top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bertukar Kata Lewat Kamar Bicara

    LANTAI dasar Gedung Telkom di Jakarta Pusat penuh pengunjung. Di dekat ruang tamu, tempat layanan Kantor Telepon berada, orang-orang duduk mengantri untuk menggunakan Kamar Bicara Umum (KBU). Antrian cukup panjang, kadang membuat orang-orang menunggu hingga larut. “Kalau lihat dari lantai atas, Kantor Telepon di Gambir ramai sekali dulu. Biasanya sampai malam masih ramai,” kata Setyanto P Santosa, Direktur Utama Telkom periode 1992-1996, kepada Historia . KBU merupakan Layanan keluaran Telkom yang jadi cikal-bakal wartel. Setyanto terlibat langsung dalam pembuatan kebijakan wartel. Mulanya, Telkom hanya menyediakan KBU di Kantor Telepon. Tiap KBU berisi kursi, perangkat telepon, kipas angin, serta monitor durasi dan biaya. Namun, Kantor Telepon hanya terdapat di kantor-kantor Telkom sehingga ketersediaannya masih terbatas. Rekan Setyanto, Benny Nasution (Kepala Wilayah Telekomunikasi 8 Denpasar periode 1980-an), menemui kendala mengurusi kebutuhan komunikasi di Denpasar yang banyak turis. Ia pun mengusulkan agar Telkom bikin kios telepon supaya ketersediaan layanan telepon umum lebih luas. Usul itu disambut baik Telkom Pusat. Kios telepon pun, menurut Setyanto, pertama muncul di Kuta, Bali pada 1982. Setelah itu pada 1984-1988, wartel-wartel mulai dibangun meski jumlahnya baru 48 buah. “Setelah diskusi, kita kasih nama Warung Telekomunikasi disingkat wartel. Waktu itu dibahas dengan saya, karena saya di Kantor Telkom Pusat yang membidangi regulasi. Jadi Wartel itu perpanjangan KBU,” kata Setyanto. Melihat konsep dan pelaksanaannya yang baik, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Soesilo Soedarman sangat senang dengan proyek ini. Digencarkanlah pembangunan wartel di seluruh Indonesia sejak 1988. Pada 1989 jumlah wartel meninggat jadi 128 buah dan melonjak pada 1993 sampai 1190 wartel. Pihak swasta mulai dilibatkan. Orang-orang bisa menjalin kerjasama dengan Telkom sebagai agen penyedia layanan komunikasi. Syaratnya, mereka harus menyediakan minimal dua alat dan bilik. Urusan sambungan dan teknis disediakan oleh Telkom. Sebagai agen jasa komunikasi, pengelola wartel mendapat komisi dari tiap keuntungan yang didapat Telkom. Usaha ini rupanya laris-manis, model komunikasi telepon makin bisa dinikmati masyarakat luas. “Melalui wartel, swasta mulai berperan dalam bidang telekomunikasi. Laris sekali dulu, kalau pakai kelamaan, digedor-gedor pintunya,” kata Setyanto. Ramadhan KH dalam Dari Monopoli Menuju Kompetisi menulis, kebijakan wartel keluar karena Telkom masih kesulitan memenuhi kebutuhan sambungan telepon di daerah. Rusli Hariyanto, kini pebisnis rental kendaraan di Yogyakarta, menceritakan pengalamannya sebagai pelanggan wartel saat dia nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, tahun 2002. “Dulu belum bawa HP. Semua di pesantren pakai wartel,” ujarnya kepada Historia . Sayangnya, antrian berjubel, padahal waktu yang disediakan untuk istirahat hanya 30 menit, mulai ba’da isya sampai waktu belajar tiba. Maka, sambungnya, “Rebutan itu.” Lantaran KBU yang disediakan wartel di pesantren hanya sedikit, Rusli kadang nekad. “Kadang sih keluar cari wartel karena saking penuhnya, walaupun sebetulnya nggak boleh ya keluar pesantren.” Begitu masuk bilik, dia langsung menghubungi nomor telepon rumahnya. Sebelum di rumahnya ada telepon, Rusli biasa menggunakan telepon umum koin di dekat pertigaan rumahnya di Situbondo, Jawa Timur. Kalau telepon umum koin itu berdering, biasanya teman sekampung yang nongkrong dekat situ akan mengangkat. Rusli lantas minta temannya untuk memanggilkan ibunya. Ketika ibunya meraih gagang telepon, di situlah rindu tuntas terbalas. “Halo, Bu, ini Rusli…”

  • Prabowo dan Kertanagara

    Prabowo Subianto tak percaya hasil quick count (hitung cepat) semua lembaga survei yang memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin. Dia juga tak menunggu hasil akhir penghitungan manual KPU yang diumumkan selambatnya 22 Mei 2019. Dia mengklaim menang berdasarkan hasil quick count, exit poll, dan real count yang dilakukan tim internal. Sehingga dia mendeklarasikan diri sebagai presiden. Bahkan sampai empat kali deklarasi.

  • Sejarah Otonomi Daerah

    Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Indonesia Dari Masa Ke Masa

  • Dialog Lewat Tubuh Penari Lengger

    LEWAT karya terbarunya, Kucumbu Tubuh Indahku , Garin Nugroho mengajak penonton untuk berdialog dengan sejarah lewat perjalanan seorang penari lengger. Ide cerita itu terinspirasi dari kisah hidup Rianto, penari dan koreografer internasional asal Banyumas, Jawa Tengah. “Garin melihat tubuh saya, yang seorang penari, sebagai perpustakaan budaya,” kata Rianto pada Historia. Dalam Kucumbu Tubuh Indahku, Garin menggambarkan kehidupan seorang penari lengger yang harus menampilkan sisi maskulin dan feminin. Tokoh utamanya, Juno, dikisahkan dalam tiga masa: kecil (diperankan Raditya Evandara), remaja (Muhammad Khan), dan dewasa (Rianto). Bagian yang paling sulit, kata Garin, adalah menggambarkan Juno remaja yang mulai terlihat sebagai lelaki gemulai. Garin bersama timnya berusaha menangkap momen bagaimana sisi feminin hadir dalam tubuh lelaki Juno dan bagaimana ia menjadikan tubuh lelaki (lewat tokoh petinju) sebagai pusat perhatian. Muhammad Khan, pemeran Juno remaja, bekerja keras untuk dapat menampilkan hal tersebut. Khan, begitu ia di sapa, melakukan diskusi panjang dengan Rianto yang mementorinya. Selama syuting, Khan tinggal sekamar dengan Rianto untuk lebih menyatukan tokoh Juno remaja dan Juno dewasa. Untuk mendalami karakter femininnya, Khan pernah mejajal tidur dengan penuh make up dan mengenakan pakaian perempuan. “Aku mau merasakan terbangun sebagai perempuan. Karena dalam akting, teknik bisa dipelajari tapi rasa harus dibangun. Kalau tidak bisa menemukan rasa feminin itu, dalam gerak tubuh pun tidak akan keluar,” kata Khan pada Historia. Kisah penari lengger dipilih untuk menjadi contoh keberagaman ekspresi seksual. Lengger merupakan kesenian yang ditarikan lelaki dengan berdandan ala perempuan. Kesenian ini sudah hadir di tengah masyarakat Banyumas sejak lama dan tercatat dalam Serat Centhini yang keluar pada 1814. Pengambilan cerita ini tentu menjadi kontras di tengah konservatisme sebagian kelompok masyarakat. Rianto mencontohkan, beberapa rekannnya mantan penari lengger terkenal urung kembali menari karena mendapat tekanan dari masyarakat. Pun, lewat tokoh warok yang menjadikan Juno sebagai gemblaknya, Garin membuat pernyataan bahwa hubungan sesama jenis bukan hal baru dalam budaya Indonesia. Pemilihan lengger dan reog merupakan usaha Garin mendekatkan tema-tema tersebut pada penonton. Menurutnya, tema serupa seringkali ditampilkan dengan latar belakang masyarakat urban, bukan di pedesaan yang sebenarnya lebih terhubung dengan penonton. “Harus ada penghormatan pada cultural diversity , tidak ada diskriminasi, kekerasan, dan sejenisnya. Saya mencoba menemukan dialog lewat sejarah tubuh seniman,” kata Garin pada Historia . Lebih jauh, Garin tidak hanya memaknai tubuh semata wujud fisik. Ia juga merupakan metafora tentang sebuah bangsa. Ada banyak persoalan yang diangkat Garin dalam film kesembilan belasnya itu. Selain tentang gender dan seksualitas, ia juga menyinggung perihal memori sebuah bangsa yang dikubur dan enggan dibicarakan karena menimbulkan trauma. Garin Nugroho. Foto Nur Janti/Historia Padahal, menurut Garin, trauma bangsa justru harus dibicarakan dengan tuntas agar tidak melulu berulang. Isu G30S yang sengaja dihadirkannya, misal, merupakan salah satu kasus sejarah yang hingga kini masih berlarut-larut dan jauh dari selesai. “Karena trauma terbesar bangsa ini adalah masalah tahun 1965. Memang tentang metafora, bahwa tubuh kita terperangkap dalam trauma yang tidak dipecahkan,” kata Garin. Ia mencontohkan, keluarga-keluarga yang tersangkut masalah politik besar, seperti peristiwa 1965, berusaha bertahan hidup dengan menutup diri dan harus hidup dengan diri sendiri. Representasi itu ditampilkannya lewat tokoh Bibi si penjual ayam yang diperankan Endah Laras dan pakdhe penjahit (Fajar Suharno) yang hidup sendiri lantaran trauma politik yang tidak dipecahkan. Dengan banyaknya pesan yang dibawanya, Kucumbu Tubuh Indahku menyabet enam penghargaan internasional pada 2018. Dua di antaranya yakni Best Cultural Diversity Award dari Unesco dalam Asia Pasific Screen Awards, Australia dan di Venice Independent Film Critic, Italia. Film teranyar Garin ini pun sudah diputar di 31 festival film internasional di berbagai negara. Di bioskop Indonesia, film yang punya judul lain Memories of My Body ini rilis sejak 18 April 2019.

