Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Apa dan Siapa Islandia?
PECINTA sepakbola tanah air boleh berbangga renovasi Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK) telah selesai. Renovasi yang dilakukan dalam rangka Asian Games 2018 itu tak hanya alakadar macam renovasi-renovasi sebelumnya, tapi menyulap GBK menjadi stadion modern nan canggih. Yang membanggakan lagi, ujicoba pertama GBK pasca-renovasi akan menyuguhkan dua tontonan menarik pada 11 dan 14 Januari mendatang. Pada tanggal 11, kesebelasan Indonesia Selection akan menjamu kuda hitam Islandia. Tiga hari berikutnya, giliran timnas Indonesia yang meladeni timnas Islandia. Islandia? “Ya kalau 10-20 tahun lalu kita bicara Islandia, pasti diketawain. Siapa mereka? Namun dalam 10 tahun terakhir itu juga mereka melakukan pembenahan serius,” kata pelatih dan mantan pemain Persiba Balikpapan Timo Scheunemann kepada Historia (5/1). Jangankan prestasi sepakbola, nama Islandia pun masing asing di telinga publik tanah air. Negeri-pulau yang terletak dekat Kutub Utara itu memang kurang “bermasyarakat” dalam lingkungan global. Selain sebagai tujuan wisata populer sebagian kecil orang Eropa, Islandia hanya terkenal sebagai penghasil ikan laut. Karena ikan itu pula Islandia pernah perang melawan Inggris. Dalam sepakbola, tak banyak yang bisa diketahui dari negeri itu selain nama Gylfi Sigurdsson atau Eidur Gudjohnsen. Nama terakhir begitu dikenal publik, terutama media-media asal Inggris dan Spanyol, lantaran punya prestasi dua gelar Premier League semasa membela klub Chelsea FC dan La Liga, Copa del Rey, serta Champions League saat berseragam FC Barcelona. Namun, sebagai bangsa Viking, yang dikenal ulet dan gigih, Islandia tak pernah menyerah sehingga namanya lamat-lamat mulai terdengar dalam dunia sepakbola global. Prestasi bagusnya di Euro 2016 lalu meroketkan nama Islandia. Di masa lalu, Islandia baru mengenal sepakbola pada akhir abad ke-19. Meski berkembang lambat, pada 1912 Islandia sudah punya liga bernama Urvalsdeild, yang hanya diikuti tiga klub. Laga internasional pertama Islandia berlangsung 29 Juli 1930 kala mengalahkan Kepulauan Faroe 1-0. Namun, karena kedua negara belum masuk FIFA, laga itu tak masuk sebagai laga resmi FIFA. FIFA baru mengakui laga resmi internasional Islandia pada 17 Juli 1946, saat Islandia dikalahkan Denmark 0-3 di Reykjavik. Sementara, UEFA (badan sepakbola Eropa) dalam situs resminya menyatakan baru mengabulkan pengajuan Islandia untuk mendaftar pada 1954. Itu berarti Islandia baru menjadi bagian sepakbola Eropa tujuh tahun setelah memiliki induk organisasi sepakbola (KSI). Meski dalam berbagai ajang, baik Piala Eropa, Piala Dunia maupun Olimpiade, Islandia dianggap “anak bawang” nirprestasi, negeri itu tak pernah berhenti belajar dan berusaha. Sejak awal tahun 2000-an, Islandia berbenah. Menurut Brian Koh dalam artikelnya di Soccer Politics, salah satu situs di bawah naungan Duke University, North Carolina, Amerika Serikat mengungkapkan, Islandia memulai proyek jangka panjang dengan beragam program. Selain membenahi fasilitas, seperti dibangunnya banyak lapangan indoor , Islandia membenahi pembinaan pemain muda dan kepelatihan. “Hasilnya, mereka mengawali sukses dengan lolos kualifikasi untuk Piala Eropa U-21 untuk pertama kalinya pada 2011,” tulis Koh. Generasi yang sama turut membawa Islandia sampai ke perempatfinal Euro 2016 lalu di Prancis. “Mereka menjadikan impossible menjadi possible. Di Euro 2016, mereka jadi giant killer (pembunuh raksasa). Melawan Portugal mereka imbang, juga mengalahkan Inggris di (babak) 16 besar,” Koh melanjutkan. “Ya maklum saja. Mereka pegang rekor negara terkecil dari segi jumlah penduduk dan wilayah negara yang lolos Euro (2016) kemarin. Sekarang pegang rekor negara terkecil juga yang masuk Piala Dunia. Makanya kita enggak pernah dengar,” lanjut Timo. Di Piala Dunia 2018 mendatang di Rusia, keikutsertaan Islandia bahkan sudah tercatat sejak jauh hari. Ia mengalahkan raksasa macam Italia atau Belanda, yang gagal lolos. Jelas bukan faktor pembinaan semata yang membuat Islandia meroket. Menurut Timo, faktor mental dan kultur bangsa Islandia berperan penting. Mental yang pantang menyerah dan tak pernah puas jadi modal berharga Islandia berkembang hingga seperti sekarang. “Prestasi mereka di Euro tak menjadikan mereka lupa diri. Malah mereka merasa under-perform dan tidak menampilkan permainan sebagaimana yang mestinya mereka tampilkan. Itu yang saya bilang kultur dan mental. Ibaratnya ada tanah yang tandus dan subur. Nah , Islandia seperti halnya Jerman, itu tanahnya subur. Mentalnya luar biasa dan mereka jadi contoh yang sangat bagus buat Indonesia,” tandas Coach Timo.
