top of page

Hasil pencarian

9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Elizabeth Latief dan Semangat Kartini

    NAMANYA memang tak setenar Susy Susanti. Namun jika bicara semangat juang, Elizabeth Latief   boleh diadu. Lema   “menyerah” tak pernah ada dalam kamusnya kala membela merah putih bersenjatakan raket. Tak ayal budayawan Udaya Halim menjuluki perempuan yang akrab dipanggil Itje itu   sebagai salah satu   Kartini   Tionghoa modern. Mengutip Baktiku Bagi Indonesia  karya jurnalis Broto Happy, Itje yang turun di pentas bulutangkis nasional dan internasional mulai 1983 punya segudang prestasi   mentereng. Lima medali emas SEA Games 1983, 1985, dan 1987 baik di nomor individu maupun beregu putri berhasil dibawanya pulang. Lalu sekeping medali emas Kejuaraan Asia 1987 dan Konica Cup (kini Singapore Open) 1987 serta perannya ikut membawa tim Indonesia jadi runner-up  Piala Uber 1986, melengkapi. Namun, siapa nyana srikandi bulutangkis kelahiran 27 Maret 1963 itu bukan berasal dari keluarga bulutangkis. Dalam   Webinar yang dihelat Museum Benteng Heritage bertajuk “Asal Oesoel Badminton” pada Rabu (21/4/2021) malam, Itje mengatakan bahwa dia mengenal bulutangkis justru dari pembantu atau asisten rumah tangganya (ART) saat usia sekolah dasar.

  • Patung Kartini Pemberian Jepang

    PATUNG Kartini di Monumen Nasional itu cukup unik. Ada aksara kanji di bagian dasar patung. Dulu orang sempat mengira tulisan di dasar patung itu huruf Tionghoa dan penghinaan terhadap Pahlawan Nasional. Tapi sesungguhnya, patung itu merupakan pemberian dan penghormatan pemerintah Jepang kepada Indonesia pada April 1963. Pembuat patung itu adalah Prof. Kato Kensei dari Akademi Kesenian Jepang. Dia tertarik membuat patung itu karena kekagumannya pada perempuan Indonesia. “Tertarik akan wanita-wanita Indonesia yang tanpa meninggalkan unsur-unsur keindahan, unsur-unsur kepribadian, telah maju demikian pesat,” ungkap Djaja , 27 April 1963. Kato pun berkunjung ke Indonesia pada 1961. Dia bertemu dengan Presiden Sukarno dan mengutarakan keinginannya membuat patung yang merepresentasikan perempuan Indonesia. Sukarno menerima baik keinginan Kato. Dari sinilah sosok Kartini diusulkan untuk model patung Kato. Dia pun segera mempelajari Kartini, lekas terpikat, dan setuju sosok Kartini menjadi model patungnya.

  • Romansa Bung Karno dan Kartini Manoppo

    DARI Bandara Kemayoran, Jakarta Presiden Sukarno menumpang pesawat Garuda. Waktu itu Bung Karno punya agenda ke Jawa Timur karena hendak meresmikan pabrik tenun di Batu Ceper, Malang. Salah seorang kru pesawat bernama Kartini Manoppo melayani penerbangan itu selaku pramugari. “Tidak ada kesan istimewa. Kecuali setelah selesai perjalanan itu saya mendapat kenang-kenangan kain tenunan. Hanya itu. Tak ada yang lain,” kenang Kartini dalam majalah Info  No. 78, 31 Juli 1978. Pertemuan pertama itu terjadi pada 1958. Tidak lama setelahnya, Kartini berhenti sebagai pramugari. Dia kembali pulang ke kampung halamannya di Mobago, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

  • Operasi Hantu Amerika Serikat di Perang Vietnam (Bagian II)