  • Nangke Lande Punye Cerite

    SALING ledek dengan kalimat pedas jadi klimaks persaingan Ratmi (Ratmi B-29) dan Connie (Sutedja), janda tetangga Ratmi. Beny (Benyamin S) yang membela pacarnya, Ratmi, latah ikut mengolok-olok Connie yang tak laku-laku lewat sebuah lagu jenaka nan menggelitik: “Nangke Lande”. “ Nangke Belande diencot-encot jande. Jande kagak laku ketiban nangke lande. Yang mane jande yang mane ikan pede. Gue perthatiin due-duenye same. ” Begitulah bagian reff lagu bertajuk “Jande Tue” yang –lebih populer di kalangan awam sebagai “Nangke Lande”– digunakan Beny untuk mengejek Connie. Lagu ciptaan Benyamin S itu jadi ornamen penting dalam film komedi Ratu Amplop (1974). Salah satu film dari “semesta” komedi Benyamin itu yang tak hanya meledak di pasaran nasional tapi juga di mancanegara. “Sampai ke Malaysia dan Singapura pun diputarnya dulu lama itu di bioskop-bioskop sana karena memang juga sukses besar film-film Benyamin di sana,” kata Connie Sutedja kala mengenang kiprahnya di layar lebar dengan Benyamin, kepada Historia , 11 April 2019. Dianggap Menghina Janda Dalam sebuah kesempatan, Benyamin mendendangkan “Nangke Lande” di sebuah acara malam di TVRI . Nahas, show itu ternyata menuai protes. Soeseno, pemirsa asal Jatinegara, menganggap lagu itu menghina para janda. Pemirsa itu pun melayangkan protesnya lewat surat pembaca di Kompas , 22 Januari 1975. Benyamin yang mengaku tak punya niat menghina para janda, memberi tanggapan juga lewat surat terbuka yang lantas dimuat di Kompas , 3 Februari 1975. “Saya baca surat Sdr. Soeseno, Otista III/Belakang 31 Bonanra (Kebon Nanas Utara) perihal ‘Benyamin S. Jangan Menghina Janda’ dalam lagunya ‘JANDE TUE’. Dengan rasa rendah hati, saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih yang ikhlas atas tulisan tersebut, sehingga merupakan kontrol diri saya dalam menempuh karier dan kehidupan,” ungkap Benyamin, sebagaimana dikutip Wahyuni dalam Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia. Lebih lanjut, Benyamin meminta maaf jika ada janda-janda yang tersinggung. Selebihnya, seniman legendaris Betawi itu juga menguraikan maksud lagu itu khusus merujuk pada karakter janda yang diperankan Connie Sutedja dalam film Ratu Amplop , bukan secara umum kepada para janda. Potongan adegan Benyamin S & Connie Sutedja dalam film Ratu Amplop (Foto: Gambar Tangkap Dailymotion) Benyamin menciptakan lagu itu juga untuk “pembelajaran” bersama agar masyarakat, terutama kaum Hawa, tak mencontoh kelakuan si janda yang diperankan Connie dalam film itu. Karakter janda yang diperankan Connie suka mencela dan menghina orang lain hingga akhirnya jauh dari jodoh. “Begitulah lagu yang saya ciptakan yang sesuai dengan skenario. Jadi bukan semata-mata ditujukan kepada semua janda. Tobat-tobat betul kalau lagu itu saya tujukan kepada semua janda. Saya takut kalau janda-janda tersinggung, saya bisa diboikot semua janda. Padahal ibu saya, kakak saya, adik saya, keponakan saya juga janda yang semoga tidak ikut-ikutan Connie Sutedja di dalam film Ratu Amplop ,” tutup Benyamin dalam suratnya. Dikenang hingga Negeri Tetangga Terlepas dari protes terhadap lagu itu, Connie menikmati anugerah lain ketenaran “Nangke Lande” yang tak hanya punya kesan mendalam di “Negeri +62” namun juga sampai ke negara tetangga. Pengalaman itu dia dapat saat tengah berlibur bersama anak, menantu, dan kedua cucunya ke Singapura pada 2011 silam. “Kita di sana kan menyewa mobil gede, sopirnya orang India, mirip (penyanyi) A. Rafiq. Pas lagi nyopirin kita, dia nengok-nengok terus ke belakang sampai benar-benar mengenali saya. ‘ I know you. You film star, yes ?’ Langsung dia nyanyi itu: ‘ Nangke lande diencot-encot jande, ’ sambil nyetir. Cucu-cucu saya ketawa ngakak,” kenang Connie. Sepanjang jalan, sang sopir pun lantas bercerita bahwa ia fans berat film-film Benyamin. Selain hobi nonton film-film Benyamin, sopir India itu juga mengoleksi album-album Benyamin. “Dia penggemar sudah lama karena memang film-film Benyamin diputar terus di sana, sampai satu bulan (diputar) di bioskop sana. Begitu selesai mengantarkan kita, dia bilang akan kasih diskon, syaratnya hanya diminta berfoto bareng,” tutup Connie yang menikmati potongan harga sewa mobil gara-gara lagu itu.

