top of page

Hasil pencarian

Search this site

9969 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Burma dan Kemerdekaan Indonesia

    KRISIS kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar menuai protes dan kecaman dari berbagai pihak. Massa berdemonstrasi di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta sampai membakar bendera Myanmar. Muncul juga desakan menarik duta besar Indonesia dari Myanmar, bahkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Myanmar. “Masalah yang terjadi di Myanmar bukan masalah bilateral antara Indonesia dan Myanmar. Selama ini hubungan antarnegara baik-baik saja dan tidak pernah ada benturan apapun. Oleh karenanya memanggil pulang Dubes Indonesia di Myanmar bukan suatu tindakan tepat,” kata Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Persahabatan Indonesia dan Myanmar (dulu Burma, Birma) sudah terjalin sejak awal Indonesia merdeka bahkan Burma belum merdeka secara penuh. Pada 30 Oktober 1946, Jenderal Aung San, kepala pemerintahan sementara Burma, mengirim kawat kepada Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

  • Tentang Mawie, Lili dan Romansa Perang Burma

    TIGA generasi berkumpul pada rumah yang terletak di jantung kota Almere itu. Sebagian besar berbahasa Indonesia, sedikit di antaranya terdengar bercakap-cakap dalam berbagai bahasa: Belanda, Cina dan bahkan Rusia. Hari itu, Sabtu 9 September yang lalu, mereka berkumpul memperingati enam bulan wafatnya seorang suami, ayah, kakek juga kawan yang selalu bersama di dalam hari-hari terang maupun kelam hidup berpuluh tahun jauh dari tanah air. Mawie Ananta Jonie, seorang penyair sekaligus wartawan yang dikenang hari itu, berpulang pada 1 Maret yang lalu. Mungkin namanya tak banyak dicatat dalam narasi utama sejarah di Indonesia yang seringkali hanya mengisahkan tokoh-tokoh besar beserta drama kehidupannya. Tapi Mawie punya kisahnya sendiri. Terlahir sebagai anak Minang dua tahun sebelum Jepang datang menduduki Indonesia. Malang melintang sebagai aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), penyair dan wartawan. Pada 1964 berangkat ke Tiongkok untuk tugas belajar namun prahara politik 1965 mengubah jalan nasib dari benderang menjadi remang. Semenjak itu dia meniti jalan hidup sebagai orang terhalang pulang, mengembara mulai dari negeri Tiongkok, Burma dan sejak 1989 bermukim di Belanda.

  • Orang yang Mengusulkan Presiden Bersepeda

    Presiden Joko Widodo akan menggowes sepeda pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September 2017 di Magelang, Jawa Tengah. Rutenya dari Lapangan Secaba hingga Stadion Moch. Soebroto. Sebagaimana diketahui, Jokowi memang suka sepeda. Selain untuk olahraga, dia juga sering bagi-bagi sepeda dalam berbagai kesempatan. Presiden Soeharto juga pernah memperingati Haornas pada 9 September 1988 dengan bersepeda tandem bersama Ibu Tien. Rutenya dari kediamannya di Jalan Cendana menuju Gondangdia, Jalan Medan Merdeka Barat, hingga berakhir di Lapangan Monas. Tujuannya untuk menggelorakan jargon “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.” Ternyata, orang yang mengusulkan agar Presiden Soeharto dan Ibu Tien bersepeda adalah Asisten Menpora Bidang Olahraga MF Siregar . “Saya usul ke Menpora Akbar Tanjung agar membuat perayaan yang berbeda. Supaya Soeharto naik sepeda melalui jalan yang biasa dilaluinya dengan mobil. Rakyat tak pernah melihat presidennya secara langsung karena setiap hari Soeharto selalu pulang pergi kantor naik mobil dengan pengawalan ketat,” ungkap Siregar dalam biografinya, Matahari Olahraga Indonesia Menpora Akbar Tanjung setuju. Siregar segera mendatangi Kepala Bulog Bustanil Arifin agar menyediakan sepeda tandem untuk digowes Presiden Soeharto dan Ibu Tien beserta rombongan. “Olahraga bersepeda adalah salah satu olahraga yang merakyat, sehingga sesuai dengan tema kita untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,” kata Siregar.