    MILITER Amerika Serikat menyadari pasukan Viet Cong yang menggunakan strategi perang gerilya bukan lawan yang mudah ditaklukan. Oleh karena itu, Amerika dan Vietnam Selatan menggunakan berbagai strategi salah satunya Wandering Soul Operations atau Operasi Jiwa-jiwa yang Tersesat untuk memanipulasi dan melemahkan emosi serta persepsi serdadu komunis itu. Operasi ini memanfaatkan kepercayaan masyarakat Vietnam akan kematian. Menurut Edgar Wollstone dalam The Dark Encounters in Vietnam , militer Amerika memanfaatkan konsep hantu dalam budaya Vietnam untuk melemahkan musuh. “Pihak Amerika memanfaatkan ide tentang pemakaman yang tidak layak bagi jenazah dan konsekuensi yang terkait dengannya. Melalui gagasan ini, tentara Amerika memutar rekaman yang mengatakan, ‘seseorang telah mati dan jangan berakhir seperti itu.’ Hal ini dilakukan untuk menakuti tentara Vietnam agar menyerah,” tulis Wollstone. Rekaman Ghost Tape Nomor 10 itu dikembangkan sedemikian rupa oleh psikolog militer dan ahli teknologi audio untuk menumbuhkan perasaan gelisah, takut, dan tidak nyaman kepada serdadu Viet Cong. Victor Ghost menulis dalam The Haunted Tape: How the US Military Used Ghosts to Fight the Viet Cong , dengan menggabungkan keahlian psikologi dan teknologi audio, militer Amerika berupaya menciptakan kondisi yang akan memicu rasa takut di kalangan serdadu Viet Cong. Tim ini bekerja pada berbagai aspek, termasuk modulasi suara, kebisingan latar belakang, dan proyeksi suara, untuk memastikan kualitas menyeramkan rekaman tersebut dapat menembus hutan yang rimbun dan bergema dengan ketakutan yang membuat pendengarnya merasa tidak nyaman. “Penekanan kolaboratif ini menonjolkan penekanan kuat pada rekayasa psikologis, menunjukkan kesadaran yang tajam tentang bagaimana suara dapat memanipulasi emosi dan persepsi. Interaksi antara wawasan psikolog dan keterampilan teknis para ahli teknologi audio menjadi tulang punggung ‘senjata’ yang mengganggu ini,” tulis Ghost. Untuk memaksimalkan dampak rekaman secara psikologis, Ghost Tape Nomor 10 dirancang dengan mengintegrasikan gagasan dan kepercayaan masyarakat Vietnam mengenai kehidupan setelah kematian. Tak hanya itu, untuk membuat rekaman itu terasa semakin nyata, militer Amerika membuat rekaman itu dengan dialek lokal dan tema-tema yang relevan secara budaya yang menyentuh kekhawatiran dan rasa takut masyarakat Vietnam dengan hal-hal spiritual. “Suara dalam kaset meniru nada dan intonasi yang diharapkan dapat memberi dampak psikologis kepada pasukan Viet Cong, memicu respons emosional yang familiar. Dengan memanggil anggota keluarga dan meratapi penderitaan di alam baka, rekaman ini menangkap ketakutan mendalam terkait kematian dan kehilangan kehormatan,” jelas Ghost. Dengan persiapan yang cermat itu, militer Amerika meyakini Ghost Tape Nomor 10 sebagai alat psikologis yang ampuh. Namun, rekaman itu tidak hanya mengganggu tentara Viet Cong, tetapi juga memengaruhi moral tentara Amerika dan sekutunya yang memiliki keyakinan serupa tentang jiwa-jiwa yang dimakamkan tidak layak atau bahkan belum dimakamkan. Ghost Tape Nomor 10 telah diuji coba secara ekstensif untuk menyempurnakan keefektifan psikologisnya. Uji coba awal melibatkan tentara dan penerjemah yang memberikan wawasan tambahan tentang bagaimana rekaman tersebut mungkin dipersepsikan oleh serdadu Viet Cong. Umpan balik dari uji coba ini berperan dalam pengembangan Ghost Tape Nomor 10. Hal ini memungkinkan tim melakukan penyesuaian tingkat suara, kecepatan, dan intensitas emosional rekaman. Pengujian berulang memastikan versi akhir rekaman mecapai tingkat ketakutan dan kegelisahan yang maksimum bagi musuh saat diputar di hutan. Rekaman Ghost Tape Nomor 10 kemudian diperdengarkan di tempat-tempat persembunyian pasukan Viet Cong. Helikopter yang dilengkapi pengeras suara memutar rekaman audio tersebut di lokasi musuh selama operasi malam hari. Kondisi hutan yang lebat membuat area tersebut menjadi gelap dan hening, sehingga memperkuat efek menyeramkan. “Suara itu bergema di hutan, menciptakan atmosfer ketakutan yang sulit diabaikan oleh Viet Cong. Taktik memutar rekaman melalui udara secara signifikan memperluas jangkauan audio tersebut, memastikan pesan-pesan yang mengganggu menembus persembunyian musuh. Kombinasi pergerakan pasukan taktis dengan senjata psikologis ini menciptakan kondisi yang menakutkan dan membingungkan. Dengan menargetkan langsung keyakinan mereka, pasukan AS berusaha melemahkan tekad musuh, menunjukkan dampak mendalam operasi psikologis selama Perang Vietnam,” tulis Ghost. Namun, Wollstone mencatat, beberapa peneliti menyebut Viet Cong sama sekali tidak terpengaruh oleh rekaman itu dan mendeteksi tipu muslihat yang dilakukan Vietnam Selatan yang disokong Amerika. Sementara ada laporan yang menyebut rekaman suara dari arwah yang tersesat itu cukup membuat takut dan gelisah pasukan Viet Cong, sehingga memengaruhi emosi dan mental mereka selama gerilya. “Musuh konon sangat percaya takhayul tentang dikubur di kuburan tanpa tanda... Takhayul itu sangat berpengaruh –baik secara sadar maupun bawah sadar. Musuh menyadari suara-suara ini berasal dari perekam kaset di helikopter, tetapi itu tetap tidak membantu menekan rasa takut mereka bahwa suatu hari jiwa mereka akan meratap dan mengerang,” tulis Tom Mangold dan John Penycate dalam The Tunnels of Cuchi: A Harrowing Account of America’s “Tunnel Rats” in the Underground Battlefields of Vietnam . Paparan berulang dari rekaman Ghost Tape Nomor 10 tidak hanya menimbulkan dampak psikologis pada pasukan Viet Cong. Perasaan tidak nyaman yang memicu rasa takut dan gelisah juga dirasakan penduduk lokal dan pasukan Vietnam Selatan. Bahkan, tentara Amerika yang tidak tahu operasi itu karena rahasia, juga merasa gelisah yang menyebabkan perselisihan dan kebingungan. Akibatnya, banyak yang khawatir manipulasi psikologis melalui rekaman Ghost Tape Nomor 10 akan menyebabkan efek domino melampaui apa yang diharapkan. Alih-alih melemahkan musuh, rekaman mengerikan yang diputar terus menerus juga dapat mengubah persepsi dan tekad pasukan Vietnam Selatan dan Amerika, serta penduduk sipil yang terjebak di tengah konflik.*

