Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Evolusi Dasi
MASIH ingat karakter Fred Flintstone dalam film serial animasi The Flintstones ? Tokoh manusia pada zaman batu itu digambarkan mengenakan pakaian kulit binatang lengkap dengan dasi berwarna biru. Dalam sejarah, benarkah dasi sudah dikenal di zaman batu? Belum ada penemuan soal itu. Dasi mulanya hanyalah tanda penghormatan di dunia militer. Ini terlihat pada terakota di Tiongkok dan relief Colonna Traiana (Tiang Trajan) di Roma, Italia. Pada masa itu, baik di kekaisaran Tiongkok maupun Romawi, tentara tak mengenakan aksesoris itu. Dalam perkembangannya, dasi menjadi aksesoris pakaian untuk menambahkan kesan formal. Dasi Tentara Terakota Kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang, ketika wafat pada 210 SM dimakamkan bersama ribuan prajurit terakota yang mengenakan kain di leher mereka. Dasi Tentara Troya Kemenangan Kaisar Trajan dalam menaklukkan Dacia diabadikan pada Colonna Traiana (Tiang Trajan) di Roma, Italia, yang dibangun sekira 113 M. Dalam relief, ribuan tentaranya digambarkan mengenakan berbagai gaya dasi. Ruff Aksesori leher ini terkenal pada masa William Shakespeare (1564-1616), pujangga terkemuka asal Inggris. Bentuknya berupa kerah kaku dari kain putih yang bertumpuk-tumpuk dan melingkari leher. Cravat Dianggap sebagai bentuk awal dari dasi. Mulai dikenal pada abad ke-17. Dikenakan tentara bayaran Krosia yang membantu Prancis dalam Perang Tiga Puluh Tahun. Setelah Louis XIV naik tahta, dasi ini menjadi mode. Steinkirke Dikenakan tentara Prancis selama pertempuran di Steinkirke pada 1692. Berbentuk kain panjang di leher dengan ujung berenda yang terselip di lubang kancing. Bandanna Diimpor dari India kali pertama sekira 1700, tapi penggunaannya populer di Inggris berkat Jem Belcher, seorang prizefighter (bentuk awal tinju) muda dari kelas pekerja. Di Amerika sudah duluan populer, biasa dikenakan para koboy. Solitaire Pada awal abad ke-18, cravat mulai digantikan stock , kain lipat nan kaku yang membungkus leher dan dikancingkan atau diikat di bagian belakang. Agar cukup dekoratif, ditambahkan solitaire , seuntai pita hitam sutra disimpulkan di bawah dagu serupa dasi kupu-kupu modern. Gaya Modern Seorang pria semestinya mengenakan pakaian yang sederhana, fungsional, dan bijaksana, kata George Bryan “Beau” Brummell dari Inggris pada awal abad ke-19. Untuk cravat, dia memilih yang putih bersih, ringan, dan dilipat dengan hati-hati. Dia bisa berhenti dan membenahi cravatnya setiap saat. Berpakaian rapi ala Brummell mempengaruhi gaya berbusana kaum pria. Neckclothitania Buku berjudul Neckclothitania karya seorang editor Inggris, John Joseph Stockdale, terbit pada 1818. Berisi ilustrasi 14 gaya populer memasang dasi dan untuk kali pertama kata “tie” (dasi) digunakan. Four-in-hand Pada 1860-an cravat dengan ujung yang panjang mulai menyerupai dasi modern. Cravat ini juga disebut dasi bersilang ( four-in-hand ). Dasi disimpulkan di dagu, unjungnya yang panjang menjuntai di bagian depan kemeja. Siap Pakai Tahun 1864 menandai dimulainya dasi siap pakai yang diproduksi secara massal dan populer di Jerman dan Amerika Serikat. Ascot Muncul pada 1870-an. Namanya diambil dari perlombaan kuda Royal Ascot. Umumnya terbuat dari bahan sutra dengan warna-warna cerah, dipakai di sekeliling leher, dan disimpulkan di bawah dagu. Dasi kupu-kupu Dipopulerkan Pierre Lorillard V, pengusaha tembakau asal Amerika, yang pemakaiannya dipadankan dengan tuksedo (sebagai alternatif untuk jas berekor). Tuksedo Lorillard menjadi hits di kalangan penggemar mode, sampai kini kecuali penggunaan dasi kupu-kupu. Dasi Marlene Dietrich Dasi kupu-kupu menjadi aksesoris perempuan berkat penampilan Marlene Dietrich, aktris kelahiran Jerman, dalam film Maroko (1930). Dasi Langsdorf Dasi berkembang drastis setelah pada 1924 seorang penjahit pakaian asal New York, Jesse Langsdorf, memperkenalkan bentuk dasi modern dan dipatenkan. Dasi Ralph Lauren Pengusaha busana Amerika Ralph Lauren meluncurkan dasi dengan lebar 10 cm pada 1970. Dasi model ini digandrungi masyarakat luas. Dasi kasual Pada 2002 penyanyi asal Kanada, Avril Lavigne, mempopulerkan pemakaian dasi secara kasual bagi remaja putri.
- Rossy Sang Srikandi
SUASANA kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor siang di akhir Maret 2018 itu cukup asri. Keasrian makin lengkap dengan senyum menyejukkan dan sambutan hangat dari karyawati berseragam putih sang tuan rumah. “Saya di sini sebagai kasi (kepala seksi) Pembibitan dan Tenaga Keolahragaan. Saya di sini (lingkungan Pemkot Bogor) sejak 2012. Sebelumnya, di Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Baru tahun lalu saya pindah ke Dispora,” ujar Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar, karyawati tadi, memulai perbincangan dengan Historia. Rossy merupakan salahsatu srikandi tenis meja (pingpong) nasional era 1980-an sampai awal 2000-an. Popularitasnya mungkin hanya bisa disaingi Diana Wuisan atau Ling Ling Agustin, pasangan Rossy saat berlaga di nomor ganda putri tenis meja Olimpiade Barcelona 1992. Atlet Kampung Jadi Ratu Ping Pong Lahir di Bandung, 28 Juni 1972 dari pasangan Ali Umar Syechabubakar dan Neni Nurlaeni, Rossy menggandrungi tenis meja sedari kanak-kanak. “Sejak kelas II SD sudah kenal tenis meja dari ayah sendiri. Beliau kebetulan hobi dan kita punya meja pingpong di depan rumah. Dulunya saya atlet kampung,” kata Rossy. Rossy meretas kariernya dari perlombaan-perlombaan antarkampung. Saat kelas IV SD, dia masuk klub Triple V. Di sanalah Rossy mengenal salah satu legenda tenis meja Diana Wuisan. Diana yang melihat Rossy berpotensi besar, lalu mengajak masuk ke klub PTM Sanjaya Gudang Garam di Kediri. “Saya tinggal di sana dari kelas enam sampai lulus SMA. Hampir tujuh tahunlah,” tambahnya. Demi karier, Rossy rela pisah dari kedua orangtuanya di Bandung karena mesti tinggal di asrama Gudang Garam, Kediri. Dari situ bintang Rossy mulai bersinar. Rossy digembleng lewat berbagai kompetisi, termasuk Asian Junior Championship di Nagoya, Jepang, April 1986. Di turnamen itu, tim putri Indonesia hanya sanggup berada di peringkat enam, di bawah Taiwan, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan dan Cina. Toh, Rossy mulai menggapai prestasi di beragam turnamen nasional, mulai dari kejuaraan tingkat daerah hingga Pekan Olahraga Nasional (PON). Sepanjang kariernya hingga 2008, Rossy pernah mewakili Jawa Timur, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatera Selatan di PON. “Sudah enggak ingat berapa medali yang saya dapat sepanjang PON itu,” cetus ibu empat putri itu. Di level internasional, ketika pensiun dari pemain pelatnas Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) pada 2001, Rossy meninggalkan beragam prestasi mentereng, terutama di SEA Games. Debut Rossy di SEA Games