top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Senandung Andung, Mengenang yang Berpulang

    Raungan tangis acap kali memecah dalam perkabungan orang suku Batak. Ratapan ini pun biasanya mengalunkan kata demi kata mirip puisi yang dilagukan. Di kalangan sub etnis Batak Toba, senandung ratap demikian dikenal dengan istilah andung .      “Dulu selalu dikumandangkan setiap ada upacara kematian,” kata etnomusikolog Rizaldi Siagian kepada Historia . Andung berasal dari tradisi lisan warisan leluhur Batak kuno. Tak diketahui persis ihwal andung bermuasal. Namun, ia merupakan produk kebudayaan Batak pra-Kristen. Dalam Kamus Budaya Batak Toba yang disusun M.A. Marbun dan Idris Hutapea, andung berarti ungkapan atau nyanyian; senandung kesedihan yang dinyanyikan. Melagukan andung ( mangandung ) adalah cara mengungkapkan rasa duka, solidaritas, harapan, atau permohonan ketika meratapi kematian sanak terkasih. Menurut Rizaldi, andung masuk kategori music vokal, lament (ratapan). Seorang yang melagukan andung disebut pangandung . Sembari meratap, si pangandung akan menuturkan semua kesedihan dan duka lara dengan kata-kata khusus yang disebut bahasa andung . “Ia bagian dari kebudayaan dan terintegrasi didalamnya,” ujar Rizaldi. “Yang menentang justru yang datang dari luar kebudayaan bersangkutan . ” Bikin Belanda Gentar Di zaman kolonial, tembang andung pernah membuat Belanda gemetar. Sebisa mungkin ratapan itu dihindari. Bagaimana bisa? Kisahnya bermula ketika Sisingamangaraja XII yang menentang kekuasaan kolonial gugur di Dairi pada 1907. Pemerintah Belanda sengaja menyembunyikan jenazah raja Batak itu dari keluarganya. Pun waktu dimakamkan di Tarutung, tak satupun anggota keluarga yang menyaksikan. Mereka baru dapat melihat pusara Sisingamangaraja setelah gerakan pejuang Batak secara total dilumpuhkan.   Pasca kematian Sisingamangaraja, pihak Belanda dilingkupi perasaan risau. Sejarawan cum teolog Walter Bonar Sidjabat mengungkap alasan dibalik kekhawatiran ini. Sekiranya ada keluarga Sisingamangaraja yang turut hadir menyemayamkan jenazah dan mangandung , maka dapat timbul reaksi yang membahayakan Belanda. Menurut Sidjabat, bagi masyarakat Batak, andung diucapkan sambil menangis sekaligus meluapkan kenangan tentang sifat-sifat khusus orang yang ditangisi. Ini kemudian memberikan interpretasi oleh orang yang menangisi tentang riwayat dan arti orang yang meninggal. Dalam hal Sisingamangaraja, tentu akan bertalian erat dengan perjuangannya. “Kata-kata andung itu pasti akan menimbulkan rasa iba dan emosi di kalangan rakyat, dan mungkin sekali pada saat itu akan membangkitkan perlawanan spontan terhadap Belanda sekiranya mereka mengizinkan anggota keluarga hadir pada saat pemakaman yang bersejarah itu,” tulis Sidjabat dalam Ahu Si Singamangaraja:Arti Historis, Politis, Ekonomis, dan Religius Si Singamangaraja XII. Kearifan Lokal yang Terpental Menurut antropolog Togar Nainggolan, tradisi mangandung menjadi kebiasaan yang mendorong orang Batak Toba berbakat dalam menyanyi. Andung dapat membuat pendengarnya terpana, terpesona, bahkan terpantik untuk menitikkan air mata. Pangandung yang lihai biasanya menutupi kepalanya dengan kain ulos sehingga mimik wajah ataupun gelagatnya menangis tersamar. “Walau tak terikat dengan syair yang beraturan, bahasa andung sangat spesial dan jarang diucapkan dalam bahasa sehari-hari. Kata-katanya terpilih. Hal ini masih terasa dalam banyak lagu trio modern,” tulis Togar Nainggolan dalam “Strategi Komunitas Batak Toba untuk Penguatan Karakter Bangsa” termuat di kumpulan tulisan Karakter Batak: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan. Kendati demikian, fungsi andung sebagai kidung ratapan mulai tergeser seiring zaman. Penetrasi zending yang menyiarkan kristenisasi menggerus praktik kebudayaan lama yang mendekati animisme. Tradisi mangandung tak terkecuali ikut tergilas. Menurut Rizaldi Siagian, ada semacam resistensi terhadap andung ditengah-tengah pemeluk agama samawi. Resistensi ini terutama pada kalangan Kristen di Toba. “Karena dianggap paganisme,” kata Rizaldi. Sebagai salah satu warisan budaya yang pernah hidup dan berperan kuat dalam masyarakat Batak Toba, kini ratapan andung kian jarang dilantunkan. Ia bahkan hampir tak ditemui lagi pada masa berkabung orang Batak yang menganut Kristen. Hanya orang tua-tua tertentu saja yang masih dapat menguasai bahasa andung . Pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) terkemuka, Darwin Lumbantobing mengemukakan bahwa senandung andung telah diganti dengan himne gereja yang termaktub dalam Buku Ende (kitab lagu) HKBP. Bila anggota jemaat mengalami kemalangan, maka pelayan gereja yang hadir akan mengiringi acara duka lewat nyanyian Buku Ende . Para pelayat pun ikut serta menyanyikan lagu-lagu rohani sebagai kebaktian penghiburan.     “Tindakan seperti itulah yang membuat posisi andung tergeser dan menghilang dari kehidupan masyarakat Kristen Batak, karena digantikan Ende Huria (Lagu Gereja),” tulis Darwin Lumbantobing dalam “Menemukan Jati Diri dalam Sejarah yang Dilalui” termuat di Konsepku Membangun Bangso Batak: Manusia, Agama, dan Budaya suntingan Bungaran Antonius Simanjuntak. Kendati demikian, tradisi andung tak sepenuhnya mati. Ia pun tak selalu kumandang ketika ada yang meninggal. Andung beralih ke lagu-lagu pop Batak dengan melodi dan lirik yang sedih ataupun cukup hanya dengan alunan seruling.

