top of page

Hasil pencarian

Search this site

9963 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jajan Tahu Pakai Pesawat Mustang

    PADA dekade 1950, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) memiliki puluhan pesawat tempur jenis P-51 Mustang. Pesawat buatan Amerika Serikat itu adalah pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal pada era Perang Dunia II. Karena keandalannya, Mustang diproduksi ribuan dan digunakan oleh banyak angkatan udara, termasuk Indonesia. Menurut laman tni-au.mil.id, setelah pengakuan kedaulatan, Indonesia menerima hibah sejumlah pesawat Mustang dari Belanda. Di lingkungan AURI, P-51 Mustang ditempatkan di satuan tempur buru sergap Skuadron ke-3 yang bermarkas di Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta Timur. Sebanyak 50 pesawat Mustang yang tersedia ternyata tidak sebanding dengan pilot tempur yang dimilki AURI. Wajar saja jika para penerbang Skuadron ke- 3 suka-suka saja berganti-ganti pesawat karena Mustang tidak boleh terlalu lama didiamkan. “Dulu dari Pangkalan Halim kami suka terbang dengan Mustang ke berbagai pangkalan di Jawa Tengah atau Bandung hanya untuk beli sate atau es kopyor,” ujar Ashadi Tjahjadi, salah seorang penerbang tempur Skadron III dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer di Indonesia suntingan Soemakno Iswadi.

  • Saat Pesawat Sipil Dihantam Misil

    SETELAH pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 ditembak jatuh oleh misil/rudal BUK buatan Rusia pada 17 Juli 2014, pesawat Boeing 737 Ukraine International Airline menyusul pada 8 Januari 2020. Pesawat dengan nomor penerbangan PS752 itu dihantam dua misil milik militer Iran. Kedua pesawat menambah panjang daftar pesawat sipil yang celaka dihantam (misil) militer. Iran sendiri pernah mengalaminya 32 tahun silam, menimpa pesawat Airbus A300 Iran Air nomor penerbangan 655 dengan tujuan Tehran-Dubai. Peristiwa itu terjadi tak lama setelah pesawat mengudara dari Bandara Internasional Bandar Abbas, Iran pada pukul 10.17 waktu setempat usai transit. Lantaran situasi di kawasan itu sedang berbahaya akibat Perang Iran-Irak, pilot Kapten Mohsen Reaian, dengan pengalaman 7000 jam terbang, terus melakukan komunikasi dengan menara pengawas. Mohsen diperintahkan untuk menerbangkan pesawat ke ketinggian 14.000 kaki kemudian turun menuju Dubai, dan diperintahkan untuk terus menghidupkan transpondernya serta terus menerbangkan pesawat di atas Teluk Persia.

  • Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS.

    VICTORIA Sabrina, kapal pesiar milik Victoria Cruises yang berbasis di New York, akan melakukan pelayaran perdana Mei 2020 nanti di Sungai Yangtze, China. Kapal pesiar mewah ramah lingkungan sepanjang 150 meter itu akan jadi kapal pesiar terbesar di dunia yang beroperasi di sungai. Pelayaran kapal Amerika di Sungai Yangtze bukanlah hal baru. Pada 1920-an, tanker-tanker milik Standard-Vacuum Oil, perusahaan minyak terbesar Amerika, dan kapal-kapal kargo Amerika hilir-mudik di sungai terpanjang China itu. Setelah ditandatanganinya perjanjian dengan pemerintah Republik China pada 1930, kapal-kapal perang Amerika juga rutin melayari sungai itu. Kapal-kapal perang itu mengawal kapal tanker dan kapal kargo Paman Sam agar tak dibajak dan dirompak, di mana kejahatan itu di Sungai Yangtze meningkat sejak akhir 1920-an. Kapal perang Amerika bahkan pernah jadi korban dalam pelayaran di Sungai Yangtze, dikenal sebagai Insiden USS Panay.