terjadi ketika usianya baru 15 tahun, di SEA Games 1987 Jakarta. “ Alhamdulillah pertamakali ikut sudah nyumbang dua emas dari nomor tunggal putri dan ganda campuran. Dua peraknya di beregu putri dan ganda putri. Di SEA Games 1989 saya dapat dua emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Itu yang terjadi insiden kecurangan itu. Kalau enggak dicurangi, ya saya mestinya tiga emas,” sambung Rossy . Di SEA Games 1991 Filipina, Rossy memetik dua emas dan sekeping perak. Sedangkan di SEA Games 1993 Singapura, Rossy menyandang gelar “Ratu Pingpong” Asia Tenggara setelah menyapu bersih emas di empat nomor yang diikutinya. “Indonesia juga juara umum dengan tujuh emas,” lanjut penggemar film-film ber- genre horor tersebut. Rossy berulangkali membawa tim putri Indonesia masuk 10 besar Kejuaraan Asia. Di Kejuaraan Dunia, tim putri Indonesia semasa Rossy selalu menempati divisi 2 bahkan pernah divisi 1. Rossy dua kali menjadi wakil Indonesia di olimpiade, Barcelona 1992 dan Atlanta 1996. Semua itu, kata Rossy, merupakan buah dari kerjakerasnya bertahun-tahun yang menyita masa remajanya. “Dengan fokus di tenis meja kan ya kita enggak bisa seperti menjalani masa remaja pada umumnya. Tapi bangga juga bisa mengumandangkan Indonesia Raya di negara lain. Rasanya tuh , wah enggak bisa diungkapin ya. Bangga, terharu, campur aduk sudah. Pasti juga ada peran doa dari orangtua. Saya selalu minta doa dan restu mereka sebelum tanding dan mujarab banget ya,” tambah Rossy, yang menjadi pelatih timnas putri Indonesia di SEA Games 2011 Jakarta.
- Pulau Tertua di Nusantara
PULAU Sulawesi bisa jadi merupakan bagian tertua dari Kepulauan Nusantara. Alfred Russel Wallace menjelaskan, kekhasan fauna Sulawesi berhubungan dengan asal usul dari suatu periode waktu yang telah lama berlalu. Persebaran makhluk hidup di permukaan bumi diakibatkan oleh perubahan yang dialami permukaan bumi. Di Nusantara, laut luas yang memisahkan Jawa, Sumatra, dan Borneo serta Semenanjung Malaka adalah lautan dangkal. Pulau-pulau ini, terpisah dari Asia daratan akibat penurunan daratan. Itu bisa dilihat dari bukti kemiripan fauna. Dalam Kepulauan Nusantara, Wallace menjelaskan, fauna di daerah yang berdekatan biasanya memiliki banyak kemiripan. Begitu pula yang hidup pada kurun waktu berdekatan dalam wilayah yang sama. Sementara fauna di daerah yang berjauhan akan memiliki perbedaan signifikan. Begitu pula dengan fauna dalam wilayah yang sama, tapi di periode waktu yang berjauhan. “Perubahan spesies terutama spesies yang umum dan berasal dari satu famili, hanyalah masalah waktu,” kata Wallace. Namun, naturalis Inggris itu menambahkan, dalam suatu kurun waktu, mungkin telah terjadi perubahan bentuk hewan di satu daerah. Adapun di daerah lain bentuknya lebih permanen. Begitu atau bisa juga sama-sama terjadi perubahan dengan cara yang berbeda. “Dalam setiap kasus, jumlah individu fauna suatu daerah sampai tahap tertentu dapat menjadi tolok ukur seberapa lama suatu daerah terisolasi dari daerah di sekitarnya,” lanjutnya. Wallace mengatakan, gajah, tapir Sumatra dan Borneo, badak Sumatra dan Jawa diketahui menghuni beberapa bagian Asia Selatan. Hewan-hewan itu tak mungkin menyeberangi selat. Migrasi hewan tentu berbeda dengan manusia yang punya kemampuan membangun kapal. Artinya, dulunya pernah ada hubungan darat. Mamalia yang lebih kecil juga hidup di tiap-tiap pulau tersebut dan di Benua Asia. Perubahan fisik besar-besaran terjadi sewaktu ada perpecahan dan penurunan daratan secara luas. Ini berakibat beberapa hewan punah di pulau-pulau tertentu. Dalam beberapa kasus, bahkan menyebabkan perubahan spesies. Wallace menerangkan, Pulau Jawa punya banyak burung. Burung-burung ini tak pernah menyeberang ke Sumatra meski pemisahnya hanya selat selebar 15 mil. Pun dengan pulau-pulau kecil bertebaran di sepanjang pemisah itu. Akhirnya, Jawa punya lebih banyak burung khas dibanding Sumatra dan Kalimantan. Fakta ini menunjukkan Pulau Jawa lebih dulu terpisah dari Benua Asia. Sementara, pulau di bagian timur Nusantara memperlihatkan kesamaan faunanya dengan Benua Australia. Sementara, perbedaan jenis fauna ditemukan lagi di bagian tengah Nusantara khususnya Sulawesi dan Maluku. Di Jawa dan Kalimantan selalu ditemukan monyet, kucing hutan, rusa, musang, berang-berang, dan berbagai jenis tupai. Hewan itu tak ada di Sulawesi dan Maluku. Di sana hanya ada kuskus, babi hutan, dan rusa. “Kesimpulannya, semua pulau di sebelah timur Jawa dan Borneo (Kalimantan, red ), kecuali Celebes (Sulawesi, red ), merupakan bagian dari Benua Australia atau Pasifik, walaupun beberapa pulau tak pernah menyatu dengan benua itu,” kata Wallace. Rangkaian pulau itu telah terpisah bukan saja sebelum pulau bagian barat Nusantara terpisah dari Asia. Namun juga sebelum daerah Asia paling tenggara muncul ke permukaan laut. Sementara, sebagian Jawa dan Kalimantan merupakan formasi geologis yang masih muda. Perbedaan besar dalam spesies, antara flora dan fauna Kepulauan Nusantara bagian timur dan Australia, juga kedalaman laut yang memisahkan, menunjukkan proses pemisahan yang telah lama. Untuk Sulawesi, Wallace menemukan keanehan. Beberapa kelompok fauna yang ditemukan di pulau-pulau sebelah kiri dan kanan Sulawesi, tidak ditemukan di pulau itu. Misalnya, genus Ceyx dari famili burung murai, genus Rhipidura dari famili burung pemangsa serangga, dan genus Erythrura dari famili burung kutilang. Burung-burung itu ditemukan di Maluku, Kalimantan, dan Jawa, tetapi tidak di Sulawesi. Sementara dari kelompok serangga, genus kumbang mawar ( Lomaptera ) ditemukan di setiap daerah dan pulau antara India dan Papua. Namun, lagi-lagi tidak ada di Sulawesi. “Hilangnya beberapa kelompok burung dan serangga di daerah yang terletak di tengah wilayah persebaran mereka mungkin bukanlah fenomena yang sangat unik, tapi saya yakin bahwa tak ada tempat lain dengan ciri semencolok itu dan tentu menambahkan satu hal lagi ke dalam karakteristik aneh dari pulau luar biasa ini,” tulisnya. Menurutnya, umur Sulawesi yang sangat tua juga penting untuk dikaitkan dengan bentuk hewan di pulau itu yang tak menunjukkan persamaan dengan karakteristik India atau Australia, tetapi Afrika. Wallace pun menduga, kemungkinan besar Sulawesi terbentuk bukan hanya sebelum pemisahan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa dari Benua Asia. Namun, dari periode yang lebih jauh lagi di masa lampau, saat daratan yang membentuk ketiga pulau itu belum naik ke atas permukaan laut. Dalam penelitiannya, Wallace menarik kesimpulan, Sulawesi tak pernah menjadi bagian dari daratan di bagian barat Nusantara (Astro-Melayu). Indikasinya, Pulau Sulawesi adalah hasil perluasan Benua Asia di bagian timur pada masa lalu. “Sulawesi menjadi contoh paling mencolok dalam studi mengenai persebaran geografis fauna di dunia,” ujarnya.
