top of page

Hasil pencarian

9822 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Orang yang Mengusulkan Nama Gelora Bung Karno

    Suatu pagi sambil minum kopi, beberapa orang menteri berkumpul di serambi belakang Istana Merdeka. Di antara mereka hadir Menteri Olahraga Maladi, Menteri Dalam Negeri dr. Soemarno Sosroatmodjo, Menteri Agama Saifuddin Zuhri, dan beberapa pejabat sipil dan militer. Mereka tengah membicarakan nama untuk kompleks olahraga yang terletak di Senayan untuk penyelenggaraan Asian Games IV. Mereka sepakat memberi nama Pusat Olahraga Bung Karno, namun Saifuddin tidak setuju. “Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga,” kata Saifuddin dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Semua mata tertuju kepadanya. “Mengapa?” tanya Sukarno. “Kata ‘pusat’ pada kalimat ‘Pusat Olahraga’ itu kedengarannya kok statis tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga,” jawab Saifuddin. “Usulkan nama gantinya kalau begitu,” kata Sukarno. “Nama ‘Gelanggang Olahraga’ lebih cocok dan lebih dinamis,” kata Saifuddin menjelaskan. “Nama Gelanggang Olahraga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno. Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga.” “Wah, itu nama hebat. Saya setuju!” Sukarno menjabat tangan Saifuddin dengan air muka cerah. Sukarno memerintahkan Maladi untuk mengganti nama Pusat Olahraga Bung Karno menjadi Gelora Bung Karno. Pada 21 Juli 1962, Sukarno meresmikan Gelora Bung Karno yang berkapasitas 110.000 orang. Dalam rangka desukarnoisasi, penguasa Orde Baru mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Pada 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan nama Gelora Bung Karno.

  • Raja Mataram Menjaga Keberagaman

    PADA 1740, seluruh wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Karangasem dari Bali. Raja terakhirnya adalah Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem (1870-1894). Dia dikenal sebagai raja yang toleran dan menjaga keberagaman. Penduduknya sebagian besar dari suku Sasak yang beragama Islam, disusul orang Bali beragama Hindu, Makassar, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Menyadari penduduknya beragam dalam suku, budaya, dan agama, raja berusaha mengatur dan menjaganya dengan baik. Raja mengadakan pendekatan kepada tokoh-tokoh Sasak. Bahkan, dia mengambil istri dari suku Sasak, yaitu Dinda Aminah. Menurut I Gde Parimartha, guru besar sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, lewat hubungan perkawinan, raja menerapkan sistem keseimbangan dalam masyarakatnya. Raja memandang bahwa budaya dan agama Islam perlu hidup berdampingan dengan budaya dan agama lain.

