehatan prenatal dunia kuno.

  • Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I

    MENYIAPKAN makan siang, meminumkan obat sirup hingga mengoleskan krim pereda nyeri. Begitu rutinitas sehari-hari Kaminah merawat Sri Kusdalini yang sudah mulai digerogoti penyakit di pengujung usianya. Rutinitas itu dijalani Kaminah dengan tulus ibarat seorang adik kandung yang menyayangi kakaknya. Kaminah aslinya tak punya pertautan darah dengan Kusdalini. Tembok rumah sederhana di gang sempit di kota Solo dengan cat terkelupas di sana-sini dan atap yang hampir ambruk jadi saksi bahwa kedua perempuan renta itu punya sejarah panjang yang membuat keduanya sudah seperti kakak-adik kandung. Keduanya menjalani hidup dalam kemiskinan. Beruntung sejumlah tetangga dekat Kaminah dan Kusdalini begitu peduli. Tidak hanya sering berbagi kebutuhan hidup, mereka juga bergotong-royong memperbaiki atap rumah Kusdalini tanpa imbalan sepeser pun. Baca juga: Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput Potret kehidupan Kusdalini dan Kaminah yang memprihatinkan itu disajikan sineas muda Fanny Chotimah dalam pembukaan film dokumenter bertajuk You and I . Film ini mengikuti keseharian dua penyintas Peristiwa 1965 itu yang berkalang cinta kasih akibat pengalaman getir yang pernah dialami keduanya. Sutradara debutan itu juga menyuguhkan keterangan tertulis dalam sebuah sisipan dengan foto-foto lawas tentang siapa Kusdalini dan Kaminah. Kedua penyintas disebutkan sempat jadi tahanan politik (tapol). Mereka dipenjara penguasa Orde Baru dalam waktu berlainan tetapi menjalin persaudaraan di balik jeruji besi. Sri Kusdalini (kiri) & Kaminah (kanan) di masa mudanya. (KawanKawan Media). Kusdalini dan Kaminah ditangkap pasca-G30S 1965 sebagai bekas anggota dua kelompok paduan suara berbeda yang bernaung di bawah Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kebanyakan penyintas 1965, Kusdalini dan Kaminah dipenjara tanpa pengadilan. “Bermula dari Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia yang berubah jadi Gerwani). Kita sepaham seperjuangan dan bidangnya itu sama, keputrian. Dia suka nyanyi, aku juga suka nyanyi. Tapi dia di tingkat kota, (kelompok) Gita Patria. Kalau aku kan di tingkat ranting, kecamatan, gitu. Karena satu kelompok gitu (di tahanan), jadi lama-lama makin dekat,” kata Kaminah mengenang dengan logat Jawanya. Kusdalini dibui selama dua tahun. Sementara, Kaminah harus mendekam sampai tujuh tahun. Baca juga: Agar Tak Menguap dalam Senyap Ketika sudah dibebaskan, Kaminah tak diterima lagi oleh keluarganya. Hanya Kusdalini dan mendiang neneknya yang bersedia menampungnya di rumahnya yang sederhana. Untuk menyambung nyawa, Kaminah ikut membantu Kusdalini membatik dan membuka warung makan di depan gang rumahnya. “Yang paling mengesankan (saat) Mbak Kus dipanggil bebas, itu aku…aku sampai pingsan,” imbuh Kaminah menahan sesak di dada dan air mata. Dari ikatan persahabatan yang berubah jadi persaudaraan itu Kusdalini nekat kembali ke penjara demi rutin mengunjungi Kaminah. Ia tak peduli ancaman penjaga penjara demi mengobati lara hati yang masih menerpa Kaminah. “Dia terus jenguk saya. Ngirim (bawa makanan). Sampai diancam Pak Gito: ‘Kus, kamu kok masih ke sini? Mrene kowe arep dilebokke meneh opo piye (Kamu ke sini mau dimasukin penjara lagi atau bagaimana)?’ Katanya, ‘ Mboten’o, Pak. Mesakke adik kulo (Tidak kok, Pak. Kasihan adik saya) kalau tidak dijenguk.’ Dia diancam tidak takut. Sudah di luar, sudah pegang surat pembebasan masak mau diambil lagi? Tapi ya mungkin saja,” tambah Kaminah. Kaminah (kiri) setia menemani Kusdalini saat dirawat di RST Slamet Riyadi. (KawanKawan Media). Kebaikan Kusdalini itu membuat Kaminah tulus membalas budi dengan merawat Kusdalini yang dua tahun terakhir mengalami pikun dan masalah pendengaran. Lutut Kusdalini pun mulai nyeri sampai harus dirawat di Rumahsakit Tingkat III Slamet Riyadi. Di situlah Kaminah setia menemani berhari-hari di kamar rawat inap. Tetapi potret kehidupan Kaminah dan Kusdalini tak melulu pedih. Bercanda kerap dilakukan keduanya untuk mengisi waktu sekaligus membunuh pilu. Seperti saat keduanya menonton program sejarah Metro TV di layar kaca yang berkaitan dengan sejarah kelam Peristiwa 1965. “Itu lho, konco-koncomu (teman-temanmu) dibunuh,” kata Kaminah. “Itu di Jembatan Bacem, arah selatan rumah kita,” timpal Kusdalini. “Jasmerah…” celetuk Kaminah. “Opo Jasmerah?” tanya Kusdalini. “Jangan melupakan sejarah. (Perkataan) Bung Karno…” “Bung Karno? Sukarno masih hidup?” tanya Kusdalini polos. “Ya Allah. Bagaimana Aku bisa omong sama kamu kalau kamu lupa semuanya. Jasmerah itu jangan melupakan sejarah. Kowe kok lali kabeh (kamu kok lupa semuanya),” tukas Kaminah sambil menyunggingkan senyum. Warung makan yang jadi penyambung hidup Kusdalini dan Kaminah usai dibebaskan dari penjara. (KawanKawan Media). Bung Karno merupakan sosok yang paling dipuja Kaminah. Di masa lalu dia ikut paduan suara di bawah sebuah organisasi politik karena mendewakan sang proklamator. “Negara kita sudah makmur tapi adilnya yang belum. Itu yang diperjuangkan, keadilan dan kemakmuran, oleh Sukarno yang begitu gigih, presiden yang tidak korupsi. Makamnya saja sesederhana itu di Blitar. Jomplang sekali dengan makam Pak Harto. Sampai kapanpun mbah (saya) tetap konsisten dengan ajaran Bung Karno,” tandasnya. Untuk mendapatkan detail lebih kehidupan memprihatinkan dua penyintas renta G30S di Solo itu, baiknya tonton sendiri You and I yang diputar via aplikasi daring bioskoponline.com sejak 9 April 2021 Menanti Keadilan hingga Akhir Hayat Jembatan Bacem begitu lekat dalam ingatan Kaminah. Maka ada campur-aduk perasaan di batinnya kala mendapati jembatan dekat perbatasan Surakarta-Sukoharjo itu ditampilkan sebuah program sejarah di layar kaca. Jembatan yang tak jauh dari rumahnya itu bersama Bengawan Solo yang mengalir di bawahnya jadi saksi bisu pembantaian penduduk sepanjang 1965-1966. Menurut sejarawan University of British Columbia Profesor John Roosa dalam Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia, Jembatan Bacem sarat sejarah kelam kala pihak militer mengeksekusi ratusan terduga simpatisan PKI tanpa pengadilan. Eksekusi lazimnya dilancarkan setiap malam selama dua tahun hingga membuat Bengawan Solo berwarna merah. “Jembatan yang digunakan tentara sebagai tempat eksekusi memang sudah tidak lagi ada tapi satu pasak bata dan betonnya masih berdiri di tepi sungai bak reruntuhan benteng kuno. Tanpa alasan yang jelas jembatannya dirobohkan dan diganti jembatan baja di sebelahnya. Satu pilar bata yang sudah dirambat tumbuhan vegetasi itulah satu-satunya penanda lokasi eksekusinya,” tulis Roosa. Baca juga: Peliknya Rekonsiliasi Peristiwa 1965 Tak jelas berapa total korbannya. Tetapi, lanjut Roosa merujuk keterangan salah satu penyintas, korbannya tidak kurang dari 144 jiwa. Sebelum dieksekusi, mereka dibawa dengan truk-truk dari sejumlah penjara. Mereka dieksekusi dalam kegelapan malam. “Seorang sesepuh yang tinggal dekat sungai mengatakan bahwa dia dan para tetangganya sering mendengar letusan tembakan setiap malam dari arah jembatan. Setiap subuh tentara memerintahkan warga menyodok-nyodok mayat dengan galah untuk dihanyutkan ke laut saking padatnya sungai itu dengan mayat,” sambungnya. Ilustrasi penangkapan para simpatisan PKI. ( hrw.org ). Surakarta dan daerah-daerah di sekitarnya sejak 1920-an sudah jadi basis komunis, sebut Roosa. Maka pasca-pembunuhan para jenderal di Jakarta dan Yogyakarta, operasi ganyang PKI oleh tentara dan anasir pemuda anti-komunis banyak dilakukan di sana. Pengganyangan di Surakarta dimulai pada 22 Oktober 1965 kala dua kompi RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) datang dari Jakarta. Mereka memegang perintah Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie untuk menangkapi dan melenyapkan para pimpinan PKI dengan mengoordinir militer dan kepolisian setempat. “Saat pasukan RPKAD tiba pada 22 Oktober, Surakarta sudah seperti kota terbuka di hadapan pasukan penginvasi. Para komunis yang mendominasi kota tak diatur atau membuat kubu pertahanan. Para pimpinan PKI juga tidak memerintahkan penduduk desa membuat barikade hingga pasukan yang masuk dari Boyolali tak menghadapi tantangan berarti,” sambung Roosa. Baca juga: Tujuh Tahanan Politik Perempuan di Kamp Plantungan Di masa itulah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan dipenjara tanpa diadili. Sebagaimana para korban lain, keduanya sempat dikumpulkan di Balai Kota Surakarta untuk diinterogasi sebelum dikirim ke sejumlah penjara. Sayangnya, sutradara tak memberi keterangan lebih lanjut di mana Kaminah dan Kusdalini dipenjara. Ada kemungkinan keduanya ditempatkan di Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Kamp itu jadi “Pulau Buru”-nya tahanan perempuan. Mayoritas yang ditahan di Plantungan adalah para perempuan yang terindikasi aktif di politik, seni, atau olahraga dengan payung organisasi-organisasi kiri walau tidak cukup bukti untuk diajukan ke pengadilan. “Seperti Ibu Marniti. Ia diinterogasi semalaman di balai kota tentang aktitivitasnya yang berafiliasi dengan PKI. Ia sebelumnya juga anggota Gerwani dan suaminya adalah Kepala Cabang Pemuda Rakjat Surakarta. Dengan data seperti itu ia dianggap simpatisan dan ditahan tanpa diadili di Plantungan sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979,” ungkap Roosa. Upaya menuntut keadilan dari Kaminah, Kusdalini dan para penyintas di Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo. (KawanKawan Media). Bagi yang lebih apes, nyawa para simpatisan atau terduga PKI melayang di Jembatan Bacem. Kisah getir itu mengendap tidak hanya di ingatan para penyintas tapi juga di banyak warga sekitar, bahkan orang luar. Seperti yang dialami aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Firman Lubis. Dia mengetahuinya saat menjadi sukarelawan korban banjir di Solo pada akhir Maret 1966. “Saya merinding mendengarkan cerita tentang metode-metode yang digunakan untuk membunuh para terduga komunis. Sangat tidak rasional. Walau saya benci ideologi komunis, tetapi aksi-aksi di luar hukum yang direstui militer seperti itu membuat saya jijik, apalagi tidak semua korban aslinya adalah komunis. Aksi seperti itu tidak bisa dibenarkan. PKI yang mereka ganyang bukanlah kekuatan militer melainkan partai politik legal yang berisi orang sipil. Situasinya tidak bisa dibandingkan dengan masa perang,” tutur Firman, dikutip Roosa. Betapapun mengerikannya kisah penyiksaan itu di mata orang-orang, para penyintas seperti Kaminah dan Kusdalinilah yang bisa merasakan sakitnya. Lebih parah lagi, penderitaan mereka tak berhenti sampai di penjara saja. Setelah bebas dari penjara, mereka tak bisa jadi orang bebas seperti sedia kala. Kaminah tak bisa pulang karena ditolak keluarganya sehingga harus ditampung Kusdalini. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Kaminah tegar menemani Kusdalini di saat-saat terakhirnya. (KawanKawan Media). Keadilan. Itulah yang dituntut Kaminah dan ribuan penyintas lain. Keadilan belum kunjung tiba bahkan ketika Kusdalini dijemput ajal. Potret itu yang dihadirkan secara observatory oleh Fanny Chotimah lewat You and I . Ia mengangkat kisah getir dua penyintas renta itu untuk menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Di tingkat nasional, itu dilakukannya dengan menayangkan You And I secara daring. Di panggung internasional, You And I diikutkan ke dalam berbagai festival dan sempat memenangi film terbaik kategori Asia di DMZ International Documentary Film Festival 2020 di Korea Selatan serta masuk ke daftar 10 film dokumenter Asia terbaik 2020 versi New Musical Express (Inggris). “Ini adalah cerita tentang ironi kehidupan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kita bisa menemukan belahan jiwa di tempat mengerikan yang tak seorang pun mau mengalaminya. Mereka bertemu di masa muda di penjara dan melalui hidup dengan mimpi yang hancur selama lebih dari 50 tahun. Yang mereka alami adalah bentuk ketidakadilan. Bukan tidak mungkin juga terjadi pada kita. Ini yang jadi perhatian saya. Saya percaya pada keadilan dan kemanusiaan,” ujar Fanny dalam rilisnya. Data Film: Judul: You and I | Sutradara: Fanny Chotimah | Produser: Amerta Kusuma, Yulia Evina Bhara, Tazia Teresa Darryanto | Produksi: KawanKawan Media, Partisipasi Indonesia | Genre: Dokumenter | Durasi: 72 Menit | Rilis: 9 April 2021 (Bioskop Online)