  • Pura-pura demi Burma Merdeka

    KETIKA berusia 25 tahun, Aung San mendirikan Partai Thakin. Inggris yang merasa terancam menangkapi para pemimpinnya. Aung San bersama rekan-rekannya melarikan diri ke China untuk mencari suaka ke pemerintahan nasionalis Kuomintang. Ketika tiba di Amoy (kini Xiamen), dia dicegat tentara Jepang. Di Jepang, Aung San malah disambut sebagai adik dalam keluarga Asia Timur Raya. Bahkan, dia diberi nama Jepang, Omoda Monji. Bersama 30 rekannya yang dijuluki The Thirty Comrades, Aung San mendirikan Burma Independence Army. Mereka dilatih di Pulau Hainan hingga Formosa (Taiwan) untuk dikirim lagi ke Burma lewat Vietnam dan Thailand bersama serdadu Jepang. Menurut PK Ojong dalam Perang Pasifik: 1941-1945, Jepang berjanji kepada Aung San bahwa Burma akan dijadikan negara merdeka dalam lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. “Aung San percaya bahwa janji ini akan dipenuhi. Kalau tidak, dia akan bertindak,” tulis Ojong.

  • Kuliner Tiga Dunia

    Rumah Makan Abu Salim dipenuhi pengunjung siang itu. Berbeda dari resto-resto khas Timur Tengah lainnya di Jakarta, sebagian besar pengunjung justru bukan orang keturunan Arab. Mereka ingin ingin mencicipi menu andalan rumah makan ini: sate kambing dan nasi kebuli. Menurut Salim al Kaff, berusia 32, mayoritas pengunjung gandrung bersantap di Abu Salim justru karena kepiawaian para kokinya menyesuaikan cita rasa Timur Tengah dengan selera lokal. “Kendati bercitarasa Arab, takaran bumbunya sudah kami sesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Secara umum kami juga menambahkan unsur-unsur makanan lokal seperti bawang merah, bawang putih, mentimun, nanas, bengkoang ke menu sajian kami,” ujar Salim al Kaff (32), putra dari Ahmad al Kaff, pemilik Rumah Makan Abu Salim yang berlokasi di kawasan Condet, Jakarta Timur. Condet kerap disebut menggantikan peran Pekojan dan Krukut, keduanya di Jakarta Barat, sebagai penyandang kampung Arab. Banyak keturunan Arab tinggal di sana. Di Jalan Raya Condet, toko-toko bernuansa Timur Tengah menjajakan barang dagangan mereka seperti parfum, kurma, hingga habbatus sauda. Rumah makan Arab juga bertebaran. Selain Abu Salim, restoran Al-Mukalla juga cukup dikenal. Nama “Al-Mukalla” diambil dari nama kampung halaman leluhur si pemilik restoran, Ahmad Salmin (60), di Hadramaut, Yaman. Namun bukan sekadar nama, Al-Mukalla menyediakan menu-menu hidangan khas Yamani. Tentu saja cara pembuatannya sudah disesuaikan dengan citarasa lokal. Lihat saja menu andalannya, mughal gal; tumisan daging kambing yang diiris kecil-kecil, dibalut aroma rempah yang kuat dan disajikan dengan roti ala Timur Tengah. Ada banyak makanan khas Arab yang bisa cocok dengan lidah orang Indonesia. Sebut saja kafsah, kebuli, dan mandee. Ketiganya berbahan utama beras, minyak zaitun, daging kambing segar, dan rempah-rempah (kapolaga, pala, cengkeh, kayu manis dan jahe). Namun sejatinya, beras atau