  • Kartini yang Pluralis

    R.A. KARTINI bisa jadi hidup hanya pada setiap 21 April. Anak-anak perempuan di sekolah merayakannya dengan mengenakan kebaya sebagai perlambang identitas gender. Sementara itu, Kartini dimasukan ke dalam sangkar emas sebagai pendekar feminisme. Namun nyatanya, dalam membaca pemikiran Kartini ada hal yang abai diperbincangkan, yaitu pandangannya tentang hak asasi manusia dan pluralisme.  Demikian pendapat sejarawan Didi Kwartanada dalam diskusi panel Seminar Sejarah Nasional “Membayangkan Indonesia di Hari Depan” di Aston Priority Hotel & Conference, 4 Desember 2019. Apabila merujuk surat-suratnya dalam versi asli, Kartini juga mengungkapkan kegelisahannya tentang diskriminasi minoritas pada zaman kolonial. Menurut Didi, membaca ulang pemikiran Kartini tentang pluralisme, yang belum banyak diungkap, merupakan isu yang relevan bagi keadaan Indonesia dewasa ini. Dalam makalahnya “Membayangkan Indonesia yang Berbhineka: Kartini dan Pandangannya Mengenai Tionghoa dan Arab”, Didi mencatat empat surat Kartini yang memperlihatkan empatinya terhadap kalangan minoritas Tionghoa dan Arab. Mengapa Tionghoa dan Arab? Dalam struktur masyarakat kolonial, kedua etnis ini menempati posisi warga kelas dua sebagai kelompok vreemde oosterlingen (timur asing).