- Media Komunikasi dalam Lagu
KECEWA lantaran sang kekasih manja, aktivis perempuan Sujatin langsung menulis surat. Dari Yogyakarta, dia mengirim surat itu ke Batavia, tempat sang kekasih berada. Lewat surat itu, hubungan cinta keduanya pun berakhir. Pada 1930-an itu, surat menjadi andalan komunikasi jarak jauh orang dari berbagai tempat. Ia digunakan untuk beragam keperluan mulai dari urusan pribadi hingga pemerintahan maupun relasi antarnegara. Popularitas surat sebagai media penyampai pesan itu menginspirasi banyak musisi untuk membuat lagu bertema surat atau menyertakan surat di dalam lirik-liriknya. Di Indonesia saja, lagu yang memuat surat tak terhitung jumlahnya. Lagu “Surat Cinta” Nur Afni Octavia (rilis tahun 1970-an), “Kau Tercipta Bukan Untukku” ciptaan Obbie Messakh yang dibawakan Ratih Purwasih (1980-an), atau “Kangen”-nya Dewa 19 (1990-an) hanyalah satu dari sekian banyak lagu bersurat dari tiap dekade. Selain berkirim surat, orang-orang pra-era komunikasi satelit berkomunikasi dengan menggunakan telepon. Penggunaan alat komunikasi yang dikembangkan dari radio itu juga menginspirasi para musisi untuk menjadikannya sebagai tema lagu-lagu mereka. Gombloh, musisi asal Surabaya yang beken pada 1980-an, salah satunya. Lewat lagu “Kugadaikan Cintaku”, yang dirilis pada 1986 dalam album Semakin Gila , dia tak hanya meraup sukses dengan meledaknya lagu itu tapi sekaligus menjadikan komunikasi telepon sebagai penanda zaman. “Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu. Kutelepon, di rumahmu, sedang apa sayangku,” demikian penggalan lirik lagu tersebut. Bagi muda-mudi, penggunaan telepon untuk komunikasi dengan kekasih atau perempuan yang jadi incaran untuk dijadikan pacar amat penting dan mengasyikkan. Meski hanya bisa mendengarkan suara, suara gadis pujaan di telepon mampu membunuh rindu dalam kalbu. Sampai pertengahan 1990-an, ketika pemerintah belum menggalakkan pemasangan telepon rumah, telepon umum pun jadi tempat tujuan banyak orang. Telepon umum koin mulai muncul di Indonesia pada 1981. Antara 1983-1988, Telkom memasang 5.724 unit di berbagai daerah. Setelah itu, Telkom mengembangkan dengan telepon umum kartu. Mulai dipasang pada 1988, telepon umum kartu awalnya hanya dipasang Telkom sebanyak 95 unit. Jumlah itu pun terus bertambah. Hingga 1993, jumlah telepon umum kartu telah mencapai 7.835 unit. Di telepon umum-telepon umum itulah muda-mudi dari berbagai kota di Indonesia sering melepas rindu pada kekasih. Meski kerap harus mengantri, mereka rela demi mendengar suara pujaan hati. Fenomena itu yang menginspirasi diciptakannya lagu “Telepon Umum” milik Wiwiek Sumbogo (1987). Lagu ini mengisahkan orang-orang yang menelepon untuk membunuh jenuh saat menunggu bis datang. Kebetulan, kala mengantri telepon umum, si penyanyi bertemu pujaan hati. Kala radio panggil atau pager mulai booming pada akhir 1990-an, muncul pula lagu yang mengiringinya, “ Tididit”. Lagu yang dinyanyikan grup Sweet Martabak ini liriknya berbunyi, “Tididit pagerku berbunyi, tididit begitu bunyinya.” Menurut WartaEkonomi, pada 1997 ada sekira 60.000 pelanggan yang dilayani PT Persada Komindo. Perusahaan yang dipimpin Hengky Liem ini mengelola Nusapage, operator pager yang bekerjasama dengan Motorola. Pada Februari di tahun yang sama, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) Joop Ave meresmikan PT Metro Media Raya. Perusahaan dalam negeri ini memproduksi radio panggil dengan merek Falcon. Harapannya, operator radio panggil dalam negeri akan bekerjasama dengan pabrikan dalam negeri dibanding pabrikan luar. Meski tak masuk ke semua lapisan masyarakat, pager amat berguna bagi penggunanya. Aktivis HAM Usman Hamid dalam Digital Nation Movement mengingat, saat demo 1998 para mahasiswa menggunakan pager atau HT untuk memudahkan koordinasi. Kejayaan pager tergusur begitu telepon seluler (ponsel) mulai dijual murah pada tahun 2000-an. Pada akhir 1990-an pager mampu bertahan karena ponsel di Indonesia masih mahal baik harga perangkatnya maupun biaya operasionalnya. Pesan singkat atau SMS (Short Messages Service) sebagai salah satu fitur dalam ponsel menjadi media paling diandalkan untuk berkomunikasi jarak jauh karena berbiaya murah. Asa Briggs menulis dalam Sejarah Sosial Media , di Amerika Serikat layanan pesan singkat mulai dikenalkan tahun 2000. Meski awalnya SMS tak mendapat sambutan antusias, pada 2001, tulis SundayTimes, para remaja kecanduan untuk saling berkirim pesan singkat. Bahkan, seorang remaja bisa mengirim sampai 1000 SMS dalam sebulan. Di Indonesia sendiri, pada 2006 pelanggan jasa telepon selular dengan berbagai platform dari semua operator mencapai 64 juta. Di tahun yang sama, lagu “SMS” yang dinyanyikan Ria Amelia muncul dengan lirik, “Bang, SMS siapa ini, Bang.” Kemunculan Facebook pada paruh kedua 2000-an ikut mempengaruhi pola komunikasi di Indonesia. Dengan jumlah pengguna yang terus meningkat, dari 322 ribu orang pada 2008 menjadi 26,8 juta pada 2010, Facebook kini menjadi salah satu media komunikasi utama lintas-usia dan lintas-gender. Sebagai media komunikasi yang menandakan sebuah zaman, Facebook menginspirasi band Gigi merilis lagu berjudul “My Facebook” pada Agustus 2009. Lagu tersebut mengisahkan pertemuan mantan kekasih melalui Facebook .
