Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jagoan Udara Bernama Leo Wattimena
Jangan coba-coba meniru aksi Leo Wattimena. Pesan itu tercetus dari kolega Leo sendiri sesama penerbang, Roesmin Noerjadin. Di kalangan sejawatnya, Leo terkenal sebagai penerbang “gila”. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat sambil akrobatik tidak dapat ditandingi siapapun. “Saya pernah meniru satu kali, tapi langsung diperingatkan Pak Roesmin Noerjadin, agar jangan meniru orang gila itu lagi,” kenang Moesidjan. Pada 1958, Moesidjan salah satu penerbang pesawat tempur P-51 Mustang dalam Skadron 3 AURI yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Komandan skadronnya saat itu ialah Roesmin Noerjadin. “Kalau kamu ulangi, kamu enggak usah jadi penerbang tempur,” kata Roesmin ditirukan Moesidjan dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Teguran itu bukan tanpa alasan. Belajar dari pengalaman, seorang penerbang lain pernah mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Gara-gara mau meniru gaya Leo Wattimena, pesawat yang dikemudikan Letnan I (Udara) Subagyo jatuh menghujam landasan ketika lepas landas. Subagyo pun gugur seketika. Sebagai jagoan di udara, Leo Wattimena tidak bermodal keberuntungan semata. Dibandingkan rekannya sesama penerbang, Leo selalu mengambil bobot yang lebih berat untuk mengasah kemampuan. Ternyata, Leo diam-diam sudah sering melatih berbagai gaya atraksi di udara. Inilah rahasianya. Dia sering berlatih terbang di atas gumpalan awan dan menganggap awan sebagai landasan. Ukurannya, kalau sampai pesawat menyentuh awan, berarti pesawat telah jatuh. Setelah berkali-kali percobaan, barulah atraksinya itu dilakukan di atas landasan. Selain giat berlatih, Leo punya postur tubuh yang menunjang untuk ukuran pilot pesawat tempur. Secara kasat mata, Leo terlihat kekar, berleher pendek, dan bertubuh gempal. Leher pendek sangat menguntungkan bagi penerbang tempur karena jarak jantung memompakan darah ke kepala menjadi dekat. Dengan demikian, sang pilot akan mudah mengatasi kondisi kehilangan kesadaran ketika berada di ketinggian tertentu. “Postur fisik Leo memang mendukung. Di selalu bisa cepat mengatasi kondisi-kondisi blank itu. Bahkan, ia melakukan sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya,” tulis Iswadi. Dengan Mustang kesayangannya, Leo mengangkasa sesuka hati. Begitu pula di kalangan AURI, Leo adalah penerbang tempur yang disegani. Tapi, itu semua tidak membuat Leo lupa daratan. Di balik reputasi gemilang itu, Leo memperlihatkan kehidupan pribadi yang sederhana. Pada 1956, Leo menikahi Corrie Dingemans seorang perempuan indo asal Jakarta. Pada awal perkawinannya, keluarga Leo tinggal di mess di kawasan Setiabudi. Sebenarnya, Leo sudah ditawari rumah besar di kota tetapi tidak diambilnya karena ingin tinggal di Halim Perdanakusuma. Pada awal 1960, keluarga Leo kemudian berpindah ke Komplek Trikora Halim. Salah satu kebiasaan Leo yang diingat banyak koleganya adalah secara berkala mengantarkan beras kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Dia mengantarkannya langsung dengan pesawat Mustang yang dikemudikan sendiri. Padahal, pekerjaan itu bisa dititipkan kepada anak buahnya. Dikisahkan dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, ketika operasi Trikora pembebasan Irian Barat, Leo pernah mendapat tugas mengirim gula dari Jakarta ke Makassar. Sementara itu, di rumah Leo sendiri sedang tidak ada gula. Alih-alih aji mumpung, Leo malah memilih untuk tidak mau mengambil sedikit pun gula untuk keperluan rumahnya. “Tanpa gula kita bisa membesarkan anak-anak,” begitu kata Leo kepada istrinya. Sekali waktu, Leo juga pernah tersulut amarah sebagai tanda solidaritasnya kepada pasukan terdepan. Pada saat makan bersama, Leo tiba-tiba membuang makanan miliknya karena menyaksikan para prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat cuma dikasih makan tempe. Sementara itu, para perwira tinggi yang duduk di garis belakang mendapat jatah makan dengan lauk daging ayam. Luapan emosional itu semata-mata ditunjukkan Leo karena menghormati hak-hak prajurit yang belum tentu dapat kembali pulang dari pertempuran dengan selamat. “ Spirit de corps -nya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dikutip Iswadi. Di hadapan siapapun yang mengenalnya, Leo juga tidak sungkan unjuk kebolehan selain menerbangkan pesawat. Leo memiliki hobi menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak. “Kalau ada Leo, tidak pernah sepi,” begitulah teman-temannya mengenang sosok Leo Wattimena.
- Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji
SUATU hari di awal tahun 1700-an. Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691–1707) merasa pusing dengan prilaku sang adik yang bernama Raden Prawatasari. Bagi pejabat yang mengabdi kepada VOC itu, sikap keras Prawata terhadap orang-orang Belanda membuatnya ada dalam posisi dilematis. Supaya sang adik lebih “dewasa” dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II memberangkatkan Prawatasari untuk pergi berhaji ke Makkah. “Namun boro-boro menjadi lebih tenang, sepulang dari Makkah, Haji Prawatasari malah semakin keras sikapnya terhadap kompeni dan bahkan melancarkan perlawanan bersenjata yang sulit dikendalikan,” tutur sejarawan Cianjur, Luki Muharam. Jika cerita di atas memang benar, itu membuktikan Bupati Aria Wiratanu II memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap VOC. Menurut sejarawan Henri Chambert-Loir, sejak akhir 1600-an, VOC sangat selektif memberikan izin kepada orang-orang muslim di Nusantara untuk pergi berhaji. Sebabnya: mereka khawatir orang-orang Nusantara terpengaruh ajaran perang sabil selama di tanah Arab tersebut.
- Sukarno, Pan Am, dan CIA (1)
DALAM kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, Presiden Sukarno suka menyewa pesawat Pan American World Airways. Namun, pemerintah Uni Soviet tak senang Sukarno menggunakan pesawat musuhnya, Amerika Serikat.
- Larbi Benbarek, Bintang Sepakbola Prancis yang Dilupakan
SUATU hari yang cerah di bulan September 1992. Abdelkader Larbi Ben M’barek alias Larbi Benbarek (diperankan Mohamed Khashla) baru selesai mendirikan salat di kediamannya. Tak lama kemudian, Hassan (Abdelhamid Qarqouri) sahabatnya mengajaknya ke Stade Mohammed V di Kasablanka, Maroko untuk menyaksikan laga timnas Maroko. Namun sesampainya di tujuan, Larbi ditolak masuk. Ia tetap dilarang masuk ke stadion ketika menunjukkan selembar kartu pas berlogo FIFA. Penolakan itu jadi kali terakhir Larbi menengok stadion terbesar Maroko itu lantaran seminggu kemudian, pada 16 September 1992, Larbi mengembuskan nafas terakhirnya. Prolog film Larbi: Ou le destin d’un grand footballeur (2011) garapan sineas Driss Mrini itu dengan gamblang menggambarkan figur seberpengaruh Larbi Benbarek begitu cepat dilupakan. Tidak hanya dalam ingatan publik Prancis, negeri tempat Benbarek berkarier hingga bersinar di masa muda, namun juga di negeri kelahirannya, Maroko. Nama Larbi Benbarek memang terbilang asing bagi penikmat sepakbola era modern. Maklum, pesepakbola muslim yang pernah menjadi bagian dari timnas Prancis itu melanglang buana di Eropa pada 1930-an hingga 1950-an. Namanya tenggelam oleh sederet nama bintang yang terus bermunculan di era-era setelahnya. Terlebih setelah era Zinedine Zidane pada 1990-an dan Paul Pogba pada masa kini, yang sama-sama mempersembahkan trofi Piala Dunia kepada Prancis. Padahal, Zidane, Pogba, Karim Benzema, hingga Adil Rami merupakan penyambung tongkat estafet dari peran yang dimainkan Benbarek. Meski prestasi yang ditorehkan Benbarek tak sebaik bintang-bintang penerusnya, Benbarek peletak fondasi kiprah peranakan Afrika Utara sebagai tulang punggung di timnas Prancis yang diakui dunia. Larbi Benbarek sebelum jadi bintang di Prancis, hidup sengsara di Maroko. ( onisep.fr / fff.fr ). Bermain dengan Sandal Sejatinya, sejak 1936 timnas Prancis sudah punya anggota pesepakbola muslim imigran seperti Ali Benouna dan Benbarek. Namun, bintang yang paling kondang saat itu ialah Benbarek. Benbarek lahir di Casablanca pada 16 Juni 1914. Saat dia lahir, Maroko masih terbagi dua, antara di bawah kolonialisme Prancis dan protektorat Spanyol. Casablanca bersama Marrakesh jadi kota besar yang dikuasai Prancis. Benbarek yang datang dari keluarga miskin di pinggiran Casablanca sudah menjadi yatim sejak kecil. Satu-satunya kesenangan yang bisa dirasakannya ialah main sepakbola di jalan dengan bertelanjang kaki sebagaimana anak-anak sebayanya di lingkungannya. Sepatu bola masih jadi barang mewah bagi si yatim itu. Benbarek berkawan baik dengan Marcel Cerdan yang kelak jadi petinju besar Prancis. Diungkapkan C. R. Pennell dalam Morocco Since 1830: A History , Banbarek bahkan nyaris menggeluti tinju yang tengah ditekuni Cerdan. “Tinju jadi alternatif (selain sepakbola) untuk melarikan diri dari kemiskinan. Sahabat Benbarek muda adalah Marcel Cerdan, putra dari seorang tukang daging di Casablanca. Pada 1939, Cerdan menjadi juara dunia kelas menengah,” tulis Pennell. Larbi Benbarek (jongkok, kedua dari kiri) di Skuad Olympique Marseille, klub Prancis pertamanya setelah merantau dari Maroko. ( om.fr ). Di usia 16 tahun, Benbarek memilih sepakbola sebagai jalan hidupnya. Seraya bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan minyak, Benbarek mulai merajut peruntungan di lapangan bersama klub amatir FC Ouatane de Casablanca. Pada 1930, ia akhirnya main di klub profesional L’Idéal Club de Casablanca. “Larbi Benbarek tak pernah mengenakan sepatu sepakbola, jadi dia memainkan laga profesional perdananya mengenakan sandal. Saat itu (debutnya) melawan klub raksasa US Marocaine, tiga kali juara Piala Afrika Utara. Benbarek mencetak dua gol,” ungkap Matt Rendell dalam Olympic Gangster. Perlahan tapi pasti Benbarek mulai ditakuti banyak pemain bertahan. Bermodal stamina prima, driblling apik, gaya permainan ala Brasil, dan postur tinggi, Benbarek dikenal sebagai gelandang serang yang trengginas. Pasca-mengantarkan L’Idéal menjadi finalis Coupe du Maroc de Football 1935, Benbarek direkrut US Marocaine. Di tahun itu juga Benbarek mulai sering dipanggil tim Maroko IX, pendahulu timnas Maroko. Saat itu Maroko masih jadi jajahan Prancis dan belum punya timnas. Tiga kali Benbarek mengumpulkan caps di laga-laga persahabatan antara tim-tim serupa di Aljazair dan Tunisia. Titik balik kariernya terjadi usai membawa US Marocaine menjuarai Liga Maroko dan kampiun Championnat d’Afrique du Nord de Football (Piala Afrika Utara) 1937. Kecemerlangannya menarik minat klub Prancis Olympique Marseille yang kemudian meminangnya dengan mahar 44 ribu franc alias 50 kali lipat gajinya kala jadi petugas kebersihan. Dewa Sepakbola Benbarek langsung membuktikan diri sebagai pemain paling menonjol di antara pemain-pemain dalam gelombang pertama imigran muslim di sepakbola Prancis, 1930-an. “Benbarek langsung memberi kesan luar biasa di Prancis. Dia mencetak dua gol pada debutnya di Liga Prancis dan dalam empat bulan berikutnya, sebagai warga Prancis, ia terpilih mewakili Les Bleus (julukan Timnas Prancis),” tulis sejarawan International Centre for Sports History & Culture De Monfort University Matt Taylor, di laman lcfc.com , 20 April 2020. Larbi Benbarek (jongkok kedua dari kiri) masuk Timnas Prancis sejak 1938. ( histoire-immigration.fr ). Debut Benbarek di timnas Prancis terjadi pada laga persahabatan kontra Italia di Napoli, 4 Desember 1938. Sayangnya, Prancis kalah 0-1. Namun dalam laga persahabatan kontra Polandia, 22 Januari 1939, Benbareck mencetak hattrick pertamanya dan Prancis menang 4-0. Kiprah manis Benbarek namun harus terhenti hingga 1945 karena Perang Dunia II pecah. Benbarek pun pulang ke Maroko selama perang. Ia kembali ke Prancis usai perang untuk memperkuat Stade Français yang ditukangi Helenio Herrera. Tiga tahun berselang kala Herrera pindah ke klub Spanyol Atlético Madrid, Benbarek turut dibawa Herrera sehingga menjadi pemain kulit hitam pertama di Liga Spanyol. Kepindahan Benbarek menggegerkan publik Prancis yang tak rela ditinggal pergi Benbarek. “Para jurnalis di media-medianya mengecam dalam suratkabar-suratkabar: ‘Jual (monumen) Arc de Triomphe atau jual Menara Eiffel, tetapi jangan jual Benbarek!’” sambung Rendell. Larbi Benbarek (berdiri, keempat dari kanan) jadi bintang berkulit hitam pertama di Liga Spanyol. ( atleticodemadrid.com ). Namun angka 17 juta franc, seperti diungkapkan Mickael Grall dalam Red Card!: 20 Broken Destinies of Legendary Footballers , (sumber lain menyebut 8 juta franc) sebagai rekor mahar Atlético untuk Stade Français terlalu mubazir untuk ditolak. Jadilah Benbarek melebarkan sayapnya ke Semenanjung Iberia sebagai pemain bintang berkulit hitam pertama di Liga Spanyol. Jika kelak legenda Argentina Diego Maradona dijuluki “Si Tangan Tuhan”, Benbarek lebih dulu disematkan julukan Pie de Dio alias “Kaki Tuhan” oleh publik Madrid, mengingat keunggulan postur di bagian kakinya yang jenjang. Keputusan Herrera mendatangkan Benbarek ke klub rival sekota Real Madrid itu tak keliru meski harus mengeluarkan mahar 17 juta franc –sumber lain menyebut 8 juta franc– sehingga kepindahan Benbarek mencetak rekor. Sepanjang sepakterjangnya di 113 laga bersama Atlético (1948-1953), Benbarek menorehkan 56 gol. Ia jadi pahlawan kala Atletico menyabet dua gelar liga berturut-turut (1950 dan 1951) dan satu titel Copa Eva Duarte (kini Supercopa de España ) pada 1950. Edson Arantes do Nascimento alias Pelé (kanan) yang memuja Larbi Benbarek. (Twitter @MoroccoStats). Namun, kebintangan Benbarek gagal diuji di Piala Dunia. Prancis mundur dari keikutsertaan di Piala Dunia 1950. Sementara di Piala Dunia 1954, penampilan Benbarek mulai menurun seiring bertambahnya usia. Benbarek memainkan laga terakhirnya bersama timnas Prancis di laga persahabatan kontra Jerman Barat di Hannover, 16 Oktober 1954. Benbarek kembali ke Prancis pada 1953 dan bermain untuk Marseille. Senjakala kariernya dihabiskan Benbarek di USM Bel-Abbes (Aljazair) sebagai pemain-pelatih pada 1955 dan Rabat FUS pada 1957. Di tahun yang sama usai pensiun, ia dipercaya menukangi timnas Maroko yang lahir tak lama setelah merdeka dari Prancis. Sejak saat itulah nama Benbarek mulai dilupakan. Namun, ia tidak pernah dilupakan oleh Pelé , bintang legendaris asal Brasil. Dalam sebuah pertemuan di tahun 1957, Pelé, yang baru mulai mendaki kebintangannya, mengungkapkan kekagumannya pada Benbarek. “Bagi banyak pemain yang pernah melawannya, Larbi Benbarek tak sekadar pesepakbola Afrika hebat pertama: dialah yang terhebat. Pelé disebutkan sampai menyembahnya: ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia dewanya.’ Tetapi di awal 1990-an hidupnya terisolasi dan terlupakan, bahkan di Maroko, di mana jasadnya saja baru ditemukan seminggu setelah ia meninggal (16 September 1992),” tulis Rendell.
- Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba
Sabtu pagi 58 tahun silam di Pangkalan AU McCoy, Orlando, Florida, Amerika Serikat. Mayor Udara Rudolf Anderson sibuk mempersiapkan semua hal untuk penerbangannya. Dia akan menjalankan penerbangan satu jam 15 menit di atas Kuba untuk misi pengintaian ( air spy ). Meski berbahaya, misi itu dijalaninya dengan senang. Tak tampak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya. “Terbang adalah hidup dan hasratnya. Saat kanak-kanak, dia membuat pesawat model dan bercita-cita menjadi pilot,” tulis Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Sementara Anderson sibuk mempersiapkan penerbangannya, Sabtu (27 Oktober 1962) pagi itu orang-orang di Havana dan di sebagian besar kota-kota di Kuba beraktivitas seperti biasa. Masyarakat beraktivitas seolah tak mengetahui ada bahaya besar yang mengancam mereka. Kepanikan warga tak terlihat padahal negeri mereka sedang berada dalam ancaman kehancuran oleh nuklir Amerika Serikat. “Orang-orang pada umumnya tidak menunjukkan antusiasme atau kepanikan. Mereka telah membeli stok barang-barang seperti parafin, minya, kopi, tetapi tidak ada hiruk-pikuk di toko-toko, dan persediaan makanan tampaknya masih mencukupi,” kata Duta Besar Inggris untuk Kuba Herbert Marchant sebagaimana dikutip Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Ketiadaan kepanikan warga Kuba juga disaksikan wartawan Argentina Adolfo Gilly. Alih-alih harapannya bertemu Che Guevara berhasil ketika dia mengunjungi Kementerian Perindustrian, dia malah mendapati kabar bahwa Che berada di Pinar del Rio. Seorang asisten juga memberitahunya berita buruk. “Kami memperkirakan penyerangan (Amerika, red .) siang ini antara pukul tiga dan empat,” kata sang asisten, dikutip Dobbs. Asisten tersebut tak menunjukkan wajah ketakutan saat memberi kabar, seolah kabarnya seringan kabar akan datangnya sebuah tamu delegasi asing. Pun dua milisi yang dilihat Gilly di bawah, tak sedikit pun menunjukkan kepanikan akan bahaya dahsyat yang akan datang. Dengan tanpa beban salah seorang milisi itu menyatakan kepada kawannya bahwa sang kawan harus menunggu sampai perang usai untuk bisa mencukur rambut karena mereka yakin serangan AS akan segera datang. Suasana mengerikan yang seolah tak dipedulikan warga Kuba itu terjadi dalam masa Krisis Misil Kuba (16-28 Oktober 1962). Krisis yang membawa dunia di ambang perang nuklir itu dipicu oleh penempatan sejumlah rudal balistik Uni Soviet di Kuba. Penempatan itu merupakan respon Uni Soviet atas kesepakatan yang dicapai antara PM Nikita Khrushchev dan pemimpin Kuba Fidel Castro tiga bulan sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Castro meminta Soviet menempatkan rudal-rudal balistiknya di sejumlah tempat di Kuba untuk mengantasipasi agar invasi seperti Invasi Teluk Babi pada 1961 yang disokong Amerika Serikat tak terulang kembali. Penempatan sejumlah rudal balistik itu pun memicu Amerika mengerahkan lebih banyak penerbangan mata-mata ( air spy ). Pasalnya, dalam penerbangan perdana pada 14 Oktober 1962, pesawat U-2 Amerika yang dipiloti Letkol Richard Heyser berhasil memotret situs-situs rudal balistik Soviet di Kuba. Ketika keesokannya Anderson menjalankan misi serupa, lebih banyak situs rudal balistik Soviet ditemukan di dekat Sagua la Grande, Kuba Tengah. Amerika pun makin gencar memata-matai tetangganya lewat udara dengan mengerahkan 4028th Strategic Reconnaissance Weather Squadron, 4080th Strategic Reconnaissance Wing. Penerbangan mata-mata Amerika dirintis sejak masa pemerintahan Eisenhower dan diprakarsai CIA dengan sasaran wilayah udara Soviet. “Untuk mewujudkan misi tersebut, CIA membuat U-2 Program guna menghasilkan pesawat khusus spionase yang bisa terbang setinggi 65.000-70.000 kaki agar tak bisa dijangkau pesawat-pesawat dan rudal-rudal Soviet. U-2 Program sejalan dengan Skunk Works, program pengembangan pesawat Lockheed Martin yang dijalankan bekerjasama dengan dengan CIA. “Ketika CIA mengambil alih keamanan Skunk Works, menyegel perimeter dengan orang-orang berpakaian preman berwajah serius yang membawa senjata otomatis, dan mengatur untuk mendanai kontrak Lockheed senilai $35 juta melalui perusahaan tiruan, (Clarence L Johnson, desainer pesawat – red .) Kelly memilih tim khusus dan menyelesaikan cetak birunya untuk pesawat revolusioner,” tulis Francy Gary Powers Jr. dan Keith