  • Politik Tanpa Prinsip

    Wajahnya sering menghiasi layar kaca. Namun, setelah hampir sepuluh tahun berkarier sebagai pembawa acara berita di berbagai stasiun televisi swasta, Isyana Bagoes Oka, 37 tahun, memutuskan undur diri dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia. “Kami berpegang pada kebajikan dan keragaman. Ini sejalan dengan ajaran mendiang nenek saya,” ujarnya. Sejak kecil, Isyana diajarkan neneknya, Gedong Bagoes Oka, dengan nilai-nilai kebajikan yang diusung Mohandas Karamchand Gandhi, atau lebih dikenal dengan Mahatma Gandhi. Gandhi lahir di Porbandar, Gujarat, India, pada 2 Oktober 1869. Dia terlibat dalam proses kemerdekaan India dari Kerajaan Britania Raya dengan berpegang pada prinsip ahimsa (antikekerasan), hartal (pembangkangan sipil), satyagraha (nonkooperatif dengan musuh), dan swadeshi (berdiri di kaki sendiri). Ajaran-ajarannya kemudian menginspirasi banyak orang di seluruh dunia. Gandhi juga memperkenalkan Tujuh Dosa Sosial: politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter, sains tanpa kemanusiaan, kaya tanpa kerja, kenikmatan tanpa hati nurani, dan ibadah tanpa pengorbanan diri. Isyana menganggap Gandhi sebagai inspirator dan sedikit-banyak membawa pengaruh pada kehidupannya. Berikut penuturannya. Bagaimana mula mengenal Gandhi? Mendiang nenek saya menerapkan prinsip-prinsip dan ajaran Gandhi. Bahkan nenek saya, sebelum saya lahir, mendirikan Ashram Gandhi. Namanya Gedong Gandhi Ashram di Candidasa, Bali. Ini adalah pusat pendidikan dan pengalaman ajaran Gandhi. Sejak kecil, setiap saya pulang ke Bali, prinsip itu diterapkan. Dan masih melekat sampai sekarang? Ajaran itu diterapkan sejak kecil. Yang paling saya ingat, pada dinding di Ashram yang nenek saya dirikan, ada foto wajah Gandhi di sebelah kiri dan ajaran Tujuh Dosa Sosial menurut Gandhi di sebelah kanan. Sebagai anak kecil, ketika lihat sesuatu pasti akan teringat terus. Sekarang saya justru lebih ingat ajaran itu dalam bahasa Inggris, karena tulisan di sana pakai bahasa Inggris. Apa yang paling diingat dari ajaran Gandhi? Antikekerasan. Ahimsa mengajarkan kita bagaimana memahami perbedaan, konflik, tanpa menggunakan kekerasan tapi cinta. Gandhi menentang segala bentuk kekerasan, termasuk diskriminasi ras, agama, dan warna kulit. Ingat, dia menentang politik apartheid sewaktu di Afrika Selatan tanpa kekerasan. Di sini dia mengajarkan bagaimana kejahatan bisa diperangi bukan dengan kekerasan. Ini bukannya tanpa senjata, tapi sebenarnya justru itu senjatanya; tanpa kekerasan. Adakah hubungannya dengan keputusan Anda terjun ke politik? Oh bukan, bukan karena itu. Selama ini banyak orang berpikir politik itu kotor, jahat, tidak baik. Kalau semua berpikiran seperti itu, sampai kapan pun akan begitu, tidak akan berubah. Makanya, menurut saya, semakin banyak orang dengan tujuan politik yang baik bergabung, itu akan semakin baik. Anda akan menerapkan ajaran Gandhi di politik? Saya ingin menerapkan nilai-nilai itu dalam perjalanan politik saya. Dalam quote -nya Gandhi, Tujuh Dosa Sosial, di antaranya ada Politik Tanpa Prinsip. Politik itu harus mewakili setiap orang. Indonesia beragam dengan suku bangsa, nggak bisa dipaksa menjadi satu. Memahami keragaman sangat penting. Kembali ke prinsip antikekerasan, selama ini di Indonesia kebanyakan menyikapi keberagaman dengan kekerasan.

  • Bilangan Nol, Apple, Kari Ayam dan Soal Keyakinan Asli

    ZAMAN sekarang, pengetahuan dan gagasan merupakan sesuatu yang dapat dimiliki secara pribadi atau oleh sebuah lembaga dan siapa yang berhak menggunakan dapat ditetapkan sekaligus dibatasi. Seperti Hak Paten merupakan perangkat masyarakat modern guna mengatur penggunaan gagasan tertentu dan pembagian keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan gagasan tersebut. Akibatnya, masyarakat modern sangat memuliakan pencipta gagasan.

  • Layar Belum Terkembang

    ANGIN ribut, petir, dan badai menerjang wilayah kerajaan Mataram. Pohon-pohon tumbang. Di laut selatan, ombak menggunung. Fenomena alam tak biasa itu membuat Nyai Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan terkejut. Dia berdiri di tepi laut untuk mencari tahu penyebabnya. Dia mendapati Panembahan Senapati sedang bersemedi. Kepada sang raja Mataram itu dia memohon.