  • Melacak Jejak Pencak Silat

    PENCAK Silat adalah Indonesia. Satu dari sekian produk budaya bangsa yang tergolong seni beladiri itu berakar dari masa ketika Nusantara masih dipenuhi kerajaan yang silih berganti berjaya dan tumbang. Tak heran bila di setiap ajang olahraga yang mengikutsertakan pencak silat, Indonesia kerap mendominasi. Terakhir, di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, kontingen tuan rumah meraup 14 dari 16 emas yang diperebutkan. Beragam pentas olahraga itu menjadi agen yang meningkatkan popularitas silat. Namun, belakangan silat kian mendunia lewat perfilman. Aktor-aktor laga bekas atlet silat macam Iko Uwais, Yayan Ruhian, atau Cecep Arif Rahman berperan penting mempromosikan silat lewat film Merantau (2009), The Raid (2012), Man of Tai Chi (2013), The Raid 2 (2014), Star Wars: The Force Awakens (2015), hingga Wiro Sableng dan Mile 22 yang rilis tahun ini. Bahkan, Hollywood kini ikut menggarap film-film yang memuat beladiri khas Nusantara itu. Adegan pencak silat dalam film The Raid 2 . (sonyclassics.com) “Tentu saja film-film itu membuka mata dan pikiran masyarakat Indonesia dan dunia tentang pencak silat. Ditambah keberhasilan Indonesia mendominasi cabang silat di Asian Games. Keduanya jadi promosi dahsyat dalam mengambil hati masyarakat Indonesia dan dunia untuk mencintai pencak silat,” ujar Taufan Prasetya, ketua Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia (FP2STI), kepada Historia. Buah Peradaban Austronesia Bicara muasal silat, nyaris mustahil ditelusuri detailnya. Namun, dari berbagai temuan arkeologi, silat sebagai beladiri sudah eksis di Nusantara sejak peradaban Austronesia, masa yang menurut arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar sebagai kebudayaan awal di kawasan Nusantara (6000 SM-1 M). “Sumber paling awal dari seni beladiri di masa prasejarah berkaitan dengan kebutuhan untuk hidup, saat mereka butuh kemahiran berburu untuk mencari makanan yang tersedia dari alam. Untuk mendapatkan hewan buruan, mereka harus punya strategi untuk menjerat, menjebak, dan menaklukkan,” tutur Agus ketika berbicara dalam diskusi bertajuk “Kekayaan Silat Nusantara: Sejarah, Keragaman dan Posisinya dalam Kebudayaan Nusantara” di Universitas Mercu Buana, 7 April 2018. Dari kebutuhan untuk bertahan hidup, orang-orang Austronesia lalu meningkatkan keterampilannya untuk membela diri. Kemahiran beladiri mereka terasah oleh berbagai konflik atau peperangan antarkelompok yang hidup terpisah-pisah. Hal itu diperkuat dengan temuan Batu Gajah dari zaman megalitikum di Pasemah, Sumatera Selatan. Situs Batu Gajah Pasemah di Pagaralam, Sumatra Selatan. (Repro Forgotten Kingdoms in Sumatera ). “Kita menyebutnya Pasemah Warrior. Di reliefnya digambarkan seseorang sedang menaiki gajah memakai topi atau helm, membawa nekara dan bawa banyak senjata. Dia orang Austronesia, nenek moyang kita. Dari reliefnya tadi, berarti mereka sudah punya keahlian beladiri. Ditambah lagi di nekaranya juga ada ukiran yang menggambarkan orang-orang yang sedang membawa perisai. Tapi ya dulu belum ada nama beladirinya, belum disebut silat,” lanjut Agus. Perjalanan waktu memperkaya kemampuan beladiri orang Austronesia dengan masuknya pengaruh asing, terutama dari India dan Cina. Seiring dengannya, kerajaan bermunculan di Nusantara dengan pengaruh utama dari peradaban India. “Pada masa ini secara hipotetik semakin jelas bahwa orang-orang itu mengerti beladiri. Karena tentu mereka harus punya militer yang kuat yang berasal dari kemahiran beladiri untuk menaklukkan Nusantara, bahkan sampai ke Asia Tenggara,” imbuh Agus. Sementara, menurut Oong Maryono dalam Pencak Silat Merentang Waktu , silat sebagai beladiri sudah eksis dan berkembang di abad VII. Ia berkembang hingga ke wilayah kerajaan-kerajaan lain di Semenanjung Malaya atau Kepulauan Filipina lewat perluasan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Sumber lain, Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah karya Edi Suhardi Ekadjati , menyebutkan benang sejarah silat bisa ditarik lebih jauh di tatar Sunda, tepatnya di Kerajaan Salakanagara pada abad II Masehi. Namun, kebanyakan literatur mengenai muasal silat berhulu pada tradisi lisan sehingga diperlukan penelusuran