top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Palagan Bagi Sejarah Lisan

    FX Harsono adalah seorang seniman. Dia mengaku sejak 1985 sudah membuat karya seni berbasis penelitian, namun baru pada 2000-an dia sadar telah melakukan proses kreatif seni berdasarkan penelitian sejarah, khususnya persoalan orang Tionghoa. Harsono menjadi intens dengan masalah sejarah setelah melihat foto-foto yang dimiliki mendiang ayahnya, mengenai penggalian kuburan massal warga Tionghoa pada kurun 1950. Sejak itulah, dia mulai giat berkeliling ke beberapa kota di Jawa dan meneliti lokasi-lokasi kuburan massal warga Tionghoa tersebut. “Saya sudah menemukan 13 kuburan massal pembunuhan Tionghoa di Jateng, Jatim dan Jabar. Hampir 2000 orang yang dibunuh pada kurun paska 1945,” ujar seniman asli Blitar ini. Selain berhasil menemukan lokasi kuburan massal warga Tionghoa (biasanya ditandai dengan nisan yang berisi nama-nama orang yang dikubur), Harsono juga berhasil memetakan bahwa pembunuhan massal tersebut cenderung terjadi di pedalaman. “Kota-kota di pantai utara tidak ada pembantaian warga Tionghoa, karena tentara kuat. Di Tegal, di Jakarta dan Surabaya tidak ada pembantaian. Kota di mana tentara posisinya kuat, tidak ada pembunuhan. Di Kertosono, yang hanya beberapa kilometer dari Nganjuk, tidak ada pembunuhan. Nah di Nganjuk itu pembunuhunan terbesar di pulau Jawa, 788 jiwa yang tercatat di nisan,” ujarnya. Harsono pun rajin menjalin komunikasi dengan orang-orang yang selamat atau mengetahui peristiwa pembantaian dalam kurun 1947 hingga 1948. Sadar tidak sadar, sang seniman sudah melakukan metode sejarah lisan dalam penelitiannya. Sejarah Lisan Memeriksa peristiwa macam pembantaian Tionghoa yang terjadi paska kemerdekaan 1945 menjadi menarik jika disertai keterangan-keterangan dari para saksi mata atau bahkan penyintas. “Saat melakukan penelitian di Blitar, saya bertemu dengan penyintas yang sudah berusia 93 tahun. Pada saat revolusi, ia sebenarnya sudah ditangkap laskar untuk dieksekusi, namun dibatalkan karena ayahnya sudah lebih dulu ditangkap, maka penyintas yang masih berusia belasan itu kemudian dilepaskan,” tulis FX Harsono dan Ravando dalam sebuah artikel berjudul Dari Nisan ke Informan: Penggunaan Sumber Alternatif dalam Penulisan Sejarah Indonesia , yang disajikan dalam Peringatan 60 Tahun Seminar Sejarah Nasional 1957-2017 di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada, hari ini (14/12). Melakukan penelitian sejarah dengan basis sejarah lisan bukan hal mudah. Masih banyak yang memandang bahwa menulis sejarah haruslah berbasis dari dokumen, kemudian juga munculnya bias dari narasumber. Mensejajarkan sumber sejarah lisan dengan sumber sejarah konvensional berupa dokumen atau arsip adalah sebuah tantangan tersendiri. “Sumber lisan dapat direkam sebagai kisah sejarah. Nugroho Notosusanto memberikan pernyataan bahwa sejarah lisan lebih dekat ke sejarah kontemporer, sebab sejarah kontemporer itu paling dekat dengan pelaku sejarah, dengan saksi mata. Sejarah kontemporer sendiri dijadikan sejarah dari generasi ke generasi yang sejaman dalam sebuah peristiwa,” ujar Amurwani Dwi Lestariningsih, Kepala Subdirektorat Pemahaman Sejarah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, yang hadir juga sebagai pemakalah pada sesi I panel B. Penggalian keterangan dari para pelaku atau saksi sejarah memungkinkan adanya subyektivitas, selain itu juga jarak waktu antara peristiwa dengan pelaku sejarah. Pun demikian, subyektivitas itu akan bisa ditekan jika menggunakan metodologi sejarah secara benar. “Tentu saja untuk mengukur kadar subyektivitas maka perlu melakukan kroscek dengan sumber lain. Terkadang penutur juga tidak bertanggungjawab dengan kisah yang diceritakannya. Disitu pula kita harus mencermati budaya tradisi lisan dengan sumber lisan,” ujar Amurwani. Budaya tradisi lisan menurutnya dikisahkan secara turun temurun; penutur tidak ada sangkut paut dengan kisah yang dikisahkan, penutur juga tidak terlibat dengan peristiwa dan penutur tidak bertanggungjawab dengan kisah yang dituturkannya. Kehati-hatian dalam mencari sumber sejarah lisan, hampir sama beratnya dengan menelisik dokumen. “Seperti arsip-arsip yang dibuat pejabat kolonial, bukan tidak mungkin mereka membuat laporan yang sesuai dengan yag diinginkan atasannya, perlu sikap hati-hati dengan melakukan pembanding dengan sumber lainnya,” ujarnya.

