Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ha...Ha...Ha... Buat Sukarno
ADIAN Napitupulu, politisi nyentrik dari PDIP menolak jabatan menteri yang ditawarkan Presiden Joko Widodo. Adian merasa dirinya belum cukup mampu mengemban tanggung jawab tersebut. Presiden Jokowi menatap dengan sorot mata yang tajam kala mendengar Adian mengatakan tidak bersedia jadi menteri. Penolakan juga pernah dialami oleh Sukarno, Presiden RI yang pertama. Kali ini bukan soal tawaran jabatan menteri tapi soal tawaran konsepsi bernegara. Yang berperkara dengan Bung Karno ialah Ignatius Joseph Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik. Pada 21 Februari 1957, Sukarno memanggil semua pimpinan partai politik ke Istana. Kepada mereka semua, Sukarno melontarkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai Konsepsi Presiden. Melalui konsepsi itu, Sukarno menyarankan pembentukan kabinet “empat kaki” yang terdiri dari partai-partai pemenang pemilu: PNI, Masjumi, NU, dan PKI. Sepekan berselang, 28 Februari 1957, Sukarno memanggil kembali pimpinan partai politik. Agenda pertemuan meminta persetejuan masing-masing pimpinan partai terhadap Konsepsi Presiden. PKI, Murba, PNI, PRN, Baperki, Persatuan Pegawai-pegawai Kepolisian menyatakan menerima. NU, PSII, Parkindo, IPKI, dan PSI ragu-ragu dan menyatakan mempertimbangkan kembali. Sementara itu, Masjumi dan Partai Katolik dengan tegas menyatakan penolakan. Pimpinan Masjumi, Mohammad Natsir menguraikan penolakannya dengan berpidato panjang lebar. Lalu tibalah giliran Kasimo. Sebelum berbicara, Kasimo punya kebiasaan unik: suka tertawa sambil mengurai senyum lebar. Ciri khas inilah yang melekat pada diri Kasimo. Dia dikenal sebagai politisi senior gaek namun berhati periang. Ketika bersua Bung Karno, seperti biasa Kasimo memulai dengan senyuman khasnya. Sewaktu Bung Karno menanyakan bagaimana sikap Partai Katolik terhadap konsepsinya, Kasimo malah tertawa. Kasimo bukan berarti meremehkan pertanyaan Sukarno. Begitulah caranya mengumpulkan keberanian menyatakan pendapat yang bertentangan dengan kemauan presidennya. “Namun Bung Karno rupanya merasa diejek oleh Kasimo,” sebagaimana terkisah dalam biografi I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya yang disusun Threes Nio. Secara singkat dan padat, Kasimo menyatakan tidak setuju dengan konsep Sukarno. Penolakan Kasimo yang terutama sehubungan dengan dilibatkannya PKI dalam kabinet. Merujuk pengalaman sejarah di Eropa Timur, Kasimo beranggapan pengikutsertaan orang-orang komunis akan menyebabkan sebuah negara menjadi komunis. Ini terjadi pada negara Cekoslovakia. Bagi Kasimo, sikap terhadap PKI tidak dapat ditawar-tawar. Sebagai mantan murid Romo van Lith (pelopor missie Katolik di Jawa), Kasimo mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap golongan lain. Namun toleransi ini terkecuali terhadap golongan komunis yang dalam pandangan Kasimo anti-agama dan kebebasan beragama. Selesai pertemuan di Istana, para wartawan menanyakan pendapat Kasimo tentang Konsepsi Presiden. “Ha-ha-ha-ha…” itu saja yang keluar dari mulut Kasimo. Sejak saat itulah Sukarno menunjukkan rasa kurang senang terhadap Kasimo. Ketersinggungan Sukarno berbuntut panjang. Dua bulan kemudian, pada April 1957, beberapa petinggi partai dipanggil lagi ke Istana. Dari Partai Katolik yang dipanggil ialah Prof. Mr. A.A. Soehardi, A.B. de Rozari, dan Ir. Soewarto. Kasimo selaku ketua partai tidak diberi tahu. Sebagai akibat dari sikap Kasimo, Partai Katolik tidak diikutsertakan dalam Kabinet Karya yang dipimpin Perdana Menteri Djuanda. Demikian pula dalam kabinet-kabinet berikutnya. Partai Katolik baru masuk dalam kabinet ketika Kasimo tidak lagi menjabat ketua. “Karena berani melawan mainstream politik, ia harus mengundurkan diri dari kepemimpinan partai dan segala kemungkinannya yang melekat pada jabatan tersebut untuk masa itu. Ia menjadi persona non grata untuk sistem masa itu,” tulis J.B. Sudarmanto dalam Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo. Pada 1960, Kasimo mengundurkan diri sebagai Ketua Partai Katolik setelah memimpin partai itu selama kurang lebih 30 tahun. Tampuk kepemimpinan selanjutnya diserahkan kepada Ketua DPP Partai Katolik Frans Seda. Baru pada 1964, Frans Seda. menduduki kursi Menteri Perkebunan dalam Kabinet Dwikora.