Dunnavant dalam Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War Legacy . Setelah menyasar wilayah udara Soviet, penerbangan mata-mata Amerika itu juga menjangkau Kuba. Namun demi keamanan, Presiden Kennedy mengalihkan misi tersebut dari CIA ke AU AS. “Kennedy lebih memilih tampilan biru Angkatan Udara terbang di atas Kuba daripada pilot CIA: lebih sedikit pertanyaan yang akan diajukan jika mereka ditembak jatuh,” tulis Dobbs. Anderson, pilot AU AS, merupakan bagian dari misi tersebut. Dia telah sukses dalam banyak misi mata-mata tersebut. Oleh karena itu, dia sempat protes ketika komandannya menyuruh istirahat sehari karena lukanya saat bertugas di Alaska. Nama Anderson tak ada dalam daftar empat penerbangan mata-mata pada Sabtu (27 Oktober) pagi itu. Namun, Anderson akhirnya berhasil melobi dan jadi satu-satunya pilot yang menjalankan misi penerbangan mata-mata pada hari itu. “Satu per satu dari tiga misi pertama dibatalkan pada Sabtu dini hari. Angkatan Laut sedang melakukan pengintaian pada ketinggian rendah terhadap situs-situs rudal, jadi tidak masuk akal jika mengirim U-2 ke wilayah yang sama pada saat Soviet mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka. Seorang pilot, Kapten Charles Kern, sudah duduk di kokpit pesawatnya ketika ada perintah dari Washington untuk membatalkan penerbangan. Tinggal tersisa misi 3128 –misi Anderson,” sambung Dobbs. Maka setelah semua persiapan diselesaikan dengan baik dengan bantuan Kapten Roger Herman, Anderson langsung mengudarakan pesawatnya No. 56-6676 dari Pangkalan AU McCoy pada pukul 9.09 pagi. Melewati rute pantai timur Florida, Anderson dapat melihat pantai pasir putih Cayo Coco dan Cayo Gullermo, tempat mancing favorit Ernest Hemingway, tak lama kemudian. Namun, di sanalah pesawat Anderson ditangkap oleh radar Soviet. Seorang perwira Soviet yang mencatat masuknya pesawat asing itu langsung mengabarkan sistem pertahanan udara di lain tempat. Sistem pertahanan udara, yang diseluruh Kuba dikomando oleh Mayjen Statsenko, pun segera disiagakan. Sementara pemerintah Kuba mengumumkan keadaan bahaya dan memerintahkan Komite Pertahananan Lokal untuk memberi beberapa instruksi kepada pejabat lokal dan penduduk. Di ruang kontrol sistem pertahanan anti-serangan udara Soviet di dekat Banes, Kuba, Mayor Gerchenov memerintahkan tembak kepada pesawat Anderson menggunakan dua rudal. Tak lama kemudian, dua rudal pun melesat ke udara memburu pesawat Anderson. Di layar monitor, dua titik terus bergerak mendekati sebuah titik yang merupakan pesawat Anderson. Tak lama kemudian, di langit yang gelap, cahaya benderang muncul. “Beberapa pecahan peluru menembus kokpit, menembus setelan tekanan parsial pilot dan bagian belakang helmnya. Rudolf Anderson mungkin tewas seketika. Dia entah bagaimana selamat dari ledakan awal, dia pasti mati beberapa detik kemudian, karena kehilangan oksigen dan karena depresurisasi,” sambung Dobbs. “’Target Nomor 33 dihancurkan,’ lapornya pada pukul 10.19 pagi.” Reruntuhan pesawat Anderson mayoritas jatuh ke daratan sekira delapan mil dari situs SAM Banes. Sebuah sayapnya jatuh di Desa Veguitas, sementara ekor pesawat jatuh ke laut, dan bagian badan pesawat berikut tubuh Anderson di dalamnya jatuh di ladang tebu. Pada 31 Oktober, Sekjen PBB U Thant, yang baru menemui Castro, mengumumkan Anderson telah tewas. Pemerintah Kuba kemudian menyerahkan jenazahnya pada 4 November. Presiden Kennedy lalu menganugerahi Anderson, satu-satunya korban jiwa dalam Krisis Misil Kuba, dengan First Air Force Cross. Upaya perdamaian yang dibangun Presiden Kennedy dan PM Soviet Khrushchev lewat surat-menyurat pribadi sejak 1961 pun kembali membentur tembok dengan kematian Anderson. Padahal, pada Jumat malam 26 Oktober sebelum misi Anderson, Kennedy menyepakati tawaran Khrushchev untuk menarik rudal-rudal Amerika di Turki sebagai ganti penarikan rudal-rudal Soviet di Kuba. Atas kematian Anderson, Kennedy didesak Kepala Gabungan Kepala Staf untuk mengerahkan serangan balasan pada Senin, 2 November 1962. Namun, Kennedy tak segera mengiyakan. Setelah berpikir keras, dia akhirnya mengambil keputusan penting. “JFK membatalkan pembalasan Angkatan Udara atas jatuhnya U-2. Dia melanjutkan pencarian resolusi damai. Kepala Gabungan kecewa. Robert Kennedy dan Theodore Sorensen kemudian membuat draf surat untuk menerima proposal pertama Khrushchev, sambil mengabaikan permintaan selanjutnya agar AS menarik misilnya dari Turki,” tulis James W. Douglass dalam JFK and the Unspeakable: Why He Died and Why It Matters .
- Ujung Perseteruan Sukarno dengan Presiden Prancis
Presiden Sukarno pernah punya pengalaman tidak mengenakan dengan Charles de Gaulle. Beredar rumor bahwa Presiden Prancis itu benci kepada Bung Karno. Dengan alasan tertentu, de Gaulle cenderung bersikap sinis terhadap Sukarno. “Suatu kali saya mengetahui bahwa de Gaulle tidak senang kepada saya,” ujar Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan Presiden Prancis yang memerintah pada periode 1959--1969. Antipati de Gaulle, menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno bermula karena Sukarno dianggap merecoki kepentingan Prancis di wilayah jajahan. Seperti diketahui, Sukarno begitu aktif menyokong perjuangan koloni Prancis untuk merdeka dari penjahahan, macam Aljazair di Afrika atau Vietnam, Laos, dan Kamboja di Indocina. Selain itu, Gaulle mencap Sukarno sebagai pemimpin Asia yang doyan perempuan cantik. Istilah Prancisnya, “ Le Grand Seducteur ” atau sang perayu agung. Pemimpin Kamboja Norodom Sihanouk tahu apa yang terjadi antara Sukarno dan De Gaulle. Sebagai sahabat Sukarno, Sihanouk dapat mendukung gagasan Sukarno tentang kemerdekaan dan antiimperialisme. Sihanouk juga dapat memahami kegemaran Sukarno dalam bercinta. Namun bagi de Gaulle, kepribadian Sukarno yang lekat dengan syahwat adalah tercela. “Tidak semua pemimpin negara asing menyukai Sukarno seperti saya,” kata Sihanouk kepada Bernard Krisher dalam World Leaders I Have Known . “Di mata de Gaulle dan istrinya yang bermartabat baik,” lanjut Sihanouk, “Sukarno adalah seorang playboy yang jangak (cabul).” Sebaliknya, Sukarno pun menilai Prancis tiada beda dengan bangsa-bangsa imperialis Eropa lainnya. Dengan kata lain, Sukarno juga menggolongkan de Gaulle sebagai pemimpin negara yang ikut melakukan penjajahan. Eksploitasi kemanusian itu bahkan kerap kali diserukan Sukarno memakai adagium Prancis yang terkenal, “ exploitation de l’homme par l’homme ”. Sekalipun demikian, Sukarno sekali waktu memutuskan untuk bertemu dengan de Gaulle. Dalam otobiografinya, Sukarno menyebut perjumpaan pertama dengan de Gaulle terjadi di Wina, Austria. Sekira tahun 1961, Sukarno berkunjung ke Austria dalam suatu lawatan sekaligus berobat. Di saat yang sama ada de Gaulle di sana. Sebagai orang yang lebih muda, Sukarno yang mendatangi de Gaulle lebih dahulu. Pertemuan itu menjadi berkesan sebab de Gaulle tidak menyangka kalau Sukarno fasih berbahasa Prancis. Mereka pun saling berbincang dalam bahasa Prancis tanpa penerjemah. Lagi-lagi de Gaulle takjub dengan lawan bicaranya. Sukarno yang di masa mudanya melahap pemikiran pemikir-pemikir Prancis abad pencerahan ternyata paham betul sejarah revolusi Prancis yang disebut “ La grande revolution ”. De Gaulle yang tadinya benci Sukarno berangsur-angsur mulai simpati. Menurut Sigit, de Gaulle memang beralasan untuk mengaggumi Sukarno. Dalam bukunya, Sigit mengutip cerita menarik saat berlangsungnya percakapan antara de Gaulle dan Sukarno. Cara Sukarno menghadapi de Gaulle membuktikan kejeniusannya dalam berdiplomasi. “Presiden Sukarno, mengapa Anda selalu tidak bisa berteman dengan Prancis,” tanya de Gaulle. Pertanyaan itu merujuk kepada sikap Indonesia yang gigih membantu perjuangan kemerdekaan Aljazair. Tapi, pertanyaan itu dibalas dengan cerdik oleh Sukarno. Katanya, “Tuan Charles de Gaulle, kami melakukan ini sesuai dengan ajaran revolusi Prancis, yaitu Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan).” “Mendengar jawaban tersebut, Charles de Gaulle hanya manggut-manggut tanda mengiyakan,” tulis Sigit. Perjumpaan itu merupakan awal yang baik bagi hubungan Sukarno dan de Gaulle selanjutnya. Sebab, Sukarno menjalin beberapa pertemuan lagi dengan de Gaulle dikemudian hari. Pada bulan Juni 1963, Sukarno melakukan kunjungan ke Paris dan bertemu de Gaulle. Sukarno mengunjungi Paris lagi pada 20 Oktober 1964. Kunjungan terakhir Sukarno ke Prancis berlangsung pada Juli 1965. Pada 1 Juli 1965, pesawat Sukarno mendarat di bandar udara Paris setelah lawatan di Kairo, Mesir mempersiapkan KTT Asia-Afrika II. Presiden de Gaulle kembali menyambut Sukarno di Istana Elysee. Dari yang tadinya benci, “setelah itu sikapnya (de Gaulle) berubah,” kenang Sukarno dalam otobiografinya. De Gaulle sendiri dalam pemerintahannya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang berpandangan moderat. Dia melakukan sejumlah terobosan penting bagi negara dunia ketiga. Pada 1962, misalnya Prancis memberikan hak referendum bagi Aljazair yang kemudian memilih untuk merdeka. De Gaulle juga bersedia “mengusir” markas NATO dari Paris ke Brussel di Belgia dan itu tentu saja mengejutkan blok Barat. Pada saat negara Eropa lainnya ogah memandang Tiongkok, De Gaulle malah membuka hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Sukarno mengapresiasi kebijakan de Gaulle itu sebagai langkah yang luar biasa. Dia menyebut de Gaulle berani tampil beda di luar kebiasaan. Saling menghormati diantara keduanya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang lebih bersahabat bagi Indonesia ketimbang negara Barat lainnya.