  • Persahabatan Raja Ali Haji dengan Von de Wall

    Pada 1995, sebuah buku berjudul  Dalam Berkekalan Persahabatan  atau  In Everlasting Friendship: Letters from Raja Ali Haji , terbit di Leiden, Belanda. Penyuntingnya seorang Jerman bernama Van der Putten, dan seorang Melayu bernama al-Azhar. Buku itu berisi surat-surat Raja Ali Haji, seorang penulis kenamaan Melayu, kepada sahabatnya Von de Wall, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, selama periode 1857-1872. Selama bertahun-tahun, keduanya berusaha mencari, dan mengumpulkan surat-surat tinggalan Raja Ali Haji yang sebagian besar tersimpan di Jakarta dan Belanda. Surat yang bisa ditemukan jumlahnya sangat terbatas karena banyak yang rusak dimakan usia. Itu pun hanya surat milik Raja Ali Haji. Sedangkan tinggalan Von de Wall hampir tidak ada jejaknya. Dalam surat-suratnya, Raja Ali Haji memperkenalkan dirinya secara lengkap beserta gambaran fisik serta wataknya. Kepada kawan Eropanya, dia bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya. Lebih dari itu, Raja Ali Haji juga menceritakan alasan dan tujuannya mengarang, tentang keluarga, lingkungan tempat tinggal, kesehatan, sampai kesusahannya. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto Bagaimana keduanya bisa berkarib? Menyusun Kamus Melayu Dalam surat-surat yang dikumpulkan Van der Putten dan al-Azhar, termuat  Dalam Berkekalan Persahabatan , disebutkan bahwa pertemuan pertama Raja Ali Haji dan Von de Wall terjadi pada 1857 di Riau. Raja Ali Haji telah dikenal sebagai pengarang terkemuka Riau Lingga, sementara Von de Wall menjabat Asisten Residen Riau. Ketika itu Von de Wall sebenarnya tengah menjalankan dua tugas: menjadi asisten residen dan menyusun kamus Belanda-Melayu. Menurut Hendrik M.J. Maier dalam  Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar , tugas pertama hanyalah tugas sampingan, sedangkan pekerjaan pokoknya adalah penyusunan kamus Belanda-Melayu. “Tugas resminya ialah menyusun kamus bahasa dan tatabahasa Melayu yang boleh dipegang sebagai pedoman oleh pegawai negeri. Tetapi, tidak disangsikan Von de Wall diharapkan pula memberi taklimat kepada pegawai atasannya mengenai perkembangan politik dan ekonomi di kepulauan Riau,” kata Maier. Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir Von de Wall lahir di Giessen, Jerman pada 1809. Dia pertama kali menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda pada 1829 sebagai sersan pasukan berkuda ketentaraan Belanda. Pada 1831 dia dipromosikan menjadi pemimpin suatu pasukan pribumi di Cirebon. Karir militer Von de Wall dilepas setelah pada 1834 diangkat menjadi pemimpin sipil di Kalimantan. Selama hampir dua dasawarsa beriktunya dia mengabdikan diri pada pemerintah kolonial Belanda, dengan menempati sejumlah jabatan penting di Kalimantan. Salah satu prestasi Von de Wall yang membuat pejabat tinggi Belanda terkesan adalah ketika dia berhasil mengadakan perjalanan untuk menjalin hubungan baik dengan penguasa-penguasa di pedalaman Kalimantan. Di Kalimantan, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa Melayu. Dia pun lalu diminta oleh pemerintah pusat di Batavia untuk mengerjakan kamus Belanda-Melayu, yang keberadaannya amat penting dalam melanggengkan kekuasaan mereka di tanah jajahannya. Von de Wall menerima jabatan asisten residen sebagai kompensasi tugas tersebut, dengan bayaran mencapai 1.200 gulden sebulan. “Penyusunan kamus bahasa Melayu-Belanda dianggap sebagai tugas yang amat mustahak karena pemerintah Belanda didesak oleh perlunya pedoman ejaan dan pengembangan kosakata baku untuk pendidikan,” ungkap Jan van der Putten dan al-Azhar Pada 1857, Von de Wall tiba di Riau. Salah satu kesultanan Melayu di Pulau Sumatra tersebut terpilih sebagai tempat penelitian untuk penyusunan kamus karena dianggap memiliki kebahasaan Melayu yang paling asli dan murni dibandingkan daerah lain di Nusantara. Pada waktu itulah, Von de Wall pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Raja Ali Haji. Dalam surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji, diceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan sarjana Eropa tersebut. Dikatakan Raja Ali Haji bahwa dia dikenalkan oleh Residen Neuwenhuyzen kepada seorang pejabat pemerintah baru yang diberi tugas “memungut bahasa-bahasa Melayu”. “Maka dari karena inilah, apa hal ihwal saya dahulukan dengan setahu tuan juga, karena itulah jalan adab dan hormat di dalam kitab-kitab peraturan sahabat persahabatan orang-orang Islam adanya, sudah habis putih hati ikhlas saya kepada tuan serta putus pada pikiran saya yang tuan itu semata-mata mencari kebajikan atas saya jua,” kata Raja Ali Haji, sebagaimana termuat Maier. Menjalin Kedekatan Setelah pertemuan pertama, Raja Ali Haji dan Von de Wall semakin sering bertemu. Raja Ali Haji menjadi informan bagi Von de Wall dalam penyusunan kamus Belanda-Melayu. Dia juga membantu kawan Eropa-nya itu menerjemahkan dan mengumpulkan naskah-naskah di Kesultanan Riau Lingga, serta menyusun kosa-kata untuk kamus. Von de Wall tinggal di Tanjung Pinang, sedangkan Raja Ali Haji tingal di Penyengat. Jarak kedua tempat itu, imbuh Maier, lebih kurang satu jam naik perahu kecil. Pertemuan mereka biasanya diisi dengan saling bertukar ilmu. Von de Wall tentang kebahasaan Melayu, sementara Raja Ali Haji tentang pengetahuan Barat yang tidak pernah dia temukan di tempat kelahirannya. “Pertemuan itu semacam penjelmaan pertemuan dua kebudayaan, dua pandangan hidup, seperti dua kalajengking yang bersangkutan dan tidak berlepasan lagi,” ucap Maier. Pada awal terbentuknya kerja sama antara Raja Ali Haji dengan Von de Wall, ikatannya tidak didasarkan pada landasan formal. Raja Ali Haji hanya menerima imbalan berupa hadiah, seperti senjata dan buku, bukan uang. Baru setelah beberapa tahun bekerja dia mendapat tunjangan sebesar 30 rial sebulan. Hubungan persahabatan Raja Ali Haji dan Von de Wall kian erat seiring dengan banyaknya pertemuan keduanya dalam menyusun kamus Belanda-Melayu. Surat-surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji juga memberi kesan bahwa sastrawan Riau itu semakin membuka hatinya kepada kawan lain bangsa itu. Ketika sedang masa sulit akibat kekurangan uang, Raja Ali Haji selalu bercerita kepada Von de Wall. Dia juga akan mengutarakan kesedihannya ketika terjadi masalah di lingkungannya. Raja Ali Haji tak segan menceritakan segala hal kepada Von de Wall, termasuk masalah syahwatnya. Bahkan ketika Von de Wall sakit, Raja Ali Haji akan merasa bersedih. “Demi persahabatannya, Raja Ali Haji berani membuka diri secara halus dan sopan. Atas nama kerja sama, dia tidak malu meminta benda yang bermacam-macam. Permintaan itu biasanya tertanam dalam cerita yang cukup menyejukkan,” tulis Van der Putten dan al-Azhar. Tidak hanya dekat dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga cukup akrab dengan pejabat pemerintah Belanda lainnya. Dia kerap dihadiahi berbagai macam buku dari Timur Tengah oleh gubernemen di Batavia. Berbagai permintaannya pun sering dikabulkan, seperti ketika dia meminta sebuah senapan, lilin, mesin cetak, rokok, hingga perekat surat berwarna-warni.  Setelah menyelesaikan pekerjaan membuat kamus Belanda-Melayu, kedekatan Raja Ali Haji dan Von de Wall masih terjalin baik. Keduanya tidak pernah lupa saling bertukar surat. Namun semenjak kesehatan Von de Wall menurun, Raja Ali Haji jarang bertemu secara langsung. Kawannya itu juga lebih sering pergi ke Jawa untuk pemulihan kesehatannya. Menurut Maier, surat terakhir Raja Ali Haji kepada Von de Wall dikirim pada Desember 1872. Setelah itu tidak ada lagi catatan mengenai komunikasi keduanya. Diketahui bahwa, baik Raja Ali Haji, maupun Von de Wall wafat pada 1873. Sang pujangga meninggal di Pulau Penyengat, sementara kawan Eropa-nya di  Pulau Jawa.

