top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

    HAMPIR saja putra seorang guru itu menjadi guru juga ketika muda. Jan Gerrit Scheurer, putra guru tadi, sudah beberapa bulan menjadi mahasiswa calon guru. Namun, ketertarikannya dalam dunia penyebaran agama Kristen (misionaris) membelokkan langkah hidupnya. Gereja Reformasi Utrecht dan Nederlandsch Gereformatie Zendingvereniging (Asosiasi Misionaris Reformasi Belanda) kemudian mengarahkannya belajar kedokteran. Scheurer sekolah kedokteran di London dari 1888 hingga 1892. Namun, pendidikan kedokteran yang dijalaninya tidak untuk bertugas di Eropa, melainkan di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Begitu lulus, pada 1893 Scheurer dikirim ke Surakarta. Pria kelahiran desa kecil Gelselaar pada 3 Maret 1864 itu dikirim bersama istrinya yang sudah belajar ilmu keperawatan pula.

  • Agar Bahtera Tak Lekas Retak

    MENTERI Agama Mukti Ali belum lagi menyelesaikan pidatonya saat sekumpulan orang meneriakkan takbir, “Allahu Akbar... Allahu Akbar...” kata mereka bersahut-sahutan. Teriakan takbir itu menutup suara Mukti. Menghentikan pidatonya dan memotong giliran Menteri Kehakiman Oemar Seno Adjie untuk menyampaikan pidato tanggapan atas pandangan umum anggota DPR menyoal Rancangan Undang-Undang Perkawinan pada 27 September 1973. Sejurus kemudian, massa menduduki kursi-kursi Ketua DPR dan menguasai jalannya sidang. Pemimpin dan anggota DPR bubar. Sidang berhenti total. Jalan mencapai UU Perkawinan kian berliku. Cita-cita yang digantungkan sejak zaman kolonial itu akhirnya kembali menemukan jalan buntu. Sama seperti respons ordonansi perkawinan yang pernah digulirkan oleh pemerintah kolonial pada 1937, RUU Perkawinan pun mendapatkan perlawanan dari kelompok Islam yang menghendaki pernikahan diatur berdasarkan syariat Islam. Setelah Indonesia merdeka, kesempatan memperjuangkan kepentingan perempuan semakin terbuka luas. Kongres perempuan pertama setelah perang usai diselenggarakan di Klaten pada Desember 1945. Maria dan Sujatin Kartowijono memimpin kongres yang menghasilkan resolusi gerakan perempuan Indonesia sepenuhnya mendukung revolusi nasional. Di alam kemerdekaan, problem yang dihadapi gerakan perempuan semasa pemerintahan kolonial dientaskan satu per satu.

  • Misi S. Parman Melobi London

    BRIGJEN TNI Soegih Arto, utusan Presiden Sukarno untuk berunding dengan Kementerian Luar Negeri Inggris transit di Prancis. Soegih Arto diterima oleh Kolonel Sumpono Banyuaji, Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Prancis. Sesampainya di kediaman Atmil, Soegih Arto kaget karena melihat atasannya Mayjen TNI S. Parman juga berada di tempat yang sama. “Baru lama kemudian, saya mengetahui bahwa Beliau mengemban tugas yang sama, hanya salurannya ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris,” tutur Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Keberadaan Parman di Paris sepertinya sudah berlangsung beberapa hari sejak Soegih Arto tiba disana. Menurut Soegih Arto, Parman punya misi yang sama dengan dirinya, yakni menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia melalui perantaraan Inggris. Bila Soegih Arto diutus ke Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya jaringan ke pejabat tinggi kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Parman dijemput oleh Atmil Indonesia untuk Inggris Kolonel Sasraprawira menuju ke London.

  • S. Parman, Adik Petinggi PKI yang Jadi Penentang Kuat PKI

    PAHLAWAN Revolusi Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayahnya merupakan pedagang bernama Kromodihardjo. Parman menjalani pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Wonosobo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebried Lager Onderwijs (MULO setara SMP) Yogyakarta. Pada 1937, Kromodihardjo meninggal dunia. Parman pun batal melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS setara SMA). Parman lalu membantu ibunya berdagang di Pasar Wonosobo.