  • Perempuan-Perempuan Bersenjata

    Dewi Drupadi, istri Prabu Yudistira versi wayang Jawa, bersumpah tidak akan mengonde rambutnya sebelum bermandikan darah Raden Dursosono, seorang Kurawa yang pernah menghinanya. Dewi Woro Srikandi, istri Arjuna, dengan panahnya mencabut nyawa Resi Bisma, guru para Kurawa. Dalam Perang Bharatayuddha, dia tampil sebagai panglima terkemuka Pandawa. Pada masa lalu, perempuan punya ruang yang besar dalam dunia militer. Ann Kumar, sejarawan Australian National University, menyebut sumber paling penting tentang korps perempuan dari keraton Jawa adalah buku harian yang ditulis seorang anggota prajurit éstri Mangkunegaran. Buku itu ditulis pada dasawarsa terakhir pemerintahan Mangkunegara I yang bertakhta tahun 1757-1795. “Mempertahankan korps prajurit seperti ini bukanlah inovasi atau idiosinkrasi Mangkunegara I sendiri. Dia hanya meneruskan adat yang sudah lama dianut,” tulis Ann Kumar dalam Prajurit Perempuan Jawa . Orang-orang Belanda yang berkunjung ke istana raja-raja Jawa, pada masa jaya Sultan Agung, menyebut dikawal oleh ajudan perempuan. Sultan Yogyakarta kedua juga memiliki korps prajurit éstri . Rijklof van Goens, duta besar luar biasa Belanda diutus lima kali ke Keraton Mataram pada pertengahan abad ke-17. Dia menyebut sekira 150 perempuan muda tergabung dalam korps prajurit éstri. Tiga puluh di antaranya mengawal raja saat muncul di depan orang banyak. Sepuluh dari mereka mengusung perkakas raja, seperti bejana air minum, perkakas sirih, pipa tembakau, keset, payung, kotak minyak wangi, dan pakaian-pakaian yang akan diberikan kepada tamu yang disukainya. Sementara 20 orang lain, lengkap dengan senjata tombak dan tulup, mengawalnya dari semua sisi. Van Goens juga mencatat para prajurit itu tidak hanya dilatih menggunakan senjata. Mereka juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik. Sejarawan asal Inggris, Peter Carey, menulis seorang penyewa tanah kesultanan dari Prancis, Joseph Donatiёn Boutet menyaksikan Korps Srikandi di Surakarta, saat berkunjung pada masa Pakubuwono V (1820-1823). Sebanyak 40-an perempuan duduk berbaris di bawah takhta sunan. Mereka dibekali persenjataan lengkap, berikat pinggang dengan sebilah keris. Masing-masing memegang sebilah pedang atau sepucuk bedil. “Harus diakui mereka pasukan kawal yang mengagumkan,” catat Peter Carey dalam Perempuan Perempuan Perkasa . Kebiasaan merekrut perempuan dalam satuan militer juga dijumpai di luar Jawa. Laksamana Prancis, Augustin de Beaulieu yang datang ke Aceh pada 1620-1621, melaporkan bahwa Sultan Aceh konon memiliki 3.000 prajurit perempuan yang bertugas mengawal istana. Mereka tidak diperbolehkan keluar dari kompleks istana dan laki-laki tidak diperbolehkan menemui mereka. “Tak seorang pun boleh masuk ke tempat itu kecuali para kasim yang kabarnya berjumlah 500 orang,” catat Beaulieu. Mereka punya pasar sendiri sebagaimana pasar biasa di kota, di mana mereka memperdagangkan hasil kerja mereka sendiri. Mereka juga memiliki pengadilan sendiri dan beberapa kelompok dengan kapten masing-masing. Bahkan mereka punya jabatan perwira jaga sendiri. Ini seperti di luar istana. Peter Mundy, seorang Inggris, saat mengunjungi Aceh pada 1637, juga sempat melihat pengawal perempuan berjalan membawa busur dan panah.  “Mungkin juga di istana-istana lain di Indonesia, perempuan juga dipekerjakan sebagai pengawal istana,” kata Ann Kumar.

  • Kerah Baju Tanda Status Sosial

    KERAH baru benar-benar muncul khususnya di dunia barat pada pertengahan 1400-an. Hingga pertengahan abad ke-15, nampaknya orang-orang cenderung mengenakan pakaian yang punya garis leher rendah tanpa kerah. Menariknya, kerah juga digunakan sebagai simbol status. Kerah Mandarin Kerah mandarin, kerah tegak, atau kerah choker adalah gaya kerah pendek yang tidak dilipat pada kemeja atau jaket. Gaya ini berasal dari sebutan orang barat pada birokrat Tiongkok era Dinasti Qing. Mereka yang menggunakan pakaian berkerah seperti ini sebagai bagian dari seragam mereka. The Ruff Portrait of a Woman oleh Michiel Jansz van Miereveldt dari 1628 yang menampilkan perempuan berkerah ruff Kerah model ini pada 1500-an mungkin seperti memakai arloji seharga ratusan juta pada masa kini. Itu semacam fesyen yang tak perlu, tapi penting untuk menunjukkan status pemakainya. Kebangkitan model kerah ini beriringan dengan kemajuan pembuatan tepung pati. Bahan ini digunakan untuk membantu terciptanya bentuk kerah ruff yang sempurna. Model kerah semacam ini makin naik daun pada 1580-an dan 1590-an. Ada yang sampai memakai kerah semacam ini dengan bahan sepanjang enam meter. Bahan itu menghasilkan kerah ruff berkerut dengan 600 lipatan. Pemakainya tak cuma perempuan, tetapi juga pria. Namun tak semua rupanya menyukai model kerah ruff . Sekira 1585, kerah ini di London disebut-sebut sebagai mode Prancis. Namun, ketika orang Inggris datang ke Paris, orang Paris yang tak tahu mode akan meledeknya dengan bilang “monster Inggris”. Kegandrungan akan model kerah ruff ini tak bertahan lama. Pasalnya ia sulit dirawat dan mahal. Kerah Medici potret Mariacutea de Meacutedici dalam lukisan Frans Pourbus the Younger Kerah ini berdiri kaku di belakang leher dengan bentuk yang membuka dan meninggi. Model kerah ini populer di kalangan para bangsawan. Ia biasanya dipakai bersama gaun berpotongan leher terbuka dan rendah yang memperlihatkan sebagian dada pemakainya. Agar tetap tegak, kerah ini biasanya diberi kanji dan terkadang kawat. Bahan renda, satin bersulam, atau bahan ringan lainnya dapat membuatnya mencapai ketinggian yang lebih menjulang di atas bahu dan kepala pemakainya. Ia terkadang bertakhtakan permata kecil. Jenis ini diperkenalkan di Prancis oleh Marie de’ Medici, keponakan dari Grand Duke of Tuscany, pada abad ke-16 M. Dia mengimpornya dengan harga luar biasa mahal dari negara asalnya, Italia, karena harus menabrak hukum yang membatasi segala urusan dengan Italia. Sebutan atas kerah ini memakai nama belakangnya dua abad kemudian. Kerah Golila Potret Raja Philip IV dari Spanyol (1601-1665) mengenakan pakaian berkerah golila dalam lukisan karya Diego Velaacutezquez Kerah ini juga merupakan salah satu jenis kerah yang kaku dan melebar di bawah dagu. Ia banyak dipakai selama beberapa dekade awal abad ke-17 di Spanyol. Ia menjadi begitu populer pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Namun kemudian digantikan oleh tren kerah tegak yang lebih praktis dan berbahan ringan, karena model ini sering membuat