- Didi Kempot, Makin Tua Makin Ambyar
Malam itu Istora Senayan, Jakarta, ramai. Anak-anak, remaja, dan orang tua bersemangat menuju salah satu panggung dalam acara Pekan Kebudayan Nasional (PKN) 2019 minggu lalu (7-13 Oktober 2019). Ada beragam sajian seni di panggung PKN. Salah satunya pergelaran musik campursari dari pria berambut gondrong kelahiran Surakarta. Dialah Didi Prasetyo atau Didi Kempot. Didi Kempot saat menunggu giliran naik pentas di Senayan. (Fernando Randy/Historia). Sebelum Didi naik ke atas panggung, Historia sempat berbincang pendek dengannya. Dari obrolan tersebut diketahui bahwa asal usul nama Kempot adalah Kelompok Penyanyi Trotoar. “Yah dulu saya itu penyanyi jalanan alias ngamen, akrab sama trotoar,” ujar adik dari almarhum pelawak Mamiek Prakoso, yang tenar dengan mengecat sebagian rambutnya dengan warna keemasan. Ekspresi ribuan fans Didi Kempot yang memadati Istora Senayan. (Fernando Randy/Historia). Didi Kempot saat membawakan berbagai hits dari album-albumnya. (Fernando Randy/Historia). Didi mulai aktif bermusik sejak 1989. Dia memilih musik campursari sebagai jalan hidup berkeseniannya. Campursari adalah musik yang muncul dari perpaduan instrumen gamelan Jawa dan Barat. Diperkenalkan kali pertama oleh R.M. Samsi dari kelompok musik RRI Semarang pada 1953. Campursari menggabungkan nada pentatonik dan diatonis. Sebuah percampuran antara tradisionalitas dan modernitas. Salah satu fans Didi Kempot menangis terharu di tengah keseruan konser tersebut. (Fernando Randy/Historia). Tua dan muda semua bergembira bersama saat Didi Kempot bernyanyi. (Fernando Randy/Historia). Panggung Didi Kempot yang selalu penuh oleh para fansnya di seluruh Jakarta. (Fernando Randy/Historia) Melalui campurasari, Didi membuat ratusan lagu. Kebanyakan lagunya bertema tentang cinta, patah hati, dan kehilangan orang tersayang. Karena tema-tema itulah fans Didi Kempot menamakan diri mereka sebagai Sad Bois dan Sad Girls. Ada juga yang menamakan diri mereka Sobat Ambyar (hancur). Fans juga menjuluki Didi Kempot, pria yang juga terkenal di Suriname itu, sebagai The Godfather of Broken Heart. “Ya, mungkin karena tema patah hati mengena di anak-anak masa kini. Itu buktinya tiap saya nyanyi mereka selalu berjoget,” kata Didi. Fenomena tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Begitu Didi Kempot naik panggung, ribuan penggemarnya langsung histeris bahkan sampai menangis. Berbagai atribut kaos bergambar Didi Kempot pun tak luput digunakan oleh para Sobat Ambyar. (Fernando Randy/Historia). Semua Sad Bois dan Sad Girls larut dalam alunan lagu-lagu sang Godfather. (Fernando Randy/Historia) Di panggung PKN, Didi tampil sekira pukul 20.00 WIB. Dia menyapa penggemarnya. “Sobat Ambyar, sing penting aja jotos-jotosan yo (Sobat Ambyar, yang penting jangan berkelahi, ya).” Salam pembukanya disambut riuh oleh ribuan Sobat Ambyar. Kemudian pria berusia 52 tahun tersebut melantunkan lagu-lagu andalannya: Cidro, Stasiun Balapan, Banyu Langit, dan Pamer Bojo. Orang-orang turut bernyanyi. Ekspresi Didi Kempot di panggung dalam gelaran PKN Kebudayaan. (Fernando Randy/Historia). Ribuan fans Didi Kempot bernyanyi dan berjoget bersama tanpa henti bersama sang legenda campursari. (Fernando Randy/Historia). Di tengah jeda lagu, Didi berucap, “Wah ternyata di Jakarta pun kalian masih menghargai musik tradisional. Terima kasih!” Tanpa basa-basi lagi, Lord Didi, julukan lainnya, kembali menggempur panggung. Malam itu benar-benar milik Sobat Ambyar. Mereka merayakan patah hati daripada meratapinya. Ditemani langsung oleh sang Godfather. Salam Ambyar! Didi Kempot mengucapkan terima kasih kepada semua Sobat Ambyar yang telah hadir di Senayan. (Fernando Randy/Historia).
- Mengenal Najwa Lewat Tes DNA
Semasa kanak-kanak Najwa Shihab sering diolok onta karena wajah Arabnya. Namun DNA di tubuhnya memberi jawaban lain.
- Terpaksa Ganti Uang Negara yang Dipakai Foya-Foya
BAGI petualang seperti Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kemudian menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia” dan sahabat Bung Karno, menjadi ajudan presiden atau birokrat di sekretariat wakil presiden sama-sama menyiksanya. Keduanya amat monoton dan membunuh dinamika kehidupannya. Itulah yang dirasakan Hasjim di ibukota Yogyakarta pada awal 1946. “Aku sudah jemu di kota itu. Aktivitasku mandek. Dengan Ford Cabriolette-ku aku hanya mondar-mandir tanpa arti, selain mengantarkan pejabat negara sampai menteri yang mau bepergian ke luar kota,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang. Maka begitu KSAL Laksamana M. Nazir mengajaknya ikut menginspeksi pangkalan AL di Tegal dan Cirebon, Hasjim langsung mengiyakannya. “Setidak-tidaknya aku akan meninggalkan Kota Yogya yang menjemukan itu untuk beberapa hari,” sambungnya. Menggunakan mobil pribadi Hasjim, mereka mengunjungi Tegal selama dua hari dan Cirebon juga dua hari. Darwis Djamin, panglima AL Tegal, ikut menemani ke Cirebon. Pada malam terakhir, Hasjim diajak Nazir berunding dengan Darwis. Hasjim diminta menyelundupan persenjataan, obat-obatan, spare part kendaraan, dan kain untuk kebutuhan AL di Tegal. Sejak Jakarta dinyatakan sebagai kota tertutup, AL Tegal kesulitan mendapatkan barang-barang itu. Kedua perwira AL itu sepakat melakukan penyelundupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sebagaimana dilakukan pejuang lain di berbagai tempat untuk menyiasati