- Muslim Zaman Dinasti Tang
SAMPAI tulisan ini digarap, belum ditemukan literatur era Dinasti Tang (618-907) yang membahas secara benderang soal adanya penganut Islam –baik itu orang China sendiri atau pun mereka yang berasal dari wilayah kekuasaan kekhalifahan yang membentang begitu luas– di China. Keberadaan muslim di China zaman Dinasti Tang hanya didasarkan pada asumsi bahwa pedagang, diplomat, dan atau prajurit yang disebut catatan-catatan China klasik berasal dari Dashi alias Arab, adalah menganut Islam dan karenanya keturunan mereka setelah menikah dengan penduduk lokal juga mengimani agama yang sama dengan leluhurnya.
- Silang Pendapat tentang Irian Barat
Silang pendapat tentang Irian Barat terjadi di antara sesama anggota delegasi Indonesia. Bung Hatta memutuskan untuk menyelesaikannya di kemudian hari.
- Meninjau Kembali Peran Arung Palakka
DI bulan Desember ini, 350 tahun yang lalu, suasana tegang masih menyelimuti hati setiap orang di Benteng Somba Opu. Sebuah perjanjian yang sangat penting bagi Kerajaan Gowa-Tallo baru saja ditandatangani sebulan sebelumnya, tepatnya pada 18 November 1667. Perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Bungaya itu terpaksa disetujui oleh pihak Kerajaan Gowa-Tallo setelah berkonflik dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) selama setengah abad. Sejak paruh pertama abad ke-17, berbagai perlawanan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gowa-Tallo di Kepulauan Maluku dianggap sebagai ancaman serius. Saat itu Kompeni melakukan berbagai cara untuk memantapkan monopoli perdagangan di kawasan timur Nusantara tersebut. Kompeni yang melihat banyaknya palili’ (daerah/kerajaan bawahan) yang dimiliki Gowa, serta dengan mempertimbangkan suasana politik yang panas antara palili’ dan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa, akhirnya menemukan celah dengan menjalin koalisi tak terduga dengan Arung Palakka, seorang bangsawan nan cerdas dari Bone yang dibawa sebagai tawanan ke Gowa pada akhir 1644.
- Inilah Makanan Orang Jawa Kuno
DATA tentang makanan kebanyakan muncul dalam prasasti yang menuliskan aneka hidangan yang disuguhkan pada upacara sima (tanah perdikan atau tanah bebas pajak). Khususnya pada bagian penutup, yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara sima. Bukan hanya dalam prasasti, naskah kuno dan panil relief juga sering menyajikan keterangan mengenai makanan. Berikut ini makanan-makanan yang dimakan orang Jawa Kuno. Masakan dari Nasi Nasi tumpeng atau disebut skul paripurna biasanya disajikan dalam perayaan penetapan suatu desa sebagai sima. Dalam prasasti juga biasa disebutkan skul liwet, yaitu nasi yang ditanak dengan pangliwetan. Adapun skul dinyun adalah nasi yang ditanak dalam periuk. Sementara skul matiman adalah nasi yang ditim.
- Mata Uang Tiongkok Era Majapahit
PADA masa Majapahit ada kecendrungan baru terkait uang. Masyarakatnya menjadi punya kebiasaan menabung menggunakan celengan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kebiasaan ini banyak dijumpai, khususnya di pusat kota. Uang yang mereka tabung biasanya mata uang logam dari Tiongkok yang sudah lama mempengaruhi sistem moneter di wilayah Nusantara. Hal ini berkaitan erat dengan hubungan dagang antardua wilayah itu. Mata uang baru ini terutama terbuat dari tembaga dan digunakan terbatas pada akhir abad 10 M. Mata uang tembaga Tiongkok diimpor secara besar-besaran ke Jawa seiring meningkatnya perdagangan dengan Tiongkok pada abad 11 M dan awal abad 14 M. Mata uang ini kemudian dikenal dengan sebutan picis.