  • Misi Rahasia Jenderal S. Parman

    SUATU hari Willem Oltmans, jurnalis Algemeen Handelsblad mendapat telepon dari Kolonel Sutikno Lukitodisastro, Atase militer (Atmil) Indonesia di Amerika Serikat (AS). Sutikno memberi tahu ada seorang jenderal dari Jakarta yang ingin berbicara dengan Oltmans. Sang jenderal menginap di kamar 1040 Hotel Hilton di Madison Avenue, New York. Oltmans pun segera menghampiri ke sana. “Saya diterima oleh seorang bapak yang ramah dengan pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya, yang ternyata adalah Jenderal S. Parman,” kenang Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku. Oltmans mencatat, pertemuan dengan S. Parman terjadi pada 18 Oktober 1964. Di Belanda, Oltmans punya reputasi sebagai jurnalis investigatif yang tidak disukai pemerintah Belanda. Tulisan-tulisannya yang mendukung Indonesia dalam sengketa Irian Barat menyebabkannya dirinya kena cap persona non-grata lantas pindah ke AS. Secara pribadi, Oltmans juga bersimpati kepada Presiden Sukarno.

  • Suka Duka Bertugas di Sumatera

    DI masa tuanya, Kolonel (Purn.) A.E. Kawilarang nyaris selalu bercerita kisah yang sama jika bertemu dengan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ibrahim Adjie. Kepada kawan seperjuangannya semasa bergerilya melawan tentara Belanda itu, Alex Kawilarang mengaku perutnya pernah “diselamatkan” oleh Adjie. Bagaimana ceritanya? Syahdan, ketika mereka ditugaskan ke Sumatra Utara sekira awal 1949, Letkol Alex, Mayor Utaryo dan Mayor Adjie terdampar di kawasan tempat gembala, beberapa ratus meter dari Kampung Pernantin. Karena merasa lapar, mereka lantas bergerak ke arah pasar. Setelah setengah jam berjalan-jalan, tampaklah oleh mereka sebuah kedai bubur kacang hijau yang banyak dikunjungi pembeli. Alex yang lebih antusias lantas mengajak kedua kawannya untuk singgah. Sayangnya, sejak Perjanjian Renville diberlakukan pada Februari 1948, wilayah tersebut dimasukan dalam kekuasaan Belanda, sehingga uang yang berlaku hanya “uang merah” alias “uang NICA”.

  • Satgas Flu Spanyol di Hindia Belanda

    PANDEMI Covid-19 di Indonesia telah berjalan selama lebih dari satu tahun lamanya. Tercatat hampir tiga juta orang terpapar virus tersebut. Hingga Juli 2021, sebagaimana dikutip laman covid.go.id, pasien meninggal di Indonesia telah menembus angka 76 ribu jiwa. Sementara pasien sembuh mencapai 2,3 juta jiwa. Pemerintah Indonesia terus berupaya menanggulangi bencana kesehatan global ini. Berbagai cara pun dilakukan untuk menekan laju penyebaran virus di masyarakat, seperti membatasi kegiatan di luar rumah, memberlakukan jam malam, mengesahkan aturan baru tentang pandemi, hingga mengadakan vaksinasi. Upaya lain dari pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini adalah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Secara resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dibentuk pada 13 Maret 2020, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pembentukan Gugus Tugas itu bertujuan untuk meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan; mempercepat penanganan Covid-19; mengantisipasi penyebaran virus; serta meningkatkan kemampuan dan kesiapan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons Covid-19.

  • Pundi-Pundi Dana Partai

    DEMI terselenggaranya Kongres ke-6 PKI, Ketua CC PKI D.N. Aidit mengajak kawan-kawannya di Dewan Harian Politbiro CC PKI agar berhenti merokok. Ajakan itu tak bertepuk sebelah tangan. Anggota Dewan Harian memutuskan berhenti merokok, “sedangkan kepada semua pemimpin dan anggota PKI dianjurkan juga untuk menghentikan merokok atau sekurang-kurangnya mengurangi rokok, dan menyerahkan uang yang biasanya untuk membeli rokok buat dana kongres,” demikian isi Resolusi Dewan Harian Politbiro CC PKI tanggal 5 Januari 1959. Resolusi juga menyerukan penghematan, baik di kantor-kantor partai maupun rumah-rumah anggota, terutama pimpinan partai. Selain itu, seruan kepada anggota untuk melakukan suatu pekerjaan atau menanam tanaman jangka pendek. Hasilnya diserahkan sebagian atau seluruhnya untuk dana kongres. Gerakan menutup biaya kongres sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Pada 4 Desember 1958, Panitia Kongres mengedarkan instruksi ke Comite Daerah Besar (CDB), Comite Pulau (CP), dan Fraksi Pusat. Setiap anggota dan calon anggota ditetapkan menyumbang Rp3, yang bisa diangsur tiga kali. Sementara CDB dan CP diharapkan melakukan berbagai kegiatan penggalangan dana.