- Para Jenderal di Sisi Bung Besar
Menteri Panglima AD, Letjen Ahmad Yani kadangkala jengkel dengan ulah sejumlah koleganya di ketentaraan. Sebabnya, beberapa jenderal punya akses khusus untuk melapor langsung kepada Presiden Sukarno. Yani tak senang. Gaya akrobatik tersebut terkesan melangkahi dirirnya selaku panglima. Bisa jadi pula Yani cemburu, menyadari bahwa Bung Karno punya anak emas yang lain. Yani memang sohor sebagai jenderal pilihan Bung Karno. Dia menjadi satu-satunya Kepala Staf Angkatan Darat yang ditunjuk oleh Sukarno. Pada 1962, Presiden Sukarno mempercayakan Yani memimpin TNI AD menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Pendaulatan Yani otomatis "melangkahi" para jenderal yang lebih senior, semisal, Mayjen Soeharto, Letjen R. Soedirman, Mayjen Soeprajogi, dan Mayjen Sungkono. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama , Nasution mengakui betapa karibnya Yani dan Bung Karno. “Jenderal Yani mempunyai cara pendekatan dan pergaulan yang dihargai oleh Presiden. Dibanding dengan hubungan saya yang cukup kaku terhadap beliau, maka hubungan Jenderal Yani dengan beliau adalah cukup intim,” kenang Nasution. Menurut Nasution, Yani - yang merangkap Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi – kemudian lebih sering bertugas di Istana menghadap langsung kepada Sukarno. Keduanya cocok dalam hal pergaulan pribadi. Dalam disertasinya yang dibukukan Politik Militer Indonesia 1945—1967, Ulf Sundhaussen mengungkap sebab mengapa Yani sangat berkesan di hati Sukarno. Dibanding Nasution, Yani yang halus dan berbudi-bahasa lebih supel memahami karakter high profile ala Sukarno. Sukarno mengharapkan Yani akan dapat ditarik ke dalam lingkungan pengikutnya di Istana. Namun ternyata Yani tak sendirian di jejeran jenderal pilihan. Baik di lingkungan TNI AD, AU, dan AL, Sukarno punya jenderal andalan. Para loyalis pemanggul senjata ini memainkan peran penting dalam menjaga Sukarno di masa-masa genting era Demokrasi Terpimpin. “Terdapat sejumlah perwira tinggi AD yang dikenal sebagai de beste zonen van Soekarno, putra-putra kesayangan Soekarno yang belum tentu komunis bahkan ada diantaranya yang amat anti komunis, namun akan lebih patuh kepada Sukarno sebagai Panglima Tertinggi,” tulis Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan. Siapa saja mereka? Setia tapi Merana Selain Yani, jenderal AD dengan citra sebagai orang dekat Presiden Sukarno adalah Panglima Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie. Loyalitas Adjie terbukti ketika gejolak politik pasca Gerakan 30 September 1965 menggoyang kepemimpinan Sukarno. Arsip rahasia AS yang telah dideklasifikasi menyebut Adjie sebagai salah seorang jenderal anti komunis namun kesetiaannya condong kepada Sukarno. Di saat banyak kalangan perwira AD mulai memperlihatkan sikap anti Sukarno, Adjie tetap tampil sebagai pelindung . “Dalam keadaan di mana Adjie memegang kontrol atas Jawa Barat maka suatu ancaman fisik dari pihak tentara terhadap pribadi atau kedudukan Sukarno menjadi hampir tak mungkin lagi,” tulis Sundhaussen. Di luar AD, tercatat pula beberapa nama, antara lain: Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dani dan Panglima KKO AL Mayjen Hartono. Di tubuh Angkatan Kepolisian ada Jenderal Polisi Soetjipto Judodihardjo. Sukarno menyenangi Omar Dhani yang muda, tampan, dan flamboyan. Sebaliknya, Omar Dhani adalah pengaggum berat Bung Karno. “Sewaktu Laksdya Udara Omar Dani menjadi Men/Pangau, seluruh ajaran Bung Karno menjadi satu-satunya pegangan politik. Omar Dani juga menginginkan setiap insan AURI menjadi ’ kleine Sukarnotjes ’ menjadi Sukarno-Sukarno kecil ,” tulis Benedicta A. Surodjo dan JMV. Soeparno dalam biografi Omar Dani berjudul Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani. Hartono barangkali yang paling menonjol. Sebagaimana diakui Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, Bung Karno sebenarnya hendak mengangkat Hartono menjadi Panglima AL menggantikan Laksamana R.E. Martadinata. Namun mengingat jabatan itu jatahnya untuk korps pelaut, maka Laksamana Mulyadi yang dipilih sedangkan Hartono mendampingi sebagai Wakil Panglima AL. Di kala situasi kritis jelang para menterinya diringkus menyusul desas-desus prajurit RPKAD akan menyerbu Istana, Sukarno mempercayakan keselamatan dirinya pada Hartono (baca: Meringkus Loyalis Sukarno ). Pada 10 Maret 1966, Sukarno mendatangi markas KKO di Cilandak, mengonfirmasi Hartono apakah KKO sanggup menghadapi RPKAD. Hartono tegas menjawab: “sanggup!”. Hartono menyatakan KKO cukup kuat dan sanggup menegakkan wibawa Sukarno. Dan sejak itu KKO diperintahkan untuk bersiap. “Pada hari-hari yang sengit itu Jenderal Hartono, Panglima KKO mengawal langsung Bung Karno, ia duduk dalam mobil di samping Presiden saat meninggalkan Istana, setelah pengamanan menteri-menteri ini,” ujar Nasution. Selain pasukan KKO, Jenderal Polisi Soetjipto Joedodihardjo memerintahkan Brimob untuk berjaga dan melindungi Bung Karno. Brimob menjadi unit kepolisian paling loyal mendukung Sukarno. Komandan Brimob Kolonel Polisi Anton Soedjarwo di kenal sebagai pendukung Sukarno yang gigih. Ketika rezim berganti, semua para jenderal loyalis Sukarno ini dicopot dari kedudukannya. Beberapa diantaranya mengalami akhir hidup yang merana. Pada 1966, Ibrahim Adjie dikirim ke London sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris. “Soeharto mengganti Jenderal Ibrahim Adjie dengan Jenderal HR. Dharsono, yang mengubah Divisi Siliwangi menjadi kesatuan militer anti- Sukarno dan anti PKI yang paling menyedihkan,” ujar jurnalis kawakan Belanda Willem Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku . Omar Dani dipenjara oleh rezim Orde Baru selama 30 tahun akibat tudingan berkomplot dengan Gerakan 30 September. Nasib Hartono lebih tragis lagi. Setelah ditendang ke Pyongyang, Korea Utara sebagai Duta Besar, Hartono dipanggil pulang ke Indonesia sebelum masa tugasnya selesai untuk pemeriksaan. Pada pagi buta 6 Januari 1971, Hartono ditemukan terbujur tak bernyawa di kediamannya yang terletak di kawasan dekat Manggarai. Dia meninggal dalam keadaan bersimbah darah dengan dua lubang peluru bersarang di bagian belakang kepalanya. Sebuah pistol jenis Makarov tergeletak tak jauh dari jasad Hartono. Tanpa menunggu visum , secara resmi Hartono dinyatakan bunuh diri. Namun beberapa orang terdekat meyakini kematian Hartono akibat pembunuhan politik.