- Permusyawaratan Perempuan
BERSAMA 360 perempuan yang dipimpinnya, Nyonya Hafni Abu Hanifah bergegas ke Yogyakarta dari Jakarta. Mereka tak menghiraukan bahaya yang bakal menghadang akibat belum usainya perang. Beberapa daerah yang bakal dilalui keretapi yang mereka tumpangi masih dikuasai tentara Belanda. Dalam perjalanan, di daerah kekuasaan tentara Belanda, mereka harus mengalami pemeriksaan. Tentara Belanda menggeledah seisi gerbong. Satu per satu anggota rombongan Nyonya Hafni menjalani interogasi. Toh, hal itu tak meluluhkan tekad mereka untuk menghadiri dan menyukseskan acara Permusyawaratan Perempuan. Lewat acara itu, para perempuan akan menentukan sikap perjuangan baik bagi kaum mereka maupun kedaulatan negeri. Sumbangsih Untuk Negeri Mendengar akan dilaksanakannya Konferensi Meja Bundar (KMB), para perempuan aktivis bersemangat untuk ikut serta. Bukan dengan cara langsung ikut dalam KMB tapi dengan mengadakan Permusyawaratan Wanita Seluruh Indonesia di Yogyakarta, 26 Agustus-2 September 1949. Burdah Yusupadi, Siti Sukaptinah, dan Maria Ulfah, sesuai hasi Kongres Wanita Indonesia VII di Solo (1948), dipercaya menjadi panitia penyelenggaranya. “Kongres yang penyelenggaraannya mendekati KMB ini menunjukkan tekad para perempuan dalam mencapai kemerdekaan nasional,” tulis Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia . Meski kondisi politik masih panas dan beberapa daerah masih dikuasai Belanda, 82 perwakilan organisasi perempuan dari seluruh Indonesia menghadiri acara tersebut. Perjuangan mereka untuk bisa sampai Yogya tak mudah. Sama seperti rombongan dari Jakarta, yang dikisahkan Cora Vreede-de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia, rombongan dari luar Jawa, yang datang menggunakan moda transportasi laut, juga mengalami penggeledahan, interogasi, dan lain-lain. Adanya tekanan Belanda tak membuat pertemuan itu batal. Kerjasama erat panitia dan peserta justru membuat acara berjalan lancar. Dalam acara itu, masing-masing perwakilan membacakan laporan. Laporan antara lain berisi tentang pembunuhan pegawai-pegawai PMI dan pengungsi di Solo. Ada pula laporan tentang pembunuhan terhadap 4.000 orang di Sulawesi Selatan, lalu laporan peristiwa penembakan Gunung Sumping terhadap perempuan dan anak-anak di Pasar Kembang, Solo. Laporan-laporan itu sontak membuat para peserta memprotes keras perbuatan-perbuatan kejam yang dilakukan tentara Belanda. Mereka menuntut hukuman setimpal bagi pelakunya. Tuntutan itu menjadi satu dari sekian tuntutan hukum yang didiskusikan dan dibuat dalam Permusyawaratan itu. Buku terbitan Kowani, Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita , menyebutkan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan meliputi persamaan kedudukan di bidang hukum dan pemerintahan bagi tiap warga negara, adanya hak atas pekerjaan dan penghidupan layak bagi kemanusiaan untuk tiap warga negara, adanya peraturan dalam undang-undang kerja di RIS yang melindungi pekerja khususnya perempuan pekerja. Pada hari kelima, 30 Agustus 1949, Permusyawaratan membuat resolusi. Selain berisi tuntutan kemerdekaan penuh dan tidak bersyarat bagi Indonesia di tahun itu juga, lewat resolusi itu para perempuan menuntut dibebaskannya para tawanan akibat perjuangan kemerdekaan, dan mendukung resolusi Kongres Pemuda Indonesia tentang penarikan tentara Belanda sebelum pengakuan kedaulatan dan mengakui hanya satu bendera, merah-putih, dan lagu “Indonesia Raya”. Permusyawaratan juga membentuk Badan Kontak yang terdiri dari 19 organisasi. Badan kontak yang diketuai Maria Ulfah itu menyepakati tujuan perjuangan perempuan Indonesia dalam Kowani adalah mewujudkan kemerdekaan penuh bagi seluruh Indonesia. Setelah menyalin, panitia mengirim tuntutan-tuntutan maupun resolusi hasil Permusyawaratan ke pers, berbagai organisasi gerakan perempuan seluruh dunia, dan delegasi BFO maupun Republik Indonesia untuk diperjuangkan di KMB.