  • Komikus Medan Menggambar Kartini

    R.A. KARTINI dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan. Jauh sebelum pemerintah menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional, hari lahirnya sudah diperingati sebagai Hari Kartini oleh sejumlah kalangan. Lukisan wajahnya pun menghiasi buku-buku sekolah. Pada akhir 1949, Zainal Abidin Mohamad atau dikenal dengan nama Zam Nuldyn diminta oleh Departemen Penerangan untuk membuat ilustrasi dan lukisan wajah Kartini. Siapa Zam Nuldyn? Marcel Bonneff, peneliti komik asal Prancis, dalam bukunya Komik Indonesia menyebut Zam –bersama Taguan Hardjo– sebagai seorang kreator. Zam menyumbangkan nilai estetis pada komik, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian para komikus.

  • Ini Baru Namanya Mainan

    STASIUN Purbalingga, 1979. Suasana tidak ramai. Rangkaian kereta api baru saja masuk dari arah timur. Dengan menenteng dua koper, Paijo bergegas menaikinya. Di dalam, pemuda itu duduk berhadapan dengan pemuda asal Klaten bernama Slamet. Mereka berkenalan lalu mengobrol. Tujuan mereka sama: kuliah di Jakarta. Jakarta tahun 1970-an sudah menjadi magnet bagi orang daerah untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau menuntut ilmu. Paijo dan Slamet hanyalah sedikit di antaranya. Tapi mereka hanya bagian dari penggambaran realitas Jakarta kala itu. Kisah mereka hanyalah fiksi. Kehidupan mereka cuma bagian dari alur cerita film Mana Tahaaan , film perdana kelompok lawak ternama, Warkop. Cikal-bakal Warkop bermula dari persahabatan beberapa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Rawamangun. Awalnya Rudy Badil dan Nanu Mulyono, lalu Kasino Hadiwibowo bergabung. Mereka sama-sama hobi naik gunung atau aktivitas alam, bermusik, dan bercanda. Yang paling kocak adalah Nanu dan Kasino. Celetukan keduanya sering bikin teman-teman mereka terpingkal. Keduanya juga sering memelesetkan lirik lagu-lagu yang lagi populer. Alhasil, duet mereka menarik mahasiswa lainnya. Nanu-Kasino sering diundang menghibur acara-acara kampus maupun pecinta alam.

  • Sujatin Penerus Kartini

    DENGAN kebaya merah jambu, kain jarik motif kawung warna putih, dan rambut disanggul, Sujatin memerankan Kartini dalam sebuah  tableau  (penampilan tanpa dialog) mewakili seksi Perempuan Jong Java. Penampilan itu dia lakukan tahun 1923 pada pawai Perayaan 25 tahun Ratu Wilhelmina di Yogyakarta. Untuk perayaan itu, dia mendapat pinjaman sebuah truk dari bupati Kulon Progo yang juga pamannya. Bak truk kemudian disulap menjadi kamar Kartini lengkap dengan meja-kursi kuno. Beberapa lukisan dipajang di sebuah dinding yang dicat putih. Tak disangka,  tableau  Kartini itu mendapat sambutan meriah. Sujatin mendapat hadiah utama berupa lampu meja bertudung ( schemerlamp ) dari Sultan Hamengkubuwono VIII.