- Akhir Bandara Kemayoran
PADA 31 Maret 1985, Bandara Kemayoran berhenti beroperasi. Bandara ini dianggap sudah tak layak lagi beroperasi karena letaknya di tengah kota dan kebutuhan pembangunan wilayah Jakarta Utara. Bandara Kemayoran pernah ramai diberitakan karena disebut dalam cerita komik The Adventure of Tintin. Dalam seri Flight 714 to Sydney, diceritakan dalam perjalanannya dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional, Tintin bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy, transit di Bandara Kemayoran. Mereka beralih dari maskapai Qantas Boeing 707 penerbangan 714 ke pesawat pribadi milik milyuner Lazslo Carriedas. Mereka mengalami petualangan di Pulau Bompa, wilayah Sondonesia. Bandara Kemayoran dibangun pemerintah Hindia Belanda pada 1934. Pembangunan itu bersama asrama tentara Belanda berpangkat mayor di Jalan Garuda. “Orang-orang pribumi lalu menyebut kawasan ini sebagai Kemayoran,” tulis Windoro Adi dalam Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi.
- Suku Suka Manis
SORE itu, ibu-ibu Nogotirto sudah berkumpul. Pakaian mereka necis. Harum semerbak parfumnya memenuhi ruang tamu. Mereka bersepuluh. Harus tunggu separuh lagi agar arisannya bisa dimulai. “Ini kurang gulanya, ndak nanti disangka adoh seko Madukismo (nanti disangka jauh dari Madukismo, red ),” ujar Sinta Heristyarini, si empunya rumah. Dia masih berkutat di dapur bersama putrinya menyiapkan 20 gelas teh manis hangat. Sebelumnya, gelas-gelas itu sudah diisi satu sendok makan gula pasir. “Kalau di sini (Yogyakarta, red. ) harus manis,” katanya lagi. Mandukismo yang dimaksud Sinta adalah pabrik gula di Kasihan, Bantul. Letaknya sebelas kilometer ke selatan dari Kelurahan Nogotirto, di mana arisan itu berlangsung. Ungkapan “jauh dari Madukismo” memang lazim diucapkan masyarakat sekitar untuk suguhan yang kurang manis. Namun, bagi masyarakat ungkapan ini dianggap sebagai sindiran. Maka, Sinta pun mengaduk satu sendok makan gula pasir lagi di setiap gelas belimbing teh hangat itu. Keberadaan pabrik gula sedikit banyak mempengaruhi kesukaan wong Jawa pada rasa manis. Tapi sebelumnya didahului sistem tanam paksa di Jawa pada 1830. Gubernur Jenderal Van der Bosch memberlakukan tanam paksa karena Belanda menghadai masalah keuangan akibat Perang Diponegoro. Untuk mengatasi dana yang menipis, Jawa Barat diwajibkan menanam kopi. Sementara Jawa Tengah dan Jawa Timur menanam tebu. Sekitar 70 persen tanah pertanian diubah menjadi ladang tebu yang berdampak bencana kelaparan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Murdijati Gardjito, profesor dan peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gajah Mada, menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu itu mengakibatkan perbedaan kebiasaan dalam mengkonsumsi teh antardaerah di Jawa. Pada abad 19, di daerah Priangan ditanam perkebunan teh hingga maju. Namun, Kompeni menipu rakyat Priangan. Mereka mengekspor teh berkualitas baik. Sementara pribumi hanya disisakan gagang teh untuk dikonsumsi. “Ya, mereka akhirnya tahunya teh seperti itu. Gagang teh dikasih air panas. Ya, sudah itu teh. Teh di sana (Jabar, red. ) makanya tawar,” paparnya. Sebaliknya, orang Belanda kemudian menyadari, lahan di Jawa Tengah dan Jawa Timur baik untuk padi dan tebu. Setelah memerintahkan penanaman tebu, pabrik gula pun banyak didirikan. “Sehingga orang Jateng dan Jatim itu kenal gula lebih baik daripada orang Jabar,” kata Murdijati. Namun, di balik itu, sesungguhnya tingkat kemampuan indra pencecap merasakan sesuatu juga bersifat alamiah. Murdijati menjabarkan, ada yang disebut sensory threshold atau ambang batas indra pencecap yang dimiliki manusia. Dalam hal ini, orang Jawa Tengah memiliki threshold terhadap rasa manis yang lebih tinggi. Mereka sanggup merasakan manis pada konsentrasi gula yang lebih tinggi dibandingkan, misalnya orang Jawa Barat dan Jawa Timur. Adapun orang Jawa Timur memiliki threshold terhadap garam yang tinggi. Maka, masakannya pun cenderung asin. “Ini soal fisiologi, terbentuknya indra. Selain karena gen, threshold ini kemudian bisa dibentuk karena lingkungan tadi,” lanjut Murdijati . Uswatun Hasanah, Dede R. Adawiyah, dan Budi Nurtama, peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor mencoba mempelajari pengaruh perbedaan kultur asal dan gender terhadap penerimaan dan ambang deteksi rasa manis. Mereka menggunakan responden sebanyak 90 orang mahasiswa baru (tingkat satu) IPB dari etnis Minang (Sumatera Barat), Jawa (Jawa Tengah) dan Nusa Tenggara, yang direkrut melalui Organisasi Mahasiswa Daerah. Kesimpulan penelitian agak berbeda. Responden suku Minang memberikan rata-rata skor penilaian tertinggi pada teh dengan konsentrasi gula 12.5%. Sedangkan responden dari Nusa Tenggara dan Jawa memberikan rata-rata skor penilaian tertinggi pada teh dengan konsentrasi gula 10%. Setelah mencapai skor maksimum, grafik skor kesukaan suku Minang dan Nusa Tenggara masih cenderung tinggi pada kisaran 7 (agak suka), sedangkan grafik skor kesukaan suku Jawa cenderung menurun ke kisaran skor 6 (sedikit suka). Dengan demikian, dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa responden dari Sumatera Barat (Minang) memiliki preferensi intensitas rasa manis yang lebih tinggi daripada responden dari Jawa Tengah dan Nusa Tenggara. “Hasil penelitian ini berlawanan dengan anggapan yang sekarang dianut oleh masyarakat luas yaitu meyakini bahwa orang yang berasal dari suku Jawa (Jawa Tengah) memiliki preferensi intensitas rasa manis lebih tinggi dari suku lainnya,” demikian laporan penelitian berjudul “Preferensi dan Ambang Deteksi Rasa Manis dan Pahit: Pendekatan Multikultural dan Gender” yang dimuat dalam Jurnal Mutu Pangan, Volume 1 edisi 1 April 2014. Indonesia merupakan negara multikultural. Masing-masing suku atau etnis memiliki kebiasaan makan dan preferensi rasa manis yang berbeda pada makanan yang dikonsumsinya. “Kalau saya di rumah aslinya tidak suka terlalu manis. Satu sendok saja cukup. Tapi kalau suguhan mesti manis,” kata Sinta sebelum mengantar senampan teh manis hangat ke ruang tamu.