  • Ujeng Suwargana, Jejak Spion Melayu

    Selama tinggal di wilayah Menteng, Jakarta Pusat, rumah Rosihan Anwar bertetangga dengan rumah Jenderal A.H. Nasution. Disitulah Rosihan - saat itu wartawan senior pendiri suratkabar Pedoman - berkenalan dengan Ujeng Suwargana. Bahkan usai bertemu Nasution, Ujeng kerap mampir di kediaman Rosihan. “Dia bercerita mengenai kunjungannya ke pelbagai negara di Eropa, diantaranya negeri Belanda dan Amerika Serikat. Ceritanya menimbulkan kesan pada saya bagaikan hasil pekerjaan dan imajinasi seorang ‘spion Melayu’,” kenang Rosihan dalam Sejarah Kecil: Petite Historia Indonesia Jilid 1. Rosihan sendiri sudah lama tahu sang pengusaha. Nama Ujeng Suwargana pada awal dekade 1960 dikenal sebagai juragan penerbit buku-buku pendidikan di Bandung. Sebagai mantan anggota Divisi Siliwangi dan sama-sama mendirikan Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), Ujeng juga dekat dengan Jenderal Nasution. Saat yang sama, Nasution telah menjabat sebagai orang nomor satu di Angkatan Darat. Rosihan tak terlalu serius menanggapi kisah “spionase” Ujeng. Namun, menurut Rosihan tidak semua cerita Ujeng omong kosong belaka. Bahkan Willem Oltmans, wartawan kawakan Belanda yang akrab dengan Presiden Sukarno, meyakini dia sebagai seorang yang memiliki peran penting dalam sejumlah kegiatan politik melawan Sukarno. “Saya telah banyak mendengar desas-desus tentang dirinya (Ujeng) bahwa ia bepergian ke Eropa Barat dan ke Amerika Serikat untuk menggulingkan kekuasaan di Jakarta,” tutur Oltmans dalam memoarnya Mijn Vriend Sukarno yang yang dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia berjudul Bung Karno Sahabatku . Agen Intelijen? Pada 14 Juni 1961 di Amsterdam, Oltmans untuk kali pertama bertemu dengan Ujeng Suwargana. Meski tampil sebagai orang sipil namun Ujeng tampak fasih memahami kondisi internal TNI AD. Tak heran memang, karena Ujeng merupakan teman akrab Jenderal Nasution. Namun Oltmans kadung menaruh kesan mencurigakan terhadap Ujeng. Di Belanda Oltmans dikenal sebagai wartawan investigasi. Menurut Oltmans, beberapa laporan rekan-rekannya di Belanda menyebutkan Ujeng kerap wara-wiri mendatangi parlemen Belanda dan lingkungan wartawan. Dia mengumumkan sesuatu yang mencengangkan bahwa tak lama lagi akan ada pengalihan kekuasan militer oleh Jenderal Nasution dan kawan-kawannya di Jakarta. Tak diketahui persis apa motif Ujeng menyampaikan hal tersebut. Setahun berselang, keduanya bersua lagi di Amerika Serikat. Oltmans saat itu dicekal negaranya sendiri karna vokal mengkritik kebijakan pemerintah Belanda atas Irian Barat. Mereka bertemu di restoran Greenwich Village, kota Manhattan. Ujeng tetap konsisten dengan ucapannya. Pertemuan itu, menurut Oltmans, menyiratkan telah dibentuknya Dewan Jenderal dengan tujuan khusus: menjatuhkan Bung Karno. Sementara itu, Jenderal Nasution direncanakan akan melenggang naik kursi kepresidenan menggantikan Sukarno. “Atas pertanyaan saya, kapan coup -tentara itu akan dilaksanakan di Jakarta, jawabnya hanyalah: wait and see! ” tutur Oltmans. Asumsi Oltmans agak terpatahkan ketika gejolak politik yang terjadi adalah Gerakan 30 September 1965. Peristiwa itu menjadi tonggak runtuhnya kekuasaan Presiden Sukarno. Namun aksi yang dilancarkan komandan pasukan pengawal presiden, Letkol Untung itu juga menyasar Nasution – sosok yang digadang-gadang Ujeng mendongkel posisi Sukarno – sebagai korban. Beruntung, Nasution luput dari operasi penangkapan dan hanya mengalami luka ringan. Berbeda halnya dengan Jenderal Ahmad Yani dan rekan-rekan perwiranya yang gugur secara tragis. Beberapa penelitian memperkuat dugaan Oltmans bila Ujeng punya jaringan kuat di Amerika Serikat. Pada 1967 Elliot Haynes, ketua Business International Corporation (BIC) yang hendak menjumpai Nasution mendiskusikan kemungkinan investasi modal asing di Indonesia harus melalui perantaraan Ujeng terlebih dahulu. Saat itu Ujeng telah menjadi dosen di keempat lembaga pendidikan angkatan bersenjata TNI: Seskoad, Seskowal, Seskoau, dan Seskopol. Dia juga pengajar di Pusdiklat Kejaksaan Agung. “Mempelajari komunisme adalah hobinya. (Ujeng) seorang muslim yang saleh, dia berpuasa sekarang karena kita berada di (bulan) Ramadhan,” ujar Haynes dalam laporannya bertajuk “Elliott Haynes ‘Indonesian Diary’” termuat di dokumen State Department 1964—1968 . Sejarawan Amerika Anthony C.A Dake dalam disertasinya yang dibukukan The Sukarno Files, 1965--1967: Chronology of a Defeat melampirkan laporan Ujeng kepada Sudjatmoko, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Catatan yang tidak dipublikasikan berjudul “Persoalan ‘Dewan Jenderal’ dan perentjana ‘Gerakan 30 September’” tertanggal 27 Juni 1971. Sebagai orang dekat Nasution, Ujeng mengetahui banyak seluk dalam Angkatan Darat. Pakar politik militer Universitas National Australia, Harold Crouch pernah mewawancarai Ujeng pada 15 Agustus 1973 untuk studi disertasinya. Kepada Crouch, Ujeng menuturkan tentang konflik di tingkat elite Angkatan Darat seperti, perseteruan antara Nasution dengan suksesornya, Jenderal Yani; adanya segelintir perwira senior yang tak menyenangi gaya hidup mewah Yani; beberapa tipikal para jenderal TNI AD. “Ujeng adalah seorang warga sipil yang bekerja di dinas intelijen angkatan bersenjata,” tulis Harold Crouch dalam disertasinya yang dibukukan berjudul The Army and Politics in Indonesia ( Militer dan Politik di Indonesia ). Sejauh apa kebenaran aktivitas intelijen Ujeng? “Anggap sajalah cerita mengenai Ujeng Suwargana ini sebagai sejarah kecil, petite histori . Habis cerita,” demikian kata Rosihan Anwar.

  • Mengucilkan Israel di Arena Olahraga (Bagian II – Habis)