  • Memantik Global Selatan Melawan Kolonialitas

    KOLONIALISME memang sudah jadi kata usang karena sudah terkikis sedikit demi sedikit pasca-Perang Dunia II. Namun, mental kolonial dan kolonialitas itu sendiri dari para mantan penjajah tak serta-merta hilang. Begitu kata sejarawan dan anggota DPR RI Bonnie Triyana mengutip sosiolog Peru Aníbal Quijano dalam esainya, “Coloniality of Power, Eurocentrism, and Latin America” di Jurnal Nepantla tahun 2000. “Pertanyaannya, apakah dunia hari ini sudah berubah sejak berakhirnya Perang Dunia II? Kolonialisme mungkin sudah berakhir namun kolonialitas, seperti yang didefinisikan sosiolog Aníbal Quijano, terus eksis sampai hari ini. Dominasi imperialis terus berjalan dalam bentuk-bentuk baru melalui eksploitasi sumber daya alam, produksi pengetahuan yang Eurosentris, dan dikotomi-dikotomi Barat-Timur dan sekarang Utara-Selatan,” kata Bonnie dalam pengantar public lecture sejarawan India Vijay Prashad bertajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance and New Possibilities” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Senin (20/4/2026) petang dan juga disiarkan secara daring melalui Youtube Historia.ID. Meski perang besar itu sudah lama berakhir dan ada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “penjaga perdamaian”, ironisnya perjuangan untuk perdamaian masih jauh kata usai. Krisis dan konflik terus mendera dan hukum internasional kini sedang diterpa masalah besar oleh ulah Amerika Serikat (AS) dan Israel. AS menculik presiden Venezuela Januari 2026 lalu. Juga memblokade Kuba secara ekonomi. Sedangkan Israel terus menyerang negeri-negeri tetangganya. Selain melalukan genosida di Palestina (Jalur Gaza dan Tepi Barat), negeri zionis itu seenak perutnya membombardir Suriah, Lebanon, Yaman, dan Iran. Negara terakhir juga diserang AS-Israel secara ilegal sejak 28 Februari 2026. Belum lagi krisis-krisis lain seperti perang saudara di Sudan yang diyakini ada Uni keterlibatan Emirat Arab. “Dari banyak krisis sebenarnya kita bisa langsung memahaminya. Ketimbang bingung, ada baiknya kita bangun kepercayaan diri kita. Karena kita sudah tahu apa yang terjadi. Kita tahu AS dan Israel ada di balik genosida di Gaza. Namun kita tidak punya kepercayaan diri untuk mengatakan: hentikan itu!” cetus Vijay Prashad. Apa yang dilakukan Presiden Donald Trump dengan bikin kacau Venezuela, mengembargo Kuba, mengirimkan banyak senjata kepada Israel hingga menyerang Iran adalah tindakan mempertahankan mentalitas kolonial dan imperialis agar negara-negara dunia ketiga atau negara-negara selatan tetap “tercengkeram”. Bersama rekan-rekannya di Institut Riset Sosial Tricontinental, Prashad menganalisanya lewat riset bertajuk “Hyper-Imperialism: A Dangerous Decadent New Stage”. Mereka melacak kegelisahan negara-negara Barat terhadap negara-negara dunia ketiga sejak krisis keuangan 2007-2008. “AS dan sekutunya di NATO sangat khawatir dengan melejitnya ekonomi Asia. Jadi negara-negara Asia mulai menjadi pusat politik dunia yang paling dinamis dan China berada di pusatnya. Banyak negara kemudian mulai bekerjasama dengan China dan faktanya dunia mulai berubah. Mereka enggan ikut IMF, ingin model ekonomi sendiri. Kami menyebutnya, ‘ mood baru dalam kawasan Global Selatan’,” terang penulis buku The Darker Natoins: A People’s History of the Third World (2007) , Letters to Palestine (2015), dan Red Star Over the Third World (2019) itu. AS amat khawatir pada China. Upaya untuk menjegalnya pun terus diupayakan. “AS dan NATO takut kebangkitan China dan. AS pun bikin pangkalan-pangkalan militer lebih banyak namun China tak terintimidasi. AS bikin kebijakan tarif baru untuk menghukum negara-negara yang tak ikut dengan Barat. Seperti tukang peras, Trump datang ke Malaysia, Korea Selatan, Indonesia, minta ruang udara dibuka atau akan menghadapi akibatnya. Di satu pihak, perang AS melawan Iran adalah perang melawan ketidakpatuhan. Kuba tidak patuh, Venezuela tidak patuh, Iran tidak patuh dan membayar harganya. Sementara India, Indonesia, Korea Selatan, takut untuk tidak patuh.” Berbeda tapi Bersatu di Kawasan Selatan Apa yang terjadi hari ini tak ubahnya seperti dekade-dekade sebelumnya. AS dan sekutunya di masa lalu berusaha datang dengan mempromosikan demokrasi meski ironisnya jika ada pemerintahan demokratis yang tak sejalan dengan AS, pemerintahannya bakal digoyang sampai jatuh dengan kekuatan militer. Prashad sedikit mengutip tentang analisa kekuatan militer di balik soft