  • Jejak Islam di Batik Besurek

    Pengaruh Islam terhadap ragam hias tekstil terjejak pada batik besurek khas Bengkulu. Motifnya biasanya hanya berupa huruf Arab gundul yang tak punya makna khusus –kecuali beberapa jenis kain, terutama untuk upacara adat. Lalu ada perpaduan motif flora dan fauna –yang sudah distilisasi hingga tak dikenali lagi bentuk aslinya– sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam Pengaruh Islam dalam Seni Wastra Indonesia , katalog dalam pameran di Museum Tekstil Jakarta, Judi Achjadi dan Benny Gratha menulis, keberadaan kain besurek di Bengkulu diperkirakan muncul awal abad ke-16 seiring masuknya pengaruh Islam. “Tradisi membatik ini sudah ada sejak Kerajaan Jambi,” ujar Benny. Selain di Bengkulu, batik besurek pernah dikerjakan di Cirebon. Untuk memenuhi kebutuhannya, Kerajaan Jambi bahkan memesan batik dari Cirebon. Dari sinilah perpaduan terjadi. Muncul beragam motif. “Koleksi besurek Museum sendiri sekitar enam lembar saja,” kata Benny. Pada mulanya kain besurek digunakan sebagai perlengkapan upacara daur hidup seperti kelahiran, cukur rambut anak, perkawinan, hingga kematian. “Dengan menggunakan atribut pakaian yang bertuliskan mantara atau ayat suci Alquran diharapkan acara itu akan berlangsung lancar dan terhindar dari bahaya,” kata Benny. Munculnya teknologi cap ( printing ) membuat kain besurek menjadi terjangkau kantong khalayak dan popular. Ia mulai dipakai bukan hanya untuk keperluan adat.

  • Ujung Dunia Sang Orator

    TIBA di Ende pada 14 Januari 1934 dengan kapal Van Riebek, tak ada yang menyambut kedatangannya. Hanya beberapa petugas kolonial dan polisi yang selalu menaruh curiga. Sukarno mulai menjalani masa pengasingan di Ende akibat aktivitas politiknya yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial.

  • Berpikir Lurus dan Jernih

    Bagi penggemar film nasional, nama Salman Aristo (40 tahun) pasti tak asing. Dia pernah menjadi penulis skenario, sutradara, produser, atau ketiganya sekaligus. Salman mulai menulis naskah skenario pada 1999. Namun film pertamanya sebagai penulis skenario adalah Brownies (2005). Film ini mengantarkannya masuk nominasi penulis naskah terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005. Sejak itu, dia dipercaya menggarap naskah skenario film yang menjadi box office . Sebut saja Alexandria (2007), Ayat-Ayat Cinta (2007), Laskar Pelangi (2008), Garuda di Dadaku (2009), Sang Penari (2011). Salman menjadi co-produser dalam film horor Jelangkung 3 (2007). Debutnya sebagai produser adalah film Queen Bee (2009). Dia lalu menjajal bangku sutradara, sekaligus sebagai penulis skenario dan produser, saat menggarap film Jakarta Maghrib (2010). Pada 2012, dia kembali menjadi sutradara untuk film Jakarta Hati . Dalam kehidupannya sehari-hari maupun kariernya, Salman bilang amat terpengaruh oleh sosok Mohammad Hatta, mantan wakil presiden Indonesia pertama. Kepada Historia , dia bercerita mengenai kekagumannya pada Hatta, khususnya dalam membentuk logika berpikirnya. Apa yang membuat Anda mengagumi Hatta? Saya mengaguminya sebagai sosok pemikir, kejernihan pikirannya, terlepas dari sikap politiknya. Pengaruhnya sangat besar. Dia mengajarkan bagaimana memiliki pola pikir yang lurus. Bagaimana awalnya bisa mengenal Hatta? Almarhum bapak gue Hattais. Di rumah lebih banyak buku Bung Hatta dibanding Bung Karno. Lalu pola didikan bapak gue, yang dari kecil harus bisa menjelaskan apapun. Membuat logika pikiran itu runut. Misalnya, kenapa gue minta gitar. Itu nggak akan dapet kalau nggak bisa menjelaskan why -nya. Mungkin terpola begitu. Akhirnya lebih bisa nyambung dengan pemikiran Hatta, dengan tulisan-tulisannya. Hatta memberi pengaruh ketika Anda menulis? Sangat. Gue pembaca sejarah. Ada banyak tokoh yang di titik ini memberi inspirasi guesoal A, soal B. Tapi, itu tadi, Hatta meletakkan dasar logika berpikir gue . Membuat guemeluruskan logika berpikir. Dalam menulis selalu begitu. Premisnya apa, duduk permasalahannya gimana. Gue harus punya logika berpikir yang beres dulu, bagaimana melihat suatu permasalahan dengan jelas, dan gue harus tahu dulu apa yang mau ditulis. Ini lagi mau apa, mau ke mana arahnya cerita. Apa yang paling Anda ingat dari Hatta? Waktu kelas 1 SMP, gue baca buku Hatta dari koleksi bokap . Judulnya Pengantar ke Djalan Ilmu dan Pengetahuan. Karya yang luar biasa. Sejak itu gue jadi pengagum berat Bung Hatta. Buku itu tipis. Isinya tentang logika dasar yang mengubah pola pikir gue . Gue bingung kenapa buku itu nggak pernah masuk kurikulum. Bukunya mudah dibaca, mudah dimengerti. Apa yang bisa Anda pelajari dari buku itu? Hatta mampu menyampaikan gagasannya dengan cara simpel. Gue baca bukunya sangat mudah, dibanding baca buku Tan Malaka, misalnya, yang waktu SMP pusing dan baru ngerti pas kuliah apa maksudnya. Bung Hatta hanya sekali lewat. Namun bukan berarti tidak berbobot. Dia berbicara dengan jelas dan jernih, mudah dimengerti, tetapi bukan kacangan dan tanpa pesan. Secara pribadi gue juga berusaha melakukan hal sama dalam menulis skenario. Bagaimana pesannya mudah disampaikan, tetapi bukan kacangan. Bagaimana cara Anda mengingat idola Anda itu? Saya bikin skenarionya, tentang Hatta, terlepas nanti difilmkan atau nggak .