  • Tragedi Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma

    SEBAGAI bagian dari upaya pemerintah mengatasi pandemi corona atau Covid-19, TNI Angkatan Udara (AU) ikut andil dengan mengerahkan pesawat angkutnya ke RRC. “TNI Angkatan Udara memberangkatkan pesawat angkut berat C 130 Hercules ke Shanghai, China untuk mengangkut logistik kesehatan penanganan virus Corona (COVID-19) di Indonesia,” demikian diberitakan detik.com, 22 Maret 2020. Menkopolhukam Mahfud MD menyebut tugas yang dijalankan TNI AU itu amat mengharukan. “Menurutnya, di saat rakyat Indonesia diminta pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sedangkan personel TNI itu diminta pergi jauh dari rumah untuk mencari obat Corona.” Apa yang dilakukan para personil TNI AU itu seolah melanjutkan perjuangan para perwira muda AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, nama sebelum TNI AU) yang menjalankan tugas mengangkut obat-obatan pada 1947 yang kemudian dijadikan Hari Bakti AU. Kejadian itu selalu diingat Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang kemudian menuliskannya dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air. Utami ingat betul suatu hari di pengujung Juli tahun 1947 ketika kediamannya di Yogyakarta didatangi Adisujipto dan “dokter karbol” Abdulrachman Saleh. Kedua pemuda-perwira yang bersama Suryadarma ikut merintis AURI itu datang untuk berpamitan.

  • Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI

    PERINGATAN HUT RI ke-76 tahun ini tak bisa dirayakan dengan meriah karena masih masa pagebluk. Upacara proklamasi di Istana Merdeka pada Selasa (17/8/2021) pun digelar dengan protokol kesehatan ketat. Namun, masyarakat masih bisa berbangga karena pesawat-pesawat TNI AU tetap mengudara di langit ibukota menyunguhkan atraksi sebagai kado HUT RI. Mengutip keterangan Dispenau di laman resmi TNI AU, Rabu (18/8/2021), sebanyak 14 pesawat dikerahkan untuk beratraksi dalam dua gelombang. Gelombang pertama, Garuda Flight, terdiri dari delapan jet tempur F-16 “Fighting Falcon” berangkat dari Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi. Gelombang kedua, Nusantara Flight, diperkuat satu helikopter EC-725 “Caracal” dan tiga NAS-332 “Super Puma” dari Lanud Atang Sendjaja serta dua heli NAS-332 L1 “Super Puma” dari Lanud Halim Perdanakusuma. Tim Nusantara Flight terbang dengan enam helikopter membawa bendera dwiwarna raksasa berkuran 30x20 meter. Sedangkan tim Garuda Flight melakoni flypass, bermanuver bomb burst, dan mengucapkan selamat HUT RI dari angkasa.

  • Lika-liku Pesawat T-50

    SEBELAS hari menjelang Hari Bhakti TNI AU, matra udara justru berduka. Satu pesawat latih T-50i bernomor TT-5009 dari Skadron Udara 15 yang dipiloti Lettu (Pnb) Allan Syafitra jatuh di desa Nginggil, Blora, Jawa Tengah pada Senin (18/7/2022) malam. Kecelakaan saat latihan terbang malam itu menewaskan sang pilot lulusan Sekolah Penerbang TNI AU 2017 tersebut. Mengutip laman TNI AU, Selasa (19/7/2022), Pesawat T-50i itu hilang kontak radio dengan Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi pada pukul 19.07 malam sebelum akhirnya dilaporkan jatuh dengan penyebab yang masih belum diketahui. Saat ini kecelakaannya masih dalam penanganan Tim Panitia Penyelidikan Kecelakaan Pesawat Udara (PPKU). Insiden tersebut jadi insiden ketiga yang melibatkan jet latih buatan Amerika Serikat-Korea Selatan (Korsel) itu. Pada 20 Desember 2015, pesawat yang sama jatuh dekat ksatrian Akademi Angkatan Udara (AAU) di Lanud Maguwo saat perhelatan Yogyakarta Air Show 2015 yang menewaskan sang pilot, komandan Skadron Udara 15, Letkol (Pnb) Marda Sarjono dan radar interceptor officer, Kapten (Pnb) Dwi Cahyadi. Pada 10 Agustus 2020, sebuah pesawat T-50i lain tergelincir di Lanud Iswahyudi saat menjalani latihan.