    DENGAN sokongan Amerika Serikat, Israel bisa berbangga diri dan tak kesulitan menindas Palestina. Tapi, negeri itu harus membayar mahal dengan pengucilan. Di dunia olahraga, Israel mengalami pengucilan tak hanya di arena sepakbola tapi juga di Asian Games hingga Olimpiade. Kontroversi besar terjadi ketika Israel ditolak berpartisipasi dalam Asian Games IV di Jakarta, 1962. Pemerintah Indonesia, yang gencar mendukung kemerdekaan Palestina, menolak memberi visa kepada kontingen Israel meski Indonesia harus membayanya dengan skorsing dari IOC (Komite Olimpiade Internasional) pasca-perhelatan Asian Games 1962. Penolakan itu menjadi pengucilan pertama terhadap Israel setelah merdeka pada 1948. Sebelumnya, Israel sama sekali tak mengalami boikot ketika mengikuti Asian Games II Manila 1954 maupun Asian Games III Tokyo 1958. Setelah Asian Games IV pun Israel tetap bebas berpartisipasi dalam Asian Games 1966 dan 1970 Bangkok, Thailand. Pada Asian Games 1974 di Teheran, Israel mengalami semi-boikot. Kontingen negara itu tetap diperbolehkan mengikuti gelaran oleh tuan rumah, tapi beberapa atletnya mengalami boikot. Para pemboikot menolak bertanding melawan atlet-atlet Israel dengan mengatasnamakan solidaritas terhadap Palestina yang sejak 1948 dirongrong Israel. “Terlepas dari protes negara-negara Arab, Iran mengizinkan Israel berpartisipasi. Namun negara-negara Arab dan beberapa atlet dari negara-negara lain menolak partisipasi di sejumlah cabang yang diikuti atlet-atlet Israel,” tulis George H Sage dalam Globalizing Sport: How Organizations, Corporations, Media and Politics are Changing Sports. Pengucilan terhadap Israel kian nyata setelah Asian Games 1974. Jelang Asian Games 1978, yang kembali dihelat di Bangkok, Israel benar-benar diboikot. Pemboikotan bukan berasal dari tuan rumah, sebagaimana di Asian Games 1962 di Jakarta, tapi langsung dari Asian Games Federation (AGF). AGF mengganjar sanksi sementara buat Israel untuk tampil di Asian Games dengan alasan keamanan. Alasan itu membuat dongkol Presiden Komite Olimpiade Israel Joseph Inbar. “Alasan utamanya karena federasi (AGF) memiliki (dewan) tujuh negara Arab serta China dan mereka ingin mendepak kami,” ujarnya seperti dilansir suratkabar St Petersburg Times , 26 Juli 1976. Persekusi terhadap Israel makin parah dengan keluarnya keputusan rapat Dewan AGF, 26-27 November 1981. Keputusan itu mengeluarkan Israel dari Dewan Olimpiade Asia yang hendak dibentuk. “AGF akan direorganisasi menjadi Dewan Olimpiade Asia jelang Asian Games 1982 di New Delhi, India, di mana mereka tidak akan melibatkan Israel di dalamnya,” tulis koran Ottawa Citizen , 10 Desember 1981. Kebijakan penolakan Israel itu makin kuat dengan keluarnya kebijakan IAAF (Federasi Atletik Amatir Internasional) yang dihasilkan dari kongresnya pada 4 September 1983. “Voting Kongres menghasilkan 374-10 untuk keputusan mendukung Asian Games melarang Israel tampil di Asian Games 1982,” tulis New York Time s, 5 September 1982. Akibatnya, atlet- atlet Israel kian kesulitan tampil di Asia. Sebelumnya, mereka ditolak ikut dalam beberapa ajang regional semisal Mediterranean Games (sejak 1951) dan Arab Games (sejak 1974). Mereka hanya bisa tampil dalam Olimpiade. Itu pun masih “diselipkan” sebuah insiden yang menewaskan 11 atlet Israel di Olimpiade 1972 Munich, Jerman. “BSO (Organisasi September Hitam), sebuah organisasi militan Palestina, menyandera para atlet Israel di Kampung Atlet (Olimpiade Munich). Mereka menuntut pembebasan 234 tahanan Palestina di Israel. Sebelas atlet Israel akhirnya tewas dalam upaya pembebasan,” ujar M Amara dalam Sport, Politcs and Society in the Arab World. Hingga kini, beragam pemboikotan masih terus menghampiri Israel. Mayoritas boikot datang dari negara partisipan meski ada juga dari atlet secara individu. Boikot terjadi tak hanya di Olimpiade, tapi terus meluas ke beragam kejuaraan dunia dan Asia sampai sekarang. Kejuaran-kejuaraan judo, taekwondo, karate, tinju, basket, tenis, tenis meja, gulat, anggar, renang, voli, voli pantai, biliar, hingga bulutangkis menjadi ajang boikot itu. Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 di Jakarta mungkin menjadi satu-satunya ajang yang memperbolehkan atlet Israel tampil. Lewat campur tangan BWF (Federasi Bulutangkis Dunia), pebulutangkis tunggal putra Israel Misha Zilberman akhirnya mendapatkan visa untuk bisa datang ke Indonesia.

  • Samar-Samar Siti Jenar

    Tanggal 5 bulan Ramadhan, hari jumat, tahun Wawu, berlangsung sebuah sarasehan di Giri Kedhaton, kediaman Sunan Giri I. Delapan orang wali utama -minus sunan Kudus yang absen tanpa kabar- datang dalam sarasehan yang membahas mulai dari masalah makrifat hingga etika hidup itu. Kedelapan wali itu antara lain seperti Sunan Mbonang, Sunan Gunungjati, Pangeran Mojoagung, Sunan Kalijaga, Syekh Bentong, Maulana Maghribi, Syekh Lemah Abang, dan Pangeran Giri Gajah, Sarasehan yang semula tenang, berubah gaduh. “Aku inilah Tuhan. Mana yang lain. Ya tidak ada yang lain selain aku ini,” ujar Syekh Lemah Abang. “He..apakah yang Anda maksud jasmani Anda ini?,” tanya Maulana Maghribi. “Jangan ikuti pikiran itu. Nanti kamu dihukum mati,” terang Sunan Gunungjati. Syekh Lemah Abang pun angkat kaki meninggalkan majelis itu sembari berkata,”Nah, mana lagi yang lain, jangan kira ada duanya!”. Cuplikan sarasehan tersebut tersua dalam kropak Ferrara, sebuah naskah dari abad 16, yang kemudian diterjemahkan oleh G.W.J Drewes menjadi An Early Javanese Code of Muslim Ethics , oleh GJH Drewes lalu dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia oleh Wahyudi dengan judul Perdebatan Wali Songo: Seputar Makrifatullah . “Siti Jenar adalah nama yang disematkan oleh Walisongo ketika drama eksekusi,” ujar Ki Herman Sinung Janutama, penulis buku Pisowanan Alit , kepada Historia . Dalam kropak Ferrara itulah nama Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar atau Syekh Siti Brit dituliskan namun tak mencantumkan siapa Syekh Siti Jenar itu sebenarnya. Asal-usulnya masih gelap. M.B. Rahimsyah dalam Biografi & legenda Wali Sanga dan para ulama penerus perjuangannya , terbit 1997, secara tegas menuliskan bahwa Syekh Siti Jenar bernama asli Syekh Abdul Jalil atau Syekh Jabaranta. Leluhur Syekh Jabaranta ini adalah Syekh Abdul Malik yang menikahi seorang anak penguasa dan bergelar Asamat Khan. Dari perkawinan itu, ia mendapat putra Maulana Abdullah. Maulana Abdullah memiliki beberapa anak, diantaranya Syekh Kadir Kaelani. Ia pun menurunkan putra lagi yang bernama Syekh Datuk Isa dan mukim di Malaka. Datuk Isa memiliki dua anak, salahsatunya Syekh Datuk Soleh. Datuk Soleh inilah, menurut Rahimsyah, merupakan bapak Syekh Siti Jenar. “Namun penulis ini tidak mencantumkan daftar pustaka dalam bukunya, dan barangkali sumber yang banyak disitir adalah buku karangan Sosrowidjoyo,” tulis Hasanu Simon dalam Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa . Lain lagi pendapat Abdul Munir Mulkhan dalam Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa . Menurutnya, Syekh Siti Jenar berasal dari Cirebon dan bernama asli Ali Hasan atau Syekh Abdul Jalil. Ia berayah seorang raja pendeta bernama Resi Bungsu. Satu waktu, Resi Bungsu marah kepada si anak dan mengutuknya menjadi cacing. Dari situ, pengembaraannya dimulai, salahsatunya dengan menguping wejangan Sunan Mbonang kepada Sunan Kalijaga tentang ‘ilmu luhur’. “Jadi perkara eyang Kajenar atau eyang Siti Jenar atau Jene, nama-namnya itu digunakan untuk tempat tinggal raja-raja Jawa,” ujar Sinung. Gedhong Jene, tulis Sabdacarakatama dalam Sejarah Keraton Yogyakarta , terletak di sebelah utara bangsal Prabasuyasa, dinamakan Gedhong Jene karena pagar batu batanya dicat kuning dan atap bentuk limasan membujur ke utara, serambi luar sebelah timur susun dan pintu dahulunya warna putih yang sekarang berwarna kuning muda. Sekira permulaan abad 20, Panji Notoroto atau Sosrowijoyo, membuat tulisan berjudul Siti Jenar . Ia, catat Hasanu Simon, adalah bekas penewu atau kepala distrik di Ngijon, Yogyakarta. Diceritakan, selepas menjadi penewu , ia berguru ke beberapa orang saleh, mulai dari Pacitan hingga Betawi. Setelah pengembaraan, ia kembali ke Yogyakarta, dan menulis beberapa buku, selain Siti Jenar , seperti Serat Bajanullah dan Kancil Kridamartana . Karya Sosrowijoyo ini kemudian semakin terkenal sejak perguruan kebatinan yang ia dirikan, Nataratan, mendapat banyak murid. Murid-muridnya antara lain Ki Padmosusastro, lalu ada ahli sastra Jawa yang bernama Ki Wignyohardjo dan pemimpin redaksi Ari Warti Djawi Kanda yaitu Martodarsono. Ki Wignyohardjo, murid Notoroto juga mengeluarkan buku Serat Siti Jenar namun memuat nama R. Sosrowijoyo sebagai penulis. Buku ini semakin populer setelah kawannya, Harjosumitro -pemimpin redaksi Ari Warti Sedya Tama di Yogyakarta- turut mempopulerkannya. Isi buku ini, catat Hasanu Simon, jauh lebih panjang dari kropak ferrara sehingga isinya menjadi aneh-aneh termasuk perdebatan murid Syekh Siti Jenar dengan utusan Demak, perilaku murid-muridnya, dan di seputar kematiannya. “Sunan Drajad malah bikin gamelan yang diberi nama Singomengkok yang berarti anjing. Sunan Drajad sendiri adalah murid eyang Jenar. Gamelan ini dibuatnya untuk memuliakan beliau,” ujar Sinung. “Selamanya (Siti Jenar,  red. ) akan terus tersembunyi,” tambahnya. Asal-usul Syekh Siti Jenar tak pernah jelas. Publikasi yang pernah terbit pun seperti tidak dibuat tuntas. Tetap menjadi misteri yang digemari.

