top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Akhir Tragis Mantan Analis OSS

    SETELAH lulus Yale College tahun 1928, Raymond Kennedy memulai kariernya sebagai pengajar di Brent School di Filipina. Namun hanya setahun. Dia kemudian bekerja sebagai perwakilan lapangan General Motors Corporation di Hindia Belanda. Selama tiga tahun, dia menjual mobil Amerika di Jawa dan Sumatra. Dia pun terpesona pada Indonesia.

  • Darah dan Air Mata Long March Siliwangi

    MINGGU pagi, 19 Desember 1948. Langit Yogyakarta dipenuhi pesawat-pesawat tempur Angkatan Perang Kerajaan Belanda. Mereka menembaki Lapangan Udara Maguwo dan menerjunkan pasukan elitenya,  Korps Speciale Troepen  (KST). Setelah berhasil mendaratkan pasukannya di Lapangan Terbang Maguwo, secara kilat mereka langsung melakukan serangan ke jantung Yogyakarta. “Tujuh jam kemudian, lewat aksi militer yang mereka namakan sebagai Operatie Kraai  (Operasi Gagak), tentara Belanda berhasil menguasai Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu…” tulis Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948. Operatie Kraai  dengan sendirinya menghancurkan Perjanjian Renville yang ditetapkan oleh Belanda-Indonesia, setahun sebelumnya. Situasi itu juga memaksa para pejuang Siliwangi harus menghadapi jalan ujung yang pernah disiapkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Perintah Siasat No.1 pada Mei 1948: harus kembali bergerak ke Jawa Barat dan membangun kembali perlawanan total di sana.  Perjalanan panjang ( long march ) para maung kembali ke kampung halamannya harus ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan air mata pun harus mereka keluarkan. Sepanjang jarak 600 km, para peserta long march  harus berkawan akrab dengan kelaparan, penyakit hingga serangan militer Belanda dan teror pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Letnan Dua (Purn) JC. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke Siliwangi, melukiskan proses long march  itu sebagai perjalanan panjang yang menyiksa hati nuraninya sebagai manusia. Di tengah perjalanan tak jarang, ia harus menyaksikan anak-anak dan perempuan tewas terbunuh  oleh bom pesawat-pesawat yang dikendalikan teman sabangsanya. “Ratusan Multatuli tak akan dapat menggambarkan penderitaan ribuan Saija dan Adinda dalam perjalanan ini…” kenang anggota Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi itu. Pengalaman yang hampir sama juga dialami oleh Prajurit Alleh (92). Masih segar dalam ingatannya, menjelang keberangkatan mereka kembali ke Jawa Barat, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) membagikan sarung baru kepada seluruh pasukan. Sarung itu ternyata sangat berguna bagi mereka, bukan saja sebagai selimut penghangat tidur namun juga bisa digunakan untuk hal-hal yang bersifat darurat. Misalnya saat mereka harus menyeberang Sungai Serayu. Dengan sambungan sarung yang beruntai mereka bisa menyeberangi sungai yang berarus deras tersebut. Namun, proses penyeberangan itu tetap meminta korban, terutama anak-anak dan perempuan yang hanyut oleh hantaman arus sungai yang deras. Dengan hati hancur, mereka harus menyaksikan beberapa bocah dan perempuan yang ikut dalam rombongan hanyut ditelan derasnya air sungai. “Ayah dan suami-suami mereka hanya bisa berteriak dan menangis putus asa…” kenang Alleh. Tidak cukup itu, Alleh pun menjadi saksi bagaimana para ibu yang baru melahirkan “anak-anak maung” di tengah perjalanan harus rela memberikan bayi-bayi itu kepada penduduk desa yang dilewati. “Ya, daripada bayi-bayi itu menderita dan menjadi ‘beban’ selama perjalanan, lebih baik diselamatkan oleh para penduduk…” kata mantan prajurit Siliwangi dari Batalyon ke-29 pimpinan Kapten Hoesinsjah tersebut. Lain lagi dengan pengalaman Kopral Soehanda dari Batalyon ke-27. Bersama lima kawannya, ia terpisah dari rombongan batalyon sejak awal rombongan bergerak dari Salatiga. Tak ada sebutir pun nasi yang masuk dalam perut mereka selama perjalanan ke kawasan Jawa Barat. Paling bagus, kata Soehanda, mereka menemukan daun singkong atau jamur kayu untuk dimakan. “Baru setelah 40 hari lebih berjalan, akhirnya kami dapat menemukan nasi di daerah Ciamis,” kenangnya. Peristiwa unik dan misterius sempat dialami oleh Asikin Rachman (95), eks anggota Batalyon ke-29. Suatu hari, seksi yang dipimpinnya sampai di wilayah sekitar Banyumas dan harus menyeberangi sebuah sungai bernama Kali Putih. Persoalan muncul kala mereka menyaksikan  sungai itu dipenuhi ratusan buaya. Saat mereka tengah dilanda kebingunan, tiba-tiba seorang tua berpakaian sederhana datang kepadanya. Dengan lembut, ia minta izin kepada Asikin untuk coba menolong mereka menyeberang Kali Putih. Asikin pun mengiyakan. Begitu mendapat izin, orang tua itu menaiki pohon kelapa yang ada di sekitar tempat tersebut. Setelah mendapat dua butir kelapa muda berwarna hijau, ia merapal mantera-mantera lalu menyiramkan air kelapa muda itu ke permukaan Kali Putih. Usai ritual itu, ia menyilahkan anak buah Asikin untuk menyeberangi sungai tersebut tanpa ragu-ragu. Dan ajaib, kendati buaya-buaya itu terkumpul di sekitar sungai, mereka seolah tertidur dan hanya diam saja saat para petarung Siliwangi itu satu-persatu menyeberangi Kali Putih dengan cara berenang. “Kami berhasil sampai di seberang sungai dengan selamat. Inilah keajaiban dalam perang. Jika tak menyaksikan sendiri kejadian itu, tentunya kami juga tak akan percaya,” kenangnya. Kurang lebih 40 hari lamanya, para maung itu menyusuri ratusan kilometer untuk kembali lagi ke sarangnya. Mereka dengan tabah menghadapi apapun yang coba merintangi jalan-jalan mereka, dengan satu tujuan: kembali ke kampung halaman. Persis, seperti isi bait-bait yang pernah mereka buat dan gubah dari lagunya Lily Marlene: “Oh beginilah nasibnya soldadu/Diosol-osol dan diadu-adu/Tapi biar tidak apa/Asal untuk negeri kita/Naik dan turun gunung/Hijrah pun tak bingung/

  • Menteri Tionghoa di Kabinet Republik Indonesia.