lebih jauh. Yang pasti, tiap wilayah lantas memunculkan silat dengan ciri khas masing-masing. Di Sumatra, selain silat Melayu yang berasal dari Riau, yang tersohor adalah beragam silat Minang yang ketika dipertontonkan, diiringi musik. Silek Minang mirip silat di Tatar Sunda, yang juga diiringi musik, seperti Silat Kendang Balik. Sementara, silat khas Jawa gerakan-gerakannya cenderung lebih halus. Suatu peragaan pencak silat Melayu di Medan, 1948. (Nationaal Archief) Di ibukota, silat Betawi yang kental dengan pukulan sehingga populer dengan nama “Maen Pukulan”, kerap memukau orang sejak masa kolonial lewat pendekar-pendekarnya macam Zaelani dari Perguruan Mustika Kwitang. Dalam sebuah pertarungan melawan Mpek Tan Kiam, pedagang tembakau yang ahli Kuntao, akibat sebuah perselisihan, Zaelani berhasil menang meski dengan susah payah. “Setiap wilayah pasti punya beladiri khas masing-masing. Bisa kita lihat dari tarian-tarian perang di timur Indonesia, baik di Maluku dan Papua. Tapi apakah ini masuk dalam kategori pencak silat? Hal ini tergantung pada definisi pencak silat itu sendiri. IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) mendefinisikan pencak silat punya empat aspek: olahraga, beladiri, seni budaya, dan mental spiritual. Kalau tarian perang Papua punya empat aspek itu, bisa kita sebut sebagai pencak silat juga,” sambung Taufan. “Namun memang belum ada riset dari kami untuk menginventarisir silat yang asli Maluku, Nusa Tenggara sampai Papua.” Yang pasti, relasi antarsuku-bangsa berperan penting menyebarkan silat ke berbagai tempat. Contoh paling konkrit, silat Kali Majapahit. Beladiri warisan Majapahit itu kini justru lestari di Filipina. Silat dalam Perjalanan Sejarah Bangsa Terlepas dari sulitnya menentukan bagaimana proses kelahiran silat dan silat apa yang tertua, Persaudaraan Setia Hati yang berdiri pada 1903 diakui berbagai pihak sebagai perguruan pencak silat pertama. Sementara, organisasi yang memayungi beragam jenis silat pertama adalah Perhimpunan Pencak Silat Indonesia (PPSI), lahir pada 1922. “Ada lagi GAPEMA (Gabungan Pencak Mataram) pada 1943. Namun perkembangan silat di masa Hindia Belanda sangat terbatas karena dilarang pemerintah kolonial. Silat hanya diajarkan di berbagai perguruan secara sembunyi-sembunyi dengan hanya menonjolkan aspek seni budayanya saja,” ujar Taufan. Di zaman Jepang (1942-1945), perkembangan silat sedikit lebih baik kendati harus bersaing dengan beladiri khas Jepang macam Sumo, Karate, dan Jiu-Jitsu yang mulai masuk. Di masa revolusi fisik, kebanyakan anggota laskar memiliki “pegangan” berupa silat. Di masa revolusi itu pula Gabungan Pentjak Silat Seluruh Indonesia (GAPENSI) berdiri pada 1947 dan berganti nama menjadi IPSI setahun kemudian. Peragaan pencak silat Minangkabau. (Troepenmuseum). Silat kemudian dijadikan cabang olahraga dan didemonstrasikan di PON I. “Dua tahun kemudian, seluruh insan pencak silat Indonesia diundang oleh Presiden Soekarno untuk melakukan atraksi di Istana Negara,” tulis GJ Nawi dalam Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi . Seiring makin dikenalnya silat oleh masyarakat mancanegara yang dipromosikan Ketua IPSI Mayjen TNI (Purn) Eddie M. Nalapraya, maka didirikanlah Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (PERSILAT) untuk menaungi pencak silat dunia. Eddie didapuk jadi ketua presidiumnya yang membawahi 69 anggota. Jumlah itu jelas kalah jauh dari yang ada di Indonesia di mana perkembangan perguruan silat melesat. Menurut FP2STI, setidaknya ada 3000 perguruan silat yang masih eksis di Indonesia. Namun, hanya 850 perguruan bernaung di bawah IPSI. “Kalau dari bukunya pak Oong Maryono, disebutkan ada 600 aliran pencak silat. Asumsinya satu aliran saja bisa membentuk sampai lima perguruan. Maka paling tidak saat ini ada 3000 perguruan di Indonesia,” sebut Taufan. Berangkat dari keprihatinan akan eksistensi silat tradisional yang tak tergabung IPSI, “ditambah pandangan miring sebagian besar masyarakat pada para pesilat, khususnya silat tradisional,” ujar Taufan, maka dia bersama sejumlah rekannya mendirikan FP2STI pada 2006. “Kami punya tujuan untuk mempromosikan dan mengedukasi masyarakat terhadap silat tradisional sebagai warisan budaya adiluhung bangsa.”