  • Kala Bom Berjatuhan di Cibadak

    Tugu di depan gedung Sekolah Dasar Negeri III Cibadak, Sukabumi itu tertancap kuat di perut bumi. Sebagian badannya yang berlumut seolah penanda bahwa usia benda tersebut sudah tidak muda lagi. Namun tak banyak orang tahu, jika tugu tersebut merupakan pengingat suatu peristiwa penting. Tepat 72 tahun lalu di tempat tersebut telah mendarat sebuah bom yang dijatuhkan oleh pesawat tempur Thunderbolt milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris). “Tapi tidak sempat meledak. Entah kenapa,” ujar Uwoh (92), salah satu eks pejuang Sukabumi yang ikut bertempur melawan tentara Inggris pada 1945. Seperti dicatat oleh Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock: The Story of The 23rd Indian Division , sejak dihadang secara besar-besaran oleh para pejuang Indonesia di Bojongkokosan pada 9 Desember 1945, tentara Inggris berupaya mencari titik sumber serangan itu terjadi. Untuk mendapat informasi itu bukan hanya tenaga telik sandi saja yang disebar, namun juga beberapa pesawat pengintai pun ikut dikerahkan. Karena terletak di antara Bojongkokosan-Cikukulu (dua tempat di mana tentara Inggris menderita korban yang cukup banyak), intelijen militer Inggris menyimpulkan bahwa pusat pertahanan para pejuang Indonesia adalah Cibadak. “Mereka kecele, kita tidak pernah berbasis di sana,” ujar Letnan Kolonel (Purn.) Eddie Soekardi, Komandan Resimen 13 TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang membawahkan Sukabumi dan Cianjur. Maka sehari setelah mendapat hantaman di Bojongkokosan dan Cikukulu, pada 10 Desember 1945, dari pangkalan udara Cililitan, Jakarta, bergeraklah kurang lebih satu skwardon tempur RAF. Mereka terdiri dari empat Mosquito dan enam Thunderbolt (pesawat pembom yang memuat 500 pound bom). Tahap pertama yang dilakukan oleh RAF adalah menyebarkan terlebih dahulu ribuan pamflet ke daratan Cibadak. Mereka menyerukan agar para pejuang Indonesia menyerah dan penduduk sipil menyingkir. Karena tak ada respon dari pihak TKR dan kelompok lasykar, maka beberapa jam kemudian mereka langsung melakukan pemboman secara membabi buta. “RAF menjalankan penyerangan lewat udara yang paling dasyat selama keterlibatan mereka dalam Perang Jawa,” tulis Doulton. Cibadak tak berdaya. Hampir sebagian besar wilayahnya menjadi lautan api lengkap dengan bumbungan asap tebal. Keadaan kota menjadi porak poranda. Puluhan mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Sebagain dari mereka adalah pejuang Indonesia atau penduduk sipil yang tak sempat menyingkir ke tempat aman kala serangan udara Inggris dimulai siang itu. Dari pihak pejuang Indonesia sendiri, perlawanan hanya bisa bisa dilakukan secara minimal. Menurut Eddie, selain tak memiliki meriam penangkis serangan udara, di Cibadak kehadiran para pasukan TKR dan anggota lasykar memang hanya sedikit. Ada memang balasan, namun itu hanya dilakukan dengan senjata-senjata kaliber ringan peninggalan tentara Jepang. Di tengah pengeboman itu terbuhul suatu kisah heroik. Seorang anggota TKR bernama Ojong Bantamer nekad memanjat pohon kelapa sambil membawa senjata ringan. Dari atas pohon kelapa itulah, ia lantas menembaki pesawat-pesawat tempur Inggris tersebut. “Kedengarannya memang konyol, tapi entah karena lagi beruntung, tembakan si Ojong berhasil merusak sayap salah satu pesawat tempur itu,” ujar Uwoh. Usai pemboman yang berlangsung satu jam itu (menurut pihak Indonesia berlangsung lebih dari satu jam dan dilakukan dua kali), Cibadak ada dalam kondisi tak menentu. Puing-puing memenuhi kota dan hampir dipastikan sebagian besar infrastruktur hancur lebur. Korban nyawa sendiri tak bisa dipastikan jumlahnya. Namun menurut Eddie Soekardi yang jelas bisa mencapai angka ratusan. “Anak buah saya sendiri yang gugur akibat pemboman itu berjumlah lebih dari 40 orang,” ungkapnya.

  • Mengucilkan Israel di Arena Olahraga (Bagian I)