- Demi Pengakuan Kedaulatan
Sebelum berangkat ke negeri Belanda untuk berunding, delegasi Republik dan BFO (Majelis Permusyawaratan Federal) telah sepakat soal Irian Barat. Keduanya sama-sama berpendirian bahwa Irian Barat harus dimasukan ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Terlebih bagi BFO yang mewakili Negara Indonesia Timur (NIT) karena memiliki ikatan sejarah dan politik yang kuat dengan wilayah itu. “Sukarno telah menginstruksikan agar Hatta tidak pulang (ke Indonesia) tanpa Irian Barat,” tulis Mavis Rose dalam Indonesia Free: A Political Biography of Mohammad Hatta. Pada penghujung perundingan, Menteri Maarseveen menyingung isu sensitif. Dia mengecualikan wilayah Irian Barat dalam klausul penyerahan kedaulatan. Alasannya, Irian Barat bukan bagian dari Indonesia secara etnis dan kultural. Hatta dan wakilnya Mr. Mohammad Roem dari delegasi Republik menyanggah argumentasi Maarseveen. Mereka menyatakan bahwa Irian Barat tak dapat dipisahkan dengan dalil perbedaan etnisitas ataupun kebudayaan. Secara politis, Irian Barat terintegrasi ke dalam koloni Hindia Belanda. Sementara pokok penyerahan kedaulatan Belanda kepada RIS didasarkan atas semua wilayah yang dahulu merupakan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Perwakilan BFO untuk NIT ikut menyampaikan pendapatnya melalui Ide Anak Agung Gde Agung. Perdana Menteri NIT tersebut menjelaskan bahwa sebelum menjadi salah satu keresidenan Hindia Belanda, wilayah Irian Barat merupakan vassal dari Kesultanan Tidore Maluku yang kini (pada perundingan) termasuk dalam lingkup NIT. Menurut Agung, anggapan delegasi Belanda jika Irian Barat bukanlah lingkungan dari Indonesia tak dapat diterima dan sangat disesalkan. Tanpa mampu membantah apa yang dikatakan Hatta, Roem dan Agung, Menteri Maarseveen justru tetap pada pendiriannya. “Bahwa dengan sangat menyesal pemerintah Kerajaan Belanda tidak dapat memenuhi keinginan delegasi Indonesia,” demikian kata Maarseveen sebagaimana dikutip Agung dalam Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat. Perdebatan tentang Irian Dalam KMB, sesungguhnya Belanda belum mau mengakui kekalahnnya sepenuhnya. Untuk melepaskan daerah jajahan yang sangat berharga, diperlukan undang-undang yang disetujui mayoritas duapertiga anggota Parlemen Belanda yang ketika itu dikuasai golongan konservatif. “Dalam praktiknya itu berarti dua hal: dipertahankannya Papua Barat dalam kekuasaan Belanda dan pengaturan peralihan kedaulatan yang melindungi kepentingan ekonomi Belanda,” tulis Robert Elson, sejarawan Universitas Queensland yang mengkaji kawasan Asia Tenggara dalam The Idea of Indonesia . Dengan menguasai Irian Barat sekaligus akan menegakkan kembali harga diri Belanda sebagai salah satu negara imperialis terbesar di dunia. Menurut Mavis Rose, Hatta tampaknya memahami hal tersebut sebagai penyebab keengganan pemerintah Belanda menyerahkan Irian Barat. Oleh sebab itu, Hatta tidak meneruskan perdebatan ke arah tuntutan yang lebih jauh. Lagi pula, dia tak ingin mengorbankan kesepakatan perundingan yang telah diperoleh jauh-jauh hari sebelumnya. Bagi Hatta, revolusi telah selesai dengan memperoleh kedaulatan politik. Misi pengakuan kedaulatan menjadi yang terpenting sedangkan masalah Irian Barat dapat diselesaikan di kemudian hari. Berbeda halnya dengan Agung. Dia tetap berpandangan bahwa pemisahan Irian Barat dari RIS bertentangan dengan mandat yang diberikan kepadanya mewakili rakyat NIT. Hatta tak menampik pandangan Agung tersebut. Walau demikian, Hatta menambahkan jika perundingan KMB berakhir dengan kegagalan maka mereka akan pulang ke Indonesia tanpa pengakuan kedaulatan. Hal itu berarti perjuangan bersenjata untuk menghentikan penjajahan Belanda harus dilakukan bersama-sama. Anjuran serupa juga disampaikan oleh delegasi Republik untuk bidang militer, Kolonel T.B.Simatupang terhadap kelompok BFO. Simatupang menyatakan bahwa keadaan militer Republik sedang mengalami kekurangan logistik (peluru dan persenjataan). Kondisi tersebut akan menyulitkan jika pengakuan kedaulatan harus diperoleh lewat perjuangan fisik kembali. Pernyataan Simatupang itu bagi Arnold Mononutu – delegasi BFO mewakili parlemen NIT - memberikan pilihan yang sulit. Di saat yang sama, wilayah NIT juga sedang dikuasai oleh tentara Belanda. Dalam biografinya Arnold Mononutu: Potret Seorang Patriot yang ditulis Robert Nalenan, Arnold menyatakan BFO tidak akan mampu berbuat banyak untuk membantu Republik guna mengimbangi kekuatan militer Belanda yang jauh lebih kuat dan modern. Delegasi BFO akhirnya menimbang kembali tuntutannya. Usulan Hatta untuk berkompromi diterima. Memprioritaskan Pengakuan Kedaulatan Pada tanggal 31 Oktober, Merle Cochran dari UNCI membentuk suatu panitia kecil. Anggotanya terdiri dari Prof. Dr. Supomo (mewakili Republik), Mr. S. Blom (mewakili Belanda), dan Ide Anak Agung Gde Agung (wakil BFO). Panitia ini bertugas merancang formula untuk memecahkan masalah Irian Barat. Pada pukul 2 dini hari tanggal 1 November 1949, tercapailah kompromi mengenai status Irian Barat yang dapat diterima semua pihak. Isinya: Irian Barat berada dalam status quo dibawah penguasaan Belanda dan perundingan akan dilanjutkan kembali setahun kemudian. Keesokan harinya, naskah piagam penyerahan kedaulatan telah dirampungkan. Dengan status quo nya, pemerintah Belanda secara aktif melakukan perluasan wilayah eksplorasi di Irian Barat dengan membangun berbagai pos-pos pemerintahan. Kenyataan yang mesti di terima ini bertentangan dengan cita-cita Indonesia Raya dari Sabang sampai Merauke. Maka setelah itu, dimulailah perjuangan mengintegrasikan Irian Barat ke dalam Republik Indonesia.