- Enam Muslim Pionir di Sepakbola Prancis
PERSEPAKBOLAAN Prancis turut terguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Emmanuel Macron pada 2 Oktober 2020. Ia menyatakan akan menetapkan undang-undang (UU) tentang sekularisme lantaran menganggap Islam kini sudah menjadi agama yang berada di ambang krisis. Pernyataan itu diperparah dengan pidatonya pada 21 Oktober 2020 setelah munculnya kasus pemenggalan Samuel Paty, guru sejarah di Paris, oleh seorang imigran muslim Chechen. Paty dibunuh setelah memamerkan karikatur Nabi Muhammad SAW di hadapan murid-muridnya. “Kita tidak akan menghentikan kartun-kartun, gambar-gambar, bahkan jika yang lain menghentikannya. Sang guru (Paty) dibunuh karena ia mewakili republik. Kami akan melindungi kebebasan yang Anda ajarkan dan kami akan membawakan sekularisme,” cetusnya di Universitas Sorbonne, dinukil Euronews , 21 Oktober 2020. Pidato Macron pun menuai kecaman, termasuk dari pemerintah Indonesia. Karikatur Nabi Muhammad dianggap penodaan dan penghinaan terhadap tokoh paling dihormati dunia Islam. Presiden Prancis Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron (kiri) saat berpose dengan trofi Piala Dunia 2018 yang tujuh di antara skuad Prancisnya terdapat para pemain muslim. ( fifa.com ). Kecaman juga datang dari dunia sepakbola Prancis. Paul Pogba menyesalkan penghinaan terhadap agamanya itu yang sejatinya merupakan agama yang mengajarkan perdamaian. “Saya marah, syok, dan frustrasi oleh media yang memanfaatkan saya untuk membuat headline palsu terkait isu yang kini sedang terjadi di Prancis dan membubuhkan tentang agama saya dan timnas Prancis. Saya menentang semua bentuk teror dan kekerasan. Agama saya adalah agama perdamaian dan penuh kasih,” ungkap Pogba di akun Instagram -nya @paulpogba , Selasa (27/10/2020). Pogba jadi bagian dari tujuh pemain muslim yang menghuni Les Bleus (julukan timnas Prancis) kala memenangkan Piala Dunia 2018. Selain Pogba, pemain imigran muslim Prancis kala itu adalah Benjamin Mendy, N’Golo Kanté, Adil Rami, Djibril Sidibé, Nabil Fekir, dan Ousmane Dembélé. Prestasi mereka mengulang prestasi dua dekade sebelumnya. Di Piala Dunia 1998, Zinedine Zidane, yang juga muslim peranakan, berjasa besar menghadirkan trofi Piala Dunia ke Prancis untuk pertama kalinya. Para bintang tersebut menjadi penyambung untaian historis sepakbola Prancis yang sejak 1930-an sudah diramaikan pemain, pelatih, hingga wasit peranakan muslim. Berikut enam pionirnya: Ali Benouna Ali Benouna (jongkok paling kanan) pemain muslim pertama di Timnas Prancis. ( sfrc.fr ). Lahir di Alger, Aljazair pada 23 Juli 1907, Benouna tercatat jadi pemain muslim dan peranakan Afrika Utara pertama yang bermain di Liga Prancis. Dia bahkan jadi yang pertama menghuni tim nasional (timnas) Prancis, pada 1936. Benouna memulai kariernya di Prancis sejak Juli 1930 bersama klub FC Sète. Kala itu klub-klub Prancis memulai tren merekrut pemain dari Aljazair dan Maroko. “Sejak 1929 FC Sète dan Olympique Marseille jadi klub spesialis merekrut para pemain dari Arika. Selama musim 1933-1934, winger brilian Ali Benouna berjasa membawa FC Sète memenangi dua gelar (Coupe de France dan liga) dan menjadi pemain Afrika Utara pertama yang terpilih masuk timnas Prancis,” tulis Claude Boli dalam “African Sports Personalities and the African Diaspora in Europe” yang dimuat dalam buku Sport in the African World . Benouna tercatat hanya dua kali membela panji triwarna Prancis di bawah asuhan pelatih asal Inggris, Gabriel Sibley ‘Kid’ Kimpton. Data FFF (induk sepakbola Prancis) menyingkap, debut Benouna terjadi pada 9 Februari 1936 di stadion Parc des Princes, Paris. Dalam laga persahabatan kontra Cekoslovakia itu, Prancis menelan kekalahan 0-3. Laga kedua cum terakhir Benouna dilakoni dalam laga persahabatan kontra Belgia di Stade Olympique de Colombes, 8 Maret 1936. Prancis menang 3-0. Selebihnya, Benouna bertualang di level klub. Selain bersama FC Sete, ia memperkuat US Boulougne pada 1936-1937, Stade Rennais setahun berikutnya dan mengakhiri karier pada 1939 di RC Roubaix. Larbi Benbarek Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek yang berjuluk "Mutiara Hitam" di skuad Prancis. ( lcfc.com ). Meski dipuja legenda sepakbola Pelé, Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek alias Larbi Benbarek, pesepakbola pertama yang berjuluk “Mutiara Hitam”, dilupakan oleh publik. Padahal, Benbarek bintang sepakbola Prancis pertama yang diakui dunia, pada 1930-an, meski bukan muslim pertama yang bermain di Liga Prancis atau timnas Prancis. “Pelé mengatakan (pada 1975): ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia (Benbarek) adalah dewanya sepakbola.’ Tetapi pada 1990-an Benbarek begitu terisolasi dan terlupakan, bahkan di tanah kelahirannya (Maroko, red .), di mana jasadnya hampir sepekan tak ditemukan setelah kematiannya,” tulis Matt Rendell dalam Olympic Gangster. Pemain kelahiran Casablanca, 16 Juni 1914 itu memulai petualangannya di Eropa bersama Marseille pada 1938. Meski kedatangannya terlambat lantaran beberapa bulan sebelumnya Piala Dunia 1938 sudah digelar di Prancis, performanya di musim perdananya (1938-1939) begitu dahsyat. Sepuluh gol torehannya membuat publik Prancis berdecak kagum. Pelatih Gaston Barreau pun manggilnya ke timnas. Kala Perang Dunia II berkobar, Benbarek pulang kampung ke Maroko dan baru kembali ke Prancis pada 1945 bersama Stade Français. Namanya makin bersinar kala direkrut Atlético Madrid pada 1948. Hingga enam tahun berikutnya ia membukukan 113 gol serta berperan menyumbang dua gelar Liga Spanyol di musim 1949-1950 dan 1950-1951. Sempat kembali ke Marseille pada 1953, Benbarek menghabiskan kariernya di kampung halamannya bersama Fath Union Sport de Rabat pada 1957. Sementara, kariernya di timnas Prancis membentang dari 1938-1954 dengan koleksi 17 gol. Pada 1998 atau enam tahun pasca-kematiannya (16 September 1992), ia dianugerahi FIFA Order of Merit. Amadou Jean Tigana Nama Amadou Jean Tigana melejit bersama Girondins Bordeaux. ( girondins.com ). Pada 1950-an, rasisme masih jadi isu paling mengusik kaum imigran di Prancis. Termasuk yang dialami Jean Tigana, bintang Prancis era 1980-an, di masa kecilnya. Lahir di Bamako (Mali), 23 Juni 1955, Tigana sempat menyembunyikan identitasnya sebagai muslim setelah bermigrasi ke Prancis pada usia empat tahun. “Sebelumnya, para pesepakbola menyembunyikan fakta bahwa mereka seorang muslim. Contohnya Jean Tigana, yang mengganti namanya dari Touré Amadou Tidiane. Di masa kini kebalikannya, para pesepakbola menjadi mualaf setelah mendapatkan hidayahnya,” tutur Charaffedine Mouslim, Presiden Étudiants Musulmans de France (EMF/Perhimpunan Pelajar Muslim Prancis), disitat SoFoot , 13 Desember 2009. Tigana mengakui, sejak kecil acap jadi korban perundungan berbau rasisme di sekolahnya. “Saya sering diserang dan dihina. Saya dicaci dengan kata-kata negro kotor atau Arab busuk, tanpa memedulikan bahwa di dalam hati saya merasakan sakit hati. Saya tak bisa melawan dengan tangan kecil saya,” kenang Tigana, dikutip Lindsay Sarah Krasnoff dalam The Making of Les Bleus: Sport in France, 1958-2010 . Sepakbola jadi satu-satunya tempat Tigana menyalurkan emosinya. Ia bersinar sebagai gelandang sentral bersama Olympique Lyonnais sejak 1978 dan dua tahun kemudian dipanggil ke timnas Prancis. Untuk pertama dan terakhir kali, Tigana menyandang ban kapten timnas pada 16 Juni 1987 kala Prancis meladeni Norwegia dalam kualifikasi Euro 1988 di Stadion Ullevaal, Oslo. Tigana tercatat sebagai pemain muslim imigran pertama yang menyandang ban kapten timnas Prancis. Zinedine Zidane Zinedine Yazid Zidane yang keturunan Aljazair menyandang ban kapten Timnas Prancis periode 2005-2006. ( fifa.com ). Jika di era klasik Benbarek jadi pujaan, di era modern Zidane-lah yang paling disanjung. Lahir di Marseille pada 23 Juni 1972, Zidane sudah berseragam timnas Prancis sejak 1988 di kategori U-17 setelah mendaki karier bersama Cannes. “Saya memang punya keterkaitan dengan dunia Arab. Ada di dalam darah saya melalui orangtua saya. Saya sangat bangga sebagai orang Prancis tapi saya juga bangga akan keturunan ini dan keragaman yang ada di dalamnya” kata Zidane saat diwawancara Esquire , 8 Agustus 2016. Sejak melejit bersama Bordeaux pada 1992 dan Juventus empat tahun kemudian, Zidane tak pernah luput dari pemanggilan timnas. Prestasi demi prestasi dia gapai baik untuk perorangan maupun kolektif. Puncaknya, dua golnya di final Piala Dunia 1998 mengantarkan Prancis meraih Piala Dunia pertamanya. Zidane satu-satunya pemain muslim di skuad besutan Aime Jacquet itu. Tapi nahas, ia mengakhiri masa baktinya di timnas Prancis, di final Piala Dunia 