blokade yang diterapkan Belanda. Di AL, Laksamana John Lie merupakan nama penyelundup paling populer. Aksi John Lie bahkan sampai masuk Majalah Life. “John Lie disebut sebagai The Great Smuggler with the Bible,” tulis Julius Por dalam Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan. Kendati sempat ragu, Hasjim akhirnya menerima tugas itu. Banyaknya kenalan yang dimilikinya, besarnya akses ke petinggi republik, dan keinginannya meninggalkan Jogja menjadi alasan penerimaan tugas itu. Berbekal surat Muhammad Said, kepala bagian logistik markas AL Tegal, kepada seorang Cina di Perusahaan Lip Seng & Co di Glodok yang biasa memasok kebutuhan AL Tegal, Hasjim memulai petualangannya ke Jakarta dengan menumpang keretaapi isitmewa yang membawa rombongan PM Sjahrir. Segera setelah tiba di Jakarta, Hasjim ke Glodok. Dari orang Cina itu Hasjim menerima setumpuk uang Jepang yang kemudian ditolak Hasjim karena AL Tegal lebih memerlukan uang NICA yang kala itu disebut Uang Merah. Uang itu berlaku di semua tempat yang diduduki Belanda. Namun karena tidak mudah menyediakan Uang Merah, Hasjim baru memperolehnya seminggu kemudian sejumlah f10 ribu alias jauh dari yang dibutuhkan pangkalan AL Tegal. Namun, petualangan paling menantang Hasjim sesungguhnya adalah ketika menyelundupkan senjata ke Tegal. “Mendapat barang-barang kebutuhan angkatan laut sebagaimana ia dipesankan tidak begitu sulit di Jakarta. Membawanya keluar dari Jakarta cukup sulit. Karena setiap jalan ke luar kota dijaga dengan berlapis-lapis. Penjagaan militer Inggris tidaklah masalah. Akan tetapi cegatan-cegatan serdadu NICA yang suka berpatroli sangat berbahaya,” kata Hasjim. Hasjim pantang menyerah menghadapi rintangan. Dengan putar otak dan bantuan kenalan-kenalannya di berbagai tempat, Hasjim akhirnya sukses melakoni perannya. Mulai peluru, revolver, hingga granat menjadi suplai rutinnya ke Tegal. Terlebih ketika dia sudah diberi jalan oleh sahabatnya, pengusaha Agus Dasaad. Namun, tetap saja Hasjim pernah gagal. Mayoritas disebabkan oleh ulah “orang-orang sendiri” yang tak amanah atau tak kuat godaan. Salah satu kegagalan itu terjadi saat Hasjim menitipkan beberapa ribu Uang Merah kepada seorang kawannya untuk diserahkan kepada Mayor Tumbelaka, petinggi AL di Jakarta. Uang itu ternyata tak sampai tujuan. Lantaran tak ingin nama baiknya tercoreng, Hasjim langsung mencari kawan itu. Di Karawang, Hasjim hanya mendapat informasi kawan itu sudah dua hari berangkat ke Jogja. Lewat bantuan Syamsudin rekannya, Hasjim akhirnya menemui kawan itu di sebuah tempat di Jogja. Sambil marah-marah, Hasjim menanyakan kenapa uang itu tidak disampaikannya kepada Mayor Tumbelaka. “Telah habis, Sjim. Ketika kami bersama-sama ke Solo dan Malang,” jawab kawan itu sambil ketakutan. Hasjim pun makin naik pitam. “Bukan peluru dan granat yang aku suruh bawa padamu. Tapi uang. Kau hambur-hamburkan uang negara itu pada cabo-cabo. Dengan apa akan kau ganti? Atau aku yang harus mengganti uang yang kau foya-foyakan itu?” Semua orang di ruangan pun terdiam ketakutan. Namun, kemarahan itu tak membuat Hasjim terlepas dari nahas. Kendati tak sedikit pun merasakan nikmat uang itu, dia tetap mesti bertanggung jawab mengganti uang negara yang ludes itu. “Untuk mengganti uang itu, aku terpaksa melepaskan sedan Vauxhall-ku pada Mayor Tumbelaka.”
- Wejangan Istri untuk Perwira Penjudi
SUATU hari, Brigjen TNI Kemal Idris mendapat panggilan tugas ke Kongo sebagai Komandan Pasukan Garuda III –kontingen pasukan perdamaian Indonesia untuk PBB. Selama setahun, Kemal berdinas di negara konflik yang terletak di Afrika bagian tengah itu. Setelah misi selesai, Kemal ditarik pulang ke Indonesia pada 1963. Pangkatnya diturunkan setingkat menjadi kolonel. “Setelah kembali dari Kongo, saya tidak langsung ditugaskan, tetapi tetap istirahat di rumah. Saya tidak bekerja, gaji kecil, sedangkan harga barang sangat mahal,” kenang Kemal dalam otobiografinya Kemal Idris: Bertarung dalam Revolusi. Menurut Kemal, penugasannya ke Kongo adalah sekadar usaha untuk menyenangkan dirinya. Dalam catatan Markas Besar Angkatan Darat, Kemal punya reputasi kurang baik. Dia termasuk perwira yang tidak disukai, khususnya oleh Presiden Sukarno. Kemal pernah mengarahkan moncong meriam ke arah Istana Negara saat terjadi Peristiwa 17 Oktober 1952. Akibatnya, karier militer Kemal macet. Untuk kenaikan jabatan, namanya tergolong perwira yang kurang diperhitungkan.
- Saat Maria Ullfah Bebaskan Tawanan Perang
KETIKA Sutan Sjahrir membentuk kabinet keduanya pada Maret 1946, Maria Ullfah diminta masuk dalam jajaran kabinet sebagai menteri sosial. Ajakan Sjahrir sempat membuat Maria bingung. Ada banyak masalah sosial pasca-proklamasi, namun Maria tak tahu mana yang harus diselesaikan lebih dulu. Ia pun ragu menerima permintaan Sjahrir. “Saya juga tidak pernah jadi perdana menteri, kamu yang sering memperlihatkan keberanian mestinya mau (menjadi menteri sosial, red.),” kata Sjahrir membujuk Maria. Pada akhirnya, Maria menerima permintaan itu. Dorongan untuk memperlihatkan pada dunia kalau Indonesia bukan negara buatan Jepang seperti anggapan Belanda berperan penting dalam keputusan Maria. “Karena kalau di Jepang itu wanita tidak punya kedudukan yang sama dengan pria. Di sini saya perlihatkan kalau wanita Indonesia juga bisa menjadi menteri,” kata Maria pada Dewi Fortuna Anwar dalam wawancara yang diterbitkan Arsip Nasional.