    Selama masa kekuasaan Presiden Sukarno (1945-1967), terbentuk cukup banyak kabinet yang tugasnya menjalankan lembaga eksekutif negara. Di antara para menteri yang pernah menduduki jabatan di kabinet-kabinet tersebut tercatat ada 4 orang menteri yang berasal dari etnis Tionghoa. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda serta mewakili partai dan organisasinya masing-masing. Berikut 4 tokoh Tionghoa yang pernah menduduki jabatan menteri di Indonesia pada periode 1945-1965. Tan Po Gwan Namanya mungkin terasa asing di telinga masyarkat Indonesia saat ini. Namun semasa tahun 1940-an sampai 1950-an, ia cukup aktif dalam berbagai organisasi sampai akhirnya dipercaya menduduki jabatan Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III periode 1946-1947. Tan Po Gwan tercatat sebagai etnis Tionghoa pertama yang masuk jajaran eksekutif di dalam pemerintahan Indonesia. Dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, pada 24 Oktober 1911, Tan Po Gwan menamatkan sekolah tingkat pertamnya di AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung. Setelah lulus ia melanjutkan pendidikannya di RHS (Rechtshoogeschool) di Batavia (Jakarta), untuk memperdalam bidang hukum. Tahun 1937 ia menamatkan sekolah RHS dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten. Karir pertama Tan Po Gwan setelah lulus adalah bekerja di Makasar sebagai pengacara. Selama kurun waktu dua tahun (1937-1938) ia bermukim salah satu kota di Sulawesi Selatan itu. Kemudian tahun berikutnya Tan Po Gwan memutuskan mengejar karirnya di Surabaya. Di sana ia juga membuka jasa konsultasi hukum, sama seperti di kota sebelumnya. Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, ketika berada di Surabaya inilah Tan Po Gwan berkenalan dengan dunia di luar keahliannya, yaitu jurnalistik. Ia bergabung dengan surat kabar Tionghoa Sin Po  sejak tahun 1939. Rupanya Tan Po Gwan memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap bidang kepenulisan. Ia diketahui cukup aktif menulis di surat kabar milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie ini. Pada 1942, saat proses perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, Tan Po Gwan masih aktif menulis di Sin Po . Namun di tahun ini juga ia menjadi salah satu orang yang diinternir oleh pemerintah Jepang akibat berbagai aktivitasnya dianggap membahayakan kekuasaan mereka. Hampir sepanjang pemerintahan Jepang berjuasa di Indonesia (1942-1945), aktifitas Tan Po Gwan dibatasi dan diawasi dengan sangat ketat. Barulah ketika kemerdekaan Indonesia berhasil dikumdangkan, ia mendapatkan kembali kebebasannya. Tercatat dalam Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan sampai Reformasi karya PNH Simanjuntak,   Tan Po Gwan mulai aktif berkecimpung di dunia politik, terutama ketika ia diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Tionghoa dalam Kabinet Sjahrir III, yang dibentuk Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada 2 Oktober 1946 sampai 27 Juli 1947. Setelah meletakan jabatan menterinya, Tan Po Gwan bergabung dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sebagai anggota pada 1947. Bila Hamid Algadri datang mewakili komunitas orang-orang Arab, Tan Po Kwan dipercaya mewakili komunitas Tionghoa. Ketika itu Tan Po Kwan dan anggota KNIP lainnya ditugasi membantu di segala urusan presiden hingga dibubarkan pada 1950. Tan Po Gwan aktif juga di kepartaian. Ia diketahui menjadi anggota dari PDTI (Partai Demokrat Tionghoa Indonesia). Kemudian pada 1953 ia bergabung dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang diketuai oleh Sutan Sjahrir. Selain itu Tan Po Gwan pernah ikut berkecimpung di Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Organisasi Tionghoa yang didirikan pada 1954 itu bahkan mencalonkan Tan Po Gwan dalam pemilihan umum 1955. Namun akhirnya batal karena ia memutuskan mengundurkan diri. Pada tahun-tahun berikutnya kehidupan Tan Po Gwan mulai terasa berat. Ia termasuk dalam kelompok orang yang merasa terasingkan selama masa pemerintaha Sukarno. Sehingga pada 1959 ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Baru setelah pergantian kekuasaan, Tan Po Gwan kembali ke tanah air. Namun tidak lama, ia memilih menetap di Sydney, Australia. Pada 1985 Tan Po Gwan meninggal dunia di Australia. Ong Eng Die Ong Eng Die (Foto: Wikimedia Commons) Dikenal sebagai ekonom ulung pada era 1950-an sampai 1960-an, Ong Eng Die berhasil menempatkan namanya dalam jajaran menteri pada beberapa kabinet. Ia dipercaya mengatur situasi ekonomi dan keuangan di Indonesia pada masa-masa awal pasca kemerdekaan. Ong Eng Die mampu membuktikan dirinya pantas disejajarkan dengan pakar eknomi lainnya, seperti Mohammad Hatta, atau Sjafruddin Prawiranegara. Ong Eng Die dilahirkan di Gorontalo, pada 20 Juni 1910, dari pasangan Teng Hoen dan Soei Djok Thie. Tidak banyak informasi mengenai masa kecil Wang Yongli (sapaan akrab Ong Eng Die). Namun diperkirakan ia menempuh pendidikan di sekolah milik pemerintah Belanda hingga tingkat menengah. Pada 1930-an, saat memasuki usia sekitar 20 tahun, Wang Yongli memutuskan untuk pergi ke Belanda, melanjutkan studinya. Thee Kian Wie dalam Pelaku Berkisah: Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an, menyebut bahwa pada 1940, Wang Yongli tercatat sebagai salah satu sarjana yang lulus dari Fakultas Ekonomi di Universiteit van Amsterdam. Pada 1943, Wang Yongli berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dan mendapat gelar Ph.D untuk disertasinya: Chineezen in Nederlands-Indie een Socigrafie van een Indonesische Bevolkings Group . Selama dua tahun, setelah memperoleh gelar doktoralnya, Wang Yongli memilih untuk berkarir di Belanda. Kemudian pada 1945, ia memutuskan pulang ke Indonesia. Di dalam negeri, Bank Pusat Indonesia di Yogyakarta menjadi pilihan Wang Yongli untuk menambah pengalamannya di bidang ekonomi. Ia berkarir di sana hingga tahun 1947. Nama Ong Eng Die sebagai lulusan Universitet van Amsterdam mulai terdengar pada 1947. Di tahun yang sama ia juga mulai mendekatkan dirinya pada dunia perpolitikan. Perjalanan pertama di dunia barunya ini terjadi ketika ia ditunjuk sebagai Menteri Muda Keuangan, mendampingi Menteri Keuangan AA Maramis pada era kabinet Amir Sjarifuddin I. Saat Amir Sjarifuddin membentuk kembali kabinetnya, Kabinet Amir Sjarfuddin II (11 November 1947 – 29 Januari 1948) Wang Yongli masih tetap dipercaya di jabatan yang sama, yakni Menteri Muda Keuangan. Pada masa-masa ini, kata Setyautama, Wang Yongli dipercaya menjadi penasehat ekonomi untuk beberapa pertemuan dengan delegasi luar negeri. “Beliau adalah salah satu penasehat ekonomi delegasi Indonesia pada saat perundingan Renville,” tulisnya. Pada 1950-an, Wang Yongli bergabung dengan PNI (Partai Nasional Indonesia). Saat Ali Sastroamidjojo membentuk kabinetnya (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955), Wang Yongli ditunjuk sebagai Menteri Keuangan. Namun meski jabatan telah dipegangnya, kebijakan ekonomi saat itu lebih didominasi oleh keputusan Sjafruddin Prawiranegara, Djuanda Kartawidjaja, dan para pakar lainnya. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan PNI dalam menghadapi Pemilihan Umum 1955. Namun selama masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan, terjadi sejumlah permasalahan yang cukup merugikan negara. Bersama dengan Iskaq Tjokrohadisurjo sebagai Menteri Perekonomian, Wang Yongli disebut hanya membuat kebijakan yang menguntungkan PNI saja. Antara lain dengan mengeluarkan surat izin devisa atau lisensi impor. Pada 1954, jumlah perusahaan impor lokal meningkat lebih dari 2.000 buah. PNI meraup banyak keuntungan dari pemberian lisensi tersebut. “Lisensi istimiwa diberikan kepada pengusaha-pengusaha yang sanggup memberikan 10% dari harga lisensi kepada kas partai PNI,” tulis Soebagijo IN dalam biografi Jusuf Wibisono Karang di Tengah Gelombang . Setelah meletakkan jabatannya, Wang Yongli masih banyak mengurusi masalah perekonomian sebagai seorang penasehat. Ia memiliki beberapa kantor akuntan, sambil menjalankan berbagai kegiatan kepartaiannya di PNI. Tahun-tahun berikutnya masih dihabiskan Wang Yongli sebagai salah satu pakar eknomi Indonesia. Meski mulai banyak masyarakat yang mencibir karena kasus-kasus selama ia menduduki jabatan menteri. Pada 1964, ia memilih kembali ke Amsterdam. Di sana, bersama keluarganya, Wang Yongli menjalankan sebuah bisnis. Setelah tinggal cukup lama di luar negeri, kabar kematiannya tidak dapat dipastikan dengan jelas. Tidak ada cukup data yang menjelaskan hal tersebut. Siauw Giok Tjhan Siauw Giok Tjhan (Foto: Wikimedia Commons) Siaw Giok Tjhan dikenal luas sebagai seorang politikus yang aktif pada era pemerintahan Sukarno. Ia terlibat dalam berbagai peristiwa dan berkontribusi cukup besar bagi orang-orang Tionghoa dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Siaw Giok Tjhan dilahirkan di Kapasan, Surabaya, Jawa Timur, pada 23 Maret 1914, dari pasangan Siaw Gwan Swie dan Kwan Tjian Nio. Ia menerima pendidikan dasar di THHK (Tionghoa Hoa Hwee Koan) dan ELS (Europeesch Lagere School). Kemudian melanjutkan sekolah menengah pada 1927 di HBS (Hogere Burger School), Surabaya. Tercatat dalam biografinya, Siauw Giok Tjhan: Riwayat Perjuangan Seorang Patriot , ia telah terlibat aktif di banyak organisasi sejak usianya masih terbilang muda, yakni 18 tahun. Pada usia tersebut Siaw Giok Tjhan masuk Partai Tionghoa Indonesia, di bawah pimpinan Liem Koen Hian. Pada 1933, ia memulai perkenalan pertamanya dengan jurnalistik sebagai pekerja di harian Sin Tit Po  di Surabaya. Pada 1934 Siauw Giok Tjhan mulai aktif menulis di harian Matahari . Di bawah naungan Kwee Hing Tjat di Semarang, ia makin mahir dalam dunia tulis-menulis ini. Kemudian ketika Kwee Hing Tjat meninggal, Siauw Giok Tjah dipercaya meneruskan kepemimpinan harian Matahari . Namun ketika Jepang mulai berkuasa pada 1942, harian yang memulai debutnya dari Sin Jit Po  ini terpaksa harus tutup. Selama masa pendudukan Jepang, Siauw Giok Tjhan banyak menghabiskan waktunya di Malang. Ia aktif di AMT (Angkatan Muda Tionghoa) dan Palang Biru yang difasilitasi oleh Jepang. Pada 1945, ia mulai bergabung dalam partai yang lebih besar, yaitu PSI. Siauw Giok Tjhan menjadi salah satu anggota partai yang sangat aktif berkontribusi sehingga pada 1946 ia ditunjuk menjadi anggpta KNIP. Pada 1947, Sjahrir mengajak Siauw Giok Tjhan ke Inter Asian Conference di New Delhi, India. Di tahun yang sama juga, ia diangkat menjadi Menteri Urusan Minoritas (Tionghoa) dalam Kabinet Amir Sjarifuddin. Melalui jabatannya ini Siauw Giok Tjhan semakin memantapkan dirinya dalam perpolitikan di Indonesia. Pada 1949 ia tercatat sebagai anggota DPR RIS. Keaktifannya di dunia politik diimbangi oleh kegemarannya dalam menulis. Siauw lalu mendirikan surat kabar Harian Ra’jat  pada 1953. Pada 1954, bersama 44 tokoh Tionghoa, Siauw Giok Tjhan mendirikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Ia terpilih sebagai ketua umum organisasi masyarakat keturunan Tionghoa tersebut. Di sana ia mulai aktif menyuarakan persamaan hak bagi warga negara dan anti diskriminasi. “Keputusan untuk menasakomisasi kepemimpinan Baperki mulai dari Komite Pusat hingga cabang-cabang adalah sebuah konsekuensi dari posisi Baperki yang diformulasikan dalam Kongres VI di Surabaya. Posisi tersebut adalah bahwa perjuangan untuk memecahkan masalah kewarganegaraan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk membantu perkembangan sebuah masyarakat Pancasila yang menjalankan dasar-dasar Pancasila dalam urusan kehidupan sehari-hari,” ucap Siauw Giok Thjan seperti dikutip Leo Suryadinata dalam Pemikiran Politik Etnis Tionghoa Indonesia 1900-2002 . Namun segala bentuk kegiatan Baperki dianggap berbahaya bagi sebagian pihak. Terutama ketika mereka mulai aktif membuat tulisan di koran Republik . Oleh karenanya pada November 1965, Siauw Giok Tjhan ditahan. Pada 1978, atas bantuan Adam Malik, ia dibebaskan karena alasan kesehatan. Ia lalu menghabiskan waktunya di Belanda. Siauw Giok Tjhan wafat pada 20 November 1981 akibat serangan Jantung. Lie Kiat Teng Lie Kiat Teng (Foto: Wikimedia Commons) Tidak banyak narasi sejarah bangsa ini yang menyebutkan sosok Lie Kiat Teng. Seolah tidak ada tempat yang pas untuk mengabadikan nama tokoh Muslim dari etnis Tionghoa ini. Namun sebenarnya keberadaan Lie Kiat Teng cukup berpengaruh di dalam sejumlah peristiwa, terutama dalam kurun masa 1950-an hingga 1960-an. Lie Kiat Teng dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada 17 Agustus 1912. Sejak kecil, ia telah mendapat pendidikan yang cukup baik dari keluarganya. Ia menyelesaikan sekolah tingkat dasar dan menengahnya di sekolah milik pemerintah Belanda. Lie Kiat Teng lalu mengikuti studi lanjutan di Surabaya, di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), sekolah pendidikan dokter yang dikhususkan bagi orang-orang pribumi. Lie Kiat Teng sendiri mampu menyelesaikan studinya, dan memperoleh gelar “Dokter Djawa” pada 1930-an. Setelah lulus, Lie Kiat Teng bekerja sebagai dokter pemerintah di Curup, Bengkulu. Lalu pernah diangkat menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Perkebunan di Waringin Tiga. Ia juga sempat menjadi dokter di tambang emas Rejang Lebong, Bengkulu. Sejak lulus karirnya memang lebih banyak dihabiskan di lembaga kesehatan milik pemerintah Belanda. Selama masa awal periode kemerdekaan, Lie Kiat Teng menduduki jabatan dokter keresidenan di Palembang, Sumatera Selatan. Ketika berpraktek di Sumatera inilah, Lie Kiat Teng berkenalan dengan agama Islam. Sebenarnya interaksi Lie Kiat Teng dengan Islam sudah terjadi cukup lama karena memang orang-orang di sekitarnya banyak yang beragama Islam. Namun keyakinannya untuk memeluk Islam baru benar-benar muncul pada 1946. Ia lalu mengubah namanya menjadi Mohammad Ali. Memasuki tahun 1950-an, Mohammad Ali memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter karesidenan. Pada masa ini juga ia mulai aktif berpolitik. Mohammad Ali ikut menjadi bagian dari PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), sebagai kepala bagian ekonomi. Meski telah terjun ke dunia politik, Mohammad Ali tetap berpraktek sebagai dokter. Ia memilih untuk tidak terikat dengan instansi pemerintah dan membuka praktek dokter secara swasta. Ketika Ali Sastroamidjojo membentuk kabinet (1953-1955), Mohammad Ali ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan, menggantikan FL Tobing dari SKI. Namun jabatan di lembaga eksekutif dalam pemerintahan ini tidak hanya sekali saja diemban Mohammad Ali. Pada kabinet selanjutnya, Kabinet Burhanudin Harahap (1955-1956), ia masih tetap dipercaya dalam jabatan Menteri Kesahatan. “Ia (Mohammad Ali) berjasa mendirikan rumah sakit Mohammad Husni di Palembang,” tulis Setyautama.