  • Ketika THR Bikin Geger

    DALAM beberapa hari terakhir, dan tentu saja juga dalam beberapa hari ke depan, perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada suatu jenis pendapatan di luar gaji reguler yang diterima para pekerja di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri, yaitu THR alias Tunjangan Hari Raya. Pemerintah telah memastikan bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan menerima THR pada H-10 sebelum Lebaran, atau pada awal Mei 2021. Pemerintah juga mewajibkan para pelaku usaha untuk memberikan THR kepada buruhnya tanpa dicicil. Akan ada sanksi bagi yang tidak membayarkan THR. Pro dan kontra pun bermunculan.

  • Kado Pemuda untuk Belanda di Bulan Puasa

    Belanda melancarkan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947 ketika umat Islam sedang puasa Ramadan 1366 Hijriyah. Setahun kemudian, pada 21 Juli 1948, tepat pada hari ulang tahun agresi militer Belanda yang juga pada bulan Ramadan 1367 Hijriyah, terjadi peristiwa menggemparkan, yaitu pelemparan granat di dekat bioskop Rex di Senen, Jakarta. Kira-kira pukul 22.00 WIB seseorang berjalan di Kramatplein, diikuti oleh dua orang di belakangnya. Atas petunjuk kedua orang itu, dia melemparkan granat ke arah kedai kopi yang terletak di persimpangan jalan. Granat mengenai meja, jatuh lalu meledak. Di antara orang yang sedang minum-minum di sana, lima orang serdadu KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda) dan lima orang preman terkena pecahan granat dan menderita luka-luka. Dua serdadu yang luka berat dibawa ke rumah sakit, yang lainnya bisa langsung pulang ke tangsi. Di antara preman itu, seorang Indonesia dan seorang Tionghoa juga luka parah, yang lainnya, seorang Indonesia, seorang Tionghoa, dan seorang Belanda luka ringan.n. Polisi segera datang untuk melakukan pemeriksaan. Polisi militerdan sepasukan dari basis komando kemudian menggerebek pemuda di mana-mana. Mereka menangkap 32 orang. Atas petunjuk salah seorang yang ditangkap, dilakukan penggeledahan di rumah salah seorang yang mereka tangkap itu. Di sini ditemukan dua buah granat tangan merek Mill’s 36, jenisnya sama dengan yang dilemparkan di kedai kopi.Ternyata,di antara 32 orang yang ditangkap itu terdapat pelaku pelemparan granat.Dia mengakui perbuatannya setelah pemeriksaan yang lama. A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , menyebutkan bahwa koran-koran Belanda menuduh yang berbuat itu adalah TNI dari Yogyakarta, seperti dengan tegas dikatakan oleh Het Dagblad . Dikatakan pula bahwa pelempar granat itu berpakaian seragam tentara Belanda dengan memakai pet berlambang singa seperti yang dipakai KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia bernama Jumingan bin Surokromo, seorang anggota Arbeiderscompagnie  di Berelaan. Organisasi yang bertanggung jawab atas pelemparan granat itu bernama Pusat Organisasi Siasat Rahasia (POSAR 9) yang dipimpin oleh Suhadono bin Utomo yang memakai nama samaran Yudo. Dia berhubungan dengan Salendu dkk. di Cipinang dan Usman Sumantri dari SP 88 (Satoean Pemberontak). “POSAR 9 adalah salah satu organisasi gerilya di dalam kota yang mengganggu Belanda dari belakang. Mereka telah membentuk sel-sel dalam KNIL. Mereka mempunyai antara lain ‘fonds Lebaran’ dan sanggup membeli senjata-senjata,” tulis Nasution. Beberapa waktu setelah pelemparan granat itu, polisi menyita sepucuk mitraliur (senapan mesin) dan stengun dari Mukri, anggota POSAR 9 di Tanah Abang. Pemimpin aksi peggranatan itu adalah Suwagi bin Utomo, seorang serdadu pada Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Hindia Belanda). Anggotanya Sutadi dari Alg.   Bewakingscompagnie  (kompi pengawal) yang aktif dalam “fonds Lebaran” , Tiron, dan Sukaman yang juga anggota KNIL. Pengadilan Negeri yang diketuai oleh Cohen (mungkin Mr. Cohen Stuart) menjatuhkan hukuman mati kepada Yudo, Suwagi, dan Jumingan. Sedangkan anggotanya: Sukaman bin Wongsotaruno dihukum 9 tahun penjara, Darmowarsito bin Singodikromo (5 tahun), Tiron bin Gugis (13 tahun), Darmoraharjo bin Marsudiyono (9 tahun), Laso bin Makasaran (2 tahun), dan J. Harianya (9 tahun). “Pembela Mr. Mohd. Syah menerima hukuman penjara itu, tetapi menolak hukuman mati, mengingat latar belakangnya adalah politik, dan membandingkannya dengan kaum partisan di Eropa yang di mana-mana justru disanjung-sanjung,” tulis Nasution. Namun, hakim Cohen menolak kasus itu sebagai kasus politik. Menurutnya, perbuatan tersebut adalah tindak kriminal.