- Muda Melegenda, Tua di Panti Wreda
KAMAR sederhana itu setengah temboknya berkeramik. Beberapa foto seorang pembalap motor sedang beraksi memenuhi salah satu sisi dinding itu. Sebuah walker , alat bantu jalan mirip jemuran kecil, teronggok di sudut lain. Kamar itu merupakan kamar sebuah panti jompo Panti Wreda Karitas, Cimahi. Di kamar sederhana itulah Tjetjep Euwyong Heriyana, legenda hidup balap motor Indonesia, menjalani hari tuanya. Sudah sejak 2016 pembalap berdarah Tionghoa itu menjadi penghuni di sana. Meski masih punya empat anak, Tjetjep hidup sebatang kara. Dia tak ingat lagi kapan terakhir kali keluarganya datang. Hanya dua sahabatnya yang masih punya pertalian darah dengan mantan pembalap Bun Ki Yit, Leo dan Max Bunardi, yang kerap datang menjenguknya. Tak satupun foto istri atau anak-anak Tjetjep yang menempel di dinding kamarnya. “Ya memang tidak ada (foto keluarga). Tinggal itu saja (foto-foto lawas) yang tersisa. Piala-piala zaman dulu sudah pada hilang entah ke mana. Ya karena sebelumnya kan tinggal sama anak-anak pindah-pindah,” kata Tjetjep, menceritakan koleksi foto pajangan dindingnya yang hanya berisi foto masa keemasannya sebagai pembalap (1954-1974), kepada Historia . Dengan mata sayu, Tjetjep bercerita bahwa dulu dia memang pernah ditampung berpindah-pindah dari rumah anak yang satu ke rumah anak lainnya. Kadang di Bekasi, Gedebage (Bandung), Lembang, dan Bali. Pada akhirnya Tjetjep memilih untuk menetap di panti jompo. Warna mukanya berubah cerah ketika topik obrolan berganti dari persoalan keluarga ke pengalamannya semasa menjadi pembalap. Semangatnya berkobar lagi kala menceritakan bagaimana awalnya berkenalan dengan dunia balap. Tjetjep, yang lahir di Bandung pada 1939, baru mengenal dunia balap ketika remaja, 1950-an. Dia langsung gemar. Kegemaran itu dia seriusi sampai akhirnya menjalani debut balapan resmi perdana pada sebuah ajang road race di Tanjung Perak, Surabaya pada 1954. “Dari muda mah sudah suka kebut-kebutan di kota. Bapak saya bilang, ‘kalau berani, balapan di lapangan (sirkuit balap) saja.’ Ya saya mulai balapan tahun 1954 di Surabaya, pakai motor (merk) Jawa 350cc buatan Cekoslovakia. Lawannya waktu itu masih banyak orang-orang Belanda. Saya kalah di balapan pertama itu,” tuturnya dengan logat Sunda. Bukan Tjetjep namanya kalau patah arang. Sejumlah ajang balap terus dia ikuti kemudian. Sayangnya, dia tak ingat lagi menang atau kalahnya. Yang pasti, Tjetjep pernah memenangi Grand Prix (GP) Curug pada 1958 di Lapangan Terbang API (Kini STPI/Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia) Curug. “Tjetjep meraih (juara) pemenang pertama untuk klas senior 500cc yang diadakan di lapangan terbang API yang diselenggarakan oleh Posidja bersama Persatuan Penggemar Sepeda Motor BSA Djakarta,” tulis suratkabar Bintang Timur , 25 Juli 1958. Pada 1960-an, Tjetjep merambah Asia. "Sebelum zaman Pak Harto (Soeharto,presiden kedua) itu sulit bikin visa untuk balapan di luar negeri. Baru setelah 1966, zamannya Pak Harto, itu dipermudah buat pembalap tampil di luar negeri. Makanya ya kira-kira tahun 1966-lah baru pertama ikut GP di luar Indonesia," kenang Tjetjep. Dia beberapa kali mencicipi Grand Prix di Singapura, Malaysia, hingga Makau. Prestasi terbaiknya baru dicapainya di GP Makau 1970. Ketika itu, Tjetjep dibawa tim Yamaha dan meraih podium ketiga dengan menunggangi motor Yamaha TR2. Rekan setimnya, Benny Hidayat, memijak podium pertama alias juara dengan motor Yamaha YSI. Nahas, Tjetjep terpaksa gantung helm pada 1974. Kecelakaan parah di GP Batu Tiga, Kuala Lumpur, Malaysia, memastikan kondisi fisiknya tak lagi bisa melanjutkan karier balap. Sekitar sebulan Tjetjep menjalani perawatan patah tangan dan kaki di sebuah rumahsakit di Malaysia sebelum akhirnya dipindah perawatannya ke tanah air. “Di awal-awal sih enggak terlihat dia kenapa-kenapa. Tapi kemudian di pertengahan balapan, dia jatuh. Jatuhnya tidak ada insiden dengan pembalap lain, ya jatuh sendiri saja, begitu. Mungkin fisiknya masih kelelahan karena kan dia pas saat itu belum sepenuhnya sembuh dari cedera bahu sehabis jatuh sebelumnya,” ungkap Benny Hidayat kepada Historia . Kondisi fisik itu masih membekas di hari tuanya. Untuk berjalan, Tjetjep mesti dibantu sebuah walker . “Tapi untuk berdiri sih masih bisa. Sedikit-sedikit belajar jalan lagi pakai ini,” kata Tjetjep sambil menunjuk walker- nya. Kehidupannya perlahan memburuk selepas tak lagi balapan. Dia sering menganggur. Pekerjaannya hanya serabutan menjadi tukang kayu dan kusen. Selebihnya, dia menjalani hari-harinya dalam keprihatinan tanpa perhatian sedikit pun dari pemerintah hingga harus “ditampung” bergantian di rumah keempat anaknya sebelum menetap di panti jompo. “Ya yang namanya olahragawan zaman dulu ya. Dari pemerintah ya memang seperti tidak ada perhatian. Tidak seperti atlet-atlet sekarang yang bagus ekonominya. Tjetjep ya sekarang begini saja, sendiri di panti jompo. Kita yang kadang-kadang suka jenguk ke sini,” sahut Max Bunardi.*