  • Lima Tionghoa di Taman Makam Pahlawan

    Perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban rakyat suatu negara. Tanpa membeda-bedakan ras, suku, dan agama, semua berjuang demi terwujudnya kedamaian. Hal itulah yang diyakini orang-orang Tionghoa saat ikut membantu menghilangkan penjajahan demi melahirkan kemerdekaan yang hakiki di bumi Indonesia. Berkat sumbangsihnya, negara memberikan tempat peristirahatan terbaik bagi mereka.Tercatat ada 5 orang warga keturunan Tionghoa, dari berbagai medan perjuangan, yang dipusarakan di Taman Makam Pahlawan. Lie Eng Hok Lie Eng Hok dilahirkan pada 7 Februari 1893 di Balaraja, Tanggerang, Banten. Tidak banyak informasi mengenai masa kecilnya. Namun ia diketahui pernah menjadi wartawan surat kabar Tionghoa Sin Po sekitar 1910-an. Ia cukup aktif menulis di harian milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie tersebut. Pengalamannya menjadi jurnalis itu kemudian dimanfaatkan Lie Eng Hok ketika ia aktif di masa pergerakan nasional. Pada 1926, semasa gerakan anti-Belanda tengah kuat-kuatnya di sejumlah daerah, Lie Eng Hok pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Di sana ia membuka sebuah toko buku di Pasar Johar. Rupanya pekerjaannya itu hanyalah kedok bagi pekerjaannya yang lain, yakni kurir dan informan. Ia bertugas membagikan informasi tentang gerak-gerik pasukan Belanda kepada para pejuang anti-Belanda. Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , akibat aktifitasnya itu, Lie Eng Hok ditangkap dan dimasukkan ke jajaran pemberontak yang akan dibuang ke Boven Digul oleh pemerintah Belanda. Dari sekitar 1300 tahanan yang berangkat pada 1927, 10 di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa. Selama berada di Digul, Lie Eng Hok hidup menderita. Ia masuk dalam kelompok orang yang tidak sudi bekerja di bawah pemerintah Belanda. Bersama-sama dengan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, Lie Eng Hok tidak mendapat fasilitas yang layak selama di Digul. Hatta pun pernah bercerita di dalam Mengenang Sjahrir , jika para interniran yang menolak tunduk pada pemerintah Belanda memang mendapat tekanan yang lebih berat dibandingkan mereka yang memilih bekerjasama. Pada 1932, berdasarkan Besluit Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie  No.8 tanggal 19 Januari 1932, ia dibebaskan dari Digul. Setelah itu ia memilih kembali ke Semarang, membuka kembali toko buku yang sebelumnya di tinggalkan. Pada 22 Januari 1959, Lie Eng Hok ditetapkan sebagai pejuang “Perintis Kemerdekaan” berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial. Pada 27 Desember 1961, Lie Eng Hok meninggal dunia. Ia dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Namun pada 1986 berdasarkan Surat Keputusan Pangdam IV/Diponegoro No.B/678/X/1986, kerangkanya dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal di Semarang. John Lie Dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 Maret 1911, John Lie Tjeng Tjoan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tseng Nie. Sejak kecil pria yang akrab disapa John Lie ini sudah mendapat pendidikan yang baik di sekolah berbahasa Belanda, Hollands Chinese School (HCS) dan Christelijke Lagere School. Namun menginjak usia 17 tahun, ia memutuskan pergi dari Manado menuju Batavia, demi memenuhi hasratnya menjadi pelaut. Di Batavia John Lie bekerja sebagai buruh pelabuhan, di samping kesibukannya ikut kursus navigasi. Ia berhasil menyelesaikan pelatihannya dan ditempatkan di perusahaan pelayaran Belanda Klerk Muallim II di KPM (Koninklijk Paketvaart Matschappij). Setelah beberapa kali pindah kapal, ia ditugaskan di MV Tosari pada Februari 1942. Ketika Perang Dunia II pecah, MV Tosari dijadikan kapal logistik pendukung armada sekutu. John Lie dan awak kapal lainnya mendapat pelatihan khusus setelahnya. Menurut M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie, Setelah Indonesia merdeka, John Lie kembali bekerja di Pelabuhan Tanjungpriok. Namun ketika suasana semakin genting ia memilih bergabung dengan angkatan laut. Atas permintaannya, ia ditempatkan di Pelabuhan Cilacap. Di sanalah awal mula misi-misi John Lie menembus blokade Belanda dan penyelundupan yang membuat namanya melegenda. Wartawan majalah Life , Roy Rowan, mengabadikan kisah heroik John Lie dalam “Guns-And Bibbles-Are Smuggled to Indonesia” yang dimuat Life  pada 26 Oktober 1949. Pers asing pun menjuluki pria Manado ini dengan sebutan “The Great Smuggler with the Bibble”. John Lie memutuskan pensiun pada 1967 setelah menyelesaikan sejumlah tugas, seperti memimpin KRI Rajawali dan KRI Gadjah Mada, serta ikut aktif dalam penumpasan gerakan DI/TII, RMS, dan Permesta. Pada 27 Agustus 1988, John Lie wafat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (1993-1998) “mengakui” John Lie sebagai Pahlawan Nasional. Namun penganugerahan gelar Pahlawan Nasional baru terealisasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2009. John Lie dipusarakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sho Bun Seng Mungkin tidak banyak orang yang tahu jika Sho Bun Seng adalah salah seorang pegiat seni yang ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Dilahirkan pada 12 November 1911, di Kota Raja, Aceh, Sho Bun Seng aktif dalam grup sandiwara Dardanela sekitar tahun 1920-an. Kelompok sandiwara ini lahir di tengah kepopuleran Opera Miss Riboet, dengan bintangnya Miss Riboet. Sho Bun Seng sendiri diketahui aktif di angkatan Tan Tjeng Bok dan Fifi Young. Sho Bun Seng lalu memutuskan pergi ke Padang, Sumatera Barat, dan menikahi Hu Chung Ying. Dari sana ia pindah ke Kalimantan Barat untuk bekerja menjadi guru. Namun tidak lama ia kembali ke Padang. Sekitar tahun 1944, ia bersama sejumlah kalangan etnis Tionghoa lainnya ikut melakukan pergerakan melawan kekuasaan Jepang. Setelah kemerdekaan, Sho Bun Seng bergabung dengan Batalion Pagar Ruyung. Ia ditugaskan selama beberapa tahun di Kalimantan, khususnya Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya. Pada 1950-an, ia mendapat tugas ke Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat. Di sana ia membantu operasi militer menumpas pemberontakan DI/TII. Pada 1958, Sho Bun Seng memutuskan pensiun dari urusan kemiliteran. Pada tahun-tahun berikutnya Sho Bun Seng lebih aktif di industri hiburan yang pernah digelutinya dahulu. Atas jasa-jasanya, baik selama masa pendudukan Jepang maupun ketika aktif di kemiliteran, Sho Bun Seng mendapat Bintang Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Pertama dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Ia juga mendapat surat tanda jasa pahlawan dari Presiden Sukarno. Serta Satya Lencana Gerakan Militer Kelima. Pada September 2000, Sho Bun Seng meninggal dunia. Jasadnya lalu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ferry Sie King Lien Ferry Sie King Lien lahir pada 1933 dari keluarga pemilik pabrik gelas tersohor di Kartodipuran, Surakarta, Jawa Tengah. Ia merupakan satu dari sedikit Tentara Pelajar dari kalangan Tionghoa yang ikut mengangkat senjata pada pertempuran di Solo tahun 1949. Bersama empat orang rekannya, Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi, Ferry Sie King Lien mendapat tugas khusus dari kesatuannya, yakni memberikan dorongan moril kepada rakyat untuk sama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan. Diceritakan Iwan Sentosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara sampai Indonesia , cara Ferry Sie King Lien dalam menjalankan misinya adalah dengan mencoret-coret tembok dan menyebarkan selebaran berisi ajakan melawan tantara Belanda kepada seluruh rakyat Solo, serta menembaki markas-markas pasukan Belanda. Setiap malam ia dan kawan-kawan dari gerilyawan malam Sektor A Rayon V, Subwehrkreis 106 Arjuna keluar melancarkan aksi berbahayanya itu. Para gerilyawan malam ini akan mengincar tempat-tempat yang strategis di seluruh penjuru kota. Mereka secara khusus menggunakan bahasa Inggris dan Belanda dalam setiap coretannya untuk menunjukkan bahwa perjuangan tersebut dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Dalam buku Peranakan Idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya , ada sebuah coretan di tembok yang cukup berpengaruh dalam proses menaikkan moril rakyat pada masa-masa perjuangan ini. “Eens komt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen ” yang artinya "pada suatu hari Republik Indonesia akan timbul kembali". Pada malam 14 Juli 1949, saat hendak melakukan misinya, Ferry Sie King Lien datang menemui Camat Pemerintah Gerilya Kaonderan Serengan RM Sumardi. Ia bermaksud mengajak si camat untuk memimpin pasukan gerilya malam itu. Namun Sumardi menolak karena menurutnya malam itu adalah “hari musibah” dalam perhitungan primbon Jawa. Meski mendengar hal itu, Ferry Sie King Lien dan sejumlah TP tetap melanjutkan misinya. Namun tanpa diduga sebelumnya, pasukan Belanda bersenjata lengkap memergoki mereka di sebelah selatan Singosaren. Ferry Sie dan kawan-kawan lainnya diberondong oleh senjata berat. Mereka berusaha mencari perlindungan. Naas, Ferry dan Soehadi tertembak. Keduanya tewas seketika. Sementara tiga orang lainnya dari pasukan gerilya Subwehrkreis berhasil meloloskan diri dan selamat. Atas jasa-jasanya, Ferry Sie King Lien dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug, Solo. Ia tercatat sebagai satu-satunya warga keturunan Tionghoa yang dipusarakan di sana. Tjia Giok Thwam Ia dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, pada 1927. Ketika usianya baru menginjak 18 tahun, Tjia Giok Thwam tergabung dalam regu pasukan penggempur Pasukan 19 CMDT (Corps Mahasiswa Djawa Timur). Ia ikut angkat senjata dalam sejumlah pertempuran di Jawa Timur mengusir penguasaan kembali Belanda atas wilayah tersebut. Pada 10 April 1950, Tjia Giok Thwan menyelesaikan pengabdiannya sebagai pasukan gerilya CMDT. Atas persetujuan komandannya, Kastam Prayitno, Tjia Giok Thwan resmi mundur dengan pangkat terakhirnya Letda (Letnan Dua). Ia lalu melanjutkan studi kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya. Pada 5 Oktober 1958, berdasarkan SK Menteri Pertahanan RI, Tjia Giok Thwan menerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Kemudian pada 10 November 1958, ia menerima Tanda Jasa Pahlawan sebagai anggota Veteran RI. Tjia Giok Thwan juga menerima Satya Lencana Gerakan Operasi Militer Kesatu pada 29 Januari 1959. Tjia Giok Thwan meninggal dunia pada 1 Maret 1982 (55 tahun) di Malang akibat sakit jantung yang dideritanya. Hingga akhir hayatnya, Tjia Giok Thwan menjabat Kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Sumber Porong sejak 1967. Ia dimakamkan di TMP Suropati, Malang. Jenazahnya ditempatkan di dalam peti berhiaskan bendera merah putih. Pelepasannya pun dilakukan menggunakan upacara kemiliteran.

