Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berlatih Ala Bruce Lee
BULUTANGKIS bukanlah olahraga yang digemari Lius Pongoh, pebulutangkis era 1980-an, ketika kanak-kanak. Lius kecil yang bercita-cita menjadi tentara, justru menggemari kungfu, karate, hingga taekwondo. “Tapi enggak kesampaian. Jadinya paling hanya bisa nonton film (kungfu) saja. Saya paling senang film-filmnya Bruce Lee dan Chen Lung (Jackie Chan),” ujarnya kepada Historia. Sayang, ayahnya, Darius Pongoh, kurang mendukung cita-cita Lius menjadi atlet olahraga beladiri. Darius kekeuh ingin menyalurkan energi masa muda Lius di olahraga tepok bulu. Lius pun masuk PB Tangkas sejak usia delapan tahun hingga akhirnya masuk Pelatnas PBSI pada 1979.
- Bruce Lee dalam 10 Fakta (Bagian II)
RUMAH Pemakaman Kowloon di Maple Street, Hong Kong dan sekitarnya disesaki lautan manusia pada 25 Juli 1973. Tiga ratus aparat kepolisian mengerahkan penjagaan ekstra ketat saat sekira 30 ribu pelayat berdesakan untuk masuk demi melihat kerabat, sahabat, hingga idola mereka, Bruce Lee, yang terbujur kaku di peti mati terbuka. Di sekitar peti mati itu ada keluarga dan kerabat terdekat, anak dan istri: Linda, Brandon, dan Shannon Lee, serta ibunda Grace Lee dan kakak-adik Bruce. Mereka, yang berpakaian putih tradisional upacara pemakaman, meratap. Hampir semua masih tak percaya lima hari sebelumnya Bruce mengembuskan napas terakhirnya. Pada 20 Juli 1973 malam, aktris Betty Ting Pei panik saat mendapati Bruce tergolek tak sadarkan diri di lantai sebuah apartemen di Beacon Hill Road, Hong Kong. Betty mendatangi apartemen itu karena Bruce sudah ditunggu dua koleganya, Raymond Chow dan George Lazenby, di Hotel Miramar untuk mendiskusikan film Game of Death.
- Bruce Lee dalam 10 Fakta (Bagian I)
KIPRAHNYA memang tidak panjang, kematiannya pun sudah nyaris setengah abad. Namun, warisan yang ditinggalkan Bruce Lee masih bertahan hingga kini. Bruce Lee telah menjadi ikon beladiri modern dan film laga di berbagai penjuru dunia. Visinya yang jauh ke depan membuka banyak pintu inspirasi bagi banyak orang untuk lebih membuka pemikiran baik urusan beladiri maupun perfilman. Kepeloporan dan kiprah Bruce Lee itulah yang mendorong “Talk to Crew” Historia mengangkat tema “Anak Silat Ngomongin Bruce Lee” pada Kamis (21/7/22) lalu untuk memperingati 49 tahun wafatnya (20 Juli 1973) sang legenda. Ada banyak warna yang membentuk “lukisan” kehidupan pribadi maupun karier Bruce Lee. Berikut empat di antara 10 fakta figur sang “Naga” yang dicintai beragam lapisan masyarakat dunia itu:
- Sandyakala Andalusia
DI Kordoba, 1198, Ibnu Rusyd, ulama-cum-dokter yang di Barat dikenal sebagai Averous dan dianggap tokoh filsuf Rasionalisme, mengembuskan napas penghabisan dalam kondisi mengenaskan. Banyak karyanya dibakar. Ajaran filsafatnya menjadi barang haram. Ramalannya mulai menuju kebenaran bahwa masa depan negaranya takkan ramah untuk orang-orang yang tercerahkan seperti dirinya. Di tempat yang sama dan waktu hampir bersamaan, dokter, juru tulis, dan filsuf Yahudi Musa Ibn Maymun atau Maimonides harus angkat kaki dari kampung halamannya. Kordoba, yang dikuasai kerajaan-kerajaan kecil dan saling berperang, mulai menutup pintu bagi kaum Yahudi. Bahkan ketika kaum Muwahidun berkuasa, mereka membantai ribuan orang Yahudi. Musa Ibn Maymun pindah ke Mesir. Di sana dia mendapatkan tempat terhormat dengan menjadi penasihat Salahuddin al-Ayubi, kelak dikenal sebagai penakluk Yerusalem, hingga meninggal dunia pada 1204. Seiring kematian dua filsuf besar itu, Kordoba, tempat yang pernah menelurkan peradaban tinggi yang dikenal dengan Peradaban Andalusia, perlahan masuk liang lahat. Padahal, dua abad sebelumnya, tepatnya pada abad ke-9, Kordoba merupakan prototipe modernitas. Dari jendela istananya yang megah, Hisyam dan putra sekaligus penggantinya, al-Hakam I, menyaksikan kemajuan dan kemakmuran masyarakatnya.