    PERKARA politik yang menyangkut Israel hampir selalu merembet ke berbagai aspek, termasuk olahraga. Di masa lalu, kebijakan Israel –yang menduduki Palestina sejak 1948– terhadap Palestina acap mendapat balasan berupa tekanan, pengucilan, hingga insiden yang menewaskan belasan atlet Israel. Dalam beragam kompetisi, Israel mendapat pengucilan lewat sejumlah boikot dari negara-negara Arab dan para pendukung kemerdekaan Palestina seperti Indonesia. Negara-negara anti Israel keukeuh memboikot di berbagai arena olahraga. Negara manapun yang memperbolehkan atletnya bertanding melawan atlet Israel akan kena cap mendukung Israel. Boikot Israel antara lain terjadi menjelang Piala Dunia 1958 di Swedia. Aturan baru FIFA tentang pembagian negara calon peserta berdasarkan geografis membuat Israel, yang berada di zona kualifikasi Eropa, harus pindah ke Asia guna mengikuti kualifikasi. Alhasil, Israel, yang menghuni Grup 2 zona Asia (AFC) bersama Turki, bisa melenggang tanpa peluh karena Turki menarik diri sebagai aksi boikot. Di babak berikutnya, Israel bahkan tak sekali pun tampil. Mesir, Sudan, dan Indonesia menolak main melawan negeri Mungil di timur Laut Mediterania itu. Indonesia memilih mundur karena Sukarno, yang getol mendengungkan kampanye anti-kolonialisme dan imperialisme baru, melarang. “Itu sama saja mengakui Israel,” ujar Maulwi Saelan, penjaga gawang sekaligus kapten timnas Indonesia, menirukan omongan Sukarno, kepada Historia . “Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat.” (baca: Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel, http://historia.id/olahraga/mimpi-indonesia-di-piala-dunia-terganjal-israel ) Akibat boikot itu, FIFA terpaksa turun tangan. “FIFA turun tangan dengan mencarikan lawan bagi tim merana ini. Lawan pertama yang ditunjuk adalah Belgia, tim yang nilainya paling tinggi di antara tim-tim Zona Eropa yang gagal lolos kualifikasi,” tulis Owen A McBall dalam Football Villains . Tapi Israel kembali sial lantaran Belgia menolak meladeni. Negeri itu baru bisa bertanding setelah FIFA menunjuk Wales. Apes bagi Israel, negeri itu keok 0-2 dalam dua laga home-away sehingga Wales yang berhak berangkat ke Swedia. Seakan tak punya tempat di Asia, sejak kualifikasi itu Israel tak sekali pun bisa melawan negara-negara Asia. Kesempatan Israel mencicipi Piala Dunia baru terlaksana ketika negeri itu lolos ke Piala Dunia Meksiko 1970. Itupun terjadi lantaran FIFA melebur zona Asia dan Oseania dalam kualifikasi. Israel berada di Grup 2 zona Asia/Oseania bersama Korea Utara (Korut) dan Selandia Baru. Israel hanya mengalami pemboikotan dari Korut. Sedangkan melawan Selandia Baru, Israel dua kali menang (4-0 dan 2-0) sehingga maju ke final kualifikasi. Di final, Israel menggasak Australia (1-0 dan 1-1) sehingga berhak ke Meksiko. Empat tahun kemudian, Presiden FIFA Joao Havelange memutuskan Israel masuk ke dalam zona Oseania (OFC). Keputusan itu berangkat dari ditendangnya Israel dan Taiwan dari AFC. “Terkait Taiwan, argumentasi (AFC) adalah: hanya boleh ada satu anggota asosiasi yang mewakili China, sementara dikeluarkannya Israel merupakan kesuksesan lobi-lobi negara-negara Arab,” ujar Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football . Sejak itu, Israel mesti bersusah-payah melakukan perjalanan lebih dari separuh bumi untuk memainkan kualifikasi Piala Dunia. Meski hanya Australia dan Israel tim kuat di zona itu, pemenang kualifikasi zona Oseania selalu gigit jari di playoff lantaran bertemu wakil-wakil dari UEFA (Eropa) atau Conmebol (Amerika Latin). “Pengasingan” Israel baru berakhir pada 1994 setelah negeri itu diterima, lewat penjajakan selama dua tahun, sebagai bagian dari zona Eropa. Toh, di Eropa negeri dari penyerang Liverpool Rony Rosenthal dan gelandang Brescia Tal Banin itu tak bisa berbuat banyak karena tergolong “anak bawang”. Setelah Piala Dunia 1970, Israel belum pernah lagi mencicipi gemerlap turnamen empat tahunan itu.

  • Setelah 70 Tahun Berlalu

    Kenangan itu masih segar dalam benak Odih, lelaki berusia 79 tahun. Saat duduk di kelas dua Sekolah Rakyat di Rawagede, suatu pagi ia melihat sekelompok serdadu Belanda (sebagian besar terdiri dari anak-anak muda pribumi) menggiring puluhan orang ke pinggir rel kereta api dekat sekolahnya. Sebagai seorang bocah, Odih tentu saja penasaran. Bersama kawan-kawannya, mereka lantas berlari mengikuti rombongan tersebut. Seorang serdadu bule berbaret hijau lantas mengusir bocah-bocah itu. Ketika akan berbalik lagi menuju sekolah, tetiba terdengar tiga kali rentetan tembakan diikuti robohnya orang-orang yang digiring tersebut jatuh. “Saya lihat sendiri mereka bergelimpangan dengan bermandikan darah di pinggir rel kereta api... " ujarnya dalam nada lirih. Kabar Rawagede akan diserang tentara Belanda, sejatinya sudah santer terdengar sejak dua hari sebelum kejadian. Berita itu kali pertama disampaikan oleh seorang lurah NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) pro-Republik di Tanjungpura lewat surat rahasia ke markas TNI (Tentara Nasional Indonesia) di Rawagede. “Tapi karena waktu itu, sekitar jam 5-7 malam, hujan lebat turun tanpa henti, orang-orang jadi malas keluar dan seolah melupakan informasi penting itu,” ujar Telan, eks anggota Hizbullah Rawagede. Begitu mendengar suara tembakan di pagi itu, Telan sendiri langsung kabur ke arah sungai dan lari menyusuri sisi sungai hingga sampai ke Desa Mekarjaya. Namun sekitar jam 10 siang, Telan memutuskan kembali lagi ke Rawagede. Ia merasa khawatir terhadap kondisi orangtuanya. “Saya mendengar dari Mekarjaya, tembakan terus berlangsung tanpa henti,” ungkap lelaki yang kini berusia 91 tahun itu. Pergerakan ke Rawagede, Telan lakukan dengan kembali menyusuri sungai. Saat itulah, di pinggir sungai Telan melihat empat sosok yang sangat ia kenal tertelungkup dalam posisi berbaris. Mereka adalah Salam, Karwin, Doblang dan Dasir. “Saya pikir waktu itu mereka sudah mati semua,” kenangnya. Belakangan, Telan mengetahui Doblang kala itu hanya pura-pura mati. Ia memang tertembak, namun hanya kena di bagian tangan kanannya saja. Bahkan, beberapa hari kemudian bersama Doblang-lah, Telan menyingkir ke Gondangdia, Jakarta. Itu mereka lakukan sebagai upaya antisipasi jika militer Belanda kembali melakukan pembersihan ke Rawagede. Menurut sejarawan Ali Anwar dalam K.H.Noeralie: Kemandirian Ulama Pejuang , operasi militer Belanda ke Desa Rawagede, Karawang terjadi pada pagi 9 Desember 1947. Mereka yang terlibat dalam penyerbuan itu adalah Yon 3-9-RI Divisie 7 December, sebagian kecil prajurit 1e Para Compagnie dan 12 Genie Veld Compagnie (keduanya merupakan brigade cadangan dari pasukan parakomando Depot Speciale Troepen) pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Apa yang menyebabkan Rawagede diserang secara besar-besaran oleh militer Belanda? Setelah 70 tahun berlalu, penyebab persisnya tetap masih menjadi misteri. Selama ini, pendapat yang beredar pasukan Belanda nekad melakukannya karena untuk memburu Kapten Lukas Koestarjo, komandan TNI yang sangat diincar oleh mereka. Namun berdasarkan keterangan Stef Scagliola yang bertahun-tahun meneliti kasus tersebut dan mewawancarai sejumlah eks prajurit Belanda yang terlibat dalam operasi pembersihan di Rawagede , saat itu militer Belanda memang sudah mencurigai Rawagede dijadikan sarang “ekstrimis”, sebutan mereka kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia. “Suatu hari ada laporan ke pihak militer Belanda bahwa seorang anak lurah NICA ditangkap dan dianiaya oleh sekelompok besar kaum bersenjata di Rawagede dan laporan itu direspon dengan mengirimkan pasukan ke sana,” ujar peneliti sejarah terkemuka di Belanda itu . Penjelasan Stef nyaris mirip dengan laporan yang dilansir oleh Berita Indonesia pada 15 Desember 1947. Surat kabar itu memberitakan bahwa Pembantaian Rawagede diawali oleh kejadian pada 3 Desember 1947. Ketika itu, seorang putra dari agen MID (Dinas Intelijen Militer Belanda) yang berkebangsaan pribumi ditangkap dan disiksa di suatu rumah kosong yang terletak di Rawagede. Namun ia berhasil meloloskan diri dan melaporkan kejadian yang menimpanya kepada sang ayah. Dalam laporan itu disebutkan pula bahwa di Rawagede terdapat konsentrasi satu pasukan besar dari kaum Republik. Bersama seorang kawannya, agen MID yang tak disebut namanya itu lantas melaporkan informasi tersebut ke pihak militer Belanda di Karawang. Maka dikirimlah satu pasukan besar di bawah pimpinan Mayor Alphons. Menurut Berita Indonesia , di dalam pasukan itu tergabung pula satu unit baret hijau dari DST (Depot Pasukan Khusus). “Diduga mereka adalah bekas algojo-algojo dari Sulawesi Selatan,” tulis wartawan Berita Indonesia . DST adalah kesatuan khusus Angkatan Darat Belanda yang dipimpin oleh Kapten R.P.P. Westerling. Untuk membuat Sulawesi Selatan steril dari pengaruh kaum Republiken, sepanjang Januari 1946, Westerling melakukan pembersihan brutal di sana. Kejadian itu sempat membuat geger dunia internasional mengingat pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia yang menyatakan telah jatuh korban 40.000 jiwa penduduk Sulawesi Selatan. Tentu saja, tuduhan itu dibantah secara keras oleh Westerling. Kepada pers, ia mengaku hanya menghabisi sekitar 600 orang saja. Apa yang dicurigai oleh pihak militer Belanda tak sepenuhnya salah. Menurut Kastal (92), di Rawagede memang ada terkonsentrasi pasukan Republik dari TNI dan lasykar. “Di Rawagede, ada markas Hizbullah, markas Barisan Banteng, markas Pesindo dan sekelompok kecil TNI dari Madiun,” ungkap eks komandan regu Hizbullah di Rawagede itu. Namun kekuatan-kekuatan bersenjata itu hanya sebagian kecil dari penghuni Rawagede. Alih-alih menjadi markas besar, mayoritas penghuni Rawagede adalah petani. Maka tak aneh, jika korban terbesar dari operasi pembersihan yang dilakukan Mayor Alphons dan anak buahnya adalah mereka. Ketika bertemu dengan Telan dan Kastal, saya sempat menyebut satu persatu nama-nama korban Pembantaian Rawagede yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sampurnaraga, Rawagede. Mereka memastikan dari 181 nama itu, hanya 15 orang yang diyakini sebagai anggota lasykar dan TNI. Sisanya adalah penduduk sipil termasuk seorang lelaki gila. Pihak Yayasan Rawagede sendiri mengklaim jumlah korban tewas dalam pembantaian itu sebenarnya lebih banyak yakni 431 orang. Itu tentu saja jauh lebih besar dibanding versi pihak Belanda yang hanya mengakui korban ulah tentaranya di Rawagede hanya 150 orang saja.