  • Perempuan dalam Dunia Seni Rupa Indonesia

    DALAM dunia seni rupa Indonesia, hanya ada sedikit nama perempuan perupa. Budaya patriarki yang memposisikan perempuan di bawah lelaki menjadi penyebab utama dalam upaya pembentukan karier perempuan. Lelaki, yang dianggap sebagai pencari nafkah lebih diutamakan dalam urusan pendidikan dan akses aktualisasi diri. Lebih jauh, hal itu juga menjauhkan perempuan dari akses pada pendidikan dan peralatan seni. Tak heran bila seni rupa Indonesia begitu seret dengan kemunculan perempuan perupa. Namun seiring dengan perbaikan zaman, perlahan perempuan perupa bermunculan. Setelah Emiria Soenassa sang pionir, beberapa nama baru bermunculan seperti Sriyani, Zaini, Rahmayani, Yaniar Ernawati, Kartika Afandi, dan beberapa perempuan perupa yang tergabung dalam Grup Sembilan: Ratmini Soedjatmoko, Betsy Lucas, Charlotte Panggabean, Timur Bjerknes, Umi Dahlan, dan Roelijati. “Sesudah dibukanya sekolah seni rupa di ITB dan ASRI, nama perupa perempuan makin bermunculan. Salah satunya Umi Dahlan dari mazhab Bandung yang menampilkan karya bergaya abstrak,” kata Toeti Heraty, ketua Dewan Kesenian Jakarta dekade 1980-an, kepada Historia kala ditemui di kediamannya. Senada dengan Toeti, Astri Wright dalam tulisannya, Indonesia Heritage: Visual Art, juga menilai jumlah perempuan perupa mulai naik pada 1980-an sebagai imbas dari berdirinya institusi pendidikan seni. Banyak perempuan perupa yang telah mendapatkan pendidikan seni, melanjutkan kariernya setelah lulus. Namun, kemunculan banyak perempuan perupa tak otomatis membuat peran perempuan dalam seni rupa tanah air jadi melonjak. Perempuan dalam seni rupa, kata Astri, merupakan generasi tersembunyi. Karier mereka pun tak selalu gemilang. Kartika Affandi misalnya, pada awalnya khawatir dianggap sebagai epigon ayahnya, pelukis Affandi. “Di awal kariernya Kartika pernah mengadakan pameran di TIM, memajang lukisan hitam putih. Sayang sekali tidak ada yang laku. Lalu dia bilang ke saya ndak bisa pulang ke Yogya, akhirnya saya ambil satu lukisannya untuk ditukar dengan tiket ke pulang,” kata Toeti. Tapi Kartika terus mencoba mengembangkan diri tanpa bayang-bayang sang ayah. Dia berhasil. Selain Kartika, ada pula Trijoto Abdullah, putri Abdullah Suriosubroto yang juga adik Basoeki Abdullah. Trijoto disebut-sebut sebagai perempuan pematung pertama Indonesia. Mulanya, Trijoto melukis seperti ayah dan kakaknya. Namun ketika belajar dengan Prof. Tierfelder dan Prof. Schoemaker guru besar ITB, dia mulai mendalami seni patung. Sejak itu namanya lebih dikenal sebagai pematung. Muncul pula nama Ruliyati, yang banyak melukiskan kehidupan rakyat jelata. Setelah itu, nama-nama baru bermunculan, seperti Ida Hajjar, Sri Yunnah, Farida Srihadi, Reni Hoegeng, Ardha, Heyi Ma’mun, Nanik Mirna, Titis Jabaruddin, dan Nunung Ws. Pada dekade terakhir abad XX, Indonesia telah punya lebih dari 100 perempuan perupa. Namun, menurut Agus T. Darmawan dalam tulisannya "Wanita Seni Rupa Indonesia", di Suara Karya 1991, hingga tahun tersebut belum memunculkan nama perempuan perupa yang sepopuler lelaki perupa. Sementara lelaki perupa seperti Affandi atau pematung Edhie Sunarso namanya sudah dikenal dunia internsional, menurut Darmawan dunia seni rupa perempuan Indonesia masih adem-adem saja hingga seolah perempuan dalam seni rupa hadir semata sebagai pelengkap. “Wanita memang tak nampak menggebu di dunia seni rupa, tapi tetap menunjukkan spirit emansipasi yang tak lekang waktu,” tulis Darmawan. Kemunculan perupa perempuan di samping itu juga secara khas membicarakan keperempuanannya. Mereka memiliki tujuan politis akan identitas diri dan karya dalam medan seni.*

  • Pembersihan Setelah Pembantaian di Tanjung Priok

    NERAKA itu menghampiri A.M. Fatwa tepat seminggu setelah insiden berdarah di Tanjung Priok. Didampingi pengacaranya, lelaki asal Bone tersebut tengah diperiksa polisi ketika beberapa petugas dari Satuan Intel (Satuan Tugas Intelijen Khusus ABRI) langsung menyeretnya. “Pengacara saya diancam saat akan mendampingi saya,” ujar Fatwa. Fatwa dibawa ke markas CPM di Jalan Guntur, Jakarta. Dia diperlakukan tanpa mengenal kemanusiaan: dipukuli, disimpan dalam sel penuh air kencing, dihina dan dilarang mengaji serta salat lima waktu. Setelah puas memperlakukannya secara biadab, Satsus Intel membawa Fatwa dengan tangan terbelenggu ke Rumah Tahanan Militer Cimanggis, Depok.

  • Awal Mula Hostes di Jakarta

    ANDA penggemar dunia gemerlap (dugem) kota-kota besar? Jika iya, anda pasti tak asing dengan perempuan pendamping untuk tetamu di tempat hiburan malam. Mereka biasa disebut lady companion di tempat karaoke. Sedangkan di klub malam dan diskotek, mereka bernama lady escort. Tugas mereka mendampingi tetamu bernyanyi dan bergoyang. Kehadiran perempuan pendamping tetamu di tempat hiburan malam bermula sejak 1970-an. Dekade ini mencatatkan pertumbuhan awal tempat-tempat hiburan malam di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Malam di kota-kota besar menjadi lebih panjang dengan kehadiran tempat hiburan malam.

  • Di Selabintana Masa Depan Hindia dan Indonesia Ditentukan

    HAWA dingin tak menghalangi orang-orang untuk beraktivitas. Minggu pagi, parkiran Selabintana Conference Resort (SCR) sudah ramai baik oleh para penginap maupun penduduk sekitar yang ingin liburan atau mengais rezeki. Di bawah pohon beringin tua raksasa, seorang nenek dengan sabar menunggui dagangannya dan melayani orang-orang yang bertanya. Pembeli bunga-bunganya datang silih berganti. “Murah-murah banget. Itu bunga yang kecil daunnya banyak di Pamulang gocapan, di sini tadi cuma sepuluh ribu,” ujar seorang ibu-pembeli asal Jakarta kepada Historia. Selabintana, sekira tujuh kilometer utara Sukabumi kota, sejak lama dikenal sebagai penghasil bunga dan sayur-sayuran. “Di lembah gunung itu terdapat kebun bunga, yang terkenal dengan bunga edelweisnya. ‘Musim Bunga di Selabintana’ merupakan salah satu judul dari pentas sandiwara keliling, Tjahaja Timoer, pada tahun empat puluhan,” tulis veteran Perang Kemerdekaan Mien Adi Hatmodjo dalam memoarnya yang dimuat di buku Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45, “Perjuangan Rakyat Sukabumi”.