- Tamu Pertama dari India
LAPANGAN Udara Maguwo, tepat 68 tahun yang lalu. Seorang perempuan India baru saja menjejak tanah Yogyakarta, ketika tangannya melambai ke arah khalayak. Mulutnya tak pernah berhenti tersenyum dan menyapa ramah setiap orang Indonesia yang menyambutnya. “Begitu mengetahui ada tamu negara dari India, masyarakat Yogyakarta berbondong-bondong datang ke Istana (Gedung Agung),” tulis Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer dan Ediati Kamil dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid V (1949) . Rajkumari Amrit Kaur adalah tamu istimewa bagi rakyat Indonesia. Bisa disebut, Menteri Kesehatan India itu adalah orang asing pertama yang bertamu usai Indonesia secara resmi “lepas” dari Kerajaan Belanda pada 27 Desember 1949. Dan memang, selain untuk mengantarkan Dr. Subbaroyan (calon Duta Besar India untuk Indonesia), Rajkumari juga diamanahkan oleh Perdana Menteri Jawaharlal Nehru untuk mengucapkan selamat dari rakyat India kepada rakyat Indonesia. Saat tiba di Gedung Agung, Sukarno dan Fatmawati langsung menyambut murid kesayangan Mahatma Gandhi itu. Mereka lantas terlibat dalam pembicaraan yang sangat akrab. Ketika memperkenalkan Rajkumari kepada khalayak di depan Gedung Agung, Sukarno menyatakan bahwa tidak ada kawan yang paling akrab untuk Indonesia seperti India. “Kita berutang budi kepada India atas segala yang dilakukan mereka bagi kemerdekaan Indonesia,” demikian pidato Sukarno seperti dilansir Antara , 27 Desember 1949. Merespons pidato hangat dari Sukarno, Rajkumari mengingatkan adanya hubungan yang sudah berusia lama antara kedua bangsa. “Dan hubungan itu akan terus diperkuat karena India dan Indonesia kini sudah menjadi bangsa yang benar-benar merdeka,” ujarnya. Kepada media, Rajkumari juga menyampaikan kesan yang mendalam atas sambutan luar biasa rakyat Indonesia atas kedatangannya. Secara pribadi, ia pun menyatakan rasa senangnya bertemu langsung dengan Sukarno. “Dia adalah kepala negara paling mempesona yang pernah saya temui,” katanya seperti dicatat Antara . Rajkumari Amrit Kaur adalah intelektual perempuan terkemuka India. Besar dalam didikan dunia Barat namun pada akhirnya memutuskan untuk berguru kepada tokoh bangsa India, Mahatma Gandhi. Ketika India merdeka pada 1947, Rajkumari Amri Kaur didapuk sebagai Menteri Kesehatan dan merupakan menteri perempuan pertama yang duduk dalam kabinet India. Sejarah mencatat, Rajkumari pernah menjadi Presiden World Health Assembly pada 1950. Di negerinya, ia juga dikenal sebagai aktivis pemberantasan buta huruf dan penentang adat perkawinan paksa terhadap anak-anak kecil. Dalam usia 75 tahun, pada 1964, Rajkumari wafat. Rakyat India pun berkabung dan menyatakan duka mendalam atas kepergian perempuan yang selalu tersenyum itu. “Bagi bangsanya, Rajkumari adalah seorang putri penyelamat. Dia menghembuskan nafas terakhirnya saat berada di tengah orang miskin, anak-anak dan para perempuan lemah,” demikian tulis The New York Times edisi 7 Oktober 1964.*
- Duri dalam Daging Bernama Irian Barat
Mohammad Hatta, ketua delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) boleh bernapas lega. Hari itu, 27 Desember 1949, pemerintah Kerajaan Belanda bersedia mengakui kedaulatan negeri jajahannya yang telah merdeka: Republik Indonesia. Seremonial yang berlangsung di Istana Kerajaan Belanda di Amsterdam itu menyudahi konflik kolonial antara kedua negara. “Konferensi Meja Bundar adalah salah satu konferensi yang besar, yang memakan waktu beberapa bulan, dimana lebih dari 250 orang anggota delegasi dan penasihat atas salah satu cara terlibat,” tulis Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri . Perundingan yang pelik telah digelar sejak 23 Agustus sampai 2 November 1949. Ada tiga pihak yang menjadi delegasi dalam perundingan: Indonesia, Belanda, dan United Nations Commissions for Indonesia (UNCI) sebagai penengah. Delegasi Indonesia terdiri dari dua kelompok yaitu Republik Indonesia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta dan Badan Permusyawaratan Federal (BFO) dengan Sultan Hamid II sebagai ketuanya. Sementara delegasi Belanda dipimpin oleh Menteri Wilayah Seberang Lautan Mr. Johannes Henricus van Maarseven. Meski demikian, kesepakatan damai itu tak serta