  • Sejarah Panjang Nerazzurri dalam Inter 110

    WALAU langit sudah temaram, suasana di Stadio Giuseppe Meazza di Milan, Italia pada 22 Januari 2018 justru makin semarak. Puluhan ribu Interisti  (fans Inter Milan) memajang wajah optimis. Nyanyian dan sorakan penyemangat sudah menggelora walau sebagian dari mereka masih berada di antrean gerbang masuk stadion untuk menyaksikan Inter menjamu AS Roma. “Inter adalah segalanya!” seru seorang fans kepada seorang wartawan TV. “Inter adalah tim terbaik!” ujar fans lain. “ Forza  Inter!” jadi seruan penutup komentar sejumlah fans itu yang dikeluarkan sembari mereka membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera hitam-biru yang jadi warna kebanggaan I Nerazzurri  (julukan Inter). Adegan berganti ke laga sengit Inter kontra AS Roma. Scene -nya silih berganti dengan adegan bos Inter, Steven Zhang, yang berjalan santai menuju lorong stadion. Zhang jadi satu dari puluhan ribuan pemuja Inter yang berjingkrak kegirangan ketika empat menit jelang waktu pertandingan berakhir, Matías Vecino mencetak gol penyeimbang kedudukan lewat sundulannya. Cuplikan-cuplikan adegan yang muncul bergantian itu turut menaikkan adrenalin penonton dalam pembuka dokumenter bertajuk Inter 110  garapan sutradara Mirwan Suwarso yang dibantu editor Marcos Horacio Azevedo. Dokumenter ini dibuat dalam rangka perayaan milad ke-110 klub pada 9 Maret 2018. Inter 110 mengupas sejarah klub tersebut sejak berdirinya akibat “perceraian” dengan tim sekota, AC Milan. Fakta-fakta historisnya dihadikan lewat rekaman-rekaman lawas hitam-putih maupun penuturan 13 narasumber yang mewakili era masing-masing, di antaranya eks pemain Mario Corso (1957-1973), Giuseppe Baresi (1976-1992), Giuseppe Bergomi (1979-1999), Javier Zanetti (1995-2014), Marco Materazzi (2001-2011); eks pelatih Giovanni Trapattoni (1986-1991); eks Presiden Massimo Moratti (1995-2013); jurnalis senior Fabio Monti; serta Gianfelice Fachetti yang mewakili mendiang ayahnya, Giacinto Fachetti. Mereka mengisahkan sejarah Inter mulai dari dibangunnya tim di awal abad ke-20 hingga insan-insannya yang berpengaruh, seperti bintang legendaris Giuseppe Meazza. “Jika dinding (stadion) bisa bicara, mereka akan bercerita banyak hal tentang Meazza dan tim Inter. Banyak yang menganggap Meazza bermain dengan membungkus bola di kakinya. Itu karena tidak ada yang bisa mencuri bola darinya. Dia mewakili Inter di masa itu dengan cara terbaik. Skill dan permainan yang modern mampu memukau para fans,” ungkap Monti tentang Meazza. Empat legenda "Grande Inter": Alessandro Mazzola, Aristide Guarneri, Mario Corso & Gianfranco Bedin. ( inter.it ). Masa keemasan “Grande Inter” (1960-1967) yang dibesut pelatih visioner Helenio Herrera dengan tulang punggung tim Giacinto Fachetti, Armando Picchi, Sandro Mazzola, dan Luis Suárez jelas tak dilewatkan. Di masa itu Inter digdaya merebut Scudetto (gelar juara) Serie A musim 1964-1965 dan 1965-1966, serta European Cup (kini Liga Champions) 1963-1964 dan 1964-1965. “Grande Inter adalah tim istimewa, bukan hanya untuk fans tapi bagi pecinta sepakbola Italia maupun dunia secara keseluruhan. Pada saat itu Milan menjadi ibukota sepakbola dunia. Masa-masa yang menggembirakan untuk tim biru-hitam serta jadi sejarah tersendiri bagi sepakbola dari kota Madonnina,” kenang Gianfelice Fachetti. Sempat mengecewakan sepanjang 1970-an, Inter bangkit sesaat pada akhir 1980-an. Berpilarkan tiga bintang Jerman, Andreas Brehme, Lothar Matthäus, dan Jurgen Klinsmann, pelatih Trapattoni menghadirkan lagi gelar Serie A untuk Inter di musim 1988-1989. Namun, Inter kembali tenggelam di era 1990-an. Ketidakjelasan visi membuat Inter berkubang di bawah rival-rivalnya macam AS Roma, AC Milan, dan Juventus sepanjang dekade itu. Ketika Massimo Moratti mengambilalih kepemimpinan klub dan mendatangkan bintang Brasil Ronaldo Luís Nazário de Lima pada 1997, visi Inter mulai kembali jelas. Di milenium baru, Inter kembali harus bersaing sengit di antara “Magnificent Seven”. Baru pada 2010 di bawah besutan José Mourinho Inter bisa mengulang masa keemasannya dengan menyabet treble winners : Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.  Bos Inter Milan saat ini, Zhang Kangyang alias Stephen Zhang. ( inter.it ). Namun, lagi-lagi masa indah itu tak awet. Di musim-musim setelahnya, Inter lagi-lagi jatuh di bawah superioritas AC Milan dan Juventus. Inter bahkan pernah mengecap tujuh tahun puasa Liga Champions. Baru di musim 2018 titik awal kebangkitan Inter kembali muncul. “Inter punya sejarah luar biasa. Inter yang sebenarnya sudah ditentukan 110 tahun lalu. Kembali masuk Liga Champions setelah absen enam-tujuh tahun yang merupakan kompetisi terbaik, itu seperti sebuah sinyal. Di saat yang bersamaan juga jadi titik awal (kebangkitan) untuk kami. Seratus sepuluh tahun ke depan diharapkan akan sama fantastisnya atau bahkan lebih dari 110 tahun sebelumnya,” tandas Zhang. Untuk lebih menyelami dan menghayati historis Inter, baiknya Anda tonton sendiri Inter 110 di Mola TV . Feel -nya akan lebih terasa mengingat pada Minggu (2/5/2021) Inter sukses menyegel Scudetto ke-19 dengan menyisakan empat laga pamungkas di musim 2020-2021. Sepihak Rangkaian footage era modern dan lawas yang diiringi music scoring orkestra cukup mampu membikin suasana hati penonton naik-turun menyaksikan sejarah Inter. Hanya saja, transisi peralihan gambar wawancara narasumber yang silih berganti secara cepat cukup mengganggu. Di beberapa bagian, kata-kata narasumber acap terpotong. Sepatah-dua patah kata atau sepotong kalimat baru dilontarkan narasumber, sudah langsung berganti penuturan narasumber lain. Alhasil, penonton tak diberi kesempatan mencerna informasi narasumber sebelumnya. Bahasa juga menjadi soal. Mayoritas narasumber melontarkan pernyataan dalam bahasa Italia. Sialnya, tidak ada pilihan subtitle bahasa Inggris. Yang ada hanya terjemahan bahasa Indonesia di beberapa bagian yang terjemahannya kurang rapi sehingga logika kalimatnya membingungkan. Skuad "La Grande Inter" di musim 1964-1965. ( inter.it ). Lalu, subyektivitas dalam dokumenter ini cenderung kuat. Hampir semua narasumber adalah orang Inter, mulai mantan pemain, eks-pelatih, hingga bekas presiden klub. Satu-satunya narasumber dari luar hanya jurnalis senior Corriere della Sera Fabio Monti. Yang pasti, Inter 110 bukan rangkuman A-Z tentang Inter. Dokumenter ini juga sama sekali tak memberi ruang terhadap beberapa detail yang tak kalah penting bagi sejarah Inter, semisal tentang sembilan tokoh pendirinya (Giorgio Muggiani; Enrico, Arturo, dan Carlo Hintermann; Pietro Dell’Oro; Hugo dan Hans Rietmann; Carlo Ardussi; serta Giovanni Paramithiotti). Tim produksi juga tak menyinggung tentang logo klub, kefanatikan Interisti , atau markas tim. Soal yang terakhir, selain Stadio Giuseppe Meazza yang jadi kandang bersama Inter dan AC Milan, Inter juga sempat berkandang di Arena Civica pada 1930-1958. Siapa Giuseppe Meazza? Hal terakhir yang dijadikan bahasan adalah sosok Meazza. Kendati namanya diabadikan menggantikan San Siro sebagai nama stadion pada 3 Maret 1980, kiprahnya hanya sedikit disebut lantaran cerita Inter 110 didominasi era “Grande Inter”. Hanya dua kali namanya disebut Monti dari 13 narasumber. Padahal, seperti diungkapkan Monti di cuplikan wawancaranya, jika dinding stadion bisa bicara maka ia sebagai saksi bisu akan punya banyak cerita tentang Meazza. Bahwa Inter berjaya di era “Grande Inter”, itu memang benar. Tetapi, Inter sampai bisa begitu fondasinya dibangun oleh Meazza sesaat setelah lahir. Meazza yang lahir di Porta Vittoria, Milan, pada 23 Agustus 1910 mengabdi pada 1927-1940 dan 1946-1947. Meski dia pernah membela AC Milan dan Juventus, jasanya pada Inter tetap dihargai sehingga namanya dijadikan nama stadion. Hingga saat ini, belum ada satu pemain Inter pun yang mampu menyamai apalagi melewati rekor golnya untuk Il Biscione (284 gol). Kolase Giuseppe Meazza berseragam Inter Milan. ( inter.it ). Charles F. Church dalam The Blue Century: 1910-2010 mengungkapkan, Meazza dijuluki I Balilla atau si bocah kecil karena posturnya yang pendek. Anak yatim yang ditinggal mati ayahnya di Perang Dunia I itu ditolak tim akademi AC Milan gegara kekurangan fisiknya itu. Interlah yang bersedia menerimanya. “Julukan Il Balilla meluas setelah rekan tim seniornya, Leopoldo Conti, mengejeknya karena masih terlalu muda untuk bermain di tim: ‘Sekarang bahkan kita membiarkan anak-anak Balilla bermain,’” kata Conti, dikutip Church. Meazza dipercaya pelatih Árpád Weisz untuk melakoni debutnya di tim senior Inter pada 12 September 1927 di laga kontra Unione Sportiva Milanese di turnamen Coppa Volta. Dalam kemenangan 6-2 Inter atas US Milanese itu, Meazza menyumbangkan dua gol. Dalam sekejap Meazza memunculkan kekaguman. Tidak hanya rekan-rekan setim senior yang sempat meledeknya, pelatih tim rival AC Milan, Vittorio Pozzo, pun mengakui kedahsyatan permainan Meazza. “Pozzo yang kemudian melatihnya di timnas Italia mengatakan: ‘Memiliki dia (Meazza) di tim Anda berarti Anda sudah merasa unggul 1-0. Setelah debutnya untuk Inter, (suratkabar) La Gazzetta menuliskan: ‘Seorang bintang telah lahir’,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer . Giuseppe Meazza menerima trofi Jules Rimet usai Timnas Italia menjuarai Piala Dunia 1938. ( fifa.com ). Meazza berjasa buat Inter lantaran mempersembahkan empat gelar liga dan satu Coppa Italia. Sementara, publik Italia memujanya karena berhasil membawa Italia juara Piala Dunia 1934 dan 1938. Prestasi itu membuat Meazza menjadi pemain Italia pertama yang mendapatkan sponsor pribadi. Meazza juga jadi satu-satunya pemain timnas yang diperbolehkan merokok, minum sampanye, hingga mendapat pemakluman atas gaya hidupnya yang flamboyan dan gemar keluar-masuk rumah bordil. Pasalnya, semua perilakunya di luar lapangan tak memengaruhi prestasinya. “Meazza menjadi pemain paling terkenal di generasinya, seorang legenda, seorang superstar sepakbola Italia. Pozzo memujinya sebagai pemain visioner, mampu membaca permainan dan memahami situasi agar lini serang tim bisa bekerja secara lancar. Jurnalis Gianni Brera menyebutnya sebagai satu-satunya pemain Italia sensasional yang bisa menyandingi para bintang Brasil dan Argentina,” sambung Foot. Nama Giuseppe Meazza diabadikan jadi nama stadio menggantikan nama Stadio San Siro sejak 1980. ( inter.it ). Saat Italia masuk kancah Perang Dunia II, Meazza hijrah ke AC Milan (1940-1942) dan kemudian Juventus (1942-1943). Ia comeback ke Inter pada 1946 setelah bertualang ke Varese (1944) dan Atalanta (1945-1946) sebagai pemain merangkap pelatih. Ketika Meazza tutup usia pada 21 Agustus 1979 akibat penyakit pankreas, segenap warga Italia berduka. Setahun berselang, AC Milan dan Inter Milan sepakat untuk mengubah nama Stadio San Siro menjadi Stadio Giuseppe Meazza untuk mengenang sosoknya. “Tak diragukan lagi, dia adalah salah satu pesepakbola Italia terbaik sepanjang masa. Dia adalah simbol bagi kebesaran negara kami dan kita sudah semestinya mengenang sosoknya,” tandas Silviano Pioli, rival Meazza di era 1930-an. Data Film: Judul: Inter 110 | Sutradara: Mirwan Suwarso | Produser: Luca De Angelis | Produksi: Mola TV, SuperSoccer TV, Inter Media Production | Distributor: SuperSoccer TV, RAI TV | Genre: Dokumenter | Durasi: 43 Menit | Rilis: 9 Maret 2018 (RAI TV), Mola TV

  • Melihat Pesona Masjid Cut Meutia

    Sebuah bangunan bertingkat tiga bergaya art nouveau di Jalan Taman Cut Meutia, Jakarta Pusat, itu seperti kantor. Tapi sesungguhnya bangunan peninggalan abad ke-19 itu sebuah masjid. Inilah Masjid Cut Meutia. Bangunan masjid dulunya kantor biro arsitek Belanda bernama Naamloze Vennootschap Bouwploeg pada 1879. “Sejarah masjid Cut Meutia pasti sangat panjang. Yang menarik adalah Masjid Cut Meutia ini mengalami beberapa kali pergantian gedung dari awalnya menjadi kantor arsitektur, terus kantor PT KAI, lalu ada juga kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara ketika itu dipimpin oleh Almarhum Jenderal A.H. Nasution,” kata Muhammad Hussein, Ketua Remaja Islam Masjid Cut Meutia (Ricma). Suasana Masjid Cut Meutia tempo dulu. (Wikimedia Commons). Cut Meutia yang juga dikenal sebagai masjid tanpa kubah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Lalu setelah MPRS tidak berkantor lagi di Cut Meutia, bangunan yang didominasi oleh warna putih tersebut sempat ingin dirobohkan dan dihancurkan. “Jadi setelah tidak jadi dirobohkan, Almarhum Jenderal A.H. Nasution mengusulkan untuk menjadikan Cut Meutia menjadi cagar budaya. Lalu terbentuk Remaja Islam Masjid Cut Meutia. Baru diresmikan oleh Pak Ali Sadikin sebagai masjid,” lanjutnya. Masjid Cut Meutia mempunyai beberapa keunikan. Masjid ini tak ada kubah selayaknya masjid-masjid di Indonesia. Kiblatnya miring ke kanan. Kemudian juga di lantai dua masjid tepatnya di ruang rapat anggota RICMA terdapat sebuah ruangan kecil yang berkapasitas empat orang. Terdapat sebuah brankas untuk menyimpan dokumen sejak era kolonial Belanda. Suasana di dalam Masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung sedang menjalankan ibadah salat dengan menggunakan masker. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung yang berada di dalam masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung menjaga jarak saat menunaikan salat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu ruangan yang dipakai untuk kegiatan RICMA di masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Dengan semua ciri khas dan sejarahnya panjangnya, bangunan seperti Masjid Cut berusaha dilestarikan dengan semaksimal mungkin. Beberapa perawatan dilakukan dan dimaksudkan agar tidak ada lagi berbagai bangunan sejarah yang rusak. Bangunan yang menjadi cagar budaya pada 1961 ini sekarang membutuhkan berbagai perbaikan. “Jadi sebenernya kita pengen juga dilihat sama pemerintah pusat atau DKI. Kayak kemaren ada renovasi, tapi renovasi kita sendiri yang jalan. Terus kedepannya pengen ada perhatian khusus buat Cut Meutia. Ini masjid sejarah dan sudah dilestarikan ya setidaknya pemerintah melihat itu sih,” tutupnya. Pengunjung saat menunaikan ibadah salat di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung saat menunggu buka puasa di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Akmal, petugas keamanan yang bekerja sejak tahun 1990 di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung tertidur di dalam Masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Pemujaan di Bukit Tandus