2006, dengan “coreng”. Peristiwa pahit itu terjadi akibat provokasi berbau rasisme. Emosi Zidane meledak setelah keluarganya diejek sebagai keluarga teroris oleh bek Italia Marco Materazzi. Zidane langsung menanduk Materazzi dan akibatnya dikartu merah oleh wasit. Meski Pancis akhirnya kalah dalam adu penalti di laga itu, publik Prancis tetap berada di belakang Zidane. “Saya tahu Anda sedih dan kecewa tapi saya juga Ingin mengatakan bahwa seluruh negeri sangat bangga. Anda telah memberi kehormatan pada negara dengan kualitas luar biasa dan semangat petarung yang fantastis, di mana itu selalu menjadi kekuatan Anda di masa-masa sulit dan masa-masa kemenangan,” ujar Presiden Prancis Jacques Chirac dikutip The Guardian , 10 Juli 2016. Vahid Halilhodžić Lahir di Bosnia, Vahid Halilhodžić mendapat kewarganegaraan Prancis pada 2004. ( fifa.com ). Meski paspornya belum lama berganti dari Bosnia ke Prancis setelah dinaturalisasi, Vahid Halilhodžić dihormati publik dan bahkan pemerintah Prancis sebagai salah satu pionir pelatih muslim dalam sepakbola Prancis. Pada 2004, ia menerima anugerah Legion d’honneur atau medali kehormatan dari pemerintah Prancis kelas Chevalier (ksatria) untuk pengabadiannya dalam sepakbola selama 34 tahun. “Kehormatan dari hati saya yang paling dalam. Tak pernah dalam hidup saya mengalami perasaan semacam ini. Saya merasa sangat senang, melebihi capaian meraih sebuah trofi. Tapi apakah saya laik mendapatkannya? Terlepas dari itu saya ingin berterimakasih kepada (publik) Prancis dan Presiden Prancis (Jacques Chirac). Ini sangat berarti buat saya yang datang dari Bosnia dan belum lama dinaturalisasi,” ungkapnya kepada Le Parisien , 15 Juli 2004. Mantan kapten timnas Yugoslavia era 1980-an itu mulai berkarier sebagai pelatih di Prancis pada 1993 dengan menangani klub kasta keempat Liga Prancis, AS Beauvais. Pria kelahiran Bosnia (Jablanica) itu mengukir reputasinya di liga teratas kala mulai menukangi OSC Lille pada 1998. Setelah menangani Stade Rennais pada 2002, dia menukangi Paris Saint-Germain (2003-2005) dan mempersembahkan trofi Coupe de France di musim perdananya. Saïd Ennjimi Saïd Ennjimi wasit muslim asal Prancis pertama berlisensi FIFA. (Twitter @SaidEnnjimi75). Kendati Prancis punya sekitar 45 wasit berlisensi FIFA baik yang masih aktif maupun yang sudah gantung peluit, Saïd Ennjimi masih jadi satu-satunya wasit peranakan muslim. Dia lahir di Casablanca, Maroko, 13 Juni 1973. Sosok yang juga berprofesi sebagai akuntan itu sudah berkecimpung sebagai wasit profesional sejak 1998 setelah bermigrasi dari Maroko pada 1975. Pada usia 17 tahun dia sempat mengadu peruntungan dengan jadi pemain di klub AS Coubertin. Namun ia ditolak dan malah disarankan menukar masa depannya dari pemain jadi wasit. Ennjimi yang tak takut mencoba, perlahan mendapatkan lisensi nasionalnya pada 1991. Delapan tahun kemudian, dia dipercaya memimpin kompetisi profesional di liga kasta keempat, Championnat National 2. Namun sebagai imigran muslim, ia pernah ditempa perlakuan rasis kala memimpin laga. “Prancis selalu menjadi negara rasis. Akan tetapi saya merasa keadaannya selalu berbalik dengan sendirinya. Terdapat enam juta muslim di Prancis dan walaupun terdapat beberapa pengecualian, mereka mencintai negaranya (Prancis). Saya berpikir bahwa sepakbola selalu membuat orang-orang rukun dan mempromosikan integrasi. Saya salah satu contohnya,” tutur Ennjimi, dikutip Jeune Afrique , 12 November 2016. Karier Ennjimi melejit pada 2004 kala mulai memimpin laga-laga di Ligue 1, kasta teratas Liga Prancis. Puncak karier sosok yang dikenal tegas di lapangan itu ialah mendapat lisensi UEFA dan FIFA pada 2008. Dari situ ia mulai jadi pengadil di laga-laga Liga Champions, Euro, dan Piala Dunia hingga kini.
- Subronto K. Atmodjo, Komponis Sukarnois
SELAIN Sudharnoto, Bintang Suradi, dan Titik Kamariah, di Ansambel Gembira ada nama Subronto Kusumo Atmodjo yang tak bisa dilewatkan. Subronto sering kali membuat lagu untuk Ansambel Gembira dan sempat memimpin ansambel ini hingga kejatuhannya pada 1965. Astuti Martoyo, mantan anggota Ansambel Gembira, menyebut bahwa Subronto adalah sosok yang cerdas. Selain sebagai pelatih, ia juga komponis sekaligus konduktor. Lagu-lagu ciptaannya sering kali menjadi lagu andalan Ansambel Gembira. Astuti mengenal Subronto jauh sebelum ia bergabung dengan Ansabel Gembira. Astuti mengenang, lagu “Suburlah Tanah Airku” ciptaan Subronto adalah lagu yang hampir pasti bisa dinyanyikan anak sekolah pada waktu itu. “Beliau itu sangat pandai karena ia membuat lagu yang massal. Lagu massal yang gampang dinyanyikan,” kata Astuti Martoyo kepada Historia.ID. Subronto lahir dari keluarga petani di Kabupaten Pati pada 1929. Ayahnya menginginkan Subronto menjadi petani, namun musik tampaknya menjadi panggilan jiwanya. Ketika melanjutkan pendidikan di SMA Taman Siswa Yogyakarta, Subronto justru gandrung dengan gamelan. Semua instrumen gamelan pun dikuasainya. Ketika menjadi Ketua Ikatan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Semarang, untuk pertama kalinya ia menonton pertunjukan Sudharnoto yang sudah sohor namanya. Ketika pindah ke Jakarta, kepada Sudharnotolah ia banyak belajar tentang musik. Subronto bergabung dengan Ansambel Gembira pada 1952. “Waktu itu ia belum kerja, masih luntang-lantung. Malah, katanya, pernah mengombrengkan baju dengan bersama Mas Dharnoto,” sebut Koesalah Soebagyo Toer dalam Ke Langit Biru, Kenangan tentang Gembira. Di Ansambel Gembira, Subronto menjadi salah satu anggota yang menonjol baik sebagai penyanyi maupun dalam urusan organisasi. Dia juga yang mengusulkan agar Ansambel Gembira tidak hanya mementaskan lagu-lagu perjuangan melainkan juga lagu rakyat atau lagu daerah. Koesalah yang juga sempat bergabung dengan Ansambel Gembira menyebutnya sebagai orang paling berjasa di Ansambel Gembira selain tiga pendirinya. “Itu tidak hanya karena kedudukannya sebagai Penanggungjawab Kesenian, melainkan juga karena ketokohannya sebagai pendidik, pembimbing, dan panutan pemuda,” kenang Koesalah. Selain tenar sebagai pemimpin Ansambel Gembira, Subronto juga dikenal karena sering membuat lagu yang terinspirasi dari pidato-pidato Sukarno. “Setiap statemen politik Bung Karno yang disampaikan kepada masyarakat dibikinkan (Subronto) lagu,” kata Titik Kamariah seperti dikutip Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam tulisannya “Bersama Lekra dan ansambel: melacak panggung musik Indonesia: 1950-1965”, termuat dalam Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia, 1950-1965. Pidato-pidato Sukarno menjadi inspirasi Subronto. Dua lagu di antaranya ialah “Nasakom Bersatu” dan “Resopim”, yang sering dibawakan Ansambel Gembira dari panggung ke panggung. Subronto memang tidak pernah menempuh pendidikan musik, namun ia belajar kepada banyak orang. Selain kepada Sudharnoto, ia juga sering mendatangi Amir Pasaribu dan Sudjasmin. Nasib membawanya kuliah di jurusan Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel Kesenian di Sekolah Tinggi Musik Hanns Eisler, Berlin. Subronto lulus pada Agustus 1965. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut Subronto adalah orang yang menemukan bahwa pelog, tangga nada diatonik dalam musik Jawa, ternyata berasal dari Gereja Phrygia di Asia Minor. Pelog masuk melalui Surabaya dan tersebar ke seluruh Jawa dengan beragam modifikasi. Sementara pelog yang masih mendekati aslinya disebut masih bertahan di Madura. Di luar Ansambel Gembira, Subronto bekerja sebagai karyawan di Departemen Pendidikan, Pengamatan, dan Kebudayaan (PPDK). Selain itu, ia juga aktif menulis di media massa dan menjabat sebagai redaktur majalah Pemuda. Beasiswa di Berlin juga didapatnya dari penugasan Departemen PPDK. Subronto sempat bekerja di Kedutaan Cekoslovakia. Pada 1953, ia mengikuti Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia di Bukares, Rumania. Kemudian pada 1957, ia menjadi Ketua Seksi Kesenian delegasi Pemuda/Mahasiswa pada Festival Pemuda dan Mahasiswa Demokratik se-Dunia di Moskow. Kiprah Subronto di Ansambel Gembira berakhir ketika pada 1968 ia ditangkap karena menjadi pimpinan Ansambel Gembira sekaligus komponis ternama Lekra. Ia berpindah dari penjara ke penjara sebelum dibuang ke Pulau Buru. Namun, pembuangan tak mematikan jiwa musiknya. Menurut Hersri Setiawan dalam Memoar Pulau Buru, Subronto memimpin grup musik Bandko, singkatan dari Band Markas Komando. Setelah bebas dari Pulau Buru pada 1977, Subronto diajak oleh Alfred Simanjuntak untuk bergabung dengan Yayasan Musik Gereja. Sejak itu, ia mulai sering menciptakan lagu-lagu rohani Kristen. Namun, lagunya yang terkenal “Kantata Bintang Bethlehem” sebenarnya telah diciptakan di Pulau Buru. Subronto meninggal dunia di Bekasi pada 12 November 1982.*