  • Herbal Kembali Mengglobal

    RUMAH itu tampak asri. Lahannya, seluas 1000 meter persegi, dipenuhi tanaman yang tertata rapi. Sebagian besar tanaman mendapat label: nama dan khasiatnya. Sebuah apotek berdiri persis di depan pintu masuk. Sementara ruang praktik akupunktur memakai ruangan di rumah utama. Taman Sringanis, yang didirikan sastrawan Putu Oka Sukanta dan istrinya Endah Lasmadiwati, terbuka untuk umum. Lokasinya berada di Kampung Cimanengah 29, Cipaku, Bogor Selatan. “Mereka yang datang ke sini itu kami berikan layanan bagaimana menjaga kesehatan keluarga supaya tidak bergantung pada pengobatan yang mahal,” ujar Prasasti Baroto, penanggung jawab kebun dan tanaman Taman Sringanis. Pengelola taman siap memberikan informasi dan konsultasi gratis soal kesehatan. Mereka juga menyediakan obat herbal murah yang diproduksi sendiri dan sudah mendapat izin Departemen Perindustrian. “Herbal itu kan ramuan, dasarnya ada yang hasil penelitian dan empirik. Kami memakai yang empirik,” ujarnya.

  • Putu Oka Sukanta Menjadi Manusia Lagi

    PUTU Oka Sukanta mengenang dirinya sebagai anak dari keluarga petani dan menulis sajak sejak usia 16 tahun. Ia kelahiran Singaraja, Bali, pada 29 Juli 1939. Lingkungan dari kelas petani ini mempengaruhi tema-tema awal sajaknya. Dia suka menulis karena suka baca koran. Lucunya, sebelum dia masuk Lekra, seorang penyair Bali pernah bilang bahwa puisi-puisi Putu pasti dianggap karya seorang penyair Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang selalu dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia. “Sudah, pokoknya kamu Lekra,” katanya. Di Bali, Putu aktif di berbagai kegiatan sastra, antara lain mengisi ruang sastra di RRI Singaraja dan RRI Denpasar. Pada akhir 1950-an, waktu pindah pindah ke Yogya, puisi-puisinya sudah dimuat di media. Baru pada awal 1960-an karyanya dimuat di Harian Rakyat dan Zaman Baru, dua media yang berafiliasi dengan Lekra.

  • Kala Pesawat Jet Mengudara Perdana

    LANGIT masih gelap ketika sekelompok kecil orang sibuk mempersiapkan proyek prestisius di Lapangan terbang Marienehe, Rostock, Jerman pada 27 Agustus 83 tahun silam. Selain tidak ingin diketahui publik, persiapan sengaja dilakukan di pagi buta agar keamanan lebih terjaga. Maklum, kesiagaan di Jerman telah ditingkatkan seiring negeri itu hendak menyerang Polandia, yang membuka Perang Dunia II. Di antara yang sibuk menjelang pukul 04 pagi itu, ada Erich Warsitz, seorang test-pilot perusahaan pembuat pesawat Heinkel Flugzeugwerke. Dia mengecek segala kesiapan pesawat yang akan dipilotinya. Lantaran penerbangannya bakal menjadi penerbangan perdana untuk sebuah jenis pesawat, pengecekan dilakukan ketat. Warsitz pun dibuatnya jadi gelisah. “Menjadi perokok berat, saya akan menyalakan beberapa batang rokok tambahan sebelum penerbangan seperti itu, dan itu dipakai terutama ketika, menetap di kokpit setelah sinyal siap, mesin diperiksa untuk terakhir kalinya dan seseorang akan berteriak: “Berhenti, matikan, ada katup yang longgar di sini!” Kemudian saya harus turun lagi. Ini membuat seseorang gelisah!” ujar Warsitz sebagaimana dikutip anaknya, Lutz Warsitz, dalam The First Jet Pilot: The Story of German Test Pilot Erich Warsitz.

