Hasil pencarian
9954 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 80 Tahun Indonesia Merdeka di Mata Veteran Seroja
USIANYA tujuh bulan lebih tua dari Republik Indonesia yang baru saja merayakan 80 tahun kemerdekaannya. Suyatno, lelaki sepuh itu, masih menyimpan memori bagaimana ia bisa merantau ke ibukota yang tentu sudah banyak berubah. “Dulu kotanya (Jakarta) masih sepi. Belum ada gedung-gedung tinggi atau jalan tol. Lebih mirip rawa-rawa yang banyak nyamuk. Dulu upah saya hanya (sekitar) Rp650 sebulan yang cukup untuk menyambung hidup,” ujar Suyatno di rumah sederhananya di kawasan padat Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan. Upah yang dimaksud adalah upahnya ketika masih bekerja serabutan di sebuah pabrik kayu. Gajinya tak berbeda jauh ketika sudah beralih jadi prajurit di Korps Komando (KKO) Angkatan Laut (kini Korps Marinir). Suyatno kini veteran dengan pangkat terakhir sersan satu (sertu), namun tak lagi mendapat undangan menghadiri upacara HUT RI.
- Jajanan Rakyat Masa Kemerdekaan
DALAM kehidupan modern seperti sekarang, jajajan telah melekat dalam tradisi kuliner maupun kebutuhan pangan masyarakat. Di Indonesia, jajanan atau makanan ringan punya beberapa padanan kata: camilan, kudapan, atau disebut juga penganan. Variannya macam-macam, ada jajanan tradisional, ada pula jajanan modern. Cara memperoleh jajanan pun kian mudah seiring kemajuan zaman. Mulai dari membeli langsung di gerai penjual makanan atau pesan-antar dari lokapasar yang tersedia di aplikasi telepon selular.. Namun, jajanan zaman sekarang dengan zaman dulu tentu saja berbeda. Mulai dari varian rasa, bahan pembuatan, hingga cara memperolehnya. Pada masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia, masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok, apalagi untuk jajan. Sejarawan Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso menyatakan, jajanan masyarakat Indonesia masa itu amat dipengaruhi situasi pendudukan Jepang. Untuk memenuhi kebutuhan serdadunya dalam Perang Asia Timur Raya, pemerintah militer Jepang memonopoli sirkulasi beras. Walhasil, bahan makanan yang tersedia bagi masyarakat bumiputra sangat langka.
- Martin Aleida, Sang Peliput Istana
SUATU hari yang tidak biasa terjadi di redaksi Harian Rakjat, suratkabar partisan milik PKI. Njoto, wakil ketua CC PKI (orang ketiga dalam partai) datang. Hari itu, Njoto-lah yang memimpin rapat redaksi. Sementara itu, wartawan muda bernama Nurlan duduk menyaksikan dari belakang. “Tiba-tiba, dia mengatakan yang akan menggantikan Anwar Dharma adalah Nurlan. Semua orang melihat ke belakang, kepada saya,” tutur Martin Aleida dalam dialog sejarah Historia “Kisah Wartawan Zaman Bung Karno”, 23 Juni 2020. Nurlan adalah nama kecil Martin Aleida. Ketika ditunjuk Njoto, usianya kala itu belum genap 22 tahun. Posisi baru yang akan dilakoninya cukup mentereng pada zamannya: menjadi wartawan Harian Ra’jat yang khusus bertugas di Istana Negara untuk meliput kegiatan Presiden Sukarno.
- Kabinet Bayangan Tan Malaka
KOALISI Masyarakat Sipil membentuk kabinet bayangan pada 27 Juli 2026 lantaran resah dengan lemahnya mekanisme check and balance terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kabinet bayangan itu dibentuk Koalisi Masyarakat Sipil juga untuk alternatif pendidikan publik tentang sistem ketatanegaraan. Konsepnya zakenkabinet, kabinet yang pos-pos menterinya diisi sosok yang sesuai secara keahlian. Dalam sejarah, kabinet bayangan memang lazim eksis di negara-negara dengan sistem pemerintahan parlementer. Namun, para aktivis sekarang melihat ada gejala percampuran antara sistem presidensial dan parlementer. Kabinet bayangan itu diisi oleh antara lain pakar hukum tata negara Feri Amsari sebagai menteri sekretaris negara, ekonom Media Wahyudi Askar sebagai menteri perekonomian, pakar hubungan internasional Shofwan al-Banna mengisi pos menteri luar negeri, pakar hukum ketenagakerjaan Nabiyla Risfa Izzati sebagai menteri Sosial dan Layanan Dasar, aktivis kesehatan masyarakat Irma Hidayana menempati menteri kesehatan, pengajar dan aktivis pendidikan Iman Zanatul Haeri sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pakar hukum Yance Arizona menduduki posisi menteri Hukum dan Kebijakan Negara, ekonom-analis kebijakan publik Bhima Yudhistira Adhinegara sebagai menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran, dan peneliti studi pertahanan Curie Maharani Savitri di pos Menteri Pertahanan.