- Persiapan Kertanagara Hadapi Kubilai Khan
SEBELUM meregang nyawa, Raja Singhasari, Kertanagara, melakukan upacara terakhir untuk membangkitkan kekuatan lain di luar dirinya. Dia mendapatkannya melalui ritual Tantrayana, sekte yang sering dianggap sebagai jalan mempercepat diri mendapatkan kekuatan. Aspek religi ketika masa Hindu Buddha memang merasuk kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Kekuatan fisik dan batin menjadi pencapaian yang diinginkan oleh orang-orang tertentu. “Realitas politik ada yang disebut balance of power . Eranya ketika itu pola keseimbangan ini merasuk di politik religi,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang. Ketika itu, Kertanagara berusaha mengimbangi Kaisar Mongol Kubilai Khan yang menganut Buddha Tantrayana aliran kalacakra. Aliran ini mulai berkembang di Benggala menjelang akhir pemerintahan dinasti Pala. Dari sana menyebar ke Tibet dan Nepal. Dari Tibet, tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara, Tantrisme menyebar didorong oleh pengetahuan bahwa Kubilai Khan telah dibaiat dalam ilmu gaib serta praktik Tantris. Kubilai Khan rupanya sangat tertarik dengan aliran ini karena sesuai jiwa bangsa Mongol. Melihat hal itu, tulis Sejarah Nasional Indonesia II , Kertanagara akhirnya sengaja mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual untuk menghadapi ancaman Kubilai Khan. Caranya dengan menjalankan ritual-ritual Tantris. Setelah merasa kuat, dia berani menolak dengan kasar utusan Mongol yang datang pada 1289. Aliran keagamaan yang dianut Kertanagara itu dapat disimpulkan lewat Kakawin Nagarakrtagama. Pun dari kenyataan dia ditahbiskan sebagai Jina di Kuburan Wurara pada 1289. Arca pentahbisannya berupa arca Aksobhya yang digambarkan dengan kepala gundul. Arca itu kini terkenal dengan nama Joko Dolog di Surabaya. Dengan tingkatannya itu, bagi Kertanagara tak ada lagi hal yang terlarang. Dia bisa dengan sadar melakukan pancamakara, atau ma lima . Menurut Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan, dengan menjadi Jina, artinya Kertanagara tak hanya menguasai kekuatan gaib di semesta alam. Dia pun menguasai kerajaan secara nyata. Diharapkan dasar pikiran Kertanagara sebagai Jina itu juga mempengaruhi politik kenegaraan yang dipegangnya. Sebagai Jina yang menguasai kekuasatan gaib di alam semesta, dia merasa kuat dan mampu menghindarkan segala bencana. Sementara, sebagai raja yang berkuasa di Singhasari, dia merasa sebagai kekuatan yang tertinggi. “Kekuasaan rohaniah, juga menguasai kerajaan secara nyata. Kekuasaan rohaniah dan lahiriah yang terdapat pada satu orang itu pasti saling mempengaruhi,” catat Slamet Muljana. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran orang-orang di masa lalu. Tak heran, kata Suwardono, sejarawan Malang, ketika suatu kota dimasuki musuh, yang terpenting bukan hanya raja yang dibunuh. Bukan pula secara fisik kota yang dibumihanguskan. Namun, secara filsafat magis religi pun harus dirusak. Artinya, untuk membunuh kekebalan, magis dari suatu kota harus dihancurkan. “Di daerah Karangwaru, ternyata ada arca Camundi yang ditemukan dalam keadaan hancur,” jelasnya. Dewi Camundi dijadikan dewa utama yang dipuja dalam ritus Tantra. Menurutnya, arca peninggalan masa Kertanagara yang kini disimpan di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan itu, hancur bukan karena proses alam. Dari pecahannya, bisa diketahui kalau arca itu memang sengaja dihancurkan. “Kalau hancur karena roboh pasti hanya dua tiga. Ini kecil-kecil. Kalau begitu apa? Itu berarti image religi harus dihancurkan. Sehingga tantris hilang, kekuatan tantra hilang,” jelasnya. Karena pemahaman semacam inilah, bekas bangunan keraton masa lalu di Indonesia sulit ditemukan hingga kini. Keraton yang sudah pernah dimasuki musuh, haram untuk ditempati kembali. “Sarananya harus dihancurkan,” tegas Suwardono. Meski begitu, agaknya persoalan Tantrayana ini masih menjadi perdebatan bahkan di kalangan para penulis kitab pada masa lalu. Menurut George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, kepribadian Kertanagara ditanggapi dengan cara yang sangat berbeda oleh beberapa sumber sejarah. Misalnya dalam Negarakrtagama dan Pararaton, meskipun sama-sama membahas genealogi raja-raja Jawa. “Dia kadangkala ditampilkan sebagai budayawan yang sangat halus ( Nagarakrtagama , red.), kadangkala sebagai pemabuk,” kata Coedes. Pararaton dan Harsawijaya memilih mengabadikan Kertanagara sedang bermabuk-mabukan ketika diserang Jayakatwang. Padahal, menurut Suwardono, saat itu dia tengah melaksanakan upacara Tantrayana yang bermaksud mendatangkan Dewi Heruka, kekuatan feminim yang bersifat tantris. “Baca Prasasti Gadjah Mada, banyak pendeta dan patih yang mati bersama Kertanagara. Pendeta siapa? Ya itu mereka yang ikut upacara untuk mendatangkan Heruka. Tapi terlambat keburu datang serangan Jayakatwang,” jelas Suwardono. Upacara akhirnya berjalan tak tuntas, Kertanagara tewas dan Singhasari luluh lantak.
- Utang Tak Terbayar?