  • Rektor Tak Lulus Kuliah

    Keputusan bahwa rektor akan ditentukan oleh presiden mendapat soroton. Wewenang menunjuk rektor pernah dimiliki oleh Presiden Sukarno. Salah satunya, ketika dia mengangkat Kolonel M. Jasin, Panglima Kodam I/Iskandar Muda menjadi rektor pertama Universitas Syah Kuala (Unsyiah) di Banda Aceh. Penunjukan tersebut karena Jasin berhasil menciptakan keamanan di Aceh setelah membujuk Daud Beureueh, pimpinan DI/TII turun gunung. Didirikan pada 2 September 1961, Unsyiah merupakan perguruan tinggi negeri tertua di Aceh. Pendirian Unsyiah dikukuhkan dengan Kepres No. 161 tahun 1962 tanggal 24 April 1962. Tiga hari kemudian, Sukarno melantik Jasin menjadi rektor. Saat dilantik, Jasin enggan mengenakan pakaian resmi akademik. Dia dilantik dengan mengenakan pakaian militer. Menariknya, Jasin sebenarnya ingin melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Unsyiah setelah gagal menyelesaikannya di Universitas Padjadjaran, Bandung, karena tugas militer. “Niat ini terpaksa saya tanggalkan juga, karena aneh bahwa seorang rektor juga menjadi mahasiswa di universitasnya sendiri,” kata Jasin dalam memoarnya Saya Tidak Pernah Minta Ampun kepada Soeharto. Khawatir menimbulkan isu militer masuk kampus, Jasin menerima pengangkatan itu sebagai dalam keadaan darurat. Dia pun hanya mengurusi pencarian dana untuk kampus. Dia tidak mengurusi langsung bidang akademik yang diserahkan kepada Syamsuddin. Dia diundang rapat dengan dosen bila mereka memerlukan keputusan dari rektor. “Keadaan kurang aman cukup lama membuat kesulitan mencari dana. Untuk itu diperlukan kekuasaan yang dapat dengan cepat mengalirkan dana ke universitas. Dan tugas saya memang dalam bidang ini,” kata Jasin. Namun, Jasin tidak menyebutkan bagaimana dan dari mana dia mendapatkan dana. Jasin berpendapat bahwa pendirian Unsyiah terkesan agak dipaksakan karena pendanaan sebenarnya belum tersedia. Selain sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan dan pendidikan di Aceh, dia memandang pendirian universitas itu “merupakan penebusan kesalahan Bung Karno karena janjinya terhadap rakyat Aceh yang telah begitu banyak berjasa dalam menyumbang Republik, agak lama terabaikan.” Besarnya sumbangan rakyat Aceh dalam perjuangan kemerdekaan membuatnya disebut Daerah Modal Republik Indonesia. Jasin tak lama menjabat rektor Unsyiah. Dia mengajukan pindah kepada Kasad Jenderal TNI Achmad Yani. Alasannya, dia tidak ingin terlalu lama bertugas di suatu daerah. Dia menjabat Panglima Kodam I/Iskandar Muda selama dua setengah tahun. Pada 1965, Brigjen TNI Jasin menjabat Atase Militer di Moskow, Uni Soviet. Pasca peristiwa Gerakan 30 September, dia melakukan screening terhadap mahasiswa Indonesia di seluruh Eropa Timur. Sebagai Panglima Kodam VIII/Brawijaya di Jawa Timur, dia menggelar Operasi Trisula untuk memburu anggota PKI di Blitar. Kariernya di militer sampai menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Sempat menjabat sekretaris jenderal Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Jasin mengisi masa pensiun dengan berwiraswasta. Bersama tokoh-tokoh terkemuka, dia menandatangani Petisi 50 yang mengkritik Presiden Soeharto. Dia meninggal pada 7 April 2013.