  • Ken Angrok Ksatria yang Terkalahkan

    INILAH cerita Ken Angrok. Awal mula dia dijadikan manusia. Adalah seorang anak janda di Jiput. Berkelakuan tidak baik, memutuskan tali kesusilaan menjadikan perhatian bagi Zat yang Maha Gaib.

  • Soendari Gigih Lawan Poligami

    MENGETAHUI suaminya punya kekasih gelap, Siti Soendari marah besar. Adik dr. Soetomo, salah satu pendiri Budi Utomo, itu minta suaminya, Koesoebjono, meninggalkan kekasihnya yang orang Belanda itu. Soendari lahir di Nganjuk, 9 April 1909. Ia anak ketujuh dari pasangan Raden Soewadji dan Raden Ayu Sudarmi, anak Kepala Desa Ngepeh Raden Ngabehi Singowidjojo. Pada awal pernikahan, Soewadji masih bekerja sebagai guru. Namun kerja kerasnya membuat dia akhirnya naik menjadi wedana Maospati, Madiun. Soewadji meninggal ketika Soendari berusia satu tahun. Bayi Soendari lantas dibawa sang ibu ke rumah kakeknya di Ngepeh. Kakeknya yang sudah sepuh itu kemudian meninggal ketika Soendari berusia 4 tahun. Lantaran kehilangan ayah dan kakek, dr. Soetomolah yang menjadi sosok “ayah” baginya. Menurut anak sulung Soendari yang menyusun biografi Siti Soendari: Adik Bungsu dr. Soetomo , Santo Koesoebjono (dan istrinya, Solita Sarwono) , didikan Soewadji diteruskan Soetomo pada adik-adiknya. Soetomo ingin agar adik-adik perempuannya juga mendapat pendidikan tinggi sama seperti lelaki. Sri Oemiyati, kakak perempuan yang paling akrab dengan Soendari, misalnya, melanjutkan studi guru di Belanda. Oemiyati di kemudian hari dikenal sebagai kepala Sekolah Kartini di Cirebon dan anggota Dewan Kota Semarang pada akhir 1930-an. Soendari sendiri mulai kuliah di jurusan hukum Universitas Leiden pada 1927. Ia kakak tingkat sekaligus teman dekat Maria Ullfah yang kuliah  hukum di Leiden mulai 1929. Mereka satu indekos dan patungan uang makan untuk bertahan hidup. Lantaran Soendari tak begitu pandai mengelola keuangan, Marialah yang mengatur uang belanja. Seperti dikisahkan Gadis Rasyid dalam Maria Ullfah Subadio, Pembela Kaumnya, Soendari kerap sarapan bersama di kamar Maria. Makan siang dan makan malam mereka lakukan di kantin yang disediakan untuk mahasiswa. Di hari libur, jika kampus dan kantin tutup, Soendari dan Maria memilih untuk masak sendiri agar lebih hemat. Semasa mahasiswa itulah Soendari bersama Artinah Samsoedin menghadiri Kongres Wanita Internasional Melawan Perang Imperialis dan Fasisme, Agustus 1934 di Paris. Harry A Poeze dalam Di Negeri Penjajah menulis kongres itu diselenggarakan atas prakarsa kaum komunis. Keikutsertaan Soendari dan Artinah atas ajakan Setiadjit dan Roesbandi. Setelah lulus dari Leiden, Soendari kembali berkumpul dengan Maria. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di Struiswijkstraat (kini Salemba Tengah). Maria bertanggung jawab pada urusan uang belanja, sementara Soendari mengurus kebersihan rumah. “Setelah lulus, bekerja sejak 1934 sampai menikah tahun 1939. Setelah menikah, ibu tidak lagi bekerja. Pada 1952 kemudian sekeluarga pindah ke Belanda,” kata Solita Sarwono dan suaminya Santo Koesoebjono (anak Soendari) pada Historia. Soendari menikah dengan Koesoebjono. Menurut Solita, ayah mertuanya tersebut mulanya bekerja sebagai mantri polisi (jabatan di bawah asisten wedana), kemudian ia mendapat promosi menjadi asisten wedana dan terakhir menjadi walikota Semarang. Selama di Semarang, sambung Solita, Soendari bergabung dengan Perwari, organisasi penentang poligami yang jauh lebih lantang dari Gerwani. Kala suaminya diam-diam menjalin kasih dengan perempuan Belanda dan tak bisa meninggalkannya, Soendari memilih pergi membubarkan perkawinannya. Ia kembali ke Jakarta bersama kedua anaknya, Habimono dan Indriya yang masih SD dan SMP. Soendari juga harus bekerja untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Ia pun bekerja di Bank Rakyat Indonesia di Jakarta dan mendirikan perpustakaan di bank tersebut. Bekal pendidikan tingginya membuat Soendari mampu melanjutkan hidup setelah perceraian. “Setelah kembali ke Jakarta, Bu Soendari bekerja untuk men- support anak-anaknya,” kata Solita. *  Tulisan ini diralat pada 14 Januari 2020 dengan tulisan berjudul  Empat Siti Soendari dalam Sejarah Kaum Putri*