  • Tamparan Jenderal Mitro

    Pasca G30S 1965, terjadi serangkaian pergantian pejabat teras dalam Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Brigadir Jenderal Soemitro menggantikan Mayor Jenderal Djamin Gintings untuk posisi Asisten II/Operasi Menpangad. Soemitro yang semula menjabat Panglima Kodam Mulawarman di Kalimantan Timur lantas ditarik ke Jakarta. Promosi ini pun membuat perwira berbadan tambun itu naik pangkat menjadi mayor jenderal. “Keadaan di Indonesia sedang goncang, khususnya AD sedang mendapat ujian berat,” kenang Soemitro dalam memoar Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib yang disusun Ramadhan K.H. Menurut Herman Sarens Sudiro, keadaan keamanan saat itu memang mencekam. Herman adalah anak buah Soemitro yang menjadi perwira pembantu bidang operasi dan kepala biro hubungan antar angkatan SUAD. Dalam operasi penumpasan G30S, Letnan Kolonel Herman Sarens ditunjuk sebagai komandan satuan tempur. Bersama pasukannya, Herman kerap kali melakukan patroli keliling Jakarta maupun konsinyasi markas dengan berkonvoi panser.   Sekali waktu Herman memimpin konsinyasi. Setelah berkeliling Jakarta, jip yang ditumpangi Herman bersama lima panser pengiringnya pulang lewat Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Di sekitar Jalan Sudirman kendaraan Herman menyalip sedan Station  milik Soemitro. Herman sempat memberi hormat kepada Soemitro lalu konvoinya pun berlalu. Namun setiba di kediamannya di Jalan Daksa, Herman dikejutkan dengan ribut-ribut yang terjadi di antara awak pansernya. Herman segera keluar menanyakan kepada seorang anggota jaga. “Panser yang terakhir menabrak mobil, Pak,” jawab salah seorang prajuritnya. “Mobil yang mana,” tanya Herman penasaran. “Mobil Station hijau, Pak,” jawab sopir panser sambil merinci terjadinya tabrakan, “mobil tersebut terbalik, Pak.” “Hei lu gila! Itu mobil Jenderal Soemitro! Semua kumpul!” Herman memerintahkan mereka menghadap Mitro sebagaimana dituturkannya dalam memoarnya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir  yang disusun Restu Gunawan. Kepada sopir yang menabrak, Herman menginstruksikan agar tidak menjawab Mitro dengan berhadapan mulut. Herman tahu mereka barusan minum bir dan itu tidak dibenarkan. Tapi di kalangan awak pansernya minum bir biasa dilakukan untuk menghangatkan badan usai patroli malam.   Setiba di lokasi kejadian penabrakan, ternyata mobil Soemitro telah dibawa. Rombongan Herman pun bergegas ke rumah Soemitro di Jalan Iskandarsyah. Di sana, Nyonya Mitro memberitahu bahwa suaminya pergi ke Jalan Daksa menuju kediaman Herman. Beruntung tidak ada terjadi sesuatu yang parah menimpa Soemitro. Herman tiba di Jalan Daksa pukul 04.00 pagi. Pos penjagaan kosong karena menghindari kemarahan Soemitro. Tampak Soemitro mengenakan pakaian preman duduk sendirian di atas meja tulis pos penjagaan. Herman segera menghadap dan melapor. Dia pun mempertemukan Mitro dengan awak panser yang menabrak mobilnya.    "Siap! Saya Sersan Komandan Kendaraan!” jawab Komandan Kendaraan setelah dipanggil. “Kamu merasa menabrak mobil?” tanya Mitro. “Siap! Saya perintahkan berhenti, tetapi mobil jalan terus!” “Bagus….bagus…! Mana sopirnya?” ujar Mitro. Sopir pun dipanggil. “Siap! Saya Prajurit Satu pengemudi panser!” jawab sopir. “Hei.. Kamu minum bir, hah?!” teriak Mitro sambil memerintahkan sopir membuka mulut. “Kenapa kamu tidak berhenti?” “Siap! Saya mengejar komandan! Komandan jalan duluan! Saya takut ketinggalan,” demikian jawaban polos sang sopir. Raut wajah Mitro memperlihatkan aura emosi. Tamparan pun melayang ke wajah si prajurit satu yang menjadi sopir panser. Herman segera memegang sang prajurit serta pistol yang ada di pinggangnya. Berjaga-jaga kalau sang prajurit gelap mata. “Kita masuk dulu, Pak. Sudah disediakan minum,” bujuk Herman menenangkan suasana. Mitro tidak menjawab tetapi mengikuti ajakan tersebut. Beberapa hari kemudian, Herman membawa sopir panser yang kena gampar itu untuk sowan ke kediaman Soemitro sekedar minta maaf. Menurut Herman, Mitro terlihat gembira dan seperti melupakan kejadian penabrakan tempo hari. Pada akhir pertemuan, Soemitro berpesan kepada awak panser kalau minum bir untuk menghangatkan badan jangan terlalu banyak.