    DI atas perbukitan Batur Agung, sebuah kompleks percandian berdiri megah. Di tempat ini, masyarakat Jawa kuno melakukan pemujaan kepada Dewi Sri untuk memohon berkah dan kesuburan pada lahan pertanian mereka. Kompleks percandian ini terletak di Dusun Candisari, Desa Sambireja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Namanya Candi Sari. Karena ada candi lain dengan nama yang sama di daerah ini, yakni Candi Sari di Kalasan, maka agar tak terjadi kekacauan penyebutan candi ini dinamakan Candi Sari Sorogedug. Sementara penduduk sekitar menamakannya Candi Barong. “Mungkin penamaan ini berdasarkan kepala kala yang menyerupai barongan,” ujar arkeolog Timbul Haryono dalam “Candi Sari (Sorogedug): Suatu Tinjauan Arsitektur”, makalah pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi II di Jakarta, 25-29 Februari 1980. Candi Barong dibangun di atas puncak sebuah bukit yang telah dipangkas, dengan tiga bagian halaman berundak, memanjang dengan arah timur ke barat. Pola percandian seperti itu mengingatkan pada tradisi pemujaan megalitik pada masa prasejarah. “Bentuk batur candi pun dibuat berundak-undak secara jelas, suatu hal yang jarang ditemui pada batur candi di lain tempat,” ujar Timbul Haryono . Ketiga halaman itu dibatasi oleh pagar keliling. Di halaman pertama tak ditemukan bekas-bekas bangunan. Di halaman kedua terdapat bekas-bekas susunan batu putih yang mungkin merupakan bekas pondasi bangunan. Sedangkan di halaman teratas dan paling belakang, dua candi induk berdiri sejajar. Candi Barong I terletak di selatan dan Candi Barong II di tengah halaman. Gapura berhias kepala kala dan sulur-suluran menyambut siapapun yang memasuki halaman teratas sekaligus tersakral ini. Memuja Dewi Kesuburan Candi Barong I dan Candi Barong II memiliki bentuk arsitektur dan ragam hias yang sama. Bagian-bagiannya masih lengkap; dari kaki, tubuh, hingga atap. Motif sulur-suluran, geometris, dan kerang bersayap ( śaṅkha ) menghiasi bagian kaki candi. Ukiran sulur gelung menghiasi tubuh candi. Hiasan kala dan makara masing-masing tampak pada bagian atas relung candi dan ujung pipi tangga. Sementara motif-motif geometris terukir di dindingnya. Kedua candi itu tak punya pintu masuk kendati ketika dipugar memiliki rongga di dalamnya.Pada keempat sisi dinding candi terdapat relung kosong, yang mungkin dahulu diisi dengan arca. Di Candi Barong ditemukan dua arca Dewi Sri, dua arca Wisnu, sebuah arca Ganesa yang belum selesai, dua arca lainnya yang tidak dapat diidentifikasikan, dan hiasan kerang bersayap ( śaṅkha ) yang merupakan lambang Dewa Wisnu. “Berdasarkan temuan tersebut dapatlah diketahui bahwa Candi Barong merupakan percandian agama Hindu dan diperkirakan digunakan untuk pemujaan kepada Dewi Sri yang merupakan Dewi Kesuburan,” tulis arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Kedua arca Dewi Sri di Candi Barong terbuat dari batu.Arca pertama, Dewi Sri duduk dalam posisi paryangkasana di atas padmasana (singgasana teratai). Tangannya empat. Tangan kanan depan seperti tengah memberi anugerah. Tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka.Tangan kanan belakang memegang kamandalu (kendi). Tangan kiri belakang memegang setangkai padi. Arca kedua dalam posisi duduk bersila di atas padmasana . Namun bagian atasnya tak utuh lagi. Tangannya dua. Tangan kanan memegang sebuah kamandalu. Tangankiri memegang sebatang padi. Memakai kirītamakuta (mahkota), anting, kalung, kelat bahu, gelang siku, dan channawīra (tali yang diselempangkan menyilang di antara buah dada). Dewi Sri dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan. Ia juga dipuja sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan yang memberikan kekayaan, kemakmuran, dan terutama berkah panen padi yang melimpah. Karenanya, bahkan hingga kini, Dewi Sri dihubungkan dengan mitos asal usul padi. Pemujaan terhadap Dewi Sri sudah berlangsung sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang ke Nusantara, yaitu sejak masuknya penyebaran budidaya padi di Asia pada masa prasejarah. Kepercayaan ini mampu bertahan menghadapi perubahan sosial dan agama. Menurut arkeolog Titi Surti Nastiti dalam “Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia” terbit di Tumotowa Vol. 3 No. 1,Dewi Sri dalam agama Hindu dikenal sebagai istri Dewa Wisnu. Namun, secara ikonografis, pengarcaan Dewi Sri di Indonesia lebih mirip dengan Wasudhārā, yang dalam agama Hindu disebut Bhūdewi (Dewi Kesuburan) atau sebagai sakti Dewa Kuwera. Sikap duduk dan atribut Dewi Sri sama dengan Wasudhāra. Bedanya, jika tangan kiri Wasudhārā memegang setangkai gandum, tangan kiri Dewi Sri memegang setangkai padi dan tidak memakai mahkota berelief Aksbobhya atau Wairocana seperti Wasudhārā. Kata Titi, hal tersebut kemungkinan disebabkan silpin (pembuat arca) pada masa Jawa Kuno mempunyai konsep sendiri mengenai Dewi Sri. Pembuat arca mengawinkan konsep Dewi Sri dalam agama Hindu dengan Dewi Kesuburan atau Dewi Padi yang dipuja pada masa prasejarah. Menghadirkan Unsur Air Di masa lalu, keberadaan arca Dewi Sri di Candi Barong menjadi dimengerti ketika melihat kondisi lingkungan di sekitar candi yang jauh dari kata subur. Tandus, kering, dan jauh dari sumber mata air. Padahal masyarakat di sekitar candi hidup dari pertanian. Karenanya mereka menggunakan sistem pertanian tadah hujan agar kebutuhan air terpenuhi. Kondisi itu juga mendorong masyarakat untuk menghadirkan berbagai benda yang menyimbolkan dan memiliki hubungan dengan air di Candi Barong dalam bentuk motif hias śaṅkha bersayap. Menurut arkeolog Harriyadi dalam “Makna Ragam Hias Śankha Bersayap pada Candi Hindu dan Buddha di Jawa”, Purbawidya , Vol. 9 No. 2, November 2020, penggambaran śaṅkha dimaksudkan untuk menghadirkan unsur air bagi candi dan lingkungannya. Śaṅkha pada dasarnya merupakan binatang laut. Binatang ini lekat dengan Dewa Wisnu. Dalam mitologi, salah satu avatara atau perwujudan Dewa Wisnu, yakni Narayana, menggunakan śaṅkha sebagai atributnya. Narayana merupakan dewa air.  Di Candi Barong ada dua arca Dewa Wisnu. Arca pertama digambarkan duduk di atas padmasana dalam sikap paryangkasana . Ia bertangan empat. Tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan, dengan telapak tangan terbuka menengadah. Tangan kanan depan mulai pada pertengahan lengan atas. Menurut bekas-bekasnya mungkin telapak tangan kanan diletakkan di atas lutut kaki kanan. Tangan kiri belakang ditekuk ke atas di samping kepala, tapi sudah patah (hilang) sehingga tak diketahui jelas jenis benda yang dipegang. Melihat bekas-bekasnya, mungkin yang dipegang śaṅkha . Kepala sudah patah (hilang). Pelipit stela mempunyai pinggiran lidah api. Arca kedua hanya bagian dada ke atas. Ia juga bertangan empat. Kedua tangan depan sudah patah. Tangan kiri belakang memegang śaṅkha , sedangkan tangan kanan belakang memegang cakra. Selain dalam arca Dewa Wisnu, śaṅkha dipahatkan pada bagian kaki candi. Menurut Harriyadi, ragam hias śaṅkha di Candi Barong memiliki sayap dan rumah siput ( spire ) yang berada pada bagian atas dan lingkar tubuh yang menghadap bawah. Śaṅkha bersayap Candi Barong berdiri pada lapik yang berbentuk teratai mekar, padma, dan di sekelilingnya terdapat hiasan berupa sulur gelung dan hiasan geometris. “ Śaṅkha bersayap dipahatkan pada candi agar mendatangkan kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Harriyadi. Gaya Peralihan Kapan Candi Barong berdiri belum diketahui dengan pasti. Sampai kini belum ditemukan sumber prasasti yang mencatatnya. Candi Barong sudah dalam keadaan runtuh ketika ditemukan pertama kali pada 1913. Semak belukar menyembunyikan keberadaannya. Pada 1979 candi ini mulai ditangani secara intensif. Kegiatan pemugaran baru dilakukan pada 1986 hingga 2009. Menurut Timbul Haryono, pembagian teras halaman candi yang roboh ke belakang biasa ditemui pada candi-candi Jawa Timur. Di Jawa Tengah, hal semacam ini dapat dilihat pada Candi Ijo, yang memperlihatkan gaya seni masa akhir Jawa Tengah sekitar tahun 850-900 M. Selain itu, relief kepala kala yang dilukiskan lengkap dengan rahang bawah dan ada gambar tangan di kanan-kiri dengan kuku-kuku tajam juga biasa dijumpai pada periode Jawa Timur. Begitu pula profil kaki candi yang tidak mengenal kombinasi bingkai setengah lingkaran dan bingkai sisi genta. Kemudian batu luar kaki candi diberi hiasan geometris dan śaṅkha sebagai padmamula (akar teratai). Hiasan pada candi dikerjakan dengan teliti dan halus. Karenanya, Candi Barong tak bisa digolongkan sebagai candi tua. Timbul Haryono menetapkan umurnya kurang lebih sekitar tahun 900 M. Jadi, Candi Barong diperkirakan berasal dari masa peralihan periode Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kini, Candi Barong merupakan salah satu destinasi wisata alternatif di Yogyakarta. Letaknya sekira 25 km ke arah timur dari Tugu Yogyakarta. Ia pun bukan satu-satunya peninggalan arkeologi di kawasan itu. Ada Candi Miri, Candi Dawangsari, Arca Ganesha, Situs Ratu Boko, dan Arca Dhyani Bodhisatwa Sumberwatu. Sebuah paket wisata yang menarik dan tak bisa diabaikan jika Anda berkunjung ke Yogyakarta. Candi Barong juga bisa dinikmati melalui sajian virtual tour dengan kamera 360 0 . Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) akan mengajak Anda untuk menjelajahi setiap sudut candi. Dalam rangkaian program Candi Darling From Home, Anda pun bisa melihat aksi penanaman pohon yang dilakukan oleh anak-anak muda tanah air dan turut dalam aksi peduli lingkungan dengan menyumbangkan bibit tanaman. Informasi selanjutnya mengenai program ini bisa diakses melalui siapdarling.id atau melalui Instagram @siapdarling .