- Gatotkaca Terbang, Mendarat di Museum
HARI Penerbangan Nasional tahun ini, Selasa (27/10/2020), patut dijadikan cermin untuk merenungkan sudah sejauh mana Indonesia melangkah dalam dunia kedirgantaraan. Persaingan ketat di bidang kedirgantaraan internasional yang telah diikuti negara seperti RRC, India, bahkan Brazil, boleh dibilang belum “mengikutsertakan” Indonesia secara penuh di dalamnya. Kondisi tersebut seakan mundur dari masa ketika Indonesia masih bayi. Menurut Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta Kolonel Sus. Dede Nasrudin dalam webinar “Gatotkaca Mengguncang Dunia”, Selasa (27/10/2020), republik yang walaupun masih bayi sudah berusaha menelurkan pembuktian kompetensinya dalam hal dirgantara berkat penerbangan yang dilakukan Komodor Udara Agustinus Adisutjipto pada 27 Oktober 1945. Saat itu yang digunakan adalah pesawat bekas Jepang, Yokosuka K5Y alias “Cureng”. “Hari ini ditetapkan sebagai Hari Penerbangan Nasional sejak 27 Oktober 1945 Pak Adisutjipto menggunakan pesawat Cureng dengan identitas roundel merah putih pertamakali terbang di atas Maguwo (kini Lanud Adisutjipto) dan kota Yogyakarta. Ini bukti kepada dunia internasional bahwa kita sudah bisa menerbangkan pesawat dengan pilot asli orang Indonesia berlogo merah putih,” ujarnya. Sejak saat itu, hasrat untuk “menaklukkan” angkasa terus disemai para anak bangsa di bawah komando KSAU Komodor Suryadarma. Para bawahannya yang juga berhasrat tinggi di bidang dirgantara lalu maju dengan konsep dan usaha masing-masing. “Sejak TNI AU didirikan 9 April 1946 dengan nama TRI (Tentara Republik Indonesia) Udara, dibentuk juga salah satunya Biro Rencana dan Konstruksi yang berada di Maospati (Lanud Iswahyudi). Inilah cikal bakal industri penerbangan yang dipelopori Wiweko dan Nurtanio,” lanjut Dede. Baca juga: Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali Dari sanalah embrio industri dirgantara Indonesia lahir. Lewat Opsir Udara III Wiweko Soepono dan Opsir Muda Udara Nurtanio Pringgoadisuryo, swaproduksi pesawat Indonesia dirintis. Dimulai dari modifikasi pesawat-pesawat peninggalan Jepang di Perang Kemerdekaan, Indonesia melangkah ke produksi sendiri lewat pesawat-pesawat NWG-1 ( glider ) pada 1946, Gelatik atau Capung di era Sukarno (1965) hingga N-250 “Gatotkaca” di era selanjutnya. Pesawat-pesawat tersebut lahir di bawah naungan institusi yang silih berganti datang dan pergi. Dari Biro Perencanaan dan Konstruksi (1946), Depot Penyelidikan Percobaan dan Pembuatan AURI (1950), Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat atau Kopelapip (1964), Lembaga Persiapan Industri Penerbangan Nurtanio atau Lapipnur (1971), PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (1976), PT Industri Pesawat Terbang Nusantara alias IPTN (1985) hingga PT DI (2000). Glider/Pesawat Luncur GX-001 "Kampret" salah satu alutsista buatan anak bangsa pada 1951 (Randy Wirayudha/Historia) Berawal dari Akhir dan Berakhir dari Awal Kelahiran pesawat N250 “Gatotkaca” tak lepas dari kisah pemanggilan Bacharuddin Jusuf Habibie oleh Presiden Soeharto agar pulang dari Jerman ke tanah air. Dalam pertemuan keduanya di Jalan Cendana pada 28 Januari 1974, Soeharto mengutarakan keinginannya membangan industri dirgantara. Menurut A. Makmur Makka dalam Inspirasi Habibie, dalam pertemuan itu Soeharto mengungkapkan istilah “tinggal landas” dalam hal pengembangan teknologi untuk pembangunan ekonomi. BJ Habibie (kiri) & Presiden Soeharto ( The Technological State in Indonesia ) Habibie menginterpretasikan istilah itu sebagai perintah membangun pesawat yang bisa digunakan dalam strategi pembangunan. Habibie pun menjelaskan panjang lebar tentang industri penerbangan dan tentunya tugas-tugas Habibie sebelum memimpin IPTN. “Jadi kapan saya bisa melihat pesawat yang kamu ceritakan tadi?” tanya Soeharto, dikutip Makmur. Habibie, lanjut Makka, pun menjanjikan tempo satu dekade dari pertemuan mereka malam itu. Baca juga: Habibie Kecil dan Soeharto Muda Djoko Sartono Sastrodihardjo, kepala program N250 IPTN, masih ingat betul ketika Habibie mulai memimpin IPTN sejak 1976. Prinsipnya, sebelum bisa memproduksi pesawat sendiri, akan sangat bijak untuk belajar dari negara yang sudah maju. “Pada waktu Pak Habibie diperintahkan untuk membangun kemampuan dirgantara, moto beliau adalah: ‘Kita berawal dari akhir dan berakhir pada awal.’ Artinya kita mengenal dulu teknologi kedirgantaraan, baik itu dari segi memproduksi, kemudian utamanya mengembangkan sendiri kemampuan teknologi dirgantara,” kata Djoko dalam webinar. “Berawal dari akhir artinya, waktu itu IPTN mengirimkan tim ke Spanyol untuk mempelajari instalasi dan produksi (pesawat) NC-212 yang kemudian kerjasamanya (dengan Construcciones Aeronáuticas SA/CASA) dibikin dengan lisensi di IPTN. Dari situ kita belajar lebih dalam, terkait pengembangan produksinya,” sambung pria yang turut dalam tim yang dikirim ke markas CASA di Madrid itu. Pesawat NC-212 (atas) & Pesawat CN-235 produksi bersama IPTN dan CASA ( indonesian-aerospace.com ) Baca juga: Nurtanio, Patriot Udara Indonesia Lantas berikutnya adalah pengembangan kemampuan integrasi pesawat terkait desain maupun manufacturing . IPTN kemudian melakoni joint-development CN-235, pesawat angkut komersial medium. CASA dan IPTN masing-masing mengerjakan 50 persen. “Pada 1980 kita memulai conceptual design -nya dan hampir setahun mengembangkan bersama, akhir 1980 kita pulang untuk mengerjakan paket kita sendiri. Desain yang kita dapatkan utamanya adalah soal center wing . Juga dengan pengembangan konfigurasinya,” tambah Djoko. Pesawat CN-235 yang dinamai “Tetuko” pun kemudian sukses diuji terbang perdananya pada 11 November 1983. Tepat 10 tahun dari percakapan awal dengan Presiden Soeharto, Habibie kembali menghadap ke Cendana. “Di ruangan yang sama di Jalan Cendana, Habibie melapor: ‘Pak CN-235 Tetuko sudah terbang. Begitu pula dengan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong’,” tulis Makmur. Gatotkaca Pesawat Anak Bangsa Dari semua yang dipelajari Djoko dkk., mulai dari konsep desain hingga sisi pemasaran, pada 1989 Habibie akhirnya memutuskan untuk membangun pesawat yang 100 persen karya anak bangsa. Untuk bisa mengguncang dunia, dilahirkanlah proyek N250 yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire . N250 jadi satu-satunya pesawat komuter yang mengaplikasikan teknologi yang di masa itu baru diaplikasikan dalam pesawat jet berbadan besar Airbus A340 dan Boeing 767. “Kita langsung mengaplikasikan sistem fly-by-wire untuk tiga axis (poros). Boeing maupun Airbus sempat menyarankan kita mengumpulkan pengalaman dulu di satu axis . Tapi Pak Habibie menetapkan kita langsung tiga axis . Waktu itu (kompetitornya) ada Saab 340 dan ATR 42 yang masih mengembangkan satu axis tapi kita satu-satunya yang langsung tiga axis ,” kata Djoko. Baca juga: Empat Burung Besi yang Dikandangkan Teknologi fly-by-wire diklaim membuat N250 lebih aman. Selain itu, tambahnya, “Lebih efektif, lebih murah, lebih safety , dan lebih bisa diandalkan karena biasanya kita tidak hanya tergantung pada satu komputer. Kalau perlu tiga komputer ditambah back up -nya. Dari segi bobot juga jadi lebih ringan.” Guna mendukung konsep tersebut, IPTN membangun beragam instalasi pengujiannya. Desain dan konstruksinya diaudit oleh utusan-utusan dari pabrikan Boeing, Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), maupun Federal Aviation Administrasion (FAA/Lembaga Penerbangan Amerika). Dari PT DI di Bandung, Gatotkaca kini mendarat di museum di Yogyakarta (Instagram @museumdirgantara) Untuk manajemen pemasarannya, IPTN bekerjasama dengan Amerika dengan membentuk joint-corporation American Regional Aircraft Industry (AMRAI) dan European Regional Aircraft Industry (ERAI). Purwarupa PA1 yang kemudian dinamai N250 “Gatotkaca”. Untuk menerbangkan pesawat berbobot kosong 13 ton itu digunakan mesin turboprop Allison AE2100 C. Mesin tersebut bisa memacu Gatotkaca dengan kecepatan maksimal 610 km/jam serta melejit ke ketinggian maksimal 25 ribu kaki (7.620 meter). N-250 kemudian melahirkan empat varian: PA1 , PA2, PA3, dan PA4. PA1 alias “Gatotkaca” punya kapasitas 50 penumpang, sementara PA2 yang dinamai “Krincing Wesi” bisa membawa penumpang 68 orang. Saat proyeknya di hentikan, PA3 baru 70 persen rampung dan PA4 masih dalam bentuk cetak biru. Menyelamatkan Gatotkaca N-250 PA1 “Gatotkaca” dengan nomor registrasi PK-XNG akhirnya melakoni debut terbangnya pada 10 Agustus 1995. Take off dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung pada pukul 10.15 pagi, maiden flight Gatotkaca tidak hanya disaksikan