  • Jejak Keberagaman Bangsa di Sam Poo Kong

    Hubungan Nusantara dengan Tiongkok telah terjalin berabad-abad lamanya. Catatan perjalanan musafir Tiongkok mengungkap adanya hubungan dagang antara kerajaan Nusantara dan Tiongkok pada abad ke-7. Letak Nusantara begitu strategis, bagian dari Jalur Sutra, tempat singgah pedagang-pedagang dari utara. Termasuk pedagang Arab dan India. Para pengunjung beristirahat di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang. (Fernando Randy/Historia). Selama berabad-abad itu, rombongan pedagang dan utusan resmi kerajaan di Tiongkok silih berganti mendatangi Nusantara. Salah satu cerita kedatangan rombongan yang cukup terkenal adalah rombongan Laksamana Sam Poo Tay Djien, atau lebih dikenal dengan sebutan Cheng Ho.  Patung Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di halaman Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Saat akan mendatangi beberapa wilayah di Jawa, Cheng Ho sempat berlabuh di Bukit Simongan, wilayah pesisir utara Jawa bagian Tengah, sekarang dikenal Semarang. Salah satu juru mudi sekaligus orang kepercayaannya, Wang Jing hong, menderita sakit keras sehingga harus diturunkan. Bersama itu pula, sejumlah awak kapal turun untuk merawat Wang Jing Hong di suatu tempat. Cheng Ho lalu melanjutkan perjalanannya.  Wisatawan mancanegara mengamati kisah berdirinya Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Gua Batu tempat berdoa sekaligus mengenang kebaikan Cheng Ho. (Fernando Randy/Historia). Sekarang tempat perawatan Wang Jing Hong bernama kawasan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah sembuh, Wang Jing Hong yang beragama muslim mulai menyebarkan agama Islam di Semarang. Kepada penduduk, dia juga menceritakan berbagai kisah kehebatan Laksamana Cheng Ho.  Relief yang menceritakan kebaikan Cheng Ho. (Fernando Randy/Historia). Suasana di dalam Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sebagai penghormatan kepada Cheng Ho, Wang Jing Hong membangun sebuah arca. "Diletakkan di Gua Batu. Arca tersebut untuk mengenang kebaikan dan kehebatan Laksamana Cheng Ho," ujar Chandra Atmaja (65), ketua Yayasan Klenteng Agung Sam Poo Kong. Gua Batu adalah sebutan lain untuk Klenteng Sam Poo Kong. Disebut begitu sebab dulunya tempat itu menyerupai gua besar. Umat yang sedang berdoa di Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sam Poo Kong bukan saja kental oleh nuansa budaya Tiongkok, tapi juga terisi penuh oleh ide penghargaan terhadap keberagaman agama pada masa lampau. Sam Poo Kong menjadi tempat ibadah bagi para penganut Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme. Umat saat beribadah di Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Salah satu patung di sudut Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sekarang Sam Poo Kong berkembang lebih dari tempat ibadah. "Sam Poo Kong kini terbuka bagi semua pemeluk agama. Dulu memang hanya tempat beribadah untuk warga keturunan Tionghoa. Kini kami membukanya baik untuk wisata maupun untuk berbagai kegiatan yang positif. Itulah salah satu cara kami untuk mempopulerkan wisata budaya Sam Poo Kong," lanjut Chandra.  Seorang pekerja sedang membersihkan klenteng Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Salah satu patung berdiri gagah di halaman Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sam Poo Kong masih berdiri kokoh di jantung kota Semarang. Ia menyisakan pelajaran tentang pentingnya penghargaan terhadap sesama kelompok masyarakat.

  • Gan Thwan Sing, Pencipta Wacinwa

    Berbeda dengan teman-temannya yang kebanyakan memilih profesi sebagai pedagang, Gan Thwan Sing, seorang Tionghoa peranakan yang tinggal di Yogyakarta justru menggeluti wayang kulit. Hingga di kemudian hari, ia menciptakan wayang kulit Cina-Jawa, Wacinwa. Gan Thwan Sing lahir di Jatinom, Klaten, pada 1885. Sejak muda, ia tinggal bersama kakeknya, Gan Ing Kwat yang masih Sinke  (Tionghoa totok). Kakeknya mengajarkan bahasa dan aksara serta cerita-cerita rakyat Tiongkok. “Gan Thwan Sing muda hafal berbagai bentuk dan wajah tokoh legenda Tiongkok yang dilihatnya secara berulang-ulang dalam buku-buku kakeknya,” sebut Dwi Woro Retno Mastuti dalam “ Wayang Kulit Cina-Jawa Yogyakarta”  yang termuat dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan . Pada awal abad ke-20, Gan Thwan Sing pindah ke Yogyakarta. Kala itu, kebanyakan temannya berprofesi sebagai pedagang. Namun, ia memilih menekuni seni pedalangan dan karawitan. Tak lama setelah tinggal di Yogyakarta, Gan Thwan Sing menjadi artis sandiwara dalam organisasi teater amatir yang dibentuk orang-orang Tionghoa peranakan. Dalam kesibukannya main sandiwara, ia tetap berlatih seni pedalangan gaya Yogyakarta. Ia juga tekun mempelajari bahasa dan aksara Jawa. Pada 1920-an, Gan Thwan Sing memunculkan gagasan untuk membuat wayang kulit model baru. Sebuah pertunjukan wayang kulit yang mengangkat cerita rakyat Tiongkok, namun tetap dengan tata cara pagelaran wayang kulit Jawa. “Gagasan yang dilahirkannya itu merupakan perpaduan serasi dari dua aspek yang mempunyai latar belakang berbeda. Aspek pertama adalah alam pakeliran Jawa. Aspek kedua adalah alam legenda Cina,” tulis Bambang Soelarto dan S. Ilmi Albiladiyah dalam Wayang Kulit Jawa-Cina di Yogyakarta. Konsep wayang kulit yang dikenal sebagai wayang kulit Cina-Jawa atau Wacinwa itu dimatangkan dengan penulisan beberapa buku lakon. Buku lakon dibuat mengikuti buku lakon wayang kulit Jawa gaya Mataraman serta dituliskan dalam bahasa dan aksara Jawa. Namun, ceritanya digubah dari cerita rakyat Tiongkok kuno yang populer dalam masyarakat Tionghoa di Jawa. Awalnya, Gan Thwan Sing membuat dulu desain tokoh-tokoh setiap lakon. Ia lalu menghubungi Oey See Toan. Pedagang kaya yang menggemari seni pertunjukan tradisional itu bersedia membiayainya. Gan Thwang Sing pun berhasil membuat sekitar 200 buah wayang. Ada yang dibuat dari kulit kerbau, ada pula yang dibuat dari kertas. Ia juga membuat alat-alat untuk melengkapi pertunjukan wayang seperti kotak wayang, cempala (alat untuk memukul-mukul kotak wayang) , kepyak, ketir , dan blencong . Berbarengan dengan pembuatan set wayang dan peralatannya, Gan Thwan Sing juga menyelesaikan buku lakon yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Setidaknya, ia menulis sembilan judul buku lakon, yakni Siek Jin Kui Ceng Tan, Siek Jin Kui Ceng See, Thig Jing Ngo Ha Ping She ( Rahabenipun Raja Thig Jing ), Cap Pek Law Wan Ong, Hong Kio Lie Tan, Law Kim Ting, Seek Yu (Sang Prajaka), Pat Sian (Delapan Dewa), dan Sam Kok (Tiga Negeri). Setelah semua wayang, buku lakon dan peralatan siap, Gan Thwan Sing kemudian mulai latihan bersama para niyaga (penabuh karawitan) dan sinden. Ia sendiri yang menjadi dalang. Theodore G. TH. Pigeaud, peneliti sastra Jawa dari Belanda, menyebut Gan Thwan Sing memiliki sejumlah besar perbendaharaan kata-kata serta telah benar-benar mengenal idiom pedalangan. “Ia bersusah payah untuk membuat reproduksi bunyi-bunyi huruf-huruf Cina setepat mungkin dengan huruf Jawa yang tersedia padanya,” jelas Pigeaud, sebagaimana dikutip Bambang dan Ilmi. Memasuki tahun 1925, pertunjukan Wacinwa ciptaan Gan Thwan Sing kian populer. Hingga tahun 1960, Wacinwa telah tersebar ke Surakarta, Semarang hingga berbagai daerah di Jawa Timur. Perkembangan pesat Wacinwa di berbagai daerah membuat Gan Thwan Sing harus menurunkan ilmu dalangnya. Ia kemudian memiliki empat murid, yakni Raden Mas Pardon, Megarsemu, Pawiro Buwang, dan Kho Thian Sing. Namun, semua muridnya meninggal dunia mendahului Gan Thwan Sing. Ia sendiri meninggal dunia pada 1966 dalam usia 81 tahun. Sebelum meninggal, Gan Thwan Sing sempat menjual sekotak Wacinwa kepada Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Sementara buku lakon yang tersisa, menurut Gani Lukito, anak Gan Thwan Sing, turut dimasukan ke dalam peti mati dan dibakar bersama jenazahnya. Sementara itu, berdasar penelusuran Dwi yang juga cucu Gan Thwan Sing, masih tersisa dua set wayang. Satu set berada di Museum Sonobudoyo Yogyakarta dan satu set lagi milik kolektor wayang Walter Angst di Jerman. Setelah 46 tahun kematiannya, tepatnya pada 23 November 2012, Gan Thwan Sing mendapat penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  • Membaurkan Cina-Jawa dalam Wacinwa