  • Hikayat Dua Pujangga Melayu

    Selama penghujung abad ke-18 hingga permulaan abad ke-19, ketegangan di antara dua bangsa penjajah memuncak di wilayah Selat Malaka. Inggris dan Belanda saling klaim kekuasaan di kawasan perdagangan penting di Asia Tenggara tersebut. Puncaknya, melalui Traktat London tahun 1824, para kolonialis Eropa sepakat membagi wilayah Selat Malaka menjadi dua bagian: utara (Singapura dan Malaysia) dimiliki Inggris; sementara selatan (Nusantara) dimiliki Belanda. Konflik pun akhirnya terselsaikan dengan baik. Kesepakatan itu rupanya berdampak juga kepada kerajaan-kerajaan di sepanjang Selat Malaka. Kesultanan Riau-Johor, misalnya, terpaksa harus membagi kekuasaannya menjadi dua. Itu karena Kesultanan Johor-Riau memiliki kekuasaan di dua wilayah yang terpecah, yakni Tumasik (Singapura), dan Riau (Nusantara). Terpisahnya kekuasaan tersebut membawa perpecahan di dalam internal kerajaan. Pemerintahan di Riau, maupun Singapura saling klaim kekuasaan. Akhirnya, melalui sokongan dari Inggris dan Belanda, masing-masing pemerintahan mengangkat seorang penguasa. Maka terputuslah hubungan kerajaan yang pernah menjadi vassal Sriwijaya dan Majapahit tersebut. Terpecahnya Riau-Johor membawa perubahan juga kepada kehidupan masyarakat di dalamnya. Hal itu terjadi terutama karena Inggris dan Belanda menjalankan kebijakan yang berbeda. Perubahan meliputi bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Menurut Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto, khusus di bidang budaya, perpecahan itu telah memisahkan secara paksa dua pujangga besar Melayu, yakni Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, dan Raja Ali Haji. Keduanya sama-sama terlahir di bawah kuasa Kesultanan Riau-Johor. Tetapi akhirnya Abdullah tinggal dan berkarya di Singapura dan Malaysia, sementara Raja Ali Haji menetap di Riau. “Jarak di antara keduanya terasa begitu sayup antara tampak dan tiada... Jarak yang jauh terutama terlihat dari bagaimana keduanya menyikapi keadaan kemasyarakatan dan kebudayaan Melayu pada waktu bersamaan. Suatu zaman ketika sistem kehidupan yang sudah berakar tunggang memperoleh gempuran luar biasa dari rengkuhan baratisasi yang juga selalu disebut orang sebagai kemodernan,” tulis Taufik. Hidup dan Berkarya Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi hidup pada kurun masa yang sama. Keduanya mengembangkan karya dalam alam kebudayaan serupa: budaya Melayu. Namun dalam suasana yang berbeda. Baik Inggris maupun Belanda memiliki pandangan lain terkait sastra Melayu. Dikisahkan Amin Sweeny dalam  Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Abdullah lahir di Malaka pada 1796 dari keluarga campuran Arab dan India. Dia tumbuh di lingkungan Melayu Muslim kuat di bawah pemerintahan Riau-Johor. Memasuki abad ke-19, ketika usia remaja, Abdullah memutuskan pindah ke Singapura. Menurut Irfan, sebagaimana disebutkan U.U. Hamidy dalam  Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam Sastra Melayu , kepindahannya ke Singapura dilakukan untuk menghilangkan kesedihan atas meninggalnya sang istri di Malaka. Tetapi jika dilihat dari jalan hidup Abdullah, kepindahannya ke Singapura terjadi karena Belanda menggantikan kekuasaan Inggris di Malaka. Hal itu, imbuh Irfan, tidak memberikan iklim yang baik bagi Abdullah. “Tampaknya Belanda tidak memerlukan orang-orang yang ahli dalam bidang bahasa seperti Abdullah,” jelas Irfan. Sementara itu Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad lahir di Selangor pada 1808. Dia berasal dari keluarga Kerajaan Riau. Raja Ali Haji tumbuh dan dibesarkan di Pulau Penyengat, Inderasakti, Riau. Dia hidup dalam suasana intelektual yang kental, yang menjadi dasar pengembangan nalar dan intuisi dalam menggambarkan alam Melayu melalui karya-karya sastranya. Menurut Irfan terdapat perbedaan yang cukup besar di antara dua pujangga ternama Melayu tersebut. Sebuah jurang pembeda yang membuat nama Abdullah lebih mencuat dibandingkan Raja Ali Haji. Itu ditentukan oleh adanya pemberian kesempatan berkarya dari bangsa yang menjajah mereka. Sikap pemerintah Inggris, di bawah Raffles, sangat terbuka kepada kehidupan kebudayaan orang-orang Melayu. Kondisi itu yang membuat Abdullah lebih leluasa mengembangkan karya-karyanya. Di lain pihak, Belanda amat membatasi kegiatan kebudayaan masyarakat pribumi. Terlebih, antara Riau dan Belanda kerap terlibat ketegangan yang memperburuk hubungan keduanya. “Secara sederhana dapatlah dikatakan, Abdullah berada dalam suatu kawasan, yakni Singapura yang waktu itu sedang bangkit secaa mengejutkan dan kini terus meninggi, jauh meninggalkan Riau yang cukup lama memayunginya,” kata Irfan. Sepanjang hidupnya, Abdullah berhasil menghasilkan banyak karya, di antaranya  Syair Singapura Dimakan Api,Kisah Pelayran Abdullah dari Singapura ke Klantan, Syair Kampung Gelam Terbakar, Hikayat Abdullah, dan  Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Sedangkan karya-karya Raja Ali Haji, di antaranya  Bustanul Katibin, Kampus Pengetahuan Bahasa, Tsamaratul Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam, Syair Suluh Pegawai, dan  Gurindam Duabelas. Hubungan dengan Barat Raja Ali Haji dan Abdullah diketahui sama-sama memiliki kedekatan dengan orang-orang Eropa. Utamanya mereka yang tertarik dengan budaya Melayu. Abdullah sendiri, dengan kemampuan bahasa Melayu, Inggris, Tiongkok, dan India, mendapat kesempatan menjadi juru tulis Raffles. Dia pun berhubungan erat dengan para penyebar Kristen di Singapura, seperti Wiilliam Milner da C.H. Thomsen. Tidak hanya bersahabat dan mengajarkan para misionaris bahasa Melayu, Abdullah juga membantu menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Melayu. Alam kebebasan di bawah kuasa Inggris, serta pergaulannya dengan orang-orang Eropa, membuat karya-karya yang dilahirkan Abdullah dinilai oleh para ahli berbeda dengan karya pengarang Melayu lain yang hidup sezaman dengannya. Subjek tulisan Abdullah, misalnya, tidak terbatas pada persoalan kekuasaan dan raja-raja saja, tetapi ada tentang kehidupan sehari-hari. Bahkan dia terkadang membuat tulisan berupa kritik terhadap raja-raja dan masyarakat Melayu. “Boleh dikatakan, Abdullah-lah, pelahir otobiografi dalam alam Melayu,” tulis Irfan. “Tak dapat dipungkiri bahwa gaya Abdullah itu merupakan berkat pergaulannya dengan Barat dan coba menyerapnya dalam kehidupan sehari-hari, sampai-sampai ada orang mengatakan bahwa Abdullah cendekiawan pertama di kawasan Nusantara yang mampu menyerap Barat.” Sementara Raja Ali Haji memiliki hubungan kedekatan dengan sejumlah penguasa dan pakar bahasa. Seperti dikisahkan Jan van der Putten dan Al Azhar dalam  Di dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall,  Raja Ali Haji bersahabat baik dengan Von de Wall yang kala itu menjabat Asisten Residen Riau. Berkat Von de Wall, Raja Ali Haji bisa mendapatkan buku-buku dari Negeri Belanda, ataupun dari Timur Tengah, yang dia butuhkan untuk referensi tulisan-tulisannya. Sebagai balasan, Raja Ali Haji memberikan pengetahuan tentang bahasa Melayu kepada Von de Wall. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Irfan. Tidak hanya dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga berhubungan baik dengan sejumlah pejabat Belanda. Hal itu semata dia lakukan untuk menarik perhatian Belanda akan karya-karyanya, yang memungkinkan karangannya tersebut disebar dan dicetak. Sampai-sampai dia pernah berharap diperkenankan memperoleh mesin cetak di Riau. Kendati Raja Ali Haji dan Abdullah memiliki ketenaran dibanding pengarang-pengarang lain, serta mendapat tempat spesial di dunia sastra Melayu, bukan berarti tidak ada pujangga lain yang menghasilkan karya fenomenal. Masih banyak nama lain. Salah satunya Raja Chulan bin Raja Abdul Hamid yang menulis  Silsilah Perak dan Misa Melayu . Apalagi di Riau, sepeninggalan Raja Ali Haji, lahir 20-an pengarang baru yang tidak kalah hebat.