Presiden Soeharto namun juga jutaan pasang mata rakyat lantaran disiarkan via televisi. “Banyak yang terharu dan meneteskan air mata, tak terkecuali Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, serta Wapres Try Sutrisno. Beberapakali terlihat Presiden mengusap wajahnya dengan sapu tangan putih. Bahkan Ibu Tien spontan memeluk dan menjabat tangan memberi selamat kepada Habibie, seraya menahan haru yang bercampur bangga,” tulis Makmur di buku lainnya, The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan. Kebanggaan akan N250 “Gatotkaca” kian memenuhi dada kala pesawat itu sukses ferry flight melintasi Asia-Afrika-Eropa. Ferryflight itu dilakukan untuk menghadiri Paris AirShow 1997. Baca juga: Pesawat Pemburu dari Masa Lalu Namun, semua berubah kala krisis moneter menerpa Indonesia pada 1998. Pemerintahan Soeharto memilih manut pada International Monetary Fund (IMF) demi mendapatkan bantuan untuk menghadapi krisis. Soeharto menerima persyaratan IMF agar subsidi pemerintah untuk IPTN disetop. Habibie, Djoko, dan semua rekannya di IPTN pun terpukul. “Jadi hal itu sangat memukul kita juga. Terus terang, sebagian besar SDM kita yang sudah terlatih dengan program itu, akhirnya pergi ke (pabrikan) Embraer di Brasil, ke Boeing, ke Airbus di Hamburg. Kita waktu itu (1998) sudah punya hampir 900 jam terbang. Untuk mendapatkan sertifikasi kita butuh 700 jam terbang lagi. Diharapkan waktu itu sebetulnya tahun 1999 kita sudah bisa mendapat sertifikasinya,” kata Djoko menyesali. Setelah telantar di PT DI, N250 "Gatotkaca" dirawat untuk dijadikan wahana edukasi di Muspusdirla Yogyakarta (Instagram @museumdirgantara) Gatotkaca pun telantar bak rongsokan. Tak diurus PT DI hingga 25 tahun kemudian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memutuskan “menyelamatkan” Gatotkaca dengan memindahkannya dari Bandung ke Jogja. Pada 26 Agustus 2020, pesawat canggih nan nahas itu dipugar dan disarangkan ke Muspusdirla. “Agar jangan salah persepsi. Kok katanya tragis ditempatkan di museum. Padahal justru di museum ini bisa dilihat oleh semua kalangan. Karena kita (TNI AU) juga punya kaitannya sejak 1946 yang saya ceritakan tadi. Sekarang ini kita rawat agar generasi muda bisa melihat bahwa kita sudah melangkah lebih jauh dalam perkembangan kedirgantaraan,” ujar Dede. “Kalau di sana (PT DI) mungkin telantar. Kondisi body -nya sudah enggak putih lagi, sudah hitam. Beberapa bagian juga karatan dan jamuran. Sebelum dikirim ke sini, dicat kembali agar kemudian jadi wahana edukasi buat masyarakat. Terlebih sebenarnya kecanggihan N250 ini sampai berapa tahun ke depan enggak akan ketinggalan teknologinya,” imbuhnya. Keputusan Marsekal Hadi didukung Djoko sebagai salah satu “bidan” yang melahirkan Gatotkaca. Baginya, amat sakit mengenang kenyataan proyek pesawat itu dipaksa terhenti. “Saya sendiri kalau lewat dekat PT DI, karena saya tinggal di Cimahi, kok merana karena posisinya di luar. Kena panas dan kena hujan. Tapi ya itu faktanya. Jadi dengan dimuseumkan mungkin lebih terawat dan harus bisa dilihat generasi penerus bahwa 25 tahun lalu kita pernah bikin pesawat yang mengguncang dunia,” tandasnya. Baca juga: Akhir Tragis Alutsista Legendaris
- Pelatihan Perwira Angkatan Darat di Jerman
WARTAWAN berita T-Online , Jonas Mueller-Töwe bersama rekannya meneliti arsip-arsip rahasia Dinas Intelijen Jerman (Bundesnachrichtendisenst atau BND) untuk mengungkap peran BND dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Hasil penelitiannya diterbitkan di t-online pada 13 Juli 2020.
- Penggalan Akhir Kiprah PPPI
Hari ini, 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dilahirkan oleh Kongres Pemuda II yang dihelat di Jalan Kramat, Jakarta 92 tahun lalu. Selain meneguhkan sikap para pemuda akan cita-cita kemerdekaan, dalam kongres itu juga diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang kelak menjadi lagu kebangsaan. Kongres tersebut diprakarsai Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi yang didirikan mahasiswa-mahasiswa Recht Hooge School (RHS/Sekolah Tinggi Hukum), School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), dan Technische Hooge School (TH/Sekolah Tinggi Teknik) Bandung pada tahun 1926 itu menjadi wadah untuk menyatukan gerakan perjuangan kemerdekaan di kalangan pemuda-pelajar. “Di dalam perkumpulan mahasiswa ini masalah nasionalisme, kolonialisme dan perjuangan kebangsaan dengan perkembangannya yang terakhir dibicarakan secara serius dan tidak ada waktu dan kesempatan bagi para anggota perhimpunan ini untuk berfoya-foya atau mengadakan pesta-pesta,” kata Ide Anak Agung Gde Agung, salah satu anggota PPPI yang kelak menjadi menjadi menteri luar negeri (1955-1956), dalam Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali . Para anggota PPPI kemudian juga aktif di berbagai organisasi perjuangan. Salah satunya di Indonesia Muda, yang dibentuk sebagai perwujudan dari Sumpah Pemuda. “Bahkan boleh dikatakan seluruh pimpinan Indonesia Muda itu mahasiswa yang juga anggota PPPI,” kata Subadio Sastrosatomo dalam testimoninya di buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial , “Chairul Saleh, Nasionalis Sejati”. Dalam kiprahnya, PPPI aktif menentang kolonialisme Belanda. Selain menentang penangkapan para pemimpin PNI, PPPI mendukung Ki Hadjar Dewantara dalam menentang Wilde Scholen Ordonantie atau Undang-Undang Sekolah Liar. PPPI juga menentang upacara peresmian Monumen Van Heutz di Batavia. “Upacara pembukaan Monumen Van Heutsz, yang bagi pemerintah jajahan adalah suatu upacara khidmat untuk menghormati pahlawan kolonial yang besar berkat perjuangannya di Aceh, pada tahun 1932 dipandang sebagai tantangan pihak pemerintah kepada gerakan nasional Indonesia oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Peristiwa tersebut membangkitkan semangat untuk memperkuat barisan kulit berwarna guna mencapai kemerdekaan,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional, Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan . Sebelum dipaksa bubar oleh pemerintah militer pendudukan Jepang, PPPI dipimpin Chairul Saleh. Di bawah Chairul, PPPI lebih radikal. Ketegasan sikap PPPI itu dibuktikan ketika menentang Petisi Soetardjo. “Pada saat dalam Volksraad sedang rame-ramenya diperbincangkan masalah Petisi Soetardjo, maka PPPI menolak dengan keras, karena bertentangan dengan asas dan tujuannya. Petisi Soetardjo mengusulkan paling tinggi sampai DominionStatus , sedangkan PPPI dengan terang-terangan memperjuangkan Indonesia Merdeka,” kata Maruto Nitimihardjo, senior Chairul di Recht Hoge School, yang hadir dalam rapat tersebut, lewat testmioninya di buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial , “Chairul Saleh Penggerak Pemuda”. Ketika pada 1940 Gabungan Politik Indonesia (GAPI) menggelar rapat untuk membahas tuntutan Indonesia berparlemen yang diajukan kepada pemerintah kolonial, Chairul hadir mewakili PPPI. Chairul pun bersuara keras. “Bung Chairul hadir sebagai salah seorang wakil PPPI yang mengusulkan bahwa jika resolusi GAPI untuk Indonesia berparlemen ditolak pemerintah, semua partai yang bernaung di bawah GAPI supaya melarang anggotanya untuk ber-coperasi dengan pemerintah Hindia Belanda. Sudah barang tentu usul PPPI itu tidak mendapat suara di GAPI,” sambung Maruto yang hadir dalam pertemuan tersebut. Keteguhan pada cita-cita perjuangan itu terus ditunjukkan Chairul bahkan hingga ketika Perang Pasifik telah pecah. Tak hanya keras bersikap ke luar, Chairul juga tegas ke dalam. Dia amat marah begitu mengetahui Adnan Kapau Gani, seniornya di RHS dan PPPI, main film. Meski alasan Gani melakoninya untuk biaya hidup dan biaya ujian kuliahnya, Chairul tak peduli. “Apa-apaan Bung Kapau Gani ini, seorang student , sudah hampir dokter, anggota PPPI, GERINDO, kok main film? Gila dia! Nama PPPI, GERINDO, seluruh perjuangan kita terseret ke lumpur! Dia harus keluar dari PPPI!” kata Chairul sebagaimana didengar dan dikutip M. Arifin Andanasasmita dalam testimoninya di buku yang sama. Sikap Chairul sontak menimbulkan faksi di dalam PPPI, antara yang pro dan kontra. PPPI sampai mengadakan rapat khusus untuk membahasnya. Chairul ditentang keras oleh Sucipto Gondoamidjoyo dalam rapat tersebut. Meski suasananya panas, rapat akhirnya diselesaikan dengan baik. “Seingat saya, Bung Adnan Kapau Gani memang dikeluarkan dari PPPI,” sambung Arifin. Namun, AK Gani tak pernah diketahui meladeni kemarahan Chairul. Konfliknya dengan Chairul bahkan dia yang menyelesaikan. Tak lama setelah mendapatkan kelulusan dari STOVIA dan ditempatkan di Palembang, dia mengirim sebuah telegram. “Demi persatuan koma stop pertengkaran mengenai saya titik” demikian bunyi telegram AK Gani.