nasi, rempah-rempah, bawang dan daun-daunan tak dikenal dalam tradisi kuliner Arab. Lalu sejak kapan bahan-bahan yang biasa disantap oleh masyarakat Nusantara itu menyelusup ke budaya kuliner orang-orang keturunan Arab tersebut? Alkisah pada abad ke-18, tanah Jawa dibanjiri imigran Hadramaut (sebuah provinsi di Yaman), Hijaz, dan Mesir. Selain berdakwah, mereka mencari peruntungan dengan berniaga di kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Banten, Cirebon, Surabaya, Pekalongan, dan Semarang. Lambat-laun, mereka menyebar ke wilayah-wilayah lainnya seperti Bogor, Bandung, Malang, Pemalang, dan Tegal. “Maka, sejak itu, muncullah kampung-kampung Arab lengkap dengan tradisi, budaya, dan kuliner khas mereka” tulis L.W.C van den Berg dalam Orang Arab di Nusantara . Bagi orang Arab, ke mana pun merantau, mereka harus mengonsumsi masakan yang sesuai dengan lidah mereka. Ciri khas hidangan mereka bergantung pada bahan kurma, gandum, daging, dan labhah (yogurt tanpa lemak mentega). Namun di rantau, mau tak mau, bahan-bahan itu harus mengalami percampuran dengan bahan-bahan setempat. Salah satu jenis makanan khas imigran Arab yang cukup populer adalah nasi kebuli. Embel-embel “nasi” di depan nama makanan itu tentu saja terdengar agak aneh mengingat beras atau nasi secara geografis dan historis tak dikenal di dunia orang-orang padang pasir. Menurut wartawan-cum-sejarawan Alwi Shahab (81), kemungkinan besar orang-orang Arab mengenal beras atau nasi saat bersinggungan dengan orang-orang India. Disebutkan Alwi, sebelum tiba di Nusantara, orang-orang Arab biasanya singgah di India dalam waktu cukup lama. Di sinilah mereka mengenal nasi dan rempah-rempah yang dibawa orang-orang India dari kawasan Nusantara. “Buktinya, hingga kini makanan khas Arab yang menggunakan nasi mutlak harus berbahan utama beras basmati yang hanya ada di wilayah India,” ujar Alwi kepada Historia . Ada versi lain mengenai asal-usul nasi kebuli. Dalam Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa , Gagas Ulung dan Deerona menyebut para jurumasak Kerala, India, yang dibawa saudagar-saudagar Gujarat, bertanggungjawab terhadap pengenalan nasi kebuli kepada orang-orang Nusantara untuk kali pertama. “Pada abad ke-18, para imigran Hadramaut yang sebelumnya lama tinggal di Gujarat, kemudian mempopulerkan hidangan ini di Pulau Jawa,” tulis Gagas dan Deerona. Di Nusantara, terutama Jawa, citarasa nasi kebuli yang dikembangkan orang-orang Hadrami (sebutan untuk orang-orang Hadramaut) berubah kembali begitu bersentuhan dengan lidah orang-orang setempat. Masuklah bahan-bahan khas Nusantara seperti ketumbar, cengkih, kayu manis, salam koja, mentimun, dan bawang merah. Dengan demikian makanan ini punya citarasa tiga dunia: Arab, India, dan Nusantara. “Pengaruh lokal yang paling kentara di makanan Arab yang kami buat adalah penaburan bawang goreng di setiap makanan utama seperti nasi kebuli, nasi mandee, nasi biryani, dan nasi kafsah,” ujar Salim.