- Jejak Silam di Tepian Wadi el Kabir
NAMA resmi kompleks bangunan lambang kota Kordoba, Spanyol itu Catedral de Nuestra Señora de la Asunción atau dalam bahasa Indonesia kira-kira: “Katedral Santa Perawan Maria Yang Diangkat ke Surga”. Tapi cobalah Anda tanya orang di jalanan Kordoba di mana letak Catedral de Nuestra Señora de la Asunción. Kemungkinan besar akan menimbulkan kebingungan. Tapi tanyalah di mana La Mezquita, yang dalam bahasa Spanyol berarti masjid. Semua orang pasti tahu dan akan menunjuk ke gereja katederal itu. Tak aneh jika ada dua warga lokal yang saling berpapasan dan tegur sapa, “mau ke mana?,” akan terdengar jawaban yang tidak cocok untuk kuping kita: “Voy a la Mezquita a oír misa”. Artinya, “Saya mau misa di masjid”. Catedral La Mezquita atau Katedral Masjid adalah surga arsitekur, sejarah, dan budaya yang tiada duanya. Terletak di Kordoba, Spanyol, yang pernah menjadi salah satu ibu kota kekhalifahan Islam. Lebih tepatnya kekhalifahan Bani Ummayah periode kedua, setelah kudeta oleh Bani Abbasiyah di Damaskus, Syria. La Mezquita adalah lokasi wajib kunjung bagi wisatawan yang datang ke Spanyol. Ada dua hal yang harus diperhatikan ketika kita berkunjung ke kompleks bangunan seluas 23.400 meter persegi itu.
- Jejak Komponis Mochtar Embut
NAMA Mochtar Embut barangkali jarang disebut dalam sejarah musik Indonesia. Ia meninggal dunia pada usia yang relatif muda, 39 tahun, ketika karier musiknya sedang naik. Namun, karya-karyanya meninggalkan jejak sejarah tersendiri bagi pencipta lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan ini. Mochtar Embut lahir pada 5 Januari 1934 di Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak usia lima tahun, ia sudah belajar musik dari ayahnya. Kemudian pada usia sembilan tahun, ia menciptakan lagu anak-anak berjudul Kupu-Kupu di Tamanku. Bakat musiknya semakin terasah ketika remaja, menginjak usia 16 tahun ia mulai belajar piano dan menggubah lagu Percakapan dengan Alam. Mochtar Embut pernah mengenyam pendidikan formal di Europeesche Lagere School (ELS) di Makassar. Namun, musik tampaknya telah menjadi panggilan jiwanya. “Setelah menyelesaikan Lagere School di Makasar, ia pindah ke Jakarta, dan memperdalam musik,” tulis Ensiklopedi Musik Volume 1.
- Misteri Gunung Kawi
MESKI tanahnya dapat menghasilkan ketela berkualitas bagus, Gunung Kawi justru terkenal sebagai tempat mencari peruntungan. Entah sejak kapan tradisi itu bermula. Yang terang, pada 1990-an orang pergi ke Gunung Kawi identik dengan tujuan ngalap berkah hingga ritual mistik pesugihan. “Sudah sejak lama Gunung Kawi (2.651 meter) yang terletak 49 km sebelah barat kota Malang, dikenal sebagai tempat ziarah untuk ngalap berkah. Makam yang dikeramatkan itu dipercaya sebagai makam Kanjeng Panembahan Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono,” lansir Harian Ekonomi Neraca, 2 Oktober 1992. Gunung Kawi memang menyimpan banyak misteri. Menurut berita Pewarta Soerabaia, 30 November 1957, di Gua Kemanten Gunung Kawi bersemayam seorang putri yang awet muda bernama Raden Tjekluk. Disebut tjekluk karena penampakan makhluk ini seperti tak bertulang, sehingga berdirinya macam orang peot.
- Menteri Cantengan
SOEBANDRIO barangkali satu-satunya menteri luar negeri yang memakai sandal dalam suatu perundingan formal bilateral. Ceritanya bermula ketika Soebandrio berangkat ke Amerika Serikat pada 18 Juli 1962. Presiden Sukarno mengutus Soebandrio berunding dengan pihak Belanda agar menyerahkan wilayah Irian Barat. “Sudah jelas Presiden Sukarno berulang-ulang berkata bahwa: ‘Penyerahan kekuasaan Irian Barat harus berlangsung pada tahun 1962, sebelum ayam jantan berkokok tahun 1963’,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat. Soebandrio memimpin delegasi Indonesia. Turut mendampinginya Letnan Jenderal TNI Hidayat Martaatmadja dan Juru Bicara Depertemen Luar Negeri, Ganis Harsono. Sementara pihak Belanda diwakili oleh Herman van Rooijen, duta besar Belanda untuk PBB.