  • Setetes Air di Tanah Gersang

    DAHULU kala, sekelompok masyarakat tinggal di kawasan gersang yang kini menjadi Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Kalau musim kemarau angin menjadi lebih kering dari biasanya.  Di area sekitarnya pun tak ada mata air. Padahal mereka hidup dari bercocok tanam. Orang-orang Cepit di masa lalu mengandalkan rumah peribadatan yang kini dikenal sebagai Candi Banyunibo. Nama itu dalam bahasa Jawa bisa diartikan air ( banyu ) yang jatuh atau menetes ( nibo ). Keberadaan candi ini diharapkan bisa mendatangkan hujan yang membuat sawah dan kebun mereka terus bersemi.  Agar tanah subur dan keluarga mereka hidup sejahtera, mereka juga mengandalkan Hāritī ( Dewi Kesuburan) dan Kuvera atau Atavaka (Dewa Kemakmuran). Kedua sosok ini terpahat di dinding candi. Candi Banyunibo merupakan sebuah gugusan candi. Terdiri dari satu candi induk beratap stupika pada puncaknya. Lalu enam candi perwara (pendamping) berupa stupa berderet di sisi selatan dan timur. Untuk masuk ke ruang candi, orang harus menaiki 14 anak tangga dengan ragam hias kala-makara. Ruang candi sudah kosong. Terdapat tiga relung di dinding utara, timur, dan selatan. Relung sebelah timur ukurannya paling besar dan dihias dengan ukiran kala-makara dengan bingkai berbentuk tapal kuda. “Apa fungsi ketiga relung tersebut, kemungkinan untuk menempatkan arca-arca. Arca di relung timur mungkin arca utama, diapit oleh dua arca dalam relung utara dan selatan. Dugaan ini diperkuat karena tidak ada pentas persajian seperti lazimnya candi-candi Buddha untuk menempatkan singgasana arcanya,” jelas arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa. Hāritī dan Kuvera tak diletakkan pada relung-relung utama itu. Tapi di ambang pintu masuk candi; seakan memberkati siapapun yang masuk. Pemujaan Kuno Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan sudah dipuja manusia sejak Zaman Batu Akhir ( Paleolitikum ). Ia dipercaya punya andil dalam segala hal di alam semesta. Ketika manusia mulai bercocok  tanam, keberadaannya menjadi semakin penting. Pemujaan terhadapnya bisa ditemui di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan seringkali diidentikkan dengan Dewi Sri. Padahal, ada sosok perempuan lain yang memiliki peran yang sama, yakni Dewi Hāritī. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara dalam tugas akhirnya berjudul “Penggambaran Hariti di Jawa dan Bali (Abad ke-7-15 M)”, dalam kajian arkeologis, Hāritī tergolong dewa-dewi pendukung ( minor ), bukan dewa-dewi yang punya kedudukan tinggi ( mayor ). Gambaran tentangnya tersua dalam agama Buddha dan Hindu. Menurut versi agama Buddha aliran Sarvvāstivāda, Hāritī adalah seorang yaksi (manusia setengah dewa) bernama Huanshi dari Rajagrha. Ia memiliki 500 anak. Karena mengalami keguguran, Huanshi menjadi bengis dan suka memangsa anak-anak. Tindakannya membuat penduduk Rajagrha gelisah dan memohon pertolongan Buddha. Agar Huanshi bertobat, Buddha membawa pergi dan menyembunyikan putra bungsu sekaligus anak kesayangannya, Priyankara. Sampai akhirnya datanglah Huanshi yang memohon agar anaknya dikembalikan. Buddha memberi pelajaran kepada Huanshi bahwa kehilangan anak adalah petaka bagi ibu manapun. Huanshi akhirnya bertobat. Ia kemudian ditasbihkan Buddha menjadi Hāritī dan ditugaskan menjadi Dewi Kesuburan dan pelindung anak. Versi agama Hindu menyebut Hāritī dengan nama Vrddhi, yang dalam bahasa Sansekerta artinya berkembang. Ia merupakan istri dari Dewa Kuvera, penjaga arah mata angin utara. Hāritī menjalankan peran sebagai Dewi Kesuburan karena menjadi pendamping dari Dewa Kesuburan pula. Di Indonesia, penggambaran Hāritī dituangkan dalam bentuk arca maupun relief candi dan dapat dijumpai di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Di Candi Banyunibo, relief Hāritī dipahatkan di dinding lorong pintu masuk sebelah utara. Relief ini terdiri dari tiga bagian yang terpisah diagonal. Perkiraan ukuran panil utuh memiliki panjang 174 cm dan lebar 103 cm. Kondisi sudah tidak utuh dan banyak bagian yang terpotong. Hāritī digambarkan dengan posisi duduk virasana (bersila) dan sikap tangan varamudra (memberi anugerah). Di dekat kakinya, lima anak duduk berjejer; seorang di kanan dan empat di sebelah kiri. Anak-anak itu berjongkok dan merapat satu sama lain, kecuali seorang anak di sebelah kanan yang duduk miring bersandar pada Hāritī. Ada dua anak lain sedang memanjat pohon. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara, penggambaran tersebut mewakili peran serta kedudukan Hāritī sebagai dewi kesuburan dan pelindung anak. Masyarakat Jawa Kuno mungkin juga menyamakannya dengan Dewi Sri. Sebagian besar masyarakat waktu itu bercocok tanam. Agar lahan pertanian subur dan panen melimpah, peran Hāritī pun dibutuhkan. “Tidak hanya untuk kesuburan perempuan dan kesejahteraan keluarga tetapi juga kesuburan tanah pertanian dan hasil panen,” tulis dia. Jika Hāritī dipahatkan di dinding sisi utara lorong pintu masuk candi, relief Kuvera atau Atavaka yang merupakan Dewa Kemakmuran dipahatkan di dinding sisi selatan lorong pintu masuknya. Maka, lengkap sudah harapan masyarakat Cepit di masa lalu dengan keberadaan dua sosok itu di Candi Banyunibo. Lahan pertanian mereka subur. Anak-anak mereka terlindungi. Hidup mereka makmur dan sejahtera. Pemugaran yang Sulit Candi Banyunibo ditemukan pada 1932 dalam keadaan runtuh. Sebagian besar batu lepas, berserakan, dan tertimbun tanah. Banyak batu asli yang tak bisa ditemukan kembali. Ketika ditemukan, ruang candinya kosong. Tak ada arca pada relung-relungnya. Stupa-stupa pendampingnya pun tak lagi berdiri tegak. Pemugaran sulit dilakukan dan memakan waktu lama. Pemugaran dilakukan dua kali dan selesai pada 1978. Siapa yang membangun Candi Banyunibo belum jelas. Sebab, tak ada prasasti yang menyebut keberadaan candi ini. Namun, menurut Edy Sedyawati, bentuk atap candinya mirip dengan Candi Semar di Kompleks Candi Dieng, candi perwara Candi Gedongsongo III, dan Candi Plaosan Lor. Karenanya, “Diperkirakan Candi Banyunibo berasal dari abad ke-9, yaitu masa pemerintahan Dinasti Sailendra.” Candi Banyunibo telah kembali tegak. Keberadaannya melengkapi khazanah budaya Nusantara yang bisa dinikmati beragam generasi untuk bersantai sekaligus mempelajari sejarah dan kearifan masa lalu. Saat ini di sekeliling Candi Banyunibo terhampar perkebunan tebu dan persawahan yang luas. Jika ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana suasana di Candi Banyunibo, Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation tengah menggelar Candi Darling From Home. Anda bisa menyaksikan penananaman pohon di arena candi dan virtual tour Candi Darling melalui video di channel youtube Siapdarling  dan informasi mengenai kegiatan ini di website  siapdarling.id dan instagram  @siapdarling. Kalau sudah lebih rimbun, candi ini pasti akan semakin nyaman dikunjungi. Maka, Candi Banyunibo pun akan sesuai namanya. Ia seakan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