  • Aung San Suu Kyi Menulis Sejarah Arakan

    TRAGEDI kemanusiaan kembali menimpa orang-orang Rohingya. Mereka melarikan diri ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari tentara Myanmar. Kendati terlacak sejak abad 15, namun setelah junta militer berkuasa identitas Rohingya pelan-pelan dihapus. Arakan, nama wilayah yang identik dengan orang-orang Rohingya, secara resmi diubah menjadi Rakhine pada 1974. Hingga kini, pemerintah Myanmar tidak mengakui orang-orang Rohingya sebagai warga negara. Aung San Suu Kyi, yang mengecewakan karena diam melihat tragedi kemanusiaan Rohingya, pernah menulis sejarah Arakan dalam Let’s Visit Burma . Tulisan yang diterbitkan oleh Burke Publishing Company di London pada 1985 ini tidak menyebut orang Rohingya sebagai kelompok yang mendiami Arakan. Tulisan ini kemudian dimuat dalam Freedom from Fear (Bebas dari Ketakutan) yang terbit di Indonesia pada 1993. Arakan (kini Rakhine) merupakan salah satu dari tujuh suku bangsa minoritas di Myanmar yang menjadi negara bagian, selain Kachin, Kayah, Kayin, Chin, Mon, dan Shan. Semua suku bangsa di Myanmar dikelompokan dalam tiga suku bangsa besar yaitu Mon-Khmer, Tibeto-Myanmar, dan Shan Thai. “Orang-orang Arakan agak gelap asal asal usulnya. Diperkirakan mereka merupakan campuran orang Mongol dan Arya yang datang dari India. Dapat dipastikan bahwa para raja Arakan dahulu keturunan India,” tulis Suu Kyi. Di Arakan terdapat beberapa kelompok masyarakat antara lain orang Arakan, Thek, Dainet, Myuo, Mramagyi, dan Kaman. Namun, Suu Kyi tidak menyebut orang Rohingya karena Burma Citizenship Law tahun 1982 yang dikeluarkan junta militer secara resmi mengeluarkan Rohingya dari delapan suku bangsa dan 135 etnis. Orang Arakan adalah orang Tibeto-Myanmar dan bahasanya amat mirip dengan Bahasa Myanmar. Sebagian orang menganggapnya sebagai Bahasa Myanmar kuno. Bahasa kelompok ini juga memperlihatkan pengaruh bahasa Bengali. Lantaran posisi geografisnya, Bengali (kini Bangladesh) memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban orang Arakan. Pada abad ke-15, Bengali membantu Arakan melawan kekuasaan raja-raja Ava. Inilah awal Islam masuk ke Arakan. “Sejak itu, raja-raja Arakan menggunakan gelar Islam, walaupun mereka dan sebagian besar rakyatnya tetap beragama Budha. Namun, terdapat lebih banyak orang yang memeluk agama Islam di Arakan daripada di daerah Myanmar yang lain,” tulis Suu Kyi. Meskipun terdapat pengaruh Bengali dan Islam, menurut Suu Kyi, sebagian besar Arakan didiami orang-orang Budha selama berabad-abad. Menurut sejarah, Budhisme sampai di pantai barat Myanmar pada waktu Budha masih hidup. Hal ini memang tidak dapat dibuktikan, tetapi patung Budha yang paling terkenal dibuat orang-orang Arakan sekitar abad ke-2. Patung ini, Maha Myamuni, diambil oleh putra Raja Bodawpaya ketika merebut Arakan. Patung ini salah satu patung yang paling dimuliakan di Myanmar dan sekarang disimpan di Mandalay. Ada banyak pagoda dan kuil Budha di Arakan. Banyak hari raya keagamaan mereka merupakan festival para penganut Budha sama dengan yang dirayakan orang Myanmar. Namun terdapat pula adat kebiayaan orang Arakan yang sangat asing bagi orang Myanmar. “Suku bangsa Arakan menyukai perkawinan antara sepupu (anak-anak dari saudara laki-laki ibu atau dari saudara perempuan ayah). Hal ini mencerminkan pengaruh Islam,” tulis Suu Kyi.*