pemakainya tidak nyaman dan kepala sulit bergerak. Kerah vandyke Model kerah vandyke dalam lukisan karya Sir Anthony Van Dyck (1641-1641) yang berjudul Charles I (1600-49) Kerah besar dengan sisi di dekat leher yang tinggi, lalu mengelepak sampai ke atas bahu. Biasanya dibuat dengan renda atau brokat. Model ini dikenakan pada kuartal kedua abad ke-17. Kerah itu seperti terlihat dalam lukisan karya Sir Anthony Van Dyck yang berjudul Charles I. Kerah Bertha Kerah bertha dalam lukisan karya Adriaen Hanneman dari 1650 Kerah ini melebar dan berpotongan leher rendah, sehingga menonjolkan bahu perempuan yang memakainya. Biasanya terbuat dari bahan brokat, renda atau kain tipis lainnya. Gaun berkerah bertha sangat populer pada abad ke-17 dan ke-19. Kini, model gaun berkerah semacam ini masih sering dipakai, terutama untuk variasi gaun pengantin. Kerah bongkar pasang Pada 1820-an, Hannah Montague merumuskan gagasan untuk menciptakan kerah yang bisa dilepas dari kemeja. Suaminya, Orlando Montague adalah orang pertama yang memakai model ini. Kerah ruff juga sebenarnya bisa dilepas. Namun kali ini bentuknya hanyalah seperti kerah kemeja masa kini. Tujuannya, supaya mudah untuk dicuci. Biasanya kerah baju lebih cepat kotor dibanding bagian lainnya. Segera setelah model kerah ini lahir, Ebenezer Brown dan Orlando Montague mulai memproduksi masal kerah ini di Troy, New York. Kerah yang bisa dilepas biasanya terbuat dari bahan yang berbeda dari kemeja, dari katun hingga linen, dan dibuat hanya dalam satu warna, putih. Karena mereka bisa dilepas, kerahnya biasanya kaku seperti karton. Kerah melekat pada baju dengan satu set kancing, satu di depan dan satu lagi di belakang. Popularitas kerah yang dapat dilepas ini mulai memudar pada 1920-an dan 1930-an. Pemanasan global, kain yang berbobot lebih ringan, dan sikap sosial yang lebih santai mendukung kondisi itu. Kerah Pelaut Pangeran Albert Edward (kelak menjadi Raja Edward VII) dalam pakaian pelaut, lukisan karya Franz Xaver Winterhalter (1846) Kerah ini mungkin menjadi yang paling diingat dari seragam Angkatan Laut Kerajaan Inggris ( Royal Navy ). Kerah ini berbentuk V di bagian depan leher, tidak kaku, dan persegi di bagian punggung. Bentuk kerah ini terus dipertahankan meski model seragamnya terus berubah sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1857. Kerah semacam ini kemudian banyak diadopsi untuk tak hanya seragam angkatan laut. Contohnya seragam sekolah di beberapa negara. Kerah Pendeta Kerah putih yang bisa dibongkar pasang Kerah pendeta yang dapat dilepas diciptakan pada 1865 oleh Donald Mcleod, pendeta Gereja Skotlandia (Presbyterian) di Glasgow. Kerah ini menutup bagian leher dengan bagian kotak kecil berwarna putih pada pangkal tenggorokan. Bagian putih inilah yang bisa dilepas dari bagian kemeja pendeta. Setelah bagian ini dilepas, kemeja pendeta sama saja dengan kemeja-kemeja biasa. Awalnya bagian kerah ini selalu terbuat dari linen atau katun. Namun kini sering dibuat dari plastik. Kerah gaya Edwardian Hakim Mary Margaret Bartelme (1866 - 1954) dalam setelan berkerah yang lazim pada masa Raja Edward Kerah ini digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan kelas atas pada masa Raja Edward VII (1901-1910) di Britania Raya. Pakaian dengan kerah ini biasa dipakai untuk sehari-hari, maupun setelan resmi. Kerah bergaya ini sangat tinggi, menempel pada garis leher, lalu meluas sampai ke dagu. Ia menutupi bagian depan dan belakang leher. Di bagian depan memanjang hingga tenggorokan dan di belakang memanjang hingga garis rambut. Kerah HRH Kerah ini juga lahir pada masa Edward VII. Permbuatnya adalah Charvet, rumah mode ternama asal Prancis, yang merancangnya untuk penguasa Britania Raya itu. Kerah ini pun menjadi populer pada akhir abad ke-19. Kerah Peter Pan Maude Adams sebagai Peter Pan Kerah ini berbentuk pipih dengan sudut bulat. Diberi nama kerah Peter Pan berkat kostum Maude Adams, aktris Amerika ketika memerankan Peter Pan pada 1905. Walaupun sebelum dia pun kerah model semacam ini sudah banyak digunakan. Ketika dipakai sebagai kostum Peter Pan, kerah ini dirancang oleh John White Alexander dan istrinya, bekerja sama dengan Maude Adams di New York. Baik buku atau drama J. M. Barrie, yang menggambarkan Peter Pan memakai jaring laba-laba dan daun, maupun produksi London 1904 asli yang dibintangi Nina Boucicault, memiliki desain kerah yang serupa. Kendati penggambaran Peter Pan berikutnya tidak mengenakan kerah, kerah Adams membuktikan kesuksesan mode di Amerika Serikat dan Inggris dalam mempertahankan hubungannya dengan seni peran. Meskipun telah menjadi bagian dari busana wanita sejak tahun 1900-an, termasuk detail gaun pengantin yang populer pada pertengahan abad ke-20, kerah ini terutama dikaitkan dengan pakaian anak-anak sejak tahun 1920-an. Kerah Peter Pan juga memiliki kemiripan dengan sejumlah desain sebelumnya. Itu terutama kerah col Claudine atau Claudine dari Paris. Kerah ini berbentuk bundar dan biasa dikenakan dengan syal. Kerah Claudine diberi nama sesuai dengan karakter dalam novel Colette pada1900 , berjudul Claudine à l'école , yang digambarkan mengenakannya. Claudine menginspirasi berbagai aksesoris bertuliskan namanya, termasuk claudinet, kerah bundar untuk wanita dan anak-anak, juga parfum. Kerah polo Rene Lacoste mengenakan kaus tenisnya Pada 1933, bintang tenis René Lacoste ingin mengubah pakaian olahraganya menjadi lebih nyaman. Para pemain saat itu mengenakan kemeja katun Oxford dengan lengan yang digulung. Lacoste pun merancang apa yang kini dikenal sebagai kaos polo modern. Dia mendapat ide dari kemeja yang dikenakan oleh teman bermain polonya. Karena itulah namanya kemudian disebut kaos polo ( polo shirt ). Kemeja ini melalui debutnya di lapangan tenis AS pada 1926. Pada 1927 Lacoste menambahkan logo legendarisnya ke kemejanya sebagai penghormatan atas nama panggilannya, le Crocodile. Setelah pensiun dari tenis pada 1932, Lacoste mendirikan perusahaannya yang bernama Eponymous pada 1933. Dia pun mulai menjual kemeja tenisnya kepada publik. Gaya ini dengan cepat diadopsi oleh pemain tenis lainnya serta pemain polo dan golf. Dalam perkembangannya, kaos polo sudah merambah dunia mode dan jadi pakaian serba guna. Kini bukan lagi kaos untuk olahraga saja.  Kerah kekinian Rupa-rupa kerah pada masa kini Pada masa yang lebih modern bentuk kerah makin bebas, bentuknya beraneka ragam. Kerah-kerah yang berkembang pada masa lalu tak jarang menjadi inspirasi bentuk kerah masa kini.