power AS di banyak negara-negara dunia ketiga yang diungkapkan Thomas Loren Friedman, pengamat politik dan kolumnis harian The New York Times , dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization (1999). “Tangan-tangan” dalam pasar dan perdagangan serta promosi-promosi demokrasi bisa berjalan dengan adanya tangan besi tersembunyi berupa kekuatan militer di baliknya. “Saat itu Thomas Friedman menulis bahwa: di balik sarung tangan beludru demokrasi terdapat tangan besi militer. Mereka datang mengajarkan demokrasi melalui USAID, Ford Foundation, LSM-LSM. Jangan lupa juga mereka terus menjual alutsista kepada kita dan menawarkan melatih para jenderal kita untuk lebih loyal kepada militer AS ketimbang para petani di Indonesia. Sangat kontradiktif. Kini tangan besi tak sepenuhnya hilang, justru seperti ‘diperhalus’ karena mereka mulai putus asa. Donald Trump putus asa untuk membuat AS masih relevan. Masalahnya AS bukan lagi kekuatan yang relevan di dunia. Memang mereka sangat hebat dalam militer dan media namun AS mulai ketinggalan teknologi-teknologi baru dari China, India, Jepang. Mereka juga tak lagi mengendalikan keuangan. Lihat apa yang dilakukan Iran. Iran bilang hanya mereka yang berdagang minyak dengan Yuan boleh berangkat dari Selat Hormuz. Itu tantangan langsung dan ancaman bagi petro dollar,” ujar Prashad. Belakangan, AS bahkan mulai mengancam akan memburu kapal-kapal tanker Iran yang ada di kawasan Asia Tenggara. Menurut Prashad, boleh saja AS makin agresif namun baiknya tak menafsirkan agresivitas AS sebagai kekuatan karena Iran telah membuktikan mampu berdiri tegak menghadapi AS. “Jadi AS kesulitan untuk terus relevan dan kita butuh strategi untuk menghadapinya. Strategi butuh kepercayaan diri. Demi mendapatkan kepercayaan diri, kita harus tahu sejarah kita sendiri. Anda harus tahu betapa pentingnya Indonesia ketika jadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955. Itu momen penting. Kita harus kembali ke momen itu agar bisa menghadapi situasi sekarang,” lanjutnya. Harus diakui, dunia kini punya pandangan berbeda-beda dalam politik internasional. Prashad mengingatkan ketika para pemimpin Asia dan Afrika datang ke Bandung pada 1955 pun mereka berasal dari latar belakang politik berbeda. “Ada Sir John Kotelawala, seorang yang (politik) kanan dari Sri Lanka. Carlos Romulo dari Filipina (pro AS) dan Chou En-lai dari China yang komunis. Gamal Abdel Nasser yang perwira militer. Jadi banyak pandangan politik berbeda. Namun ketika mereka datang ke Bandung, mereka berdebat tentang banyak hal namun bersatu dalam kesepakatan akan prinsip dasar kedaulatan, yang artinya tidak boleh ada pengaruh kolonial. Inggris, Prancis, Portugal, out ! Dan kita tidak menginginkan Amerika. Hal terakhir ini cukup jadi kontroversi karena Iran dan Filipina saat itu tergabung ke dalam blok-blok kerjasama militer dengan AS. Tetapi pada umumnya mereka sepakat tentang prinsip kedaulatan,” Prashad mengingatkan. Perbedaan tak seharusnya membuka permusuhan. Tantangannya justru adalah mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan itu. “Mereka saling respek meskipun ada ketidaksepakatan. Tetap dengarkan dan jangan kucilkan. Saya hari ini menghormati rakyat dan pemerintah Iran berdiri tegak melawan agresi (AS) ini. Saya tak perlu sepakat dengan semua keputusan pemerintah (Iran) namun saya respek sepenuh hati dengan keyakinan mereka. Sebanyak 168 siswi Iran tewas oleh (serangan) AS dan Israel. Jangan Anda katakan Anda ingin melindungi hak-hak perempuan ketika Anda membunuh anak-anak. Tidak masuk akal.” Tak dipungkiri, berdekade-dekade pasca-KAA pun masih banyak sengketa hingga perseteruan di antara negara-negara Selatan itu sendiri, terutama di Asia. Entah konflik perbatasan China-India pada 1962, perang perbatasan India-Pakistan sejak 1947 hingga sekarang, sengketa-sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia, atau sengketa perbatasan China-Filipina di Laut China Selatan. Alhasil sengketa-sengketa itu menciptakan keretakan-keretakan tersendiri. Prashad menganalogikan semut-semut masuk dan menyerbu tidak dari pintu depan melainkan dari celah-celah keretakan itu dan itu dimanfaatkan AS dan sekutu-sekutu Baratnya. “Kita memang punya kelemahan internal kita sendiri. Masih saling bergelut satu sama lain. Kita harus memperkuat persatuan kita. Anda ingin membangun Asia yang baru, saya pun ingin membangun Asia yang baru. Saya ingin Asia yang berjaya dengan masyarakatnya saling percaya,” tandasnya.