- Burung Besi Terbang Tinggi
MANUSIA tak pernah berhenti untuk membuat “burung besi” yang bisa mengangkut banyak penumpang dan terbang jauh lebih cepat, nyaman, dan aman. Berikut ini sejarah perkembangan pesawat terbang. Biplane Terpacu keberhasilan Zeppelin terbang dengan mesin dan kemudi, Orville dan Wilbur Wright, dua bersaudara asal Amerika Serikat, merancang pesawat sayap ganda dengan mesin setara 12 tenaga kuda. Mereka menyebutnya Flyer. Wright mengundang pers dan khalayak umum menyaksikan uji terbang pada 17 Desember 1903 di bukit Kitty Hawk. Dengan seorang pilot yang berbaring di bawah sayap, pesawat itu mampu terbang setinggi 36 meter selama 12 detik. Keberhasilan ini dianggap tonggak baru perkembangan pesawat bersayap dengan mesin dalam “penerbangan-lebih-berat-daripada-udara”.
- Cenderawasih, Burung Surga dalam Bahaya
ALFRED Russel Wallace, naturalis kebangsaan Inggris takjub saat kali pertama menyaksikan burung cenderawasih (Paradisaeidae). Pada 1860, Wallace mengadakan ekspedisi ke pulau Waigiou (Waigeo, red), Papua untuk meneliti keadaan alam di sana. Dalam amatannya, burung ini memiliki bulu yang indah bila dibandingkan dengan kelompok burung lainnya. Keindahan bulu cenderawasih, terutama warna kekuningan dari sayap yang menjuntai, tidak dapat disamai oleh burung lain, kecuali barangkali oleh burung-burung pekicau. “Tapi tetap tidak ada yang melampaui keindahan cenderawasih. Saya adalah satu-satunya orang Inggris yang telah melihat keindahan burung ini di hutan asalnya,” kata Wallace dalam mahakaryanya Kepulauan Nusantara yang berjudul asli The Malay Archipelago .
- Burung Besi Pertama Buatan Hindia Belanda
SEBAGAI pewaris NV Merbaboe, perusahaan pemotongan sapi, Khouw Ke Hien ingin mengembangkan usahanya. Dia merasa transportasi darat dan laut kurang efisien. Di sisi lain, dia butuh mengunjungi dan mengawasi cabang-cabang perusahaan di sejumlah kota dalam waktu singkat. Setelah putar otak, dia memutuskan harus punya pesawat sendiri. Pada Maret 1934, dia menghubungi Achmad bin Talim, teknisi pesawat dari Luchtvaart Afdelling, unit Militaire Luchtvaart Dients. Dia pesan pesawat. Kriterianya lumayan berat. Pesawat itu harus mampu terbang jarak jauh dengan kargo seberat 130 kilogram plus dua penumpang. Ia juga mesti bermesin ganda sehingga bisa tetap terbang bila satu mesin mati. Talim mendiskusikan pesanan tersebut dengan kawan-kawannya. Termasuk dengan Laurents Walraven, desainer teknik di Militaire Luchtvaart-Koninklijke Nederlandsch Indische Leger, yang juga punya design workshop sendiri. Keputusannya: mereka terima pesanan itu. Walraven dan Kapten MP Pattist membuat cetak-biru dan desainnya, sementara Talim dan kawan-kawan lainnya yang mengerjakannya.
- Surga Burung Langka Terancam Tambang Emas
PULAU Sangihe, pulau kecil nan indah di ujung utara perairan Indonesia. Wilayahnya berbatasan laut dengan Filipina. Jika ingin menggapainya mesti menyeberang dari Manado, Sulawesi Utara. Pilihannya bisa dengan pesawat jarak pendek selama 45 menit atau kapal penyeberangan selama tujuh jam. Jarak 2.000 km dari Jakarta mungkin membuat banyak orang tak familiar dengan nama Sangihe. Ironisnya, nama pulau ini kini lebih sering terdengar setelah alamnya terancam penambangan emas. Sebagaimana diberitakan BBC Indonesia, penambangan emas di pulau itu akan dilakukan di atas lahan seluas 42.000 hektare dari luas keseluruhan pulau 737 km². PT Tambang Mas Sangihe (TMS) telah mengantongi izin lingkungan dan izin usaha produksi pertambangan emas seluas 3.500 hektare dari total 42.000 hektare. Luas itu meliputi setengah bagian selatan Pulau Sangihe.