  • Jalan Panjang Menuju Museum HAM

    NURKHOIRON, komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) terlihat bersemangat malam itu, saat menjelaskan gagasan menyulap sebagian ruang kerja di kantornya untuk jadi museum HAM. “Komnas HAM punya ruangan yang bisa digunakan sebagai museum. Itu lebih mudah daripada membangun dari awal karena bangunannya sudah ada,” kata dia dalam diskusi mengenai Museum HAM, 8 Desember 2016.

  • Mayang Memang Menggoda

    STASIUN Meteorologi Maritim Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah hari ini (9/12/17) mengeluarkan prakiraan cuaca yang menerangkan bahwa wilayah perairan selatan Kalimantan Tengah, Laut Jawa bagian tengah, perairan Kepulauan Karimun Jawa dan perairan utara Jawa Tengah akan berawan dan berpeluang hujan. Situasi tersebut membuat banyak nelayan di perairan utara Jawa tidak melaut. Di pelabuhan-pelabuhan sepanjang pantai utara Jawa itulah kapal-kapal kayu beraneka warna tertambat. Sebagian besar kapal yang dimiliki nelayan di pantura Jawa adalah jenis kapal mayang. Mayang merupakan perahu klasik yang berfungsi sebagai penangkap ikan dan alat transportasi di pantai utara Jawa. Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia , menuliskan bahwa perahu khas Jawa itu mengunakan kerangka badan yang mengikuti dinding sekat kedap air yang khas Cina. Kapal jenis Mayang tidak muncul dalam relief di kaki Candi Brobudur melainkan muncul di gambar-gambar Eropa sejak abad ke-18. “Kelihatannya banyak sejarawan yang hanyut dalam hegemoni kebesaran Cina. Semuanya dipandang pengaruh Cina. Ingat bahwa tradisi perkapalan untuk mengarungi lautan lebih duluan maju Nusantara. Cina masih berkutat dengan kapal-kapal sungai ketika para pelaut Indonesia sudah sering lalu lalang ke Cina untuk berdagang. Baru abad ke-11 setelah belajar perkapalan dari Nusantara dan Persia yang datang ke Cina mereka bisa membuat kapal-kapal laut. Makanya Kertanegara raja Singasari begitu mudah menghalau dan menghina utusan Khan dari Cina,” ujar Singgih Tri Sulistyono, sejarawan dari Universitas Diponegoro yang menekuni sejarah maritim, kepada Historia . “Mayang adalah salah satu genre kapal Austronesia,” imbuhnya. Diaspora suku-suku rumpun Austronesia pada kedua milenium sebelum masehi ke Nusantara, dari arah Utara dan Barat, telah menciptakan tipe perahu bercadik sebagai alat transportasi migrasi mereka, dan perkembangan jenis perahu asli Nusantara maupun kawasan Oseania berdasarkan atas ciptaan itu. Ciri khas dari kebanyakan perahu Austronesia adalah terbuat dari satu batang kayu saja. Dalam bahasa Inggris, disebut dugout, yang mengacu pada cara pembuatannya, yaitu batang kayu yang dikeruk bagian dalamnya atau perahu lesung. Jenis perahu ini tersebar di seluruh Kepulauan Nusantara. Biasanya, perahu berukuran besar pun mulai dibentuk dengan dasar perahu lesung yang kemudian dibesarkan dengan meninggikan dindingnya menggunakan papan. “Walaupun perahu model lesung ini dikatakan yang paling sederhana, teknik pembuatannya memerlukan keahlian dan pengalaman khusus. Kerumitan sudah dimulai ketika memilih kayu yang paling cocok, menebang pohonnya, sampai pada mengeruk batangnya. Untuk itu para tukang harus memenuhi persyaratan yang tinggi... Doa dan sesajen sering menyertai atau mendahului setiap fase baru dalam pembuatan kapal sesuai dengan adat kebiasaan setempat,” tulis AB Lapian dalam Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17 . Lapian pun menjelaskan bahwa sumber-sumber sejarah mengenai kemajuan teknik perkapalan di Indonesia susah ditemukan. Horst H. Liebner dalam artikel Perahu-Perahu Tradisional Nusantara menerangkan, ada catatan-catatan tertulis dari Cina mengenai jenis dan bentuk perahu Nusantara. Syahbandar, pejabat, biksu dan ilmuwan Cina sudah pada abad ke-3 Masehi memperhatikan k’un-lun b/po , atau ‘perahu-perahu layar orang Lautan Selatan’. Disebutkan dalam tulisan tersebut, perahu-perahu jenis p/bo dapat membawa antara 600 sampai 700 orang, dengan muatan sampai 10.000 ikat, sekira 250-1000 metrik ton, serta dapat mengangkut lebih dari 1.000 orang. Namun deskripsi dari Cina ini, lanjut Liebner, tidak didukung oleh penemuan arkeologi dan ikonografi. Baik fresko perahu di Candi Borobudur maupun sisa-sisa kapal karam yang ditemukan sampai sekarang berasal dari perahu-perahu yang ukurannya lebih kecil. AB Lapian, sejarawan yang memelopori kajian sejarah maritim, menerangkan bahwa pengaruh atas kapal-kapal pribumi bisa datang dari Portugis, Spanyol, bahkan Gujarat, Persia, dan Arab. Teknik pembuatan kapal, tali-temali perkapalan di Indonesia yang dinilai konservatif, bukan disebabkan karena kekurangan daya inventif, melainkan bentuk atau jenis kapal yang ada disesuaikan dengan situasi setempat. “Perahu mayang dengan layar tanjak-nya, misalnya, adalah bentuk yang terbaik untuk keperluan para nelayan yang harus berlayar di perairan utara Jawa yang dikuasai sistem angin setempat,” tulis Lapian. Kapal mayang, menurut Singgih Tri Sulistyono dalam Pengantar Sejarah Maritim Indonesia , berada dalam jenis kelompok perahu Jawa yang mempunyai ciri-ciri antara haluan dan buritan sejajar; badan perahu vertikal; layar empat persegi panjang, kadang trapesium dan segitiga; pada saat ini bentuknya kecil-kecil. Dalam kelompok perahu Jawa, kepal mayang tidak sendiri. Jopie Wangania dalam Jenis-Jenis Perahu di Pantai Utara Jawa-Madura juga menuliskan, selain kapal mayang, yang termasuk dalam kelompok kapal Jawa adalah perahu lesung , sampan , sope , jegong , tembon / compreng , bondet , kolek , konting / dogol , jukung katir , perahu prawean , golean lete , janggolan , pencalang , lambo . Memasuki abad ke-17, kapal-kapal kecil menjadi pilihan bagi pelaut untuk perdagangan maritim karena efisien. “Efisiensi tipe-tipe perahu ‘baru’ itu terlihat dalam angka persentase jenis-jenis perahu yang dinahkodai orang Eropa di Jawa Utara: Lebih dari 50% dari orang Barat itu memilih perahu tipe mayang dan pencalang sebagai sarana perdagangan mereka,” tulis Liebner. Pada pertengahan kedua abad ke-18, tulis Liebner yang mengutip keterangan G.J Knaap dalam Shallow Waters, Rising Tide–Shipping and Trade in Java around 1775 , kapal mayang yang ada di pelabuhan-pelabuhan utara Jawa memiliki spesifikasi panjang 9,15 hingga 12,2 meter; berdaya muat 7,24 metrik ton dan jumlah kru 6 orang. Kapal ini hanya melayani jarak lokal serta pelayaran antarpulau yang berdekatan. Hingga pascakemerdekaan, kepal jenis mayang mendominasi perdagangan maritim di laut Jawa dan sekitarnya. “Pada tahun 1951/1952, Pemerintah Indonesia melalui Pusat Jawatan Perikanan Laut mendapat bantuan/hibah 60 buah kapal mayang dan 14 buah kapal motor cakalang dari Pemerintah Amerika dengan Program International Cooperation Administration (ICA). Kapal mayang dibuat di Jepang dari kayu cemara atau matsu berukuran 13,50 x 3,20 x 1,20 m dengan mesin Yanmar 30 DK tipe 2 LD. Kapal-kapal tersebut disalurkan kepada koperasi perikanan di pantai utara Jawa,” tulis Soewito dalam Sejarah Perikanan Indonesia .*

  • Raja-Raja Perempuan di Bali

    BERBAGAI prasasti menyebut raja-raja perempuan di Bali khususnya dari Dinasti Warmmadewa. Raja pertamanya, Sri Kesari Warmmadewa, yang disebut dalam tiga prasasti berbahasa Bali Kuno. Para ahli berpendapat, Sri Kesari Warmmadewa merupakan cikal bakal Dinasti Warmmadewa yang menurunkan Dharmodayana hingga Airlangga di Jawa. Dia diperkirakan memerintah kerajaan yang berpusat di Singhamandawa. Hingga kini, letaknya belum bisa dipastikan. Ada yang memperkirakan di sekitar Tampak Siring dan Pejeng atau di antara aliran Sungai Patanu dan Pakerisan. Namun, masih harus dibuktikan. Tokoh perempuan pertama dari Dinasti Warmmadewa yang memerintah adalah Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Warmmadewi. Dia mendampingi suaminya, Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmmadewa, raja ketiga setelah Sri Kesari Warmmadewa. Mereka memerintah bersama pada 955-967 M. “Walaupun berdasarkan bukti prasasti terakhir yang dikeluarkannya adalah 967 M, pada 960 M muncul seorang raja penggantinya bernama Jayasingha Warmmadewa,” tulis Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI. Selanjutnya pada 983 M, muncul raja perempuan bernama Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Dia disebut dalam Prasasti Air Tabar B yang berbahasa Bali Kuno. Meski begitu, nama jabatan lainnya yang tertulis dalam prasasti itu lebih lazim dijumpai dalam prasasti Jawa Kuno, yaitu makudur, wadihati, dan pangkaja. Menurut Ninie, jabatan-jabatan ini tak pernah dijumpai sebelumnya dalam prasasti berbahasa Bali Kuno. Oleh karena itu, arkeolog Belanda, Van Stein Callenfels mengira-ngira raja perempuan itu adalah putri dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatra yang meluaskan kekuasaannya ke Bali. Sedangkan sejarawan Belanda J.L. Moens beranggapan raja perempuan itu adalah Sri Isanatunggawijaya, putri Mpu Sindok. Selain itu, dalam sebuah prasasti Jawa Kuno tahun 937 saka koleksi museum di Jerman, dijumpai keterangan Sri Maharaja Siniwi I Kadiri atau Sri Mahadewi yang disembah atau bertakhta di Kadiri. “Apakah kedua nama itu nama satu orang saja? Apakah Maharaja Sri Wijaya Mahadewi seorang putri Jawa yang merebut takhta Dinasti Warmmadewa pada 905 saka? Penelitian lebih lanjut belum dilakukan,” lanjut Ninie. Kendati demikian, menurut Ninie, Mahadewi memerintah selama enam tahun sebelum akhirnya orang tua Airlangga memerintah bersama di takhta Dinasti Warmmadewa. Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta menyebut Raja Airlangga yang bertakhta di Jenggala punya kekerabatan dengan para penguasa di Bali. Prasasti berisi silsilah Airlangga itu menyebutkan dia merupakan putra pangeran Bali dari Dinasti Warmmadewa bernama Dharmodayana dengan Gunaprya Dharmmapatni, putri Raja Sri Makutawangsawardhana, penerus Dinasti Isana di Jawa. Sejak pemerintahan bersama ini, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan. Selama masa pemerintahannya sejak 989-1011 M, Raja Dharmodayana atau Udayana mengeluarkan sepuluh prasasti. Empat di antaranya dikeluarkan bersama istrinya. “Hal yang cukup menarik, nama Gunaparya Dharmmapatni selalu disebutkan lebih dulu,” tulis Ninie. Menurutnya, itu sangat mungkin disebabkan ketika masa Udayana, Bali berada di bawah pengaruh Jawa. Raja perempuan lain yang kemudian menggantikan Raja Udayana adalah Sang Ratu Sri Sang Ajnadewi. Dia diperkirakan bukan dari keluarga Warmmadewa. Namanya sebagai raja tercatat dalam Prasasti Sembiran A III tahun 1016 M. Dia diperkirakan mengambil alih pemerintahan sampai generasi Warmmadewa berkuasa kembali pada 1022 M, yaitu Marakata Pangkaja, putra kedua Udayana. Perempuan tak dikesampingkan dalam pemerintahan raja-raja di Bali. Setidaknya dalam keluarga besar Airlangga. Terlebih ketika menengok silsilah dalam Prasasti Pucangan, disebutkan Airlangga adalah keturunan langsung dari Mpu Sindok melalui garis ibu. Pewarisan takhta melalui garis perempuan pun bukan hal aneh pada masa itu.