  • Kartini dari Kacamata Masa Kini

    JERIT tangis gadis cilik memecah keheningan malam. Bentakan kakak lelakinya tak menghentikan tangisnya, malah kian meronta. Ketika seorang kakak lelakinya menggendong paksa, gadis itu melawan dengan menggigit. Sang kakak kesakitan, mengumpat. Kartini, gadis cilik itu, tak ingin tidur terpisah dari Ngasirah, ibunya (diperankan Nova Eliza). Dia sama sekali tak tahu dan tak peduli aturan di rumah itu yang menentukan Ngasirah menjadi pembantu dan harus tidur terpisah dari suaminya, Adipati Ario Sosroningrat (Dedy Sutomo). Ngasirah turun status setelah Sosroningrat menikahi Raden Ajeng Moeriam (Djenar Maesa Ayu) demi mengejar jabatan bupati. Adegan perlawanan Kartini kecil itu menempati bagian awal film Kartini besutan sutradara Hanung Bramantyo. Di film, yang beberapa bagiannya menyajikan alur mundur, jiwa perlawanan Kartini sudah tampak semasa kecil.

  • Buku Kartini dalam Beragam Bahasa

    R.A. KARTINI mengirimkan puluhan surat kepada J.H. Abendanon, direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, sejak 1899 hingga 1904. Isi surat-surat itu meliputi tata cara kehidupan keluarga bupati di Jepara; sikap saudara-saudara Kartini; keinginannya meneruskan pendidikan seperti temannya bangsa Eropa; keadaan masyarakat sekeliling; dan imbauan kepada yang berwajib untuk mengangkat bangsa Jawa. Sepeninggal Kartini pada September 1904, Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini dengan judul Door Duistrnis tot Licht . Namun, tak semua surat diterbitkan. Buku itu dicetak pertama kali oleh N.V. Electrische Drukkerij “Luctor et Emergo” di ‘s-Gravenhage pada 1911. Setahun kemudian muncul cetakan kedua dan ketiga. Sementara cetakan keempat atau cetakan terakhir dari penerbit itu baru muncul pada 1923. Di bawah pengawasan Comissie voor Volk Bestuur, Door Duistrnis tot Licht diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Bagindo Dahlan Abdoellah, asisten bahasa Melayu di Universitas Leiden, dengan dibantu oleh tiga tenaga ahli.

  • Api Kartini dalam Perjuangan Petani Kendeng

    SEPULUH petani pegunungan Kendeng mengecor kakinya di depan Istana Negara Jakarta pada 13 Maret 2017. Aksi pasung semen jilid dua ini sebagai bentuk protes terhadap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengeluarkan izin lingkungan baru kepada PT Semen Indonesia. Sebelumnya, sembilan petani perempuan menyemen kakinya pada 13 April 2016. Menurut aktivis perempuan, Dewi Candraningrum, perjuangan petani Kendeng menambah deretan perjuangan perempuan di Pantai Utara Jawa. Dimulai pada abad 14 dikenal Dewi Indu, Ratu Kerajaan Lasem. Pada abad 15 dikenal Nyai Ageng Ngerang, ulama perempuan wali nukbah. “Dia seorang sufi perempuan yang masjidnya ada di Pati. Di situ juga akan ada pabrik semen baru,” kata Dewi dalam seminar “Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: Reflections on R.A Kartini,” di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (13/3).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page