    Pada 1920, Gan Thwan Sing, seorang seniman Tionghoa peranakan yang tinggal di Yogyakarta menghubungi Oey See Toan, seorang pedagang kaya, untuk membiayai proyek keseniannya. Oey See Toan yang tertarik dengan kesenian terutama pertunjukan tradisional bersedia menjadi sponsor. Proyek itu ialah pembuatan wayang kulit Cina-Jawa, atau merujuk pada Museum Sonobudoyo Yogyakarta, disingkat menjadi Wacinwa. Beberapa penulis menyebut Wacinwa sebagai wayang thithi . Namun, sebutan wayang thithi  yang berasal dari bunyi alat musik kepyak  juga mengacu pada penyebutan wayang Potehi. Maka perlu kajian lebih lanjut terhadap istilah wayang thithi ini. Wacinwa tentu berbeda dengan wayang Potehi yang dibawa dari Tiongkok. Wacinwa dibuat dengan memadukan kebudayaan Jawa dan Tiongkok. Lakonnya berasal dari cerita rakyat Tiongkok namun pertunjukannya memakai bentuk dan tata cara pagelaran wayang kulit Jawa. Menurut Bambang Soelarto dan S. Ilmi Albiladiyah dalam Wayang Cina-Jawa di Yogyakarta, corak Wacinwa pada bagian wajah hingga tata busana mengikuti wujud tokoh-tokoh cerita rakyat Tiongkok. Namun, beberapa hiasan, posisi tubuh dan detail lainnya ada yang menyerupai wayang kulit Jawa. Sementara itu, penyajian pertunjukan Wacinwa memakai cara wayang kulit Jawa. Pakemnya ditulis dengan bahasa dan aksara Jawa. Peralatan hingga dekorasinya sama dengan wayang kulit Jawa. Musik pengiringnya juga menggunakan gamelan slendro pelog  beserta gendhing  dan tembang-tembang Jawa. Wacinwa juga menggunakan Gunungan, Rampogan,  serta menyertakan dua abdi wanita dalam wayang kulit Jawa yakni Limbuk  dan Cangik . Sedangkan unsur Tiongkok yang berbeda dengan wayang kulit Jawa adalah hewan mitologinya seperti Liong  dan Kilin . “Dengan demikian, wayang ciptaan Gan Thwan Sing dan petunjukannya merupakan suatu wujud pembauran kultural dalam bentuk seni pewayangan yang telah memperkaya warna dan corak seni pewayangan di Nusantara,” sebut Bambang dan Ilmi. Awalnya Wacinwa tidak menggunakan adegan banyolan panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun, pada perkembangan selanjutnya, diciptakan tokoh-tokoh serupa panakawan dengan busana dan tata rambut Tiongkok klasik. “Tokoh Semar sengaja tak diciptakan karena Gan Thwan Sing memahami tokoh tersebut merupakan lambang kemulian bagi masyarakat Jawa,” tulis Dwi Woro Retno Mastuti dalam tulisannya “ Wayang Kulit Cina-Jawa Yogyakarta”  yang termuat dalam Tionghoa dalam Keindonesiaan . Keunikan lain dari Wacinwa ialah badan dan kepala wayang dibuat terpisah yang membuat setiap wayang dapat berubah nama jika kepala atau badannya diganti. “Koleksi wayang dengan kepala terpisah semacam ini hanya ada di Yogyakarta,” sebut Dwi. Pada awal perkembangannya, Wacinwa hanya tersebar di kalangan terbatas masyarakat Tionghoa peranakan. Hal ini terutama disebabkan karena lakon yang ditampilkan berasal dari cerita rakyat Tiongkok kuno yang populer bagi mereka. Namun, tak membutuhkan waktu lama, Wacinwa mulai diterima berbagai kalangan. “Para priayi dan penduduk kampung biasa, tak sedikit yang minta agar wayang Cina-Jawa itu dipergelarkan di depan rumah mereka. Baik untuk memeriahkan sesuatu pesta keluarga, maupun untuk kaulan . Bahkan pernah pula dipergelarkan untuk upacara ruwatan  yang diselenggarakan oleh suatu keluarga Jawa,” terang Bambang dan Ilmi. Masyarakat Jawa menjadi tertarik dengan Wacinwa karena perbedaan dalam variasi dan warnanya memikat perhatian. Selain itu, lakon-lakon dalam cerita rakyat Tiongkok memiliki tema-tema yang ternyata tak jauh beda dari lakon wayang kulit Jawa yang bersumber dari Mahabharata dan Ramayana. Pada 1930-an, Wacinwa mulai menyebar ke luar Yogyakarta. Wates, Purworejo, Magelang, Klaten, hingga Surakarta menjadi medan pentas baru untuk Wacinwa. Sekitar sepuluh tahun kemudian, Wacinwa mulai dimainkan di daerah utara Jawa seperti Semarang dan Kudus. Pada masa pendudukan Jepang, Wacinwa sempat dibuat menggunakan kertas karena Gan Thwan Sing tidak mampu membeli kulit. Pada dekade selanjutnya, Wacinwa mulai merambah ke daerah Jawa Timur. Namun, setelah sekitar 40 tahun mewarnai seni pertunjukan wayang di Jawa, tahun 1960 menjadi tahun terakhir keberadaan pentas panggung Wacinwa. Bambang dan Ilmi menyebut pertunjukan Wacinwa terakhir berlangsung di pelataran Klenteng Gondomanan Yogyakarta pada 1960. Gan Thwan Sing, sang pencipta Wacinwa menjadi dalangnya. Pasca pertunjukan itu, Gan Thwan Sing sakit-sakitan hingga meninggal dunia pada 1966. Tak ada lagi yang meneruskan pertunjukan Wacinwa setelah itu. Pasalnya, dalang-dalang asuhan Gan Thwan Sing telah meninggal dunia mendahului sang guru. Tidak ada pula jejak Wacinwa selama masa kekuasaan Orde Baru. Terlebih, saat itu segala bentuk ekspresi kebudayaan yang berkaitan dengan Tiongkok tengah direpresi. Kemudian pasca reformasi, pintu bagi berbagai kebudayaan Tionghoa dibuka. Wacinwa dibuat replikanya oleh Museum Wayang DKI Jakarta (2007) dan oleh Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma di Ubud (2009). Namun, Dwi menyebut, hingga kini belum ditemukan dokumentasi berupa foto maupun berita terkait pertunjukan Wacinwa di masa kejayaannya. Sementara berdasarkan penelusuran Dwi, wayang kulit Cina-Jawa buatan Gan Thwan Sing saat ini hanya ada dua set. Satu set berada di Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang mengisahkan tentang Si Jin Kwi Ceng Tang (Si Jin Kwi berekspedisi ke timur). Satu set lagi milik kolektor wayang dari Jerman, Walter Angst, yang berkisah tentang Si Jin Kwi See (Si Jin Kwi berekspedisi ke barat). Wayang kulit Cina-Jawa yang menjadi koleksi Museum Sonobudoyo berjumlah 278 namun tanpa keterangan nama tokoh. Sementara koleksi Walter Angst berjumlah 345 tokoh dan berbagai aksesoris lengkap dengan label nama-namanya.

  • Mengenal Dwidjosewojo, Bapak Asuransi Indonesia

    EMPAT perusahaan asuransi Indonesia terbelit masalah pada Januari 2020. Jiwasraya, Asabri, Taspen, dan AJB Bumiputera 1912. Tiga milik negara, satu lainnya kepemilikan bersama (mutual) di antara para pemegang polis. Masalah ketiganya berbeda. Dugaan kasus korupsi pada Jiwasraya dan Asabri, kejanggalan di Taspen, dan pembengkakan klaim dalam AJB Bumiputera 1912. Masalah-masalah termaksud mencederai kepercayaan khalayak pada asuransi. Juga melenceng dari apa yang dicita-citakan oleh Dwidjosewojo, Bapak Asuransi Indonesia. Dwidjosewojo memulai pembentukan usaha asuransi untuk orang Indonesia pada 12 Februari 1912 melalui Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB (Perserikatan Goeroe Hindia Belanda), atau disingkat OL Mij PGHB, cikal bakal AJB Bumiputera 1912. Anggotanya sebermula berasal dari guru-guru anak negeri. "Asuransi itu dibentuk agar kebutuhan ekonomi para guru anggota PGHB terbantu, terutama menyangkut dana pensiun," kata Ari Kurniasari, sarjana sejarah lulusan Universitas Indonesia yang pernah meneliti sejarah asuransi di Hindia Belanda pada kurun 1912–1933.

  • Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput

    KEUNIKAN. Itulah “kekayaan” Wiji Thukul yang menarik perhatian Yuda Kurniawan, sineas penggarap Nyanyian Akar Rumput, untuk mengenal lebih jauh. Selain rangkaian kata dalam puisi-puisinya berbeda dari pada umumnya, Yuda tertarik dengan nama Wiji Thukul. “Itu sejak saya kelas 3 SMP ya. Saya pikir itu dulu bukan puisi. Wiji Thukul nulisnya enggak seperti puisi pada umumnya. Kayak cerpen. Ia bercerita. Enggak berima, enggak indah seperti puisi-puisi Chairil Anwar atau WS Rendra. Di situ juga mulai kenal namanya itu. Namanya unik, kan. Thukul,” ujar Yuda kepada Historia , Rabu (22/1/2020). Puisi-puisi Thukul biasa terselip di buku-buku yang acap dibawa pamannya kala pulang ke Banyuwangi, Jawa Timur dari perantauannya di Yogyakarta. Di kota itu, sang paman kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Begitulah penuturan Yuda tentang awal perkenalannya dengan penyair berjuluk “sang peluru” dan karya-karyanya. Yuda baru mengetahui fakta hilangnya Thukul pasca-Tragedi Mei 1998 kala duduk di bangku SMA. “Saya SMA, 1999, baru tahu kemudian, oh ternyata pengarang puisi yang sering saya baca sejak SMP itu orangnya hilang, diculik,” lanjut sineas kelahiran 8 Oktober 1982 itu. Pencariannya soal siapa Thukul terus bergulir hingga dia kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2001. “Pas kuliah di Yogya lebih penasaran lagi untuk mencari tahu. Sempat kemudian kepikiran bikin karya. Cuma karena referensi pembuatan film masih minim, kamera juga susah, kalaupun sewa harganya mahal, ide itu mengendap saja,” ujarnya. Yuda Kurniawan, sutradara "Nyanyian Akar Rumput" pemenang Piala Citra 2018 kategori dokumenter panjang terbaik (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Lama tertimbun, hasrat Yuda muncul lagi tahun 2012. Sebuah artikel tentang band indie asal Solo, Merah Bercerita, yang –digawangi salah satunya oleh Fajar Merah, anak bungsu Thukul–  dibacanya membuat Yuda kagum. Kekagumannya kian bertambah ketika menyaksikan video unggahan kawannya, Lexy Rambadeta, di Youtube . Video itu menampilkan Merah Bercerita memainkan musikalisasi puisi “Bunga dan Tembok” karya Thukul. “Saya terkesima. Dari situ saya makin cinta sama Fajar. Main gitarnya rapi, bagus banget. Saya pikir, oke banget ini. Walau belum nemu momentumnya, tapi niatku dulu membuat dokumenter Wiji Thukul seperti menemukan jalannya. Bahwa si Fajar ini ingin melestarikan puisi bapaknya melalui lagu. Sebuah spirit yang bagus,” sambung Yuda. Yuda lantas mendekati Lexy, sineas yang sudah menghasilkan sejumlah karya dokumenter macam Mass Grave (2001) dan Student Revolt (2001), dan Batas Panggung (2004). Lexy acap menenteng kamera untuk mendokumentasikan sejumlah forum terkait kasus pelanggaran HAM 1997-1998 serta kasus penghilangan paksa yang digulirkan KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Lexy dikenal cukup dekat dengan keluarga Wiji Thukul. “Tapi memang dia belum pernah sempat mendokumentasikan secara khusus menjadi karya tentang Wiji Thukul,” kata Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul. Yuda pun mendiskusikan idenya dengan Lexy. Gayung pun bersambut. Selain punya banyak koleksi terkait keluarga Wiji Thukul, Lexy pula yang jadi perantara Yuda bisa mengontak Fajar dan ibunya, Siti Dyah Sujirah alias Sipon. Setelah mendapat lampu hijau, segera Yuda bertolak ke Solo pada Juni 2014. “Jadi saya ke sana memposisikan diri sebagai fans -lah. Ibarat kalau saya ke Potlot, ingin ketemu Kaka (Slank), kurang lebih begitu. Saya jelaskan bahwa saya ingin memfilmkan Fajar sebagai sosok anak Wiji Thukul yang punya band. Alhamdulillah mereka welcome ,” sambung Yuda. Band Merah Bercerita yang salah satunya digawangi anak bungsu Wiji Thukul, Fajar Merah (kedua dari kiri) (Foto: Dok. Yuda Kurniawan/Rekam Docs) Saat itu juga Yuda memulai proses produksi dokumenternya. Mulai dari mengambil gambar kegiatan band Merah Bercerita sampai memfilmkan keseharian serta wawancara Sipon, Fitri Nganthi Wani (putri sulung Wiji Thukul), dan Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) yang sudah tinggal di Depok. Yang belum ada hanya keterangan dari Nasri Nugroho, adik Wiji Thukul. “Kalau Mas Wahyu kan baru 2015 bisa ke sana, ketika ikut Fajar saat ke Jakarta. Kalau Mas Nasri Nugroho lagi sibuk, banyak kegiatan. Mbak Sipon sudah sempat minta Fajar nganterin saya ke Mas Nugroho. Enggak tahu kenapa, gagal terus. Dalam arti, pas mau ke sana beliaunya lagi ke luar kota. Tapi ya buat saya sudah terwakili sama Mas Wahyu-lah. Secara konektivitas Fajar kan juga sangat dekat dengan Mas Wahyu, seperti pengganti bapaknya,” ujarnya. Narasi Sejarah Nyanyian Akar Rumput berpusar pada kehidupan dan pergulatan batin Fajar Merah sebagai anak bungsu Wiji Thukul. Dua pokok alur cerita yang bertautan dengan benang sejarahnya tak lain adalah musik-musik yang dimainkan Merah Bercerita. Fajar dkk. mengreasikan sendiri musiknya dengan memanfaatkan lirik-lirik dari sejumlah puisi karya Wiji Thukul seperti “Apa Guna”, “Sajak Suara”, “Kebenaran Akan Terus Hidup”, “Bunga dan Tembok”, “Derita Sudah Naik ke Leher”, atau “Yang Aku Tahu”. Dalam wawancara di dokumenter itu, Wahyu merasa Fajar telah memberi nyawa baru dalam karya-karya kakaknya. Sementara, Sipon melihat Fajar dengan musiknya justru memberi wajah baru puisi-puisi suaminya. “Dengan musiknya, Fajar membawakan karya-karya puisi itu tidak sama dengan ayahnya. Ada nuansa romantis. Enggak versi ayahnya (membacakan puisi, red. ) yang penuh kemarahan. Fajar ingin menciptakan senyum,” kata Sipon. Narasi lainnya adalah tentang bagaimana Thukul tak hanya membela wong cilik dengan kata-kata namun juga kerap ikut turun ke jalan yang cuplikannya turut dihadirkan Yuda. Seperti saat terjadi kasus pembangunan Waduk Kedung Ombo pada 1989, misalnya, di mana ribuan keluarga harus terusir dan tak mendapat ganti rugi yang sepadan dari pemerintah. Wahyu Susilo, adik bungsu Wiji Thukul (Foto: Randy Wirayudha) Pun dengan kasus protes karyawan PT Sritex di Sukoharjo pada 1995. Imbasnya, Wiji dan keluarga mulai diteror sejumlah pihak tak dikenal. “Memang sejak lama kami mengalami represi, sedari awal 1990-an. Ketika ada kasus Kedung Ombo, rumah disatroni,” kenang Wahyu. Puncaknya adalah peristiwa Kudatuli atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996, tak lama setelah Megawati Soekarnoputri didongkel dari kursi ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Thukul dan para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) dituduh jadi dalang kerusuhannya. Akibatnya, ia turut diburu aparat sampai akhirnya hilang bak ditelan bumi usai Tragedi Mei 1998. Yuda menghadirkan narasi-narasi itu dengan kombinasi ekspositori dan observatori, di mana selain menyajikannya lewat wawancara, juga via foto maupun footage lawas dari beberapa pihak, serta footage aktivitas sehari-hari para subyek film. Footage kerusuhan Mei 1998, misalnya, didapat Yuda dari sineas senior Tino Saroengallo. “Jadi Om Tino dulu pernah bikin film Student Movement in Indonesia: They Forced Them to be Violent (2002). Film yang juga menang Piala Citra 2004 kategori dokumenter panjang. Film yang asalnya dari gambar yang banyak beliau dan temannya ambil tentang zaman 1998. Saya hubungi Om Tino, bahwa saya sedang butuh footage tentang 1998,” tutur Yuda. Tino Saroengallo (kiri) sosok yang memberi Yuda Kurniawan (kanan) beberapa footage penting untuk meramu "Nyanyian Akar Rumput" (Foto: Dok. Yuda Kurniawan/Rekam Docs) Yuda mulanya hanya minta izin untuk memakai beberapa scene dari film itu. Namun Yuda justru diberi master -nya secara cuma-cuma, yang kemudian diedit Yuda untuk dipakai beberapa bagiannya. “Kebetulan Om Tino waktu itu juga sudah sakit, bolak-balik dirawat di Singapura. Pas saya bikin screening di Cikini, beliau menyempatkan hadir. Beliau bilang, ‘Ini (hasilnya) oke. Footage -nya masangnya pas. Wes , semoga filmnya sukses ya.’ Itu terakhir ketemu beliau sebelum meninggal (pada 27 Juli 2018). Menurutku gila. Ini orang baik banget. Pas beliau meninggal saya sempatkan datang. Dengan dikasih master -nya, saya seperti dikasih warisan,” tambahnya. Sementara, footage keluarga mewakili Wiji Thukul menerima Yap Thiam Hien Award pada 2002 dan cuplikan-cuplikan Sipon di Aksi Kamisan, didapat Yuda dari Lexy. Juga secara cuma-cuma. Footage-footage itu digunakan Yuda untuk melengkapi beberapa video lain yang didapat dari keluarga Wiji Thukul. “Dia ngasih free . Katanya, pakai aja. Tentu dengan senang hati karena saya butuh banyak video itu. Dia punya koleksi banyak banget yang dia susun rapi dari tahun 2000, ketika saya main ke rumahnya. Kalau footage Fajar yang di acara Mata Najwa, aku pakai rekamanku sendiri waktu nge- shoot plasma tv di studionya. Alhamdulillah dibolehkan sama produsernya,” lanjut Yuda. Kiri ke kanan: Yuda Kurniawan, Fajar Merah, Lexy Rambadeta (Foto: Dok. Yuda Kurniawan/Rekam Docs) Setelah rampung, Yuda mendaftarkan filmnya ke Busan International Film Festival dan ternyata lolos untuk world premier dan kompetisi di kategori dokumenter panjang pada 5 Oktober 2018. Lantas Yuda mendaftarkannya ke beberapa festival lainnya dari 2018 sampai 2019. Empat dari 16 festival yang diikutinya membuahkan penghargaan. Salah satunya, Piala Citra di FFI 2018. Capaian itu mendorongnya untuk membawa Nyanyian Akar Rumput ke bioskop-bioskop komersil pada 2019. Nyanyian Akar Rumput menjadi film kedua yang menampilkan sosok Wiji Thukul dan kisah yang tercecer di baliknya, setelah Istirahatlah Kata-Kata (2017) karya Yosep Anggi Noen. “Bagi saya, Yuda ini juga figur anak muda yg sampai sekarang melakukan pencarian juga ya, siapa sih sosok Wiji Thukul. Secara fisik enggak pernah ketemu. Seperti juga Yosep Anggi Noen. Kan ketika aktivitas Wiji Thukul memuncak, mereka masih anak-anak, belum mengerti. Makanya saya appreciate sekali ya dua film ini,” tandas Wahyu.

  • Dari Gereja Kandang Ayam ke Namlea

    "Ini Santo Paulus di Atas Bukit Karang, kudirikan gerejaku," kata Romo Alexander Dirdjosusanto bangga. Sebuah gereja Katolik yang layak bagi para tahanan politik (tapol) akhirnya berhasil didirikan di Unit III kamp pembuangan Pulau Buru pada 1976. Pendirian gereja itu bermula dari ide Lukas Tumiso, tapol asal Surabaya yang hendak membangun gereja di Unit III. Namun karena keterbatasan bahan bangunan, ia menggunakan sebuah bangunan bekas kandang ayam. Setelah dibersihkan dari gurem dan sedikit perbaikan, gereja sederhana itu bisa mengadakan kegiatan-kegiatan agama Katolik. Kegiatan Tumiso sempat diejek oleh beberapa kawannya, salah satunya adalah Oey Hay Djoen, mantan anggota Konstituante dari PKI. Oey menyebut ketika di Surabaya, Tumiso bukan penganut Katolik yang taat. "Tumiso jadi apa itu? Arek  itu di Surabaya tidak seperti itu. Sekarang kok  ke gereja. Tahi kucing macam apa coba?" ujar Oey Hay Djoen. Tumiso pun hanya tertawa dan menganggap Oey hanya bercanda. Pasalnya, Tumiso dan Oey memang sudah akrab sejak di Surabaya. Lain halnya dengan Oey, Tjoo Tik Tjoen, seorang pemikir di PKI justru mendukung Tumiso. "Kamu jangan dengarkan omongannya Oomu (Oey Hay Djoen) itu. Sudah, keinginanmu seperti apa, lanjutkan saja," kata Tjoo Tik Tjoen. Kegiatan di gereja bekas kandang ayam itu mendapat perhatian Romo Alexander Dirdjosusanto dari Namlea. Romo Alex pun membangun gereja yang lebih layak bagi para tapol yang beragama Katolik. Gereja baru itu diberi nama Santo Paulus di Atas Bukit Karang. Untuk memperkaya bacaan tentang agama Katolik, Romo Alex menawarkan kepada Tumiso untuk berkunjung ke Namlea setiap hari Minggu. Namun, Tumiso menolaknya. "Romo, kalau ke Namlea kita setuju,  ndak  keberatan. Tapi kalau tiap Minggu,  ndak  bisa Romo," kata Tumiso. "Lho, kenapa ndak  bisa?" tanya Romo Alex. "Tugas pokok seorang tapol itu di sektor pertanian, bukan di gereja," jawab Tumiso. "Ah, nanti itu bisa kita bicarakan," balas Romo Alex. Jawaban Tumiso atas tawaran Romo Alex itu membuat Tumiso diolok-olok oleh teman-temannya. Ia dianggap bodoh karena tidak mau menerima tawaran ke Namlea. Tumiso beralasan, jika ia menerima tawaran itu, barangkali ia bisa kena hukuman. Namun, Romo Alex tetap mendesaknya untuk ke Namlea agar bisa memperdalam agama Katolik. Akhirnya, Tumiso bersedia dengan syarat ada satu orang lagi yang menemani. Alasannya untuk membantu membawa sayuran ke Namlea, 15 kilogram untuk pastoran dan 15 kilogram untuk susteran. Usulannya disetujui. Tumiso dan satu tapol lainnya akhirnya ke Namlea setiap Minggu. Namun, setelah empat kali ke Namlea, Tumiso berhenti. "Ini ndak  bisa berlanjut, sebab Namlea itu impian. Ibarat punya uang ratusan ribu satu kamar, kita tetap tidak bisa ke Namlea. Ke peradaban," ujarnya. Tumiso mengatakan bahwa tidak adil jika hanya orang Katolik yang diberi kesempatan mengunjungi Namlea. "Toh yang lain cemburu. Itu seumur hidup orang belum tentu bisa tahu Namlea," ungkapnya. Tumiso kemudian mengusulkan agar selain dua orang Katolik untuk keperluan belajar agama, diberikan kesempatan pula kepada dua orang lainnya untuk bersama-sama mengunjungi Namlea. Ternyata usulan itu disetujui. Para tapol akhirnya bisa mengunjungi Namlea secara bergiliran setiap hari Minggu. Kunjungan ke Namlea juga ternyata bisa membuka akses para tapol terhadap informasi di luar kamp. Selain itu, mereka juga bisa mendapat berbagai barang yang dibutuhkan di kamp. "Kalau turun ke Namlea, pasti ada majalah Tempo , pasti ada kacamata, pasti ada pakaian bekas," sebutnya. Tumiso pun akhirnya bisa berkelakar kepada Oei Hay Djoen. Yang dulu mengejeknya ketika merintis gereja, saat itu ikut senang karena sering diberi bacaan dari Namlea.

  • Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput

    FAJAR Merah nyaris tak punya ingatan apapun tentang ayahnya. Ia dan kakaknya, Fitri Nganthi Wani, sudah ditinggal Wiji Thukul sejak masih “ingusan”. Ibunya, Siti Dyah Sujirah alias Sipon, harus jadi tiang kokoh sebagai pegangan Fajar dan Fitri sejak 21 tahun silam. Semua berawal dari hilangnya Wiji Thukul, sang kepala keluarga, yang jadi korban pergolakan negeri di pengujung pemerintahan Orde Baru. Hilangnya Wiji Thukul bukan sesuatu yang tak disangka. Sejak ia mulai mesra dengan politik dan karya-karyanya menikam hati rezim, Sipon yang sejak 1988 diperistri Wiji Thukul, sudah diwanti-wanti ayahnya. “Kamu siap ya, Ti,” cetus Sipon menirukan peringatan ayahnya. Peringatan itu akhirnya menjadi kenyataan ketika prahara Mei 1998 pecah. Wiji Thukul dan 12 aktivis lain hilang tak berbekas bak ditelan bumi. Lebih dari dua dekade mereka, para anggota keluarga, sanak, dan kawan, menunggu kepastian akan kejelasan nasib sang aktivis HAM itu, apakah masih hidup atau sudah tinggal nama.  Begitulah babak awal film dokumenter racikan Yuda Kurniawan, Nyanyian Akar Rumput . Sang sineas mengombinasikan beberapa footage berisi penuturan Fitri, Sipon, Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul), dan Fajar si putra bungsu Wiji Thukul yang usianya baru sekira lima tahun kala ayahnya jadi korban penghilangan paksa. Foto pernikahan Wiji Thukul dan Sipon (Foto: Rekam Docs) Tahun demi tahun berganti. Rasa lelah mulai memudarkan harapan. Keberadaan Wiji Thukul tetaplah gelap. Fajar yang sosoknya jadi sorotan sentral di dokumenter berdurasi 112 menit ini, hanya bisa menumpahkan segala macam kerinduan pada sosok ayah lewat musik. Bersamatiga rekannya, pada 2012 Fajar membentuk band beraliran poem rock , Merah Bercerita. Lagu-lagunya dikreasikan dari musikalisasi puisi-puisi karya ayahnya. “Dengan musiknya, Fajar membawakan karya-karya puisi itu tidak sama dengan ayahnya. Ada nuansa romantis. Enggak versi ayahnya (membacakan puisi, red. ) yang penuh kemarahan. Fajar ingin menciptakan senyum,” kata Sipon. Band Merah Bercerita yang didirikan Fajar Merah dan tiga kawannya sejak 2012 (Foto: Rekam Docs) Dengan tenggelam dalam musik, Fajar seolah bertemu dengan ayahnya dalam versi imajinasi. Apalagi selama ini ia hanya bisa menerka-nerkaseperti apa sosok sang ayah, melalui karya-karyanya. Setiap kali album band-nya diluncurkan, acapkali dibarengi dengan memperingati hari lahir ayahnya yang jatuh pada 26 Agustus. “Sejauh apa aku mengenal bapakku?” ujar Fajar yang lantas terdiam lantaran kesulitan mencari arsip kenangan tentang ayahnya di ingatannya.  “Sebagai anak, ya bingung untuk mengucapkan selamat ulangtahun. Hanya bisa melalui musikalisasi puisi ini. Hal paling sederhana ya itu. Dengan musik aku seolah bisa bicara dengan bapak, untuk bilang bahwa apa yang bapak lakukan tidak sia-sia,” tandasnya. Merawat Perjuangan Wiji Thukul Dokumenter pemenangPiala Citra kategori dokumenter panjang di Festival Film Indonesia (FFI) 2018 itupatut dijadikan tontonan generasi muda kekinian. Selain sarat pengetahuan akan kehidupan politik bangsa di masa lalu, film itu juga menjadi wahana pas untuk mengingatkan presiden akan janjinya dua dekade silam. Dalam suatu adegan, Sipon bertuturbahwa Joko Widodo (Jokowi) ketika masih menjabat walikota Solopernah berjanji untuk membantu mencarikeberadaan Wiji Thukul. Meski zaman sudah berganti dan k ursi presiden sudah silih berganti diduduki orang-orang berbeda , kasus penghilangan paksa Wiji Thukul dan 12 aktivis HAM lain tak kunjung tuntas. “Di masa walikota mungkin dia punya kedekatan tapi kan dia enggak punya power (kewenangan, red . ). Tapi ketika dia menjadi presiden , kan dia punya power untuk melakukan lebih, walau kita juga pahami bukan hal yang ringan bagi Presiden Jokowi untuk menuntaskan agenda-agenda pelanggaran HAM masa lalu. Ternyata juga di masa kabinet sekarang orang yang dianggap bertanggungjawab malah jadi bagian,” tutur Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul, kepada Historia. Jadi buronan pasca-Kudatuli, Wiji Thukul dinyatakan hilang pasca-Tragedi Mei 1998 sebagai korban penghilangan paksa (Foto: Rekam Docs) Kerusuhan Mei 1998 yang berimbas pada kejatuhan Soeharto memang jadi satu tonggak sejarah modern Indonesia yang rumit. Namun Yuda Kurniawan mengisahkannya dalam dokumenter sedemikian rupa hingga penonton usia +17 pun takkan merasa jemu. Alur ceritanya mengalir dengan apik dan menghanyutkan. Pun dengan selipan-selipan footage lawas sebagai penguat visual atas narasi sejarah yangada sehingga mudah dipahami. Lewat puisi-puisi Wiji Thukul yang dimusikalisasi Fajar Merah dkk., semisal “Bunga dan Tembok”, “Sajak Suara”, dan “Apa Guna”, penonton “dimanjakan” dalam mengenal siapa Wiji Thukul. Menurut Yuda, mulanya dokumenternya diberi judul Mencari Wiji Thukul , lantaran terinspirasi film dokumenter Searching for Sugar Man garapan Malik Bendjelloul dan Simon Chinn yang menang Piala Oscar untuk kategori dokumenter terbaik 2012. “Itu kan bercerita tentang musisi juga yang memperjuangkan suara orang-orang bawah. Awalnya saya perlu judul itu untuk woro-woro di sosial media. Tapi kemudian berubah pikiran karena merasa kurang sreg. Akhirnya pakai judul itu ( Nyanyian Akar Rumput ), selain juga untuk melestarikan puisi Wiji Thukul,” ujar Yuda. Yuda mengaku tak punya target muluk untuk Nyanyian Akar Rumput. Sebab, genre dokumenter dengan isu politik dan HAM masih kurang diminati  masyarakat walaupundihadirkan se-obyektif mungkin. “Saya enggak terlalu mikir target. Yang penting bagaimana film ini bisa dibawa ke ruang yang lebih luas. Di luar penonton festival atau bioskop-bioskop alternatif. Yang penting juga , bagaimana kita bisa menyuarakan kebenaran dalam film ini,” sambungnya. Fajar Merah (kanan) yang mengekspresikan kerinduan pada ayahnya lewat musik (Foto: Rekam Docs) Sementara, Wahyu punya harapan Nyanyian Akar Rumput tidak hanya sekadar suguhan di balik layar musikalisasi puisi Wiji Thukul yang dibawakan Fajar Merah dan bandMerah Bercerita. Dalam Nyanyian Akar Rumput, kata Wahyu, sarat nutrisi akan pengetahuan.Ratusan juta rakyat Indonesia bisa menikmati kebebasan dengan harga yang tidak murah. “Generasi muda akan melihat dan bercermin. Dia akan bisa mengkontraskan situasi. Bahwa sekarang baca buku bebas, maki-maki pejabat di sosial media sudah bebas, tapi kemudian dia akan tahu fakta-fakta masa lalu yang kontras. Harapannya dia akan punya daya juang. Paling tidak, untuk mempertahankan kebebasan yang sekarang ini yang harganya mahal dan perlu martir,” sambung Wahyu. “Penting untuk anak-anak muda mengenal Wiji Thukul. Kenapa? Karena dia yang membuat kalian bisa buka Youtube , Instagram , bebas kritik, tidak ada pembatasan buku-buku. Kebebasan yang asasi dan dengan melihat dokumenter ini, penting untuk merawat kebebasan itu,” tuturnya menutup obrolan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page