- Khabib Nurmagomedov Sang Elang Dagestan
KALA pertarungan di ronde kedua masih berjalan sengit di menit pertama lewat 34 detik, Khabib Nurmagomedov memanfaatkan secuil peluang. Dia langsung mengeluarkan kuncian triangle choke terhadap lawannya, Justin Gaethje. Justin mati kutu. Upayanya meloloskan diri gagal hingga tubuhnya yang melemah memaksanya tapping dan wasit menghentikan pertarungan. Seketika, Khabib pecah tangisnya. Seraya bersujud, air matanya mengalir deras membasahi kanvas ring oktagon UFC (Ultimate Fighting Championship) 254 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu (24/10/2020). Saking emosionalnya, Khabib harus dibantu untuk bangkit oleh lawannya yang bertindak sportif. “Alhamdulillah, Tuhan memberikan segalanya pada saya. Hari ini saya ingin mengatakan bahwa inilah pertarungan terakhir saya. Mustahil saya bisa bertarung lagi tanpa ayah saya. Saya telah berjanji pada ibu saya bahwa ini yang terakhir dan saya akan menepatinya,” ungkap Khabib dalam wawancaranya usai pertarungan, dikutip Sky Sports , Minggu (25/10/2020). Khabib mengalahkan Gaethje lewat kuncian triangle choke di ronde kedua. (Instagram @ufc). Pertarungan itu jadi pertarungan ke-13 petarung berjuluk “Sang Elang” itu dalam rangka mempertahankan gelar dunia UFC kelas ringan. Sepanjang kariernya di ajang beladiri campuran terkondang itu, tak pernah sekali pun Khabib kalah dari 29 laga. Petarung Rusia pertama yang berlaga di UFC era baru sejak 2012 itu telah mencatat beragam sejarah sepanjang sepakterjangnya. Yang terpenting adalah status incumbent juara kelas ringan terlama (931 hari). Walau usianya terbilang muda, janji pada ibunya itu membuatnya mesti pensiun di usia 32 tahun. Ketiadaan Abdulmanap Magomedovich Nurmagomedov, ayahnya yang wafat pada 3 Juli 2020 di usia 57 tahun setelah tertular COVID-19, jadi faktor utama pensiunnya Khabib. Banyak yang menyayangkan keputusan itu. Salah satunya, Connor McGregor, rival kontroversial Khabib. McGregor kerap menghina keyakinan dan ayah Khabib sebelum duel keduanya pada 6 Oktober 2018. Kearoganan McGregor dibungkam Khabib dengan kemenangan lewat kuncian neck crank pada ronde keempat. “Pertarungan yang bagus @TeamKhabib. Saya akan meneruskan pertarungan (di UFC). Salam hormat dan salam duka untuk ayah Anda, juga kepada Anda dan keluarga. Dengan tulus. The McGregors,” kicau McGregor di akun Twitter -nya, @TheNotoriousMMA , Minggu (25/10/2020). Keluarga Petarung di Wilayah Konflik Lahir di Sildi, Republik Dagestan, Uni Soviet (kini Rusia) pada 20 September 1988, Khabib mewarisi sifat petarung keluarga besarnya. Mayoritas keluarga besarnya merupakan praktisi beladiri gulat bebas, judo, dan SAMBO. Termasuk pamannya dan sang ayah, Abdulmanap. “Ayah saya pernah memenangkan kejuaraan gulat bebas dan SAMBO di Ukraina. Dia punya banyak pengalaman dalam olahraga. Adiknya, Nurmagomed Nurmagomedov, adalah juara dunia SAMBO 1992. Paman dari pihak ibu saya juga praktisi yang ahli dalam gulat bebas. Jadi saya tak punya banyak pilihan,” tutur Khabib kala diwawancara Boris Krivin yang dimuat dalam Sport-Express , 2 Desember 2015. Khabib, anak kedua Abdulmanap, mulai bersentuhan dengan beladiri sejak usia dini karena sering melihat ayahnya melatih beladiri anak-anak sekitar. Semenjak bisa berlari-lari dan mulai paham dengan kegiatan olahraga yang digeluti ayahnya, Khabib seketika itu juga mulai menaruh minatnya. “Khabib memulai langkah pertamanya di matras gulat sejak usia dua tahun. Dia mulai bisa mengikuti sedikit-sedikit latihan gulat. Awalnya tidak ada yang mengajarkannya. Dia memahaminya dengan melihat anak-anak yang saya latih. Mulanya juga semua orang menertawakannya, namun akhirnya beginilah yang terjadi (Khabib juara dunia),” ungkap Abdulmanap dalam wawancaranya dengan All Boxing , 14 April 2015. Abdulmanap Magomedovich Nurmagomedov wafat pada 3 Juli 2020 setelah tertular Covid-19. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Sang Elang Melawan Beruang Hidup di lingkungan pegunungan yang keras secara alamiah membentuk karakter bermental baja Khabib. Pembentukan karakter itu makin nyata dengan tambahan didikan sang ayah dalam kesehariannya. “Kenapa kami punya para petarung terbaik di dunia? Karena tempat kami hidup dahulu kala juga ditinggali para petarung. Bangsa kami bertarung sepanjang hidup mereka dan itu sudah ada dalam darah kami. Ayah saya membuat saya berlatih di pagi dan petang hari. Hidup kami seperti tentara. Kondisinya Spartan. Ayah saya selalu menciptakan kompetisi agar saya bisa lebih tangguh,” aku Khabib sebagaimana disitat matchtv.ru , 21 Juli 2016. “Saat saya bilang tak ingin belajar, ayah pasti menghukum saya. Dia menjelaskan dengan lidahnya. Saat penjelasannya tak bisa dimengerti – dengan tinjunya. Jika saya tak dihukum, saya akan jadi seorang perundung. Jika saya dihukum, memang berarti saya pantas mendapatkannya,” imbuhnya. Khabib (kiri) saat berusia delapan tahun pada 1996 sudah mulai menekuni gulat bebas. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Di usia sembilan, Khabib mulai dilatih lebih serius oleh ayahnya. Tak hanya dasar-dasar gulat bebas, Khabib juga dilatih berenang di sungai es, hingga bertarung melawan anak beruang. Dalam sebuah video bertanggal 23 September 1997 yang beredar di media sosial, tampak sang ayah memegang rantai yang mengikat leher seekor anak beruang sembari memerintahkan Khabib untuk bergulat melawannya. “Pertama-tama, seorang ayah harus selalu memastikan sejauh mana kemampuan putranya. Memang disayangkan tidak ada pertarungan yang lebih menarik dari masa dia masih muda (melawan beruang, red. ). Pada akhirnya, pertarungan itu lebih kepada ujian karakter ketimbang latihan,” terang Abdulmanap. Namun, tak mudah bagi keluarga Khabib hidup di wilayah konflik. Dagestan sejak 1980-an mulai tersemai bibit konflik setelah masuknya aliran Wahabi, aliran radikal Islam Sunni, yang dipimpin militan Chechen Shamil Basaev. Kelompok tersebut menggalang gerakan di antara masyarakat Sunni Dagestan dengan mendeklarasikan Jamaah Islamiyah Dagestan. Konflik pun berujung pada pecahnya Perang Dagestan, 7 Agustus-14 September 1999. Meski perang besarnya hanya terjadi sebulan, perang gerilya terus berlangsung hingga 2016. Abdulmanap enggan angkat senjata lagi meski seorang veteran, sebab di rumahnya tinggal istri dan ketiga anaknya serta selusin keponakannya. Khabib bak menggelar "rematch" dengan seekor beruang pada 2015 mengenang masa-masa kecilnya. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Hampir setiap hari selama sebulan peperangan, keluarga Khabib hidup dalam ketakutan. Di lingkungan tempat tinggalnya di Kirovaul, semua warga mendukung pihak Rusia dan Republik Dagestan untuk mengusir para pemberontak Chechen. “Era 1990-an jadi dekade yang berat untuk negeri kami. Peperangan terjadi kurang dari 20 kilometer dari tempat tinggal kami,” kenang Abdulmanap, dikutip Karim Zidan dalam "Dagestani Dynasty: How Fighting Became the Nurmagomedov Family Business" yang dimuat dalam buku Best Canadian Sports Writing . Tak lama setelah perang usai kala Khabib berusia 12 tahun, Abdulmanap memutuskan untuk pindah dari Kirovaul ke Makhachkala, ibukota Republik Dagestan. Empat tahun berselang, Khabib diajari judo. Kala berusia 17 tahun, Khabib menekuni SAMBO di Sekolah Beladiri Manapov yang didirikan ayahnya. Sejak saat itu, bak elang, Khabib mulai melebarkan sayapnya ke berbagai kompetisi gulat, judo, maupun SAMBO di bawah asuhan sang ayah. Debut profesionalnya dilakoni di ajang turnamen MMA (mixed martial arts/beladiri campuran) CFSU: Champions League di kelas ringan. Ia langsung menang lewat kuncian triangle choke di ronde pertama kontra Vusal Bayramov di Poltava, Ukraina, 13 September 2008. Khabib di masa muda sudah selalu dalam bimbingan sang ayah. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Setahun berselang, kiprahnya makin berkibar. Medali emas Kejuaraan Nasional SAMBO Rusia 2009 pun disabetnya. Juga dua kali berturut-turut Khabib meraih medali emas di Kejuaraan Dunia SAMBO (2009 dan 2010) mewakili Rusia. Selain di ajang CFSU, pada 2009 Khabib mendaki tangga kariernya di Tsumada Fighting Championship, M-1 Challenge: 2009, M-1 Selection Ukraine 2010, hingga ProFC/GM Fight 2011. Selepas meneken kontrak pertamanya dengan UFC pada 2011, Khabib melakoni debutnya pada 20 Januari 2012 dengan mengalahkan Kamal Shalorus lewat kuncian rear-naked choke di Nashville, Amerika Serikat. Meski begitu, butuh enam tahun bagi Khabib untuk dapat melingkari pinggangnya dengan sabuk juara dunia UFC kelas ringan. Tepatnya pada 7 April 2018 lewat kemenangan angka setelah melalui pertarungan sengit lima ronde kontra Al Iaquinta. Khabib pernah bikin heboh ketika ia melompat pagar ring oktagon dan menyerang tim lawan usai mengalahkan Conor McGregor lewat kucian neck crank di Las Vegas, Amerika, 6 Oktober 2018. Laga kontroversial Khabib vs McGregor pada 2018 yang berujung kericuhan. (Twitter @TeamKhabib). Aksi Khabib tak lepas dari luapan emosinya yang dipicu hinaan McGregor. Bahkan, jelang pertarungan itu McGregor berulangkali melayangkan hinaan kepada Khabib maupun agamanya, serta menghina sang ayah dan istri Khabib. Orang-orang di tim McGregor menambah panas dengan menghancurkan bus tim Khabib. Walau kemenangannya tak dianulir dan gelar kelas ringan UFC tetap jadi miliknya, Khabib dijatuhi hukuman denda USD500 ribu dan sanksi larangan bertarung selama sembilan bulan dari Nevada State Athletic Commission. Sementara, McGregor hanya didenda USD50 ribu dan sanksi larangan bertarung enam bulan. “Saya hanya seorang manusia dan saya tak tahu mengapa orang-orang hanya membicarakan aksi saya melompat pagar. Bagaimana dengan dia (McGregor) yang bicara tentang keluarga saya, agama saya, dan menyerang bus saya?” cetus Khabib, dikutip Independent , 7 Oktober 2018. “UFC adalah olahraga yang terhormat, bukan olahraga untuk omongan yang menghina. Anda tak bisa menghina agama. Saya tahu ayah akan memukul saja saat pulang nanti. Tapi (Presiden Rusia, Vladimir) Putin sudah menelepon saya dan dia bilang bangga pada saya,” tandasnya.





