- Hasto dan Budiman Punya Gen Samaritan
PROYEK DNA Historia mengajak delapan orang figur publik untuk ikut serta dalam tes DNA. Dua di antaranya politisi PDI Perjuangan: Hasto Kristiyanto dan Budiman Sudjatmiko. Hasilnya, sebagian besar DNA moyangnya berasal dari Asia Timur. Yang menarik, keduanya memiliki jejak moyang Timur Tengah, yaitu Semitik yang kemungkinan besar dari orang-orang Samaria (kini di Palestina). “Saya tidak kaget. Sejak awal saya meyakini bahwa Nusantara adalah titik temu dari berbagai ras, etnis, dan peradaban dunia. Sehingga kita tidak bisa mengatakan diri kita asli. Inilah kita semua, perpaduan dari berbagai etnis dunia,” kata Hasto Kristiyanto dalam pembukaan pameran ASOI (Asal Usul Orang Indonesia) di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa, 15 Oktober 2019. Sementara Budiman Sudjatmiko merasa terkejut memiliki DNA dari Samaritan. “Saya terkejut, kok, satu partai sama-sama turunan, kalau dalam Alkitab, Yesus menyebut The good Samaritan , yaitu orang Samaria yang baik. Orang Samaria yang menolong sesamanya tanpa melihat asal usul dan agamanya, dan kelihatannya cocok dengan ideologi kita, Bung Hasto,…Marhaenisme,” kata Budiman sambil tertawa. Menurut Akhmad Sahal, kandidat doktor University of Pennsylvania, tulisan ini cukup menjelaskan, setidaknya sebagai pengantar tentang Samaritan. Tapi yang menjadi pertanyaan bagaimana Samaritan bisa “nyelonong” ke manusia Indonesia. “Samaritan memang punya pertautan dengan Yahudi, tapi sebagian besar silsilah Yahudi itu bukan Samaritan. Apakah penyebutan Samaritan untuk DNA yang nyelonong ke orang Indonesia tersebut memang Samaritan, atau Yahudi? Saya kok cenderung percaya itu Yahudi, gak spesifik Samaritan. Tapi kan kalau disebut Yahudi takutnya kontroversial,” kata Sahal kepada Historia . Siapakah Orang Samaritan? Pada zaman kuno, bangsa Yahudi terbagi menjadi Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yudea di Selatan. Pada 722 SM, Kerajaan Utara ditaklukkan Kerajaan Assyria. “Sepuluh suku di bagian utara Israel diusir, dipaksa untuk bergabung dan, dengan dasar agama dimusnahkan. Kesepuluh suku yang hilang itu selamanya lenyap dari sejarah,” tulis Karen Armstrong dalam Perang Suci dari Perang Salib hingga Perang Teluk . Orang Yahudi yang menetap bercampur dengan orang-orang Assyria. Kaum campuran inilah yang menjadi orang Samaritan. Menurut Steve Olson dalam Mapping Human History: Gen, Ras, dan Asal Usul Manusia , orang Samaritan memiliki Kitab Taurat yang sampai sekarang masih ditulis dalam salah satu alfabet Semitik kuno. Mereka menjalankan ajaran-ajaran kitab itu sebelum jatuhnya Kerajaan Yehuda di Selatan ke tangan Kerajaan Babilonia pada 587 SM. “Akan tetapi, ketika kaum Yehuda mulai kembali ke Israel dari pengasingannya di Babilonia, mereka tidak pernah menerima orang Samaritan sebagai kaum Yahudi dan menolak tawaran untuk bersatu dengan orang Samaritan. Sejak saat itu, dua tradisi Yahudi ini berjalan sendiri-sendiri dengan sejumlah persamaan dan perbedaan,” tulis Steve Olson. Yonky Karman, pendeta dan pengajar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, menyebutkan bahwa meski orang Samaritan menganut agama Yahudi, tetapi orang Yahudi menganggap agama Yahudi yang dianut mereka tidak murni lagi. Permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaritan meruncing ketika orang Samaritan mendirikan Bait Allah sendiri di Gunung Gerizim. Sedangkan orang Yahudi memiliki tempat suci di Yerusalem. “Di antara kelompok di luar Yahudi yang tidak dianggap sesama, mungkin orang Samaria yang paling tidak disukai oleh orang Yahudi,” tulis Yonky Karman dalam Merentang Sejarah, Memaknai Kemandirian: Menjadi Gereja Bagi Sesama. Kendati demikian, Steve Olson mencatat bahwa salah satu persamaan antara orang Yahudi dan orang Samaritan adalah sama-sama pernah mengalami sejarah penyiksaan. Komunitas-komunitas Samaritan yang hidup di bawah Kerajaan Romawi mengalami penganiayaan secara kejam. Sementara itu, komunitas-komunitas Samaritan di Syiria dan Mesir telah punah, dan pada akhir abad ke-19, jumlah total orang Samaritan hanya 150 orang. Pada abad ke-21, lanjut Steve Olson, komunitas Samaritan mulai tumbuh lagi. Jumlah mereka sekarang lebih dari 600 orang. Setengahnya tinggal di Kota Holon di luar Tel Aviv, sedangkan setengahnya lagi di Bukit Gerizim. Orang Samaritan terkenal paling ketat dalam perkawinan seiman. Mereka menjaga tradisi itu selama lebih dari 2.000 tahun. Kini mereka memiliki lima garis keturunan lelaki, dua di Bukit Gerizim, dua di Holon, dan satu lagi berada di antara kedua komunitas. Bagaimana dengan orang Samaritan yang berdiaspora? Situs Mashfeht Baanee Yaashaaron menyebut orang Samaritan melarikan diri dari penindasan dan perang ke Italia dan Kroasia pada awal abad ke-6. Orang Samaritan bermigrasi ke Amerika pada abad ke-19. Menariknya, ada yang ke Indonesia pada abad ke-21, yaitu Yaqob bar-Karoza yang tinggal bersama istri dan anaknya di Surabaya. Dalam wawancara dengan minanews.net , Yaqob menyebut jumlah Samaritan sekarang kurang dari seribu orang di seluruh dunia. The Good Samaritan Di awal tulisan, Budiman Sudjatmiko menyebut The good Samaritan . Seperti apa kisahnya? Yonky mengisahkan bahwa dalam kitab Alkitab, Yesus bercerita tentang seorang Yahudi yang dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho menjadi korban perampokan dengan kekerasan. Ia tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan tak berdaya. Kemudian lewat seorang imam dan seorang Lewi. Keduanya orang Yahudi yang tergolong rohaniawan. Imam adalah orang yang memimpin ibadah dan upacara kurban di Bait Allah Yerusalem. Sedangkan orang Lewi yang membantu imam bertanggung jawab atas musik dalam ibadah dan keamanan bangunan-bangunan di kompleks Bait Allah. Imam dan orang Lewi itu melihat orang yang tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan mengenaskan. Bukannya berhenti menolongnya, mereka malah menempuh jalan lain. Sebagai manusia, mereka mungkin