  • Sejarawan Sukarnois Berpulang

    GRUP  WhatsApp Alumni Sejarah UI terhentak oleh kabar duka. Berita tersiar: Peter Kasenda meninggal dunia (10/9). UI kehilangan salah satu sejarawannya yang produktif. Meski terhitung sebagai junior, saya tak pernah jumpa beliau di kampus. Maklum saja, Peter Kasenda alumni sejarah UI angkatan 1980 sementara saya angkatan 2010. Terpaut dua puluh angkatan. Kali pertama bersua dengan Bang Peter sekira medio 2013 di Megawati Institute. Saat itu, beliau membawakan materi tentang pemikiran Sukarno. Guyon dan tawa selalu menyelingi kuliahnya, menjadikan pemikiran Sukarno begitu hidup dan tak berjarak. Selalu tentang Sukarno. Sedari lama Peter menggumuli pemikiran Sukarno. Peter Kasenda menulis mulai dari pemikiran Sukarno muda, percintaan Sukarno, hingga hari-hari terakhir presiden pertama Indonesia itu. Skripsinya berjudul “ Machtsvorming dan Machttsaanwending : Studi awal terhadap tulisan-tulisan Soekarno tahun 1926–1933” rampung tahun 1987. Dalam abstraksi skripsinya, Peter mengulik pemikiran Sukarno yang dituangkan secara tertulis. Beberapa di antaranya terdapat di harian Indonesia Moeda , Soeloeh Indonesia Moeda , dan Fikiran Ra'jat , kemudian pledoi pembelaan Indonesia Merdeka dan risalah Mencapai Indonesia Merdeka yang ditulis Sukarno antara 1926–1933. Melalui buah pikiran Sukarno tadi, Peter meneliti bagaimana Sukarno punya gagasan untuk menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda yang mencengkram tanah airnya yang begitu indah, kaya dan subur itu. “Kepada mereka yang tak pernah merasa menikmati hasil pembangunan,” tulis Peter Kasenda dalam satu halaman khusus. Kepada merekalah Peter mendedikasikan karyanya. Tak lupa dia mengucap terimakasih kepada orang-orang kecil macam pedagang buku bekas di Kramat Raya dan Pasar Senen. Mereka yang mau bersusah payah mengadakan buku-buku yang diperlukan Peter dalam penelitiannya. Sebelum dikenal sebagai sejarawan produktif, sejak muda Peter telah aktif menulis, baik di media maupun jurnal. Tulisan pertamanya mengenai Sukarno dimuat harian Prioritas pada 2-3 Oktober 1986. Skripsinya pun kemudian dibukukan pada 2010 berjudul Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926 – 1933 . Selain itu, Peter juga membukukan sejumlah penelitian sejarah kontemporer maupun biografi. Beberapa karya Peter antara lain: Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011), Hari-hari Terakhir Sukarno (2012), Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD: Zulkifli Lubis (2012), Soeharto (2013), Sukarno, Marxisme & Leninisme (2014), Bung Karno Panglima Revolusi (2014), Sarwo Edhie dan Tragedi 1965 (2015), Hari-hari Terakhir Orde Baru (2015), Soekarno Di Bawah Bendera Jepang (2015), Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016). Di kalangan sejawat, Peter dikenal sebagai sosok yang karib. Rekan sepantaran Ali Anwar yang juga redaktur senior Tempo mengenang Peter yang selalu menyapa “selamat pagi” di grup WhatsApp Sejarah UI. Menurut Ali, Peter adalah segelintir contoh sejarawan sejati. Meski pada era Orde Baru banyak orang alergi dengan Sukarno, Peter tetap tekun menulis tentang Sukarno yang diawali dari beberapa surat kabar sampai buku. “Peter sosok yang bersahaja, menganggap adik-adik kelasnya sebagai teman. Dia amat ikhlas membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan literatur dan bimbingan,” kata Ali Anwar lewat pesan WhatsApp . Pun demikian terhadap junior yang lain. Hendaru Tri Hanggoro, alumni sejarah UI 2005 yang juga rekan sesama jurnalis di Historia  mengingat Peter sebagai sosok sederhana nan rendah hati.    “Bang Peter, senior yang sangat ramah dan kemana-mana naik angkot,” tutur pemuda yang akrab disapa Ndaru ini. “Terakhir kali ketemu beliau di dalam terminal Kampung Rambutan, 2017, dengan kemeja batiknya.” Tak hanya di kalangan terdekat, Peter juga cukup dikenal lintas angkatan. Setidaknya melalui karya-karyanya. “Intelektual panutan dengan sejumlah karya-karya tentang Sukarno yang baik hasilnya,” kata Agil Kurniadi, alumni sejarah UI 2010. Rekan lain seangkatan saya, Servulus Erlan de Robert pun senada. “Cerdas dan humoris. Seorang sejarawan-cum-penulis yang produktif,” ujar Erlan. “Saya banyak menikmati karya-karya mendiang. Ia dan buah-buah pemikirannya akan tetap lestari.” Insan sejarah patut berterimakasih pada Peter Kasenda karena karya-karyanya. Selamat jalan Bang Peter.*