merta mengakhiri sengketa. Pengakuan tersebut mengecualikan Irian Barat dari peta teritorial Indonesia. Pemerintah Belanda menangguhkan penyerahan wilayah itu ke dalam kekuasaan Indonesia. Kepentingan Belanda Ide Anak Agung Gde Agung adalah satu delegasi Indonesia dalam KMB dari kelompok BFO. Dalam buku Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat , Agung mencatatkan pengalamannya mengenai perdebatan dan situasi KMB. Sebagai tuan rumah, Perdana Menteri Belanda William Drees memimpin perundingan itu yang bertempat di Gedung Parlemen Rideerzaal (Bangsal para Ksatria) di Den Haag. Dari berbagai kesepakatan yang tercapai hingga tanggal 29 Oktober, perundingan terbentur pada pembicaraan tentang penentuan status kenegaraan wilayah Irian Barat. Keesokan harinya, persoalan Irian Barat kembali dirundingkan sebagai agenda pembicaraan terakhir. Perdebatan bermula ketika Menteri Maarseveen menerangkan bahwa masyarakat Irian Barat bukanlah bagian dari lingkungan Indonesia secara etnologis dan kultural. Selain itu, Maarseveen juga meragukan kemampuan Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dalam membangun kesejahteraan rakyat Papua. “Dengan mengacu kepada keadaan penduduk asli yang masih terbelakang, ia (Maarseveen) menyatakan bahwa kepemimpinan Belanda di wilayah itu akan lebih baik dalam mengembangkan martabat masyarakat Irian Barat,” tulis Agung. Menurut Agung, sikap politik yang kuat dari pemerintah Belanda mempertahankan Irian Barat dipengaruhi situasi dalam parlemen Belanda. Partai Katolik yang saat itu menguasai parlemen Belanda menginginkan penguasaan Irian Barat di bawah kendali pemerintah Belanda yang juga didukung oleh golongan Protestan dan Partai Liberal. Hal ini dapat dipahami mengingat sejak tahun 1855 telah dimulai aktivitas penyebaran agama Kristen melalui missi (Katolik) dan zending (Protestan) di Irian Barat. Tetap dipertahankannya Irian Barat di bawah penguasaan Belanda dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral (politik etis) terhadap masyarakat asli. “Jika Irian Barat dimasukan ke dalam agenda penyerahan kedaulatan, dapat dipastikan ratifikasi hasil KMB di parlemen tidak akan mendapat dua pertiga suara mayoritas menurut ketentuan konstitusi Kerajaan Belanda,” ungkap Agung. Tak dapat dikesampingkan pula nilai strategis Irian Barat sebagai motif tersembunyi di pihak Belanda. Arti penting Irian Barat bagi pemerintah Belanda adalah untuk mengatasi masalah kepadatan penduduknya. Pemerintah Belanda merasa terbebani dengan banyaknya repatriasi orang Belanda dari Indonesia terutama kaum Indo-Belanda. Dalam surat-menyuratnya yang dibukukan berjudul Melintasi Dua Jaman , Elien Utrecht menyebutkan transmigrasi ke Irian Barat sebagai ruang hidup baru bagi kaum Indo-Belanda merupakan alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan demografi ini. Ditinjau dari segi ekonomi, Irian Barat menawarkan daya tarik yang menjanjikan. Sejak tahun 1935, Belanda telah mengusahakan eksplorasi minyak bumi oleh perusahaan swasta NNGPM (Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschaapiij). Pusat pertambangan minyak NNGPM berada di Sorong yang disebut-sebut sebagai ibu kota kongsi minyak di Irian Barat. Usaha ini telah membawa hasil yang baik namun harus terhenti ketika Perang Dunia meletus di Eropa. “NNGPM sudah memulai kembali kegiatannya sesudah perang. Apalagi terdapat juga petunjuk-petunjuk kuat bahwa terdapat bauksit di pegunungan Syklop,” tulis Drooglever. Menurut Drooglever, Menteri Maarseveen telah menyadari potensi ekonomi Irian Barat setelah menerima laporan dari kepala residen Irian Barat, J. P. K van Echoud dalam ‘Nota inzake de economische toekomst vanNieuw-Guinea’ (nota mengenai masa depan ekonomi Nieuw-Guinea). Nota itu menyebutkan bahwa tim geologi telah menemukan jejak-jejak mineral berupa nikel dan tembaga dengan konsentrasi tinggi di pegunungan sekitar ibu kota, Hollandia. Dengan demikian, Irian Barat menjadi harapan bagi Belanda untuk memperbaiki perekonomiannya yang terpuruk akibat Perang Dunia II sekaligus kompensasi atas kehilangan Hindia Belanda. Akhirnya, pada penandatanganan KMB, dikompromikan bahwa persoalan Irian Barat akan diselesaikan setahun kemudian. Selama masa jeda tersebut, Irian Barat berada dalam status quo di bawah penguasaan sementara Belanda. Pada kenyataannya, masalah Irian Barat kian berlarut-larut. Kedua negara berdaulat ini saling mengklaim bahwa Irian Barat merupakan wilayah kekuasaannya yang sah. Adu klaim ini berbuntut panjang. Untuk bertahun-tahun kemudian, Irian Barat menjadi duri dalam daging hubungan bilateral Indonesia dan Belanda.





