simpati pada korban. Namun, mereka tidak mau repot dan ingin menghindari masalah yang mungkin akan timbul. Kemudian lewatlah orang Samaritan yang paling tidak disukai oleh orang Yahudi. “Nyatanya, ia memberi pertolongan. Simpati yang dimiliki imam dan orang Lewi berhenti sebagai simpati," tulis Yonky. "Namun, simpati orang Samaria melahirkan aksi. Simpati memang baik, nasihat juga baik. Yang terbaik tentu saja pertolongan konkret." Orang Samaritan itu menolong seadanya: mencuci luka orang Yahudi itu dengan anggur dan minyak, membalut lukanya, dan membawanya ke penginapan untuk dirawat lebih lanjut. Setiba di penginapan, ia masih merawatnya dan menginap semalam. Ia pergi meninggalkan korban karena ada urusan yang harus diselesaikan. Namun, ia sempat menitipkan sejumlah uang kepada pemilik penginapan sebagai biaya untuk merawat korban selama ia pergi. Setelah urusannya selesai, ia berjanji akan kembali dan membayar segala kekurangannya. “Orang Samaria dalam cerita Yesus telah berhasil menjadi sesama bagi orang yang memerlukan uluran tangan,” tulis Yonky. “Ia telah menjadi sesama bagi orang yang malang itu, sedangkan imam dan orang Lewi belum menjadi sesama kendati kesamaan etnis dan agama.” Setiap orang bisa menjadi The good Samaritan dengan berempati, bersimpati, dan yang lebih penting beraksi untuk kebaikan.*
- Ketika Bendera Belanda Terkoyak
GEDUNG tua di mulut Jalan Braga, Bandung itu masih berdiri dengan gagahnya. Gaya arsitekturnya yang bercorak art deco masih berwujud tegas dan tak lekang dimakan zaman. Pada ujung masa pemerintah Hindia Belanda, di sinilah Bank DENISH (De Erste Nederlands Indische Spaarkas en Hypotheekbank) memutar roda bisnisnya sehari-hari. Saat ini, bekas gedung DENISH dipergunakan untuk kantor Bank Jawa Barat Banten (BJBB). Kendati sudah berumur lumayan tua, namun pesonanya masih terpancarkan. Itu dibuktikan dengan masih banyaknya orang yang mengunjunginya. “Terutama para pegiat sejarah kota Bandung,” ujar Hasan Sobirin, koordinator Historical Trip Bandung. Namun tak banyak orang tahu, Gedung DENISH memiliki kisah sendiri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beberapa bulan usai proklamasi Indonesia dikumandangkan, di sinilah tempat-nya para pemuda Bandung memamerkan semangat nasionalisme-nya dalam menghadapi kolonialisme Belanda di Indonesia. “Hari ini orang sudah mulai lupa dan hanya mengetahui bahwa perobekan bendera Belanda hanya terjadi di Hotel Yamato, Surabaya saja,” ujar R.H. Eddie Soekardi, pelaku sejarah sekaligus veteran pejuang Perang Kemerdekaan di Jawa Barat. Akhir November 1945. Hari belum beranjak siang ketika bendera berwarna merah putih biru dikibarkan secara provokatif oleh sekelompok orang Belanda di puncak Gedung DENISH. Aksi itu kontan menggemparkan kota Bandung dan mengundang ratusan pemuda datang dari berbagai pelosok kota untuk datang ke sana. Mereka kemudian bergerombol di depan gedung karya arsitek Belanda Albert Frederik Aalbers tersebut. “Dengan wajah marah, para pemuda berteriak-teriak menuntut penghuni gedung untuk secepatnya menurunkan Tri Warna,” ujar R.H.Eddie Soekardi dalam buku Hari Juang Siliwangi . Demi menghadapi tuntutan masa pemuda Bandung tersebut, para serdadu Jepang dan Inggris yang berjaga di depan Gedung DENIS malah memperlihatkan sikap menantang. Beberapa di antara mereka, bahkan ada yang menembakkan bedilnya ke udara. Alih-alih menjadi gentar, keberingasan pemuda malah semakin menggila. Bunyi tembakan musuh justru dijadikan isyarat komando untuk menyerbu. Maka terjadilah pertarungan jarak dekat yang begitu brutal. “Beberapa serdadu Jepang menjadi korban, kepala mereka sebagian dipuntir (dipelintir sekaligus dipatahkan),” ujar Mohamad Endang Karmas, salah seorang pelaku sejarah dalam insiden tersebut Mengabaikan ancaman peluru yang bersiliweran dan membahana, para pemuda Bandung malah semakin merangsek dan membentuk formasi tempur pula. Seiring terdengarnya teriakan "siap!" dari berbagai penjuru, sekelompok pemuda dari Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bergerak cepat melucuti serdadu-serdadu Jepang dan Inggris yang bertahan penuh rasa kecut di gerbang utama Gedung DENISH. Sementara itu, di bawah komando Kapten Husein Wangsaatmadja, sekelompok pelajar SLP (setingkat SMP) yang baru tamat Sekolah Kader Militer di Tegallega, masuk ke dalam gedung. Setelah terlibat perkelahian satu lawan satu dengan serdadu-serdadu Belanda, beberapa di antara mereka langsung naik ke menara gedung, di mana Si Tiga Warna berkibar dengan pongah-nya. Para serdadu Inggris yang bermarkas di Hotel Savoy Homan (jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Gedung DENISH) tentu saja tak tinggal diam melihat kejadian tersebut. Mereka lantas menghadiahi para pemuda dengan peluru-peluru tajam. Tapi dasar pemuda Bandung, bukannya menjadi takut, mereka malah semakin nekat. Dua pemuda bernama Karmas dan Mulyono berhasil mencapai menara tempat bendera Belanda dikibarkan. Mereka kemudian berusaha menurunkan bendera tersebut. Namun sial, angin terlalu kencang bertiup hingga kabel pengibar menjadi semakin kuat dan liar. Mereka berusaha menjangkau kain bendera namun gagal karena posisinya yang terlampau tinggi. “ Kumaha yeuh, Mul?!” tanya Karmas sedikit panik karena tembakan dari arah Hotel Savoy Homan terasa semakin gencar. “Coba lagi aja !” jawab Mulyono. Tiba-tiba datang ide di kepala Karmas. Sambil memegang ujung bendera yang saat itu tengah terkulai, Karmas menghunus bayonetnya. Ditopang bahu Mulyono yang ia pijak, Karmas lantas mencabik-cabik bagian warna biru Si Tiga Warna hingga serpihan-serpihan kainnya jatuh dan bertebaran di Jalan Braga. Setelah merasa cukup mengoyak bendera milik musuhnya itu, kedua anak muda itu lantas meneriakkan kata "merdeka" berkali-kali, mereka lantas turun dan langsung menghilang di lorong-lorong Jalan Naripan. Koyaknya bagian warna biru itu, menyebabkan Si Tiga Warna yang masih berkibar terlihat sebagai Sang Merah Putih, bendera Republik Indonesia.