  • Si Pitung dari Ciamis

    TERSEBUTLAH di Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1920. Kondisi ekonomi tak menentu. Harga-harga kebutuhan pokok tak terjangkau oleh rakyat kecil hingga menyebabkan kelaparan dan penindasan oleh para rentenir. “Dalam situasi seperti itu, salah seorang anggota Sjarikat Islam (SI) afdeeling B bernama S.Gunawan membentuk Sjarikat Rakjat (SR),” ujar Muhajir Salam, sejarawan Tasikmalaya kepada Historia . SR banyak mendapat dukungan dari rakyat. Bukan hanya rakyat kebanyakan tapi juga sejumlah jawara (pendekar). Salah satunya bernama Djoeminta. Dengan kondisi masyarakat di sekitarnya, Djoeminta merasa prihatin dan iba hati. Karena uang tak punya, ia lantas menggunakan keahliannya berkelahi untuk menolong rakyat miskin, laiknya Si Pitung yang pernah menjalankan aksi-aksi serupa di Batavia puluhan tahun sebelumnya. “ Ia kerap mengambil secara paksa bahan-bahan makanan yang berada di tangsi-tangsi milik tentara Belanda,” tulis Dharyanto Tito Wardani dalam “Menabuh Genderang Perang: Pemberontakan Sarekat Rakyat di Priangan Timur” ( Jurnal Historia Soekapoera Vol.4 No.1, 2016) Menurut Dharyanto, selain dari tangsi-tangsi militer Belanda, Joeminta pun merampok kantor-kantor pemerintahan kolonial. Hasil dari rampokan tersebut lantas didistribusikan oleh Djoeminta kepada rakyat miskin di seluruh Ciamis. Tak jarang, saat membagikan hasil rampokan itu, Djoeminta lakukan sendiri dengan memanggul beras-beras langsung ke rumah-rumah rakyat miskin. Pihak pemerintah Hindia Belanda tentu saja marah dengan aksi-aksi Djoeminta. Mereka lantas mengerahkan para centeng dan jawara untuk menangkap Si Pitung dari Ciamis itu. Namun keahlian bela diri Djoeminta tak jua tertandingi. Alih-alih berhasil menangkap sang perampok budiman tersebut, para centeng malah banyak yang keok saat bertarung melawannya. Polisi pun lantas dikerahkan untuk meringkusnya. Tetapi Djoeminta selalu dapat meloloskan diri. Rupanya kebaikan dan kejujuran pribadinya membuat rakyat selalu berupaya menyelamatkan Djoeminta dari kejaran aparat kolonial dan para centeng. Tidak hanya merampok, Djoeminta pun aktif dalam kegiatan-kegiatan politik yang digarap oleh SR. Bahkan, menurut Dharyanto, SR mempercayainya sebagai tenaga agitasi dan propaganda sekaligus sebagai ahli mobilisasi massa dalam berbagai vergadering (rapat massa). Justru saat vergadering di Desa Maleber, Djoeminta diringkus oleh polisi Hindia Belanda pada sekitar 1924. Ia kemudian dibuang ke Boven Digul. Setelah beberapa tahun, Djoeminta dipulangkan ke Jawa Barat dan menetap di wilayah Banjar Patroman. Merasa hidupnya terus diawasi, ia memutuskan untuk pensiun dari dunia politik serta menyibukan diri dalam keseharian sebagai petani dan pengajar Al Qur’an hingga akhir hayatnya.