  • Enam Aktor Asia Pemilik Piala Oscar

    ACADEMY Awards atau kondang disebut Piala Oscar ke-93 pada Minggu (25/4/2021) menghadirkan sejarah tersendiri bagi para pelaku film asal Asia. Dua sutradara dan tiga aktor Asia masuk beragam nominasi. Dua di antara mereka pulang dengan menggenggam trofi penghargaan tertinggi di ajang perfilman global itu. Sineas asal China Chloé Zhao naik ke atas panggung untuk menerima trofi setelah filmnya, Nomadland (2020), jadi film terbaik. Ia mencatatkan diri sebagai sutradara perempuan Asia pertama yang memenangi Piala Oscar. Selain Zhao, Youn Yuh-jung menerima Piala Oscar setelah aktris berusia 73 tahun itu menang di kategori aktris pendukung terbaik di film Minari  (2020). Sementara, Christina Oh (sutradara terbaik/ Minari ), Riz Ahmed (aktor terbaik/ The Sound of Metal ), dan Steven Yeun (aktor terbaik/ Minari ) harus puas sekadar masuk nominasi. Zhào Tíng alias Chloé Zhao yang memenangi film terbaik dan sutradara terbaik untuk film Nomadland  ( oscars.org ) Dari 92 gelaran Piala Oscar, sangat jarang aktor Asia mendapat apresiasi layak. Hingga kini tak lebih dari 20 aktor berdarah Asia yang pernah masuk nominasi. Hanya enam di antaranya membawa pulang trofi, termasuk Youn yang terbaru. Hal itu dianggap takkan mengubah pandangan Hollywood terhadap aktor-aktor Asia. “Hollywood bisa mengklaim bahwa mereka mempromosikan keragaman dengan award itu. Itu bagian dari resume mereka namun itu bukan berarti menjadi indikasi sesungguhnya dari sebuah perubahan besar. Kita bisa bicara tentang sejarah semau kita tetapi bagi saya ‘sejarah’ hanya sekadar jadi trivia, kecuali sejarah itu sendiri bisa mengubah banyak hal secara kultural,” ungkap Brian Hu, kritikus film dan televisi dari San Diego State University, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Isu diskriminasi dan seksis acap jadi penghambat para aktor dan aktris Asia bisa diapresiasi secara layak dalam Piala Oscar sejak pertamakali dihelat pada 1929. Berikut lima di antara pemenangnya selain Youn: Yul Brynner Yuliy Borisovich Bryner alias Yul Brynner yang menang Piala Oscar untuk film The King and I (Vandamm Studios/oscars.org) Lahir di Vladivostok, Uni Soviet (kini Rusia) pada 11 Juli 1920, aktor bernama asli Yuliy Borisovich Bryner punya perpaduan darah Rusia, Jerman, Swiss, dan Mongolia. Aktor beretnis Buryat ini sempat hidup berpindah-pindah dari China hingga Prancis sebelum akhirnya hijrah ke Amerika Serikat setahun pasca-pecahnya Perang Dunia II. Di Amerika itulah Brynner mulai belajar akting. Debutnya dilakoni di Broadway pada 1941. Butuh delapan tahun baginya untuk bisa tampil perdana di film, Port of New York (1949). Namanya kian melejit setelah mendapatkan peran utama sebagai Raja Mongkut asal Siam (kini Thailand) di film musikal The King and I (1956). Film tersebut mengantarkan Brynner sebagai aktor keturunan Asia pertama yang menang Piala Oscar di kategori aktor terbaik pada 1957. Tetapi hampir sepanjang kariernya Brynner selalu diusik pertanyaan soal asal-usulnya, antara lain tentang benarkah ia keturunan dari salah satu panglima Genghis Khan atau keturunan Gipsi Rumania? Spekulasi berseliweran di sekitarnya. Salah satunya menyebutkan, ayahnya orang Mongolia bernama Taidjie Khan yang lahir di Swiss dan meminjam nama “Bryner” agar dapat pekerjaan. Simpang siur asal-usul itu betebaran lantaran Brynner tak pernah tahu detail garis keluarga dari ayahnya. Kebenaran asal-usul Brynner justru baru disingkap Yul “Rock” Brynner, putra sulungnya dari istri pertama, Virginia Gilmore. Michaelangelo Capua dalam Yul Brynner: A Biography mengungkapkan, Rock mendapati kebenaran bahwa ayahnya merupakan keturunan seorang dokter asal Swiss, Johannes Bruner, dan istrinya, Marie Huber von Windisch. Putra bungsu mereka, Julius Bruner, jadi petualang ke Afrika Utara hingga Jepang. Saat bekerja jadi juru tulis di perusahaan impor di Yokohama, ia mengganti namanya jadi Yulius Bryner. “Yulius kemudian pindah ke Vladivostok dan menikahi Natalya Kurtukova, seorang perempuan berwatak keras dan berkarakter dingin putri dari seorang pangeran Mongolia yang garisnya bisa ditarik sampai ke Genghis Khan. Salah satu dari putra mereka adalah Boris, yang kemudian menikah dengan Marousia Blagovidova. Anak pertama mereka yang lahir 11 Juli 1920 dinamai Youl Borisovitch Bryner alias Yul Brynner,” tandas Capua. Umeki Miyoshi Umeki Miyoshi, aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar ( oscars.org/Metro-Goldwyn-Mayer Inc) Nancy Umeki. Begitu nama panggungnya saat merintis karier sebagai biduan klub malam di Hokkaido pasca-Perang Dunia II. Aktris kelahiran Otaru pada 8 Mei 1929 ini kemudian menseriusi musik pop dan seni peran di teater kabuki. Akhirnya Umeki mendapatkan peran pendukung perempuan di film drama Sayonara (1957) dengan memerankan karakter bernama Katsumi. Sayonara diangkat dari novel bertajuk sama karya James Michener (1954) yang mengisahkan cinta terlarang antara personil militer Amerika dan perempuan Jepang di masa Perang Korea. Film tersebut memetik tiga Piala Oscar, termasuk kategori aktor terbaik atas nama Red Buttons dan aktris terbaik yang dimenangi Umeki. Umeki jadi aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar 1958. “Filmnya menyandingkan suasana kemiliteran dengan eksotisme Jepang: antara pangkalan yang kaku dengan teater kabuki dan rumah-rumah beralaskan tatami ; antara seragam militer dengan kimono; prajurit Amerika bersuara berat dengan perempuan Jepang. Hubungan yang digambarkan antara prajurit dan perempuan Jepang menempatkan hubungan interasial ke era baru yang tidak menyenangkan,” tulis Sarah Kovner dalam Occupying Power: Sex Workers and Servicemen in Japan. Sayonara juga mengumbar “eksotisme” Jepang dalam bentuk kevulgaran perempuan Jepang. Hal ini menjadi sorotan sosiolog Nancy Wang Yuen, bahwa stereotip dan imej eksotis dari peran seperti yang dimainkan Umeki itu terus terbawa di industri film Hollywood hingga kini. “Melihat (karakter) Katsumi memandikan orang kulit putih, kurang lebih seperti itulah cara perempuan Asia yang diumbar seksualitasnya dan dianggap eksotis dalam imajinasi Hollywood. Seksualitas itulah satu-satunya cara aktris Asia bisa memenangkan Piala Oscar dan dia (Umeki) benar-benar mencontohkan masalah-masalah representasi perempuan Asia,” tandas Yuen, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Ben Kingsley Piala Oscar yang diraih Ben Kingsley atas perannya di biopik Gandhi (Columbia Pictures/oscars.org) Bernama lahir Krishna Pandit Bhanji, dia dilahirkan pada 31 Desember 1943. Namun demi memperlancar kariernya di dunia akting, pada medio 1960-an Krishna memilih ganti nama berbau Inggris menjadi Ben Kingsley. Seni peran sudah mendarah daging dalam dirinya, terutama diturunkan dari ibunya, Anna Lyna Mary Goodman. Anna merupakan aktris dan model sebelum dipersunting peneliti asal Gujarat, Dr. Rahimtulla Harji Bhanji. Terjun ke dunia film sejak 1972, Kingsley membintangi 97 film, termasuk yang terakhir Locked Down (2021). Namanya melejit setelah memenangi Piala Oscar 1983 sebagai aktor terbaik dengan memerankan tokoh legendaris Mahatma Gandhi dalam biopik Gandhi (1982). Saat ikut casting , Kingsley sudah punya banyak keunggulan. Selain penampilan fisik dan warna kulitnya mirip dengan Gandhi, Kingsley sudah malang-melintang 15 tahun di seni teater di Royal Shakespeare Company. Saat diumumkan, Kingsley mendapat dukungan dari Indira Gandhi. “Tetapi pekerjaan saya terusik banyak orang. Bahkan satu adegan sederhana saja bisa jadi perhatian. Dua puluh kali dalam sehari orang-orang akan mendesak saya dengan gagasan-gagasan mereka. Dan ketika adegan pemakaman Gandhi dengan 300 ribu (pemeran) ekstra, sayalah sosok yang dilihat semua orang. Saya belajar mendengarkan suara hati saya dengan sabar yang mengatakan untuk jadi diri sendiri,” ujar Kingsley kepada New York Magazine , 20 September 1982. Haing Somnang Ngor Satu-satunya aktor Asia Tenggara yang memenangkan Piala Oscar ( unl.edu/oscars.org ) Sebelum munculnya biopik The Killing Fields (1984), tak satu pun di kalangan perfilman mengenal Haing S. Ngor. Namanya dalam sekejap melejit setelah memerankan tokoh wartawan Kamboja, Dith Pran, dengan latar belakang perang saudara Kamboja dan teror Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Lahir di Samrong Yong pada 22 Maret 1940, Haing berprofesi sebagai dokter kandungan di Pnom Penh hingga Khmer Merah merebut kekuasaan di ibukota Kamboja itu. Pendudukan itu membuat Haing terpaksa menyamar sebagai orang biasa di kamp tawanan lantaran rezim Khmer Merah menargetkan membantai para intelektual dalam rangka eksperimen sosial “Year Zero”. Saking harus mempertahankan “aktingnya” sebagai orang awam, Haing sampai harus mengikhlaskan istri dan anak dalam kandungannya meninggal di kamp. Ia tak bisa membongkar penyamarannya demi melakoni operasi Caesar . Pasca-kejatuhan Khmer Merah, Haing pindah ke Amerika untuk meneruskan kariernya sebagai dokter. Yang tak disangkanya kemudian adalah sutradara Roland Joffé mendekatinya ketika akan menggarap The Killing Fields. “Setelah sebulan casting , dia (Joffé) punya sekumpulan aktor yang menarik. Ada John Malkovich, Sam Waterston, dan Haing S. Ngor awalnya tidak diperhitungkan tapi pertemuan mereka sangat intens. Faktanya memang Haing belum pernah berakting sebelumnya tapi John melihat hal berbeda: dia bilang Haing justru sudah berakting sepanjang hidupnya –Anda harus jadi aktor yang hebat untuk bisa selamat dari Khmer Merah,” kenang aktor Julian Sands kepada The Guardian , 10 November 2014. Meski sempat menolak untuk masuk ke proyek film dan memerankan Dith Pran, Haing kemudian berubah pikiran setelah dibujuk tim produksi. Keputusannya ternyata tak keliru. Pada ajang Academy Awards 1985, Haing memenangkan Piala Oscar untuk kategori aktor pendukung terbaik dan jadi aktor Asia pertama yang memenangkannya di debut film. “Lagipula saya menghabiskan empat tahun di sekolah akting Khmer Merah. Saya ingin memperlihatkan pada dunia betapa dalamnya bencana kelaparan di Kamboja dan berapa banyak orang yang mati di bawah rezim komunis,” ujar Haing, dikutip The Vietnam Experience: A Concise Encyclopedia of American Literature, Songs, and Films. F. Murray Abraham Film Amadeus  meroketkan nama Murray Abraham (Los Angeles Public Library/Orion Pictures Corporation) Sosok kelahiran Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 24 Oktober 1939 ini tak punya darah seni dari ibunya, Josephine Stello, maupun ayahnya, Fahrid Abraham. Namun begitu aktor blasteran Suriah-Italia ini ikut teater sekolah, minatnya pada seni peran tumbuh dengan sendirinya. Hingga kini ia sudah membintangi 73 film. Lewat film Amadeus (1984), ia memenangkan Piala Oscar kategori aktor terbaik di ajang Academy Awards 1985. Di film itu Abraham memerankan komposer Italia Antonio Salieri, yang dari kawan menjadi lawan komposer Wolfgang Amadeus Mozart. Amadeus yand diproduksi dengan biaya hanya 19 juta dolar laris di pasaran dengan meraup laba 90 juta dolar. Capaian tersebut kian sempurna karena Abraham memenangkan Oscar dengan mengalahkan Jeff Bridges ( Starman ), Albert Finney ( Under the Volcano ), Sam Waterston ( The Killing Fields ), dan rekan Abraham sendiri di film Amadeus , Tom Hulce. “ Amadeus jadi film ketujuh dalam sejarah yang menang delapan Oscar (dari 11 nominasi). Penampilan Abraham mengungguli rekannya sendiri, Albert Finney. Sampai lima tahun kemudian Abraham tetap tak menyangka: ‘Piala Oscar adalah event paling penting dalam karier saya. Saya diundang makan malam oleh para raja, pendapatan yang setara dengan para idola saya, memberi kuliah umum di Harvard dan Columbia, serta merasa bangga bisa ambil bagian di perkumpulan seniman internasional terhebat dunia,” kata Abraham, dikutip Anthony Holden dalam The Oscars.

  • Peran Indonesia dalam Kemerdekaan Aljazair

    PADA akhir Mei 1956, Mohammed Benyahia dan Lakhdar Brahimi pergi dari Paris ke Bandung. Kedua pemuda Aljazair itu adalah anggota dari Union Générale des Etudiants Musulmans Algériens (UGEMA), organisasi aktivis mahasiswa yang memiliki koneksi dengan organisasi revolusioner Aljazair, Front de Libération Nationale (FLN). Benyahia baru saja memulai kariernya sebagai pengacara, sementara Brahimi adalah mahasiswa ilmu politik di Paris. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari karier dan sekolah demi mencurahkan waktu dan tenaga untuk perjuangan kemerdekaan Aljazair dengan pergi ke Bandung.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page