- Tes DNA Buktikan Keragaman Manusia Indonesia
Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) yang diselenggarakan oleh Historia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, resmi dibuka oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, di Museum Nasional, 15 Oktober 2019. Pameran yang hendak memberikan perspektif baru tentang siapa leluhur orang Indonesia ini akan berlangsung hingga 10 November 2019. Pameran ini menampilkan hasil tes DNA sukarelawan seperti Najwa Shihab, Hasto Kristiyanto, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, Mira Lesmana, Ayu Utami, Riri Riza, dan Ariel Noah, serta hasil tes DNA dari peserta umum terpilih yang mendaftar di microsite Historia yaitu Sultan Syahrir, Esthi Swastika, Irfan Nugraha, Farida Yuniar, Aryatama Nurhasyim, Solikhin, dan Zaenin Natib. Pameran ASOI ini, juga menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia, serta sejarah manusia dari sudut pandang arkeologis dan antropologis. Gelombang Migrasi Homo Sapiens telah mengembara selama ratusan ribu tahun dari benua Afrika. Kemudian sekitar 50.000 tahun yang lalu, sampailah gelombang migrasi pertama di kepulauan Nusantara. “Jadi dari 150.000 tahun, 100.000 tahun berjalan mengembara melewati lingkungan yang berbeda. Ada hutan yang lebat sekali, orangnya pasti akan mengecil. Karena untuk mencegah penguapan. Rambut juga mungkin lebih keriting. Jadi semua itu yang menyebabkan kita menjadi berbeda dalam perjalanannya. Beragam, bukan berbeda,” ungkap Prof. Dr. Herawati Supolo Sudoyo, Deputi Penelitian Fundamental Eijkman Institute dalam pembukaan pameran ini. Kepulauan Nusantara menjadi menarik bagi para peneliti genetika karena keberagaman genetika. Lokasi Kepulauan Nusantara yang strategis mengalami empat gelombang migrasi manusia modern. Gelombang pertama yang datang ke Nusantara, berasal dari Afrika secara langsung melewati pantai selatan. “Dekat laut, dekat daratan juga. Jalan aja. Waktu mereka datang ke Nusantara, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa masih jadi satu. Lautnya pendek,” kata Herawati. Menurut Herawati, sebagian manusia pada gelombang pertama itu pergi lagi ke satu daratan besar bernama Sahul. Sahul pada zaman itu, atau 50.000 tahun yang lalu, merupakan Papua dan Australia yang sekarang. Gelombang kedua, datang dari mereka yang sebelumnya telah sampai ke Asia daratan. “Ini biasanya pertanyaan. Oh kalau yang gelombang kedua itu mengahabiskan yang pertama ya? Karena perang, kompetisi lahan dan sebagainya. Jawabannya tidak. Karena kita melihat semua DNA yang kita periksa ada campurannya. Jadi itu berarti ada kawin-mawin,” kata Herawati. Gelombang ketiga datang dari Taiwan atau Pulau Formosa. Orang dari Taiwan ini awalnya juga datang dari Asia daratan. Mereka menyebar ke Filipina, Sulawesi, Kalimantan, membawa Bahasa Austronesia. Diaspora Austronesia ini juga sampai ke Madagaskar hingga Pulau Paskah. Sementara itu, gelombang keempat datang melalui jalur perdagangan dan pengenalan keagamaan sekitar tahun 700-1300. Orang-orang dari Eropa, India hingga Timur Tengah masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di Nusantara. “Jadi kalau diperiksa itu, teman-teman yang lahir dan besar di Jepara, Rembang, Semarang, Tuban dan sebagainya, campur seperti gado-gado,” ujar Herawati. Gelombang-gelombang migrasi manusia ke Kepulauan Nusantara, kemudian menyebabkan terjadinya pencampuran gen orang Indonesia. Berangkat dari hal itu, menurut Herawati, toleransi bisa dibuktikan dari hasil penelitian genetika. Menolak Intoleransi Melalui tes DNA dalam proyek ini, yang hasilnya menunjukan keberagaman gen, dapat menjadi pengetahuan yang mencerahkan terkait permasalahan‘pribumi’ dan ‘non pribumi’maupun sentimen ras, etnis, serta agama yang belakangan muncul lagi. Perihal itu, Hamid Basyaib, dari Balai Pustaka, yang juga menjadi pembicara, menyebut bahwa etnisitas, yang seringkali memicu intoleransi hanyalah konstruksi sosial. “Etnisitas ini kan yang dipandang paling core . Itu konstruksi sosial. Maka konsekuensinya sikap rasisme misalnya, tidak punya dasar ilmiah sama sekali,” sebutnya. Menurutnya, sumber-sumber konflik terkait etnis merupakan politik belaka dan bahkan bukan agama. Ia mencontohkan sentimen anti-Semit yang semakin massif pasca didirikannya negara Israel. “Sebelum Israel berdiri itu tidak pernah jadi isu besar. Baru setelah Israel berdiri, baru kemudian dikait-kaitkan dengan hal-hal teologis yang lebih mendasar, yang lebih sakral dan sebagainya,” ungkapnya. Di Indonesia, yang menurutnya merupakan melting pot berbagai ras maupun etnis, sebenarnya telah memiliki sikap toleran sejak dulu. “Sekarang masalahnya, apakah benar bangsa ini juga seperti yang tercermin dipermukaan bahwa intoleran. Saya nggak yakin. Saya kira anda sangat terlalu terpengaruh oleh medsos, pada ujaran-ujaran kebencian pada orang yang kebetulan sangat menonjol,” sebutnya. Hamid menekankan agar masyarakat tidak membenarkan atau kesan-kesan intoleransi tersebut. “Kita nggak perlu memperteguh image bahwa terjadi atau muncul sikap intoleransi yang luar biasa akhir-akhir ini, 10 tahun terakhir, 5 tahun terakhir, atau terkait pilpres. Saya kira itu bukan gejala yang permanen,” katanya. Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDI Perjuangan yang juga merupakan sukarelawan proyek DNA ini menyebut bahwa hasil penelitian DNA dapat membuktikan bahwa manusia Indonesia terbentuk dari pembauran multietnis dan tidak ada yang bisa mengklaim paling asli Indonesia. “Realitas uji coba DNA tersebut semakin mengukuhkan prinsip kebangsaan dan moto Bhinneka Tunggal Ika sebagai realitas yang hidup, menjadi nilai, dan kesadaran bahwa Indonesia adalah satu kesatuan bangsa yang berkesadaran dan berkehendak menyatukan diri dalam satu kesatuan wilayah Nusantara. Heterogenitas inilah yang menjadi alasan mengapa sila persatuan Indonesia begitu relevan,” sebutnya.
- Joker dalam lima Aktor
Musuh abadi Batman sepanjang sejarahnya dalam versi layar perak diperankan lima aktor. Siapa favorit Anda?