- Pengeboman Gereja di Jawa Timur
TERORIS melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada pagi, 13 Mei 2018. Korban tewas 14 orang enam di antaranya pelaku satu keluarga; dan 43 orang luka-luka. Pada malam harinya, sebuah bom meledak di lantai lima rusunawa di Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Pelakunya satu keluarga: tiga tewas dan tiga terluka. Paginya, 14 Mei 2018, bom bunuh diri terjadi lagi di Polrestabes Surabaya. Semoga saja pengeboman itu tidak mengulang peristiwa serangan bom pada malam Natal tahun 2000. Saat itu, teroris Jamaah Islamiyah meledakkan bom di 15 gereja di sebelas kota: Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Ciamis, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru. Total 20 orang tewas dan 120 orang terluka. Untuk wilayah Jawa Timur, sasaran pengeboman adalah gereja di Mojokerto. Pelaku pengeboman, Ali Imron, mengungkap mengapa tidak memilih gereja di Surabaya.
- Bom Berjatuhan di Gunung Halu
ROHIDIN menunjuk ke sebuah tebing yang masih ditutupi hutan lebat. Mulutnya tak henti bercerita dalam bahasa Sunda.Tahun 1947, dia adalah seorang prajurit TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang masuk dalam Batalyon 22 Brigade Guntur Divisi Siliwangi pimpinan Mayor Soegih Arto yang kompinya ditempatkan dalam wilayah Gunung Halu (sekarang masuk Kabupaten Bandung Barat). “Batalyon kami memang dibenci sekaligus ditakuti tentara Belanda. Mereka tak henti-hentinya berusaha menghancurkan kami dan menangkap Pak Soegih, pimpinan kami” kata lelaki berusia 103 tahun itu. Memasuki bulan Oktober 1947, isu bertiup keras bahwa dalam waktu dekat militer Belanda akan menyerang Gunung Halu. Alih-alih menjadi keder, isu tersebut ditanggapi secara dingin oleh Rohidin dan kawan-kawan. Mereka sudah terbiasa dengan perang urat syaraf yang dalam kenyatannya kadang hanya gertak sambal belaka.
- Detik-Detik Menjelang Surabaya Dibombardir
KAMIS, 8 November 1945. Surat kedua dari Komandan Divisi ke-5 India Jenderal Mayor E.C. Mansergh itu datang begitu tiba-tiba dan langsung dibaca oleh Gubernur Jawa Timur, R.M.T.A. Soerjo. Isinya Mansergh menuduh pihak Indonesia telah menunda-nunda evakuasi kaum interniran dan pengembalian pasukan Inggris yang tertawan atau terluka dalam pertempuran 28–30 Oktober 1945. Tak lupa dia mengumbar lagi ancaman bahwa kota Surabaya yang telah dikuasai oleh para perampok (looters) secepatnya akan diduduki oleh militer Inggris. “Pada akhir surat, sang jenderal meminta Gubernur Soerjo datang ke kantornya pada 9 November 1945,” ungkap sejarawan Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya.
- AURI Ingin Membom Markas Kostrad?
PADA masa Orde Baru berkuasa, Angkatan Udara RI (AURI) kalah pamor ketimbang Angkatan Darat (AD). Namun tak banyak orang tahu, jika suatu waktu Soeharto, sang aktor utama Orde Baru, pernah gusar terhadap AURI. Itu terjadi pada 1 Oktober 1965 kala dirinya menjadi panglima Kostrad berpangkat mayor jenderal. “Kurang lebih pukul setengah dua belas malam saya pindahkan Markas Kostrad ke Senayan, karena ada informasi, bahwa AURI akan melakukan pemboman,” kenang Soeharto dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Kepanikan Soeharto diakui oleh asisten intelijennya, Kolonel Yoga Soegomo. Dalam otobiografinya, Yoga juga mendengar kabar kalau AURI hendak membom markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. “Dan bila itu terjadi maka akan berakibat sangat buruk karena tiadanya fasilitas penangkis serangan udara,” kata Yoga dalam memoarnya Memori Jenderal Yoga.





