  • Ketika Aung San Merangkul Rohingya

    KRISIS kemanusiaan di Myanmar semakin berkepanjangan. Praktik kekerasan terhadap etnis Rohingnya pun semakin menggila. Puluhan ribu pengungsi memenuhi perbatasan. Situasi centang perenang itu menurut Hikmahanto Juwana tak lepas dari tidak diakuinya etnis Rohingya sebagai warga Myanmar oleh rezim yang tengah berkuasa. "Bahkan ada kecenderungan pemerintah Myanmar melakukan ethnic cleansing (pembersihan etnis) saat terjadinya konflik antaretnis Rohingya dengan otoritas Myanmar,” ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia itu kepada Historia.ID. Apa yang dikatakan Hikmahanto diamini oleh berbagai kalangan. Moshe Yegar dalam Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Southern Thailand, and Western Burma mengungkapkan, masyarakat Rohingya tidak lagi diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar sejak 1982. Dua dekade setelah terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Ne Win, hingga menetapkan pemerintahan junta militer. Paspor mereka dicabut, hak-hak politik mereka dikebiri. Dalam Debating Democratization in Myanmar yang dirangkum Nick Cheesman dan Nicholas Farrelly, masyarakat Myanmar tidak lagi dicantumkan sebagai satu dari 135 kelompok etnis resmi yang disebut national races di Myanmar. Padahal secara historis, Bapak Bangsa Myanmar, U Aung San, pernah merangkul kelompok Rohingya. Aung San, tak lain adalah ayah dari Aung San Suu Kyi, tokoh Myanmar yang menerima Nobel Perdamaian pada 1991. Aung San merangkul kelompok Rohingya, bahkan sebelum Myanmar (dulu Birma/Burma) merdeka pada 1948. Pada Perang Dunia II, Aung San dengan kelompok antifasisnya bahu-membahu dengan milisi Rohingya yang didukung Inggris dalam memerangi Jepang. “ Bokyoke Aung San dengan sangat ramah menerima Rohingya sebagai satu dari ras asli Burma sebagaimana Kachin, Kayah, Karen, Chin, Mon dan Rakhine. Dia menjamin kewarganegaraan (warga Rohingya) saat bertemu para petinggi muslim di Akyab, Mei 1946,” sebut U Kyaw Min alias Shamsul Anwarul Haque dalam artikel Legal Nexus Between Rohingya and the State di jurnal An Assessment of the Question of Rohingya’s Nationality. Setelah Myanmar resmi merdeka, masyarakat Rohingya sempat bisa hidup tenang. Hak-hak ekonomi dan politik bisa turut mereka nikmati. Mereka benar-benar bisa hidup setara di bawah payung Residents of Burma Registration Act yang dirilis 1949 dan disusul Burma Registration Rules pada 1951. Tidak hanya sebagai pemilik suara, seorang etnis Rohingya pun bahkan berhak menyalonkan diri sebagai anggota parlemen. Itu terjadi sejak 1951, ketika mereka mewakili daerah-daerah pemilihan (dapil) Buthidaung Utara, Buthidaung Selatan, Maungdaw Utara serta Maungdaw Selatan. Tercatat beberapa nama anggota parlemen terkemuka asal Rohingya. Sebut saja nama-nama seperti Abdul Gaffar, Abul Bashar, Sultan Ahmed, Daw Awe Nyunt (a) Zurah, Ezar Meah, Sultan Mahmood, Abul Khair, Rashid, hingga MA Subhan. Apresiasi pemerintah terhadap kebudayaan Rohingya diperlihatkan pula dengan adanya acara program bahasa Rohingya d BBS (Burma Broadcasting Service) atau stasiun radio milik pemerintah Myanmar. Hak-hak beragama pun dijamin oleh pemerintah. Untuk mengikuti ibadah haji misalnya, pemerintah Myanmar menerbitkan paspor bagi masyarakat Rohingya yang sudah memiliki NRC (Kartu Registrasi Nasional) dan FRC (Sertifikat Registrasi Orang Asing), agar mereka bisa pergi naik haji ke Makkah. Sayangnya, kehidupan mereka perlahan berubah suram semenjak kudeta dilakukan oleh pihak militer pimpinan Jenderal Ne Win pada 2 Maret 1962. Pemerintahan junta militer lantas melindas pemerintahan sipil AFPFL (Liga Kebebasan Rakyat Anti-Fasis) yang kala itu dipimpin Perdana Menteri U Nu. Usai berhasil menggulingkan U Nu, secara sistematis hak-hak politik masyarakat Rohingya dihapuskan. Baik dalam mengikuti pencalonan, maupun memberikan suaranya dalam pemilu, melalui UU baru tentang Kewarganegaraan Tahun 1982. Benih-benih konflik mulai tertebar hingga menuai krisis hingga sekarang. “Rohingya telah ada di Rakhine sejak dunia diciptakan. Arakan adalah tanah kami; tanah India selama seribu tahun lalu,” cetus politisi Rohingya Kyaw Min dalam surat kabar The Economist,  3 November 2012. Pemerintahan junta militer Myanmar sedianya sudah mulai punah sejak 2016. Lewat Pemilu, NLD (Liga Nasional Demokatik) pimpinan Aung San Suu Kyi, hingga wakilnya, U Htin Kyaw jadi presidennya. Pun begitu, nasib masyarakat Rohingya belum menemukan titik terang dan justru belakangan kian suram. Suu Kyi nampaknya tidak belajar dari pengalaman sang ayah yang dikenang sebagai Bapak Bangsa Myanmar.*