- Membaca Ulang Abduh Aziz
Pada 30 Juni 2019 lalu, dunia perfilman Indonesia kehilangan sosok Muhammad Abduh Aziz, Direktur Utama Perum Produksi Film Negara (PFN). Pria kelahiran Jakarta, 10 Oktober 1967 itu meninggal dunia karena serangan jantung, meninggalkan istri dan tiga anak. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-52, buku Film dan Kebudayaan: Esai-Esai M. Abduh Aziz diluncurkan 10 Oktober 2019, bersama rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional 2019 di Istora Senayan, Jakarta. Buku ini merupakan kumpulan tulisan Abduh, yang merekam gagasan dan pemikirannya terkait kebudayaan secara umum dan film secara khusus, yang mana masih relevan dengan dinamika kebudayaan hari ini. Dalam kumpulan ini, terlihat perhatian Abduh terhadap berbagai isu penting seputar kebudayaan, mulai dari RUU Kebudayaan, pers dan agenda kultural hingga persoalan film dokumenter dan film fiksi. Ia juga menyoroti masalah tata kelola pemerintahan di bidang kebudayaan, bayang-bayang Orde Baru dalam film Indonesia hari ini, serta persoalan industri film dan ekonomi. Abduh bukan hanya pemikir tapi juga praktisi yang aktif dalam produksi maupun kegiatan perfilman. Pada 1997, Abduh berkolaborasi dengan Garin Nugroho dalam pembuatan film Daun di Atas Bantal. Baik sebagai produser, penulis naskah, supervisor maupun sutradara, beberapa karyanya antara lain The Rainmaker /Impian Kemarau (2004), Pertaruhan /At Stake (2008), Working Girl (2009), Tjidurian 19 (2009), Atas Nama… (2010), K vs K / Kita Versus Korupsi (2011) dan Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014). Abduh juga salah satu orang film yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah. Baginya, salah satu hal penting dalam pemajuan kebudayaan ialah pendokumentasian. Dalam hal ini, menurutnya negara tidak memiliki visi yang jelas, terlihat dari kondisi Sinematek yang memprihatinkan. “Kita bisa melihat aliran dana untuk institusi penting ini sangat minim, sikap tidak acuh terhadap peningkatan keahlian pekerja arsip film apalagi mutu layanannya. Sikap terhadap kelalaian arsip film serta upaya konservasi materi sejarah film Indonesia menjadi bukti nyata yang tidak dapat dibantah,” sebut Abduh. Perhatian Abduh pada sejarah juga nampak ketika dia berkolaborasi dengan Lasja F. Susatyo membuat film Tjidurian 19 pada 2009. Film ini merekam testimoni pengalaman beberapa seniman Lekra, yaitu Putu Oka Sukanta, Amarzan Loebis, Amrus Natalsya, Martin Aleida, T. Iskandar AS, Hersri Setiawan, Oei Hay Djoen, S. Anantaguna, dan Jane Luyke. Menurut Abduh, film ini tidak hendak membicarakan apakah Lekra adalah bagian PKI atau tidak. Bukan pula hendak menjelaskan tentang peristiwa G30S. “Karena menarik buat gue mengetahui pengalaman. Pengalaman person-person ini pada suatu masa dan pada suatu tempat. Dan ini gue pikir mudah-mudahan bisa membantu orang memahami masa itu dengan lebih jernih,” ungkap Abduh dalam wawancara dengan Jurnal Footage yang disertakan dalam buku ini. Sejak mahasiswa, Abduh telah menjadi koordinator periset penulisan sejarah bioskop di Indonesia (1990). Setelah lulus, ia memimpin rumah produksi Gemilang Enam Mitra (GEM), menjadi produser pelaksana film serial televisi Ali Topan Anak Jalanan , manager program SET Foundation & Komunitas TV Publik Indonesia (KTVPI) pada 2002-2003. Ia Menjadi Direktur Eksekutif Cangkir Kopi Mediavisual pada 2003 hingga 2019. Sejak 2016, ia menjadi Direktur Utama Perum PFN. Hilmar Farid, dalam pengantar buku ini, mengatakan bahwa tulisan-tulisan Abduh adalah cerminan kebudayaan yang begitu kompleks, penuh dinamika, dan ironi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. “Di sini Abduh sebagai pemikir dan praktisi adalah bagian dari gerakan sipil untuk memajukan kebudayaan,” sebutnya.
- Ary Sudarsono si Peluit Emas
SESEKALI ia ambil jeda untuk menyalakan rokok, Ary Sudarsono bercerita banyak tentang kariernya sebagai pemain bola basket. Sambil diselingi menghembuskan asap dari mulutnya, ia juga mengisahkan olahraga tersebut sempat membawanya ke negeri tetangga sebelah utara Sulawesi: Filipina. Bola Basket sudah mendarah daging buatnya. Olahraga inilah yang dipilihnya sebagai jalan hidup sejak kecil. Meski tak selaras dengan cita-cita, ia enggan lempar handuk. Gagal sebagai pemain, ia cari jalan lain dengan meretas reputasi sebagai pengadil lapangan. Kisah perantauannya ke Filipina bermula dari pertemuannya dengan timnas Filipina di sela jadwal cabang basket putra di SEA Games 1979, Jakarta. “Filipina menjelang semifinal mau latihan enggak ada lapangan. Saya dipanggil sama Perbasi untuk bantu cari lapangan dan mendampingi mereka. Kebetulan saya lagi ngajar juga di Kanisius. Jadilah mereka latihan di Kanisius. Saya juga ikutan latihan bermain,” kata Ary kepada Historia. Melihat cara bermain Ary yang ciamik dan beda dari rata-rata pemain timnas basket Indonesia, pihak San Miguel yang jadi sponsor Filipina saat itu terpesona. Saat itu Ary masih aktif sebagai pemain meski sejak 1978 sudah tak lagi di timnas. Pihak San Miguel langsung menawari Ary untuk bermain di Negeri Pinoy itu. Alih-alih langsung menerima, Ary mendiskusikan tawaran itu dengan sang ayah, Sudarsono Brotomidjojo, terlebih dulu. “Saya bilang, kayaknya saya mau ke luar negeri. Papa enggak sanggup karena enggak punya uang. Tapi saya bilang, ada yang ongkosin. Ya sudah, Bismillah saja. Seminggu setelah penutupan SEA Games, ada telefon dari Kedutaan Filipina bahwa saya juga ditawarkan kuliah di sana,” sambungnya. Ary berangkat merantau ke Filipina pada Januari 1980. Ia diberi kesempatan masuk tim Masagana 99, tim semi-pro yang namanya selaras dengan Program Swadaya Beras Presiden Ferdinand Marcos sejak 1962. Sebagaimana dijanjikan San Miguel, Ary juga diongkosi kuliah di jurusan komunikasi massa University of Santo Tomas. Alhasil, sampai