- Dion (Seolah) Diselamatkan Angka
BRONX adalah bagian kemiskinan dari gemerlapnya kota New York. Acapkali kemiskinan di sana mendorong tindak kejahatan. Beberapa pesohor dunia hiburan dan olahraga pernah tinggal di Bronx. Petinju Jake LaMotta (1922-2017) pernah tinggal di sini dan setelah sangar di atas ring dia dijuluki The Bronx Bull. Pesohor keturunan Italia lain asal Bronx adalah pemusik Dion Francis DiMucci. “Lahir di Bronx pada 18 Juli 1939, DiMucci pertama kali rekaman pada 1957 sebagai Dion & the Timberlanes di Mohawk Label,” catat Steve Sullivan dalam Encyclopedia of Great Popular Song Recordings Volume 1. Dion adalah nama panggungnya. Selain dalam Dion & the Timberlanes, pada 1958 dia pernah bergabung dalam band berisi tiga musisi baru asal Bronx, Dion & Belmonts. Boy band yang pernah rekaman di bawah label Laurie ini sohor dengan lagu “I Wonder Why”.
- Bukan Sekadar Perjalanan Rohani
PAGI, 18 Juli 1955. Lapangan Terbang Kemayoran ramai. Ribuan orang menanti untuk melepas keberangkatan Presiden Sukarno bersama rombongan (31 orang) ke Tanah Suci. Setiba di Kemayoran, Sukarno menyampaikan amanatnya. “Hari ini saya minta pamit dari seluruh lapisan rakyat di manapun saudara-saudara berada di tanah air kita. Saya minta doa selamat dari saudara-saudara sekalian.” ujar Sukarno, dikutip harian Merdeka, 19 Juli 1955. “Saya ingin minta dari saudara-saudara semua, supaya selama saya tidak ada di Tanah Air, saudara-saudara semuanya bersama-sama menjaga dan memelihara ketentraman dan keselamatan negara kita.”
- Selamat Jalan Anak Muda Gaul
KABAR duka datang dari Shanty Sys di Kemang Timur, Jakarta Selatan. Suami Shanty, Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan Sys NS, meninggal dunia pada 23 Januari 2018 di usia 61 tahun. Sys populer tahun 1970-an sebagai anak muda gaul Jakarta. Lahir di Semarang, 18 Juli 1956, Sys hanya numpang lahir di sana karena tumbuh-besar sebagai anak Jakarta. Ketika ayahnya, RM Soerio Soebagio, dipindahtugaskan ke Semarang pada 1973, Sys berontak. Mulanya dia ikut pindah ke Semarang, tapi dua hari berselang kabur ke Jakarta. Ayahnya yang teguh pada pendirian akhirnya luluh dan menuruti keinginan Sys tetap di Jakarta. Sys lalu masuk SMA 3 Teladan, Setiabudi, Jakarta. Tapi prestasinya buruk, Sys sampai harus pindah sekolah sembilan kali. Dia yang di Jakarta tinggal menumpang pada kerabatnya kemudian juga tak betah. Setelah kabur, Sys memilih kembali ke tempat tinggal masa kecilnya di sebuah perkampungan di Kelurahan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. “Gue tidur di Pos Hansip. Urusan mandi dan ganti baju, numpang di rumah teman,” kata Sys seperti ditulis N. Syamsuddin Ch. Haesy dan Gauri Nasution dalam Pop Biografi dan Kreatografi Sys NS.
- The Singing Commodore
PENSIUN dari Angkatan Udara, Soejoso Karsono atau biasa dipanggil Oom Yos menyulap garasi rumahnya di Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi studio musik. Mula-mula dia bermusik bersama keluarga dan kawan-kawannya. Seiring waktu, dia melengkapi studionya dan pada 1954 mendirikan perusahaan rekaman Irama Records. Irama menjadi label rekaman pertama di Indonesia. Di awal kiprahnya, Irama Records memproduksi album piringan hitam Sarinande (1956) buah karya The Progressief, band jazz yang digawangi Nick Mamahit (piano), Dick Abel (gitar), Dick van der Capellen (drum), dan Max van Dalm (bass). Album instrumentalia ini cukup mendapat tempat di hati pendengar. Dalam perjalanannya, Irama merekam hampir semua jenis musik. “Mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong,” tulis Theodore KS dalam Rock ‘n Roll Industri Musik Indonesia.





