  • Hoax Masa Revolusi

    Pertengahan 1946, Bekasi dibekap kecemasan. Beredar isu bahwa mata-mata Belanda dari arah Jakarta mengalir deras ke daerah-daerah Republik. Ciri-ciri mereka: selalu menyembunyikan kode dengan simbol-simbol merah-putih-biru, corak bendera kebangsaan Belanda. Akibatnya, penjagaan di stasiun-stasiun sekitar garis demarkasi pun diperketat. Kepada Historia , Mat Umar (90) menyatakan kesaksiannya bagaimana para penumpang kereta api dari arah Jakarta diturunkan di stasiun Kranji. Sebagian yang dicurigai kemudian dipisahkan dan langsung dieksekusi di belakang stasiun. “Saya melihat seorang bapak dan anak perempuannya dipenggal dengan sebilah clurit karena membawa kertas warna merah putih biru di tas mereka,” ujar eks anggota lasykar di Bekasi. Sementara itu di daerah Karawang terjadi saling curiga mencurigai di antara para pejuang. Pasalnya, seorang pemuda lasykar yang baru keluar dari tawanan militer Belanda “dipesan”oleh seorang letnan Belanda dari bagian intelijen untuk menyampaikan pertanyaan kepada seorang jenderal: mengapa sudah lama tidak pernah berkirim surat? Alih-alih menyampaikan “pesan” itu langsung kepada sang jenderal, bekas tawanan Belanda itu justru menyampaikan soal ini kepada atasannya langsung di kelasykaran. Maka beberapa hari usai pengaduan itu, seisi kota dipenuhi dengan selebaran gelap yang menyebutkan bahwa “Jenderal A” adalah agen NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda). Di lain kesempatan, seorang agen NICA beneran, secara sengaja menjatuhkan sepucuk surat di lantai sebuah kereta api yang menuju daerah Republik. Isi surat itu adalah “perintah-perintah dari NEFIS (Dinas Intelijen Belanda) kepada Mayor Anu disertai ucapan terimakasih atas laporan-laporannya”. Sesuai target sang intel, surat ini kemudian ditemukan oleh seorang anggota lasykar, dibawa ke markas dan dilaporkan kepada sang atasan. Kegiatan intrik mengintrik, fitnah memfitnah pun dimulai. Hoax (berita bohong) ternyata sudah dijadikan “senjata” sejak masa revolusi oleh intelijen Belanda. Biasanya cara-cara perang urat syaraf itu efektif membuat situasi kacau di garis belakang pihak Republik. Almarhum Jenderal A.H. Nasution menyebut mudahnya pejuang kita terjebak dalam hoax yang diciptakan NEFIS karena banyaknya masalah internal yang belum terselesaikan saat itu. “ Serangan psikologis itu mencapai targetnya karena adanya kekacauan organisasi pertahanan dan masih kurang cerdasnya rakyat kita…” tulis Nasution dalam Tentara Nasional Indonesia Bagian I . Yang paling menderita dari adanya situasi tersebut tentu saja adalah rakyat sipil. Menurut Jenderal Nasution, akibat “kesembronoan” pihak lasykar dan tentara Republik saat menyikapi hoax , tak jarang jatuh korban jiwa dari kalangan rakyat sipil tak berdosa . Selain ancaman pembunuhan dan penyiksaan, “isu mata-mata Belanda” juga kerap dimanfaatkan oleh “para lelaki hidung belang” untuk menjalankan praktek pelecehan seksual terhadap para pedagang perempuan yang sehari-hari harus melintasi garis demarkasi. Itu bisa dilakukan oleh para anggota lasykar, tentara Republik maupun serdadu Belanda. Soe Hok Gie pernah membahas tentang nasib memilukan para perempuan tukang beras antara Krawang-Bekasi pada era revolusi tersebut. Ia menuliskan bagaimana untuk menghindari tewas atau ditangkap karena hoax , para tukang beras itu tak segan-segan mengorbankan harga dirinya dengan membiarkan mereka dilecehkan(bahkan disetubuhi) oleh para lasykar dan tentara yang menjaga perbatasan garis demarkasi. “ Di daerah garis demarkasi yang dijaga serdadu Belanda , mereka pun harus mengalami kejadian yang sama…” tulis Soe Hok Gie dalam Zaman Peralihan .