PADA 3 Maret 1947, pemerintah RI di Yogyakarta mengajukan rancangan undang-undang kepada Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) mengenai pembayaran surat utang. Nilai yang diajukan untuk pembayaran surat utang itu, 5% untuk lembaran f 100 dan 4% untuk lembaran f 500 serta f 1000. Namun pembicaraan di BP KNIP tersendat karena pecah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Respon baru muncul dari BP KNIP pada Nopember 1947 terkait RUU pembayaran obligasi. BP KNIP membentuk Panitia Khusus Badan Pekerja dengan tugas mempercepat pembahasan kembali pelunasan obligasi di BP. Lagi-lagi, upaya ini tertunda karena Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Langkah serius pelunasan Pinjaman Nasional 1946 baru dilakukan kembali tahun 1954, semasa kabinet Ali Sastroamidjojo I. Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 26 tahun 1954 tentang Pembayaran Kembali Pinjaman Nasional 1946. Undang-undang ini mengatur beberapa perubahan seperti nilai nominal dari surat utang. “Pemerintah berhak menguak jumlah nominal dari surat-surat pengakuan hutang, maka setiap nominal 100 rupiah nominal dari pinjaman tersebut dianggap mempunyai nilai yang sama dengan 10 rupiah dalam mata uang yang sah sewaktu undang-undang ini berlaku,” bunyi pasal 1 Undang-Undang Nomor 26 tahun 1954 tentang Pembayaran Pinjaman Nasional 1946. Mengacu pada UU No. 4 tahun 1946, nilai nominal 100 rupiah Jepang sama dengan 3 rupiah ORI (Oeang Republik Indonesia). Namun pemerintah saat itu, dalam Memori Penjelasan atas UU RI nomor 26 tahun 1954 tentang Pembayaran Kembali Pinjaman Nasional 1946 , mengubah nilai nominal dari surat utang berdasarkan pertimbangan membalas budi para obligator yang berasal dari warga negara Indonesia sendiri sejak kemerdekaan 1945 dari 100 ORI menjadi 10 rupiah uang yang berlaku. Selain perubahan nilai nominal surat obligasi, UU nomor 26 tahun 1954 juga mengatur jangka waktu pembayaran Pinjaman Nasional. “Menteri Keuangan diberi kuasa untuk melunasi Pinjaman Nasional 1946 selambat-lambatnya dalam waktu 5 tahun anggaran, dimulai dengan tahun 1954 dengan ketentuan bahwa 5% akan dibayar sekaligus dan pembayaran sisanya diatur kemudian,” bunyi pasal 3 UU tersebut. Menteri Keuangan pun mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tanggal 30 Agustus 1955 mengenai peraturan Pelaksanaan Pembayaran Kembali Pinjaman Nasional 1946. Pinjaman Nasional yang sepertinya sudah beres ternyata menyisakan beberapa obligator yang akan meminta pelunasan. Lima puluh tiga tahun setelah SK Menkeu tanggal 30 Agustus 1955 terbit, muncul gugatan dari ahli waris pemegang surat utang yang diteken menteri Keuangan Soerachman tahun 1946 yang bernama Artip dari Banten. Mereka menggugat menteri keuangan dan gubernur Bank Indonesia (BI) untuk mengembalikan pinjaman yang kini telah mencapai 1,185 miliar rupiah. “Pemerintah mengeluarkan kebijakan Pinjaman Nasional dan mempunyai hutang kepada almarhum Artip dengan perincian; Pinjaman Nasional Negara Republik Indonesia 1946 dengan bunga 4 persen, Resipis Oentoek Soerat Pengakoean Oetang sebesar f 100, pada tanggal 1 Mei 1946 No. A 92756,” seperti dikutip dari laman Kompas , 27 Agustus 2008. Dalam sidang gugatan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ahli waris Artip tak dapat melanjutkan gugatannya. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusannya, Februari 2009, menyatakan gugatan para ahli waris tidak dapat diterima. Utang negara yang tercatat dalam Resipis Oentoek Soerat Pengakoean Oetang 1 Mei 1946 dinilai kadaluarsa. Sebab, sejak 1954 pemerintah telah mengumumkan pembayaran utang lewat UU No. 26 Tahun 1954 tentang Pembayaran Kembali Pinjaman Nasional 1946 dan Keputusan Menteri Keuangan (Menkeu) tanggal 1 Agustus 1955 tentang Pelaksanaan Pembayaran.*
- Marilyn Monroe Indonesia
JUMAT malam, 7 Agustus 1959. Kota Bandung geger. Kali ini bukan karena Westerling masuk kota, melainkan artis cantik Titin Sumarni yang berjalan telanjang kaki menyusuri jalanan kota. Mengenakan baju merah muda dengan bawahan hitam, dia berjalan diiringi puluhan sepeda motor dan penarik becak. Sekira 7 kilometer sudah dia tempuh. Lalu lintas kota tersendat karena ulahnya berjalan di tengah jalan raya. “Rupanya saya saat itu terlalu sedih dan bingung. Saya tak ingat lagi dimana persisnya kantor polisi karesidenan Priangan. Saya tidak tahu apakah saya saat itu berjalan di tengah seperti yang dikatakan orang. Tapi saya tahu pula bahwa di belakang saya mengarak puluhan kendaraan. Di pertigaan jalan raya barat dan jalan Garuda, seorang polisi menghentikan saya. Saat itu saya sudah sangat letih, lalu diantarkan olehnya menggunakan truk ke rumah famili saya,” ujar Titin dikutip harian Pikiran Rakjat , 10 Agustus 1959. Keesokan harinya, 8 Agustus 1959, Titin sampai di kantor polisi. Dia melaporkan Muhammad Jahja Ali, seorang pengusaha dari Bandung. “Saya sudah cukup bersabar dan telah berusaha mendapatkan penyelesaian secara langsung darinya, namun dia berusaha mengelak. Karena itu terpaksa saya melaporkannya kepada yang berwajib, dengan risiko besar karena masyarakat menjadi tahu hal ini. Namun hal itu sudah saya pikirkan masak-masak,” ujar Titin. Kecantol Pengusaha Titin Sumarni, yang oleh penggemarnya dijuluki Marilyn Monroe, sudah tiga tahun absen dari dunia film. Film terakhirnya, Janjiku produksi Persari (Perseroan Artis Republik Indonesia) milik Djamaludin Malik. Setelah itu, dia dikabarkan menjalin kisah asmara dengan beberapa pria, namun media tak menggubrisnya. Baru pada medio 1959, kisah asmaranya dengan Muhammad Jahja Ali menjadi pemberitaan media massa. Pengusaha ini adalah kolega ayahnya. Jahja mengaku mengenal Titin sejak tahun 1939. Saat itu, dia adalah karyawan Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) yang bertugas di Surabaya. “Nyonya Titin Sumarni saat itu berumur 7 tahun. Sejak tahun 1945, saya dan istri saya mengenal nyonya Titin Sumarni. Dia juga sering datang ke rumah saya dan berteman baik dengan adik istri saya. Setelah nyonya Titin Sumarni bersuami dan pindah ke Jakarta, saya jadi jarang berjumpa,” ujar Jahja dikutip harian Pikiran Rakjat , 13 Agustus 1959. Dari sini, nampak perbedaan usia antara Titin dan Jahja yang jauh. Perjumpaan selanjutnya antara Titin dan Jahja terjadi pada Desember 1958 di studio Persari. Saat itu, Jahja sedang mengerjakan gedung-gedung milik Djamaludin Malik, pengusaha dan produser film. Pemberitaan menyoal aduan Titin kepada Jahja cukup menyita perhatian. Pikiran Rakjat , media di Bandung, merekam perseteruan Titin dan Jahja pada medio Agustus 1959. Titin menuding Jahja tak bertanggungjawab atas kehamilannya. Bahkan, saat dia mengalami pendarahan yang mengakibatkan kematian bayinya, Jahja tak kunjung datang. “Waktu itu, hati saya menjerit-jerit. Bayi akan dikuburkan, dia tak ada. Sedang saya sendiri masih belum bisa berjalan karena selain melahirkan juga karena pendarahan. Sungguh anak yang malang, dia dikuburkan tanpa disaksikan ayahnya,” ujar Titin dalam Pikiran Rakjat , 11 Agustus 1959. Titin pun akan menuntut ganti rugi sebesar Rp5 juta kepada Jahja. Jahja akhirnya buka suara. Dia menampik sebagai ayah biologis dari anak Titin yang baru meninggal dan pertemuan terakhirnya dengan Titin terjadi pada April 1959. “Titin sedang mengandung dari suaminya yang kedua dan mengajukan cerai di pengadilan agama Surabaya,” kilah Jahja. Perseteruan Titin dengan Jahja mendapat perhatian dari Badan Penasehat Perkawinan, Perselisihan dan Perceraian (BP4) Jawa Barat. “Apa yang terjadi pada Titin Sumarni dan Muhammad Jahja Ali adalah kesalahan perkawinan. Seharusnya, jika dijumpai kemacetan, yang tidak bisa membahagiakan kedua belah pihak, maka diperbolehkannya bercerai dengan cara baik-baik,” ujar Abdurrauf Hamidie, ketua BP-4 sekaligus kepala Kantor Urusan Agama Jawa Barat, dikutip Pikiran Rakjat , 14 Agustus 1959. Tidak jelas bagaimana akhir perseteruan Titin-Jahja. Menurut Tanete Pong Masak dalam Sinema Pada Masa Sukarno, kisah asmara Titin tak berhenti di situ. Dia masih terlibat urusan asmara dengan beberapa pria lain, seperti Enoch Danubrata, kepala polisi Jawa Barat; Entje Senu Abdul Rachman; dan terakhir dengan Sampetoding, saudagar dari Makassar. “Dia menemui ajalnya secara tragis pada tahun 1966 setelah dirawat di rumah sakit karena TBC. Kata orang, kematiannya disebabkan oleh racun yang didatangkan dari luar rumah sakit, pekerjaan salah seorang dari tujuh mantan suaminya,” tulis Tanete.