  • Mencintai Tubuh dan Sejarah Kelamnya

    SAMBIL duduk santai di halaman rumahnya, Juno (diperankan Rianto) bermonolog, menceritakan masa kecilnya dengan bahasa Jawa logat Banyumas. “ Uripku isa dideleng sekang leng (hidupku bisa dilihat dari sebuah lubang),” katanya. Dari sanalah kisah hidup Juno mulai diceritakan. Juno kecil (Raditya Evandra) tinggal bersama ayahnya. Ketika bermain di hutan, Juno mendapati ayahnya sedang mandi di sungai sambil meluapkan emosi. Ada kesedihan dan kemarahan. Di pertengahan film, terungkap tentang sejarah keluarga dan trauma sang ayah. Tak lama kemudian, sang ayah pergi. Juno dirawat seorang guru tari lengger (Sujiwo Tedjo) yang menjelaskan arti lengger. Leng berarti lubang dan ngger berarti jengger, jambul pada ayam jago. Penari lengger adalah orang yang berdandan seperti perempuan (leng, lubang) namun sejatinya lelaki (jengger). Si guru tari lengger menyadari ada sisi feminin dan maskulin dalam tubuh Juno, bekal seorang penari lengger. Tapi tak berapa lama kemudian Juno harus pindah lantaran guru tarinya membunuh penari yang meniduri perempuannya. Juno lantas dirawat oleh bibinya yang berjualan ayam. Juno sering membantu bibinya mengecek ayam-ayam yang akan bertelur. Saking ahlinya, dia jadi dukun ayam, melewatkan jam sekolah dengan mlipir ke pasar, tempat warga desa mengantri untuk mengecek ayam-ayam mereka. “ Piye, arep ngendog ora (Bagaimana, akan bertelur kah)?” “Isih suwi, Pakdhe (Masih lama, Pakdhe),” kata Juno setelah memasukkan jarinya ke dubur ayam. Malang bagi Juno, dia ketahuan membolos oleh bibinya. Selain dimarahi, jarinya ditusuk dengan jarum. Ketika cerita beralih pada masa remaja, konsep feminin-maskulin makin kuat. Juno remaja (Muhammad Khan) tinggal bersama pakdhenya (Fajar Suharno), seorang penjahit. Di sinilah ia bertemu dengan seorang petinju (Randy Pangalila) yang menganggapnya seperti adik sendiri. Namun hanya si petinju yang berpikir demikian, lain halnya dengan Juno. Petinju (Randy Pangalila) dan Juno (Muhammad Khan). Penuh Simbol Ada banyak simbol dalam Kucumbu Tubuh Indahku . Selepas filosofi lengger dijelaskan di awal film, bentuk-bentuk lubang dan jengger kerap muncul. Misal, ketika Juno kecil menggulung kaset dengan pulpen, kemunculan alu dan lumpang, merogoh dubur ayam, atau adegan tertusuk jarum yang berkali-kali ditampilkan. Simbol-simbol ini dimasukkan dengan halus hingga memperkuat jalan cerita. Pemilihan nama Juno pun agaknya tak sembarangan. Juno dari Arjuna, salah satu Pandawa. Dalam Mahabarata, Arjuna penah menyamar sebagai perempuan pengajar tari bernama Wrehatnala ketika diasingkan. Melalui Juno, sineas seakan ingin menggambarkan tokoh lelaki berkuasa seperti Arjuna punya sisi feminin. Namun, saling silang dalam Kucumbu Tubuh Indahku tidak hanya ada pada tokoh Juno. Tokoh-tokoh perempuan seperti istri bupati (Queen Dorotea) dan asistennya (Anneke) juga digambarkan punya sisi maskulin dan penuh kontrol. Latar suara yang dengan mulus dihadirkan Mondo Gascaro berhasil menguatkan kesan romantis nan menyayat hati dalam film. Pilihan lagunya, seperti “Rindu Lukisan”, “Apatis”, dan “Hanya Semalam” juga berfungsi jadi penanda zaman yang mengiringi tiap perubahan hidup Juno yang penuh trauma, air mata, dan darah. Akting Raditya Evandra patut diacungi jempol. Lewat ekspresi dan gerak tubuhnya, dia berhasil menampilkan beragam emosi Juno kecil yang polos. Endah Laras pun begitu luwes memerankan warga dusun yang lepas dari stereotip orang kampung, seperti caranya berdandan sebelum ke pasar, memegang dan membawa ayam ketika naik motor, makan di tengah pasar yang penuh ayam tanpa rasa jijik, juga caranya nggembol duit (menyimpan uang dalam lipatan kain batik) seperti yang dilakukan ibu-ibu penjual zaman dulu. Meski ia digambarkan hidup sendiri (tanpa suami dan anak), aura keibuannya begitu kuat ketika berinteraksi dengan Juno. Muhammad Khan dengan sukses menampilkan feminitas seorang remaja lelaki yang mulai paham tentang tubuh dan seksualitasnya. Usut punya usut, Rianto sendiri yang mementori Khan tentang gerak-gerak feminin hingga bisa ditampilkan dengan natural. Luapan emosi yang ia tampilkan di pemandian mengajak penonton bersimpati. Kondisi penuh pertumpahan darah di sekitar Juno memang mungkin memancing frustasi. Adegan kilas balik tentang perjalanan hidup Juno pun diceritakan dengan apik lewat monolog dan tarian penuh emosi oleh Rianto yang memang seorang penari dan koreografer profesional. Meski mayoritas pemeran bukan aktor dan aktris terkenal, Garin Nugroho berhasil mengarahkan pemainnya untuk bisa berekspresi lewat bahasa tubuh. Namun ada yang sedikit mengganjal, logat yang tidak konsisten. Rianto dan guru SD Juno berlogat Banyumas, tempat lengger berasal. Sementara Juno kecil, guru tari lengger, bibi, dan pakdhe berlogat Yogyakarta, dus manajer tim lengger (Mbok Tun) berlogat Jawa Timuran. Melihat inti ceritanya tentang lengger namun ada tokoh-tokoh yang berbahasa Jawa non-Banyumas mengingatkan pada adagium, “Ora ngapak, ora kepenak.” Tubuh yang Menyimpan Trauma Lewat film kesembilanbelasnya ini, Garin Nugroho mengajak penonton untuk memahami sejarah lewat ingatan yang tersimpan dalam tubuh. Karena lewat tubuh, segala realitas hidup dialami secara langsung. Lewat tokoh Juno, Garin menceritakan tentang sejarah kekerasan dan pertumpahan darah dalam setiap peralihan hidupnya. Kakeknya dibunuh karena dituduh PKI, sementara guru tari lenggernya melakukan pembunuhan dengan amat dingin. Tubuhnya menyimpan banyak trauma dan kepedihan yang bila tidak diselesaikan akan menggerogoti jiwa si pemilik tubuh. Seperti biasa, Garin mengusung banyak pesan dalam film ini. Yang terpenting, bagaimana tubuh dan seksualitas dimaknai seiring zaman dan bagaimana kondisi sosial-politik memengaruhi sejarah ketubuhan Juno. Garin menantang ide kolot untuk tidak membahas apa yang mestinya dibahas. Sebaliknya, dia hendak mengajarkan penonton untuk berdialog dengan tubuhnya, tentang sejarah hidup, dan sejarah bangsa. Kucumbu Tubuh Indahku menjadi film yang amat puitis. Juno menjadi simbol bahwa manusia atau bangsa punya trauma mendalam dalam tubuh yang mestinya diselesaikan. Kalau tidak, seperti dipesankan pakdhe penjahit sebelum meninggal, akan menjadi “Bencana neng jero awak.”