  • Alkisah Kompi Parang Berdarah

    Kota Medan, pertengahan 1947. Di tiap-tiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. Demikian isinya. “Siapa saja yang berhasil membawa kepala Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah uang sebesar Fl.000,- gulden.” Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Dalam beberapa sumber lain namanya disebut Bahren. “Ia jantan dan galak di medan pertempuran, sehingga pernah dijuluki Singa Medan Area,” tulis Tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area . Bahrin termasuk rombongan dari Aceh pertama yang terjun ke kancah Front Medan Area. Di Aceh, Bahrin berkedudukan sebagai komandan Batalion II Resimen I Divisi Gajah II di Kutacane. Longmarch menuju Medan dilakukan sejak Februari 1946, tak lama setelah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan Aceh itu turut serta para pejuang Gayo dari Blangkejeren dan Kutacane, Aceh Tenggara. Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari kekuatan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di front bersama pasukan. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda disebutkan, Batalion Bahrin kerap beroperasi di malam hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya. Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda. “Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuh berdarah dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian dilanjutkan dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin dalam suatu kesatuan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”. Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya mempunyai 17 buah senapan api dan selebihnya adalah parang dan kelewang. Pada April 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Mayor Bahrin menjadi komandan RIMA menggantikan Mayor Hasan Ahmad. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan bahwa Mayor Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda. Hanya dua bulan saja Bahrin menjabat komandan RIMA. Mayor Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah peristiwa nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pematang Siantar. Motif pembunuhan misterius. Menurut anggota pasukan Batalion Bahrin, sebagaimana dikutip Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik memasuki kompleks pemukiman Batalion Bahrin yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung makanan dalam kompleks pemukiman. Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-matanya ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus prajurit yang kelaparan di front,” ujar Jakobi.

  • Membela Kebenaran Tanpa Pamrih

    Budi Sutomo menekuni kuliner sejak remaja. Dia kemudian mendalami tata boga di bangku sekolah kejuruan dan perguruan tinggi. Pengalaman kerjanya di berbagai hotel, bakery , restoran, hingga industri catering memperkaya pengetahuannya di bidang kuliner. Dia mulai dikenal setelah menjabat radaktur boga di majalah Kartini dan Sartika , food stylist beberapa produk iklan, serta konsultan bakery dan restoran. Lebih dari 50 buku tentang gizi dan kuliner yang sudah ditulis dan diterbitkannya. Saat ini, Budi Sutomo mengasuh rubrik diet dan nutrisi di majalah Dokter Kita , redaktur majalah Sri Arum , kontributor Yahoo Kuliner , pengasuh rubrik Ask the Expert , majalah Pastry & Bakery , redaktur boga majalah TIM Taiwan , chef Nestle Indonesia, serta host acara masak di DAAI TV Indonesia . Di balik kesibukannya dalam dunia kuliner, rupanya Budi mengidolakan sosok Munir Said Thalib, aktivis hak asasi manusia yang meninggal dunia akibat racun arsenik. Kepada Historia , Budi berbagi kekagumannya mengenai sosok itu. Mengapa mengidolakan Munir? Dia selalu membela kaum tertindas sampai akhir hidupnya. Membantu total tanpa imbalan. Sejak kapan mengenal sosoknya? Sejak saya kuliah tahun 1990-an. Saya tahu dari buku, majalah, dan media elektronik. Apa yang Anda ingat dari perjuangan Munir? Ketika dia membela kaum buruh. Contohnya kasus Marsinah dan kaum marjinal lainnya. Lalu saya paling ingat soal kasus penculikan aktivis mahasiswa yang sampai sekarang banyak yang tak kembali. Marsinah adalah aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya di Sidoarjo yang diculik dan ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993. Sementara penculikan aktivis terjadi dilakukan Tim Mawar bentkan Kopassus menjelang kejatuhan rezim Orde Baru, dengan 13 di antaranya belum kembali. Bagaimana perjuangan atas kaum marjinal sepeninggal Munir? Keberpihakan Munir dan kesediaannya membantu kaum marjinal menarik simpati. Ini justru menginspirasi banyak anak muda, bahwa hak asasi manusia harus ditegakkan. Sepeninggal beliau, saya pikir sekarang bermunculan banyak pahlawan hak asasi manusia. Perjuangan Munir juga menginspirasi Anda? Ya. Semangat berbagi dan membela kebenaran tanpa pamrih. Juga harus menghargai hak orang lain dan tak boleh melanggar hak asasi manusia. Itu sangat menginspirasi. Menurut Anda, apa tantangan penegakan HAM sekarang? Terkadang nyawa taruhannya. Membela hak asasi manusia kaum marjinal pasti akan berhadapan dengan penguasa yang memiliki power . Apa harapan Anda mengenai kasus kematian Munir? Menolak lupa. Artinya, kebenaran harus diungkap, fakta harus ditegakkan, dan hukum tak boleh memihak. Saya berharap kasus ini akan terungkap oleh pemerintahan sekarang.