  • Jebakan Hoax dari Rezim Soeharto hingga Kini

    ORDE Baru Soeharto dibangun dari hoax. Hari-hari awal pasca-G30S adalah periode krusial hoax sejarah diciptakan. Pada periode krusial itulah narasi tentang para jenderal yang dimutilasi oleh Gerwani berkembang. Hasil visum dokter yang mengotopsi jenazah para jenderal yang dibuka kemudian membuktikan bahwa itu hoax.

  • Jebakan Warisan Inggris di Indonesia

    Tak lama Inggris bercokol di tanah Jawa. Hanya lima tahun, sejak 1811-1816. Tak banyak pula sumber tertulis mengenai pandangan Jawa terhadap pendudukan kolonialisme Inggris. Sebaliknya, dari perspektif Inggris lebih banyak ditemukan. Namun, wawasan menarik dari perpektif Jawa terungkap dengan baik lewat Babad Bedhah ing Ngayogyakarta (1816). Babad ini adalah buku harian milik seorang pangeran senior di Keraton Yogyakarta, Pakde Pangeran Diponegoro, Pangeran Aryo Panular (1771-1826). Pangeran Panular mengawali babadnya di tengah-tengah serangan Inggris ke Yogyakarta pada pagi buta 20 Juni 1812 dan mengakhirinya pada Agustus 1816. Sejarawan Peter carey mengungkapkan, babad ini memberikan sudut pandang baru mengenai pendudukan Inggris di Jawa. Babad ini berisi keprihatinan, ketakutan, dan aspirasi dari seorang Pangeran Jawa pada masa itu. Panular juga melukiskan kondisi cerminan kepribadian kebudayaan dan masyarakat dari keraton yang dihancurkan oleh trauma Perang Jawa. Satu masyarakat yang tidak hanya penuh kesangsian akan masa depan, tetapi juga memelihara kemegahan masa lalu. “Babad ini memetakan nasib masyarakat di ambang era baru, membantu memperbaiki posisi tak imbang antara sejarah penjajah dengan yang dijajah,” ungkap Peter Carey dalam peluncuran buku terbarunya, Inggris di Jawa, dalam diskusi berjudul The Meaning and Legacy of Raes for Present-Day Indonesia, di Kedutaan Besar Inggris, Jakarta, Kamis (25/5). Sementara dari pihak Inggris, pandangan terhadap Jawa banyak diungkapkan, misalnya Sir Stamford Raffles lewat History of Java. Dalam hal ini, Farish Ahmad Noor, sejarawan dari Nanyang University, Singapura, berpendapat, karya ini harus dimaknai dengan kekinian. “Ini bukan soal sejarah Jawa, tapi sejarah Raffles sendiri,” ujarnya. Menurutnya, membaca buku ini haruslah seperti membaca sebuah teks. Kuasa yang dihasilkan karya itu luar biasa besar. Buku ini menentukan perspektif penjajah mengenai Jawa. “Buku ini semacam power , kuasa, lebih everlasting . Jadi bukan hanya dalam bentuk meriam, bom, dan lain-lain,” ujar Farish. Karya ini, kata Farish, merupakan laporan kepada pemerintah kolonialis apa yang dia lakukan di daerah jajahannya. “Saya berjaya,” lanjutnya. History of Java juga akhirnya mampu mentransformasikan sosok Raffles dari seorang kolonialis menjadi ilmuwan. Apa efeknya hingga kini? Farish menekankan, salah satunya soal budaya komodifikasi saat ini tak bisa lari dari abad 19. Lewat karya itu, Raffles sedang merekayasa Jawa. “Suatu idea yang bisa memberikan justifikasi terhadap kebijakan politik dan propaganda,” ungkapnya. Berkatnyalah rekonstruksi mengenai stereotip Asia, khususnya Jawa, terbentuk dan terus diwariskan hingga sekarang. “Isinya bahwa Jawa is not good enough, tidak terlalu beradab, primitif, dan lain-lain. Efeknya sampai sekarang,” tutur dia. Memasuki era komodifikasi seperti sekarang, Farish melihat masyarakat kekinian seperti kembali dalam kebekuan tulisan History of Java . Orang Jawa yang berblangkon, berkain batik, seakan menjadi sesuatu yang esensial bagi budaya Jawa. “ It’s a trap! (Ini jebakan),” serunya. “Bukan Rafflesnya yang penting tapi kompeninya. Ini bicara soal negara yang paling berkuasa saat itu.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page