  • Histori Inflasi Jelang Pemilu

    Pemilihan umum (Pemilu) sangat penting untuk menentukan perjalanan bangsa. Situasi ekonomi, dalam hal ini inflasi, selalu membayangi setiap Pemilu yang pernah diadakan di negeri ini. “Cuma memang pada Pemilu kali ini, lonjakan inflasi terhitung rendah –atau hampir bisa dibilang tidak signifikan. Inflasi terbesar tahun 2019 ini muncul pada Januari 2019 (0,32%) tapi ini juga masih terhitung wajar karena volume uang memang biasa meningkat pada awal tahun, terkait pembagian bonus, THR, serta pelaksanaan proyek pemerintah dan Pemda yang biasa ‘kejar tayang’ di akhir Desember,” ujar Poltak Hotradero, Senior Researcher Bursa Efek Indonesia, kepada historia.id . Menurut Data Strategis BPS yang terbit 2008, makna inflasi adalah persentase tingkat kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga. Inflasi memang menjadi momok disetiap perhelatan Pemilu. Pemilu pertama tahun 1955,pemilu pertama di pemerintahan Soeharto tahun 1971, dan Pemilu pasca Reformasi juga dibayangi inflasi dengan naiknya harga barang-barang. Inflasi di Pemilu 1955 Pemilu pertama tahun 1955 dibawah kabinet Burhanuddin Harahap. Kabinet koalisi ini terbentuk pada 11 Agustus 1955, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 141 Tahun 1955, dan mulai bekerja setelah dilantik keesokan harinya. Salahsatu program kerjanyamelaksanakan Pemilu sesuai rencana yang sudah ditetapkan dan menyegerakan terbentuknya Parlemen baru. Kabinet ini hanya memiliki waktu sebulan untuk menyiapkan Pemilu. Pemilu pertama ini berlangsung tanggal 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih anggota Konstituante). “Partai-partai politik bekerja keras beberapa minggu menyelenggarakan kampanye terakhir mereka. Pada hari Pemilu sekolah negeri ditutup dua hari, dipakai untuk tempat pemungutan suara. Toko dan pasar ditutup pada hari Pemilu meninggalkan suasana liburan hingga ke dapur,” kenang Molly Bondan dalam Molly Bondan: P engabdian Pada Bangsa, Penuturan dalam Kata-katanya sendiri . Pemilu pertama berlangsung dalam suasana inflasi sebesar 33%. Pada akhir tahun 1955, seperti tertulis dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir 2 terbitan ISEI, tingkat harga naik dengan cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jajasan Urusan Bahan Makanan (JUBM) bahkan mengeluarkan stok beras 400ribu ton dan menaikkan impor beras dari 125ribu ton pada 1955 menjadi 800ribu ton pada tahun berikutnya. JUBM (1953-1956) merupakan lembaga tunggal yang diberi wewenang oleh pemerintah untuk pengadaan beras nasional. Meski diliputi suasana inflasi yang cukup tinggi, Pemilu terselenggara dengan baik. Kampanye partai-partai politik ramai dengan adu ideologi. Akhirnya, PNI menjadi kampiun dalam perolehan suara untuk kursi di DPR, disusul Masyumi, NU, dan PKI. Pemilu = Harga Naik Jelang Pemilu 1971, ibukota sepi. Banyak orang pulang ke tempat asalnya untuk mencoblos. Akibatnya, banyak usaha jasa yang menaikkan harga karena permintaan yang tinggi. Salahsatunya tarif becak. “Biasanya dari rumah ke kantor cuma Rp40, sekarang menjadi Rp80. Gila juga bung,” gerutu seorang pekerja kantoran, seperti dikutip Kompas , 5 Juli 1971. Para penarik becak itu kebanyakan berasal dari daerah. Mereka sudah pulang kedaerahnya masing-masing sejak 28 Juni 1971, seminggu sebelum Pemilu dihelat. Menyusutnya jumlah penarik becak di ibukota ini yang memicu ongkos naik becak menanjak. Para penarik becak yang berasal dari Jakarta pun tampak santai, sebab mereka mencoba tahan harga. “Maklum pak, deket Pemilu,” ujar seorang penarik becak. Menumpang becak dari Jatinegara ke Tebet Utara dari Rp35 menjadi Rp60; dari Lapangan Banteng ke Gedung Kesenian dari Rp15 menjadi Rp25; dan dari Blok M ke Blok P dari Rp35 menjadi Rp60. Selain ongkos becak, harga minyak tanah di ibukota juga naik. Namun kenaikan harga ini ada di tukang pikul, sementara harga di grosir sudah ditetapkan oleh Pertamina. Harga minyak tanah dari tukang pikul pada akhir Juni hingga awal Juli 1971 mencapai Rp17,50 per liter dari harga yang ditetapkan Pertamina Rp13 per liter. “Pemerintah dapat mengendalikan harga minyak tanah hanya terhadap para grosir, dealer dan subdealer , tetapi tukang pikul sulit untuk diawasi,” tulis Kompas , 30 Juni 1971. Kenaikan ongkos becak dan minyak tanah membuat barang-barang semua naik. Harga beras dari Rp40 menjadi Rp60; gula pasir dari Rp95 menjadi Rp110; daging sapi dari Rp350 menjadi Rp450; bahkan sepiring nasi goreng dari Rp150 menjadi Rp175. “Kenaikan yang menyolok ini membuat para ibu rumah tangga bersungut, karena biasanya dengan Rp300 sudah cukup belanja sehari, sementara sebelum pelaksanaan Pemilu harus mengeluarkan Rp500,” tulis Kompas . Padahal sejak tahun 1969, seperti ditulis dalam Media Keuangan Vol . XII No. 121/Oktober 2017, pada umumnya perkembangan harga-harga cukup terkendali. Selama 26 tahun, infasi di atas 10 persen (dua digit) hanya terjadi sebanyak sembilan tahun: 1972-1977, 1979, 1980, dan 1983. Inflasi terendah terjadi pada 1971 sebesar 2,47 persen. Seperti tak ingin kecolongan dalam Pemilu kedua tahun 1977, pemerintah mencoba bersiap dengan kenaikan harga jelang Pemilu. “Kestabilan harga barang di masyarakat selama periode 6-9 bulan mendatang diberikan perhatian khusus. Tidak hanya menghadapi hari raya Ied, Natal dan Tahun Baru, melainkan juga hingga Pemilu,” ujar Josef Muskita, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan, seperti dikutip dari Kompas , 28 Agustus 1976. Langkah pengamanan harga ini dilakukan dengan cara peningkatan suplai bahan dan penyediaan stok bahan. Meski sudah dirancang langkah pengamanan, kenaikan harga jelang Pemilu 1997, yang digelar 2 Mei 1977, tetap saja terjadi. Kenaikan harga ini terjadi di beberapa jenis beras, gula dan minyak goreng. Minggu terakhir April 1977, tulis Kompas, 29 April 1977, beras Pelita dari Rp11.500 per kuintal menjadi Rp12.700 per kuintal, gula pasir impor dari Rp18.000 per karung menjadi Rp18.150 per karung. Kabar kenaikan barang tersebut seperti angin lalu ditengah gempita kampanye. Suara Indonesia , 24 April 1977 , mencatat slogan “Aku Nyoblos Golkar!”; “Yang Apatis Terhadap Pemilu Adalah Pengkhianat”; “Hanya Dengan Pelita Yang Berlanjut, Kebodohan Dan Kemiskinan Bisa Diatasi” menjadi propaganda politik Orde Baru pada masa kampanye Pemilu 1977 untuk mengatrol suara Golkar. Meski ‘diganggu’ dengan kenaikan harga barang, Soeharto tetap melenggang menjadi presiden untuk yang kedua kalinya. Pada Pemilu berikutnya (1982, 1987, 1992, hingga 1997), isu seputar inflasi tak mempengaruhi elektabilitas Soeharto. Dalam Pemilu 1992, misalnya, kabar inflasi memang tak terdengar, larut dalam hingar-bingar kampanye. Kenaikan harga yang justru muncul adalah harga bahan kain TC, dengan campuran polyester dan katun, yang naik dari Rp8.800 per kilogram menjadi Rp9.500 per kilogram. Hal ini terjadi karena permintaan atribut kampanye untuk partai politik. “Pesanan paling banyak berasal dari Golongan Karya (Golkar). Sedang pesanan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dapat dikatakan tidak ada. Kalau ada pesanan, pasti kita terima. Namanya juga bisnis,” ujar pemilik industri pakaian, seperti dikutip dalam Kompas , 1 Juni 1992. Pemilu 1997 adalah Pemilu terakhir Orde Baru. Perhelatan lima tahunan yang digelar 29 Mei 1997 ini masih memenangkan Soeharto. Namun dua bulan kemudian, Indonesia diterpa krisis moneter yang membuat Soeharto mundur pada Mei 1998. Mengendalikan Inflasi Jika pada Pemilu 1955, isu ideologi menjadi bahan kampanye, maka pada Pemilu-Pemilu pasca Reformasi, isu inflasi menjadi isu yang patut dihindari oleh pemerintah yang sedang berkuasa. “Memang setiap pemerintahan petahana paling takut soal inflasi jelang Pemilu, karena bisa timbulkan chaos /ketidakpuasan voter ,” kata Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom muda dari INDEF, kepada historia.id . Petahana akan mati-matian menjaga isu ekonomi jelang Pemilu, apalagi jika perhelatan Pemilu berbarengan dengan situasi ekonomi global yang tidak menentu. Bhima menyontohkan seperti pada Pemilu 2004, Indonesia menghadapi harga minyak dunia yang melonjak dari US$45 menjadi US$68 per barel. Kemudian jelang Pemilu 2009, harga minyak dunia juga sedang mencapai posisi tertinggi di US$162 per barel. “Peristiwa 2009 memang tidak terlepas dari apa yang terjadi tahun sebelumnya. Pada 2008 ada lonjakan inflasi sampai double digit sebagai imbas dari krisis global Lehman Brothers, yang di Indonesia juga berimbas pada guncangan di perbankan, termasuk di dalamnya kasus Bank Century,” kata Poltak. Pada Pemilu 2014, pemilihan legislatif (Pileg) digelar lebih dahulu pada 9 April 2014, sedangkan pemilihan presiden (Pilpres) diselenggarakan pada 9 Juli 2014. Saat itu, menurut Poltak, inflasi saat Pileg lebih tinggi daripada saat Pilpres. “Perputaran uang sepertinya lebih besar terjadi di Pemilu Legislatif ketimbang Pemilu Presiden. Bisa ditafsirkan, money politics lebih kencang di Pemilu Legislatif ketimbang Pemilu Eksekutif,” ujar ekonom jebolan University of Bristol itu. Dan pada Pemilu 2019, menurut Poltak, ada anomali yang positif yaitu meskipun Pileg dan Pilpres dilakukan serentak, inflasi cuma di angka 2,48%. Tahun lalu, seperti dimuat dalam setkab.go.id , 26 Juli 2018, Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepala daerah dan anggota tim pengendali inflasi baik di pusat ataupun daerah karena selama empat tahun mampu menekan inflasi pada angka di bawah 4%. “Untuk tahun ini sepertinya sejarah inflasi jelang Pemilu tidak berulang, data BPS menunjukkan dari Januari-Maret 2019 komponen harga yang bergejolak ( volatile food ) alami deflasi -0,37%. Inflasi secara umum di periode y an g sama hanya 0,35%,” kata Bhima.

  • Kriteria Pemimpin Ideal Menurut Konghucu

    SEBELUM dalam debat terakhir calon presiden (capres) Indonesia yang dihelat pada Sabtu (13/4) malam kemarin menyeru “kita harus contoh ... Republik Rakyat Tiongkok”, Prabowo Subianto pernah mengakui bahwa “dalam menjalankan kepemimpinan, saya banyak sekali dipengaruhi oleh sejarah Tiongkok, oleh filosofi Tiongkok, oleh pelajaran-pelajaran Tiongkok.” Demikian dinyatakan capres nomor urut 02 itu di hadapan para pengusaha Tionghoa yang mengundangnya makan malam bersama pada penghujung tahun 2018 silam.