  • Percikan Awal Sebuah Konfrontasi

    Yogyakarta, 23 September 1963. Dengan suara lantang, Presiden Sukarno meneriakan seruan "ganyang Malaysia" di hadapan puluhan ribu rakyat. Teriakan itu kontan disambut secara antusias dan histeris oleh massa. Sejarah mencatat, itulah percikan awal aksi konfrontasi antara Indonesia-Malaysia mengemuka secara resmi. Pertikaian kedua negara serumpun itu sendiri bermula dari penolakan Indonesia terhadap pendirian Federasi Malaysia. Dalam pandangan Indonesia, pembentukan Federasi Malaysia tak lebih sebagai salah satu bentuk persekongkolan para kolonialis dan membahayakan Indonesia yang baru saja membebaskan diri dari penjajahan. Pramoedya Ananta Toer dalam pengantarnya untuk buku karya Greg Poulgrain The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia 1945- 1965 menyebut konfrontasi sebagai upaya untuk membantu gerakan perjuangan antikolonialisme. Bagi Pram, alasan Inggris membentuk negara Federasi Malaysia lantaran mereka tidak siap untuk kehilangan sumber uang dari Malaya (nama lama dari Malaysia), Singapura, dan Kalimantan Utara (Brunai). Malaya merupakan penghasil timah, karet, dan minyak kelapa sawit. Sedangkan Brunai merupakan tambang minyak dan Singapura merupakan pelabuhan transit yang bisa dijadikan pusat kendali kekuasaan maupun ekonomi. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Indonesia melawan Amerika Konflik PD 1953-1963 menulis alasan lain yang membuat Sukarno menolak pendirian Malaysia. Dia merasa Inggris maupun Malaya telah melangkahi Indonesia dalam proses pendirian Malaysia. Hal itu diamini pula oleh sejarawan Asvi Warman Adam. "Saya tidak melihat ada persoalan kolonialisme (terkait konfrontasi dengan Malaysia, red.) . Ada ketersinggungan Sukarno pada Tun Abdul Rahman...” kata Sejarawan Asvi Warman Adam kepada Historia. Sebelumnya, pada 16 September pemerintah Malaka dan Inggris mengumumkan pendirian Federasi Malaysia dengan cakupan wilayah Malaka, Singapura, Sabah, dan Sarawak. Dua jam sebelum pengumuman tersebut, Sekretaris Tetap Malaka untuk Urusan Luar Negeri Ghazali telah menghubungi Subandrio di Jakarta. Tetapi tak urung Indonesia tetap merasa terhina dengan pembentukan Malaysia. Pasalnya, ketidakpercayaan Indonesia terhadap hasil jajak pendapat tidak ditanggapi pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di hari yang sama gelombang protes besar dilakukan di depan Gedung Kedutaan Inggris di Jakarta. Massa menolak keputusan berdirinya Federasi Malaysia. Sukarno kemudian menulis surat pada Presiden Amerika John F Kennedy bahwa ia menolak Federasi Malaysia karena meragukan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh tim Misi Michelmore. Sukarno bahkan mengutip laporan Sekretaris Jenderal U Thant yang mengatakan bahwa tim jajak pendapat kekurangn personil. “Sukarno mengharapkan John F Kennedy untuk menjadi penengah dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Jadi ia meminta suatu jalan keluar yang tidak menyebabkan satu pihak kehilangan muka,” kata Asvi. Pada 17 September 1963 Malaysia memutuskan hubungan diplomatiknya karena merasa tak terima dengan penolakan keras Indonesia. Tak mau kalah, Indonesia pun menghentikan hubungan dagang dengan Malaysia pada 23 September 1963. Dari pidato Sukarno di Yogyakarta, ia menegaskan keinginannya untuk menghancurkan Federasi Malaysia. Pada 24 Desember 1963 Sukarno mengenalkan dua slogan baru dalam rangka mengganyang proyek neo-kolonialisme Malaysia. Rosihan Anwar menulis dalam bukunya Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965 dua slogan baru Sukarno, yakni “Maju Terus Jangan Mundur” dan “Ini dadaku, mana dadamu?”.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page