  • Kolega Sang Panglima Mandala

    Amir Machmud merupakan salah satu perwira Soeharto yang paling diandalkan. Ketika kampanye pembebasan Irian Barat berlangsung, Amir Machmud menjabat Kepala Staf Gabungan II yang membidangi urusan operasi. Soeharto sendiri adalah panglimanya di Komando Mandala.  Apalagi saat persiapan Operasi Jayawijaya. Amir sering mendampingi Soeharto mengadakan peninjauan ke berbagai pos-pos penting. Pada kesempatan itulah, Amir makin mengenal watak Soeharto. Menurut Amir, meski pendiam, Soeharto adalah seorang konseptor ulung. “Pembawaannya sederhana tetapi selalu serius,” kenang Amir dalam Otobiografi H. Amir Machmud: Prajurit Pejuang . Kalau ada hari-hari libur, kebanyakan perwira mengadakan piknik, rekreasi, dan lain-lain. Namun Amir menyaksikan Soeharto selalu berdiam di markasnya. Soeharto juga punya kebiasaan bertirakat,  terutama menjelang suatu tindakan yang penting. “Pada saat-saat itu seharian ia tak makan dan minum,” kata Amir. Kelak di kemudian hari, Amir menjadi orang dekat Soeharto ketika si panglima Mandala ini naik takhta kepresidenan.  Klik Perwira Menjadi panglima Komando Mandala barangkali kiprah paling membanggakan dalam karier ketentaraan Soeharto. Tapi sang jenderal tak bekerja sendirian. Soeharto dalam otobiografinya menyebutkan beberapa nama yang membantunya menyusun operasi militer.   “Wakil saya dalam melaksanakan tugas ini, sebagai Wakil Panglima adalah Kolonel (L) Soebono dan Kolonel (U) Leo Wattimena, dan Kepala Staf kami adalah Kolonel (Inf.) A. Tahir,” ujar Soeharto kepada Ramadhan K.H dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Selama bertugas di markas Mandala, di Makassar, Soeharto menampilkan kepemimpinan yang sama sebagaimana dirinya mengasuh Divisi Diponegoro. Gaya ini, menurut sejarawan Robert Elson dicirikan oleh kelompok perwira komplotan “ala klik” di sekeliling Soeharto. Untuk membentuk kesetiaan diantara pasukannya, Soeharto sangat memperhatikan kebutuhan mereka. “Mereka merespon Soeharto dengan sangat loyal dan penuh hormat,” tulis Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik . Sosok utama dari kelompok perwira Soeharto adalah Kolonel Soedomo yang ditunjuk sebagai Panglima AL Mandala. Dari kubu AD, tersebutlah Brigjen Rukman dan Kolonel Amir Machmud. Rukman, mantan rekan Soeharto di Sekolah Staf Komando AD (SSKAD) dipercayakan memimpin operasi pendaratan dalam rencana invasi bersandi “Jayawijaya”. Selain Rukman dan Amir, beberapa nama lain yang patut diperhitungkan ialah Letkol Ali Moertopo, Mayor Untung Sjamsuri, dan Mayor Benny Moerdani. Ali dan Untung merupakan anak buah Soeharto sewaktu di Divisi Diponegoro. Sementara Benny, prajurit komando dari satuan RPKAD (kini Kopassus). Ketiganya perwira menengah yang kebanyakan bekerja di lapangan tempur. Ali Moertopo bertugas mengembangkan kemampuan Komando Mandala di bidang intelijen dan operasi penyusupan. Untung Sjamsuri adalah komandan batalion dari satuan Banteng Raiders yang diterjunkan ke kota Sorong. Dia bergerilya dalam Operasi Srigala. Seperti Untung, Benny pun memimpin pasukannya menembus rimba di Merauke dalam Operasi Naga. Dalam misi infiltrasinya, Untung dan Benny pernah hampir mati lantaran tertawan oleh tentara Belanda. Setelah kampanye berakhir, pengorbanan mereka menyabung nyawa diganjar penghargaan. “Benny dan Untung sama-sama penerima Bintang Sakti, tanda kehormatan tertinggi bagi seorang anggota ABRI,” tulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, & Petualang. Nasib Para Kolega Misi Irian Barat akhirnya dimenangkan. Komando Mandala lantas dibubarkan. Dari semua perwira klik Soeharto, tak semuanya bernasib sama. Ada yang bersimpang jalan karena perkara politis. Ada pula yang tetap membina hubungan patron-klien, terlebih ketika Soeharto berkuasa. Soebono dan Tahir relatif aman. Pada 1973, Soebono menjadi orang nomor satu di matranya sebagai Kepala Staf AL. Tahir sempat diangkat menjadi Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dan kemudian berkhidmat sebagai ketua umum Legiun Veteran. Pun demikian dengan Amir Machmud yang dipercaya Soeharto menjabat Menteri Dalam Negeri selama tiga periode. Soedomo barangkali yang paling langgeng mendampingi Soeharto. Antara 1969--1973, Soedomo berjaya menjadi KSAL. Ketika diangkat menjadi Panglima Kopkamtib (1978--1983), Soedomo membantu Soeharto menggebuk mereka yang oposisi terhadap Orde Baru. Soedomo menduduki sejumlah posisi penting lainnya yakni Menteri Tenaga Kerja, Menteri Kordinator Politik dan Kemanan dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung hingga Soeharto lengser. Di tangan Soeharto, karier militer Benny Moerdani melejit. Puncaknya ketika Soeharto mendapuk Benny sebagai Panglima ABRI (1983--1988). Dia menjadi tangan kanan sekaligus pelindung Soeharto meski pada akhirnya tersingkir. Benny terpental dari gelanggang kekuasaan karena menyinggung Soeharto soal kelakuan bisnis anak-anak Soeharto.   Sementara Rukman sempat menggantikan Soeharto mengomandoi daerah Indonesia Timur. Dia merupakan panglima Cenderawasih pertama. Setelah prahara 1965, Rukman mengalami nasib nahas. Terindikasi sebagai perwira kiri, Rukman dipenjarakan dan kiprah militernya berakhir seketika. Untung Sjamsuri lebih tragis lagi. Dianggap terlibat makar dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S), penerima Bintang Sakti ini dieksekusi mati pada 1966, saat Soeharto mulai mengambil alih kepemimpinan negara. Satu nama yang juga patut disebut adalah Leo Wattimena. Panglima AU Mandala ini adalah seorang penerbang tempur. Dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto , Salim Said menuturkan betapa hubungan Leo dan Soeharto sangat baik selama kampanye Trikora. “Kalau Leo terbang, biasanya Seoharto menanti di pangkalan udara sampai Leo mendarat kembali,” kata Salim Said. Tapi, hubungan Leo dengan Soeharto mendadak rusak pasca 1965. Citra AU begitu tercoreng  - termasuk para perwiranya – karena dituding mendukung G30S. Leo kemudian dikirim ke Roma sebagai  Duta Besar Indonesia untuk Italia. Kepada Salim Said yang berkunjung ke Italia pada 1970, Leo menuturkan harapannya untuk mendapat tempat di Departemen Pertahanan selepas masa dinas jadi dubes. “Tapi,” kata Salim Said, "bagi Soeharto dia sudah selesai.”