sekarang Ary masih fasih berbicara bahasa Tagalog. “Kalau ketemu orang Filipina, ya gue masih bisa bahasa Tagalog. Belajarnya biar cepat ya pacaran sama cewek Filipina. Mereka kan juga sebenarnya bahasanya ‘Taglish’, Tagalog-English, campur-campur,” ujarnya. Di tim Masagana 99, Ary lebih dulu diberi program latihan khusus sendiri selama tiga bulan. Maklum, masih pemain baru berstatus titipan sponsor. Namun setelah menjalani “orientasi” tiga bulan itu, Ary tak jua diberi kesempatan tampil oleh pelatihnya, Boy Afable. “Ini sudah enam bulan kompetisi, saya enggak pernah main. Saya hanya jadi pemain cadangan ke-12. Saya tanya pelatih bahwa saya mau main. Dikasihlah kesempatan jadi cadangan kesembilan di tim kedua. Tapi dikasih latihan tambahan untuk dilakukan di rumah,” tutur Ary. Ary Sudarsono, bercerita panjang lebar tentang kiprahnya di dunia bola basket Indonesia. (Foto : Fernando Randy/Historia) Sial buat Ary. Ia justru dihantam cedera akibat ulahnya sendiri. Berambisi untuk bisa dimainkan, Ary melakoni program latihan yang diberikan lebih dari porsinya. “Dasar saya geblek. Latihan beban saya hanya boleh 20kg sebenarnya. Saya nyolong-nyolong masuk gym latihan angkat beban 60kg dengan harapan kaki kuat dan makin bisa pegang ring lah. Cederalah saya. Apes banget. Kena penyempitan saraf,” ujarnya sambil menunjuk bagian punggungnya. Di rumahsakit, Ary kena omel sang pelatih. Beruntung biaya pemulihan di- cover San Miguel. Butuh tiga bulan buat Ary memulihkan kondisi fisik. Tetapi setelah pulih, pihak sponsor melihat “bakat” lain Ary di basket selain jadi pemain, yakni jadi wasit. “Dipanggil sama pihak sponsor. Dibilang, ‘Elu kan punya cita-cita angkat (nama) Indonesia. Kalau jadi pemain sampai tua enggak bakal tim Indonesia juara. Masuk tiga besar Asia aja susah. Elo jadi pelatih juga dihadapkan kenyataan beratnya pembinaan. Satu-satunya jalan kalau mau lihat dunia mengangkat nama Indonesia, belajar jadi wasit’, katanya,” sambung Ary. Beralih jadi Pengadil Lapangan Ary akhirnya melepas asanya jadi pemain top di tahun 1982. Di tahun itu dia memilih ikut kursus wasit di Filipina, hingga mendapat sertifikat internasional (FIBA) atas nama Filipina. Mulai 1983, ia mulai melanglang-buana mewasiti laga-laga basket. Tahun 1985 ia baru pulang ke Tanah Air. “Semenjak itu karier saya bagus di perwasitan. Saya sempat pimpin 12 pertandingan final internasional kurun 1983-1985. Sampai sekarang belum pernah dipecahin (wasit Indonesia lainnya). Ada (final) Willam Jones Cup, ada Pesta Sukan, ada Kejuaraan Asia Putri, ada pra olimpiade,” katanya. Moncernya karier Ary utamanya sejak menerima anugerah “Golden Whistle” dari FIBA Asia pada November 1983, tak lama setelah Kejuaraan Asia di Hong Kong. Dari situlah ia mulai dijuluki “Si Peluit Emas” alias The Golden Whistle. “Akhir 1983 setelah Kejuaraan Asia saya dipanggil Sekjen Asia yang dari Korea (Presiden FIBA Asia Lee Byung-hee, red. ). Dia umumkan penerima ‘The Golden Whistle Award’ tahun ini, dipanggillah nama saya, Mr. Sudarsono Ary from Indonesia. Nangis gue di situ. ‘Indonesia Raya’ berkumandang. Kebayang tampang bapak gue yang setahun sebelumnya meninggal. Dalam hati, bapak saya mesti lihat nih, akhirnya dapat juga (penghargaan internasional),” kenang Ary. Ary Sudarsono, mengenang masa - masa dimana dirinya menjalani peran sebagai wasit basket. (Foto : Fernando Randy/Historia) Ary diakui sebagai wasit yang keputusannya tak pernah bisa ditentang pemain. Itu berlaku baik di Indonesia maupun di mancanegara. “Sampai pernah koran Bangkok Post menulis, ‘Peluit yang muncul dari wasit ini tak pernah diprotes. Punya ilmu apa?’ Saya enggak punya ilmu apa-apa. Hanya saya menyadari bahwa saya wasit top, harus kasih lihat pemain, siapa gue. Dan gue harus tiup tapi dengan senyum. Jadi setiap foul gue tiup tapi dibarengi senyum, jadi pemain enggak protes,” lanjutnya lagi. Dari profesinya itu, Ary mengingat gaji wasit di laga-laga internasional yang paling bikin kantongnya gendut. “Di Indonesia zaman saya kejuaraan resmi Perbasi, per game sekitar Rp100 ribu. Di internasional saya bisa terima USD250 dengan kurs masa itu (1984) Rp3000 per satu dolar. Paling tinggi di William Jones Cup. Saya per game USD400,” papar Ary. Namun, karier sebagai wasit dilakoninya hanya sampai 1985. Pasalnya, Ary pilih menerima awaran beasiswa dari Alabama Sport Academy, Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam itu ia mendalami studi olahraga terkait perwasitan, kepelatihan, dan promosi olahraga hingga 1986. “Kebetulan kontrak saya juga sudah habis sama San Miguel Beer itu akhir Desember 1986. Sempat ditawarkan jadi warga negara Filipina saja. Tapi setelah papa meninggal, rupanya kehidupan ibu harus didampingi karena saya anak tertua,” terangnya. Beruntung beberapa waktu sebelum pulang ke Tanah Air, ia bertemu pengusaha Aburizal Bakrie di sebuah hotel tempat Ary bekerja sambilan sebagai GLO (Guest Liaison Officer) di Manila. Ia ditawarkan pekerjaan hingga sepulangnya ke Indonesia ia tak menganggur. “Seminggu sebelum pulang, saya ketemu tamu-tamu dari Indonesia, termasuk Aburizal Bakrie. Dari obrolan, saya dikasih kartu nama. Sama dia, gue dikasih kerjaan di divisi pipa. Waduh, gue enggak ada background pipa, bingung. Biasa lihat bola, ini disuruh lihat pipa lagi,” cetus Ary. Ary lalu memutuskan untuk menjajal pekerjaan baru itu. Sebelum meninggalkan Filipina, Ary mendapat surprise dari para petinggi Gintong Alay, badan olahraga yang menggenjot program prestasi Filipina. “Waktu saya di Filipina ikut gabung sama yang namanya Gintong Alay. Macam Program Indonesia Emas gitu lah. Yang mimpin anaknya (Ferdinand) Marcos. Waktu saya mau pulang, dipestakan. Farewell party -nya dibikin sama Imee Marcos. Luar biasalah Filipina, punya kenangan banyak di sana,” kata Ary.





