- Swadana untuk Negara
PROGRAM Pinjaman Nasional 1946 mendapat sambutan hangat dari rakyat di berbagai daerah. Di Sleman, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten pada 22 Mei 1946 memutuskan bahwa hampir seluruh rakyat akan membeli surat Pinjaman Nasional sebesar satu juta rupiah secara gotong-royong. Setiap orang yang mengeluarkan uangnya untuk program itu akan mendapat bukti juga dari DPR. Partai Masyumi memutuskan dalam sebuah rapat di Magelang, membeli obligasi f 60.000. Beberapa partai dan organisasi, tulis Langgeng Sulistyobudi dalam artikel “Ketika Negara Berutang Kepada Rakyatnya: Pinjaman Nasional 1946”, seperti Partai Nasional Indonesia cabang Solo; PB Ikatan Pelajar Indonesia; Pusat Pimpinan Pemuda Kalimantan; Pusat Barisan Tani Indonesia, dan beberapa perkumpulan kecil lain telah memberi instruksi kepada anggota mereka untuk membeli surat obligasi tersebut, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama. Masyarakat Tionghoa tak ketinggalan. Mereka ikut dalam program Pinjaman Nasional 1946. Di samping itu, tulis Twang Peck Yang dalam Elite Bisnis Cina di Indonesia dan Masa Transisi Kemerdekaan 1940-1950 , mereka juga aktif dalam program bantuan lain seperti Fonds Perjuangan, Dana Masyumi, Dana Pemondokan Kaum Buruh, dan Partai Buruh Indonesia. Demikian pula kalangan Arab. “Untuk memberikan informasi yang benar tentang ‘pinjaman nasional’ di kalangan warga negara Indonesia turunan Arab, dalam pertemuan yang dilangsungkan tanggal 2 Juni 1946 di Jakarta didirikan panitia ‘Pinjaman Nasional’ yang diketuai oleh tuan H.M.A. Husin Alatas,” tulis Langgeng mengutip Berita Antara, Mei 1946. Tak hanya kalangan sipil yang mendukung program pinjaman itu. Angkatan bersenjata menjamin akan ada pembelian secara gotong-royong di institusinya. Upaya menggalang pinjaman dari warga negara tersebut berbuah manis. Berita Antara edisi 3 Juli 1946 melaporkan hasil pinjaman nasional di daerah Priangan dengan rincian di Kabupaten Tasikmalaya terkumpul f .14.986.600, Kabupaten Ciamis f 8.134.300, Kabupaten Garut f 5.844.200, Kabupaten Sumedang f 4.253.500, Kabupaten Bandung f 4.435.900. Masih di bulan yang sama, Partai Nasional Indonesia Toeroenan Arab (PARNITA) cabang Palembang berhasil mengumpulkan uang f 70.000. Demikian pula di Banyumas, berhasil dikumpulkan f 4.460.000. Dana itu kemudian disalurkan melalui program Pinjaman Nasional. “Hasil penjualan surat obligasi tercatat di Jawa dan Madura sebesar f 318.644,50. Dan penjualan di daerah Sumatra sebesar f 208.330.100,” seperti dikutip dari UU Nomor 26 tahun 1954 tentang Pembayaran Kembali Pinjaman Nasional 1946. Dua bulan setelah UU nomor 4 tahun 1946 tentang Pinjaman Nasional itu diteken, pemerintah mengeluarkan UU baru, UU Nomor 9 tahun 1946 tentang Peraturan untuk Merubah UU No.4 tahun 1946 tentang Pinjaman Nasional. UU baru berisi dua pasal. Pertama , mengenai “bunga” dalam UU No.4 tahun 1946 tentang Pinjaman Nasional diganti menjadi “hadiah”. Kedua , mengenai pembayaran, jika pemegang surat utang tidak mau menerima “hadiah”, maka tidak akan akan dialihkan kepada badan-badan amal.
- Antara Pujangga Mengabdi dan Melawan
SIKAP para pujangga terhadap pemerintah kolonial terlihat dalam karya sastra yang dihasilkannya. Misalnya, naskah Hikayat Mareskalek karya Abdullah bin Muhammad Al-Misri, keturunan Arab yang mengagungkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Dalam Hikayat Mareskalek, Jawa digambarkan tengah mengalami kemunduran dan degradasi moral. Segala maksiat tumbuh di Jawa. Sementara kedatangan Daendels dimunculkan selayaknya mesias. Dia dan bangsa kulit putih (Belanda) adalah pembawa cahaya bagi penduduk Jawa. “Naskah semacam ini bisa muncul mengingat posisi Abdullah bukanlah bumiputra. Dalam stratifikasi sosial saat itu, posisinya ada di kelas menengah. Bahasa-bahasa yang digunakan lebih memilih menguntungkan yang di atas, daripada yang di bawah, yang di atas adalah para patron Hindia Belanda,” kata Sudibyo, dosen sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dalam diskusi yang diselenggarakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (29/3). Sebaliknya, sikap perlawanan terhadap kolonialis terbaca jelas dalam Syair Perang Mengkasar . Naskah itu mengangkat perang besar antara Kerajaan Goa dengan VOC. Penulis syair, Enci Amin merupakan juru tulis Sultan Hasanuddin, raja Goa. Karena berpihak pada Goa, dia pun menciptakan gelar yang menghina lawan. Misalnya, dia menyebut Belanda dengan “Welanda Iblis, si la’nat Allah, Welanda kafir yang bain.” “Sehingga peperangan yang dilakukan Goa terhadap Belanda dapat dianggap sebagai suatu kewajiban teologis,” kata Sudibyo. Ada pula pujangga yang bersifat abu-abu. Misalnya Syair Kompeni Walanda Berperang dengan Cina. Secara garis besar alur ceritanya sejajar dengan narasi sejarah pembataian etnis Tionghoa di Batavia pada 1740. Peristiwa ini menimbulkan perlawanan terhadap VOC di beberapa kota di Pantura. “Prajurit VOC tawanan Istana Kartasura dipaksa mengucap kalimat syahadat, disunat, dipaksa mengenakan pakaian ala Jawa, dan dijadikan pegawai istana Kartasura,” jelas Sudibyo. Di sisi lain, dalam naskah itu juga muncul stereotipe dan makian kepada masyarakat Tionghoa, seperti "Cina keparat salah hati, gila keparat, Cina celaka, si kutuk laknat anjing celaka, dan Cina durhaka". Stereotipe juga ditujukan kepada Madura dan Bali. Orang Bali disebut dengan "babi alas, macan alas". Dalam surat kepada Pangeran Madura, Himop (Van Imhoff, gubernur jenderal VOC) menyebut Pangeran Madura dengan sebutan "Madura Busuk Hati, binatang alas babi hutan, dan babi hutan anak asu". Pangeran Madura, juga memaki utusan Himop dengan sebutan "alperes anjing welandi". "Saya melihat sosok ini (penulis Syair Kompeni Walanda Berperang dengan Cina ) mengambil posisi tak jelas, abu-abu supaya ke sana selamat ke sini selamat. Karena dia anonim tidak bisa