  • Utusan Seni Merangkap Telik Sandi

    NYARIS setiap kata yang keluar dari mulut Aminuddin TH Siregar begitu menggebu ketika melempar komentarnya soal sosok kakak-adik seniman kelahiran Banten, Agus Djajasoeminta dan Otto Djajasoentara (Djaja Bersaudara). Kritikus seni cum kandidat doktor sejarah seni Universitas Leiden, Belanda itu merasa peran mereka harus diangkat dalam sejarah bangsa berbekal kuas cat, bukan senjata. Bukan berarti, Djaja Bersaudara tak berkontribusi dalam perjuangan angkat senjata dalam mempertahankan republik. Anggapan kegamangan revolusi yang dialami mereka di masa perjuangan 1945-1949 bukan karena mereka tak punya nyali pasang badan terhadap desingan peluru musuh. “Saya menafsirkan bahwa mereka merasa, untuk ikut berjuang, tak harus pakai senjata. Dengan pensil dan kuas cat pun yang menghasilkan karya, itu sudah termasuk perjuangan,” kata Aminuddin dalam diskusi bertajuk “Hidup dan Karya Djaja Bersaudara” di Festival Seni Multatuli yang dilangsungkan di pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Kamis (6/9/2018). Aminuddin melanjutkan, Djaja Bersaudara sebenarnya, bahkan sejak zaman pendudukan Jepang, sudah fasih terhadap dunia kemiliteran. “Otto Djaja kan ikut PETA (Pembela Tanah Air) juga. Di kemiliteran perbantuan Jepang itu juga Otto Djaja bisa kenal baik dengan Pak Harto (Presiden Soeharto), yang dulu juga ikut PETA. Berarti kan dia sudah sadar bahwa dia akan dipersiapkan Perang Asia Timur Raya,” lanjut Aminuddin. Diskusi "Hidup dan Karya Djaja Bersaudara” di pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Pasca-proklamasi, keduanya meleburkan diri ke dalam Divisi Siliwangi. “Bahkan sampai 1946 Otto Djaja sudah berpangkat mayor. Kalau diteruskan bisa jadi jenderal dia. Tapi kan dia di tahun 1946 itu pilih resign dan kembali jadi seniman lukis. Lantas mereka berdua berangkat ke Belanda dengan beasiswa Malino dari Belanda,” sambungnya. Inge-Marie Holst dalam Dunia Sang Otto Djaja: 1916-2002 mengungkapkan, bantuan dana (beasiswa) Malino merupakan hasil Konferensi Malino 16-24 Juli 1946, konferensi di mana Gubernur-Jenderal Hubertus van Mook melobi Perdana Menteri Sutan Sjahrir di Sulawesi. Selain upaya pembentukan negara federal, konferensi itu merilis kesediaan Belanda membiayai para pelajar Indonesia belajar berbagai macam ilmu pengetahuan di Belanda. Djaja Bersaudara, yang beberapa lukisan mereka dibeli Van Mook saat pameran di Jakarta, 20 Februari 1947, termasuk yang mendapatkannya. Bersama sejumlah mahasiswa lain, maka keduanya berangkat ke Negeri Tulip meski dianggap pengkhianat. “Mereka diolok-olok sebagai pengkhianat. Padahal di Indonesia masih masa revolusi, mereka malah pergi ke Belanda. Semasa revolusi kan juga hampir tidak ada catatan tentang mereka. Dalam satu majalah seni, mereka dianggap antek Van Mook,” ujar Aminuddin. Djaja Bersaudara Memata-matai Belanda? Namun, pandangan berbeda disuarakan Amir Sidharta, kurator Istana Kepresidenan dan Museum Universitas Pelita Harapan yang turut jadi pembicara di diskusi itu. Menurutnya, kecaman-kecaman pedas kepada Djaja bersaudara justru diyakini hanya “taktik pengalihan saja”. Djaja Bersaudara diikutkan dalam Beasiswa Malino via restu Presiden Sukarno yang memberi misi khusus: memata-matai Belanda. Beberapa Piagam Penghargaan dari Kementerian Pertahanan terkait Peran Agus Djaja di Masa Perjuangan “Memang kalau arsip atau dokumennya tidak ada karena masalahnya kan pasti rahasia dan tidak umum. Atau mungkin sengaja ada yang menulis (di media masa itu) untuk mengecam mereka agar seolah-olah mereka berkhianat pada republik. Ya agar di Belanda mereka juga tidak dicurigai,” kata Amir. Keyakinan Amir berangkat dari temuan beragam lampiran piagam dari Kementerian Pertahanan RI di buku Agus Djaja dan Sejarah Seni Lukis Indonesia karya Solichin Salam. “Salah satu piagam menyebutkan penghargaan atas perannya dalam intelligent service sebagai perwira (Divisi) Siliwangi terkait Agresi I (Aksi Militer Belanda terhadap Indonesia, 21 Juli 1947). Dan ini penghargaan khusus, bukan seperti pada umumnya veteran pejuang lain,” jelasnya. Amir juga memperkuat pandangannya dengan menanyakan langsung kepada Otto Djaja pada 2002. “Waktu ketemu Pak Otto, juga dia bilang dia ditugaskan ke Belanda (via beasiswa Malino) sebagai mata-mata oleh Bung Karno.” tambahnya. Piagam-Piagam Agus Djaja dari Kementerian Pertahanan dan Kodam III Siliwangi atas Perannya dalam "Intelligent Service" Otto memang mengisahkan lebih dalam tentang apa dan bagaimana kegiatan telik sandinya bersama Agus Djaja di Belanda. “Sepertinya memang ada sesuatu yang lebih spesifik dan meyakinkan tentang penugasan dan keterlibatan beliau di Belanda. Soal bagaimana memata-matainya, beliau sayangnya tak bercerita lebih detail saat itu. Tapi ini menjadi bukti, walau mereka di Belanda-pun, tetap dianggap berjuang,” tandasnya.

  • Balada Benny dan Nyonya Cendana

    BENNY Moerdani begitu terpukau saat memasuki Masjidil Haram untuk kali pertama sekaligus terakhir dalam hidupnya. Pengalaman Benny itu agak janggal dan tak seyogianya. Pasalnya, Si Jenderal Intel ini beragama Katolik. Sedangkan Tanah Haram, yang letaknya di sekitar Makkah dan Madina adalah kawasan suci dan dimuliakan umat Islam.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page