  • Dulu Sersan Bisa Terbangkan Pesawat

    ISMAIL Marzuki (1914–1958), komponis produktif yang peka dengan zaman, termasuk pada kehidupan tentara kelas bawah yang jumlahnya sangat banyak. Barangkali dia hendak membesarkan hati para kopral dengan lagu Kopral Jono. Oh, Kopral Jono Gadis mana yang tak rindu akan dikau Dalam lagu itu, Kopral Jono digambarkan sebagai sosok yang kuat, seperti pada lirik Gayamu yang perkasa, mirip dengan panglima. Lirik Dengan jambulmu semua gadis bertekuk lutut menjelaskan sosok gagah ini punya model rambut berjambul, tren rambut laki-laki era 1950-an.

  • Riwayat Perakit Pesawat

    PADA zaman Hindia Belanda, di Bandung hiduplah seorang juragan roti dan daging kaya raya yang sangat ingin membuat pesawat terbang sendiri. Ia adalah Kho Kee Hien. Juragan ini rela menggelontorkan uang yang sangat banyak untuk membuat sebuah pesawat. Untuk itu, ia bekerja sama dengan para ahli dari Militaire Luchvaart (ML) alias Jawatan Penerbangan dari Koninklijk Nederlandsch Indishe Leger (KNIL) di Bandung. Untuk desain pesawat dipercayakan kepada L.W. Walreven dan M. Pattist. Sedangkan untuk perakitan diserahkan kepada seorang pemuda berusia 25 tahun bernama Achmad bin Talim, yang dibantu beberapa asisten. Pada 1935, pesawat itu berhasil mengudara. Pesawat ini bukan satu-satunya yang dirakit Achmad dkk. Achmad juga teknisi di ML-KNIL. Pemuda jebolan sekolah teknik ini sejak umur 16 tahun sudah bekerja di bengkel penerbangan KNIL di Andir, Bandung. Dalam hal perakitan pesawat, Achmad memulai dari nol.

  • Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama

    PESAWAT Uni Soviet Ilyushin (IL)-14 mendarat mulus Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Cililitan. Pemerintah Uni Soviet menghibahkannya kepada Indonesia sebagai tanda persahabatan kedua negara. Itulah pesawat kepresiden Indonesia yang pertama. Ketika meninjaunya, Presiden Sukarno terlintas sebuah nama. Nama pesawat kepresidenan itu diumumkan sendiri oleh Presiden Sukarno dalam acara serah terima pada 24 Januari 1957. “Di Tapanuli terdapat daerah pegunungan yang menurut legenda selalu saling bertengkar. Dan Dolok Martimbanglah yang mampu menyatukan mereka kembali. Makanya aku beri nama pesawat ini: Dolok Martimbang,” kata Presiden Sukarno seperti diberitakan Preangerbode, 25 Januari 1957. Pada acara serah terima yang berlangsung di Pangkalan Halim itu, pemerintah Soviet diwakili oleh Duta Besar Zhukov. Dilansir Het nieuwsblad voor Sumatra, 25 Januari 1957, Dubes Zhukov menyatakan penyerahan pesawat itu sebagai hadiah dari pemerintahnya untuk mempererat tali persahabatan antara masyarakat Uni Soviet dan Indonesia. Pesawat tersebut disumbangkan secara pribadi oleh pemerintah Soviet kepada Presiden Sukarno sebagai penghargaan atas penguatan hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page