diidentifikasi, tahun terbit juga sama sekali tidak diketahui. Tradisi sastra lama memang begitu,” kata Sudibyo. Menurut Sudibyo naskah sastra yang dikeluarkan pujangga luar istana biasanya cenderung lebih jujur. Bahasanya jauh lebih ekspresif. Penulis bisa lebih bersuara bebas. Naskah-naskahnya bisa dianggap menggambarkan pemikiran masyarakat kala itu. Namun, kata Sudibyo, hal itu harus juga memperkirakan kapan naskah diciptakan. Jika ditulis sezaman dengan peristiwa sebenarnya, maka validitasnya masih bisa diterima. Seperti Hikayat Mareskalek yang ditulis pada pertengahan abad 19, hampir sezaman dengan Daendels di Hindia Belanda (1808-1811). “Ingatan orang pada masa itu masih tajam,” kata Sudibyo. “Namun, kalau jarak waktunya panjang, itu sudah berjarak, jarak itu kemudian diisi fiksi dan imajinasi.” Sebaliknya, naskah yang berasal dari dalam tembok keraton berbahasa lebih santun. Pujangga istana sangat terikat oleh sikap politik tuannya. “Filter karya biasanya lewat kesetiaan pujangga pada tuannya. Para pujangga istana tahu apa yang menyenangkan raja, dan apa yang tak disukai,” kata Sudibyo. Beberapa pujangga keraton juga sering mengambil inspirasi dari budaya kolonial. Seperti dalam Serat Baratayudha dari Pakualaman. Penciptanya membuat tampilan ilustrasi naskah dengan mengawinkan budaya Jawa dan Belanda. Misalnya, dalam penggambaran adegan perang, di sana ditampilkan bendera triwarna, merah-putih-biru; dan bendera gula kelapa, merah dan putih yang menjadi bendera Keraton Yogyakarta. Ada pula penggambaran jamuan makan ala Belanda, Rijsttafel. Di atas meja makan terdapat nama-nama Kurawa dan Pandawa. Namun, jenis hidangan yang disajikan merupakan hidangan Eropa lengkap dengan susunan sendok, garpu, dan pisau. “Ini adalah persentuhan kolonial dengan local genius yang ada dalam keraton Nusantara. Jadi, dalam bidang naskah para pujangga kita terutama yang bergerak di bidang artistik sudah sedemikian rupa memanfaatkan unsur asing dalam iluminasi yang dibuatnya,” kata Sudibyo.
- Pak Haji dan Ringkikan Kuda
HAJI Agus Salim dikenal sebagai tokoh Indonesia yang pandai berbicara dalam berbagai bahasa dunia. Bukan saja bahasa negara-negara selain Indonesia, namun juga bahasa-bahasa daerah. Bahkan begitu menguasainya, hingga ia bisa meniru logat tokoh-tokoh penjahat yang ia dapat dari pertunjukan drama atau tonil. Kendati hampir sebagain besar tidak mengeyam bangku pendidikan formal, kemampuan menguasai berbagai bahasa tersebut ternyata menurun pula kepada semua putra dan putrinya. Termasuk kepada Muhammad Islam yang sangat pandai sekali berbahasa Inggris. Kepandaian itu pula yang membuat Jef Last, salah seorang tokoh sosialis Belanda terkesan dan merasa penasaran. Untuk menuntaskan keingintahuannya itu. Suatu hari Jef menanyakan soal tersebut secara langsung kepada Agus Salim. “Pak Haji bagaimana bisa, Islam begitu fasih berbahasa Inggris kalau dia tidak pernah disekolahkan?” tanya Jef seperti termaktub dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim. Ditanya demikian, Agus Salim malah balik bertanya kepada Jef: “Apakah anda pernah dengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris dan Islam pun ikut meringkik, juga dalam bahasa Inggris…” Di lain waktu, kala Agus Salim mengunjungi Amerika Serikat kali pertama pada 1947, beberapa jurnalis muda setempat secara iseng menanyakan pendapat Haji Agus Salim mengenai new look , busana yang tengah menjadi trend para gadis Amerika ketika itu. Apa jawaban Agus Salim: “Rok-roknya memang bagus sekali, tetapi menurut pendapat saya betis-betis di bawah rok-rok itu malah lebih bagus.” Karena kecerdikannya dalam berdiplomasi, Agus Salim kerap dipanggil oleh pers Barat sebagai The Old Fox (Srigala Tua). Sebutan itu sangat populis hingga di kalangan para pejabat pemerintahan Republik. Namun tak ada orang yang menyangka, julukan tersebut akan memicu terjadinya suatu kejadian lucu di tahun 1946. Ceritanya, sebelum meninggalkan Indonesia, tentara Inggris mengadakan pesta perpisahan. Dalam situasi yang sangat sentimental itu, ada beberapa perwira Inggris yang berinisiatif mengadakan toast tradisional Inggris yakni to the old folks at home . Karena tidak mengerti dengan tradisi tersebut dan salah paham dengan istilah itu ( old folks bunyinya hampir sama dengan old fox ), maka begitu diserukan kata-kata itu, orang-orang Indonesia ramai-ramai bangkit sambil menjawabnya: Haji Agus Salim. HAS sendiri cuma senyum mesem saja melihat peristiwa itu. Lain lagi kisah pertemuan antara Agus Salim dengan Buya Hamka. Menurut salah satu cucu Agus Salim, Agustanzil Sjahroezah, pada suatu hari di tahun 1927 pemuda Hamka yang tengah menimba ilmu di Mekah pernah dinasihati oleh Agus Salim. Nasehatnya supaya Hamka jangan terlalu lama tinggal di tanah suci tersebut. Menurut Agus Salim, Hamka harus mengikuti jejak sang ayah: Syaikh Abdul Karim Amrullah yang jadi ulama besar di alam tanah air sendiri. Kata Agus Salim, soal-soal agama yang timbul di Indonesia yang harus memecahkan masalahnya adalah orang Indonesia sendiri. “Kalau engkau terbenam bertahun-tahun di Mekah, pulangnya kau hanya akan menjadi tukang baca doa di pesta kendurian,” ujar Agus Salim. Namun tak banyak orang tahu jika sang diplomat terkemuka Indonesia itu pernah “dikalahkan” oleh seorang sais andong. Menurut salah satu putri Agus Salim, almarhumah Bibsy Soenharjo saat tinggal di Yogyakarta pada 1948, Agus Salim pernah menaiki sebuah andong. Saat mulai berjalan tiba-tiba terdengar suara dari bagian belakang tubuh kuda dibarengi bau tak sedap. Rupanya kuda tersebut tengah buang gas. “Wah kudanya masuk angin,” ujar Agus Salim secara spontan. “Salah Pak, bukan masuk angin, tapi keluar angin,” jawab Si Sais Andong. Demi mendengar bantahan itu, Agus Salim langsung terdiam namun sambil tersenyum. Rupanya itu pertanda bahwa Agus Salim membenarkan jawaban sang sais andong tersebut.





