  • Palang Pintu Bukan Cuma di Acara Mantu

    DUA pria berusia 40-an tahun itu saling berhadapan. Sambil menantang, salah satu pria langsung buka mulut: “ Punye tane ditanemin sawi, badan basah abis mencangkul. Belum sempurne ngaku orang Betawi, kalau kagak bisa maen pukul.” Sontak, pria di hadapannya langsung menyahut: “ Muke cemong main di empang, ikan sepat jangan dimatiin. Ngomong sih emang gampang, cepat sini dibuktiin!” Adegan berbalas pantun itu terjadi dalam prosesi Palang Pintu yang dilakukan Grup Batavia, salah satu kelompok budaya yang masih aktif melestarikan Palang Pintu, di bawah pimpinan Haji Zahrudin di acara diskusi “Pendekar Bahasa dan Budaya Betawi: Abdul Chaer” yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (9/12/2017) malam. Zahrudin, yang sudah menulis tiga buku pantun Betawi, awalnya hanya mendalami maen pukul (silat Betawi). Tapi karena sewaktu menikah mendapati cerita Palang Pintu yang kurang bagus, Zahrudin perlahan mendalami kesenian Betawi, dari pantun hingga Palang Pintu. Palang pintu merupakan kesenian Betawi yang menjadi satu rangkaian dalam upacara pernikahan. Kesenian ini membutuhkan kemampuan berpantun juga silat. “Orang Betawi itu dari dulu suka berpantun, itu salah satu sastra lisan Betawi. (Pantun, red. ) ada di berbagai kesenian Betawi, seperti Palang Pintu. Di lenong juga ada,” kata Rachmat Ruchiyat, peneliti budaya Betawi. Secara filosofis, kata Zahrudin, Palang Pintu menjadi wadah untuk menguji kemampuan calon pengantin pria. Pihak pria mesti menampilkan kemampuan silatnya karena kelak diharapkan bisa menjaga istrinya dari bahaya. Selain itu, calon pengantin pria diuji kemampuan agamanya dengan tantangan berupa membaca ayat Al Quran. Gambaran tradisi budaya seperti itu antara lain ditulis Alwi Shahab dalam Maria van Engels: Menantu Habib Kwitang . Dalam suatu upacara pernikahan, tuan rumah akan meminta pihak tamu untuk menunjukkan kemampuan silat. Jago tuan rumah dan jago tamu pun adu silat. “Tentu saja yang harus ‘menang’ jago dari pihak tamu. Hanya dalam satu dua jurus, pihak tuan rumah menyatakan ‘cukup, cukup! Abang punye jago emang jempolan’,” tulis Alwi. Dalam perjalanan waktu, Palang Pintu mengalami perubahan. “Dulu, Palang Pintu cuma terbatas pada prosesi pernikahan. Tapi dengan berkembangnya waktu, Palang Pintu juga (digunakan – red .) untuk pengarakan para pejabat, gubernur. Jadi, sekarang arakan pejabat pakai Palang Pintu. Kami menyesuaikannya dengan mengatur alur cerita pantun,” kata Zahrudin, yang sudah 25 tahun menggeluti palang pintu. Sementara, dalam hal pemenang-pecundang yang umumnya menaruh pihak perempuan sebagai pihak “kalah”, Rahmat punya pandangan beda. Pada mulanya, kata Rahmat, Palang Pintu tak ada pihak yang kalah. Keduabelah pihak mulanya saling beradu pantun dengan santai lalu menjadi semakin panas dan dilanjutkan adu pukul. Palang Pintu diakhiri oleh peleraian yang dilakukan tetua. “Kenapa begitu? Ini kan mereka datang untuk melaksanakan salah satu sunah rasul,” kata Rachmat menirukan kalimat pelerai dalam Palang Pintu. Palang Pintu perempuan yang tidak kalah, lanjutnya, menggambarkan masyarakat Betawi yang egaliter, menempatkan posisi perempuan dan laki-laki dengan derajat sama. “Itu kan berkaitan erat dengan kedudukan wanita di masyarakat Betawi. Kalau Betawi itu, seimbang, sama, sifatnya egaliter, gitu ceritanya,” ujarnya sembari senyum. “Dulu itu tidak sampai kalah tapi ada yang melerai, orang-orang tua. Nah, kalau sekarang pasti deh pihak perempuan kalah, jadi menunjukkan perempuan itu lemah.”

  • Perempuan Penguasa Masa Mataram Kuno

    SEBELUM masa Kerajaan Majapahit, yang tercatat pernah memerintah sebagai raja perempuan adalah Isanatunggawijaya. Dia adalah putri Mpu Sindok, yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dia menduduki takhta menggantikan ayahnya yang berakhir pada 947 M. Isanatunggawijaya memerintah berdampingan dengan suaminya, Sri Lokapala. Tak banyak yang diketahui dari masa pemerintahannya. Tak diketahui pula kapan pemerintahannya berakhir. Menurut Prasasti Pucangan (1037 M), yang menjadi raja selanjutnya adalah putra mereka, Sri Makuthawangsawardhana. “Setelah Sri Isanatunggawijaya, tidak ada ratu lagi sampai pada masa Majapahit,” tulis arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti dalam Perempuan Jawa, Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page