  • Omar Dani, Kisah Tragis Panglima Sukarnois

    DI kalangan perwira tinggi AD (Angkatan Darat), Menteri/Panglima AU Omar Dani kerap kali dirundung. Namanya dijengkali sekaligus disegani. Dani dijengkali karena dianggap masih perwira belia. Di jajaran panglima angkatan perang, Dani adalah yang termuda. Meski demikian, reputasi Dani tetap diperhitungkan sebab dia panglima pilihan Presiden Sukarno. “Sejak saya di Kalimantan Timur, saya tidak senang pada orang itu (Dani). Saya selalu berpikir tentangnya (sebagai) ‘anak kemarin sore sudah mau memimpin kita’,” demikian pendapat Soemitro kepada Ramadhan K.H. dalam Soemitro: Dari Panglima Mulawarman sampai Pangkopkamtib . Soemitro adalah salah satu jenderal AD yang punya pengalaman  tidak enak terhadap Dani. Waktu itu, Soemitro menjabat Panglima Mulawarman di Kalimantan Timur. Di saat yang sama, Omar Dani ditunjuk sebagai Panglima Komando Siaga (KOGA) dalam rangka konfrontasi ganyang Malaysia. Sebagai panglima di wilayah perbatasan dengan Malaysia, Soemitro harus menyokong rencana operasi KOGA. “Omar Dani, bocah kemarin sore, masih belum punya pengalaman perang,” kata Soemitro. “Tetapi malah disuruh memimpin kami-yang sudah bongkel-bongkel , yang sudah sejak zaman revolusi 45 sampai tua masih terus diajak perang.” Digembosi Oknum AD Penujukan Omar Dani sebagai Panglima KOGA cukup menohok bagi pihak AD. Perasaan itu sudah mengakar sejak Presiden Sukarno mendapuk Dani selaku Panglima AU. Menurut mereka, masih banyak perwira AURI lain yang jauh lebih senior ketimbang Omar Dani. Dan lagi, Dani dikenal sebagai panglima Sukarnois yang mendukung Sukarno tanpa reserve. Dalam perkembangannya, AD menampilkan sikap antagonis terhadap AU. “Mereka yang berada di luar sering lupa, Omar Dani memang seorang komandan yang handal, berpendidikan cukup bagus, berpengalaman tempur serta mempunyai prestasi bagus sebagai komandan skuadron,” ujar mantan tokoh AU Marsekal Madya (Purn.) Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi . Ketika menangani konfrontasi Malaysia, disitulah Dani “dihajar” oleh oknum petinggi AD. Semula yang membantu Dani adalah Laksamana Muda Mulyadi, deputi operasi AL (wakil I) dan Brigjen Achmad Wiranatakusuma, kepala staf Kostrad (wakil II). Pada awal 1965, konflik dengan Malaysia kian memanas. KOGA diganti menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Susunan pembantu Dani diganti lagi. Mayjen Soeharto, panglima Kostrad menjadi wakil I sementara Laksamana Mulyadi turun menjadi wakil II. Kabarnya, Soeharto begitu menginginkan posisi dalam jajaran tertinggi Kolaga sehingga dia menggeser Achmad Wiranatakusuma. Menurut Omar Dani, sebenarnya kinerja Achmad Wiranatakusuma cukup memuaskan. Achmad cukup berjasa menyusun organisasi dan rencana operasi KOGA. Selain itu, Dani dan Achmad membentuk staf yang kompak dengan sinergi kerjasama lintas angkatan. Kedatangan Soeharto membawa perubahan organisasi, mengutak-atik rencana, dan mengacaukan strategi dasar Kolaga sehingga meruwetkan suasana. “Segala apa yang diminta Jenderal Soeharto, tidak ada seorangpun yang berani menolaknya,” ujar Omar Dani dalam biografinya Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani  yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno. Kepemimpinan Omar Dani dalam Kolaga gagal mencapai sasaran. Rencana operasi kerap kali tidak berjalan di lapangan karena AD punya agenda tersendiri untuk mengakhiri konfrontasi. Soeharto secara diam-diam menjalankan operasi khusus berupa aksi penyelundupan pangan ke pihak musuh. Gerakan klandestin ini dijalankan anak buah Soeharto di Kostrad: Ali Moertopo dan Benny Moerdani. Mereka mengerahkan 200 speedboat yang dipakai melintasi Sumatra, Malaysia dan Singapura. Keduanya juga berperan melakukan lobi-lobi rahasia terhadap pejabat politik Malaysia yang bertentangan dengan kebijakan Omar Dani. Selain itu, ada lagi Brigjen TNI Kemal Idris, panglima komando tempur I yang enggan melaksanakan perintah komando untuk melakukan infiltrasi. Puncaknya, dalam rapat pimpinan KOTI, Soeharto mengatakan kepada Presiden Sukarno bahwa Omar Dani kurang pantas menjadi panglima Kolaga. Omar Dani sendiri tidak mengambil tindakan atau mengadu ke mana-mana atas perlakuan yang menyudutkan dirinya itu. Hanya dengan Brigjen Soepardjo, panglima komando tempur II, Omar dani dapat bekerja sama dengan baik. Menurut sejarawan Humaidi, pembangkangan terhadap komando Omar Dani merupakan suatu petunjuk bahwa AD tidak sepenuhnya mendukung upaya Konfrontasi Malaysia. AD beranggapan konfrontasi adalah suatu langkah provokasi PKI menarik dukungan masyarakat dan memperkeruh situasi politik. Sehingga keberlangsungannya harus dihindari. “Keikutsertaan Angkatan Darat dalam Konfrontasi Malaysia adalah suatu tindakan yang kontra-produktif, karena isu konfrontasi hanya menguatkan dukungan bagi kaum komunis yang menjadi pendukung politik gagasan tersebut,” tulis Humaidi dalam tesisnya di Universitas Indonesia “Politik Militer Angkatan Udara Republik Indonesia dalam Pemerintahan Sukarno 1962-1966.” Rontok Setelah Gestok Hari laknat itu tiba: 1 Oktober 1965. RRI mengumandangkan berita terjadinya operasi militer Gerakan 30 September  (G30S) yang telah menyelamatkan Presiden Sukarno. Gerakan yang dipimpin Letkol Untung itu menciduk sejumlah jenderal AD yang diduga akan melancarkan kudeta Dewan Jenderal. Omar Dani menganggap kejadian itu bagian dari konflik internal AD. Segera dia mengeluarkan surat perintah harian yang mengatakan: AURI tidak turut campur dalam G30S dan AURI setuju dengan tiap gerakan pembersihan yang diadakan dalam tubuh tiap alat revolusi sesuai garis Pemimpin Besar Revolusi (Presiden Sukarno). Namun setelah perintah harian itu tersiar, baru diketahui Gerakan 30 September didalangi oleh biro politik yang dipimpin oleh D.N. Aidit, pemimpin PKI. Jelas, Dani mengambil langkah tergesa-gesa yang berakibat fatal dalam hidupnya.   “Perintah harian itu kemudian menjadi persoalan besar di mata kelompok Soeharto,” demikian catatan sejarawan Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah . “Perintah itu dianggap oleh kelompok Soeharto sebagai bukti keterlibatan Omar Dani dalam mendukung G30S.” Situasi politik menggoyahkan kepemimpinan Presiden Sukarno. Secara perlahan, kekuasaan beralih ke tangan Jenderal Soeharto. Dengan dalil pemulihan keamanan yang diperoleh lewat Surat Perintah 11 Maret, Soeharto mulai menangkapi orang-orang yang dicurigai, termasuk Omar Dani. Tudingan yang memberatkan Dani adalah kawasan Pangkalan AU Halim Perdana Kusumah yang kerap dijadikan tempat latihan Pemuda Rakyat, organ pemuda PKI. Selain itu, beberapa anggota AURI diduga terlibat dalam G30S. Pada April 1966, Omar Dani ditahan untuk dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Jurnalis kawakan Julius Pour dalam G30S: Fakta atau Rekayasa mencatat, Omar Dani menyadari dirinya bakal diajukan ke depan sidang peradilan yang penuh fitnah, tekanan serta campur tangan penguasa. Di depan sidang Mahmilub, dengan sikap gagah Omar Dani memberi penegasan: “Segala macam tindakan dari anggota AURI selama berlangsungnya Peristiwa G30S, semuanya tanggung jawab saya, sama sekali bukan tanggung jawab mereka.” Pengadilan Mahmilub pada akhirnya menyatakan Omar Dani bersalah. Panglima Sukarnois ini dijatuhi vonis hukuman mati. Namanya pun dinista selama rezim Orde Baru.*