  • Cerita Tujuh Setan Desa

    PADA sebuah tempat di antara Gunung Gede dan Gunung Salak, Aidit menghunjamkan jemarinya ke tombol-tombol mesin ketik, mengungkai kalimat demi kalimat. Di tempat yang menurutnya tenang dan sejuk itu, dia menulis pengantar laporan penelitian PKI mengenai keadaan petani di pedesaan di Jawa Barat di bawah judul Kaum Tani Menganjang Setan Setan Desa: Laporan singkat tentang hasil riset mengenai keadaan kaum tani dan gerakan tani Djawa Barat. “Kemungkinan tempat itu di Cipanas, karena dia juga sering kesana,” ujar Asahan Alham, adik D.N. Aidit, yang bermukim di Hoofddorp, Belanda, tentang lokasi yang disebut Aidit dalam tulisannya. Ketua CC PKI itu memimpin sendiri penelitian yang dilakukan sejak 2 Februari sampai dengan 23 Maret 1964. Ada 40 orang kader partai yang dikerahkan sebagai peneliti dan tiap orang didampingi pemimpin kaum tani dari tingkat kecamatan dan desa. Desa-desa yang menjadi obyek riset PKI meliputi daerah timur Jawa Barat, seperti di Rancah dan Padaherang di Ciamis, sampai dengan di ujung barat Jawa seperti di Warunggunung, Lebak dan Labuan di Pandeglang, Banten.

  • Kala Prajurit TNI Memenuhi Panggilan Tugas

    SUATU hari pada Mei 2017 di hutan rimba Valdosta, Tongo, sebuah negeri tetangga Indonesia, kengerian mengiringi penggiringan masuk sekumpulan sandera ke kamp tawanan. Di antara para sandera itu, terdapat enam WNI (warga negara Indonesia). Salah satunya Elise Durand (Mentari De Marelle) yang berayahkan seorang warga Prancis bernama Tuan Durand (Arjan Onderdenwinjgaard). Elise dan ayahnya menggigil ketakutan saat dihadapkan pada dua pemimpin kelompok teroris penyandera, Diego (Aryo Wahab) dan Lopez (Restu Sinaga). Kedua pemimpin teroris itu telah mengeksekusi seorang sandera warga Jerman untuk dijadikan contoh jika tak mematuhi apa yang mereka perintahkan. Horor yang dialami para sandera WNI di sebuah negeri fiktif itu jadi permulaan film action bertajuk Merah Putih Memanggil garapan Mirwan Suwarso. Film tersebut mengisahkan heroisme TNI dalam sebuah panggilan tugas nan pelik.

  • Purnatugas Heli Puma

    SELEPAS seruan aba-aba penghormatan, sebuah helikopter SA 330 Puma ditarik dari apron ke Hangar Skadron Udara 8 Wing Operasi 004 TNI AU di Pangkalan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS), Bogor dengan diiringi sepasang tokoh pewayangan Gatotkaca pada Jumat (29/12/2023) pagi. Disemprotkan rintik air dari water cannon, heli bernomor ekor HT-3315 itu secara simbolik resmi mengakhiri masa baktinya. Upacaranya sederhana namun tetap mengharukan. Sebab, sudah 45 tahun heli itu bertugas. Tak seperti alutsista udara lain yang juga dimiliki matra darat dan laut, heli angkut multifungsi medium buatan Prancis itu hanya dimiliki matra udara. TNI AU sempat memiliki 18 unit heli multifungsi itu sejak 1978. Mulanya heli itu bernaung di bawah Skadron 6, tetapi pada 1981 dipindah ke Skadron Udara 8 seiring pengaktifan kembali skadron yang pernah menaungi heli angkut raksasa asal Uni Soviet, Mil Mi-6.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page