  • Spesies Baru Manusia Ditemukan

    Di bawah lantai berbatu Gua Callao di Pulau Luzon, Filipina, para peneliti menemukan sejumlah fosil yang diyakini sebagai spesies manusia purba yang sebelumnya tidak diketahui. Temuan baru ini pun disebut akan memperbarui lagi teori evolusi manusia yang selama ini dipahami. Dijuluki Homo luzonensis, spesies yang baru diidentifikasi ini mendiami Luzon lebih dari 50.000 tahun yang lalu, selama zaman Pleistosen Akhir. Artinya, mereka berbagai bumi dengan hominin lainnya, termasuk Homo neanderthalensis (Neanderthal) dan Homo sapiens atau manusia modern. Homo luzonensis, hidup di wilayah yang sama dan pada saat yang sama dengan spesies "Hobbit", Homo floresiensis. Fosil tengkorak “Hobbit” sebelumnya ditemukan pada 2004 di Flores. Menariknya, Homo luzonensis diduga juga bertubuh kerdil, bahkan lebih pendek dibanding Homo floresiensis. Diperkirakan tingginya di bawah tiga kaki, yaitu sekira 92 cm. Ini diketahui lewat gigi mungilnya yang ditemukan. Meski sama-sama mungil, dari bentuk gigi dan kakinya, dan juga sifat-sifat lainnya, Homo luzonensis merupakan spesies yang berbeda. Sampai sekira 15 tahun yang lalu, spesies manusia seakan kesepian. Itu bila dibandingkan dengan gorila yang punya dua spesies, simpanse punya dua spesies, dan orang utan punya tiga spesies. Sementara manusia hanya satu jenis. Namun tak selalu begitu. Ada suatu masa ketika Homo sapiens dan Homo Neanderthal hidup berbagi daratan Eropa selama lima milenium lebih. Hasil studi yang dipublikasikan jurnal Nature itu menyimpulkan adanya kemungkinan kalau kantong-kantong kultur Neanderthal bertahan hingga antara 41.030 dan 39.260 tahun lalu. Kemudian, Homo floresiensis menjadi kerabat sezaman manusia yang ketiga. Setelahnya, pada 2010, para ahli genetika menyatakan satu tulang jari ditemukan di sebuah gua di Pegunungan Altai, Siberia barat. Ia membawa genom berbeda yang mengisyaratkan bahwa itu milik kelompok keempat, Denisovans. Lalu studi terbaru kali ini, penemuan baru yang menggambarkan spesies hominin yang sama sekali baru. Seperti dilansir dari History (10/4), para ilmuwan telah lama mengetahui kalau generasi hominin purba menyebut pulau Luzon sebagai rumah di Asia Tenggara. Pada 2007, para arkeolog di Luzon menemukan tulang kaki tunggal (metatarsal) di Gua Callao, dari 67.000 tahun yang lalu. Analisis menunjukkan fosil itu milik anggota genus Homo. Namun tak diketahui spesies mana. Dalam penggalian berikutnya pada 2011 dan 2015, tim peneliti internasional menemukan 12 tulang dan gigi hominin lainnya. Penelitian yang dipimpin Florent Détroit, dari Musée de l'Homme di Museum Sejarah Alam di Paris, dan Armand Mijares, dari Universitas Filipina di Kota Quezon menemukannya di lapisan batu yang sama di mana sebelumnya ditemukan tulang kaki tunggal. Hasil analisis yang diterbitkan di jurnal Nature menguak sisa-sisa jasad itu terdiri dari tiga individu yang berbeda, termasuk satu remaja. Yang terkini, penelitian berhasil menggali beberapa fosil tulang kaki dan tangan, tulang paha dan gigi. Fosil-fosil itu memiliki beberapa ciri morfologis spesies hominin yang lebih primitif, seperti Australopithecus dan Homo erectus, dan yang lebih maju, termasuk Homo sapiens dan Homo floresiensis. “Apa yang membuat mereka sebagai spesies baru sebenarnya adalah kombinasi dari semua fitur yang diambil bersama," kata Détroit, seperti dikutip History . “Jika Anda mengambil setiap fitur satu per satu, Anda tentu akan menemukannya dalam satu atau beberapa spesies hominin. Tetapi jika Anda mengambil secara keseluruhan, tidak ada spesies lain dari genus Homo yang serupa, sehingga menunjukkan bahwa mereka adalah spesies baru.” Sementara, secara khusus, gigi yang ditemukan di Gua Callao berbeda dari yang dimiliki spesies hominin lainnya. Gigi premolar, gigi yang terletak di antara gigi taring depan dan gigi geraham, memiliki dua hingga tiga akar. Padahal Homo sapiens biasanya punya gigi premolar dengan satu atau paling banyak dua akar. Adapun gigi premolar itu, serta enamel gigi dan dentin, jaringan tulang keras yang membentuk tubuh gigi, lebih mirip dengan Australopithecus dan spesies purba dari genus Homo, seperti Homo habilis dan Homo erectus. Di sisi lain, gigi molar (geraham)-nya sangat kecil. Ini mirip seperti milik manusia modern. "Individu dengan karakteristik gabungan semacam ini tidak dapat diklasifikasikan dalam spesies yang dikenal saat ini," kata Détroit. Gigi molar dan premolar milik Homo luzonensis (Dok. Callao Cave Archaeology Project) Tulang kaki yang diidentifikasi sebagai Homo luzonensis juga menonjol. Ini karena kombinasi fitur primitif dan yang sudah berkembang. Tandanya, ia mungkin memiliki cara berjalan yang khas. Sementara bagian phalanx proksimal, tulang yang membentuk pangkal jari kaki, bentuknya melengkung. Itu dengan pelekatan otot pada tulang yang sudah sangat berkembang. "Karakteristik ini tidak ada dalam Homo sapiens," kata Détroit. Bahkan, tulang kaki yang ditemukan di Gua Callao lebih mirip dengan Australopithecus. Sementara Australopithecus diketahui hanya hidup di Afrika sekira 2-3 juta tahun yang lalu. Hal itu menunjukkan, Homo luzonensis mungkin seperti Australopithecus, memiliki kemampuan untuk dengan mudah memanjat pohon. Ia juga sudah berjalan tegak dengan dua kaki meski tak jelas apakah mereka melakukannya. Homo Luzonensis dan Evolusi Manusia Meski spesies Homo lain diketahui telah menghuni pulau-pulau Asia Tenggara, para peneliti berpikir Homo luzonensis adalah satu-satunya hominin yang ada di Luzon pada saat itu. Homo sapiens paling awal yang dikenal di Filipina adalah fosil yang ditemukan di Gua Tabon di Pulau Palawan. Yang paling tua berusia 30.000 hingga 40.000 tahun lalu. Sebaliknya, para arkeolog baru-baru ini menggali alat-alat batu dan tulang-tulang dari badak yang disembelih di lembah dekat Gua Callao. Ini menunjukkan bahwa Homo luzonensis atau leluhurnya berada di Luzon sekira 700.000 tahun yang lalu. Luzon adalah pulau besar. Pulau ini tidak pernah dapat diakses oleh seluruh benua melalui jembatan darat. Akibatnya, banyak flora dan fauna yang endemik di pulau itu dengan keragaman genetik yang relatif rendah. Fenomena itu, menurut para peneliti, dapat meningkat menjadi spesies yang berbeda secara signifikan dari spesies terkait di benua itu. Ini yang menjelaskan mengapa Homo luzonensis mungkin terlihat sangat berbeda dari kerabat hominin daratannya. Setidaknya selusin spesies dalam genus Homo telah diidentifikasi sejauh ini. Homo sapiens adalah satu-satunya yang selamat. Adapun jumlah pasti spesies manusia purba masih menjadi topik perdebatan yang berkembang selama bertahun-tahun. Pada 2012, para ilmuwan mengumumkan fosil yang ditemukan di Tiongkok adalah milik manusia purba yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka menyebutnya Red Deer Cave people. Penemuan itu kontroversial. Para ilmuwan pun berspekulasi, fosil dapat mewakili spesies baru tak dikenal atau mungkin mewakili populasi sangat awal dan primitif dari manusia modern, yang telah bermigrasi ke kawasan itu lebih dari 100.000 tahun lalu. Seperti penemuan baru lainnya, terkuaknya keberadaan Homo luzonensis telah memperluas pemahaman ilmuwan tentang evolusi manusia. Homo luzonensis dan pembauran dalam ciri fisiknya menunjukkan evolusi Homo. Détroit mengatakan, lima belas tahun yang lalu, evolusi manusia di Asia sangatlah sederhana. Dikatakan kalau Homo erectus keluar dari Afrika, menetap di Asia Timur dan Tenggara dan tidak ada yang terjadi sampai kedatangan Homo sapiens sekira 40-50.000 tahun yang lalu. "Temuan ini adalah bukti baru yang signifikan untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang evolusi manusia, terutama di Asia, di mana evolusi manusia jelas jauh lebih kompleks dan jauh lebih menarik daripada apa yang kita pikirkan sebelumnya,” ujar dia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page